File TXT tidak ditemukan.
Transcript
VWTcnvq_Cxo • Birrul Walidain : The Gate Of Jannah - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2574_VWTcnvq_Cxo.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman
lisan wa ashadu anna muhammadan abduhu
wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwanih. Hadirin dan hadirat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala.
Ee pada kesempatan yang berbahagia ini
kita akan membahas tentang
amal yang paling memudahkan seorang
masuk surga yaitu berbakti kepada kedua
orang tua. Ya,
datang dalam satu hadis Rasul sahu
alaihi wasallam mengatakan,
"Alwalidu ausatu abwabil jannah."
Sesungguhnya orang tua adalah pintu
surga yang paling tengah. Ausat ini bisa
jadi yang paling tengah, bisa jadi yang
paling terbaik. Seperti Allah
mengatakan, "Wadzalika ja'alnakum
ummatan washa." Demikianlah kami jadikan
kalian umat yang wasat. Maksudnya umat
yang terbaik.
Artinya ausatu abwabil jannah. Orang tua
itu adalah pintu surga yang terbaik. Itu
paling mudah memasukkan orang ke dalam
surga.
Maka kalau kau berkehendak faadiu,
sia-siakan pintu tersebut.
Kalau kau berkehendak, fahfadhu. Kalau
kau berkehendak, maka jagalah pintu
tersebut.
Artinya jika seorang
masih diberi kesempatan oleh Allah
bertemu dengan orang tuanya, maka ini
kesempatan besar bagi dia untuk masuk
surga dengan mudah dan masuk surga
dengan surga yang terbaik. Karena
Rasulullah mensifatkan dengan ausatu
abwabil jannah, yaitu pintu surga yang
paling tengah atau pintu surga yang
paling terbaik.
Karenanya begitu besarnya kesempatan
masuk surga dengan berbakti kepada kedua
orang tua.
Sampai Nabi menjelaskan ragima anf tma
ragima anf tma gima anf. Tersungkur dan
tersungkur dan tersungkur. Maksudnya dia
tersungkur sehingga
wajahnya tersungkur di tanah, hidungnya
tersungkur di tanah. Dan ini ungkapan
orang Arab untuk menunjukkan kerugian
yang sangat besar. Rogima anf. Anf itu
maksudnya hidung. Rogim maksudnya
terkena tanah.
Ya. Siapa kata Rasul sahu alaihi
wasallam? Man adraka abawaihi
eh fil kibar kilaihima ahadima ahadahuma
falam yadkulil jannah. kama qala Nabi
sallallahu alaihi wasallam, yaitu
seorang yang masih berkesempatan untuk
bertemu dengan kedua orang tuanya di
masa tua, di masa jompo,
dua-duanya atau salah satunya. Kemudian
dia tidak bisa masuk surga.
Kemudian tidak bisa masuk surga. Ini
orang yang sangat celaka, sangat tolol,
sangat bodoh ya. Kenapa? Karena
kesempatannya masuk surga sangat besar.
Tinggal berbakti sama orang tua, dia
masuk surga.
Tinggal berbagi sama orang tua sudah
banyak mewakili amal saleh yang lain.
Tinggal berbagi sama orang tua maka akan
banyak dosa akan diampuni oleh Allah
subhanahu wa taala.
Sehingga kalau dia diberi kesempatan
bertemu dengan orang tuanya di masa tua
dan dia tidak mau surga, ini orang
sangat sangat celaka. Pintu surga di
depan dia tinggal dia masuk
cuma dia tidak memasukinya.
Demikian juga ketika ada seorang minta
izin
berjihad kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam,
maka Rasul sahu alaihi wasallam berkata,
"Ahayun walidak, apakah kedua orang
tuamu
masih hidup?"
Maka dia berkata, "Masih, ya
Rasulullah." Kata Rasul sahu alaihi
wasallam, "Fafihima fajahid."
Maka berjihadlah terkait kedua orang
tuamu. Yaitu maksudnya kalau kau
berbakti kepada orang tua, kau sedang
berjihad. Kedudukannya seperti sedang
berjihad. Dan kita tahu jihad itu tidak
mudah. Jihad itu susah. Betapa banyak
orang takut tidak jadi jihad. Melihat
pedang, kilauan pedang, melihat musuh
yang banyak, menjadi pengecut karena
ingat anak dan ingat istri. karena cinta
dengan nyawanya. Tidak semua orang mudah
berangkat untuk jihad. Belum jarak yang
harus ditempuh, apalagi zaman dulu.
Melewati ratusan kilo
di bawah terik matahari, berjalan jauh.
Intinya jihad itu pengorbanan luar
biasa. Tetapi itu bisa diwakili dengan
berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan
berbakti kepada kedua orang tua lebih
afdal daripada jihad fisabilillah.
Makanya dalam hadis
ee Abdullah bin Mas'ud ketika Rasulullah
ditanya tentang ayyul amali ahabbu
ilallah, amalan apa yang paling dicintai
oleh Allah, maka Rasul sahu alaihi
wasallam bersabda, "Asatu ala waktiha
itu salat pada waktunya." Ditafsirkan
oleh para ulama salat di awal waktu.
Tumma ayu. Kemudian apa? Setelah itu
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Birul walidain." Berbakti kepada kedua
orang tua. TMA Ayu. Kemudian apa kata
Rasul sahu alaihi wasallam? Aljihadu
fisabilillah. Jihad fisabilillah. Maka
di sini Rasul sahu alaihi wasallam
mendahulukan penyebutan berbakti kepada
orang tua daripada jihad fibilillah.
Menunjukkan
berbakti kepada orang tua lebih afdal
daripada jihad fisabilillah. Makanya
kalau orang malas berbakti dia bayangkan
jihad. Saya kes suruh jihad berat
sekali. Mengorbankan
uang aja berat apalagi mengorbankan
raga.
Kemudian harus berpisah dari anak,
istri, harus berjalan jauh bertemu
dengan musuh. Siapa yang suka
menumpahkan darah? Apalagi ditumpahkan
darahnya. Secara secara manusiawi susah.
Kutiba alaikumul kitabalu wahua
qurulakum. Kata Allah, "Diwajibkan jihad
bagi kalian dan kalian tidak suka akan
hal tersebut." Sifat manusia enggak suka
itu berat. Kalau saya disuruh mungkin
saya enggak berangkat. Kalau ada beda,
buka medan pertempuran belum tentu kita
disuruh kita berangkat. Di sini ada amal
saleh yang lebih afdal daripada itu.
Berbakti kepada kedua orang tua. Maka
Rasulullah mengatakan, "Fafihima
fajahid." Yaitu kata Ibnu Ibnu Hajar,
"Fabalik juhdaka."
Maka bersungguh-sungguhlah, optimalkan
kesungguhanmu untuk berkhidmat kepada
kedua orang tua. Dan ini menunjukkan
berbakti kepada orang tua jalan termudah
masuk surga.
Tib.
Demikian juga dalam lafal, suatu lafal
Rasulullah bertanya kepada seorang anak
ketika ingin berjihad. Kata Rasul sahu
alaihi wasallam, "Apakah ibu masih
hidup?" Kata dia, "Masih." "Ahayatun
walidatuka." "Apakah ibu masih hidup?"
Kata dia, "Masih." Kata Rasul sahu
alaihi wasallam, "Ilzam rijilaiha
fatsammal jannah." Lazimilah
kedua kaki ibumu, di situlah surga. Nah,
dari sinilah muncul istilah surga di
bawah telapak kaki ibu. Datang dalam
satu hadis yang dihasankan oleh sebagian
ulama. Kata Rasul sahu alaihi wasallam,
"Ilzam rijalaiha fatammal jannah."
Lazimilah kedua kaki ibumu, di situ
surgamu.
Dan ketika Rasul sahu alaihi wasallam
mengatakan, "Lazimilah kedua kaki
ibumu." Yaitu agar isyarat agar kau
tawadu di hadapan ibumu, merendah diri
di hadapan ibumu. Karena dia adalah
ibumu dan di situlah sur surgamu.
Situlah sur surgamu.
Terus kita bayangkan juga bagaimana
ee
tentang ketika ada seorang sahabat ya
yang dari datang dari Yaman
kemudian berhijrah kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Berjihad
kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Dari hadis Abdullah bin Amr bin Ash
radhiallahu anhuma, beliau berkata, "Ja
rajulun ilan Nabi sallallahu alaihi
wasallam."
Intinya dalam hadis tersebut ada seorang
datang kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam kemudian dia datang dari negeri
Yaman dan dia ingin berhijrah kepada
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka
Rasul sahu alaihi wasallam bertanya,
"Ya,
apakah
kedua orang tua masih hidup?" Maka dia
mengatakan masih. Maka Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam suruh balik untuk minta
izin kepada kedua orang tuanya. Minta
izin kepada kedua orang tuanya. Artinya
kalau kedua orang tuanya ya tidak
mengizinkan, maka dia tidak boleh
berhijrah kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Dan ini kita tahu bagaimana
besarnya pahala hijrah ya. Tetapi
ternyata hijrah tersebut tidak
bermanfaat
sebagaimana jihad tidak bermanfaat kalau
tanpa izin kedua orang tua. Dan ini
menunjukkan bakti kepada orang tua
pahalanya sangat luar biasa. Kita tahu
hijrah seperti apa pahalanya ya. Tetapi
ternyata kalau seorang mau hijrah dia
harus minta izin kepada kedua orang
tuanya. Ya,
ini segelintir kecil dari dalil-dalil
yang menunjukkan bagaimana
cara termudah untuk ee masuk surga
adalah dengan berbakti kepada kedua
orang tua. Ikhwan dan akhwat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee
Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala.
Kenapa pahala yang Allah berikan kepada
k orang tua seorang berbakti kepada
orang tua sangat besar? Karena
sebagaimana nanti kita dengar dibacakan
surah Luqman ya, bahwasanya jasa mereka
berdua sangat besar. Jasa mereka berdua
sangat sangat besar.
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Umuhu
wahnan al wahnin
wau ya
waliikaal masir."
Kami berwasiatkan kepada manusia untuk
berbakti kepada kedua orang tuanya.
Kemudian Allah ingatkan tentang ibu.
Ibunya telah mengandungnya dalam kondisi
lemah dan di atas kelemahan.
Ya. Hammalatu qurhan. Dalam ayat yang
lain, wawadathu qurhan. Dia
mengandungnya dalam kondisi tidak
menyenangkan dan melahirkannya pun dalam
kondisi tidak menyenangkan.
Wahamluhu wa fisaluhu salatuna syahro.
Kemudian dia mengandungnya dan juga
menyusuinya ya dalam surat Luqman 2
tahun. Dan ini bukan perkara yang mudah.
Dan
ketika Allah menyebutkan tentang jasa
ibu, karena jasa ibu inilah yang mudah
terlupakan. Berbeda dengan ayah. Kalau
ayah, seorang anak ketika dia besar, dia
kan baru ngeh setelah mungkin mumayiz
umur 7 tahun, 8 tahun, dia mulai ingat.
Apa yang terjadi ketika dia umur
setahun, 2 tahun dia enggak ingat.
Ketika dia sudah ngeh yang dia lihat
ayahnya yang kerja keras cari nafkah
memberi kepada ibunya memberi kepada
dia.
Dan itu dia lihat terus-menerus. Mungkin
ibunya cuma dilihat di rumah sayang sama
dia. Dia lupa bahwasanya ada kondisi
yang sangat ya urgen ketika dia masih
kecil yang semuanya dia bergantung
kepada ibunya yang tidak mungkin dia
ingat hal tersebut yaitu ketika dia
dalam kandungan.
Ya hamalatu ummuhu wahnan ala wahnin.
Dalam kandungan orang tidak ada ingat
dalam kandungan. Seandainya ibunya
asal-asalan makan sembarangan ya bisa
jadi keguguran. Bisa jadi dia lahir
dalam kondisi tidak sehat, bisa lagi
dalam kondisi cacat. Ya. Dan ibunya
sengsara ketika mengandungnya dan dia
tidak ingat akan hal tersebut. Gak ada
di antara kita ingat. Kemudian ketika
dilahirkan,
ya ibunya juga melahirkan dan dia juga
tidak tahu tentang kesulitan yang
dialami oleh ibunya. Kemudian ketika
menyusui
juga dia tidak tahu bagaimana susahnya
seorang ibu menyusui anak. Maka Allah
sebutkan secara spesifik Allah tidak
menyebutkan kebaikan ayah padahal ayah
juga kebaikan. Karena kebaikan ayah bisa
terlihat ketika besar. Adapun kebaikan
ibu sudah selesai, kita tidak
menyaksikan. Maka begitu pentingnya
berbakti sama orang tua sampai Allah
kalau bahasa kita langsung turun tangan
mengingatkan. Allah ingatkan langsung.
Maka di sini tidak mengapa jika seorang
ayah mengingatkan anaknya akan kebaikan
ibunya.
Karena kebaikan itu tidak dilihat oleh
anaknya dan sudah dilupakan oleh
anaknya. Misalnya sang ayah mengatakan,
"Lihat ibumu dulu waktu mengandungmu
begini begini begini begini."
Kita tidak bisa membayangkan itu kecuali
setelah kita menikah punya istri, punya
anak baru kita lihat ternyata
betapa sulitnya seorang ibu ketika
mengan mengandung. Berat ibu kalau sudah
mengandung istri kita kalau mengandung
susah. Minta dimanja kalau ada yang
manjain. Kalau ada yang manjain
sakit. Apalagi namanya ee apa namanya?
Ngidam.
Sampai ada yang marah bilang, "Ngidam
itu bidah. Jangan ngidam-ngidam
karena merepotkan." Ngidam itu apa?
Merepotkan.
Orang ngidam aneh-aneh. Pengin inilah,
pengin anulah.
Sampai ada kawan saya sama istrinya di
bis, dia cerita, "Saya lagi sama istri
di bis." Tahu tahu-tahu istrinya bilang,
"Bi, dia lagi ngidam nih, bi rujak."
Kata teman saya, "Tenang, nanti Abi
belikan." Enggak. Saya mau rujak yang
dimakan sama ibu itu.
Ini nyata ini. Akhirnya teman saya mau
tidak mau dia ke ibu itu. Bu, mohon maaf
Bu, mukadimah-mukadimah panjang. Intinya
minta rujak. Alhamdulillah. Ibu itu
ngerti dikasih. Coba bayang kasih.
Ngidam enggak gampang ya. Tahu-tahu jam
berapa pengin makan apa ya. Ada yang
pengin bau yang enggak enak-enak. Ada
kan pengin bau telek katanya. Ada.
Ada yang pengin istri suaminya naik di
atas lemari, gak tahu dia habis nonton
apa.
Yang menderita, yang tidak kuat dengan
bau suaminya. Ada.
Cuman saya cerita, saya ketemu kawan,
dia bilang,
"Firanda, saya hampir cerai istri saya."
Kenapa?
Waktu dia hamil dia tidak mau lihat
saya. Dia tidak mau cium bau keringat
saya. Hampir saya ceraikan. Saya pikir
ini kurang ajar nih perempuan.
Ternyata itu namanya apa? Tawahum. Kalau
bahasa Arab maksudnya adalah apa
namanya? Nggi ngidam. Sekarang saya
ngerti. Dan setiap istri saya mengandung
begitu terus. Jadi saya sudah 5 tahun
lima kali tersiksa. Dia dia punya anak
sudah lima. Kalau mengandung pasti
begitu. Jadi ya bukan cuma merepotan
ibu, merepotkan juga ayah. Belum
muntah-muntah ya. Sebagian ibu sampai
masuk rumah sakit. Ini kita enggak ingat
karena kita yang menyiksa dia. Kita
masih kecil. Makanya Allah mengatakan,
"Hammalathu kurhan." Dia mengandung
anaknya dalam kondisi tidak
menyenangkan.
Ini baru mengandung sudah bikin masalah.
Ya. Sementara dia tetap gembira lihat
anaknya. Dia menghadapi masalah tersebut
dengan kegembiraan.
Dengan kegembiraan. Orang tua kan
begitu. Semakin perutnya besar semakin
senang. meskipun dia sakit-sakit, dia
gembira karena menanti kedatangan
kelahiran sang anak yang terkadang
ternyata jadi anak kurang ajar di
kemudian hari. Mungkin kalau dia tahu
sejak awal dia matiin aja.
Subhanallah. Kita lihat istri baru kita
tahu. Subhanallah ibu saya juga pasti
begini dulu. Memang kita enggak tahu.
Kita kadang sadar seperti setelah orang
kita sudah mening meninggal.
itu mengandung. Kemudian ketika
melahirkan, melahirkan
saya punya anak
tujuh semuanya tidak ada yang saya hadir
kelahirannya.
Karena ada yang saya sedang di Saudi,
mereka lahir di Indonesia. Ada yang saya
yang sedi, saya enggak boleh masuk.
Terima bersih, pokoknya terima beres.
Keluar sudah oek-ek.
Satu yang saya berhasil masuk waktu
lahir di Jakarta karena yang punya
klinik teman saya.
Saya masuk temani seharian penuh.
Subhanallah.
Istri ketika melahirkan
mengalami namanya kontraksi. Saya baru
tahu inilah kontraksi yang disebutkan
dalam hadis ya dalam ee dalam kisah
Abdullah bin Umar radhiallahu taala
anhuma. Ketika ada seorang datang dari
Yaman kemudian dia menggendong ibunya.
Dari Yaman mungkin dia sudah gendong
ibunya, tapi dalam riwayat disebutkan
dia tawaf yaitu dia melaksanakan ibadah
haji gandong gendong ibunya dan dia
gendong ibunya dengan senang hati.
Saking senangnya kemudian dia
bersenandung dia berkata, "In laha
bairal mudallal waabamar."
Dia bilang, "Saya ini seperti
eh
unta bagi ibu saya." Unta yang tunduk
dan patuh, yaitu Albair almudzallal.
Almuzal itu dia tunduk patuh, disuruh ke
sana kemari dia semangat. Itu namanya
albair almudzallal. Saya. Artinya dia
ingin menyampaikan saya gendong ibu saya
dengan senang hati. Bukan ngomel-ngomel,
bukan enggak mau. Saya dengan senang
hati. Waikabamar.
Kalau unta-unta yang lain tidak senang
ditunggangi, saya tidak. Saya tidak.
Unta dikasih tumpanganak enggak suka.
Kasih tunggangan enggak suka, dikasih
beban enggak suka. Kalau unta-unta lain
menghindar, saya tidak. Saya menggendung
ibu saya dengan senang senang hati.
Maka dia ketemu Ibnu Umar. Dia berkata,
"Ya Ibnu Umar,
aturani jazaituha. Apakah menurut engkau
aku telah membalas kebaikan ibuku?" Kata
Ibnu Umar, "Wala zafratun wahidah atau
wala zafratan wahidah." Bahkan kau tidak
bisa membalas satu suara kesakitan yang
dia keluarkan ketika kontraksi.
Ah, saya baru tahu makna kontraksi pada
anak saya yang ketujuh. Subhanallah.
Oh, ini namanya kontraksi. Ternyata
sakit luar biasa ya. Benar enggak,
Ibu-ibu?
Benar. Kontraksi pembukaan sekian,
pembukaan sekian. Saya ikuti dari
pembukaan sampai pembukaan terakhir.
Ternyata sakit ya. Sakit tak napak sakit
sampai saya di pegang sampai saya di
saya sabar aja ya.
Subhanallah.
sakit sekali.
Sampai setelah itu saya bilang, "Habis
ini saya enggak mau ngomelin istri lagi.
Saking sakit yang saya lihat, ternyata
saya ngomel lagi."
Maksud saya luar biasa bagaimana
seorang ibu ternyata mereka
mengalami kesakitan luar biasa menanti
kelahiran seorang anak. Kata Ibnu Umar,
"Wala zafrah wahidah."
Kau pikul ibumu mungkin dari Yaman ke
Hijaz, kau tawaf pikul ibumu dengan
senang hati, tidak bisa membalas
kebaikan apa ibumu meskipun satu
kontraksi rasa sakit yang dia rasakan.
Makanya Allah menyebutkan ya wawadat
kurha. Dia melahirkan dalam kondisi
susah.
Hamatu ummuhu wahnan ala wahnin. Ibunya
mengandungnya dengan
kesakitan atau kesulitan kelemahan yang
bertambah-tambah. Lemah-lemah
bertubi-tubi menyerangnya kesakitan,
kepayahan.
Tiib melahirkan. Sudah melahirkan.
Disambut dengan gembira.
Setelah itu wafisuhu fi amain
disusui selama 2 tahun. Ah, ini juga
kadang-kadang anak-anak nakal. Puting
ibunya digigit aduh itu setengah mati.
Sakit sakit digigit sambil
ketawa-ketawa.
Ibunya nangis-nangis
berat gendong
sampai ibunya harus makan yang tidak dia
sukai. Demi sang anak tidak boleh makan
sembarangan. Ya.
Dan begitulah ya
kesulitan yang dihadapi oleh seorang
ibu. Yang ini semua kita lupakan. Oleh
karenanya hikmahnya Allah menyebutkan
secara spesifik. Adapun ayah enggak
perlu disebutin.
Orang setiap hari lihat ayahnya ke sana
kerja, kemari kerja, ibunya ini pertama.
Yang kedua, kenapa disebutkan ibu secara
khusus? Karena potensi durhaka kepada
ibu lebih besar daripada potensi durhaka
kepada a ayah.
Ya, kalau ayah enggak berani orang
duraka digampar sama ayah. Tapi kalau
ibu berani dia bentak ibunya, dia berani
perintah-perintah ibunya, dia berani
membangkang ibunya. Padahal kalau
dilihat jasa ibu sangat sangat besar.
Dari sinilah jumhur ulama berpendapat
bahwasanya berbakti kepada ibu tiga kali
lipat daripada ayah. Meskipun ini
masalah khilaf. Ada yang mengatakan sama
saja berdasarkan dalil yang lain. Ada
yang mengatakan tiga kali lipat. Karena
ibu ketika mengurusi anak, dia melakukan
tiga hal yang bersendirian yang tidak
disertai oleh ayahnya, yaitu ketika
mengandung, ketika melahirkan, ketika
menyu menyusui.
Saya kemarin ketemu dengan seorang ibu
usia 86 tahun
kemarin ya. Saya diundang makan, saya
makan di rumahnya 46 tahun. Saya
Subhanallah. Ibu ini dia cerita dia
punya anak tujuh.
perempuan enam laki satu.
Ketika usia 39 tahun suaminya meninggal
dan tidak meninggalkan harta sedikit
pun. Rumah tidak ada pun tidak ada.
Kemudian dia ngurus anak-anaknya tujuh
orang tersebut
dan dia ngomong sama saya dan dia tidak
pikun sama sekali dan dia bilang saya
cuma satu pegangan saya ya Allah ya
ustaz.
makarzu min hau yahtazib walah
fahua inallaha amri q jaallah q dia
ucapkan ayatnya dengan jelas dengan
makhraj yang jelas
dia datang dari kampung kemudian
berusaha berusaha ngurus
tujuh
anaknya saya bilang luar biasa ibu-ibu
zaman dahul ibu-ibu zaman dahulu luar
luar biasa bagaimana antum bayangkan Kan
seorang wanita anak tujuh umur 39 tahun
ngurus tidak ada harta ditinggalkan oleh
suaminya kemudian ngurus anak-anaknya
sampai dibawa ke Jakarta sampai akhirnya
berhasil.
Gak mudah
tapi dia bilang saya hanya bersandar
kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan
banyak ibu-ibu seperti itu. Banyak ibu
yang seperti itu. Maksud saya
Allah langsung kalau bahasa kita turun
tangan menjelaskan tentang jasa orang
tua agar kita berbakti kepada orangorang
tua. Dan semaksimal apapun kita berusaha
berbakti kepada orang tua maka kita
tidak akan bisa membalas jasa mereka.
Maka Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda, "La yajzi waladun walidan."
Seorang anak tidak bakalan bisa membalas
kebaikan orang tuanya, ibunya atau
ayahnya.
Ya illau mamlukan fastariahu
hadis riwayat Muslim. Seorang anak tidak
bakalan bisa membalas kebaikan orang
tuanya kecuali didapati orang tuanya
dalam kondisi budak.
Kemudian dia beli, kemudian dia
merdekakan baru dia bisa balas kebaikan
kedua orang tuanya. Kenapa? Karena di
antara besar jasa kedua orang tuanya
adalah kedua orang tuanya. Sebab dia
muncul dari alam ketiadaan menjadi alam
ada. Dari alam kematian menjadi alam
kehi kehidupan.
Ibarat kalau kau dapati ibumu jadi
budak, budak seperti enggak ada
hidupnya. Terus kau beli, kau merdekakan
seakan-akan dia mendapatkan kehidupan
baru baru kau bisa balas kebaikan kedua
orang tuamu yang merupakan sebab hidupmu
di atas muka bumi ini.
Dan itu tidak mungkin. Apalagi zaman
sekarang. Zaman dahulu pun mendapati
kondisi seperti itu sangat sulit. Tidak
semua orang bapaknya budak.
Sehingga kondisi seperti ini hampir
kondisi yang sangat hampir tidak
terjadi. Seorang mendapati ayah atau
ibunya budak kemudian dia beli kemudian
dia merdekakan. Orang banyak bapaknya
bukan budak. Iya enggak? Orang banyak
anak-anak banyak bapak ibunya bukan
budak.
Kalaupun dia mendapati bapak ibunya
budak dan dia merdeka, belum tentu dia
punya uang untuk bisa membeli. Kalaupun
dia punya uang untuk membeli, belum
tentu pemilik budak tersebut mau jual.
Sehingga kondisi itu seperti syibhul
mustahil. Hampir-hampil mustahil. Maka
ketika Nabi memberi parameter bagaimana
kau bisa balas kebaikan orang tuamu,
satu cuma satu cara. Kau dapati orang
tua budak, kau beli, kau merdekakan. Dan
itu kondisi yang hampir mustahil
menunjukkan kita enggak bakalan mungkin
bisa balas kebaikan kedua orang tua. Di
antara hal yang menunjukkan tidak
mungkin kita balas karena bagi orang tua
keutamaan
fadlul bid. Mereka yang pertama kali
memulai kita belakangan. Bagaimanapun
yang mulai lebih utama daripada yang mem
membalas. Yang berikutnya ketika mereka
mengurusin kita masih kecil dengan
senang hati. Saya bilang tadi orang tua
ketika mengandung sakit-sakit dia
senang. Dia tidak marah-marah, "Kamu nih
ngapain di perut saya?" Enggak. Dia
senang. Al tole tole.
Dia senang.
Ketika dia melahirkan dalam kondisi mau
mati, dia tetap sayang kepada anaknya
dengan senang hati. Ketika dia menyusui
dengan sayangnya, ketika dia mencebok
dengan kasih sayang, kesulitan dia
hadapi, dia berharap anak ini hidup
besar. kita susah begitu. Tarulah kita
mendapati kondisi orang tua kita jompo,
perlu kita urus, perlu kita cebok, kita
enggak akan hati kita tidak seperti hati
orang tua kita ketika ngurus ngurus kita
enggak makan, enggak bakalan sama.
Sebagai orang tua ngurus ibunya,
sabarlah ya,
enggak ada lagi yang ngurus ya sudahlah
ya mungkin sebentar lagi sudah tiada.
Jadi berat
menyabar-nyabarkan diri bukan dengan
kondisi senang. Oh, Ibu nanti saya yang
cebok, Bu. Tenang, enggak ada. Ibu bisa
cebok sendiri enggak?
Beda, hati tidak bakalan sama. Dengan
demikian, ketika kau tidak bisa melayani
orang tuamu seperti hati orang tuamu
ketika melayanimu, menunjukkan kau tidak
bisa membalas kebaikan orang tuamu.
Dan orang tua kalau bicara tentang anak
kuda semuanya dia korbankan
habis-habisan.
Mau sawah dia jual supaya anaknya
kuliah.
Mau dia tidak tidur untuk ngurusin
anaknya.
Ketika anaknya sakit, dia lebih sakit
daripada sang anak. Anaknya panas, dia
yang lebih sedih. Dia menangis. Kita
betapa sering lihat istri kita nangis,
anaknya sakit.
Dia lebih sakit daripada sang anak.
Dan orang tua mikir anaknya terus.
Sampai kita sekarang punya anak sudah
besar, kita juga masih mikir. Saya punya
anak sudah gede-gede, saya masih mikir
gimana anak pertama masa depan mereka
gimana itu orang enggak bisa lepas dari
hati orang tua. Karena saya masih kecil,
mudah-mudahan dipikir anak perempuan
gimana suaminya masih mikir. Nanti saya
harus carikan suaminya mikir. Saya
ketemu seorang saya saya tanya, "Pak,
gimana anak saya?" "Iya ada." "Sudah
punya cucu?"
Nah, dia bilang, "Belum." Atau sudah
belum? Belum. Iya. Iya. Belum pada
nikah. Oh, anak belum nikah. Berapa
usianya? Sudah 35 perempuan belum nikah.
Coba bayangkan kira-kira orang tuanya
sedih enggak? Sedih mikir. Lebih sedih
mungkin daripada sang putri tersebut
yang belum menikah. Orang tua tuh mikir
terus. Mungkin dia tidak ungkapin. Tapi
dia mikir.
Dia mikir. Ibu mikir ayah mikir. Ya,
sekarang baru kita rasakan sebagai ayah.
Bagaimana kita yah yahmil hammal aulad
kita, mikir anak-anak kita
itu suatu beban tersendiri. Beban
tersendiri.
Oleh karenanya gak mungkin kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam seorang bisa
membalas kebaikan kedua orang tuanya
karena
ee tidak akan sama dia bisa berbuat
seperti perbuatan orang tuanya. Kemudian
muncul anak-anak zaman sekarang pelit
sama orang tuanya. Pelit sama orang
tuanya. Orang tua dulu enggak pernah
pelit sama anaknya. Kalau bisa dia pergi
ke dokter terbaik, dia keluarkan uang
kalau dia punya uang. Kalau dia bisa
sekolahkan terbaik, dia akan keluarkan
uang demi menyolahkan anaknya yang
terbaik. Kalau dia bisa jual apa yang
dia jual untuk anaknya, dia kasih. Orang
tua seperti itu. Ini bicara secara umum,
kecuali orang tua bahlul ya. Secara umum
orang tua berkorban.
Kemudian datang anak-anak zaman sekarang
pelit sama orang tuanya.
Ibunya minta sesuatu dia banyak
pertimbangan.
Kalau dulu dulu orang tua kita banyak
pertimbangan, kita kursus kerempeng.
Bu, minta susu
teh aja ya. Teh.
Susu mahal padahal dia ada uang cuma
pelit. Coba kalau orang tua pelit, ente
udah bahlul, jelek, kurus,
terbuang-buang di jalan.
Sekolah, Bu. Aduh, gratisan aja deh.
Gratisan.
Carian. Semua yang murahan.
Kalau semua yang murahan kita jadi apa?
Sekarang kalau ibu minta, ayah kita
minta, sementara kita punya, kita pelit
sama orang tua. Kalau orang tua pelit
sama kita, kita enggak jadi orang.
Enggak jadi orang. Mungkin autis,
mungkin
apa namanya mutakhalif, akalnya
terbelakang ya. Tapi orang tua sayang
sama sama kita.
Oleh karena jasa orang tua ya
bagaimanapun tidak bakalan kita bisa
kita bisa balas dan itu harus kita
ingat. Oleh karenanya ketika kita
berbakti kepada orang tua
kita hanya berharap rida Allah subhanahu
wa taala. Rida Allah subhanahu wa taala.
Adapun ingin saya pengin balas
sebagaimana orang tua, mustahil enggak
mungkin.
Tetapi di antara kebaikan Allah
Subhanahu wa taala,
Allah menjadikan bakti kita kepada orang
tua justru kebaikannya kembali kepada
kita.
Wam yaskur fainnama yaskuru linafsih.
Luqman berkata kepada anaknya, wam
yasykur fainnama yaskur nafsi. Siapa
yang bersyukur bukan untuk Allah,
sungguhnya untuk dirinya sendiri. Benar
menguntungkan orang tua, tapi yang lebih
beruntung adalah kamu sendiri.
In ahsantum ahsantum lianfusikum.
Kalau kalian berbuat baik untuk diri
kalian sendiri.
W yaskur fnama yaskur linafsih. Siapa
yang bersyukur dia bersyukur kepada
dirinya sendiri. Lihat Luqman sebutkan
ayat ini sebelum dia mengatakan wasinal
insana biwalidaihi ihsana. Baru dia
menyebutkan tentang bersyukur kepada
kedua orang tua. Untuk mengingatkan
bahwasanya ketika kau berbakti sama
orang tua, benar orang tua bahagia
tetapi yang lebih beruntung adalah kamu
sang anak
karena kau akan mudah masuk surga.
Tib.
Maka pada kesempatan kali ini saya akan
menyebutkan beberapa keutamaan
yang balik kepada sang anak.
Orang tua kalau punya anak
berbakti dia bahagia. Dia bahagia.
Tetapi seharusnya yang lebih bahagia
adalah sang anak. Banyak sekali
keuntungan diambil oleh se anak
gara-gara ber sama orang tuanya. Di
antaranya baik duniawi maupun ukhrawi,
dunia maupun akhirat.
Di antaranya terkait dengan duniawi, dia
akan dilapangkan rezekinya. Akan
dilapangkan apa? Rezekinya.
Sebagaimana dalam hadis kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Ya
man ahabba anahimah."
Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya,
dipanjangkan umurnya, maka hendaknya
sambung silaturahmi.
Pengin rezeki lapang, pengin umur
panjang, sambung silaturahmi.
Dan silaturahmi terbaik adalah kepada
kedua orang tua. Dunia ini apa yang kita
inginkan? Ingin duit banyak, umur
panjang. Ya enggak? Apa yang diusahakan
orang sibuk-sibuk 24 jam? Pengin duit
banyak, umur panjang. Makanya kalau dia
sakit, dia keluarkan uang
sebanyak-banyaknya supaya apa? Supaya
bisa umur panjang. Itulah dunia
kenikmatan dunia yang dua kenikmatan
dunia yang dikejar oleh manusia
dengan kerja letih, capek, lelah. Di
antara sebab ukhrawi yang memudahkan
seorang mendapatkan dua kelezatan dunia
ini, rezeki banyak, umur panjang yang
berkah adalah berbakti kepada kedua
orang tua. Kalau kita berbuat baik
kepada tante, kepada adik, kepada kakak,
kepada ponakan itu silaturahmi
mendatangkan rezeki, memanjangkan umur,
apakah lagi kepada kedua orang tua,
apatah lagi kepada kedua orang tua.
Karena puncak silaturahmi adalah
berbakti kepada kedua orang tua. Maka
gak usah ragu-ragu kalau semua orang
tua. Pilihkan yang terbaik kalau kita
punya rezeki. Kalau enggak ya fattaqulah
matum. Bertakwalah semampum. La
yuklifulahu nafsan illaha. Allah tidak
meluar kemampuan. Kalau kau punya uang,
ibu lagi sakit carikan dokter terbaik.
Kalau kau merasa kasih anak yatim dapat
pahala,
membantu masjid merasa dapat pahala,
membantu janda merasa dapat pahala,
janda tua maupun janda muda, apalagi
orang tua. Semua itu pahalanya kalah.
Kalau kita berbakti sama orang tua,
jangan ragu-ragu.
Begitu kau keluarkan banyak untuk orang
tua, tentu saya berbicara tentang orang
yang mampu. Kalau enggak mampu ya uzur.
Ini saya bicara bagi orang yang mampu.
Begitu dia mengeluarkan untuk orang
tuanya, dia akan dilapangkan rezekinya,
akan dipanjangkan umur umurnya. Harusnya
45 tahun dia sudah tewas jadi 65.
Harusnya dia keluar ketabrak truk jadi
ketabrak motor. Masih hidup.
Kenapa dia panjang umur? Karena berbakti
sama orang tua. Rezekinya lancar karena
ber sama orang tua. Di saat lagi banyak
orang
macet usahanya, banyak orang bangkrut,
usahanya tetap eksis. Kenapa? Berbakti
sama orang tua. Dan itu rahasia Allah,
cara Allah ada. Kita tentunya berbakti
sama orang tua bukan itu yang kita cari.
Itu suatu yang suatu yang otomatis.
Tetapi
karena begitu pentingnya berbakti sama
orang tua, seorang boleh berniat seperti
itu. Boleh. Selama niat akhirat tetap
mendominasi. Makanya Rasulullah
memotivasi, Rasulullah mengiming-iming.
Rasulullah berkata, "Man ahabba." Siapa
yang suka dilapangkan rezekinya, panjang
umurnya, sambung silaturahmi. Di
antaranya berbak sama orang tua. Ini
niat duniawi atau bukan?
Niat duniawi. Bolehkah seorang
menyambung silaturahmi dengan niat
duniawi? Boleh. Selama niat akhirat
tetap mendomi mendominasi. Seandainya
kita tidak berniat itu akan datang
otomatis. Tetapi meniatkan boleh karena
Rasulullah yang mengang ini. Kenapa
Rasulullah sampai bolehkan niat duniawi?
Karena pentingnya silaturahmi dan
pentingnya berbakti kepada kedua orang
tua. Makanya betapa banyak kesuksesan
terjadi karena anak ini berbakti sama
kedua orang tuanya. siapapun dia sebagai
daiah sebagai pengusaha sebagai
pejabatkah sebagai apapun kalau dia ber
sama orang tua orang tua niscaya dia
akan sukses.
Niscaya dia akan sukses. Karena Allah
akan mudahkan duniawinya belum lagi
akhiratnya. Ini keuntangan keuntungan
yang didapat oleh sang anak lebih
daripada sang orang tua.
Kemudian di antara keuntungan yang dia
dapatkan oleh sang anak,
kalau ternyata dia berbakti sama orang
tua, lantas orang tuanya mendoakannya,
subhanallah langsung dikabulkan oleh
Allah Subhanahu wa taala.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
dawatin mustajabat laak fina. Tiga doa
yang pasti dikabulkan tidak diragukan
akan pengkabulannya. Dakwatul walid, doa
orang tua. Wadakwatul musafir doanya
orang yang sedang bersafar. Wadakwatul
mazlum doa yang sedang dizalimi.
Subhanallah. Di antaranya doa orangorang
tua. Kalau orang tua masih hidup, jangan
malu-malu untuk minta doa orang-orang
tua. Bertawasul dengan doa orang tua.
Karena tidak ada orang yang paling tulus
mendoakan kita seperti orang tua kita.
Antum coba kalau doa yang paling banyak
antum doain siapa? Anak-anak.
Antum doain diri sendiri setelah itu
siapa? Anak-anak. Doain istri aja enggak
terlalu.
Iya enggak? Doain istri enggak terlalu,
tapi kalau doain anak luar biasa.
Doain anak luar luar doanya. Ya Allah,
ya Allah. Karena buah hati. Tidak ada
orang tulus doain kita seperti orang tua
kita dengan penuh kasih sayang, dengan
penuh harapan, dengan penuh kegembiraan.
N kalau kita berbakti sama orang tua,
orang tua sayang sama kita, dia bakalan
banyak doain kita. Dan tidak mengapa
kita minta, "Ya, ya, Mak, Pak, doainlah.
Doain meskipun kita ustaz, doain
kalau masih punya orang tua minta doa.
Saya pernah ketemu seorang syekh
profesor di Madinah. Dia bilang, "Di
antara yang saya sesalkan malu minta doa
sama orang tua." Kemudian orang tua saya
meninggal.
Orang tua mening meninggal
dulu. Kalau saya menghadapi kesulitan,
ada yang saya andalkan di antaranya. Doa
orang tua. Sekarang enggak ada. Orang
tua sudah enggak ada.
pernah pernah suatu kasus terjadi kasus
waktu
visa Furoda, saya haji dengan visa
Furoda tahun berapa? 2023 atau 2022 saya
lupa. Visa ketiga sangat keluar sampai
orang waktunya berangkat visa belum
keluar.
Maka kita bilang berdoa berdoa. Ada satu
orang pejabat
ikut haji. Saya bilang, "Pak, kenal si
fulan, kenal ini kenal.
pejabat tingkat tinggi
sudah tinggal suruh telepon kedutaan
Saudi. Insyaallah Bapak visanya keluar.
Telepon kamu usaha. Insyaallah ustaz
katanya. Subhanallah. Besok visa dia
keluar. Saya bilang Pak telepon siapa?
Pejabat siapa? Presiden kah atau
siapakah? Enggak. Saya telepon ibu saya
suruh bawa saya telepon ibu saya. Ibu
saya doa besok bisa dia keluar. Ini
kisah nyata. Mau saya subhanallah antum
kalau masih punya orang tua jangan lupa
minta doa. Gak usah malu-malu.
Orang tua kalau dia doa tulus, "Ya Allah
bahagiakan anakku." Kita akan bahagia.
Sukseskan anakku. Satu dunia pengin
antum enggak sukses. Satu dunia pengin
antum jatuh, antum akan sukses. Kalau
Allah kabulkan.
Jagalah anakku. Satu satu dunia ingin
mencelakakan antum. Kalau orang tua
dikabulkan antum tidak akan celaka.
Mumpung ada orang tua, tidak ada yang
tulus doain kita seperti orang tua.
Oleh karenanya kalau kita berbakti
sebenarnya yang beruntung adalah kita.
Ya. Ya. Karena
orang tua doanya sangat dikabulkan.
Kemudian juga
di antara keuntungan yang kita dapatkan
adalah doa kita juga mudah dikabulkan
kalau kita berbakti sama orang tua. Doa
kita mudah dikabulkan kalau kita
berbakti sama orangorang tua. Di
antaranya ada dua dalil akan hal ini.
Dalil pertama kisah tentang tiga orang
yang terjebak dalam goa. Kisah yang
masyhur tinggal tiga orang Bani Israil
mereka berjalan tahu-tahu turun hujan
mereka bernaung dalam sebuah goa.
Tiba-tiba ada batu besar turun nutup
pintu goa. Maka mereka bilang kita tidak
bakalan selamat. Lama-lama mungkin
oksigen habis. Lama-lama kita enggak
bisa keluar. Mati kelaparan.
Akhirnya mereka berkata, "Marilah
masing-masing kita berdoa dengan amalan
yang paling dia andalkan."
Mulailah tiga orang tersebut berdoa.
Ternyata tiga orang ini semua tiga orang
saleh.
Salah satunya berdoa dengan amanahnya.
Dia mengatakan, "Ya Allah, dulu saya
punya
pegawai, saya kasih gaji mereka semua,
kecuali satu. Saya mau kasih gaji, kata
dia, "Nanti aja."
Cuma beberapa aso yaitu sembilan aso
atau berapa artinya cuma beras beberapa
puluh kilo
kalau di atau gandum beberapa puluh kilo
atau beberapa kilo dia tidak mau ambil
akhirnya dia pergi akhirnya saya olah
gandum tersebut saya tanam saya
tumbuhkan akhirnya menghasilkan
menghasilkan akhirnya saya beli hewan,
saya beli unta saya beli sapi, saya beli
kambing sehingga penuhlah unta, penuh
kambing, penuh sapi. Dan saya niatkan
semua ini buat dia karena saya kelola
harta dia. Daripada hartanya nganggur
saya kelola. Setelah bertahun-tahun
kemudian dia datang nagih upahnya. Kata
dia, "Bos,
ya Abdullah ati haqqi. Mana bos? Apa
gaji saya dulu?
Kata aku, itu yang semua yang semua kau
lihat itu punyamu, itu gajimu."
Kata pegawaiku, "Ya bos la tahzib,
jangan ngejek saya. Saya enggak ngejek
itu semua milikmu. Beneran beneran. Maka
dia pun ambil seluruhnya dan dia tidak
sisakan satu ekor pun buat saya. Tidak
bilang syukron. Gak ada. Dia ambil
semuanya.
Mungkin kalau kita berubah niat, "Ah,
saya cuma bercanda. Eh, nih 10 kilo dulu
gajimu. Enak aja sudah ratusan kambing,
ratusan on, enggak, enggak. Saya
bercanda aja. Tapi amanah. Tidak ada
yang tahu niat dia kecuali siapa?
Allah. Subhanallah.
Ini dikisahkan seorang imam, saya lupa
Imam Ahmad atau imam yang lainnya, dia
pengin bersafar ke Yaman. Ini bertemu
dengan Abdur Razzaq Assan'ani atau ahlul
hadis yang lain. Ternyata ketika hajian
ketemu.
Maka dia bilang, "Ngapain ke Yaman
lagi?" "Sudah ketemu?" "Enggak. Saya
punya niat sama Allah pengin ke Yaman."
Dia tetap jalan. Karena seorang saleh
dia bermuamalah dengan Allah bahkan
dengan niat.
Seandainya dia rubah, dia bilang tadi,
"Iya sudah ini gajimu cuma 10 kilo sudah
selesai." Tapi enggak.
Ketika dia itu dia berniat Allah yang
menyaksikan maka dia ambil semuanya
tanpa menyisakan satu ekor pun dia
mengatakan Allahumma inuntu faalik
ibajhusna
f ya Allah kalau aku melakukannya karena
mengharap ikhlas mencari wajahmu,
bukalah pintu goa
untuk menghilangkan kesulitan kami.
Artinya dia ikhlas. Dia tidak
cita-cerita, "Eh, saya dulu ikhlas. Saya
dulu punya pegawai, dia enggak pernah
cita-cerita. Yang tahu cuma siapa?
Allah. Dan dia tidak sombong. Dia sampai
berkata, "Kalau memang saya ikhlas,
dia tidak bilang saya pasti ikhlas." Ya
Allah, in kununtu faaltualik ibti
wajhik. Kalau saya melakukannya karena
engkau bukalah pintu. Akhirnya terbuka
sebagian.
Satunya berdoa bagaimana dia takut
kepada Allah. Dia bilang, "Ya Allah,
dulu saya punya sepupu wanita yang
paling saya paling saya cintai. Saya
kejar-kejar dia bertahun-tahun. Kalau
ada lelaki sangat cinta kepada wanita,
itulah saya."
Ya, mungkin lebih dari Romeo dan Juliet.
Saya sangat cinta kepada wanita tersebut
dan saya selalu minta dia enggak mau.
Sampai suatu saat
alamat biha sina. Akhirnya dia dalam
kondisi atau sana dalam kondisi susah.
Dia butuh uang.
Maka dia minta uang kepada saya. Saya
bilang, "Saya kasih dengan syarat
serahkan kehormatanmu kepadaku." Dan dia
siap butuh uang. Maka saya carikan uang
sampai 100 dinar. Dalam sebagian riwayat
120 dinar. 1 dinar itu kalau kita
konversi 4 1/4 gram emas. 100 dinar
berarti
berapa? 400 25 hampir 1/2 kilo 12eng kg
mas saya kasih sama dia. Kemudian dia
pasrah. Ketika saya sudah ingin
menggauli dia, saya sudah berposisi
sebagaimana suami dengan istrinya.
Tiba-tiba dia berkata, "Ittaqillah ya
Abdallah wudam bihaqqi." Wahai Abdullah,
wahai hamba Allah, bertakwalah. Jangan
kau menghilangkan kegadisan seorang
kecuali dengan haknya. Saya kaget, saya
tinggalkan, saya pergi. Dan ini susah.
Ini perempuan yang dia kejar-kejar dan
ini laki-laki dalam kondisi sudah
syahwat sudah bergejolak.
Kalau masih mukadimah bisa pergi. Ini
sudah di depan, sudah terbuka,
sudah bergejolak, mustahil bisa selamat.
Mustahil. Kata orang kalau laki-laki
sudah bergejolak syahwatnya 2/3 otaknya
sudah hilang. Sebagian orang hilang
semua otaknya. Dia sudah enggak mikir
istrinya, enggak mikir anaknya, enggak
mikir akhirat, enggak mikir neraka.
Pokoknya harus lepas landas baru dia
bisa segar.
Bayangkan lelaki ini. Saya bayangkan
betapa sulit godaan yang dia hadapi.
Maka saya pun meninggalkannya karena
Engkau ya Allah. Kalau saya
melakukannya, engkau bukalah pintu itu.
Buka terbuka tapi belum bisa keluar.
Satu berbakti sama orang tua
doanya dikabulkan.
Dia bilang, "Allahumma inana li apa wali
apa abawani sikhani kabirani." Saya dulu
punya dua orang tua yang sudah tua,
sudah jompo. Dan saya selalu kalau ambil
susu pagi atau petang, saya selalu kasih
mereka berdua sebelum anak-anak. Suatu
hari saya datang terlambat kemalaman,
jatah susu sore, saya terlambat bawa
karena ada urusan saya terlambat bawa.
Saya mau kasih kedua orang tua saya. Itu
kebiasaan saya orang tua dulu baru
anak-anak, baru istri, ternyata orang
tua saya sudah ketiduran. Mau saya
bangunkan mereka sedang pulas tidur.
Mau saya tidur khawatir mereka nanti
terjaga jam 12.00, jam .00 kelaparan.
Saya tungguin akhirnya tungguin kapan
orang tua saya bangun. Anak-anak yatadun
wasiban yatadun. Anak-anak sudah nangis
minta jatah susu. Saya bilang, "Enggak.
Kebiasaan saya orang tua dulu. Saya
nunggu, nunggu nunggu. Ternyata orang
tua tidur sampai pagi." Subhanallah.
Allah sedang ingin uji dia. Memang kok
enggak bangun-bangun, Mbah? Bah,
orang tuanya enggak bangun kecuali waktu
su subuh. Saya nungguin tidak tidur
semalam suntuk saya kasih. Ya Allah,
jika saya melakukannya karena Engkau, Ya
Allah, bukalah pintu gua. Artinya pintu
gua terbuka. Dia berbakti sama
orangorang tua. Orang berbakti sama
orang tua doanya dikabulkan.
Di antaranya kisah Uwais Al-Qarani dalam
Sahih Muslim. Kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Khairu tabiin Uwais
al-Qarani." Sebaik-baik tabiin adalah
Uwais al-Qarani.
Kemudian Nabi mengatakan sifat-sifatnya
di antaranya, "Kana lahu ummun hua
bihabar." Dia punya ibu dan dia berbakti
kepada orang tuanya, kepada ibunya. Dan
dia dahulu punya penyakit baras, maka
dia berdoa kepada Allah sembuhlah
penyakitnya illa qadr dirham. Kecuali
seukuran dirham di pusarnya.
Kata Nabi, "Wahai Umar, kalau kau mampu
agar dia mohon ampun buat engkau, maka
lakukanlah."
Rasulullah meninggal, berita itu tetap
dihafal oleh Umar Uwais Al-Qari.
Maka ketika di zaman pemerintahan Umar
bin Khattab
sering terjadi futuhat, terjadi jihad,
jihad, jihad, maka Umar membutuhkan
pasukan dari jauh. Di antaranya jaa
amdadu ahlil Yaman. Pasukan datang dari
negeri Yaman. Setiap datang dari Yaman,
Umar bertanya, "Afiikum Uwais?" Adakah
di antara namanya Uwais? Tidak ada.
Sampai akhirnya datang seorang namanya
Uwais dari Qaran Al-Qarani. Umar
bertanya, "Engkau namanya Uwais?" "Iya."
"Dulu kau punya penyakit baros kemudian
sembuh kecuali seukuran dirham." "Iya."
"Dari mana engkau tahu wahai amirul
mukminin?" "Wes enggak pernah
ngomong-ngomong,
gak enggak pernah cerita-cerita. Kau
punya ibu, kau berbakti sama dia." "Dari
mana engkau tahu ya R ya? Wahai Umul
Mukminin?" Dia bilang, "Enggak, saya
tahu dari Nabi. Saya tahu dari Nabi."
Subhanallah.
Nabi bilang, "Kalau kau mampu, Umar,
minta dia doakan keampunan. Ampunan
buatmu. Maka saya mohon engkau doakan
saya agar saya diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala." Ti sebagian ulama
mengomentari,
UES ini sebenarnya dia mau datang kepada
Nabi, ingin ketemu Nabi, tetapi dia
punya ibu yang harus dirawat.
Sehingga akhirnya dia tidak jadi
sahabat. Jadinya apa? Tabiin. Sebandang
seperti itu. Oleh karenanya halangan dia
untuk menemui Nabi karena ibunya. Dan
ini uzur syari. Maka Nabi sallallahu
alaihi wasallam ingin menghiburnya
dengan menyuruh orang yang lebih utama
dari dia itu Umar. Umar jauh lebih utama
dari Uwais. Agar minta doa kepada siapa?
Uwais sebagai bentuk hiburan bahwasanya
apa yang dilakukan sudah benar. Meskipun
tidak bertemu Nabi karena ada ngurusin
siapa?
ibunya.
Dan di antaranya doanya dikabulkan
sampai dia punya penyakit baros. Yang
ketiga tidak ada obatnya, dia minta
disembuhkan dan Allah sembuhkan sampai
karena saking kata Nabi, "Lau aksama
alallah laarahu." Kalau dia bersumpah
nama Allah, pasti Allah kabulkan
sumpahnya. Sampai Nabi suruh Umar minta
doa dari dia dan dia mengabulkan dan dia
mendoakan Umar agar Allah kabulkan.
Karena dia orang yang doanya dikabulkan.
Tib. Kenapa doanya dikabulkan?
Berbakti sama ibunya. Setelah itu Umar
berkata, "Ia aina turid?" "Kau nak ke
mana?" Kata ilal Kufah. Ke negeri Kufa.
Alaubulaka amiliha. "Maukah aku tulis
memo untuk gubernur Kufah ngurusin
kamu?" Kata dia, "Enggak, enggak." Amir
launas
ahabu ilaiya. Saya lebih senang jalan
bersama orang-orang yang tidak dikenal
daripada jadi tenar dikenal oleh
gubernur. Enggak. dia enggak kepingin
kemudian dia menghilang UIS Alqaroni.
Maksud saya jadi kalau kita bik sama
orang tua kita yang lebih banyak
beruntung daripada orang tua. Doa
dikabulkan. Di antaranya juga diampuni
dosa-dosa.
Datang dalam dua ee
riwayat dari
Ibnu Abbas kalau tidak salah saya
jadikan dulu.
Di antaranya kisah
seorang yang orang membunuh yang belajar
sihir. Jadi maksudnya kalau kita berb
sama orang tua dosa-dosa kita banyak
diampuni. Tambah kita sadari dosa kita
banyak diampuni.
Makanya saya bilang tadi di antara
keuntungan yang kita rasakan kalau sama
orang tua berbakti sama orang tua. Orang
tua ini mewakili banyak amal saleh.
Mungkin seorang kurang salat malam,
kurang sedekah, tapi sama orang tua bisa
mewakili banyak amal saleh. Dan dengan
berbakti kepada orang tua bisa
mengampuni banyak dosa yang mungkin kita
tidak sempat bertobat darinya. Banyak
dosa bisa dihilangkan dengan berat sama
orang tua. Di antara dalilnya kisah
disebutkan oleh Ibnu Ibnu Katsir dalam
tafsirnya ketika ada seorang wanita
belajar sihir setelah dia sadar
bahwasanya sihir adalah syirik, maka dia
datang kepada Nabi ingin minta fatwa.
dia ingin bertobat. Ketika dia pergi ke
Madinah, ternyata Nabi sudah meninggal
dunia. Maka dia pergi kepada para
sahabat, minta fatwa, "Saya pernah
berbuat syirik. Apakah mungkin saya
diampuni dosa-dosanya?" Sahabat tidak
mau jawab. Offer ke sahabat yang lain.
Over ke sahabat. Sampai kepada Ibnu
Abbas. Ibnu Abbas berkata, "Kau masih
punya orang tua? Masih punya ibu?"
"Masih." Kata Ibnu Abbas, "Berbaktilah
kepada ibumu." Artinya, dengan berbakti
kepada ibumu, dosa syirikmu, praktik
sihirmu bisa diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala.
Demikian juga dalam riwayat yang lain
dari Ibnu Abbas saya bacakan.
Atahu rajulun faqala. Ada seorang datang
kepada Ibnu Abbas, ini dosa membunuh.
Dia berkata, "Inni khumatan faabani,
saya ngelamar seorang wanita.
dan dia enggan menikah denganku.
Tiba-tiba ada laki-laki lain masuk
ngelamar.
Ternyata wanita ini menikah dengan
laki-laki lain. Ingin nikah sama
laki-laki lain.
Maka saya pun cemburu kepada wanita ini.
Saya bunuh wanita ini.
Fahali minbah. Apakah saya masih bisa
bertobat?
Ibnu Umar eh Ibnu Abbas bertanya,
"Ummuka hayyatun. Ibu masih hidup?"
Bayangkan. Pasti Ibnu Umar, Ibnu Abbas
akan mengatakan, "Berbakti sama orang
tuamu, insyaallah kau diterima
tobatnya." Bahwasanya berbakti sama
orang tua menghapuskan dosa-dosa.
"Umuka hayyatun, ibumu masih hidup?"
Qala sudah meninggal dunia. Kalau gitu
ya sudah tub ilah azza waalla watqar
ilai.
Bertobatlah kepada Allah dan
bertakwalah, beribadahlah semaksimalu
yang kau bisa lakukan.
Berkata Atha bin Yasar,
muridnya Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas. Aku bertanya kepada Ibnu
Abbas, kenapa jawabannya demikian?
Wahai gurunda, kenapa Anda bertanya
tentang ibunya masih hidup atau tidak?
Apa kata Ibnu Abbas? Inni aamu amalan
akrallahi taala min birril walidah. Aku
tidak tahu ada amal saleh yang paling
mendekatkan seorang kepada Allah seperti
berbakti kepada ibu.
Bakti kepada ihapuskan dosa-dosa dan
sangat mudah mendekatkan kepada Allah
Subhanahu wa taala.
Ibnu Umar berkata, "Fawallahi lau alamal
kalam." Seandainya kau berkata-kata
lembut kepada ibumu,
thaam dan kau beri makan kepada ibumu,
jannanal
kabair, maka kau akan masuk surga selama
kau menjauhi dosa-dosa besar. tinggal
lemah lembut sama orang tua, bakti
semampunya, insyaallah masuk surga.
Kalau kita bicarakan tentang jadi maksud
saya keutamaan yang lebih banyak yang
peroleh adalah kita anak yang berbakti
kepada orang orang tua lebih daripada
apa yang didapatkan oleh orang orang
tua.
Terakhir saya ingin sampaikan tentang
perkataan para salaf tentang bagaimana
ee
bentuk berbakti kepada orang tua Hasan
Al Basri.
Dia ditanya, "Ma barul walidain?" Maul
walidain. Apa itu bakti kepada orang
tua?
Kata Hasan Al Basri,
engkau berkorban untuknya dengan apa
yang kau miliki.
Dan kau taat kepada mereka berdua pada
perkara yang mereka perintahkan
kepadamu.
Kecuali maksiat. Itu sebisa mungkin
kalau orang tua nyuruh kita, kita bilang
dalam
enje.
Iya.
Sebisa mungkin. Iya. Iya, iya, Bu.
Insyaallah Bu. Insyaallah, Bi.
Insyaallah. Tidak nolak sama sekali
semampu kita. Kecuali orang tua suruh
maksiat.
Selama bukan maksiat, insyaallah itulah
amal saleh terbaik. Itulah amal saleh
terbaik.
Tib. Berikutnya
kata
Abu Hurairah, dia melihat dua orang.
Kemudian salah satunya berkata, dia
bertanya, "Siapa ini?" "Ini siapamu?"
"Ma hadza minka?" "Ini siapamu?" Kata
Abu Hurairah. "Faqala abi, "Ini ayahku."
Faqala tusammi bismi. Jangan kau panggil
dengan namanya. W tamsi amamahu. Kata
Abu Hurairah ngajarin, "Kalau kau
berbakti jangan panggil namanya Bejo.
Jangan panggil Abi, Abati, ya, Papi, ya,
Abi. Jangan panggil namanya.
W tamsi amamahu. Kalau kau berbakti
jangan jalan di depannya, jalan di
belakangnya, sampingnya. W tajiz
qoblahu. Jangan duduk sebelum dia. Dia
duduk-duduk baru kau duduk. Ini
cara-cara berbakti.
Luqman alakim berkata kepada anaknya,
"Ya bani
manaiqardahman."
Siapa yang membuat kedua orang tuanya
rid dia telah membuat Allah ridahuma
faqahman. Siapa yang bikin marah kedua
orang tuanya telah membuat orang Allah
pun marah. Seperti dalam hadis ridallah
fi ridal fi ridal walidainakatulullah
fi sakatil walidain. Rida Allah berada
pada rida orang tua dan kemurkaan Allah
pada kemurkaan kedua orang tua.
Kata kata Hisyam bin Hasan, qulu lill
Hasan al bashri. Aku bertanya kepada
Hasan Al Basri. Aku bertanya, "Inni
ataamul Quran wa inna ummiiruni bil
asya." Aku sedang belajar Al-Qur'an
sementara ibuku nunggu aku makan malam.
Hasan alri rahimahullah berkata asik
ah minri
kau makan malam dengan ibumu buat ibumu
senang lebih saya sukai daripada kau
haji haji haji sunah
ada haji fardu haji pertama ada haji sun
sunah kata Basri kau makan malam sama
ibumu bikan ibu bahagia lebih saya sukai
daripada kau haji-haji sunah
Apalagi haji furoda mahal
atau haji bermasalah mahal juga sama.
Tatkala lama matat ummu Iyas bin
Muawiyah baka tatkala ibundanya Iyas bin
Muawiyah meninggal Iyas bin Muawiyah pun
menangis.
Apa yang buat kau menangis wahai Ias?
Qabani
maftuhani ilal jannah. Saya sebelumnya
punya dua pintu yang terbuka tinggal
masuk untuk masuk surga. Fagulliq
ahaduhuma. Sekarang salah satunya sudah
ditutup. itu ibunya mening meninggal,
tinggal satu pintu lagi.
Kemudian bagaimana yang penting salat?
Berdoa ketika salat. Kata Sufyan bin
Uyainah, "Man shawatil khamsa faqad
syakar lillah." Siapa yang salat lima
waktu maka telah bersyukur kepada Allah.
Waman daa liwialidaihi aqibahuma faqad
syakar lahuma.
Dan siapa yang berdoa di penghujung
salat l waktu untuk kedua orang tuanya,
berarti dia telah bersyukur kepada kedua
orang tuanya. Maka tidak mengapa setiap
kita doa sebelum salam kita sisipin
rbighfirli waliwalidaiya warhamhuma kama
rabbaini shira sebagaimana pernyataan
Sufyan bin Uyainah.
Dan saya sering sampaikan kenapa kita
disuruh banyak berdoa untuk orang tua?
Karena kaidah menyatakan Rasulullah
bersabda, "Perhatikan, manikumufanakuhu,
siapa yang berbuat baik kepadamu balasah
setimpal." Ini sunahnya kita balas
dengan setimpal kalau kita mampu ya.
Faam tajidu maafiunahu. Kalau kau tidak
bisa balas dengan setimpal fadahu maka
doakan dia. Hattaum
sampai kalian memandang kalian sudah
balas setimpal. Jadi kalau ada orang
kasih kita hadiah kita, dia enggak butuh
balasan yang setimpal. Dia sudah kaya
raya. Yang bisa kita lakukan doa. Doa
terus. Doa sampai kita merasa ini doa
sudah cukup membalas kebaikannya.
Ada batasannya. Kata Nabi. Sampai kalian
merasa sudah setimpal membalas
kebaikannya. Nah, sementara kaidah
menyatakan tadi di awal bahwasanya gak
mungkin kita balas kebaikan orang tua.
Maka kalau gitu doa tidak pernah
berhenti.
Kata Sufyan bin Uyainah, dikatakan orang
bersyukur kepada orang tuanya jika dia
berdoa untuk orang tuanya minimal lima
kali se sehari. Setiap habis salat salat
lima waktu atau menjelang penghujung
salat lima waktu dia doakan kedua orang
tuanya.
Berkata Muhajid Mujahid bin Jabr
muridnya Ibnu Abbasagiladhi.
Tidak boleh seorang anak kalau dipukul
oleh ayahnya dia tangkis. Enggak boleh.
Subhanallah. Pasrah aja
ya. Tentu yang masih masuk akal
pukulannya.
Waman walidaihi
falam yabarahuma. Siapa yang melihat
orang tuanya dengan sinis tan pandangan
tajam, dia tidak berbakti kepada kedua
orang tuanya.
Waman adkhala alaihima huznan faqad
aqohuma. Siapa yang memasukkan kesedihan
kepada kedua orang tuanya, maka dia
telah berdurhaka kepada kedua orang
tuanya. Seorang kalau marah sama orang
tua, jangan lihat orang tuanya sini
tunduk. Jangan pernah angkat suara di
atas kedua orang tuamu. Jangan pernah.
Kata tadi, kata Ibnu Umar, alam kalam,
kalau kau berkata-kata lembut kepadanya,
kau beri makan kepadanya, kau masuk
surga, maka lembut.
Wahumaan karima. Ucapkanlah kata-kata
yang lembut kepada kedua orang tua.
Pandanglah dengan pandang penuh
penghormatan. Siapa yang mandangnya
dengan sinis? Abi itu, Umi, itu.
Selesai.
itu tidak berbakti. Anak durhaka. Anak
durhaka. Apapun masalah kita dengan
orang tua, kita yang benar, orang tua
yang salah. Gak usah angkat suara. Iya,
Bu. Tapi Ibu enggak benar. Yang benar
begini, Bu. Kamu anak durhaka. Enggak,
Bu. Jangan, jangan kita balas. Ibu yang
durhaka sama saya. Wah, ini dosa baru.
Saya jangan pernah menyesal.
Saya ketemu seorang kawan, dia
bermasalah orang tuanya dan ibunya yang
salah dan dia angkat suara. Sampai
sekarang dia masih menyesal terus kalau
sebut itu dia nangis. Padahal ibunya
yang salah.
Tapi dia merasa kenapa di waktu itu
angkat suara? Karena tidak terkontrol
emosinya. Jangan pernah angkat suara.
Meskipun kita salah, meski kita benar
ibu yang salah, tetap jawab dengan baik.
Tetap penuh penghormatan. Ingat, ibu ini
yang pernah saya dalam perutnya. Ibu ini
yang mengandung saya. Ibu ini yang
melahirkan saya, ibu ini yang menyusui
saya, itu semua akan menjatuhkan
kesombongan kita. Jangan pernah angkat
suara.
Kata Muhammad, manya ba yadai abihi faq
aqahu
illa an yamsya fayumit lahulqihi.
Siapa yang jalan di depan bapaknya
durhaka kecuali jalan depan bapaknya
untuk menghilangkan gangguan.
Jangan hormat Bapak di depan, kita di
belakang atau di samping atau kita
gandeng.
Sebagian hukama, sebagian ahli
ahli hikmah berkata, "La tusodiq aqan,
jangan kau bersahabat dengan anak
durhaka. Fainnahu lan yabaraka waqan hua
ajabu haqq alai." Dia tidak akan baik
sama engkau. Sementara orang yang paling
wajib dia baikin ayahnya, ibunya tidak
dia baikin apalagi kamu. Tib. Demikian
saja yang bisa sampaikan ikhwan dan
akhwat. Semoga Allah menjadikan kita
anak-anak yang berbakti kepada orang
orang tua. Dan saya ingatkan berbakti
sama orang tua bukan cuma ketika masih
hidup, ketika sudah meninggal kita masih
bisa lanjutkan pahala berbakti kepada
orang tua. Di antaranya mendoakan mereka
berdua. Di antaranya bayarkan utang
mereka berdua kalau mampu. Kalau enggak
mampu enggak ada masalah. Cari yang
lain. Di antaranya menghajikan,
mengumrahkan untuk orang tua. Di
antaranya berbuat baik kepada
kawan-kawan dekat orang tua. Orang tua
punya kawan dekat masih ingat, "Oh, ini
dulu ngaji bareng. Ini dulu dagang
barang. Dagang bareng sama bapak saya,
sama ibu saya. Ini teman ibu saya sering
ngobrol berdua. Kasih kalau kita punya."
Karena kalau kita kasih, kita dapat
pahala berbakti. Dan ini pintu berbakti
yang masih terbuka. Kecuali kawan mabok
bapak jangan. Kawan main judi jangan.
Ini kawan yang baik-baik. baikin ya.
Dengan niat berbakti maka kita akan
dapat pahala ber berbakti. Itu
diperhatikan Ibnu Umar radhiallahu taala
anhuma. Di antaranya menyambung rahim
yang rahim tersebut lewat kita. Di
antaranya kalau khalah yang paling utama
apa? Kh khalah ya. Yang perutama adalah
khalah. Dalam hadis Rasulullah sebutkan
ketika Rasulullah suruh berbakti kepada
ibunya kata dia ibu saya sudah
meninggal. Alak khala kata Nabi, "Kau
punya bibi?" Punya. Berbaktilah kepada
bibikmu.
Jadi kalau masih ada orang tua ibu yang
utama. Tapi kalau ibu sudah meninggal
ada khala itu saudari ibu itu paling
utama di antara yang utama. Maka jangan
lupa berbakti kepada orang tua dengan
menyambung rahim yang datang melalui
jalur orang orang tua. Orang tua
sekarang membutuhkan doa kita lebih
banyak daripada harta harta kita. Ini
sekarang di kuburan sudah kita enggak
bisa lagi ngajak makan, enggak bisa
pijit lagi, enggak bisa kita buat
lucu-lucu dia ketawa. Yang bisa kita
serahkan adalah sekarang mendo
mendoakannya. Wallahu taala alam
bisawab.
Bab demikian saja apa yang saya
sampaikan. K saya mohon maaf banyak
pertanyaan tidak bisa jawab karena
keterbatasan ilmu. Semoga kita menjadi
anak-anak yang berbakti kepada orang
tua.
Semoga Allah mukulkan kita semuanya
dengan orang tua di akhirat kelak. Amin
ya rabbal alamin. Demikian wabillah
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.