File TXT tidak ditemukan.
Transcript
VWTcnvq_Cxo • Birrul Walidain : The Gate Of Jannah - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2574_VWTcnvq_Cxo.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lisan wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih. Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan membahas tentang amal yang paling memudahkan seorang masuk surga yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Ya, datang dalam satu hadis Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Alwalidu ausatu abwabil jannah." Sesungguhnya orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Ausat ini bisa jadi yang paling tengah, bisa jadi yang paling terbaik. Seperti Allah mengatakan, "Wadzalika ja'alnakum ummatan washa." Demikianlah kami jadikan kalian umat yang wasat. Maksudnya umat yang terbaik. Artinya ausatu abwabil jannah. Orang tua itu adalah pintu surga yang terbaik. Itu paling mudah memasukkan orang ke dalam surga. Maka kalau kau berkehendak faadiu, sia-siakan pintu tersebut. Kalau kau berkehendak, fahfadhu. Kalau kau berkehendak, maka jagalah pintu tersebut. Artinya jika seorang masih diberi kesempatan oleh Allah bertemu dengan orang tuanya, maka ini kesempatan besar bagi dia untuk masuk surga dengan mudah dan masuk surga dengan surga yang terbaik. Karena Rasulullah mensifatkan dengan ausatu abwabil jannah, yaitu pintu surga yang paling tengah atau pintu surga yang paling terbaik. Karenanya begitu besarnya kesempatan masuk surga dengan berbakti kepada kedua orang tua. Sampai Nabi menjelaskan ragima anf tma ragima anf tma gima anf. Tersungkur dan tersungkur dan tersungkur. Maksudnya dia tersungkur sehingga wajahnya tersungkur di tanah, hidungnya tersungkur di tanah. Dan ini ungkapan orang Arab untuk menunjukkan kerugian yang sangat besar. Rogima anf. Anf itu maksudnya hidung. Rogim maksudnya terkena tanah. Ya. Siapa kata Rasul sahu alaihi wasallam? Man adraka abawaihi eh fil kibar kilaihima ahadima ahadahuma falam yadkulil jannah. kama qala Nabi sallallahu alaihi wasallam, yaitu seorang yang masih berkesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di masa tua, di masa jompo, dua-duanya atau salah satunya. Kemudian dia tidak bisa masuk surga. Kemudian tidak bisa masuk surga. Ini orang yang sangat celaka, sangat tolol, sangat bodoh ya. Kenapa? Karena kesempatannya masuk surga sangat besar. Tinggal berbakti sama orang tua, dia masuk surga. Tinggal berbagi sama orang tua sudah banyak mewakili amal saleh yang lain. Tinggal berbagi sama orang tua maka akan banyak dosa akan diampuni oleh Allah subhanahu wa taala. Sehingga kalau dia diberi kesempatan bertemu dengan orang tuanya di masa tua dan dia tidak mau surga, ini orang sangat sangat celaka. Pintu surga di depan dia tinggal dia masuk cuma dia tidak memasukinya. Demikian juga ketika ada seorang minta izin berjihad kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, maka Rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Ahayun walidak, apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Maka dia berkata, "Masih, ya Rasulullah." Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Fafihima fajahid." Maka berjihadlah terkait kedua orang tuamu. Yaitu maksudnya kalau kau berbakti kepada orang tua, kau sedang berjihad. Kedudukannya seperti sedang berjihad. Dan kita tahu jihad itu tidak mudah. Jihad itu susah. Betapa banyak orang takut tidak jadi jihad. Melihat pedang, kilauan pedang, melihat musuh yang banyak, menjadi pengecut karena ingat anak dan ingat istri. karena cinta dengan nyawanya. Tidak semua orang mudah berangkat untuk jihad. Belum jarak yang harus ditempuh, apalagi zaman dulu. Melewati ratusan kilo di bawah terik matahari, berjalan jauh. Intinya jihad itu pengorbanan luar biasa. Tetapi itu bisa diwakili dengan berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan berbakti kepada kedua orang tua lebih afdal daripada jihad fisabilillah. Makanya dalam hadis ee Abdullah bin Mas'ud ketika Rasulullah ditanya tentang ayyul amali ahabbu ilallah, amalan apa yang paling dicintai oleh Allah, maka Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Asatu ala waktiha itu salat pada waktunya." Ditafsirkan oleh para ulama salat di awal waktu. Tumma ayu. Kemudian apa? Setelah itu kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Birul walidain." Berbakti kepada kedua orang tua. TMA Ayu. Kemudian apa kata Rasul sahu alaihi wasallam? Aljihadu fisabilillah. Jihad fisabilillah. Maka di sini Rasul sahu alaihi wasallam mendahulukan penyebutan berbakti kepada orang tua daripada jihad fibilillah. Menunjukkan berbakti kepada orang tua lebih afdal daripada jihad fisabilillah. Makanya kalau orang malas berbakti dia bayangkan jihad. Saya kes suruh jihad berat sekali. Mengorbankan uang aja berat apalagi mengorbankan raga. Kemudian harus berpisah dari anak, istri, harus berjalan jauh bertemu dengan musuh. Siapa yang suka menumpahkan darah? Apalagi ditumpahkan darahnya. Secara secara manusiawi susah. Kutiba alaikumul kitabalu wahua qurulakum. Kata Allah, "Diwajibkan jihad bagi kalian dan kalian tidak suka akan hal tersebut." Sifat manusia enggak suka itu berat. Kalau saya disuruh mungkin saya enggak berangkat. Kalau ada beda, buka medan pertempuran belum tentu kita disuruh kita berangkat. Di sini ada amal saleh yang lebih afdal daripada itu. Berbakti kepada kedua orang tua. Maka Rasulullah mengatakan, "Fafihima fajahid." Yaitu kata Ibnu Ibnu Hajar, "Fabalik juhdaka." Maka bersungguh-sungguhlah, optimalkan kesungguhanmu untuk berkhidmat kepada kedua orang tua. Dan ini menunjukkan berbakti kepada orang tua jalan termudah masuk surga. Tib. Demikian juga dalam lafal, suatu lafal Rasulullah bertanya kepada seorang anak ketika ingin berjihad. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Apakah ibu masih hidup?" Kata dia, "Masih." "Ahayatun walidatuka." "Apakah ibu masih hidup?" Kata dia, "Masih." Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Ilzam rijilaiha fatsammal jannah." Lazimilah kedua kaki ibumu, di situlah surga. Nah, dari sinilah muncul istilah surga di bawah telapak kaki ibu. Datang dalam satu hadis yang dihasankan oleh sebagian ulama. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Ilzam rijalaiha fatammal jannah." Lazimilah kedua kaki ibumu, di situ surgamu. Dan ketika Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Lazimilah kedua kaki ibumu." Yaitu agar isyarat agar kau tawadu di hadapan ibumu, merendah diri di hadapan ibumu. Karena dia adalah ibumu dan di situlah sur surgamu. Situlah sur surgamu. Terus kita bayangkan juga bagaimana ee tentang ketika ada seorang sahabat ya yang dari datang dari Yaman kemudian berhijrah kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Berjihad kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dari hadis Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma, beliau berkata, "Ja rajulun ilan Nabi sallallahu alaihi wasallam." Intinya dalam hadis tersebut ada seorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian dia datang dari negeri Yaman dan dia ingin berhijrah kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Rasul sahu alaihi wasallam bertanya, "Ya, apakah kedua orang tua masih hidup?" Maka dia mengatakan masih. Maka Rasul Sallahu Alaihi Wasallam suruh balik untuk minta izin kepada kedua orang tuanya. Minta izin kepada kedua orang tuanya. Artinya kalau kedua orang tuanya ya tidak mengizinkan, maka dia tidak boleh berhijrah kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan ini kita tahu bagaimana besarnya pahala hijrah ya. Tetapi ternyata hijrah tersebut tidak bermanfaat sebagaimana jihad tidak bermanfaat kalau tanpa izin kedua orang tua. Dan ini menunjukkan bakti kepada orang tua pahalanya sangat luar biasa. Kita tahu hijrah seperti apa pahalanya ya. Tetapi ternyata kalau seorang mau hijrah dia harus minta izin kepada kedua orang tuanya. Ya, ini segelintir kecil dari dalil-dalil yang menunjukkan bagaimana cara termudah untuk ee masuk surga adalah dengan berbakti kepada kedua orang tua. Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Kenapa pahala yang Allah berikan kepada k orang tua seorang berbakti kepada orang tua sangat besar? Karena sebagaimana nanti kita dengar dibacakan surah Luqman ya, bahwasanya jasa mereka berdua sangat besar. Jasa mereka berdua sangat sangat besar. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Umuhu wahnan al wahnin wau ya waliikaal masir." Kami berwasiatkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Kemudian Allah ingatkan tentang ibu. Ibunya telah mengandungnya dalam kondisi lemah dan di atas kelemahan. Ya. Hammalatu qurhan. Dalam ayat yang lain, wawadathu qurhan. Dia mengandungnya dalam kondisi tidak menyenangkan dan melahirkannya pun dalam kondisi tidak menyenangkan. Wahamluhu wa fisaluhu salatuna syahro. Kemudian dia mengandungnya dan juga menyusuinya ya dalam surat Luqman 2 tahun. Dan ini bukan perkara yang mudah. Dan ketika Allah menyebutkan tentang jasa ibu, karena jasa ibu inilah yang mudah terlupakan. Berbeda dengan ayah. Kalau ayah, seorang anak ketika dia besar, dia kan baru ngeh setelah mungkin mumayiz umur 7 tahun, 8 tahun, dia mulai ingat. Apa yang terjadi ketika dia umur setahun, 2 tahun dia enggak ingat. Ketika dia sudah ngeh yang dia lihat ayahnya yang kerja keras cari nafkah memberi kepada ibunya memberi kepada dia. Dan itu dia lihat terus-menerus. Mungkin ibunya cuma dilihat di rumah sayang sama dia. Dia lupa bahwasanya ada kondisi yang sangat ya urgen ketika dia masih kecil yang semuanya dia bergantung kepada ibunya yang tidak mungkin dia ingat hal tersebut yaitu ketika dia dalam kandungan. Ya hamalatu ummuhu wahnan ala wahnin. Dalam kandungan orang tidak ada ingat dalam kandungan. Seandainya ibunya asal-asalan makan sembarangan ya bisa jadi keguguran. Bisa jadi dia lahir dalam kondisi tidak sehat, bisa lagi dalam kondisi cacat. Ya. Dan ibunya sengsara ketika mengandungnya dan dia tidak ingat akan hal tersebut. Gak ada di antara kita ingat. Kemudian ketika dilahirkan, ya ibunya juga melahirkan dan dia juga tidak tahu tentang kesulitan yang dialami oleh ibunya. Kemudian ketika menyusui juga dia tidak tahu bagaimana susahnya seorang ibu menyusui anak. Maka Allah sebutkan secara spesifik Allah tidak menyebutkan kebaikan ayah padahal ayah juga kebaikan. Karena kebaikan ayah bisa terlihat ketika besar. Adapun kebaikan ibu sudah selesai, kita tidak menyaksikan. Maka begitu pentingnya berbakti sama orang tua sampai Allah kalau bahasa kita langsung turun tangan mengingatkan. Allah ingatkan langsung. Maka di sini tidak mengapa jika seorang ayah mengingatkan anaknya akan kebaikan ibunya. Karena kebaikan itu tidak dilihat oleh anaknya dan sudah dilupakan oleh anaknya. Misalnya sang ayah mengatakan, "Lihat ibumu dulu waktu mengandungmu begini begini begini begini." Kita tidak bisa membayangkan itu kecuali setelah kita menikah punya istri, punya anak baru kita lihat ternyata betapa sulitnya seorang ibu ketika mengan mengandung. Berat ibu kalau sudah mengandung istri kita kalau mengandung susah. Minta dimanja kalau ada yang manjain. Kalau ada yang manjain sakit. Apalagi namanya ee apa namanya? Ngidam. Sampai ada yang marah bilang, "Ngidam itu bidah. Jangan ngidam-ngidam karena merepotkan." Ngidam itu apa? Merepotkan. Orang ngidam aneh-aneh. Pengin inilah, pengin anulah. Sampai ada kawan saya sama istrinya di bis, dia cerita, "Saya lagi sama istri di bis." Tahu tahu-tahu istrinya bilang, "Bi, dia lagi ngidam nih, bi rujak." Kata teman saya, "Tenang, nanti Abi belikan." Enggak. Saya mau rujak yang dimakan sama ibu itu. Ini nyata ini. Akhirnya teman saya mau tidak mau dia ke ibu itu. Bu, mohon maaf Bu, mukadimah-mukadimah panjang. Intinya minta rujak. Alhamdulillah. Ibu itu ngerti dikasih. Coba bayang kasih. Ngidam enggak gampang ya. Tahu-tahu jam berapa pengin makan apa ya. Ada yang pengin bau yang enggak enak-enak. Ada kan pengin bau telek katanya. Ada. Ada yang pengin istri suaminya naik di atas lemari, gak tahu dia habis nonton apa. Yang menderita, yang tidak kuat dengan bau suaminya. Ada. Cuman saya cerita, saya ketemu kawan, dia bilang, "Firanda, saya hampir cerai istri saya." Kenapa? Waktu dia hamil dia tidak mau lihat saya. Dia tidak mau cium bau keringat saya. Hampir saya ceraikan. Saya pikir ini kurang ajar nih perempuan. Ternyata itu namanya apa? Tawahum. Kalau bahasa Arab maksudnya adalah apa namanya? Nggi ngidam. Sekarang saya ngerti. Dan setiap istri saya mengandung begitu terus. Jadi saya sudah 5 tahun lima kali tersiksa. Dia dia punya anak sudah lima. Kalau mengandung pasti begitu. Jadi ya bukan cuma merepotan ibu, merepotkan juga ayah. Belum muntah-muntah ya. Sebagian ibu sampai masuk rumah sakit. Ini kita enggak ingat karena kita yang menyiksa dia. Kita masih kecil. Makanya Allah mengatakan, "Hammalathu kurhan." Dia mengandung anaknya dalam kondisi tidak menyenangkan. Ini baru mengandung sudah bikin masalah. Ya. Sementara dia tetap gembira lihat anaknya. Dia menghadapi masalah tersebut dengan kegembiraan. Dengan kegembiraan. Orang tua kan begitu. Semakin perutnya besar semakin senang. meskipun dia sakit-sakit, dia gembira karena menanti kedatangan kelahiran sang anak yang terkadang ternyata jadi anak kurang ajar di kemudian hari. Mungkin kalau dia tahu sejak awal dia matiin aja. Subhanallah. Kita lihat istri baru kita tahu. Subhanallah ibu saya juga pasti begini dulu. Memang kita enggak tahu. Kita kadang sadar seperti setelah orang kita sudah mening meninggal. itu mengandung. Kemudian ketika melahirkan, melahirkan saya punya anak tujuh semuanya tidak ada yang saya hadir kelahirannya. Karena ada yang saya sedang di Saudi, mereka lahir di Indonesia. Ada yang saya yang sedi, saya enggak boleh masuk. Terima bersih, pokoknya terima beres. Keluar sudah oek-ek. Satu yang saya berhasil masuk waktu lahir di Jakarta karena yang punya klinik teman saya. Saya masuk temani seharian penuh. Subhanallah. Istri ketika melahirkan mengalami namanya kontraksi. Saya baru tahu inilah kontraksi yang disebutkan dalam hadis ya dalam ee dalam kisah Abdullah bin Umar radhiallahu taala anhuma. Ketika ada seorang datang dari Yaman kemudian dia menggendong ibunya. Dari Yaman mungkin dia sudah gendong ibunya, tapi dalam riwayat disebutkan dia tawaf yaitu dia melaksanakan ibadah haji gandong gendong ibunya dan dia gendong ibunya dengan senang hati. Saking senangnya kemudian dia bersenandung dia berkata, "In laha bairal mudallal waabamar." Dia bilang, "Saya ini seperti eh unta bagi ibu saya." Unta yang tunduk dan patuh, yaitu Albair almudzallal. Almuzal itu dia tunduk patuh, disuruh ke sana kemari dia semangat. Itu namanya albair almudzallal. Saya. Artinya dia ingin menyampaikan saya gendong ibu saya dengan senang hati. Bukan ngomel-ngomel, bukan enggak mau. Saya dengan senang hati. Waikabamar. Kalau unta-unta yang lain tidak senang ditunggangi, saya tidak. Saya tidak. Unta dikasih tumpanganak enggak suka. Kasih tunggangan enggak suka, dikasih beban enggak suka. Kalau unta-unta lain menghindar, saya tidak. Saya menggendung ibu saya dengan senang senang hati. Maka dia ketemu Ibnu Umar. Dia berkata, "Ya Ibnu Umar, aturani jazaituha. Apakah menurut engkau aku telah membalas kebaikan ibuku?" Kata Ibnu Umar, "Wala zafratun wahidah atau wala zafratan wahidah." Bahkan kau tidak bisa membalas satu suara kesakitan yang dia keluarkan ketika kontraksi. Ah, saya baru tahu makna kontraksi pada anak saya yang ketujuh. Subhanallah. Oh, ini namanya kontraksi. Ternyata sakit luar biasa ya. Benar enggak, Ibu-ibu? Benar. Kontraksi pembukaan sekian, pembukaan sekian. Saya ikuti dari pembukaan sampai pembukaan terakhir. Ternyata sakit ya. Sakit tak napak sakit sampai saya di pegang sampai saya di saya sabar aja ya. Subhanallah. sakit sekali. Sampai setelah itu saya bilang, "Habis ini saya enggak mau ngomelin istri lagi. Saking sakit yang saya lihat, ternyata saya ngomel lagi." Maksud saya luar biasa bagaimana seorang ibu ternyata mereka mengalami kesakitan luar biasa menanti kelahiran seorang anak. Kata Ibnu Umar, "Wala zafrah wahidah." Kau pikul ibumu mungkin dari Yaman ke Hijaz, kau tawaf pikul ibumu dengan senang hati, tidak bisa membalas kebaikan apa ibumu meskipun satu kontraksi rasa sakit yang dia rasakan. Makanya Allah menyebutkan ya wawadat kurha. Dia melahirkan dalam kondisi susah. Hamatu ummuhu wahnan ala wahnin. Ibunya mengandungnya dengan kesakitan atau kesulitan kelemahan yang bertambah-tambah. Lemah-lemah bertubi-tubi menyerangnya kesakitan, kepayahan. Tiib melahirkan. Sudah melahirkan. Disambut dengan gembira. Setelah itu wafisuhu fi amain disusui selama 2 tahun. Ah, ini juga kadang-kadang anak-anak nakal. Puting ibunya digigit aduh itu setengah mati. Sakit sakit digigit sambil ketawa-ketawa. Ibunya nangis-nangis berat gendong sampai ibunya harus makan yang tidak dia sukai. Demi sang anak tidak boleh makan sembarangan. Ya. Dan begitulah ya kesulitan yang dihadapi oleh seorang ibu. Yang ini semua kita lupakan. Oleh karenanya hikmahnya Allah menyebutkan secara spesifik. Adapun ayah enggak perlu disebutin. Orang setiap hari lihat ayahnya ke sana kerja, kemari kerja, ibunya ini pertama. Yang kedua, kenapa disebutkan ibu secara khusus? Karena potensi durhaka kepada ibu lebih besar daripada potensi durhaka kepada a ayah. Ya, kalau ayah enggak berani orang duraka digampar sama ayah. Tapi kalau ibu berani dia bentak ibunya, dia berani perintah-perintah ibunya, dia berani membangkang ibunya. Padahal kalau dilihat jasa ibu sangat sangat besar. Dari sinilah jumhur ulama berpendapat bahwasanya berbakti kepada ibu tiga kali lipat daripada ayah. Meskipun ini masalah khilaf. Ada yang mengatakan sama saja berdasarkan dalil yang lain. Ada yang mengatakan tiga kali lipat. Karena ibu ketika mengurusi anak, dia melakukan tiga hal yang bersendirian yang tidak disertai oleh ayahnya, yaitu ketika mengandung, ketika melahirkan, ketika menyu menyusui. Saya kemarin ketemu dengan seorang ibu usia 86 tahun kemarin ya. Saya diundang makan, saya makan di rumahnya 46 tahun. Saya Subhanallah. Ibu ini dia cerita dia punya anak tujuh. perempuan enam laki satu. Ketika usia 39 tahun suaminya meninggal dan tidak meninggalkan harta sedikit pun. Rumah tidak ada pun tidak ada. Kemudian dia ngurus anak-anaknya tujuh orang tersebut dan dia ngomong sama saya dan dia tidak pikun sama sekali dan dia bilang saya cuma satu pegangan saya ya Allah ya ustaz. makarzu min hau yahtazib walah fahua inallaha amri q jaallah q dia ucapkan ayatnya dengan jelas dengan makhraj yang jelas dia datang dari kampung kemudian berusaha berusaha ngurus tujuh anaknya saya bilang luar biasa ibu-ibu zaman dahul ibu-ibu zaman dahulu luar luar biasa bagaimana antum bayangkan Kan seorang wanita anak tujuh umur 39 tahun ngurus tidak ada harta ditinggalkan oleh suaminya kemudian ngurus anak-anaknya sampai dibawa ke Jakarta sampai akhirnya berhasil. Gak mudah tapi dia bilang saya hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan banyak ibu-ibu seperti itu. Banyak ibu yang seperti itu. Maksud saya Allah langsung kalau bahasa kita turun tangan menjelaskan tentang jasa orang tua agar kita berbakti kepada orangorang tua. Dan semaksimal apapun kita berusaha berbakti kepada orang tua maka kita tidak akan bisa membalas jasa mereka. Maka Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "La yajzi waladun walidan." Seorang anak tidak bakalan bisa membalas kebaikan orang tuanya, ibunya atau ayahnya. Ya illau mamlukan fastariahu hadis riwayat Muslim. Seorang anak tidak bakalan bisa membalas kebaikan orang tuanya kecuali didapati orang tuanya dalam kondisi budak. Kemudian dia beli, kemudian dia merdekakan baru dia bisa balas kebaikan kedua orang tuanya. Kenapa? Karena di antara besar jasa kedua orang tuanya adalah kedua orang tuanya. Sebab dia muncul dari alam ketiadaan menjadi alam ada. Dari alam kematian menjadi alam kehi kehidupan. Ibarat kalau kau dapati ibumu jadi budak, budak seperti enggak ada hidupnya. Terus kau beli, kau merdekakan seakan-akan dia mendapatkan kehidupan baru baru kau bisa balas kebaikan kedua orang tuamu yang merupakan sebab hidupmu di atas muka bumi ini. Dan itu tidak mungkin. Apalagi zaman sekarang. Zaman dahulu pun mendapati kondisi seperti itu sangat sulit. Tidak semua orang bapaknya budak. Sehingga kondisi seperti ini hampir kondisi yang sangat hampir tidak terjadi. Seorang mendapati ayah atau ibunya budak kemudian dia beli kemudian dia merdekakan. Orang banyak bapaknya bukan budak. Iya enggak? Orang banyak anak-anak banyak bapak ibunya bukan budak. Kalaupun dia mendapati bapak ibunya budak dan dia merdeka, belum tentu dia punya uang untuk bisa membeli. Kalaupun dia punya uang untuk membeli, belum tentu pemilik budak tersebut mau jual. Sehingga kondisi itu seperti syibhul mustahil. Hampir-hampil mustahil. Maka ketika Nabi memberi parameter bagaimana kau bisa balas kebaikan orang tuamu, satu cuma satu cara. Kau dapati orang tua budak, kau beli, kau merdekakan. Dan itu kondisi yang hampir mustahil menunjukkan kita enggak bakalan mungkin bisa balas kebaikan kedua orang tua. Di antara hal yang menunjukkan tidak mungkin kita balas karena bagi orang tua keutamaan fadlul bid. Mereka yang pertama kali memulai kita belakangan. Bagaimanapun yang mulai lebih utama daripada yang mem membalas. Yang berikutnya ketika mereka mengurusin kita masih kecil dengan senang hati. Saya bilang tadi orang tua ketika mengandung sakit-sakit dia senang. Dia tidak marah-marah, "Kamu nih ngapain di perut saya?" Enggak. Dia senang. Al tole tole. Dia senang. Ketika dia melahirkan dalam kondisi mau mati, dia tetap sayang kepada anaknya dengan senang hati. Ketika dia menyusui dengan sayangnya, ketika dia mencebok dengan kasih sayang, kesulitan dia hadapi, dia berharap anak ini hidup besar. kita susah begitu. Tarulah kita mendapati kondisi orang tua kita jompo, perlu kita urus, perlu kita cebok, kita enggak akan hati kita tidak seperti hati orang tua kita ketika ngurus ngurus kita enggak makan, enggak bakalan sama. Sebagai orang tua ngurus ibunya, sabarlah ya, enggak ada lagi yang ngurus ya sudahlah ya mungkin sebentar lagi sudah tiada. Jadi berat menyabar-nyabarkan diri bukan dengan kondisi senang. Oh, Ibu nanti saya yang cebok, Bu. Tenang, enggak ada. Ibu bisa cebok sendiri enggak? Beda, hati tidak bakalan sama. Dengan demikian, ketika kau tidak bisa melayani orang tuamu seperti hati orang tuamu ketika melayanimu, menunjukkan kau tidak bisa membalas kebaikan orang tuamu. Dan orang tua kalau bicara tentang anak kuda semuanya dia korbankan habis-habisan. Mau sawah dia jual supaya anaknya kuliah. Mau dia tidak tidur untuk ngurusin anaknya. Ketika anaknya sakit, dia lebih sakit daripada sang anak. Anaknya panas, dia yang lebih sedih. Dia menangis. Kita betapa sering lihat istri kita nangis, anaknya sakit. Dia lebih sakit daripada sang anak. Dan orang tua mikir anaknya terus. Sampai kita sekarang punya anak sudah besar, kita juga masih mikir. Saya punya anak sudah gede-gede, saya masih mikir gimana anak pertama masa depan mereka gimana itu orang enggak bisa lepas dari hati orang tua. Karena saya masih kecil, mudah-mudahan dipikir anak perempuan gimana suaminya masih mikir. Nanti saya harus carikan suaminya mikir. Saya ketemu seorang saya saya tanya, "Pak, gimana anak saya?" "Iya ada." "Sudah punya cucu?" Nah, dia bilang, "Belum." Atau sudah belum? Belum. Iya. Iya. Belum pada nikah. Oh, anak belum nikah. Berapa usianya? Sudah 35 perempuan belum nikah. Coba bayangkan kira-kira orang tuanya sedih enggak? Sedih mikir. Lebih sedih mungkin daripada sang putri tersebut yang belum menikah. Orang tua tuh mikir terus. Mungkin dia tidak ungkapin. Tapi dia mikir. Dia mikir. Ibu mikir ayah mikir. Ya, sekarang baru kita rasakan sebagai ayah. Bagaimana kita yah yahmil hammal aulad kita, mikir anak-anak kita itu suatu beban tersendiri. Beban tersendiri. Oleh karenanya gak mungkin kata Nabi sallallahu alaihi wasallam seorang bisa membalas kebaikan kedua orang tuanya karena ee tidak akan sama dia bisa berbuat seperti perbuatan orang tuanya. Kemudian muncul anak-anak zaman sekarang pelit sama orang tuanya. Pelit sama orang tuanya. Orang tua dulu enggak pernah pelit sama anaknya. Kalau bisa dia pergi ke dokter terbaik, dia keluarkan uang kalau dia punya uang. Kalau dia bisa sekolahkan terbaik, dia akan keluarkan uang demi menyolahkan anaknya yang terbaik. Kalau dia bisa jual apa yang dia jual untuk anaknya, dia kasih. Orang tua seperti itu. Ini bicara secara umum, kecuali orang tua bahlul ya. Secara umum orang tua berkorban. Kemudian datang anak-anak zaman sekarang pelit sama orang tuanya. Ibunya minta sesuatu dia banyak pertimbangan. Kalau dulu dulu orang tua kita banyak pertimbangan, kita kursus kerempeng. Bu, minta susu teh aja ya. Teh. Susu mahal padahal dia ada uang cuma pelit. Coba kalau orang tua pelit, ente udah bahlul, jelek, kurus, terbuang-buang di jalan. Sekolah, Bu. Aduh, gratisan aja deh. Gratisan. Carian. Semua yang murahan. Kalau semua yang murahan kita jadi apa? Sekarang kalau ibu minta, ayah kita minta, sementara kita punya, kita pelit sama orang tua. Kalau orang tua pelit sama kita, kita enggak jadi orang. Enggak jadi orang. Mungkin autis, mungkin apa namanya mutakhalif, akalnya terbelakang ya. Tapi orang tua sayang sama sama kita. Oleh karena jasa orang tua ya bagaimanapun tidak bakalan kita bisa kita bisa balas dan itu harus kita ingat. Oleh karenanya ketika kita berbakti kepada orang tua kita hanya berharap rida Allah subhanahu wa taala. Rida Allah subhanahu wa taala. Adapun ingin saya pengin balas sebagaimana orang tua, mustahil enggak mungkin. Tetapi di antara kebaikan Allah Subhanahu wa taala, Allah menjadikan bakti kita kepada orang tua justru kebaikannya kembali kepada kita. Wam yaskur fainnama yaskuru linafsih. Luqman berkata kepada anaknya, wam yasykur fainnama yaskur nafsi. Siapa yang bersyukur bukan untuk Allah, sungguhnya untuk dirinya sendiri. Benar menguntungkan orang tua, tapi yang lebih beruntung adalah kamu sendiri. In ahsantum ahsantum lianfusikum. Kalau kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri. W yaskur fnama yaskur linafsih. Siapa yang bersyukur dia bersyukur kepada dirinya sendiri. Lihat Luqman sebutkan ayat ini sebelum dia mengatakan wasinal insana biwalidaihi ihsana. Baru dia menyebutkan tentang bersyukur kepada kedua orang tua. Untuk mengingatkan bahwasanya ketika kau berbakti sama orang tua, benar orang tua bahagia tetapi yang lebih beruntung adalah kamu sang anak karena kau akan mudah masuk surga. Tib. Maka pada kesempatan kali ini saya akan menyebutkan beberapa keutamaan yang balik kepada sang anak. Orang tua kalau punya anak berbakti dia bahagia. Dia bahagia. Tetapi seharusnya yang lebih bahagia adalah sang anak. Banyak sekali keuntungan diambil oleh se anak gara-gara ber sama orang tuanya. Di antaranya baik duniawi maupun ukhrawi, dunia maupun akhirat. Di antaranya terkait dengan duniawi, dia akan dilapangkan rezekinya. Akan dilapangkan apa? Rezekinya. Sebagaimana dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya man ahabba anahimah." Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaknya sambung silaturahmi. Pengin rezeki lapang, pengin umur panjang, sambung silaturahmi. Dan silaturahmi terbaik adalah kepada kedua orang tua. Dunia ini apa yang kita inginkan? Ingin duit banyak, umur panjang. Ya enggak? Apa yang diusahakan orang sibuk-sibuk 24 jam? Pengin duit banyak, umur panjang. Makanya kalau dia sakit, dia keluarkan uang sebanyak-banyaknya supaya apa? Supaya bisa umur panjang. Itulah dunia kenikmatan dunia yang dua kenikmatan dunia yang dikejar oleh manusia dengan kerja letih, capek, lelah. Di antara sebab ukhrawi yang memudahkan seorang mendapatkan dua kelezatan dunia ini, rezeki banyak, umur panjang yang berkah adalah berbakti kepada kedua orang tua. Kalau kita berbuat baik kepada tante, kepada adik, kepada kakak, kepada ponakan itu silaturahmi mendatangkan rezeki, memanjangkan umur, apakah lagi kepada kedua orang tua, apatah lagi kepada kedua orang tua. Karena puncak silaturahmi adalah berbakti kepada kedua orang tua. Maka gak usah ragu-ragu kalau semua orang tua. Pilihkan yang terbaik kalau kita punya rezeki. Kalau enggak ya fattaqulah matum. Bertakwalah semampum. La yuklifulahu nafsan illaha. Allah tidak meluar kemampuan. Kalau kau punya uang, ibu lagi sakit carikan dokter terbaik. Kalau kau merasa kasih anak yatim dapat pahala, membantu masjid merasa dapat pahala, membantu janda merasa dapat pahala, janda tua maupun janda muda, apalagi orang tua. Semua itu pahalanya kalah. Kalau kita berbakti sama orang tua, jangan ragu-ragu. Begitu kau keluarkan banyak untuk orang tua, tentu saya berbicara tentang orang yang mampu. Kalau enggak mampu ya uzur. Ini saya bicara bagi orang yang mampu. Begitu dia mengeluarkan untuk orang tuanya, dia akan dilapangkan rezekinya, akan dipanjangkan umur umurnya. Harusnya 45 tahun dia sudah tewas jadi 65. Harusnya dia keluar ketabrak truk jadi ketabrak motor. Masih hidup. Kenapa dia panjang umur? Karena berbakti sama orang tua. Rezekinya lancar karena ber sama orang tua. Di saat lagi banyak orang macet usahanya, banyak orang bangkrut, usahanya tetap eksis. Kenapa? Berbakti sama orang tua. Dan itu rahasia Allah, cara Allah ada. Kita tentunya berbakti sama orang tua bukan itu yang kita cari. Itu suatu yang suatu yang otomatis. Tetapi karena begitu pentingnya berbakti sama orang tua, seorang boleh berniat seperti itu. Boleh. Selama niat akhirat tetap mendominasi. Makanya Rasulullah memotivasi, Rasulullah mengiming-iming. Rasulullah berkata, "Man ahabba." Siapa yang suka dilapangkan rezekinya, panjang umurnya, sambung silaturahmi. Di antaranya berbak sama orang tua. Ini niat duniawi atau bukan? Niat duniawi. Bolehkah seorang menyambung silaturahmi dengan niat duniawi? Boleh. Selama niat akhirat tetap mendomi mendominasi. Seandainya kita tidak berniat itu akan datang otomatis. Tetapi meniatkan boleh karena Rasulullah yang mengang ini. Kenapa Rasulullah sampai bolehkan niat duniawi? Karena pentingnya silaturahmi dan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Makanya betapa banyak kesuksesan terjadi karena anak ini berbakti sama kedua orang tuanya. siapapun dia sebagai daiah sebagai pengusaha sebagai pejabatkah sebagai apapun kalau dia ber sama orang tua orang tua niscaya dia akan sukses. Niscaya dia akan sukses. Karena Allah akan mudahkan duniawinya belum lagi akhiratnya. Ini keuntangan keuntungan yang didapat oleh sang anak lebih daripada sang orang tua. Kemudian di antara keuntungan yang dia dapatkan oleh sang anak, kalau ternyata dia berbakti sama orang tua, lantas orang tuanya mendoakannya, subhanallah langsung dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, dawatin mustajabat laak fina. Tiga doa yang pasti dikabulkan tidak diragukan akan pengkabulannya. Dakwatul walid, doa orang tua. Wadakwatul musafir doanya orang yang sedang bersafar. Wadakwatul mazlum doa yang sedang dizalimi. Subhanallah. Di antaranya doa orangorang tua. Kalau orang tua masih hidup, jangan malu-malu untuk minta doa orang-orang tua. Bertawasul dengan doa orang tua. Karena tidak ada orang yang paling tulus mendoakan kita seperti orang tua kita. Antum coba kalau doa yang paling banyak antum doain siapa? Anak-anak. Antum doain diri sendiri setelah itu siapa? Anak-anak. Doain istri aja enggak terlalu. Iya enggak? Doain istri enggak terlalu, tapi kalau doain anak luar biasa. Doain anak luar luar doanya. Ya Allah, ya Allah. Karena buah hati. Tidak ada orang tulus doain kita seperti orang tua kita dengan penuh kasih sayang, dengan penuh harapan, dengan penuh kegembiraan. N kalau kita berbakti sama orang tua, orang tua sayang sama kita, dia bakalan banyak doain kita. Dan tidak mengapa kita minta, "Ya, ya, Mak, Pak, doainlah. Doain meskipun kita ustaz, doain kalau masih punya orang tua minta doa. Saya pernah ketemu seorang syekh profesor di Madinah. Dia bilang, "Di antara yang saya sesalkan malu minta doa sama orang tua." Kemudian orang tua saya meninggal. Orang tua mening meninggal dulu. Kalau saya menghadapi kesulitan, ada yang saya andalkan di antaranya. Doa orang tua. Sekarang enggak ada. Orang tua sudah enggak ada. pernah pernah suatu kasus terjadi kasus waktu visa Furoda, saya haji dengan visa Furoda tahun berapa? 2023 atau 2022 saya lupa. Visa ketiga sangat keluar sampai orang waktunya berangkat visa belum keluar. Maka kita bilang berdoa berdoa. Ada satu orang pejabat ikut haji. Saya bilang, "Pak, kenal si fulan, kenal ini kenal. pejabat tingkat tinggi sudah tinggal suruh telepon kedutaan Saudi. Insyaallah Bapak visanya keluar. Telepon kamu usaha. Insyaallah ustaz katanya. Subhanallah. Besok visa dia keluar. Saya bilang Pak telepon siapa? Pejabat siapa? Presiden kah atau siapakah? Enggak. Saya telepon ibu saya suruh bawa saya telepon ibu saya. Ibu saya doa besok bisa dia keluar. Ini kisah nyata. Mau saya subhanallah antum kalau masih punya orang tua jangan lupa minta doa. Gak usah malu-malu. Orang tua kalau dia doa tulus, "Ya Allah bahagiakan anakku." Kita akan bahagia. Sukseskan anakku. Satu dunia pengin antum enggak sukses. Satu dunia pengin antum jatuh, antum akan sukses. Kalau Allah kabulkan. Jagalah anakku. Satu satu dunia ingin mencelakakan antum. Kalau orang tua dikabulkan antum tidak akan celaka. Mumpung ada orang tua, tidak ada yang tulus doain kita seperti orang tua. Oleh karenanya kalau kita berbakti sebenarnya yang beruntung adalah kita. Ya. Ya. Karena orang tua doanya sangat dikabulkan. Kemudian juga di antara keuntungan yang kita dapatkan adalah doa kita juga mudah dikabulkan kalau kita berbakti sama orang tua. Doa kita mudah dikabulkan kalau kita berbakti sama orangorang tua. Di antaranya ada dua dalil akan hal ini. Dalil pertama kisah tentang tiga orang yang terjebak dalam goa. Kisah yang masyhur tinggal tiga orang Bani Israil mereka berjalan tahu-tahu turun hujan mereka bernaung dalam sebuah goa. Tiba-tiba ada batu besar turun nutup pintu goa. Maka mereka bilang kita tidak bakalan selamat. Lama-lama mungkin oksigen habis. Lama-lama kita enggak bisa keluar. Mati kelaparan. Akhirnya mereka berkata, "Marilah masing-masing kita berdoa dengan amalan yang paling dia andalkan." Mulailah tiga orang tersebut berdoa. Ternyata tiga orang ini semua tiga orang saleh. Salah satunya berdoa dengan amanahnya. Dia mengatakan, "Ya Allah, dulu saya punya pegawai, saya kasih gaji mereka semua, kecuali satu. Saya mau kasih gaji, kata dia, "Nanti aja." Cuma beberapa aso yaitu sembilan aso atau berapa artinya cuma beras beberapa puluh kilo kalau di atau gandum beberapa puluh kilo atau beberapa kilo dia tidak mau ambil akhirnya dia pergi akhirnya saya olah gandum tersebut saya tanam saya tumbuhkan akhirnya menghasilkan menghasilkan akhirnya saya beli hewan, saya beli unta saya beli sapi, saya beli kambing sehingga penuhlah unta, penuh kambing, penuh sapi. Dan saya niatkan semua ini buat dia karena saya kelola harta dia. Daripada hartanya nganggur saya kelola. Setelah bertahun-tahun kemudian dia datang nagih upahnya. Kata dia, "Bos, ya Abdullah ati haqqi. Mana bos? Apa gaji saya dulu? Kata aku, itu yang semua yang semua kau lihat itu punyamu, itu gajimu." Kata pegawaiku, "Ya bos la tahzib, jangan ngejek saya. Saya enggak ngejek itu semua milikmu. Beneran beneran. Maka dia pun ambil seluruhnya dan dia tidak sisakan satu ekor pun buat saya. Tidak bilang syukron. Gak ada. Dia ambil semuanya. Mungkin kalau kita berubah niat, "Ah, saya cuma bercanda. Eh, nih 10 kilo dulu gajimu. Enak aja sudah ratusan kambing, ratusan on, enggak, enggak. Saya bercanda aja. Tapi amanah. Tidak ada yang tahu niat dia kecuali siapa? Allah. Subhanallah. Ini dikisahkan seorang imam, saya lupa Imam Ahmad atau imam yang lainnya, dia pengin bersafar ke Yaman. Ini bertemu dengan Abdur Razzaq Assan'ani atau ahlul hadis yang lain. Ternyata ketika hajian ketemu. Maka dia bilang, "Ngapain ke Yaman lagi?" "Sudah ketemu?" "Enggak. Saya punya niat sama Allah pengin ke Yaman." Dia tetap jalan. Karena seorang saleh dia bermuamalah dengan Allah bahkan dengan niat. Seandainya dia rubah, dia bilang tadi, "Iya sudah ini gajimu cuma 10 kilo sudah selesai." Tapi enggak. Ketika dia itu dia berniat Allah yang menyaksikan maka dia ambil semuanya tanpa menyisakan satu ekor pun dia mengatakan Allahumma inuntu faalik ibajhusna f ya Allah kalau aku melakukannya karena mengharap ikhlas mencari wajahmu, bukalah pintu goa untuk menghilangkan kesulitan kami. Artinya dia ikhlas. Dia tidak cita-cerita, "Eh, saya dulu ikhlas. Saya dulu punya pegawai, dia enggak pernah cita-cerita. Yang tahu cuma siapa? Allah. Dan dia tidak sombong. Dia sampai berkata, "Kalau memang saya ikhlas, dia tidak bilang saya pasti ikhlas." Ya Allah, in kununtu faaltualik ibti wajhik. Kalau saya melakukannya karena engkau bukalah pintu. Akhirnya terbuka sebagian. Satunya berdoa bagaimana dia takut kepada Allah. Dia bilang, "Ya Allah, dulu saya punya sepupu wanita yang paling saya paling saya cintai. Saya kejar-kejar dia bertahun-tahun. Kalau ada lelaki sangat cinta kepada wanita, itulah saya." Ya, mungkin lebih dari Romeo dan Juliet. Saya sangat cinta kepada wanita tersebut dan saya selalu minta dia enggak mau. Sampai suatu saat alamat biha sina. Akhirnya dia dalam kondisi atau sana dalam kondisi susah. Dia butuh uang. Maka dia minta uang kepada saya. Saya bilang, "Saya kasih dengan syarat serahkan kehormatanmu kepadaku." Dan dia siap butuh uang. Maka saya carikan uang sampai 100 dinar. Dalam sebagian riwayat 120 dinar. 1 dinar itu kalau kita konversi 4 1/4 gram emas. 100 dinar berarti berapa? 400 25 hampir 1/2 kilo 12eng kg mas saya kasih sama dia. Kemudian dia pasrah. Ketika saya sudah ingin menggauli dia, saya sudah berposisi sebagaimana suami dengan istrinya. Tiba-tiba dia berkata, "Ittaqillah ya Abdallah wudam bihaqqi." Wahai Abdullah, wahai hamba Allah, bertakwalah. Jangan kau menghilangkan kegadisan seorang kecuali dengan haknya. Saya kaget, saya tinggalkan, saya pergi. Dan ini susah. Ini perempuan yang dia kejar-kejar dan ini laki-laki dalam kondisi sudah syahwat sudah bergejolak. Kalau masih mukadimah bisa pergi. Ini sudah di depan, sudah terbuka, sudah bergejolak, mustahil bisa selamat. Mustahil. Kata orang kalau laki-laki sudah bergejolak syahwatnya 2/3 otaknya sudah hilang. Sebagian orang hilang semua otaknya. Dia sudah enggak mikir istrinya, enggak mikir anaknya, enggak mikir akhirat, enggak mikir neraka. Pokoknya harus lepas landas baru dia bisa segar. Bayangkan lelaki ini. Saya bayangkan betapa sulit godaan yang dia hadapi. Maka saya pun meninggalkannya karena Engkau ya Allah. Kalau saya melakukannya, engkau bukalah pintu itu. Buka terbuka tapi belum bisa keluar. Satu berbakti sama orang tua doanya dikabulkan. Dia bilang, "Allahumma inana li apa wali apa abawani sikhani kabirani." Saya dulu punya dua orang tua yang sudah tua, sudah jompo. Dan saya selalu kalau ambil susu pagi atau petang, saya selalu kasih mereka berdua sebelum anak-anak. Suatu hari saya datang terlambat kemalaman, jatah susu sore, saya terlambat bawa karena ada urusan saya terlambat bawa. Saya mau kasih kedua orang tua saya. Itu kebiasaan saya orang tua dulu baru anak-anak, baru istri, ternyata orang tua saya sudah ketiduran. Mau saya bangunkan mereka sedang pulas tidur. Mau saya tidur khawatir mereka nanti terjaga jam 12.00, jam .00 kelaparan. Saya tungguin akhirnya tungguin kapan orang tua saya bangun. Anak-anak yatadun wasiban yatadun. Anak-anak sudah nangis minta jatah susu. Saya bilang, "Enggak. Kebiasaan saya orang tua dulu. Saya nunggu, nunggu nunggu. Ternyata orang tua tidur sampai pagi." Subhanallah. Allah sedang ingin uji dia. Memang kok enggak bangun-bangun, Mbah? Bah, orang tuanya enggak bangun kecuali waktu su subuh. Saya nungguin tidak tidur semalam suntuk saya kasih. Ya Allah, jika saya melakukannya karena Engkau, Ya Allah, bukalah pintu gua. Artinya pintu gua terbuka. Dia berbakti sama orangorang tua. Orang berbakti sama orang tua doanya dikabulkan. Di antaranya kisah Uwais Al-Qarani dalam Sahih Muslim. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Khairu tabiin Uwais al-Qarani." Sebaik-baik tabiin adalah Uwais al-Qarani. Kemudian Nabi mengatakan sifat-sifatnya di antaranya, "Kana lahu ummun hua bihabar." Dia punya ibu dan dia berbakti kepada orang tuanya, kepada ibunya. Dan dia dahulu punya penyakit baras, maka dia berdoa kepada Allah sembuhlah penyakitnya illa qadr dirham. Kecuali seukuran dirham di pusarnya. Kata Nabi, "Wahai Umar, kalau kau mampu agar dia mohon ampun buat engkau, maka lakukanlah." Rasulullah meninggal, berita itu tetap dihafal oleh Umar Uwais Al-Qari. Maka ketika di zaman pemerintahan Umar bin Khattab sering terjadi futuhat, terjadi jihad, jihad, jihad, maka Umar membutuhkan pasukan dari jauh. Di antaranya jaa amdadu ahlil Yaman. Pasukan datang dari negeri Yaman. Setiap datang dari Yaman, Umar bertanya, "Afiikum Uwais?" Adakah di antara namanya Uwais? Tidak ada. Sampai akhirnya datang seorang namanya Uwais dari Qaran Al-Qarani. Umar bertanya, "Engkau namanya Uwais?" "Iya." "Dulu kau punya penyakit baros kemudian sembuh kecuali seukuran dirham." "Iya." "Dari mana engkau tahu wahai amirul mukminin?" "Wes enggak pernah ngomong-ngomong, gak enggak pernah cerita-cerita. Kau punya ibu, kau berbakti sama dia." "Dari mana engkau tahu ya R ya? Wahai Umul Mukminin?" Dia bilang, "Enggak, saya tahu dari Nabi. Saya tahu dari Nabi." Subhanallah. Nabi bilang, "Kalau kau mampu, Umar, minta dia doakan keampunan. Ampunan buatmu. Maka saya mohon engkau doakan saya agar saya diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala." Ti sebagian ulama mengomentari, UES ini sebenarnya dia mau datang kepada Nabi, ingin ketemu Nabi, tetapi dia punya ibu yang harus dirawat. Sehingga akhirnya dia tidak jadi sahabat. Jadinya apa? Tabiin. Sebandang seperti itu. Oleh karenanya halangan dia untuk menemui Nabi karena ibunya. Dan ini uzur syari. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam ingin menghiburnya dengan menyuruh orang yang lebih utama dari dia itu Umar. Umar jauh lebih utama dari Uwais. Agar minta doa kepada siapa? Uwais sebagai bentuk hiburan bahwasanya apa yang dilakukan sudah benar. Meskipun tidak bertemu Nabi karena ada ngurusin siapa? ibunya. Dan di antaranya doanya dikabulkan sampai dia punya penyakit baros. Yang ketiga tidak ada obatnya, dia minta disembuhkan dan Allah sembuhkan sampai karena saking kata Nabi, "Lau aksama alallah laarahu." Kalau dia bersumpah nama Allah, pasti Allah kabulkan sumpahnya. Sampai Nabi suruh Umar minta doa dari dia dan dia mengabulkan dan dia mendoakan Umar agar Allah kabulkan. Karena dia orang yang doanya dikabulkan. Tib. Kenapa doanya dikabulkan? Berbakti sama ibunya. Setelah itu Umar berkata, "Ia aina turid?" "Kau nak ke mana?" Kata ilal Kufah. Ke negeri Kufa. Alaubulaka amiliha. "Maukah aku tulis memo untuk gubernur Kufah ngurusin kamu?" Kata dia, "Enggak, enggak." Amir launas ahabu ilaiya. Saya lebih senang jalan bersama orang-orang yang tidak dikenal daripada jadi tenar dikenal oleh gubernur. Enggak. dia enggak kepingin kemudian dia menghilang UIS Alqaroni. Maksud saya jadi kalau kita bik sama orang tua kita yang lebih banyak beruntung daripada orang tua. Doa dikabulkan. Di antaranya juga diampuni dosa-dosa. Datang dalam dua ee riwayat dari Ibnu Abbas kalau tidak salah saya jadikan dulu. Di antaranya kisah seorang yang orang membunuh yang belajar sihir. Jadi maksudnya kalau kita berb sama orang tua dosa-dosa kita banyak diampuni. Tambah kita sadari dosa kita banyak diampuni. Makanya saya bilang tadi di antara keuntungan yang kita rasakan kalau sama orang tua berbakti sama orang tua. Orang tua ini mewakili banyak amal saleh. Mungkin seorang kurang salat malam, kurang sedekah, tapi sama orang tua bisa mewakili banyak amal saleh. Dan dengan berbakti kepada orang tua bisa mengampuni banyak dosa yang mungkin kita tidak sempat bertobat darinya. Banyak dosa bisa dihilangkan dengan berat sama orang tua. Di antara dalilnya kisah disebutkan oleh Ibnu Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika ada seorang wanita belajar sihir setelah dia sadar bahwasanya sihir adalah syirik, maka dia datang kepada Nabi ingin minta fatwa. dia ingin bertobat. Ketika dia pergi ke Madinah, ternyata Nabi sudah meninggal dunia. Maka dia pergi kepada para sahabat, minta fatwa, "Saya pernah berbuat syirik. Apakah mungkin saya diampuni dosa-dosanya?" Sahabat tidak mau jawab. Offer ke sahabat yang lain. Over ke sahabat. Sampai kepada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata, "Kau masih punya orang tua? Masih punya ibu?" "Masih." Kata Ibnu Abbas, "Berbaktilah kepada ibumu." Artinya, dengan berbakti kepada ibumu, dosa syirikmu, praktik sihirmu bisa diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Demikian juga dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas saya bacakan. Atahu rajulun faqala. Ada seorang datang kepada Ibnu Abbas, ini dosa membunuh. Dia berkata, "Inni khumatan faabani, saya ngelamar seorang wanita. dan dia enggan menikah denganku. Tiba-tiba ada laki-laki lain masuk ngelamar. Ternyata wanita ini menikah dengan laki-laki lain. Ingin nikah sama laki-laki lain. Maka saya pun cemburu kepada wanita ini. Saya bunuh wanita ini. Fahali minbah. Apakah saya masih bisa bertobat? Ibnu Umar eh Ibnu Abbas bertanya, "Ummuka hayyatun. Ibu masih hidup?" Bayangkan. Pasti Ibnu Umar, Ibnu Abbas akan mengatakan, "Berbakti sama orang tuamu, insyaallah kau diterima tobatnya." Bahwasanya berbakti sama orang tua menghapuskan dosa-dosa. "Umuka hayyatun, ibumu masih hidup?" Qala sudah meninggal dunia. Kalau gitu ya sudah tub ilah azza waalla watqar ilai. Bertobatlah kepada Allah dan bertakwalah, beribadahlah semaksimalu yang kau bisa lakukan. Berkata Atha bin Yasar, muridnya Ibnu Abbas. Ibnu Abbas. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, kenapa jawabannya demikian? Wahai gurunda, kenapa Anda bertanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Apa kata Ibnu Abbas? Inni aamu amalan akrallahi taala min birril walidah. Aku tidak tahu ada amal saleh yang paling mendekatkan seorang kepada Allah seperti berbakti kepada ibu. Bakti kepada ihapuskan dosa-dosa dan sangat mudah mendekatkan kepada Allah Subhanahu wa taala. Ibnu Umar berkata, "Fawallahi lau alamal kalam." Seandainya kau berkata-kata lembut kepada ibumu, thaam dan kau beri makan kepada ibumu, jannanal kabair, maka kau akan masuk surga selama kau menjauhi dosa-dosa besar. tinggal lemah lembut sama orang tua, bakti semampunya, insyaallah masuk surga. Kalau kita bicarakan tentang jadi maksud saya keutamaan yang lebih banyak yang peroleh adalah kita anak yang berbakti kepada orang orang tua lebih daripada apa yang didapatkan oleh orang orang tua. Terakhir saya ingin sampaikan tentang perkataan para salaf tentang bagaimana ee bentuk berbakti kepada orang tua Hasan Al Basri. Dia ditanya, "Ma barul walidain?" Maul walidain. Apa itu bakti kepada orang tua? Kata Hasan Al Basri, engkau berkorban untuknya dengan apa yang kau miliki. Dan kau taat kepada mereka berdua pada perkara yang mereka perintahkan kepadamu. Kecuali maksiat. Itu sebisa mungkin kalau orang tua nyuruh kita, kita bilang dalam enje. Iya. Sebisa mungkin. Iya. Iya, iya, Bu. Insyaallah Bu. Insyaallah, Bi. Insyaallah. Tidak nolak sama sekali semampu kita. Kecuali orang tua suruh maksiat. Selama bukan maksiat, insyaallah itulah amal saleh terbaik. Itulah amal saleh terbaik. Tib. Berikutnya kata Abu Hurairah, dia melihat dua orang. Kemudian salah satunya berkata, dia bertanya, "Siapa ini?" "Ini siapamu?" "Ma hadza minka?" "Ini siapamu?" Kata Abu Hurairah. "Faqala abi, "Ini ayahku." Faqala tusammi bismi. Jangan kau panggil dengan namanya. W tamsi amamahu. Kata Abu Hurairah ngajarin, "Kalau kau berbakti jangan panggil namanya Bejo. Jangan panggil Abi, Abati, ya, Papi, ya, Abi. Jangan panggil namanya. W tamsi amamahu. Kalau kau berbakti jangan jalan di depannya, jalan di belakangnya, sampingnya. W tajiz qoblahu. Jangan duduk sebelum dia. Dia duduk-duduk baru kau duduk. Ini cara-cara berbakti. Luqman alakim berkata kepada anaknya, "Ya bani manaiqardahman." Siapa yang membuat kedua orang tuanya rid dia telah membuat Allah ridahuma faqahman. Siapa yang bikin marah kedua orang tuanya telah membuat orang Allah pun marah. Seperti dalam hadis ridallah fi ridal fi ridal walidainakatulullah fi sakatil walidain. Rida Allah berada pada rida orang tua dan kemurkaan Allah pada kemurkaan kedua orang tua. Kata kata Hisyam bin Hasan, qulu lill Hasan al bashri. Aku bertanya kepada Hasan Al Basri. Aku bertanya, "Inni ataamul Quran wa inna ummiiruni bil asya." Aku sedang belajar Al-Qur'an sementara ibuku nunggu aku makan malam. Hasan alri rahimahullah berkata asik ah minri kau makan malam dengan ibumu buat ibumu senang lebih saya sukai daripada kau haji haji haji sunah ada haji fardu haji pertama ada haji sun sunah kata Basri kau makan malam sama ibumu bikan ibu bahagia lebih saya sukai daripada kau haji-haji sunah Apalagi haji furoda mahal atau haji bermasalah mahal juga sama. Tatkala lama matat ummu Iyas bin Muawiyah baka tatkala ibundanya Iyas bin Muawiyah meninggal Iyas bin Muawiyah pun menangis. Apa yang buat kau menangis wahai Ias? Qabani maftuhani ilal jannah. Saya sebelumnya punya dua pintu yang terbuka tinggal masuk untuk masuk surga. Fagulliq ahaduhuma. Sekarang salah satunya sudah ditutup. itu ibunya mening meninggal, tinggal satu pintu lagi. Kemudian bagaimana yang penting salat? Berdoa ketika salat. Kata Sufyan bin Uyainah, "Man shawatil khamsa faqad syakar lillah." Siapa yang salat lima waktu maka telah bersyukur kepada Allah. Waman daa liwialidaihi aqibahuma faqad syakar lahuma. Dan siapa yang berdoa di penghujung salat l waktu untuk kedua orang tuanya, berarti dia telah bersyukur kepada kedua orang tuanya. Maka tidak mengapa setiap kita doa sebelum salam kita sisipin rbighfirli waliwalidaiya warhamhuma kama rabbaini shira sebagaimana pernyataan Sufyan bin Uyainah. Dan saya sering sampaikan kenapa kita disuruh banyak berdoa untuk orang tua? Karena kaidah menyatakan Rasulullah bersabda, "Perhatikan, manikumufanakuhu, siapa yang berbuat baik kepadamu balasah setimpal." Ini sunahnya kita balas dengan setimpal kalau kita mampu ya. Faam tajidu maafiunahu. Kalau kau tidak bisa balas dengan setimpal fadahu maka doakan dia. Hattaum sampai kalian memandang kalian sudah balas setimpal. Jadi kalau ada orang kasih kita hadiah kita, dia enggak butuh balasan yang setimpal. Dia sudah kaya raya. Yang bisa kita lakukan doa. Doa terus. Doa sampai kita merasa ini doa sudah cukup membalas kebaikannya. Ada batasannya. Kata Nabi. Sampai kalian merasa sudah setimpal membalas kebaikannya. Nah, sementara kaidah menyatakan tadi di awal bahwasanya gak mungkin kita balas kebaikan orang tua. Maka kalau gitu doa tidak pernah berhenti. Kata Sufyan bin Uyainah, dikatakan orang bersyukur kepada orang tuanya jika dia berdoa untuk orang tuanya minimal lima kali se sehari. Setiap habis salat salat lima waktu atau menjelang penghujung salat lima waktu dia doakan kedua orang tuanya. Berkata Muhajid Mujahid bin Jabr muridnya Ibnu Abbasagiladhi. Tidak boleh seorang anak kalau dipukul oleh ayahnya dia tangkis. Enggak boleh. Subhanallah. Pasrah aja ya. Tentu yang masih masuk akal pukulannya. Waman walidaihi falam yabarahuma. Siapa yang melihat orang tuanya dengan sinis tan pandangan tajam, dia tidak berbakti kepada kedua orang tuanya. Waman adkhala alaihima huznan faqad aqohuma. Siapa yang memasukkan kesedihan kepada kedua orang tuanya, maka dia telah berdurhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang kalau marah sama orang tua, jangan lihat orang tuanya sini tunduk. Jangan pernah angkat suara di atas kedua orang tuamu. Jangan pernah. Kata tadi, kata Ibnu Umar, alam kalam, kalau kau berkata-kata lembut kepadanya, kau beri makan kepadanya, kau masuk surga, maka lembut. Wahumaan karima. Ucapkanlah kata-kata yang lembut kepada kedua orang tua. Pandanglah dengan pandang penuh penghormatan. Siapa yang mandangnya dengan sinis? Abi itu, Umi, itu. Selesai. itu tidak berbakti. Anak durhaka. Anak durhaka. Apapun masalah kita dengan orang tua, kita yang benar, orang tua yang salah. Gak usah angkat suara. Iya, Bu. Tapi Ibu enggak benar. Yang benar begini, Bu. Kamu anak durhaka. Enggak, Bu. Jangan, jangan kita balas. Ibu yang durhaka sama saya. Wah, ini dosa baru. Saya jangan pernah menyesal. Saya ketemu seorang kawan, dia bermasalah orang tuanya dan ibunya yang salah dan dia angkat suara. Sampai sekarang dia masih menyesal terus kalau sebut itu dia nangis. Padahal ibunya yang salah. Tapi dia merasa kenapa di waktu itu angkat suara? Karena tidak terkontrol emosinya. Jangan pernah angkat suara. Meskipun kita salah, meski kita benar ibu yang salah, tetap jawab dengan baik. Tetap penuh penghormatan. Ingat, ibu ini yang pernah saya dalam perutnya. Ibu ini yang mengandung saya. Ibu ini yang melahirkan saya, ibu ini yang menyusui saya, itu semua akan menjatuhkan kesombongan kita. Jangan pernah angkat suara. Kata Muhammad, manya ba yadai abihi faq aqahu illa an yamsya fayumit lahulqihi. Siapa yang jalan di depan bapaknya durhaka kecuali jalan depan bapaknya untuk menghilangkan gangguan. Jangan hormat Bapak di depan, kita di belakang atau di samping atau kita gandeng. Sebagian hukama, sebagian ahli ahli hikmah berkata, "La tusodiq aqan, jangan kau bersahabat dengan anak durhaka. Fainnahu lan yabaraka waqan hua ajabu haqq alai." Dia tidak akan baik sama engkau. Sementara orang yang paling wajib dia baikin ayahnya, ibunya tidak dia baikin apalagi kamu. Tib. Demikian saja yang bisa sampaikan ikhwan dan akhwat. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang orang tua. Dan saya ingatkan berbakti sama orang tua bukan cuma ketika masih hidup, ketika sudah meninggal kita masih bisa lanjutkan pahala berbakti kepada orang tua. Di antaranya mendoakan mereka berdua. Di antaranya bayarkan utang mereka berdua kalau mampu. Kalau enggak mampu enggak ada masalah. Cari yang lain. Di antaranya menghajikan, mengumrahkan untuk orang tua. Di antaranya berbuat baik kepada kawan-kawan dekat orang tua. Orang tua punya kawan dekat masih ingat, "Oh, ini dulu ngaji bareng. Ini dulu dagang barang. Dagang bareng sama bapak saya, sama ibu saya. Ini teman ibu saya sering ngobrol berdua. Kasih kalau kita punya." Karena kalau kita kasih, kita dapat pahala berbakti. Dan ini pintu berbakti yang masih terbuka. Kecuali kawan mabok bapak jangan. Kawan main judi jangan. Ini kawan yang baik-baik. baikin ya. Dengan niat berbakti maka kita akan dapat pahala ber berbakti. Itu diperhatikan Ibnu Umar radhiallahu taala anhuma. Di antaranya menyambung rahim yang rahim tersebut lewat kita. Di antaranya kalau khalah yang paling utama apa? Kh khalah ya. Yang perutama adalah khalah. Dalam hadis Rasulullah sebutkan ketika Rasulullah suruh berbakti kepada ibunya kata dia ibu saya sudah meninggal. Alak khala kata Nabi, "Kau punya bibi?" Punya. Berbaktilah kepada bibikmu. Jadi kalau masih ada orang tua ibu yang utama. Tapi kalau ibu sudah meninggal ada khala itu saudari ibu itu paling utama di antara yang utama. Maka jangan lupa berbakti kepada orang tua dengan menyambung rahim yang datang melalui jalur orang orang tua. Orang tua sekarang membutuhkan doa kita lebih banyak daripada harta harta kita. Ini sekarang di kuburan sudah kita enggak bisa lagi ngajak makan, enggak bisa pijit lagi, enggak bisa kita buat lucu-lucu dia ketawa. Yang bisa kita serahkan adalah sekarang mendo mendoakannya. Wallahu taala alam bisawab. Bab demikian saja apa yang saya sampaikan. K saya mohon maaf banyak pertanyaan tidak bisa jawab karena keterbatasan ilmu. Semoga kita menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua. Semoga Allah mukulkan kita semuanya dengan orang tua di akhirat kelak. Amin ya rabbal alamin. Demikian wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah.