Transcript
tyuCUoJ4m7s • Kiat-Kiat Hidup Bahagia - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2572_tyuCUoJ4m7s.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani
wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinanih
ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalahuiman lnih wa ashadu anna
muhammadan abduhu wa rasuluh daila
ridwan allahumma sholli alaihi wa ala
alihi wa ashabihi wa ikhwan hadirin dan
hadirat yang dirahmati oleh Allah
subhanahu wa taala pada kesempatan kali
ini kita akan membahas tentang
sebab-sebab hidup bahagia ya tentunya
kebahagiaan adalah cita-cita semua
orang, baik
laki-laki maupun wanita ya, orang tua
ataupun anak muda, miskin maupun kaya,
pejabat maupun rakyat jelata, terkenal
ataupun tidak terkenal
semuanya
pengin hidup bahagia.
Dan tidaklah semua kegiatan yang
dilakukan oleh manusia ke sana kemari
bekerja keras, membanting tulang,
berusaha dan berusaha tidak lain adalah
untuk mencari kebahagiaan.
Namun tentu pandangan orang dalam meraih
kebahagiaan bermacam-macam ya. Ada yang
terobsesi bahwasanya bahagia dengan
popularitas maka dia akan berusaha
semaksimal mungkin. Bagaimana bisa
populer? bagaimana bisa terkenal.
Dan sebagian orang menyangka bahwasanya
kebahagiaan dengan harta maka dia
jungkir balik untuk cari harta.
Sebagian orang menyangka yang namanya
orang bahagia adalah kalau jabatannya
tinggi maka dia jungkir balik. Dibalik
orang, dijungkir orang supaya bisa jadi
apa? Pejabat.
Ya, demikian
ya. Namun
dalam Islam
bahagia bisa diraih oleh siapa saja.
Baik kaya maupun miskin, pejabat atau
rakyat jelata, terkenal atau tidak
terkenal bisa meraih kebahagiaan dengan
syarat beriman dan beramal saleh. Ya,
kenyataannya
harta secara zatnya tidak bisa bikin
bahagia. Buktinya banyak orang yang
berharta namun tidak bahagia. Bahkan di
antara mereka ada yang bunuh diri.
Bahkan di antara mereka sudah di tengah
kekayaan masih narkoba. Kenapa narkoba?
Karena tidak bahagia. Makanya narkoba.
Betapa banyak orang yang sudah di puncak
jabatan, tapi kita lihat dia, kita
kasihan. Kenapa wajahnya memendam
penderitaan?
Dia berlagak seperti bahagia. Tapi kita
tahu raut wajahnya menunjukkan dia
sedang sengsara.
Banyak orang yang terkenal justru tidak
bahagia. Dia berangan-angan bisa hidup
sendiri. Ke mana-mana dikejar-kejar oleh
pencintanya, ke mana-mana dikejar oleh
pencari berita, ya. Sehingga kehidupan
privasinya tidak ada, maka dia hidup
sengsara.
Oleh karenanya secara zat, harta, maupun
jabatan, maupun kekayaan, maupun
popularitas tidak bisa membahagiakan
orang. Itu hanya sebab untuk bahagia.
Tapi yang menentukan kebahagiaan adalah
siapa? Allah Subhanahu wa taala. Oleh
karenanya Allah maha adil. Siapapun
orangnya bisa bahagia. Dia kaya kalau
dia beriman kepada Allah bisa bahagia.
Dia miskin kalau dia beriman kepada
Allah dia pun bisa bahagia.
Oleh karenanya
Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebutkan
pernyataan yang indah perkataan emasnya.
Dia mengatakan, "Inna fid dunya jannatan
man lam yadkulha lam yadkhul jannatal
akhirah." Di dunia itu ada surga, yaitu
ada kebahagiaan. Siapa yang tidak bisa
masuk surga dunia, tidak bisa bahagia di
dunia, maka ketahuilah dia tidak akan
bahagia di akhirat. Dia tidak akan masuk
surga akhirat. Seakan-akan beliau ingin
menyatakan orang beriman pasti bahagia
apapun kondisinya. Dan Ibn Taimiyah
mengucapkan kalimat tersebut, perkataan
emasnya tersebut dalam kondisi dia
dipenjara berulang-ulang. Ya, kata dia,
"Yaf'alu
bi jannati fiqi." Apa yang hendak
dilakukan oleh musuh-musuhku kepadaku?
Surgaku ada di hatiku. Mau penjarakan
aku, mau usir aku, mau siksa aku,
surgaku di mana? Di di hatiku. Jadi
orang beriman, beramal saleh pasti apa?
Bahagia. Demikian juga para salaf
berkata, "Ya, lau alima almuluk wa
abnaul muluk ma nahnu f laaduna alaihi."
Seandainya para raja, kata orang-orang
saleh, seandainya para raja dan para
pangeran tahu tentang kebahagiaan yang
kami rasakan, tentu mereka akan
menyambuk kami untuk merampas
kebahagiaan tersebut. Yaitu mereka ingin
berkata, "Apa kebahagiaan yang kami
rasakan tidak didapati oleh para raja
dan para sultan dan para pangeran."
ketika orang sudah mencapai pada derajat
iman dan amal amal saleh.
Karenanya hadirin dan hadirat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala pada
kesempatan kali ini saya ingin
menyampaikan tentang sebab-sebab
kebahagiaan secara praktik kehidupan
keseharian ada sekitar 20 kurang lebih
20 sebab kebahagiaan.
Kuat sampai subuh ceramah.
kuat mendengar ceramah.
Siap.
Tib.
Kalau saya mau simpulkan tentang sebab
kebahagiaan,
maka sebab kebahagiaan
ee
secara umum
terbagi menjadi dua. Yang pertama
sebab-sebab ukhrawi.
Yang kedua adalah sebab-sebab duniawi
yang merupakan penopang kebahagiaan jika
lendasi oleh iman dan takwa.
Adapun sebab-sebab ukhrawi, sebab-sebab
akhirat agar seorang bahagia.
Sebagaimana Allah sebutkan, "Man amila
shihan minakarin unsa wahua mukmin
falanuh hayatan thyibah
wajizannahum ajrohum biahsani mau
ymalun."
Siapa yang beramal saleh, lelaki maupun
perempuan, lelaki maupun wanita, dia
beramal saleh dan dia dalam kondisi
beriman, maka kami sungguh akan berikan
kepada dia kehidupan yang bahagia itu di
dunia. Makanya Allah mengatakan,
"Wajziannahum
ajrahum biahsanilladziu yamalun." Kami
akan balas di akhirat dengan ganjaran
yang terbaik. Di dunia dapat kebahagiaan
dan di akhirat dapat surga. Jadi pasti
orang beriman pasti bahagia. pasti
bahagia apapun kondisinya.
Ini jaminan dari Allah Subhanahu wa
taala.
Dan sebaliknya sebab kesengsaraan secara
sederhana adalah seluruh maksiat. Allah
berfirman dalam surah Thaha, waman
aikrinauatankau
yaumalqiamati.
Siapa berpaling dari peringatanku maka
bagi dia kehidupan yang menyesakkan.
Yaitu dia sengsara.
di dunia, di alam barzakh, apalagi di
akhirat.
Pada hari kiamat kelak kami akan
bangkitkan dia dalam kondisi buta.
Dan seterusnya maka dia protes, "Ya
Allah, kenapa kau bangkitkan aku dalam
kondisi buta?" Di dunia sengsara, di
alam barzah sengsara, di akhirat seng
sengsara.
Allah berfirman, "Innal abr lafi naim."
Sungguhnya orang-orang yang baik lafi
naim sungguh-sungguh benar-benar dalam
kenikmatan kata Ibnu Qayyim yaitu
fidurata
dalam kenikmatan
dalam tiga alam. Alam dunia, alam kubur
maupun alam akhirat
dia akan bahagia. Orang Ibrahim pasti
bahagia ya.
Kemudian kata Allah, "Wa innal fujjar
lafi jahim." Dan sesungguhnya orang
fajir, para pelaku maksiat lafi jahim
dalam kesengsaraan
juga dalam tiga kampungnya. Kampung
dunia, kampung alam barzakh, dan kampung
apa? Akhirat. Jadi ini sebab pertama
secara sederhana untuk meraih bahagia
adalah sebab-sebab ukhrawi. Itu iman
beramal saleh. Nanti perinciannya
belakangan. Sebab kedua, di antara sebab
kebahagiaan juga kita perlu juga
menopang sebab ukhrawi dengan
sebab-sebab duniawi. Tentu dengan sebab
dunia tersebut yang dilandasi dengan
iman dan takwa. Rasul sahu alaihi
wasallam bersabda, "Arbaun minas
sa'adah." Empat yang merupakan
kebahagiaan. Itu empatup empat perkara
merupakan sebab kebahagiaan. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Almaratu
salihah, istri yang salehah, wal jarus
saleh, tetangga yang baik.
Wal baitul wasi', rumah yang luas. Wal
markabul hani, tunggangan yang nyaman.
Tunggangan yang nyaman. Kemudian kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, arun
minyaqawah.
Empat perkara yang merupakan sebab
kesengsaraan.
Almaratu asu, yaitu perempuan yang
buruk, istri kurang ajar, tukang ngomel.
Yang kedua, aljarusu ya, yaitu tetangga
yang buruk
ya. Tetangga yang buruk.
Yang ketiga, albait addayiq, rumah yang
yang sempit. Yang keempat yaitu
tunggangan yang tidak menyenangkan.
Nah, ini di sini Rasulull sahu alaihi
wasallam berisyarat tentang empat
perkara duniawi yang juga merupakan
sebab kebahagiaan seperti rumah yang
luas. Rumah luas membuat orang nyaman.
Ada ruang buat tamu, ada tamu datang,
ada tamu bisa tidur di rumahnya. Kalau
keluarga ngumpul, dia bahagia. Ini ini
duniawi tapi merupakan sebab apa?
Kebahagiaan.
Mobil yang nyaman, kendaraan yang nyaman
juga sebab kebahagiaan. Ya, kalau zaman
dulu punya tunggangan disuruh maju
enggak mau maju kan menjengkelkan. Ya
sudah dikasih makan gak mau jalan
menjengkelkan, membuat sengsara. Tapi
kalau tunggangan nyaman, patuh ya zalul,
ke mana-mana mau tunduk ya nyaman. Sama
seperti zaman sekarang kalau kita naik
kendaraan, mobil ee ke mana-mana muda,
tidak pernah mogok, menyenangkan. Tapi
sedikit-sedikit ganti ban,
sedikit-sedikit ganti ban. Ya. Ya.
Sedikit-sedikit rusak, ya.
Mobil sampai parah enggak enak ya.
Sampai ada apa namanya? Ada. Waktu saya
pernah ke Jeddah, saya pernah naik mobil
buruk sekali.
Apa namanya dia bilang? Mobil dia ini
semua ada bunyinya. Mobilnya semua ada
bunyinya. Kalau buka pintu ngek sudah
bunyi-bunyi. Buka ini ngek bunyi.
Katanya semua mobil saya ini semua
dilakukan apapun ada bunyinya kecuali
bunyi klakson tidak ada.
Maksudnya kalau mobil kayak gini tidak
menyenangkan. Tidak menyenangkan. Dari
sini tahu bahwasanya sebab kebahagiaan
itu ada sebab ukhrawi, ada sebab apa?
Duniawi. Dua-duanya kita tempuh.
Dua-duanya kita tempuh. Yang penting
kita bisa bahagia. tentunya dengan
berdoa kepada Allah minta kebahagiaan.
Huahaka wa abka waahu wa amata wa ahya.
Dialah Allah yang buat seorang tertawa,
tersenyum dan dia juga yang buat orang
menangis.
Yang menguasai hati kita siapa? Allah
subhanahu wa taala. Yang buat kita bisa
bahagia? Allah. Yang buat bisa kita
sengsara. Allah subhanahu wa taala.
Inalluba baini minrahman. Hati ini
berada di dua jemari. Allah yuqallibuha
kaifa yasya. Allah bolak-balikkan
terserah Allah Subhanahu wa taala. Maka
jangan pernah mencari kebahagiaan
kecuali dari Allah Subhanahu wa taala.
Bab kita akan bahas satu persatu. Saya
gabung antara sebab ukhrawi dengan sebab
duniawi ya sekitar ada 20 sebab.
Yang pertama hadirin hadirat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala
agar kita bahagia pertama ikhlas kepada
Allah subhanahu wa taala. Ikhlas kepada
Allah.
Siapa yang ikhlas,
tauhidnya mantap, hanya fokus kepada
Allah subhanahu wa taala, hanya
bertawakal kepada Allah subhanahu wa
taala, tidak mengharapkan sanjungan
orang lain, tidak mencari validasi dari
orang lain, maka dia paling bahagia. Dia
paling bahagia.
Yang penting Allah sudah tahu apa yang
dia lakukan bagi dia. Allah sudah tahu
selesai urusan.
Ketika dia berbuat kebaikan, dia tidak
butuh komentar dari orang yang dia
baiki. Sebagaimana syiar dari
orang-orang para penghuni surga, mereka
berkata, "Inama inamaukum liwajihillah
laidu minkum jaza w syukur. Sesungguhnya
kami ini memberi makan kepada kalian
karena mencari wajah Allah." Itu kami
ingin lihat Allah pada hari kiamat. Kami
ingin merasakan kelezatan memandang
wajah Allah di surga kelak.
La nidu minkum jaza w syukur. Kami tidak
butuh kata terima kasih dari kalian dan
kami tidak butuh balasan. Kami enggak
butuh jazaan wala syukur. Tidak butuh
balasan dari kalian. Orang yang seperti
ini sampai tahapan ini maka dia akan
bahagia ya karena yang dia tuju siapa?
Allah Subhanahu wa taala. Namun kapan
kita sengsara? Ketika keikhlasan kita
kurang.
Kita mencari validasi dari orang ingin
di-like ya oleh orang. Kalau bikin
status maunya ada jempol tangan, ada
jempol kaki, ya tempel di situ
ya. Sehingga kita menggantungkan
kebahagiaan kita kepada netizen. Kita
bahagia tergantung komentar netizen. Dan
netizen tidak selalu berkomentar sesuai
keinginan kita. Sehingga kapan kita
menggantungkan hati kita kepada selain
Allah, maka kita pasti sengsara.
Yakinlah orang yang semakin ikhlas dia
semakin bahagia.
Berharap kepada manusia pasti kecewa.
Kalau berharap kepada Allah tidak akan
pernah kecewa.
Oleh karena latih diri kita agar kita
mau bahagia, latih diri kita untuk
ikhlas. Latih diri kita kalau kita
beramal saleh tidak usah cerita sama
orang lain. Latih diri kita kalau kita
lagi punya kegiatan amal saleh tidak
usah di-upload ya.
Tidak usah di-publish, tidak usah
cerita-cerita.
Tapi kalau kita terbiasa pamer amal
saleh kita, repot.
Mau ke masjid bikin konten. Guys, gue
lagi ke masjid, Guys. Didi dia yang
dingin nih. Subuh dingin, tapi gue ke
masjid.
Lulu gue-gue katanya
lagi bantu orang guys bikin lagi apa
janganlah begitu gak usahlah
wama taf'alu min khairin fainnallaha
bihi alim
dalam ayat yang lain fainnallaha
yal'lamu apapun yang kalian lakukan dari
kebaikan sungguhnya Allah mengetahui.
Sesungguhnya Allah mengetahui secara
detail.
Oleh karenanya kalau kita ikhlas yang
penting Allah sudah tahu. Selesai.
Kita berbuat baik sama orang kita enggak
butuh dia terima kasih. Yang penting
Allah sudah tahu selesai muamalah saya
antara saya dengan Allah bukan dengan
kamu. Kamu saya hanya menjalankan tugas.
Yang perintahkan saya untuk berbuat baik
kepada orang tua, kepada kakak, kepada
adik, kepada kerabat, kepada tetangga,
kepada orang miskin. Siapa yang
perintahkan? Allah. Berarti interaksi
saya sesungguhnya dengan Allah, bukan
dengan kalian. Kalau saya sudah kasih,
Allah sudah tahu, selesai. Saya tidak
butuh validasi dari kalian. Latih diri
kita
sampai kita merasa bahagia kalau tidak
ada yang tahu.
Itulah kita dapati bagaimana para salaf
dahulu benci kalau mereka amal mereka
ketahuan.
Mereka enggak suka.
Karena mereka ada rasa bahagia ketika
yang tahu hanya siapa? Allah.
Seperti kisah Uwais Al-Qarani ketika
ketahuan doanya terkabulkan maka dia
menghilang. Uwais Alqarani apa
menghilang.
Dia tidak bilang, "Oh iya saya Uwais
Al-Qarani yang Nabi pernah puji saya."
Dia enggak pamer-pamer.
Dan banyak salaf seperti itu. Enggak
suka diketahui amal salehnya. Maka kalau
ingin bahagia, Bapak-bapak, Ibu-ibu
jangan suka pamer. Apa? Amal saleh.
Latih diri hanya mencari
balasan dari siapa? Allah Subhanahu wa
taala. Itu perlu dilatih. Kalau enggak
dilatih enggak bisa.
Kalau enggak dilatih enggak enggak bisa.
Memang berat. Tapi latihan.
Latihan. Misalnya
ada orang ngomong sama kita, "Kamu kaya
emang sudah haji?" Kaya padahal kita
sudah haji misalnya 10 kali.
Kita belajar jawab, "Alhamdulillah
sudah." sudah cukup. Jangan kita bilang,
"Eh, 10 kali."
Yang satunya ikhlas, yang sembilannya
pamer.
Gak perlu gak perlu dia tahu. Enggak
perlu dia tahu. Secukupnya. Kita bilang
sudah, alhamdulillah sudah. supaya kau
tidak tuduh saya yang jelek-jelek. Saya
sudah aja, alhamdulillah. Ya,
apalagi kamu travelnya apa sih?
Travel saya travel mahal. Kamu hotelnya
apa waktu hajian? Jauh kan? 7 kilo dari
Masjid Haram.
Saya dekat
dekat Mina.
Oleh karenanya
ini perlu latihan dan ini adalah poros
kebahagiaan. Tib.
Semakin bertawakal semakin bahagia.
Makanya di antara doaul karb kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam doa orang
yang sedang dalam kondisi genting adalah
dengan tahlil. Lailahaillallahul adzimun
al halim.
Lailahaillallahu rabbul arsyil adzim.
Lailahaillallahu rabbus samawati
warabbul ardhi warabbul arsyil karim.
Orang kalau dalam gelisah dia bilang
lailahaillallah.
Agar Allah datangkan apa? Kebahagiaan.
Agar dia tenang. Lailahaillallah sampai
tiga kali bertahlah.
Lailahaillallahulimul
halimulim. Lailahaillallahu rabbul
arsyil adzim. La ilahaillallahu rabbus
samawati warabbul ardhi waabbul arsyil
karim. Tiib. Berikutnya
sebab yang keberapa? Yang kedua. Di
antara sebab agar kita bisa bahagia
berbuat baik kepada orang lain karena
Allah tentunya. Berbuat baik kepada
orang lain karena Allah.
Dalil secara spesifik ketika ada seorang
datang kepada Nabi,
yasku qosqbihi dia mengeluhkan kepada
Nabi tentang hatinya yang keras.
Maka Rasul sahu al wasallam berkata, "In
arqbik kalau kau ingin hatimu lembut dan
hati lembut merupakan sebab kebahagiaan
wamsa alatim."
Maka bagilah makanan. Bagi-bagilah
makanan gratisan dan usapkanlah tanganmu
kepada kepala anak yatim.
Itu berbuat baik sama orang lain. Kalau
berbuat baik sama orang lain maka kau
akan bahagia. Ini dalil secara spesifik
dan secara umum. Aljaza minyisil amal
balasan sesuai dengan perbuatan. Siapa
yang berbuat baik kepada orang lain maka
Allah akan bikin dia bahagia. Siapa yang
membahagiakan orang lain maka dia akan
dibahagiakan oleh Allah. Wallahu fiil
abdi makal abdu akhi. Allah senantiasa
membantu seorang hamba jika seorang
hamba membantu saudaranya. Ini ya
man nafasa
an mukmin qurbatan
minqabihi
nafasallahu
qurbatahu yaumalqiamah. Q nabi
sallallahu alaihi wasallam. Siapa yang
mengeringankan beban
seorang mukmin di dunia, maka Allah akan
mengurangi penderitaannya pada hari
kiamat kelak. Di dunia tentunya juga.
Tapi disebutkan tentang penderitaan hari
kiamat karena penderitaan hari kiamat
sangat dahsyat. Tidak ada bandingannya
dengan penderitaan dunia. Maksud saya
aljaza min amal balasan sesuai dengan
perbuatan. Siapa yang beri bahagia orang
maka dia akan juga bahagia. Maka
dikatakan sesuatu yang dibagi tidak
berkurang maka bahkan bertambah adalah
kebahagiaan. Kalau harta kita bagi
berkurang tapi kalau kebahagiaan kita
bagi kita semakin ba bahagia. Semakin
bahagia. Dan di antara amal saleh yang
paling dicintai oleh Allah adalah
membahagiakan orang lain. Wahabbulallahu
muslim. Dan amal saleh yang paling
dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan
yang kau masukkan dalam hati seorang
muslim.
atau kau hilangkan rasa laparnya
atau kau lunaskan hutangnya yaifuatan
atau kau hilangkan penderitaannya
berarti kalau kita membahagikan orang
kita akan bahagia dan dua perkara ini
ikhlas dan berbuat baik kepada orang
lain disebutkan oleh Syekh As'di
rahimahullahu taala adalah poros
kebahagiaan.
Dua,
dua perkara yang merupakan poros
kebahagiaan adalah ikhlas wal ihsan ilal
khalq. Ikhlas dan berbuat baik kepada
orang orang lain.
Maka latih diri kita untuk berbuat baik
sama orang lain karena Allah.
Siapapun depan kita, kita berusaha
berbuat baik. Ada pembantu, kita
berusaha baikin dia.
Ada pegawai, kita berusaha baikin dia.
Ada tetangga, kita berusaha baikin dia.
Ada kakak, ada adik, kita pikir gimana
bikin kakak dan adik bahagia. Ada orang
tua, apalagi kita mikir gimana bikin
orang tua bahagia. Ada istri pikir
gimana istri bisa bahagia. Ada suami
mikir gimana suami saya bisa bahagia.
Karena Allah, kapan kita berusaha
membahagiakan orang maka Allah akan
berikan kita keba kebahagiaan.
Saya sering sampaikan guru kita
rahimahullah, Syekh ee Ustaz ee Abu Saad
rahimahullahu taala,
tidak ada penderitaan menimpa kaum
muslimin, bencana alam atau apa,
peperangan. Beliau paling semangat ke
sana. Ya, ada bencana alam, beliau ke
sana sampai ke luar negeri, ke Palestina
beliau antar bantuan sosial ke Suriah,
ke Yaman. Kalau kita lihat capek, tapi
dia sendiri tidak capek.
Saya lihat mungkin karena dia merasa
bahagia ketika membantu orang lain. Kita
ngelihat aja sudah capek apalagi
jalanin. Ternyata dia tidak capek-capek
menjalani. Semangat ke sana, semangat ke
sini, semangat ke sana, semangat ke
sini. Karena orang yang semangat menuk
orang lain karena Allah, pasti Allah
kasih apa? Kebahagiaan. Makanya orang
yang paling bahagia Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam.
Allah mengatakan, "Laq jaakum rasulum
min anfusikum azizun alaihi anitum."
Telah datang kepada kalian seorang rasul
dari diri kalian alaihium. Dia merasa
berat. Apa yang berat bagi kalian?
Rasulullah merasa berat kalau sahabat
berat. Kepeduliannya luar biasa. Maka
Allah menjadikan dia orang yang paling
bahagia. Sallallahu alaihi wasallam.
Bab. Ini yang ke berapa?
Yang kedua.
Yang ketiga. Di antara sebab kebahagiaan
adalah berakhlak mulia. Berakhlak mulia.
Orang kalau akhlak mulia dia bahagia.
Akhlak mulia itu apa? Di antaranya
hatinya baik,
tidak hasad,
tidak dendam, dia mudah memaafkan,
murah senyum,
ringan tangan, tidak seuzun sama orang
lain, tidak sombong, tawadu. Orang
begini bahagia.
Orang begini bahagia. Lihat orang kaya,
dia enggak hasad. Ah, dia kaya hisabnya
lebih banyak daripada saya.
Iya. Enggak. Ngapain saya pengin dihisab
seperti dia? Ya, apa yang Allah berikan
saya sudah tidak perlu hasad.
Dia terkenal, saya tidak terkenal. Saya
lebih nyaman. Privasi saya tidak ada
yang tahu.
Ke mana-mana diikuti orang banyak, capek
ngikuti orang, diikuti orang banyak.
Ngurus istri, ngurus istri enggak
sempat, ngurus anak enggak sempat,
apalagi ngurus istri-istri dan anak-anak
enggak sempat. Ngurusin orang aja
kerjanya,
privasi kurang. Ngapain saya hasad sama
orang seperti itu? Tib. Ada ustaz yang
hadir sedikit yang satu hadirnya banyak,
ramai lah. Berat seperti dia. Susah mau
ikhlas, audiensnya banyak.
Kalau audiensnya sedikit, insyaallah
enggak ria
cuma sedikit yang hadir. Masjid ramai
ada ustaz datang sama saya, Ustaz
Firanda guru saya. Ustaz Firanda kemarin
saya ngisi pengajian masjid ramai.
Benar, Ustaz, ramai angin katanya.
Manusia cuma sedikit.
Apa yang mau kita banggakan? Beda kalau
yang hadir banyak kita pakai drone. Wah,
lihat yang hadir nih. Nih, Ustaz Firanda
lagi di dia. Yang yang hadir ramai ya
kan? Berat hati ini. Paham? Berat
enggak?
Antum kira ikhlas itu mudah?
Maka gak perlu hasad sama orang yang
pengajiannya ramai. Enggak usahlah sudah
ngapain.
Bisa jadi orang yang tidak terkenal
masuk surga daripada orang yang
terkenal. Uwais Alqarani enggak ada yang
kenal.
Enggak ada yang kenal.
Tapi Nabi mengatakan khairu tabiin.
Sebaik-baik tabiin.
Dia lebih baik daripada tabiin-tabiin
yang lain yang terkenal. Dia entah ke
mana. Tidak ada yang kenal. Tahu-tahu
kemudian dia menghilang.
Oleh karenanya orang yang akhlak mulia,
tidak hasad, dia bahagia.
Apakah perusak kebahagiaan? Merusak
kebaikan kalau hasad. Lihat orang hasad,
jengkel, sedih. Lihat orang lebih
ganteng, jengkel. Kenapa dia lebih
ganteng dari saya?
Lihat orang istrinya lebih cantik,
jengkel. Kok bisa istrinya lebih cantik?
Padahal wajahnya buruk, lebih ganteng
saya. Ya sudah, rezeki masing-masing.
Lihat orang istrinya banyak, hasad
enggak yak?
Diomelin dua. Biasanya diomelin satu
orang, sekarang dua orang yang omelin.
Gak usah hasad, gak usah. Santai aja.
Kemudian mudah memaafkan. Kalau dendam
hati ini panas disakiti orang dendam
pengin balas. Apalagi kalau enggak bisa
balas tambah jengkel. Apalagi yang
zalimi kita semakin terkenal tambah
jengkel lagi.
Kita berdoa, "Ya Allah matikan dia."
Enggak mati-mati
jengkel hati. Kalau maafkan, tenang. Ya
udahlah qadarullah. Sudahlah saya memang
punya banyak salah. Ya sudahlah inilah
kehidupan seperti nyaman. Hidup ini
nyaman.
Makanya para nabi adalah orang yang
paling mudah memaafkan,
murah senyum. Orang kalau murah senyum
bahagia dia. Kalaupun dia susah senyum,
dia paksa untuk murah senyum, maka akan
berdampak pada hatinya. Hatinya juga
mudah gembira. Hatinya juga mudah
gembira. Tapi kalau dia abus apa namanya
apa bahasa Indonesia?
Iya apa? Cemberut. Cemberut. Mengkerut.
Ah. Hatinya enggak enak. Karena
kebahagiaan terekspresikan di wajah
orang. Kalau wajahnya mengkerut terus,
cemberut terus, berarti hatinya
bermasalah. I atau tidak? Pasti
bermasalah karena hati ber. Tapi kalau
dia latih diri untuk murah senyum, lihat
Nabi bahagia makanya murah murah senyum.
Kata sahabat, "Tidaklah aku ketemu
dengan Nabi, aku berpas-pasan dengan
dia. Illa tabassama ala wajhi." Kecuali
dia tersenyum di hadapanku.
Rasulullah kairu tabassum. Rasul sahu
alaihi wasallam suka tersenyum. Bahkan
dengan berbagai macam musibah yang dia
alami, beliau tetap mudah tersenyum.
Dan itu ciri orang bahagia.
Tidak suuduzan sama orang husnudan.
Orang husnudan santai husnudan.
Orang tawadu mudah bahagia. Orang
sombong tidak bahagia. Ingin nunjukkan
mentang-mentang kalau sudah sombong itu
biasanya arogan. Kalau sudah arogan itu
temperamen, mudah marah, mudah nunjukin,
mudah. Orang seperti ini mana bahagia.
Kalau tidak dihormati sedikit marah,
tidak bahagia. Tapi kalau tawadu, dihina
orang, "Ya Ropo
memang saya begini." Biarin aja tawadu.
Gak dihormati orang enggak masalah.
Karena dia apa? Tawadu. Dia tidak butuh
pengakuan orang lain. Jadi orang tawadu
pasti bahagia.
Maksud saya kalau kita berakhlak mulia
itu sebab apa? Baha?
bahagia.
Tapi kalau orang akhlaknya buruk, hasad,
dengki, dendam, itu pasti biasanya cepat
mati.
Kasihan kalau hati sakit itu banyak
penyakit yang lain.
Tayib. Sekarang ke berapa?
Yang keempat. Di antara sebab
kebahagiaan, sering-sering kita
merenungkan betapa banyak nikmat yang
Allah berikan kepada kita.
Ya,
kata Allah, "Fadkuru ala Allah."
Ingatlah nikmat-nikmat Allah.
Ya ayyuhal yau nikmatallahi alaikum.
Wahai kaumku, ingatlah nikmat-nikmat
Allah yang Allah berikan kepadamu. Ini
sering-sering nikmat.
Allah berfirman, "Wain taudu
nikmatallahi
kalau kalian menghitung-hitung nikmat
Allah, kalian tidak bisa
menghitung-hitungnya."
Allah berfirman, "Wa amma binikmatika
fahaddit." Adapun nikmat Rabbmu,
ceritakanlah itu. Ingat-ingatlah agar
kau tidak lupa. Di antara yang buat kita
bahagia, kita ingat nikmat Allah begitu
banyak. Sehingga kita ketika kita
menghitung nikmat Allah yang banyak,
maka kesulitan yang kita hadapi yang
merupakan sebab kesengsaraan akhirnya
terabaikan.
Akhirnya terabaikan.
Kita kalau fokus pada kesulitan yang
kita hadapi, lupa dengan banyak
kenikmatan, kita sengsara.
Tapi kalau kita bilang, "Inilah biasalah
ini kehidupan pasti ada kesulitan." Tapi
ingat nikmat yang begitu banyak, maka
ini terasa kecil bagi kita. Karena kita
ingat nikmat Allah yang begitu begitu
banyak.
Ya.
Kata Allah, "Innal insana lirabbihi
lakanud." Manusia itu kan, berkuluh
kesah terhadap Allah subhanahu wa taala.
Kata Hasan Al Bashri, yazkurul
masibaniam. Manusia itu suka ingat
musibah-musibah dan dia lupa
nikmat-nikmat Allah subhanahu wa taala.
Orang saleh sebaliknya berusaha
melupakan musibah-musibah dan banyak
mengingat nikmat-nikmat Allah sehingga
dia jadi bahagia.
Kalau ada istri mengeluh,
"Abi, listrik belum bayar, Abi ini
sabar.
Masih banyak nikmat Allah berikan."
Bukan kau kau dulu kurus kerembeng,
sekarang gemuk.
Bukankah kita dulu ngontrak rumah kecil,
sekarang kita punya rumah sendiri?
Bukankah kita dulu gak punya anak,
sekarang kita punya anak-anak? Bukankah?
Bukankah? Banyak sekali kalau kita mau
pikirkan.
Bukankah dulu kita tenggelam dalam
maksiat, sekarang kita dapat hidayah?
Banyak. Kalau kita merenungkan
banyak. Oleh karenanya di antara sebab
kebahagiaan kita ingat-ingat nikmat
Allah Subhanahu wa taala. Makanya Allah
suruh kita ingat nikmat-nikmat Allah.
Kata Allahum
kata Allah, "Hendaknya manusia melihat
makanan yang dia makan." Emang kalau ada
nasi campur di depan kita atau apel kita
makan atau jeruk kita makan kentanglah
kalau di di yang banyak kentang kan
kalau kita makan kentang
emang yang kasih nikmat kentang ini
siapa kasih nikmat kita apel kasih
nikmat kita Allah subhanahu wa taala
Allah mengatakan anabal ma asba kami
yang turunkan air hujan biji kamu tanam
dari siapa yang bikin biji tersebut
siapa yang bikin bijinya Allah satu
profesor satu dunia bikin biji ditanam
tumbuh enggak bakalan bisa. Enggak
bakalan bisa. Kalau Allah tidak
tumbuhkan biji tersebut dari Allah,
enggak ada orang bisa ciptakan biji
sendiri. Enggak mungkin.
Apalagi makan ayam. Siapa yang bisa
bikin telur? Bikin sendiri kemudian
menetas jadi ayam. Enggak ada. Telur
Cina ada, cuma bisa diceplok.
Tapi dieram enggak ada keluar ayam. Kata
Allah,
"Kami yang turunkan air hujan. Ard kami
yang menumbuhkan tumbuhan tersebut.
Tanam biji dalam tanah turun hujan,
tanah tersebut terbuka keluar biji atau
kecambah. Siapa yang keluarkan? Allah.
Biji yang lemah tadi bisa menembus
tanah.
Kemudian kami tumbuhkan, kami tumbuhkan,
kami tumbuhkan sampai hadir di
hadapanmu. Kalau Allah berkehendak maka
rusak.
Aantum tazraunahu am nahnariun
la nasya jaalnahuum
tafun. yang tanam kalian atau kami?
Kalau kami kehendak maka akan rusak itu
semua tanaman kalian. Allah kasih hama,
Allah tidak turunkan hujan, Allah
berikan kekeringan. Jadi nikmat yang
sedikit yang kita makan, Allah sudah
renungkan. Coba renungkan apa yang
kalian makan
kita. Kalau makan apel, dari mana apel
tersebut? Bijinya dari Allah. Yang tanam
si yang tumbuhkan yang semuanya Allah
bisa sampai ke meja kita tidak mudah.
Butuh petani yang tanam, butuh petani
yang panen, kemudian butuh pupuk untuk
memupuk pohon tersebut, butuh kendaraan
yang mengantar sampai kepada kita.
Kendaraan itu butuh pom bensin, entah
Pertalight atau Pertamax. Eh,
semuanya butuh. Sampai akhirnya silsilah
rangkaian tersebut bisa mengantarkan
makanan di hadapan kita. Maka maksud
saya terlalu banyak nikmat yang Allah
berikan pada kita yang kadang kita
lupakan ya, Akhi. Kalau apa namanya kita
renungkan, maka kesulitan yang kita
hadapi ini akan berkurang.
Akan berkurang. Tayib. Sekarang yang ke
berapa?
Yang kelima.
Kelanjutan dari yang tadi. Yang kelima.
Sering melihat ke bawah agar kita
bahagia.
Kata rasul sahu al wasallam,
fauqikum wakinu
asfalaumikum.
Jangan lihat ke atas kalau urusan dunia,
tapi lihatlah ke bawah.
Karena dengan lihat ke bawah kalian
tidak akan meremehkan nikmat Allah
kepada kalian. Kita ini bagaimanapun
susah yang kita hadapi masih banyak
orang lebih susah. Lihatlah
saudara-saudara kita di Palestina
seperti apa susahnya mereka.
Rumah tidak ada hancur. Kemah kalau
musim dingin-dingin sekali.
Saudara-saudara kita di Suriah
ngeri. Sampai pernah di waktu Suriah
lagi rusak-rusaknya sampai ada yang
bertanya kepada Syekh, "Bolehkah saya
makan anjing karena enggak ada makanan
lagi." Saya saya boleh makan anjing
sampai syekhnya enggak kuat menangis ya.
Dia ditanya boleh makan anjing? Enggak
ada makanan lagi. Mau anjing ini mau
kita bunuh, mau kita masak, mau kita
makan enggak ada makanan.
Apalagi sekarang saudara kita di Gaza
ya. Oleh karenanya
sulitnya kita masih banyak orang lebih
susah di bawah di bawah kita masih
banyak.
Terutama kalau kita lihat nikmat iman
banyak orang masih enggak salat. Kaya
tapi enggak salat banyak.
Banyak wanita cantik-cantik tapi tidak
pakai jil jilbab. Gimana kalau meninggal
dunia? Apa modalnya untuk ketemu Allah
Subhanahu wa taala?
Masih banyak orang mungkin kaya tapi
uangnya riba semua.
Masih banyak orang diberi kesehatan tapi
tidak bisa mangkahkan kaki ke masjid.
Kita alhamdulillah nikmat ngaji bisa ke
masjid. Alhamdulillah ya terlalu banyak
nikmat. Maka kalau kita lihat sering
lihat ke bawah maka kita akan bahagia.
Kita akan apa? Bahagia. Kita tidak
meremehkan nikmat yang Allah berikan
kepada kita.
Dengan sering melihat ke bawah, maka
kita akan qanaah. Dan qanaah itu adalah
rahasia kebahagiaan. Rahasia
kebahagiaan. Siapa yang qaah maka dia
pasti bahagia. Siapa yang tidak qanaah
dia pasti tidak bahagia. Orang sekaya
apapun kalau tidak qanaah tidak pernah
bahagia.
Tidak pernah bahagia.
Apa kata Imam Syafi'i rahimahullah
taala?
Kalau kau qah, maka kau dan raja sama
saja. Raja itu pengin bahagia maka dia
punya ingin kekuasaannya banyak, ingin
punya selir banyak. Pengin punya apa-apa
banyak dia pengin bahagia. Antum sudah
qanaah,
sudah bahagia dulu sebelum dia. Dengan
qana orang bisa tersenyum. Tapi kalau
orang tamak tidak bakalan tersenyum.
Antum kira orang punya harta banyak
pasti bahagia? Belum tentu ada orang
hartanya banyak tapi tidak pernah puas.
Tamak terus. Saya tanya sama antum, para
koruptor itu sudah kaya atau miskin?
Mereka mungkin miskin akhirnya terpaksa
korupsi atau sudah kaya pengin tambah
harta?
Sudah kaya berarti dia tidak puas. Tidak
puas.
Dia tamak. Kalau orang tamak tidak
pernah bahagia.
Jangan, jangan bilang, "Ustaz, orang
kaya pasti bahagia." Enggak. Belum tentu
ya, Aki.
Bisa jadi antum lebih bahagia.
Dan kalau antum beriman pasti lebih
bahagia. Bahagia itu urusan hati yang
yang tahu Allah Subhanahu wa taala.
Oleh karenanya Rasul sahu alaihi
wasallam bersabda, qad aflaha
man aslam.
Ya sungguh bahagia orang yang
masuk Islam ya. Dan qon Allah bima aah.
Dan Allah buat dia qonah dengan apa yang
Allah berikan kepadanya. Kalau orang
sudah qanaah dia pasti bahagia.
Kita terkadang dapati ada sopir nyetirin
bos. Bosnya mukanya marah-marah terus,
sopirnya senyum-senyum.
Kenapa sopirnya qanaah? Bosnya belum
apa? Qanaah. Mikir bisnis, mikir
persaingan. Sopirnya senyum-senyum aja.
Dimarahin bos. Senyum ya bos. Jalan. Dia
bahagia, bosnya tidak bahagia. Terjadi
atau tidak begini? Terjadi.
Jadi bahagia. Kapan qanaah, maka pasti
bahagia. Cara qanaah gimana? Lihat ke
bawah agar kita nerima dengan rezeki
yang Allah berikan kepada kita.
Bahwasanya itu yang terbaik bagi kita.
Seandainya Allah beri banyak mungkin
kita lupa lupa diri.
Tiib. Sekarang yang ke berapa?
Yang keenam. Mencintai sesuatu karena
Allah. Rasul sahu alaihi wasallam
bersabdaun
manunna fihi wajada bihinna halawatal
iman. Tiga perkara yang jika ada pada
diri seorang, dia akan merasakan
manisnya iman. Di antaranya waa yuhibbal
mara la yuhibbuhu illa lillah. Dia tidak
mencintai orang lain kecuali karena
Allah subhanahu wa taala.
Siapa yang mencintai sesuatu karena
Allah, maka Allah akan kasih dia
kebahagiaan. Dia akan merasakan manisnya
iman. Ya man a lillah waanaa lillah. Ya,
siapa yang berikan karena Allah.
dan menahan karena Allah maka dia telah
sempurna imannya.
Ya man ahabba fillah waq fillah. Siapa
yang mencintai karena Allah, membenci
karena Allah maka itulah aaqal iman.
Maka itu adalah tali keimanan yang
sangat sangat kuat. Maka berusahalah
kita melakukan segala sesuatu karena
Allah.
Kita melakukan sesuatu karena Allah.
Kita melakukan ini karena Allah.
mencintai ini karena Allah. Kita dekat
dengan si fulan karena Allah kita sayang
sama dia karena Allah. Ada kebahagiaan
yang Allah akan Allah berikan.
Dan siapa yang mencintai karena Allah,
Allah akan mencintainya. Allah akan
mencintainya. Maka dia akan merasakan
manisnya iman dan manisnya iman akan
mendatangkan kebahagiaan.
Jangan kita berinteraksi kalau kita
pikir karena Allah atau bukan. Karena
Allah saya lakukan. Kalau enggak enggak
usah. Latih diri kita dalam segala
interaksi. karena Allah. Saya dekat
dengan dia karena Allah. Bukan karena
hartanya. Bukan. Tapi karena Allah.
Maka itu mendatangkan
kebahagiaan. Apalagi sampai pada
saya cinta istri saya karena Allah,
istri saya cinta suami saya karena apa?
Allah. Bukan sekedar karena fisik. Itu
benar. Kita cinta istri kita karena
fisik. Tapi di antaranya kita hadirkan,
saya cintai dia juga karena apa? Karena
Allah. Allah suruh saya beginiin dia.
Allah suruh saya sayangi dia. Allah
suruh saya lembut sama dia. Allah suruh
saya sabar dengan kesalahannya. Allah
suruh saya. Allah suruh saya. Semuanya
karena Allah. Maka Allah akan kasih kita
apa? Baha bahagia.
Istri pun demikian. Saya berbakti sama
suami, saya taat kepada suami karena
Allah. Maka Allah akan kasih bahagia.
Dia mencintai suaminya karena Allah
subhanahu wa taala.
Tiib. Sekarang yang ke berapa?
Ketujuh,
di antara sebab kebahagiaan adalah sibuk
nuntut ilmu. Nuntut ilmu itu
mendatangkan kebahagiaan.
Di antara di antara dalil akan hal ini
bahwasanya Nabi Musa Alaih Salam ketika
dikabarkan oleh Allah bahwasanya ada
seorang namanya Khadir yang punya ilmu
yang Nabi Musa tidak tahu.
Maka Nabi Musa semangat mencari khadir
yang Allah abadikan dalam surah Alkahfi.
La abrahu hatta ab jama bahu aku akan
terus mencari hadir sampai aku bertemu
dengan tempat pertemuan dua lautan
ataupun meski aku harus berjalan puluhan
tahun yang penting saya ketemu dia.
Kenapa? Dia ingin nuntut ilmu. Hanya
ingin nuntut ilmu.
Kenapa? Karena Nabi Musa merasakan
kelezatan, kebahagiaan ketika dapat ilmu
baru.
Sampai Nabi Musa alaihi salam
meninggalkan kaumnya. kaumnya Bani
Israil butuh dakwah atau tidak butuh?
Tapi dia ada Nabi Harun.
Dia sengaja tinggalkan kaumnya ingin
nambah il ilmu. Maka di antara sebab
bahagia adalah belajar. Kita kalau
belajar apalagi belajarnya runut, ilmu
fikih, ilmu akidah pasti bahagia. Pasti
bahagia. Sampai sebagian istri para
ulama cemburu kepada buku.
Karena sebagian ulama lebih senang lihat
buku daripada istrinya
cemburu karena ada kelezatan.
Baca buku, baca buku sibuk dengan ilmu.
Ada kelezatan yang dia rasakan.
Maka seorang kalau nuntut ilmu karena
Allah dan terutama kalau nuntut ilmunya
teratur, runut, maka itu sebab
kebahagiaan. Kenapa? Dia sedang
memikirkan tentang ajaran-ajaran Allah.
Dan nuntut ilmu adalah zikrullah. Nuntut
ilmu adalah apa? Zikrullah. Ingat Allah
itu di antaranya dengan belajar ilmu
Allah, ilmu agama itu zikrullah. Makanya
Allah berfirman, "Fas'alu ahlazikri
intuntum laun." Tanyakanlah kepada ahl
zikir. Maksudnya ahlul ilmu.
Kalau kalian tidak mengetahui, ahlul
ilmi, kalau kalian tidak tahu, tanya
kepada Allah sebut ilmu dengan zikir.
Demikian juga Allah mengatakan eh idati
yaumil jumati fasikrillah.
Jika telah dikumandangkan azan jumat
maka bersegeralah menuju zikrullah.
Maksudnya khotbatul jumah.
Dalam khotbatul Jumah itu ada pelajaran,
ada ilmu. Allah namakan ilmu tersebut
dengan zikrullah. Orang yang sibuk
belajar agama, tauhid, fikih, adab, dia
baca buku ulama, dia baca tafsir, pasti
Allah kasih kebahagiaan.
Pasti Allah kasih kebahagiaan. Oleh
karenanya di antara sebab untuk bahagia
jangan pernah meninggalkan majelis ilmu.
Azan jam berapa?
8 menit lagi. 3 menit lagi.
Tib. Di antara sebab bahagia
adalah enjoy dengan pasangan.
Berusaha
menjadikan pasangan adalah tempat untuk
ngobrol, diskusi, berkuluh kesah, tempat
ketawa-ketawa, canda-canda,
maka kita akan bahagia. Kenapa? Karena
secara kodrat lelaki Allah menjadikan
kebahagiaan lelaki pada istri. Kata
Allah, "Liyaskuna ilaiha." Allah
ciptakan Adam. Lalu Allah ciptakan
istrinya agar Adam sukun, tenang kepada
istrinya.
Makanya sebelum Adam dimasukkan surga,
Allah ciptakan Hawa. Wa adamun anta
wazaujukal jannah. Wahai Adam, masuklah
surga kau bersama istrimu karena
ketenangan Adam pada istrinya.
Buat apa Adam masuk surga?
Lihat buah-buahan tapi enggak ada istri,
apa faedahnya?
Ya, punya buah-buahan, punya tempat
luas, punya istana, tapi enggak ada
istri. Ketenangan lelaki pada istri
kata Allah, min ayatihi anqakum min
anfusikum azwajanu ilaiha. Di antara
tanda-tanda kebesaran Allah, Allah
ciptakan bagi kalian istri-istri kalian
litaskunu ilaiha agar kalian condong
kepada istri-istri kalian. Sukun. Ja
bainakum mawaddatan warahma. Allah
ciptakan cinta kasih, dan kasih sayang.
Maka seorang berusaha menjadikan partner
hidupnya, istrinya sebagai teman
dekatnya.
Ajaklah ngobrol. Dan itu sunah Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Ngobrol
sebelum tidur.
Ya. Kata Ibnu Abbas,
"Bittu maimunah Nabi wasallam ahlianq."
Aku tidur di rumah bibiku Maimunah dan
aku dengar Rasulullah ngobrol sama
istrinya Maimunah beberapa lama.
Kemudian berapa saat kemudian baru ti
tidur.
Betapa bahagia kalau kita bisa nyambung
sama istri. Ngobrol tentang masakan,
tentang anak-anak, tentang kegiatan,
ketawa-ketiwi, rencana ke mana, rencana
jalan-jalan ke mana. Besok enak ngobrol
sama istri
dan itu lelaki yang paling bahagia,
lelaki yang nyaman sama istrinya.
Ciri-ciri laki lelaki bahagia itu
ciri-cirinya apa? Kalau di luar rumah
segera pengin pulang.
Itu ciri-ciri apa? Bahagia.
Ciri laki bahagia itu sedikit-sedikit
telepon istrinya.
Tapi kalau istrinya telepon dia
sembunyi. Ah, ini ini kasihan.
Laki-laki meskipun dia ketawa-ketiwi
sama temannya, dia main golof misalnya,
dia main apa sama temannya, jalan-jalan
pakai motor, pakai mobil, apa mau dia
lakukan? Naik gunung, turun gunung.
mancing ikan di tengah lautan, naik bot
apa segala. Kalau dia tidak tentram sama
istrinya, dia belum bahagia yang
sesungguhnya. Benar atau tidak,
Bapak-bapak?
Betul.
Benar.
Tapi kalau ada lelaki tidak pernah main
golof seperti saya, tidak pernah ini,
tidak pernah anu, tapi dia kalau pulang
ke rumah tentram. Kalau di luar pengin
pulang ke rumah istrinya, berarti dia
lelaki paling apa? Bahagia. Semua
kebahagiaan tadi main golof, mancing itu
ya itu jauh dari kebahagiaan kalau s
istri.
Makanya kita berusaha menciptakan itu
dengan izin Allah. Berusaha ngobrol sama
istri. Jangan jauh-jauh dari istri.
Ketemu istri ngobrol, "Sayang, gimana
masak apa hari ini?" Ngobrol yang
nyambung.
Ikan apa tadi? Gimana waktu goreng? Mau
ngobrol ngarung ngidul aja enggak
apa-apa. Yang penting apa? Yang penting
nyaman.
Saya ini S3 tapi saya enggak pernah
ngobrol sama istri. Sayang, tahu enggak
hukum fikih ini ngapain?
Ada khilaf di kalangan para ulama.
Ngapain? Ini hadis dif perawinya ada
begini. Ngapain saya ngobrol seperti
itu? Saya ngobrol anak-anak bagaimana
besok mau makan apa? Besok mau
jalan-jalan ke mana? Ini ngobrol yang
nyambung-nyambung aja. Sampai kita
nyaman sama is istri. Kalau kita sudah
nyaman sama istri, ciri-cirinya kita
selalu pengin pu pulang.
Kalau sudah begitu berarti antum
bahagia.
Tapi kalau enggak pengin pulang,
waduh, ini kamu enggak pulang.
Ngapain pulang ketemu babon? Katanya.
Udah ini orang paling sengsara.
Makanya ciptakan keharmonisan dengan
istri. Ngobrol kalau ada yang kurang
pasalama nanti dekat ngobrol sebelum
tidur ngobrol elus-elus keningnya cium
pipinya
hangatkan tubuhnya. Hunna libasu lakum
antum libasulahun.
Ya, mereka adalah pakaian bagimu. Kalian
adalah pakaian bagi mereka.
Bukan tidur, satu menghadap utara, satu
menghadap selatan. Satu main HP, satu
main HP. Selimut satu, selimut satu.
Selimut golengnya sendiri-sendiri. Apa
ini? Apa rumah tangga seperti ini?
Kasihan
ini rumah tangga sengsara meskipun punya
kebun kentang 5 hektar.
Tib. Kita lanjutkan
berikutnya yang ke berapa?
Sembilan.
Di antara sebab kebahagiaan adalah dekat
dengan anak-anak.
Dekat dengan apa? Anak-anak. Allah
berfirman, "Almaalu wal banuna zinatul
hayati dunia." Sesungguhnya
harta dan anak-anak adalah perhiasan
dunia.
Allah berfirman, "Zuyinasi hubus
syahwati minanisa wal banin." Sungguhnya
dijadikan indah pada pandangan manusia
di antaranya adalah anak-anak.
Di antara musibah yang menimpa banyak
orang sekarang jauhnya orang tua dari
anak-anak. Anak-anak dengan dunianya
sendiri, orang tua dengan dunianya apa?
sendiri. Dengan kesibukannya. Padahal di
antara kebaikan kita dekat dengan
anak-anak. Kita gendong mereka,
kita peluk mereka, kita temani mereka.
Jadikan itu sarana pahala dan kita akan
dapat kebahagiaan di situ. Anak-anak itu
kebahagiaan. Banyak orang nangis pengin
punya anak, enggak dikasih anak. Kita
dikasih nikmat anak, kita malah abaikan.
Malah kita abaikan.
Dan kalau mereka sudah besar, dekat
dengan mereka, ngobrol dengan mereka.
Kalau mereka ketemu ingin punya waktu
kita ngobrol tidak lama ngobrol.
Mereka dekat kita dekat dan kita akan
bahagian kebahagiaan berkepanjangan.
Nanti kita sudah tua mereka dekat dengan
kita. Banyak orang sengsara sekarang
sudah tua jauh dari anak-anak.
Bahkan sebagian orang anaknya dia
sekolahkan sampai tinggi sampai luar
negeri ketika dia sakit anaknya enggak
datang jenguk durhaka.
Kalau antum lihat orang-orang nonmuslim,
banyak di antara mereka, tidak semua
tapi banyak di antara mereka sengsara di
akhir hayatnya jauh dari anak-anak
sehingga mereka lebih dekat kepada
anjing daripada anak-anak mereka.
Beneran? Mereka tidak mau dekat dengan
mereka. Masing-masing sibuk dengan
urusan mereka. Akhirnya orang tuanya
ambil anjing, temani anjing. Ke
mana-mana dengan anjing. Padahal di
saat-saat itu kita butuh anak-anak
dekat, cucu-cucu dekat. Situlah
kebahagiaan ketika kita di masa tua. Dan
kita harus mulai dari sekarang.
Allah sebutkan bahwasanya anak-anak
adalah perhiasan kehidupan dunia. Maka
jangan sia-siakan perhiasan ini. Dari
sekarang dekat sama anak-anak, ngobrol
dengan mereka. Jangan sampai karena
kesibukan kita jauh dari mereka. Dan
anak-anak juga punya potensi jauh dari
kita. Jangan sampai mereka jauh dari
kita. Jangan sampai jadikan
teman-temannya menjadi penghalang antara
kita dengan mereka. Kita harus dekat
dengan mereka.
Kalau mereka sudah pegang HP terlalu
lama, kita ya jangan.
Karena HP ini menghalangi aku dengan
engkau. HP ini buat aku jauh dari
engkau. Saya sayang sama kamu. Peluk
dia. Dekat sama anak-anak.
Dan kita akan sangat bahagia ketika
ternyata sudah dekat anak-anak. Kita
ajak diskusi, dia punya pendapat
sampai dia kadang nasihati kita, itu
kebahagiaan luar biasa.
Jadi jangan jauh sama anak-anak. Dan di
antara sebab anak-anak nakal karena jauh
dari orang tuanya. Jauh dari orang
tuanya. Tapi kalau dia dekat sama orang
tua, dia mau nakal, dia enggak enak sama
orang tua, dia takut menyedihkan orang
tua. Tapi kalau dia jauh sama orang
tuanya, emang gua pikirin dia nakal aja,
cuek. Orang tua mau marah, mau apa dia
cuekin aja. Dia lebih dekat, lebih
sayang kepada temannya daripada orang
tuanya. Dan ini potensi dia dururhaka
nanti di kemudian kemudian hari. Kalau
dia diurhaka, siapa yang sengsara? Kita
yang sengsara.
Meskipun kita punya rumah mewah, punya
usaha banyak, tapi anak satu saja bikin
masalah bisa bikin kita menangis terus.
Satu aja. Kita punya anak lima, satu
kurang ajar bikin orang tua sedih.
Percuma dia punya rumah mewah, percuma
dia punya usaha banyak tapi satu kurang
ajar bikin dia sedih terus. Di antara
sebabnya kita jauh dari anak-anak. Maka
kalau ingin bahagia
dekat sama anak-anak.
Tidak ada salahnya kita yang dahulu
nelpon anak-anak. Kita kalau lihat
guru-guru kita, syekh-syekh kita, kalau
telepon anak mereka luar biasa. Anak
mereka telepon. Mereka kalau telepon,
"Gimana kabar? Barakallahu fik." Dooain
anak-anaknya. Barakallahu fik. Ahallah
ilaik. Allah yafiquk. Semoga Allah
berikan kau taufik. Baru ngobrol.
Kita pernah enggak telepon doain
anak-anak? Eh, mana?
[Musik]
Ngapain aja?
Enggak ada. Kasih mukadimah. Gimana?
Semoga Allah meridaimu. Semoga Allah
menjaga engkau dari segala macam fitnah.
Semoga anak-anak dengar bapaknya doain,
kira-kira dia sayang sama bapaknya
enggak? Kira-kira dia sayang sama
bapaknya? Enggak. Dia sayang. Bapak saya
doain saya terus.
Bukan telepon ngomel. "Kau di mana?"
"Ngapain?" "Kenapa kau datang?" "Abi
panggil kok enggak Abi telepon kok
enggak diangkat?" Ngomel mulu.
Nah, di antara sebab kebahagiaan dekat
dengan anak-anak.
"Ustaz, anak saya semua terlalu
terlanjur jauh." Ya sudah perbaiki.
Sudah enggak bisa aja. Ya sudah bikin
anak baru dekat habis itu
[Tertawa]
saya bikin anak baru ya. Jangan
tambah-tambah lagi ya.
Tayib.
Di antara yang ke berapa sekarang?
10.
Latihan suka berkhalwat dengan Allah
Subhanahu wa taala.
Kita ada interaksi. Interaksi dengan
istri dan anak ini bisa bikin
kebahagiaan. Interaksi dengan
kawan-kawan juga bisa bikin apa?
Bahagia. Dan terkadang kita butuh
interaksi dengan Allah, tidak ada yang
lain.
Makanya Nabi Muhammad sallallahu alaihi
wasallam hubiba ilaihil khalaq. Ketika
dia sudah mimpi berulang-ulang, ada yang
mengatakan 6 bulan mimpi terjadi, mimpi
terjadi. Tiba-tiba dia dirindukan untuk
bersendirian. Maka dia pergi ke Gua
Hirah untuk berdiri untuk mengenal dekat
dengan Allah Subhanahu wa taala.
Akhirnya turun malaikat Jibril, iqra
bismi rabbikalladzi khalaq. Dan
sebagaimana kita ceritanya, Rasulullah
akhirnya menjadi seorang nabi. Setelah
Rasulullah menjadi seorang nabi,
Rasulullah tidak lagi ke Gua Hira karena
ada cara berkhalwat dengan Allah. Tidak
harus ke Gua Hira caranya salat malam.
Maka Allah gantikan dengan cara
berkhalwat dengan salat salat malam.
Ya. Maka di antara sebab bahagia
adalah salat malam.
Kata Nabi, "Wasolu bail wasu niyam
tadkulul jannata bisalam." Salatlah di
malam hari ketika orang-orang sedang
tidur,
maka engau akan masuk surga dengan penuh
apa? Keselamatan.
nya masuk salat malam orang sebuah istri
sedang tidur, anak sedang tidur kemudian
kita salat seakan-akan sedang melihat
Allah maka rahmat Allah akan turun
banyak ketika malam itu.
Makanya Rasulullah bersabda rahimahullah
umraan q minallail Allah merahmati
seorang suami yang bangun kemudian salat
malam kemudian dia bangunkan istrinya
kemudian istrinya salat malam kemudian
kalau istrinya tidak mau bangun dia
percikan air
jadi orang yang bangun malam dirahmati
oleh Allah subhanahu wa taala ini sebab
keba kebahagiaan
sebab kebahagiaan maka latih diri kita
untuk biasakan diri salat malam meskipun
cuma 10 menit nanti kalau sudah terbiasa
naik 15 menit kalau terbiasa lagi naik
20 menit tapi jangan Jangan pernah
tinggalkan.
Karena kalau saya ibaratkan salat malam
adalah charging kita, iman kita. Kita
lagi berkhalwat dengan Allah, lagi cari
muka sama Allah, lagi pengin
diperhatikan sama Allah, maka pasti
Allah kasih bahagia dan pasti bahagia
dan pasti bahagia.
Oleh karenanya
latih diri untuk salat salat malam.
Alaikum biqiamil fnahu dausihina
minqlikum. hendaknya kalian salat malam
karena itu kebiasaan orang-orang saleh
sebelum kalian. Ya, saya pengin nanti
pulang jangan lupa pasang jam weeker
kemudian
kerja sama dengan istri untuk salat ma
salat malam.
Tayib. Yang ke berapa sekarang?
11. Di antara sebab-sebab
bahagia, pelajari secara spesifik
nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ada
kajian tentang nama-nama Allah, pelajari
secara spesifik lewat YouTube kek atau
ikut kajian langsung. Kenali siapa Tuhan
kita ini. Allah kenalkan dirinya dalam
Al-Qur'an. Hampir setiap lembar ada
nama-nama Allah dan sifat-sifatnya.
Hampir setiap lembar Al-Qur'an ada nama
Allah dan Nabi juga mengenalkan Allah.
Maka kita harus beral apa maksudnya
alghfur, arrahim, attawab, al-afu, ya
asyakur, alhalim, aladzim, alwasi'
maksudnya almajid, al-hamid apa
maksudnya?
Belajar. Belajar apa bedanya? Sampai
detail-detail. Apa bedanya al-afu sama
algfur? Apa bedanya gffar sama gfur?
Belajar.
itu akan buat kita semakin kenal dengan
Allah dan semakin dekat dengan Allah.
Kapan kita dekat dengan Allah lebih
dekat dengan kita. Manron
taqtuaian.
Siapa yang mendekatkan dirinya kepadaku
sejengkal aku akan dekati dengan
sehasta. Dan kalau Allah sedekat-dekat
dengan kita, kita pasti bahagia.
Dan ini di antara cara bahagia yang
langsung dengan mengenal siapa yang kita
sembah.
Caranya di antara yang paling cepat
belajar tentang nama-nama Allah. Ada
kajian tentang asmaullahi alhusna.
Alasmaul husna pelajari Allah artinya
apa ya? Arrab artinya apa. Belajar satu
demi demi satu. Asyakur, alghfur,
assabur apa maknanya? Belajar. Al-halim
apa maknanya?
Maka khususkanlah pengajian tentang
nama-nama Allah dan kita berusaha
mengenal Allah Subhanahu wa taala.
Saya alhamdulillah ada kajian di YouTube
ya tentang nama-nama Allah. Ustaz-ustaz
juga banyak. Silakan yang penting kita
niat untuk belajar. Tunggu ini qat jam
berapa?
Jam berapa?
0.30. H.
Sekarang ke berapa?
12.
12. 12.
Di antara sebab duniawi yang buat kita
bahagia, jangan cari musuh sebisa
mungkin.
Jangan cari musuh sebisa mungkin. Kalau
ada orang yang tidak sama dengan kita,
tidak harus jadi musuh. Ya sudah kita
jauhi aja. Tidak semua orang beda dengan
kita, kita musuhi.
Saya tidak suka dengan dia. Ya sudah,
jangan jadikan musuh. Kau jauhi aja.
Enggak usah langsung mu musuhi.
Ngomongin dia. Enggak suka sama dia,
utarakan ketidaksukaanmu. Enggak harus
begitu. Hidup ini ngapain cari musuh.
Kita tidak cari musuh saja pasti ada
musuh. Apalagi cari musuh. Kalau ada
musuh ya kita hadapi dengan baik. Tapi
jangan cari mu musuh. Ngapain cari
musuh?
Bahkan kalau kita harus
berpisah dari seseorang setelah kita
berkawan dengan dia, berpisahlah dengan
cara yang baik. Tidak harus ribut. Kita
mungkin masuk dalam suatu perkumpulan,
dalam masuk dalam suatu yayasan, masuk
dalam suatu ee misalnya tim. Karena kita
enggak cocok, ijtihad kita berbeda,
pendapat kita berbeda, enggak usah
ribut. Aduh, mohon maaf. Baik-baik aja.
Meskipun kita jengkel, kita dongkol,
kita enggak mesti ribut. Sehingga kita
keluar dengan tenang, assalamualaikum.
Tidak harus dekat lagi. Sehingga kalau
ketemu lagi nyaman.
Tapi kalau kita keluar ngamuk-ngamuk,
ribut lagi, sudah setiap dengar nama
mereka kita jengkel ketemu kita melengos
ke kanan, dia melengos ke kiri. Apa?
Hidup seperti itu enggak enak.
Maka berusaha jangan cari musuh kalau
harus berpisah. Berpisah dengan cara
yang baik-baik. Misalnya ada satu grup
bikin kita jengkel. Jangan kita bilang
kalian memang grup kurang ajar brengsek.
Ya. Kemudian left cara baik-baik. Semoga
grup ini semakin dekatkan kita kepada
Allah. Tapi mohon maaf saya lagi sibuk
sebentar lagi bulan Ramadan saya masih
banyak dosa. Saya pengin sibuk baca
Quran. Terima kasih selama ini atas
kebaikannya. Mohon maaf atas kesalahan.
Assalamualaikum. Live kan enak,
enggak usah ribut. Jadi tidak semua
kalau kita enggak cocok harus ribut. Ini
sebagian orang kalau enggak cocok harus
ribut. Tidak cocok di suatu perkumpulan
ribut bikin kacau sana sini ceritakan
keburukan mereka. Ini namanya kita cari
musuh. Hidup ini jangan cari musuh.
Musuh akan Allah datangkan.
Enggak usah dicari-cari.
Kalau bisa teman, teman.
Kalau kita cocok dia sama kita,
perbedaan 80% ada kecocokan 20% ya sudah
kita ngapain ribut? Enggak usah ribut.
Kalau ketemu pas 20% 80% kita bisa
enggak usah ribut.
Itu di antara cara
bahagia. Di antara cara bahagia.
Tib. Sekarang yang ke berapa?
13.
Di antara cara bahagia dan ini
disebutkan oleh Ibn Taimiyah dalam
kaidah tentang saba dan juga disinggung
oleh As'di dalam kitabnya Alwasail
Mufidah lil Hayati Saidah, yaitu jangan
terlalu sibuk dengan orang yang
menzalimi kita.
Kita ini suatu saat akan dizalimi orang.
Entah dengan menzalimi terkait dengan
fisik kita atau menzalimi kita terkait
dengan harta kita atau menzalimi kita
terkait dengan harga diri kita. Kita
dihina-hina, direndahkan.
Maka di antara sebab agar kita bahagia
jangan terlalu peduli dengan kezaliman
yang menimpa kita. Ya sudahlah kita
istigfar. kita ini mungkin dizalimi
karena punya dosa. Segera kita kembali
kepada Allah. Jangan terlalu sibuk untuk
membalas.
Jangan terlalu sibuk untuk membalas. Ya,
bahkan kata Syekh S'di, sejauh mana kita
sibuk ngurusin orang yang menzalimi
kita, sejauh kita sejauh itu kita akan
sengsara.
Tapi kalau kita menjauh, dia
ngomong-ngomongin kita jelek, biarin aja
sudahlah. Bahkan kalau perlu kita tidak
perlu melihat, mendengar apa yang dia
ucapkan sama kita. Enggak usah kita tahu
dia ngomongin kita, enggak usah, enggak
usah perlu tahu. Enggak perlu tahu.
Ngapain? Kita tahu kita tambah jengkel.
Ada pernah orang kirim klip, "Ustadz,
ini orang jelek-jelekan antum. Saya
langsung hapus kemudian saya balik. Kau
kirim lagi sekali lagi, saya blokir kau.
Saya tidak suka gini-gini. Saya sudah
tahu ada orang enggak suka sama saya dan
saya tidak mau dengar.
Kalau saya dengar itu saya jengkel
akhirnya saya ribut sama istri."
Ngapain saya mau ketahwa-ketiw? Ngapain
ngurusin orang miso-miso apa
jelek-jelekin kita? Ngapain gak usah.
Justru kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu
taala, "Kalau kau dizalimi yang pertama
kau lakukan adalah engkau bertobat
kepada Allah dan kau tahu bahwasanya
tidaklah kezaliman ini menimpamu kecuali
akibat dosa-dosamu."
Dan ini adalah dampak baik dari kita
dizalimi untuk introspeksi diri. sadar
bahwasanya kita penuh dengan kesalahan.
Kata Ibnu Taimiyah, "Jruzalimi
kemudian kau fokus membalas dan kau
lupakan dirimu dan kau tetap merasa
dirimu tinggi, kau tidak merasa punya
salah, tidak merasa punya dosa." Kata
Ibnu Taimiyah, "Musibah ini, musibah
dirimu ujub itu lebih parah daripada
musibah kau dizalimi orang lain."
Maka jangan terlalu sibuk dengan
gangguan orang. Sejauh mana kita sibukin
diri kita ngelihat perkataannya apa
pembicaraannya kita tambah s sengsara.
Cuekin aja enggak usah di dihiraukan.
Benar kata Allah wa a'rid anil jahilin.
Berpaling dari orang-orang yang yang
jahil.
Bab ti sekarang ke berapa?
14. Carilah kesibukan yang bermanfaat
karena Allah. Carilah kesibukan yang
bermanfaat karena Allah. Di antaranya
olahraga karena Allah punya tim olahraga
entah main sepeda, entah main tenis
meja, entah olahraga karate misalnya,
olahraga apa saja. Niatkan untuk badan
sehat supaya kuat beribadah, supaya bisa
ngurus anak istri, butuh badan yang
sehat, supaya bisa cari nafkah, saya
olahraga karena Allah. Tapi tidak boleh
berlebih-lebihan.
Ada aturannya, ada batasannya. Dan itu
membuat kita bahagia. Karena tubuh yang
segar, tubuh yang energik buat kita
bahagia. Tapi kalau lemas di rumah saja
buntu. Otak apa? Buntu ya.
Malas-malasan, cepat emosi, darah
tinggi, kolesterol naik, gula naik. Ini
cepat ini repot, cepat mati seperti ini.
Oleh karenanya olahraga karena Allah itu
di antara sebab apa? Kebahagiaan. Ganti
suasana olahraga dengan teman-teman
ketemu ketemu teman-teman.
Di antara kegiatan bermanfaat misalnya
jebakkan diri dalam kegiatan bermanfaat
seperti jadi DKM ngurus masjid atau jadi
panitia pengajian sehingga otak kita
sibuk mikir gimana datangkan ustaz
gimana nanti bagaimana kapan cara
mengundang bagaimana supaya acara bisa
berjalan dengan baik supaya dakwah bisa
tersebar kita habiskan pikiran kita
untuk seperti itu. Ini didatangkan
kebahagiaan
karena kalau kita tidak sibukkan waktu
kita dengan kebaikan kita akan
disibukkan dengan yang tidak bermanfaat.
Itu sudah kaedah alqtuaifam
taqtaka. Waktu seperti pedang. Kalau kau
tidak patahkan pedang tersebut, pedang
tersebut akan membabatmu. Waktu inam
tusgilhu filhair yusgilka far. Waktu
kalau kau tidak gunakan untuk kebaikan
maka dia akan menjebakmu dalam
keburukan. Maka jebaklah diri dalam
kegiatan yang positif. Namun ingat
karena Al Allah. Karena Allah.
Yang ke berapa sekarang?
Di antara sebab kebahagiaan berteman
dengan orang-orang saleh. Cari
teman-teman saleh. Jangan cari teman
yang tidak saleh. Teman orang saleh kita
dengar perkataan yang baik, dia tahu
bagaimana bermuamalah dengan teman. Dia
memuliakan saudara, dia memuliakan tamu.
Ya, dia tidak pelit.
Tapi kalau teman pelit, menderita.
Teman pelit apa? Men menderita
ke mana-mana pelit.
Dia bilang, "Ayo numpang sama saya naik
mobil saya. Kita pengajian." Oh,
masyaallah. Dia jemput. Ternyata sampai
pembensin. Kata dia, "Kita bayar bensin
bareng, ya." Masyaallah.
Ada yang begitu? Ada. Ini saya cerita
kisah nyata ya. Ada yang begitu.
Gak enak punya teman pelit.
Sampai ada kawan terkenal pelit, pelit
sekali. Tumben kawan itu tiba-tiba
ngajak makan. Dia traktir makan. Ayo
makan, makan, makan. Uh, ini pelit kok
ngundang makan. Tumben. Pada datang
semua makan. Begitu selesai makan, aduh
saya lupa dompet saya ketinggalan.
Modus.
Zaman dulu belum ada kiris,
akhirnya bayar sendiri-sendiri.
Cari teman yang saleh, yang baik, yang
mau nasihati kita, yang ngajak kita
pengajian, yang mengingatkan kita kepada
akhirat. Apa ciri teman saleh? Kita
berteman dengan dia, kita semakin dekat
dengan Allah. Ciri teman buruk, kita
berteman dengan dia, jalan seminggu, 2
minggu, sebulan kok semakin jauh dari
Allah. Ini teman buruk membuat saya lupa
dengan akhirat.
Rasulullah menyebutkan di antara
manusia-manusia terbaik, alladina
ru zukirallah, yaitu orang-orang yang
jika dilihat membuat kita ingat kepada
Allah Subhanahu wa taala. Itu teman baik
dekati. Ini teman bikin kita bahagia.
Teman kitaat buat kita bahagia. Dia tahu
dia tidak nyinyir kita. Dia tidak
menghinakan kita. Dia tidak merendahkan
kita. Dia tahu bagaimana adab berteman.
Kalau punya teman seperti ini, pegang
erat-erat karena dia adalah sebab
kebahagiaan.
Kemudian di antara sebab kebahagiaan
yang terkadang kita lupakan sering baca
Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab
kebahagiaan. Thaha ma anzalna alaikal
qurana litasqo.
Kami tidak, aku tidak mengelur, kami
tidak menurunkan Al-Qur'an kepada engkau
ya Muhammad supaya kau sengsara. Kata
sebagian ahli tafsir, a litas. Tetapi
Al-Qur'an supaya kau bahagia. Ruha min
amrina. Allah mengatakan Al-Qur'an
adalah roh dari perintah Kami. Karena
siapa yang baca Quran, hatinya menjadi
hidup. Hatinya menjadi apa? Hidup. Dan
dia akan bahagia. Dia akan bahagia.
Kenapa kita tidak bahagia? Karena kita
jarang baca Al-Qur'an. Bahagia itu
mudah. Sehari kita baca Quran berapa
halan, berapa lembar, apalagi sampai
satu juz, pasti bahagia.
Pasti bahagia.
Pasti bahagia. Cuma kita tidak baca
Al-Qur'an.
Bahkan sebagian ulama mengatakan, "Siapa
yang sedih baca surat Yusuf pasti
berkurang kesedihannya. Baca dengan
tadabur pasti berkurang kesedihannya.
Karena Al-Qur'an itu membuat hilang
penyakit hati. Wasifaul lima fur
yaasuq jaakum maikum
wasifa fur." Telah datang Alquran yang
merupakan wejangan bagi kalian.
Dan obat bagi hati kalian. Penyakit
hati, sedih, apa semua akan hilang
dengan kita baca Al-Qur'an.
Minal qurani maufa warahmatul lil
mukminin. Kami turunkan Alquran yang
Al-Qur'an merupakan obat dan rahmat bagi
kaum mukminin. Baca laallakum turhamun.
Kalian akan dirahmati. Nama rahmat
membuat kita bahagia. Jadi ikhwan
akhwat, bapak-bapak, ibu-ibu kerja sama.
Ingatkan istri, "Sayang, sudah baca
Quran enggak hari ini? Jangan
sungkan-sungkan lah. Kamu baca Quran
enggak?" "Sudahlah, makanya saya
ingatkan kamu." Gitu. Kerja sama baca
Quran. Jangan kerja sama nonton Korea.
Jangan baca Quran. Mau bahagia baca
Quran.
Pagi sudah baca Quran belum? Belum.
Sebelum tidur baca Quran? Siang sudah
baca Quran belum? Rumah berkah, kita
bahagia karena kita sempatkan diri untuk
baca Al-Qur'an. Berikutnya
di antara sebab kebahagiaan, jangan
terlalu banyak nonton berita.
Berita-berita itu bikin hati menjadi
sakit dan akhirnya kita sibuk mengingat
dunia dan kita lupa ingat akhirat.
Makanya Ibnu Aun berkata, "Zikrullahi
dawa wikrun nasda." Mengingat Allah
adalah obat dan mengingat manusia adalah
penyakit.
Terlalu banyak nonton berita, berita
anu, berita ini, berita anu, berita ini.
Kita tahu sekedarnya boleh, tapi jangan
terlalu dalam-dalam tahu. Dan berita
tidak akan pernah ada habisnya.
Berubah-rubah, berganti-ganti tidak akan
pernah ada habisnya. Kalau mau ikuti
habis waktu kita.
Sehingga akhirnya kita tidak sempat
untuk mikirin apa? Akhirat. Kalau kita
jarang ingat akhirat, hati kita kaku,
hati kita keras, dan kita tidak bahagia.
Tidak bahagia. Di antara sebab kita
bahagia adalah dengan ingat akhirat.
Caranya dengan baca Al-Qur'an. Dan
Al-Qur'an menakjubkan. Antum baca Quran
di malam hari, antum menangis, antum
menangis, antum bahagia. Sebaliknya ada
orang ketawa ketiwi, ketawa ketiwi dia
tidak bahagia.
Kenapa bahagia yang pegang Allah
Subhanahu wa taala? Antum baca Quran
sampai nangis pasti bahagia. Pasti
bahagia
karena jangan pernah menyepelekan baca
Al-Qur'an. Sekarang yang ke berapa?
18. Di antara sebab kebahagiaan,
jangan suka ingat-ingat kesedihan masa
lampau. Kesedihan sudah berlalu dan
tidak akan bisa kita rubah. Sudah kita
beriman dengan takdir.
Innama
eh innama najwa minasyaitani
liyahzunalladzina amanu. Sesungguhnya
setan ingin membuat orang beriman
bersedih. Oleh karenanya tidak ada
kesedihan dalam Al-Qur'an kecuali
disebutkan dalam bentuk celaan.
yaitu kesedihan yang berlebihan. Sedih
boleh, tapi tidak boleh berlebihan.
Karena kalau orang sedih berlebihan, dia
tidak fokus untuk beramal saleh dan
akhirnya banyak kewajiban akhirnya tidak
bisa dia kerjakan. Dia susah nuntut
ilmu, dia susah ngurus istri, susah
ngurus anak. Kalau istri terlalu sedih,
susah ngurus suami, berlebihan.
Makanya al Imam Syafi'i rahimahullah
mengatakan, "Makruh untuk takziah lebih
dari 3 hari." Kenapa sebabnya? Liannahu
yujaddidul huzna. Kata Imam Syafi'i,
"Karena takziah setelah hari ketiga itu
hari keempat dan seterusnya hanya
memperbaharui kesedihan. Kita boleh
sedih tapi ada aturannya, tidak boleh
berlama-lama.
Yang sudah lalu sudah kita bilang
qadarallah wya afa'al sudah terlanjur.
Innalillahi wa innaaihi rajiun." Kapan
kita diingatkan lagi? Kita bilang
qadarallah. Setiap kita diingatkan masa
lalu kita bilang qadarallah.
Kita bilang alhamdulillahi ala kulli
hal. Itu pasti yang terbaik bagi saya.
Pasti ada hikmah di balik itu. Maka
jangan kita sengaja mengingat masa lalu.
Jangan. Yang menyedihkan sebagian wanita
anaknya meninggal, bonekanya dia pajang
di kamar tidur. Boneka anaknya nangis
tiap malam. Nangis tiap malam. Suaminya
agak ajak berhubungan intim, dia nangis.
Salah itu boneka. Jangan taruh di situ.
Bikin sedih. Kalau sudah sedih, susah
beramal saleh, tidak melaksanakan
kewajiban, itu yang terjadi.
Oleh karenanya, masa lalu biarlah
berlalu. Belaji pelajaran bagi kita
untuk kita memperbaiki diri. Adapun kita
mengenang-menenang, masuk sedih terus
sedih terus percuma tidak ada faedahnya
tidak bisa merubah kondisi yang sekarang
enggak bisa.
Takdir Allah Subhanahu wa taala. Maka
jangan coba-coba mengingat masa lalu
yang menjadi. Enggak usah itu
qadarullah. Sekarang kita pikir yang di
depan. Yang berikut yang ke berapa?
19 dikatakan seorang adalah ibnu
yaumihi. Seorang fokus dengan yang di
depan dia. Jangan terlalu lihat masa
lalu dan jangan terlalu khawatir masa
depan. Dan itu ciri orang beriman ya.
Ala in auli allahai khaufun alaihim w
hum yahzanun. Alladina amanu wau
yattaquun. Ketahuilah orang wali-wali
Allah la khaufun alaihim. Tidak perlu
khawatir atas mereka. Walah wum
yahzanun. Dan mereka tidak bersedih.
Siapa mereka? Alladina amanu wau
yattaquun. Wali-wali Allah tersebut
adalah yang beriman dan bertakwa. Kita
fokus yang masa depan jangan terlalu
gelisah sehingga kita akhirnya tidak
fokus dengan yang sedang kita kerjakan
sekarang.
Seperti sebagian orang bertanya kepada
saya, "Ustaz, apa yang saya lakukan
sekarang?" "Loh, kamu kan mahasiswa.
Sekarang belajar sebaik-baiknya. Jangan
pikir nanti saya lulus ke mana." Itu
urusan belakangan. Yang terbaik yang
bisa kau lakukan sekarang. Lakukan.
Jangan nanti saya lulus, saya mau ke
mana. Nanti nanti ada yang mau kawin
sama saya itu nanti. Jangan mikir
sekarang.
Sehingga orang akhirnya ham gam
mengkhawatirkan masa depan yang terlalu
berlebihan. Itu karena kurang tawakal.
Yang bisa kau lakukan agar kau tidak
agar kau bahagia. Sibukkan dengan yang
ada di depan matamu. Masa depan serahkan
kepada Allah. Dia bukan di tanganmu.
Masa depan bukan di tanganmu. Masa lalu
biarkan berlalu. Sibuk dengan apa yang
di depanmu sekarang ini. Itulah
ciri-ciri orang beriman. La khaufun
alaihim walah hum yahzanun. Tidak ada
kekhawatiran tentang masa depan dan
mereka tidak selalu menyedihkan masa
masa lalu. Itulah ciri orang beriman.
Kenapa tawakalnya tinggi?
Jadi kalau ada anak nanti B gimana Biang
sibuk belajar aja enggak usah mikir.
Nanti depan baru kita mikir.
Jangan terlalu mikir ke depan. Karena
terlalu khawatir ke depan belum tentu
terjadi. Sudah gelisah duluan belum
tentu terjadi. Nanti saatnya terjadi
hadapi. Ini belum terjadi. Sudah sedih,
sudah gelisah. Uang belum tentu terjadi.
Yusibana illa maataballahuana. Kalaupun
terjadi, katakanlah tidak menimpa kami
kecuali yang telah Allah tetapkan. Mau
diapain?
Lihat banyak orang terlalu khawatir,
akhirnya sakit akhirnya meninggal.
Kekhawatiran yang berlebihan. Kalau ada
hadapi. Kalau belum ada jangan terlalu
banyak mikir. Mikir yang sedang kita
fokus yang bisa bermanfaat sekarang
kerjakan. Kita k kerjakan.
Sekarang yang ke berapa?
Yang terakhir berarti di antara sebab
kebahagiaan
meninggalkan maksiat sejauh mungkin.
Ketahuilah setiap maksiat yang kita
lakukan mencoreng kebahagiaan kita,
merebut kebahagiaan kita. Semua maksiat.
Kita dengar musik-musik
akan merusak kebahagiaan.
Lezat-lezat
tapi tidak bahagia.
Kita nonton film Korea lezat tapi tidak
bahagia. Ada kebahagiaan yang kita
korbankan. Saya sering sampaikan contoh.
Kalau kita suka nonton film Korea,
akhirnya kita tidak hasrat lagi sama
istri.
Kenapa? Karena kita sering lihat wanita
cantik, istri kita yang cantik akhirnya
tidak kelihatan cantik lagi. Apalagi
memang kurang cantik.
Yang cantik aja sudah enggak kelihatan
cantik gara-gara sering nonton film apa?
Korea.
Perempuan juga yang suka nonton
laki-laki sama suami tidak ada hasrat.
Kenapa dia suka lihat laki-laki yang tam
tampan? Suaminya harus tampan, harusnya
tampan jadi kelihatan jelek. Harusnya
putih jadi kelihatan donat gosong.
Oleh karenanya maksiat itu pasti
mengorbankan kebahagiaan kita. Pasti.
Lihat betapanya orang tidak bisa bahagia
sama istrinya. Gak bisa. Tidak bisa
mencapai kelezatan. Dia nonton main
barang macam-macam sehingga dia
berfantasi. macam-macam. Sampai ada
kasus ada saya punya kawan ya jadi
dokter saya banyak orang istrinya sudah
cantik dia sampai enggak bisa berhasrat
sama istrinya maunya sama wanita lain.
Bayangkan ada sumber kenikmatan di
rumahnya tidak bisa dia rasakan. Kenapa
dia terlalu banyak maksiat? Itu berarti
apa? Kelesatan Allah cabut. Kelesatan
Allah cabut. Maka semua maksiat yang
kita lakukan benar datangkan kelezatan,
tapi ada kebahagiaan yang Allah ca
cabut.
Maka kalau kita bermaksiat segera kita
istigfar.
Segera istigfar. Setiap kalau kita
memandang haram, segera kita is
istigfar.
Apa kata seorang penyair tentang
maksiat? Benar, maksiat itu mendatangkan
kelezatan, tapi kelezatan bukan berarti
kebahagiaan.
Minal harquelez
akibat maksiat akan sirn.
gara-gara maksiat dari perkara yang
haram. Dia rasakan kelezatan yang luar
biasa dari kemaksiatan tersebut. Dia
joget-joget mendengarkan musik-musik
benar-benar dia merasakan kelezatan. Dia
nonton film dia benar merasakan
kelezatan. Dia zina benar-benar
merasakan kelezatan. Dia minum khamar
dia benar-benar merasakan nikmatnya
kelezatan.
Dia narkoba, dia merasakan nikmatnya
kelezatan. Tapi kelezatan tersebut cepat
sirna. Setelah itu dia sengsara. Pengin
lagi, pengin lagi, pengin lagi.
Sengsara setelah itu. Kalau tidak
melakukan maksiat, dia gelisah. Allah
kasih sengsara. Sisanya apa?
Yang sisa hanyalah dosa dan kehinaan.
Yang tersisa hanyalah dampak yang buruk
dan tidak ada kebaikan terhadap
kelezatan yang ujungnya adalah neraka
jahanam.
Orang kalau sudah maksiat dia sengsara
meskipun dia berlezat-lezat. Orang kalau
sudah berzina dia tidak bisa berhenti.
Sibuk pikirannya cari wanita baru. Cari
sengsara, gelisah gelisah. Istrinya dia
sudah tidak rasa sengsara.
Sengsara. Oleh karenanya kalau kita
maksiat segera is istigfar. Terakhir
saya ingin sampaikan bahwasanya
kebahagiaan bukan berarti kita tidak
sedih, tidak kita tidak khawatir. Sedih
dan khawatir adalah tabiat kehidupan
dunia yang tidak ada sedih, tidak ada
khawatir sama sekali cuma di mana? Di
surga. Tapi orang beriman kalau dia
beriman kesedihan akan dia lewati,
kekhawatiran akan dia lalui. Segera
berubah dengan apa? Iman dan takwa dan
tawakal kepada Allah Subhanahu wa taala.
Kalau kita ditimpa musibah, sabar. Sabar
dan berpikir positif kepada Allah.
Husnuzan kepada Allah Subhanahu wa
taala. Dan kita berusaha melakukan
sebab-sebab kebahagiaan. Semoga Allah
memberikan kebahagiaan bagi kita semua.
Demikian saja kajian kita, semoga
bermanfaat. Tidak ada tanya jawab.
Wabillahi taufik walhidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.