Transcript
tyuCUoJ4m7s • Kiat-Kiat Hidup Bahagia - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2572_tyuCUoJ4m7s.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang sebab-sebab hidup bahagia ya tentunya kebahagiaan adalah cita-cita semua orang, baik laki-laki maupun wanita ya, orang tua ataupun anak muda, miskin maupun kaya, pejabat maupun rakyat jelata, terkenal ataupun tidak terkenal semuanya pengin hidup bahagia. Dan tidaklah semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia ke sana kemari bekerja keras, membanting tulang, berusaha dan berusaha tidak lain adalah untuk mencari kebahagiaan. Namun tentu pandangan orang dalam meraih kebahagiaan bermacam-macam ya. Ada yang terobsesi bahwasanya bahagia dengan popularitas maka dia akan berusaha semaksimal mungkin. Bagaimana bisa populer? bagaimana bisa terkenal. Dan sebagian orang menyangka bahwasanya kebahagiaan dengan harta maka dia jungkir balik untuk cari harta. Sebagian orang menyangka yang namanya orang bahagia adalah kalau jabatannya tinggi maka dia jungkir balik. Dibalik orang, dijungkir orang supaya bisa jadi apa? Pejabat. Ya, demikian ya. Namun dalam Islam bahagia bisa diraih oleh siapa saja. Baik kaya maupun miskin, pejabat atau rakyat jelata, terkenal atau tidak terkenal bisa meraih kebahagiaan dengan syarat beriman dan beramal saleh. Ya, kenyataannya harta secara zatnya tidak bisa bikin bahagia. Buktinya banyak orang yang berharta namun tidak bahagia. Bahkan di antara mereka ada yang bunuh diri. Bahkan di antara mereka sudah di tengah kekayaan masih narkoba. Kenapa narkoba? Karena tidak bahagia. Makanya narkoba. Betapa banyak orang yang sudah di puncak jabatan, tapi kita lihat dia, kita kasihan. Kenapa wajahnya memendam penderitaan? Dia berlagak seperti bahagia. Tapi kita tahu raut wajahnya menunjukkan dia sedang sengsara. Banyak orang yang terkenal justru tidak bahagia. Dia berangan-angan bisa hidup sendiri. Ke mana-mana dikejar-kejar oleh pencintanya, ke mana-mana dikejar oleh pencari berita, ya. Sehingga kehidupan privasinya tidak ada, maka dia hidup sengsara. Oleh karenanya secara zat, harta, maupun jabatan, maupun kekayaan, maupun popularitas tidak bisa membahagiakan orang. Itu hanya sebab untuk bahagia. Tapi yang menentukan kebahagiaan adalah siapa? Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya Allah maha adil. Siapapun orangnya bisa bahagia. Dia kaya kalau dia beriman kepada Allah bisa bahagia. Dia miskin kalau dia beriman kepada Allah dia pun bisa bahagia. Oleh karenanya Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebutkan pernyataan yang indah perkataan emasnya. Dia mengatakan, "Inna fid dunya jannatan man lam yadkulha lam yadkhul jannatal akhirah." Di dunia itu ada surga, yaitu ada kebahagiaan. Siapa yang tidak bisa masuk surga dunia, tidak bisa bahagia di dunia, maka ketahuilah dia tidak akan bahagia di akhirat. Dia tidak akan masuk surga akhirat. Seakan-akan beliau ingin menyatakan orang beriman pasti bahagia apapun kondisinya. Dan Ibn Taimiyah mengucapkan kalimat tersebut, perkataan emasnya tersebut dalam kondisi dia dipenjara berulang-ulang. Ya, kata dia, "Yaf'alu bi jannati fiqi." Apa yang hendak dilakukan oleh musuh-musuhku kepadaku? Surgaku ada di hatiku. Mau penjarakan aku, mau usir aku, mau siksa aku, surgaku di mana? Di di hatiku. Jadi orang beriman, beramal saleh pasti apa? Bahagia. Demikian juga para salaf berkata, "Ya, lau alima almuluk wa abnaul muluk ma nahnu f laaduna alaihi." Seandainya para raja, kata orang-orang saleh, seandainya para raja dan para pangeran tahu tentang kebahagiaan yang kami rasakan, tentu mereka akan menyambuk kami untuk merampas kebahagiaan tersebut. Yaitu mereka ingin berkata, "Apa kebahagiaan yang kami rasakan tidak didapati oleh para raja dan para sultan dan para pangeran." ketika orang sudah mencapai pada derajat iman dan amal amal saleh. Karenanya hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan tentang sebab-sebab kebahagiaan secara praktik kehidupan keseharian ada sekitar 20 kurang lebih 20 sebab kebahagiaan. Kuat sampai subuh ceramah. kuat mendengar ceramah. Siap. Tib. Kalau saya mau simpulkan tentang sebab kebahagiaan, maka sebab kebahagiaan ee secara umum terbagi menjadi dua. Yang pertama sebab-sebab ukhrawi. Yang kedua adalah sebab-sebab duniawi yang merupakan penopang kebahagiaan jika lendasi oleh iman dan takwa. Adapun sebab-sebab ukhrawi, sebab-sebab akhirat agar seorang bahagia. Sebagaimana Allah sebutkan, "Man amila shihan minakarin unsa wahua mukmin falanuh hayatan thyibah wajizannahum ajrohum biahsani mau ymalun." Siapa yang beramal saleh, lelaki maupun perempuan, lelaki maupun wanita, dia beramal saleh dan dia dalam kondisi beriman, maka kami sungguh akan berikan kepada dia kehidupan yang bahagia itu di dunia. Makanya Allah mengatakan, "Wajziannahum ajrahum biahsanilladziu yamalun." Kami akan balas di akhirat dengan ganjaran yang terbaik. Di dunia dapat kebahagiaan dan di akhirat dapat surga. Jadi pasti orang beriman pasti bahagia. pasti bahagia apapun kondisinya. Ini jaminan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan sebaliknya sebab kesengsaraan secara sederhana adalah seluruh maksiat. Allah berfirman dalam surah Thaha, waman aikrinauatankau yaumalqiamati. Siapa berpaling dari peringatanku maka bagi dia kehidupan yang menyesakkan. Yaitu dia sengsara. di dunia, di alam barzakh, apalagi di akhirat. Pada hari kiamat kelak kami akan bangkitkan dia dalam kondisi buta. Dan seterusnya maka dia protes, "Ya Allah, kenapa kau bangkitkan aku dalam kondisi buta?" Di dunia sengsara, di alam barzah sengsara, di akhirat seng sengsara. Allah berfirman, "Innal abr lafi naim." Sungguhnya orang-orang yang baik lafi naim sungguh-sungguh benar-benar dalam kenikmatan kata Ibnu Qayyim yaitu fidurata dalam kenikmatan dalam tiga alam. Alam dunia, alam kubur maupun alam akhirat dia akan bahagia. Orang Ibrahim pasti bahagia ya. Kemudian kata Allah, "Wa innal fujjar lafi jahim." Dan sesungguhnya orang fajir, para pelaku maksiat lafi jahim dalam kesengsaraan juga dalam tiga kampungnya. Kampung dunia, kampung alam barzakh, dan kampung apa? Akhirat. Jadi ini sebab pertama secara sederhana untuk meraih bahagia adalah sebab-sebab ukhrawi. Itu iman beramal saleh. Nanti perinciannya belakangan. Sebab kedua, di antara sebab kebahagiaan juga kita perlu juga menopang sebab ukhrawi dengan sebab-sebab duniawi. Tentu dengan sebab dunia tersebut yang dilandasi dengan iman dan takwa. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Arbaun minas sa'adah." Empat yang merupakan kebahagiaan. Itu empatup empat perkara merupakan sebab kebahagiaan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Almaratu salihah, istri yang salehah, wal jarus saleh, tetangga yang baik. Wal baitul wasi', rumah yang luas. Wal markabul hani, tunggangan yang nyaman. Tunggangan yang nyaman. Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, arun minyaqawah. Empat perkara yang merupakan sebab kesengsaraan. Almaratu asu, yaitu perempuan yang buruk, istri kurang ajar, tukang ngomel. Yang kedua, aljarusu ya, yaitu tetangga yang buruk ya. Tetangga yang buruk. Yang ketiga, albait addayiq, rumah yang yang sempit. Yang keempat yaitu tunggangan yang tidak menyenangkan. Nah, ini di sini Rasulull sahu alaihi wasallam berisyarat tentang empat perkara duniawi yang juga merupakan sebab kebahagiaan seperti rumah yang luas. Rumah luas membuat orang nyaman. Ada ruang buat tamu, ada tamu datang, ada tamu bisa tidur di rumahnya. Kalau keluarga ngumpul, dia bahagia. Ini ini duniawi tapi merupakan sebab apa? Kebahagiaan. Mobil yang nyaman, kendaraan yang nyaman juga sebab kebahagiaan. Ya, kalau zaman dulu punya tunggangan disuruh maju enggak mau maju kan menjengkelkan. Ya sudah dikasih makan gak mau jalan menjengkelkan, membuat sengsara. Tapi kalau tunggangan nyaman, patuh ya zalul, ke mana-mana mau tunduk ya nyaman. Sama seperti zaman sekarang kalau kita naik kendaraan, mobil ee ke mana-mana muda, tidak pernah mogok, menyenangkan. Tapi sedikit-sedikit ganti ban, sedikit-sedikit ganti ban. Ya. Ya. Sedikit-sedikit rusak, ya. Mobil sampai parah enggak enak ya. Sampai ada apa namanya? Ada. Waktu saya pernah ke Jeddah, saya pernah naik mobil buruk sekali. Apa namanya dia bilang? Mobil dia ini semua ada bunyinya. Mobilnya semua ada bunyinya. Kalau buka pintu ngek sudah bunyi-bunyi. Buka ini ngek bunyi. Katanya semua mobil saya ini semua dilakukan apapun ada bunyinya kecuali bunyi klakson tidak ada. Maksudnya kalau mobil kayak gini tidak menyenangkan. Tidak menyenangkan. Dari sini tahu bahwasanya sebab kebahagiaan itu ada sebab ukhrawi, ada sebab apa? Duniawi. Dua-duanya kita tempuh. Dua-duanya kita tempuh. Yang penting kita bisa bahagia. tentunya dengan berdoa kepada Allah minta kebahagiaan. Huahaka wa abka waahu wa amata wa ahya. Dialah Allah yang buat seorang tertawa, tersenyum dan dia juga yang buat orang menangis. Yang menguasai hati kita siapa? Allah subhanahu wa taala. Yang buat kita bisa bahagia? Allah. Yang buat bisa kita sengsara. Allah subhanahu wa taala. Inalluba baini minrahman. Hati ini berada di dua jemari. Allah yuqallibuha kaifa yasya. Allah bolak-balikkan terserah Allah Subhanahu wa taala. Maka jangan pernah mencari kebahagiaan kecuali dari Allah Subhanahu wa taala. Bab kita akan bahas satu persatu. Saya gabung antara sebab ukhrawi dengan sebab duniawi ya sekitar ada 20 sebab. Yang pertama hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala agar kita bahagia pertama ikhlas kepada Allah subhanahu wa taala. Ikhlas kepada Allah. Siapa yang ikhlas, tauhidnya mantap, hanya fokus kepada Allah subhanahu wa taala, hanya bertawakal kepada Allah subhanahu wa taala, tidak mengharapkan sanjungan orang lain, tidak mencari validasi dari orang lain, maka dia paling bahagia. Dia paling bahagia. Yang penting Allah sudah tahu apa yang dia lakukan bagi dia. Allah sudah tahu selesai urusan. Ketika dia berbuat kebaikan, dia tidak butuh komentar dari orang yang dia baiki. Sebagaimana syiar dari orang-orang para penghuni surga, mereka berkata, "Inama inamaukum liwajihillah laidu minkum jaza w syukur. Sesungguhnya kami ini memberi makan kepada kalian karena mencari wajah Allah." Itu kami ingin lihat Allah pada hari kiamat. Kami ingin merasakan kelezatan memandang wajah Allah di surga kelak. La nidu minkum jaza w syukur. Kami tidak butuh kata terima kasih dari kalian dan kami tidak butuh balasan. Kami enggak butuh jazaan wala syukur. Tidak butuh balasan dari kalian. Orang yang seperti ini sampai tahapan ini maka dia akan bahagia ya karena yang dia tuju siapa? Allah Subhanahu wa taala. Namun kapan kita sengsara? Ketika keikhlasan kita kurang. Kita mencari validasi dari orang ingin di-like ya oleh orang. Kalau bikin status maunya ada jempol tangan, ada jempol kaki, ya tempel di situ ya. Sehingga kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada netizen. Kita bahagia tergantung komentar netizen. Dan netizen tidak selalu berkomentar sesuai keinginan kita. Sehingga kapan kita menggantungkan hati kita kepada selain Allah, maka kita pasti sengsara. Yakinlah orang yang semakin ikhlas dia semakin bahagia. Berharap kepada manusia pasti kecewa. Kalau berharap kepada Allah tidak akan pernah kecewa. Oleh karena latih diri kita agar kita mau bahagia, latih diri kita untuk ikhlas. Latih diri kita kalau kita beramal saleh tidak usah cerita sama orang lain. Latih diri kita kalau kita lagi punya kegiatan amal saleh tidak usah di-upload ya. Tidak usah di-publish, tidak usah cerita-cerita. Tapi kalau kita terbiasa pamer amal saleh kita, repot. Mau ke masjid bikin konten. Guys, gue lagi ke masjid, Guys. Didi dia yang dingin nih. Subuh dingin, tapi gue ke masjid. Lulu gue-gue katanya lagi bantu orang guys bikin lagi apa janganlah begitu gak usahlah wama taf'alu min khairin fainnallaha bihi alim dalam ayat yang lain fainnallaha yal'lamu apapun yang kalian lakukan dari kebaikan sungguhnya Allah mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui secara detail. Oleh karenanya kalau kita ikhlas yang penting Allah sudah tahu. Selesai. Kita berbuat baik sama orang kita enggak butuh dia terima kasih. Yang penting Allah sudah tahu selesai muamalah saya antara saya dengan Allah bukan dengan kamu. Kamu saya hanya menjalankan tugas. Yang perintahkan saya untuk berbuat baik kepada orang tua, kepada kakak, kepada adik, kepada kerabat, kepada tetangga, kepada orang miskin. Siapa yang perintahkan? Allah. Berarti interaksi saya sesungguhnya dengan Allah, bukan dengan kalian. Kalau saya sudah kasih, Allah sudah tahu, selesai. Saya tidak butuh validasi dari kalian. Latih diri kita sampai kita merasa bahagia kalau tidak ada yang tahu. Itulah kita dapati bagaimana para salaf dahulu benci kalau mereka amal mereka ketahuan. Mereka enggak suka. Karena mereka ada rasa bahagia ketika yang tahu hanya siapa? Allah. Seperti kisah Uwais Al-Qarani ketika ketahuan doanya terkabulkan maka dia menghilang. Uwais Alqarani apa menghilang. Dia tidak bilang, "Oh iya saya Uwais Al-Qarani yang Nabi pernah puji saya." Dia enggak pamer-pamer. Dan banyak salaf seperti itu. Enggak suka diketahui amal salehnya. Maka kalau ingin bahagia, Bapak-bapak, Ibu-ibu jangan suka pamer. Apa? Amal saleh. Latih diri hanya mencari balasan dari siapa? Allah Subhanahu wa taala. Itu perlu dilatih. Kalau enggak dilatih enggak bisa. Kalau enggak dilatih enggak enggak bisa. Memang berat. Tapi latihan. Latihan. Misalnya ada orang ngomong sama kita, "Kamu kaya emang sudah haji?" Kaya padahal kita sudah haji misalnya 10 kali. Kita belajar jawab, "Alhamdulillah sudah." sudah cukup. Jangan kita bilang, "Eh, 10 kali." Yang satunya ikhlas, yang sembilannya pamer. Gak perlu gak perlu dia tahu. Enggak perlu dia tahu. Secukupnya. Kita bilang sudah, alhamdulillah sudah. supaya kau tidak tuduh saya yang jelek-jelek. Saya sudah aja, alhamdulillah. Ya, apalagi kamu travelnya apa sih? Travel saya travel mahal. Kamu hotelnya apa waktu hajian? Jauh kan? 7 kilo dari Masjid Haram. Saya dekat dekat Mina. Oleh karenanya ini perlu latihan dan ini adalah poros kebahagiaan. Tib. Semakin bertawakal semakin bahagia. Makanya di antara doaul karb kata Nabi sallallahu alaihi wasallam doa orang yang sedang dalam kondisi genting adalah dengan tahlil. Lailahaillallahul adzimun al halim. Lailahaillallahu rabbul arsyil adzim. Lailahaillallahu rabbus samawati warabbul ardhi warabbul arsyil karim. Orang kalau dalam gelisah dia bilang lailahaillallah. Agar Allah datangkan apa? Kebahagiaan. Agar dia tenang. Lailahaillallah sampai tiga kali bertahlah. Lailahaillallahulimul halimulim. Lailahaillallahu rabbul arsyil adzim. La ilahaillallahu rabbus samawati warabbul ardhi waabbul arsyil karim. Tiib. Berikutnya sebab yang keberapa? Yang kedua. Di antara sebab agar kita bisa bahagia berbuat baik kepada orang lain karena Allah tentunya. Berbuat baik kepada orang lain karena Allah. Dalil secara spesifik ketika ada seorang datang kepada Nabi, yasku qosqbihi dia mengeluhkan kepada Nabi tentang hatinya yang keras. Maka Rasul sahu al wasallam berkata, "In arqbik kalau kau ingin hatimu lembut dan hati lembut merupakan sebab kebahagiaan wamsa alatim." Maka bagilah makanan. Bagi-bagilah makanan gratisan dan usapkanlah tanganmu kepada kepala anak yatim. Itu berbuat baik sama orang lain. Kalau berbuat baik sama orang lain maka kau akan bahagia. Ini dalil secara spesifik dan secara umum. Aljaza minyisil amal balasan sesuai dengan perbuatan. Siapa yang berbuat baik kepada orang lain maka Allah akan bikin dia bahagia. Siapa yang membahagiakan orang lain maka dia akan dibahagiakan oleh Allah. Wallahu fiil abdi makal abdu akhi. Allah senantiasa membantu seorang hamba jika seorang hamba membantu saudaranya. Ini ya man nafasa an mukmin qurbatan minqabihi nafasallahu qurbatahu yaumalqiamah. Q nabi sallallahu alaihi wasallam. Siapa yang mengeringankan beban seorang mukmin di dunia, maka Allah akan mengurangi penderitaannya pada hari kiamat kelak. Di dunia tentunya juga. Tapi disebutkan tentang penderitaan hari kiamat karena penderitaan hari kiamat sangat dahsyat. Tidak ada bandingannya dengan penderitaan dunia. Maksud saya aljaza min amal balasan sesuai dengan perbuatan. Siapa yang beri bahagia orang maka dia akan juga bahagia. Maka dikatakan sesuatu yang dibagi tidak berkurang maka bahkan bertambah adalah kebahagiaan. Kalau harta kita bagi berkurang tapi kalau kebahagiaan kita bagi kita semakin ba bahagia. Semakin bahagia. Dan di antara amal saleh yang paling dicintai oleh Allah adalah membahagiakan orang lain. Wahabbulallahu muslim. Dan amal saleh yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang kau masukkan dalam hati seorang muslim. atau kau hilangkan rasa laparnya atau kau lunaskan hutangnya yaifuatan atau kau hilangkan penderitaannya berarti kalau kita membahagikan orang kita akan bahagia dan dua perkara ini ikhlas dan berbuat baik kepada orang lain disebutkan oleh Syekh As'di rahimahullahu taala adalah poros kebahagiaan. Dua, dua perkara yang merupakan poros kebahagiaan adalah ikhlas wal ihsan ilal khalq. Ikhlas dan berbuat baik kepada orang orang lain. Maka latih diri kita untuk berbuat baik sama orang lain karena Allah. Siapapun depan kita, kita berusaha berbuat baik. Ada pembantu, kita berusaha baikin dia. Ada pegawai, kita berusaha baikin dia. Ada tetangga, kita berusaha baikin dia. Ada kakak, ada adik, kita pikir gimana bikin kakak dan adik bahagia. Ada orang tua, apalagi kita mikir gimana bikin orang tua bahagia. Ada istri pikir gimana istri bisa bahagia. Ada suami mikir gimana suami saya bisa bahagia. Karena Allah, kapan kita berusaha membahagiakan orang maka Allah akan berikan kita keba kebahagiaan. Saya sering sampaikan guru kita rahimahullah, Syekh ee Ustaz ee Abu Saad rahimahullahu taala, tidak ada penderitaan menimpa kaum muslimin, bencana alam atau apa, peperangan. Beliau paling semangat ke sana. Ya, ada bencana alam, beliau ke sana sampai ke luar negeri, ke Palestina beliau antar bantuan sosial ke Suriah, ke Yaman. Kalau kita lihat capek, tapi dia sendiri tidak capek. Saya lihat mungkin karena dia merasa bahagia ketika membantu orang lain. Kita ngelihat aja sudah capek apalagi jalanin. Ternyata dia tidak capek-capek menjalani. Semangat ke sana, semangat ke sini, semangat ke sana, semangat ke sini. Karena orang yang semangat menuk orang lain karena Allah, pasti Allah kasih apa? Kebahagiaan. Makanya orang yang paling bahagia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allah mengatakan, "Laq jaakum rasulum min anfusikum azizun alaihi anitum." Telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri kalian alaihium. Dia merasa berat. Apa yang berat bagi kalian? Rasulullah merasa berat kalau sahabat berat. Kepeduliannya luar biasa. Maka Allah menjadikan dia orang yang paling bahagia. Sallallahu alaihi wasallam. Bab. Ini yang ke berapa? Yang kedua. Yang ketiga. Di antara sebab kebahagiaan adalah berakhlak mulia. Berakhlak mulia. Orang kalau akhlak mulia dia bahagia. Akhlak mulia itu apa? Di antaranya hatinya baik, tidak hasad, tidak dendam, dia mudah memaafkan, murah senyum, ringan tangan, tidak seuzun sama orang lain, tidak sombong, tawadu. Orang begini bahagia. Orang begini bahagia. Lihat orang kaya, dia enggak hasad. Ah, dia kaya hisabnya lebih banyak daripada saya. Iya. Enggak. Ngapain saya pengin dihisab seperti dia? Ya, apa yang Allah berikan saya sudah tidak perlu hasad. Dia terkenal, saya tidak terkenal. Saya lebih nyaman. Privasi saya tidak ada yang tahu. Ke mana-mana diikuti orang banyak, capek ngikuti orang, diikuti orang banyak. Ngurus istri, ngurus istri enggak sempat, ngurus anak enggak sempat, apalagi ngurus istri-istri dan anak-anak enggak sempat. Ngurusin orang aja kerjanya, privasi kurang. Ngapain saya hasad sama orang seperti itu? Tib. Ada ustaz yang hadir sedikit yang satu hadirnya banyak, ramai lah. Berat seperti dia. Susah mau ikhlas, audiensnya banyak. Kalau audiensnya sedikit, insyaallah enggak ria cuma sedikit yang hadir. Masjid ramai ada ustaz datang sama saya, Ustaz Firanda guru saya. Ustaz Firanda kemarin saya ngisi pengajian masjid ramai. Benar, Ustaz, ramai angin katanya. Manusia cuma sedikit. Apa yang mau kita banggakan? Beda kalau yang hadir banyak kita pakai drone. Wah, lihat yang hadir nih. Nih, Ustaz Firanda lagi di dia. Yang yang hadir ramai ya kan? Berat hati ini. Paham? Berat enggak? Antum kira ikhlas itu mudah? Maka gak perlu hasad sama orang yang pengajiannya ramai. Enggak usahlah sudah ngapain. Bisa jadi orang yang tidak terkenal masuk surga daripada orang yang terkenal. Uwais Alqarani enggak ada yang kenal. Enggak ada yang kenal. Tapi Nabi mengatakan khairu tabiin. Sebaik-baik tabiin. Dia lebih baik daripada tabiin-tabiin yang lain yang terkenal. Dia entah ke mana. Tidak ada yang kenal. Tahu-tahu kemudian dia menghilang. Oleh karenanya orang yang akhlak mulia, tidak hasad, dia bahagia. Apakah perusak kebahagiaan? Merusak kebaikan kalau hasad. Lihat orang hasad, jengkel, sedih. Lihat orang lebih ganteng, jengkel. Kenapa dia lebih ganteng dari saya? Lihat orang istrinya lebih cantik, jengkel. Kok bisa istrinya lebih cantik? Padahal wajahnya buruk, lebih ganteng saya. Ya sudah, rezeki masing-masing. Lihat orang istrinya banyak, hasad enggak yak? Diomelin dua. Biasanya diomelin satu orang, sekarang dua orang yang omelin. Gak usah hasad, gak usah. Santai aja. Kemudian mudah memaafkan. Kalau dendam hati ini panas disakiti orang dendam pengin balas. Apalagi kalau enggak bisa balas tambah jengkel. Apalagi yang zalimi kita semakin terkenal tambah jengkel lagi. Kita berdoa, "Ya Allah matikan dia." Enggak mati-mati jengkel hati. Kalau maafkan, tenang. Ya udahlah qadarullah. Sudahlah saya memang punya banyak salah. Ya sudahlah inilah kehidupan seperti nyaman. Hidup ini nyaman. Makanya para nabi adalah orang yang paling mudah memaafkan, murah senyum. Orang kalau murah senyum bahagia dia. Kalaupun dia susah senyum, dia paksa untuk murah senyum, maka akan berdampak pada hatinya. Hatinya juga mudah gembira. Hatinya juga mudah gembira. Tapi kalau dia abus apa namanya apa bahasa Indonesia? Iya apa? Cemberut. Cemberut. Mengkerut. Ah. Hatinya enggak enak. Karena kebahagiaan terekspresikan di wajah orang. Kalau wajahnya mengkerut terus, cemberut terus, berarti hatinya bermasalah. I atau tidak? Pasti bermasalah karena hati ber. Tapi kalau dia latih diri untuk murah senyum, lihat Nabi bahagia makanya murah murah senyum. Kata sahabat, "Tidaklah aku ketemu dengan Nabi, aku berpas-pasan dengan dia. Illa tabassama ala wajhi." Kecuali dia tersenyum di hadapanku. Rasulullah kairu tabassum. Rasul sahu alaihi wasallam suka tersenyum. Bahkan dengan berbagai macam musibah yang dia alami, beliau tetap mudah tersenyum. Dan itu ciri orang bahagia. Tidak suuduzan sama orang husnudan. Orang husnudan santai husnudan. Orang tawadu mudah bahagia. Orang sombong tidak bahagia. Ingin nunjukkan mentang-mentang kalau sudah sombong itu biasanya arogan. Kalau sudah arogan itu temperamen, mudah marah, mudah nunjukin, mudah. Orang seperti ini mana bahagia. Kalau tidak dihormati sedikit marah, tidak bahagia. Tapi kalau tawadu, dihina orang, "Ya Ropo memang saya begini." Biarin aja tawadu. Gak dihormati orang enggak masalah. Karena dia apa? Tawadu. Dia tidak butuh pengakuan orang lain. Jadi orang tawadu pasti bahagia. Maksud saya kalau kita berakhlak mulia itu sebab apa? Baha? bahagia. Tapi kalau orang akhlaknya buruk, hasad, dengki, dendam, itu pasti biasanya cepat mati. Kasihan kalau hati sakit itu banyak penyakit yang lain. Tayib. Sekarang ke berapa? Yang keempat. Di antara sebab kebahagiaan, sering-sering kita merenungkan betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. Ya, kata Allah, "Fadkuru ala Allah." Ingatlah nikmat-nikmat Allah. Ya ayyuhal yau nikmatallahi alaikum. Wahai kaumku, ingatlah nikmat-nikmat Allah yang Allah berikan kepadamu. Ini sering-sering nikmat. Allah berfirman, "Wain taudu nikmatallahi kalau kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak bisa menghitung-hitungnya." Allah berfirman, "Wa amma binikmatika fahaddit." Adapun nikmat Rabbmu, ceritakanlah itu. Ingat-ingatlah agar kau tidak lupa. Di antara yang buat kita bahagia, kita ingat nikmat Allah begitu banyak. Sehingga kita ketika kita menghitung nikmat Allah yang banyak, maka kesulitan yang kita hadapi yang merupakan sebab kesengsaraan akhirnya terabaikan. Akhirnya terabaikan. Kita kalau fokus pada kesulitan yang kita hadapi, lupa dengan banyak kenikmatan, kita sengsara. Tapi kalau kita bilang, "Inilah biasalah ini kehidupan pasti ada kesulitan." Tapi ingat nikmat yang begitu banyak, maka ini terasa kecil bagi kita. Karena kita ingat nikmat Allah yang begitu begitu banyak. Ya. Kata Allah, "Innal insana lirabbihi lakanud." Manusia itu kan, berkuluh kesah terhadap Allah subhanahu wa taala. Kata Hasan Al Bashri, yazkurul masibaniam. Manusia itu suka ingat musibah-musibah dan dia lupa nikmat-nikmat Allah subhanahu wa taala. Orang saleh sebaliknya berusaha melupakan musibah-musibah dan banyak mengingat nikmat-nikmat Allah sehingga dia jadi bahagia. Kalau ada istri mengeluh, "Abi, listrik belum bayar, Abi ini sabar. Masih banyak nikmat Allah berikan." Bukan kau kau dulu kurus kerembeng, sekarang gemuk. Bukankah kita dulu ngontrak rumah kecil, sekarang kita punya rumah sendiri? Bukankah kita dulu gak punya anak, sekarang kita punya anak-anak? Bukankah? Bukankah? Banyak sekali kalau kita mau pikirkan. Bukankah dulu kita tenggelam dalam maksiat, sekarang kita dapat hidayah? Banyak. Kalau kita merenungkan banyak. Oleh karenanya di antara sebab kebahagiaan kita ingat-ingat nikmat Allah Subhanahu wa taala. Makanya Allah suruh kita ingat nikmat-nikmat Allah. Kata Allahum kata Allah, "Hendaknya manusia melihat makanan yang dia makan." Emang kalau ada nasi campur di depan kita atau apel kita makan atau jeruk kita makan kentanglah kalau di di yang banyak kentang kan kalau kita makan kentang emang yang kasih nikmat kentang ini siapa kasih nikmat kita apel kasih nikmat kita Allah subhanahu wa taala Allah mengatakan anabal ma asba kami yang turunkan air hujan biji kamu tanam dari siapa yang bikin biji tersebut siapa yang bikin bijinya Allah satu profesor satu dunia bikin biji ditanam tumbuh enggak bakalan bisa. Enggak bakalan bisa. Kalau Allah tidak tumbuhkan biji tersebut dari Allah, enggak ada orang bisa ciptakan biji sendiri. Enggak mungkin. Apalagi makan ayam. Siapa yang bisa bikin telur? Bikin sendiri kemudian menetas jadi ayam. Enggak ada. Telur Cina ada, cuma bisa diceplok. Tapi dieram enggak ada keluar ayam. Kata Allah, "Kami yang turunkan air hujan. Ard kami yang menumbuhkan tumbuhan tersebut. Tanam biji dalam tanah turun hujan, tanah tersebut terbuka keluar biji atau kecambah. Siapa yang keluarkan? Allah. Biji yang lemah tadi bisa menembus tanah. Kemudian kami tumbuhkan, kami tumbuhkan, kami tumbuhkan sampai hadir di hadapanmu. Kalau Allah berkehendak maka rusak. Aantum tazraunahu am nahnariun la nasya jaalnahuum tafun. yang tanam kalian atau kami? Kalau kami kehendak maka akan rusak itu semua tanaman kalian. Allah kasih hama, Allah tidak turunkan hujan, Allah berikan kekeringan. Jadi nikmat yang sedikit yang kita makan, Allah sudah renungkan. Coba renungkan apa yang kalian makan kita. Kalau makan apel, dari mana apel tersebut? Bijinya dari Allah. Yang tanam si yang tumbuhkan yang semuanya Allah bisa sampai ke meja kita tidak mudah. Butuh petani yang tanam, butuh petani yang panen, kemudian butuh pupuk untuk memupuk pohon tersebut, butuh kendaraan yang mengantar sampai kepada kita. Kendaraan itu butuh pom bensin, entah Pertalight atau Pertamax. Eh, semuanya butuh. Sampai akhirnya silsilah rangkaian tersebut bisa mengantarkan makanan di hadapan kita. Maka maksud saya terlalu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita yang kadang kita lupakan ya, Akhi. Kalau apa namanya kita renungkan, maka kesulitan yang kita hadapi ini akan berkurang. Akan berkurang. Tayib. Sekarang yang ke berapa? Yang kelima. Kelanjutan dari yang tadi. Yang kelima. Sering melihat ke bawah agar kita bahagia. Kata rasul sahu al wasallam, fauqikum wakinu asfalaumikum. Jangan lihat ke atas kalau urusan dunia, tapi lihatlah ke bawah. Karena dengan lihat ke bawah kalian tidak akan meremehkan nikmat Allah kepada kalian. Kita ini bagaimanapun susah yang kita hadapi masih banyak orang lebih susah. Lihatlah saudara-saudara kita di Palestina seperti apa susahnya mereka. Rumah tidak ada hancur. Kemah kalau musim dingin-dingin sekali. Saudara-saudara kita di Suriah ngeri. Sampai pernah di waktu Suriah lagi rusak-rusaknya sampai ada yang bertanya kepada Syekh, "Bolehkah saya makan anjing karena enggak ada makanan lagi." Saya saya boleh makan anjing sampai syekhnya enggak kuat menangis ya. Dia ditanya boleh makan anjing? Enggak ada makanan lagi. Mau anjing ini mau kita bunuh, mau kita masak, mau kita makan enggak ada makanan. Apalagi sekarang saudara kita di Gaza ya. Oleh karenanya sulitnya kita masih banyak orang lebih susah di bawah di bawah kita masih banyak. Terutama kalau kita lihat nikmat iman banyak orang masih enggak salat. Kaya tapi enggak salat banyak. Banyak wanita cantik-cantik tapi tidak pakai jil jilbab. Gimana kalau meninggal dunia? Apa modalnya untuk ketemu Allah Subhanahu wa taala? Masih banyak orang mungkin kaya tapi uangnya riba semua. Masih banyak orang diberi kesehatan tapi tidak bisa mangkahkan kaki ke masjid. Kita alhamdulillah nikmat ngaji bisa ke masjid. Alhamdulillah ya terlalu banyak nikmat. Maka kalau kita lihat sering lihat ke bawah maka kita akan bahagia. Kita akan apa? Bahagia. Kita tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dengan sering melihat ke bawah, maka kita akan qanaah. Dan qanaah itu adalah rahasia kebahagiaan. Rahasia kebahagiaan. Siapa yang qaah maka dia pasti bahagia. Siapa yang tidak qanaah dia pasti tidak bahagia. Orang sekaya apapun kalau tidak qanaah tidak pernah bahagia. Tidak pernah bahagia. Apa kata Imam Syafi'i rahimahullah taala? Kalau kau qah, maka kau dan raja sama saja. Raja itu pengin bahagia maka dia punya ingin kekuasaannya banyak, ingin punya selir banyak. Pengin punya apa-apa banyak dia pengin bahagia. Antum sudah qanaah, sudah bahagia dulu sebelum dia. Dengan qana orang bisa tersenyum. Tapi kalau orang tamak tidak bakalan tersenyum. Antum kira orang punya harta banyak pasti bahagia? Belum tentu ada orang hartanya banyak tapi tidak pernah puas. Tamak terus. Saya tanya sama antum, para koruptor itu sudah kaya atau miskin? Mereka mungkin miskin akhirnya terpaksa korupsi atau sudah kaya pengin tambah harta? Sudah kaya berarti dia tidak puas. Tidak puas. Dia tamak. Kalau orang tamak tidak pernah bahagia. Jangan, jangan bilang, "Ustaz, orang kaya pasti bahagia." Enggak. Belum tentu ya, Aki. Bisa jadi antum lebih bahagia. Dan kalau antum beriman pasti lebih bahagia. Bahagia itu urusan hati yang yang tahu Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, qad aflaha man aslam. Ya sungguh bahagia orang yang masuk Islam ya. Dan qon Allah bima aah. Dan Allah buat dia qonah dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Kalau orang sudah qanaah dia pasti bahagia. Kita terkadang dapati ada sopir nyetirin bos. Bosnya mukanya marah-marah terus, sopirnya senyum-senyum. Kenapa sopirnya qanaah? Bosnya belum apa? Qanaah. Mikir bisnis, mikir persaingan. Sopirnya senyum-senyum aja. Dimarahin bos. Senyum ya bos. Jalan. Dia bahagia, bosnya tidak bahagia. Terjadi atau tidak begini? Terjadi. Jadi bahagia. Kapan qanaah, maka pasti bahagia. Cara qanaah gimana? Lihat ke bawah agar kita nerima dengan rezeki yang Allah berikan kepada kita. Bahwasanya itu yang terbaik bagi kita. Seandainya Allah beri banyak mungkin kita lupa lupa diri. Tiib. Sekarang yang ke berapa? Yang keenam. Mencintai sesuatu karena Allah. Rasul sahu alaihi wasallam bersabdaun manunna fihi wajada bihinna halawatal iman. Tiga perkara yang jika ada pada diri seorang, dia akan merasakan manisnya iman. Di antaranya waa yuhibbal mara la yuhibbuhu illa lillah. Dia tidak mencintai orang lain kecuali karena Allah subhanahu wa taala. Siapa yang mencintai sesuatu karena Allah, maka Allah akan kasih dia kebahagiaan. Dia akan merasakan manisnya iman. Ya man a lillah waanaa lillah. Ya, siapa yang berikan karena Allah. dan menahan karena Allah maka dia telah sempurna imannya. Ya man ahabba fillah waq fillah. Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah maka itulah aaqal iman. Maka itu adalah tali keimanan yang sangat sangat kuat. Maka berusahalah kita melakukan segala sesuatu karena Allah. Kita melakukan sesuatu karena Allah. Kita melakukan ini karena Allah. mencintai ini karena Allah. Kita dekat dengan si fulan karena Allah kita sayang sama dia karena Allah. Ada kebahagiaan yang Allah akan Allah berikan. Dan siapa yang mencintai karena Allah, Allah akan mencintainya. Allah akan mencintainya. Maka dia akan merasakan manisnya iman dan manisnya iman akan mendatangkan kebahagiaan. Jangan kita berinteraksi kalau kita pikir karena Allah atau bukan. Karena Allah saya lakukan. Kalau enggak enggak usah. Latih diri kita dalam segala interaksi. karena Allah. Saya dekat dengan dia karena Allah. Bukan karena hartanya. Bukan. Tapi karena Allah. Maka itu mendatangkan kebahagiaan. Apalagi sampai pada saya cinta istri saya karena Allah, istri saya cinta suami saya karena apa? Allah. Bukan sekedar karena fisik. Itu benar. Kita cinta istri kita karena fisik. Tapi di antaranya kita hadirkan, saya cintai dia juga karena apa? Karena Allah. Allah suruh saya beginiin dia. Allah suruh saya sayangi dia. Allah suruh saya lembut sama dia. Allah suruh saya sabar dengan kesalahannya. Allah suruh saya. Allah suruh saya. Semuanya karena Allah. Maka Allah akan kasih kita apa? Baha bahagia. Istri pun demikian. Saya berbakti sama suami, saya taat kepada suami karena Allah. Maka Allah akan kasih bahagia. Dia mencintai suaminya karena Allah subhanahu wa taala. Tiib. Sekarang yang ke berapa? Ketujuh, di antara sebab kebahagiaan adalah sibuk nuntut ilmu. Nuntut ilmu itu mendatangkan kebahagiaan. Di antara di antara dalil akan hal ini bahwasanya Nabi Musa Alaih Salam ketika dikabarkan oleh Allah bahwasanya ada seorang namanya Khadir yang punya ilmu yang Nabi Musa tidak tahu. Maka Nabi Musa semangat mencari khadir yang Allah abadikan dalam surah Alkahfi. La abrahu hatta ab jama bahu aku akan terus mencari hadir sampai aku bertemu dengan tempat pertemuan dua lautan ataupun meski aku harus berjalan puluhan tahun yang penting saya ketemu dia. Kenapa? Dia ingin nuntut ilmu. Hanya ingin nuntut ilmu. Kenapa? Karena Nabi Musa merasakan kelezatan, kebahagiaan ketika dapat ilmu baru. Sampai Nabi Musa alaihi salam meninggalkan kaumnya. kaumnya Bani Israil butuh dakwah atau tidak butuh? Tapi dia ada Nabi Harun. Dia sengaja tinggalkan kaumnya ingin nambah il ilmu. Maka di antara sebab bahagia adalah belajar. Kita kalau belajar apalagi belajarnya runut, ilmu fikih, ilmu akidah pasti bahagia. Pasti bahagia. Sampai sebagian istri para ulama cemburu kepada buku. Karena sebagian ulama lebih senang lihat buku daripada istrinya cemburu karena ada kelezatan. Baca buku, baca buku sibuk dengan ilmu. Ada kelezatan yang dia rasakan. Maka seorang kalau nuntut ilmu karena Allah dan terutama kalau nuntut ilmunya teratur, runut, maka itu sebab kebahagiaan. Kenapa? Dia sedang memikirkan tentang ajaran-ajaran Allah. Dan nuntut ilmu adalah zikrullah. Nuntut ilmu adalah apa? Zikrullah. Ingat Allah itu di antaranya dengan belajar ilmu Allah, ilmu agama itu zikrullah. Makanya Allah berfirman, "Fas'alu ahlazikri intuntum laun." Tanyakanlah kepada ahl zikir. Maksudnya ahlul ilmu. Kalau kalian tidak mengetahui, ahlul ilmi, kalau kalian tidak tahu, tanya kepada Allah sebut ilmu dengan zikir. Demikian juga Allah mengatakan eh idati yaumil jumati fasikrillah. Jika telah dikumandangkan azan jumat maka bersegeralah menuju zikrullah. Maksudnya khotbatul jumah. Dalam khotbatul Jumah itu ada pelajaran, ada ilmu. Allah namakan ilmu tersebut dengan zikrullah. Orang yang sibuk belajar agama, tauhid, fikih, adab, dia baca buku ulama, dia baca tafsir, pasti Allah kasih kebahagiaan. Pasti Allah kasih kebahagiaan. Oleh karenanya di antara sebab untuk bahagia jangan pernah meninggalkan majelis ilmu. Azan jam berapa? 8 menit lagi. 3 menit lagi. Tib. Di antara sebab bahagia adalah enjoy dengan pasangan. Berusaha menjadikan pasangan adalah tempat untuk ngobrol, diskusi, berkuluh kesah, tempat ketawa-ketawa, canda-canda, maka kita akan bahagia. Kenapa? Karena secara kodrat lelaki Allah menjadikan kebahagiaan lelaki pada istri. Kata Allah, "Liyaskuna ilaiha." Allah ciptakan Adam. Lalu Allah ciptakan istrinya agar Adam sukun, tenang kepada istrinya. Makanya sebelum Adam dimasukkan surga, Allah ciptakan Hawa. Wa adamun anta wazaujukal jannah. Wahai Adam, masuklah surga kau bersama istrimu karena ketenangan Adam pada istrinya. Buat apa Adam masuk surga? Lihat buah-buahan tapi enggak ada istri, apa faedahnya? Ya, punya buah-buahan, punya tempat luas, punya istana, tapi enggak ada istri. Ketenangan lelaki pada istri kata Allah, min ayatihi anqakum min anfusikum azwajanu ilaiha. Di antara tanda-tanda kebesaran Allah, Allah ciptakan bagi kalian istri-istri kalian litaskunu ilaiha agar kalian condong kepada istri-istri kalian. Sukun. Ja bainakum mawaddatan warahma. Allah ciptakan cinta kasih, dan kasih sayang. Maka seorang berusaha menjadikan partner hidupnya, istrinya sebagai teman dekatnya. Ajaklah ngobrol. Dan itu sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ngobrol sebelum tidur. Ya. Kata Ibnu Abbas, "Bittu maimunah Nabi wasallam ahlianq." Aku tidur di rumah bibiku Maimunah dan aku dengar Rasulullah ngobrol sama istrinya Maimunah beberapa lama. Kemudian berapa saat kemudian baru ti tidur. Betapa bahagia kalau kita bisa nyambung sama istri. Ngobrol tentang masakan, tentang anak-anak, tentang kegiatan, ketawa-ketiwi, rencana ke mana, rencana jalan-jalan ke mana. Besok enak ngobrol sama istri dan itu lelaki yang paling bahagia, lelaki yang nyaman sama istrinya. Ciri-ciri laki lelaki bahagia itu ciri-cirinya apa? Kalau di luar rumah segera pengin pulang. Itu ciri-ciri apa? Bahagia. Ciri laki bahagia itu sedikit-sedikit telepon istrinya. Tapi kalau istrinya telepon dia sembunyi. Ah, ini ini kasihan. Laki-laki meskipun dia ketawa-ketiwi sama temannya, dia main golof misalnya, dia main apa sama temannya, jalan-jalan pakai motor, pakai mobil, apa mau dia lakukan? Naik gunung, turun gunung. mancing ikan di tengah lautan, naik bot apa segala. Kalau dia tidak tentram sama istrinya, dia belum bahagia yang sesungguhnya. Benar atau tidak, Bapak-bapak? Betul. Benar. Tapi kalau ada lelaki tidak pernah main golof seperti saya, tidak pernah ini, tidak pernah anu, tapi dia kalau pulang ke rumah tentram. Kalau di luar pengin pulang ke rumah istrinya, berarti dia lelaki paling apa? Bahagia. Semua kebahagiaan tadi main golof, mancing itu ya itu jauh dari kebahagiaan kalau s istri. Makanya kita berusaha menciptakan itu dengan izin Allah. Berusaha ngobrol sama istri. Jangan jauh-jauh dari istri. Ketemu istri ngobrol, "Sayang, gimana masak apa hari ini?" Ngobrol yang nyambung. Ikan apa tadi? Gimana waktu goreng? Mau ngobrol ngarung ngidul aja enggak apa-apa. Yang penting apa? Yang penting nyaman. Saya ini S3 tapi saya enggak pernah ngobrol sama istri. Sayang, tahu enggak hukum fikih ini ngapain? Ada khilaf di kalangan para ulama. Ngapain? Ini hadis dif perawinya ada begini. Ngapain saya ngobrol seperti itu? Saya ngobrol anak-anak bagaimana besok mau makan apa? Besok mau jalan-jalan ke mana? Ini ngobrol yang nyambung-nyambung aja. Sampai kita nyaman sama is istri. Kalau kita sudah nyaman sama istri, ciri-cirinya kita selalu pengin pu pulang. Kalau sudah begitu berarti antum bahagia. Tapi kalau enggak pengin pulang, waduh, ini kamu enggak pulang. Ngapain pulang ketemu babon? Katanya. Udah ini orang paling sengsara. Makanya ciptakan keharmonisan dengan istri. Ngobrol kalau ada yang kurang pasalama nanti dekat ngobrol sebelum tidur ngobrol elus-elus keningnya cium pipinya hangatkan tubuhnya. Hunna libasu lakum antum libasulahun. Ya, mereka adalah pakaian bagimu. Kalian adalah pakaian bagi mereka. Bukan tidur, satu menghadap utara, satu menghadap selatan. Satu main HP, satu main HP. Selimut satu, selimut satu. Selimut golengnya sendiri-sendiri. Apa ini? Apa rumah tangga seperti ini? Kasihan ini rumah tangga sengsara meskipun punya kebun kentang 5 hektar. Tib. Kita lanjutkan berikutnya yang ke berapa? Sembilan. Di antara sebab kebahagiaan adalah dekat dengan anak-anak. Dekat dengan apa? Anak-anak. Allah berfirman, "Almaalu wal banuna zinatul hayati dunia." Sesungguhnya harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia. Allah berfirman, "Zuyinasi hubus syahwati minanisa wal banin." Sungguhnya dijadikan indah pada pandangan manusia di antaranya adalah anak-anak. Di antara musibah yang menimpa banyak orang sekarang jauhnya orang tua dari anak-anak. Anak-anak dengan dunianya sendiri, orang tua dengan dunianya apa? sendiri. Dengan kesibukannya. Padahal di antara kebaikan kita dekat dengan anak-anak. Kita gendong mereka, kita peluk mereka, kita temani mereka. Jadikan itu sarana pahala dan kita akan dapat kebahagiaan di situ. Anak-anak itu kebahagiaan. Banyak orang nangis pengin punya anak, enggak dikasih anak. Kita dikasih nikmat anak, kita malah abaikan. Malah kita abaikan. Dan kalau mereka sudah besar, dekat dengan mereka, ngobrol dengan mereka. Kalau mereka ketemu ingin punya waktu kita ngobrol tidak lama ngobrol. Mereka dekat kita dekat dan kita akan bahagian kebahagiaan berkepanjangan. Nanti kita sudah tua mereka dekat dengan kita. Banyak orang sengsara sekarang sudah tua jauh dari anak-anak. Bahkan sebagian orang anaknya dia sekolahkan sampai tinggi sampai luar negeri ketika dia sakit anaknya enggak datang jenguk durhaka. Kalau antum lihat orang-orang nonmuslim, banyak di antara mereka, tidak semua tapi banyak di antara mereka sengsara di akhir hayatnya jauh dari anak-anak sehingga mereka lebih dekat kepada anjing daripada anak-anak mereka. Beneran? Mereka tidak mau dekat dengan mereka. Masing-masing sibuk dengan urusan mereka. Akhirnya orang tuanya ambil anjing, temani anjing. Ke mana-mana dengan anjing. Padahal di saat-saat itu kita butuh anak-anak dekat, cucu-cucu dekat. Situlah kebahagiaan ketika kita di masa tua. Dan kita harus mulai dari sekarang. Allah sebutkan bahwasanya anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Maka jangan sia-siakan perhiasan ini. Dari sekarang dekat sama anak-anak, ngobrol dengan mereka. Jangan sampai karena kesibukan kita jauh dari mereka. Dan anak-anak juga punya potensi jauh dari kita. Jangan sampai mereka jauh dari kita. Jangan sampai jadikan teman-temannya menjadi penghalang antara kita dengan mereka. Kita harus dekat dengan mereka. Kalau mereka sudah pegang HP terlalu lama, kita ya jangan. Karena HP ini menghalangi aku dengan engkau. HP ini buat aku jauh dari engkau. Saya sayang sama kamu. Peluk dia. Dekat sama anak-anak. Dan kita akan sangat bahagia ketika ternyata sudah dekat anak-anak. Kita ajak diskusi, dia punya pendapat sampai dia kadang nasihati kita, itu kebahagiaan luar biasa. Jadi jangan jauh sama anak-anak. Dan di antara sebab anak-anak nakal karena jauh dari orang tuanya. Jauh dari orang tuanya. Tapi kalau dia dekat sama orang tua, dia mau nakal, dia enggak enak sama orang tua, dia takut menyedihkan orang tua. Tapi kalau dia jauh sama orang tuanya, emang gua pikirin dia nakal aja, cuek. Orang tua mau marah, mau apa dia cuekin aja. Dia lebih dekat, lebih sayang kepada temannya daripada orang tuanya. Dan ini potensi dia dururhaka nanti di kemudian kemudian hari. Kalau dia diurhaka, siapa yang sengsara? Kita yang sengsara. Meskipun kita punya rumah mewah, punya usaha banyak, tapi anak satu saja bikin masalah bisa bikin kita menangis terus. Satu aja. Kita punya anak lima, satu kurang ajar bikin orang tua sedih. Percuma dia punya rumah mewah, percuma dia punya usaha banyak tapi satu kurang ajar bikin dia sedih terus. Di antara sebabnya kita jauh dari anak-anak. Maka kalau ingin bahagia dekat sama anak-anak. Tidak ada salahnya kita yang dahulu nelpon anak-anak. Kita kalau lihat guru-guru kita, syekh-syekh kita, kalau telepon anak mereka luar biasa. Anak mereka telepon. Mereka kalau telepon, "Gimana kabar? Barakallahu fik." Dooain anak-anaknya. Barakallahu fik. Ahallah ilaik. Allah yafiquk. Semoga Allah berikan kau taufik. Baru ngobrol. Kita pernah enggak telepon doain anak-anak? Eh, mana? [Musik] Ngapain aja? Enggak ada. Kasih mukadimah. Gimana? Semoga Allah meridaimu. Semoga Allah menjaga engkau dari segala macam fitnah. Semoga anak-anak dengar bapaknya doain, kira-kira dia sayang sama bapaknya enggak? Kira-kira dia sayang sama bapaknya? Enggak. Dia sayang. Bapak saya doain saya terus. Bukan telepon ngomel. "Kau di mana?" "Ngapain?" "Kenapa kau datang?" "Abi panggil kok enggak Abi telepon kok enggak diangkat?" Ngomel mulu. Nah, di antara sebab kebahagiaan dekat dengan anak-anak. "Ustaz, anak saya semua terlalu terlanjur jauh." Ya sudah perbaiki. Sudah enggak bisa aja. Ya sudah bikin anak baru dekat habis itu [Tertawa] saya bikin anak baru ya. Jangan tambah-tambah lagi ya. Tayib. Di antara yang ke berapa sekarang? 10. Latihan suka berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa taala. Kita ada interaksi. Interaksi dengan istri dan anak ini bisa bikin kebahagiaan. Interaksi dengan kawan-kawan juga bisa bikin apa? Bahagia. Dan terkadang kita butuh interaksi dengan Allah, tidak ada yang lain. Makanya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam hubiba ilaihil khalaq. Ketika dia sudah mimpi berulang-ulang, ada yang mengatakan 6 bulan mimpi terjadi, mimpi terjadi. Tiba-tiba dia dirindukan untuk bersendirian. Maka dia pergi ke Gua Hirah untuk berdiri untuk mengenal dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Akhirnya turun malaikat Jibril, iqra bismi rabbikalladzi khalaq. Dan sebagaimana kita ceritanya, Rasulullah akhirnya menjadi seorang nabi. Setelah Rasulullah menjadi seorang nabi, Rasulullah tidak lagi ke Gua Hira karena ada cara berkhalwat dengan Allah. Tidak harus ke Gua Hira caranya salat malam. Maka Allah gantikan dengan cara berkhalwat dengan salat salat malam. Ya. Maka di antara sebab bahagia adalah salat malam. Kata Nabi, "Wasolu bail wasu niyam tadkulul jannata bisalam." Salatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur, maka engau akan masuk surga dengan penuh apa? Keselamatan. nya masuk salat malam orang sebuah istri sedang tidur, anak sedang tidur kemudian kita salat seakan-akan sedang melihat Allah maka rahmat Allah akan turun banyak ketika malam itu. Makanya Rasulullah bersabda rahimahullah umraan q minallail Allah merahmati seorang suami yang bangun kemudian salat malam kemudian dia bangunkan istrinya kemudian istrinya salat malam kemudian kalau istrinya tidak mau bangun dia percikan air jadi orang yang bangun malam dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala ini sebab keba kebahagiaan sebab kebahagiaan maka latih diri kita untuk biasakan diri salat malam meskipun cuma 10 menit nanti kalau sudah terbiasa naik 15 menit kalau terbiasa lagi naik 20 menit tapi jangan Jangan pernah tinggalkan. Karena kalau saya ibaratkan salat malam adalah charging kita, iman kita. Kita lagi berkhalwat dengan Allah, lagi cari muka sama Allah, lagi pengin diperhatikan sama Allah, maka pasti Allah kasih bahagia dan pasti bahagia dan pasti bahagia. Oleh karenanya latih diri untuk salat salat malam. Alaikum biqiamil fnahu dausihina minqlikum. hendaknya kalian salat malam karena itu kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Ya, saya pengin nanti pulang jangan lupa pasang jam weeker kemudian kerja sama dengan istri untuk salat ma salat malam. Tayib. Yang ke berapa sekarang? 11. Di antara sebab-sebab bahagia, pelajari secara spesifik nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ada kajian tentang nama-nama Allah, pelajari secara spesifik lewat YouTube kek atau ikut kajian langsung. Kenali siapa Tuhan kita ini. Allah kenalkan dirinya dalam Al-Qur'an. Hampir setiap lembar ada nama-nama Allah dan sifat-sifatnya. Hampir setiap lembar Al-Qur'an ada nama Allah dan Nabi juga mengenalkan Allah. Maka kita harus beral apa maksudnya alghfur, arrahim, attawab, al-afu, ya asyakur, alhalim, aladzim, alwasi' maksudnya almajid, al-hamid apa maksudnya? Belajar. Belajar apa bedanya? Sampai detail-detail. Apa bedanya al-afu sama algfur? Apa bedanya gffar sama gfur? Belajar. itu akan buat kita semakin kenal dengan Allah dan semakin dekat dengan Allah. Kapan kita dekat dengan Allah lebih dekat dengan kita. Manron taqtuaian. Siapa yang mendekatkan dirinya kepadaku sejengkal aku akan dekati dengan sehasta. Dan kalau Allah sedekat-dekat dengan kita, kita pasti bahagia. Dan ini di antara cara bahagia yang langsung dengan mengenal siapa yang kita sembah. Caranya di antara yang paling cepat belajar tentang nama-nama Allah. Ada kajian tentang asmaullahi alhusna. Alasmaul husna pelajari Allah artinya apa ya? Arrab artinya apa. Belajar satu demi demi satu. Asyakur, alghfur, assabur apa maknanya? Belajar. Al-halim apa maknanya? Maka khususkanlah pengajian tentang nama-nama Allah dan kita berusaha mengenal Allah Subhanahu wa taala. Saya alhamdulillah ada kajian di YouTube ya tentang nama-nama Allah. Ustaz-ustaz juga banyak. Silakan yang penting kita niat untuk belajar. Tunggu ini qat jam berapa? Jam berapa? 0.30. H. Sekarang ke berapa? 12. 12. 12. Di antara sebab duniawi yang buat kita bahagia, jangan cari musuh sebisa mungkin. Jangan cari musuh sebisa mungkin. Kalau ada orang yang tidak sama dengan kita, tidak harus jadi musuh. Ya sudah kita jauhi aja. Tidak semua orang beda dengan kita, kita musuhi. Saya tidak suka dengan dia. Ya sudah, jangan jadikan musuh. Kau jauhi aja. Enggak usah langsung mu musuhi. Ngomongin dia. Enggak suka sama dia, utarakan ketidaksukaanmu. Enggak harus begitu. Hidup ini ngapain cari musuh. Kita tidak cari musuh saja pasti ada musuh. Apalagi cari musuh. Kalau ada musuh ya kita hadapi dengan baik. Tapi jangan cari mu musuh. Ngapain cari musuh? Bahkan kalau kita harus berpisah dari seseorang setelah kita berkawan dengan dia, berpisahlah dengan cara yang baik. Tidak harus ribut. Kita mungkin masuk dalam suatu perkumpulan, dalam masuk dalam suatu yayasan, masuk dalam suatu ee misalnya tim. Karena kita enggak cocok, ijtihad kita berbeda, pendapat kita berbeda, enggak usah ribut. Aduh, mohon maaf. Baik-baik aja. Meskipun kita jengkel, kita dongkol, kita enggak mesti ribut. Sehingga kita keluar dengan tenang, assalamualaikum. Tidak harus dekat lagi. Sehingga kalau ketemu lagi nyaman. Tapi kalau kita keluar ngamuk-ngamuk, ribut lagi, sudah setiap dengar nama mereka kita jengkel ketemu kita melengos ke kanan, dia melengos ke kiri. Apa? Hidup seperti itu enggak enak. Maka berusaha jangan cari musuh kalau harus berpisah. Berpisah dengan cara yang baik-baik. Misalnya ada satu grup bikin kita jengkel. Jangan kita bilang kalian memang grup kurang ajar brengsek. Ya. Kemudian left cara baik-baik. Semoga grup ini semakin dekatkan kita kepada Allah. Tapi mohon maaf saya lagi sibuk sebentar lagi bulan Ramadan saya masih banyak dosa. Saya pengin sibuk baca Quran. Terima kasih selama ini atas kebaikannya. Mohon maaf atas kesalahan. Assalamualaikum. Live kan enak, enggak usah ribut. Jadi tidak semua kalau kita enggak cocok harus ribut. Ini sebagian orang kalau enggak cocok harus ribut. Tidak cocok di suatu perkumpulan ribut bikin kacau sana sini ceritakan keburukan mereka. Ini namanya kita cari musuh. Hidup ini jangan cari musuh. Musuh akan Allah datangkan. Enggak usah dicari-cari. Kalau bisa teman, teman. Kalau kita cocok dia sama kita, perbedaan 80% ada kecocokan 20% ya sudah kita ngapain ribut? Enggak usah ribut. Kalau ketemu pas 20% 80% kita bisa enggak usah ribut. Itu di antara cara bahagia. Di antara cara bahagia. Tib. Sekarang yang ke berapa? 13. Di antara cara bahagia dan ini disebutkan oleh Ibn Taimiyah dalam kaidah tentang saba dan juga disinggung oleh As'di dalam kitabnya Alwasail Mufidah lil Hayati Saidah, yaitu jangan terlalu sibuk dengan orang yang menzalimi kita. Kita ini suatu saat akan dizalimi orang. Entah dengan menzalimi terkait dengan fisik kita atau menzalimi kita terkait dengan harta kita atau menzalimi kita terkait dengan harga diri kita. Kita dihina-hina, direndahkan. Maka di antara sebab agar kita bahagia jangan terlalu peduli dengan kezaliman yang menimpa kita. Ya sudahlah kita istigfar. kita ini mungkin dizalimi karena punya dosa. Segera kita kembali kepada Allah. Jangan terlalu sibuk untuk membalas. Jangan terlalu sibuk untuk membalas. Ya, bahkan kata Syekh S'di, sejauh mana kita sibuk ngurusin orang yang menzalimi kita, sejauh kita sejauh itu kita akan sengsara. Tapi kalau kita menjauh, dia ngomong-ngomongin kita jelek, biarin aja sudahlah. Bahkan kalau perlu kita tidak perlu melihat, mendengar apa yang dia ucapkan sama kita. Enggak usah kita tahu dia ngomongin kita, enggak usah, enggak usah perlu tahu. Enggak perlu tahu. Ngapain? Kita tahu kita tambah jengkel. Ada pernah orang kirim klip, "Ustadz, ini orang jelek-jelekan antum. Saya langsung hapus kemudian saya balik. Kau kirim lagi sekali lagi, saya blokir kau. Saya tidak suka gini-gini. Saya sudah tahu ada orang enggak suka sama saya dan saya tidak mau dengar. Kalau saya dengar itu saya jengkel akhirnya saya ribut sama istri." Ngapain saya mau ketahwa-ketiw? Ngapain ngurusin orang miso-miso apa jelek-jelekin kita? Ngapain gak usah. Justru kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala, "Kalau kau dizalimi yang pertama kau lakukan adalah engkau bertobat kepada Allah dan kau tahu bahwasanya tidaklah kezaliman ini menimpamu kecuali akibat dosa-dosamu." Dan ini adalah dampak baik dari kita dizalimi untuk introspeksi diri. sadar bahwasanya kita penuh dengan kesalahan. Kata Ibnu Taimiyah, "Jruzalimi kemudian kau fokus membalas dan kau lupakan dirimu dan kau tetap merasa dirimu tinggi, kau tidak merasa punya salah, tidak merasa punya dosa." Kata Ibnu Taimiyah, "Musibah ini, musibah dirimu ujub itu lebih parah daripada musibah kau dizalimi orang lain." Maka jangan terlalu sibuk dengan gangguan orang. Sejauh mana kita sibukin diri kita ngelihat perkataannya apa pembicaraannya kita tambah s sengsara. Cuekin aja enggak usah di dihiraukan. Benar kata Allah wa a'rid anil jahilin. Berpaling dari orang-orang yang yang jahil. Bab ti sekarang ke berapa? 14. Carilah kesibukan yang bermanfaat karena Allah. Carilah kesibukan yang bermanfaat karena Allah. Di antaranya olahraga karena Allah punya tim olahraga entah main sepeda, entah main tenis meja, entah olahraga karate misalnya, olahraga apa saja. Niatkan untuk badan sehat supaya kuat beribadah, supaya bisa ngurus anak istri, butuh badan yang sehat, supaya bisa cari nafkah, saya olahraga karena Allah. Tapi tidak boleh berlebih-lebihan. Ada aturannya, ada batasannya. Dan itu membuat kita bahagia. Karena tubuh yang segar, tubuh yang energik buat kita bahagia. Tapi kalau lemas di rumah saja buntu. Otak apa? Buntu ya. Malas-malasan, cepat emosi, darah tinggi, kolesterol naik, gula naik. Ini cepat ini repot, cepat mati seperti ini. Oleh karenanya olahraga karena Allah itu di antara sebab apa? Kebahagiaan. Ganti suasana olahraga dengan teman-teman ketemu ketemu teman-teman. Di antara kegiatan bermanfaat misalnya jebakkan diri dalam kegiatan bermanfaat seperti jadi DKM ngurus masjid atau jadi panitia pengajian sehingga otak kita sibuk mikir gimana datangkan ustaz gimana nanti bagaimana kapan cara mengundang bagaimana supaya acara bisa berjalan dengan baik supaya dakwah bisa tersebar kita habiskan pikiran kita untuk seperti itu. Ini didatangkan kebahagiaan karena kalau kita tidak sibukkan waktu kita dengan kebaikan kita akan disibukkan dengan yang tidak bermanfaat. Itu sudah kaedah alqtuaifam taqtaka. Waktu seperti pedang. Kalau kau tidak patahkan pedang tersebut, pedang tersebut akan membabatmu. Waktu inam tusgilhu filhair yusgilka far. Waktu kalau kau tidak gunakan untuk kebaikan maka dia akan menjebakmu dalam keburukan. Maka jebaklah diri dalam kegiatan yang positif. Namun ingat karena Al Allah. Karena Allah. Yang ke berapa sekarang? Di antara sebab kebahagiaan berteman dengan orang-orang saleh. Cari teman-teman saleh. Jangan cari teman yang tidak saleh. Teman orang saleh kita dengar perkataan yang baik, dia tahu bagaimana bermuamalah dengan teman. Dia memuliakan saudara, dia memuliakan tamu. Ya, dia tidak pelit. Tapi kalau teman pelit, menderita. Teman pelit apa? Men menderita ke mana-mana pelit. Dia bilang, "Ayo numpang sama saya naik mobil saya. Kita pengajian." Oh, masyaallah. Dia jemput. Ternyata sampai pembensin. Kata dia, "Kita bayar bensin bareng, ya." Masyaallah. Ada yang begitu? Ada. Ini saya cerita kisah nyata ya. Ada yang begitu. Gak enak punya teman pelit. Sampai ada kawan terkenal pelit, pelit sekali. Tumben kawan itu tiba-tiba ngajak makan. Dia traktir makan. Ayo makan, makan, makan. Uh, ini pelit kok ngundang makan. Tumben. Pada datang semua makan. Begitu selesai makan, aduh saya lupa dompet saya ketinggalan. Modus. Zaman dulu belum ada kiris, akhirnya bayar sendiri-sendiri. Cari teman yang saleh, yang baik, yang mau nasihati kita, yang ngajak kita pengajian, yang mengingatkan kita kepada akhirat. Apa ciri teman saleh? Kita berteman dengan dia, kita semakin dekat dengan Allah. Ciri teman buruk, kita berteman dengan dia, jalan seminggu, 2 minggu, sebulan kok semakin jauh dari Allah. Ini teman buruk membuat saya lupa dengan akhirat. Rasulullah menyebutkan di antara manusia-manusia terbaik, alladina ru zukirallah, yaitu orang-orang yang jika dilihat membuat kita ingat kepada Allah Subhanahu wa taala. Itu teman baik dekati. Ini teman bikin kita bahagia. Teman kitaat buat kita bahagia. Dia tahu dia tidak nyinyir kita. Dia tidak menghinakan kita. Dia tidak merendahkan kita. Dia tahu bagaimana adab berteman. Kalau punya teman seperti ini, pegang erat-erat karena dia adalah sebab kebahagiaan. Kemudian di antara sebab kebahagiaan yang terkadang kita lupakan sering baca Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab kebahagiaan. Thaha ma anzalna alaikal qurana litasqo. Kami tidak, aku tidak mengelur, kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepada engkau ya Muhammad supaya kau sengsara. Kata sebagian ahli tafsir, a litas. Tetapi Al-Qur'an supaya kau bahagia. Ruha min amrina. Allah mengatakan Al-Qur'an adalah roh dari perintah Kami. Karena siapa yang baca Quran, hatinya menjadi hidup. Hatinya menjadi apa? Hidup. Dan dia akan bahagia. Dia akan bahagia. Kenapa kita tidak bahagia? Karena kita jarang baca Al-Qur'an. Bahagia itu mudah. Sehari kita baca Quran berapa halan, berapa lembar, apalagi sampai satu juz, pasti bahagia. Pasti bahagia. Pasti bahagia. Cuma kita tidak baca Al-Qur'an. Bahkan sebagian ulama mengatakan, "Siapa yang sedih baca surat Yusuf pasti berkurang kesedihannya. Baca dengan tadabur pasti berkurang kesedihannya. Karena Al-Qur'an itu membuat hilang penyakit hati. Wasifaul lima fur yaasuq jaakum maikum wasifa fur." Telah datang Alquran yang merupakan wejangan bagi kalian. Dan obat bagi hati kalian. Penyakit hati, sedih, apa semua akan hilang dengan kita baca Al-Qur'an. Minal qurani maufa warahmatul lil mukminin. Kami turunkan Alquran yang Al-Qur'an merupakan obat dan rahmat bagi kaum mukminin. Baca laallakum turhamun. Kalian akan dirahmati. Nama rahmat membuat kita bahagia. Jadi ikhwan akhwat, bapak-bapak, ibu-ibu kerja sama. Ingatkan istri, "Sayang, sudah baca Quran enggak hari ini? Jangan sungkan-sungkan lah. Kamu baca Quran enggak?" "Sudahlah, makanya saya ingatkan kamu." Gitu. Kerja sama baca Quran. Jangan kerja sama nonton Korea. Jangan baca Quran. Mau bahagia baca Quran. Pagi sudah baca Quran belum? Belum. Sebelum tidur baca Quran? Siang sudah baca Quran belum? Rumah berkah, kita bahagia karena kita sempatkan diri untuk baca Al-Qur'an. Berikutnya di antara sebab kebahagiaan, jangan terlalu banyak nonton berita. Berita-berita itu bikin hati menjadi sakit dan akhirnya kita sibuk mengingat dunia dan kita lupa ingat akhirat. Makanya Ibnu Aun berkata, "Zikrullahi dawa wikrun nasda." Mengingat Allah adalah obat dan mengingat manusia adalah penyakit. Terlalu banyak nonton berita, berita anu, berita ini, berita anu, berita ini. Kita tahu sekedarnya boleh, tapi jangan terlalu dalam-dalam tahu. Dan berita tidak akan pernah ada habisnya. Berubah-rubah, berganti-ganti tidak akan pernah ada habisnya. Kalau mau ikuti habis waktu kita. Sehingga akhirnya kita tidak sempat untuk mikirin apa? Akhirat. Kalau kita jarang ingat akhirat, hati kita kaku, hati kita keras, dan kita tidak bahagia. Tidak bahagia. Di antara sebab kita bahagia adalah dengan ingat akhirat. Caranya dengan baca Al-Qur'an. Dan Al-Qur'an menakjubkan. Antum baca Quran di malam hari, antum menangis, antum menangis, antum bahagia. Sebaliknya ada orang ketawa ketiwi, ketawa ketiwi dia tidak bahagia. Kenapa bahagia yang pegang Allah Subhanahu wa taala? Antum baca Quran sampai nangis pasti bahagia. Pasti bahagia karena jangan pernah menyepelekan baca Al-Qur'an. Sekarang yang ke berapa? 18. Di antara sebab kebahagiaan, jangan suka ingat-ingat kesedihan masa lampau. Kesedihan sudah berlalu dan tidak akan bisa kita rubah. Sudah kita beriman dengan takdir. Innama eh innama najwa minasyaitani liyahzunalladzina amanu. Sesungguhnya setan ingin membuat orang beriman bersedih. Oleh karenanya tidak ada kesedihan dalam Al-Qur'an kecuali disebutkan dalam bentuk celaan. yaitu kesedihan yang berlebihan. Sedih boleh, tapi tidak boleh berlebihan. Karena kalau orang sedih berlebihan, dia tidak fokus untuk beramal saleh dan akhirnya banyak kewajiban akhirnya tidak bisa dia kerjakan. Dia susah nuntut ilmu, dia susah ngurus istri, susah ngurus anak. Kalau istri terlalu sedih, susah ngurus suami, berlebihan. Makanya al Imam Syafi'i rahimahullah mengatakan, "Makruh untuk takziah lebih dari 3 hari." Kenapa sebabnya? Liannahu yujaddidul huzna. Kata Imam Syafi'i, "Karena takziah setelah hari ketiga itu hari keempat dan seterusnya hanya memperbaharui kesedihan. Kita boleh sedih tapi ada aturannya, tidak boleh berlama-lama. Yang sudah lalu sudah kita bilang qadarallah wya afa'al sudah terlanjur. Innalillahi wa innaaihi rajiun." Kapan kita diingatkan lagi? Kita bilang qadarallah. Setiap kita diingatkan masa lalu kita bilang qadarallah. Kita bilang alhamdulillahi ala kulli hal. Itu pasti yang terbaik bagi saya. Pasti ada hikmah di balik itu. Maka jangan kita sengaja mengingat masa lalu. Jangan. Yang menyedihkan sebagian wanita anaknya meninggal, bonekanya dia pajang di kamar tidur. Boneka anaknya nangis tiap malam. Nangis tiap malam. Suaminya agak ajak berhubungan intim, dia nangis. Salah itu boneka. Jangan taruh di situ. Bikin sedih. Kalau sudah sedih, susah beramal saleh, tidak melaksanakan kewajiban, itu yang terjadi. Oleh karenanya, masa lalu biarlah berlalu. Belaji pelajaran bagi kita untuk kita memperbaiki diri. Adapun kita mengenang-menenang, masuk sedih terus sedih terus percuma tidak ada faedahnya tidak bisa merubah kondisi yang sekarang enggak bisa. Takdir Allah Subhanahu wa taala. Maka jangan coba-coba mengingat masa lalu yang menjadi. Enggak usah itu qadarullah. Sekarang kita pikir yang di depan. Yang berikut yang ke berapa? 19 dikatakan seorang adalah ibnu yaumihi. Seorang fokus dengan yang di depan dia. Jangan terlalu lihat masa lalu dan jangan terlalu khawatir masa depan. Dan itu ciri orang beriman ya. Ala in auli allahai khaufun alaihim w hum yahzanun. Alladina amanu wau yattaquun. Ketahuilah orang wali-wali Allah la khaufun alaihim. Tidak perlu khawatir atas mereka. Walah wum yahzanun. Dan mereka tidak bersedih. Siapa mereka? Alladina amanu wau yattaquun. Wali-wali Allah tersebut adalah yang beriman dan bertakwa. Kita fokus yang masa depan jangan terlalu gelisah sehingga kita akhirnya tidak fokus dengan yang sedang kita kerjakan sekarang. Seperti sebagian orang bertanya kepada saya, "Ustaz, apa yang saya lakukan sekarang?" "Loh, kamu kan mahasiswa. Sekarang belajar sebaik-baiknya. Jangan pikir nanti saya lulus ke mana." Itu urusan belakangan. Yang terbaik yang bisa kau lakukan sekarang. Lakukan. Jangan nanti saya lulus, saya mau ke mana. Nanti nanti ada yang mau kawin sama saya itu nanti. Jangan mikir sekarang. Sehingga orang akhirnya ham gam mengkhawatirkan masa depan yang terlalu berlebihan. Itu karena kurang tawakal. Yang bisa kau lakukan agar kau tidak agar kau bahagia. Sibukkan dengan yang ada di depan matamu. Masa depan serahkan kepada Allah. Dia bukan di tanganmu. Masa depan bukan di tanganmu. Masa lalu biarkan berlalu. Sibuk dengan apa yang di depanmu sekarang ini. Itulah ciri-ciri orang beriman. La khaufun alaihim walah hum yahzanun. Tidak ada kekhawatiran tentang masa depan dan mereka tidak selalu menyedihkan masa masa lalu. Itulah ciri orang beriman. Kenapa tawakalnya tinggi? Jadi kalau ada anak nanti B gimana Biang sibuk belajar aja enggak usah mikir. Nanti depan baru kita mikir. Jangan terlalu mikir ke depan. Karena terlalu khawatir ke depan belum tentu terjadi. Sudah gelisah duluan belum tentu terjadi. Nanti saatnya terjadi hadapi. Ini belum terjadi. Sudah sedih, sudah gelisah. Uang belum tentu terjadi. Yusibana illa maataballahuana. Kalaupun terjadi, katakanlah tidak menimpa kami kecuali yang telah Allah tetapkan. Mau diapain? Lihat banyak orang terlalu khawatir, akhirnya sakit akhirnya meninggal. Kekhawatiran yang berlebihan. Kalau ada hadapi. Kalau belum ada jangan terlalu banyak mikir. Mikir yang sedang kita fokus yang bisa bermanfaat sekarang kerjakan. Kita k kerjakan. Sekarang yang ke berapa? Yang terakhir berarti di antara sebab kebahagiaan meninggalkan maksiat sejauh mungkin. Ketahuilah setiap maksiat yang kita lakukan mencoreng kebahagiaan kita, merebut kebahagiaan kita. Semua maksiat. Kita dengar musik-musik akan merusak kebahagiaan. Lezat-lezat tapi tidak bahagia. Kita nonton film Korea lezat tapi tidak bahagia. Ada kebahagiaan yang kita korbankan. Saya sering sampaikan contoh. Kalau kita suka nonton film Korea, akhirnya kita tidak hasrat lagi sama istri. Kenapa? Karena kita sering lihat wanita cantik, istri kita yang cantik akhirnya tidak kelihatan cantik lagi. Apalagi memang kurang cantik. Yang cantik aja sudah enggak kelihatan cantik gara-gara sering nonton film apa? Korea. Perempuan juga yang suka nonton laki-laki sama suami tidak ada hasrat. Kenapa dia suka lihat laki-laki yang tam tampan? Suaminya harus tampan, harusnya tampan jadi kelihatan jelek. Harusnya putih jadi kelihatan donat gosong. Oleh karenanya maksiat itu pasti mengorbankan kebahagiaan kita. Pasti. Lihat betapanya orang tidak bisa bahagia sama istrinya. Gak bisa. Tidak bisa mencapai kelezatan. Dia nonton main barang macam-macam sehingga dia berfantasi. macam-macam. Sampai ada kasus ada saya punya kawan ya jadi dokter saya banyak orang istrinya sudah cantik dia sampai enggak bisa berhasrat sama istrinya maunya sama wanita lain. Bayangkan ada sumber kenikmatan di rumahnya tidak bisa dia rasakan. Kenapa dia terlalu banyak maksiat? Itu berarti apa? Kelesatan Allah cabut. Kelesatan Allah cabut. Maka semua maksiat yang kita lakukan benar datangkan kelezatan, tapi ada kebahagiaan yang Allah ca cabut. Maka kalau kita bermaksiat segera kita istigfar. Segera istigfar. Setiap kalau kita memandang haram, segera kita is istigfar. Apa kata seorang penyair tentang maksiat? Benar, maksiat itu mendatangkan kelezatan, tapi kelezatan bukan berarti kebahagiaan. Minal harquelez akibat maksiat akan sirn. gara-gara maksiat dari perkara yang haram. Dia rasakan kelezatan yang luar biasa dari kemaksiatan tersebut. Dia joget-joget mendengarkan musik-musik benar-benar dia merasakan kelezatan. Dia nonton film dia benar merasakan kelezatan. Dia zina benar-benar merasakan kelezatan. Dia minum khamar dia benar-benar merasakan nikmatnya kelezatan. Dia narkoba, dia merasakan nikmatnya kelezatan. Tapi kelezatan tersebut cepat sirna. Setelah itu dia sengsara. Pengin lagi, pengin lagi, pengin lagi. Sengsara setelah itu. Kalau tidak melakukan maksiat, dia gelisah. Allah kasih sengsara. Sisanya apa? Yang sisa hanyalah dosa dan kehinaan. Yang tersisa hanyalah dampak yang buruk dan tidak ada kebaikan terhadap kelezatan yang ujungnya adalah neraka jahanam. Orang kalau sudah maksiat dia sengsara meskipun dia berlezat-lezat. Orang kalau sudah berzina dia tidak bisa berhenti. Sibuk pikirannya cari wanita baru. Cari sengsara, gelisah gelisah. Istrinya dia sudah tidak rasa sengsara. Sengsara. Oleh karenanya kalau kita maksiat segera is istigfar. Terakhir saya ingin sampaikan bahwasanya kebahagiaan bukan berarti kita tidak sedih, tidak kita tidak khawatir. Sedih dan khawatir adalah tabiat kehidupan dunia yang tidak ada sedih, tidak ada khawatir sama sekali cuma di mana? Di surga. Tapi orang beriman kalau dia beriman kesedihan akan dia lewati, kekhawatiran akan dia lalui. Segera berubah dengan apa? Iman dan takwa dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita ditimpa musibah, sabar. Sabar dan berpikir positif kepada Allah. Husnuzan kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan kita berusaha melakukan sebab-sebab kebahagiaan. Semoga Allah memberikan kebahagiaan bagi kita semua. Demikian saja kajian kita, semoga bermanfaat. Tidak ada tanya jawab. Wabillahi taufik walhidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.