Transcript
5NwyMxhmmyc • Ciri Orang Yang Dicintai Allah, Yang Kamu Tidak Suka - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2565_5NwyMxhmmyc.txt
Kind: captions Language: id Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruhu watubu ilaih wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati aalina may yahdihillahu fala mudhillalah w yudlil fala hadiyaalah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu waasuluhu nabi Muhammadinallahu alaihi wasallam um bidah bidah finar maasal musliminahqal muttaquun. Sesungguhnya di antara kenikmatan teragung ajallun nikmah dan juga karunia teragung afdolu fadilah adalah mahabbatullah lil abd. Yaitu Allah mencintai seorang hamba. Siapa yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala sang makhluk dicintai oleh sang khali sang pencipta maka ini adalah karunia yang terbesar yang diraih oleh seorang hamba. Jika kita di dunia seorang dicintai oleh seorang pembesar atau pejabat atau pemuka agama, tentu dia akan sangat bahagia dan dia akan sangat gembira. Apatah lagi jika yang mencintainya adalah penguasa alam semesta ini. Yang menciptakannya, yang menentukan segala perkara di alam semesta ini. Dialah Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya seorang berusaha agar bisa dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Siapa yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, maka dia akan meraih beberapa keistimewaan. Di antaranya jika seorang telah dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, maka dia akan terkenal di langit, di para penghuni langit, di kalangan para malaikat, di tujuh langit, lapis langit yang ada di atas. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Idza ahaballahu abdan daa Jibril." Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril. Fqul. Maka Allah berkata kepada Jibril, "Ya Jibril, inni uhibbu fulanan. Sesungguhnya aku telah mencintai si fulan wahai Jibril fahibbah." Maka cintailah dia. Jibril ahlama. Kemudian Jibril alaihi salam memberi pengumuman kepada penghuni langit yaitu tujuh lapis langit itu para malaikat yang ada di sana. Maka Jibril berkata, "Innallaha ahabba fulanan fahibbuh." Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka seluruh penghuni langit pun mencintai hamba Allah tersebut. Kemudian pun orang-orang beriman di atas muka bumi pun akan mencintainya. Maka jadilah dia terkenal di langit dan dicintai oleh orang-orang beriman di atas muka bumi. Kemudian keistimewaan yang kedua, jika seorang telah dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, maka tidak mungkin Allah akan mengazabnya. Bagaimana kekasih akan menyiksa kekasih-Nya. Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasra yang mengaku-ngaku bahwasanya mereka kekasih Allah. Allah berfirman, "Waqatil yahudu nasar nahnu abnaullahi wa ahibuh." Berkata orang-orang Yahudi dan Nasra, "Kami adalah pilihan-pilihan Allah dan kami adalah kekasih-kekasih Allah." Maka Allah bantah mereka. Kata Allah, "Qul falim yadbukum bidunubikum." Katakanlah Muhammad kepada mereka sebagai bantahan kepada mereka. Kalau kalian dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala, falim yadibukumubikum. Lantas kenapa Allah mengazab kalian karena dosa-dosa kalian? Buktinya orang-orang terdahulu dari kalian, nenek moyang kalian ada yang pernah dirubah menjadi babi-babi dan monyet-monyet. Kata Allah, "Kunu qirodatan khasiin." Jadilah kalian monyet-monyet yang hina. Kata Allah, "Wa jaala minhumulqir wal khanazir." Dan di antara Bani Israil ada yang Allah jadikan babi-babi dan monyet-monyet. Mana mungkin jika Allah mencintai Bani Israil seluruhnya tanpa terkecuali kemudian di antara mereka ada yang dirubah menjadi babi-babi dan monyet-monyet, tidak mungkin kekasih akan menyiksa kekasih-Nya. Demikian juga orang-orang Yahudi sendiri telah bersaksi dengan mulut mereka. Mereka berkata, "Waqalu lan tamassananaru illa ayyam ma'dudah." Kata mereka, "Kami tidak akan disiksa oleh api neraka kecuali hanya beberapa hari saja." Mereka ngaku kalau mereka bejat mereka akan disiksa. Kata mereka meskipun beberapa hari. Kalau dicintai oleh Allah, tidak mungkin Allah siksa meskipun sehari pun, apalagi beberapa hari di neraka jahanam. Dan Allah telah menjanjikan siksaan bagi mereka karena mereka kafir kepada Allah. Maka ini dalil bahwasanya Allah tidak mungkin mengazab hamba yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Karena kekasih tidak akan menyiksa kekasih-Nya. Di antara kesimiwaan orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, maka Allah akan membimbingnya. Dia pandangannya akan dibimbing oleh Allah subhanahu wa taala. Pendengarannya akan dibimbing oleh Allah subhanahu wa taala. Dia tidak akan betah melihat yang haram. Dia tidak akan betah mendengar yang haram. Dia tidak akan betah berkata-kata yang haram. Dalam hadis qudsi kata Allah Subhanahu wa taala, wala yazalu abdi yataqoru il binwafil hatta uhibbah. Senantiasa hambaku mendekatkan dirinya kepadaku dengan perkara-perkara yang sunah sampai aku mencintainya. ahbu, kalau aku sudah mencintai hambaku aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengan pendengaran tersebut aku menjadi penglihatan yang dia melihat dengan penglihatan tersebut. Aku menjadi tangan yang dia memegang dengan tangannya tersebut yamsi alaiha dan aku menjadi kakinya yang dia melangkah dengan kakinya tersebut. yaitu Allah akan membimbing matanya, pendengarannya, tangannya, dan kakinya sehingga dia senantiasa ingin dengan kebaikan dan dia tidak betah jika melakukan hal-hal yang haram. Dalam sebagian riwayat, kuntu qolbahulladzi yaqilu bihi walisanahulladzi ytiqu bihi. Aku akan menjadi hatinya yang dia berpikir dengan hatinya tersebut dan aku menjadi lisannya yang dia berbicara dengan lisannya tersebut. Orang yang dicintai oleh Allah, dia tidak menjadikan pikirannya liar untuk memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi pikirannya diarahkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk memikirkan yang baik-baik karena dia dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Orang yang dicintai oleh Allah tidak dijadikan lisannya liar untuk berbicara sesukanya, seenaknya. Karena dia dicintai oleh Allah subhanahu wa taala maka lisannya dibimbing oleh Allah subhanahu wa taala. Allah tidak akan biarkan jari-jarinya mengetik dengan ketikan yang dia sukai, tetapi dia akan mengetik kata-kata yang baik yang karena dia dibimbing oleh Allah subhanahu wa taala. MaaSyiral muslimin, akan tetapi orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala ternyata dijanjikan untuk diuji oleh Allah subhanahu wa taala. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Innallaha ahabbaan ibtalahum." Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Allah menguji mereka karena Allah sayang kepada mereka agar mereka semakin tinggi level iman mereka sehingga mereka semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa taala dan mereka semakin merasakan keindahan nikmat ibadah kepada Allah subhanahu wa taala. Oleh karenanya jika orang semakin imannya semakin tinggi semakin dicintai oleh Allah maka ujiannya semakin berat. Rasul sahu alaihi wasallam pernah ditanya man asyadunasi balaan? Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berat ujiannya? Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Asyaddunasi balaan al anbiya." Orang yang paling berat ujiannya yaitu para nabi. Karena mereka yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Tumm shihun. Kemudian orang-orang saleh. Tummal amsal fal amsal. Kemudian berikutnya dan berikutnya sesuai dengan kadar keimanannya. Maka seorang berusaha untuk meraih cinta Allah kepadanya agar jika dia telah dicintai oleh Allah subhanahu wa taala dia akan bahagia di dunia terlebih lagi di akhirat kelakulu qui hadza astagfirullahakum wal musliminah fastagfiruhu innahu halal gofururahim Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah takzim lisani wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani maasyiral muslim secara umum segala amalan saleh yang kita lakukan membuat kita semakin dicintai oleh Allah dan segala maksiat yang kita terjang yang kita lakukan semakin menjauhkan kita dari cinta Allah kepada kita. Akan tetapi di sana ada amal-amal khusus yang secara spesifik disebutkan dalam Al-Qur'an maupun sunah. Siapa yang melakukannya maka dia akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Di antara amalan-amalan tersebut adalah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala. Allah berfirman, "Wallahu yuhibbul muttaqin." Allah mencintai orang yang bertakwa, yaitu takwa menjalankan amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Di antaranya, "Allah yuhibbul mutawakilin." Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Semakin seorang senantiasa menyadarkan dirinya kepada Allah, tidak bergantung kepada makhluk bahkan tidak bergantung kepada dirinya sendiri, tapi senantiasa dia bergantung kepada Allah dalam segala hal, dalam segala kegiatan, baik perkara dunia maupun ibadahnya, maka dia semakin dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Dan di antara doa Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya hayu ya qayyum birahmatika astagli wni nafsi ain." Wahai alhayyu yang maha hidup, qayyum yang maha menegakkan segalanya, maha tegak dan menegakkan segalanya. Birahmatika dengan rahmatmu aku mohon pertolongan kullah. Perbaikilah segala urusanku takilni nafsiin. Dan jangan kau biarkan aku bersandar kepada diriku sendiri. meskipun hanya sekedip mata ya. Karena itu Nabi sallallahu alaihi wasallam senantiasa berdoa dalam segala aktivitasnya karena dia selalu bersandar kepada Allah. Semakin seorang senantiasa bersandar kepada Allah maka dia semakin dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Janganlah seorang pegawai menyandarkan rezekinya kepada bosnya. Gak rezeki dari Allah subhanahu wa taala. Bos pekerjaan hanyalah sarana. Sumber rezeki adalah Allah Subhanahu wa taala. kebahagiaannya di tangan Allah subhanahu wa taala, keberuntungannya di tangan Allah subhanahu wa taala dan seluruhnya dia gantungkan dirinya kepada Allah subhanahu wa taala. Itu namanya orang yang bertawakal kepada Allah subhanahu wa taala. Di antara amalan yang mendatangkan kecintaan Allah subhanahu wa taala adalah al-ihsan. Wallahu yuhibbul muhsinin. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Al-ihsan dua terkait. Kaitan pertama adalah kaitan dengan ketika kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ali ihsan anudallaha kaakaahu faillam takun tarahu fainnahu yar." Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika kau tidak bisa melakukannya, yakinlah Allah melihatmu. Kapan kita beraktivitas dan kita merasa Allah mengawasi kita, maka itu alat al ihsan. Semakin kita menghadirkan hal ini, selalu merasa diawasi oleh Allah dalam salat kita, dalam puasa kita, dalam baca Quran kita, dalam aktivitas ibadah, maka Allah semakin mencintai kita. Ini makna ihsan. Dan makna ihsan yang kedua terkait dengan sikap kita terhadap hamba-hamba Allah yang lain untuk berbuat baik kepada orang lain, bersedekah, memaafkan, meredam amarah. Kata Allah Subhanahu wa taala, mutta surga kami siapkan bagi orang yang bertakwa. Siapa mereka orang bertakwa tersebut? Kata Allah, wallahu yuhibbul muhsinin. Orang-orang bertakwa yaitu orang-orang yang senantiasa berinfak. Dalam kondisi lapang mereka berinfak dalam kondisi sulit mereka juga tetap berinfak meskipun nominalnya mungkin lebih sedikit. Mereka meredam amarah. Meredam amarah karena Allah subhanahu wa taala. Dan mereka memaafkan orang lain yang menzalimi mereka. Mereka maafkan karena Allah subhanahu wa taala. Setelah itu Allah berfirman, "Wallahu yuhibbul muhsinin." Allah mencintai orang berbuat ihsan. Kita berbuat ihsan sama orang lain. Maafkan dia. Jangan emosi kepada dia. Berbuat baik kepadanya. Berbuat baik kepada orang lain. Jangan pelit sama orang lain. Berbuat baik kepada kerabat. Maka semakin kita berbuat baik, maka kita dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Apatah lagi jika seorang sedang berbuat baik, dia menghadirkan dalam dirinya bahwasanya Allah sedang melihatnya. Ketika dia berbuat baik kepada adiknya, kepada kakaknya, kepada kerabatnya, dia tahu Allah sedang menilai saya. Maka dia semakin dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Di antara amal yang menjadikan dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, wallahu yuhibbul muqsitin. Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. Berbuat adil dalam perkataannya, dalam perbuatannya. Tidak pandang bulu dalam keadilannya, tidak membela keluarganya, tidak membela kerabatnya, tidak membela kawannya, tapi dia bersikap adil dalam bersikap karena Allah subhanahu wa taala, maka Allah pun mencintainya. Dan di antara amalan yang sangat agung yang menjadikan seorang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala adalah sabar. Allah berfirman, "Wallahu yuhibbusirin." Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar. Maasyiral muslimin, dalam kehidupan ini banyak sekali perkara-perkara yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Kita tidak sedang di surga. Yang kita inginkan semua akan terkabulkan. Yang kita hasratkan semua akan diberikan oleh Allah subhanahu wa taala. Kita sedang hidup di dunia darul ibtila negeri tempat ujian yang Allah menciptakan kita memang untuk diuji dan Allah menyiapkan sarana dan prasarana untuk bahan menguji kita. Maka banyak perkara yang tidak sesuai dengan keinginan kita, banyak cita-cita kita yang meleset tidak sesuai dengan harapan kita. Maka bersabarlah. Sesungguhnya orang yang bersabar maka dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Semakin kita bersabar semakin dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Wallahu yuhibbusirin. Allah mencintai orang yang bersabar. Anda ingin dicintai oleh Allah, sabar. Anda ingin Allah jauh dari Anda, tidak usah bersabar. Di antara cara agar kita bisa kuat sabar kita, dua hal. Yang pertama, yakinlah kita tidak bisa bersabar kecuali Allah yang menyabarkan. Allah berfirman, "Wasbir wama shobruka illa billah." Bersabarlah dan kau tidak bisa bersabar kecuali karena Allah. Oleh karenanya kalau kita bersabar, jangan kita andalkan ilmu kita, jangan kita andalkan akhlak kita. Yang kita andalkan Allah, "Ya Allah, sabarkan aku. Ya Allah, kuatkanlah aku. Aku tidak bisa bersabar kecuali Kau yang menyabarkan. Terlalu berat ujian di hadapanku. Hamba-Mu ini lemah ya Allah. Sabarkanlah hamba-Mu ini." Maka insyaallah kita bisa bersabar ketika kita bersandar kepada Allah subhanahu wa taala. Yang kedua, agar orang sabarnya bisa continue. Karena banyak yang bersabar tapi tidak kontinue. Sebentar kemudian dia jatuh, tidak bisa bersabar terus-menerus. Untuk bisa bersabar secara kontinue, ikhlas ketika bersabar. Allah menguji, memuji orang-orang bersabar. Kata Allah Subhanahu wa taala, walladinaar wajhibihim. Dan orang-orang yang bersabar karena mencari wajah Allah. Jadi ketika kita bersabar karena Allah, bukan kita bilang, "Ah, saya bersabar nanti daripada saya marah, nanti masalah saya mungkin lebih parah kondisinya." Itu kita bukan bersabar karena Allah, kita bersabar karena ingin selamat duniawi. Enggak. Itu perkara kedua. Perkara ketiga. Perkara pertama kalau kita sabar. Saya sabar karena ini perintah Allah. Saya sabar karena saya ikhlas kepada Allah. Saya sabar karena saya mencari wajah Allah Subhanahu wa taala. Maka jika kita bersabar karena Allah, dan ini sering dilupakan orang bersabar-sabar kenapa? Demi anak-anak. Ini bukan karena Allah. Bersabar sama istri demi anak-anak. Bersabar kepada suami demi anak-anak. Ya, bukan karena Allah Subhanahu wa taala. Yang pertama kali harus karena Allah subhanahu wa taala sehingga seorang bisa kuat dalam sabarnya dan senantiasa Allah pun mencintainya. Inallahaikah nab ya aina amanu sh alaihi wasallimuaslima