Transcript
9vPOH35G5jQ • Karakteristik Mereka yang Dicintai Allah - Orang-Orang yang Berbuat Kebaikan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0961_9vPOH35G5jQ.txt
Kind: captions
Language: id
Selalu saja kita memuji Allah atas segala
nikmat dilimpahkan kepada kita
termasuk bisanya kita meluangkan waktu untuk hadir siang ini, di masjid-Nya
Tentu ini kita berharap
dicatat pahala oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Semoga saja seluruh amal yang pernah kita kerjakan, yang sedang kita kerjakan, dan akan kita kerjakan,
sampai menjelang ajal datang
diterima dengan pahala yang sempurna.
Dan semoga semua dosa yang telah kita
kerjakan juga dimaafkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى
dan diganti menjadi pahala.
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَال.
dan juga kita panjatkan salam hormat kita kepada
nabi besar Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّم.
Orang yang telah Allah perintahkan untuk mengucapkan salam hormat kepadanya -
Dan tentu berharap Allah balas dengan satu kali salam formatnya dibalas dengan sepuluh kali tambahan rahmat.
Dan Allah tidak
akan pernah memungkiri janji-Nya.
Lanjutkan bahasan bedah buku kita
Empat Puluh Karakteristik Mereka yang dicintai Allah.
Dan kita akan masuk ke golongan ketiga,
yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan.
Teman-teman sekalian,
dalam pembukaannya adalah -
- setiap orang di antara kita harus menjadikan tolok ukur kebaikan itu, apa yang dianggap baik oleh Allah dan rasul-Nya.
Dan bukan sesuai apa yang ada terlintas di benak dia.
Apapun itu selama Allah dan rasul-Nya menganggap baik, kita wajib menganggapnya baik. Tidak ada pilihan lain.
Begitu juga, walaupun baik di pandangan kita dipikiran kita, di benak kita, tapi Allah dan rasul-Nya menganggapnya buruk -
maka kita wajib mengikuti dan tunduk
sambil mengatakan itu buruk.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an tentang
sifat orang-orang beriman.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا
اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ.
"Tidak layak bagi laki-laki yang mengaku beriman
dan perempuan yang mengaku beriman, -
- kalau Allah dan rasul-Nya menentukan sebuah keputusan -
- mereka masih punya pilihan yang lain."
Kalau Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dan rasul-Nya Muhammad ﷺ melihat bahwasanya -
- kebaikan perceraian di tangan laki-laki. Adanya hukum poligami, adanya hukum -
- wajib bakti kepada
kedua orang tua.
Wajib bakti dan patuh pada pemerintah, selama tidak berhubungan dengan pelanggaran-pelanggaran agama.
Dan segala macam hal, maka kita tundukkan hawa nafsu kita.
dan ikuti hukum Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎. Walaupun kita tidak suka sekalipun.
Malam hari kita sedang suka tidur, tapi perintah Allah dan rasul-Nya menyuruh bangun untuk salat. Maka kita bangun.
Kita harus belajar dan
menerapi diri kita seperti itu.
Sampai Nabi ﷺ mengatakan, "Tidak akan beriman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang Aku bawa."
Jadi nggak bisa kita alihkan ke yang lain.
Mungkin butuh proses, tapi harus kita lakukan.
Karena teman-teman sekalian, kalau ini kita tidak
batasi dan kita loss (biarkan) begitu saja terbuka, -
- maka kita tidak akan punya tolok ukur.
Sehingga apa yang menjadi baik di satu komunitas
atau satu negara, kita juga ikut-ikutan bilang baik.
Contoh, banyaknya umat Islam yang terpengaruh
dengan tradisi orang non-muslim.
Di negara non-muslim, misalnya, umur delapan
belas tahun mereka sudah boleh seks bebas.
Mereka sudah boleh minum khamr
bahkan itu sebuah peraturan negara -
- dan ditulis besar-besar.
Untuk anak delapan belas tahun, untuk anak
begini-begitu. Sudah boleh begini-begitu.
Bahkan mereka bisa memprotes orang tuanya sendiri.
Jadi masuk ke pengadilan.
Itu dianggap baik oleh mereka. Bahkan sangat aneh
kalau ada laki-laki atau perempuan tidak punya pacar gelap.
atau tidak melakukan hubungan biologis
di umur delapan belas tahun ke atas.
Maka ini dipandang baik oleh mereka,
tapi Allah dan rasul-Nya memandang buruk.
Kita biarpun tinggal di komunitas mereka, kita
tidak boleh menganggap itu baik. Sama sekali tidak boleh.
Ada satu negara non-muslim misalnya berkembang pesat.
Mereka menggunakan sistem kapitalis dan ribawi.
Lalu kemudian, kita menganggap itu
berkembang berarti itu bagus. Padahal riba.
Dan sistem seperti ini haram dalam Islam.
Tidak boleh kita membenarkan itu.
Walaupun kita hidup
di komunitas mereka
Kita harus bisa memungkiri itu dan berusaha
tetap menampilkan islamlah yang terbaik.
Karena nabi ﷺ mengatakan, "لإسلامُ يعلو ولا يُعلَى عليه".
"Islam itu paling unggul dan tidak ada yang mengunggulinya."
Kenapa sekarang banyak orang Islam bernama Muhammad,
istrinya bernama Aishaa, tapi tidak ada simbol Islam dalam dirinya.
Karena luput poin yang Saya bilang tadi. Mereka
masih menganggap ini hanya sebuah kenangan saja.
Agamamu apa? Islam. Namanya Muhammad. Istrinya Aishaa.
Anaknya mungkin nama-nama Islam semua.
Tapi kita temukan dia tidak salat, tidak tutup aurat,
dan dibanggakan bahkan negara-negara non-muslim.
Tidak ada sedikitpun kebanggaannya terhadap
Al-Qur'an. Kisah para sahabat tidak ada.
Tadi kenapa dia lose control (hilang kendali) tentang
pemahaman apa makna kebaikan dan juga makna keburukan?
Sudah tangkap pesannya? Baik ini yang kita sedang bahas
teman-teman. Orang-orang yang berbuat kebaikan, -
- tentu yang berbuat kebaikan sesuai dengan yang
dipandang baik oleh Allah dan rasul-Nya.
Dan ini pertama diangkat oleh
penulis adalah di dalam surah Al-Baqarah ayat 195.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
"Belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah."
Makna lainnya royal, kotak amal,
orang miskin, orang tua, kerabat kita -
- bantu jangan setengah-setengah. Belanjakan.
Kalau kita belanja berarti kita menghabiskan
uang kita dengan tujuan membeli target.
"Belanjakan, kata Allah. Habiskan hartamu di jalan Allah.
Dan jangan Kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan."
Makna kebinasaan adalah kalau kau
tidak infakkan hartamu, kau bisa binasa.
Sejalan dengan hadis Bukhari yang kata nabi ﷺ "Kalau tiba pagi hari, maka Allah menurunkan dua malaikat yang satu mendoakan -
"Ya Allah lapangkan rezeki orang yang bersedekah" Dan
yang satu mengatakan "Binasakanlah orang yang bakhil."
Berarti ada di sini makna kebinasaan.
Ayat ini ditafsirkan dengan hadis tadi.
Maka orang kalau tidak berinfaq, makna tafsir
ayat dia masuk ke dalam kebinasaan.
Kenapa sekarang kita masih ragu dengan itu, teman-teman sekalian? Karena masih belum paham makna kebaikan itu tersendiri -
- dalam pandangan Allah dan rasul-Nya, seperti yang Saya bilang.
Padahal berinfaq di kotak amal,
orang miskin, bantu kerabat-kerabat yang susah -
- pasti mendatangkan kekayaan. Loh kok kenapa kita masih bingung mencari proyek apa yang harus Saya kembangkan?
Perusahaan mana yang harus Saya investasikan? Itu tetanggamu yang miskin, kerabatmu yang susah, itulah investasi terbaik.
Dan sudah dijelaskan dalam hadis Bukhari yang lain. Allah berfirman, kata nabi ﷺ dalam hadis Qudsi, Allah berfirman
ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
"Wahai anak Adam, berinfaklah di jalan-Ku. Aku pasti berinfaq berinfaq kepadamu."
Allah, Sang Pencipta langit dan bumi yang memiliki seluruh kekayaan langit dan bumi, menjanjikan itu kepada kita.
Kenapa teman-teman, kita kerja di perusahaan yakin kita akan digaji akhir bulan? Hanya kita percaya sama pemilik perusahaannya?
Itu manusia bisa benar, bisa menipu.
Tapi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى -
- ‎ adalah Zat yang Maha Sempurna. Satu-satunya
pemberi rezeki, pencipta seluruh makhluk, -
- menjanjikan kepada kita. "Infaq di jalan-Ku, akan Aku kasih kepada kalian."
Itu kata kunci kekayaan. Kenapa masih sedikit orang melakukannya?
Padahal sudah jelas resepnya. Allah bilang, "Belanjakan hartamu di jalan Allah dan jangan menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan."
Pelit maksudnya.
Dan berbuat baiklah. Apa yang semua
dianggap baik oleh Allah dan rasul-Nya, lakukan.
Sesungguhnya, Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.
Allah juga berfirman dalam surah
Al'Imran ayat 133 - 134.
Ini سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ ayat-ayat Al-Qur'an yang Saya pribadi
sangat suka saya ulang-ulangin. Sering Saya baca.
Karena janji-janji Allah yang luar biasa gitu.
Allah berfirman أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ -
- وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
"Bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Rabb-Mu."
Kalau punya dosa, taubat segera. Dan setelah itu sibukkan diri dengan amal saleh. Kejar surga -
- yang luasnya seluas langit dan bumi.
Apapun orang mengatakan tidak usah perduli.
Saya mau mati sendirian, Saya akan masuk, Saya akan dihisab
sendirian, dan Saya akan masuk surga atau ke neraka sendirian.
Pikirkan itu. Enggak usah terpengaruh
dengan perkataan orang. Kita punya batas waktu ajal.
Orang mau bicara apa, terserah. Selama kita benar, jalani.
Allah bilang "..Dan kejar surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang yang patuh."
Siapa mereka, Ya Allah? Kami mau menjadi orang-orang ini. Mereka yang sibuk bertobat.
sibuk juga mengejar surga. Yaitu, Allah sebutkan ciri-ciri mereka.
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya -
baik di waktu lapang maupun sempit."
Sekali lagi. Sedekah, infak.
Ini luar biasa resepnya. Sembuhnya penyakit, selesainya permasalahan, loyalnya hubungan suami-istri, persahabatan, semua ada di sini.
Di masalah royal. Memberikan memberikan orang, infak -
- baik di waktu lapang, lagi banyak rezekinya, atau waktu sempit. Ibnu Umar bersedekah sehari walaupun hanya dengan sebutir bawang.
Uwais Al-Qarni رحمه الله dia miskin, selalu mengambil sampah-sampah bekas makanan orang. Tapi kalau sudah dibersihkan sama dia -
dipanaskan dibagi lagi, kasih lagi ke orang miskin lain.
Dia tidak tunggu kaya untuk bersedekah.
Dan orang-orang yang menahan amarahnya,
dia bisa melampiaskan tapi dia kontrol.
dan memaafkan kesalahan orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Berat betul, Ustad? Orang buat salah kita maafkan."
Benar. Memang berat. Di situlah ujiannya.
Tapi seberat apakah itu? Seberat antum memikul gunung?
Seberat antum untuk menahan lapar? Enggak kok. Orang kita tinggal maafin, sudah kita enggak ada dia, anggap tidak pernah terjadi.
Selesai. Apanya yang susah?
Setan memang membesar-besarkan itu. Bahkan bukan cuma setan, memang dasarnya sebagian orang سُبْحَانَ ٱللَّٰ dia mengikuti -
- kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu yang haramnya.
Sebenarnya iblis, teman-teman semua,
sama grupnya ini itu lemah sekali.
Karena Allah bilang
اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ ࣖ ٧٦
"Tipu daya setan itu lemah".
Kalau kita mau tanya, rentetan yang goda kita siapa? Setan.
Siapa yang pimpin setan? Iblis.
Baik. Waktu Allah ciptakan Adam, lalu Allah suruh sujud semuanya tapi iblis enggak sujud. Saya mau tanya, siapa yang goda iblis?
Ada di sini yang hadir goda?
Siapa yang goda iblis? Dirinya sendiri.
Dia punya hawa nafsu yang bergejolak.
Dia nggak bisa kontrol itu,
Dia cenderung dengan jiwanya yang negatif, maka akhirnya jatuh tersesat.
Allah suruh sujud, dia enggak mau.
Dan setelah itu bukannya minta maaf.
Semisal, "Ya Allah. maafin. Saya enggak bisa." Enggak begitu.
Dengan sombongnya, Saya lebih baik daripada dia (Adam).
Saya dari api, dia dari tanah. Makin Allah usir.
Kalau teman-teman mau tahu lebih dalam tentang masalah ini, waktu orang-orang Quraisy berusaha untuk berkumpul.
Mencari jalan untuk membunuh Nabi ﷺ, untuk menyelesaikan urusan dengan nabi ﷺ.
Mereka kumpul semua. Kata Nabi ﷺ
dalam hadis Bukhari. Nabi ceritakan.
"Berkumpul bersama mereka seorang kakek tua dari Nejd."
Nejd itu wilayah di ujung Jazirah Arab, di Utara Jazirah Arab.
Posisinya antara Irak sama Saudi kalau sekarang.
"Maka datang seorang kakek dari Nejd.
Dan ketahuilah dia adalah iblis yang menjelma jadi manusia."
Dia ikut dalam majelisnya Quraisy." Ingin ikut mengatur tipu daya."Ada apa ini?
Setiap kali ada orang Quraisy menyampaikan sesuatu, lakukan ini-itu -
- maka yang terjadi adalah iblis itu menepis, "Oh itu tidak bisa,
itu tidak bagus." Itu begini-begitu. Sampai Abu Jahal bicara.
Abu Jahal itu Firaun-nya umat ini.
Dia meninggal dalam keadaan kafir. Apa dia bilang?
Lebih baik, kita ambil dari setiap suku
anak-anak muda yang kuat-kuat.
Mereka yang ahli main pedang, punya kedudukan di sukunya.
Kemudian, kita ambil sekian puluh orang, bersamaan
mereka menghantamkan pedangnya ke Muhammad.
Sehingga pada saat Muhammad meninggal darahnya menyebar di semua suku. Jadi sukunya Muhammad enggak bisa balas (dendam).
Inilah pemikirannya Abu Jahal,
enggak ada dibenaknya iblis.
Apa kata iblis waktu itu? Kata nabi ﷺ
"Ini baru yang namanya pendapat." Iblis jawab.
Jadi jangan pernah membahasakan 'Oh, setan itu besar,
setan begini-begitu." Kalau seperti yang antum bayangkan, -
- Bisa tidak antum
duduk di sini belajar?
Bisa kita salat? Bisa kita menikah? Bisa kita
sedekah? Bisa baca Al-Qur'an? Tidak bisa.
Pasti kita semua diikat lehernya sama setan.
Enggak bisa buat apa-apa. Tapi setan lemah.
Masalah paling besar, jiwa Antum sendiri.
Allah mengatakan,
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨ (QS. As-Syams: 8)
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ kasih potensi berbuat jahat,
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ kasih potensi berbuat baik.
Tapi potensi berbuat jahat harus kita
redam. Allah suruh kita meredamnya.
Seperti itulah. Setan hanya menunggangi potensi itu.
Maka kita harus hati-hati, teman-teman sekalian.
Di antara yang memang kita harus kontrol adalah -
- mengontrol emosi. Itu semua masalah jiwa.
Lalu setan hanya tunggangi saja itu.
Allah bilang "Mereka adalah orang-orang
menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang, -
- dan Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan.
Juga, Allah berfirman di dalam Q.S Ali'Imran ayat 148.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ ١٤٨
"Karena itu, Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia,
dan pahala yang baik di akhirat." Maksudnya orang beriman.
Orang beriman itu di dunia bahagia, di akhirat bahagia.
Kita di sini bisa makan, bisa minum, bisa bekerja.
Silahkan kejar prestasi terbaikmu di dunia. Title tertinggi, harta terbanyak. Pasangan yang sempurna. Anak-anak yang banyak.
Selama halal, silahkan. Islam tidak pernah menahan itu.
Dan di akhirat juga mendapatkan yang terbaik.
Itu orang beriman.
Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Juga dalam surat Al-Maidah ayat tiga belas,
penulis mengangkat dalil selanjutnya.
. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٣
(Q.S Al-Maidah : 13).
"Maafkanlah mereka, Hai Muhammad.
Dan biarkan saja mereka."
Kalau kau sudah nasehatin tuh orang kafir dan nasihatin itu orang munafik. Mereka enggak mau dengar, biarkan saja.
"Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." Artinya
biarkan dia menilai dirinya sendiri buruk, kau jangan ternilai buruk.
Saya pernah bahasakan jangan pernah balas keburukan dengan keburukan. Jangan balas misalnya bohong dengan bohong.
Gibah dengan gibah. Fitnah dengan fitnah.
Jangan, enggak usah.
Biarkan mereka buruk, kita nggak usah buruk. Waktu Nabi ﷺ
berusaha atau disakiti oleh orang-orang munafik, -
- banyak sahabat yang bilang "Ya, Rasulullah. Izinkan Saya
menebas lehernya. Izinkan Saya menebas lehernya."
Waktu Umar Bin Khattab mengatakan, Khalid Bin Walid pernah mengatakan. dan beberapa sahabat hal pernah mengatakan -
- kata nabi ﷺ, "Jangan. Nanti orang-orang bilang
Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya."
Apa maknanya? Mereka berbuat buruk akan kebongkar
dengan sendiri kedoknya. Jangan kita dinilai buruk.
Tidak usah membuat kesempatan
orang menilai kita buruk. Itu maknanya.
Juga dalam surat Q.S Al-Maidah (93) yang berbunyi..
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا اِذَا مَا اتَّقَوْا وَّاٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَّاٰمَنُوْا ثُمَّ اتَّقَوْا وَّاَحْسَنُوْا ۗوَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ ٩٣
"Tidak ada ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sale, karena memakan makanan (khamr) dan sebagainya -
- sebelum diharamkan yang
telah mereka makan dahulu."
"Apabila mereka bertakwa serta beriman
dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh."
"kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman kemudian
mereka juga tetap bertakwa dan berbuat kebajikan."
"..dan Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan."
Ini maknanya kalau orang bertanya tentang masa lalunya.
"Saya masa lalunya suka khamr, berzina,
membunuh, segala macam." Sekarang taubat.
Allah maafkan tidak? Allah jawab dalam ayat ini.
Allah jawab dalam ayat ini. "Bahwasanya mereka
tidak ada masalah dengan masa lalunya."
Pernah minum khamr, pernah makan babi, pernah lain-lain.
Masa lalu. Allah mau lihat sekarang. melihat sekarang ke depan.
Yang penting dia baik sekarang beriman,
maka itu adalah sebuah tolok ukur.
orang-orang yang berbuat kebajikan adalah kekasih kekasih Allah.
Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik
dalam urusan antara mereka dengan Allah.
Dan berbuat baik dalam urusan antara mereka dengan hamba Allah.
Jadi teman-teman kita harus jadikan tolak ukur begini,
tidak usah lihat siapa yang sedang kita interaksi dengannya.
Mau orang tua, laki-laki, perempuan, anak-anak, muslim, bukan muslim, enggak usah lihat itu.
Bahkan hewan-hewan pun tidak usah kita lihat.
Yang kita lihat adalah hubungan kita sama Allah.
Apa yang Allah perintahkan pada makhluk-makhluk ini, itu kita jalani. Istri disuruh dikasih nafkah.
Suruh lindungi, suruh didik. Suami disuruh patuhi. Orang tua disuruh bakti, anak disuruh nafkahi dan seterusnya.
Teman-teman disuruh kita berbuat baik Kalau salah kita nasehati, kalau benar kita dukung, sampai ajal kita datang.
Urusan kita sama Allah. Tidak usah lihat siapa yang kita berikan.
Saya pernah bahasakan itu teman-teman. Bahkan kalau yang minta di depan kita seorang yang gila pun, kasih.
Tidak ada urusan kita sama gilanya, tapi memberi makan adalah ibadah dalam agama Islam.
Banyak orang سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ begitu orang gila lewat,
diolok-olok, caci maki, bahkan mungkin dilemparin.
Dia juga manusia. Kebetulan saja Allah sedang menguji dia.
Kalau dia minta makan, kasih makanan.
itu kebaikan dan Allah manilai kebaikan itu.
Allah berfirman di dalam surat Luqman Ayat satu sampai lima.
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ
الۤمّۤ ۗ ١
تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْحَكِيْمِۙ ٢
هُدًى وَّرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِيْنَۙ ٣
الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ بِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ٤
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ٥
"Alif Lām Mīm."
"Inilah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Qur’an) yang mengandung hikmah."
"Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."
"(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat,
dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat."
"Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk
dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Ini semua tentu kebaikan-kebaikan yang sudah kita tahu. Masalah orang berbuat, mendirikan salat, menunaikan zakat -
Dan juga selalu rindu terhadap akhirat. sehingga dia selalu saja mengejar kebaikan-kebaikan.
Juga Allah menjanjikan orang-orang yang bertakwa atau orang-orang yang baik dalam surah Az-Zariyat ayat 15 - 19.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ١٥
Maaf Saya ulangi saja.
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ١٥
اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ ١٦
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ١٧
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ١٨
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ١٩
"Sungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang suka patuh kepada Allah -
"Berada di dalam taman-taman surga dan di mata-mata air."
"Sampai mengambil apa yang diberikan kepada Allah oleh Rabb mereka."\
Ini maksudnya rezeki. "Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang baik."
"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." Maksudnya selalu tidak kehilangan sholat Tahajud.
"Dan di akhir-akhir malam, mereka memohon ampun kepada Tuhannya. Istighfar diwaktu azhar, sahur, , dan menjelang subuh."
"Dan pada harta-harta mereka, ada hak orang yang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."
Ini semua rincian daripada amal-amal baik; dirikan salat, tunaikan zakat, mengingat negeri akhirat.
- termasuk salat malamnya, termasuk beristighfarnya, dan seterusnya.
Yang dimaksud dengan perbuatan baik hamba terhadap Allah
adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.
Jadi kalau seandainya seseorang mau berbuat baik kepada Allah adalah dia mengikhlaskan dalam mengikuti ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Allah berfirman, "Allah tidak membutuhkan apapun pengorbanan kita, kecuali keikhlasan saja."
Surat Al-Hajj ayat 37.
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا
سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧
(Q.S Al-Hajj : (37)).
"Daging daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah."
"Tetapi ketaqwaan dari Kamulah yang dapat mencapainya."
"Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu."
"Supaya kamu mengagungkan Allah
terhadap hidayah-Nya kepada kamu."
"Da, berilah berita gembira atau kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
Maksudnya adalah orang-orang yang mengikhlaskan diri di dalam beribadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.‎
Malaikat Jibril bertanya kepada nabi ﷺ tentang ihsan, perbuatan baik itu seperti apa?
Maka nabi ﷺ mengatakan,
"Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu."
Hadis riwayat Muslim jadi satu halaman 36 sampai 38.
Dan hadis yang nomor 8, Tirmidzi juga menyebutkan jilid empat halaman seratus embilan belas sampai seratus dua puluh satu -
- nomor hadisnya 2738. Abu Daud jilid dua belas halaman 459 - 464 dan nomor hadisnya adalah -
- 4670, Ibn Majah jilid satu halaman
dua puluh empat dan dua puluh lima. Nomor hadisnya enam puluh tiga.
Apa yang kita bacakan tadi terakhir ini adalah penjelasan tentang masalah muamalah seseorang hamba -
- adalah kepada Allah SWT dan bukan kepada hamba dihadapannya
Jadi jangan pernah teman-teman melihat karena ini orang susah, atau orang miskin atau orang bodoh -
- tidak paham. Lalu kita menganggap bisa kita menipunya.
Bisa kita melakukan kejahatan pada dia. Lalu kita
menganggap kita tidak akan dihukum. Tidak mungkin.
Allah punya cara menghukum seseorang. Maka hati-hati.
Muamalah kita kepada Rabbul Alamin. Tuhan alam semesta.
Sifatnya As-Sami' atau Maha Mendengar semua.
Al-Bashir atau Maha Melihat. Al-Alim atau Maha Mengetahui segala sesuatunya.
Bahkan Allah mengatakan, Allah mengetahui.
Allah tahu apa yang dikhianati oleh mata. Bisa dilihat di sini tapi tujuannya ke sana.
Dan Allah mengetahui apa yang ada dalam lubuk hati manusia.
Jadi kita jangan sampai menganggap muamalah kita tidak dilihat oleh Allah, atau bahkan kita berbuat jahat Allah tidak melihatnya.
Imam nawawi berkata maksud perkataan tersebut
adalah anjuran agar ikhlas dalam beribadah.
Dan seorang hamba merasa dilihat oleh Rabb-nya ta'ala dalam menyempurnakan kekhusyukkan dan ketundukkan dan lainnya.
Yaitu maksudnya tanpa melihat makhluk.
Sungguh Allah telah memerintah rasul-Nya dan orang-orang yang beriman untuk ikhlas.
Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman dalam
Q.S surah Az-Zumar ayat 2 sampai 3.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Semua ini dari dalil menjelaskan tentang masalah ikhlas. Agar tadi apa yang dianggap baik, jadi semua kebaikan yang kita kerjakan -
- diterima oleh Allah harus diikutin dengan poin ini.
Kata beliau hakikat ikhlas adalah membersihkan segala sesuatu yang mengotorinya.
Setiap sesuatu yang bercampur dengan kotoran, jika telah bersih dari kotorannya, dan sudah terlepas darinya disebut dengan -
- Qalis atau murni.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dalam surat An-Nahl ayat ke-66.
عُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ ٦٦.
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu."
Kambing sapi unta, yang diperah susunya.
"Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya. Berupa susu yang bersih di antara tinja dan darah."
Keluar putih tapi tidak bercampur darah tidak bercampur juga dengan kotoran.
Yang mudah untuk ditelan bagi orang- orang yang meminumnya.
Di sini teman-teman ada kalimat
خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ.
Jadi di sini, penulis ingin menitikberatkan yang dimaksud dengan ikhlas artinya -
Jadi tidak bercampur antara hak
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dengan makhluk-Nya.
Salat, tapi ingin dipuji
oleh makhluk sebenarnya.
Mengganggu keikhlasan. Dan ini semua orang Arab membahasakan kalau ada satu cairan atau benda -
Tidak bercampur dengan kotoran atau
sudah dibersihkan dari kotoran -
Dibahasakan dengan خَالِصًا .
Buktinya Allah gunakan
dalam surat An-Nahl ayat 66 tadi.
Allah gunakan kalimat خَالِصًا atau mukhlis atau ikhlas ini yang kita tadi disuruh ikhlas -
- murnikan ibadah karena Allah.
Seperti disebutkan tadi binatang ternak itu ada
ayat-ayat tanda kebesaran Allah.
Allah keluarkan diantara tinja dan darahnya, minuman susu yang mudah untuk ditelan dengan rasa yang enak.
Maka susu murni itu adalah yang bersih dari hal-hal yang mengotorinya.
- berupa darah dan tinjanya hewan serta dari segala sesuatu yang mungkin bercampur dengannya.
Tauhid atau meng-Esa-kan Allah yang untuknya para makhluk diciptakan oleh Allah, -
Ia akan berhadapan dengan duri-duri syirik, riya, dan sifat munafik.
Maka ia harus dimurnikan dari duri-duri itu,
sehingga murni hanya untuk Allah.
Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi surat ke-110.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ ١١٠.
"Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang salih."
"Dan janganlah ia mempersekutuan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-Nya."
Jadi setelah Saya simpulkan lagi kerangka pikirnya, awal kita jelaskan kebaikan itu yang harus dikejar oleh seorang muslim -
Apa yang dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya.
Buruk apa yang dipandang buruk oleh Allah dan rasul-Nya.
Setelah kita jelaskan rincian sebagian dari amal baik; sedekah, salat, dan seterusnya, -
- maka beliau menekankan penulis pentingnya agar kebaikan ini diterima oleh Allah kita butuh ikhlas.
Setelah panjang lebar menjelaskan tentang ikhlas, beliau langsung naik ke poin yang lain.
Namun hati-hati, ikhlas juga sering kali rusak ternodai dengan duri-duri syirik, riya,
maka itu harus dibersihkan dan tidak boleh ada. Karena itu cuma penawaran dari setan.
Kita tolak, selesai. Misal contoh,
kita salat 'Allahu Akbar'.
Lalu ada setan bisikin di benak kita, itu orang di sebelahmu, indahkanlah salatmu, lamakanlah doamu -
- lamakanlah sujudmu, dia sedang melihatmu, dan seterusnya.
Terus saja dia menawarkan hal buruk. Selama kita tidak meng-'iya'-kan, kita tidak terganggu.
Dan tidak riya. Dan sering Saya bahasakan di pengajian, kalau riya itu senjata pamungkasnya setan.
Yang paling pertama dia tawarkan adalah riya. Supaya tidak ikhlas.
Karena kalau ini diterima, kata nabi سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎
"Sedikit riya, sudah (termasuk) syirik."
Sudah rusak amal itu. Maka seseorang tentunya harus bisa mengontrol diri di sini.
Kalau dia (setan) masih menawarkan kita tidak meng-iya-kan, maka tidak kena riya itu.
Berkenaan dengan orang-orang munafik, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman, -
- di dalam surat An-Nisa ayat ke 145 (yang benar)
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Saya ulangi,
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ -
وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ.
وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا ١٤٦
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu
(ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka."
Kalau Anda tanya, "Ustad apa hubungannya orang munafik dengan bahasan tadi?"
Ikhlas kemudian tidak boleh syirik, karena Allah sebutkan ciri mereka.
Orang-orang munafik tu, mereka "Mereka suka riya, mereka tidak pernah melakukan berzikir kecuali sedikit sekali."
Maka beliau seakan-akan menekankan hati-hati dari sifat riya, karena dia adalah kebiasaan orang-orang munafik.
Allah bilang, "Sesungguhnya orang munafik itu ditempatkan kepada tingkatan yang paling bawah dari neraka."
Maksudnya paling berat siksaannya.
"Dan kamu sekali-sekali tidak akan mendapat seorang penolong bagi mereka."
"Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan."
"Dan berpegang teguh pada agama Allah dan
tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah."
"Maka mereka bersama-sama orang yang beriman.."
"./.dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahala atau, kepada orang-orang beriman, pahala yang besar."
Untuk menerima taubat orang-orang munafik (yang senantiasa) amalan-amalan mereka itu ingin dilihat orang terus, -
Allah تَعَالَى mensyaratkan agar mereka
mengikhlaskan agama mereka hanya bagi Allah.
Maksudnya memurnikan agama dari
duri kemunafikan dan riya itu sendiri.
Maka seorang hamba Muslim hendaklah memurnikan agamanya hanya untuk Allah, dalam segala sesuatu yang dia harapkan -
- balasannya dari Allah, karena pahal dari amal salih itu tidaklah akan terwujud melainkan harus dengan mengharap rida Allah.
Sebagaimana firman-Nya, (Q.S An-Nisa : 114).
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ .
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ١١٤
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka."
Jadi kalau kita bisik-bisikan sama teman-teman akan dinilai kebaikan, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah -
"Ayo sedekah!" Itu tetap bisikan yang baik. Atau berbuat yang ma'ruf.
Semua perbuatan baik kalau kita nasihatin orang atau bisikan kepada orang.
Atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Supaya orang tidak ribut lagi, di antara dua orang yang sedang bertikai.
"Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi pahala yang besar kepadanya."
Jadi maksudnya tadi adalah bagaimana keikhlasan dia membisikkan kebaikan kepada orang segala macam ini.
demi untuk mendapatkan pahala dari sisi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Jadi ayat ini terulang lagi kalimat sedekah.
Begitu juga dengan ma'ruf, perbuatan yang baik. Begitu juga dengan perbaiki atau memperbaiki hubungan di antara dua orang.
Saya pernah berbagi, teman-teman sekalian, dan semoga Saya termasuk orang yang pertama melaksanakannya.
Bukan cuman mengucapkan, setiap kali kita melihat orang di depan kita, teman-teman, usahakan target utama kita adalah -
- "Saya dapat pahala apa dari orang ini."
"Apa yang harus Saya dapatkan, dari orang ini tapi dari sisi pahala, bukan duniawi."
Kalau orang-orang kapitalis berpikir, dan ini banyak orang Islam terpengaruh dengan itu, -
- kalau dia kenal sama orang, dia tanya "Pekerjaannya apa?" Yang paling pertama masalah itu.
Bagaimana dapat keuntungan duniawi dari orang ini.
Kalau sudah tahu pekerjaannya bagus, gajinya tinggi, dijadikan sebagai teman.
Kapan berkenalan dengan penjual gorengan, orang-orang miskin, "Oh ini bukan level Saya." Tidak mau berkenalan.
Islam menepis itu. Tidak ada itu semua.
Targetnya kita adalah bagaimana mendapatkan pahala dari orang kaya, kita bantu dia, bersedekah.
Mensedekahkan hartanya ke jalan-jalan yang benar, supaya kita dapat pahala bersama dia.
Kalau dia orang miskin, kita jadikan sebagai ajang pahala buat kita.
Orang-orang kapitalis tidak seperti itu. Makanya kalau orang ikhlas pasti targetnya selalu menjadikan orang yang di depannya sebagai -
- kesempatan untuk dia raih pahala. Jadi tidak ada batasan. Mau kaya mau miskin, semuanya kita jadikan sebagai sahabat dekat kita.
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ memuji siapa saja yang berbuat kebaikan dan memang dia tujuannya mengejar wajah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Sehingga betul-betul, kebaikan yang dia lakukan
itu semuanya akan maksimal dia terima balasannya.
Allah sebutkan dalam surat Al-Insan ayat 7-11.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُوْنَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهٗ مُسْتَطِيْرًا ٧
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ٨
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا ٩
اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا ١٠
فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ ١١
"Mereka nenunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana."
Maksudnya mereka kalau sudah nadzar niat untuk menjalankan sesuatu karena Allah kabulkan permintaannya, maka -
- mereka jalankan. Dan mereka selalu takut dihisab pada hari kiamat.
"dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, untuk anak yatim dan orang yang ditawan."
Di sini termasuk Allah nilai kebaikan adalah orang memberikan makanan yang disukai.
Jadi beda pahalanya. Memang kita lagi sangat senang dengan makanan itu lalu kita berikan.
Dengan makanan yang memang kita lagi enggak suka, kita kasih ke orang.
Berarti hanya sekedar ingin mengeluarkan makanan dari rumah, agar tidak mubadzir saja.
Allah sebutkan salah satu nilai orang yang ikhlas.
Orang yang memberikan sesuatu karena Allah.
Dia memberikan apa yang dia sukai. Di situ ujiannya.
Makanan, minuman, pakaian kepada orang miskin, anak yatim, dan oang-orang ditawan.
Dan mereka berkata, "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah."
"Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
Jadi kalau ada orang سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ, tanda-tanda dia tidak ikhlas, dia kalau kasih sesuatu ke orang, maka dia tunggu.
Orang ini terima kasih tidak? Kapan dia tidak terima kasih, "Dasar tidak tahu terima kasih."
Marah semisal. Berarti dia bukan tujuannya ikhlas karena Allah.
Dia maunya supaya orang itu puji. Apa yang kita dapat? Sering kita bahasakan, pujian orang hanya sepanjang lidah.
"Iya kamu hebat. Kamu baik." Abis itu, kenyang perutnya? Tambah terang matanya? Tambah subur rambutnya?
Tidak dapat apa-apa.
Apa yang membuat itu? Apa yang membuat pujian orang (mendapat manfaat? Gunanya untuk apa?
Tidak ada kecuali merusak amal kita. Riya.
Ini hal-hal yang harus kita hati-hati. Maka mereka mengatakan,
"Kami tidak pernah berharap balasan dari kalian."
Jadi tidak usah bilang terima kasih, tidak usah apa-apa.
Jadi kalau ada orang سُبْحَانَ ٱللَّٰ kita bantu, pokoknya dia langsung pergi tidak apa-apa. Biarkan saja.
Karena, urusan kita sama
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ sudah niat ikhlas ya sudah cukup.
Dia juga niatnya tidak benar, yasudah antara dia sama Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Sesungguhnya kami takut kalau hanya dipuji-puji saja akan azab Rabb kami pada suatu hari -
- yang di hari itu orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan.
Maka Rabb memelihara mereka, orang-orang
yang ikhlas tadi, dari kesusahan hari itu.
Dan memberikan kepada mereka
kejernihan wajah dan kegembiraan hati.
Bisa bermakna kejernihan wajah adalah cahaya yang terang.
Dari wajahnya pada hari kiamat.
Begitu juga suat Al-Lail ayat 17 sampai 21
Allah berfirman.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَتْقَىۙ ١٧
الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ ١٨
وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ ١٩
اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ ٢٠
وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ ٢١
"Dan kelak orang yang paling takwa
akan dijauhkan dari nereka itu."
"Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya."
"Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya."
"Tapi Dia memberikan itu semata-mata karena mencari Wajah Rabb-nya yang Maha Tinggi dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan."
Sebagian ulama tafsir mengatakan ayat ini turun
kepada sahabat yang mulia, Abu Bakar رضي الله عنه.
Abdullah bin Abu Quhafah.
Manusia yang sangat mulia, bahkan ulama ahli sunnah sepakat mengatakan -
- Abu Bakar adalah orang yang paling afdal setelah para nabi-nabi.
Ada hadis nabi ﷺ yang berbunyi "Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin seluruh orang dewasa ahli surga kecuali para nabi-nabi."
Jadi sahabat nabi-nabi yang lain pun, sahabat nabi Musa, sahabat nabi Isa, nabi Nuh, nabi Daud yang beriman pada zaman-zaman itu -
- tetap Abu Bakar sama Umar lebih tinggi daripada mereka.
Salah satu ayat Al-Qur'an turun kepada Abu Bakar dan ini kita jelaskan di tabligh akbar serial sahabat adalah
Ayat ini.
Bagaimana karena sukanya mereka berinfaq, dan karena Allah mereka berinfaq, dia tidak pernah berharap balasan dari orang yang dibantu.
Dia tak pernah berharap pujian, tak pernah berharap apa-apa. Pokoknya semua dikasih sama dia.
Dikasih karena mengharapkah
Wajah Allah.
"Dan mereka orang-orang seperti ini pasti mendapatkan balasan yang sempurna." Sebagaimana dalam ayat ini tadi.
Kata beliau sungguh Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan dengan melimpahkan ganjaran dan pahalanya -
- kepada mereka. Padahal amalan-amalan mereka itu sedikit. Allah berfirman -
- di dalam surat An - Nisa ayat 100.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗ
وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ
وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ ١٠٠.
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah.." Dia sudah beribadah di suatu tempat karena ingin menerapkan kebaikan dalam hidupnya -
- mau jauh dari kemaksiatan, dia hijrah. Pindah negara, pindah kota, pindah tempat kerja, pindah lingkungan.
"Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas.. -
- dan rizki yang banyak.. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, -
- kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah."
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Artinya, orang baru niat berbuat baik saja dia niat hijrah, belum sampai di kota yang dia ingin hijrah, belum sampai dapat pekerjaan -
- baru karena pindah dari pekerjaannya, lingkungannya belum dapat komplek atau rumah baru, -
Pindah dari komplek rumahnya, misalnya kemudian dia meninggal, sudah dicatatkan baginya pahala perubahan itu.
Itu semua adalah ayat-ayat Al-Qur'an. Sekarang penulis mulai masuk ke dalam hadis-hadis nabi عَلَيْهِ والصلاة والسلام.
Hadis yang pertama adalah tentang mudahnya orang yang berbuat kebaikan dan bagaimana kita dimotivasi untuk selalu sibuk dengan kebaikan.
Kalau tidak bisa langsung eksekusi perbuatan itu, maka kita niatkan.
Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه berkata,
"Kami bersama Nabi ﷺ dalam suatu peperangan, lalu beliau bersabda."
إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ.
“Sesungguhnya di Madinah sekarang.." Karena mereka sudah tinggalkan Madinah. Sudah jauh.
Mereka lagi berjihad sama nabi Muhamamd ﷺ
Nabi bilang sewaktu lagi istirahat, "Sekarang ini di Madinah, ada orang-orang yang mana kamu tidaklah berjalan dalam suatu perjalanan, -
- "..atau melewati suatu lembah melainkan mereka ikut serta bersama kalian -
- ".. dalam memperoleh pahala. Namun, mereka terhalangi sakit."
Hadis riwayat muslim jilid tiga halaman 1518, nomor hadis 1911.
Jadi kalau orang tetap semangat ingin mengerjakan suatu kebaikan, sebagai bentuk balasan yang dari Allah yang baik, dia tidak bisa lakukan -
- maka dapat pahala.
Jadi rupayanya waktu itu nabi ﷺ berjihad. Semua banyak sahabat bersemangat pergi, karena setiap langkah dapat pahala.
Debu medan perang pun sudah cukup untuk mengharamkan dari api neraka.
Dalam hadis riwayat Muslim, kata nabi ﷺ
ما اغْبَرَّتْ قَدَما عَبْدٍ في سَبيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ.
"Dua telapak kaki yang tersentuh debu medan perang tidak akan disentuh oleh api neraka."
Dan banyak keutamaan jihad yang lain.
Tapi سُبْحَانَ ٱللَّٰ nabi ingatkan sahabat-sahabat waktu itu.
"Di Madinah sekarang ada laki-laki yang tidak bisa ikut dengan kalian. Tapi tidak ada satupun pahala yang kalian dapatkan.. -
- dari setiap langkah, dari menyerang musuh, dan sebagainya, kecuali mereka ikut bersama kalian."
Karena mereka tidak bisa ikut. Punya udzur.
Kemudian juga dalam riwayat lain, Annas Bin Malik رضي الله عنه berkata,
- bahwa nabi ﷺ dalam satu peperangan bersabda,
إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا ، مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ.
"Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa kaum di belakang kita, yang minta tidaklah kita melewati suatu jalan di lereng gunung -
- "maupun lembah, melainkan mereka ikut serta bersama kita (dalam memperoleh pahala)."
"Namun mereka terhalangi oleh udzur."
Hadis riwayat Bukhari jilid enam halaman 46-47 nomor 2839.
Ini mirip dengan tadi, ya. Jadi kalau seseorang tidak bisa melakukan perbuatan baik, minimal diniatkan -
- tapi memang betul-betul punya udzur, ya?
Tidak bisa ikut jihad, belum bisa haji, belum bisa membangun masjid, kaya teman-teman masuk di tempat seperti ini.
Bukan cuman sekedar masuk salat. Tapi pikir, berapa banyak pahalanya orang yang sempat bangun masjid ini?
Belum pengajiannya, belum salat lima waktunya.
Belum mungkin orang buka puasa, belum orang baca Al-Qur'an. Belum, masih banyak sekali.
Maka bukan sekedar masuk di situ.
Tapi niatkan. Kalau seandainya Allah berikan Saya kesempatan seperti orang ini, maka Saya akan buat yang sama.
Juga ingin bangun masjid. Juga ingin begini begitu.
Ingat, hadis nabi ﷺ.
Manusia ada empat golongan.
Yang pertama adalah orang yang paling baik. Allah kasih ilmu dan harta.
Udah pintar agama, kaya raya. Ini orang terbaik. Dan teman-teman perlu jadikan sebagai doa.
"Ya Allah, karuniakan aku ilmu dan harta." Selalu jadikan doa begitu.
Jadikan doa kita supaya Allah berikan kita kebaikan ini bergabung dua-duanya. Sudah kaya, berilmu.
Ini yang terbaik. Karena dia gunakan hartanya pada kebaikan.
Kata nabi ﷺ maka dia gunakan keduanya pada kebaikan.
Lalu datang golongan yang kedua. Ini Allah kasih ilmu tanpa harta.
Dia pintar agama tapi miskin. Allah uji dengan kemiskinan. Dia tak punya harta.
Tapi dia bilang, "Ya Allah, kalau seandainya Engkau karuniakan aku seperti Engkau karuniakan pada si Fulan.."-
- dia contohi orang yang pertama. "..maka Saya akan buat sama."
"Kalau Saya juga kaya. Saya juga akan bangun masjid juga Saya akan pergi haji juga, akan hajikan orang."
"Saya akan infaq, Saya akan begini dan begitu." Memang dia ikhlas karena Allah.
Maka kata nabi, "
"Dua-duanya sama pahalanya."
Padahal yang kedua ini, tidak berbuat apa-apa.
Hanya dengan niat tekadnya yang baik.
Orang golongan ketiga, yang Allah kasih harta tapi tidak punya ilmu.
Dia tidak tahu mana halal mana haram. Kaya raya iya, tapi sumbernya haram.
Dari riba, dari manipulasi, dari segala macam.
Lalu dia habiskan dalam kemaksiatan. Dosa dia.
Yang keempat, yang paling buruk. Tidak dikasih harta, tidak dikasih ilmu.
Sudah miskin, bodoh.
Ini luar biasa berkumpul. Kemudian yang uniknya, dia bukan contohi orang kedua atau orang pertama malah contohi orang ketiga.
Yang sibuk habiskan hartanya pada kemaksiatan. Diskotik, bar, karaoke, segala macam.
Dibangun banyak-banyak sama dia. Maka yang keempat ini bilang, dia lihat orang ketiga. "Coba Saya punya kesempatan seperti dia.. -
- "..Saya akan buat yang sama."
Maksudnya juga bangun diskotik, segala macam.
Kata nabi,
"Dua-duanya ini dosanya sama."
Sudah miskin, sudah susah, tidur di pinggir got.
Di pinggir sungai, tapi yang dia lihat orang kayanya yang maksiat. Lalu dapat dosa yang sama.
Sama orang itu.
Juga dalam hadis nabi ﷺ yang mahsyur
"Siapa yang baru niat mengerjakan kebaikan, Allah catatkan baginya pahala lengkap perbuatan itu."
"Kalau dia kerjakan dicatatkan baginya sepuluh kali lipat."
"Bahkan kepada tujuh ratus kali lipat tergantung keikhlasannya."
Jadi di sini, karunia Allah yang luar biasa yang allah berikan tujuh ratus kali lipat tergantung keikhlasannya.
Temen-temen kalau lihat kerabatnya pergi haji, orang cuman lewat.
Belum tentu niat dalam hati, "Kalau seandainya Allah kasih Saya kelebihan seperti itu, Saya juga mau buat."
Maka kita dapat pahala haji.
Ruginya apa dengan niat? Sampai sebagian salaf mengatakan, "aku berharap punya niat di semua amal saleh."
"Walaupun aku tidak sempat melakukannya."
Dalam hadis yang lain, dari Abu Musa رضي الله عنه beliau berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda -
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba terkena sakit atau dalam safar (bepergian), -
- "maka dituliskan baginya (pahala) seperti yang ia kerjakan di waktu mukim (tidak musafir) dan lagi sehat."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari jilid enam halaman seratus tiga puluh enam, nomor hadisnya 2996.
Jadi teman-teman kalau lagi sehat,
kaya sekarang مَا شَاءَ ٱللَّٰهُ, Allah kasih kesehatan.
Puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, sedekah, baca Qur'an, salat di masjid, hadir di majelis talim.
Pokoknya maksimalkan. Nanti dia sakit, struk, sakit, gila hilang akal, apa saja, tetap pahalanya berjalan.
Walaupun dia tidak bisa kerjakan. Di sini dikatakan,
"Apabila seorang seorang hamba tertimpa sakit, struk, lumpuh, apa saja."
Atau hilang akal, atau bepergian, sampai safar, dia pasti kan jama' Qashar.
Mungkin dia kehilangan salat Qabliyah dan Ba'diyah.
Mungkin dia tidak bisa puasa dan seterusnya.
"Maka dituliskan baginya pahala seperti yang ia kerjakan di waktu mukim dan sehat."
Hadis nabinya Abu Kabsyah al-Anmari رضي الله عنه
- bahwasanya dia telah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda, -
- إِنَّمَـا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ
عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًـا
فَهُوَ يَـتَّـقِيْ فِيْهِ رَبَّـهُ
وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْـهِ حَقًّا.
فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ.وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًـا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا
فَهُوَ صَادِقُ النِـّـيَّـةِ يَقُوْلُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ
فَهُوَ بِنِـيَّـتِـهِ فَأَجْرُهُـمَـا سَوَاءٌ.
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَـخْبِطُ فِـي مَالِـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِـيْـهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ للهِ فِـيْـهِ حَقًّا
فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ , وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْـهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ
لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْـهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَـا سَوَاءٌ
Ini sebenarnya hadis yang panjang lebar. Hadis riwayat Tirmidzi di jilid tiga halaman tiga ratus delapan puluh lima.
Nomor hadis 2427.
Hadis Ibnu Majah jilid dua halaman 1413 nomor 4228.
Sudah kita sebutkan tadi, tapi ini lafadz jelasnya atau lengkapnya.
Kata nabi ﷺ "Sesungguhnya dunia itu hanyalah dimiliki oleh empat orang."
"Atau hanya empat orang."
"Yang pertama, hamba yang diberikan rizki oleh Allah berupa harta dan ilmu, kemudian dia menggunakan untuk ketakwaan kepada Rabb-Nya."
Lalu dalam kepatuhan, menghubungkan tali kekerabatan dan mengetahui hak Allah di dalamnya."
"Maka inilah kedudukan yang paling utama."
Kedua, hamba yang diberi rizki oleh Allah
berupa ilmui namun tidak diberi rizki berupa harta."
"Lalu dia mempunyai niat yang benar dengan berkata,"
"Kalaulah Aku memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti perbuatan fulan itu."
Golongan pertama tadi. "Maka orang itu, sesuai dengan niatnya. Maka pahala keduanya adalah sama."
"Ketiga, adalah hamba yang diberi rizki oleh Allah, berupa harta namun tidak diberikan rizki berupa ilmu."
"Lalu ia sia-siakan harta tersebut tanpa ilmui, tidak bertakwa kepada Rabb-Nya, tidak digunakan untuk silaturahim, -
"Dan tidak mengetahui hak Allah di dalam hartanya. Maka, hamba seperti ini berada di dalam kedudukan yang paling jelek."
"Keempat, hamba yang tidak diberi rizki oleh Allah, baik harta atau ilmu,
- "lalu dia berkata, 'Kalau aku diberi harta,
sungguh aku akan berbuat -
- 'seperti fulan itu (orang ketiga), maka orang itu sesuai dengan niatnya, maka dosa keduanya sama."
Begitu juga teman-teman sekalian, kalau mau tidur malam, niat salat tahajud.
Setiap malam jangan lewatkan itu.
Kalaupun kita ketiduran, kebablasan, dapat pahalanya.
Hadisnya ini disebutkan langsung.
Abu Darda meriwayatkan رضي الله عنه secara marfu' kepada nabi ﷺ. Beliau bersabda, -
ن أتَى فراشَه وهو ينوي أن يقومَ يُصلِّي من اللَّيلِ فغلبته عيناه حتَّى يُصبِحَ كُتِب له ما نوَى , وكان صدقةً عليه من اللهِ تعالَى
"Barangsiapa yang mendatangi tempat tidurnya dan berniat akan bangun untuk salat malam, -
- "lalu ia terlelap tidur sampai pagi, maka dituliskan pahala baginya karena niatnya tadi; -
"Pahala salat malam sedangkan tidurnya adalah sedekah Rabb-Nya kepadanya."
Hadis ini riwayat An-Nasa'i jilid tiga halaman 258, Ibnu Majah halaman 426-427.
Jadi di sini maksudnya adalah kalau dia ketiduran tadi adalah Allah memang kasih dia.
Ini mirip dengan hadis tentang masalah orang yang makan di bulan Ramadhan tapi lupa.
Memang dia tidak tahu. Bukan pura-pura lupa.
Jadi betul-betul lupa. Kata nabi ﷺ "Siapa yang puasa kemudian dia makan sementara dia lupa, maka dia sebaiknya melanjutkan puasanya -
- "Karena itu adalah kemudahan atau Allah yang memberikan dia makan."
Dan yang lebih besar lagi keutamaannya dari itu adalah bahwasanya Allah تَعَالَى‎ memberikan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.. -
- pahala dan ganjaran terhadap perbuatan syahwat mereka. Dan permainan mereka.
Dari Sa'ad Bin Abi Waqqash رضي الله عن, "Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "
إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ"
"Sesungguhnya tidaklah sekali-kali kamu memberi nafkah yang dengannya kamu mengharapkan Wajah Allah -
Maksudnya ikhlas.
- "melainkan pasti kamu diberi ganjaran sampai
sesuatu yang kamu letakkan di mulut istrimu."
Hadis riwayat Bukhari jilid tiga halaman 164, Muslim jilid tiga 1250-1251.
Dan Abu Dawud jilid delapan halaman 64 - 66.
Dari hadis ini kita bisa ambil teman-teman, pelajaran bagaimana sampai sepotong roti pun, mungkin sebutir kacang -
- yang dimakan oleh istri kita, itu sudah cukup untuk menjadi sedekah.
Dan akan dicatat pahala di sisi Allah ﷺ. Artinya tidak ada yang sia-sia tentunya.
Juga dalam hadis yang disebutkan oleh Abu Dzar رضي الله عنه.
"Bahwasanya ada beberapa orang sahabat nabi yang berkata kepada nabi ﷺ.
ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ
وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ.
قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً.
وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ
قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ
فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
Orang-orang kaya (sebagian sahabat-sahabat miskin) datang mengeluh kepada nabi ﷺ sambil berkata, -
'Orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat."
Artinya kami miskin, salat dan mereka juga kaya dan salat. Berarti pahalanya sudah sama.
"Mereka berpuasa sebagaimana kami puasa. Mereka menyedekahkan sisa-sisa kelebihan harta mereka.'
"Dan kami tidak miliki itu." Berarti ada nilai plus orang kaya.
Karena mereka sedekahkan hartanya kepada kami. Kami enggak bisa balas kebaikan itu.
Maka nabi ﷺ bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan?"
Banyak kalau bisa dapat pahala sedekah.
Jadi tidak harus duit yang dikasih.
Maka nabi jelaskan. Sesungguhnya dalam setiap tasbih, kau bilang سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ‎ dinilai sedekah."
"Setiap takbir sedekah. ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ."
Dalam setiap tahmid, اَلْحَمْدُ للَّهِ sedekah.
Dalam setiap tahlil, ا إله إلا الله ada sedekah.
Memerintahkan kepada kebaikan, mengingatkan orang terus, salat, puasa dan seterusnya, sedekah.
"Mencegah kemungkaran adalah sedekah dan
pada kemaluan salah seseorang dari kamu ada sedekah."
"Atau adalah sedekah." Pahala sedekah."
Mereka berkata, "Wahai Rasulullah.."
Apakah jika seseorang dari kami melampiaskan syahwatnya, terpenuhi biologisnya, Ia juga mendapatkan pahala?"
Kata nabi ﷺ "Apa pendapat kalian jika Ia meletakkannya pada tempat yang haram?"
"Apakah dia berdosa? Kalau zina dosa tidak?"
"Maka para sahabat tentu mengatakan, ya, lalu nabi ﷺ mengatakan maka demikian juga, jika Ia meletakkan pada tempat yang halal."
"Baginya pahala." Hadis riwayat Muslim, jilid 2 halaman 697.
Dan ini yang miskin ini orang-orang bujang,
dan gadis. Tidak ada tempat pelampiasan.
Akhirnya mereka lampiaskan pada yang haram. Jadi orang miskin di sini, sahabat miskin bertanya -
Orang-orang kaya sedekah. Bagaimana caranya kejar supaya kita dapat pahala mereka. Dia bilang tidur sama istri.
Di antara maknanya itu.
Kalau kau biologis sama dia, dapat kenikmatan, kau dapat pahala. Bisa ngejar pahala sedekahnya orang kaya.
Seperti itu. Makanya sebagian slaf mengatakan bujang itu seperti sebuah benda yang dibawa oleh angin terbang.
Terpontang-panting sana-sini. Tidak jelas arahnya.
Seorang sahabat berkata Abdullah Bin Mas'ud
kalau tidak salah berkata رضي الله عنه .
Kalau seandainya umurku tinggal sepuluh hari, maka aku tidak akan gunakan sepuluh hari itu kecuali dengan istri di sebelahku.
Suapin makan, dia dapat pahala. Bercanda sama dia pahala. Biologis sama dia pahala juga.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ terhadap bujang-bujang ini.
Artinya bahwa seseorang itu selama ia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan mengikhlaskan niatnya karena Allah.
Maka semuanya gerakan diam dan bangunnya akan dihitung
sebagai langkah-langkah menuju keridaan Allah.
Sebagaimana sebagian ulama salaf berkata, "Sesungguhnya aku sangat menyukai jika dalam segala sesuatu aku berniat, -
- baik dalam makan, minum,
dan tidurku sampai masuknya aku ke kamar kecil.
Ini semua bisa pahala.
Saya pernah jelaskan, teman-teman, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menekankan masalah itu dalam buku beliau رحمه الله
Dalam kitabnya Minhajul Muslim. Seingat Saya itu yang pernah Saya baca. Mungkin kalau di buku lain disebutkan juga والله أعلمُ.
Dan beliau mengatakan hal-hal mubahl makan, minum, tidur, mandi; mubah.
Asalnya dilakukan tidak berdosa, tidak dilakukan juga tidak masalah
Tetapi, kecuali kalau kena yang wajib; mandi junub, atau pun haid dan nifas, misalnya.
Tapi kalau tidak, itu semua hukumnya biasa, mubah. Tapi bisa dialihkan jadi sunnah.
Makan, daripada cuman sekedar hilangkan lapar, itu mubah.
Tidak pahala, tidak dosa juga. Kecuali kita makan yang haram.
Tapi kita bisa alihkan menjadi pahala dengan niat, lapar ini adalah Allah yang datangkan sebagai pencipta berarti -
- Allah mengingatkan saya untuk
memberikan hak terhadap jasad Saya.
Maka Saya makan, bukan hanya sekedar hilangkan lapar, tetapi memberikan hak jasad.
Dari mubah menjadi sunnah. Ada pahala. Sudah kenyang, dapat pahala.
Begitu juga dengan, tidur. Antum, nih tidur langsung. Tidak.
Cari kejar pahala di tidur itu. Sayang, lima enam jam tidur di malam hari. Tidur delapan jam, baru engga dapat pahala.
Dia tidur dalam kondisi tidak sadar. Niatkan tidur bukan hanya sekedar karena ngantuk,
- tapi karena ingin memberikan hak jasad yang Allah amanahkan.
Allah suruh menjadikan malam sebagai waktu istirahat.
Kami jadikan malam sebagai selimut untuk membuat kalian istirahat. Dan kami jadikan tidur itu untuk istirahat.
Maka niatkan untuk itu, bukan hanya
sekedar lewat begitu saja misalnya.
Maka itu yang dimaksud di sini. Sebagian slaf mengatakan "Sesungguhnya aku suka atau berusaha jika segala sesuatu aku berniat."
"Baik dalam makan, minum, dan tidurku, sampai masuk ke kamar mandi." Diniatkan karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎
"Maka ikhlaskanlah niatmu wahai seorang muslim, baik dalam gerakan-gerakanmu maupun diam-mu."
"Sehingga syiar-syiarmu sesuai dengan sesuatu yang Allah perintahkan kepada nabi-Nya."
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman dalam surat Al-An'am ayat ke 162.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢
"Katakanlah Wahai Muhammad, 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam."
Termasuk salah satu perbuatan baik seorang hamba kepada Allah adalah dalam segala gerakan dan diamnya, -
- mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Ini syarat diterimanya amal yang kedua, ya.
Kalau syarat diterimanya amal yang pertama itu ikhlas,
sudah kita jelaskan panjang lebar.
Kalau syarat diterimanya amal yang kedua, dan tanpa ini juga tidak akan diterima amal, yaitu mutabaah.
Mengikuti nabi ﷺ.
Allah berfirman di dalam surat An-Nisa ayat ke-125.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
مَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ
ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا ١٢٥.
"Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas, menyerahkan dirinya kepada Allah" -
- "Sedang dia pun mengerjakan kebaikan,
"dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus, dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya."
Maksudnya adalah mengikhlaskan amalannya kepada Rabb yang Maha Suci dan Maha Mulia.
Dia beramal dengan dasar iman dan mengharapkan balasan dari Allah yang Maha Tinggi.
Dan makna Firman Allah وَهُوَ مُحْسِنٌ "Dan dia berbuat baik." maksudnya di dalam amalannya itu -
- dia mengikuti apa yang telah disyariatkan oleh Allah baginya.
Dan mengikuti petunjuk dan agama yang benar, yang dengannya Rasulnya ﷺ diutus.
Dua syarat inilah yang mana tampak keduanya amalan seseorang tidak sah, yaitu -
beramal harus ikhlas dan benar. Dan ikhlas itu harus karena Allah. Sedangkan benar adalah mengikuti syariat Allah.
Lahirnya dengan mengikuti dan batinnya dengan mengikhlaskan niat. Maksudnya fisiknya -
- mengikuti tata caranya. Hatinya dengan ikhlaskan semuanya.
Ketika suatu amal kita kehilangan salah satu dari kedua syarat tersebut, -
- maka akan rusaklah amalannya itu.
Barangsiapa yang kehilangan keikhlasan, maka dia disebut dengan orang munafik.
Mereka itulah orang-orang yang ingin dilihat oleh orang lain, sedangkan barangsiapa yang tidak mengikuti syariat -
- tidak mengikuti ajaran nabi ﷺ, maka ia tersesat dan bodoh.
Namun barangsiapa yang kedua-duanya ada di dalam dirinya, maka itulah amalan orang-orang beriman yang akan Allah terima -
- karena baiknya amalan mereka dan Allah mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.
Paragraf terakhir kita yang kita baca, setelah ini kita buka pertanyaan dulu.
Adalah perkataan penulis mengatakan, "Maka barangsiapa yang diberi ikhlas, rezeki ikhlas.. -
- "Dan mengikuti syariat berarti dia telah memperbaiki hubungan antara dia dengan Allah."
Adapun mengenai memperbaiki hubungan baik antara seorang hamba dengan hamba lainnya -
- maka sungguh Allah telah memberitakan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang zaman ini -
- dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat ke-83.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى
وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ
وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٨٣
"Dan ingatlah ketika kami mengambil janji dari Bani Israil."
"Yaitu janganlah kamu menyembah kecuali Allah. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim."
"Dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, -
- kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu selalu saja berpaling."
Dari hadis ini atau dari ayat ini kita ambil penjelasan atau pemahaman bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan agar kita pun -
‎- selain berhubungan dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎, harus menjaga hubungan yang baik dengan manusia.
Setelah Allah bilang "Kami ambil janji dari bani israil." jangan membuat syirik, jangan sekutukan Allah ini hubungan dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.
Kemudian, berbuat baik sama orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, -
- ucapkan kata-kata yang baik kepada manusia. Dirikan salat.
Maaf sampai di sini tadi manusia, Allah kembali kepada hubungan dengan dia lagi, dirikanlah salat.
Lalu dengan manusia, tunaikanlah zakat. Allah bilang begitu. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu.
Sayangnya banyak tidak mau mengikuti dari Bani Israil.
Allah dengungkan dalam surat Al-Baqarah supaya jangan kita mencontohkan Bani Israil itu.
dalam meninggalkan hubungan baiknya dengan manusia.
Juga yang terakhir adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ di dalam surat An-Nisa ayat ke-36.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا
وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى
وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ٣٦.
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."
Pohon, batu, jimat, segala macam, segala macam tidak ada. Murni Allah saja.
"Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapakmu. Baik mereka hidup maupun mereka sudah meninggal."
Tetap kita bisa bakti. Karena ada seorang sahabat mengatakan.
"Ya Rasulullah, orang tua Saya sudah mati. Apakah masih tersisa cara bakti kepada mereka?"
Kata nabi ﷺ, "Ya. Kamu menyambung hubungan dengan orang-orang yang kau tidak bisa punya hubungan kecuali melalui orang tuamu."
Maksudnya paman, tante kita, sahabatnya orang tua.
Ayah ibu kita sudah meninggal, ada saudara-saudarinya. Ada kerabatnya. Bakti kepada mereka.
Kemudian karib kerabat sudah disebutkan tadi; anak-anak yatim, yatim artinya anak yang meninggal ayahnya.
Meninggal ibu tidak dikatakan yatim.
Disuruh berbuat baik sama mereka dan syaratnya mereka belum baligh.
Saran Saya teman-teman sekalian agar semua yang hadir di sini, harus punya walaupun sedikit, sumbangan setiap bulan rutin kepada yatim.
Kalau Anda merasa Saya masih miskin belum punya harta, belum segala macam, berapa mampunya?
Ajak teman-teman semua menyumbang berapa saja.
Saya berapa kali masuk supermarket, itu Saya sempat masuk ke carrefour.
Saya tahu bukan karena nyebutin supermarket ini, tapi Saya kebetulan masuk di sana dan sebelum naik ke eskalatornya -
- ada satu ibu, sudah tua, dia bawa sebuah bukti soal rumah anak yatim butuh bantuan.
Dikasih amplop, ada nomor teleponnya, ada alamatnya, terserah mau meneyumbang berapapun di amplop itu.
Kasih sesuatu. Allah perintahkan untuk berbuat baik. Berikan anak yatim, kalau kita bisa jenguk mereka -
- bagus dan usahakan kalau bertemu
anak yatim dielus kepalanya.
Karena anak yatim yang belum baligh tentunya.
Yang sudah baligh tidak ada lagi yatim. Jangan nenek-nenek atau kakek-kakek ngaku yatim, Saya yatim.
Bantu Saya, itu tidak benar.
Dalam hadis dikatakan, kalau kita elus kepalanya setiap helai rambutnya satu pahala.
Sunnah nabi ﷺ kita lakukan itu.
Dan nabi mengatakan Saya dan sponsor yatim seperti ini. Dan nabi kasih jarak sedikit.
Saya dan sponsor yatim seperti ini di surga, nabi kasih jarak sedikit.
Hanya dengan sponsori mereka saja, kita akan dapat pahala.
Termasuk ini jalan yang bagus buat bujang-bujang. Menikah dengan janda yang punya anak itu anak yatim.
Kalau ayahnya sudah meninggal. Kalau ayahnya masih hidup bukan yatim.
Kemudian orang-orang miskin, butuh bantuan, tetangga dekat dan tetangga yang jauh.
Kalau kita punya sesuatu, kita dahulukan tetangga.
Dalam bab-bab di buku fiqih dijelaskan ada sebuah bahasan الجارُ أَحَقُّ بصَقَبِه.
Tetangga dalam islam lebih pantas mendapatkan penawaran tetangganya. Jadi kalau kita mau jual rumah, jual mobil, apa saja, -
- maka pertama tetangga dulu. Misal dia tolak, baru kita tawarkan orang lain.
Makanya nabi ﷺ bilang kepada kita semuanya.
Jibril setiap kali ketemu selalu wasiatkan agar perintahkan umatmu berbuat baik kepada tetangganya.
Sampai Saya kira tetangga akan dapat warisan. Karena pentingnya.
Dan Aishaa pernah berkata رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا "Siapa tetangga yang paling pantas Saya berbuat baik dengannya?
Kata nabi ﷺ "Orang yang paling dekat
pintunya dengan pintu rumahnya."
Itu yang didahulukan.
Teman sejawat, orang yang sudah berkenalan jadi sahabat kita, Ibnu Sabir orang terputus jalan, dan juga hamba sahaya -
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya.
Maka Allah menyuruh kita berbuat baik kepada semua orang-orang ini tentunya.