Transcript
1SUt0p8TWTo • Kitab Adab #18: Berbuat Adil dan Ihsan - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2562_1SUt0p8TWTo.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwan allahumma sholli alaihi waa alihi waashabihi wa ikhwani. Para hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Kita melanjutkan pembahasan kita masih dalam kitabul adab ya ee bab yang ke-56 bab qulullahi taala. Innallaha yamuru bil ihsan. Waidil qurba wahail fahsya wal munkar wal yaidukum laallakum tadakkarun. Yaitu firman Allah Subhanahu wa taala dalam ee Al-Qur'an ee saya carikan ayatnya yaitu dalam surat ee sebentar. ya. Yaitu artinya Allah Subhanahu wa taala memerintahkan kalian untuk berbuat keadilan dan berbuat ihsan. Surah An-Nahl ayat 90. Ya, surah 16 ayat 60. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala menyuruh kalian untuk berbuat adil dan berbuat ihsan, berbuat kebaikan. Wailbahaya wal munkar." Dan juga melarang kalian meletakkan kalian untuk memberi berbuat baik kepada karib kerabat dan melarang dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar walaghi dan juga permusuhan. Yaidukum laallakum tadakkarun. Allah beri pelajaran kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Kemudian juga firman Allah waqulihi innama bagukum ala anfusikum. Sesungguhnya ee perbuatan zalim kalian akan kembali kepada kalian. Ee ini dalam ee dalam surat ee Yunus ya ee ayat 23 ya. Allah berfirman, "Ya ayyuhanas innama bagukum ala anfusikum." Wahai manusia sekalian, sungguhnya eh kezaliman kalian itu akan menimpa diri kalian sendiri. Kemudian ayat yang ketiga, waqui tumma bugya alaihi. Ya, eh saya carikan juga ya. Dalam surat al-Haj ayat 60 kata Allah, "Waman aqoba bimli mau uqiba bihi alaihiansahullah." Siapa yang membalas sesuai dengan kezaliman yang menimpanya kemudian bugi alaihi kemudian dia dizalimi lagi setelah itu lansurannahullah. Sesungguhnya benar-benar Allah akan menolongnya. Innallaha lauun gfur. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha pemaaf. Ya. Kemudian kata al Imam Bukhari, "Warki itarati syarri ala muslimin kafirin." Dan meninggalkan sikap ee memprovokasi atau menimbulkan keburukan atas seorang muslim atau seorang kafir. Ayat ini ee Al Imam Bukhari ingin menyampaikan kepada kita ya untuk berbuat al-ihsan. Beliau berdalil dengan tadi yang pertama surat Annahl. Innallaha yamuru biladli. Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk berbuat keadilan. Setelah itu Allah mengatakan wal ihsan dan juga berbuat ihsan. Dan ihsan nanti akan kita jelaskan. Sebagian ulama menafsirkan al-ihsan yaitu berbuat sikap al-fadl. Yaitu ee memaafkan. Ya, meskipun engkau mampu untuk membalas, lebih baik engkau memaafkan. Karena sebagaimana pernah saya sampaikan dalam banyak kajian bahwasanya muamalah ada tiga. Namanya adalah muamalah bilm, muamalah bil adil, dan muamalah bilfadl. Bidzulm yaitu kita ee berbuat zalim kepada orang lain. Ya. E ini tentunya haram hukumnya. Bil. Maka ini bil adal yaitu dengan berbuat seimbang ya, setimpal kita membalas kebaikan dia sebagaimana kebaikan ee yang dia berikan kepada kita atau kita membalas keburukannya sesuai dengan keburukan yang menimpa kita. Ini dibolehkan. Dibolehkan dan ini juga ee ini minimal yang bisa kita lakukan bil adil. Seperti eh dalam kebaikan kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, man ilaikum marufan fakfiuhu. Siapa yang berbuat baik kepada kalian maka balas setimpal. Balasnya setimpal. Ya, orang kalau kasih kita kebaikan kita balas berusaha setimpal. Faam tajidu ma tufiahu anakum kafumu. Dan kalau ternyata kalian tidak bisa membalas kebaikan setimpal, maka doakan dia sampai kalian merasa dengan doa kalian tersebut sudah cukup membalas setimpal atau membalas keburukan ee juga dengan ee keburukan yang setimpal. Dan ini juga dalam Al-Qur'an banyak seperti fain aqobtum faqibu mau bih. Kalau kalian balas maka balaslah dengan setimpal. Allah juga berfirman, wai sayiatin sayiatun mluha. Balasan keburukan sama dengan keburukan yang sama. Ini dibolehkan. Seorang mukul kita sekali, kita boleh pukul dia sekali juga. Seorang memaki kita sekali, kita boleh maki sekali juga. Dan ini setimpal seperti juga dalam surat yang tadi kita bacakan. Waman aql ma uqib bihi. Ya, barang siapa yang ee membalas dengan eh kezaliman yang kepadanya, ini namanya biladil, setimpal. Kebaikan dibalas setibal, keburukan dibalas yang wajib. Kalau zalim tentunya haram. Di sini kemudian ada muamalah jenis ketiga yang disebut dengan bilfadlal atau bil ihsan, yaitu membalas ee dengan lebih baik atas apa yang dilakukan kepada K. Ini juga bentuknya banyak atau ada beberapa bentuk. Di antara bentuk pertama kita berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita. Yang tidak berbaik kepada kita maka kita balas dengan ee kita beri kebaikan. Ini orang ini tidak pernah kita kenal, tidak pernah berbaik sama kita. Kita beri kebaikan. namanya kita bilfadl atau ihsan. Yang kedua kita ee ee apa namanya? membalas kebaikannya dengan lebih. Membalas kebaikannya dengan lebih. Dia berbuat kebaikan. Misalnya dia mengasih kita uang misalnya sejuta, kita kasih balas dengan uang R juta, ya. Maka ini berarti kita membalas dengan yang lebih baik. Maka namanya bilfadl atau dengan ihsan. Kemudian yang ketiga di antaranya misalnya kita ee membalas keburukan dengan kurang daripada keburukannya. Misalnya dia pukul kita 10 kali, kita pukul dengan lima kali. Ini juga termasuk ti saya ulangi ee ke muamalah terhadap orang lain ada tiga. Bil setimpal. Bilfadl itu dengan lebih baik. Dengan lebih baik. kezaliman tentunya haram ya kita ini hukumnya haram karena kita menzalimi orang mengambil haknya menjatuhkan haknya ya ini ee di antaranya bentuknya ada mengambil hak orang lain mengambil hak orang lain ya atau menahan ya menahanan hak orang lain Dan biasanya kezaliman terkait dengan tiga perkara ya. J terkait dengan tiga perkara yaitu terkait dengan ee jiwa atau tubuh, kemudian terkait dengan harta kemudian harga harga diri. Ini semua adalah kezaliman. Tunnya hukumnya haram. yang setimpal. Setimpal ini bisa dua terkait dengan membalas kebaikan setimpal. Sudah tadi kita sebutkan bagaimana Rasulull sahu alaihi wasallam menyuruh hal tersebut. Ee dan ini hukumnya adalah wajib balas setimpal. Kalau tidak mau balas dengan setimpal maka doakan ya. Kalau tidak mau balas terus membalas keburukan setimpal. setimpal balas kedukan setimpal maka ini juga masih dibolehkan ya ini tentunya ee apa namanya mungkin saya tidak bilang kalau ini ini wajib ya nanti kalau ini bukan wajib tapiak boleh boleh ya boleh seorang berusaha membalas kebaikan-kebaikan kalau keburukan boleh baginya untuk membalas dengan setimpal tadi dalilnya banyak jazaun sayiatinatunlaha balasan keburukan setimp setimpal boleh wain aqtum faqbitum bih kalau kalian ee balas maka setimpal. Nah, yang kita bahas ini bilfadl atau dengan sebut dengan bil ihsan. Ini di antara tafsiran ihsan. Balas dengan lebih baik. Ini ada berapa bentuknya ya? Ini hukumnya dianjurkan atau sunah. Dianjurkan. Di antara bentuk-bentuknya yang pertama adalah misalnya membalas kebaikan dengan lebih baik. Dengan lebih baik ya. Misalnya ada seseorang yang membantu kita dengan uang misalnya R1 juta, kita beri dengan balas lebih baik ya. Suatu saat kita bantu dia dengan lebih daripada itu ya. Ee ini adalah dengan bilfadl dia bantu kita pernah ngangkat barang sekali dua kali kita bantu dia lebih angkat barang dia lebih banyak maka ini bilfadl atau misalnya membantu orang berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita yang tidak berbuat baik kepada gitu. Kita berbuat baik sama orang, kita tidak punya hutang budi sama dia. Kemudian kita berbuat baik sama dia, ihsan namanya. Berbuat ihsan. Atau disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah juga membalas keburukan dengan lebih sedikit. Dan lebih sedikit. Ini juga adalah berbuat ihsan. Adaang berbuat keburukan kita balas ya. Namun dengan ee sedikit ya atau tidak membalas sama sekali memaafkan. Memaafkan keburukan ini juga ihsan. Memaafkan keburukan. Di antara ihsan juga membalas keburukan dengan kebaikan. Ini tingkat tinggi membalas keburukan dengan kebaikan. Kata Allah Subhanahu wa taala, eh w yulaqohau. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang-orang yang sabar. W yulaqoha illainim. Dan tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang diberi bagian yang besar. Yaitu orang yang mampu balas keburukan dengan kebaikan. Ini namanya bil ihsan. Bil ihsan. Nah, sekarang kita sedang bahas bab ini di mana al Imam Bukhari membawakan babillahi taala. Bab tentang firman Allah. Innallaha ymuru bil adil. Allah perintahkan bilal, yaitu berbuat keadilan, insaf, setimpal. Kemudian wal ihsan. Wal ihsan yaitu Allah juga perintahkan yang lebih baik daripada itu. Yaitu melakukan yang lebih utama yaitu muamalah bilfadl. Ya. Setelah itu Imam Bukhari membawakan ayat yang lain. Innama bagyukum ala anfusikum. Ini isyarat untuk memaafkan. Isyarat untuk memaafkan ya. Memaafkan ya. Karena Allah berfirman, "Innama ya ayyuhanas inamaum anfusikum." Wahai manusia kalian, kalau kalian berbuat zalim akan kembali kepada kalian. Maksudnya kalau kamu dizalimi, serahkan sama Allah. Maafkan aja. Kalau memang buruk, Allah akan beri balasan. Allah yang akan Allah yang akan tangani. Kau gak usah enggak usah balaslah. Demikian juga bugi alaihiansurnahullah. Ya, ini firman Allah. Eh eh bqibhi alaihiq surat alhaj ayat 60. Siapa yang membalas bimli mau qibi dia sudah balas dia melakukan keadilan. Ada orang zalim sama dia dia balas. Ternyata orang yang dibalas ini balas kedua kali. Tumma bugi alaihi. Ya. Berarti dia berhak untuk balas lagi kedua kali. Enggak boleh karena itu adil. Tapi ternyata untuk kedua kali seakan-akan Allah mengatakan gak usah, gak usah gak usah balas lagi. Ada orang dibalas dia balas lagi. Balas lagi. Memang kita berhak untuk balas dan itu keadilan. Enggak ada masalah. Boleh bagi kita untuk balas keburukan-keburukan. Tetapi ee Allah mengatakan layansurannahullah. Sesungguhnya Allah akan menolongnya. Isyarat ya sudah enggak usah enggak usah dibasti Allah yang tolong. Allah yang tolong. Innallaha lafun gfur. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Sebagian ulama kalau tidak salah Syekh Sidi mengisyaratkan, "Ya sudah maafkan aja." Karena Allah tutup ayat ini dengan firmannya ee innallaha laafun gfur. Sesungguhnya Allah maha pemaaf lagi maha pengampun. Ya sudah serahkan sama Allah subhanahu wa taala. Oleh karenanya di antara ee pernyataan Ibnu Taimiyah rahimah dalam kitabnya qidatun fisabar dia menyebutkan di antara yang buat kita sabar yaitu diserahkan sama Allah subhanahu wa taala. Ada orang buat zalim kita serahkan sama Allah. Gak usah kita gubris itu kezaliman. Allah akan tolong. Tapi kalau kita mulai gubris, kita mulai cara kita, berarti kita mempasrahkan urusan pada diri kita sendiri. Tapi kalau kita serahkan sama Allah, ini Allah yang Allah yang tangani. Layansurannahullah. Yakin sungguh Allah akan menolong orang yang dizalimi. Serahkan sama Allah. Ee tidak perlu ee kita balas. Ya, ini di antara ee hal yang membuat kita sabar. Terkadang kita enggak perlu balas, enggak perlu gubris, ya. Tib. Kemudian al Imam albukhari membawakan dalil dari hadis tadi, dari ayat ya, dari ayat beliau ee apa namanya? Ee beristinbat mengambil ee bahwasanya kita diperintahkan berbuat ihsan. Di antara akhlak yang mulia, berbuat ihsan. Tadi kita sudah sebutkan bentuk-bentuknya. Berbuat ihsan membalas kebaikan dengan yang lebih. Berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik sama kita. Ee membalas keburukan dengan sedikit lebih sedikit ya untuk memberi pelajaran. misalnya kita balas tapi dengan lebih sedikit untuk menegur atau memaafkan keburukan atau membalas keburukan dengan kebaikan. Ini semua bentuk ihsan. Ya, ini hanya orang-orang hebat yang bisa ee melakukannya. Kemudian Al Imam Bukhari membawakan hadis yang terkait dengan hal ini. Saya bacakan hadisnya tentang bagaimana Nabi memaafkan orang Yahudi yang menyihirnya. Eh al Imam Bukhari berkata, "Qasana Humaidi q hadana Sufyan Q hadana Hisyam bin Urwah anabi Aisyata radhiallahu taala anha qalat." Aisyah berkata mak Nabi sallallahu alaihi wasallam k wa Nabi dalam tinggal dalam waktu lama ya dalam waktu tertentu mungkin beberapa lama. Yukyyalu ilaihi annahu yati ahlahu wala yati. Itu Nabi tersihir. Sehingga dikhayalkan Nabi mendatangi istrinya ternyata Nabi tidak mendatanginya. Ini sihir pernah menimpa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan juga pernah menimpa Nabi Musa. Seperti ketika Nabi Musa berduel wajau bisirrin adim. Berduel dengan para penyihir Firaun. Kata Allah wajau bisihirrin adim. Saharu aunanas. Maka mereka datang dengan sihir yang hebat. Kata Allah saharu aunanas. Menjadikan orang-orang penonton semua tersihir matanya. Sampai Nabi Musa juga mengalami yukhayyalu ilaihi min sihrihimaha. dikhayalkan kepada mata Musa halusinasi seakan-akan si e tali-tali dan tongkat-tongkat mereka menjadi ular yang bergerak. Faasa fi nafsi Musa. Sehingga Nabi Musa pun takut. Timbul ketakutan karena ular-ular banyak sekali bergerak. Qulna tak innaka antal a. Kami berkata, "Jangan kau takut, kau lebih menang. Lemparkanlah tongkatmu. Lemparkanlah tongkatmu. Akan jadi ular yang memakan ular-ular mereka." Ya. Maka ketika Nabi Musa lempar tongkatnya, ularnya menjadi hayyatun tasa'a tsbanum mubin. Ya, dalam Al-Qur'an Nabi Musa tongkat ularnya menjadi besar dan gerakannya cepat. Hayat itu maksudnya ular yang kecil, gerak ke cepat. Tsban maksudnya ular besar. Namun ularnya Nabi Musa ini ee terkumpul padanya. Biasanya kalau ular besar, ular gemoi jalannya pelan ya. Tapi ini ularnya gede tapi cepat gerakannya. Gerakannya cepat. Nah, maksud saya Nabi Musa alaihi salam juga tersihir. Namun timbul pertanyaan, apakah para nabi mungkin tersihir? Jawabannya mungkin sebagai ujian seperti penyakit. Tapi hal ini tidak terkait dengan risalah ee ajaran yang dibawa oleh mereka. Ya. Sehingga Nabi sallallahu alaihi wasallam meskipun tersihir ee sehingga dia dikhayalkan mendatangi istrinya, namun beliau tidak mendatangi. Namun tidak terkait hukum dengan hukum-hukum syariat. Adapun hukum syariat maka dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini seperti Nabi terkena penyakit akibat sihir. Kemudian Allah sembuhkan. Tapi kita lanjutkan. Maka kata Aisyah, Rasulullah dalam beberapa lama dikhayalkan dia mendatangi istrinya, namun dia tidak mendatangi istrinya. Qala qalat Aisyah. Aisyah berkata, "Faqala liata yaumin." Maka suatu hari Rasulullah berkata kepadaku, "Ya Aisyah, innallaha taala aftani fi amrin istaftauhu fihi." Ya. Ya, Aisyah. Sesungguhnya Allah telah berikan aku jawaban pada perkara yang aku minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Atani rajulani. Datang dua orang yaitu malaikat dalam bentuk manusia. Fajalasa ahaduhuma indijilayya. Salah satu duduk di kedua kakiku. Wal akhar indosi satunya di kepalaku. Faqal rijligaiya. Maka berkata yang ada di kedua kakiku. Lillad ri berkata kepada satunya yang ada di kepalanya. Ma balajul apa yang dialami oleh orang ini? Qala matbub. Maka yang satu menjawab, "Dia sedang tersihir." Yakni mashuron. Dia tersihiru. Siapa yang sihir dia? Malaikat saling berbicara. Satu menjawab, Q Labid ibnu Asam. Labit bin Asam yang telah menyihirnya. Q wafima. Bagaimana? Pada apa dia sihir? Q fi juffi thatiakarin fi mustin wa musin tahta rufatin fi'riwan. yaitu ee mengambil ee thaah yaitu satu bagian daripada ee ee kelopak yang ada di pohon kurma bagian lelaki. kemudian ditaruh di ee apa ee rambut ya kemudian di kumpulkan ya kemudian diletakkan di bagian bagian bawah batu di sebuah sumur yaitu ada rambut Nabi diambil kemudian dimasukkan dalam kelopak semacam kelopak yang ada dari ee kurma dengan rambutnya kemudian di diikat mungkin diletakkan di bawah sebuah batu di sebuah sumur namanya Bi'rwan. sumur darwan itu Nabi dikabarkan ternyata Nabi di disihir dan ada bagian dari tubuhnya diambil faja Nabi sallallahu alaihi wasallam faqala maka Nabi sallallahu alaihi wasallam datang nabi berkata, "Hadil biru allati urituha inilah sumur yang aku diperlihatkan dalam pembicaraan dua malaikat tersebut kaana ruusa nakliha ruusatin seakan-akan eh kepala dari eh kurmanya seperti kepala-kepala setan ka maaha nuq hinna ya seakan-akan airnya merah terkena hinna ya faamar Nabi sallallahu alaihi wasallam faukhrij maka Nabi sallallahu alaihi wasallam memerintahkan dikeluarkanlah ee sihir tadi itu diambil dari bawah batu tadi qalat jadi bisa jadi ee bagian rambut diambil sihirnya tempatnya apa namanya ee buhulnya jauh ini buhulnya jauh di sebuah sumur ini sihir sangat kuat ya sihir orang Yahud Eh qat Aisyah qulu ya Rasulullah fahalla ini tanah syarta. Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, apakah ee engkau sudah lepas ya atau ee maka lepas dari sihir?" Ada yang mengatakan maknanya apakah kau tidak menyebarkan hal ini kepada masyarakat bahwasanya kau disihir. Faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam amallah faqad syafani. Adapun Allah maka Allah telah mengobatiku. Waama ana faakrahu anir alasiar. Adapun aku, aku tidak ingin membuat provokasi atau menyebarkan ribut-ribut di kalangan masyarakat. Qat wabid bin Aam. Kata Aisyah Alabid bin Asam, "Rajulun min bani Zuraik." Dia seorang dari Bani Zuraik, halifun liyahud, yaitu yang berafiliasi atau bekerja sama bersekutu dengan Yahudi. Ada yang mengatakan maksudnya Labit bin Asam ini ada yang mengatakan dia munafik. Ada yang mengatakan dia dari Bani Zuraik, Arab tetapi kerja sama dengan Yahudi. Ada yang mengatakan dia Yahudi. Dia Yahudi. Yahudi Bani Zuraik. Yahudi tapi dari Bani Zuraik yang kemudian ee apa? beragama Yahudi. Ya, intinya yang ingin disampaikan oleh Imam Bukhari wallahuam bisawab. Bagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam melakukan ihsan sehingga beliau tidak membalas Yahudi tersebut. Dan ini sifat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ee Rasul sahu alaihi wasallam dalam hadis man taqama linafsihi Rasul sahu alaihi wasallam tidak pernah membalas untuk dirinya. Dia enggak pernah. Walakin iduhikat hurumatullah. Tapi kalau ada perkara syariat yang dilanggar terkait dengan syariat baru beliau marah. Tapi kalau terkait dengan dirinya, beliau maafkan. Beliau maafkan. Ini contoh Rasulullah tidak tangkap Yahudi tadi. Padahal sudah ketahuan malaikat Islam itu namanya Labit bin Asam. Ketahuan juga buhulnya. Rasulullah sudah ambil buhulnya. Ee tinggal tangkap. Apalagi Rasulullah di Madinah adalah kepala negara di situ. Tinggal tangkap, tinggal bunuh. Tapi Rasulullah tidak lakukan. Rasulullah maafin. Ya. Kemudian juga contoh seperti Rasulull sahu alaihi wasallam ketika diberi racun di Khaibar. Wanita yang kasih racun Khaibar. Dia tanya tentang Nabi. Nabi sukanya apa? Ternyata Nabi suka makan zira, yaitu paha kambing. Maka dikasih racun banyak di situ. Ketika Rasulullah makan, sahabat juga ikut makan. Tiba-tiba kambing itu berbicara, "Inni masmumah. Saya beracun." Maka Rasulullah mengatakan, "Angkat tak tahan ke tangan kalian." Ternyata sebagian sahabat ada yang sudah terlanjur makan dan akhirnya meninggal dunia. Nabi termasuk cepat racun masuk namun dia menahan diri akhirnya tidak jadi meninggal. Ee tetapi akhirnya itu menyebabkan sebab beliau sakit setelah itu 3 4 tahun kemudian baru beliau meninggal meninggal dunia atau 3 tahun berikutnya. 4 tahun berikutnya ya. Karena Allah ingin agar Nabi mendapatkan pahala yang mulia dengan mati dengan mati syahid ya. Intinya Rasulullah sahu alaihi wasallam tidak membunuh wanita tersebut. Rasulullah maafkan dia. Kenapa? Karena ya Rasulullah orang yang pemaaf ini terkait dengan dirinya. Rasulullah man taqama lfsi. Rasul sallahu alaihi wasallam tidak pernah memarah marah karena untuk dirinya gak gak pernah. Tetapi kalau syariat dilanggar baru beliau beliau marah. Ya, di sini ee Rasulullah menjalankan al-ihsan dan ini nasihat buat kita ya. Ee kalau kita dizalimi ya selama kita bisa maksudnya bisa selamat ya tanpa harus menggubris kezaliman tersebut itu lebih utama. Lebih utama kita ingat inamaukum alfusikum. Firman Allah tadi yang disebut Imam Bukhari. Sungguhnya dalam surat Yunus, "Sungguhnya kezaliman kalian kembali kepada diri kalian cepat atau lambat dunia pun atau akhirat." Dan Rasulullah telah mengabarkan maambin tidak ada dosa yang paling cepat di Allah hukum di dunia ee sebelum Allah tempakkan di akhirat juga dosanya dari qitatah walu. Yaitu dari memutuskan silaturahmi dan berbuat zalim. Ini mudah Allah balas di dunia sebelum di akhirat. Ini karenanya ee kalau dia zalimi kita, kita berusaha tidak gubris kalau bisa memaafkan agar kita lebih tenang, agar kita melakukan ihsan. Dan apalagi Allah berfirman, tumma bugi alaihi lansurannahullah. Kemudian dia dizalimi kedua kali. Setelah dia balas ternyata masih dizalimi, ketahuilah Allah akan menolongnya. Ya, ini wallahu alam bawab. Inilah maksud dari bab ini ya. daripada kita membalas timbul keributan. Tadi Rasulullah tadi ketika ditanya kepada Aisyah bertanya kepada apa jawaban Nabi sallallahu alaihi wasallam? Ee amallah faqad syafani. Adapun Allah telah mengobati aku. Adapun aku wa ana faakrahu alasiar. Saya tidak pengin menimbulkan keributan, menimbulkan keburukan di kalangan manusia. Kalau kita balas ribut, apalagi zaman sekarang ada orang zalimi kita balas kemudian bikin bikin jumpa pers, kemudian kita bikin upload berita, kemudian ribut jadi apa ya jadi konsumsi publik yang ngapain mereka sibuk dengan urusan kita hanya untuk untuk menjaga harga diri kita untuk kalau enggak perlu enggak usah enggak perlu enggak usah ya sudahlah zalim ya sudah serahkan sama Allah subhanahu wa taala zaman sekarang sedikit-sedikit Bantah sini, ribut sana. Aib dibuka. Saling bongkar-bongkaran aib. Ya udahlah enggak usahlah. Udahlah Tuhan ada. Kalau Tuhan enggak ada Tuhan ada Allah. Jadi mau bilang-bilang nanti urusan dengan Allah Subhanahu wa taala. Kalau kau salah kau diam. Alhamdulillah. Kalau kau benar insyaallah yang semua kembali akan baik kepada kepadamu. Maka di sini Allah berfirman, "Innallaha yammuru bil adli wal ihsan." Allah perintahkan kalian untuk berbuat insaf, berbuat adil. Kalau mau balas setimpal boleh, tapi yang lebih baik adalah al-ihsan, yaitu berbuat bilfadal muamalah yang terbaik. Ya, Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan dalam Al-Qur'an albagyu ya ee biasanya disebutkan ee maknanya tercela seperti innamilu alalladina yadlimunasa wabun ardhi bigir haqq. Sesungguhnya dosa itu kepada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan berbuat kezaliman di atas muka bumi tanpa hak. dia juga inamaum anfusikum sesungguhnya kezaliman kalian akan kembali kepada diri kalian demikian juga win ya siapa yang terpaksa memakan hewan haram tanpa berlebihan ya bagian maksudnya berlebihan ya ee tanpa tanpa melampaui batas ya ini ee makna bagiu ya maknanya adalah ee berbuat zalim secara umum secara secara umum Ya tayib. Ee saya bacakan perkataan Ibnu Hajar ya. Di antaranya beliau berkata, "Innallah yamur bil ihsan fainal adl mus fil mukafaah fi khairinarin." Sesungguhnya adil adalah berbuat setimpal dalam memberi balasan, baik terkait dengan kebaikan maupun dari keburukan. Seperti saya sebutkan tadi terkait dengan kebaikan maupun namanya aladal. Wal ihsan muqobalatul khair biakaro minhu. Beliau sebutkan ihsan adalah membalas kebaikan dengan yang lebih banyak. Ini salah satu bentuk ihsan yang kita sebutkan tadi. Wasyar wasyarri wasyarro bitark ya atau muqabalatus syarri. Membalas keburukan dengan meninggalkan. A biqalli minhu tidak membalas keburukan atau membalas tapi dengan lebih lebih sedikit. dengan lebih sedikit. Ini ee termasuk al-ihsan. Di antaranya memaafkan, di antaranya membalas keburukan dengan kebaikan. Yang tadi saya tambahkan Tib. Maka seorang hidup ini cuma sebentar. Jangan dia sibukkan dirinya dengan membalas-membalas. Mak pusing dia. Belum tentu yang dibalas akan jatuh. Terkadang lebih hebat lagi. Balas lagi dengan lebih besar. Siapkan pasukan untuk membalas. Capek kita ngurusin balas-balasan. Ya udahlah silakan. apa sak karepmu kemudian kita serahkan kepada Allah subhanahu wa taala. Gak perlu kita bikin jumpa pers, gak usah, gak perlu kita bikin ee klarifikasi. Kalau enggak perlu, enggak usah. Dan susah memang kita jalankan tentang Nabi man taqama linafsihi. Rasulullah tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadinya. Dia hanya marah kalau urusan syariat. Tiib. Baba, babu ma yunha an tahasud. [Musik] tentang larangan tahasud saling hasad wat tadabur saling membelakangi waqui taala dan firman Allah subhanahu wa taala waminyarri hasidin idza hasad ya ituu berlindung dari hasadnya orang yang hasad dari ketika hasidin ketika dia sedang berhasad kita minta perlindungan kepada Allah subhanahu waala ini penting zaman ini namanya tidak kita tidak tidak jamin semua orang jiwanya nya baik. Kita pun jiwa kita pun kita enggak tahu seperti apa. Maka tidak terjamin kita selamat dari orang-orang yang hasad. Orang hasad bisa jadi di sekeliling kita, bisa jadi orang dekat kita. Ya, maka jangan lupa zikir pagi petang. Di antaranya kita baca qulubirabbil falaq minar ma khalaqar gqin waq hasidin hasad. Aku dari orang hasad yang hasad kepada kita. Tib. Kita bacakan ee hadisnya ee ee kata Imam Bukhari Qala haddasana Bisyr bin Muhammad. Sebelumnya saya ingatkan di sini ee kata Imam Bukhari, ma yunhaan anit tahasudang saling hasad-hasadatan. Tapi ternyata yang dimaksud itu bukan larangan sekedar saling hasad. Salah satu yang bikin misalnya A B bukan larangan sekedar kalau A hasad sama B, B hasad sama A. Gak. Tetapi satu orang yang hasad saja tidak boleh. Ya, hasad tidak boleh ya. Hasad tidak boleh. Jangan berarti bukan berarti boleh kalau dia hasad saya boleh hasadin dia gak ya kan dia burukin saya, saya boleh burukin dia gak. Us hasad gak boleh. Gak boleh hasad dibalas dengan hasad. Enggak boleh. Oleh karenanya ee dalam ayat wamin syarri hasidin idza hasad. Berlindung dari hasadnya orang yang hasad. Ya jangan, jangan kita balas hasad dia dengan kita hasad sama dia. Karena hasad ini penyakit. Jangan balas penyakit dengan penyakit ya. Ya. Maka kalau ada orang hasad, jangan kita balas hasad sama dia. Gak perlu. Jadi hasad dari satu sisi ya hukumnya haram. Apalagi kalau dua-duanya saling hasad-hasatan. Tib kita bacakan hadisnya. Al Imam Bukhari berkata had B muhammad akhbarana Abdullah q akbar makmar an Hamam bin Munabbih Abi Hurairat Nabi sallallahu alaihi wasallam dari Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau berkata iyakumna faon akabul hadit waspadalah kalian dari persangkaan sesungguhnya persangkaan adalah dusta yang paling besar wala tahasasu wala tajassasu jangan kalian bertahasus yaitu mencari-cari keburukan orang lain dengan mendengar mendengar-dengar kabar tajasasu dan juga jangan mencari keburukan orang dengan melihat-lihat cek Cek sana, cek sini. Ya, masuk di internet cari-cari keburukan orang. Wala tahasadu. Dan janganlah kalian saling hasad. Wala tabagadu. Dan janganlah kalian saling membenci. Eh, wala tadabaru. Dan janganlah kalian saling bertolak belakang. Waunu ibadallahi ikhwana. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Kemudian Imam Bukhari berkata lagi, Qana Abul Yaman q akaib zuhri q hadani Anas ibnu Malik. Dari Anas bin Malik tadi Abu Hurairah sekarang Anas bin Malik. Radallahu anhu ana rasul sahu alaii wasallam rasallahu alaihi wasallam bersabda la tabagadu jangan kalian saling membenci wala tahasadu jangan kalian saling hasad wala tadabaru janganlah kalian saling bertolak belakang berboikot waunu ibadallahi ikhwana jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara w yahu lusliminahjur akhuq ayam tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya mendiamkan saudaranya memboik mendiamkan saudaranya lebih daripada t hari kita tadi jelaskan di dalam dua lafal tadi tadi hadis Abu Hurairah maupun Anas radhiallahu anhuma. Rasulullah berkata, "Wala tahasadu." Janganlah saling hasad. I, jangan saling hasad. Jadi kalau ada orang hasad, jangan kita belas dengan hasad. Gak boleh. Gak boleh. Ya, hasad ni apa makna hasad? Hasad maknanya tamanni zawalin nikmah anil ghair. Berangan-angan agar nikmat yang ada pada orang lain hilang. Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan di antaranya makna yang lebih lebih umum yaitu benci. Enggak suka. Enggak suka orang lain dapat nikmat. Ketidaksukaan itu sudah merupakan hasad. Kalau disertai dengan usaha maka disebut bagyu. Kalau sudah berusaha berusaha makanya zalim. Kata disebutkan juga oleh ee Ibnu Hajar rahimahullahu taala. Ya, Ibnu Hajar rahimahullahu taala. Ee oleh karenanya seorang menghindarkan dirinya daripada daripada hasad. Ya. Ya. Kalau dia timbul hasad, dia lawan. Kata Ibnu Hajar rahimahullah, kalau dia timbul hasad dan ini susah untuk menghindari karena tiga perkara kata Ibnu Hajar rahimahullah yang sulit dihindari. Antaranya hasad, ee di antaranya juga tathayyur. Ya, di antaranya apa? tatayyur ini juga ee sulit untuk dihindari ya. Ee yang ketiga saya lupa nanti saya mungkin mudah-mudahan kita dapatkan ya. Itu tiga hal yang sulit dihindari. Tapi kata beliau rahimahullah ee selama kemudian tidak diaplikasikan maka masih dimaafkan. Dia melaksanakan maksudnya kalau dia hasad maka dia berusaha menjelek-jelekkan orang tersebut. Dia menggibahi orang tersebut tapi hendaknya dia lawan dia tinggalkan. Jadi kalau sekelar muncul tidak berdosa karena itu di luar kemampuan ya. Bahwasanya Allah memaafkan ee apa yang terbetik dalam mahadat bihi anfusuha. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Inallah taju umati Allah memaafkan umatku apa yang dibisikkan dalam hati mereka. takamal sebelum tidak selama dia tidak berbicara atau dia aplikasikan dalam perbuatan hanya sekedar lewat di hati dimaafkan. Siapa sih yang bisa selamat dari hasad? Makanya dikatakan ma jasadun min hasad tidak ada jasad yang selamat dari hasad. Wakin laim yubdih. Adapun orang tercela dia akan mengaplikasikan dengan ucapan atau perkataan walim yubdi wal karim yukhfi. Adapun orang yang baik akan menyembunyikannya bahkan dia lawan. Maka kalau timbul hasad, hasad sama teman dan hasad ini mungkin sekali. Ustaz sama ustaz, dokter sama dokter, pejabat sama pejabat. Sangat mungkin nih si cantik sama si cantik, si ganteng sama si ganteng ya. Semua yang satu satu profesi itu timbul hasad sangat-sangat mungkin. Yang punya mall sama yang punya mall. Kalau yang ee tukang becak mungkin enggak hasad sama yang punya mall karena beda profesi. Tukang becak enggak hasad sama dokter. Tap ke dokter sama dokter hasad-hasatan sangat mungkin terjadi. Nah, kalau timbul hasad maka jangan dibiar. Kalau sudah dibiarkan jadi apa? Penyakit hatinya ya. Kemudian dia ucapkan, dia melakukan usaha dengan menjelekkan dokter tersebut atau menjatuhkan maka ini sudah dosa. Bahkan terjerumus dalam kezaliman. Hendaknya dia lawan. Maka dua hal hendaknya dia tinggalkan. Kata Ibnu Hajar rahimahullah, kalau dia tinggalkan karena tidak mampu melakukannya, maka ini tidak dapat pahala. Bahkan bisa jadi terjerumas dalam dosa. Tapi kalau dia meninggalkan karena Allah, dia lawan karena Allah, maka dapat pahala. Di antara cara melawan hasad, dia puji orang yang dihasadi. Dia puji. Dia puji orang tersebut, dia kasih hadiah, dia berusaha kenal. Kata orang tak kenal maka tak sayang. Dia kenal ngobrol sehingga hasadnya hilang. Karena setan ingin masuk di antara manusia dengan meniupkan hasad. Dan kalau sudah seorang membiarkan hasadnya biasanya dia tidak bertahan. Dia akan aplikasi dengan perkataan perbuatan. Makanya dalam riwayat Rasulullah bersabda, ee iyakum wal hasad fainnal hasada yaul hasanat kama takulu anarul khat. Hati-hatilah kalian dengan hasad. Karena hasad itu akan memakan kebaikan-kebaikan. Pahala akan dibakar sebagaimana api membakar bar ee ee kayu. Sebagaimana bara api membakar kayu. Kalau api sudah kena kayu, kayu cepat habis. Sama orang kalau sudah hasad dia ingin sudah dia akan gibah, dia akan namimah, dia akan jelek-jelekan, dia akan fitnah, dia akan semua dia lakukan supaya orang yang hasad tadi bisa hilang nikmat dari orang tersebut. Maka waspada. Jadi, ikhwan saya kita tidak merasa kita ini bukan malaikat. Kita sangat mungkin ada hasad. Tapi kalau ada hasad, kita lawan. Lawan karena Allah maka dapat pahala. Jangan balas hasad dengan hasad. Kalau orang hasad sama kita, jangan kita hasad sama dia. Ya sudah kita kasihan dia sedang diuji. Diuji hasad sama kita dia sedang diuji. Semoga Allah sembuhkan penyakitnya. Hasad mau diapain? Ya penyakit tib di sini kata Rasul sahu alaihi wasallam di awal hadis dalam hadis Abu Hurai iyakumna faon akabul hadit. Waspadalah kalian daripada perbuatan don. Karena don adalah dusta yang paling besar ya. Kenapa dikatakan akzabul hadis? Karena orang kalau dusta, kalau orang dusta dia sudah tahu itu merupakan ee kesalahan ya. Dia tahu itu merupakan kesalahan ya. Ee dan dia tahu dusta ini tidak bisa jadi sandaran. Orang dusta dia ngerti. Dan orang yang ee dusta dia ngerti ini dusta ini tidak bisa jadi sandaran. Dia hanya ngomong dia nipu orang. Beda dengan zon. Kalau don ini zonnya salah persangan tapi dia berdalil dengan dia jadikan dalil padahal ini salah. Sehingga dari sisi ini don itu lebih dusta daripada dusta. Kenapa? Kalau dusta orang tahu orang seorang tahu dia sedang berdusta tapi ketika dia berzan berprasangka dia menyangka itu benar. Padahal tidak ada ee dalil hujah yang membenarkan persangkaannya. Dari sini Rasulullah mengatakan bahwasanya don itu e lebih berat daripada lebih lebih bahaya daripada dosa. Karena dosa jelas dan itu disangka benar ternyata tanpa dalil. Ya, saya bacakan perkataan Ibnu Hajar. Waama was bihi akzabul hadit maana taamudal kadib alladzi la yustaniduin aslan asaddu minal amradzi ya isyaruaiian minalibahun mustaghifi faahuumuhu mustanadun atau mustanidunaiin. Ya, di sini car saya sebutkan kesimpulannya ee karena orang dusta itu ngerti dia jelas sehingga dia tidak akan bersandar dengan kedustaannya. Tapi kalau dia berprasangka, dia menyangka itu benar maka dia bela-bela, dia yakini. Ternyata dia tahu tidak ada dalilnya. Dia hanya persangkaan. Maka dari sisi ini persangkaan lebih buruk daripada dusta. Kan kita begitu. Kalau tahu kita dusta, kita ya saya cuma bohong aja. Tapi kalau kita lihat orang sepertinya dia begini, sepertinya dia begini. Padahal semua persangkaan kemudian kita yakini. Nah, ini padahal itu salah. Sehingga ini lebih dusta daripada dusta yang sebenarnya. Kemudian tadi kata Rasul Sallahu alaihi wasallam, "Wala tahasasu wala tajasu." Di sini ada perbedaan apa maknanya? Wala tasu w tajasu. Para ulama ada khilaf satunya pakai ha tahassasu, satunya pakai jim tajassasu. Ada beberapa pendapat disebut Ibnu Hajar rahimahullah taala ada yang mengatakan maknanya sama, hanya sekedar mentakid. Wala tahasas wajas sama. Jangan cari-cari kesalahan. Jangan cari-cari kesalahan. Ada yang mengatakan wala tahasasu itu jangan mencari kesalahan dengan mendengar omongan orang. Tajasasu dengan melihat-lihat. Cari-cari kesalahan dengan melihat-lihat. ya hasasu dengan mendengar ya ee intinya semua tidak boleh dalam rangka untuk ee ee apa namanya ee mencari kesalahan kemudian wala tahasadu dan jangan saling hasad wala tabagadu dan jangan saling membenci maksudnya segala hal yang bisa men kebencian jauhi sebab-sebab kita benci orang jauhi wala tadabaru dan janganlah saling tolak belakang saling membaikan Ya. Jangan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang sering bersaudara. Seperti teman namanya saudara kita saudara kakak adik ya. Namanya kakak adik meskipun mungkin ada kesalahan kita maafin. Namanya saudara tidak ada yang sempurna ya. Kakak nakalin kita ya kita ya namanya kakak adik nakalin kita namanya adik ya. Berkelai-berkelai kemudian baik lagi ya. Ya jadilah saudara yang benar. Jangan saling membenci, saling hasad, saling dengki. itu bukan hamba-hamba Allah yang bersaudara. Bukan hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan sebag mengatakan di sini ee apa namanya? Ee ee larangan semuanya ya ee terkait dengan ya. Karena kalau orang sudah donan kemudian dia akan cari-cari tahu dia tajasus. Kalau sudah cari-cari tahu maka timbul hasad. Kalau sudah timbul hasad saling benci ya. Ini sudah saling benci, boikot ya. Ini tidak boleh ya. Hadis berikutnya kata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam, "La tabagadu." Jangan saling membenci sebab segala sebab kebencian kita hindari. Wala tahasadu. Jangan saling hasad. Ya, ada orang punya kenikmatan kita puji masyaallah. Orang punya keliman kita puji masyaallah. Semoga Allah berkahi dia. Kita doain dia sehingga kita enggak asad. Kalau perlu kita kasih hadiah sehingga kita enggak perlu asad. Kenali kita wala tadawar. Jangan saling boikot diam-diaman. Jadilah kalian hamba yang saling bersaudara. Kemudian kata Nabi, "Halal tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari 3 hari." Maksudnya apa? Kalau seorang marah sama saudaranya ee maka tidak mengapa dia boikot cukup 3 hari. Lebih dari 3 hari dia ee tidak boleh lanjutkan, ya. Tidak boleh lanjutkan. Siapa yang sudah 3 hari masih memboikat saudaranya, maka setiap hari dia berdosa. Setiap hari dia berdosa. Sampai dalam satu hadis kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Man hajara akahu sanatan fahua kfqi damihi." Siapa yang memboikot saudaranya sampai setahun, maka seperti dia menumpahkan darahnya. Artinya orang saudara setahun dia enggak datangi, dia enggak telepon, kalau ketemu saling cuek, sakit tidak dia kunjungi, mati pun tidak dia ngelayati. Orang ini seperti mati keluar dari kehidupan sosialnya. Ini bahaya ya. Sampai Rasulullah mengatakan seperti menumpahkan darinya. Karena nasib orang ini kalau kita boikot seperti tidak ada dalam hidup dunia seperti seakan dia sudah mati. Makanya Rasulullah mengatakan seperti membunuhnya, seperti menumpahkan darahnya. Nah, sebagian orang boikot-boikot terkadang sama teman, terkadang sama kakak, terkadang sama adik, ya. Maka ini semua adalah larangan yang hendaknya di ee dijauhi. Ya, Bab. Demikian saja apa yang dis sampaikan para dokter sekalian. Semoga bermanfaat. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.