Transcript
1SUt0p8TWTo • Kitab Adab #18: Berbuat Adil dan Ihsan - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2562_1SUt0p8TWTo.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuim
wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasul ridwan allahumma sholli alaihi waa
alihi waashabihi wa ikhwani. Para
hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh
Allah subhanahu wa taala. Kita
melanjutkan pembahasan kita masih dalam
kitabul adab ya ee bab yang ke-56 bab
qulullahi taala. Innallaha yamuru bil
ihsan. Waidil qurba wahail fahsya wal
munkar wal yaidukum laallakum
tadakkarun.
Yaitu firman Allah Subhanahu wa taala
dalam ee Al-Qur'an ee
saya carikan ayatnya
yaitu dalam surat ee
sebentar.
ya.
Yaitu artinya Allah Subhanahu wa taala
memerintahkan kalian untuk berbuat
keadilan
dan berbuat ihsan.
Surah An-Nahl ayat 90. Ya, surah 16 ayat
60. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah
Subhanahu wa taala menyuruh kalian untuk
berbuat adil dan berbuat ihsan, berbuat
kebaikan. Wailbahaya
wal munkar." Dan juga melarang kalian
meletakkan kalian untuk memberi berbuat
baik kepada karib kerabat dan melarang
dari perbuatan keji dan perbuatan
mungkar walaghi dan juga permusuhan.
Yaidukum laallakum tadakkarun. Allah
beri pelajaran kalian agar kalian dapat
mengambil pelajaran.
Kemudian juga firman Allah waqulihi
innama bagukum ala anfusikum.
Sesungguhnya ee perbuatan zalim kalian
akan kembali kepada kalian.
Ee ini dalam ee
dalam surat ee Yunus ya
ee ayat 23 ya.
Allah berfirman, "Ya ayyuhanas innama
bagukum ala anfusikum." Wahai manusia
sekalian, sungguhnya
eh kezaliman kalian itu akan menimpa
diri kalian sendiri.
Kemudian ayat yang ketiga, waqui tumma
bugya alaihi. Ya,
eh saya carikan juga ya.
Dalam surat al-Haj ayat 60 kata Allah,
"Waman aqoba bimli mau uqiba bihi
alaihiansahullah."
Siapa yang membalas sesuai dengan
kezaliman yang menimpanya kemudian bugi
alaihi kemudian dia dizalimi lagi
setelah itu lansurannahullah.
Sesungguhnya benar-benar Allah akan
menolongnya. Innallaha lauun gfur.
Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi
maha pemaaf. Ya. Kemudian kata al Imam
Bukhari, "Warki itarati syarri ala
muslimin kafirin." Dan meninggalkan
sikap ee memprovokasi atau menimbulkan
keburukan atas seorang muslim atau
seorang kafir.
Ayat ini ee Al Imam Bukhari ingin
menyampaikan kepada kita ya untuk
berbuat al-ihsan.
Beliau berdalil dengan tadi yang pertama
surat Annahl. Innallaha yamuru biladli.
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk
berbuat keadilan. Setelah itu Allah
mengatakan wal ihsan dan juga berbuat
ihsan. Dan ihsan nanti akan kita
jelaskan. Sebagian ulama menafsirkan
al-ihsan yaitu berbuat sikap al-fadl.
Yaitu ee memaafkan. Ya, meskipun engkau
mampu untuk membalas, lebih baik engkau
memaafkan. Karena sebagaimana pernah
saya sampaikan dalam banyak kajian
bahwasanya muamalah ada tiga. Namanya
adalah muamalah bilm, muamalah bil adil,
dan muamalah bilfadl. Bidzulm yaitu kita
ee berbuat zalim kepada orang lain. Ya.
E ini tentunya haram hukumnya. Bil. Maka
ini bil adal yaitu dengan berbuat
seimbang ya, setimpal kita membalas
kebaikan dia sebagaimana kebaikan ee
yang dia berikan kepada kita atau kita
membalas keburukannya sesuai dengan
keburukan yang menimpa kita. Ini
dibolehkan. Dibolehkan dan ini juga ee
ini minimal yang bisa kita lakukan bil
adil. Seperti eh dalam kebaikan kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, man
ilaikum marufan fakfiuhu.
Siapa yang berbuat baik kepada kalian
maka balas setimpal. Balasnya setimpal.
Ya, orang kalau kasih kita kebaikan kita
balas berusaha setimpal. Faam tajidu ma
tufiahu
anakum kafumu. Dan kalau ternyata kalian
tidak bisa membalas kebaikan setimpal,
maka doakan dia sampai kalian merasa
dengan doa kalian tersebut sudah cukup
membalas setimpal atau membalas
keburukan ee juga dengan ee keburukan
yang setimpal. Dan ini juga dalam
Al-Qur'an banyak seperti fain aqobtum
faqibu mau bih. Kalau kalian balas maka
balaslah dengan setimpal. Allah juga
berfirman, wai sayiatin sayiatun mluha.
Balasan keburukan sama dengan keburukan
yang sama. Ini dibolehkan. Seorang mukul
kita sekali, kita boleh pukul dia sekali
juga. Seorang memaki kita sekali, kita
boleh maki sekali juga. Dan ini setimpal
seperti juga dalam surat yang tadi kita
bacakan. Waman aql ma uqib bihi. Ya,
barang siapa yang ee membalas
dengan eh kezaliman yang kepadanya, ini
namanya biladil, setimpal. Kebaikan
dibalas setibal, keburukan dibalas yang
wajib. Kalau zalim tentunya haram. Di
sini kemudian ada muamalah jenis ketiga
yang disebut dengan bilfadlal atau bil
ihsan, yaitu membalas ee dengan lebih
baik atas apa yang dilakukan kepada K.
Ini juga bentuknya banyak atau ada
beberapa bentuk. Di antara bentuk
pertama kita berbuat baik kepada orang
yang tidak pernah berbuat baik kepada
kita. Yang tidak berbaik kepada kita
maka kita balas dengan ee kita beri
kebaikan. Ini orang ini tidak pernah
kita kenal, tidak pernah berbaik sama
kita. Kita beri kebaikan. namanya kita
bilfadl atau ihsan. Yang kedua kita ee
ee apa namanya? membalas kebaikannya
dengan lebih. Membalas kebaikannya
dengan lebih. Dia berbuat kebaikan.
Misalnya dia mengasih kita uang misalnya
sejuta, kita kasih balas dengan uang R
juta, ya. Maka ini berarti kita membalas
dengan yang lebih baik. Maka namanya
bilfadl atau dengan ihsan. Kemudian yang
ketiga di antaranya misalnya kita ee
membalas keburukan dengan kurang
daripada keburukannya. Misalnya dia
pukul kita 10 kali, kita pukul dengan
lima kali. Ini juga termasuk ti saya
ulangi ee ke muamalah terhadap orang
lain ada tiga. Bil setimpal.
Bilfadl itu dengan lebih baik.
Dengan lebih baik.
kezaliman tentunya haram ya kita ini
hukumnya haram
karena kita menzalimi orang mengambil
haknya menjatuhkan haknya ya ini ee di
antaranya bentuknya ada mengambil hak
orang lain
mengambil hak orang lain
ya atau menahan ya menahanan hak orang
lain
Dan biasanya kezaliman terkait dengan
tiga perkara ya. J terkait dengan tiga
perkara yaitu terkait dengan
ee jiwa atau tubuh,
kemudian terkait dengan harta
kemudian harga harga diri.
Ini semua adalah kezaliman. Tunnya
hukumnya haram. yang setimpal. Setimpal
ini bisa dua terkait dengan membalas
kebaikan setimpal.
Sudah tadi kita sebutkan bagaimana
Rasulull sahu alaihi wasallam menyuruh
hal tersebut. Ee dan ini hukumnya adalah
wajib
balas setimpal. Kalau tidak mau balas
dengan setimpal maka doakan ya. Kalau
tidak mau balas terus membalas keburukan
setimpal.
setimpal
balas kedukan setimpal maka ini juga
masih dibolehkan ya ini tentunya ee apa
namanya mungkin saya tidak bilang kalau
ini ini wajib ya nanti kalau ini bukan
wajib tapiak boleh boleh ya boleh
seorang berusaha membalas
kebaikan-kebaikan kalau keburukan boleh
baginya untuk membalas dengan setimpal
tadi dalilnya banyak jazaun
sayiatinatunlaha balasan keburukan
setimp setimpal boleh wain aqtum
faqbitum bih kalau kalian ee balas maka
setimpal. Nah, yang kita bahas ini
bilfadl atau dengan sebut dengan bil
ihsan. Ini di antara tafsiran ihsan.
Balas dengan lebih baik. Ini ada berapa
bentuknya ya? Ini hukumnya dianjurkan
atau sunah.
Dianjurkan.
Di antara bentuk-bentuknya yang pertama
adalah misalnya
membalas
kebaikan dengan lebih baik.
Dengan lebih baik
ya. Misalnya ada seseorang yang membantu
kita dengan uang misalnya R1 juta, kita
beri dengan balas lebih baik ya. Suatu
saat kita bantu dia dengan lebih
daripada itu ya. Ee ini adalah dengan
bilfadl dia bantu kita pernah ngangkat
barang sekali dua kali kita bantu dia
lebih angkat barang dia lebih banyak
maka ini bilfadl atau misalnya membantu
orang berbuat baik kepada orang yang
tidak pernah berbuat baik kepada kita
berbuat baik
kepada orang yang tidak pernah berbuat
baik kepada kita yang tidak
berbuat baik kepada gitu.
Kita berbuat baik sama orang, kita tidak
punya hutang budi sama dia. Kemudian
kita berbuat baik sama dia, ihsan
namanya. Berbuat ihsan. Atau disebutkan
oleh Ibnu Hajar rahimahullah juga
membalas
keburukan
dengan lebih sedikit.
Dan lebih sedikit. Ini juga adalah
berbuat ihsan. Adaang berbuat keburukan
kita balas ya. Namun dengan ee sedikit
ya atau tidak membalas sama sekali
memaafkan.
Memaafkan
keburukan ini juga ihsan.
Memaafkan keburukan. Di antara ihsan
juga membalas keburukan dengan kebaikan.
Ini tingkat tinggi membalas keburukan
dengan kebaikan.
Kata Allah Subhanahu wa taala, eh w
yulaqohau.
Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali
orang-orang yang sabar. W yulaqoha
illainim. Dan tidak ada yang bisa
melakukannya kecuali orang yang diberi
bagian yang besar. Yaitu orang yang
mampu balas keburukan dengan kebaikan.
Ini namanya bil ihsan. Bil ihsan. Nah,
sekarang kita sedang bahas bab ini di
mana al Imam Bukhari membawakan
babillahi
taala. Bab tentang firman Allah.
Innallaha ymuru bil adil. Allah
perintahkan bilal, yaitu berbuat
keadilan, insaf, setimpal. Kemudian wal
ihsan. Wal ihsan yaitu Allah juga
perintahkan yang lebih baik daripada
itu. Yaitu melakukan yang lebih utama
yaitu muamalah bilfadl.
Ya. Setelah itu Imam Bukhari membawakan
ayat yang lain. Innama bagyukum ala
anfusikum. Ini isyarat untuk memaafkan.
Isyarat untuk memaafkan ya. Memaafkan
ya. Karena Allah berfirman, "Innama ya
ayyuhanas inamaum anfusikum." Wahai
manusia kalian, kalau kalian berbuat
zalim akan kembali kepada kalian.
Maksudnya kalau kamu dizalimi, serahkan
sama Allah. Maafkan aja. Kalau memang
buruk, Allah akan beri balasan. Allah
yang akan Allah yang akan tangani. Kau
gak usah enggak usah balaslah. Demikian
juga bugi alaihiansurnahullah.
Ya, ini firman Allah. Eh eh bqibhi
alaihiq
surat alhaj ayat 60. Siapa yang membalas
bimli mau qibi dia sudah balas dia
melakukan keadilan. Ada orang zalim sama
dia dia balas. Ternyata orang yang
dibalas ini balas kedua kali. Tumma bugi
alaihi. Ya. Berarti dia berhak untuk
balas lagi kedua kali. Enggak boleh
karena itu adil. Tapi ternyata untuk
kedua kali seakan-akan Allah mengatakan
gak usah, gak usah gak usah balas lagi.
Ada orang dibalas dia balas lagi. Balas
lagi. Memang kita berhak untuk balas dan
itu keadilan. Enggak ada masalah. Boleh
bagi kita untuk balas
keburukan-keburukan. Tetapi ee Allah
mengatakan layansurannahullah.
Sesungguhnya Allah akan menolongnya.
Isyarat ya sudah enggak usah enggak usah
dibasti Allah yang tolong. Allah yang
tolong. Innallaha lafun gfur.
Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi
maha penyayang. Sebagian ulama kalau
tidak salah Syekh Sidi mengisyaratkan,
"Ya sudah maafkan aja." Karena Allah
tutup ayat ini dengan firmannya ee
innallaha laafun gfur. Sesungguhnya
Allah maha pemaaf lagi maha pengampun.
Ya sudah serahkan sama Allah subhanahu
wa taala. Oleh karenanya di antara ee
pernyataan Ibnu Taimiyah rahimah dalam
kitabnya qidatun fisabar dia menyebutkan
di antara yang buat kita sabar yaitu
diserahkan sama Allah subhanahu wa
taala. Ada orang buat zalim kita
serahkan sama Allah. Gak usah kita
gubris itu kezaliman. Allah akan tolong.
Tapi kalau kita mulai gubris, kita mulai
cara kita, berarti kita mempasrahkan
urusan pada diri kita sendiri. Tapi
kalau kita serahkan sama Allah, ini
Allah yang Allah yang tangani.
Layansurannahullah. Yakin sungguh Allah
akan menolong orang yang dizalimi.
Serahkan sama Allah. Ee tidak perlu ee
kita balas. Ya, ini di antara ee hal
yang membuat kita sabar. Terkadang kita
enggak perlu balas, enggak perlu gubris,
ya. Tib. Kemudian al Imam albukhari
membawakan dalil dari hadis tadi, dari
ayat ya, dari ayat beliau ee apa
namanya? Ee beristinbat mengambil ee
bahwasanya kita diperintahkan berbuat
ihsan. Di antara akhlak yang mulia,
berbuat ihsan. Tadi kita sudah sebutkan
bentuk-bentuknya. Berbuat ihsan membalas
kebaikan dengan yang lebih. Berbuat baik
kepada orang yang tidak pernah berbuat
baik sama kita. Ee membalas keburukan
dengan sedikit lebih sedikit ya untuk
memberi pelajaran. misalnya kita balas
tapi dengan lebih sedikit untuk menegur
atau memaafkan keburukan atau membalas
keburukan dengan kebaikan. Ini semua
bentuk ihsan. Ya, ini hanya orang-orang
hebat yang bisa ee melakukannya.
Kemudian Al Imam Bukhari membawakan
hadis yang terkait dengan hal ini. Saya
bacakan hadisnya tentang bagaimana Nabi
memaafkan orang Yahudi yang menyihirnya.
Eh al Imam Bukhari berkata, "Qasana
Humaidi q hadana Sufyan Q hadana Hisyam
bin Urwah anabi Aisyata radhiallahu
taala anha qalat."
Aisyah berkata mak Nabi sallallahu
alaihi wasallam k wa Nabi dalam tinggal
dalam waktu lama ya dalam waktu tertentu
mungkin beberapa lama. Yukyyalu ilaihi
annahu yati ahlahu wala yati. Itu Nabi
tersihir. Sehingga dikhayalkan Nabi
mendatangi istrinya ternyata Nabi tidak
mendatanginya. Ini sihir pernah menimpa
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
dan juga pernah menimpa Nabi Musa.
Seperti ketika Nabi Musa berduel wajau
bisirrin adim. Berduel dengan para
penyihir Firaun. Kata Allah wajau
bisihirrin adim. Saharu aunanas. Maka
mereka datang dengan sihir yang hebat.
Kata Allah saharu aunanas. Menjadikan
orang-orang penonton semua tersihir
matanya. Sampai Nabi Musa juga mengalami
yukhayyalu ilaihi min sihrihimaha.
dikhayalkan kepada mata Musa halusinasi
seakan-akan
si e tali-tali dan tongkat-tongkat
mereka menjadi ular yang bergerak. Faasa
fi nafsi Musa. Sehingga Nabi Musa pun
takut. Timbul ketakutan karena ular-ular
banyak sekali bergerak. Qulna tak innaka
antal a. Kami berkata, "Jangan kau
takut, kau lebih menang. Lemparkanlah
tongkatmu.
Lemparkanlah tongkatmu. Akan jadi ular
yang memakan ular-ular mereka." Ya. Maka
ketika Nabi Musa lempar tongkatnya,
ularnya menjadi hayyatun tasa'a tsbanum
mubin. Ya, dalam Al-Qur'an Nabi Musa
tongkat ularnya menjadi besar dan
gerakannya cepat. Hayat itu maksudnya
ular yang kecil, gerak ke cepat. Tsban
maksudnya ular besar. Namun ularnya Nabi
Musa ini ee terkumpul padanya. Biasanya
kalau ular besar, ular gemoi jalannya
pelan ya. Tapi ini ularnya gede tapi
cepat gerakannya. Gerakannya cepat. Nah,
maksud saya Nabi Musa alaihi salam juga
tersihir.
Namun timbul pertanyaan, apakah para
nabi mungkin tersihir? Jawabannya
mungkin sebagai ujian seperti penyakit.
Tapi hal ini tidak terkait dengan
risalah ee ajaran yang dibawa oleh
mereka. Ya. Sehingga Nabi sallallahu
alaihi wasallam meskipun tersihir ee
sehingga dia dikhayalkan mendatangi
istrinya, namun beliau tidak mendatangi.
Namun tidak terkait hukum dengan
hukum-hukum syariat. Adapun hukum
syariat maka dijaga oleh Allah Subhanahu
wa taala. Ini seperti Nabi terkena
penyakit akibat sihir. Kemudian Allah
sembuhkan. Tapi kita lanjutkan. Maka
kata Aisyah, Rasulullah dalam beberapa
lama dikhayalkan dia mendatangi
istrinya, namun dia tidak mendatangi
istrinya. Qala qalat Aisyah. Aisyah
berkata, "Faqala liata yaumin." Maka
suatu hari Rasulullah berkata kepadaku,
"Ya Aisyah, innallaha taala aftani fi
amrin istaftauhu fihi." Ya. Ya, Aisyah.
Sesungguhnya Allah telah berikan aku
jawaban pada perkara yang aku minta
kepada Allah Subhanahu wa taala. Atani
rajulani. Datang dua orang yaitu
malaikat dalam bentuk manusia. Fajalasa
ahaduhuma indijilayya. Salah satu duduk
di kedua kakiku. Wal akhar indosi
satunya di kepalaku. Faqal rijligaiya.
Maka berkata yang ada di kedua kakiku.
Lillad ri berkata kepada satunya yang
ada di kepalanya. Ma balajul apa yang
dialami oleh orang ini? Qala matbub.
Maka yang satu menjawab, "Dia sedang
tersihir." Yakni mashuron. Dia
tersihiru.
Siapa yang sihir dia? Malaikat saling
berbicara. Satu menjawab, Q Labid ibnu
Asam. Labit bin Asam yang telah
menyihirnya. Q wafima. Bagaimana? Pada
apa dia sihir? Q fi juffi thatiakarin fi
mustin wa musin tahta rufatin fi'riwan.
yaitu ee mengambil ee thaah yaitu satu
bagian daripada ee
ee kelopak yang ada di pohon kurma
bagian lelaki. kemudian ditaruh di ee
apa ee rambut ya kemudian di kumpulkan
ya kemudian diletakkan di bagian bagian
bawah batu di sebuah sumur yaitu ada
rambut Nabi diambil kemudian dimasukkan
dalam kelopak semacam kelopak yang ada
dari ee kurma dengan rambutnya kemudian
di diikat mungkin diletakkan di bawah
sebuah batu di sebuah sumur namanya
Bi'rwan. sumur darwan itu Nabi
dikabarkan ternyata Nabi di disihir dan
ada bagian dari tubuhnya diambil faja
Nabi sallallahu alaihi wasallam faqala
maka Nabi sallallahu alaihi wasallam
datang nabi berkata, "Hadil biru allati
urituha inilah sumur yang aku
diperlihatkan dalam pembicaraan dua
malaikat tersebut kaana ruusa nakliha
ruusatin
seakan-akan eh kepala dari eh kurmanya
seperti kepala-kepala setan ka maaha nuq
hinna ya seakan-akan airnya merah
terkena hinna ya
faamar Nabi sallallahu alaihi wasallam
faukhrij maka Nabi sallallahu alaihi
wasallam memerintahkan dikeluarkanlah
ee sihir tadi itu diambil dari bawah
batu tadi qalat jadi bisa jadi ee
bagian rambut diambil sihirnya tempatnya
apa namanya ee buhulnya jauh ini
buhulnya jauh di sebuah sumur
ini sihir sangat kuat ya sihir orang
Yahud
Eh qat Aisyah qulu ya Rasulullah fahalla
ini tanah syarta.
Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, apakah
ee engkau sudah lepas ya atau ee maka
lepas dari sihir?"
Ada yang mengatakan maknanya apakah kau
tidak menyebarkan hal ini kepada
masyarakat bahwasanya kau disihir.
Faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam
amallah faqad syafani. Adapun Allah maka
Allah telah mengobatiku.
Waama ana faakrahu anir alasiar.
Adapun aku, aku tidak ingin membuat
provokasi atau menyebarkan ribut-ribut
di kalangan masyarakat.
Qat wabid bin Aam. Kata Aisyah Alabid
bin Asam, "Rajulun min bani Zuraik." Dia
seorang dari Bani Zuraik, halifun
liyahud, yaitu yang berafiliasi atau
bekerja sama bersekutu dengan Yahudi.
Ada yang mengatakan maksudnya Labit bin
Asam ini ada yang mengatakan dia
munafik. Ada yang mengatakan dia dari
Bani Zuraik, Arab tetapi kerja sama
dengan Yahudi. Ada yang mengatakan dia
Yahudi. Dia Yahudi. Yahudi Bani Zuraik.
Yahudi tapi dari Bani Zuraik yang
kemudian ee apa? beragama Yahudi. Ya,
intinya yang ingin disampaikan oleh Imam
Bukhari wallahuam bisawab. Bagaimana
Nabi sallallahu alaihi wasallam
melakukan ihsan sehingga beliau tidak
membalas Yahudi tersebut. Dan ini sifat
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ee
Rasul sahu alaihi wasallam dalam hadis
man taqama linafsihi Rasul sahu alaihi
wasallam tidak pernah membalas untuk
dirinya. Dia enggak pernah. Walakin
iduhikat hurumatullah. Tapi kalau ada
perkara syariat yang dilanggar terkait
dengan syariat baru beliau marah. Tapi
kalau terkait dengan dirinya, beliau
maafkan. Beliau maafkan. Ini contoh
Rasulullah tidak tangkap Yahudi tadi.
Padahal sudah ketahuan malaikat Islam
itu namanya Labit bin Asam. Ketahuan
juga buhulnya. Rasulullah sudah ambil
buhulnya.
Ee tinggal tangkap. Apalagi Rasulullah
di Madinah adalah kepala negara di situ.
Tinggal tangkap, tinggal bunuh. Tapi
Rasulullah tidak lakukan. Rasulullah
maafin. Ya. Kemudian juga contoh seperti
Rasulull sahu alaihi wasallam ketika
diberi racun di Khaibar. Wanita yang
kasih racun Khaibar. Dia tanya tentang
Nabi. Nabi sukanya apa? Ternyata Nabi
suka makan zira, yaitu paha kambing.
Maka dikasih racun banyak di situ.
Ketika Rasulullah makan, sahabat juga
ikut makan. Tiba-tiba kambing itu
berbicara, "Inni masmumah. Saya
beracun." Maka Rasulullah mengatakan,
"Angkat tak tahan ke tangan kalian."
Ternyata sebagian sahabat ada yang sudah
terlanjur makan dan akhirnya meninggal
dunia. Nabi termasuk cepat racun masuk
namun dia menahan diri akhirnya tidak
jadi meninggal. Ee tetapi akhirnya itu
menyebabkan sebab beliau sakit setelah
itu 3 4 tahun kemudian baru beliau
meninggal meninggal dunia atau 3 tahun
berikutnya. 4 tahun berikutnya ya.
Karena Allah ingin agar Nabi mendapatkan
pahala yang mulia dengan mati dengan
mati syahid ya. Intinya Rasulullah sahu
alaihi wasallam tidak membunuh wanita
tersebut.
Rasulullah maafkan dia. Kenapa? Karena
ya Rasulullah orang yang pemaaf ini
terkait dengan dirinya. Rasulullah man
taqama lfsi. Rasul sallahu alaihi
wasallam tidak pernah memarah marah
karena untuk dirinya gak gak pernah.
Tetapi kalau syariat dilanggar baru
beliau beliau marah. Ya, di sini ee
Rasulullah menjalankan al-ihsan dan ini
nasihat buat kita ya. Ee
kalau kita dizalimi ya selama kita bisa
maksudnya bisa selamat ya tanpa harus
menggubris kezaliman tersebut itu lebih
utama. Lebih utama kita ingat inamaukum
alfusikum. Firman Allah tadi yang
disebut Imam Bukhari. Sungguhnya dalam
surat Yunus, "Sungguhnya kezaliman
kalian kembali kepada diri kalian cepat
atau lambat dunia pun atau akhirat." Dan
Rasulullah telah mengabarkan maambin
tidak ada dosa yang paling cepat di
Allah hukum di dunia
ee sebelum Allah tempakkan di akhirat
juga dosanya dari qitatah walu. Yaitu
dari memutuskan silaturahmi dan berbuat
zalim. Ini mudah Allah balas di dunia
sebelum di akhirat. Ini karenanya ee
kalau dia zalimi kita, kita berusaha
tidak gubris kalau bisa memaafkan agar
kita lebih tenang, agar kita melakukan
ihsan. Dan apalagi Allah berfirman,
tumma bugi alaihi lansurannahullah.
Kemudian dia dizalimi kedua kali.
Setelah dia balas ternyata masih
dizalimi, ketahuilah Allah akan
menolongnya.
Ya, ini wallahu alam bawab. Inilah
maksud dari bab ini ya. daripada kita
membalas timbul keributan. Tadi
Rasulullah tadi ketika ditanya kepada
Aisyah bertanya kepada apa jawaban Nabi
sallallahu alaihi wasallam? Ee
amallah faqad syafani. Adapun Allah
telah mengobati aku. Adapun aku wa ana
faakrahu alasiar. Saya tidak pengin
menimbulkan keributan, menimbulkan
keburukan di kalangan manusia. Kalau
kita balas ribut, apalagi zaman sekarang
ada orang zalimi kita balas kemudian
bikin
bikin jumpa pers, kemudian kita bikin
upload berita, kemudian ribut jadi apa
ya jadi
konsumsi publik yang ngapain mereka
sibuk dengan urusan kita
hanya untuk untuk menjaga harga diri
kita untuk kalau enggak perlu enggak
usah enggak perlu enggak usah ya
sudahlah zalim ya sudah serahkan sama
Allah subhanahu wa taala zaman sekarang
sedikit-sedikit
Bantah sini, ribut sana. Aib dibuka.
Saling bongkar-bongkaran aib. Ya udahlah
enggak usahlah. Udahlah Tuhan ada. Kalau
Tuhan enggak ada Tuhan ada Allah. Jadi
mau bilang-bilang nanti urusan dengan
Allah Subhanahu wa taala. Kalau kau
salah kau diam. Alhamdulillah. Kalau kau
benar insyaallah yang semua kembali akan
baik kepada kepadamu. Maka di sini Allah
berfirman, "Innallaha yammuru bil adli
wal ihsan." Allah perintahkan kalian
untuk berbuat insaf, berbuat adil. Kalau
mau balas setimpal boleh, tapi yang
lebih baik adalah al-ihsan, yaitu
berbuat bilfadal muamalah yang terbaik.
Ya,
Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul
Bari menyebutkan dalam Al-Qur'an albagyu
ya ee biasanya disebutkan
ee maknanya tercela seperti innamilu
alalladina yadlimunasa wabun ardhi bigir
haqq. Sesungguhnya dosa itu kepada
orang-orang yang berbuat zalim kepada
manusia dan berbuat kezaliman di atas
muka bumi tanpa hak.
dia juga inamaum anfusikum sesungguhnya
kezaliman kalian akan kembali kepada
diri kalian demikian juga
win ya siapa yang terpaksa memakan hewan
haram tanpa berlebihan ya bagian
maksudnya berlebihan ya ee tanpa tanpa
melampaui batas ya ini ee makna bagiu ya
maknanya adalah
ee
berbuat zalim secara umum secara secara
umum Ya
tayib. Ee saya bacakan
perkataan Ibnu Hajar ya.
Di antaranya beliau berkata, "Innallah
yamur bil ihsan fainal adl mus fil
mukafaah fi khairinarin." Sesungguhnya
adil adalah berbuat setimpal dalam
memberi balasan, baik terkait dengan
kebaikan maupun dari keburukan. Seperti
saya sebutkan tadi terkait dengan
kebaikan maupun namanya aladal. Wal
ihsan muqobalatul khair biakaro minhu.
Beliau sebutkan ihsan adalah membalas
kebaikan dengan yang lebih banyak. Ini
salah satu bentuk ihsan yang kita
sebutkan tadi. Wasyar wasyarri
wasyarro bitark ya atau muqabalatus
syarri. Membalas keburukan dengan
meninggalkan. A biqalli minhu tidak
membalas keburukan atau membalas tapi
dengan lebih lebih sedikit. dengan lebih
sedikit. Ini ee termasuk al-ihsan. Di
antaranya memaafkan, di antaranya
membalas keburukan dengan kebaikan. Yang
tadi saya tambahkan
Tib. Maka seorang hidup ini cuma
sebentar.
Jangan dia sibukkan dirinya dengan
membalas-membalas. Mak pusing dia. Belum
tentu yang dibalas akan jatuh. Terkadang
lebih hebat lagi. Balas lagi dengan
lebih besar. Siapkan pasukan untuk
membalas. Capek kita ngurusin
balas-balasan. Ya udahlah silakan.
apa sak karepmu kemudian kita serahkan
kepada Allah subhanahu wa taala. Gak
perlu kita bikin jumpa pers, gak usah,
gak perlu kita bikin ee klarifikasi.
Kalau enggak perlu, enggak usah. Dan
susah memang kita jalankan tentang Nabi
man taqama linafsihi. Rasulullah tidak
pernah membalas untuk kepentingan
pribadinya. Dia hanya marah kalau urusan
syariat. Tiib. Baba,
babu ma yunha an tahasud.
[Musik]
tentang larangan tahasud saling hasad
wat tadabur saling membelakangi waqui
taala dan firman Allah subhanahu wa
taala waminyarri hasidin idza hasad ya
ituu berlindung dari hasadnya orang yang
hasad dari ketika hasidin ketika dia
sedang berhasad kita minta perlindungan
kepada Allah subhanahu waala ini penting
zaman ini namanya tidak kita tidak tidak
jamin semua orang jiwanya nya baik. Kita
pun jiwa kita pun kita enggak tahu
seperti apa. Maka tidak terjamin kita
selamat dari orang-orang yang hasad.
Orang hasad bisa jadi di sekeliling
kita, bisa jadi orang dekat kita. Ya,
maka jangan lupa zikir pagi petang. Di
antaranya kita baca qulubirabbil falaq
minar ma khalaqar gqin waq
hasidin hasad. Aku dari orang hasad yang
hasad kepada kita. Tib. Kita bacakan ee
hadisnya
ee
ee kata Imam Bukhari Qala haddasana
Bisyr bin Muhammad. Sebelumnya saya
ingatkan di sini ee kata Imam Bukhari,
ma yunhaan anit tahasudang saling
hasad-hasadatan.
Tapi ternyata yang dimaksud itu bukan
larangan sekedar saling hasad. Salah
satu yang bikin misalnya A B bukan
larangan sekedar kalau A hasad sama B, B
hasad sama A. Gak.
Tetapi satu orang yang hasad saja tidak
boleh. Ya, hasad tidak boleh ya. Hasad
tidak boleh. Jangan berarti bukan
berarti boleh kalau dia hasad saya boleh
hasadin dia gak ya kan dia burukin saya,
saya boleh burukin dia gak. Us hasad gak
boleh. Gak boleh hasad dibalas dengan
hasad. Enggak boleh. Oleh karenanya ee
dalam ayat wamin syarri hasidin idza
hasad. Berlindung dari hasadnya orang
yang hasad. Ya jangan, jangan kita balas
hasad dia dengan kita hasad sama dia.
Karena hasad ini penyakit. Jangan balas
penyakit dengan penyakit ya. Ya. Maka
kalau ada orang hasad, jangan kita balas
hasad sama dia. Gak perlu. Jadi hasad
dari satu sisi ya hukumnya haram.
Apalagi kalau dua-duanya saling
hasad-hasatan.
Tib kita bacakan hadisnya. Al Imam
Bukhari berkata had B muhammad akhbarana
Abdullah q akbar makmar an Hamam bin
Munabbih Abi Hurairat Nabi sallallahu
alaihi wasallam dari Nabi sallallahu
alaihi wasallam beliau berkata iyakumna
faon akabul hadit waspadalah kalian dari
persangkaan sesungguhnya persangkaan
adalah dusta yang paling besar wala
tahasasu wala tajassasu jangan kalian
bertahasus yaitu mencari-cari keburukan
orang lain dengan mendengar
mendengar-dengar kabar tajasasu dan juga
jangan mencari keburukan orang dengan
melihat-lihat cek Cek sana, cek sini.
Ya, masuk di internet cari-cari
keburukan orang. Wala tahasadu. Dan
janganlah kalian saling hasad. Wala
tabagadu. Dan janganlah kalian saling
membenci.
Eh, wala tadabaru. Dan janganlah kalian
saling bertolak belakang. Waunu
ibadallahi ikhwana. Dan jadilah kalian
hamba-hamba Allah yang saling
bersaudara.
Kemudian Imam Bukhari berkata lagi, Qana
Abul Yaman q akaib zuhri q hadani Anas
ibnu Malik. Dari Anas bin Malik tadi Abu
Hurairah sekarang Anas bin Malik.
Radallahu anhu ana rasul sahu alaii
wasallam rasallahu alaihi wasallam
bersabda la tabagadu jangan kalian
saling membenci wala tahasadu jangan
kalian saling hasad wala tadabaru
janganlah kalian saling bertolak
belakang berboikot waunu ibadallahi
ikhwana jadilah kalian hamba-hamba Allah
yang saling bersaudara w yahu
lusliminahjur akhuq ayam tidak halal
bagi seorang muslim memboikot saudaranya
mendiamkan saudaranya memboik mendiamkan
saudaranya lebih daripada t hari
kita tadi jelaskan di dalam dua lafal
tadi tadi hadis Abu Hurairah maupun Anas
radhiallahu anhuma. Rasulullah berkata,
"Wala tahasadu." Janganlah saling hasad.
I,
jangan saling hasad. Jadi kalau ada
orang hasad, jangan kita belas dengan
hasad. Gak boleh. Gak boleh. Ya, hasad
ni apa makna hasad? Hasad maknanya
tamanni zawalin nikmah anil ghair.
Berangan-angan agar nikmat yang ada pada
orang lain hilang. Bahkan Ibnu Taimiyah
mengatakan di antaranya makna yang lebih
lebih umum yaitu benci. Enggak suka.
Enggak suka
orang lain dapat nikmat. Ketidaksukaan
itu sudah merupakan hasad. Kalau
disertai dengan usaha maka disebut
bagyu. Kalau sudah berusaha berusaha
makanya zalim. Kata disebutkan juga oleh
ee
Ibnu Hajar rahimahullahu taala. Ya,
Ibnu Hajar rahimahullahu taala.
Ee oleh karenanya seorang menghindarkan
dirinya daripada daripada hasad. Ya. Ya.
Kalau dia timbul hasad, dia lawan. Kata
Ibnu Hajar rahimahullah, kalau dia
timbul hasad dan ini susah untuk
menghindari karena tiga perkara kata
Ibnu Hajar rahimahullah yang sulit
dihindari. Antaranya hasad, ee di
antaranya juga tathayyur. Ya, di
antaranya apa? tatayyur ini juga ee
sulit untuk dihindari
ya.
Ee yang ketiga saya lupa nanti saya
mungkin mudah-mudahan kita dapatkan ya.
Itu tiga hal yang sulit dihindari. Tapi
kata beliau rahimahullah ee selama
kemudian tidak diaplikasikan
maka masih dimaafkan. Dia melaksanakan
maksudnya kalau dia hasad maka dia
berusaha menjelek-jelekkan orang
tersebut. Dia menggibahi orang tersebut
tapi hendaknya dia lawan dia tinggalkan.
Jadi kalau sekelar muncul tidak berdosa
karena itu di luar kemampuan ya.
Bahwasanya Allah memaafkan ee apa yang
terbetik dalam mahadat bihi anfusuha.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Inallah taju umati Allah memaafkan
umatku apa yang dibisikkan dalam hati
mereka.
takamal sebelum tidak selama dia tidak
berbicara atau dia aplikasikan dalam
perbuatan hanya sekedar lewat di hati
dimaafkan. Siapa sih yang bisa selamat
dari hasad? Makanya dikatakan ma jasadun
min hasad tidak ada jasad yang selamat
dari hasad. Wakin laim yubdih. Adapun
orang tercela dia akan mengaplikasikan
dengan ucapan atau perkataan
walim yubdi wal karim yukhfi. Adapun
orang yang baik akan menyembunyikannya
bahkan dia lawan. Maka kalau timbul
hasad,
hasad sama teman dan hasad ini mungkin
sekali. Ustaz sama ustaz, dokter sama
dokter, pejabat sama pejabat. Sangat
mungkin nih si cantik sama si cantik, si
ganteng sama si ganteng ya.
Semua yang satu
satu profesi itu timbul hasad
sangat-sangat mungkin. Yang punya mall
sama yang punya mall. Kalau yang ee
tukang becak mungkin enggak hasad sama
yang punya mall karena beda profesi.
Tukang becak enggak hasad sama dokter.
Tap ke dokter sama dokter hasad-hasatan
sangat mungkin terjadi. Nah, kalau
timbul hasad
maka jangan dibiar. Kalau sudah
dibiarkan
jadi
apa? Penyakit hatinya ya. Kemudian dia
ucapkan, dia melakukan usaha dengan
menjelekkan dokter tersebut atau
menjatuhkan maka ini sudah dosa. Bahkan
terjerumus dalam kezaliman.
Hendaknya dia lawan. Maka dua hal
hendaknya dia tinggalkan. Kata Ibnu
Hajar rahimahullah, kalau dia tinggalkan
karena tidak mampu melakukannya, maka
ini tidak dapat pahala. Bahkan bisa jadi
terjerumas dalam dosa. Tapi kalau dia
meninggalkan karena Allah, dia lawan
karena Allah, maka dapat pahala. Di
antara cara melawan hasad, dia puji
orang yang dihasadi. Dia puji.
Dia puji orang tersebut, dia kasih
hadiah, dia berusaha kenal. Kata orang
tak kenal maka tak sayang. Dia kenal
ngobrol sehingga hasadnya hilang. Karena
setan ingin masuk di antara manusia
dengan meniupkan hasad. Dan kalau sudah
seorang membiarkan hasadnya biasanya dia
tidak bertahan. Dia akan aplikasi dengan
perkataan perbuatan. Makanya dalam
riwayat Rasulullah bersabda, ee iyakum
wal hasad fainnal hasada yaul hasanat
kama takulu anarul khat. Hati-hatilah
kalian dengan hasad. Karena hasad itu
akan memakan kebaikan-kebaikan. Pahala
akan dibakar sebagaimana api membakar
bar ee ee kayu. Sebagaimana bara api
membakar kayu. Kalau api sudah kena
kayu, kayu cepat habis. Sama orang kalau
sudah hasad dia ingin sudah dia akan
gibah, dia akan namimah, dia akan
jelek-jelekan, dia akan fitnah, dia akan
semua dia lakukan supaya orang yang
hasad tadi bisa hilang nikmat dari orang
tersebut. Maka waspada. Jadi, ikhwan
saya kita tidak merasa kita ini bukan
malaikat. Kita sangat mungkin ada hasad.
Tapi kalau ada hasad, kita lawan. Lawan
karena Allah maka dapat pahala. Jangan
balas hasad dengan hasad. Kalau orang
hasad sama kita, jangan kita hasad sama
dia. Ya sudah kita kasihan dia sedang
diuji. Diuji hasad sama kita dia sedang
diuji. Semoga Allah sembuhkan
penyakitnya. Hasad mau diapain?
Ya penyakit
tib di sini kata Rasul sahu alaihi
wasallam di awal hadis dalam hadis Abu
Hurai iyakumna faon akabul hadit.
Waspadalah kalian daripada perbuatan
don. Karena don adalah dusta yang paling
besar ya. Kenapa dikatakan akzabul
hadis? Karena orang kalau dusta,
kalau orang dusta dia sudah tahu itu
merupakan ee kesalahan ya.
Dia tahu itu merupakan kesalahan ya.
Ee dan dia tahu dusta ini tidak bisa
jadi sandaran. Orang dusta dia ngerti.
Dan orang yang ee dusta dia ngerti ini
dusta ini tidak bisa jadi sandaran. Dia
hanya ngomong dia nipu orang. Beda
dengan zon. Kalau don ini zonnya salah
persangan tapi dia berdalil dengan dia
jadikan dalil padahal ini salah.
Sehingga dari sisi ini don itu lebih
dusta daripada dusta. Kenapa? Kalau
dusta orang tahu orang seorang tahu dia
sedang berdusta tapi ketika dia berzan
berprasangka dia menyangka itu benar.
Padahal tidak ada
ee dalil hujah yang membenarkan
persangkaannya. Dari sini Rasulullah
mengatakan bahwasanya don itu e lebih
berat daripada lebih lebih bahaya
daripada dosa. Karena dosa jelas dan itu
disangka benar ternyata tanpa dalil. Ya,
saya bacakan perkataan Ibnu Hajar. Waama
was bihi akzabul hadit maana taamudal
kadib alladzi la yustaniduin aslan
asaddu minal amradzi
ya isyaruaiian
minalibahun
mustaghifi
faahuumuhu
mustanadun atau mustanidunaiin.
Ya, di sini car saya sebutkan
kesimpulannya ee karena orang dusta itu
ngerti dia jelas sehingga dia tidak akan
bersandar dengan kedustaannya. Tapi
kalau dia berprasangka, dia menyangka
itu benar maka dia bela-bela, dia
yakini. Ternyata dia tahu tidak ada
dalilnya. Dia hanya persangkaan. Maka
dari sisi ini persangkaan lebih buruk
daripada dusta. Kan kita begitu. Kalau
tahu kita dusta, kita ya saya cuma
bohong aja. Tapi kalau kita lihat orang
sepertinya dia begini, sepertinya dia
begini. Padahal semua persangkaan
kemudian kita yakini. Nah, ini padahal
itu salah. Sehingga ini lebih dusta
daripada dusta yang sebenarnya.
Kemudian tadi kata Rasul Sallahu alaihi
wasallam, "Wala tahasasu wala tajasu."
Di sini ada perbedaan apa maknanya? Wala
tasu w tajasu. Para ulama ada khilaf
satunya pakai ha tahassasu, satunya
pakai jim tajassasu. Ada beberapa
pendapat disebut Ibnu Hajar rahimahullah
taala ada yang mengatakan maknanya sama,
hanya sekedar mentakid. Wala tahasas
wajas sama. Jangan cari-cari kesalahan.
Jangan cari-cari kesalahan. Ada yang
mengatakan wala tahasasu itu jangan
mencari kesalahan dengan mendengar
omongan orang. Tajasasu dengan
melihat-lihat. Cari-cari kesalahan
dengan melihat-lihat. ya hasasu dengan
mendengar ya ee intinya semua tidak
boleh dalam rangka untuk ee
ee apa namanya ee mencari kesalahan
kemudian wala tahasadu dan jangan saling
hasad wala tabagadu dan jangan saling
membenci maksudnya segala hal yang bisa
men kebencian jauhi sebab-sebab kita
benci orang jauhi wala tadabaru dan
janganlah saling tolak belakang saling
membaikan
Ya. Jangan jadilah kalian hamba-hamba
Allah yang sering bersaudara. Seperti
teman namanya saudara kita saudara kakak
adik ya. Namanya kakak adik meskipun
mungkin ada kesalahan kita maafin.
Namanya saudara tidak ada yang sempurna
ya. Kakak nakalin kita ya kita ya
namanya kakak adik nakalin kita namanya
adik ya. Berkelai-berkelai kemudian baik
lagi ya. Ya jadilah saudara yang benar.
Jangan saling membenci, saling hasad,
saling dengki. itu bukan hamba-hamba
Allah yang bersaudara. Bukan hamba-hamba
Allah yang bersaudara. Dan sebag
mengatakan di sini ee apa namanya?
Ee
ee larangan semuanya ya ee terkait
dengan ya. Karena kalau orang sudah
donan kemudian dia akan cari-cari tahu
dia tajasus.
Kalau sudah cari-cari tahu maka timbul
hasad. Kalau sudah timbul hasad saling
benci ya. Ini sudah saling benci, boikot
ya. Ini tidak boleh ya. Hadis berikutnya
kata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam, "La
tabagadu." Jangan saling membenci sebab
segala sebab kebencian kita hindari.
Wala tahasadu. Jangan saling hasad. Ya,
ada orang punya kenikmatan kita puji
masyaallah. Orang punya keliman kita
puji masyaallah. Semoga Allah berkahi
dia. Kita doain dia sehingga kita enggak
asad. Kalau perlu kita kasih hadiah
sehingga kita enggak perlu asad. Kenali
kita wala tadawar. Jangan saling boikot
diam-diaman.
Jadilah kalian hamba yang saling
bersaudara. Kemudian kata Nabi,
"Halal tidak halal bagi seorang muslim
memboikot saudaranya lebih dari 3 hari."
Maksudnya apa? Kalau seorang marah sama
saudaranya
ee maka tidak mengapa dia boikot cukup 3
hari. Lebih dari 3 hari dia
ee tidak boleh lanjutkan, ya. Tidak
boleh lanjutkan. Siapa yang sudah 3 hari
masih memboikat saudaranya, maka setiap
hari dia berdosa. Setiap hari dia
berdosa. Sampai dalam satu hadis kata
Rasul sahu alaihi wasallam, "Man hajara
akahu sanatan fahua kfqi damihi." Siapa
yang memboikot saudaranya sampai
setahun, maka seperti dia menumpahkan
darahnya. Artinya orang saudara setahun
dia enggak datangi, dia enggak telepon,
kalau ketemu saling cuek, sakit tidak
dia kunjungi, mati pun tidak dia
ngelayati. Orang ini seperti mati keluar
dari kehidupan sosialnya. Ini bahaya ya.
Sampai Rasulullah mengatakan seperti
menumpahkan darinya. Karena nasib orang
ini kalau kita boikot seperti tidak ada
dalam hidup dunia seperti seakan dia
sudah mati. Makanya Rasulullah
mengatakan seperti membunuhnya, seperti
menumpahkan darahnya. Nah, sebagian
orang boikot-boikot terkadang sama
teman, terkadang sama kakak, terkadang
sama adik, ya. Maka ini semua adalah
larangan yang hendaknya di ee dijauhi.
Ya, Bab. Demikian saja apa yang dis
sampaikan para dokter sekalian. Semoga
bermanfaat. Wabillah taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.