Dosa-Dosa Besar #59 – Mengajak Kepada Kesesatan dan Memberikan Contoh Kepada Jalan Hidup Yang Buruk
8qNqZYMLv2s • 2019-01-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah tidak henti-hentinya kita
memuji sang pencipta Allah.
Dan selalu kita gembira dengan pujian
ini. Karena pujian inilah yang telah
dijanjikan oleh sang pencipta Allah
untuk memenuhi segala kebutuhan kita.
Maka sangat wajar kalau kita selalu
menjadikan ucapan dalam keseharian kita.
Karena memang janji yang didapatkan
sangat besar.
juga kita panjatkan salam hormat kita
selalu
kita ucapkan kepada manusia yang
dirindukan, dicintai, dihormati.
Karena berbahagia sekali orang yang
menjadi pengikut manusia terbaik ini.
Dia punya panduan hidup tahu mana halal,
mana haram, mana yang diperintah dan
dilarang oleh sang pencipta Allah. Dan
mengucapkan salam hormat kepada manusia
terbaik ini dijadikan ibadah yang
berarti akan mendapatkan balasan. Salah
satunya adalah sekali mengucapkan salam
kepada manusia terbaik ini akan
mendapatkan 10 kali balas salam dari
sang pencipta Allah yang berarti
mendapatkan tambahan rahmat dan karunia.
Maka sangat wajar kalau kita selalu
mengucapkan selawat dan taslim kepada
Nabi Besar Muhammad sallallahu wa ala
alihi wasahbihi wasallam.
Melanjutkan bahasan kita, saudara
seiman, dosa-dosa besar dan semoga Allah
berkahi. Setelah panjang lebar kita
jelaskan dua dosa besar yang lalu, 57
dan 58 masalah mencaci maki atau mencela
para tokoh sahabat Rasulillahi
sallallahu alaihi wasallam ridwanullahi
alaihim.
Dan juga dosa besar ke-58 masalah
mencela secara khusus kaum Ansar
penduduk asli Madinah.
Kita akan masuk pada malam ini dosa
besar ke-59.
Mengajak kepada kesesatan dan memberi
contoh jalan hidup yang buruk.
Saudaraku seiman, kalau kita menjalankan
agama Allah apa adanya semurni-murninya
apa yang qalallah Allah berfirman, apa
yang qala Rasulullahi sallallahu alaihi
wasallam. Maka kita akan temukan Islam
itu mudah.
Ya, padat ya jelas
tidak ada neko-nekonya.
Halal jelas, haram jelas. Perintah
dengan segala rinciannya, rukunnya,
syaratnya, wajibnya, sunahnya, yang
membatalkannya,
semuanya jelas. Yang haram jelas.
Dan realita di lapangan kita bisa lihat
dengan ancaman-ancamannya
ya zinanya ya ribanya yang segala macam
dengan rincian dan pendapat-pendapat
ulama yang sangat banyak. Kita akan
temukan seorang muslim yang mengamalkan
agamanya sangat mudah sekali. Dia punya
panduan hidup dan dia bisa buktikan
hasilnya dalam realita sehari-hari.
Kalau itu kesimpulan atau itu yang bisa
kita jelaskan di awal pembukaan kita,
Teman-teman sekalian, maka coba fokus
kepada apa yang diperintahkan saja
dan fokus kepada hal-hal ini dalam
aplikasi kehidupan kita atau kita
aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu kemudian ajarkan kepada orang lain
dan juga hal-hal yang dilarang dalam
agama.
Jauhi dan jangan pernah contohkan kepada
orang lain.
Karena menjadi contoh mempraktikkan
kebaikan yang telah diperintahkan oleh
sang pencipta Allah melalui kitabnya
Al-Qur'an dan melalui sunah Nabinya
Muhammad alaihialatu wasalam
itu akan jadi pahala mengajarkan kepada
orang lain menjadi amal jariah buat dia.
mengerjakan dosa yang dilarang oleh sang
pencipta Allah
akan dapat hukuman kalau diajarkan
kepada orang lain malah bisa
berlipat-lipat hukumannya. Karena setiap
pelaku keburukan akan ya dipanen
pahalanya oleh orang yang menunjukkan.
Ada orang masyaallah datang ke majelis
ilmu begini dia rasa ada manfaatnya. Dia
ajak teman-temannya dia dapat manfaat.
Teman-temannya juga hadir dapat manfaat.
Dia diberikan pahala yang sama dengan
apa yang didapatkan oleh temannya. Misal
dia datang ke majelis ilmu, dikasih oleh
Allah misalnya 100 pahala. Ini contoh
saja. Maka temannya juga yang diajak
dapat 100 pahala. Tapi dia karena
mengajak temannya dapat 100 pahala
seperti pahala temannya. Berarti dia
dapat 200 tanpa dipotong dari pahala
temannya tadi. Begitu kalau diajak 5
orang, kalau diajak 10 orang, kalau
diajak 100 orang, makin banyak maka
makin besar pahalanya.
Penyuruh-penyuruh pada kebaikan ini
sangat bagus ya, pahalanya besar. Hanya
saja harus yang dia serukan memang
kebenaran.
Harus jelas panduannya
tidak boleh sembarangan dikarang-karang.
Qallah qala rasul.
Jangan ditambah, jangan dikurangi.
Sudah. Allah sudah turunkan dengan
selengkap-lengkapnya Al-Qur'an 30 juz
juga sudah diajarkan kepada Nabiinya
Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Semua sunah apa yang Allah inginkan.
Cukupkan dengan itu.
Dan orang yang berbuat dosa, ada banyak
orang subhanallah panen dosa karena dia
sendiri yang buat. Dia buat zina
misalnya,
dia dapat dosa dengan zinanya. Tapi
uniknya dia panggil temannya keesokan
harinya untuk ke diskotek yang sama, ke
karaoki yang sama, ke tempat zina yang
sama atau ke hotel yang sama. Kemudian
dia mengajarkan temannya yang belum tahu
apa-apa. Kalau nanti kamu masuk ke
kamar, kamu lakukan seperti ini, lakukan
seperti ini. Diajarkan secara rinci
bagaimana temannya berzina.
Walaupun dia tidak lakukan zina pada
malam itu, malam yang kedua yang diajak
temannya, tetapi dia dapat dosa yang
sama dengan apa yang dilakukan oleh
temannya.
Maka ini harus dijauhi nih.
Kalaupun ada seseorang terjerumus dalam
kesalahan, karena semua orang bisa
terjerumus dalam kesalahan, maka minimal
buat diri dia sendiri. Jangan diekspos
ini, jangan dibagi-bagi sama orang.
Karena kalau mereka melakukannya,
walaupun kita sudah tidak melakukannya,
maka tetap kita dapat dosanya.
Pelanggaran dalam agama, Teman-teman,
oleh para ulama dibagi menjadi dua. Ada
dosa syahwat,
ada dosa syubuhat.
Dosa syahwat, dosa yang diikuti dengan
hawa nafsu, zina, riba, mencuri,
memukul, menipu, itu hawa nafsu. Umumnya
dosa syahwat ini orang yang melakukan
kata para ulama sadar kalau dia salah
dan tidak sulit untuk mengajaknya
kembali. Misal kalau ada orang berzina
lalu kemudian kita nasihatin ada memang
secara kejiwaan dia tahu dirinya sedang
berbuat salah maka mudah lebih mudah dia
untuk meninggalkan perbuatan salahnya.
Bahkan kadang-kadang dia mengakui
sendiri dia tahu dirinya sedang sesak
nafasnya sedang enggak enak sedang
sumpek gara-gara sudah buat dosa itu.
Ada yang kedua ini yang berbahaya. Dosa
syubuhat.
Dosa syubhat. Dia enggak tahu ini dosa
atau bukan.
Ini masalah ini. Jadi dia melakukan
perbuatan yang dia anggap itu kebaikan
padahal sebenarnya bukan kebaikan.
Seperti orang banyak sibuk melakukan
perbuatan bidah, syirik. Ini bahaya
sekali. Dia tidak sadar dirinya sedang
berbuat kesalahan. Dia anggap dirinya
sedang ibadah. Sia-sia waktunya. Ya,
sia-sia ibadah yang sedang dia lakukan
karena tidak diterima, tidak ada
panduannya. Dan juga nanti akan menjadi
dosa. Itu menjadi hukuman. Apalagi kalau
dia ngotot ngajarkan kepada orang lain,
makin banyak tersebar. Ingat para ulama
mengingatkan, Teman-teman sekalian,
kalau setan itu akan jalan di alur
pikiran manusia seperti apa yang sedang
dia geluti, apa yang sedang dia tekuni.
Kalau orang itu tadinya suka ibadah,
maka setan masuk di ibadahnya.
Kalau seseorang di antara kita tidak
bisa digoda berzina sama setan misalnya,
tidak bisa digoda dalam ee riba misalnya
atau dalam mencuri misalnya, setan toh
dia suka ibadah. Dalam ibadah nanti dia
masuk ke dalam majelis, dia hasut sama
yang di sana, dia cemburu ya atau dia
mungkin menggiba orang yang ini. Dan
seperti itulah dalam ibadahnya
dimasukkan atau dibuat dia mengkhail
pada saat dia salat atau dia merasa atau
dia riak dalam ibadahnya. Maka setan
masuk di sisi di mana orang itu sedang
memikirkan sesuatu atau apa yang sedang
dia tekuni. Harus hati-hati karena
jangan sampai kita berpikir dosa itu
hanya kalau saya zina, hanya kalau saya
bohong. Enggak. Kita juga melakukan
perbuatan-perbuatan yang Nabi tidak
contohkan dalam ibadah bisa syubhat.
Syubhat ini sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam sudah jelas. Yang halal jelas,
yang haram jelas. Di antaranya hal yang
samar-samar. Siapa yang menjerumuskan
dirinya pada siapa yang menyelamatkan
dirinya dari hal yang samar-samar?
Boleh atau enggak ya, dia telah
menyelamatkan kesucian agamanya dan di
jiwanya, dirinya dia. Dan siapa yang
menjerumuskan dirinya pada yang syubhat,
gak jelas hukumnya, dia belum tahu atau
dia tidak tahu atau mungkin memang tidak
ada dalilnya,
maka dia telah menjerumuskan dirinya
pada yang haram. Seperti penggembala
domba yang membawa domba-dombanya di
padang rumput yang luas. Kemudian
rumputnya lebih tinggi dari dari
dombanya. Dia tidak tahu domba mana yang
dicuri oleh serigala.
Khusus untuk masalah dalil yang dipakai
oleh Imam Azzahabi rahimahullah dalam
dosa besar ini. Dan Imamzahabi bukan
ulama yang hidup zaman sekarang. Sudah
lama ini. Dan buku yang sedang kita
bahas jelas rujukannya. Beliau
mengingatkan dari zaman itu tahun 700-an
Hijriah.
Ya, ini kurang lebih 7 abad yang lalu
ya.
Beliau mengatakan diangkat dalil yang
pertama hadis Nabi sallallahu alaihi
wasallam dalam riwayat Imam Muslim
kitabul ilm
nomor 2674.
Man daa ila dolalatinana alaihi minalmi
mluami man tabiah laquika minamihim.
Tentu ini ada potongan hadis yang
pertamanya.
Ini potongan yang kedua. Saya bacakan
dulu terjemahannya yang sekarang. Barang
siapa yang mengajak kepada suatu
kesesatan,
maka dia akan menanggung dosa seperti
dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal
itu tidak akan mengurangi dosa-dosa
mereka sedikit pun. Potongan awalnya
hadisnya adalah siapa yang mengajak pada
kebaikan, maka dia akan mendapatkan
pahala orang yang melakukan kebaikan
dengan mengikuti dia tanpa dikurangi
sedikun dari pahala orang yang
melakukannya.
Tadi saya kasih contoh, kita ajak orang
ke majelis ilmu, kita ajak orang ke
masjid, kita dapat pahala, teman kita
dapat pahala, tapi kita diberikan oleh
Allah bonus seperti pahala apa yang
didapatkan oleh teman kita. Karena kita
mengajaknya mengajak saja. Mengajak
dakwah, panggili, ajak mereka.
Begitu pula dengan sebaliknya. Tadi saya
bilang potongan hadis. Barang siapa yang
mengajak pada suatu kesesatan,
kemaksiatan, kesalahan, dia tunjukkan.
Ya, kalau perlu ada orang tanya, "Di
mana alra di Skotik ini?" Jangan jawab.
Enggak usah jawab. Walaupun kita tahu
ada di ujung jalan,
enggak usah dijawab. Karena kalau kita
jawab, "Oh, saya enggak ke diskotik."
Tapi itu di sana tuh di pojok sebelah
kiri. Lalu dia pergi diskotek 3 jam.
Kita duduk di rumah baca buku dapat
dosa.
Untuk apa gitu kan? Kalaupun nasihatin
dia. Ya, saya mau tanya diskotik ini di
mana? Masa orang muslim ya?
Tanya siapa tahu dia muslim? Iya saya
muslim. Sudah tahu enggak? Itu enggak
boleh loh ke diskotik haram gini-gini.
Ya sudah itu urusan saya. Ya sudah saya
juga enggak bisa tunjukin. Saya enggak
mau dapat dosa kalau saya tunjukin.
Siapa tahu jadi penyebab hidayahnya
siapa tahu. Subhanallah. Dalam pepat
bahasa Arab dikatakan bisa saja sebuah
kalimat yang kau ucapkan bisa mengubah
hidup seseorang berubah jadi totalitas
secara totalitas menjadi kebaikan. Dari
mana kita tahu teman-teman orang yang
salah salatnya di sebelah kita jadi
ulama besar nanti? Bisa jadi gara-gara
teguran dia atau gara-gara peringatan
kita gitu kan. Atau mungkin kita kasih
dia sebuah buku. Ada buku-buku kecil
yang sering kita bagikan ini banyak
sekali. Buku doa, buku salat.
Gak seberapa nilainya harga gorengan
ini.
Datang ke masjid bawa di tas antum 10
buku
masjid saya marbot. Saya mau titip ya
taruh di pojok-pojok di masjid mungkin
ada rak bisa dibaca oleh jemaah atau
kita bagi-bagi pada saat habis salat
Jumat atau lagi di angkotan umum bisa
kita bagi buku enggak usah jual gitu
kan. Pahala. Target sehari 10 orang lah.
10 buku kita bagi s orang, 1 bulan 300
orang. 10% saja ya. 30 orang dapat
hidayah. 1% deh. 3 orang.
3 orang selama dia ibadah kita dapat
pahalanya. Abu Hanifah itu sekarang,
Teman-teman sekalian, mazhabnya beliau
dipakai hampir di seluruh Eropa dan
Turki. Jumlahnya jutaan orang yang pakai
mazhabnya. sampai jadi mazhab-mazhab
pemerintahan Turki, mazhab Abu Hanifah.
Dan subhanallah orang yang tunjukkan
tadi itu panen pahalanya. Itu luar biasa
gitu kan. Abu Hanifah pernah berkata
cerita tentang bagaimana dia belajar
dari tukang cukur yang pernah saya
ceritakan waktu lagi musim haji.
Dia lagi masuk ke tukang cukur. Dia
tanya berapa harganya cukur ini? Kata
tukang cukur, "Jangan tanya harga ini
ibadah.
Enggak usah tanya bayar berapa kamu
bayar." Baiklah. Pas dia duduk, Abu
Hanifah bilang, "Saya duduk. Duduk saya
bukan arah kiblat." Dia bilang, "Adab
kiblatlah. Kau lagi ibadah ini, masih
pakai baju ihram."
Dia bilang, "Saya hadapkan kiblat."
Kemudian saya pas duduk menghadap
kiblat, saya bilang, "Silakan potong."
Saya kasih arah kiri kepala saya. Dia
bilang, "Kenapa arah kiri? Sunah
Rasulullah arah kanan." Padahal Abu
Hanifah sudah ulama besar waktu itu. Dan
ini yang tegur dia tukang cukur.
Dia bilang, "Saya belajar lima ilmu
fikih dari tukang cukur."
Masalah tadi jangan negosiasi masalah
cukur.
Datang 10 riyal, bayar aja 10 riyal.
Enggak usah negosiasi ibadah, ya.
Kemudian hadap kiblat pada saat dicukur.
Ini mazhab mazhab Abu Hanifah, ya.
Kemudian cukur sebelah kiri disuruh oleh
cukur-cukur bilang sebelah kanan sunah
rasul sudah tiga.
Dia bilang, "Sementara saya lagi di
Jukur, saya diam nunggu." Tukang cukur
bilang, "Kenapa kau diam? Ini ibadah
zikir, berdoa."
K Abu Hanifah, "Benar juga nih. Kenapa
saya bengong?" Mung
saya berzikir. Sudah selesai yang fikih
yang kelima. Dia bilang, "Begitu saya
mau saya sudah bayar, saya mau pergi."
Dia bilang, "Kau mau ke mana?" Dia
bilang, "Saya mau bilang saya mau pulang
sebentar kamu baru selesai.
berdoa ini mustajab.
Dia bilang, "Baiklah saya berdoa." Dia
bilang, "Saya tukang cukur ini enggak
ada tanda-tanda. Gak ada gak ada ciri
ulamanya.
Orangnya kayak orang biasa, orang awam."
Kata Abu Hanifah, "Saya tanya kamu atas
nama Allah, dari siapa kau belajar tadi
itu?" Dia bilang, "Saya pernah mencukur
Atha bin Abi Rabah,
seorang tabiin. Atha bin Abi Rabah,
teman-teman, datang cukur ke tempatnya
tukang cukur. Enggak banyak ngomong.
Enggak banyak ngomong. Dia cuma datang
terus kemudian dia langsung, "Saya mau
cukur." Dia enggak negosiasi harga.
Kemudian dia duduk di hadap kiblat. Pada
saat lagi cukur, dia berikan isyarat
tangan cukur mulai sisi kanan. Kemudian
dia sambil berzikir. Setelah pas mau
pergi dia berdoa. Kata tukang cukur apa?
Saya pernah mencukur Atha bin Abi Rabah
dan dia kerjakan itu. Dan setiap kali
orang datang cukur di tempat saya, saya
selalu nasihatin yang sama.
perilaku. Perilakunya bisa jadi amal
jariah. Dan subhanallah Atha bin Abi
Rabah tidak pernah kenal Abu Hanifah.
Enggak pernah kenalan karena Atha sudah
meninggal lama. Abu Hanifah waktu itu
masih belum malah belum belajar agama
malah gitu kan.
Maka
Atha bin Abi Rabah panen pahala
mazhabnya Abu Hanifah dalam masalah
manasik.
H karena masalah itu contohnya. Dan
banyak sekali banyak sekali. Saya pernah
subhanallah naik ke naik bus waktu masih
mahasiswa
dari Madinah ke Makkah mau umrah.
Saya masih ingat bahkan sekarang ini
saya masih kebayang muka orang itu.
Subhanallah. Dia duduk di belakang kursi
saya. Jadi pada saat lagi Madinah ke
Makkah lumayan dulu masih 6 jam kita
naik bus. Karena kecepatan bus dilarang
oleh kerajaan Saudi lebih dari 60 atau
80 km. 6 jam sampai di Makkah. tengah
jalan ada orang di belakang saya nih
sambil waktu naik habis lewat miqat ee
kemudian naik di bus sambil talbiah
masing-masing talbiah orang ini tadinya
saya merasa terganggu awalnya orang ini
di belakang kursi saya dia bilang ya
ikhwani wahai saudara-saudarak jangan
diam ini lagi ibadah 5 jam perjalanan
berzikirlah bertalbiahlah
kita kalau meninggal dalam keadaan
berihram kita dikubur dengan ihram kita
ini ibadah lalu Kalau mulailah
disebut-sebut banyak hadis
dan ada di antara hadis dia yang dia
sebutkan, saya masih ingat sampai
sekarang. Dia mengatakan, "Di antara
hadis Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam, kalau kalian berzikir maka
tanah yang sedang dilewati oleh
seseorang yang berzikir berbangga dengan
tanah yang lain atau lokasi yang lain
yang tidak sedang berz tidak tidak ada
yang sedang atau tidak ada orang yang
lewat sedang berzikir di sana. Dia
mengatakan, "Sungguh telah lewat di
atasku hamba Allah yang berzikir kepada
Allah."
di antaranya terus saja dia bicara
teman-teman sampai mendekati Makkah
hampir 5 jam 6 jam dia bicara terus
nasihat terus saya tadinya awal sempat
merasa tengganggu lama-lama saya asyik
mendengarkan dia cerita tentang hadis
tentang ap banyak sekali diberikan
nasihat sama dia. Lama-lama saya
berpikir, iya ya, kenapa? Kenapa orang
tidak ber mungkin ada orang yang merasa
terganggu dengan keadaan orang-orang
seperti ini, tapi ternyata dia memang
tidak mau menyanyiakan waktunya. Dia
bisa mengikan waktu. Dari mana dia tahu,
Teman-teman sekalian kalau saya sekarang
menyampaikan hadis yang saya dengar dari
dia di majelis seperti ini yang ribuan
orang hadis.
Dia cuma duduk di mobil, di bus itu
hari. Ini kisah mungkin sekitar 15 17
tahun yang lalu ini ya. Tapi begitulah.
Subhanallah. Jadi kebaikan-kebaikan itu
kita amalkan, sebarkan, amalkan,
sebarkan. Jangan diam. Yang penting
kebenaran itu kita tahu betul-betul
memang kebenaran harus punya dalil.
Qallah qala rasul kita punya agama murni
Islam, jangan ditambah-tambah gitu.
Seperti itulah, Teman-teman sekalian.
Sama halnya dengan keburukan.
Pengalaman-pengalaman antum dalam dosa,
jangan dikenang lagi. Gak usah kenang.
Apalagi kalau sampai mengajarkan ke
orang lain, apalagi kalau menceritakan
ke orang lain. Bahkan sebagian ulama
mengatakan dianjurkan agar seseorang
tidak menceritakan maksiatnya di masa
sebelum dia tobat. Walaupun dia
menjadikan sebagai ibrah dan pelajaran
bagi orang lain, lebih baik dia hindari.
Khawatir kalau dia sebutkan dia
terkenang,
bisa mengingat bisa jadi masalah buat
dia. Misal dia bilang, "Saya dulu juga
pernah berzina." Nah, untuk apa?
Saya juga tahu itu begini dan begitu.
Lebih baik dia mengatakan, "Jangan
berzina, tapi menikahlah." Lalu dia
sebutkan fadilah daripada dia mengenang
masa lalunya. Saya sudah pernah laluin
itu semua obat-obatan. Saya pernah
laluin itu begini begini. Enggak enggak
ada gunanya. Apa gunanya? Jangan
disebutin. Karena kita dianjurkan untuk
menutupi, menutupi aib kita sendiri. Itu
aib. Enggak boleh. Kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Orang yang buruk
tudukannya di sisi Allah adalah orang
yang telah Allah tutupi aibnya
semalaman. Lalu dia bongkar sendiri
besoknya. Malam hari dia zina, malam
hari dia mabuk, malam hari segala Allah
tutup semalam suntuk enggak ada yang
tahu. Besok dia sendiri yang ekspos di
kantornya atau di jalan atau di
keluarganya. Apalagi kalau sampai
ajarkan ke orang lain ini ya. Kita
sebagai orang tua jangan ajarkan amal
buruk kepada anak-anak. Jangan wariskan
keburukan ya kepada teman-teman, pada
kerabat, pada istri, pada suami ya.
Walaupun kepada orang tua kita juga.
Harusnya kita pahami ini, Teman-teman
sekalian.
Dan ini berbahaya sekali karena
dosa-dosa kita akan panen dari situ. Ya,
sama juga dengan hadis, ada hadis yang
sahih riwayat Bukhari tapi di sini tidak
disebutkan dulu dalam bahasan kita.
Tidak ada tidak ada jiwa yang terbunuh
ya kecuali anak Adam yang pertama
melakukannya akan panen dosanya.
tadya enggak ada pembunuhan kan waktu
Qabil dan Hab ribut gitu kan
terbunuhlah.
Pada saat terbunuh ya maka Allah
Subhanahu wa taala menjadikan dia yang
membuka pintu itu, pintu keburukan itu.
Sehingga semua orang yang terbunuh atau
orang yang membunuh sampai menjelang
hari kiamat dipanen dosanya oleh orang
ini. Ini kan bahaya sekali.
Nabi sallallahu alaihi wasallam juga
dalam hadis yang lain di sini,
Teman-teman sekalian, hadis yang kedua
diangkat oleh beliau riwayat Imam Muslim
dalam kitabuz Zaka nomor hadisnya 107
dan Nasai kitabuz Zaka nomor 75 dan 76.
Saya sudah pernah sebutkan sebenarnya
ini ee apa namanya
ee penyebabnya hadis ini ya.
Jadi ada beberapa sahabat orang-orang
padang pasir miskin sekali. Susah
hidupnya. Saking susahnya hidupnya
sampai muka mereka itu hitam
kemerah-merahan.
Baju mereka cuma satu lembar di badan,
diikat di leher. Dan kalau seandainya ya
kalau seandainya dia atau mereka
tersingkap tertiup dengan angin
tersingkap auratnya. Nabi sallallahu
alaihi wasallam lihat dari jauh beliau
langsung naik mimbar. Motivasi sahabat
untuk sedekah, shodqah, sedekah,
sedekah. Bersedekahlah itu akan meredam
murkanya Allah. Itu akan menambah rezeki
kalian. Terus Nabi sallallahu alaihi
wasallam motivasi mereka. Lalu Nabi
mengatakan, "Bersedekqahlah walaupun
dengan secuil kurma." Maksudnya kalau
kalian di rumah kalian tidak punya
kecuali satu butir kurma dan kalian cuma
mampu cuil sedikit kulitnya, itu
disedekahkan. Sedekahkan. Enggak boleh
enggak ada yang sedekah, gitu kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam.
Kemudian ada satu sahabat waktu itu Nabi
sallallahu alaihi wasallam suruh tebar
kain untuk menerima sedekah supaya
diberikan kepada orang-orang susah ini.
Ada satu sahabat berdiri memulai
memberi. Memulai memberi. Dia memberi.
Lalu yang lainnya pada ikut semuanya.
Apa kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam? Diberikan gambaran di sini.
Waktu sahabat tadi membuka pintu itu,
lalu yang lain ikut. Man sanna fil
islami sunnatan hasanah.
Siapa yang memberikan contoh yang baik
dalam Islam?
Tadi sahabat ini motivasi jihad sedekah,
dia paling pertama datang. Akhirnya
orang lain pada ikut semua gitu ya.
Maka dikatakan kana lahu ajr ml ajr man
am man man amila biha min ba'd. Maka dia
akan panen pahala siapapun yang
mengikuti langkahnya
setelah itu. Walaupun dia belum mati
tapi dia menjadi contoh.
J hubungnya dengan ri ini karena kita
dimotivasi gitu kan. Kalau pas lagi mau
azan kita duluan berdiri teman-teman
kantor lihat kenapa sudah azan mau azan
ke masjid kita ke masjid. yang lain ikut
dapat pahalanya. Kita memulainya
sama dengan kasus ini ya. Maka Nabi
sallallahu alaihi wasallam mengatakan
siapa yang menjadi contoh bagi
kebaikan-kebaikan, dia akan panen pahala
orang yang mencontohinya tanpa dikurangi
serikun dari pahala itu. Kemudian beliau
lanjutkan mengatakan, "Man sanna waman
sanna sunatan sayiah kana alaihi wizruha
wa wizru man amila biha min ba'di
minanqu minim.
Dan barang siapa yang memberikan satu
contoh jalan hidup yang buruk, maka dia
menanggung dosanya dan dosa orang-orang
yang melaksanakan setelahnya tanpa
mengurangi sesuatu dari dosa-dosa
mereka.
Jadi jelas sekali kalau kita jadi contoh
keburukan maka akan jadi keburukan.
Imam Azzahabi mengangkat dalil yang
selanjutnya adalah masalah hadis irbat.
Hadis yang cukup panjang yang kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Alaikum
bisunnati wasunatul khurafa rasid mahd
ba'di alaiha bin nawajid.
Berpegang teguhlah kalian pada sunahku
dan sunah khulafa rasyidin setelah ku
berpegang teguh pada keduanya walaupun
dengan gigi geraham kalian." Kalau saya
sudah mati nanti kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam khulafa rasyidin juga
yang datang setelah Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali meninggal maka berpegang
teguh pada sunahku dan sunah mereka
walaupun dengan gigi geraham kalian
gigit baik-baik tuh jangan lagi ambil
contoh yang lain. Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam dan khulafa rasyidin
sahabat.
Maka kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Waakum muhdtil umur." Dan
hati-hati dengan perbuatan-perbuatan
yang dibuat-buat baru. Perhatikan di
sini Nabi sallallahu alaihi wasallam
sebutkan di awal potongan hadis
berpegang pada sunahku, contoh-contoh
dari aku dan khulafa rasyidin. Berarti
kan sudah ada yang disuruh untuk
diikuti. L Nabi bilang, "Hati-hati
dengan perbuatan-perbuatan yang baru."
Maksudnya apa? Baru dari apa yang saya
lakukan dan sahabat saya lakukan. Gak
ada dulu kami lakukan.
Fa inna muhin bidah. Semua yang
dibuat-buat itu dalam masalah ibadah
dikenal dengan perbuatan baru dalam
agama. Keluar istilah bidah widalah.
Dan perbuatan bidah itu bisa membawa
pelakunya pada kesesatan dan keteluran
finar wa inna finar. Dan semua kesesatan
akan membawa pelakunya ke dalam api
neraka. Dan hadis sahih ini riwayat Imam
Muslim.
Maka di sini, Teman-teman sekalian, kita
lihat Nabi sallallahu alaihi wasallam
mempertemukan antara sunah di awal hadis
dengan bidah di akhir hadis. Apa kata
para ulama? Berarti dua ini dua makna
yang berlawanan, rival seperti malam dan
siang. Laki-laki dan perempuan, hidup
dan mati, dunia dan akhirat gitu kan.
Tinggi dan pendek, lapar dan kenyang.
Nah, bidah sama sunah
ini seperti itu. Karena Nabi bilang di
awal potongan hadis, renungi baik-baik
gitu kan. Berpegang pada sunahku dan
sunah khulafa rasyidin dan hati-hati
dengan bidah di akhir. Berarti konsep
pemahamannya, pemahamannya adalah bidah
sama sunah bertolak belakang.
Makanya keluar statement para ulama
salaf mengatakan, "Siapa yang hidupkan
satu sunah, dia matikan satu bidah.
Siapa yang hidupkan satu bidah, dia
hidupkan dia matikan satu sunah.
Karena ini rival lawan baik. Kenapa
kalau kita cukupkan dengan sunah saja?
Kan enak, nyaman. Sama kalau kita kerja
di perusahaan sering saya kasih contoh
ini, kita ikuti peraturan saja yang ada.
Udah itu aja dapat gaji, tetap bekerja
jadi pegawai, selesai. Kenapa harus buat
yang perusahaan tidak suruh coba-coba
enggak diterima nantinya gitu kan.
Dengan segala macam istilahlah dibuat
bidah itu ada begini, ada begitu, ada
begini, segala macam itu upaya. Tapi
yang kita tahu dari hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam, kullu
bidatin dolalah.
Di sini sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam jelas bida bisa membawa
perakunya pada kesesatan karena dia
rival daripada sunah Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Dan perbuatan bidah ini
masuk dalam dosa syubuhat tadi. Karena
orang yang melakukannya orang tidak tahu
kalau dia buat salah. Dia pikir dirinya
benar.
Diingatkan, "Saudaraku, Rasulullah
enggak pernah contohin." Enggak apa-apa.
Yang penting baik. Ini yang baik di mata
kita, yang baik di mata Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam. Mestinya
begitu. Iya kan? Bayangkan teman-teman,
kita bayangkan sama-sama kalau
seandainya kita buka pintu bidah ini ya.
Semua orang boleh buat karena baik.
Kalau kita hadir di sini masyaallah
berapa ribu orang hadir ya kita
masing-masing buat. Kira-kira masih
tertinggal dari sunah Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam?
sudah enggak tertinggal dari kemurnian
Islam sudah susah sudah ketinggal karena
orang mau buat apa yang dia suka
sementara sunah Nabi sallallahu alaihi
wasallam agama ini suka atau tidak suka
harus kita kerjakan harus kita terima
maka jangan dibuka pintu ini. Lebih baik
kita tutup.
Saudara sekali lagi sebagai unutup saya
bagikan, saya saya terangkan meja ini
kalau kita bagi dua ini zona aman ini
zona tidak aman dalam ibadah zona aman
adalah kerjakan yang ada perintahnya
saja titik. Sudah selesai pasti
diterima. Zona tidak aman adalah kita
coba-coba.
Bisa diterima bisa enggak. Enggak
apa-apalah. Enggak apa-apalah. Waktunya
sia-sia ya. Ibadahnya sia-sia. Iya. Yang
jadi masalah kalau jadi dosa.
Karena bidah itu dosa. Bukan bukan
tidak. Karena Nabi mengatakan makanya
Imam Azzahabi masukkan dalam buku ini.
Ini bukan perkataan saya. Imam Azzahabi
rahimahullah. Semua ulama ahli sunah
tahu siapa Imam Azzahabi. Beliau yang
mengatakan ini bahwasanya mengangkat
hadis kulu bidatin dolalah. Maka ini
harusnya kita pahami teman-teman
sekalian. Tapi kalau ada di antara
muslimin sudah dinasihatin tidak mau
dengar silakan.
Jangan lagi disebarin Khalid Basalam ini
wahabi
larang-larang buat ini, larang buat itu.
Justru karena kami sayang kepada Anda.
Diingatkan, buatlah ibadah yang ada
perintahnya. Tapi kalau mau ngotot fadol
silakan buat saja silakan bebas-bebas
semua tanggung jawab hari kiamat kan.
Yang penting alhamdulillah Allah sudah
saksikan kita sudah sampaikan. Dan orang
kalau kerjakan ibadah sesuai dengan
sunah Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam enak,
simpel mudah pasti pahalanya. Kenapa
masuk ke zona yang tidak pasti? Bisa
enggak minimal tidak diterima. Minimal
bisa diterima, bisa enggak kan. Apalagi
kalau ada ancaman bidak jadi perbuatan
dosa. Imam masukkan kategori dosa besar
loh. Ini jadi masalah gitu ya. Yang
lebih parah ada orang mengajarkan pada
orang lain bidu. Dia tidak cukup dengan
dirinya diajak orang lain ngotot
harus begini. Enggak apa-apa. Enggak
apa-apa. Berapa banyak sunah Rasulullah
yang ditinggalkan kemudian dihidupkan
bidahnya. La haula wala quwwata illa
billah. Kalau kita bahasakan dengan
santun kepada teman-teman kita ini,
kalau Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam hidup di depan Anda sekarang
ya, mana yang Anda lakukan? Sunahnya
atau bidahnya?
Masuk akal. Kalau Rasulullah itu pasti
ditegur tuh kan saya enggak contohin.
Kenapa kau buat kan? Hah? Bisa saja
begitu.
Saya sangat yakin kalau Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam hidup di
hadapan kita, ada orang buat ba ditegur
sama beliau pasti. Kenapa kau buatin?
Saya enggak suruh, enggak diterima loh
sama Allah. Saya sangat yakin kalau
sunahnya dikerjakan ya ini yang saya
perintahkan seperti para sahabat
praktikin akhirnya Nabi sallallahu
alaihi wasallam mendukung mereka gitu
kan. Jadi teman-teman sekalian hindari
semua dosa syahwat ya. Kalaupun ada di
antara kita yang terjerumus di situ dia
harus segera tutup aib itu antara dia
sama Allah. Jangan dia sebar-sebarin.
Jangan ajar-ajarkan orang. Dia punya
pengalaman pernah zina di kamar hotel,
diajarin temannya cara zinanya. Jangan.
Dia pernah buat nota palsu. Saya sih
sudah tobat sekarang, tapi dulu saya
pernah buat begini.
Ini orang Arab bilang jahal murakab.
Tahu jahal murakab apa kita bahasakannya
goblok super gitu.
Jadi sudah dia buat dosa ya taubat tapi
dia kasih lagi orang lain resepnya. Ha
resep berbuat dosa. La haula wala
quwwata illa billah. Ya, ada banyak ini
kan orang tua banyak buat begitu. Dia
sekarang sudah tobat, sudah pakai
kopiah, sudah pulang haji, istrinya
sudah pakai jilbab, anaknya enggak pakai
jilbab,
anaknya enggak salat gitu kan. Kenapa?
Karena dulu juga saya begini sama dia.
Sama waktu umur seperti dia, saya juga
enggak. Enggak apa-apa kok, Nak. Dulu
ayah juga begini.
Enggak apa-apa nak nikmat-nikmati masa
mudamu. Ibu juga dulu begini.
Ini namanya dosa yang berkelanjutan ya.
Ini bahaya ini contoh dan banyak
contoh-contoh dalam kehidupan kita.
Allahuam. Mungkin begitu saja kita
insyaallah lanjutkan dengan tanya jawab
sebentar lagi. Subhanakallahumma wabi
bihamdika ashadu alla ilaha illa anta
astagfiruka waubu ilai. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala
rasulillah. Segala puji bagi Allah
Subhanahu wa taala juga selawat dan
taslim kepada Nabi Besar Muhammad
sallallahu ala alihi wasahbihi wasallam.
Saya pernah mengajak teman saya
bermaksiat dalam kurung minum khamar dan
kami sering minum khamar bersama dalam
jangka waktu yang sudah lama atau lama.
Lalu kami berpisah karena adanya
kesibukan masing-masing. Alhamdulillah
akhirnya saya dapat meninggalkan
kebiasaan tersebut dengan hidayah Allah.
Kemudian saya teringat teman saya tadi
dan menanyakan keadaan teman saya itu
kepada keluarganya.
Alangkah terkejutnya saya mengenai ee
pada saat mengetahui bahwa teman saya
itu masih saja minum khamar.
Pertanyaannya,
apakah saya masih berdosa karena dulu
saya mengajak teman saya itu untuk minum
khamar? Jawabannya iya.
Kadang-kadang ngajak dulu, ya.
Tinggal pertanyaan selanjutnya,
bagaimana caranya supaya berhenti
dosanya? Ya telepon teman itu. Kasih
tahu dulu saya kan ajak khamar, minum
khamar itu haram dalam agama. Saya sudah
tahu hukumnya sekarang. Jadi lebih baik
kamu tinggalkan. Dakwahi dia. Jadi
seperti kita pada saat telepon ke dia,
menasihati itu adalah memutuskan dulu
penyebab kita mengajak dia. Artinya
sekarang saya enggak dukung.
Udah, udah, udah nyampai baru nyampai,
saya berlepas tangan gitu. Jadi saya
tidak mau dapat dosa dari situ. Baru
bisa lepas. Kalau enggak, enggak bisa.
Harus kita seperti membatalkanlah ya
masalah itu.
Ayah mertua saya secara umum lebih paham
agama daripada saya meskipun masih
mengerjakan beberapa amalan tanpa
tuntunan Nabi sallallahu alaihi
wasallam.
Bagaimana strategi dan adab-adab
menasihatinya agar tidak menyakiti
hatinya? Sedangkan saya sendiri baru
belajar sunah. Gunakan media, gunakan
fasilitas.
Kalau ilmu kita masih kurang, kita
belajar dulu.
terutama di masalah yang secara
substansial yang kita ingin luruskan.
Apa misalnya kita anggap perbuatan salah
dari seseorang, teman, kerabat, mertua,
orang tua, istri, suami, anak, apa saja
secara substansial. Apa masalahnya dia?
Dosa syahwat atau dosa syubuhat?
Dua-duanya sama. Bagaimana caranya kita
pelajari substansial itu? Misal teman
kita suka berzina, maka kita coba
mendalami ilmu peringatan-peringatan dan
ancaman syariat berhubungan dengan zina.
Baca tinggal ketik di Google sekarang
ancaman orang berzina. Keluar banyak
artikel. Kita baca supaya punya bukti.
Kalau perlu kita copy, kirim ke teman,
gunakan fasilitas yang sudah ada. Atau
mungkin ada banyak buku-buku yang
menjelaskan masalah itu misalnya, gitu
kan. Jadi banyak sekali buku-buku yang
sering saya bawa dan sering juga kita
usahakan bagikan yang ukurannya hanya
seperti ini ya. Kurang lebih seperti
buku-buku kecil ini yang saya bilang
harganya harga gorengan Rp6.000,
Rp7.000, Rp10.000
ya. Jadi harga yang sangat murah beli
tinggal bagiin kepada dia gitu ya. Beri
beri apa? Bagikan masalah dosa-dosa
secara dosa apa? Misalnya masalah hijab
ya. Ada buku di sini misalnya, "Wahai
ukhti, kenapa engkau tidak berjilbab?
Harumnya surga tidak akan tercium oleh
mereka yang tidak istikamah dalam
syariatnya." Buku kecil
bagian kepada akhwat ya. Mungkin akhwat
kita di belakang punya teman-teman
kantor, punya temannya yang kerabat yang
belum pakai jilbab. Murah sekali
bukunya. Kasih hadiah. Ini saya titipin
ya. Hadiah buat saya mudah-mudahan bisa
dibaca. Kasih buku apa saja. Kalau
berhubungan dengan masalah dosa
syubuhat, masalah bidah, masalah syirik
juga banyak buku-buku seperti ini yang
menjelaskan masalah bidah dan syirik.
Definisinya, dalil-dalilnya,
contoh-contohnya. Kasih aja kita gunakan
fasilitas. Kalau merasa belum punya
ilmu, belum tahu. Tapi minimal kita juga
membacanya supaya jangan sampai kita
mengajarkan ilmu ke orang, memberikan
buku sesu tentang bahasan tertentu, kita
sendiri belum paham itu.
Itu enggak boleh di sisi Allah. Harus
kita tahu dulu kan. baru kita sampaikan
ke tinggal masalah metode menyampaikan
apakah secara langsung atau kita berikan
buku. Itu yang saya tahu itu yang cara
terbaik gunakan fasilitas sekarang juga
selain buku mungkin kita bisa kalau dia
malas baca buku kita bisa berikan
cuplikan-cuplikan ceramah ya semoga saja
ya itu kan upaya kita, ijtihad kita
cukup sampai situ enggak apa-apa
selebihnya tinggal doakan ya sudah
tawakal.
Saya seorang guru. Saya mulai untuk
mempraktikkan tata cara busana Taisbal.
Namun ada beberapa murid yang sedikit
protes karena apabila mereka seperti itu
dalam berpakaian akan dihukum. Apa yang
harus saya sampaikan, Ustaz, ke
anak-anak?
Karena
ada beberapa yang mencontohi saya dan
ada pula yang menertawakan saya.
Jadi memang dalam mempraktikkan sunah
Nabi sallallahu alaihi wasallam, apalagi
di zaman kita sekarang di mana banyak
sunah-sunah Nabi yang tertinggal gitu
kan. Bahkan lebih semarak acara-acara
bida daripada sunah gitu. Itu sudah
umum. Maka memang kita butuh zuhud untuk
menyampaikan lebih ekstrah. Seperti
misalnya dari seorang guru. Masalahnya
apa? Di sekolah misalnya kita bisa
bicara sama kepala sekolah menjelaskan
memberikan buku. ini loh saya baca buku
ada seperti ini, Pak. Misalnya kepala
sekolahnya dan saya praktikkan ini dalam
perilaku saya sehari-hari berpakaian.
Biarkan dia baca, gitu kan. Setelah itu
kemudian saya akan berpenampilan begini
di sekolah. Bisa kan? Ya bisa. Ya sudah,
nanti kalau selanjutnya bertemu lagi.
Ada murid-murid yang mungkin mau
mengikutinya kita jelaskan. Jadi
jelaskan kenapa kita melakukan. Jangan
tiba-tiba saja melakukan kemudian nanti
dihardik tidak ada penjelasan gak kita
jelaskan kenapa. Jadi biar jelas gini
kalau saya sarankan seperti itu. Masalah
ada orang menertawakan enggak usah
dipedulikan itu. Nabi sallallahu alaihi
wasallam ditertawakan dianggap penyihir.
Ya, apa yang lebih berat daripada itu?
Nabi sallallahu alaihi wasallam lagi
ceramah nih penyihir tuh jangan dengar
gitu begitu. Ini penyamun nih
ngarang-ngarang, dusta jangan dipercaya.
Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam
jalan itu diikuti oleh pamannya Abu
Lahab di belakang. Jangan percaya orang
ini ponakan saya. Saya lebih tahu dia.
Dia pendusta.
Ya. Ya. Saya tidak bisa bayangkan
subhanallah pada saat itu bagaimana
baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam
lagi ceramah sampai dakwah terus di
belakangnya pamannya sendiri bilang,
"Jangan percaya orang ini pendusta saya
lebih tahu dia."
Bayangkan beratnya itu luar biasa. Kita
sekarang ceramah leluasa menyampaikan.
Jadi menurut saya wallahuam gak usah
terlalu terpengaruh dengan cibiran orang
ya. Biar a dia mau cibir urusan dia.
Antum tinggal terima pahal transfer
pahala.
Kamu begini begini begini kamu garis
keraslah segala macam senyum saja senyum
saja dia butuh penjelasan kita jelaskan
dia tidak mau butuh cuma segera menghina
sudahlah tinggal terima pahala apa saja
yang dikasih situ kan terima transfer
gratis enak sekali it
semoga ustaz sehat dan berkah hidupnya
sama-sama insyaallah
saya mencerita ustaz karena Allah
ahabbakallah ahbabtani f berkaitan
dengan mengajak kesesatan. Apabila saya
mengajak teman untuk nonton bioskop,
apakah termasuk mengajak kesesatan? Apa
hukumnya nonton bioskop?
Filmnya religi, Ustaz.
Haram.
Tetap haram. Tetap haram.
Masuk bioskop ada musik, ada campur baur
laki-laki perempuan gelap, duduk
bersebelahan. Hah.
Dan gini teman-teman, kalau mau berbuat
perbuatan dosa, tanya sekali lagi saya
selalu kasih kasa resepnya. Kalau saya
tidak buat, kenapa? Kenapa kalau tidak
ke bioskop? Ha, kenapa? Enggak ada
apa-apa. Mata enggak buta, tangan gak
terpotong, enggak ada. Duduk di rumah
enak baca buku, dapat ilmu, minum susu,
baca Quran, tidur, enak.
Pergi malam-malam, pulang jam sekian
malam. Untuk apa? Hanya untuk nonton
rekayasa cerita. Kan film itu rekayasa
cerita ya, dongeng ya. Cuma dikemas ini
aktornya hebat ini. Kadang-kadang kita
ditipu berapa kali karena orang aktor
yang sama punya 100 film misalnya di
sini jadi penjahat, di sini jadi orang
baik, di sini jadi bodohnya kita
ikut-ikutin. Oh iya iya ini Pak
La haula wala quwwata illa billah. Coba
antum tinggalkan ini kebiasaan ini.
Tinggalkan coba nonton-nonton ini. Coba
tinggalkan. tinggalkan awal mungkin ada
tekanan terasa pengin ingat aktor ini
hebat ya ini ya itu pengaruh kejiwaan
coba tinggalkan aja seminggu, sebulan,
lama-lama antum akan merasa aneh kenapa
dulu nonton akan muncul sampai pada
puncak itu nanti. Banyak jemaah saya
gitu akhirnya mereka mengatakan, "Iya ya
Ustaz. Ya, akhirnya apa yang Ustaz
sampaikan tentang masalah kalau kita
tinggalkan kemaksiatan dan memang
melalui proses ada tekanan-tekanan
terasa prosesnya ada ya. Tapi begitu
sampai pada puncaknya, kita jadi
berpikir, "Iya ya, kenapa dulu saya
buang-buang uang, buang waktu untuk apa
ada hisabnya loh." Ini kita,
Teman-teman, mati itu tidak nunggu
ruangan ICU di rumah sakit. Bukan
berarti kita meninggal sakit parah dulu
baru meninggal. Enggak. Orang duduk
begini bisa meninggal, orang lagi jalan
bisa meninggal. Bagaimana orang masa
aman gitu ya? Sampai para ulama
mengatakan, "Bagaimana orang bisa
nyenyak tidur di malam hari dengan
berharap surga sementara dia bisa mati
setiap saat." Dan bagaimana seseorang
bisa melakukan maksiat di siang hari
sementara dia tahu setiap saat bisa
malaikat maut menjemputnya?
Itu kelalaian,
penyasalan di belakang, Teman-teman
sekalian. Hati-hati, gitu kan. Jadi
bukan pasti enak ya. Jadi kita enggak
pungkiri nonton film India 3 jam
sebentar dia nangis, sebentar dia hebat,
sebentar dia berar, sebentar dia enak
memang asyik pasti. Tapi waktu antum
terbuang
waktu antum terbuang gitu, film ini saya
nonton supaya saya belajar bela diri.
Bagaimana caranya belajar bela diri dari
film itu? Hah? Belajar panggil guru,
belajar di depan mata. Praktik lihat
orang nendang, kita tendang juga gak
kan. Duduk nonton. Enggak nendang kok.
Itu alasan setan.
Belajar-belajar benar di lapangan.
Permasalahannya adalah kalau kita nonton
sesuatu teman-teman anggaplah ada
cuplikan yang tidak ada masalah agama.
Misal pas orang lagi contohin apa gitu
ya sesuatu yang positif. Tapi pasti dari
sekian durasi 2 jam pasti ada maksiat.
Maksid ini masalahnya dia kalau ada dia
mengendorkan menurunkan timbangan amal
saleh. Dan pernah saya bilang kalau
timbangannya seimbang enggak bisa
khusyuk.
Mau tutup mata, mau baca Quran dengan
tartil tetap enggak bisa khusyuk.
Caranya harus ini ditutup dulu.
Berhentiin dulu dosanya. Amal saleh
dikerjain. Nanti naik rednya. Lama-lama
jadi khusyuk. Makin kental makin bagus.
Makin luar biasa.
Sampai Abu Bakar radhiallahu anhu itu
kalau dengar ayat pasti nangis. Enggak
bisa enggak nangis. Kata para ulama
karena begitulah dalam keseharian sudah
tidak ada lagi yang dia lakukan
kesalahan. Ya sudah keluar dia lihat
yang haram dia tunduk perempuan misalnya
tundukin mata agama sudah ajarkan azan
ke masjid pendapatan halal sudah jalani
agama sudah jadi naik terus ini r
ibadahnya ini terkunci enggak bisa
makanya jadi khusyuk nanti. Jadi kalau
antum campur baurkan enggak bisa.
Saya salat ke Ustaz subuh di masjid,
tapi saya malamnya ke bioskop. Ya,
kalau ini betul terjadi, orang nonton di
bioskop kemudian dia salat subuh dan dia
bisa salat di masjid, ini luar biasa
sebenarnya.
Kalau yang fakta secara teori enggak
bisa. Dia buat maksiat malam, subuhnya
lepas.
Itu teorinya begitu. Sampai Abdullah bin
Umar mengatakan M, saya tahu saya buat
dosa kecil. dosa kecil ya. Akibatnya
saya terharamkan salat subuh berjamaah
di masjid sebulan.
Hilang itu amal saleh itu. Jadi hilang
gara-gara sedikit. Selalu teman-teman
sekalian dosa itu efek jerahnya besar
untuk mengembalikan. Jadi seperti kita
luka orang berdosa itu seperti ambil
pisau, luka-lukain badannya.
Butuh proses. Pisau ditarik disimpan ini
tetap luka. Tunggu kering dulu. Ada
bekasnya dosa itu. Sebagaimana ibadah
juga ada bekasnya. Antum kalau enggak ke
bioskop salat malam ada bekasnya itu.
Cuman kalau ibadah beda. Antum seperti
meletakkan pelembut kulit ya, pewangi
beda. Bukan luka. Kalau dosa itu luka.
Karena orang sumpek sedih. Enggak ada
orang buat dosa itu enggak sumpek.
Teman- coba deh ini alam ini tutup nih.
Sekarang pindah ke alam ini. Hijrah dan
jangan setengah-setengah jadi orang baik
sekalian. Jadi orang baik. Mau orang
bilang alim, mau orang bilang berubah.
Ah, biarin aja dia ngomong. Lidah itu
sepanjang lidahnya enggak ada
pengaruhnya buat kita. Susah kalau kita
mau dengar perkataan orang, "Kenapa kau
pakai baju abu-abu ini?" "Oh, iya
ganti." "Kenapa kau pakai kopu ini?
Ganti. Enggak punya prinsip. Kenapa kau
berubah?" "Ya, saya suka begini. Ini
prinsip saya. Orang yang buat maksiat
aja untuk apa urus saya?" Bisa bilang
gitu. Cuma kita dalam ibadah kalau sudah
punya iman tidak. Oh, karena ini
kebaikan mudah-mudahan kau bisa contohin
ya. Orang buat maksiat enggak mungkin
bilang begitu kan.
Apakah benar ketika seseorang terkena
sihir lalu ustaznya menyuruh mandi
kembang tujuh rupa
dan menyuruh membaca surah yang ustaznya
kasih? Apakah itu sesat, Ustaz?
Masalah sesat saya tidak tahu ini tujuh
tujuh kembang tujuh rupa kembang ini
kembang apa ini gitu saya enggak tahu
kalau kalau dia maksudnya siapa tahu ya
tujuh lembar daun bidara sunah Nabi.
Hah. Karena memetik tujuh lembar daun
bidara dan dihancurin dimasukin di air
dipakai sebagai air mandi atau air air
rukiah.
Sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Hadisnya sahih masalah itu. Tapi kalau
tujuh kembang ini seperti dukun-dukun
ya,
warna-warni, warnanya ada merah, ada
kuning, ada segala macam. Ini dukun
berkedok ustaz. Ini belajar karena di
Indonesia banyak ini. Allahan semoga
Allah kasih hidayah ya.
Ciri-cirinya seperti itu. Memang
memberikan syarat ini, syarat itu,
syarat ini. Kalau ustaz yang benar, saya
mau tobat. Caranya 1 2 3 4 5. Sudah
amalin, tinggalkan dosa itu. Sesali,
janji sama Allah tidak ulangi.
Selebihnya sibukkan diri dengan amal
saleh. Sudah praktikin. Agama mudah
sekali kok. Enggak usah pakai syarat
minta foto, minta ini, minta di mandi
kembang, minta segala macam. Banyak
soalnya gitu. Saya temukan ada jemaah
banyak mengaku
pada saat dia merasa bertahun-tahun gak
bisa menikah, setiap mau nikah gagal.
Datang ke ustaz-ustaz dan kiai disuruh
mandi air kembang. Gitu kan. Gak pernah
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
suruh begini nih. Ada sahabat mau
menikah langsung disuruh menikahlah.
Sudah selesai.
Agama simpel, gak usah mandi tujuh tujuh
macam air segala macam. Gak gak perlu
ya. Kalau ada halangan istigfar mungkin
memang belum cocok buat kita untuk itu.
Sudah ikhtiar pasti dimudahkan kok sama
Allah. Orang penjahat aja bisa nikah
masa kita orang jadi orang baik terus
tidak bisa. Enggak mungkin tu was-was
setan.
Jadi kalau dilihat tadi kalau ini
menggunakan daun bidara sah saja, tapi
kalau yang lain jelas enggak benar ya.
Karena tidak pernah contoh dari baginda
Nabi alaihialatu wasalam.
Saat salat berjamaak, terima kasih
doanya. Ini ada banyak masyaallah doa
yang disebutin. Semoga Ustaz Khid diberi
kesehatan, rezeki yang melimpah dan
selalu dilindungi oleh Allah. Sama-sama
insyaallah. Jazakumullah khairan. Saat
salat berjamaah di masjid, imam masjid
di daerah saya selalu mengutamakan bahwa
jemaah salat di saf pertama agar diisi
oleh jemaah rutin dan yang tinggal di
sekitaran masjid dan mengutamakan yang
memakai baju koko dan bersarung.
Jemaah yang mampir diatur agar salat di
samping jemaah berbaju koko dan
bersarung atau di saf kedua dan
seterusnya. Apakah perilaku tersebut ada
anjurannya oleh Nabi sallallahu alaihi
wasallam? Apa itu termasuk bidah? Dan
adakah doa khusus sebelum melakukan
azan? Ya tentu ini tidak boleh ya
sebenarnya tidak boleh. Yang penting
seorang muslim masuk dia sudah tutup
aurat dengan benar gitu kan. Dia masuk
kemudian dia salat dia lebih dulu masuk.
Tidak boleh kita pindahkan. Ada hadis
Bukhari melarang masalah itu. Tidak
boleh kita memindahkan seorang muslim
dari tempat duduknya atau kita menduduki
tempatnya atau kita berdiri di tempatnya
sebelum izin dengan dia. Jadi enggak
boleh nih. Kita punya hak kalau kita
datang lebih dulu di awal. Masa orang
zuhur jam 12.00 misalnya, dia dari jam
11.00 enggak ada kegiatan lagi jalan
mampir di masjid, dia mau baca Quran dia
duduk di saatf pertama begitu azan suruh
pindah ke belakang gara-gara enggak
pakai kopia misalnya
atau enggak pakai sarung atau pakai baju
koko. Ini enggak enggak benar. Kecuali
kalau dia pakai baju-baju yang memang
mungkin ketat, ada tulisan-tulisan. Ini
bukan cuma disuruh di saf kedua suruh
ganti bajunya kan gitu. Jadi allahualam.
Kalau memang betul seperti ini lebih
baik jangan gitu kan.
Kalau dikatakan itu bidah ini saya rasa
bukan bidah ini. Mungkin kita husnudan
mungkin maksudnya dia adalah orang-orang
yang memang sudah rutin datang di situ.
Mungkin titip pesan saf ini buat saya,
saf ini buat saya mungkin pesan sama
imamnya gitu kan. Jadi itu perilaku yang
positif saja sebenarnya ya. Jadi bisa
saja saya misalnya titip pesan sama imam
dekat rumah saya, tolong yang sa pertama
di sebelah kanan ini saya disimpanin
satu tempat misalnya ditutupin simpanin
mungkin dititip begitu. Ini bisa saja
terjadi ya. Kita sangka baik saja soal
itu. Cuma disuruh pindah orang yang
asing bukan tinggal di komplek itu
misalnya. Itu ini keliru. Sebaliknya
jangan.
Saya seorang HRD di perusahaan riba.
Namun saat ini saya sudah berhenti.
Semasa saya bekerja saya banyak merekrut
orang muslim untuk bekerja di perusahaan
itu. Bagaimana hukumnya, Ustaz? Apakah
saya berdosa? Bagaimana cara saya agar
diampuni Allah? Doakan saya cepat
mendapatkan pekerjaan baru dan rencana
setelah lebaran. Saya ingin menikah.
Amin.
Masyaallah.
Baiklah. Ee tentu kalau kita pernah
menunjukkan kebaik keburukan pada
seseorang ya apalagi di sini mungkin
bekas pegawai bisa tahu bisa teman-teman
kantor hubungin mereka. hubungi supaya
kita batalkan dosa berkelanjutan itu.
Saya dulu yang mengajak kalian masuk
karena saya belum tahu hukumnya maka
saya tahu loh sekarang ini enggak boleh
riba gitu kan. Saya berlepas tangan,
kalian mau kerja itu urusan kalian. Tapi
saya berlepas tangan. Saya enggak ada
urusan. Saya dulu tidak tahu. Seperti
itulah ya. Kalau masalah insyaallah
mendapatkan pekerjaan insyaallah ya.
Mudah-mudahan jangan jangan putus asa
dengan rahmat Allah. Salah satu bagian
dari bahasan dosa besar kita teman-teman
sekalian adalah putus asa dari rahmat
Allah.
Jangan bilang, "Oh, saya kalau keluar
dari tempat kerja ini, ini haram. Allah
kasih enggak ya saya gantinya?" Dikasih
pasti. Enggak boleh ragu. Tapi memang
ada proses.
Kita suka malam di pagi hari kita minta,
"Ya Allah, datangkan malam. Tunggu
waktunya tiba malam. Ada prosesnya malam
akan datang kok." Gitu seperti itulah.
Jadi, ada prosesnya. Kita lapar. Saya
sering kasih contoh. Minta Allah
hilangkan lapar, kita makan, kunya dulu,
telan dulu baru hilang laparnya. Sabar,
ada prosesinya. gitu ya. Jadi kita lalui
nikmati proses itu. Kalau saya sering
bahasakan nikmati prosesnya. Proses
tobat, proses pembersihan dosa, ada
cobaan-cobaan datang, nikmatin itu.
Asyik kalau dinikmatin tuh, "Oh, ya
ternyata mungkin ini pembersihan dosa
saya yang dulu. Oh, ini bersih lagi.
Mudah-mudahan pada saat saya mati malah
sudah tidak ada dosa-dosa." Gitu.
Kadang-kadang Allah ingatkan kita, "Oh,
pernah si fulan, saya ajak nih, saya
ajarin hal-hal yang salah." Telepon dia,
"Maaf ya, saya dulu pernah ajarin kamu
begini. Saya enggak salah loh. Saya baru
tahu itu enggak boleh dalam Islam ini.
Saya kirimkan artikelnya lah. Ini
dikirimkan artikel misalnya tulisannya,
penjelasannya, cuplikan ceramahnya. Jadi
biar dia tahu. Allahuam. Nah,
itu lebih baik. Kalau cepat mikir
insyaallah ini selalu minta doa.
Melangkah-melangkah.
Hah? Ini bujang-bujang ini minta didoain
aja terus.
Jangan minta didoain. Kirim di sini
undangan ustaz. Saya sudah nikah. Nah,
gitu.
itu yang benar.
Tapi insyaallah mudah-mudahan dimudahkan
semua.
Bagaimanakah dengan menggeser kotak amal
dalam majelis ilmu kepada
saudara-saudara kita di sebelah termasuk
kategori juga mengajak kepada kebaikan
yaitu sedekah. Apakah kita dapat pahala
sedekahnya juga dar
Resume
Read
file updated 2026-02-14 04:42:02 UTC
Categories
Manage