Dosa-Dosa Besar #59 – Mengajak Kepada Kesesatan dan Memberikan Contoh Kepada Jalan Hidup Yang Buruk
8qNqZYMLv2s • 2019-01-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah tidak henti-hentinya kita memuji sang pencipta Allah. Dan selalu kita gembira dengan pujian ini. Karena pujian inilah yang telah dijanjikan oleh sang pencipta Allah untuk memenuhi segala kebutuhan kita. Maka sangat wajar kalau kita selalu menjadikan ucapan dalam keseharian kita. Karena memang janji yang didapatkan sangat besar. juga kita panjatkan salam hormat kita selalu kita ucapkan kepada manusia yang dirindukan, dicintai, dihormati. Karena berbahagia sekali orang yang menjadi pengikut manusia terbaik ini. Dia punya panduan hidup tahu mana halal, mana haram, mana yang diperintah dan dilarang oleh sang pencipta Allah. Dan mengucapkan salam hormat kepada manusia terbaik ini dijadikan ibadah yang berarti akan mendapatkan balasan. Salah satunya adalah sekali mengucapkan salam kepada manusia terbaik ini akan mendapatkan 10 kali balas salam dari sang pencipta Allah yang berarti mendapatkan tambahan rahmat dan karunia. Maka sangat wajar kalau kita selalu mengucapkan selawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad sallallahu wa ala alihi wasahbihi wasallam. Melanjutkan bahasan kita, saudara seiman, dosa-dosa besar dan semoga Allah berkahi. Setelah panjang lebar kita jelaskan dua dosa besar yang lalu, 57 dan 58 masalah mencaci maki atau mencela para tokoh sahabat Rasulillahi sallallahu alaihi wasallam ridwanullahi alaihim. Dan juga dosa besar ke-58 masalah mencela secara khusus kaum Ansar penduduk asli Madinah. Kita akan masuk pada malam ini dosa besar ke-59. Mengajak kepada kesesatan dan memberi contoh jalan hidup yang buruk. Saudaraku seiman, kalau kita menjalankan agama Allah apa adanya semurni-murninya apa yang qalallah Allah berfirman, apa yang qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Maka kita akan temukan Islam itu mudah. Ya, padat ya jelas tidak ada neko-nekonya. Halal jelas, haram jelas. Perintah dengan segala rinciannya, rukunnya, syaratnya, wajibnya, sunahnya, yang membatalkannya, semuanya jelas. Yang haram jelas. Dan realita di lapangan kita bisa lihat dengan ancaman-ancamannya ya zinanya ya ribanya yang segala macam dengan rincian dan pendapat-pendapat ulama yang sangat banyak. Kita akan temukan seorang muslim yang mengamalkan agamanya sangat mudah sekali. Dia punya panduan hidup dan dia bisa buktikan hasilnya dalam realita sehari-hari. Kalau itu kesimpulan atau itu yang bisa kita jelaskan di awal pembukaan kita, Teman-teman sekalian, maka coba fokus kepada apa yang diperintahkan saja dan fokus kepada hal-hal ini dalam aplikasi kehidupan kita atau kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu kemudian ajarkan kepada orang lain dan juga hal-hal yang dilarang dalam agama. Jauhi dan jangan pernah contohkan kepada orang lain. Karena menjadi contoh mempraktikkan kebaikan yang telah diperintahkan oleh sang pencipta Allah melalui kitabnya Al-Qur'an dan melalui sunah Nabinya Muhammad alaihialatu wasalam itu akan jadi pahala mengajarkan kepada orang lain menjadi amal jariah buat dia. mengerjakan dosa yang dilarang oleh sang pencipta Allah akan dapat hukuman kalau diajarkan kepada orang lain malah bisa berlipat-lipat hukumannya. Karena setiap pelaku keburukan akan ya dipanen pahalanya oleh orang yang menunjukkan. Ada orang masyaallah datang ke majelis ilmu begini dia rasa ada manfaatnya. Dia ajak teman-temannya dia dapat manfaat. Teman-temannya juga hadir dapat manfaat. Dia diberikan pahala yang sama dengan apa yang didapatkan oleh temannya. Misal dia datang ke majelis ilmu, dikasih oleh Allah misalnya 100 pahala. Ini contoh saja. Maka temannya juga yang diajak dapat 100 pahala. Tapi dia karena mengajak temannya dapat 100 pahala seperti pahala temannya. Berarti dia dapat 200 tanpa dipotong dari pahala temannya tadi. Begitu kalau diajak 5 orang, kalau diajak 10 orang, kalau diajak 100 orang, makin banyak maka makin besar pahalanya. Penyuruh-penyuruh pada kebaikan ini sangat bagus ya, pahalanya besar. Hanya saja harus yang dia serukan memang kebenaran. Harus jelas panduannya tidak boleh sembarangan dikarang-karang. Qallah qala rasul. Jangan ditambah, jangan dikurangi. Sudah. Allah sudah turunkan dengan selengkap-lengkapnya Al-Qur'an 30 juz juga sudah diajarkan kepada Nabiinya Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Semua sunah apa yang Allah inginkan. Cukupkan dengan itu. Dan orang yang berbuat dosa, ada banyak orang subhanallah panen dosa karena dia sendiri yang buat. Dia buat zina misalnya, dia dapat dosa dengan zinanya. Tapi uniknya dia panggil temannya keesokan harinya untuk ke diskotek yang sama, ke karaoki yang sama, ke tempat zina yang sama atau ke hotel yang sama. Kemudian dia mengajarkan temannya yang belum tahu apa-apa. Kalau nanti kamu masuk ke kamar, kamu lakukan seperti ini, lakukan seperti ini. Diajarkan secara rinci bagaimana temannya berzina. Walaupun dia tidak lakukan zina pada malam itu, malam yang kedua yang diajak temannya, tetapi dia dapat dosa yang sama dengan apa yang dilakukan oleh temannya. Maka ini harus dijauhi nih. Kalaupun ada seseorang terjerumus dalam kesalahan, karena semua orang bisa terjerumus dalam kesalahan, maka minimal buat diri dia sendiri. Jangan diekspos ini, jangan dibagi-bagi sama orang. Karena kalau mereka melakukannya, walaupun kita sudah tidak melakukannya, maka tetap kita dapat dosanya. Pelanggaran dalam agama, Teman-teman, oleh para ulama dibagi menjadi dua. Ada dosa syahwat, ada dosa syubuhat. Dosa syahwat, dosa yang diikuti dengan hawa nafsu, zina, riba, mencuri, memukul, menipu, itu hawa nafsu. Umumnya dosa syahwat ini orang yang melakukan kata para ulama sadar kalau dia salah dan tidak sulit untuk mengajaknya kembali. Misal kalau ada orang berzina lalu kemudian kita nasihatin ada memang secara kejiwaan dia tahu dirinya sedang berbuat salah maka mudah lebih mudah dia untuk meninggalkan perbuatan salahnya. Bahkan kadang-kadang dia mengakui sendiri dia tahu dirinya sedang sesak nafasnya sedang enggak enak sedang sumpek gara-gara sudah buat dosa itu. Ada yang kedua ini yang berbahaya. Dosa syubuhat. Dosa syubhat. Dia enggak tahu ini dosa atau bukan. Ini masalah ini. Jadi dia melakukan perbuatan yang dia anggap itu kebaikan padahal sebenarnya bukan kebaikan. Seperti orang banyak sibuk melakukan perbuatan bidah, syirik. Ini bahaya sekali. Dia tidak sadar dirinya sedang berbuat kesalahan. Dia anggap dirinya sedang ibadah. Sia-sia waktunya. Ya, sia-sia ibadah yang sedang dia lakukan karena tidak diterima, tidak ada panduannya. Dan juga nanti akan menjadi dosa. Itu menjadi hukuman. Apalagi kalau dia ngotot ngajarkan kepada orang lain, makin banyak tersebar. Ingat para ulama mengingatkan, Teman-teman sekalian, kalau setan itu akan jalan di alur pikiran manusia seperti apa yang sedang dia geluti, apa yang sedang dia tekuni. Kalau orang itu tadinya suka ibadah, maka setan masuk di ibadahnya. Kalau seseorang di antara kita tidak bisa digoda berzina sama setan misalnya, tidak bisa digoda dalam ee riba misalnya atau dalam mencuri misalnya, setan toh dia suka ibadah. Dalam ibadah nanti dia masuk ke dalam majelis, dia hasut sama yang di sana, dia cemburu ya atau dia mungkin menggiba orang yang ini. Dan seperti itulah dalam ibadahnya dimasukkan atau dibuat dia mengkhail pada saat dia salat atau dia merasa atau dia riak dalam ibadahnya. Maka setan masuk di sisi di mana orang itu sedang memikirkan sesuatu atau apa yang sedang dia tekuni. Harus hati-hati karena jangan sampai kita berpikir dosa itu hanya kalau saya zina, hanya kalau saya bohong. Enggak. Kita juga melakukan perbuatan-perbuatan yang Nabi tidak contohkan dalam ibadah bisa syubhat. Syubhat ini sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah jelas. Yang halal jelas, yang haram jelas. Di antaranya hal yang samar-samar. Siapa yang menjerumuskan dirinya pada siapa yang menyelamatkan dirinya dari hal yang samar-samar? Boleh atau enggak ya, dia telah menyelamatkan kesucian agamanya dan di jiwanya, dirinya dia. Dan siapa yang menjerumuskan dirinya pada yang syubhat, gak jelas hukumnya, dia belum tahu atau dia tidak tahu atau mungkin memang tidak ada dalilnya, maka dia telah menjerumuskan dirinya pada yang haram. Seperti penggembala domba yang membawa domba-dombanya di padang rumput yang luas. Kemudian rumputnya lebih tinggi dari dari dombanya. Dia tidak tahu domba mana yang dicuri oleh serigala. Khusus untuk masalah dalil yang dipakai oleh Imam Azzahabi rahimahullah dalam dosa besar ini. Dan Imamzahabi bukan ulama yang hidup zaman sekarang. Sudah lama ini. Dan buku yang sedang kita bahas jelas rujukannya. Beliau mengingatkan dari zaman itu tahun 700-an Hijriah. Ya, ini kurang lebih 7 abad yang lalu ya. Beliau mengatakan diangkat dalil yang pertama hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Imam Muslim kitabul ilm nomor 2674. Man daa ila dolalatinana alaihi minalmi mluami man tabiah laquika minamihim. Tentu ini ada potongan hadis yang pertamanya. Ini potongan yang kedua. Saya bacakan dulu terjemahannya yang sekarang. Barang siapa yang mengajak kepada suatu kesesatan, maka dia akan menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak akan mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun. Potongan awalnya hadisnya adalah siapa yang mengajak pada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang melakukan kebaikan dengan mengikuti dia tanpa dikurangi sedikun dari pahala orang yang melakukannya. Tadi saya kasih contoh, kita ajak orang ke majelis ilmu, kita ajak orang ke masjid, kita dapat pahala, teman kita dapat pahala, tapi kita diberikan oleh Allah bonus seperti pahala apa yang didapatkan oleh teman kita. Karena kita mengajaknya mengajak saja. Mengajak dakwah, panggili, ajak mereka. Begitu pula dengan sebaliknya. Tadi saya bilang potongan hadis. Barang siapa yang mengajak pada suatu kesesatan, kemaksiatan, kesalahan, dia tunjukkan. Ya, kalau perlu ada orang tanya, "Di mana alra di Skotik ini?" Jangan jawab. Enggak usah jawab. Walaupun kita tahu ada di ujung jalan, enggak usah dijawab. Karena kalau kita jawab, "Oh, saya enggak ke diskotik." Tapi itu di sana tuh di pojok sebelah kiri. Lalu dia pergi diskotek 3 jam. Kita duduk di rumah baca buku dapat dosa. Untuk apa gitu kan? Kalaupun nasihatin dia. Ya, saya mau tanya diskotik ini di mana? Masa orang muslim ya? Tanya siapa tahu dia muslim? Iya saya muslim. Sudah tahu enggak? Itu enggak boleh loh ke diskotik haram gini-gini. Ya sudah itu urusan saya. Ya sudah saya juga enggak bisa tunjukin. Saya enggak mau dapat dosa kalau saya tunjukin. Siapa tahu jadi penyebab hidayahnya siapa tahu. Subhanallah. Dalam pepat bahasa Arab dikatakan bisa saja sebuah kalimat yang kau ucapkan bisa mengubah hidup seseorang berubah jadi totalitas secara totalitas menjadi kebaikan. Dari mana kita tahu teman-teman orang yang salah salatnya di sebelah kita jadi ulama besar nanti? Bisa jadi gara-gara teguran dia atau gara-gara peringatan kita gitu kan. Atau mungkin kita kasih dia sebuah buku. Ada buku-buku kecil yang sering kita bagikan ini banyak sekali. Buku doa, buku salat. Gak seberapa nilainya harga gorengan ini. Datang ke masjid bawa di tas antum 10 buku masjid saya marbot. Saya mau titip ya taruh di pojok-pojok di masjid mungkin ada rak bisa dibaca oleh jemaah atau kita bagi-bagi pada saat habis salat Jumat atau lagi di angkotan umum bisa kita bagi buku enggak usah jual gitu kan. Pahala. Target sehari 10 orang lah. 10 buku kita bagi s orang, 1 bulan 300 orang. 10% saja ya. 30 orang dapat hidayah. 1% deh. 3 orang. 3 orang selama dia ibadah kita dapat pahalanya. Abu Hanifah itu sekarang, Teman-teman sekalian, mazhabnya beliau dipakai hampir di seluruh Eropa dan Turki. Jumlahnya jutaan orang yang pakai mazhabnya. sampai jadi mazhab-mazhab pemerintahan Turki, mazhab Abu Hanifah. Dan subhanallah orang yang tunjukkan tadi itu panen pahalanya. Itu luar biasa gitu kan. Abu Hanifah pernah berkata cerita tentang bagaimana dia belajar dari tukang cukur yang pernah saya ceritakan waktu lagi musim haji. Dia lagi masuk ke tukang cukur. Dia tanya berapa harganya cukur ini? Kata tukang cukur, "Jangan tanya harga ini ibadah. Enggak usah tanya bayar berapa kamu bayar." Baiklah. Pas dia duduk, Abu Hanifah bilang, "Saya duduk. Duduk saya bukan arah kiblat." Dia bilang, "Adab kiblatlah. Kau lagi ibadah ini, masih pakai baju ihram." Dia bilang, "Saya hadapkan kiblat." Kemudian saya pas duduk menghadap kiblat, saya bilang, "Silakan potong." Saya kasih arah kiri kepala saya. Dia bilang, "Kenapa arah kiri? Sunah Rasulullah arah kanan." Padahal Abu Hanifah sudah ulama besar waktu itu. Dan ini yang tegur dia tukang cukur. Dia bilang, "Saya belajar lima ilmu fikih dari tukang cukur." Masalah tadi jangan negosiasi masalah cukur. Datang 10 riyal, bayar aja 10 riyal. Enggak usah negosiasi ibadah, ya. Kemudian hadap kiblat pada saat dicukur. Ini mazhab mazhab Abu Hanifah, ya. Kemudian cukur sebelah kiri disuruh oleh cukur-cukur bilang sebelah kanan sunah rasul sudah tiga. Dia bilang, "Sementara saya lagi di Jukur, saya diam nunggu." Tukang cukur bilang, "Kenapa kau diam? Ini ibadah zikir, berdoa." K Abu Hanifah, "Benar juga nih. Kenapa saya bengong?" Mung saya berzikir. Sudah selesai yang fikih yang kelima. Dia bilang, "Begitu saya mau saya sudah bayar, saya mau pergi." Dia bilang, "Kau mau ke mana?" Dia bilang, "Saya mau bilang saya mau pulang sebentar kamu baru selesai. berdoa ini mustajab. Dia bilang, "Baiklah saya berdoa." Dia bilang, "Saya tukang cukur ini enggak ada tanda-tanda. Gak ada gak ada ciri ulamanya. Orangnya kayak orang biasa, orang awam." Kata Abu Hanifah, "Saya tanya kamu atas nama Allah, dari siapa kau belajar tadi itu?" Dia bilang, "Saya pernah mencukur Atha bin Abi Rabah, seorang tabiin. Atha bin Abi Rabah, teman-teman, datang cukur ke tempatnya tukang cukur. Enggak banyak ngomong. Enggak banyak ngomong. Dia cuma datang terus kemudian dia langsung, "Saya mau cukur." Dia enggak negosiasi harga. Kemudian dia duduk di hadap kiblat. Pada saat lagi cukur, dia berikan isyarat tangan cukur mulai sisi kanan. Kemudian dia sambil berzikir. Setelah pas mau pergi dia berdoa. Kata tukang cukur apa? Saya pernah mencukur Atha bin Abi Rabah dan dia kerjakan itu. Dan setiap kali orang datang cukur di tempat saya, saya selalu nasihatin yang sama. perilaku. Perilakunya bisa jadi amal jariah. Dan subhanallah Atha bin Abi Rabah tidak pernah kenal Abu Hanifah. Enggak pernah kenalan karena Atha sudah meninggal lama. Abu Hanifah waktu itu masih belum malah belum belajar agama malah gitu kan. Maka Atha bin Abi Rabah panen pahala mazhabnya Abu Hanifah dalam masalah manasik. H karena masalah itu contohnya. Dan banyak sekali banyak sekali. Saya pernah subhanallah naik ke naik bus waktu masih mahasiswa dari Madinah ke Makkah mau umrah. Saya masih ingat bahkan sekarang ini saya masih kebayang muka orang itu. Subhanallah. Dia duduk di belakang kursi saya. Jadi pada saat lagi Madinah ke Makkah lumayan dulu masih 6 jam kita naik bus. Karena kecepatan bus dilarang oleh kerajaan Saudi lebih dari 60 atau 80 km. 6 jam sampai di Makkah. tengah jalan ada orang di belakang saya nih sambil waktu naik habis lewat miqat ee kemudian naik di bus sambil talbiah masing-masing talbiah orang ini tadinya saya merasa terganggu awalnya orang ini di belakang kursi saya dia bilang ya ikhwani wahai saudara-saudarak jangan diam ini lagi ibadah 5 jam perjalanan berzikirlah bertalbiahlah kita kalau meninggal dalam keadaan berihram kita dikubur dengan ihram kita ini ibadah lalu Kalau mulailah disebut-sebut banyak hadis dan ada di antara hadis dia yang dia sebutkan, saya masih ingat sampai sekarang. Dia mengatakan, "Di antara hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, kalau kalian berzikir maka tanah yang sedang dilewati oleh seseorang yang berzikir berbangga dengan tanah yang lain atau lokasi yang lain yang tidak sedang berz tidak tidak ada yang sedang atau tidak ada orang yang lewat sedang berzikir di sana. Dia mengatakan, "Sungguh telah lewat di atasku hamba Allah yang berzikir kepada Allah." di antaranya terus saja dia bicara teman-teman sampai mendekati Makkah hampir 5 jam 6 jam dia bicara terus nasihat terus saya tadinya awal sempat merasa tengganggu lama-lama saya asyik mendengarkan dia cerita tentang hadis tentang ap banyak sekali diberikan nasihat sama dia. Lama-lama saya berpikir, iya ya, kenapa? Kenapa orang tidak ber mungkin ada orang yang merasa terganggu dengan keadaan orang-orang seperti ini, tapi ternyata dia memang tidak mau menyanyiakan waktunya. Dia bisa mengikan waktu. Dari mana dia tahu, Teman-teman sekalian kalau saya sekarang menyampaikan hadis yang saya dengar dari dia di majelis seperti ini yang ribuan orang hadis. Dia cuma duduk di mobil, di bus itu hari. Ini kisah mungkin sekitar 15 17 tahun yang lalu ini ya. Tapi begitulah. Subhanallah. Jadi kebaikan-kebaikan itu kita amalkan, sebarkan, amalkan, sebarkan. Jangan diam. Yang penting kebenaran itu kita tahu betul-betul memang kebenaran harus punya dalil. Qallah qala rasul kita punya agama murni Islam, jangan ditambah-tambah gitu. Seperti itulah, Teman-teman sekalian. Sama halnya dengan keburukan. Pengalaman-pengalaman antum dalam dosa, jangan dikenang lagi. Gak usah kenang. Apalagi kalau sampai mengajarkan ke orang lain, apalagi kalau menceritakan ke orang lain. Bahkan sebagian ulama mengatakan dianjurkan agar seseorang tidak menceritakan maksiatnya di masa sebelum dia tobat. Walaupun dia menjadikan sebagai ibrah dan pelajaran bagi orang lain, lebih baik dia hindari. Khawatir kalau dia sebutkan dia terkenang, bisa mengingat bisa jadi masalah buat dia. Misal dia bilang, "Saya dulu juga pernah berzina." Nah, untuk apa? Saya juga tahu itu begini dan begitu. Lebih baik dia mengatakan, "Jangan berzina, tapi menikahlah." Lalu dia sebutkan fadilah daripada dia mengenang masa lalunya. Saya sudah pernah laluin itu semua obat-obatan. Saya pernah laluin itu begini begini. Enggak enggak ada gunanya. Apa gunanya? Jangan disebutin. Karena kita dianjurkan untuk menutupi, menutupi aib kita sendiri. Itu aib. Enggak boleh. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Orang yang buruk tudukannya di sisi Allah adalah orang yang telah Allah tutupi aibnya semalaman. Lalu dia bongkar sendiri besoknya. Malam hari dia zina, malam hari dia mabuk, malam hari segala Allah tutup semalam suntuk enggak ada yang tahu. Besok dia sendiri yang ekspos di kantornya atau di jalan atau di keluarganya. Apalagi kalau sampai ajarkan ke orang lain ini ya. Kita sebagai orang tua jangan ajarkan amal buruk kepada anak-anak. Jangan wariskan keburukan ya kepada teman-teman, pada kerabat, pada istri, pada suami ya. Walaupun kepada orang tua kita juga. Harusnya kita pahami ini, Teman-teman sekalian. Dan ini berbahaya sekali karena dosa-dosa kita akan panen dari situ. Ya, sama juga dengan hadis, ada hadis yang sahih riwayat Bukhari tapi di sini tidak disebutkan dulu dalam bahasan kita. Tidak ada tidak ada jiwa yang terbunuh ya kecuali anak Adam yang pertama melakukannya akan panen dosanya. tadya enggak ada pembunuhan kan waktu Qabil dan Hab ribut gitu kan terbunuhlah. Pada saat terbunuh ya maka Allah Subhanahu wa taala menjadikan dia yang membuka pintu itu, pintu keburukan itu. Sehingga semua orang yang terbunuh atau orang yang membunuh sampai menjelang hari kiamat dipanen dosanya oleh orang ini. Ini kan bahaya sekali. Nabi sallallahu alaihi wasallam juga dalam hadis yang lain di sini, Teman-teman sekalian, hadis yang kedua diangkat oleh beliau riwayat Imam Muslim dalam kitabuz Zaka nomor hadisnya 107 dan Nasai kitabuz Zaka nomor 75 dan 76. Saya sudah pernah sebutkan sebenarnya ini ee apa namanya ee penyebabnya hadis ini ya. Jadi ada beberapa sahabat orang-orang padang pasir miskin sekali. Susah hidupnya. Saking susahnya hidupnya sampai muka mereka itu hitam kemerah-merahan. Baju mereka cuma satu lembar di badan, diikat di leher. Dan kalau seandainya ya kalau seandainya dia atau mereka tersingkap tertiup dengan angin tersingkap auratnya. Nabi sallallahu alaihi wasallam lihat dari jauh beliau langsung naik mimbar. Motivasi sahabat untuk sedekah, shodqah, sedekah, sedekah. Bersedekahlah itu akan meredam murkanya Allah. Itu akan menambah rezeki kalian. Terus Nabi sallallahu alaihi wasallam motivasi mereka. Lalu Nabi mengatakan, "Bersedekqahlah walaupun dengan secuil kurma." Maksudnya kalau kalian di rumah kalian tidak punya kecuali satu butir kurma dan kalian cuma mampu cuil sedikit kulitnya, itu disedekahkan. Sedekahkan. Enggak boleh enggak ada yang sedekah, gitu kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian ada satu sahabat waktu itu Nabi sallallahu alaihi wasallam suruh tebar kain untuk menerima sedekah supaya diberikan kepada orang-orang susah ini. Ada satu sahabat berdiri memulai memberi. Memulai memberi. Dia memberi. Lalu yang lainnya pada ikut semuanya. Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Diberikan gambaran di sini. Waktu sahabat tadi membuka pintu itu, lalu yang lain ikut. Man sanna fil islami sunnatan hasanah. Siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam? Tadi sahabat ini motivasi jihad sedekah, dia paling pertama datang. Akhirnya orang lain pada ikut semua gitu ya. Maka dikatakan kana lahu ajr ml ajr man am man man amila biha min ba'd. Maka dia akan panen pahala siapapun yang mengikuti langkahnya setelah itu. Walaupun dia belum mati tapi dia menjadi contoh. J hubungnya dengan ri ini karena kita dimotivasi gitu kan. Kalau pas lagi mau azan kita duluan berdiri teman-teman kantor lihat kenapa sudah azan mau azan ke masjid kita ke masjid. yang lain ikut dapat pahalanya. Kita memulainya sama dengan kasus ini ya. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan siapa yang menjadi contoh bagi kebaikan-kebaikan, dia akan panen pahala orang yang mencontohinya tanpa dikurangi serikun dari pahala itu. Kemudian beliau lanjutkan mengatakan, "Man sanna waman sanna sunatan sayiah kana alaihi wizruha wa wizru man amila biha min ba'di minanqu minim. Dan barang siapa yang memberikan satu contoh jalan hidup yang buruk, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang melaksanakan setelahnya tanpa mengurangi sesuatu dari dosa-dosa mereka. Jadi jelas sekali kalau kita jadi contoh keburukan maka akan jadi keburukan. Imam Azzahabi mengangkat dalil yang selanjutnya adalah masalah hadis irbat. Hadis yang cukup panjang yang kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Alaikum bisunnati wasunatul khurafa rasid mahd ba'di alaiha bin nawajid. Berpegang teguhlah kalian pada sunahku dan sunah khulafa rasyidin setelah ku berpegang teguh pada keduanya walaupun dengan gigi geraham kalian." Kalau saya sudah mati nanti kata Nabi sallallahu alaihi wasallam khulafa rasyidin juga yang datang setelah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali meninggal maka berpegang teguh pada sunahku dan sunah mereka walaupun dengan gigi geraham kalian gigit baik-baik tuh jangan lagi ambil contoh yang lain. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan khulafa rasyidin sahabat. Maka kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Waakum muhdtil umur." Dan hati-hati dengan perbuatan-perbuatan yang dibuat-buat baru. Perhatikan di sini Nabi sallallahu alaihi wasallam sebutkan di awal potongan hadis berpegang pada sunahku, contoh-contoh dari aku dan khulafa rasyidin. Berarti kan sudah ada yang disuruh untuk diikuti. L Nabi bilang, "Hati-hati dengan perbuatan-perbuatan yang baru." Maksudnya apa? Baru dari apa yang saya lakukan dan sahabat saya lakukan. Gak ada dulu kami lakukan. Fa inna muhin bidah. Semua yang dibuat-buat itu dalam masalah ibadah dikenal dengan perbuatan baru dalam agama. Keluar istilah bidah widalah. Dan perbuatan bidah itu bisa membawa pelakunya pada kesesatan dan keteluran finar wa inna finar. Dan semua kesesatan akan membawa pelakunya ke dalam api neraka. Dan hadis sahih ini riwayat Imam Muslim. Maka di sini, Teman-teman sekalian, kita lihat Nabi sallallahu alaihi wasallam mempertemukan antara sunah di awal hadis dengan bidah di akhir hadis. Apa kata para ulama? Berarti dua ini dua makna yang berlawanan, rival seperti malam dan siang. Laki-laki dan perempuan, hidup dan mati, dunia dan akhirat gitu kan. Tinggi dan pendek, lapar dan kenyang. Nah, bidah sama sunah ini seperti itu. Karena Nabi bilang di awal potongan hadis, renungi baik-baik gitu kan. Berpegang pada sunahku dan sunah khulafa rasyidin dan hati-hati dengan bidah di akhir. Berarti konsep pemahamannya, pemahamannya adalah bidah sama sunah bertolak belakang. Makanya keluar statement para ulama salaf mengatakan, "Siapa yang hidupkan satu sunah, dia matikan satu bidah. Siapa yang hidupkan satu bidah, dia hidupkan dia matikan satu sunah. Karena ini rival lawan baik. Kenapa kalau kita cukupkan dengan sunah saja? Kan enak, nyaman. Sama kalau kita kerja di perusahaan sering saya kasih contoh ini, kita ikuti peraturan saja yang ada. Udah itu aja dapat gaji, tetap bekerja jadi pegawai, selesai. Kenapa harus buat yang perusahaan tidak suruh coba-coba enggak diterima nantinya gitu kan. Dengan segala macam istilahlah dibuat bidah itu ada begini, ada begitu, ada begini, segala macam itu upaya. Tapi yang kita tahu dari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, kullu bidatin dolalah. Di sini sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam jelas bida bisa membawa perakunya pada kesesatan karena dia rival daripada sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan perbuatan bidah ini masuk dalam dosa syubuhat tadi. Karena orang yang melakukannya orang tidak tahu kalau dia buat salah. Dia pikir dirinya benar. Diingatkan, "Saudaraku, Rasulullah enggak pernah contohin." Enggak apa-apa. Yang penting baik. Ini yang baik di mata kita, yang baik di mata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Mestinya begitu. Iya kan? Bayangkan teman-teman, kita bayangkan sama-sama kalau seandainya kita buka pintu bidah ini ya. Semua orang boleh buat karena baik. Kalau kita hadir di sini masyaallah berapa ribu orang hadir ya kita masing-masing buat. Kira-kira masih tertinggal dari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? sudah enggak tertinggal dari kemurnian Islam sudah susah sudah ketinggal karena orang mau buat apa yang dia suka sementara sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam agama ini suka atau tidak suka harus kita kerjakan harus kita terima maka jangan dibuka pintu ini. Lebih baik kita tutup. Saudara sekali lagi sebagai unutup saya bagikan, saya saya terangkan meja ini kalau kita bagi dua ini zona aman ini zona tidak aman dalam ibadah zona aman adalah kerjakan yang ada perintahnya saja titik. Sudah selesai pasti diterima. Zona tidak aman adalah kita coba-coba. Bisa diterima bisa enggak. Enggak apa-apalah. Enggak apa-apalah. Waktunya sia-sia ya. Ibadahnya sia-sia. Iya. Yang jadi masalah kalau jadi dosa. Karena bidah itu dosa. Bukan bukan tidak. Karena Nabi mengatakan makanya Imam Azzahabi masukkan dalam buku ini. Ini bukan perkataan saya. Imam Azzahabi rahimahullah. Semua ulama ahli sunah tahu siapa Imam Azzahabi. Beliau yang mengatakan ini bahwasanya mengangkat hadis kulu bidatin dolalah. Maka ini harusnya kita pahami teman-teman sekalian. Tapi kalau ada di antara muslimin sudah dinasihatin tidak mau dengar silakan. Jangan lagi disebarin Khalid Basalam ini wahabi larang-larang buat ini, larang buat itu. Justru karena kami sayang kepada Anda. Diingatkan, buatlah ibadah yang ada perintahnya. Tapi kalau mau ngotot fadol silakan buat saja silakan bebas-bebas semua tanggung jawab hari kiamat kan. Yang penting alhamdulillah Allah sudah saksikan kita sudah sampaikan. Dan orang kalau kerjakan ibadah sesuai dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam enak, simpel mudah pasti pahalanya. Kenapa masuk ke zona yang tidak pasti? Bisa enggak minimal tidak diterima. Minimal bisa diterima, bisa enggak kan. Apalagi kalau ada ancaman bidak jadi perbuatan dosa. Imam masukkan kategori dosa besar loh. Ini jadi masalah gitu ya. Yang lebih parah ada orang mengajarkan pada orang lain bidu. Dia tidak cukup dengan dirinya diajak orang lain ngotot harus begini. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Berapa banyak sunah Rasulullah yang ditinggalkan kemudian dihidupkan bidahnya. La haula wala quwwata illa billah. Kalau kita bahasakan dengan santun kepada teman-teman kita ini, kalau Rasulullah sallallahu alaihi wasallam hidup di depan Anda sekarang ya, mana yang Anda lakukan? Sunahnya atau bidahnya? Masuk akal. Kalau Rasulullah itu pasti ditegur tuh kan saya enggak contohin. Kenapa kau buat kan? Hah? Bisa saja begitu. Saya sangat yakin kalau Rasulullah sallallahu alaihi wasallam hidup di hadapan kita, ada orang buat ba ditegur sama beliau pasti. Kenapa kau buatin? Saya enggak suruh, enggak diterima loh sama Allah. Saya sangat yakin kalau sunahnya dikerjakan ya ini yang saya perintahkan seperti para sahabat praktikin akhirnya Nabi sallallahu alaihi wasallam mendukung mereka gitu kan. Jadi teman-teman sekalian hindari semua dosa syahwat ya. Kalaupun ada di antara kita yang terjerumus di situ dia harus segera tutup aib itu antara dia sama Allah. Jangan dia sebar-sebarin. Jangan ajar-ajarkan orang. Dia punya pengalaman pernah zina di kamar hotel, diajarin temannya cara zinanya. Jangan. Dia pernah buat nota palsu. Saya sih sudah tobat sekarang, tapi dulu saya pernah buat begini. Ini orang Arab bilang jahal murakab. Tahu jahal murakab apa kita bahasakannya goblok super gitu. Jadi sudah dia buat dosa ya taubat tapi dia kasih lagi orang lain resepnya. Ha resep berbuat dosa. La haula wala quwwata illa billah. Ya, ada banyak ini kan orang tua banyak buat begitu. Dia sekarang sudah tobat, sudah pakai kopiah, sudah pulang haji, istrinya sudah pakai jilbab, anaknya enggak pakai jilbab, anaknya enggak salat gitu kan. Kenapa? Karena dulu juga saya begini sama dia. Sama waktu umur seperti dia, saya juga enggak. Enggak apa-apa kok, Nak. Dulu ayah juga begini. Enggak apa-apa nak nikmat-nikmati masa mudamu. Ibu juga dulu begini. Ini namanya dosa yang berkelanjutan ya. Ini bahaya ini contoh dan banyak contoh-contoh dalam kehidupan kita. Allahuam. Mungkin begitu saja kita insyaallah lanjutkan dengan tanya jawab sebentar lagi. Subhanakallahumma wabi bihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilai. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala juga selawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad sallallahu ala alihi wasahbihi wasallam. Saya pernah mengajak teman saya bermaksiat dalam kurung minum khamar dan kami sering minum khamar bersama dalam jangka waktu yang sudah lama atau lama. Lalu kami berpisah karena adanya kesibukan masing-masing. Alhamdulillah akhirnya saya dapat meninggalkan kebiasaan tersebut dengan hidayah Allah. Kemudian saya teringat teman saya tadi dan menanyakan keadaan teman saya itu kepada keluarganya. Alangkah terkejutnya saya mengenai ee pada saat mengetahui bahwa teman saya itu masih saja minum khamar. Pertanyaannya, apakah saya masih berdosa karena dulu saya mengajak teman saya itu untuk minum khamar? Jawabannya iya. Kadang-kadang ngajak dulu, ya. Tinggal pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya supaya berhenti dosanya? Ya telepon teman itu. Kasih tahu dulu saya kan ajak khamar, minum khamar itu haram dalam agama. Saya sudah tahu hukumnya sekarang. Jadi lebih baik kamu tinggalkan. Dakwahi dia. Jadi seperti kita pada saat telepon ke dia, menasihati itu adalah memutuskan dulu penyebab kita mengajak dia. Artinya sekarang saya enggak dukung. Udah, udah, udah nyampai baru nyampai, saya berlepas tangan gitu. Jadi saya tidak mau dapat dosa dari situ. Baru bisa lepas. Kalau enggak, enggak bisa. Harus kita seperti membatalkanlah ya masalah itu. Ayah mertua saya secara umum lebih paham agama daripada saya meskipun masih mengerjakan beberapa amalan tanpa tuntunan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bagaimana strategi dan adab-adab menasihatinya agar tidak menyakiti hatinya? Sedangkan saya sendiri baru belajar sunah. Gunakan media, gunakan fasilitas. Kalau ilmu kita masih kurang, kita belajar dulu. terutama di masalah yang secara substansial yang kita ingin luruskan. Apa misalnya kita anggap perbuatan salah dari seseorang, teman, kerabat, mertua, orang tua, istri, suami, anak, apa saja secara substansial. Apa masalahnya dia? Dosa syahwat atau dosa syubuhat? Dua-duanya sama. Bagaimana caranya kita pelajari substansial itu? Misal teman kita suka berzina, maka kita coba mendalami ilmu peringatan-peringatan dan ancaman syariat berhubungan dengan zina. Baca tinggal ketik di Google sekarang ancaman orang berzina. Keluar banyak artikel. Kita baca supaya punya bukti. Kalau perlu kita copy, kirim ke teman, gunakan fasilitas yang sudah ada. Atau mungkin ada banyak buku-buku yang menjelaskan masalah itu misalnya, gitu kan. Jadi banyak sekali buku-buku yang sering saya bawa dan sering juga kita usahakan bagikan yang ukurannya hanya seperti ini ya. Kurang lebih seperti buku-buku kecil ini yang saya bilang harganya harga gorengan Rp6.000, Rp7.000, Rp10.000 ya. Jadi harga yang sangat murah beli tinggal bagiin kepada dia gitu ya. Beri beri apa? Bagikan masalah dosa-dosa secara dosa apa? Misalnya masalah hijab ya. Ada buku di sini misalnya, "Wahai ukhti, kenapa engkau tidak berjilbab? Harumnya surga tidak akan tercium oleh mereka yang tidak istikamah dalam syariatnya." Buku kecil bagian kepada akhwat ya. Mungkin akhwat kita di belakang punya teman-teman kantor, punya temannya yang kerabat yang belum pakai jilbab. Murah sekali bukunya. Kasih hadiah. Ini saya titipin ya. Hadiah buat saya mudah-mudahan bisa dibaca. Kasih buku apa saja. Kalau berhubungan dengan masalah dosa syubuhat, masalah bidah, masalah syirik juga banyak buku-buku seperti ini yang menjelaskan masalah bidah dan syirik. Definisinya, dalil-dalilnya, contoh-contohnya. Kasih aja kita gunakan fasilitas. Kalau merasa belum punya ilmu, belum tahu. Tapi minimal kita juga membacanya supaya jangan sampai kita mengajarkan ilmu ke orang, memberikan buku sesu tentang bahasan tertentu, kita sendiri belum paham itu. Itu enggak boleh di sisi Allah. Harus kita tahu dulu kan. baru kita sampaikan ke tinggal masalah metode menyampaikan apakah secara langsung atau kita berikan buku. Itu yang saya tahu itu yang cara terbaik gunakan fasilitas sekarang juga selain buku mungkin kita bisa kalau dia malas baca buku kita bisa berikan cuplikan-cuplikan ceramah ya semoga saja ya itu kan upaya kita, ijtihad kita cukup sampai situ enggak apa-apa selebihnya tinggal doakan ya sudah tawakal. Saya seorang guru. Saya mulai untuk mempraktikkan tata cara busana Taisbal. Namun ada beberapa murid yang sedikit protes karena apabila mereka seperti itu dalam berpakaian akan dihukum. Apa yang harus saya sampaikan, Ustaz, ke anak-anak? Karena ada beberapa yang mencontohi saya dan ada pula yang menertawakan saya. Jadi memang dalam mempraktikkan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam, apalagi di zaman kita sekarang di mana banyak sunah-sunah Nabi yang tertinggal gitu kan. Bahkan lebih semarak acara-acara bida daripada sunah gitu. Itu sudah umum. Maka memang kita butuh zuhud untuk menyampaikan lebih ekstrah. Seperti misalnya dari seorang guru. Masalahnya apa? Di sekolah misalnya kita bisa bicara sama kepala sekolah menjelaskan memberikan buku. ini loh saya baca buku ada seperti ini, Pak. Misalnya kepala sekolahnya dan saya praktikkan ini dalam perilaku saya sehari-hari berpakaian. Biarkan dia baca, gitu kan. Setelah itu kemudian saya akan berpenampilan begini di sekolah. Bisa kan? Ya bisa. Ya sudah, nanti kalau selanjutnya bertemu lagi. Ada murid-murid yang mungkin mau mengikutinya kita jelaskan. Jadi jelaskan kenapa kita melakukan. Jangan tiba-tiba saja melakukan kemudian nanti dihardik tidak ada penjelasan gak kita jelaskan kenapa. Jadi biar jelas gini kalau saya sarankan seperti itu. Masalah ada orang menertawakan enggak usah dipedulikan itu. Nabi sallallahu alaihi wasallam ditertawakan dianggap penyihir. Ya, apa yang lebih berat daripada itu? Nabi sallallahu alaihi wasallam lagi ceramah nih penyihir tuh jangan dengar gitu begitu. Ini penyamun nih ngarang-ngarang, dusta jangan dipercaya. Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam jalan itu diikuti oleh pamannya Abu Lahab di belakang. Jangan percaya orang ini ponakan saya. Saya lebih tahu dia. Dia pendusta. Ya. Ya. Saya tidak bisa bayangkan subhanallah pada saat itu bagaimana baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam lagi ceramah sampai dakwah terus di belakangnya pamannya sendiri bilang, "Jangan percaya orang ini pendusta saya lebih tahu dia." Bayangkan beratnya itu luar biasa. Kita sekarang ceramah leluasa menyampaikan. Jadi menurut saya wallahuam gak usah terlalu terpengaruh dengan cibiran orang ya. Biar a dia mau cibir urusan dia. Antum tinggal terima pahal transfer pahala. Kamu begini begini begini kamu garis keraslah segala macam senyum saja senyum saja dia butuh penjelasan kita jelaskan dia tidak mau butuh cuma segera menghina sudahlah tinggal terima pahala apa saja yang dikasih situ kan terima transfer gratis enak sekali it semoga ustaz sehat dan berkah hidupnya sama-sama insyaallah saya mencerita ustaz karena Allah ahabbakallah ahbabtani f berkaitan dengan mengajak kesesatan. Apabila saya mengajak teman untuk nonton bioskop, apakah termasuk mengajak kesesatan? Apa hukumnya nonton bioskop? Filmnya religi, Ustaz. Haram. Tetap haram. Tetap haram. Masuk bioskop ada musik, ada campur baur laki-laki perempuan gelap, duduk bersebelahan. Hah. Dan gini teman-teman, kalau mau berbuat perbuatan dosa, tanya sekali lagi saya selalu kasih kasa resepnya. Kalau saya tidak buat, kenapa? Kenapa kalau tidak ke bioskop? Ha, kenapa? Enggak ada apa-apa. Mata enggak buta, tangan gak terpotong, enggak ada. Duduk di rumah enak baca buku, dapat ilmu, minum susu, baca Quran, tidur, enak. Pergi malam-malam, pulang jam sekian malam. Untuk apa? Hanya untuk nonton rekayasa cerita. Kan film itu rekayasa cerita ya, dongeng ya. Cuma dikemas ini aktornya hebat ini. Kadang-kadang kita ditipu berapa kali karena orang aktor yang sama punya 100 film misalnya di sini jadi penjahat, di sini jadi orang baik, di sini jadi bodohnya kita ikut-ikutin. Oh iya iya ini Pak La haula wala quwwata illa billah. Coba antum tinggalkan ini kebiasaan ini. Tinggalkan coba nonton-nonton ini. Coba tinggalkan. tinggalkan awal mungkin ada tekanan terasa pengin ingat aktor ini hebat ya ini ya itu pengaruh kejiwaan coba tinggalkan aja seminggu, sebulan, lama-lama antum akan merasa aneh kenapa dulu nonton akan muncul sampai pada puncak itu nanti. Banyak jemaah saya gitu akhirnya mereka mengatakan, "Iya ya Ustaz. Ya, akhirnya apa yang Ustaz sampaikan tentang masalah kalau kita tinggalkan kemaksiatan dan memang melalui proses ada tekanan-tekanan terasa prosesnya ada ya. Tapi begitu sampai pada puncaknya, kita jadi berpikir, "Iya ya, kenapa dulu saya buang-buang uang, buang waktu untuk apa ada hisabnya loh." Ini kita, Teman-teman, mati itu tidak nunggu ruangan ICU di rumah sakit. Bukan berarti kita meninggal sakit parah dulu baru meninggal. Enggak. Orang duduk begini bisa meninggal, orang lagi jalan bisa meninggal. Bagaimana orang masa aman gitu ya? Sampai para ulama mengatakan, "Bagaimana orang bisa nyenyak tidur di malam hari dengan berharap surga sementara dia bisa mati setiap saat." Dan bagaimana seseorang bisa melakukan maksiat di siang hari sementara dia tahu setiap saat bisa malaikat maut menjemputnya? Itu kelalaian, penyasalan di belakang, Teman-teman sekalian. Hati-hati, gitu kan. Jadi bukan pasti enak ya. Jadi kita enggak pungkiri nonton film India 3 jam sebentar dia nangis, sebentar dia hebat, sebentar dia berar, sebentar dia enak memang asyik pasti. Tapi waktu antum terbuang waktu antum terbuang gitu, film ini saya nonton supaya saya belajar bela diri. Bagaimana caranya belajar bela diri dari film itu? Hah? Belajar panggil guru, belajar di depan mata. Praktik lihat orang nendang, kita tendang juga gak kan. Duduk nonton. Enggak nendang kok. Itu alasan setan. Belajar-belajar benar di lapangan. Permasalahannya adalah kalau kita nonton sesuatu teman-teman anggaplah ada cuplikan yang tidak ada masalah agama. Misal pas orang lagi contohin apa gitu ya sesuatu yang positif. Tapi pasti dari sekian durasi 2 jam pasti ada maksiat. Maksid ini masalahnya dia kalau ada dia mengendorkan menurunkan timbangan amal saleh. Dan pernah saya bilang kalau timbangannya seimbang enggak bisa khusyuk. Mau tutup mata, mau baca Quran dengan tartil tetap enggak bisa khusyuk. Caranya harus ini ditutup dulu. Berhentiin dulu dosanya. Amal saleh dikerjain. Nanti naik rednya. Lama-lama jadi khusyuk. Makin kental makin bagus. Makin luar biasa. Sampai Abu Bakar radhiallahu anhu itu kalau dengar ayat pasti nangis. Enggak bisa enggak nangis. Kata para ulama karena begitulah dalam keseharian sudah tidak ada lagi yang dia lakukan kesalahan. Ya sudah keluar dia lihat yang haram dia tunduk perempuan misalnya tundukin mata agama sudah ajarkan azan ke masjid pendapatan halal sudah jalani agama sudah jadi naik terus ini r ibadahnya ini terkunci enggak bisa makanya jadi khusyuk nanti. Jadi kalau antum campur baurkan enggak bisa. Saya salat ke Ustaz subuh di masjid, tapi saya malamnya ke bioskop. Ya, kalau ini betul terjadi, orang nonton di bioskop kemudian dia salat subuh dan dia bisa salat di masjid, ini luar biasa sebenarnya. Kalau yang fakta secara teori enggak bisa. Dia buat maksiat malam, subuhnya lepas. Itu teorinya begitu. Sampai Abdullah bin Umar mengatakan M, saya tahu saya buat dosa kecil. dosa kecil ya. Akibatnya saya terharamkan salat subuh berjamaah di masjid sebulan. Hilang itu amal saleh itu. Jadi hilang gara-gara sedikit. Selalu teman-teman sekalian dosa itu efek jerahnya besar untuk mengembalikan. Jadi seperti kita luka orang berdosa itu seperti ambil pisau, luka-lukain badannya. Butuh proses. Pisau ditarik disimpan ini tetap luka. Tunggu kering dulu. Ada bekasnya dosa itu. Sebagaimana ibadah juga ada bekasnya. Antum kalau enggak ke bioskop salat malam ada bekasnya itu. Cuman kalau ibadah beda. Antum seperti meletakkan pelembut kulit ya, pewangi beda. Bukan luka. Kalau dosa itu luka. Karena orang sumpek sedih. Enggak ada orang buat dosa itu enggak sumpek. Teman- coba deh ini alam ini tutup nih. Sekarang pindah ke alam ini. Hijrah dan jangan setengah-setengah jadi orang baik sekalian. Jadi orang baik. Mau orang bilang alim, mau orang bilang berubah. Ah, biarin aja dia ngomong. Lidah itu sepanjang lidahnya enggak ada pengaruhnya buat kita. Susah kalau kita mau dengar perkataan orang, "Kenapa kau pakai baju abu-abu ini?" "Oh, iya ganti." "Kenapa kau pakai kopu ini? Ganti. Enggak punya prinsip. Kenapa kau berubah?" "Ya, saya suka begini. Ini prinsip saya. Orang yang buat maksiat aja untuk apa urus saya?" Bisa bilang gitu. Cuma kita dalam ibadah kalau sudah punya iman tidak. Oh, karena ini kebaikan mudah-mudahan kau bisa contohin ya. Orang buat maksiat enggak mungkin bilang begitu kan. Apakah benar ketika seseorang terkena sihir lalu ustaznya menyuruh mandi kembang tujuh rupa dan menyuruh membaca surah yang ustaznya kasih? Apakah itu sesat, Ustaz? Masalah sesat saya tidak tahu ini tujuh tujuh kembang tujuh rupa kembang ini kembang apa ini gitu saya enggak tahu kalau kalau dia maksudnya siapa tahu ya tujuh lembar daun bidara sunah Nabi. Hah. Karena memetik tujuh lembar daun bidara dan dihancurin dimasukin di air dipakai sebagai air mandi atau air air rukiah. Sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Hadisnya sahih masalah itu. Tapi kalau tujuh kembang ini seperti dukun-dukun ya, warna-warni, warnanya ada merah, ada kuning, ada segala macam. Ini dukun berkedok ustaz. Ini belajar karena di Indonesia banyak ini. Allahan semoga Allah kasih hidayah ya. Ciri-cirinya seperti itu. Memang memberikan syarat ini, syarat itu, syarat ini. Kalau ustaz yang benar, saya mau tobat. Caranya 1 2 3 4 5. Sudah amalin, tinggalkan dosa itu. Sesali, janji sama Allah tidak ulangi. Selebihnya sibukkan diri dengan amal saleh. Sudah praktikin. Agama mudah sekali kok. Enggak usah pakai syarat minta foto, minta ini, minta di mandi kembang, minta segala macam. Banyak soalnya gitu. Saya temukan ada jemaah banyak mengaku pada saat dia merasa bertahun-tahun gak bisa menikah, setiap mau nikah gagal. Datang ke ustaz-ustaz dan kiai disuruh mandi air kembang. Gitu kan. Gak pernah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam suruh begini nih. Ada sahabat mau menikah langsung disuruh menikahlah. Sudah selesai. Agama simpel, gak usah mandi tujuh tujuh macam air segala macam. Gak gak perlu ya. Kalau ada halangan istigfar mungkin memang belum cocok buat kita untuk itu. Sudah ikhtiar pasti dimudahkan kok sama Allah. Orang penjahat aja bisa nikah masa kita orang jadi orang baik terus tidak bisa. Enggak mungkin tu was-was setan. Jadi kalau dilihat tadi kalau ini menggunakan daun bidara sah saja, tapi kalau yang lain jelas enggak benar ya. Karena tidak pernah contoh dari baginda Nabi alaihialatu wasalam. Saat salat berjamaak, terima kasih doanya. Ini ada banyak masyaallah doa yang disebutin. Semoga Ustaz Khid diberi kesehatan, rezeki yang melimpah dan selalu dilindungi oleh Allah. Sama-sama insyaallah. Jazakumullah khairan. Saat salat berjamaah di masjid, imam masjid di daerah saya selalu mengutamakan bahwa jemaah salat di saf pertama agar diisi oleh jemaah rutin dan yang tinggal di sekitaran masjid dan mengutamakan yang memakai baju koko dan bersarung. Jemaah yang mampir diatur agar salat di samping jemaah berbaju koko dan bersarung atau di saf kedua dan seterusnya. Apakah perilaku tersebut ada anjurannya oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam? Apa itu termasuk bidah? Dan adakah doa khusus sebelum melakukan azan? Ya tentu ini tidak boleh ya sebenarnya tidak boleh. Yang penting seorang muslim masuk dia sudah tutup aurat dengan benar gitu kan. Dia masuk kemudian dia salat dia lebih dulu masuk. Tidak boleh kita pindahkan. Ada hadis Bukhari melarang masalah itu. Tidak boleh kita memindahkan seorang muslim dari tempat duduknya atau kita menduduki tempatnya atau kita berdiri di tempatnya sebelum izin dengan dia. Jadi enggak boleh nih. Kita punya hak kalau kita datang lebih dulu di awal. Masa orang zuhur jam 12.00 misalnya, dia dari jam 11.00 enggak ada kegiatan lagi jalan mampir di masjid, dia mau baca Quran dia duduk di saatf pertama begitu azan suruh pindah ke belakang gara-gara enggak pakai kopia misalnya atau enggak pakai sarung atau pakai baju koko. Ini enggak enggak benar. Kecuali kalau dia pakai baju-baju yang memang mungkin ketat, ada tulisan-tulisan. Ini bukan cuma disuruh di saf kedua suruh ganti bajunya kan gitu. Jadi allahualam. Kalau memang betul seperti ini lebih baik jangan gitu kan. Kalau dikatakan itu bidah ini saya rasa bukan bidah ini. Mungkin kita husnudan mungkin maksudnya dia adalah orang-orang yang memang sudah rutin datang di situ. Mungkin titip pesan saf ini buat saya, saf ini buat saya mungkin pesan sama imamnya gitu kan. Jadi itu perilaku yang positif saja sebenarnya ya. Jadi bisa saja saya misalnya titip pesan sama imam dekat rumah saya, tolong yang sa pertama di sebelah kanan ini saya disimpanin satu tempat misalnya ditutupin simpanin mungkin dititip begitu. Ini bisa saja terjadi ya. Kita sangka baik saja soal itu. Cuma disuruh pindah orang yang asing bukan tinggal di komplek itu misalnya. Itu ini keliru. Sebaliknya jangan. Saya seorang HRD di perusahaan riba. Namun saat ini saya sudah berhenti. Semasa saya bekerja saya banyak merekrut orang muslim untuk bekerja di perusahaan itu. Bagaimana hukumnya, Ustaz? Apakah saya berdosa? Bagaimana cara saya agar diampuni Allah? Doakan saya cepat mendapatkan pekerjaan baru dan rencana setelah lebaran. Saya ingin menikah. Amin. Masyaallah. Baiklah. Ee tentu kalau kita pernah menunjukkan kebaik keburukan pada seseorang ya apalagi di sini mungkin bekas pegawai bisa tahu bisa teman-teman kantor hubungin mereka. hubungi supaya kita batalkan dosa berkelanjutan itu. Saya dulu yang mengajak kalian masuk karena saya belum tahu hukumnya maka saya tahu loh sekarang ini enggak boleh riba gitu kan. Saya berlepas tangan, kalian mau kerja itu urusan kalian. Tapi saya berlepas tangan. Saya enggak ada urusan. Saya dulu tidak tahu. Seperti itulah ya. Kalau masalah insyaallah mendapatkan pekerjaan insyaallah ya. Mudah-mudahan jangan jangan putus asa dengan rahmat Allah. Salah satu bagian dari bahasan dosa besar kita teman-teman sekalian adalah putus asa dari rahmat Allah. Jangan bilang, "Oh, saya kalau keluar dari tempat kerja ini, ini haram. Allah kasih enggak ya saya gantinya?" Dikasih pasti. Enggak boleh ragu. Tapi memang ada proses. Kita suka malam di pagi hari kita minta, "Ya Allah, datangkan malam. Tunggu waktunya tiba malam. Ada prosesnya malam akan datang kok." Gitu seperti itulah. Jadi, ada prosesnya. Kita lapar. Saya sering kasih contoh. Minta Allah hilangkan lapar, kita makan, kunya dulu, telan dulu baru hilang laparnya. Sabar, ada prosesinya. gitu ya. Jadi kita lalui nikmati proses itu. Kalau saya sering bahasakan nikmati prosesnya. Proses tobat, proses pembersihan dosa, ada cobaan-cobaan datang, nikmatin itu. Asyik kalau dinikmatin tuh, "Oh, ya ternyata mungkin ini pembersihan dosa saya yang dulu. Oh, ini bersih lagi. Mudah-mudahan pada saat saya mati malah sudah tidak ada dosa-dosa." Gitu. Kadang-kadang Allah ingatkan kita, "Oh, pernah si fulan, saya ajak nih, saya ajarin hal-hal yang salah." Telepon dia, "Maaf ya, saya dulu pernah ajarin kamu begini. Saya enggak salah loh. Saya baru tahu itu enggak boleh dalam Islam ini. Saya kirimkan artikelnya lah. Ini dikirimkan artikel misalnya tulisannya, penjelasannya, cuplikan ceramahnya. Jadi biar dia tahu. Allahuam. Nah, itu lebih baik. Kalau cepat mikir insyaallah ini selalu minta doa. Melangkah-melangkah. Hah? Ini bujang-bujang ini minta didoain aja terus. Jangan minta didoain. Kirim di sini undangan ustaz. Saya sudah nikah. Nah, gitu. itu yang benar. Tapi insyaallah mudah-mudahan dimudahkan semua. Bagaimanakah dengan menggeser kotak amal dalam majelis ilmu kepada saudara-saudara kita di sebelah termasuk kategori juga mengajak kepada kebaikan yaitu sedekah. Apakah kita dapat pahala sedekahnya juga dar
Resume
Categories