Transcript
yxZnj-3aZz4 • Deadly Sins #70 & #71 – Denying the Goodness of Others – Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0268_yxZnj-3aZz4.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah tidak henti-hentinya kita
memuji Tuhan kita Allah.
yang harus selalu kita yakini sedang
melihat, mendengar, dan mengetahui semua
gerak-gerik kehidupan kita. Dia maha
adil, maha kuasa, maha perkasa, maha
kuat, dan selalu terus-menerus mengurus
makhluknya.
Tidak ada sekutu baginya dalam setiap
kegiatannya. Dan dia telah
menggantungkan kebutuhan kita dengan
kemahaurnaannya dan juga kemahaurahannya
dengan kalimat sederhana namun penuh
dengan berkah. Alhamdulillah.
Maka selalulah ucapkan kalimat ini. Kita
panjatkan selanjutnya salam hormat kita.
Penuh dengan cinta dan rindu kepada
manusia yang telah diperintahkan oleh
Allah untuk mengucapkan salam hormat
kepadanya.
Dan mengucapkan salam hormat ini
langsung dibalas oleh Allah 10 kali
tambahan rahmat atau karunia. Maka
sangat wajar kalau kita selalu mengejar
target itu dengan mengucapkan selawat
dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad
sallallahu wa ala alihi.
Lanjutkan bahasan kita, Teman-teman
sekalian. Semoga Allah berkahi dosa
besar ke-70 setelah yang lalu kita bahas
dua dosa besar sekaligus. 68
merasa aman dari makar Allah dan 69
putus asa dari rahmat Allah. Dosa besar
ke-70 ini Imam Azzahabi rahimahullah
memberikan judul mengingkari kebaikan
orang lain kepadanya.
Seperti biasa kita akan berikan dulu
kronologisnya.
Teman-teman sekalian, Islam adalah agama
penuh dengan kebaikan.
Apa saja yang kira-kira bermanfaat buat
diri kita, bermanfaat buat orang lain,
lakukan.
Kalau itu perbuatan baik, maka akan
sangat besar sekali
pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa
taala. Karena memang dalam syariat Allah
semua yang makruf, semua yang baik-baik
itu diperintahkan
baik untuk berbuat diri kita sendiri.
Seperti misalnya kita memilikan pakaian
yang bagus, kita memilikan kendaraan
yang bagus, kita memberikan apa saja
fasilitas buat diri kita yang bagus
boleh dalam Islam selama sumbernya halal
dan tidak mubadir.
Begitu pula pada saat kita berikan
kepada orang lain.
Dan kata kunci sebenarnya yang banyak
diluputkan oleh banyak orang untuk
mendapatkan fasilitas ekstra dari sang
pencipta Allah, cobalah berguna bagi
orang lain.
Berikan apa saja teman-teman sekalian.
Bahkan
saya dengan izin Allah tentunya ya bisa
memberikan jaminan teman-teman sekalian
kalau kita melakukan kebaikan kepada
orang lain maka pastikan bentuk kebaikan
itu akan Allah berikan kepada kita juga
sebagai balasan.
Apa saja misal kita memberikan makan
kepada orang lain maka dipastikan Allah
akan memberikan kita makan. kita
memberikan apa saja dan sudah sering
kita ulangi hadis yang berbunyi aljaza
min jinsil amal balasan sesuai dengan
kadar perbuatan seseorang juga hadis
nabi sallallahu alaihi wasallam yang
berbunyi, "Kama tadinu tudan sebagaimana
kau berperilaku, kau akan dibalas hal
yang sama." Ini masuk dalam kebaikan dan
keburukan. Kita berbuat baik dengan
orang, kita misalnya menjenguk orang
sakit, pastikan kita kalau sakit nanti
dijenguk. Kita membantu orang susah,
pastikan nanti kita juga akan dibantu ya
pada saat kita susah dan seterusnya.
Tarik dalam semua lini kehidupan kita.
Begitu pula pada saat kita berbuat
keburukan akan terjadi unsur timbal
balik. Akan sama terjadi hal-hal yang
buruk. Kita menggibah, kita akan digiba.
Kita fitnah, kita akan difitnah. Kita
mencuri, kita akan dicuri. Satu waktu
kita apa saja menzalimi orang, kita juga
akan dizalimi. Dan itu sunatullah. Dan
Allah mengatakan dalam Al-Qur'an, "Kekal
ditelawahkan oleh orang yang beriman."
illahir
dan kalian tidak akan pernah mendapatkan
dalam sistem yang Allah buat itu tabdah,
perubahan-perubahan.
Tidak ada perubahan sama sekali. Itulah
yang akan terjadi.
Berbuat kebaikan adalah hal yang baik
sekali. Bahkan kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Khairunasi anfaum
linas." Orang yang paling baik seorang
muslim, yang paling besar pahalanya
adalah orang yang paling bermanfaat bagi
orang yang lainnya. Lakukan apa saja.
Saya mungkin pernah menceritakan,
teman-teman sekalian, pengalaman saya
pribadi.
Satu waktu saya pernah melihat beberapa
teman-teman dai yang kekurangan motor,
tidak ada kendaraannya.
Tiba-tiba saya terpikir di pikiran saya,
kenapa saya enggak buatin program?
Selain saya juga partisipasi, saya
buatin program. Tiba-tiba tanpa berharap
apapun pada satu pikiran saya supaya
teman-teman dai ini layak punya
transportasi. Karena motor adalah satu
hal yang dibutuh sangat dibutuhkan di
Jakarta secara khusus karena macetnya
kota kita ini. Maka saya coba buat
program. Akhirnya jemaah berlumba-lumba
untuk menyumbang. Satu motor kita
keluarkan dua t sampai masyaallah sudah
puluhan motor yang sudah dikeluarkan.
Saya terus saja melakukan itu sampai
akhirnya ada satu ikhwah yang
memberitakan, "Ustadz, di rumah sudah
ada motor diantar." Saya tidak ada.
diantarlah motor ke tempat saya. Motor
masyaallah sangat bagus, harganya juga
cukup mahal gitu kan. Pokoknya ini kami
mau ustaz yang pakai. Padahal saya tidak
pernah berharap pada saat itu memberikan
motor teman-teman dai. Itu pun program
yang saya sebarkan. Tapi ternyata masuk
dalam teori tadi kita berbuat manfaat
buat orang lain, Allah kasih hal yang
sama.
Selalu begitu. Dan banyak hal mungkin
dalam pengalaman-pengalaman pribadi yang
saya lalui selalu sama. selalu sama
unsur timbal baiknya terjadi.
Satu sisi lain, Teman-teman sekalian,
selain kita disuruh berbuat baik, makin
banyak maka makin bermanfaat dan
responnya akan sama kepada kita. Juga
satu sisi kalau ada orang pernah berbuat
baik dengan kita, itu enggak boleh kita
lupakan kebaikannya.
Bahkan di dalam Islam, satu kebaikan
sudah cukup untuk menutupi aibnya orang
yang sedang kita hadapi semuanya.
semuanya satu kebaikan dia menutupi
semua aib dia.
Contoh misalnya Umar bin Khattab
berkata,
"Aku akan siap menjadi pelayan." Ya,
maaf. Aku akan berterima kasih seumur
hidupku
kepada seseorang yang mengingatkan satu
aibku.
Artinya kata para ulama menanggapi
perkataan Umar radhiallahu anhu ini.
Umar bin Khattab berkata seakan-akan dia
bilang kalau ada orang jahat sama saya
punya kekurangan tapi dia pernah
mengingatkan satu kekuranganku. Hai Umar
ini salah lalu saya perbaiki maka saya
akan kenang seumur hidup saya.
Ali bin Abi Thalib mengatakan
Radhiallahu anhu, "Saya akan siap
menjadi pelayan seumur hidupku bagi
orang yang mengajarkan kepadaku satu
huruf. Satu huruf saja.
sudah dianggap cukup untuk dia siap
melayani orang itu seumur hidupnya.
Dan banyak sekali kalimat-kalimat yang
penuh dengan inspirasi seperti ini dari
para salaf kita, dari para sahabat, dari
para tabiin yang semuanya intinya
menyuruh kita mengenang kebaikan orang
dan itu memang bagian daripada agama.
Bermula, Teman-teman sekalian dari orang
tua kita, orang-orang yang terdekat.
Enggak boleh sama sekali kita lupakan
jasanya.
Keberadaan kita saja di muka bumi ini
sudah ada gara-gara orang tua kita sudah
cukup untuk kita balas seumur hidup
kita. Apalagi kalau dasarnya mereka kita
dari kecil diurus, dirawat. Masih ingat
bagaimana statementnya Hasan Basri? Pada
saat ditanya rahimahullah, seseorang
datang mengurus ayahnya 20 tahun.
Lalu kemudian dia bilang, "Apakah saya
sudah membalas jasa ayah saya gara-gara
setiap kali buang air besar, buang air
kecil saya tampung dengan tangan saya
tanpa merasa jijik?" Kata Hasan Basri,
"Belum sama sekali. 20 tahun saya
berbakti dengan dia. Belum balas jasanya
tanpa rasa jiji, kencing, buang air
besar, tampung dengan tangan saya dan
saya bersihkan badannya. Stroke
diranjang." Kata Hasan Basri, "Belum
sama sekali. Karena pada saat ayahmu
kamu, waktu kamu kecil ayahmu mengurusmu
dengan berharap kau jadi pemimpin.
Sementara sekarang kau berharap ayahmu
meninggal dan kapan kau berhenti
bertugas.
Beda dari sisi niatnya.
Maka kita harus, Teman-teman sekalian,
tahu menilai kebaikan orang tua kita
penting sekali. Bahkan Allah
menggantungkan berterima kasih pada
orang tua adalah berterima kasih juga
pada sang pencipta Allah.
Bukan berarti keburukan mereka
menggugurkan kewajiban bakti kita.
Walaupun mereka dalam keadaan kafir,
mereka fasik sama. Begitu pula dengan
kerabat terdekat, teman-teman siapa
saja. Bahkan Urwah bin Zubair
rahimahullah berkata, "Kalau kau melihat
satu kelebihan, satu kebaikan pada
seseorang, maka ammilu lahu khair.
Selalulah berprasangka orang ini orang
baik. Waana fiarinasi rajul. Walaupun
orang banyak memandang dia buruk, kamu
sendiri buktikan. Kalau kamu buktikan
ternyata orang itu menunjukkan kebaikan
sama kamu, dia ramah, dia baik, dia
membantu, dia menasihati yang baik, maka
anggap dia baik. Selesai. Walaupun
orang-orang anggap dia buruk. Fa inna
laha akhawat. Karena setiap perbuatan
baik itu punya saudara-saudara kebaikan
lain.
Jadi bisa saja orang-orang cerita dia
buruk mungkin karena orang belum
mengenalnya.
Seperti umumnya manusia banyak digoda
oleh setan. Dia belum kenal seseorang.
Dia sibuk menceritakan tentang aib orang
itu hanya karena dengar dari orang lain.
Padahal dia belum kenal.
Kemudian beliau mengatakan sebaliknya
kalau kalian melihat dari seseorang
fi'u fi'lus syar perbuatan buruk. Kita
tahu orang ini buruk misalnya dia
bohong, misalnya dia berzina, mungkin
orang lain tidak tahu. Misalnya,
misalnya, maka pastikan orang itu buruk
walaupun di mata manusia dia orang baik.
Karena perbuatan buruk itu punya
saudara-saudara.
Artinya kita pastikan sendiri.
Oleh karena itu, Teman-teman sekalian,
kebaikan-kebaikan orang kita nilai
walaupun orang itu akhirnya berbuat
keburukan. Contoh misalnya
ada mungkin beberapa orang di antara
kita dan pernah ada pengakuan ikhwah
begitu. Dari mana, Akhi tahu pengajian?
Oh, ada dulu teman saya ajak.
Sekarang dia rutin ikut pengajian.
Temannya yang ajak itu sudah tidak
hadir. Mungkin karena sibuk, mungkin
karena safar.
Lalu dia bilang, "Dulu ada teman saya
yang ngajak, tapi sekarang dia tidak
pernah hadir." "Ya akhi, biar tidak
pernah hadir. Antum kenal agama dari
dia." Penyebabnya harus kita kenang
kebaikan itu. Tahu kalau orang ini baik.
Kita pernah masuk kantor kerja,
seseorang bantu kita, akhirnya masuklah
kerja. Perjalanannya waktu dia juga
pegawai situ, jabatan kita lebih tinggi.
Tetap tidak boleh lupa jasanya orang.
Dia ini yang berbuat baik sama kita gitu
kan. Maka jangan sampai kita mengatakan,
"Oh, karena sekarang saya sudah atasan,
lalu kita sombong menghadapi orang
lain." Begitu juga dengan orang yang
banyak berjasa, Teman-teman. Kayak suami
istri, akhwat kita di belakang sana.
Bertakwa kepada Allah. Berapa banyak
jasa suami yang sudah dilakukan?
Ternaungnya dari panas dan dingin dengan
rumah walaupun cuma kontrak. Berapa kali
lapar kita dihilangkan, haus kita
dihilangkan, kebutuhan hajat kamar mandi
kita. Bayangkan kalau kita tidak ada
suami misalnya yang selama ini mungkin
banting tulang mereka bekerja berusaha.
Kita harus pindah sana sini kontrak.
Kalau malam tidur belum tentu merasa
aman. Mungkin kadang-kadang teman-teman,
maaf saya bahasakan begini supaya
contohnya jelas. Kita butuh mau buang
air, buang air besar, buang air kecil
dan kita harus antri di kamar mandi di
luar sana. Betapa rumitnya. Apalagi
kalau kita masuk digedor-gedor untuk
cepat-cepat. ini di rumah disiapin
walaupun rumah kontrakan bebas
menyelesaikan itu. Berapa tahun suami
berbuat baik? Karena itu hal yang luar
biasa. Musia tahu berterima kasih.
Sampai Aisyah berkata radhiallahu anha,
"Hai para wanita, kalau seandainya
kalian tahu hak suami kalian dari kalian
yang Allah tentukan, maka niscaya kalian
akan mengambil debu telapak kaki suami
kalian dan kalian letakkan di pipi
kalian."
Dan seorang wanita datang mengatakan,
"Ya Rasulullah, saya mau nikah, tapi
saya mau tahu dulu apa hak suami saya
supaya saya tahu bagaimana saya berbakti
nanti." Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Kalau dada suamimu luka dan
bernanah lalu kamu bersihkan dengan
lidahmu, maka kau belum bisa membayar
jasanya." Karena dia orang asing.
Seseorang di antara kita laki-laki di
sini bekerja, banting tulang, kerja dari
pagi, pulang malam, macet, panas, hujan.
gitu kan. Mungkin teman-teman yang naik
motor merasakan kadang-kadang kita lagi
jalan tiba-tiba hujan deras, basah
kuyup, istri di rumah tinggal tunggu kan
gitu. Berarti ada pengorbanan yang luar
biasa gitu kan. Baik supaya adil saya
juga kasih lawannya ya. Sama juga
akhwat juga begitu, ikhwah juga di sini
begitu. Siapa kita, Teman-teman sekalian
tidak kenal sebelumnya istri kita?
Berapa kali dia masakin kita masakan
kesukaan kita? Berapa kali pakaian kita
dicuci ini? Kita buka almari sudah siap.
Berapa kali dia sambut kita dengan rumah
yang bersih dengan senyumannya?
Antum tahu satu kali orang berzina di
sana berapa juta dia harus bayar dengan
pelacur? W naudubillah. Berapa kali
istri kita menjadi tempat pelampiasan
kita dan kita aman dari dosa.
Kenapa banyak orang jadi suami istri
enggak pernah bilang terima kasih?
Sulit rasanya mengucapkan terima kasih
pada suaminya atau pada istrinya.
Kenapa? Kenapa enggak ucapkan
jazakallahu khairan? Jazakillahu
khairan. Saling ucapkan itu supaya kita
masuk dalam kategori tahu kadar kebaikan
orang gitu kan. Ini penting untuk
digaris bawahi. Tadi sudah kita jelaskan
orang tua sama anak, anak sama orang tua
juga begitu. Pasangan suami istri, teman
sama temannya harusnya.
Dan sebaliknya teman-teman, siapa saja
yang tidak tahu menilai kebaikan orang
dosa besar. Itu bahasan kita. Ada orang
subhanallah sudah sekian tahun orang itu
berbuat baik sama dia dilupain
bahkan kasar. Dulu waktu masih susah
minta-minta duit begitu berhasil jadi
masalah.
Saya hadapi masalah sendiri teman-teman
sekalian. Ada satu orang semoga Allah
beri hidayah.
Waktu dia awal balik di Indonesia
sekolah dari Timur Tengah. Sering datang
ke saya, datang ke restoran, duduk
ngobrol, minta nasihat, bertukar
pengalaman masalah dakwah.
Saya berikan masukan begini, akhi,
begini akhi. Begini akhi.
Berjalan waktu mulai berjalan berjalan
lama-lama
subhanallah mulai menciut. Artinya
mulailah mencuat. Maksud saya mulai
dikenal gitu kan. Tiba-tiba saya dengar
informasi dia memburuk-burukkan saya
gitu ya. Entah bahasa-bahasa yang saya
lihat tidak santun. Baiklah bagi saya
teori syari jelas. Aljaza min jinsil
amal g
berjalan waktu kata-kata yang kurang
nyaman, kurang baik, ada penganggapan
remehan ya gitu ya. Subhanallah.
Berjalan waktu hilang semuanya. Allah
Subhanahu wa taala buat akhirnya dia
sendiri terkucil, punya masalah dan
banyak hal yang dihadapi. Hati-hati
teman-teman, kita sedang bermuamalah
dengan sang pencipta Allah yang maha
adil, maha melihat. Jangan main-main.
Orang yang di depan kita ini semua hanya
Allah yang ciptakan dan lahirkan. Ada
variabel di situ. Jangan lihat istri
kita, jangan lihat suami kita, jangan
lihat orang tua, jangan lihat anak,
jangan lihat teman, lihat siapa yang
sedang kita hadapi. Makanya pepatah
bahasa Arab yang sangat jelas dinukil
oleh para ulama, jangan kau lihat kadar
pelanggaranmu, tapi lihat siapa yang
sedang kau langgar.
Kalau kita cuma melihat nilai dosa kita,
oh cuman ini, ah cuma lihat, ah cuma
ucap, ah cuma dengar, kita itu yang kita
nilai, kita akan anggap remis semua
dosa. Tapi lihatlah siapa yang sedang
kau maksiati, siapa yang sedang kau
langgar itu sang pencipta Allah. Dan
Allah itu maha penyayang, tapi juga maha
berat siksaannya kan gitu. Jadi harusnya
kita harus paham, Teman-teman sekalian.
Jadi belajarlah bersyukur. Imam Azzahabi
rahimahullah mengangkat tidak banyak
dalil, tapi dalil-dalil ini sangat berat
atau sangat bagus sekali ya dan bobotnya
sangat berat.
Tentang masalah orang tua misalnya
beliau angkat surah Luqman ayat 14.
Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Aniskurli waliwalidaika alayah.
Bersyukurlah kepadaku, kata Allah.
Selalu bersyukur alhamdulillah,
alhamdulillah supaya Allah tambah dan
juga Allah hubungkan antara syukur
kepadanya dan kepada kedua orang tuamu.
Selalu bilang, "Terima kasih ayah,
terima kasih ibu." Walaupun kita merasa
mungkin ada yang kurang dari jasa
mereka, enggak apa-apa mereka ucapkan
doa sekali saja sudah alhamdulillah kita
harus terima kasih. Begitu pula dengan
umumnya orang pasangan suami istri
misalnya atau umumnya bermuamalah dengan
orang lain. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam dalam hadis diangkut oleh Imam
Azzahabi diriwayatkan oleh Abu Daud
dalam kitab Adab
bab syukrul alma'ruf nomor 4811.
Imam Tirmidzi dalam kitab Bir Wasilah
nomor 1955 dan Tirmidzi mengatakan hadis
ini hasan sahih. Dan juga diriwayatkan
Imam Ahmad dalam kitab Musnad jilid 2
nomor 258, 259, 303, 388, 461, dan 492.
Dan juga Imam Bukhari menyebutkan dalam
kitab Asyurb wal Musaqah ini disebutkan
eh maaf sampai situ tadi ya, sampai
Musnad Imam Ahmad riwayat Imam Bukhari
hadis setelahnya.
yang artinya Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam bersabda, "La
yaskurullah man la yaskurunas."
Tidak akan dihitung seseorang itu
bersyukur kepada Allah yang merupakan
pipa penyambung agar nikmat bertambah
dari sang pencipta Allah. Tanda kutip di
sini bahasanya tidak bersyukur kepada
Allah. Orang yang tidak bersyukur dan
berterima kasih kepada manusia biasakan
ucapkan walaupun anak kita ambilin
gelas, ambilin air, jangan karena anak
tidak terima kasih. Dan juga usahakan
teman-teman sekalian, kalimat yang kita
ucapkan ini adalah kalimat yang baik.
Misal jazakallahu khairan ya. Sebab kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Kalau
kalian diberikan makruf, diberikan
kebaikan, maka balas yang sama, yang
seimbang. Kita dikasih makanan, balas
makanan. Kita dikasih pakaian, kasih
pakaian. Kalau kalian tidak temukan yang
seimbang, maka ucapkan jazakallahu
khairan. Semoga Allah balas Anda dengan
kebaikan." maka itu sudah membalas semua
kebaikannya.
Ucapkan kalimat ini kepada anak, kepada
pasangan, kepada orang tua. Biasakan
ucapkan itu kalimat apa saja.
Juga dalam dalil yang lain dan hadis ini
disebutkan atau dari beberapa kaum salaf
yang berkata, "Kufranun nikmati minal
kabairukruha
bil mujazati
bidua." Kufur nikmat adalah termasuk di
antara dosa-dosa besar.
Kufur nikmat artinya tidak mensyukuri.
Dan berterima kasih adalah dengan
membalasnya atau dengan berdoa untuknya.
Jadi minimal kita ucapkan doa minimal
sekali ya. Dan ini sangat baik,
Teman-teman sekalian. Dan cukup banyak
hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam
yang membahas tentang pentingnya kita
membalas kebaikan orang dengan kebaikan.
Dan sebaliknya larangan sangat tegas
seseorang itu tidak membalas kebaikan
orang lain. Banyak kisah salafus saleh
yang berhubungan dengan masalah ini.
Ulama-ulama kita selalu saja mereka
keluar mendatangi rumah orang yang
dianggap itu orang pernah berbuat jasa.
Puncaknya adalah Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam. Semua sahabat yang
berbuat baik pada beliau dihormati
selalu dikenang, selalu dikatakan, "Si
fulan pernah membantu saya. Si fulan
pernah membantu saya." Sampai dulu
sahabatnya Khadijah saja yang sering
datang di rumah Nabi sallallahu alaihi
wasallam pada saat masih hidup bersama
Khadijah. Begitu datang ke rumah Nabi
sallallahu alaihi wasallam di Madinah,
Nabi sambut dengan mulia dan Nabi
mengatakan, "Orang ini sering mendatangi
kami dulu."
Jadi ini penting sekali teman-teman
sekalian untuk menjaga kebaikan-kebaikan
yang kita lakukan ya atau
kebaikan-kebaikan yang orang lain
lakukan supaya kita nilai. Ini dosa
besar yang ke-70. Nanti tentu kalau ada
pertanyaan berhubungan dengan ini si
dicatat berhubungan dengan masalah ini.
Kita masuk dosa besar ke-71.
Menahan kelebihan air
juga. Salah satu kebaikan
yang bisa kita lakukan substansialnya
adalah memberi makan dan minum. Dan ini
ibadah yang besar sekali pahalanya.
Besar sekali pahalanya.
Memberi makan dan minum, Teman-teman
sekalian, adalah sebuah ibadah yang
sangat ditekankan dalam Islam. Misal
contoh, beranjak daripada hadis riwayat
Imam Muslim.
Seorang sahabat bertanya, "Ya
Rasulullah, ayu islamin khair? Wahai
utusan Allah, perbuatan apa dalam Islam
yang paling besar pahalanya setelah amal
wajib? Beliau mengatakan, thaamu alif
lamif. Engkau memberikan makan orang dan
engkau mengucapkan salam kepada engkau
orang yang kau kenal dan kau tidak
kenal.
Di sini teman-teman sekalian kalau
setiap kali disebutkan makan kata ulama
berarti masuk dalamnya minum. Karena
tidak mungkin orang makan tanpa minum.
Kalau disebutkan minuman belum tentu
masuk makanan. Makanya umumnya dalil
biasanya menyebutkan masalah makan, tapi
di situ ada masuk di dalamnya minum. Dan
kita tahu dalam syari kita banyak sekali
perintah untuk ini. Seperti misalnya
kafarah ya, pembebasan. Kalau orang
berhubungan biologis suami istri di
siang hari Ramadan, bebasin Buddha,
puasa 2 bulan berturut-turut kalau tidak
bisa memberikan makan dan minum 60
orang. bersumpah salah demi Allah tapi
salah misalnya atau dusta di sini dia
harus bayar kafarah selain tbat kepada
Allah bebasin Buddha puasa 3 hari atau
memberikan makan 10 orang miskin kita
lihat memberikan makan ini adalah
sesuatu yang penting sekali
membeli air teman-teman sekalian ya air
itu juga hal yang sangat masuk dalam
masalah makanan boleh kita kasih makanan
tapi kalau makanan berarti masuk minuman
dalamnya atau kita memberikan air saja
hanya saja yang sedang kita bahas di
sini adalah khusus masalah air. Dan air
ini bisa saja untuk mandi, bisa saja
untuk masak ya, untuk maksudnya
mensucikan diri atau untuk minum. Dan
ini sebuah karunia yang besar air karena
ini pahalanya besar sekali. Seperti
misalnya sumur menggali sumur mengadakan
pengaliran air, orang pakai wudu, orang
pakai mandi, orang pakai masak. Semua
ini besar pahalanya. Dan Allah Subhanahu
wa taala mengatakan dalam Al-Qur'an,
naudubillahim minasyaitanir walna minal
mai
kami jadikan dari air itu semuanya bisa
hidup gitu ya.
Dosa besar ke-71 teman-teman, menahan
air. Maksudnya kita punya sumur, kita
punya saluran air. Pada saat orang-orang
lagi membutuhkan, kita malah tidak
kasih.
Ini masuk dalam dosa besar. Saya sudah
bilang tadi di dosa besar ke-70, makanya
saya hubungkan dengan 71. Kita kalau
mengenang kebaikan orang lain atau kita
berbuat baik sama orang lain, akan
datang unsur timbal balik yang sama.
Maka di sini kalau Allah Subhanahu wa
taala misalnya coba dengan musim
kemarau, orang semuanya orang semuanya
misalnya kekeringan. Kita punya sumur
jalan air, jangan malah merasa
teman-teman sekalian, oh ini sumur
berarti hanya untuk saya sama keluarga
saya. Saya enggak kasih orang lain.
Pastikan nanti sumur kita akan kering.
Tapi kalau kita kasih ke orang lain,
pastikan itu akan justru terus mengalir.
Itu sudah sunatullah.
Saya pernah temukan banyak sekali orang
seperti itu. Makin dia berbagi sama
orang lain, maka makin banyak sekali
manfaat yang dia dapatkan.
Ada seorang sahabat, subhanallah, saya
lupa namanya.
Beliau ini selalu, maaf ini bukan
sahabat, ini seorang tabiin. Beliau suka
sekali kalau lagi ee di kebun kurmanya
dia berikan bibit yang terbagus. Dia
kasih pegawainya gaji yang memuaskan
sehingga hasil panennya maksimal.
Dan sementara pohon-pohon itu diatur
buahnya supaya bagus, maksimal dipagarin
seluruh kebunnya sehingga enggak ada
orang boleh masuk di hari panennya. Maka
dia perintahkan agar seluruh pagarnya
dirobohkan,
seluruh pagar di hari panennya. Lalu dia
iklankan waktu itu di Madinah, siapa
saja yang mau kurma, silakan ambil
sepuasnya.
Dan subhanallah, pohon kebun kurma ini
terkenal sepanjang tahun gak pernah
berhenti berbuah. Padahal kurma biasanya
berbuahnya cuma setahun sekali. Tapi
gara-gara itu jadi terus berbuah.
Maka kita semestinya kalau buahnya lagi
berbuah ya, kalaupun misalnya mau dijaga
sampai matang dengan niat mau membagi
itu enggak ada masalah. Tapi kalau
dikantong plastikin dengan niat supaya
orang lain tidak rasakan ya pastikan
berbuahnya mungkin 2 tahun sekali.
Makanya coba berbagi. Coba berbagi.
Membiasakan diri berbagi ini penting
sekali.
disebutkan oleh beliau
dalam surah Al-Mulk diangkat oleh Imam
Azzahabi
ayat 30-nya.
Dan ini tentu ayat terakhir karena
Almulk 30 ayat
tentang peringatan Allah Subhanahu wa
taala bagi orang-orang yang pelit tidak
mau berbagi pada orang lain, terutama
masalah air.
Azubillahiminasyaitanirrajim.
Qul araitum in asbaha maukum guron
famikum bima main.
Katakanlah
terangkan kepadaku. Nabi sallallahu
alaihi wasallam disuruh oleh Allah
subhanahu wa taala sampaikan kepada kita
semuanya. Allah menyuruh kita terangkan
kepadaku. Jika sumber airmu menjadi
kering, siapa yang akan mendatangkan air
yang mengalir untukmu? Kata ulama
tafsir, ini tantangan dari Allah
Subhanahu wa taala. Kalau siapapun yang
berusaha menahan air, pasti Allah akan
keringkan dan siapapun yang berbagi
justru dia akan mendapatkan yang banyak.
Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda
dalam hadis Bukhari Muslim.
Imam Bukhari ini tadi yang saya sempat
keliru sebutkan di bahasan sebelumnya.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabus
Syurf wal Musaqah khusus bab bahas
tentang masalah memberi minum ya kepada
orang lain.
Kemudian hadisnya disebutkan nomor 2354
dan Imam Muslim dalam kitab Almusaqah
juga memberi minum orang lain artinya di
nomor 1566
Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda
laad maa atau mai litamna bihil kalaa.
Janganlah kalian menahan kelebihan air
sehingga dapat menghalanginya kepada
rerumputan.
Kata ulama hadis, kalau seandainya
rerumputan saja dianjurkan agar
memberikan air kepadanya, menyiramnya,
membiasakan dia basah.
Itu adalah perintah bagaimana dengan
memberikannya kepada manusia. Kita juga
sudah tahu hadis Bukhari tentang ada
orang dulu di Bani Israil pada saat dia
turun ke sumur kemudian dia haus lalu
kemudian dia keluar dia lihat ada anjing
yang lidahnya sudah sampai ke tanah.
Sebuah riwayat menjelaskan di lidahnya
melekat banyak tanah karena hausnya.
Lalu dia berkata, "Sungguh anjing ini
telah tertimpa kehausan seperti aku."
Dia turun, sepatunya diisi dengan air.
Lalu dia gigit sepatu tersebut. Lalu dia
berusaha manjat dari sumur tadi dengan
kedua tangan dan kakinya. Begitu dia
keluar, dia minumkan air tersebut kepada
anjing. Maka Allah membalasnya dengan
memasukkannya ke dalam surga.
Ada juga seorang wanita pelacur
disebutkan dalam sebuah hadis yang sahih
yang memberikan minum kepada seekor
anjing. Lalu Allah maafkan kesalahannya
semua gara-gara perbuatan tersebut.
Padahal anjing, Teman-teman, hewan yang
najis. Kita tahunya enggak boleh dimakan
dagingnya, air liurnya kalau kena kita
najis. Tapi ternyata memberikan minum
kepada dia saja sudah berpahala.
Bagaimana kalau kita berikan kepada
kedua orang tua kita? Kita berikan
kepada pasangan hidup kita, kita berikan
kepada anak-anak, berikan kepada anak
yatim, berikan para penghafal Al-Qur'an,
berikan kepada buka puasanya orang
puasa. Bagaimana pahalanya?
Dan juga di sini dari hadis ini diambil,
Teman-teman, hadis Bukhari Muslim. Kata
ulama, siapapun yang menyiram tanaman
atau memberikan minuman kepada hewan
dengan niat ini adalah makhluknya Allah
juga. Dia akan dapat pahala dari situ. J
kalau teman-teman yang suka tanaman di
depan rumahnya ada, dia siram niatkan
untuk itu, maka dia akan dapat pahala
juga. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam di dalam hadis Bukhari,
Imam Bukhari meriwayatkan ini dalam
kitabus syurf wal Musaqa di nomor 2354.
La tabiu fadlal ma. Janganlah kalian
menjual kelebihan air atau air yang
lebih.
Dan juga ini disebutkan dalam hadis atau
dalam lafaz yang lain, la tamnau,
janganlah kalian menghalangi.
Dalam riwayat Imam Muslim dalam kitab
almusaqah di nomor 156, lafaznya la
yubau fadlal mai liyuba bihil kalaa.
Tidak boleh kelebihan air dijual agar
tidak timbul kesan bahwa rumputan itu
dijual.
Nanti saya jelaskan maknanya.
Yang dimaksud dengan hadis ini,
Teman-teman sekalian, adalah bukan
berarti tidak boleh menjual air
sebagaimana sekarang banyak orang
menjual air mineral. Tapi yang dimaksud
adalah kata ulama hadis, kalau
seandainya terjadi kemarau lalu
seseorang kebetulan tadi saya kasih
contoh punya sumur dan dia punya air
banyak, dia menunggangi keadaan supaya
orang-orang membeli dalam keadaan
betul-betul orang perlu. Beda kalau
semuanya orang mampu. Kayak sekarang
masyaallah di Indonesia dengan beragam
macam cobaan yang sedang ada. Tapi Allah
mudahkan kita mudah mendapatkan air di
sana sini. Bahkan di depan rumah kita,
kita menggali untuk sumur bor pun kita
bisa dapatkan air. Seketika dengan luar
biasa Allah keluarkan bahkan airnya
bersih, layak untuk diminum misalnya.
Maka kalau zaman seperti itu tentu tidak
ada hubungannya. Tapi yang dimaksud sini
adalah kalau seandainya orang lagi butuh
sekali kemudian dia menahan airnya. Itu
yang dilarang dalam hadis tadi yang
dilarang transaksikan itu. Tapi kalau
seperti sekarang ada air banyak orang
bisa mendapatkan tapi orang mau mencari
kualitas yang lebih bagus itu enggak ada
masalah. Tidak ada larangan dalam
masalah itu.
Hadis selanjutnya dari Amru bin Syuaib
dari bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Dan hadis
ini hadis sahih riwayatkan Imam Ahmad di
jilid 2 nomor 179
183 dan 221 dan disahihkan oleh Syekh
Albani dalam silsilah sahihah di nomor
142.
Nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda,
yaumalqiamah. Barang siapa menahan
kelebihan air yang dimilikinya dan
kelebihan untuk rumputnya, niscaya Allah
akan menahan kemurahannya pada hari
kiamat. Artinya dia punya air melimpah
di rumahnya, tapi tanaman depan rumahnya
tidak pernah disiram, dibiarkan saja.
Dia tidak pernah memberikan air itu
kepada orang lain. Sementara mungkin
orang butuh atau makhluk Allah yang lain
butuh. Maka Allah pun akan menahan
untuknya karunia pada hari kiamat.
Sebagai penutup dalam bahasan kita, dua
hadis yang terakhir adalah hadis
muttafaqun alat riwayat Bukhari Muslim.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab
Syurb al Wal Mussaqa, masih sama dalam
bab memberi minum kepada orang lain.
Nomor hadis 2369. Imam Muslim dalam
kitabul iman.
Nomor hadisnya 108. Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam bersabdaun
yukimumullahu waiumti
wumabun alimulun
imama yubuun
fainahu minha waa lahu waamhi minha lam
yafi lah warajulun baa rajulan silatan
ba'dal asr fafa billahi laakha bik
Ada tiga orang yang mana Allah tidak
akan bicara kepada mereka pada hari
kiamat, tidak melihat kepada mereka dan
Allah tidak akan mensucikan mereka di
timbangan amal. Sudah sering kita
jelaskan potongan-potongan hadis seperti
ini. Artinya kalau dosanya lebih banyak
pun, kalau orang ini berbuat salah satu
dari tiga dosa ini, maka mereka tidak
akan dimaafkan oleh Allah sehingga masuk
ke neraka dulu. Serta bagi mereka siksa
yang pedih artinya akan masuk neraka
dulu. yaitu yang pertama seseorang yang
mempunyai kelebihan air di tanah lapang
namun dia menahannya bagi musafir. Jadi
di sini kita lihat hadis ini merincikan
apa yang kita jelaskan sebelumnya. Kalau
menjual ail atau transaksi yang dilarang
adalah kalau seandainya orang dalam
keadaan butuh, dia tahu orang butuh dia
menahannya. Ini pernah terjadi di zaman
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Seorang
Yahudi yang sengaja pada saat musim
kemarau dia menjual air mahal
kepada muslimin secara khusus gitu kan.
Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan, "Siapa yang membeli sumur
itu, dia akan masuk surga." Maka Utsman
bin Affan pun membeli sumur tersebut dan
diwakafkan untuk muslimin. Dan sudah
pernah saya ceritakan kisahnya bagaimana
sumur itu sampai hari ini masih ada
airnya.
Jadi di sini dimaksud adalah menahan air
bagi musafir sengaja tidak memberikan
air. Sebaliknya berarti pemahamannya
adalah kalau orang memberikan air
pahalanya besar.
Yang kedua, seseorang yang membaiat
seorang pemimpin, maksudnya dia setuju
presidennya, rajahnya, khalifahnya.
Namun dia tidak membaiatnya melainkan
karena urusan dunia saja, bukan karena
perintah agama. Ya, kebetulan jadi
presiden. Sudahlah seperti itu. Ini
enggak boleh terjadi pada seorang
muslim. Memang dia tahu kalau pemimpin
harus ada dalam Islam dan karena Allah
yang suruh, maka dia harus lakukan. Gitu
kan. Dan saya sarankan teman-teman
sekalian di majelis kita ini bagi
orang-orang yang ikut di majelis saya
tentunya saya nasihatin saja dan ini
lebih baik kita lakukan. Jangan mudah
menghina pemimpin teman-teman sekalian.
Gak boleh menghina fisiknya, menghina
apalah menghina jalur nasabnya. Enggak
boleh ini, Teman-teman sekalian. Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Man
ahana amiruhu ahanahullah." Siapa yang
menghina pemimpinnya, Allah akan hina
dia. Apa urusannya sama kita? Belum
tentu kita juga mampu kalau kita jadi
pemimpin. Saya sudah sering bilang
biasanya penonton bola lebih pintar
daripada pemainnya.
Pemainnya sudah latihan 20 tahun jadi
pemain bola. Tendangannya sudah bagus.
Begitu meleset bodoh gitu kan.
Padahal dia kalau tendang belum tentu
ya. Belum tentu. Sekarang saya tanya
teman-teman kalau kalau yang sudah punya
usaha ya anggap pegawai antum 3 orang
atau 5 orang. Betapa rumitnya kita urus
mereka kontrol dia datang jam berapa,
dia keluar jam berapa. pekerjaannya
sudah selesai atau belum. Bagaimana
kalau 10 orang pegawai? Bagaimana kalau
100 orang pegawai? Bagaimana kalau
lingkup RT yang mungkin menaungi 200 300
KK? Bagaimana kalau lingkup camat? Saya
pernah duduk dengan seorang camat. Saya
tanya, "Pak, berapa keluarga di bawah
naungan Bapak?" Dia bilang, "Kurang
lebih 3.000."
3.000 KK di bawah naungan dia. Dia
awasin muter-muter.
Lebih tinggi daripada itu mungkin ada
bupati, ada walikota. Sudah lingkup
lebih luas lagi mungkin puluhan ribu,
ratusan ribu rumah. Di atasnya lagi
gubernur lebih besar. Bagaimana dengan
presiden?
Masih syukur presidennya kalau masih
bisa senyum. Ya
lah. Iya. Betapa rumitnya urus negara
sebesar ini. Lalu antum datang tiba-tiba
membicarakan di sebelah gotung kopi. Ini
orang bodoh. Ini orang tidak pintar, ini
orang tidak tahu. Copot saja. Enak
benar. Memang baju kaos nih. Ha,
gak boleh, Teman-teman sekalian daripada
antum bicara tidak benar, doakan
kebaikan. Mudah-mudahan Allah berikan
kemudahan dia. Berikan hidayah, berikan
dia mudahin bayar ini, bayar utang. Coba
kita doakan kebaikan. Mesti begitu. Di
sini Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan bahaya ancamannya ya.
Ancamannya adalah Allah tidak akan
lihat. Allah akan siapkan azab yang
pedih. Allah tidak akan bantu dia
ditimbangan amalnya. Adalah seseorang
yang tidak membaiat, tidak menerima
pemimpinnya kecuali karena urusan dunia.
Jika pemimpin memberi haknya sebagian
dari dunia maka dia menepati baiatnya.
Ya, saya patuh sebagai warga negara
karena sudah diterima PNS. Ya.
Namun jika tidak memberikan dunia, dia
melamar, enggak bisa apalah satu dua
urusan dia belum selesai, maka dia tidak
menepatinya. Gak bagus nih pemimpin,
gitu kan.
Ini tentu ancaman ya. Artinya azabnya
pedih. Lebih baik kita doakan kebaikan.
Ini saran ya. Saya alhamdulillah bicara
tentang lingkup hukum syari. Saya bukan
khusus dengan satu atau dua orang
pemimpin. Karena ini hukum syari berlaku
sampai hari kiamat. Siapa saja pemimpin
kita? Kalau Firaun, Teman-teman
sekalian, Firaun mengaku Tuhan. Mengaku
Tuhan nih, "Ana rbukumul a'la." Saya
Tuhan kalian yang paling tinggi. Luar
biasa kalimatnya. Apa kata Allah kepada
Nabi Musa dan Nabi Harun? Idzhaba ila
Firauna waqu lahu layina. Pergilah
kalian berdua kepada Firaun. Ucapkan
kalimat yang baik. Firaun ngaku Tuhan
disuruh nasihati baik-baik. Firaun
jangan kamu salah. Gitu bahasanya.
Jadi harusnya kita santun ini ya karena
perintah Allah. Jangan lihat orang di
depan kita. Kita bakti sama orang tua
kita, Teman-teman. Bukan karena orang
tua kita, karena perintah Allah untuk
itu. Jadi mau orang tua kita jahat,
bejat, tidak urus kita dari kecil.
Enggak ada urusan sama kita itu. Enggak
ada urusannya sama sekali. Anak kita
lahir cacat, mau apa, mau nakal, anak
kita Allah bebankan hukum padanya, ada
haknya, kewajibannya, kita lakukan itu
karena Allah Subhanahu wa taala. suami
istri juga begitu dan semua makhluk di
depan kita seperti itu termasuk
pemimpin.
Golongan yang ketiga ini karena
terlintas bahasan dalam hadis ini ya,
maka saya rincikan. Golongan yang ketiga
yang Allah tidak akan lihat mereka pada
hari kiamat. Allah tidak akan
mengajak berbicara. Allah tidak akan
sucikan di timbangan amal. Dan baginya
siksa yang pedih adalah seseorang yang
menjual satu barang kepada seseorang
setelah salat asar. Kenapa diistilahkan
asar teman-teman sekalian? Karena di
zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam,
pasar itu akhirnya asar.
Menjelang magrib semua sudah tutup.
Enggak ada orang dagang malam. Zaman
dulu tidak ada penerangan kayak kita
sekarang. Maka asar tuh dianggap waktu
terakhir. Artinya di waktu-waktu
terakhir transaksi di toko seperti itu
loh ya. Kok kalau kita sekarang mungkin
jam 09.00 malam mungkin masuk di
dalamnya. Seseorang yang bersumpah
dengan nama Allah pada saat dia dagang
di akhir waktu dagangannya itu yang
dimaksud dengan salat asar. Dia
bersumpah atas sama Allah. Dia
mengambilnya dengan harga segini dan
segitu. Lalu dia membenarkannya. Jadi
misalnya kalau di toko sebelah lebih
murah tuh. Padahal dia belum pernah ke
toko sebelah.
Saya dapatkan harganya begini. Padahal
dia tidak hanya untuk mendapatkan harga
murah. Kalau kita memang mau cari betul
harga yang berbeda nanti ya saya belum
bisa transaksi misal. Itu bagus tapi ini
tidak boleh. Nah ini tiga golongan yang
Allah ancam. Saksi bahasan kita adalah
golongan yang pertama tadi yang orang
yang memiliki air lalu dia tahan untuk
para orang-orang yang butuh terutama
musafir. Dalam hadis ini sebagai penutup
teman-teman sekalian adalah hadis Nabi
alaihialatu wasalam diriwayatkan oleh
Imam Bukhari
dan lafaznya adalah warajulun mana fadla
ma fayquullahu taala alyauma amnauka
fadli kama manta fadla maain lam tamal
yadak.
Dalam lafaz yang tadi sebenarnya hadis
yang tiga golongan itu ada tambahan
dalam lafaz Imam Bukhari yang bunyinya,
"Dan seseorang yang sengaja menahan
kelebihan air yang dimilikinya, maka
Allah akan berfirman kepadanya pada hari
kiamat, pada hari ini aku tahan
karuniaku untuk kalian atau untukmu
sebagaimana kamu telah menahan kelebihan
air yang bukan dari hasil tanganmu."
Enggak ada hubungannya sama kita. Dari
mana kita bisa menahan air untuk orang?
Air itu Allah Subhanahu wa taala yang
adakan. Maka berbagilah.
Makin sering berbagi teman-teman, hati
kita makin ringan dan makin terbuka
adalah pintu-pintu rezeki. Saya temukan
subhanallah semua orang yang sukses dari
sisi finansial karena banyak orang
berpikir masalah harta maka kata
kuncinya makin sering dia membantu,
makin sering royal di jalan Allah, maka
makin terbuka rezekinya. Makin dia tahan
maka makin sulit dan akan pas-pasan
hidupnya. Oleh karena itu, berbagilah
teman-teman sekalian karena ini
rahasianya rezeki itu bertambah.
Allahuam. Baiklah, mungkin sampai sini
teman-teman sekalian.
Itu saja. Baik. Subhanakallahum whamdika
asadu alla ilahailla anta astagfiruka
waubu ilaik. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
[Musik]