Sirah Nabawiyah #20 : Syariah Syariah yang Diutus Oleh Nabi Alaihi Wassalam - Khalid Basalamah
3q40CIaFMdM • 2017-12-04
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Tidak pernah berhenti kita memuji Tuhan kita, Allah, dengan berharap agar segala kebutuhan kita dipenuhi oleh-Nya. Karena memang Dia dengan kemahakuasaan-Nya dan kemahasempurnaan-Nya telah menggantungkan segala kebutuhan kita untuk roda kehidupan di muka bumi ini dengan memuji nama-Nya, Alhamdulillah. Selanjutnya kita panjatkan salam hormat kita kepada manusia yang telah mengorbankan.... mayoritas dari waktu hidupnya untuk agama ini. Manusia yang telah disempurnakan jalur nasabnya, fisiknya, dan juga ilmunya oleh Sang Pencipta, Allah. Satu-satunya utusan Sang Pencipta, Allah, yang telah diutus untuk seluruh manusia bahkan untuk seluruh jin dan manusia. Dan juga, mengucapkan satu kali salam hormat ini akan mendatangkan 10 kali tambahan rahmat. Maka sangat wajar kalau kita selalu mengejar rahmat tersebut dengan membacakan shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad صلى الله على آله وصحبه وسلم. Melanjutkan materi kita, saudaraku seiman, masalah sirah nabawi... yang suci dan mulia. Setelah membahas panjang lebar masalah surat-surat Nabi عليه الصلاة والسلام kepada para raja-raja dunia, ada di antara mereka yang menerima, ada di antara mereka yang menolak, maka kita akan lanjutkan, insyaAllah.... dengan... sariyyah-sariyyah... yang diutus oleh Nabi عليه الصلاة والسلام untuk membersihkan... atau menyelesaikan... Jazirah Arab dari kekufuran, dan juga menyelesaikan sisa daripada suku-suku Arab yang belum diserang... disebabkan karena... mereka partisipasi dalam Perang... Khandaq atau Perang Ahzab. Nabi عليه الصلاة والسلام pada saat selesai mengirim atau sementara mengirim surat-surat tersebut, juga dari satu sisi beliau membentuk sariyyah-sariyyah. Dan sudah pernah kita jelaskan, teman-teman sekalian, sariyyah adalah... jumlah pasukan yang kurang lebih 3–100 orang. Sebagian ahli sirah mengatakan sampai 300 orang. Lebih daripada ini dinamakan pasukan perang. Dan ini salah satu strategi perang Nabi عليه الصلاة والسلام yang selalu sukses. Beliau mengirim tim-tim khusus. 3 orang, 10 orang, 7 orang, 15, pokoknya... dia bawa 300 orang jumlahnya, tergantung kondisi dan keadaan. Kemudian beliau... pada saat itu mengirim... menyerang satu tempat. Kalau berhasil, Alhamdulillah. Kalau belum berhasil, barulah Rasulullah ﷺ mengirim pasukan yang besar. Dan umumnya selalu ini berhasil. Dikirim pasukan-pasukan khusus... di mana mereka terlatih, yang memang mereka mampu untuk... mengalahkan... suku-suku besar atau bahkan menguasai sebuah wilayah baik itu perdesaan, perkampungan, kota, dan ini akan kita lihat banyak sekali dari... apa yang Nabi ﷺ lakukan. Pada tahun 8 Hijriah itu, masuk tahun 9 Hijriah, Nabi عليه الصلاة والسلام terus gencar... menghukum suku-suku Arab yang... partisipasi dalam Perang Ahzab, agar mereka tidak terpikir lagi untuk menyerang Madinah. Dan yang masyhur adalah yang pertama, Sariyyah Hawazin. suku Hawazin. Pada bulan Rabiul Awal, pada tahun 8 Hijriah, Nabi ﷺ mengirim Syuja’ bin Wahab ke suku Hawazin, dan berhasil menang serta mendapatkan banyak sekali harta rampasan perang. Padahal jumlah mereka... tidak lebih dari... 30 orang. Juga ada sariyyah Mulawwih, yang kedua. Sariyyah Mulawwih ini... Nabi ﷺ mengutus Ghalib bin Abdullah... ke wilayah Qudaid. Dan tepatnya ke suku Mulawwih yang dipimpin oleh Harith ibn Malik. Jumlah pada saat itu kurang lebih 15 sampai 16 orang dari sahabat yang terpilih. Tetapi dengan izin Allah Yang Maha Kuat, Ghalib bin Abdullah berhasil mengalahkan suku Mulawwih yang terdiri dari ribuan orang. Syuja’ رضي الله عنه... berkata: <i>“Kami berhasil mengalahkan mereka dan kami...</i> <i>mendapatkan tawanan juga</i> <i>hewan-hewan ternak yang sangat banyak.”</i> Jadi, Syuja’ ini kebetulan... ikut di... sariyyah, dia yang pimpin Sariyyah Hawazin, dan di Mulawwih ini dia juga ikut jadi pasukan. Maka dia menceritakan... kalau peperangan itu hanya belasan orang dan berhasil mengalahkan mereka dan banyak sekali membawa harta rampasan perang. Pada saat Syuja’ menyerang suku Mulawwih, pasukan inti mereka sedang keluar menyerang suku-suku yang lain. Jadi, Ghalib ini dikuatkan dengan Syuja’, dan Syuja’ ikut bersama Ghalib, kemudian dia menyerang dan mengatakan: <i>Pada saat kami sedang</i> <i>menyerang suku Mulawwih,"</i> pasukan inti suku ini terdiri dari sekian ribu orang, 2.000–3.000 orang, <i>“semuanya keluar lagi menyerang</i> <i>suku-suku yang lain.”</i> Perlu teman-teman ketahui, tradisi orang-orang Arab masa jahiliyah, mereka... tidak punya pekerjaan khusus. Tinggal di padang pasir. Nggak ada pendapatan khusus juga, ya. Perekonomian yang hidup waktu itu di Jazirah Arab hanya Mekkah. Yang lainnya ikut dengan Mekkah, karena Mekah ada jemaah haji yang datang, maka otomatis banyak pengunjung. Akhirnya ada transaksi beli makanan, minuman, pakaian. Kalau selain daripada itu, ada Madinah menjual kurma. Tapi umumnya, kurma juga yang dibutuhkan atau orang konsumsi hanya Jazirah Arab. Tidak semua dunia ini mengkonsumsi kurma, gitu. Sehingga ada satu tradisi yang tidak baik pada zaman itu. Ini di zaman itu, sebelum Islam mereka kenal. mereka saling menyerang satu sama yang lain. Jadi kadang-kadang seribu, dua ribu orang datang dari satu suku menyerang suku yang sebelah tanpa sebab. Tidak ada unsur agama, nih. Hanya sekedar untuk merebut... suku tersebut lalu mengambil harta-harta mereka, kemudian mereka hidup lagi berapa bulan, nanti serang lagi suku yang mana. Kadang-kadang juga yang sudah menyerang ini diserang lagi oleh suku yang lain. Begitu kacaunya keadaan Jazirah Arab pada zaman itu. Kebetulan suku Mulawwih ini, pasukan intinya sedang keluar menyerang satu suku, tapi tidak disebutkan dalam buku sejarah suku apa itu. Pada saat itu, Ghalib dan Syuja’ berhasil masuk... ke suku mereka dengan 16 orang saja. Tapi... Mereka menyerang setelah atau selepas shalat subuh. Dikira mereka ini adalah pasukan inti, pasukan besar. Maka akhirnya mereka pun berhasil... menguasai dan mengambil banyak sekali... pada saat itu, ghanimah. Syuja’ berkata bersama Ghalib ini... dua-duanya berkata: <i>“Kami...</i> <i>sempat pulang menuju ke Madinah,</i> <i>tapi rupanya pasukan inti Mulawwih...</i> <i>berhasil mengalahkan suku</i> <i>yang mereka jadikan target</i> <i>lalu mereka kembali ke sukunya</i> <i>pada hari yang sama.”</i> Syuja’ dan Ghalib ini baru jalan sebentar. Maka yang terjadi adalah... pasukan inti Mulawwih mengejar. Dan kata Syuja’: <i>“Sampai mereka berhasil menjangkau kami</i> <i>dengan jarak pandangan mata.”</i> Jadi saking cepatnya mereka mengejar, sampai sudah bisa menjangkau, dan kalau bisa dijangkau dengan pandangan mata, berarti sudah juga terjangkau dengan lemparan tombak dan juga anak panah. Kata beliau: <i>“Demi Allah, pada saat itu langit sangat terang dan terik matahari sangat panas.</i> Tapi... <i>tiba-tiba waktu mereka sudah</i> <i>mendekat kepada kami, turunlah hujan...</i> <i>dan di sisi mereka,</i> <i>bukan di sisi kami.”</i> Ini padang pasir yang luas. <i>“Turun hujan lebat,</i> <i>sehingga saking lebatnya,”</i> kata Ghalib dan Syuja’, <i>“kami melihat mereka</i> <i>Kami lagi panas,</i> <i>terik panas.</i> <i>Tapi mereka di belakang kami</i> <i>turun hujan lebat,</i> <i>saking lebatnya sampai membuat</i> <i>mereka tidak bisa jalan,</i> <i>Dan membuat sebagian wilayah</i> <i>padang pasir tersebut...</i> <i>digenangi oleh air yang sangat deras</i> <i>sampai menjadi sebuah sungai</i> <i>dalam waktu yang seketika.</i> <i>Sehingga mereka pun tidak berhasil</i> <i>menyerang kami.”</i> <i>Mereka tidak berhasil</i> <i>menyerang kami.</i> Nabi عليه الصلاة والسلام juga mengirim sariyyah... sebelum terjadi Perang Mu’tah yang besar. Sariyyah yang dipimpin oleh Ka’ab bin Umair رضي الله عنه kepada... atau ke wilayah... Dhat al-Wah. Tepatnya di Lembah Ummul Qura. Sekitar 14 orang saja jumlah sahabat ini. Awalnya tujuan sariyyah ini berdakwah. Dan mereka keluar dari Madinah sejauh 600 mil dengan berjalan kaki. Saat tiba di Lembah Ummul Qura, tiba-tiba Muslimin diserang oleh suku Ghassan, dan semuanya terbunuh kecuali satu orang yang berhasil melarikan diri pada saat itu. Dan melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi عليه الصلاة والسلام, dan inilah juga pemicu... nanti Nabi ﷺ menyerang suku Ghassan. Kalau masih ingat, teman-teman sekalian, saya sempat jelaskan juga... Nabi عليه الصلاة والسلام sempat mengirim surat ke... Harith al-Ghassani, dan dia menolak. Dia mengatakan, <i>“Siapa Muhammad itu?</i> <i>Mau mengajak saya untuk tunduk kepadanya</i> <i>sementara saya punya 100 ribu pasukan.”</i> Dan dia bersekutu dengan bangsa Romawi. Ini semua nanti kalau diakumulasikan penyebab utama terjadinya Perang Mu’tah, dan akan kita jelaskan Perang Mu’tah sebentar lagi, insyaAllah. Jadi di sini, teman-teman sekalian, sariyyah yang terakhir yang Nabi ﷺ utus sebelum terjadinya Perang Mu’tah adalah perang ini. Sebenarnya ini sariyyah, sekali lagi... tujuannya untuk berdakwah. Tapi dinamakan sariyyah oleh sebagian ahli sejarah karena memang terjadi peperangan pada saat itu. 14 orang sahabat ini berusaha untuk melawan, tapi karena... yang menyerang mereka ribuan orang, maka akhirnya terkalahkan. Dan hanya satu yang berhasil kembali, akhirnya... melapor kepada Nabi ﷺ. Dan Nabi ﷺ tidak pernah... meninggalkan kesempatan musuhnya untuk menyiksa atau menakut-nakuti kaum Muslimin. Dan ini kita sayangkan, Subhanallah, hilang dari keadaan Muslimin di zaman sekarang. Umat Islam dihina, masjid dibakar, perempuan diperkosa, segala macam, laki-laki dibantai, tapi tidak ada pemimpin Muslim yang bergerak. Ini kalau di zaman Nabi ﷺ kalau kita bandingkan dengan negara kita Indonesia, atau negara-negara... Islam sekarang, ya. Banyak sekali negara-negara Islam: Saudi, Mesir... Turki, negara-negara yang besar sebenarnya. Kalau dibandingkan Madinah di zaman itu, ya. Madinah di zaman itu kota kecil. Kota kecil, kampung, perkampungan yang dianggap kampung di Jazirah Arab, bahkan di dunia tidak ada yang mau melihatnya. Sudah saya ceritakan bagaimana... Barwiz pun... dan Bazan, orang Persia, menganggap remeh Madinah, sampai-sampai mengirim dua orang saja panglima perangnya. Tidak butuh mengutus pasukan, gitu, atau mengutus pasukan ke sana. Tapi Subhanallah, Nabi ﷺ buktikan... kepada kita semua dan kepada mata dunia... kalau Islam ini agama Allah, tidak mengenal jumlah orang yang memperjuangkannya dan berjihad. Tapi kapan agama ini... dibutuhkan maka akan mengekspansi atau menyerang wilayah-wilayah dan mempertahankan kebenaran agama, dan Allah menangkan gara-gara itu. Dan ini terus saja menjadi sebuah... sunnah Nabi ﷺ sampai beliau meninggal. Abu Bakar juga melakukan, mengutus pasukan untuk menyerang negeri Syam, tapi beliau meninggal, رضي الله عنه, sebelum terjadi itu. Zaman Umar bin Khattab setengah dunia dikuasai... sampai Persia, sampai Romawi, mayoritas wilayahnya dikuasai oleh kaum Muslimin. Zaman Utsman bin Affan juga sudah dibuat kapal-kapal perang. Zaman Ali bin Abi Thalib menyelesaikan masalah... fitnah internal. Dan di zaman Umawiyah, zaman Abbasiyah, zaman Utsmaniyah, semuanya ini adalah zaman jihad. Di mana... kaum Muslimin tidak pernah berhenti berjihad sepanjang tahun. Jadi ada wilayah-wilayah tertentu di mana mereka berjihad, dan ada wilayah di mana mereka... kembangkan syariat Allah ﷻ di wilayah yang sudah aman. Kalau wilayah-wilayah itu mau berdamai maka didamaikan dengan cara membayar jizyah. Kalau enggak, maka dikuasai oleh Muslimin dan diterapkan hukum syariat Islam di sana. Atau mereka mau masuk Islam dan dibiarkan mereka dengan kekuasaannya, cuma tinggal menerapkan hukum Islam. Dan ini yang kita sayangkan sekali, luput sekarang. Kita lihat kejadian saudara-saudara kita di Burma, luar biasa, gitu. Saya belum pernah melihat ada... manusia seperti itu. Jadi orang yang sesuku dengan dia, sama wajahnya, sama warna kulitnya. Mungkin kalau kita katakan beda suku, beda warna kulit, masih ada kemungkinan. Itu pun tidak mungkin terjadi, ya. Manusia bisa memotong manusia yang lain, itu... luar biasa gitu, ya. Kecuali dalam keadaan betul-betul membela akidah, membela agama. Itu pun dalam Islam kita diajar untuk kalau membunuh, membunuh dengan cara yang baik. Kalau sudah ditusuk, selesai. Enggak ada mutilasi. Ini orang hidup-hidup dipotong tangannya, dipotong kakinya. Saya lihat cuplikannya tidak masuk di akal. Tapi yang lebih unik lagi, tidak ada negara Islam yang bergerak. Paling jauh memberikan bantuan makanan dan minuman. Negara kafir pun bisa lakukan itu. Tidak ada pemerintahan Islam. Padahal kata Nabi ﷺ apa? <i>"Tidak akan mungkin terkalahkan umatku</i> <i>yang terdiri dari 12.000 pasukan."</i> Kalau kita sudah punya 12.000 orang, dan itu orang-orang beriman, cukup. Dunia ini dikuasai oleh kaum Muslimin. Enggak akan ada yang menghina muslimin, gitu, kan. Kita Alhamdulillah, Indonesia punya lebih daripada itu. Pasukan... Malaysia, Turki, Saudi, banyak, gitu. Tapi Allahu a’lam, kenapa? Apa hikmahnya mereka tidak bergerak dari satu sisi itu, ya? Apa mungkin ada pertimbangan tertentu? Mudah-mudahan Allah ﷻ menerima pertimbangan mereka, ya. Tapi ini jelas-jelas depan mata, pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah ﷻ. Tidak boleh membiarkan masjid saja satu dibakar, nggak boleh. Qur’an satu lembar saja dibakar, nggak boleh. Bagaimana dengan seluruh Qur’an? Dengan penghuni orang yang sedang shalat, dengan masjidnya, dengan perempuannya diperkosa? Bukan cuma itu. Saya sampai berpikir, kemungkinan besar pemimpin-pemimpin mereka di Myanmar ini mungkin mempelajari sebuah ilmu hitam yang... yang mungkin ilmu hitam itu dianggap dengan cara seperti itu, karena setan biasa lakukan itu. Orang-orang yang mau belajar ilmu kebal, orang yang mau belajar ilmu-ilmu yang berhubungan dengan setan, biasa begitu. Dia harus jadikan tumbal manusia. Karena sampai pada tingkat setelah mereka membantai, mereka memakan dagingnya. Saya lihat cuplikannya ini, أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. Luar biasa gitu. Ada manusia seperti ini. Yang jelas, teman-teman sekalian, kita berharap satu waktu Muslimin kembali dengan kejayaannya. Dan jumlah kita, Subhanallah, tidak sedikit. Jumlah kita tidak sedikit. Pasukan militer negara-negara Islam banyak. Apalagi... kalau dikuatkan dengan masyarakat, saya yakin umat Islam semuanya, jangankan militernya, masyarakat umum kalau dipanggil, mereka pasti siap untuk membela... agama Allah ﷻ. Dan kita sekarang tentunya, saya sangat menganjurkan semua imam-imam masjid sudah semestinya sekarang melakukan qunut nazilah. Di shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, yang Nabi ﷺ contohkan. Karena memang umat Islam luar biasa. Jangan teman-teman merasa sekarang misalnya... di media sudah tidak diangkat lagi kasus Burma atau Myanmar, itu sampai hari ini mereka masih dibantai, sampai hari ini mereka masih diserang. Dan ini kekuatan militer yang turun tangan, bukan perang antar masyarakat misalnya sehingga militernya menenangkan. Tidak. Mereka punya wewenang, mereka punya kelebihan, bahkan dapat jabatan... kalau mereka berhasil membunuh umat Islam. Itu kan luar biasa. Semoga Allah ﷻ mengangkat permasalahan mereka. Jadi kita belajar sirah, teman-teman, bukan hanya belajar sekadar mengenang kisah Nabi ﷺ, tapi mengambil hukum di sini. Nabi ﷺ tidak pernah membiarkan ada satu suku Arab pun yang coba menakut-nakuti Muslim atau menyerang Madinah. Walaupun dengan belasan orang, walaupun sekian puluh orang dikirim, serang mereka. Kalau kita lihat kisah di Abu Bakr رضي الله عنه pada saat Nabi ﷺ meninggal waktu itu... mayoritas suku Arab yang sudah masuk Islam setelah pembebasan Kota Mekah dan Perang Tabuk. Pada saat itu, teman-teman sekalian, mayoritas suku Arab murtad sampai dikenal dengan... Hari Riddah. Hari pemurtadan massal. Karena orang-orang yang datang masuk Islam sama Nabi ﷺ karena ketakutan saja... Di akhir peperangan Nabi ﷺ setelah Perang Tabuk, nanti kita lihat setelah pembebasan Kota Mekah, ada Perang Kota Thaif dan ada Perang Tabuk. Nah, pada saat itu suku-suku Arab karena ketakutan pada datang masuk Islam. Waktu meninggal Nabi ﷺ, mereka murtad semua. Madinah tinggal Madinah saja sama Mekkah yang menjadi basis Islam. Mayoritasnya semua murtad. Kalau Madinah sama Mekah jumlahnya cuma berapa ribu orang saja. Seluruh Jazirah Arab murtad. Lalu Abu Bakr bentuk pasukan. Tidak besar pasukannya, kecil. Cuma sekian ribu orang, seribu orang untuk beberapa pasukannya. Kemudian Umar bin Khattab sempat menasihati, <i>“Hai Abu Bakr,</i> <i>kenapa kita enggak kirim</i> <i>da’i saja ke mereka?</i> <i>Kenapa tidak kita nasehati saja?</i> <i>Untuk apa kita kirim pasukan?</i> <i>Kalau ini pasukan dikirim,</i> <i>Madinah kosong, nggak ada orang.”</i> Kata Abu Bakr, <i>“Tidak, demi Allah.</i> <i>Saya tidak akan pernah,”</i> karena di situ bergabung antara orang yang murtad, orang yang mengaku Nabi palsu, orang yang juga menolak membayar zakat. Kata Abu Bakr: <i>“Saya akan memerangi siapapun</i> <i>yang memisahkan antara zakat sama shalat.</i> <i>Dan juga saya akan memerangi siapapun</i> <i>yang pernah menyerahkan satu ekor domba pun</i> <i>kepada Nabi ﷺ (zakat)</i> <i>lalu dia berhentikan sekarang.”</i> Kata para ulama, maksud Abu Bakr, kalau orang Muslim yang menolak zakat tetap harus diperangi, bagaimana dengan orang yang murtad, bagaimana dengan orang yang mengaku Nabi palsu? Dan semua betul Abu Bakr perangi. Waktu keluar pasukan tersebut, Umar tinggal di Madinah, nggak ikut, menjadi... wakilnya Abu Bakr, penasihatnya Abu Bakr, saling berdiskusi, gitu. Umar mengatakan, <i>“Subhanallah,”</i> setelah terjadi peperangan besar-besaran, dan Muslimin menang. Waktu itu musuh sudah punya tamak yang sangat besar untuk menyerang Madinah. Karena mereka tahu mayoritas suku Arab murtad di Jazirah Arab. Mereka sudah punya keinginan besar untuk menyerang Madinah. Dan dengan hikmah Allah, Allah gerakkan hati Abu Bakr mengeluarkan pasukan dari Madinah, Semua pasukan inti di Madinah. Tinggal... Yang tinggal, sahabat-sahabat mulia: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan beberapa sahabat. Yang lainnya, semua sudah keluar mujahidinnya. Tinggal perempuan sama orang tua, sama anak-anak. Jadi Madinah kalau diserang, luar biasa, habis pada saat itu. Tapi kuasa Allah, dikirim semua pasukan inti keluar. <i>"Serang semuanya.</i> <i>Satu per satu, kalahkan.</i> <i>Dengan izin Allah, kalian akan menang."</i> Waktu itu tersebar berita di Jazirah Arab: <i>"Muslimin mengeluarkan pasukan</i> <i>ribuan orang.</i> <i>Berarti Madinah lebih</i> <i>banyak lagi pasukannya."</i> Padahal sebenarnya Madinah kosong. Enggak ada orang, gitu. Itu fakta sejarah. Dan gara-gara itu, Subhanallah, Muslimin menang, akhirnya dimuliakan oleh Allah karena berjihad, membela agama Allah. Dan juga akhirnya... Madinah jadi aman. Allah ﷻ menjaga... dengan kemahakuasaan-Nya. Baik, kita masuk, teman-teman sekalian, ke Perang Mu’tah. Setelah sariyyah-sariyyah tersebut, dan saya sudah sebutkan tadi, teman-teman sekalian, sebenarnya... penyebab Perang Mu’tah ini adalah... surat Nabi ﷺ dikirim kepada Al-Harith Al-Ghassani yang menolak untuk masuk Islam. Kemudian juga dia sekutunya... Romawi, yang juga Heraklius telah berkhianat. Pertama mengatakan syahadat, tapi ternyata... dia pura-pura. Nanti kita lihat di sini... sesuai dengan sabda Nabi ﷺ, <i>"Dia telah berdusta."</i> Dia takut mempertahankan imannya, karena khawatir hilang kerajaannya. Kemudian juga ada utusan Nabi ﷺ yang dibunuh oleh... pengikut suku Ghassan. Maka Nabi عليه الصلاة والسلام akhirnya mengutus pasukan. Nabi ﷺ terus memotivasi para sahabat. Umum, siapa saja mau ikut, silakan. Sampai terkumpul 3.000 orang. Dan jumlah ini termasuk jumlah yang paling besar sampai tahun itu. Belum pernah ada pasukan Muslimin sebesar 3.000 orang ini. Karena sebelumnya, kalau teman-teman review kembali Perang Khaibar, jumlah Muslimin cuma 1.400 orang, mengalahkan 10.000 orang pasukan Yahudi, gitu, kan. Sekarang waktu Nabi ﷺ motivasi jihad, segala macam, berkumpul semua simpatisan dan juga sahabat yang dasarnya memang militan atau memang dia militer, dia sudah tahu bagaimana berperang, sudah punya pengalaman-pengalaman bersama Nabi ﷺ, terkumpul sampai 3.000 orang. Lalu Nabi ﷺ... bersabda... setelah kumpul pasukan tersebut: <i>“Pemimpin kalian yang wajib kalian patuhi</i> <i>adalah Zaid ibn Harithah.”</i> Zaid ibn Harithah. Lalu kalau Zaid ibn Harithah... Tentu Zaid bin Harithah رضي الله عنه adalah orang yang mulia, ya. Anak angkat Nabi عليه الصلاة والسلام. Dulu di awal Islam punya nama Zaid ibn Muhammad. Dan terkenal juga dengan Hibbin Nabi عليه الصلاة والسلام, kekasih Nabi ﷺ. Kata Nabi ﷺ, <i>“Kalau Zaid bin Harithah...</i> <i>mati, wafat,</i> <i>maka diganti oleh</i> <i>Ja’far bin Abi Thalib.”</i> Ini juga adalah kakaknya Ali bin Abi Thalib. Beda 10 tahun dengan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Orang yang sangat terkenal dengan keimanannya. Dan dia... sempat menjadi da'i dan menjadi penyebab masuk Islamnya Najasyi. <i>"Kemudian...</i> <i>kalau Ja’far meninggal,</i> <i>maka digantikan dengan Abdullah bin Rawahah."</i> Abdullah bin Rawahah. Tentu ini isyarat dari Nabi عليه الصلاة والسلام, kata ahli sejarah, tentang akan mati syahidnya tiga orang ini. Karena Nabi ﷺ... tidak pernah menyebutkan: <i>“Semoga Allah merahmatimu</i> <i>di kancah peperangan,”</i> atau menyebutkan: <i>“Kalau si fulan mati digantikan oleh fulan,”</i> kecuali pasti berarti mati syahid itu. Begitu isyaratnya. Makanya para sahabat kalau lagi di kancah peperangan, mereka berharap selalu ngobrol dengan Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ mengatakan: <i>“Rahimakallah.”</i> <i>“Semoga Allah merahmatimu.”</i> Kalau mereka mendengar itu, mereka mengatakan: “وَجَبَتْ يَا رَسُولَ اللَّ” <i>"Sudah kami dapatkan, ya Rasulullah."</i> Dan betul, mati syahid sahabat itu. Mereka sudah tahu itu. Dan beberapa Yahudi... di wilayah Khaibar... waktu mendengar Nabi ﷺ ingin mengutus pasukan ini, kebetulan mereka... —pernah kita jelaskan di Perang Khaibar, teman-teman— tadinya orang Yahudi harus diusir, kan, keluar dari Khaibar. Tapi karena mereka minta: <i>“Sudahlah, kami nggak usah keluar</i> <i>dari Jazirah Arab.</i> <i>Ini semua jadi milik kalian.</i> <i>Kalian adalah tuan-tuan kami,</i> <i>dan kami bekerja buat kalian.”</i> Akhirnya orang-orang Yahudi tetap tinggal di Khaibar sampai nanti... di zaman khilafahnya Umar رضي الله عنه. Barulah kemudian... di zaman Umar ini, barulah kemudian mereka diusir dari Jazirah Arab karena mereka berkhianat. Yang jelas, beberapa Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, gara-gara itu Yahudi datang dan mereka berkata: <i>“Hai Muhammad,</i> <i>kami tahu dalam kitab Taurat,</i> <i>tidak ada seorang nabi pun</i> <i>yang mengatakan kalau</i> <i>si fulan meninggal,</i> <i>kalau si fulan meninggal,</i> atau mendoakan rahmat kepadanya, <i>kecuali pasti mati.”</i> Maka Nabi ﷺ tersenyum saja. Artinya: <i>"Kalian sudah tahu.</i> <i>Lalu kenapa tidak beriman?"</i> Ini juga, teman-teman sekalian, Nabi عليه الصلاة والسلام pada saat itu mengutus pasukan... di hari Jum'at. Jum'at pagi. Hari Jumat pagi diutus pasukan. Dan ulama mengambil pelajaran di sini kalau boleh safar di hari Jum'at. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang menganggap tidak usah safar atau tidak boleh safar hari Jum'at karena khawatir ketinggalan... shalat Jum'atnya, ya. Tapi Nabi ﷺ mengutus pasukan ini. Dan yang benar adalah... dianjurkan untuk tidak safar —tentu orang kalau pakai kendaraan darat, ya. Memang dia mampu mampir ke masjid. Beda kalau udara, beda kalau laut. Tapi kalau darat, kata para ulama, seperti di zaman Nabi ﷺ menunggangi unta, menunggangi kuda, kalau kita sekarang pakai mobil... ini masih bisa mampir ke masjid. Dan adzan Jum'at sudah dikumandangkan, maka tidak boleh safar. Itu hukum syar'i memang. Dianjurkan untuk hadir Jum'at dulu. Tapi kalau pesawat, kapal laut, yang memang dasarnya tidak mungkin orang mampir. Enggak ada masjid di pesawat, gitu, kan. Atau di kapal laut kalaupun ada musholanya, orang sudah musafir. Maka itu berbeda hukum syar'i-nya. Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه, yang merupakan... ditunjuk menjadi pemimpin yang ketiga, waktu lihat pasukan keluar sudah jalan —ini waktu Dhuha, habis shalat Dhuha— dia sengaja nggak keluar. Bukan tidak ingin ikut, tapi dia berpikir di otaknya dia pada saat itu, muncul di benaknya, رضي الله عنه: <i>“Ini, kan, hari Jumat, hari mulia.</i> <i>Nabi ﷺ tidak ikut perang,</i> <i>pasti beliau akan khutbah,</i> <i>beliau akan jadi imam Jum'at.</i> <i>Saya ikut saja dulu Jum'at,</i> <i>baru saya susul pasukan.</i> <i>Gampang kok, pasukan, kan, besar.</i> <i>3.000 orang,</i> <i>lambat jalannya.</i> <i>Habis Jum'at kalau saya keluar juga</i> <i>saya masih dapat pasukan itu.”</i> Niatnya ingin mendapatkan dua keutamaan: shalat Jum'at bersama Nabi ﷺ dan juga ikut berperang. Itu niatnya dia. Maka pada saat itu, dia pun... hadir Jum'at. Pasukan sudah jalan dari tadi, nih. Selesai... khutbah Jum'at dan pada saat Nabi ﷺ mau dirikan shalat jadi imam, Abdullah bin Rawahah berada di belakang Nabi ﷺ, di saf pertama. Tadinya Nabi nggak perhatikan dia. Selesai salam, kata Nabi ﷺ: <i>“Kenapa engkau tidak ikut pasukan,</i> <i>wahai Abdullah?</i> <i>Tadi, kan, sudah saya utus pasukan,</i> <i>kenapa kau nggak ikut?</i> <i>Kau kan pemimpinnya,</i> <i>salah satu pemimpinnya.”</i> Abdullah jawab, <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>pasukan lambat jalannya dan aku yakin</i> <i>aku bisa mengejar mereka</i> <i>selepas sholat Jum'at</i> <i>dengan Anda,</i> <i>supaya saya dapat juga</i> <i>keutamaan shalat Jum'at.”</i> Perhatikan di sini, teman-teman, apa jawaban Nabi ﷺ. Ini hadits yang mulia. Kata Nabi ﷺ, <i>“Demi Allah, wahai Abdullah,</i> <i>walau engkau menginfakkan semua</i> <i>yang ada di bumi ini,</i> <i>di dunia ini yang kau miliki, apa saja,</i> <i>semua dunia ini pun kalau</i> <i>kau miliki dan kau infakkan,</i> <i>niscaya kau tidak akan mampu mengejar</i> <i>pahala yang telah mereka dapatkan</i> <i>dari perjalanan pagi tadi</i> <i>sampai siang ini saja.”</i> <i>“Kau niat mau dapatkan</i> <i>Jum'at bersamaku?</i> <i>Enggak ada apa-apanya kalau dikumpul</i> <i>semua di muka bumi ini, apapun,</i> <i>mau dibandingkan dengan jihad.</i> <i>Jalan dari Dhuha sampai Jumat saja ini</i> <i>kau tidak akan bisa mengejar mereka.”</i> Maka Abdullah pun, رضي الله عنه, sempat menangis pada saat itu. Karena dia niatnya baik. Dia niatnya sebenarnya ingin mendapatkan keduanya. Saat ditanya oleh beberapa sahabat: <i>“Kenapa engkau menangis,</i> <i>wahai Abdullah?”</i> Dia menjawab: <i>“Aku takut pada api neraka</i> <i>karena kekeliruanku ini.”</i> Kekeliruan, ya. <i>“Sungguh aku tadinya ingin mengejar pahala</i> <i>Jum'at bersama Nabi ﷺ di masjid Nabi ﷺ.</i> Shalat bersama Nabi keutamaan, di masjid Nabi seribu pahalanya. Dan Jum'at, lagi. <i>Ternyata pahala yang besar justru</i> <i>di pasukan yang telah aku abaikan.”</i> Maka Abdullah bin Rawahah pun berdoa, mengatakan: <i>“Ya Allah, karuniakanlah aku</i> <i>mati syahid di jalan-Mu.”</i> Sekarang dia mau kejar pasukan. Dia berdoa juga, minta supaya mati syahid. Dan ini teman-teman sekalian, pelajaran yang harus kita ambil di sini: hukum syar’i, perintah agama sudah jelas, maka jangan ragu dalam menjalankan. Beberapa orang jelas sudah dalam safar, tapi masih ragu untuk jama’ qashar, misalnya. Masalah sederhana. Ada banyak orang saya temukan begitu. Kasus misalnya sudah di bandara, sudah jelas-jelas mau berangkat safar, masih shalat itmam. Betul memang pilihan, ya. Tapi keutamaan ada di situ, teman-teman sekalian. Memang Rasulullah ﷺ suruh kita jama' qashar kalau safar. Beda kalau antum sudah tiba di lokasi. Tiba di lokasi, pilihan. Tapi dalam perjalanan, jama' qashar. Misal saya pernah kasih contoh, orang mau berangkat dari Jakarta ke Surabaya satu jam saja penerbangan. Baik, kita mau take off jam... setengah satu atau jam satu siang. Anggaplah Dzuhur baru masuk. Banyak orang di bandara, saya temukan begitu, sering kali. Saya lagi masuk di mushalla-nya, shalat Dzuhur, saya pikir mereka lagi jama' qashar. Ternyata saya pikir dua rakaat mau salam, ternyata lanjut... sampai empat rakaat. Dan semuanya sama shalatnya begitu. Dan ini mereka akan satu pesawat dengan saya, nih. Kemudian salam. Maka saya jama’ dan mereka keluar bubar. Kemungkinan pertimbangannya adalah... akan tiba di Surabaya juga jam 2. Paling setengah 3 keluar, Ashar jam 3, masih ada waktu untuk ikut shalat Ashar. Betul memang... tetapi perintah agama, rukhsah-nya di situ. Nabi ﷺ mengatakan: “صَدَقَةٌ مِنَ اللَّهِ فَاقْبَلُوا صَدَقَةَ اللَّهِ” Tentang masalah jama' qashar shalat dalam safar. <i>“Itu sedekah dari Allah.</i> <i>Terimalah sebagai sedekah dari Allah.”</i> Dan Nabi ﷺ... sering kali, bukan sering, memang selalu kalau dalam perjalanan safar, menjama' qashar. Beda kalau sudah tiba di lokasi. Jadi kita sudah tiba di lokasi, kita masih musafir. Cuma 3 hari, cuma 6 hari, kita masih bisa musafir. Masih safar. Di sini punya pilihan, boleh kita ikut itmam sama orang-orang mukim atau memang kita shalat tetap qashar tapi dipisah waktunya. Dzuhur tetap dua rakaat, nanti Ashar juga tetap dua rakaat. Sebab masih ada senggang waktu. Atau dia mau jama' qashar, Dzuhur sama Ashar. Enggak ada masalah. Pilihannya banyak. Tapi kalau dalam perjalanan beda. Sudah beda. Nah, banyak orang meninggalkan yang afdal ini kepada mufaddhal. Ini kan afdal, lebih besar pahalanya. Jangan karena terbawa, <i>“Oh, nanti saya kehilangan shalat qabliyah."</i> Ya akhi dan ukhti... ada hadits Nabi ﷺ yang shahih berbunyi: <i>“Siapapun yang terbiasa mengerjakan<i> <i>sebuah ibadah di waktu dia senggang,"</i> bukan musafir, lagi sehat, <i>“maka akan dicatatkan</i> <i>pahalanya oleh Allah</i> <i>pada saat dia sedang sulit,</i> <i>atau sedang safar, atau sakit.”</i> Kita biasa puasa Senin, Kamis, kemudian kita safar, kita nggak puasa akhirnya, atau kita lagi sakit, maka... karena rutin kita kerjakan pada saat lagi senggang, itu pahalanya tetap jalan. Begitu juga orang musafir,. shalat qabliyah, shalat ba’diyah tetap dapat. Walaupun kita jama’ qashar. Nah ini banyak orang tidak paham, teman-teman sekalian. Artinya ini sebuah hukum saja yang kita bisa hubungkan dengan kejadian tadi. Jum’at wajib, jihad wajib. Jum’at siapa yang pungkiri kewajibannya? Siapa yang pungkiri keutamaannya? Bersama Rasulullah ﷺ di masjid Rasulullah ﷺ. Ini bukan main-main pahalanya. Orang kalau shalat sendiri, 1000 pahalanya di Masjid Nabawi. Kalau shalat berjamaah? 25 kali lipat. Berarti 25.000 pahala shalat Jum’at tetap dikalahkan karena perintah sudah ada di situ. Nabi ﷺ... pada saat mengutus pasukan ini, tepatnya di Jumadil Akhir tahun 8 Hijriah... Di pasukan ini, pertama kali terlibat seseorang tokoh Islam nantinya. Tapi baru masuk Islam, muallaf ini. Dia masuk Islam di tahun 8 Hijriah itu, kurang lebih baru 2-3 bulan masuk Islam orang ini. Dan dia pertama kali diikutkan oleh Nabi ﷺ di dalam peperangan. Dia adalah Khalid bin Walid رضي الله عنه. Karena dia baru masuk Islam. Baru masuk Islam bersama Utsman bin Talhah dan juga bersama Amr bin Ash yang menuju ke Madinah Dan dia masuk Islam justru karena motivasi Amr bin Ash رضي الله عنهم أجمعين. Khalid bin Walid ini, Subhanallah, Allah ﷻ menjadikan kemenangan kaum Muslimin dan agamanya di tangan Khalid ini, رضي الله عنه. Punya kiprah dan strategi perang yang luar biasa. Padahal tadinya cuma penduduk Mekah, tapi ternyata potensi yang ada pada manusia, teman-teman sekalian, tidak melihat wilayahnya. Jangan lihat orang dari fisiknya, jangan lihat orang dari daerahnya, tapi lihat potensi yang ada. Itu yang terjadi di zaman Nabi ﷺ. Jadi potensi kalau ada, maka kita anggap itu potensi. Jangan anggap, <i>"Oh, ini pasangan saya,"</i> <i>"Oh, ini teman saya,"</i> <i>"Oh, ini bawahan saya atau</i> <i>pegawai saya, orang kampung"</i> dianggap tidak mengerti. Enggak. Ada potensi yang ada padanya. Potensi itu kita besarkan Karena memang bisa saja itu yang terjadi. Ini yang terjadi nanti di Perang Mu’tah, teman-teman sekalian. Khalid bin Walid pertama kali ikut perang bersama Nabi عليه الصلاة والسلام. Dan juga nanti kita lihat bagaimana kiprahnya dalam... membuat pasukan Muslimin menang dalam peperangan. Walaupun jumlahnya 3.000 melawan kurang lebih 200.000 pasukan kafir. 100.000 dari suku Ghassan dan 100.000 dari suku Romawi. Suku Ghassan, teman-teman sekalian, pada saat mendengar pergerakan pasukan Muslimin, pimpinannya yang bernama Al-Harith bin Abi Syamar Al-Ghassani —ini sudah kita sebutkan surat kedua Nabi ﷺ yang kemarin kita jelaskan— itu dikirim kepada dia dan dia menolak. Maka dia karena tahu Muslimin sudah keluar dan dia tidak tahu berapa jumlahnya, dia mengirim surat kepada Heraklius. Heraklius yang tadinya Raja Kaisar Romawi yang masuk Islam kemudian dia murtad lagi. Di sinilah terbukti tentang pengkhianatannya, dan dia tidak betul pada saat dia mengatakan kepada Dihyah Al-Kalbi: <i>“Sampaikan kepada Nabi ﷺ</i> <i>kalau saya sebenarnya tetap dalam Islam.”</i> Ini bohong, terbukti pada saat ini. Dan juga nanti kita lihat pada saat Perang Tabuk nanti. Dan Nabi ﷺ akan menyerang wilayahnya Heraklius ini. Maka pada saat itu pun suratnya Al-Harith kepada Heraklius: <i>“Kita bersekutu dan berkoalisilah</i> <i>dalam melawan Muslimin.</i> <i>Saya memiliki 100.000 pasukan,</i> <i>maka kirimlah...</i> <i>pasukan juga kepadaku</i> <i>sejumlah itu.”</i> Maka... Heraklius pun membalas surat tersebut mengatakan, <i>“Iya,”</i> maka dia pun mengutus 100.000 pasukan untuk memerangi... pasukan Nabi عليه الصلاة والسلام. Heraklius berkata dalam balasan suratnya, <i>“Iya, aku bersama kalian.”</i> Dan ia mengirim 100.000 pasukan. Dan Al-Harith sendiri menyiapkan 100.000 juga. Maka berkumpullah 200.000 pasukan. Di antara mereka 50.000 pasukan berkuda... yang akan menghadapi Muslimin yang hanya berjumlah 3.000 orang saja. 3.000 melawan 200.000, teman-teman, nggak nyambung sama sekali. 20.000 orang saja, kalau 20.000 itu berarti baru 10% jumlah pasukan. Ini 3.000 lawan 200.000. Ini luar biasa. Sama dengan... jumlah tiga orang melawan... sekitar 1000 orang, 3000 orang. Gimana caranya? Satu masjid ini melawan tiga orang saja, gitu. susah sekali, kan? Karena kalau tiga ribu orang ini pun dikerumuni dengan 10 ribu orang saja, sudah tiga kali lipatnya, gitu, kan. Bagaimana dengan 200.000? Ditambah lagi, teman-teman sekalian, pasukan yang paling kuat di zaman dulu itu pasukan berkuda. Ya, sama kalau kita sekarang mobil tank, gitu, kan. Kuat sekali. Karena kudanya dipakaikan besi, orangnya juga di atasnya pakai besi, dan biasanya yang naik kuda ini sudah punya kemahiran. Di antaranya kalau kisah tentang Khalid bin Walid رضي الله عنه, sahabat Nabi yang mulia ini, dia termasuk yang bisa berperang... dengan dua pedang. Tangan kanan dan tangan kiri. dan dia menyetir kudanya dengan kedua telapak kakinya, dengan dua kakinya. Dia nggak pegang lagi tali kekangannya, saking mahirnya. Seperti itu, رضي الله عنه. Dan begitu juga orang-orang, banyak. Maka 50.000 pasukan kuda ini bukan hal yang ringan. 50.000 orang ini saja kalau melawan 3.000 sudah cukup. Masih ada 150.000 lagi yang lain... yang tidak berkuda, tapi mereka menggunakan senjata-senjata yang... besar, kuat, pakaian besi, dan seterusnya. Subhanallah, tapi kemenangan, teman-teman, bukan dari jumlah, tapi dari keimanan... dan keyakinan tentang Allah Sang Perkasa. Makanya Umar bin Khattab رضي الله عنه selalu mewasiatkan — padahal zaman Umar itu jihad besar-besaran, tidak pernah berhenti pasukan jihad. Datang pasukan sudah menang, dikirim lagi sama Umar. Datang lagi, dikirim lagi. Enggak boleh ada yang tinggal di Madinah. Enggak pernah berhenti. Di zaman Umar bin Khattab bisa sampai ratusan... pasukan-pasukan yang diutus. Tiba berapa orang, berkumpul 15 orang, <i>“Kami mau perang!”</i> dikirim lagi. 100 orang, kirim lagi. Tidak pernah berhenti. Terus saja. Maka, teman-teman sekalian, Umar bin Khattab mewasiatkan kepada pasukannya semuanya: <i>“Ingat...</i> <i>tidak pernah dan</i> <i>tidak akan pernah,”</i> kata Umar, <i>“kalian mengalahkan jumlah musuh kalian</i> <i>dan senjata mereka.”</i> Ini Umar sudah berikan wasiat kepada kita. Artinya mungkin ini... adalah peringatan syar’i. kalau pasukan musuh pasti lebih banyak jumlahnya, pasti lebih... banyak senjatanya. <i>"Dan...</i> <i>perbedaan antara kalian dengan mereka</i> <i>karena kalian beriman kepada Allah.</i> <i>Karena itulah kalian menang.</i> <i>Mereka kufur,</i> <i>mereka bermaksiat.</i> <i>Kalau kalian bermaksiat kepada Allah,</i> <i>satu orang saja dari prajurit...</i> <i>di pasukan ini bermaksiat</i> <i>kepada Allah,</i> <i>sudah cukup posisi kalian</i> <i>sama dengan mereka."</i> Artinya berdosa dan berdosa, gitu, kan. <i>"Maka tentu saja mereka</i> <i>akan mengalahkan kalian</i> <i>karena mereka punya senjata dan</i> <i>mereka punya jumlah lebih besar.</i> <i>Tapi kalau kalian bertakwa,</i> <i>senjata dan jumlah mereka</i> <i>tidak ada fungsinya."</i> Itu kekuatan Muslimin di situ. Al-Harith, pada saat itu sempat mengutus adiknya yang bernama Sadus untuk memata-matai Muslimin. Sadus ini jalan dengan beberapa orang temannya dia, memantau, melihat mana pasukan Muslim, memantau jumlahnya, segala macam. Zaid bin Haritha, pemimpin Muslimin, sempat... melihat Sadus, lalu menangkapnya dan membunuh Sadus serta semua yang bersama Sadus juga terbunuh. Tapi tidak disebutkan berapa jumlahnya, agar mereka tidak berhasil membawa informasi jumlah Muslimin kepada... pasukan musuh. Kejadian ini makin menambah... semangat suku Ghassan dan Romawi untuk memerangi Muslimin. Karena kenapa mata-matanya dibunuh, apalagi ini adik kandungnya Al-Harith. Sadus yang terbunuh ini. Zaid bin Haritha رضي الله عنه tiba di wilayah Mu’tah. Dan Mu’tah ini, teman-teman sekalian, wilayah yang berada di... Jordania sekarang. Lembah Mu’tah dikenal. Gitu, kan. Melihat kejadian, atau melihat... pada saat itu di Mu’tah, beliau pun melihat... ternyata Mut'ah ini... tempat lembah... dan ada ujung lembah tempat yang paling bagus untuk... berkumpulnya Muslimin. Maka dikumpullah 3.000 pasukan tadi di tempat yang terbuka pada saat itu. Maksudnya terlihat sama musuh, tapi ada beberapa pohon yang rindang, yang bisa... mengelabui jumlah Muslimin, sehingga tidak diketahui. Kalau kelihatan di depan misal ditaruh 3.000 pasukan, musuh bisa mengira di belakang pohon-pohon ini mungkin ada... apa namanya... pasukan juga yang tersembunyi. Dan semuanya tujuannya tentu karena... Zaid رضي الله عنه juga mengutus mata-mata... yang berhasil naik ke gunung-gunung yang tinggi, bukit-bukit tinggi di sekitar lembah itu, dan melihat dari jauh jumlah pasukan. Dan zaman dulu mereka punya keterampilan, teman-teman sekalian, menilai jumlah pasukan. Karena, bentuk pasukan di zaman dulu satu, atau tidak banyak. Misalnya... kalau mereka bentuk kotak... ditaruh tiga... di depan, berarti jumlahnya satu kotak ini 500. Itu sudah umum dan itu kayak standar, semua orang lakukan itu. Kalau dia membentuk besar sekali, tidak ada bagian-bagiannya, maka itu jumlahnya 10 ribuan. Jadi dari situ mereka bisa menilai. Maka pasukan Muslim sudah bisa menilai jumlah pasukan musuh kurang lebih 200.000 orang pada saat itu. Kalau kita telusuri Mu’tah ini, lebih tepat lagi dia adalah perkampungan kecil terletak di sebuah lembah yang bernama Ma’an. Muslimin memasuki perkampungan Mu’tah, maka Zaid berkumpul dan bermusyawarah dengan tokoh-tokoh sahabat... dari Muhajirin dan Anshar... apa yang harus dilakukan, strategi apa yang harus dilakukan, atau diterapkan. 3.000 pasukan melawan 200.000. Musyawarah berjalan selama dua hari, dan terkerucut pada saat itu kepada dua poin. Yang pertama, Muslimin mulai menyerang, Enggak usah tunggu. <i>Begitu pasukan musuh sudah datang,</i> <i>takbir, serang saja.</i> <i>Karena target kita keluar</i> <i>memang mau mati syahid.</i> 3.000 orang, tapi semuanya mau mati. Beda dengan 200.000 yang memang takut mati. Yang kedua, mereka mengirim utusan ke Nabi ﷺ dan menunggu jawaban dari beliau ﷺ. Dan ini juga salah satu hukum syar’i. Kalau seseorang bingung... pasukan perang... atau gubernur sebuah wilayah, mereka bingung, mereka bertanya... jalan keluar kepada pemimpin yang... yang dianggap memimpin pada saat itu Nabi ﷺ. Kita tahu juga di zaman Abu Bakar, di zaman Umar, di zaman Umar terutama banyak sekali contoh di sini. Amr bin Ash رضي الله عنه seringkali menghadapi masalah di Mesir, maka beliau mengirim surat ke Madinah walaupun lama... tunggu jawaban dari Umar رضي الله عنه, dan Umar memberikan jawaban yang bijak. Pada saat itu setelah mengerucut kepada dua poin ini, <i>"Apakah kita mulai menyerang,</i> <i>atau kita mengirim surat ke Nabi ﷺ?"</i> Subhanallah... Lalu kata Zaid: <i>“Mana yang kita pilih?</i> <i>Serang saja, sudah nggak usah lagi</i> <i>kirim surat ke Madinah.</i> <i>Biarkan apa yang Nabi bilang serang,</i> <i>ya, serang.</i> <i>Dari awal di Madinah, kan,</i> <i>Nabi ﷺ sudah bilang,</i> <i>dikirim kita untuk berperang.</i> Atau kita pilih yang kedua. <i>kita nyurat dulu, kita sembunyi dulu,</i> <i>tunggu sampai surat Nabi datang balasan.”</i> Subhanallah, pada saat itu dari 2.999 sahabat, jadi kurang lebih tinggal Zaid bin Haritha sendiri, رضي الله عنه, yang memimpin, mengatakan: <i>“Bagaimana pendapat kalian?</i> <i>Sekarang saya minta pilih salah satunya.</i> <i>Enggak bisa lagi kita...</i> <i>menjalankan dua-duanya.</i> <i>Menyerang sambil mengirim surat</i> <i>itu nggak mungkin.”</i> Maka semuanya sepakat, tidak satupun... mereka semuanya sepakat... untuk menyerang. Dan mereka semua berseru, mengatakan: <i>“Wahai Zaid,</i> <i>kami tidak keluar di sini</i> <i>jauh-jauh dari Madinah</i> <i>kecuali ingin merindukan surga.</i> <i>Maka tidak usah kirim surat lagi</i> <i>ke Madinah.</i> <i>Kalau berubah lagi instruksi Nabi, kan,</i> <i>jadi masalah buat kita."</i> Sudah perang, ya perang, sudah selesai. Tidak ada yang mau pulang, nih. Memang sudah berharap mati. Dan mereka sangat memahami sabda Nabi ﷺ: <i>"Semua orang yang mati</i> <i>tidak berharap kembali ke dunia</i> <i>kecuali orang yang...</i> <i>mati syahid.</i> Bukan berharap ketemu istrinya lagi, ketemu anaknya, kembali ke kendaraannya — bukan. Berharap ikut perang lagi, terbunuh lagi. Begitu terus, karena besarnya pahala yang mereka dapatkan. Itu yang mereka rindukan dan tertanam betul-betul dalam hati para sahabat, رضوان الله عليهم masalah ini. Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه... berdiri dan berkhutbah di hadapan para sahabat waktu itu dengan perkataan yang masyhur. Dia mengatakan: <i>“Wahai Muslimin!</i> <i>Untuk apa kalian</i> <i>masuk Islam?</i> <i>Bukankah untuk</i> <i>masuk surga?</i> <i>Ini surga sekarang</i> <i>di hadapan kalian!</i> <i>Tinggal tunggu musuh tusuk,</i> <i>mati, selesai.</i> <i>Masuk surga.”</i> Kalau kita sekarang tunggu peluru kena satu, mati, selesai. 70 keluarga dijamin masuk masuk surga. Kita masuk surga tanpa hisab, semuanya abadi sudah. Mendapatkan kematian dengan kemuliaan, gitu, kan. Ini sekalipun juga jawaban bagi orang-orang yang jiwanya pengecut, tidak mau membela agama Allah ﷻ. Maka di sini, teman-teman sekalian, beliau berkata juga: <i>“Bukankah setiap orang dari kalian keluar</i> <i>dari Madinah karena berharap mati syahid?</i> <i>Ini sekarang peluangnya</i> <i>depan mata!</i> <i>Lalu untuk apa kalian</i> <i>ragu dan menunda...</i> <i>penyerangan?”</i> Tentu di sini, teman-teman sekalian, saya sudah bilang tadi, semuanya... semuanya sudah setuju sebenarnya, tapi... termasuk sunnah Nabi ﷺ, walaupun pasukan sudah keluar untuk berperang, tetap butuh motivasi-motivasi. Semua di kancah jihad dari zaman Nabi ﷺ sampai Khulafaur Rasyidin, sampai... Umawiyah, Abbasiyah, Utsmaniyah, semuanya, teman-teman, pasti tetap ada motivatornya. Ada orang-orang yang memberikan motivasi. Di perang... Di perang melawan Persia di zaman Umar bin Khattab dan dipimpin Sa’d bin Abi Waqqas, Sa’d bin Abi Waqqas memimpin 30 ribu pasukan melawan 240 ribu pasukan pada saat itu, dan menang. Salah satu strategi saat itu, waktu itu Sa’d lagi sakit, kena penyakit kulit yang di punggungnya penuh. Dia nggak bisa, karena bisul-bisul yang nggak bisa dia berdiri. Jadi dia harus tengkurap. Maka dia minta dinaikkan di atas bukit yang tinggi. Kemudian dia melihat peperangan, kancah peperangan dari atas. Waktu dia lihat pasukan musuh besar, dia tahu pasukan Muslimin ini memang mau tunggu jihad, memang mau mati syahid. Tapi dia tetap motivasi. Dia bentuk pasukan-pasukan dipecah jadi pasukan-pasukan kecil. Kemudian di setiap pasukan itu harus ada... orang yang suaranya indah dalam membaca Al-Qur’an, dan khusus memilih ayat-ayat tentang jihad dan keutamaannya. Yang satu lagi... yang akan menafsirkan.... ayat-ayat jihad itu dengan kalimat-kalimat... motivasinya. Sehingga betul-betul sebelum... sebelum bertemu dengan musuh, mereka sudah terbakar dengan semangat untuk mengejar... surga. Abdullah رضي الله عنه terus saja memotivasi pasukan sampai semuanya bersemangat dan bertakbir, dan siap untuk menyerang musuh. Seluruh pasukan Muslimin lalu berkemah di dalam Mu’tah menunggu pasukan musuh tiba. Dan ini teman-teman... 3.000 dibandingkan 200.000, berapa kali lipat itu? Itu luar biasa, jumlah pasukan yang sangat luar biasa. Ini kurang lebih... Ini kurang lebih kalau kita hitung sekitar 80 kali lipat, ya. Kurang lebih, ya. Karena kalau 3.000... Kalau kita hitung... 100 kali lipat, 300.000, kan, ini 200.000. Ya, kurang lebih 80 kali lipat dari jumlah. Jadi kalau kita... lagi mau olahraga, tim ini, sekian orang, lawannya 80... tim yang lain. Sendirian. Zaid رضي الله عنه mengatur strategi, teman-teman sekalian. Zaid membagi pasukannya menjadi lima bagian. Bagian depan, bagian tengah, bagian belakang, jadi berurutan tiga. Kemudian kanan dan kiri. Saat pasukan sudah saling berhadapan, tepatnya selepas... shalat subuh, masih gelap, tiba-tiba Zaid memerintahkan Muslimin untuk menyerang. Dan ini memang... salah satu sunnah Nabi عليه الصلاة والسلام: kita shalat subuh dulu, baru menyerang. Pasukan musuh sama sekali tidak menyangka pada saat itu serangan tersebut. Karena mereka selama ini kalau mau berperang, mereka tunggu matahari terbit, baru mereka saling berperang. Itu pun masih negosiasi. Ini nggak ada lagi negosiasi. Ini sudah terbakar semua semangatnya. Sudah mengejar surga, ya. Pasukan musuh karena tidak sangka sama sekali pada saat itu terjadi penyerangan, dan Muslimin menyerang mereka dengan sangat semangat dari pagi sampai maghrib. Enggak berhenti. Dan berhasil membunuh ratusan suku Ghassan dan bangsa Romawi. Mungkin teman-teman tanya, <i>“Bagaimana cara shalatnya?”</i> Shalat di atas kuda. Kalau tiba waktu shalat, mereka shalat masing-masing. semampunya, dengan isyarat mata karena sudah di kancah peperangan. Kalau pasukan belum saling menyerang, beda. Ada shalatul khauf. Ada pimpinan shalat, sebagian pasukan shalat, sebagian tidak. Ada caranya. Tapi kalau lagi berkecamuk perang, nggak ada waktu. Dan tidak mungkin mereka berhenti. Kalau mereka berhenti, malah jadi masalah. Ini luar biasa, teman-teman. Saya waktu baca riwayat ini, saya membayangkan mulai dari habis subuh sampai maghrib, nggak berhenti perang. Kita lari saja setengah jam sudah ngos-ngosan. Ini perang, menghadapi musuh. Dari subuh sampai maghrib, saking semangatnya mau mati syahid. Terus saja mereka menyerang dan berhasil membun
Resume
Categories