Transcript
kVLIbJXlLTw • Sirah Nabawiyah #18 : Kejadian Kejadian Setelah Perang Khaibar - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0214_kVLIbJXlLTw.txt
Kind: captions Language: id Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah... kita selalu mengucapkan kalimat yang selalu didengar oleh Sang Pencipta. Kalimat ini yang telah Dia turunkan... dari atas langit sana dan Dia perintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk diucapkan. Dan dengan memuji nama-Nya dengan kalimat mulia ini maka segala kebutuhan kita dipenuhi oleh-Nya. Juga kita panjatkan salam hormat, shalawat, dan taslim kepada manusia yang telah diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan kepadanya... dan ini dalam bentuk ibadah juga bagi orang-orang beriman... Dan juga dengan harapan yang sangat luar biasa... sebagai seorang hamba yang fakir kepada Tuhannya... agar diberikan 10 kali tambahan karunia yang telah dijanjikan dengan mengucapkan satu kali salam hormat ini. Juga sebagai balas jasa kepada manusia terbaik, manusia yang paling pantas untuk dicintai, dihormati, dan juga ditunduki syariat yang dibawa olehnya. Manusia yang paling penyayang dan pemimpin anak Adam... baik di dunia maupun di akhirat nantinya. Maka sangat wajar kalau kita selalu mengucapkan shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad صَلَّى اللهُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ Alhamdulillah pada pertemuan yang sebelumnya, teman-teman sekalian, kita sudah membahas panjang lebar dan lengkap dengan izin Allah, Perang Khaibar. Dan bagaimana kita lihat pasukan Muslimin berhasil menembus... benteng-benteng Khaibar... setelah mengepungnya... — jumlah total hari Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ di sana kurang lebih 40 hari sekian. dan untuk menembus... sekian banyak benteng orang-orang Yahudi, dan akhirnya berhasil... dimenangkan oleh Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Pelajaran yang sangat luar biasa yang harus kita ketahui, teman-teman sekalian, walaupun janji Allah sudah dipastikan... diberikan kepada orang-orang beriman, tetap... kita nggak bisa lepas dari sebuah sistem namanya Sunnatullah. Sistem yang telah Allah terapkan. Janji Allah Yang Maha Perkasa kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, akan menang menembus Khaibar... bukan didapatkan dengan duduk manis di Madinah. Nabi ﷺ waktu balik dari Perang atau Kesepakatan Hudaibiyah dan akan menuju ke Perang Khaibar, beliau bisa saja duduk manis di Madinah. Allah sudah janjikan menang nanti Khaibar akan mengalah dengan sendirinya. Ternyata, tidak. Yang dicontohkan Baginda Nabi ﷺ adalah beliau membentuk pasukan lalu beliau menuju ke sana, dan suka-dukanya, sebagaimana sudah kita jelaskan pada pertemuan yang lalu. Tangan Nabi ﷺ kena anak panah Yahudi, ada juga beberapa sahabat yang mati syahid. Suka-duka. 11 hari pertama mengepung benteng pertama, benteng Naim, juga tidak bisa tembus. Nanti setelah hari ke-11, hari ke-12, baru tembus benteng tersebut. Dan seterusnya benteng-benteng yang lain juga seperti itu... yang akhirnya dimenangkan oleh Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ dan Muslimin. Itu pun Nabi ﷺ dan para sahabat sempat akan diracuni juga oleh... wanita Yahudi yang bernama Zainab. Dan sudah kita jelaskan pada pertemuan kita yang sebelumnya. Jadi ini ada suka-dukanya, teman-teman sekalian. Berarti memang dalam melalui lika-liku kehidupan kita ini... sebagai orang beriman kita harus tahu, janji Allah benar, orang beriman akan diberikan kemenangan, akan diberikan harta kekayaan, akan diberikan kebahagiaan, akan diberikan keberuntungan, dan masuk ke surga nanti di hari kiamat, tapi butuh upaya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak ingin kita bermalas-malasan. Allah ingin kita berusaha. Makanya Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ pernah menemui beberapa orang di hari Jum'at, selepas Jum'at duduk di masjid, nggak bergerak. Kata Umar, <i>“Kenapa kalian di sini?”</i> Mereka bilang, <i>“Kami menunggu karunianya Allah.”</i> Kata Umar bin Khattab sambil memarahi mereka: <i>“Kalian betul-betul...</i> <i>sudah jauh dari ajaran agama kalian!</i> <i>Kalian sudah tahu,</i> <i>kalian memanggil Tuhan,</i> <i>‘Ya Allah berikan aku rezeki,’</i> <i>sementara kalian tidak ikhtiar, tidak berbuat.</i> <i>Dan kalian sudah tahu bahwasanya</i> <i>Allah tidak akan pernah mencatatkan</i> <i>langit akan menghujankan</i> <i>emas atau perak.”</i> Artinya disuruh bergerak. Kalau kita, teman-teman sekalian, cukup dengan beriman, <i>"Sudahlah, saya beriman.</i> Lalu shalat, <i>“Ya sudah, ucapin saja, saya shalat saja.</i> <i>Sudah selesai, masuk surga."</i> Maka itu berarti mudah sekali. Tapi Allah suruh kita ke masjid. Disebutkan fadilahnya, melangkah, ada wudhunya, ada wajibnya, ada sunnahnya, ada suka-dukanya, gitu, kan. Maka kalau antum misal seseorang di antara kita bertanya: <i>“Ustadz, saya sudah beriman, saya coba</i> <i>istiqamah masuk dalam pengajian-pengajian,</i> <i>coba menerapkan sunnah-sunnah Nabi,</i> <i>kenapa masih ada cobaan hidup?”</i> Ya memang harus. Harus itu dilalui. Dan kalau tidak ada suka-dukanya lalu apa yang akan antum kenang nanti di dunia ini? Dengan adanya suka-duka, adanya sakit, adanya gangguan orang, adanya sukses, adanya kalah, adanya menang, adanya sehat, adanya sakit — kita punya kenangan dalam kehidupan dunia. Kalau tidak, maka tidak ada sesuatu yang bisa diceritakan. Kalau polos-polos saja tidak ada sesuatu yang bisa dilalui. Maka tetap kita berpegang pada... firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam Surah Maryam. Renungi baik-baik ayat ini. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman: —أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ— رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّاࣖ (QS. Maryam [19]:65) Allah itu adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa semua langit dan bumi, dan apapun ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia. Hanya tunduk, patuh, nikmati, kerjakan apa yang diperintahkan dan dihalalkan, dan jauhi apa yang dilarang, dan bersabarlah dalam masalah itu. Lalui dengan suka-dukanya. Sabar, lalui. Maka kalian tentu tidak akan pernah mendapatkan Tuhan selain Dia. Jadi sangat jelas sekali bagaimana prosesi-prosesi kehidupan akan kita lalui. Dan itu yang dilalui oleh Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Ini pelajaran penting, teman-teman sekalian, karena kejadian Khaibar ini kejadian yang sangat besar. Janji pasti menang, tapi Nabi ﷺ lalui suka-dukanya. Begitu pula kaum Muslimin banyak yang mengkhayal: <i>"Oh, Kita akan bisa</i> <i>mengembalikan Palestina.</i> <i>Kita akan menang, kita akan begini,"</i> tapi mereka tidak ada upaya sama sekali. Tidak ada pendalaman ilmu agama, tidak ada upaya untuk berdoa kepada Allah, tidak ada upaya untuk mengatur sebuah strategi ke sana, nggak ada. Lalu kemudian mengkhayal Palestina akan kembali. Ya itu nggak mungkin, itu. Mustahil. Begitu pula orang-orang yang banyak menjadi da’i kemudian mereka berharap: <i>"Oh, agama bisa tersebar...</i> <i>tanpa harus bisa mengajar,</i> <i>nggak perlu mengajar,</i> <i>nggak perlu susun materi.</i> <i>Sudahlah, ini Islam terimalah, benar.”</i> Nggak bisa. Pasti akan ada proses-proses. Susun materi, sampaikan, ada orang yang terima, ada orang yang menolak, ada suka-dukanya, sebagaimana Nabi ﷺ melalui itu. Sekarang kita masuk, teman-teman sekalian, ke kejadian-kejadian setelah pembebasan Khaibar. Pada saat Nabi ﷺ tiba di Madinah setelah membebaskan Khaibar dan sudah takluk di tangan muslimin, maka Nabi ﷺ terus saja melanjutkan... mengirim pasukan-pasukan. Walaupun beliau tidak pimpin secara langsung, dikenal dengan sariyyah. Dan sariyyah sudah pernah saya jelaskan, khilaf di antara ulama ahli sejarah, ada yang mengatakan 100 orang ke bawah atau 3 sampai 100 orang dikatakan sariyyah, atau sampai 300 orang. Ini khilaf di antara mereka dan jumlahnya. Tapi maksimal jumlah 300 orang... dikatakan sariyyah. Artinya ini... brigade-brigade atau pasukan-pasukan kecil yang Nabi ﷺ sering utus untuk menjalankan misi-misinya. Nah, ini salah satu strategi perang Nabi ﷺ. Beliau tidak selamanya bentuk pasukan besar, tapi ada orang-orang yang terampil lalu kemudian diutus untuk menyerang musuh-musuh. Kalau mereka sudah berhasil dengan 20 orang, 30 orang, ya sudah, untuk apa kirim pasukan besar? Dan sering kali nanti kita akan lihat bagaimana... keberhasilan dicapai oleh pasukan-pasukan kecil ini. Nabi ﷺ kirim 28 orang, 40 orang, 50 orang, maksimal 300 orang. Tapi kebanyakan mereka berhasil... mengalahkan suku-suku yang jumlahnya ribuan, lalu untuk apa kirim pasukan besar? Mereka sudah takluk, seperti itulah. Dan saya sudah jelaskan juga, teman-teman sekalian, pada pertemuan sebelumnya bagaimana perang Khaibar, sebenarnya, penyebab utamanya adalah... karena Nabi ﷺ sedang menghukum semua... yang datang ikut partisipasi di Perang Ahzab. Setelah takluk Khaibar... dan ada perdamaian dengan orang-orang Quraisy, maka Nabi ﷺ mulai —waktu tiba di Madinah— mengutus pasukan-pasukan kecil, banyak sekali. Yang pertama, yang dikenal... dengan Sariyyah... Tu’bah. Ini sariyyah dipimpin oleh... Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ di bulan Sya’ban tahun 7 Hijriah. Karena tentu... Khaibar takluk di tahun 7 Hijriah. Langsung Nabi ﷺ, tidak pakai tunggu. Ini menandakan, teman-teman sekalian, bagi muslimin tidak ada waktu untuk diam. Harus bergerak menyebarkan agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Nabi ﷺ terus langsung bergerak... dan sariyyah ini dipimpin oleh Umar bin Khattab. Tujuannya adalah menyerang suku Hawazin. Karena Hawazin sempat ikut... di dalam Perang Ahzab. Dan Hawazin suku yang sangat besar. Jumlahnya saja... jumlah personil perangnya mereka itu, sama orang-orang sukunya —satu suku itu 30.000 orang. Jadi jumlah yang sangat besar. Kalau tidak salah malah 30.000 itu personil perangnya saja, sisanya masih banyak wanita dan anak-anak. Dan kita akan lihat nanti setelah pembebasan Kota Mekkah, Nabi ﷺ menyerang suku Hawazin secara khusus. Waktu itu Umar bin Khattab datang... dan pada saat Umar bin Khattab mendekati suku Hawazin di sekitar Mekkah, atau melewati Melkah sedikit, mendekati Kota Thaif, ternyata suku Hawazin melarikan diri karena tahu kalau Umar bin Khattab datang. Namun saya secara pribadi belum menemukan jumlah... berapa jumlahnya pasukan Umar bin Khattab ini. Yang jelas, mereka tiba di pemukiman suku Hawazin dan mereka sudah pada bubar semuanya. Lalu Umar tinggal beberapa hari, lalu Umar bin Khattab pun balik ke Madinah karena sudah dianggap tugasnya selesai. Di tengah jalan waktu pulang ke Madinah, Umar bin Khattab dan pasukannya melewati suku... Khuth'um. Suku ini, teman-teman sekalian, suku Khuth'um ini salah satu suku juga yang ikut di Perang... Ahzab, tapi pasukannya kecil, tidak besar. Pada saat itu ada seseorang dari sahabat yang berkata, <i>“Wahai Umar,</i> <i>saya tahu suku Khuth'um ini</i> <i>dan kamu juga tahu mereka</i> <i>terlibat dalam Perang Ahzab.</i> <i>Sekarang kita mumpung pulang,</i> <i>Hawazin tidak ada,</i> <i>bagaimana kalau kita mampir serang saja?</i> <i>Jumlahnya lebih kecil daripada Hawazin,</i> <i>jelas pasti kita menang.”</i> Maka jawaban Umar bin Khattab ini menjadi sebuah hukum syar’i. Kata Umar, <i>“Tidak, demi Allah,</i> <i>karena Rasulullah ﷺ hanya</i> <i>menyuruh aku ke Hawazin.”</i> Maka ini kembali lagi kepada, teman-teman sekalian, wajibnya taat pada pemimpin. Dan kita lihat bagaimana para sahabat kokohnya dalam... mematuhi pimpinan tersebut. Dan kita sudah jelaskan juga di Perang Khaibar, ada satu sahabat yang dilarang oleh Nabi ﷺ maju menyerang waktu ada... pasukan Yahudi menantang duel. Kemudian dia tetap ngotot... menunjukkan kalau dia mau melawan. Akhirnya dia dibunuh oleh tiga Yahudi melawan satu muslim, terbunuh. lalu kata Nabi ﷺ: <i>“Tidak akan masuk surga pembangkang.</i> <i>Saya sudah larang, jangan menyerang.”</i> Nggak boleh serang, harus patuh. Yang kedua, teman-teman sekalian, tentu tibalah pasukan ini di Madinah dan Nabi ﷺ menyambut mereka. Tapi tentu Hawazin belum terkalahkan —nanti akan kita bahas sekali lagi setelah pembebasan Kota Mekah. Yang kedua, Nabi ﷺ mengutus sariyyah Abu Bakr رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, dikenal dengan Sariyyah Abu Bakr. Dan kita lihat di sini, teman-teman sekalian, Nabi ﷺ mengutus sahabat-sahabat intinya. Jadi bukan berarti sudah menjadi sahabat Nabi lalu tidak ditugaskan. Ini mertua Nabi dua-duanya, yang pada saat itu umurnya juga sudah mendekati umur Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Karena Abu Bakr sama Nabi ﷺ beda 2 tahun. Begitu juga dengan Umar. Jadi orang yang sudah berumur. Pada saat itu Nabi ﷺ sudah berumur... kurang lebih 60 tahun, berarti Abu Bakr sudah umur 58 tahun. Dan dijadikan pemimpin perang. Umar bin Khattab di bulan Sya’ban yang sama —begitu sariyyah-nya Umar tiba, Abu Bakr diutus oleh Nabi ﷺ menuju ke suku Khuzarah dan Kilab. Khuzarah dan Kilab. Sariyyah ini dipimpin oleh Abu Bakr, dan pada saat Abu Bakr datang menemui dua suku tersebut, Abu Bakr berhasil mengalahkan mereka, serta pulang membawa banyak ghanimah. Kemudian yang ketiga, Sariyyah Bashir ibn Sa’ad رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Bashir ibn Sa’ad رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ seorang sahabat dari Anshar. Beliau memimpin, ini disebutkan jumlahnya dalam buku-buku sirah, 30 orang sariyyah-nya... menuju ke suku Murrah. Suku Murrah ini suku yang dipimpin oleh Al-Harith bin ‘Auf. Kalau teman-teman masih ingat, kita review pertemuan kita yang sebelumnya, yang Perang Khaibar, sempat waktu Uyainah bin Hisn... pemimpin Gatafan yang diberikan julukan Nabi ﷺ: "si bodoh yang dipatuhi" Dia sempat dinasihati oleh temannya, kepala suku Murrah namanya Harith bin ‘Auf, <i>“Nggak usah kamu ikut-ikutan.</i> <i>Muhammad sudah menang,”</i> segala macam. Tapi dia nggak mau dengar. Nah, suku Murrah ini... Al-Harith bin ‘Auf, walaupun dia sudah nasihatin Uyainah untuk tidak memerangi Nabi ﷺ, tapi dia juga ikut terlibat di perang... Ahzab. Maka Nabi ﷺ mengutus Bashir ke sana. Dan pada saat tiba di sana, berhasil mengalahkan... Ini di daerah Fadak, ya. Di daerah Fadak. Dan Fadak ini, teman-teman sekalian, adalah wilayah yang sudah kita sebutkan dikuasai oleh orang-orang Yahudi pada saat itu. Dan Fadak sudah takluk di tangan muslimin waktu itu, mereka membayar jizyah. Ternyata waktu itu suku Murrah sudah mendengar... tentang kedatangan Bashir dan teman-temannya, dan diketahui jumlah mereka hanya 30 orang. Maka terjadilah penyerangan tiba-tiba kepada 30 sahabat ini. 28 orang terbunuh mati syahid, dan... pemimpinnya sendiri, Bashir, sempat melarikan diri ke benteng Yahudi... yang terkenal dengan Benteng Fadak. Dan orang-orang Yahudi karena ada kesepakatan dengan Nabi ﷺ membayar jizyah, maka akhirnya... mereka... menerima Bashir dan Bashir berhasil... selamat, dengan ada juga satu orang sahabat yang akhirnya selamat. Pergi ke Madinah dan melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi ﷺ. Kejadian yang ketiga ini, sariyyah-nya Bashir, sempat sedikit memicu bangsa-bangsa Arab yang khawatir diserang. Mereka punya tamak untuk menyerang Nabi ﷺ, tapi mereka... masih belum berani melakukan itu. Nanti kita kembali ke masalah itu. Tentunya ada beberapa... kasus setelahnya berhubungan dengan Bashir ini. Setelahnya ada Ghalib. Sariyyah Ghalib, ini yang keempat, dikenal dengan Sariyyah Ghalib bin Laith رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Ini pada bulan Ramadhan. Jadi tadi bulan Sya’ban (ketiga syariah sebelumnya), ini yang keempat di bulan Ramadhan. Di tahun 7 Hijriah... Nabi ﷺ mengutus kurang lebih 130 orang yang dipimpin Ghalib bin Laith... ke suku 'Awal dan Tha’alabah. Suku 'Awal dan Tha’alabah ini juga dua suku yang ikut dalam... Perang Ahzab. Ghalib waktu itu sangat berhati-hati setelah kejadian terbunuhnya 20 orang sahabat Nabi yang dipimpin oleh Bashir di Fadak, bagaimana mereka diserang tiba-tiba oleh suku Murrah. Maka Ghalib memerintahkan agar... pasukannya yang 130 orang ini... mereka harus bergandengan tangan satu sama yang lain. Dan harus kenal siapa yang di sebelahnya ini. <i>“Ini kamu sama kamu,</i> <i>kamu harus mengenal...</i> <i>dari gerakan badan, dari bahasa, dari suara,</i> <i>harus tahu kalau ini sahabat dekatnya.”</i> Dan mereka harus jalan sama-sama, dan kalau ada misalnya muslimin di depannya, mereka bisa saling mengingatkan: <i>“Itu muslim, jangan sampai</i> <i>kita salah bunuh.”</i> Karena rencananya si Ghalib ini... akan menyerang dua suku tadi di malam hari. Pada saat itu, Ghalib bercerita, رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, dalam kisah ini. Dia bilang, <i>“Pada malam itu aku mencoba mengintai...</i> <i>dari sebuah tempat yang</i> <i>agak tinggi (bukit),</i> <i>di dekat pemukiman suku,”</i> atau musuh tadi, yang akan diserang. suku yang akan atau musuh yang akan diserang, <i>“Dan ternyata,</i> <i>aku menemukan mereka sedang</i> <i>mempersiapkan untuk menyerang Madinah.”</i> Besoknya ini rencananya mereka akan menyerang Madinah dan pasukannya sudah siap semuanya. <i>“Dan aku terus saja</i> <i>mengintai mereka</i> <i>tanpa aku sadar aku sedang berada</i> <i>di sebuah bukit yang cukup tinggi,</i> <i>dan itu adalah berdempetan dengan rumah</i> <i>salah satu penduduk...</i> <i>suku tadi (Suku 'Awal).</i> <i>Pada saat itu aku sempat mendengarkan</i> <i>pembicaraan dari dalam rumah itu...</i> <i>suami istri berbicara.</i> <i>Kata si suaminya pada istrinya:</i> <i>'Sungguh, semalam...</i> <i>aku tidak melihat</i> <i>bayangan itu di bukit itu.'”</i> Dari rumahnya kelihatan dari jendela, bukit itu kayak ada bayangan hitam. Dia bilang, <i>“Saya semalam tidak lihat bayangan itu.”</i> Ghalib berkata, <i>“Aku pun berusaha untuk tidak bergerak,</i> <i>khawatir ketahuan, sementara</i> <i>kami akan menyerang malam itu.”</i> Maka si pemilik rumah itu berkata pada istrinya: <i>“Ambillah busur dan anak panahku.</i> <i>Aku ingin memastikan</i> <i>apakah itu manusia atau bukan.”</i> Lalu kata Ghalib, <i>“Orang itu pun memanah ke arahku.”</i> Karena jarak yang tidak terlalu jauh, dan orang yang mahir memanah ini, walaupun malam hari dia tahu sasarannya kena atau tidak, maka dia mengarahkan panah tersebut. Kata Ghalib, <i>“Itu kena ke lenganku,</i> <i>dan sempat menyobek</i> <i>lengan kananku.</i> <i>Tapi aku berusaha untuk</i> <i>tidak bergerak walaupun darah...</i> <i>terus menetes.”</i> Sakit sekali, karena mereka membuat anak-anak panah itu... dibuatnya dari bahan-bahan yang sangat tajam. Kadang-kadang ujungnya ditaruh racun dan seterusnya. Maka karena orang itu masih penasaran, dia berkata pada istrinya: <i>“Demi Allah, aku yakin...</i> <i>panahanku tidak meleset.</i> <i>Tapi biar aku pastikan lagi.”</i> Lalu dia memanahkan lagi satu anak panahnya dan kata Ghalib, <i>“Kena pas di sebelah lukaku tadi,</i> <i>maka menambah sobekan tersebut.</i> <i>Tapi aku berusaha untuk</i> <i>tidak bergerak.</i> <i>Dan dengan izin Allah,</i> <i>aku betul-betul dimudahkan oleh Allah</i> <i>untuk tidak merasakan sakitnya.”</i> Orang itu lalu berkata pada istrinya: <i>“Demi Allah, kalau itu sesuatu</i> <i>yang bergerak,</i> <i>itu adalah sesuatu</i> <i>yang bernyawa,</i> <i>maka tidak akan mungkin</i> <i>dia bisa hidup.”</i> Anak panah tadi itu sudah mematikan pasti. Tapi ini tidak bergerak sama sekali. Maka gara-gara itu, kedua suami istri tidur malam itu, lalu Ghalib pun kembali ke pasukannya, lalu menyerang pada malam itu dan Alhamdulillah... berhasil. Pada saat sudah berhasil, teman-teman sekalian, maka Ghalib mengumpulkan pasukannya karena jumlahnya cuma 130 orang, suku 'Awal ini sangat besar—ribuan orang. Maka Ghalib mengatakan, <i>“Ingat,</i> <i>kalau ada yang lari,</i> <i>jangan dikejar.</i> <i>Biarkan saja.</i> <i>Cukup kita sudah menang dan mereka</i> <i>tahu muslimin sedang menyerang.</i> <i>Karena nanti khawatir</i> <i>ketahuan jumlahnya.”</i> Maka pada saat itu pun akhirnya... salah satu sahabat yang masyhur, namanya Usama bin Zaid رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُمَا, dia dan ayahnya... dikenal dengan kekasih Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Kebetulan dia... berjalan berdampingan dengan satu orang Anshar, berpegangan tangan, kalau ada musuh baru mereka lepas tangan, menyerang musuh. Rupanya Usama bin Zaid ini melihat... waktu lagi ditawan musuh-musuh yang ada di depan mereka, ada satu musuh dari suku 'Awal namanya Mirdas. Mirdas bin Nuhaik. Mirdas bin Nuhaik ini mencaci maki muslimin, mencaci maki Islam, mencaci maki Nabi ﷺ sambil dia lari. Dia cacimaki lalu dia lari. Tadi perintah pemimpin: jangan kejar, sudah biarin saja. Tapi Usama nggak bisa tahan lihat orang ini. Terus saja dia menghina... agama Islam, olok-olok tapi tidak disebutkan jenis olok-oloknya, yang jelas kata ahli sejarah, dia mengolok-olok dan dia juga menghina Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Maka, Usama bin Zaid supaya dia tidak melanggar perintah pimpinannya, dia coba menjalankan kudanya pelan-pelan. Kalau orang itu tidak menjauh, akan diserang oleh Usama. Waktu Usama mendekat, orang ini mengolok-olok. Kemudian Usama mendekat, dia lari. Usama jalan lagi, mendekat lagi. Dia olok-olok lagi. Begitu Usama lebih dekat, dia lari lagi, seperti itulah. Sampai akhirnya Usama tidak tahan. Usama pun turun dari kudanya... kemudian mengejar orang tersebut. Terjadilah duel antara Usama dengan orang ini. Dalam kisah yang masyhur —tentu antum sudah tahu kisah ini— tapi nama Mirdas mungkin tidak semua orang mengetahui kalau ini adalah kasusnya Mirdas bin Nuhaik. Maka Usama bin Zaid pun berhasil menaklukkan orang ini. Mirdas ditebas, dipukul sehingga... tangannya kena dan pedangnya jatuh. Lalu Mirdas, waktu melihat Usama mengangkat pedangnya, dia mengatakan, <i>“Asyhadu an la ilaha illallah</i> <i>wa anna Muhammadan Rasulullah.”</i> Usama yang angkat pedangnya... bingung, <i>"Ini orang...</i> <i>ditebas nggak ini?</i> <i>Tadi dia..."</i> kata Usama, <i>"sebelum dia ucapkan syahadat,</i> <i>dia berusaha menyerang saya.</i> <i>Kalau saya tidak berhasil membunuhnya,</i> <i>dia sudah bunuh saya."</i> Tapi Usama bimbang beberapa detik. Orang ini syahadat, dia juga diam. Setelah syahadat, dia diam. Nggak tahu harus ambil keputusan apa. Sahabatnya juga... Usama yang orang Anshar tidak tahu harus buat apa. Maka Usama ambil kesimpulan, bunuh saja. Ditebas sama Usama. Matilah orang itu. Karena orang ini padahal sudah bilang, <i>“Asyhadu an la ilaha illallah</i> <i>wa anna Muhammadan Rasulullah.”</i> Syahadat dia. Maka temannya Usama dari Anshar bilang: <i>“Wahai Usama,</i> <i>kenapa kau bunuh dia?</i> <i>Bukankah dia sudah syahadat?”</i> Kata Usama: <i>“Demi Allah, dari tadi dia</i> <i>mencaci maki Allah,</i> <i>mencaci maki Islam,</i> <i>mencaci maki Nabi ﷺ.</i> <i>Dan kemudian saya</i> <i>serang dia, dia melawan.</i> <i>Kalau saya tidak membunuh,</i> <i>dia sudah membunuh saya.</i> <i>Maka dia mengucapkan itu hanya</i> <i>takut melihat pedang saya saja.”</i> Kata orang ini, orang Anshar ini: <i>“Sungguh saya tidak tahu</i> <i>permasalahanmu ini.</i> <i>Harus dilaporkan kepada Ghalib,”</i> pimpinannya. Mereka tanya kepada Ghalib رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, <i>“Wahai Ghalib, kejadiannya seperti ini.”</i> Kata si Anshar, <i>“Usama ini bunuh satu orang.</i> <i>Mirdas namanya,</i> <i>sempat syahadat.</i> <i>Bagaimana?”</i> Kata Ghalib, <i>“Hai Usama, bagaimana kau bisa lakukan?”</i> <i>“Wahai Ghalib,</i> <i>dia jelas-jelas</i> <i>mencaci maki Islam,</i> <i>mencaci maki Nabi ﷺ.</i> <i>Lalu saya dekati dan</i> <i>saya serang, dia melawan.</i> <i>Kalau saya tidak membunuhnya,</i> <i>mungkin dia sudah membunuhku.</i> <i>Maka dia ucapkan itu</i> <i>karena takut saja...</i> <i>sama pedang.”</i> Ghalib karena bingung, <i>“Sudahlah, kalau begitu.</i> <i>Kita tidak ambil keputusan,</i> <i>tunggu di Madinah.”</i> Pulanglah pasukan ini membawa kemenangan pada saat itu, sampai bertemu dengan Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Lalu Ghalib menceritakan: <i>“Ya Rasulullah,</i> <i>ada kejadian begini.</i> <i>Bagaimana keputusannya ini?”</i> Karena kalau muslim bunuh muslim ini ada hukumannya. Tidak boleh sembarangan, gitu, kan? Ada hukuman. Urusan kita, teman-teman, menghakimi secara dzahir. Masalah dia munafik, dia bohong, dia pura-pura, itu urusan dia sama Allah. Dia syahadat berarti hukumnya kita tahu ini muslim. Maka di sini kata Nabi ﷺ: <i>"Panggil Usama."</i> Dipanggil, Usama. <i>“Hai Usama,</i> <i>kenapa kamu?</i> <i>Ada apa, nih?</i> <i>Ceritanya kenapa?”</i> Dia bilang, <i>“Ya Rasulullah,</i> <i>ada orang namanya Mirdas tadi.</i> <i>Dia berusaha untuk mencaci maki Islam,</i> <i>mencaci maki Anda.</i> <i>Dan dia waktu saya dekati,</i> <i>saya serang, dia melawan.</i> <i>Dan kalau bukan saya memukulnya,</i> <i>maka dia sudah membunuhku.</i> <i>Pada saat pedangnya jatuh dan dia tahu</i> <i>pedangku sudah aku angkat, ya Rasulullah,</i> <i>akan menebas lehernya, dia mengatakan,</i> <i>'Asyhadu an la ilaha illallah</i> <i>wa anna Muhammadan Rasulullah.'”</i> <i>- “Lalu kenapa kau bunuh?”</i> Dia bilang, <i>“Ya Rasulullah,</i> <i>jelas-jelas dia mengucapkannya</i> <i>karena takut lihat pedang saya.”</i> Kata Nabi ﷺ pada saat itu: <i>“Apakah engkau telah</i> <i>membelah dadanya,</i> <i>sehingga engkau tahu bahwasanya</i> <i>ia jujur dan takut dari pedang?”</i> Usama masih menjawab, mengatakan, <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>ia benar-benar terlihat mengucapkan</i> <i>saat pedang sedang aku angkat ke arahnya,</i> <i>bukan syahadat sebelumnya.</i> <i>Waktu pedangnya jatuh,</i> <i>pedang sudah aku angkat,</i> <i>dan semua orang duel pasti</i> <i>tahu masalah itu.</i> <i>Ini kalau musuhnya sudah jatuh pedangnya,</i> <i>maka kesempatan dia membunuhnya,</i> <i>baru dia syahadat.”</i> Lalu Nabi ﷺ mengucapkan kalimat yang membuat Usama menyesal seumur hidup, dan ini pelajaran buat kita semua, teman-teman. Kata Nabi ﷺ: <i>“Wahai Usama...</i> <i>engkau menghindar ke mana dari kalimat</i> <i>La ilaha illallah pada hari kiamat?</i> <i>Wahai Usama,</i> <i>engkau menghindar ke mana dari</i> <i>kalimat La ilaha illallah pada hari kiamat?”</i> Terus saja Nabi ﷺ, <i>“Wahai Usama,</i> <i>engkau menghindar dari kalimat</i> <i>La ilaha illallah.</i> <i>Bagaimana caranya kau menghindar</i> <i>dari hari kiamat, hukumannya?</i> <i>Orang ucapkan La ilaha illallah</i> <i>lalu kamu bunuh,</i> <i>bagaimana kau bisa selamat?”</i> Kata Usama, <i>“Terus saja Nabi ﷺ mengulangi kalimat tersebut</i> <i>sampai aku berharap...</i> <i>pada hari itu aku baru masuk Islam</i> <i>sehingga semua dosaku dimaafkan.”</i> Semenjak kejadian tersebut, teman-teman sekalian, Usama bin Zaid— tentu Usama tidak dihukum oleh Nabi ﷺ, karena beliau tidak tahu hukumnya. Tapi Usama mengatakan: <i>"Mulai hari itu aku tidak pernah ikut dalam</i> <i>peperangan apa pun menghadapi muslim."</i> Termasuk Usama bin Zaid رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ini, dia dan ayahnya, sahabat, sempat hidup sampai di zaman Ali bin Abi Talib رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ jadi khalifah. Dan waktu terjadi Perang Jamal, Perang Shiffin, perang antara Ali dengan Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ, dengan Muawiyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ ini, di antara sahabat yang tidak ikut, bukan satu-satunya, di antara sahabat yang tidak ikut adalah Usama bin Zaid. Waktu ditanya, <i>"Kenapa anda tidak ikut?"</i> Kata dia: <i>"Sungguh aku tahu kalau Ali</i> <i>dalam keadaan benar,</i> <i>tapi aku tidak akan mengangkat lagi</i> <i>pedang terhadap muslim</i> <i>setelah kejadian Mirdas."</i> Sudah tidak ada lagi, susah. Mirdas saja kemungkinan masih pura-pura ucapin syahadat, bagaimana kalau muslim sesama muslim? Sama-sama taqir, sini angkat pisau, sana angkat pisau. Ini bahaya sekali. Makanya kata Nabi ﷺ: “إذا التَقى المُسْلِمانِ بسَيْفَيْهِما فالقاتِلُ والمَقْتُولُ في النّارِ” dalam hadits riwayat Muslim. Kalau dua orang muslim bertemu dua-duanya bawa pedang, dua-duanya, yang membunuh dan dibunuh, dua-duanya masuk neraka. Kata para sahabat, <i>“Ya Rasulullah, هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ"</i> <i>Orang yang membunuh</i> <i>sudah jelas, ya Rasulullah.</i> Wajar masuk neraka. <i>Bagaimana dengan nasibnya</i> <i>orang yang dibunuh?”</i> Kata Nabi ﷺ: "فَإِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ" <i>“Karena dia sebenarnya,</i> <i>memang juga mau membunuh rivalnya.”</i> Kalau bukan telanjur dia dibunuh, dia akan membunuh. Maka karena itu dua-duanya akan masuk dalam api neraka. Lalu bagaimana, ustadz, kalau kita menghadapi seorang muslim? Baik, kita nggak usah layani pertengkaran. Selama dia muslim, jangan layani. Biarkan dia bertengkar sama tembok. Teriak-teriak, - <i>"Kau pengecut!"</i> <i>"Ya sudah, nggak apa-apa,"</i> biarin saja. Nggak usah layani. Karena kalimat syahadatnya ini punya nilai. Jangan layani. Kalau kita diserang tiba-tiba terus kita menangkis membela diri itu lain. Tapi kalau kita diajak bertengkar, jangan. Karena setan sangat luar biasa. Mungkin kita cuma niat tonjok saja. Tapi mana kita tahu, mungkin tonjokan kita pas kena sasaran yang membuat dia mati. Kan bahaya. Sudah diam saja, urusan dia sama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Jadi jangan layani, teman-teman sekalian. Kalau ada muslim yang ajak bertengkar, diam saja. Sudah, nggak usah. Ini pelajaran. Kemudian selanjutnya, temen-temen sekalian, Sariyyah Bashir ibn Sa’d... ke suku Murrah. Tadi kita kembali. Sariyyah yang ketiga, kan, tadi Sariyya Bashir juga, kan? Bashir, kan, tadi dikirim 30 orang. 28 orang mati terbunuh. Masih ingat, ya? Masih ingat, nggak? Kalau nggak saya berhentiin, nih. Tadi kan kita jelaskan Sariyyah Bashir, yang ketiga. Bashir tadi sempat dikalahkan oleh suku Murrah, sukunya Al-Harith bin Auf. 28 orang mati terbunuh. Bashir sempat lari ke Benteng Fadak, kemudian selamat. Ada satu sahabat juga melapor kepada Nabi ﷺ. Lihat... bagaimana Nabi ﷺ membangkitkan semangat jihadnya para sahabat. Bashir sudah kalah, sempat melarikan diri. Nabi ﷺ suruh bentuk pasukan baru. Di bulan Syawwal tahun 7 Hijriah, setelah Idul Fitri, Nabi ﷺ mengutus kembali Bashir ke suku yang sama, suku Murrah. Dan kali ini diutus bersamanya 300 personil perang. Bashir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ akhirnya berhasil mengalahkan suku Murrah, dan menawan sebagian besar dari mereka serta mendapatkan banyak sekali harta rampasan perang. Termasuk yang sempat lari adalah kepala suku Murrah, Al-Harith bin Auf. Dia melarikan diri. Waktu dia melarikan diri, teman-teman sekalian, dia sempat mendatangi Uyainah. Masih ingat Uyainah? Cuma tiga orang yang ingat. Uyainah bin Hishn tadi, kepala suku Ghatafan. Dia datang lagi kepada dia, lalu berkata: <i>“Wahai Uyainah,”</i> dia coba yakinkan, <i>"Muhammad ini sudah jelas-jelas...</i> <i>kelihatan sekali dia akan menang</i> <i>dan dia akan menguasai Jazirah Arab.</i> <i>Daripada...</i> <i>kita dikalahkan dan kita</i> <i>menjadi harta rampasan perang,</i> <i>lebih baik kita ikut,</i> <i>jadi pengikutnya.</i> <i>Kita disuruh perang sana, perang sini,</i> <i>oke saja, yang penting kita dapat ghanimah.</i> <i>Harta hampasan perang ada.”</i> Mereka ini belum ada keimanan, bukan mau masuk Islam karena keimanan, tapi karena mau ikut-ikutan perang. Daripada dikalahkan lebih baik masuk Islam. Terus dia bilang sama... Uyainah, <i>“Hai Uyainah,</i> <i>baru dua bulan lalu...</i> <i>dua bulan lalu...</i> <i>di bulan Syaban,</i> <i>saya sama suku saya</i> <i>membunuh 28 orang...</i> <i>sahabatnya Muhammad,</i> <i>dan dipimpin oleh Bashir,</i> <i>sekarang Bashir datang...</i> <i>membawa 300 orang...</i> <i>dan berhasil mengalahkan sukuku.</i> <i>Maka bagaimana</i> <i>kalau seandainya kita tidak...</i> <i>mengalah sekarang dan mungkin</i> <i>dia akan utus pasukan lebih besar lagi.”</i> Terus saja Al-Harith dari suku Murrah ini, bin Auf, meyakinkan Uyainah bin Hishn sampai Uyainah mengatakan: <i>“Baiklah, apa saranmu?”</i> Kata dia, <i>“Kita masuk Islam saja.</i> <i>Kita menuju ke Madinah,</i> <i>masuk Islam.”</i> Waktu keduanya lagi menuju ke Madinah mau masuk Islam... —dan ini dua-duanya sukunya besar— di tengah jalan mereka bertemu juga dengan satu lagi kepala suku yang lain, namanya Farrah bin Hubairah. Farrah bin Hubairah ini... lagi mau menuju pergi Umrah. Ketemu dengan dua-duanya. Ini bertiga orang bersahabat. Tiga-tiga ini kepala suku yang berbeda. Farrah bertanya kepada keduanya, kepada Al-Harith dan juga... Uyainah, <i>“Mau ke mana kalian?”</i> Kata mereka, <i>“Kami mau ke Madinah, masuk Islam.</i> <i>Menjadi pengikut Muhammad.”</i> Farrah berkata, <i>“Sabar dulu.</i> <i>Aku akan menuju</i> <i>ke Mekkah untuk Umrah,</i> <i>dan melihat keputusan Quraisy.</i> <i>Bila Quraisy bersiap-siap memerangi Madinah,</i> <i>maka tunggu sampai siapa yang menang.</i> <i>Yang menang kita dukung.</i> <i>Kita jadi pengikutnya.”</i> Karena mereka tujuannya bukan untuk... ikut akidah, cuma untuk mencari keamanan saja. <i>“Bila Muhammad yang menang,</i> <i>maka jadilah pengikutnya.</i> <i>Tapi bila Quraisy yang menang,</i> <i>untuk apa kalian jadi</i> <i>pengikutnya Muhammad?</i> <i>Toh juga kalah.”</i> Maka gara-gara... pertimbangan ini dari Farrah, keduanya batalkan masuk Islam. Uyainah dan Al-Harith mengatakan, <i>“Pendapat yang baik.</i> <i>Kita tunggu saja nanti.”</i> Mereka tunggulah. Si Farrah pergi ke Mekkah. Memang dia mau umrah, tapi umrah jahiliyah ini, ya. Farrah pada saat tiba di Mekkah dan selesai umrahnya, maka dia sempat bertanya kepada tokoh-tokoh Quraisy. Orang-orang Quraisy tahu dia ini kepala suku juga. <i>“Apa keputusan kalian tentang</i> <i>kesepakatan dengan Muhammad?”</i> Kata Quraisy: <i>“Sungguh kami hanya</i> <i>berdamai sesaat saja...</i> <i>dengan Muhammad agar</i> <i>kami bisa mengatur strategi</i> <i>menghabisi Muhammad dan para pengikutnya.”</i> Maka si Farrah mulai bimbang, jangan sampai Quraysh ini bohong saja dengan kesepakatan Hudaibiyah. Terungkap lebih jauh lagi, ternyata pada saat itu kebetulan ada... kepala suku Bakr. Kalau teman-teman masih ingat suku Bakr, waktu terjadi kesepakatan Hudaibiyah... sempat... di antara poin kesepakatan, suku Arab mana pun yang mau jadi sekutunya Muslimin silakan, yang mau jadi sekutunya Quraisy silakan. Suku Bakr sempat menjadi sekutunya Quraisy. Dan lawannya suku Bakr selalu mereka berperang, namanya suku Khuza'ah, ini jadi sekutunya Muslimin. Dan nanti kita akan lihat, belum sampai 10 tahun tentunya, baru 3–4 tahun berjalan kesepakatan Hudaibiyah, itu sudah terjadi pembatalan karena ada pengkhianatan. Kepala suku Bakr —Bakr ini sekutunya Quraisy, Khuza'ah sekutunya Muslimin. Nama kepala suku Bakr, Naufal bin Mu’awiyah ad-Da’ili. Dia waktu itu, teman-teman sekalian, kebetulan lagi ada di Mekkah, dan dilihat oleh Farrah ini. Dia bilang kepada Quraysh: <i>"Ayolah! kita perangin suku Khuza’ah."</i> Terus saja dia memotivasi... agar... Quraisy mau memerangi suku Khuza’ah, walaupun Quraisy masih belum menanggapi. Akhirnya Farrah mengambil kesimpulan: <i>"Kayaknya...</i> <i>Quraisy ini hanya...</i> <i>berbohong, dusta saja,</i> <i>dan mengatur tipu daya dalam</i> <i>kesepakatan Hudaibiyah."</i> Maka ia pun pulang lalu dia sampaikan kepada Uyainah dan Harith... tentang cerita Mekkah. Gara-gara ini, Uyainah dan Harith akhirnya... menunda keislaman mereka. Di sini tentu, teman-teman sekalian, sebuah pelajaran — Subhanallah. Keinginan masuk Islam kedua orang tersebut hanya karena takut, dan ini bisa terjadi. Jadi ada orang masuk Islam, teman-teman, karena takut dengan Muslimin. Takut karena keamanan mereka misalnya. Ada orang masuk Islam mungkin karena... ekonomi. Susah hidupnya, dibantu oleh Muslimin. Ada orang masuk Islam karena pernikahan, karena suka sama orang Muslim lalu menikah. Ada orang mungkin masuk Islam hanya suka pakaiannya umat Islam. Ada orang begitu. Beberapa wanita di Eropa dan Amerika masuk Islam, teman-teman sekalian, karena terkagum melihat wanita pakai jilbab. Dan setelah dia pakai, dia merasa aman, masuk Islam gara-gara itu. Ada orang masuk Islam mungkin karena kagum melihat... figur, jabatan... apa saja. Dan ini semua, teman-teman, boleh dalam Islam—bukan tidak boleh. Makanya orang-orang yang baru masuk Islam dinamakan muallaf. المؤلفة قلوبهم, orang-orang yang hatinya masih... bisa pindah agama. Apa hukumnya dalam Islam? Kita terima semua. Ada orang masuk Islam karena pernikahan, karena ekonomi, karena terpaksa, karena takut — semua dihukumi Islam, Muslim, selama dia syahadat. Masalah dia bohong, hal gaib, urusannya Allah. Kalau nanti terungkap ternyata dia berkhianat, segala macam, ada hukumannya sendiri. Tapi kita menghukumi orang secara... dzahirnya. Tentu setelah itu, teman-teman sekalian, banyak sekali sariyyah yang diutus oleh Nabi ﷺ dan semua rata-rata berhasil. Tapi tidak semuanya disebutkan oleh para ahli sejarah. Yang saya dapatkan dari beberapa rujukan hanya dikatakan cukup banyak sariyyah yang ditulis atau diutus oleh Nabi ﷺ — kecil-kecil... kepada suku-suku juga yang jumlahnya tidak banyak... dan semuanya berhasil. Tapi kejadian yang paling... memukau dan harus diungkap, sehingga umat Islam tahu di tahun 7 Hijriyah adalah umrat qadha. Umrat Qadha. Qadha artinya ganti. Kita review kembali. Waktu kesepakatan Hudaibiyah, Muslimin waktu itu niatnya mau apa, teman-teman? Umrah, ya. Mereka kan pakai baju ihram, bawa hadyu, bawa hewan kurban, kan gitu. Tapi ditahan oleh Quraisy. Apa di antara butir yang ditulis oleh Quraisy? Di antara butir kesepakatan adalah mereka tidak boleh umrah tahun itu, boleh umrah kapan? Tahun depan. Nah, kesepakatan Hudaibiyah terjadi tahun 6 Hijriyah. Ini sudah tahun 7 Hijriyah, berarti sudah tepat... waktu di mana mereka boleh umrah lagi. Maka ada judul di sini, teman-teman sekalian, yang saya tulis khusus, namanya Umrat Qadha. Jadi terjadi di tahun 7 Hijriyah, tepatnya di bulan Syawwal. Setelah lewat setahun dan tepatnya memang Hudaibiyah terjadi bulan Syawwal tahun 6 Hijriyah, maka Muslimin, sesuai kesepakatan, sudah boleh masuk Mekkah dan mereka punya hak masuk selama tiga hari. Maka keluarlah Nabi ﷺ bersama seluruh yang ikut di Hudaibiyah... tahun lalu kecuali yang telah mati syahid di Khaibar atau yang wafat sebelum tiba masa itu. Juga terdapat 600 orang baru yang tidak hadir di Hudaibiyah tahun lalu, tapi mereka ingin ikut bersama Nabi ﷺ umrah. Nabi buka, silakan yang mau ikut. Kurang lebih berarti jumlahnya 2000 orang yang ikut bersama Nabi ﷺ. Nabi ﷺ memerintahkan seluruh sahabat pakai... senjata lengkap. Kali ini bukan seperti umrah yang sebelumnya. Umrah sebelumnya cuma pakai baju ihram. Tidak ada baju besi, tidak ada perisai, tidak ada tombak, tidak ada topi besi, tidak ada semua. Sekarang tidak, bawa semuanya. Harus dibawa semuanya. Nabi ﷺ waktu itu menyuruh bawa. Abu Bakar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ sempat bertanya kepada Nabi ﷺ, mengatakan: <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>bukankah kesepakatan antara kita sama Quraisy</i> <i>masuk Mekkah tanpa senjata dan tanpa perang?”</i> Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Benar,</i> <i>dan ini hanya saja</i> <i>berjaga-jaga...</i> <i>atas pengkhianatan.</i> <i>Seluruh senjata akan kita letakkan</i> <i>di luar wilayah Haram,</i> <i>kita tidak akan masuk...</i> <i>ke wilayah Haram</i> <i>bawa senjata.</i> <i>Tapi di luar Haram,</i> <i>kita taruh.”</i> Dan ini, teman-teman sekalian, mesti menjadi pelajaran setiap Muslim. Muslim harus cerdas dan jeli, tidak boleh ditipu. Mereka harus bersiap siaga. Nabi ﷺ mengatakan, <i>“ المؤمنُ كَيِّسٌ فَطِنٌ”</i> <i>“Orang mukmin itu cerdas dan jeli.”</i> Tidak mungkin kita begitu saja mempercayai musuh. Dan tetap harus berjaga-jaga dan berhati-hati. Ini pelajaran dari kehidupan Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ, walaupun kita tidak melanggar kesepakatan. Saat Muslimin tiba dan akan memasuki wilayah haram, Quraisy melihat Muslimin bersenjata. Maka mereka bertanya kepada Nabi ﷺ: <i>“Wahai Muhammad,</i> <i>bukankah kesepakatan antara kita</i> <i>masuk Mekkah</i> <i>tanpa senjata dan perang?</i> <i>Lalu kenapa kau bawa senjata?”</i> Kata Nabi ﷺ, <i>“Kami tetap dalam kesepakatan.</i> <i>Semua senjata akan kami letakkan</i> <i>di luar wilayah haram,</i> <i>nggak ada yang masuk</i> <i>wilayah haram.”</i> Dan pada saat itu, Nabi ﷺ menunjukkan kepada Quraisy, semuanya diletakkan di luar. Tetapi, senjata ini diatur sedemikian rupa oleh Nabi ﷺ yang luar biasa. Setiap kuda ditaruh di atasnya: tombak, pedang, perisai, baju besi, yang seorang mujahid, seorang sahabat bisa langsung pakai, langsung naik, langsung perang. Jadi bukan cuma ditaruh begitu saja, ditumpukin, ditaruh rapi, sedemikian rupa, dan yang jaga itu 200 orang sahabat —semuanya pakai baju perang lengkap. Supaya kalau terjadi pengkhianatan di Mekkah nanti —ini kan 2000 orang yang masuk, berarti 1800 orang masuk, 200 jaga senjata. Ini kalau dibunuh... massal di Mekkah jadi masalah. 200 orang ini harus siap untuk membawa senjata masuk ke dalam. Pada saat itu pun Quraisy waktu melihat... Nabi ﷺ tidak membawa senjata dan semua ditaruh di luar wilayah haram, dan juga di sekitar situ Quraisy meletakkan pasukannya, menjaga juga yang 200 orang itu —betul nggak senjata nggak dibawa. Dan ternyata mereka betul-betul tidak membawa. Maka, Nabi ﷺ pun masuk umrah bersama... para sahabat. Pada saat Nabi ﷺ sudah masuk... 1800 orang, kurang lebih, masuk... ke dalam wilayah Haram... sambil bertakbir, bertahlil, mengucapkan kalimat talbiyah, dan 200 orang sahabat menunggu... di luar wilayah haram untuk menjaga senjata Muslimin. Abu Sufyan waktu itu yang merupakan pemimpin Quraisy, dia tidak ingin... masyarakat Mekkah berinteraksi dengan... Muslimin. Khawatir nanti ada yang terpengaruh lalu mau masuk Islam. Maka dia sempat menyebarkan isu... kalau Muslimin yang datang dari Madinah sedang tertimpa penyakit kuning. Waktu itu begitu disebutkan, penyakit yang biasanya menimpa seseorang, kulitnya berwarna kuning dan penyakit itu menular. Bisa membuat tubuh seseorang melemah... dan terjangkit. Orang-orang yang kena dekatnya bisa terjangkit, menular. Mendengar berita tersebut, mayoritas penduduk Mekkah segera melarikan diri keluar. karena Muslimin berada tiga hari di sana. Kemudian mereka pun naik, tinggal di bukit-bukit, agar bisa menyaksikan Muslimin dari jarak jauh. Yang tinggal di Mekkah tentu tokoh-tokoh Quraisy saja yang tahu kalau itu cuma isu. seperti Ikrimah bin Abi Jahal, Safwan bin Muawiyah, dan lain-lainnya. Mereka tidak mau pula keluar dari Mekkah. Muslimin pada saat masuk Mekkah mereka kaget, tidak ada orang, sunyi. Cuma ada beberapa orang saja dari tokoh-tokoh Quraisy. Maka mereka pun lebih gembira, mereka bisa bertakbir, bertahlil, mereka bisa thawaf, bahkan menyelesaikan umrahnya dengan sangat mudah. Nabi ﷺ waktu itu sudah 7 tahun tidak memasuki kota Mekkah dan beliau sangat gembira, demikian juga Muslimin. Mereka terus bersyukur kepada Allah tentu Yang Maha Mulia. Namun pada saat akan tawaf, Nabi ﷺ sempat mendengar isu tadi. Kalau Abu Sufyan menyebarkan berita itu. Abu Sufyan belum masuk Islam. Menyebarkan isu tidak benar bahwasanya Muslimin kena penyakit kuning dan ini menyebabkan kenapa Mekkah jadi kosong. Maka Nabi ﷺ mengucapkan sabdanya yang masyhur: <i>“Allah akan merahmati</i> <i>siapapun yang</i> <i>menunjukkan kekuatannya</i> <i>pada hari ini.”</i> Artinya, ini perintah Nabi ﷺ untuk seluruh Muslimin yang dianggap remeh oleh musuh untuk menunjukkan kekuatan mereka. Apapun yang mereka mampu, keterampilannya, kekuatannya, suaranya, gerakan tubuhnya, harus dia tunjukkan kepada orang-orang kafir bilamana memang mereka dasarnya... mau memfitnah Muslimin atau bahkan memang menantang Muslimin seakan-akan... Muslim itu lemah. Nabi ﷺ lalu memperlihatkan kepada para sahabat apa yang mereka harus lakukan. Nabi ﷺ memperlihatkan lengan sebelah kanan beliau, melipat baju ihram dari bawah, ketiaknya, ﷺ, sehingga lengan kanan semuanya kelihatan. Dan Nabi ﷺ memang memiliki tubuh yang sangat kekar, berotot. Kemudian beliau menyuruh sahabat semua melakukan itu. Maka semua sahabat pun melakukan, 1.000 lebih orang semuanya pakai begitu, tawaf secara bersamaan. Kemudian Nabi ﷺ menunjukkan... berjalan atau berlari الرَّمَل. Raml itu istilahnya berlari kecil. Dan biasanya berlari kecil ini berlari di tempat tapi sedikit bergerak. Dan ini membutuhkan ekstra tenaga. Orang kalau berlari langsung kencang mungkin sedikit tenaga yang dikeluarkan. Tapi kalau berlari di tempat dan sambil berjalan tetap bergerak ke depan... dengan padatnya orang, membutuhkan ekstra energi. Dan ini harus orang yang sehat. Nabi ﷺ menunjukkan itu dan para sahabat juga melakukannya. Dan akhirnya ini menjadi sunnah. Diistilahkan dengan الرَّمَل. Di 7 putaran, sunnah, orang yang sedang umrah, atau haji, atau yang sedang tawaf memakai baju ihram ini memperlihatkan lengan sebelah kanannya karena kejadian itu. Maka semua sahabat melakukan itu sambil... membaca doa. Pada saat itu mereka sambil membaca talbiyah, para sahabat membaca, seluruh orang Quraisy di atas gunung melihat. Lalu mereka saling membisikkan satu sama yang lain: <i>“Demi Allah, nggak mungkin</i> <i>orang sakit kuning begini gerakannya.</i> <i>Orang penyakit kuning itu</i> <i>lemah semua.</i> <i>Ini seribu semuanya dengan suara yang keras,</i> <i>dengan postur tubuh yang...</i> <i>berlari kecil di tempat dengan</i> <i>memperlihatkan lengan mereka.</i> <i>Ini nggak mungkin.”</i> Maka akhirnya terhilangkanlah isu tersebut, karena penglihatan mata mereka sendiri. Namun melihat kejadian tersebut tentunya, karena sudah terlanjur mereka keluar dari Mekkah, dan mereka tidak mau masuk kecuali sudah 3 hari, maka... seorang sahabat waktu itu lagi tawaf, namanya Abdullah ibn Rawaha رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Abdullah bin Rawaha ini salah satu sahabat yang nanti mati syahid tentunya, ya... di Perang Mu’tah. Beliau melantunkan syair waktu lagi tawaf dan syair ini semuanya berisikan tantangan perang. Beliau mengatakan kalimat masyhur: “خلُّوا بَني الكفَّارِ عن سبيلِهِ” Artinya: <i>"Biarkan saja orang-orang kafir</i> <i>menentukan jalan hidupnya."</i> “إني شهدتُ أنهُ الرَّسولُ” <i>"Karena sesungguhnya,</i> <i>aku sendiri telah bersaksi bahwasanya</i> <i>Muhammad ini benar-benar utusan Allah."</i> “حقًّا وكلُّ الخيرِ في سبيله” <i>"Ini sebuah kebenaran,</i> <i>dan semua kebaikan hanya</i> <i>ada di jalannya,"</i> Maksudnya jalan Nabi Muhammad ﷺ. “نَحنُ قَتَلنَاكُم على تأويلِهِ” <i>"Dan kami pasti memerangi</i> <i>kalian, hai Quraisy,</i> <i>sesuai dengan instruksinya."</i> <i>"Suruh perang, kami perang."</i> “كما دَرَأْنَاكُم على تنزيلِه” <i>"Dan kami juga akan</i> <i>memenggal leher-leher kalian...</i> <i>sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an</i> <i>yang telah turun kepadanya."</i> "ضَربًا يُزيلُ الهامَ عن مقيلِه" <i>"Pukulan."</i> atau tebasan, <i>"yang akan menyebabkan</i> <i>kesedihan bagi yang tertimpa."</i> "ويُذهِلُ الخليلَ عن خليلِه" <i>"Dan pasti pukulan itu akan memisahkan</i> <i>antara kekasih dengan kekasihnya."</i> Dengan suara keras. Rupanya ada beberapa sahabat dengar syair ini, mereka tertarik dengan kalimatnya, mereka ulangi. Jadi suaranya jadi besar. Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ pada saat itu— Tentu ini, teman-teman sekalian, syair-syair ini syair tantangan perang, ini. <i>"Kami menebas leher kalian</i> <i>dengan Al-Qur'an.</i> <i>Kami memerangi kalian</i> <i>karena perintah Nabi kami.</i> <i>Nabi kami sudah bersama kami,"</i> begitulah maknanya. <i>"Beliau suruh kita perangi kalian,</i> <i>kami akan perangi kalian sekarang juga."</i> Tantangan perang, lagi tawaf. Umar bin Khattab sempat menegur waktu itu, Abdullah bin Rawaha. <i>“Ya Abdullah,</i> <i>apa yang kau ucapkan?”</i> Waktu itu Umar menegur, kata ahli sejarah, ada dua sebabnya. Yang pertama, pada saat orang lagi tawaf tidak semestinya lantunan syair... yang diucapkan, tapi mestinya doa dan dzikir. Umar mau tegur itu sebenarnya. Yang kedua, Muslimin sedang tidak bersenjata sekarang. Senjata lagi di luar. Jangan sengaja cari gara-gara. Jangan sampai Quraisy terganggu dengan syair tersebut, lalu tiba-tiba menyerang Muslimin, sementara Muslimin belum siap. Maka Nabi ﷺ waktu itu, waktu mendengar... Umar berkata, <i>“Hai Abdullah, apa yang kau ucapkan?”</i> Maksudnya, <i>"Hati-hati lah, jaga lisanmu."</i> Maka Nabi ﷺ berkata kepada Umar, <i>“Hai Umar,</i> <i>nggak usah khawatir.</i> <i>Aku mendengar.</i> <i>Aku juga dengar apa yang</i> <i>diucapkan Abdullah.</i> <i>Biarkan saja dia.”</i> Bahkan Nabi ﷺ mendukung pada saat itu. Lalu Nabi ﷺ menghadap ke Abdullah. Beliau lagi di depan dan Abdullah di belakangnya. Lalu berkata, <i>“Wahai Abdullah,</i> <i>ucapkan kalimat</i> <i>yang lebih baik.</i> <i>Bacalah:</i> <i>لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ</i> <i>Tidak ada tuhan yang berhak disembah,</i> <i>dan Dia Maha Esa.</i> صَدَقَ وَعْدَهُ <i>Dia membenarkan janji-janji-Nya.</i> وَنَصَرَ عَبْدَهُ <i>Dan Dia telah menolong dan memenangkan</i> <i>hamba-Nya (Nabi Muhammad ﷺ).</i> وَأَعَزَّ جُنْدَهُ <i>Dan Dia memuliakan tentara-tentara</i> <i>yang membela di jalan-Nya.</i> وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ <i>Dan Yang telah mengalahkan</i> <i>pasukan Ahzab sendirian.</i> Tentu kalimat terakhir (وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ) ini menyakitkan sekali bagi Quraisy, karena yang paling besar jumlah pasukan di Perang Ahzab adalah Quraisy. Dan betul-betul mereka dihantam oleh angin pada saat mereka... terbubarkan pada malam itu. Dan sudah kita jelaskan... pada saat kita jelaskan Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Lalu Abdullah pun melakukan itu dan semua sahabat mengikuti. Akhirnya menjadi sunnah yang diturun- temurunkan dari Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Artinya, orang kalau lagi tawaf membaca... dzikir tadi. Nabi ﷺ selesai tawaf, beliau pun menyembelih domba. Dan ini juga sunnah... yang banyak Muslimin belum kerjakan di dalam umrah. Karena ini bukan haji. Umrah. Dan banyak jamaah kita pada saat umrah mereka tidak menyembelih di Mekkah. Padahal sebenarnya sunnah Nabi ﷺ ini yang mestinya dikerjakan, walaupun sekali... dari sekian banyak umrah yang kita kerjakan. Dan dia hukumnya ini sunnah kalau umrah tentunya, boleh dikerjakan boleh tidak. Dan dia menjadi wajib bagi haji yang tamattu dan qiran. Dan haji ada tiga macam. Ada haji ifrad... haji saja tanpa ada umrah. Ini tidak ada kurbannya. Ada haji Tamattu —umrah dulu baru haji. Dan ada haji Qiran —haji dulu baru umrah. Jadi umrahnya dikerjakan setelah haji, namanya Qiran. Tapi dua-duanya, Tamattu dan Qiran ini, ada kurbannya. Nabi ﷺ lalu pada saat selesai berkurban, beliau menyembelih di sana. Lalu beliau mengirim... kepada Quraisy yang memegang kunci Ka’bah agar membukakan pintu Ka’bah untuk beliau. Dan memang selain Muslimin, teman-teman sekalian, Ka’bah dulu selalu dibuka pintunya. Dan Ka’bah memiliki dua pintu, tempat masuk dan tempat keluar. Jadi orang lalu lalang masuk keluar, semua orang boleh masuk. Quraisy pun membukakan buat mereka. Tapi waktu Muslimin masuk, mereka menguncinya. Nggak boleh buka. Nabi ﷺ mengirim, minta kepada pemegang kunci untuk membukanya. Tapi mereka menolak. Mereka mengatakan ini tidak ada dalam kesepakatan. Nabi ﷺ pada saat melihat kekakuan Quraisy dalam hal tersebut, maka beliau melakukan satu perbuatan yang menyakiti hati mereka akhirnya. Beliau mengatakan pada Bilal, <i>“Kalau begitu, hai Bilal,</i> <i>Ka’bah tidak dibuka,</i> <i>naiklah ke atas Ka’bah</i> <i>dan adzanlah.</i> <i>Karena sekarang</i> <i>waktu shalat sudah tiba.”</i> Waktu itu kebetulan tiba waktu shalat, tapi tidak disebutkan waktu shalatnya apa. Maka Bilal pun akhirnya naik dan adzan di atas Ka’bah. Dan dua kali Bilal adzan di atas Ka’bah, di umratul qadha ini dan juga nanti pembebasan... Kota Mekkah. Waktu melihat kejadian tersebut dengan suara keras Bilal muadzin, dan mereka tahu, orang Quraisy tahu siapa Bilal. Bilal ini mantan budaknya mereka dulu di Mekah, orang yang dianggap kelas nomor dua lah, gitu kan. Maka Quraisy pun terpukul, tapi mereka tidak bisa buat apa-apa. Karena kalau mereka mengganggu, ini jelas-jelas mereka dalam perdamaian. Ikrimah bin Abi Jahl... anaknya Abu Jahl yang nanti juga akan masuk Islam insya Allah... dia berkata, <i>“Sungguh,</i> <i>sangat beruntung Abu Hakam.”</i> Abu Hakam maksudnya ayahnya sendiri, Abu Jahl. <i>“Karena tidak melihat budak ini</i> <i>adzan di atas Ka’bah.”</i> Jadi ini tentu kesombongan dari mereka, bagaimana mereka menganggap mustahil ada kulit hitam naik di atas Ka’bah atau mengurus Ka’bah. Tentu dalam Islam sudah tidak ada ini. Tidak ada rasisme lagi, tidak ada kesukuan lagi. Semuanya... orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, orang yang paling patuh. Pada saat Muslimin akan meninggalkan Mekkah setelah tiga hari, teman-teman sekalian, mereka menyembah Allah Yang Maha Perkasa. Nabi ﷺ ingin menambah beberapa hari lagi karena masih rindu, ingin ibadah, nyaman di Mekkah. Namun orang-orang Quraisy setelah mengutus Ikrimah bin Abi Jahl... untuk mengingatkan Muslimin agar segera keluar. Nabi ﷺ sempat mengajak... negosiasi Ikrimah, mengatakan, <i>“Hai Ikrimah,</i> <i>bagaimana kalau kau jadi</i> <i>tamuku di kemah,</i> <i>dan aku akan negosiasi denganmu?”</i> Maka Ikrimah mengatakan, <i>“Aku tidak butuh.</i> <i>Tidak ada hajat dengan jamuanmu,</i> <i>hai Muhammad.</i> <i>Keluarlah segera dari wilayah</i> <i>dan kota kami.”</i> Salah satu pimpinan Anshar Madinah, Sa’ad bin Ubadah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, marah dengan statement Ikrimah. Lalu dia berkata: <i>“Hai Ikrimah!</i> <i>Sesungguhnya ini adalah</i> <i>wilayah dan kota Nabi ﷺ,</i> <i>bukan kotamu!</i> <i>Sekarang ini, selama tiga hari,</i> <i>ini kota kami.</i> <i>Dan ini juga kota Nabi ﷺ,</i> <i>bukan kota kamu.”</i> Maka Nabi ﷺ sempat menenangkan Sa’ad dan berkata, <i>“Tidak boleh...</i> <i>orang yang datang</i> <i>ke lokasi kita,</i> <i>lalu kita mengganggunya.</i> <i>Walaupun kita sekarang</i> <i>berkuasa tiga hari,</i> <i>nggak boleh sama sekali...</i> <i>kita mengganggu mereka.”</i> Dan beliau memerintahkan agar Muslimin segera meninggalkan Mekkah. Saat meninggalkan Mekkah, teman-teman sekalian, sebagian orang-orang bodoh dari Quraisy yang tidak paham, mereka tidak tahu nilainya kesepakatan. Maka mereka berusaha menyerang Muslimin. Namun karena jumlahnya sedikit dan Muslimin tahu masalah itu — kebetulan mereka sudah keluar dari wilayah Haram, sudah bergabung, dan pasukan yang 200 tadinya sudah mulai masuk ke Mekkah, jadi 1.800 sekarang yang... menjaga senjata. Mereka berusaha menyerang yang 1.800. Mereka tidak tahu ada 200 yang belum umrah. Bukan yang 200 diserang, tapi yang di luar wilayah Haram. Mereka pun takut membunuh di wilayah Haram. Waktu mereka menyerang, Muslimin punya senjata lengkap. Langsung dihadapi oleh Muslimin. Begitu mereka melihat senjata, mereka pun akhirnya... meninggalkan Muslimin dan tidak berani melawan. Waktu sementara menunggu 200 orang... sahabat yang... umrah tadi, yang tadinya jaga senjata, ada satu orang yang bernama Abban ibn Walid bin Mughirah. Abban bin Walid bin Mughirah. Abban ini masuk Islam. Orang Mekkah. Dia datang, dia syahadat, dan ini termasuk... anak mudanya Mekkah, artinya orang yang sangat cerdas, ya. Dia kemudian datang dan masuk Islam. Lalu kata Nabi ﷺ, <i>“Wahai Abban,</i> <i>mana sahabatmu Khalid bin Walid?”</i> Khalid bin Walid belum masuk Islam. Kebetulan sahabat dekatnya Abban. Maka kata... Nabi ﷺ, <i>“Mana sahabatmu Khalid bin Walid?</i> <i>Ia sangat cerdas.</i> <i>Dan Islam tidak mungkin tersembunyi</i> <i>pada orang-orang yang berakal seperti dia.</i> <i>Demi Allah,</i> <i>bila ia masuk Islam,</i> <i>maka kami akan muliakan dan</i> <i>kedepankan dia sebagai pemimpin kami.”</i> Abban pada saat itu tidak mau lagi kembali ke Mekkah. Dia mengirim surat saja kepada Khalid bin Walid yang berbunyi: <i>“Wahai Khalid,</i> <i>engkau punya akal yang cerdas,</i> <i>dan sungguh Islam tidak tersembunyi lagi</i> <i>pada orang yang cerdas sepertimu.</i> <i>Maka kesini dan masuk Islamlah.</i> <i>Sesungguhnya Nabi ﷺ telah</i> <i>menyebut-nyebut namamu</i> <i>dan akan memuliakanmu jika</i> <i>kau menjadi Muslim,</i> <i>mengangkatmu sebagai</i> <i>pemimpin perang.”</i> Pada saat itu, Khalid bin Walid tertarik. Karena memang dia sudah lama mau dengar Islam, dia sudah lama tertarik dengan Islam, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia takut malu dengan sukunya. Karena Abban, sahabatnya yang telah masuk, dia pun datang ke sana. Lalu kemudian dia menghadap Nabi ﷺ dan masuk Islam. Tentu ini salah satu metode dakwah Nabi ﷺ, bagaimana beliau fokus menawarkan Islam kepada orang-orang yang cerdas. Jadi kalau kita sekarang, orang berpendidikan mungkin ya, orang berpendidikan, orang yang berakal sehat, ini nggak menolak Islam. Dan kita tidak perlu ragu menawarkan Islam kepada mereka. Mereka sudah tahu bagaimana caranya belajar, bagaimana caranya... menganut Islam itu. Pada waktu yang bersamaan, pada saat Khalid bin Walid... masuk Islam... Khalid bin Walid ini kebetulan bersahabat dekat dengan dua orang lagi. Yang pertama, Amr bin Ash. Amr bin Ash waktu itu kebetulan... dia diutus, dia baru datang dari Habasyah. Diutus oleh Quraisy untuk menjemput Ja’far bin Abi Thalib. Tapi ternyata dengan hikmah Allah, Amr bin Ash ini masuk Islam di Ethiopia, di tangannya Najasyi. Setelah dia berusaha untuk mengeluarkan, mengembalikan Muslimin, memfitnah mereka, segala macam, akhirnya dia heran kok bisa Najasyi masuk Islam? Lalu dia belajar dari Najasyi, akhirnya dia masuk Islam di tangannya Najasyi رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ. Waktu itu dia pulang ke Mekkah, Amr bin Ash pulang sudah muslim. Dia tidak tahu kalau Khalid bin Walid ini juga masuk Islam. Dia pun lalu kemudian, Amr bin Ash ketemu, lalu dia mengangkat barang-barangnya. Kata Khalid bin Walid, <i>“Dimana kau akan pergi, hai Amr?</i> <i>Kenapa kau bawa barang-barangmu?”</i> Kata Amr, <i>“Saya mau ke Madinah.”</i> Kata Khalid, <i>“Apakah kau telah</i> <i>meninggalkan agama nenek moyangmu?”</i> Kata Amr, <i>“Iya, dan aku sudah masuk Islam.”</i> Amr lalu banyak menceritakan tentang Islam dan bagaimana Raja Najasyi proses masuk Islamnya. Bagaimana Najasyi, raja yang terkenal waktu itu — raja yang sangat kuat, kaya, pintar, seorang pendeta—masuk Islam. Maka Khalid pun akhirnya... mengatakan, <i>“Baiklah kalau begitu,</i> <i>saya pun sudah masuk Islam.</i> <i>Saya sudah mengikrarkan Islam</i> <i>tapi saya belum tahu</i> <i>kalau sampai sejauh itu Islam,</i> <i>sampai tersebar-sebar</i> <i>ke mana-mana.”</i> Maka keduanya akhirnya sepakat untuk sama-sama ke Madinah. Amr bin Ash waktu lagi — رضي الله عنه — lagi mengambil barang-barangnya dan ngobrol sama Khalid, dia mau pamit sama seorang temannya, sahabat dekatnya, namanya Uthman bin Talhah. Uthman bin Thalhah seumur, sebaya dengan mereka dan juga seorang kesatria terkenal. Punya kiprah banyak setelah masuk Islam nanti. Uthman bin Talhah sama kedudukannya — Uthman bin Talha, Amr bin Al-Ash, dan Khalid bin Walid — tiga-tiganya terkenal dengan... dengan keterampilan perang. Maka Amr bin Ash pun menawarkan Islam... kepada sahabatnya, menjelaskan segala macam tentang Islam. Akhirnya, masuk Islamlah Uthman bin Talhah. Waktu itu Nabi ﷺ sudah tiba di Madinah, setelah pulang dari Umrah Qadha, lalu tibalah tiga orang ini. Waktu tiba di pintu gerbang Madinah, pada saat itu tepatnya... di bulan Muharram tahun 8 Hijriah. Jadi sudah selesai... musim haji karena tadinya itu umrah, kan, di bulan Syawwal. Habis akhir Syawwal, Nabi ﷺ tiba di Madinah. Bulan Dzulqa’dah, bulan Dzulhijjah. Awal bulan Muharram, tahun 8 Hijriah, Khalid bin Walid dengan Amr bin Ash dan Uthman bin Talhah berangkat ke Madinah. Waktu tiba di dalam pintu gerbang Madinah, dan sudah dekat dengan masjid Nabi ﷺ, Nabi lihat ketiganya datang. Kata Nabi ﷺ, <i>“Telah datang kepada kalian...</i> <i>pemuda-pemuda terbaiknya Quraisy.”</i> Ini tiga orang yang datang ini, ini pemuka terhebatnya anak-anak muda Quraisy. Mereka akan punya peran yang sama sebagai kesatria perang dalam Islam. Dan pada waktu yang bersamaan, teman-teman sekalian, juga datanglah... di bulan Jumadil Awwal. Tadi itu bulan Muharram, ya. Tiga orang ini akhirnya tinggal di Madinah. Kemudian di bulan Jumadil Awwal, datang satu suku, Khuza’ah, yang menjadi sekutu Nabi ﷺ waktu tadinya mereka masih dalam keadaan kafir. Datang kemudian mereka juga mengikrarkan masuk Islam semuanya. Ini tentu kisah tentang Umrah al-Qadha. Dan tentu saja teman-teman sekalian, pertemuan akan datang insyaAllah... kita akan masuk ke... surat-surat Nabi ﷺ yang tertujukan kepada raja-raja dunia. Dan bagaimana... ini menandakan penyempurnaan agama Islam, karena memang dasarnya... mereka akan masuk Islam sebagaimana yang kita lihat nanti. Di antaranya surat kepada Heraklius, surat kepada Muqauqis, dan banyak raja-raja yang lain, dan bagaimana fenomena kejadian pada saat itu. Dan kita tutup, teman-teman sekalian. Pelajaran yang bisa kita ambil dari Umrah al-Qadha. Yang pertama, kalau terjadi... seorang muslim terlanjur pergi... untuk umrah, kemudian ternyata ada halangan syar’i. Terutama kalau terjadi peperangan, ya. Tentu sekarang Alhamdulillah tidak ada ini. Tapi kalau terjadi peperangan atau ada... udzur... setelah dia lewat miqat, dia nggak bisa. Allahu a’lam apa itu, gempa kah, banjir kah, apa saja, dan tidak memungkinkan mereka masuk ke Mekkah, maka hukum syar’i-nya adalah... mereka bertahallul. Tahallul, kemudian mereka pulang ke negara masing-masing. Ini diambil dari Umrah al-Qadha, karena begitu yang terjadi pada tahun sebelumnya di kesepakatan Hudaibiyah. Dan ternyata ini juga, kata ulama, hukum fiqihnya sunnahnya dia menggantinya di waktu kalau muslimin sudah merasa aman. Terbukti Nabi ﷺ umrah di waktu itu. Yang kedua, pentingnya muslimin untuk istiqamah dalam menerapkan agama mereka. Dan mereka harus yakin dengan janji-janji Allah walaupun melalui proses-prosesnya. Walaupun melalui proses-prosesnya. Artinya ada proses, Nabi ﷺ dipastikan akan menang, sebagaimana kita juga lihat akan takluk nanti... Mekkah. Tetapi Nabi ﷺ melalui prosesnya dan nikmati proses itu. Nikmati proses, teman-teman sekalian. Kita proses dalam istiqamah ini... adalah butuh... kesabaran, butuh ada proses, maka tetap istiqamah saja. Yang ketiga, perlunya kaum muslimin menunjukkan kekuatan di depan orang-orang non muslim kalau memang terjadi... perseteruan di antara mereka. Tentu tidak terjadi kalau negara lagi tidak ada apa-apa. Misalnya, antara Indonesia sama satu negara non-muslim tidak ada masalah, maka tidak perlu kita tunjukkan itu. Tapi di saat ada permasalahan yang terjadi, misalnya terjadi memang peperangan, kemudian juga terjadi kesepakatan damai dulu beberapa saat, di situ muslimin tidak boleh... tidak boleh lengah. Mereka harus menunjukkan kekuatan. Terlebih lagi kalau keluar isu: <i>“Oh, umat Islam sekarang sudah lemah</i> <i>makanya mereka damai,”</i> di situ kita dianjurkan dalam... pelajaran Umrah Qadha ini menunjukkan kekuatan muslimin. Bagaimana mereka menunjukkan kekuatan, Nabi ﷺ tunjukkan itu tadi waktu mereka... jalan. Pelajaran yang keempat adalah bolehnya... di atas Ka’bah digunakan untuk adzan. Jadi ada sebagian orang menganggap tidak boleh Ka’bah dinaiki. Padahal sebenarnya bukan tidak menghormati, dan memang tidak boleh sembarangan orang. Di zaman Nabi ﷺ tidak sembarangan orang naik. Nabi sendiri, ﷺ, tidak naik ke atas Ka’bah, tapi waktu itu beliau menyuruh muadzin untuk... naik ke atas — Bilal رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Tentu ini juga tidak dianjurkan terjadi di zaman sekarang, kata ulama. Ini terjadi di zaman Nabi ﷺ karena sekarang sudah ada pengeras-pengeras suara. Tapi ini terjadi hukum pada saat itu. Terjadi hukum pada saat itu. Yang keempat, teman-teman sekalian, sunnah... tentu ini kalau bisa, seseorang muslim masuk ke dalam Ka’bah. Tapi sekarang memang tentu hanya dibukakan untuk tamu-tamu kerajaan. Karena memang muslimin terlalu banyak. Dan dikhawatirkan nanti terjadi fitnah-fitnah yang tidak ketahuan atau tidak diketahui. Karena Ka’bah sangat kecil, jumlah muslimin sekarang sudah miliaran. Yang tawaf itu setiap hari sudah sekian ratusan ribu orang, bahkan jutaan orang. Maka dikhawatirkan fitnah, tentu ditutup. Tapi, termasuk bagian dari sunnah Nabi ﷺ adalah... masuk ke dalam Ka’bah. Yang saya tahu, Allahu a’lam, termasuk peserta para... perlombaan hafal Quran atau tahfidz Quran... di Mekkah, yang biasa dilakukan, itu juga tamu-tamunya diajak ke sana. Dan beberapa tamu-tamu kerajaan tentunya masuk ke sana. Ini termasuk sunnah. Dan di sini Nabi ﷺ tidak sempat masuk karena tidak diizinkan oleh Quraisy, tapi kita lihat nanti pembebasan kota Mekkah, beliau masuk ke dalam Ka’bah dan beliau shalat. Bagi teman-teman yang tidak bisa masuk ke dalam fisik yang ada pintunya, maka tentu masuk dalam Ka’bah... Hijir Ismail. Jadi kalau misalnya kita perumpamakan ini adalah Ka'bah, di sebelahnya ada lengkungan... warna putih marmer, ada tiga lampu, dikasih pintu warna hijau, itu adalah Hijir Ismail. Itu sebenarnya masuk dalam Ka’bah, dan dibolehkan kita datang di situ untuk shalat di dalamnya. Tentu shalat dua rakaat, niatnya tahiyyatul masjid. Ini termasuk sunnah Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ. Sebagian ulama menambahkan manfaat, mengatakan kalau seseorang... menderita penyakit, ini anjuran saja, maka dianjurkan untuk tidak terlalu banyak vakum, kecuali tubuhnya sangat lemah. Karena anjuran Nabi ﷺ di sini untuk bergerak. Dan kita tahu agama kita ini agama bergerak: haji, umrah, shalat, cari nafkah, jihad — agama bergerak. Kita kalau pergi haji, teman-teman sekalian, jalan, bergerak. Tawaf, sa’i, ya. Jalan antara Arafah-Muzdalifah, Muzdalifah-Mina, pergi ke Jumrah. Memang agama ini agama bergerak. Dianjurkan bahkan ulama mengatakan, pergi masjid jalan kaki lebih afdal daripada orang bertunggangan. Sampai begitu. Jadi disuruh bergerak. Kita tahu ini agama yang bergerak. Maka di sini ada pepatah bahasa Arab yang berbunyi: "تَحَرَّكْ، فَإِنَّ فِي الْحَرَكَةِ بَرَكَةً" <i>“Bergeraklah, karena di setiap</i> <i>gerak-gerik itu ada berkah.”</i> Artinya dianjurkan untuk orang tidak vakum, bergerak. Mungkin kalau kita sekarang dengan olahraga, segala macam. Ini termasuk hal yang dianjurkan. Selanjutnya adalah perlunya seorang Muslim cerdas dan jeli, dan tidak boleh tertipu oleh musuh. Sebagaimana Nabi ﷺ... melakukan itu pada saat menyiapkan senjata-senjata perang, walaupun tidak dipakai untuk menyerang musuh terlebih dahulu, tapi berjaga-jaga. Dan betul, hampir saja terjadi pengkhianatan dari... Quraisy. Pelajaran yang selanjutnya juga adalah bolehnya terjadi kesepakatan damai antara Muslimin dengan... orang-orang kafir kalau dilihat ada maslahat dan mudharatnya. Nabi ﷺ di Perang Khaibar, yang sebelumnya kita jelaskan, waktu melihat ada orang-orang Yahudi Fadak, wilayah Fadak, yang berusaha untuk menegosiasi dengan Nabi ﷺ, Nabi terima. Walaupun Nabi punya pasukan bisa menyerang, tapi kalau mereka pertama menawarkan diri untuk damai, ya sudah, kita damai. Karena kondisi damai, teman-teman, lebih memudahkan orang-orang kafir masuk Islam... dibandingkan peperangan. Karena kalau dalam kondisi damai, kayak kita sekarang, MasyaAllah, negara-negara Islam banyak damai, gitu kan. Perdamaian dengan negara kafir, semuanya bisa lintas negara. Kita masuk pakai paspor, pakai visa, masuk ke negara mana pun bisa masuk, gitu kan. Kita sekarang leluasa menawarkan Islam, dan ini lebih mudah membuat orang lain terima Islam. Kita bisa sebarin buku, kita bisa berdialog. Bebas, nggak ada masalah. Maka ini, teman-teman sekalian, adalah hal yang lebih penting dibandingkan peperangan. Kalau peperangan, umumnya itu bisa membangkitkan semangat orang mempertahankan agamanya walaupun dia dalam keadaan salah. Maka di sini perdamaian sangat penting didahulukan, karena memang target Islam adalah perdamaian, bukan penyerangan. Dan kata Nabi ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib waktu sudah tahu pasti akan menembus Benteng Khaibar: <i>“Hai Ali, ingatlah.</i> <i>Engkau jalan dengan tenang,</i> <i>tawarkan Islam dulu.</i> <i>Kalau mereka nolak jizyah,</i> <i>kalau mereka tolak, baru perang.</i> <i>Dan...</i> <i>ketahuilah, kalau ada satu orang saja</i> <i>dapat hidayah karena kau,</i> <i>karena dakwahmu,</i> <i>itu lebih baik daripada</i> <i>unta betina merah.”</i> Artinya, <i>"Lebih baik kau menjadi penyebab</i> <i>orang dapat hidayah daripada kau perangi dia."</i> <i>“Jangan kalian berharap musuh,”</i> kata Nabi ﷺ dalam juga di Khaibar, waktu pertama tiba di Benteng Khaibar. <i>“Jangan kalian berharap bertemu musuh,</i> <i>kecilkan takbir kalian.</i> <i>Tapi kalau kalian ketemu,</i> <i>kokohlah.”</i> Seperti itu. Jadi kalaupun kita pergi jihad, bukan termasuk pengecut. Kita berharap tidak bertemu musuh, tapi musuh tiba-tiba mengalah, itu lebih baik. Tapi kalau bertemu dengan musuh, kita kokohkan... telapak kaki kita. Ini pelajaran-pelajaran, teman-teman sekalian, diambil dari... ibadah ini, perjalanan sirah dari tadi pagi kita bahas sampai... malam ini tentunya. Dan yang terakhir, teman-teman sekalian, adanya... keutamaan atau... fadhilah orang umrah. Jadi, dianjurkan orang umrah. Dan ini bolehnya juga seseorang umrah berulang-ulang kali. Sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah atau para ulama tentang masalah... umrahnya Nabi ﷺ, walaupun ini adalah umrah qadha, tapi tetap beliau berarti seakan-akan melakukan umrah dua kali, karena dua kali tahallul. Cuma yang pertama tertahan oleh musuh, lalu kemudian beliau umrah lagi... setelahnya. Dan sesuai dengan sabda Nabi ﷺ juga: <i>"Antara umrah dengan umrah,</i> <i>pengampunan dosa di antara</i> <i>keduanya kalau dijauhi dosa-dosa besar."</i> Artinya, dianjurkan seseorang untuk sering... mengulanginya. Juga sabda Nabi ﷺ: <i>"Umrah dan haji</i> <i>yang dikerjakan secara berkesinambungan</i> (rutin) <i>akan menghilangkan</i> <i>kesusahan hidup dan kemiskinan,</i> <i>sebagaimana api</i> <i>menghilangkan karat...</i> <i>dari besi."</i> Allahu a’lam. Baiklah kalau begitu, teman-teman, semoga Allah berkahi majelis kita. Kita berdoa kepada Sang Pencipta, Allah, dengan kemahamurahan-Nya untuk menerima seluruh amal yang pernah kita kerjakan tanpa terkecuali sampai menjelang ajal datang nanti. Dan semoga seluruh dosa yang pernah kita kerjakan tanpa terkecuali, sekecil sampai sebesar apa pun, diganti dengan kemahamurahan-Nya menjadi pahala. Dan selalu kita doakan negara kita Indonesia agar menjadi negara yang aman, tenteram, damai. Seluruh rezekinya dibukakan oleh Allah dari seluruh penjuru-Nya dan seluruh utangnya terlunasi dengan izin-Nya tentunya. Dan seluruh Muslimin di bawah naungan ukhuwah Islamiyah, diangkat perselisihan di antara mereka, dan dalam ibadah mereka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan semoga saja seluruh wilayah Islam diberikan pemimpin Muslim yang adil, yang kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan semoga saja Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara yang lain. Tidak pernah lupa kita doakan saudara kita di Palestina, di Suriah, di Yaman, di Irak, di Myanmar, di Ahsok, di mana pun mereka sedang tertindas, semoga Allah ikhlaskan niat mereka, terima para syuhada mereka, muliakan Islam di tangan mereka dan tangan kita semua. Dan semoga Allah partisipasikan kita bersama mereka di pahala, baik dengan doa, dengan harta, juga dengan jiwa kita. Dan semoga Allah dengan kemahamurahan-Nya menyatukan kita semua tanpa terkecuali di surga Firdaus-Nya tanpa hisab, sebagaimana disatukan di majelis yang mulia ini. Kalau ada yang benar, pasti dari Allah. Kalau ada yang salah, pasti dari saya. Mohon dimaafkan. Subhanakallahumma wa bihamdika, Asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.