Sirah Nabawiyah #12 : Penyerangan Beberapa Suku Arab yang Ada Di Sekitar Kota Madinah
r7B4HzbgaZQ • 2017-11-01
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Selalu saja kita memuji Tuhan kita Allah, Zat yang pantas kita puji, dicintai, ditunduki, dan ditakuti. Satu-satunya Zat yang telah menciptakan, mengurus, mengawasi semua yang di langit, bumi dan kedalaman lautan. Ilmunya meliputi segala sesuatunya. Tidak beranak dan tidak diperanakkan juga dan tidak ada sekutu dalam setiap kegiatannya. Dia telah menggantungkan segala kebutuhan kita dengan kalimat sederhana dan penuh dengan berkah. Alhamdulillah. Maka sangat wajar di setiap awal aktivitas ataupun selesai dari aktivitas kita. Kita selalu mengucapkan kalimat ini. Selanjutnya kita panjatkan salam hormat kita penuh dengan cinta rindu, penghormatan kepada manusia terbaik, yang telah dipilih oleh Sang Pencipta Allah menutup risalah kenabian dan kerasulan. Manusia yang telah disempurnakan jalur nasabnya. Ilmunya, fisiknya, sukses dalam kehidupan dunianya, dan juga di akhiratnya. Demikianlah orang-orang yang mengikutinya, pasti juga akan mendapatkan kesuksesan. Makanya Allah sebagai pencipta telah memerintahkan setiap manusia tidak terkecuali untuk menjadikannya sebagai suri tauladan terutama bagi orang-orang yang sudah beriman. Dan Sang Pencipta, Allah bersama malaikat-Nya mengucapkan salam hormat - - secara langsung juga kepada manusia terbaik ini dan siapapun yang mengucapkan salam hormat kepada-Nya - - akan dibalas oleh Allah secara spontan sepuluh kali salam secara langsung dari Allah maka sangat wajar kalau kita mengucapkan selawat dan taslim kepada Nabi besar Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّم. Melanjutkan bahasan Sirah kita, semoga Allah berkahi. Setelah panjang lebar kita jelaskan tentang Perang Hamra’ Asad yang terjadi setelah perang Uhud dan juga pelajaran-pelajaran yang kita ambil dari Perang Uhud yang sangat luar biasa. Berikut juga kaidah-kaidah syar'i yang bisa diambil dari kejadian Uhud dan Hamra’ Asad. Kita akan masuk sekarang ke pembahasan tentang penyerangan beberapa suku. Suku Arab yang ada di sekitar Madinah ke Kota Madinah. Maksudnya ingin menyerang. Dan ini semua adalah rentetan permasalahan yang terjadi di Uhud di pertengahan peperangan. Di awal peperangan muslimin memenangan peperangan, di tengah-tengah mereka dikalahkan lalu kemudian mereka menang lagi di Hamra Asad. Hanya saja Hamra’ Asad peperangan ini banyak juga di antara suku-suku Arab yang tidak sampai kepadanya berita itu. Jadi sebagian kecil dan Quraisy berusaha menyebarkan berita kalau mereka menang. Dan memang banyak suku-suku Arab yang terpengaruh dengan pendapat Quraisy bahwasanya mereka yang menang Padahal sebenarnya sudah kita jelaskan di Hamra’ Asad Quraisy tidak bisa datang untuk menemui muslimin dan muslimin sempat tinggal selama tiga hari di sana. Simpang siur berita. Ada yang tangkap, ada yang tidak. Ringkas cerita teman-teman sekalian, ternyata ada beberapa suku-suku Arab yang berpikir untuk menyerang Madinah. Dikarenakan mereka mengetahui Uhud itu tempat lokasi di mana muslimin kalah, adalah di depan pintu gerbang Madinah. Artinya, di depan pintu gerbang Madinah saja Muslimin kalah, berarti sudah sangat lemah. Apalagi kalau mereka perang keluar dari Kota Madinah? Maka.. Perang yang terjadi, Hamra’ Asad dan Uhud itu terjadi Uhud tentunya di Bulan Syawal tanggal 15 Syawal tahun 3 Hijriah dan Hamra’ Asad tanggal 16 Syawal. Nabi ﷻ pada saat itu menetap di Madinah setelah Hamra’ Asad tidak keluar sama sekali. Bentuk pasukan atau menyerang. Beliau tinggal kurang lebih dari bulan Syawal, Zulka'dah, Zulhijjah tiga bulan sampai bulan Muharram. Di tahun 4 Hijriah. Tidak ada peperangan. Nabi ﷻ fokus menyampaikan wahyu kepada para sahabat dari hukum-hukum syar'i yang turun pada saat itu. Sampai akhirnya baginda Nabi ﷻ mendengarkan, teman-teman sekalian, ada beberapa suku-suku Arab Yang tamak untuk menyerang Madinah. Dan suku yang paling pertama Ingin menyerang Madinah adalah namanya suku Bani As’ad bin Khuzaimah Dan Saya sudah bilang tadi bahasan kita di pagi hari. Bagaimana orang-orang Arab itu kalau ada di antara mereka yang memiliki kelebihan fisik, harta, keturunan, maka bisa ternisbatkan nama suku kepadanya. Maka ini nama orang As’ad bin Khuzaimah, tapi karena dia orang yang kaya raya, punya keturunan banyak segala macam akhirnya terbentuk nama suku darinya kemudian berkembang jugalah kepada anak cucunya terus jumlah yang banyak. Maka terbentuklah suku yang besar. Suku ini teman-teman sekalian, dipimpin oleh seseorang bernama Thulaihah al-Asadi Thulaihah al-Asadi, si kakak, dan adiknya namanya Salamah Al-Asadi. Dua-duanya anaknya Khuwaylid ibn Asad Thulaihah ini perlu kita tahu juga nanti dia akan mengaku sebagai seorang Nabi. Salah satu yang mengaku Nabi di Jazirah Arab nanti, Nabi palsu tentunya, Thulaihah ini. Hanya saja dari tiga orang yang mengaku Nabi, Thulaihah bin Khuwaylid nanti taubat dia.. Masuk Islam dan dia taubat bahkan dia termasuk salah satu dari pasukan Umar bin Khattab yang menuju ke Qadisiyah memerangi Persia bersama Sa'ad bin Abi Waqash رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاا َجْمَعِيْنَ . Kemudian ada Aswad Al-Ansi kemudian nanti terbunuh. Dan juga ada Musailamah al-Kazzab juga terbunuh setelah mereka mengaku sebagai Nabi palsu. Saudara seiman berita akan menyerangnya Tulaihah ke Madinah ini didengar oleh baginda Nabi ﷻ Dan beliau akhirnya mengirim mata-mata ke sana. Dengan segera Nabi ﷻ menyiapkan pasukan yang kita sudah sering sebutkan dengan istilah Syariah. Masih ingat ya? Syariah adalah jumlah tiga orang sampai seratus maksimal. Namanya Sariyyah. Kalau lebih dari seratus maka dikatakan Jaisy, pasukan dalam bahasa Arab.. Tapi kalau di bawah dari seratus namanya Sariyyah. Nabi ﷻ menyiapkan Sariyyah yang dipimpin oleh Abu Salamah. Riwayat lain mengatakan Abu Talhah. Ada dua riwayat ya. Dengan kekuatan kurang lebih antara seratus orang Ada riwayat lain mengatakan seratus lima puluh orang, ada pasukan tambahan. Mereka menyerang ke suku As'ad. Sebelum mereka, atau suku As'ad menyerang Madinah dan ternyata dalam kondisi mereka tidak sadar, suku As'ad ini akan diserang, mereka lalai dan setelah salat subuh berhasil diserang oleh Abu Talhah. Dan berhasil mengalahkan suku As'ad. Yang akhirnya, membatalkan niat mereka untuk mendatangi Madinah. Dan tentu Abu Talhah lebih tepatnya, karena ada dua riwayat dari Abu Salamah tapi kita ambil riwayat yang paling kuat - - Abu Talhah رضي الله عنه yang sempat terluka parah di Perang Uhud itu diutus oleh Nabi ﷻ jadi pimpinan sini dan dia pada saat pulang dari menyerang suku As'ad ini dia pun mati terbunuh syahid. Karena lukanya di medan perang. Dan juga ulama mengeluarkan sebuah hukum siapapun yang telah ikut berperang - - kemudian terluka di medan perang, lalu dia pulang ke kampungnya atau ke kotanya dan dia mati karena luka itu maka dia terhitung syahid. Walaupun dia tidak mati di kancah peperangan karena lukanya menyebabkan dia mati. Yang luka itu didapatkan di kancah peperangan. Yang kedua suku Huzail. Kalau masih ingat tadi ada seseorang yang diutus oleh Quraisy untuk menakut-nakuti muslimin. Itu dari suku Khuzaid. Setelah perang Uhud tepatnya bulan Muharram juga. Setelah selesai suku As'ad tadi bin Khuzaimah dikalahkan datanglah kepada Nabi ﷻ dua suku Arab namanya suku Adal dan Qara Suku Addal daN Qara. Suku ini tidak terlalu dikenal karena suku yang cukup jauh di ujung Jazirah Arab, dekatnya di wilayah Najd. Wilayah dekat Negeri Syam. Mereka sempat datang kemudian meminta kepada Nabi ﷻ, mereka pura-pura masuk Islam. Mereka datang, mereka syahadat di Madinah, berapa puluh orang begitu. Tak disebutkan jumlah tepatnya. Tapi ada ahli sejarah mengatakan antara empat puluh sampai lima puluh orang, mereka lalu masuk Islam dan mereka meminta agar Nabi ﷻ mengutus beberapa orang sahabat penghafal Al-Qur'an Untuk menemani mereka pergi ke sukunya. Dan Nabi ﷻ mengutus enam orang sahabat yang mulia. Yang pertama adalah Ashim bin Tsabit bin Abi Aqlah Ashim bin Tsabit bin Abi Aqalah Yang kedua Marsad Ibn Abu Marsad al-Ghanavi Yang ketiga Khalid bin Al-Buqair Yang keempat Khubaib bin Adi. Nanti Saya ulangi lagi. Yang kelima Zaid Bin Datsinah Yang terakhir Abdullah bin Thoriq. Jadi Ashim bin Tsabit bin Abi Al-Aqalah. Marsad Ibn Abu Marsad al-Ghanavi. Khalid bin Al-Buqair, Khubaib bin Adi, Zaid Bin Datsinah, dan juga yang terakhir Abdullah bin Thoriq رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاا َجْمَعِيْنَ Semua ini adalah penghafal Al-Qur'an dari sahabat Nabi Ridwanullah 'alaihim. Pada saat tiba melewati pemukiman suku Khuzail, ternyata kelompok ini kelihatan pengkhianatannya. Padahal mereka tadi sementara jalan, mereka tunjukkan, mereka belajar salat, mereka coba belajar baca - - Al-Qur'an setiap istirahat. Tapi begitu lewat di depan suku Khuzail kelihatan pengkhianatan mereka. Mereka cuman mau sahabat ini ikut sampai di situ dan suku Khuzail ini suku yang sangat dekat dengan Mekkah. Nanti kita lihat suku ini nanti di pembebasan kota Mekkah atau kesepakatan Hudaibiyyah, mereka jadi baik, mereka akan mengiﷻkuti menjadi partner-nya Nabi ﷻ. Jadi sekutunya Nabi. Tapi pada saat ini kita ceritakan - - di awal-awal Islam. Maka kedua suku tadi Addal dan Qara ini menangkap sahabat yang enam, kemudian menyerahkan kepada Khuzair untuk menerima uang. Ini orang-orang dari Madinah Muslimin kami serahkan kepada kalian. Bayar duit kami tinggalkan. Dan Khuzayl memang sudah menawarkan kepada Quraisy. "Hai Quraisy kalau kami tawan orang Islam - - apakah kalian mau tebus?" "Ada orang muslim dari Madinah kami tangkap, kami serahkan ke kalian, mau kalian tebus enggak?" Orang Quraisy bilang "Bawa, siapa saja." "Dan kalau kalian bawa, kami bayar berapa saja untuk membalas dendam." karena ada di antara mereka yang sempat terbunuh kerabatnya di Perang Badr. Maka akhirnya, suku Khuzail pun mengepung sahabat tadi. Waktu mereka pas diserahkan, tentu enam orang ini tidak sempat diikat segala macam tapi tiba-tiba saja - - suku Khuzail disuruh kepung "Ambil dia, tangkap saja." Dari enam orang sahabat ini teman-teman sekalian, ada tiga orang yang menolak untuk menyerahkan diri. Itu adalah Ashim, yang tadi yang pertama kita sebutkan. Marshad dan Khalid bin Al-Bukaib Tiga sahabat ini nolak. Nolak untuk menyerahkan diri dan ketiganya berkata "Demi Allah kami tidak akan membuat perjanjian dan kesepakatan dengan kaum musyrikin." Enggak ada akad di sini. Karena kan mereka bilang, orang-orang Khuzain mengatakan "Sudahlah, kami tidak mau membunuh kalian, enggak usah melawan dan serahkan diri, kami hanya serahkan kalian kepada Quraisy." "Kami hanya mau duit." Mau harta. Ternyata tiga orang ini menolak enggak mau, akhirnya mereka menghunuskan pedang dan mereka berperang. Sampai akhirnya ketiganya mati syahid. Ketiganya sahabat ini رضي الله عنه mati syahid. Maka tersisa tiga orang yang lain yang tiga orang ini menyerahkan diri. Zaid bin Datsinah Tadi, Khubaib bin Adi, dan juga Abdullah bin Thoriq. Tiga orang ini menyerahkan diri. Ditawanlah. Khuzail membayar kepada dua suku tadi, Addi dan Qara ini. Kemudian, Khuzail membawa ketiga orang ini maksudnya dibawa ke Mekkah untuk diserahkan. Pada saat tiba di lokasi namanya lintasan Zahran, artinya sebuah padang pasir yang sering dilintasi oleh para kafilah-kafilah. Abdullah bin Thoriq رضي الله عنه sempat melepaskan tali ikatan dan akhirnya dia melawan sendiri. Dia melawan sendiri sampai akhirnya berhasil meloloskan diri, maaf, berhasil melawan tapi terbunuh syahid juga. Jadi sekarang tinggal dua sahabat. Tinggal Zaid Ibn Datsinah dan juga Khubaib bin Adi. Kedua sahabat ini dijual ke Mekkah, Khubaib bin Adi رضي الله عنه dibeli oleh Hujair. Yang membeli dia Hujair bin Ahab atau bin Ihab At-Tamimi. Siapa Hujair ini teman-teman yang membeli Khubaib? Hujair adalah saudaranya Al-Harits bin Amir bin Naufal. Al-Harits bin Amir bin Naufal, jadi Khubaib bin Adi dijual ke seseorang bernama Hujair bin Ihab. At-Tamimi. Hujair bin Ihab ini sengaja membeli Khubaib Karena dia adalah saudaranya Al-Harits. Namanya saudaranya Hujair yang membeli si Khubaib ini adalah Al-Harits bin Amir bin Naufal. Ini adalah orang yang dibunuh oleh Khubaib di Uhud. Jadi ternyata, Khubaib bin Adi رضي الله عنه sahabat Nabi ini sempat membunuh seseorang di Uhud namanya Al-Harits bin Amir bin Nufail. Ini adalah saudaranya Hujair. Makanya Hujair sengaja membeli Hubaib untuk dia bunuh balas dendam. Kemudian Zaid bin Datsin dibeli oleh Safwan bin Umayyah bin Khalaf. Kalau antum masih ingat di Perang Badr, Umayyah bin Khalaf termasuk yang terbunuh bersama Abu Jahal. Dan anaknya Umayyah bin Khalaf namanya Safwan, menjadi pengganti Ayahnya menjadi kepala suku di Mekkah. Dia bilang, dia iklankan "Siapa saja yang menyerahkan kepada Saya muslim, siapa saja - - muslim, maka Saya akan bayar berapa saja dan Saya akan bunuh sebagai ganti karena Ayah Saya terbunuh di Perang Badr." Kedua sahabat ini akhirnya dibunuh dan keduanya mati syahid. Keduanya mati syahid. Suku Khuzail pada saat menyerahkan Ashim, suku Khuzail sempat membunuh Ashim. Ingatkan tadi tiga orang - - yang sempat melawan di antaranya Ashim? Ashim ini waktu berperang melawan dia dengan tiga-dua orang temannya tiga orang akhirnya terbunuh awal karena - - tiga orang ditawan, tiga orang melawan awal. Ashim salah satunya. Waktu mereka membunuh Ashim, dan mereka memotong kepalanya Ashim dilepaskan, mereka niatnya ingin menjual kepala Ashim kepada seorang wanita bernama Sulafah. Ada Sulafah ada yang mengatakan juga Sulaifah. Namanya Sulafah binti Sa'ad. Sulafah binti Sa'ad ini sempat hadir di Uhud dan dia sempat menyaksikan enam orang saudaranya yang memegang bendera - sempat dibunuh oleh Hamzah , Ali, dan juga Ashim. Sulaifah atau Sulafah ini waktu dia lihat keenam saudaranya - - dari Bani Abdiddar jatuh tergeletak semuanya mati di dekat bendera, setiap ada pegang bendera dibunuh lagi oleh Hamzah. Ali dan Ashim. Waktu enam orang jatuh ini, kebetulan saudaranya yang keenam yang pegang bendera, yang membunuh - - yang menusuknya Ashim. Dan dia lihat maka Sulafah mengeluarkan instruksi di pasukan Quraisy waktu itu di Perang Uhud. "Siapapun yang mendatangkan kepada Saya batok kepalanya Ashim, maka Saya akan isi batok kepalanya dengan emas. Untuk Saya bayar." Jadi batok kepalanya nanti kalau Saya dapatkan, Saya akan bersihkan dikeluarkan semua isi otaknya - - Saya akan isi dengan emas sebesar itu, Saya akan kasih ke orang yang berikan batok kepalanya. Oleh karena itu suku Khuzail itu tamak pada saat itu. Mereka pada saat membunuh Asyim, mereka membawa kepalanya - - dengan niat mau dijual kepada Sulafah tadi binti Sa'ad bin Syahid yang hadir di Uhud pada saat itu. Namun terjadi keajaiban yang luar biasa pada saat itu di antara yang disebutkan di dalam riwayat adalah Pada saat mereka memotong kepala Ashim, kepalanya sempat dipenuhi dengan lebah. Entah lebah dari mana datang dari padang pasir. Penuh semua mukanya dan kepalanya penuh lebah. Dan setiap kali ada Khuzail yang mencoba menyentuh maka diserang oleh lebah tersebut. Dan di depan mata mereka lebah-lebah ini ramai-ramai menjepit kepala Ashim kemudian dibawa terbang. Oleh lebah. Sampai akhirnya, kepala Ashim tidak ditemukan sama sekali dan dibawa oleh lebah entah ke mana. Dengan hikmah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan pada saat terdengar berita tersebut oleh kaum muslimin, maka Umar bin Khattab - - mengatakan "Saya pernah mendengarkan Ashim telah bersumpah atas nama Allah dan memohon agar - - jasadnya tidak disentuh sama sekali oleh orang-orang musyrik. Maka pada saat mereka memotong pun kepalanya - - sempat jasadnya entah di mana, mereka hanya menemukan kepalanya dan kepalanya pun di bawah oleh lebah yang akhirnya mereka tidak bisa menemukan sama sekali jasad sahabat yang mulia ini. Tentu kita melihat ini teman-teman sekalian sampai di sini yang dinukil oleh para ahli sejarah dan belum disebut apakah Baginda Nabi ﷻ membalas atau tidak yang jelas kejadian Ini terjadi yang Saya tahu nanti - - suku Khuzail meminta maaf dan kemudian suku Khuzail akhirnya menjadi sekutu Nabi di Kesepakatan Hudaibiyah Yang ketiga, suku Sulaim, suku Ri’il, Suku Ziqwan, dan Usayyah. Ada empat suku Arab, suku Sulaim, Ri'il. Ri'il ini salah satu suku Arab juga ya. Suku Sulaim, suku Ri'il; Ziqwan, dan Usayyah. Ini empat suku Suku Sulaim, suku Ri'il; Ziqwan, dan Usayyah. Datang seseorang di Madinah, teman-teman sekalian, yang bernama Amir bin Malik. Amir bin Malik ini, tentu tadi itu nama-nama suku. Judulnya ya. Tapi kita masuk sekarang histori kisahnya. Ada seseorang datang ke Madinah bernama Amir bin Malik bin Ja'far. Amir bin Malik bin Jafar ini pimpinan suku Amir bin Sa'saah, salah satu suku Arab. Ia menemui Nabi ﷻ, si Amir ini bin Ja'far menemui Nabi ﷻ. Lalu memberikan hadiah sebagai tanda persahabatan, masih kafir. Lalu kata Nabi ﷻ "Saya enggak terima hadiah dari orang kafir." Saya enggak terima hadiah dari orang kafir. Tentu di sini - Nabi ﷻ menerima dia umumnya walaupun dari orang kafir, tapi khusus pada masa itu karena perang lagi genting-gentingnya - - kemudian telah terjadi kasus tadi sampai berita ke Nabi ﷻ tentang enam orang sahabatnya dikhianati - - maka beliau pun hati-hati, beliau mengatakan "Saya enggak terima hadiah dari orang kafir." Kecuali kalau kau masuk Islam. Kalau kau masuk Islam enggak ada masalah. Kau muslim dulu. Maka kata si Amir, "Saya enggak mau masuk Islam. Saya tidak akan masuk Islam. Tetapi kalau Anda mau." Kalau Anda mau Saya akan coba menyebarkan agama Anda ini di suku Saya, tapi dengan syarat - - harus ada sahabat Anda yang berangkat, harus ada orang yang berangkat." Nabi ﷻ masih trauma dengan enam orang yang dibunuh tadi. Sampai berita ke Nabi ﷻ. Juga ada riwayat tadi Saya lupa sampaikan teman-teman, bahwa Ashim pada saat jasadnya dicari maka bumi yang ada jasadnya terbuka dan menanamkan, memasukkan jasadnya sementara kepalanya dibawa oleh lebah. Tadi itu lupa Saya sampaikan. Maka kata Nabi ﷻ "Apa jaminanmu? Sekarang apa jaminan kau bisa selamatkan, ada sahabat Saya dikhianati." Kata dia "Saya menjaminnya, Saya kepala suku dan Saya yang jamin." Maka kata Nabi ﷻ "Baiklah kalau kau menjamin.. selesai." Artinya kalau ada pengkhianatan, maka perang nih. Maka Nabi ﷻ pun mengutus 70 orang sahabat pilihan. Tadi cuman enam, sekarang 70 orang supaya ada kekuatan. Di antara 70 orang ini, ada beberapa orang sahabat yang terkenal dengan keimanannya, dengan ilmunya, ulamanya sahabat. Di antaranya adalah Al Harits bin Syimah, Ia salah satu ulama sahabat yang mahsyur dengan ilmunya. Ini salah satunya, mungkin ada enam atau tujuh orang di antaranya sahabat semua mulia tentunya, tapi enam tujuh orang ini yang sangat tinggi ilmunya, hapal 30 Juz. Dan ini 70 orang memang penghapal Al-Qur'an semua. Yang kedua, Haram bin Milhan. Haram bin Milhan. Jadi Al-Harits bin Syimah, Al-Haram bin Milhan, kemudian Urwah bin Ashma. Al-Harits bin Syimah, Al-Haram bin Milhan, Urwah bin Ashma As-Silmi. Kemudian yang keempat, Naafi' bin Badil. Saya ulangi kalau ada yang mau catat teman-teman sekalian, Saya ulangi InshaAllah. Tapi niatnya dicatat bukan karena mau dapat buku ya? Dari sekarang sepakat dulu. Al-Harits bin Syimah yang pertama, kemudian Haram Bin Milhan, kemudian Urwah bin Asthma bin As-Silmi Urwah bin Asthma bin As-Silmi, kemudian Nase' bin Badil bin Warakah. Nase' Bin Badil bin Warakah, dan juga Amir ibn Fuhayra. Ini kurang lebih di antara tujuh puluh ada empat atau lima atau enam orang ini. Al-Harits bin Syimah - - Haram bin Milhan, Urwah bin Asthma As-Silmi, Nase' bin Badil bin Warakah, dan Amir bin Fukhayrah. Pada saat mereka tiba, pemukiman suku Sulaim, ternyata terjadi lagi pengkhianatan. Si Amir tadi bin Malik kepala suku Sa'saah, kepala suku Amir bin Sa'saah, berkhianat. Dia mengajak empat suku yang merupakan suku dia yaitu tadi yang sudah kita sebutkan di awal judul kita, suku Sulaim, suku Ril, suku Ziqwan dan suku Usayyah untuk membunuh para sahabat. Dan mereka melakukan itu. Sampai akhirnya ketujuh puluh sahabat berusaha - - melawan dan terbunuh enam puluh sembilan, mati syahid semuanya. Dan yang lolos cuman satu orang. Yang lolos adalah Amr bin Umayyah adh Dhamiri. Dan ini mereka terbunuh di sebuah lokasi namanya, di Bi'r Ma'unah. Bi'r Maunah (Sungai Maunah). Nanti akan kita jelaskan ada penyerangan Nabi ﷻ ke lokasi ini. Bagaimana mereka dihukum oleh Nabi ﷻ karena membunuh enam puluh sembilan sahabatnya. Jadi nama lokasinya Bi'r Maunah dan yang tersisa adalah Amir bin Umayyah Ad-Dhamiri. Dalam perjalanan menuju ke Madinah, Amir sempat menemukan dua orang dari asal suku Sang Pengkhianat, Amir bin Malik bin Jafar As-Sa'saah. Yang sempat memberikan jaminan Nabi kan namanya Amir bin Malik kan? "Saya jamin enggak ada masalah, karena kepala suku." Ternyata, Amir kepala suku tadi yang berkhianat itu, sahabat juga yang sempat lolos namanya Amir. Sahabat si Amir ini, waktu dia menuju ke Madinah pulang, dia temukan dua orang dari sukunya si Amir pengkhianat tadi. Lagi lewat, maka sahabat yang mulia ini membunuh dua orang itu. Sebagai balasan, karena dia tahu mereka dari suku Amir bin Sa'saah. Ini sama pengkhianat juga ini. Dia pikir semua suku itu pasti pengkhianat, padahal sebenarnya yang berkhianat itu cuman kepala sukunya saja. Pada saat Nabi ﷻ mendengar cerita tersebut, maka Nabi ﷻ berkata "Wahai Amir, masalah kasus pengkhianatan kepala suku mereka, Amir tadi bin Malik, ini dianya yang salah dan yang akan kita hukum dia, berikut empat suku yang mendukungnya tadi, Sulaib, Ri'il Ziqwan, itu semua tadi, itu yang kita hukum. Jadi dua orang yang kamu bunuh kita akan bayar diahnya. Lihat bagaimana keadilan Islam, ya? Padahal sudah terjadi pengkhianatan. Karena ada sahabat Nabi ﷻ membunuh dengan tidak sengaja, salah bunuh, maka Nabi ﷻ mau membayar itu. Lalu Nabi ﷻ sempat melakukan pada saat itu Qunut, Nazar sebulan, Subuh, Zuhur, Azhar, Maghrib, Isya membaca qunut semuanya memohon kepada Allah agar keempat suku itu ini dibinasakan oleh Allah. Selama sebulan penuh dan di sini keluar sebuah hukum tentang adanya qunut Nazilah, di mana pada saat muslimin terdesak ada masalah yang mereka hadapi, mereka boleh memohon kepada Allah agar diberikan kemenangan. Dan pada saat itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabulkan doa Nabi ﷻ sehingga keempat suku itu terkutuk. Dan mereka akhirnya banyak yang binasa dan ditimpa banyak penyakit. Sekarang teman-teman sekalian, pada saat Nabi ﷻ mau membayar diah dua orang dari suku Amir yang dibunuh oleh Amir tadi si sahabat Nabi ini. Maka, beliau pikir kalau dikirim diahnya ke sana nanti bisa dibunuh lagi sahabat. Bagaimana caranya? Dicarilah di Madinah - suku Madinah yang merupakan sekutunya suku Amir bin Sa'saah. Siapa? Ditemukanlah suku Yahudi, namanya suku Nadhir. Dan kita sudah pernah sebutkan ada tiga suku di Madinah, Yahudi, Qaynuqa, Nadhir, dan Quraydah. Suku Nadhir, teman-teman, adalah sekutunya suku Amir bin Sa'saah. Nabi ﷻ ingin niat memberikan diahnya dua orang yang terbunuh ini kepada Bani Nadhir, nanti mereka yang kasih kepada suku Amir supaya jangan lagi ada sahabat yang dibunuh begitu. Pada saat itu, Nabi ﷻ mendatangi sendiri pemukiman suku Nadhir dan menyampaikan hajatnya. "Kalau kami terjadi begini-begitu dan kami akan menitipkan diahnya, tolong selesaikan." Ternyata suku Nadhir pada saat itu mengatakan 'Baiklah kami akan terima ." "Tapi kamu tunggu sebentar, Hai Muhammad." Waktu itu Nabi ﷻ kebetulan lagi di jalan . Di jalan pemukiman mereka, karena di jaman dulu setiap suku punya benteng sendiri. Saya pernah jelaskan keadaan tiga suku Yahudi, Nadhir, Qaynuqa, dan Quraydhah ini semuanya punya benteng. Di dalam benteng mereka ada pemukiman mereka ada pasar ada sumur, ada peternakan seperti satu kota sendiri. Jadi kota di dalam kota. Suku Nadhir waktu Nabi ﷻ datang ke sana mau mengantarkan diah atau denda, dua orang yang dibunuh oleh sahabat tadi Disuruh tunggu oleh orang-orang Yahudi. Nabi ﷻ menunggu di salah satu rumah mereka Nabi ditemani waktu itu oleh teman; Abu Bakar, Umar sahabat-sahabat Nabi yang mulia Ali bin Abi Thalib. Tiga orang sahabat ini mendampingi Nabi ﷻ dan Nabi duduk bersandar di salah satu rumah mereka. Ternyata orang-orang Yahudi berkata satu sama yang lain "Sungguh kalian tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk membunuh Muhammad lebih baik daripada ini. Siapa yang naik ke atas rumah yang tempat dia sekarang lagi ada Kemudian dilemparkan batu ke bawah, biar Muhammad kena batu dan mati. Begitu pemikiran orang-orang Yahudi pada saat itu. Maka ada satu orang Yahudi yang pada saat itu bernama Amr bin Jahas. Amr bin Jahas bin Ka'ab. Dia berkata "Aku." Lalu dia pun membawa batu besar kemudian memutar dari belakang rumah itu dia masuk dari belakang pintu rumah, dia pamit sama pemiliki rumah, lalu dia ceritakan kisahnya lalu dia naik ke atas. Begitu dia naik ke atas dan dia tinggal menjatuhkan batu, wahyu turun. Mereka lupa kalau ini adalah Rasulullah ﷻ. Jibril mengatakan "Hai Muhammad, di atas kepalamu sekarang ada orang Yahudi bernama Amr ini mau melemparkan batu. Nabi ﷻ waktu itu, Abu Bakar sama Umar sama Ali enggak tahu. Karena Jibril berbicara dengan Nabi mereka tidak tahu. Maka Nabi ﷻ tiba-tiba berdiri lalu meninggalkan rumah tersebut dengan tidak ada sama sekali gerakan seakan-akan kaget atau marah, enggak, santai saja dan biasanya Nabi ﷻ kalau begini punya hajat ke kamar kecil. Para sahabat pahamnya begitu. Jadi kalau Nabi ﷻ berdiri tanpa sebab berarti ada hajat mau ke kamar kecil biasanya. Kalau selain kamar kecil biasanya Nabi ﷻ sampaikan. Seperti itulah. Nabi ﷻ berdiri. Waktu Nabi berdiri, Umar, Abu Bakar, dan Ali nunggu. Enggak ada juga yang tiba-tiba nanya Nabi mau ke mana "Ya, Rasulullah mau ke mana?" Enggak di tanya. Karena lama menunggu, Abu Bakar Umar dan Ali berpikir, "Ke mana Rasulullah? Kok Lama ini enggak balik-balik?" "Lebih baik kita lihat keadaannya." Mereka keliling di sekitar padang pasir dipakai untuk WC umum kalau kita. Enggak ada tapi. Lalu mereka kembali ke Madinah, mereka kaget ternyata Nabi ﷻ sudah membentuk pasukan. Sudah dimotivasi pasukan terbentuk pasukan besar. Lalu Abu Bakar tanya, "Ya Rasulullah ada apa?" Kata Nabi ﷻ "Begini ceritanya bahwasanya orang-orang ini sebenarnya berusaha membunuhku. Ada seseorang bernama Amr naik di atas rumah mau lempar batu, dan kalau Saya tunggu sebentar beberapa saat saja sudah dilemparin batu itu. Wahyu menyampaikan kepada Saya dan harus dihukum." Maka Abu Bakar, Umar, dan Ali pun bergabung di pasukan, dan akhirnya Nabi ﷻ mengepung benteng suku Nadhir selama lima belas hari. Subhanallah, selama lima hari ini sebenarnya suku Nadhir merasa bersalah dan mau menyerahkan diri kepada Nabi ﷻ. Tapi apa yang terjadi? Beberapa orang-orang munafik mendatangi suku Yahudi ini. Pimpinan mereka yang sudah mahsyur, Abdullah bin Ubay bin Salul, kemudian ada sahabatnya bernama Wadi'ah. Ini juga seorang munafik, kemudian ada Malik bin Qaukal Ini dia juga orang munafik. Dan kemudian ada Suwaid. Ada lima orang ini. Ada Suwaid dan ada Dais. Jadi ada lima orang munafik, Abdullah bin Abi Salul, Wadiah, kemudian Malik bin Qaukal, Suwaid, dan Dais. Mereka berlima mendatangi bentengnya suku Nadhir dan berkata "Sudahlah jangan menyerahkan diri." "Kami membela kalian. Kalian tahukan siapa kami?" Maksudnya orang-orang munafik itu. "Kami bukan muslim, kami akan bela kalian jadi tidak usah khawatir. Kami juga punya pasukan." Disebutkanlah pasukan mereka begini-begitu namanya si Fulan, kalian tahu si Fulan dan si Fulan. Di Madinah mereka saling tahu, ini orang munafik semua. "Kami siap membela kalian. Kalau kalian diperangi, kami juga akan memerangi muslimin. Kalau kalian mati, kami "Kami mati bersama kalian." Tadinya suku Nadhir ini khawatir gitu kan, mereka mau menyerahkan diri. Tapi karena motivasi dari orang-orang munafik ini, akhirnya mereka tidak jadi menyerahkan diri, dan akhirnya mereka mau melawan. Sampai akhirnya, mereka dikepung lima belas hari dan ternyata dalam lima hari itu pun setelah orang-orang munafik ini keluar sama sekali mereka tidak mengirim bantuan, tidak ada beritanya, begitu. Akhirnya mereka menyerahkan diri Dan ini sifatnya orang munafik. Orang munafik subhanallah sudah biasa begitu. Sama kaum muslimin benci, sama orang kafir penjilat dan dusta semua hidupnya. Dan kita tahu surat An-Nisa menjelaskan masalah ini. Surat An-Nisa, surat nomor empat ayat 138. Dimulai dari 138. Pernah Saya bacakan ayat ini, tapi saya bacakan lagi. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ ١٣٨ "Sampaikanlah berita bahwasanya orang-orang munafik itu akan mendapatkan siksa yang pedih." ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ "Mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang kafir sebagai tempat mereka bersandar." اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ ١٣٩ "Mereka mengira bahwasanya orang-orang kafir itu punya kemuliaan sehingga mereka berusaha menjilat di situ." "Mau mendekat padahal sebenarnya semua kemuliaan itu ada di sisi Allah." وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا "Dan telah diturunkan dalam Al-Qur'an dengan sangat tegas" "kalau kalian mendengarkan ayat-ayat Allah diolok-olok, maka jangan kalian duduk." فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ "Jangan kalian duduk bersama mereka." حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓ ۖ "Sampai mereka mengalihkan pembicaraan ke yang lain." اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ "Kalau kalian ikut-ikutan bersama orang-orang munafik itu, orang kafir itu, maka kalian sama saja dengan mereka." اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ ١٤٠ "Sesungguhnya Allah pasti akan mengumpulkan orang kafir dan munafik Dalam neraka jahanam bersama-sama. Sifat orang munafik disebutkan. ۨالَّذِيْنَ يَتَرَبَّصُوْنَ بِكُمْۗ "Yaitu orang-orang yang selalu mencari kejadian-kejadian untuk kalian terhadap kaum muslimin." فَاِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ "Kalau kalian mendapatkan kemenangan dari sisi Allah." "فَاِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ" Orang-orang munafik berlomba-lomba berkata 'Bukankah kami juga umat Islam sama dengan kalian?" "Kami kan juga namanya si Fulan si Fulan, orang Muslim." وَاِنْ كَانَ لِلْكٰفِرِيْنَ نَصِيْبٌ "Dan kalau seandainya orang kafir yang mendapatkan kemenangan." قَالُوْٓا اَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ "Bukankah kami telah memenangkan kalian." وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ "Dan kami melarang atau menahan kalian dari orang-orang beriman, lalu mereka mengatakan.." "Bukankah kami telah memenangkan kalian dan kami menahan kalian dari orang-orang beriman?" فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ "Allah akan menghakimi di antara mereka di Hari Kiamat." وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا ࣖ ١٤١ "Allah tidak akan mungkin memberikan orang-orang kafir untuk memusnahkan orang mukmin." "Sampai keseluruhan." اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ "Orang-orang munafik berusaha menipu Allah seakan-akan "Allah tidak tahu tentang keadaan mereka." "Padahal Allah sedang menipu, membalas tipu muslihat mereka." وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ "Mereka kalau bangun salat, mereka sangat malas." يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ١٤٢ "Kalaupun mereka salat, mereka hanya ingin pujian manusia." وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ١٤٢ "Mereka tidak pernah berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali." مُّذَبْذَبِيْنَ بَيْنَ ذٰلِكَۖ "Mereka bimbang, bingung, antara kafir dan keimanan." لَآ اِلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ وَلَآ اِلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ ۗ "Mereka tidak menjadi orang beriman, tidak pula menjadi orang kafir." وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ سَبِيْلًا ١٤٣ "Siapa yang telah Allah sesatkan, maka kalian tidak akan mendapatkan petunjuk baginya." Lalu kemudian sebagai penutup teman-teman, dan kita istirahat untuk salat dulu InshaAllah. Ternyata di sini, semua yang mereka sampaikan kepada orang-orang Yahudi itu bohong dan dusta. Tidak ada dukungan dan tidak ada juga bantuan dari mereka, yang akhirnya Allah Azza Wa Jalla memasukkan rasa takut dalam hati suku Nadhir, dan mereka meminta perdamaian dengan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ والصلاة والسلام Dan InshaAllah kita akan sampaikan atau lanjutkan sebentar lagi bahasan kita. سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك وَٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الحَمْدُ لله والصلاة والسلام على رسول الله segala puji bagi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga selawat dan taslim kepada Nabi besar Muhammad ﷻ Tadi kita sudah sampai suku Nadhir di mana mereka akhirnya menyerahkan diri kepada baginda Nabi ﷻ setelah lima belas hari dikepung, dan setelah terbukti ternyata kebohongan orang-orang munafik yang katanya mau membela mereka, dan memang ini sudah menjadi sebuah tradisi dari orang-orang munafikin. mereka selalu memusuhi Islam dan mereka selalu menjilat dan menipu orang-orang kafir. Juga sudah kita bacakan beberapa ayat Al-Qur'an dalam surat An-Nisa yang menjelaskan masalah ciri-ciri khasnya orang-orang munafik itu. Di antara suku Nadhir, pada saat mereka menyerahkan diri, mereka tadinya minta damai. Tadinya Nabi ﷻ cuman minta si Amr saja yang bawa batu di atas rumah itu. "Itu serahkan ke kami." Mereka enggak mau. Karena enggak mau jadi akhirnya semua suku dikepung. Kalau mereka serahkan, maka selesai urusannya. Orang itu yang dihukum, tapi ini tidak. Maka akhirnya yang dikepung semua, dan mereka sampai menyerahkan diri pun, tidak mau menyerahkan si orang yang niat mau membunuh tadi. Maka Nabi ﷻ mengatakan "Saya hanya akan sepakat dengan kalian kalau kalian tunduk dengan hukumku." Maka mereka pun sepakat dan Nabi pun ﷻ menyetujui syarat-syarat atau menulis syarat-syarat. Di antara syaratnya Nabi ﷻ adalah mereka harus meninggalkan Madinah dan mereka tidak boleh membawa apapun kecuali unta mereka saja. Maaf mereka boleh membawa apa saja yang mampu diangkat oleh unta mereka. Yang lain tidak bisa, kaya rumah kebun tentu tidak bisa. Mereka hanya bisa membawa apa yang mampu diangkat oleh untanya. Dan di antara suku Nadhir ada yang masuk Islam. Dua orang. Orang Yahudi, Yamair bin Amr bin Ka'ab رضي الله عنه Dan juga Abu Sa'ad bin Wahab. Yamair bin Amr bin Ka'ab dan Abu Sa'ad bin Wahab. Sehingga akhirnya Nabi ﷻ mengembalikan harta mereka, karena mereka masuk Islam dikembalikan semua apa yang tadi diambil oleh Nabi ﷻ Harta suku Nadhir dibagi oleh Baginda Nabi ﷻ kepada seluruh Muhajirin yang pertama masuk Islam dari Mekkah dan dari orang Anshar diberikan dua orang saja. Sahal bin Hunaif dan Syamak bin Kharash. Abu Dujanah. Dua orang sahabat Nabi ini dapat ghonimah dari orang-orang Anshar, cuman dua orang. Sahal bin Hunaif dan Syamak bin Kharasyah atau Abu Dujanah. Kejadian ini terjadi teman-teman sekalian di bulan Rabiul Awal tahun 4 Hijriah. Karena tadi kan Nabi ﷻ istirahat tidak perang setelah kejadian Hamrat Asad sampai bulan Muharram di tahun 4 Hijriah, lalu terjadilah beberapa suku-suku Arab sampai akhirnya suku Nadhir ini yang dikeluarkan dari kota Madinah. Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengekekalkan dalam Al-Qur'an cerita tentang pengusiran suku Nadhir dari Madinah dan pengkhianatan mereka ini. Dalam surat Al-Hasyr lengkap satu surat itu turun untuk mereka. Ada 24 ayat dan bagi teman-teman yang mau menghapal surat-surat untuk menambah hapalan surat, termasuk surat ini mulia juga. Karena surat ini juga tidak panjang. Dua puluh empat ayat dan menceritakan tentang kejadian mereka. Saya akan membacakan. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ surat Al-Hasyr, surat nomor 59 ayat 1 - 24. سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١ "Telah bertasbih kepada Allah semua yang ada di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Ayat ini turun kejadian Pengusiran suku Nadhir pada saat mereka dikepung lima belas hari itu. Lalu Allah mengatakan هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ مَا ظَنَنْتُمْ اَنْ يَّخْرُجُوْا وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مَّانِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ فَاَتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوْا وَقَذَفَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِاَيْدِيْهِمْ وَاَيْدِى الْمُؤْمِنِيْنَۙ فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ ٢ "Dialah Allah yang telah mengeluarkan orang-orang kafir dari ahli kitab, dari kampung-kampung mereka" maksudnya itu benteng mereka. "Pada saat pengusiran yang pertama." Yang dimaksud adalah orang-orang Bani Nadhir karena mereka yang mula-mula dikumpulkan dan diusir dari Kota Madinah. "Kalian sempat menyangka hai muslimin, bahwasanya mereka tidak akan keluar." "Dan mereka pun yakin bahwasanya benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari siksa Allah." "Maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang mereka tidak sangka-sangka." "Dan Allah memasukkan ketakutan dalam hati mereka. Mereka merusak rumah-rumah mereka dengan tangan-tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin, maka ambilah pelajaran dari kejadian itu, "Hai orang-orang yang mempunyai wawasan atau akal." Jadi ayat ini, ayat nomor dua ini yang paling tegas menjelaskan masalah keadaan mereka. Jadi waktu Nabi ﷻ mengatakan kalian harus diusir dari Madinah, sepakat keluar kalau enggak dibunuh? Dan hanya boleh bawa barang yang dinaikkan di atas unta saja. Rupanya, karena mereka sakit hati mereka sempat - - merusak rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri. Maksudnya supaya tidak dipakai oleh muslimin, begitu. Ternyata di antara muslimin ada yang datang membantu mereka merusakin rumahnya. Karena kita tidak butuh rumah kalian kok. Enggak butuh, keluar saja. Allah mengatakan ambil pelajaran dari situ. Suku Nadhir ini teman-teman sekalian, memiliki di dalam benteng itu sekitar seribu personil perang. Ahli perang. Prajurit, dan mereka masih mempunyai sekian ribu orang yang memang bukan personil perang tapi bisa dipakai tenaganya, yang mengepung mereka hanya segelintir, beberapa ratus sahabat saja. Mereka bersama Nabi ﷻ, tapi Allah mendatangkan ketakutan-ketakutan kepada mereka sehingga akhirnya mereka menyerahkan diri. Dan beginilah selalu keadaan peperangan muslimin kalau memang mereka ikhlas kepada Allah Walaupun jumlahnya lebih sedikit pasti Allah berikan kemenangan. Ayat 3 وَلَوْلَآ اَنْ كَتَبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاۤءَ لَعَذَّبَهُمْ فِى الدُّنْيَاۗ وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ ٣ "Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia dan bagi mereka di akhirat azab neraka." "Kalau bukan karena Allah mudahkan kalian mengusirnya, Hai Muslimin, mereka tetap akan Allah siksa dalam benteng mereka." Jadi semuanya itu adalah penghinaan dan di akhirat juga kalau mereka tidak sempat taubat tidak masuk Islam, pastilah mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam." ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۖوَمَنْ يُّشَاۤقِّ اللّٰهَ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ٤ "Demikian itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya." مَا قَطَعْتُمْ مِّنْ لِّيْنَةٍ اَوْ تَرَكْتُمُوْهَا قَاۤىِٕمَةً عَلٰٓى اُصُوْلِهَا فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيُخْزِيَ الْفٰسِقِيْنَ ٥ "Apa saja yang kalian tebang dari pohon-pohon kurma milik orang-orang kafir atau yang kalian biarkan tumbuh berdiri di atas pokoknya, maka semua itu dengan izin Allah dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik." Perlu kita ketahui teman-teman sekalian, di luar bentengnya Bani Nadhir, karena di dalam bentengnya kalau mereka tanam kebun kurma, maka habis tempat, mereka butuh tempat tinggal. Maka mereka beli atau tanam tanah-tanah di sekitar Madinah di luar benteng dijadikan kebun-kebun dan luas sekali kebun-kebun orang-orang Nadhir ini. Waktu mereka, dan mereka orang-orang Yahudi ciri khasnya suka sekali dengan harta. Mereka lebih cinta hartanya daripada keluarga mereka sendiri. Orang Yahudi siap mengorbankan istrinya yang penting hartanya enggak hilang. Anak-anaknya juga siap, enggak ada masalah, yang penting jangan hartanya. Makanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan tentang sifat mereka buruk sekali tentang cintanya terhadap dunia. Mereka berharap dipanjangkan umurnya, berharap mengumpulkan harta, seperti itu. Yang jelas, waktu itu salah satu titah Nabi ﷻ adalah tebang pohon kurmanya. Di depan matanya mereka (ditebang). Dan pohon kurma adalah harta mereka yang paling mahal pada saat itu. Maka mereka waktu lihat, mereka sebarin berita "Hai Muhammad, kenapa kau tebang pohon-pohon? Bukankah agamamu melarang untuk menebang pohon?" Karena kan Nabi ﷻ kalau kirim pasukan titip pesan, "Jangan bunuh perempuan, jangan bunuh anak-anak, jangan tebang pohon-pohon." "Jangan bunuh hewan-hewan, jangan rusak fasilitas umum." Ada larangan tapi Allah khusus menyebutkan tentang masalah pengepungan Bani Nadhir, kata Allah, "Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma." Kalau antum tidak ikuti sebabnya tadi ini mungkin tidak tahu apa yang dimaksud oleh Allah di sini. Tapi di sini ternyata muslimin ada yang menebang pohon-pohon kurma, sehingga pada saat mereka lihat, mereka jadi ketakutan si orang Yahudi ini. Mereka takut hartanya hilang. Gara-gara ini salah satu faktor yang membuat mereka akhirnya menyerahkan diri. "Apa saja yang kamu tebang kata Allah dari pohon kurma milik orang-orang kafir itu, atau yang kamu biarkan.." tidak ditebang di pokoknya. "..maka semua itu tetap dengan izin Allah dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang kafir." Maksudnya biar mereka merasa kehilangan hartanya, Allah hinakan dengan itu. Kemudian di ayat keenamnya, وَمَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْهُمْ فَمَآ اَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَّلَا رِكَابٍ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهٗ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٦ "Dan apa saja harta rampasan مَآ اَفَاۤءَ اللّٰ." Jadi 'fai' adalah istilah harta rampasan perang yang tidak ada perlawanan dari musuh. Namanya 'Fai' Dengan peperangan sehingga kita menang, namanya ghanimah. Beda. Kalau Fai punya hukum sendiri, ya. Nanti kita akan jelaskan. Yang jelas Allah mengatakan di sini, di ayat 6-nya. "Apa saja harta rampasan 'Fai' yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari harta benda mereka maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan tidak pula seekor unta pun." Tapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya." "Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Maksudnya adalah 'Fai' itu kalau terjadi peperangan dan menang waktu di zaman Nabi ﷻ masih hidup, maka harta rampasan yang didapatkan tanpa peperangan itu murni milik Nabi ﷻ. Itu murni milik Rasulullah ﷻ. Dan beliau punya hak memberikan kepada siapa saja. Makanya tadi 'Fai'-nya Bani Nadhir, diberikan kepada orang-orang Muhajirin dan dua orang Anshar saja yang dianggap miskin, yang lain tidak dikasih orang Anshar. Dan Allah menyebutkan kenapa, karena tidak ada peperangan. Tidak ada kalian gerakkan seekor kuda ataupun unta untuk menyerang musuh, maka itu 'Fai' namanya. Lalu kemudian Allah juga mengatakan di ayat 7-nya مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ ٧ "Apa saja harta rampasan 'Fai' yang didapatkan tanpa peperangan, yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari harta benda penduduk kota-kota, maka itu adalah milik Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim." Maksudnya kerabat Nabi ﷻ. Anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan dan terputus jalan. Supaya harta tersebut tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian. "Apa yang diberikan Rasul kepada kalian terimalah, dan apa yang dilarang bagi kalian tinggalkanlah." "Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksaannya." Ayat 8 لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ ٨ "Juga harta tersebut,' Fai' diberikan kepada orang-orang fakir yang hijrah dari Mekkah, yang diusir dari kampung" "..halaman mereka dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya." "..Dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang jujur." Ayat 9-nya وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩ "Dan Allah memuji orang-orang Anshar, orang-orang yang telah menempati kota Madinah, dan telah beriman maksudnya orang Anshar, sebelum kedatangan para Muhajirin mereka orang Anshar mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka orang-orang Anshar tidak menaruh dalam keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada Muhajirin." Artinya Allah pastikan 'Fai' ini pun, Hai Muhammad kalau kau berikan kepada Muhajirin tidak diberikan kepada Anshar Enggak usah khawatir, karena orang Anshar tidak pernah ada masalah dengan hati mereka. "Karena mereka suka dan cinta dengan saudara-saudara yang hijrah. Dan ini pujian dari Allah untuk penduduk Madinah secara khusus." "Dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan." "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang beruntung." Jadi alasan kenapa Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyuruh Nabi-Nya Muhammad ﷻ membagikan 'Fai' kepada Muhajirin. Dan cuman dua orang dari Anshar. Karena itu haknya Allah dan Rasul-Nya secara mutlak, dan memang orang-orang Muhajirin layak dibantu, terutama orang-orang miskin di antara mereka. Sebagian ahli sejarah mengatakan orang-orang kaya Muhajirin tidak didapatkan, seperti Abu Bakar, Ustman bin Affan, orang-orang kaya tidak mendapatkan 'Fai' dari sini, tapi orang-orang miskin di antara mereka sebagaimana Allah sudah sebutkan. Kemudian dikatakan selanjutnya. وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, para Muhajirin dan Anshar.." Setelah dengar kisah ini kita sekarang termasuk kena ayat ini. Mendengarkan kisah ini, tidak akan pernah lagi ada pikiran kita sebagaimana orang-orang Anshar pernah berpikir. Jangan ada di antara kita terpikir teman-teman sekalian "Loh kenapa Rasulullah, cuman kasih orang Muhajirin ya? Kenapa orang Anshar tidak dikasih?" Sudah dijawab di sini. Jangan lagi kalian balas. Jangan lagi bimbang dengan itu, tapi katakanlah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berkata "Orang-orang yang datang sesudah mereka para Muhajirin dan Anshar yang baca Al-Qur'an mereka malah berdoa 'Ya, Rabb kami, berikanlah ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami', dan jangan Engkau jangan biarkan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'" Dan ayat ini yang digunakan oleh ulama ahli sunnah yang sangat tegas membantah pemahaman Syiah yang menghina para sahabat apalagi sampai mengkafirkan. Karena di sini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan kita semua yang datang setelah Muhajirin dan Anshar mendoakan agar mereka mendapatkan pengampunan dan tambahan Rahmat. Ayat 11, ۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ١١ "Ingatlah, apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang munafik" kata Allah "Yang telah berkata kepada saudara-saudara mereka orang-orang kafir, Allah membongkar kedoknya empat orang munafik tadi yang memberikan suku Nadhir. "Enggak apa-apa enggak usah menyerahkan diri kami akan tolong kalian." Allah bongkar kedok mereka "Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka dari orang kafir?" " di antara ahli kitab? Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kalian." "Dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk menyusahkan kalian?" Dan jika kamu diperangi? Pasti kami akan membantu kalian, dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta." Ayat 12 لَىِٕنْ اُخْرِجُوْا لَا يَخْرُجُوْنَ مَعَهُمْۚ وَلَىِٕنْ قُوْتِلُوْا لَا يَنْصُرُوْنَهُمْۚ وَلَىِٕنْ نَّصَرُوْهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْاَدْبَارَۙ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ ١٢ "Sesungguhnya jika mereka diusir orang-orang ahli kitab tadi, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka." "Tidak mau diusir juga, dan sesungguhnya jika mereka diperangi niscaya mereka tidak akan menolong." "Sesungguhnya, jika mereka menolong pun, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang." "Kemudian mereka tidak akan mendapatkan pertolongan." Ayat 13 لَاَنْتُمْ اَشَدُّ رَهْبَةً فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنَ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ ١٣ "Sesungguhnya kamu kalian sekalian orang-orang beriman dalam hati mereka orang kafir dan orang munafik." Lebih ditakuti daripada Allah, dan yang demikian itu karena mereka kaum yang tidak mengerti. Ayat 14-nya لَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ جَمِيْعًا اِلَّا فِيْ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ اَوْ مِنْ وَّرَاۤءِ جُدُرٍۗ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ ۗ تَحْسَ
Resume
Categories