EMAS TEMBUS 3 JUTA! Apakah Sudah Terlambat Beli Emas di 2026?
JSJRnHz67RM • 2026-01-27
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ternyata prediksi beberapa berita
ekonomi di bulan Oktober kemarin
akhirnya terbukti juga per Januari 2026
harga emas resmi tembus Rp3 juta.
Sebenarnya kalau lu ngikutin trennya
dari tahun lalu momennya itu udah enggak
mengejutkan lagi ya. Karena kalau kita
lihat grafiknya sejak awal 2025 harga
Mas itu emang naik drastis. Bayangin aja
ya, ibaratnya di 2025 harganya tuh masih
di angka R1,5 juta dan di awal 2026 ini
harganya udah naik dua kali lipat udah
sampai di angka Rp3 juta. Dan menariknya
kandaikan harga emas yang drastis ini
memicu berbagai reaksi dari netizen
Indo. Ada yang senang ya karena udah
nabung dari 2012. Ada yang nyesel enggak
beli pas harganya masih di Rp2 juta. Ada
juga yang nyesel karena emasnya baru aja
dijualin. Dan juga ada yang cemas soal
mahar pernikahannya yang semakin mahal.
Di tengah kepanikan ini seperti orang
Indonesia pada umumnya ya, banyak yang
kemungkinan besar bakal fomo mau beli
emas sekarang. Apalagi bentar lagi puasa
THR bakal cair. Godaan buat spending
kemas ini pasti gede banget. Nah,
pertanyaannya buat lo yang belum beli
emas di 2026, apakah itu sudah terlambat
buat lo beli emas atau justru ini adalah
waktu yang tepat buat lo mulai beli
emas? So, welcome to Psychology of
Finance by 1%. Hari ini kita bakal bahas
tentang emas di 2026. Enjoy.
Welcome to psychology of finance.
Gua bakal coba sampaiin argumen yang pro
dulu ya. Emas itu masih belum telat buat
dibeli. Karena kita sekarang lagi ada di
fase ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Inflasi itu tinggi banget. Konflik juga
di mana-mana. dan ada isu perang dunia
ketiga yang makin panas. Era
ketidakpastian ini jadi salah satu
faktor kenapa harga emas itu bisa
menggila sampai sekarang. Apalagi di
Januari 2026 ini ada gejolak sempurna
yang bikin investor pada panik. Pertama,
masalah Greenland dan perang tarif di
NATO. Mungkin lu udah tahu ya, beberapa
waktu lalu Amerika Serikat menginvasi
Venezuela dan menculik presidennya. Gak
puas sampai di situ. Setelahnya Trump
juga menargetkan Greenland untuk
diakuisisi. Dan masalahnya Greenland itu
wilayahnya Denmark dan Denmark itu
sekutu dekat Amerika di NATO. Karena
Denmark ini tegas ya nolak ngejual
Greenland, Amerika itu malah ngamuk.
Mereka mengancam bakal nerapin tarif
impor 10 sampai 25% ke Denmark dan
negara sekutu NATO lainnya di Eropa
kalau Greenland enggak dikasih. Bayangin
aja ya, Amerika yang harusnya jadi
pemimpin aliansi ini malah nodong teman
sendiri pakai senjata ekonomi. Dan
akibatnya muncul ketakutan kalau pasar
Amerika udah enggak aman lagi. Dan
akhirnya investor pada panik. Mereka
langsung buang aset dolar buat beli
emas. Isu yang kedua adalah isu
independensi defend. Di saat yang sama
di dalam negaranya sendiri Departemen
Kehakiman Amerika tiba-tiba membuka
investigasi kriminal ke ketua The Fat,
Jerome Powell. Simpelnya, def ini mirip
kayak Bank Indonesia ya, yang tugasnya
tuh buat bikin kebijakan moneter. Nah,
pasar ngelihat ini sebagai upaya maksa
bank sentral buat nurunin suku bunga
secara paksa demi kepentingan politik.
Ini sebenarnya pertanda yang berbahaya
ya. Karena kalau kita lihat sejarah di
US tahun 1972 itu pas presidennya masih
Richard Nixon juga pernah menekan ketua
defed untuk nurunin suku bunga. Dan
hasilnya di tahun itu terjadi inflasi
gila-gilaan yang bikin ekonomi US jadi
macet banget. Nah, makanya gara-gara ini
investor makin yakin ngejual aset berbau
Amerika dan mindahin uangnya ke aset
yang lebih netral yaitu emas. Secara
teori ekonomi, kalau permintaan tinggi
harganya juga pasti ikut naik juga. Dan
ini yang bikin harga emas bisa semahal
sekarang. Jadi, situasi kayak gini fokus
orang-orang bukan lagi cari cuan besar,
tapi nyari aset penyelamat biar nilainya
itu enggak habis dimakan krisis. Nah,
emas adalah salah satu pilihan yang
paling masuk akal di saat ini. Tapi
kalau kita ngomongin di luar dari
politik, by data itu sebenarnya ada tiga
alasan kuat kenapa posisi emas itu masih
sangat mendominasi hingga saat ini.
Pertama, nilai uang kertas itu selalu
turun. Mas makin mahal bukan karena
bentuk atau komposisinya yang berubah,
tapi karena nilai mata uang kayak rupiah
dan dolar itu makin lama makin turun
gara-gara inflasi. Dulu duit Rp50.000
itu cukup ya buat belanja di pasar buat
kebutuhan konsumsi selama 1 minggu. Nah,
sekarang makan yang layak selama 3 hari
aja mungkin enggak cukup. Ikan 1 kg aja
harganya udah tembus Rp60.000 ya. Ayam
juga mahal bisa sampai Rp55.000 per kg.
Jadi nominal itu sebenarnya tuh sama
tapi kekuatan belinya itu menyusut
secara drastis. Nah, emas adalah aset
yang kebal sama penyusutan ini. Bahkan
di tahun '98 aja lu bisa beli 1 gram
emas dengan harga uang Rp75.000. Tapi
sekarang buat beli 1 gram emas harus
punya uang sampai Rp3 juta. Yang artinya
daya jual emas itu enggak menyusut.
Justru berkontribusi pada naik turunnya
tuh inflasi. Jadi, pas lo beli emas
sekarang nih di harga Rp3 juta, lo
sebenarnya bukan beli barang yang
kemahalan. Lo lagi nukerin uang kertas
yang pasti melemah dengan aset yang
nilainya terjaga setiap tahunnya. Yang
kedua, bank sentral dunia lagi borong
emas besar-besaran. Dulu selama dua
dekade terakhir, bank sentral di
beberapa negara maju itu sering jualan
emas. Tapi sejak krisis geopolitik di
Eropa sejak tahun 2022 dan pembekuan
cadangan devisa Rusia, perilakunya mulai
berbalik total. Sekarang bank-bank
sentral ini jadi pembeli emas terbesar
di dunia. Mereka mulai ngeborong emas
dalam jumlah yang sangat besar. Biar
lebih jelasnya lagi, lu bisa lihat
grafik ini ya. Dan kalau kita ngomongin
case negara secara spesifik terhitung
dari Januari sampai November 2025. Pola
dia itu udah ningkatin cadangan emasnya
sampai 28% dari total devisa. Negara Kai
Cina juga udah tercatat beli emas
sebanyak 25 ton. Bank Indonesia juga
sebenarnya beli di periode ini, tapi
cuma 1 ton aja. Dan 1 tahun itu meskipun
kelihatannya kecil ya dibanding negara
lain, tapi itu besar juga 1 tahun itu
ya. Kenapa data ini penting? Karena bank
sentral itu beli bukan buat cari untung
selisih harga kayak kita. Mereka itu
beli buat keamanan nasional dan juga
kedaulatan negara. Mereka enggak peduli
ya harganya mahal. Mereka bakal tetap
beli buat ngurangin ketergantungan sama
dolar Amerika Serikat. Aksi borong
negara-negara ini juga menciptakan yang
namanya floor price. Kalau harga emas
mulai turun, negara ini bakal langsung
beli lagi dalam jumlah raksasa. Makanya
harga emas itu bakal susah buat anclok
terlalu jauh. By the way, sebenarnya
soal negara besar yang mulai borang emas
ini udah kita bahas juga ya di 5 bulan
lalu di video ini. Kalau penasaran, lu
bisa tonton aja ya setelah tonton video
ini. Yang ketiga, The Lindy Effect.
Teori ini bilang semakin tua umur
sesuatu semakin besar kemungkinan dia
bakal terus bertahan di masa depan. Nah,
emas itu punya efek kayak gini. Selama
lebih dari 5.000 tahun, emas udah
terbukti jadi aset yang enggak ada
matinya. dia udah ngelewatin ribuan
perang, reruntuhan kerajaan, dan juga
kritis moneter tanpa nilainya pernah
jadi nol. Jadi, di tengah ketidakpastian
ekonomi sekarang ini, aset mana lagi
yang bisa saat ini? Ya, jawabannya emas
enggak sih? Karena aset lain kayak
crypto itu harganya bisa naik turun
drastis banget. Saham juga bisa unlock
ya kalau ekonomi negara macet. Tapi emas
dia cenderung bakal stabil setiap
period.
Kalau tadi di chapter pertama gue bahas
argumen proya. Nah, di chapter kedua gua
bakal bahas argumen kontranya. Kenapa lu
harus hati-hati kalau mau beli emas di
2026? Meski sebenarnya tuh belum telat
ya buat beli di 2026 ini, tapi gue
enggak menyarankan kalau lo beli karena
FOMO. Misalnya nih, lu asal beli mas
antam di harga Rp3 juta pakai duit kaget
kayak THR. Karena biasanya pasir-sir
nanti godaan buat impulsif buying emas
itu makin gede karena lu ngerasa lagi
pegang banyak duit. Tapi masalahnya
kalau lu beli tanpa fondasi pengetahuan
yang cukup itu lo bukannya untung lo
malah bisa boncos. Apalagi ada
biaya-biaya lainnya ya kayak spread,
biaya admin yang mana mungkin lo harus
nunggu dulu kan sebelum lo bisa buyback
dengan harga yang sama. That's why di
sini gua bakal jelasin tiga resiko nyata
yang harus lo perhitungkan, yang harus
lo pikirin sebelum lo decide buat beli
emas. Yang pertama, resiko beli di
pucuk. Beli aset apapun pas harganya
lagi mahal banget kayak sekarang itu
jelas berbahaya, itu jelas berisiko.
Harganya itu rawan turun kena koreksi
karena banyak investor besar yang jualan
emas buat ambil untung. Emas fisik itu
punya selisih harga jual beli sekitar 5
sampai 10%. Jadi kalau lu beli emas,
detik itu juga harga belinya bisa minus
10%. Nah, biar lu bisa balik modal atau
untung, harga itu harus naik dulu
minimal 6 sampai 11% buat nutupin
selisih tadi. Dan itu jarang terjadi
dalam waktu singkat. Makanya itu
biasanya jadi investasi jangka panjang.
Kalau lo beli emas hari ini, tapi bulan
depan udah dijual lagi karena butuh
duit, kemungkinan besar lo bakal rugi.
Yang kedua, jebakan aset malas atau
opportunity cost. Emas itu enggak
menghasilkan bunga atau dividen.
Artinya, kalau lu mau nikmatin
keuntungan dari emas, caranya adalah
dengan dijual doang. Nah, begitu emas
yang lu jual buat ambil untung, aset lo
habis. Lo udah enggak punya emasnya lagi
buat muterin uang di masa depan.
Sekarang coba kita bayangin ya, bedanya
sama obligasi atau saham. di SBN nih
misalnya ya, lountungan sekitar 6,25%
per tahun yang masuk ke rekening lu
secara rutin atau kalau lu taruh di
saham keuntungannya tuh bisa jauh lebih
besar juga ya dari 6%. Contohnya nih
misalnya di BBCA sendiri di akhir tahun
kemarin bagi dividen in term sebesar
6,77 triliun. Nah, kalau lo punya
sahamnya, lo bakal otomatis kecipratan
jatah uang tunai dari situ sesuai sama
jumlah saham yang lo beli. Enaknya apa?
Keuntungan itu bisa lo tarik buat jajan.
Tapi asetnya tuh masih ada dan masih
bisa beranak-pinak ngasih bunga lagi di
bulan depannya. Di sinilah letak
kerugiannya ketika lo beli emas, modal
lo itu mati di sana. Sementara kalau lo
taruh di aset lain, uang lo jadi passif
income atau cash flow yang rutin ngasih
lo income di setiap bulannya. Yang
ketiga, resiko cash is king. Kebanyakan
orang juga suka lupa ya kalau terjadi
resesi parah di mana kondisi ekonomi
macet total, orang itu butuh uang tunai
buat makan dan bayar utang, bukan emas.
Sekali lagi ya, kalau lagi krisis orang
itu butuh uang tunai, bukan emas.
Sejarah mencatat juga ya, seringkiali
saat awal krisis besar, emas justru
dijual massal oleh orang-orang demi
dapetin uang tunai yang akibatnya harga
emas itu bisa anjlok langsung seketika.
Contoh paling dekatnya tuh waktu kita
pandemi kemarin ya, 1 2 minggu setelah
pengumuman pandemi, harga emas itu di
Indonesia langsung anjlok secara
bertahap karena orang-orang lebih
memilih berburu uang tunai. Jadi kalau
lu enggak punya pegangan uang tunai dan
telat ngejual waktu resesi, lo bisa
terpaksa jual emas lo di harga murah.
Dan yang keempat adalah waspada
portofolio paradox. Sebenarnya harga itu
naik bisa jadi sinyal kalau ekonomi
dunia itu lagi enggak baik-baik aja.
Makanya kalau lu lihat penelitian ini
ya, harga emas itu punya pengaruh
negatif terhadap harga saham yang
artinya saat emas harganya naik
gila-gilaan biasanya harga saham juga
bisa turun atau terkoreksi. Begitu juga
sebaliknya. Contohnya kemarin ya, waktu
Trump melakukan ancaman ke Greenland,
harga mas itu langsung turun dan
sebaliknya bursa saham S&P 500 langsung
menguat. Jadi bahayanya buat lo apa?
Kalau lo sekarang all in emas ya,
apalagi pakai duit THR lo nanti, artinya
lu cuma menghabiskan uang buat satu aset
yang rentan terkoreksi pas ekonomi
membaik nanti. Padahal di saat yang sama
juga lo mengabaikan aset-aset produktif
lain kayak misalnya saham blue chip atau
reksadana yang mungkin lagi murah
gara-gara sentimen pasar yang lagi
buruk. Apa gunanya juga kan punya emas
kalau aset allocation-nya aja enggak
benar di saham yang lain dan malah
rungkat juga. That's why supaya THR lo
nanti enggak cuma numpang lewat doang
karena lo impulsif belanja atau lo malah
nyangkut di aset yang salah gara-gara
FOMO beli emas, lo bisa belajar cara
kelola keuangan dengan benar selama
bulan Ramadan nanti dan juga lebaran
nanti. Kebetulan 1% juga lagi ada
kolaborasi sama Blue by BCA Digital.
Kita lagi ada program yang namanya Blue
Academy Financial Maturity Journey.
Sekarang kita sudah sampai di B dengan
tema THR Survival Kid strategi dan
workshop praktis untuk mengatasi krisis
keuangan di periode Ramadan dan juga
Lebaran. Tema ini cocok banget ya buat
lo yang akan menjalani bulan puasa,
bulan Ramadan, dan merayakan lebaran
nanti dalam 1 sampai 2 bulan ke depan.
Kita juga personally mau say thanks buat
1000 lebih teman-teman yang kemarin
daftar di batch 17 dan 18 yang mana
kalau dijumlahin total udah lebih dari
25.000 R pendaftar dan 10.000 alumni
yang ikut program ini. Dan program ini
100% gratis. Jadi kalau lo tertarik buat
daftar, langsung aja daftar di link yang
ada di layar atau cek description box
yang udah gue taruh di sana infonya.
Oke, silakan bisa dicek ya.
Setelah lo tahu kalau potensi mas itu
gede, tapi resikonya juga enggak
main-main, pertanyaan sekarang adalah
gimana nih caranya gue beli emas biar
tetap aman dan cuan? Jawabannya adalah
ubah cara beli lo. Ini ada tiga strategi
yang bisa jadi acuan ya kalau lo mau
masuk ke emas di tahun 2026 ini.
Pertama, porsi maksimal 10 sampai 15%.
Jangan sampai all in. Banyak pemula yang
masih suka salah kapra ya.
Mentang-mentang emas lagi naik, semua
tabungannya dikonversi jadi emas. Dan
ini bahaya banget. Kalau lo lihat data
negara-negara pembeli emas terbesar
tadi, meskipun China dan Brazil borong
emas 10 ton, kalau lu lihat grafik
batangnya ya, cadangan emas mereka itu
porsinya kecil banget dibanding uang
kertas atau devisa mereka. Artinya apa?
Negara aja enggak all in di emas. Mereka
cuma jadiin emas itu sebagai pengaman.
Jadi sebaiknya kalau mau aman, spend ke
emas maksimal cuma 10 sampai 15% dari
total kekayaan lo. Dan sisanya sebar ke
instrumen liquid kayak SBN atau
Reksadana biar cash flow lo itu tetap
aman. Jadikan emas murni ini sebagai
asuransi ya, bukan sebagai mesin pencari
cuan pertama. Yang kedua, wajib DCA
dolar cost averaging. Khusus buat lo
yang mau pegang uang THR nanti,
sebaiknya jangan langsung habisin jatah
THR lo buat beli emas sekaligus di satu
hari. Kenapa? Karena ada resiko harga di
pucuk tadi. Dan solusinya lo bisa pakai
teknik DCA atau dollar cost averaging.
Buat lo yang belum tahu, DCA itu
simpulnya adalah strategi nabung rutin
dengan nominal rupiah yang sama.
Misalnya nih, lo budgetnya R5 juta per
bulan untuk beli emas selama 12 bulan ke
depan. Kalau harga emasnya naik, lo
bakal senang banget ya karena aset lo
yang udah beli itu ikutan naik. Tapi
kalau emasnya turun, lu juga senang
karena lu bisa dapat emas lebih murah di
pembelian bulan berikutnya. Dengan cara
ini, lo enggak perlu pusing mikirin
kapan waktu terbaik buat belinya. Karena
harga rata-rata lo bakal terjaga di
tengah-tengah. Yang ketiga, tahan napas
panjang minimal 5 sampai 10 tahun. Kalau
lu invest di emas, berarti lu harus siap
nyimpannya selama 5 sampai 10 tahun ke
depan. Kenapa? Karena tadi ya ada
selisih harga jual beli sekitar 5 sampai
10%. Jadi kalau lu beli emas untuk
dijual tahun depan itu resikonya terlalu
besar. Untungnya bisa jadi lebih kecil,
harganya juga bisa naik lebih besar
karena ya sekarang aja udah dua kali
lipat kan ya dibanding tahun kemarin.
Makanya di sinilah hukum uang dingin
juga berlaku. Pastikan uang yang lo
pakai beli emas itu adalah uang dingin
yang rela lo lupakan. Jangan pakai dana
darurat, jangan juga pakai dana THR ya
yang lu gunain tuh buat mudik apalagi
uang buat nikah tahun depan. Biarkan
waktu yang bekerja dan naikin nilai
emasnya. Selain dari itu, kalau lo juga
mungkin masih mikir-mikir ya buat beli
emas, lo bisa juga coba cek alternatif
kayak SBN atau obligasi. Karena kalau
tujuan lo sebenarnya buat cari aman tapi
pengin dapat pemasukan rutin bulanan,
emas itu sebenarnya bukan jawabannya.
Mending lu bisa cek SBN retil. Dan
kenapa ini jadi lebih logis? Karena
stabil ya dijamin negara. Tapi bedanya
SBN itu ngasih kupon bunga setiap bulan.
Jadi ibaratnya dengan teknik ini uang lu
itu enggak mati ya di brangkas. Dan
sekali lagi, sesuaikan aja sama
kebutuhan cash flow lu dan sesuaikan
juga dengan profil resiko lu tuh kayak
gimana. At the end of the day, kalau
kita tarik kesimpulannya ya, apakah
telat beli emas di tahun 2026?
Jawabannya adalah belum, selama tujuan
lo itu masih benar. Kalau lo beli emas
dengan harapan bisa cepat kaya dalam
semalam, gue saranin mending lo skip
aja. Karena kekayaan sejati itu enggak
datang dari diam-diaman nunggu harga
naik. di 1% kita percaya ya, kalau lo
pengin menikmati hidup dengan harta yang
cukup, pondasinya adalah lo harus
gerakin roda ekonomi lewat apa yang lo
bisa lakuin. Yang mana di sini kalau
kita sebut biasanya dengan istilah value
creation. Lu harus ngasih value ke
masyarakat, lu harus ngasih value ke
ekonomi. Misalnya kerja yang benar, buka
bisnis, dan juga melakukan hal-hal
produktif lainnya yang ngasih dampak ke
masyarakat. Makanya kalau lu lihat di
kurikulum kita ya, pondasi paling bawah
itu adalah survive. Pastiin dulu lo bisa
makan yang layak, dapur, listrik, air
udah dibayar ya. Dan bulanan lo itu udah
aman. Baru deh di atasnya ada safety net
and risk management. Nah, di situlah
tempatnya beli emas. Jadi simpelnya
jangan coba investasi emas kalau urusan
survive aja belum beres. Tapi kalau lo
beli emas buat melindungi hasil kerja
keras lo tadi biar enggak dimakan
inflasi dan supaya hidup lo di masa
depan lebih tenang, maka emas adalah
kendaraan terbaik buat lo. Jadi ingat
ya, investasi terbaik itu bukan cuma
soal beli apa, tapi seberapa paham lo
sama apa yang lu beli. Ambil yang
bermanfaat, buang yang ribet, dan tetap
enjoy jalanin hidup. Dan buat lu yang
tertarik daftar Blue Academy Financial
Maturity Journey Bch 19 yang mana
topiknya kita bahas soal THR, langsung
aja lu bisa daftar di link yang udah gue
taruh di description box ya. Karena di
sini juga jumlah pendaftarannya terbatas
ya. Jadi amanin slot kursi lo sebelum
kehabisan sama peserta yang lain. Nah,
kalau lo suka video-video kayak gini,
gue juga punya rekomendasi ya. Lu
silakan bisa pilih aja video yang
sebelah kiri atau sebelah kanan. Silakan
pilih sesuai dengan minat lo. That's all
for today. Gue danang dari 1%. Jangan
lupa bahagia dan jangan lupa hidup
seutuhnya. Thanks.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:03 UTC
Categories
Manage