Sisi Gelap Beasiswa LPDP: Modus Liburan Buat Orang Kaya (?)
iBm0FxRmMpU • 2026-01-05
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id setiap tahun triliunan rupiah uang pajak kita itu diinvestasiin ke anak muda lewat beasiswa LPDP. Tujuannya simpel ya, biar mereka pintar, naik kelas terus balik buat majuin negara. Dan kalau kita lihat datanya sebenarnya 85,89% alumni LPDP itu lapor kalau mereka udah berkontribusi buat negara. Dan ini hampir setengahnya itu bahkan terjun ke dunia pendidikan kayak jadi guru, dosen, bahkan sampai peneliti. So far sih so good ya dampaknya kalau menurut data ini. Tapi anehnya kenapa ya banyak masyarakat terutama netizen-netizen yang justru semakin enggak puas sama dampak dari LPDP. Karena kalau lo scroll di sosmet LPDP ini bukannya dipuji tapi malah banyak dihujat. dibilang investasi bodong lah. Bahkan sampai dituduh melahirkan bibit-bibit koruptor yang baru. Dan jujur ngelihat ini semua wajar ya kalau kita bertanya-tanya apa sih yang sebenarnya terjadi sama beasiswa LPDP ini dan kenapa kesannya kayak banyak mahasiswa dan lulusannya tuh yang aneh-aneh gitu flexing di Sosm. Welcome to Jurnal Investigasi by 1%. Hari ini kita bakal bahas polemik beasiswa LPDP. belakangan ini kalau Kalau gue buka di SOSM isinya kebanyakan nge-spill fakta-fakta word LPDP yang emang agak aneh. Yang pertama, LPDP buat sekolah masak. Ada keributan soal di LPDP yang lolos beasiswanya buat sekolah kuliner di Swiss. Dan ini lucu ya, karena Swiss itu adalah salah satu negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Dan lu sekolah di sana dengan biaya hidup yang tinggi buat belajar kuliner. Anjir itu kayak lucu banget sih. Dan netizen juga nemuin kalau Werd ini katanya katanya ya ini sebelumnya itu bisa afford kuliah di UPH sampai dua kali bahkan punya double master degree. Logika netizen juga simpel ya. Ibaratnya kayak lu udah kaya, lu udah pintar, kenapa negara harus bayarin biaya hidup lo puluhan juta per bulan cuma buat belajar masak sampai ada yang ngeletuk, mending lu belajar masak aja sama gue di Wartek Senin. Yang kedua, influencer jalur LPDP. Ada juga ya fenomena alumni yang cukup aneh menurut gue. Bukannya sibuk riset atau buat semacam perubahan yang berarti di Indo, mereka malah pilih jadi influencer yang jualan kelas cara lolos APDP atau tips naikin skor IELTS. Agak ironis sih sebenarnya karena ya negara kan investasi miliaran rupiah ya dengan harapan mencetak ahli atau ilmuwan yang bisa ngasih kontribusi ke Indonesia. Tapi output yang dikasih anak-anak ini malah berputar lagi di ekosistem jualan tips lolos beasiswa. Jadi bukannya gak bawa perubahan ya, mereka tuh malah ngambil keuntungan dari cara masuk LPDP itu sendiri. Enggak sedikit juga ya Wordi LPDP yang kontras sama ini. Ada yang bilang kalau komponen penilaian LPDP itu seringkiali enggak transparan dan bisa jadi subjektif. Jadi ya gimana mau ngajarin orang lain kalau yang lolos aja enggak tahu bisa lolosnya tuh karena apa. Nah, masalah ketiga juga LPDP yang dispesialkan. Kasus ini nyeret nama SSUS Presiden [musik] Billy Mambrasar. Jadi ramai banget ya di Sosm karena dia ketahuan nunda studi S3-nya sampai 6 tahun pakai alasan tugas negara. Padahal aturan umumnya itu penundaan cuma bisa dalam hitungan bulan. Padahal aturan dari LPDP-nya itu penundaan umumnya cuma bisa maksimal 18 bulan. LPDP sih bilangnya ini diskresi khusus ya karena jabatan dia itu setara pejabat tinggi. Tapi ya netizen tetap ada aja kan ya yang kritis. Ibaratnya kayak kalau rakyat telat dikit itu langsung di blacklist. Tapi giliran pejabat bisa dapat treatment yang spesial. Tiga kasus ini cuma puncak gunung es dari masalah yang sebenarnya tuh lebih dalam ya teman-teman, yaitu hilangnya rasa sensitivitas sosial atau kepekaan dalam kondisi sosial. Di saat rakyat lagi susah indis ekonomi, malah banyak yang justru fleksi gaya hidup, enggak bersyukur kelihatannya gitu ya. malah menyalahgunakan uang beasiswa yang sebetulnya kalau dimanfaatin buat yang lain kayak misalnya untuk bencana di Sumatera kemarin ya itu juga bisa kan ya. Setelah gue coba dalamin ternyata beasiswa LPDP itu masalahnya jauh lebih kompleks dari sekedar masalah-masalah yang tadi udah gue sempat jelasin di chapter pertama ya. Dan ini juga enggak lepas dari yang namanya kontroversi. Apa aja kontroversinya? Yang pertama, beasiswa LPDP adalah beasiswa berkedok liburan gratis buat orang [musik] kaya. Kritik paling tajam buat LPDP adalah beasiswa ini itu seringkiali jadi liburan gratis buat orang kaya. Sistem seleksinya itu emang berbasis prestasi ya atau meritokrasi yang mana ini sebenarnya kelihatan adil karena ya siapa pintar dia dapat kan. Tapi yang jadi masalahnya kita tuh sering lupa kalau garis start orang-orang itu beda-beda. Anak orang kaya biasanya punya waktu luang buat belajar IELTS, punya duit buat les mahal, dan punya akses info buat bikin yang bagus. Sementara anak miskin ya boro-boro mikirin ILES buat makan besok aja banyak yang masih pusing ya. Akibatnya LPDP itu seringkiali jatuh ke tangan mereka yang sebenarnya mampu bayar sendiri. Bahkan cinta Laura aja sampai bilang kalau orang yang mampu secara finansial harusnya malu ngambil jatah mereka yang lebih membutuhkan. Dan ini ironis banget ya. Duit beasiswa ini asalnya kan dari pajak kita semua termasuk PPN yang dibayar orang miskin pas lagi beli mie instan atau bensin. Jadi ya secara teknis orang miskin itu lagi mensubsidi anak konglomerat buat hidup di London atau Swiss. Itu masalah yang pertama. Masalah kedua, masuknya uang korupsi. Perakhir 2025 ada suntikan dana jumbo 25 triliun ke LPDP. Lo tahu sebagian duitnya dari mana? 13,2 triliun itu duit sitaan korupsi kasus CPO atau korupsi kelapa sawit. Bayangin ya, duit ini tuh asalnya dari kejahatan yang bikin minyak goreng langka dan ayat antrip berjam-jam. Tapi uangnya bakal dipakai jadi tiket pesawat dan biaya hidup elit mahasiswa di luar negeri. Yang parahnya seringkiali salah sasaran ke orang yang sebenarnya tuh sudah mampu. Dan ibaratnya ini jadi uang yang nyusahin rakyat dicuci lewat birokrasi negara jadi beasiswa buat segelintir orang yang sebenarnya tuh mampu bayar sendiri. Yang [musik] ketiga adalah isu parkir anggaran. Ada dugaan juga kalau dana abadi ini jadi tempat buang duit. Kalau kementerian teknis misalnya kayak Kemendikbud gagal nyerap anggaran [musik] daripada hangus dan dimarahin, ya udah dicemplungin aja ke dana abadi buat LPDP. Padahal rakyat itu sebenarnya lagi butuh uang itu. Bayangin ya ada ribuan ruang kelas SD yang rusak berat. Guru honorer juga masih banyak ya yang digaji Rp300.000 per bulan. Jadi alih-alih dipakai buat benerin sekolah yang bobrok duitnya malah ditumpuk ya. Jadi dana abadi LPDP dengan dalih takut hangus atau malah dimarahin gitu ya sama Pak Purbaya. Masalah keempat, lulusan berkualitas tapi dibajak negara lain. Ini kemarin sempat ramai ya, dibahas di Twitter dan IG banyak yang setelah lulus mau itu LPDP ataupun beasiswa lainnya ya, itu mereka kagak mau balik ke Indonesia. Kenapa? Karena ya mereka tuh enggak akan jadi apa-apa ketika di Indo. Ibaratnya gini, misalnya gue lulusan PhD Biotch atau nuclear engineering di luar negeri dan ketika pulang ke Indo, lab-nya tuh enggak ada, alatnya jadul, dan gajinya ya disamain sama gaji UMR. Ya, kalau kondisinya kayak gitu mungkin juga gue bakal mikir dua kali buat balik Indo. Nah, dari kondisi ini akhirnya banyak negara yang manfaatin peluangnya. Salah satunya Singapura ya. Mereka punya strategi agresif buat ngebajak talenta-talenta terbaik di Indonesia, terutama lulusan Top global university yang dibiayai LPDP atau beasiswa pemerintah lainnya kayak BIM. Mereka punya sistem yang namanya Kompas buat visa kerja yang secara spesifik memprioritaskan lulusan dari universitas top Dunia. Mereka bikin jalur ekspres buat dapetin permanen residensi cuma dalam waktu 1 tahun. Bahkan katanya ada laporan intelijen yang bilang mereka bikin semacam working group khusus buat nargetin talenta-talenta berbakat di Indonesia. [musik] Logikanya licik, tapi sebenarnya itu ini cerdas. Indonesia yang keluar duit miliaran buat nyekolahin pas sudah pintar dan lulus Singapura tinggal panen hasilnya. Ibaratnya kita yang nanam, mereka yang metik gitu. Udah ada juga ya kasus nyata di mana Wordi Bim kedapatan berencana memanfaatkan celah regulasi. masa tunggu atau buffer period buat kerja di luar negeri dan ngajuin permanen residensi di sana dengan niat gak balik lagi ke Indonesia dan ini bikin KemenQ jadi lebih ketat lagi ya buat mengawasi masalah-masalah ini. Tapi di sisi lain harusnya ini jadi tamparan buat pemerintah Indo ya. Kenapa mereka gampang banget di baja? Karena ya di sana ditawarin gaji tinggi, fasilitas riset yang canggih, dan juga kepastian karir yang jauh lebih baik. Sementara kalau di Indonesia ya seringkiali disambut dengan birokrasi ribet dan gaji yang mungkin enggak seberapa. Masalah kelima, subsidi double ke PNS dan juga aparat. Banyak penerima beasiswa LPDP itu juga berasal dari jalur khusus PNS, TNI, dan juga Polri. Padahal mereka ini adalah kelompok pekerja yang paling aman di Indonesia dengan gaji dan pensiun yang sudah dijamin negara. Ketika mereka dapat beasiswa LPDP, jadinya mereka dapat income yang double. Mereka tetap dapat gaji pokok dan biaya hidup bulanan dari beasiswa. Bandingin ya sama teman-teman yang kerja di perusahaan swasta. Kalau mereka lolas APDP dan berangkat sekolah, ya mereka harus resign. Penghasilan mereka nol. Mereka mempertaruhkan karir, hilang gaji demi sekolah. Makanya banyak yang mengkritisi isu ini ya. Harusnya beasiswa aparat itu pakai anggaran instansi masing-masing aja. Misalnya kayak ikatan dinas gitu ya. Jangan ambil jatah dana abadi yang harusnya jadi dana buat rakyat biasa yang mau mengubah nasib lewat pendidikan dan juga kontribusi ke Indonesia. Oke, Guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam psikotes premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lu lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. [musik] Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin reportnya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/psikotespremium [musik] buat info lebih lanjut. Nah, terus yang jadi pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus kita lakuin sekarang? Gue punya beberapa poin baik buat pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun buat kalian para UD ataupun calon UD. Pertama, ukur impact bukan cuma output. Berhenti bangga-banggain data kita udah ngirim nih 30 orang ke luar negeri. Karena ya angka itu kagak ada artinya kalau dampaknya enggak bisa dirasain rakyat. Apakah pulangnya mereka bisa bikin ekonomi tumbuh atau enggak? Apakah ada inovasi yang bisa dipatenkan dan apakah kebijakan publik itu jadi lebih pintar gitu. Ibaratnya transparansi soal outcome ini harus dibuka. Kalau cuma habisin duit buat nyetak gelar tapi enggak ada dampak ke negara ya buat apa kan. Yang kedua, jadi nasionalis itu enggak harus selalu stay di Indo. Ini nyambung sama masalah lulusan kita yang dibajak negara lain. Daripada maksa orang pulang ke Indo tapi nganggur atau ilmunya tumpul, mending kita realistis aja. Kita bisa coba strategi yang dilakuin sama India atau China. Biarkan diaspora kita berkarya di topch company atau lembaga riset global, tapi pajakin mereka bikin skema pajak diaspora atau wajibkan mereka bikin network dan bawa investasi masuk ke Indonesia. Ibaratnya kan kalau kayak gitu jadi win-win. Mereka dapat karir bagus dan negara dapat devisa atau akses teknologi. Jangan cuma jago kandang ya, tapi kita juga harus punya tokoh di level global dan itu enggak apa-apa asal kontribusinya jelas dan enggak masalah [musik] enggak pulang fisik. ketiga dan mungkin ini buat para award di LPDP ya, yaitu kurang-kurangin flexing. Buat teman-teman award LPDP, gue tahu rasanya itu bangga banget ya buat kalian bisa kuliah di luar negeri. Gue tahu juga kalian kerja keras buat dapetin beasiswa itu. Tapi please tolong punya sedikit empati dan sense of crisis di Indo. Di saat rakyat Indonesia lagi kecepit ekonomi, PHK di mana-mana, harga bahan pokok naik, ngelihat story Instagram kalian di branch cantik di Paris atau ski trip di Swiss pakai uang pajak, itu rasanya sakit banget. Itu bukan cuma soal iri dan dengki ya. Ini tuh soal etika. Kalian itu dibiayai public money. Ada tanggung jawab moral di situ. Dan ingat ya, Teman-teman, uang kuliah dan uang saku kalian itu ada keringatnya tukang ojek yang bayar pajak bensin, ada keringatnya buruh pabrik yang bayar PPN pas beli min instan. Jadi ya keep it private, fokus belajar, fokus cari ilmu. Jangan jadiin beasiswa ini sebagai konten buat pamer gaya hidup headon. Jadilah kaum intelektual yang punya rasa malu ya dan tanggung jawab [musik] secara sosial. At the end of the day, LPDP ini adalah alat ya. Dan seperti semua alat, dia bisa jadi senjata yang mematikan buat kemajuan bangsa atau cuma jadi mainan mahal buat buang-buang anggaran. Pilihan ada di tangan kita semua ya buat ngawasin ini. Jangan sampai generasi emas 2045 cuma jadi slogan kosong. Sementara dananya habis dipakai buat liburan elit berkedok pendidikan. Gimana menurut lo? Apakah ada pendapat lain? Silakan lu bisa sampaiin di kolom komentarnya. Buat lo yang suka topik-topik kayak gini, gue juga ada dua rekomendasi video yang bisa lo tonton. Silakan langsung klik aja video yang di sebelah kiri ataupun sebelah kanan. That's all for today. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya. Thanks. [musik]
Resume
Categories