3 Mindset ANEH Orang Miskin yang Bikin Mereka SUSAH Kaya
GvONTghAMYY • 2025-12-30
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kenapa sih banyak orang yang rela
ngantri berjam-jam demi dapat diskon
yang mungkin kagak seberapa. Misalnya
kayak ngantri di gacoan sampai panjang
ya, sampai keluar parkiran atau di
Holland Bakery juga ada ngantri panjang
desek-desekan. Dan juga di ION Mall yang
antriannya tuh selalu membeludak setiap
store-nya mau tutup. Dan menariknya ada
satu buku yang bilang kalau perilaku
kayak gini sebenarnya nurunin IQ loh
sampai 13 poin, cuy. Jadi ibaratnya
kalau rata-rata IQ orang Indo itu 78 itu
turun lagi jadi 65. Dan inilah salah
satu dari banyak alasan kenapa orang
miskin gak bisa keep up sama orang kaya.
Welcome to Psychology of Finance by 1%.
Hari ini gue bakal bahas tiga ciri
mental gratisan orang miskin yang bikin
mereka itu susah kaya. Enjoy.
Welcome to psychology of finance.
Banyak orang mikir ngejar gratisan itu
pintar karena jadi hemat. Padahal dengan
ngejar gratisan, lu sebenarnya lagi
kehilangan dua aset paling mahal yang lu
punya, yaitu waktu dan juga privasi.
Kita bakal coba bedah satu-satu, ya.
Yang pertama, lo kehilangan waktu yang
produktif. Logikanya gini, misal kalau
lo ngantri 3 jam demi diskon Rp50.000,
artinya lo secara sadar menilai waktu lo
itu cuma 16.000an per jam. Dan itu murah
banget ya. Padahal orang kaya itu
mindsetnya malah mereka tuh pengen beli
waktu kalau bisa. Mereka rela bayar
lebih mahal biar gantri supaya waktunya
bisa dipakai buat kerja, belajar atau ya
as simple as istirahat. Sedangkan lo
menukar waktu hidup lo yang enggak bisa
balik lagi cuma demi recehan belasan
ribu. Yang kedua, lo kehilangan keamanan
data privasi. lo kadang sadar kalau data
pribadi lo itu sebenarnya penting ya.
Kita semua mungkin sadar dan kita enggak
mau data kita itu disalahgunakan. Tapi
demi voucher diskon atau hal gratisan
kadang ya lo rela gitu menukar data
pribadi lo demi dapat voucher itu. Dan
fenomena ini disebut sebagai the privacy
paradox. Misalnya ada promo voucher
makan Rp50.000. Tapi syaratnya tuh harus
download aplikasi yang kasih izin untuk
akses kontak kadang sampai ke galeri dan
itu lo langsung gas aja. Atau juga
misalnya kayak fotox gratisan yang suka
ada di stasiun, lo langsung tuh tertarik
tanpa mikir alamat, nomor HP atau
tanggal lahir yang lo kasih itu bisa
disalahgunakan atau enggak. Dan ini
sebenarnya bad deals banget ya. Dan
mungkin banyak dari kita yang mikir,
"Ah, gua siapa sih? Data gue kan enggak
penting. Paling cuma buat SMS, spam
doang." Dan itu sebenarnya mindset yang
salah besar ya, Teman-teman. Karena ada
satu riset yang ngebedah soal kasus
kebocoran data di Pusat Data Nasional
2024 kemarin. Sama kayak yang lokasi,
yang bocor itu nama lengkap, NIK, empat
tanggal lahir, alamat, nomor HP, dan
juga email. Kelihatannya sih sederhana
ya, tapi gara-gara ini ratusan instansi
pemerintah itu lumpuh dan yang bocor itu
dijual ke dark wave dengan harga yang
sangat mahal. Bukan buat nipu loh, data
itu bisa dipakai negara lain untuk
spionase atau ngumpulin informasi
rahasia negara. Jadi, ini tuh sebenarnya
bukan akal-akalan asing lagi ya. Makanya
kenapa kemarin banyak ya orang yang
rewel banget kalau salah satu syarat
Amerika mau nurunin tarif impor
barangnya itu dengan ngasih akses
transfer data pribadi ke mereka karena
ya emang faktor resikonya tuh bahaya
banget buat negara apalagi buat diri
kita sendiri. Nah, kalau negara aja
sampai rebutan ya buat masalah ini, masa
sih lo kasih cuma-cuma data pribadi lo
cuma demi diskon yang mungkin kagak
seberapa.
Mental gratisan itu seringkiali gagal
ngitung cost perware atau cost per use.
Mereka lupa ya cara menghitung nilai
barang yang benar karena ketipu sama
harga murah di pricech. Contoh simpelnya
misalnya nih lo bela-belain datang ke
resto daripada pesan ojol karena
kemahalan ada biaya ongkir plus
aplikasi. Padahal kalau lo resto itu kan
ada resiko lo ngeluarin biaya bensin,
biaya parkir, plus tenaga dan waktu lo
yang kebuang di jalan. Dan bahkan juga
di beberapa resto kan itu enggak ada
sistem booking ya. dan lu bisa aja
datang ke sana, lu harus ngantri panjang
atau lu masuk white list dan akhirnya
kan nuker waktu lu gitu sama resto itu
kan dan kalau di tootal biaya hemat d in
lo itu bisa jadi lebih boncos daripada
ongkir ojil tadi dan kondisi ini tuh
bisa dijelasin ya sama salah satu ekonom
di teorinya yang lu bisa coba lihat di
layar alasan orang kaya makin kaya
adalah karena mereka belanja lebih
sedikit. Nah, maksudnya gimana? Dan ini
bisa dianalogiin sama satu konsep yaitu
Boots theory. Orang kaya itu beli sepatu
kulit bagus. Harganya tuh R2 juta atau
mungkin bisa sampai 10 juta ya. Tapi
awet 10 tahun. Jadi biayanya tuh bisa
cuma Rp200.000 doang per tahun. Orang
miskin beli sepatu Rp100.000. Harganya
ini murah ya di awal. Tapi 4 bulan
dipakai udah jebol. Akhirnya ya mereka
beli lagi dan dalam 10 tahun dia bisa
habis Rp3 juta cuma buat beli sepatu.
Niatnya lebih irit ya beli yang murah,
tapi malah jadi keluar uang lebih banyak
dari orang kaya karena barangnya tuh
gampang rusak. Sama kayak baju ya,
daripada beli 10 baju fast fashion murah
yang dicuci tiga kali udah jadi elap
buat pel, mending beli satu baju basic
berkualitas. Misalnya the fairist kayak
Uniclo ya yang mungkin awet bisa sampai
1 tahun atau 2 tahun. Konsep ini juga
dipakai ya sama perkas waktu beli barang
mahal kayak copper lima atau winter
coast mereka gak takut barangnya itu
lecet karena ada garansi kerusakan
bahkan bisa jadi cerita yang menjual di
lingkungan sosial. Dan lebih okenya lagi
barang branded ini bisa jadi aset jangka
panjang karena kalau dijual second
harganya tuh masih tinggi. Jadi
kesimpulannya lu bisa coba mulai nabung
buat beli barang yang agak mahal dikit
tapi kualitasnya bagus dan tahan lama.
Dan itu adalah cara orang kaya berhemat.
Tapi ini jangan jadi justifikasi ya buat
lo pakai satu baju atau barang yang sama
setiap hari asalkan mahal. Ibaratnya
misalnya lu punya kaos nih unik lo terus
lo pakai itu kekondangan, lu pakai itu
kerja dan lu misalnya main juga pakai
itu. Kalau itu sih namanya Nora ya.
Sebenarnya lo harus tahu tempat juga dan
paham kalau penampilan lo itu adalah
bentuk dari komunikasi nonverbal.
Apalagi di dunia kerja. Kalau ngurus
baju aja lu enggak becus, orang mungkin
bakal nganggap ya lu juga enggak percus
ngurusin kerjaan. Jadi, lo wajib banget
ya punya beberapa set baju formal,
smart, casual, santai. Itu bukan buat
gaya-gayaan, tapi buat investasi diri lo
sendiri. Bahkan bisa juga membuktikan
ya, ada yang namanya itu beauty premium.
Orang yang penampilannya lebih rapi atau
proper punya peluang 52,4% lebih besar
buat duduk di pekerjaan yang lebih
bergengsi dan juga bergaji lebih tinggi.
Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau
ngasih tahu info buat lu yang lagi
ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya, sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam Psikotes
Premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lo lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi setiap lu beli lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
reportnya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren, kalau lu enggak ngerti
atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat
insight lanjutan lewat konsultasi bareng
expert dari 1% langsung berdasarkan
hasil tes lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/psicotespremium
buat info lebih lanjut.
Nah, ngomong-ngomong soal karir, lo juga
perlu tahu kalau mental gratisan juga
bisa merusak karir lo. Jadi, indikator
ketiga dari orang miskin yang susah kaya
adalah mereka itu enggak mau spending
buat pendidikan. Buat mereka bayar
seminar, bootcamp, atau training buat
upgrade skill itu sama kayak bakar duit.
Uangnya itu melayang, barangnya itu
enggak ada. Padahal buat orang sukses
itu adalah investasi otak. Prinsipnya
tuh cukup simpel ya. Lo keluar duit
banyak sekarang nih buat belajar, tapi
skill itu bakal nempel terus seumur
hidup lo. Dan asal lo tahu cuan atau
keuntungan yang bakal lo dari ilmu baru
itu, nilainya bisa jadi jauh lebih gede
daripada bunga deposito ataupun main
saham sekalipun. Dan biasanya kalau
orang udah pelit gitu ya soal pendidikan
di kerjaannya juga dia seringkiali bakal
stuck dan susah gitu buat dapat gaji
yang lebih besar. Bahkan juga banyak ya
fenomena anak muda sekarang yang masih
entry level, skill belum ada, tapi udah
piky alias pilih-pilih kerjaan. Mau
ganjinya gede, beban kerjanya dikit, dan
diwajarin kalau dikit-dikit ngeluh buat
heiling. Kalau lo masih miskin dan gak
pintar-pintar amat, coba ingat nasihat
Bob Sadino untuk jadi gelas kosong.
Ambil semua peluang, terus haus akan
ilmu, dan juga kerjain hal-hal yang
emang sulit. Di dunia kerja, justru
pengalaman dan ketahanan mental itu
bakal jadi hal yang lebih berharga ya
daripada gaji. At the end of the day,
gue ngerti banget kalau enggak semua
orang itu terlahir mampu ya secara
finansial. Hidup emang seringkiali
enggak adil dan gue enggak memungkiri
kalau cari duit itu sebenarnya enggak
gampang. Tapi metal gratisan ini adalah
penjara yang kuncinya itu sebenarnya lu
pegang sendiri. Dan mulai hari ini lu
bisa coba misalnya berhenti cari yang
gratisan. Jangan terpaku sama harganya.
Lu juga bisa pikirin cost perware-nya ya
biar benar-benar wort it. Berhenti juga
nukar waktu lu sama diskon yang receh ya
dan juga mulai berani keluar modal buat
pendidikan dan juga penampilan lo.
Karena nasib lo mungkin enggak akan
berubah ya kalau cara pikir lo masih
sama kayak kemarin. Tapi ini semua
adalah pendapat dari gue ya. Kalau lo
misalnya punya perspektif atau pendapat
lain, langsung sampaiin aja di kolom
komentar dan nanti kita diskusi di sana.
Dan kalau lo suka pembahasan semacam
ini, lu juga bisa tonton rekomendasi
video dari gue ya, yang ada di sebelah
kiri atau lo juga bisa tonton video kita
yang ada di sebelah kanan. That's all
for today. Gue Danang dari 1%. Jangan
lupa bahagia dan jangan lupa hidup
seutuhnya. Thanks.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:28 UTC
Categories
Manage