5 Pembelian 'Bod*h' Umur 20-an yang Bikin Nyesel In This Economy
kkDA20U5QYo • 2025-12-04
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Sebentar lagi kita masuk ke tahun 2026. [musik] Biasanya akhir tahun itu isinya self reward, liburan, belanja, dan juga senang-senang. Tapi hati-hati, momen tahun baru juga seringkiali satu paket sama satu masalah klasik, yaitu boncos. Banyak orang termasuk gue dulu happy-happy di akhir tahun, tapi stres di awal tahun karena duit menipis. That's why di video kali ini gue bakal bongkar lima pembelian bodoh di umur 20-an yang bikin nyesal supaya lo enggak ngulangin kesalahan yang sama. Welcome to Psychology of Finance by 1%. Enjoy. Welcome to psychology [musik] of finance. Jebakan pertama dan ini harus gue bilang di awal, beli HP pas rilis di harga pucuk itu adalah keputusan finansial yang bodoh. Antri panjang demi iPhone baru atau pre-order HP flagship di hari pertama itu bukanlah sebuah prestasi. Itu tanda kalau lo itu enggak ngerti cara kerja uang. Kenapa gue bilang ini adalah keputusan yang bodoh? Pertama, harga HP itu selalu turun karena depresiasi. Nah, lu juga bisa coba lihat ya grafik ini di hari-hari list harganya ada di puncak tertinggi ya. Nah, begitu lu buka seggle-nya atau unboxing, grafiknya tuh langsung terjun ke bawah. Dalam 1 sampai 2 tahun, nilai barang itu bisa hancur, turun 30 sampai 40%. Kalau lo beli di pucuk, lo yang nanggung kerugian besar itu. Karena ya lo sukarela membakar uang jutaan cuma [musik] demi jadi orang yang pertama pegang. Yang kedua adalah masalah needs versus wants. Brand HP itu sebenarnya genius ya. Mereka tuh punya strategi marketing dan juga campaign yang biasanya tuh menggoda banget buat orang-orang yang suka gonta-ganti HP. Mereka seringkiali cuma nambahin fitur seuprit tapi dibranding seolah revolusioner. That's why kita juga perlu berpikir rasional di sini. Lo perlu mempertimbangkan return on investment dari HP yang lo mau beli. Lu juga bisa coba tanya ya ke diri sendiri apakah HP lama lo itu beneran rusak dan juga ganggu kerjaan? itu artinya lu ada kebutuhan ya, ada nits atau lu cuma pengen validasi sosial karena takut dianggap enggak update. Nah, kalau itu berkaitan dengan wants. Kalau HP lo cuma dipakai buat scrolling sosem dan juga chatting lewat WhatsApp, beli HP flexit terbaru itu sebenarnya enggak seworth itu. Dan yang ketiga adalah return on investment yang nol. Kecuali lo content creator profesional yang emang nyari duit dari kualitas kamera HP, gadget mahal itu sebenarnya liability, bukan sebuah aset. Uang yang lu pakai buat beli HP itu adalah dead money. Dia enggak tumbuh, malah terus menyusut nilainya. Harusnya [musik] uang itu lo beliin ke barang yang punya return on investment yang positif. Misalnya laptop buat kerja atau misalnya beli saham reksadana yang memang ada keuntungan ya setiap tahunnya sekian persen. Nah, terus gimana solusinya? Ya udah jelas sih ya jangan beli HP pas harganya tuh lagi di pucuk. Lu bisa coba tunggu ya 6 bulan sampai 1 tahun setelah rilis. Harganya pasti bakal turun drastis dan fiturnya tetap canggih. Atau sebenarnya opsi lain lu bisa coba beli HP second ya yang masih mulus. Biarin orang lain yang nanggung depresiasinya, lu nikmatin fungsinya. Kita juga udah sempat pernah bahas ya video tentang iPhone. Lu bisa coba cek juga ya video kita yang ada di pojok kanan atas. Masalah utamanya bukan di beli baju yang murah atau mahal, tapi di cara kerja otak lo yang menghitung nilai barang. Gue coba breakdown ya dengan tiga poin ini. Dam mindset versus smart mindset. Dumb mindset adalah ketika lo beli baju itu cuma lihat harga yang ada di labelnya. Kayak wah murah nih kaosnya Rp100.000. sikat-sikat. Lu enggak peduli bahannya apakah tipis atau enggak dan apakah bakal melar gitu ya habis dicuci atau enggak. Jadi ini benar-benar pure lu ngelihat harganya. Kalau murah ya lu sikat. Smart mindset itu sebenarnya mereka enggak cuma ngelihat harga tapi juga ngelihat cost perware. Enggak peduli harganya mahal di awal yang penting seberapa murah biaya per pemakaiannya sampai barang itu rusak. That's why di konteks cost perware jangan sampai lo ketipu dengan harga murah. Barang murah yang cepat rusak itu sebenarnya jauh lebih mahal dibandingkan barang mahal yang lo bisa pakai 1 2 3 4 5 tahun bahkan 10 tahun. Ini gua bakal coba bedah dari dua skenario ya. Skenario A lo beli fast fashion, beli baju trend skena harganya Rp100.000 karena kualitasnya itu jelek atau malu pakai baju yang sama di sosm lu cuma pakai dua kali. Nah hitungannya Rp100.000 / 2 = Rp50.000 per pemakaian. Artinya cost perware dari baju ini adalah Rp50.000. Nah, skenario B ketika lu fokus ke kualitas. Let's say lu beli jaket basic yang berkualitas harganya itu Rp1 juta. Nah, kalau skillnya sih ini kelihatannya mahal ya jaket harganya Rp1 juta. Tapi gua pakai jaket ini tuh buat kerja, buat nongkrong dan awet sampai 200 kali pemakaian. Nah, hitungannya artinya R1 juta / 200 = 5.000 per pemakaian. kelihatan ya di sini bedanya baju yang lo kira mahal di Scenario B itu ternyata 10 kali lebih murah daripada baju sampah yang lo beli di keranjang diskon. Dan baju mahal ini juga biasanya bisa kasih feeling lebih berkelas. Apalagi kalau lo misalnya kerjaannya ya jadi pembicara kayak gue di beberapa acara. Bahan kasmir itu beda sama bahan unicl apalagi bahan-bahan yang enggak jelas. Bilangnya 30s tapi ternyata polyester yang gampang melular. Nah solusinya saran gua lu fokusnya kalau mau beli baju itu mindsetnya adalah investasi. Jangan cuma nimbun sampah. Berhenti beli outfit yang cuma sekali pakai cuma demi validasi visual sesaat. Intinya aturannya adalah kalau lo enggak bisa bayangin diri lo itu pakai barang itu minimal 30 kali, jangan beli. Ganti kuantitas dengan kualitas. Bangun capsule warrop [musik] blue. Isi barang-barang basic misalnya kayak hitam, putih, atau earth tone, tapi yang timeless dan juga bisa gampang dimix and match sama baju-baju lo yang lain. Ingat ya, orang kaya itu beli barang yang value-nya tinggi dan orang miskin beli barang yang harganya murah tapi jadi sampah. Istilah healing ala Genzy ini sebenarnya udah berbeda dari makna healing yang sebenarnya ya. Kita bakal coba bedah tiga jenis kebodohan healing. Yang pertama adalah buang waktu plus ngerusak badan. Ini sebenarnya bukan healing ya. Ini murni lo bakar duit buat ngerusak badan dan juga otak lo. Misalnya beberapa aktivitas kayak minum alkohol dan juga party atau lu mungkin judul ya dan juga gaca keterusan terlalu banyak sampai ke sawer influencer atau gifting ke orang-orang yang enggak jelas. Nah, itu sebenarnya lu jadi buang-buang uang sebenarnya kan. Yang kedua, kegiatannya bagus tapi waktunya tuh salah. Nah, ini sebenarnya kegiatannya biasanya positif tapi jadi toxik karena lo maksa pas lagi enggak punya duit. Misalnya kayak liburan atau stakation atau lo misalnya ngelakuin retreat gitu ya. Masalahnya kalau lu berangkat pakai kartu kredit atau uang darurat, stres lu bakal naik dua kali lipat pas lihat tagihan. Dan itu jatuhnya bukan healing, itu malah nambah beban pikiran, malah nambah penyakit. Yang ketiga, dan ini yang paling parah adalah kegiatannya toksik dan juga cara bayarnya toksik. Dan ini level paling parah dan menurut gua ini paling stupid ya. Ketika lu misalnya contoh main judi online pakai uang pinjol atau open table di club pakai peter. Kalau lu ada di level ini, lu sebenarnya bukan healing ya. Ini kalau saran gua sih lu emang butuh pertolongan profesional sebenarnya. Nah, terus gimana solusinya? Healing terbaik itu seringkiali gratis misalnya kayak tidur, lari atau detox sosme. Tapi kalau lu mau yang berbayar aturan mainnya itu cuma satu, cash only. Kalau harus nyicil berarti lu enggak mampu. Titik. Gua ada sedikit hack juga. Lu bisa coba cari kartu debit atau kartu kredit yang ngasih keuntungan pas liburan. Misalnya kayak kartu debit Blue X Garuda. Kalau lu ada flight pakai Garuda dan lu punya kartu ini, itu lu bakal dapat bagasi dan juga executive lunch yang nilainya bisa sampai ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Mantap banget ya. Nah, that's why buat lo yang pengen belajar lebih banyak soal life hack budgeting liburan yang mantap, worth it dan juga kagak bikin poros, kebetulan 1% lagi ada collab ya sama Blue by BCA Digital dan kita lagi adain program namanya Blue Academy Financial Maturity Journey. Sekarang kita udah sampai ke batch 17 dengan tema biar Healing enggak bikin dompet kering. Panduan self reward in this economy mulai dari shopping hingga traveling. Tema ini cocok banget ya buat lo yang pengen liburan di akhir tahun atau di awal tahun 2026. Kita personally mau say thanks juga buat 1000 lebih teman-teman yang kemarin udah daftar di batch 16. Jadi kalau dijumlahin total udah ada lebih dari 25.000 pendaftar dan juga 10.000 alumni yang ikut program ini. Bahkan berkat dukungan kalian kemarin juga Blue Akademi sempat dapat penghargaan sebagai financial literasiy program of the year 2024. Menurut gue ini program yang sayang banget ya buat dilewatin. Jadi buat lo yang tertarik, lo bisa daftar aja di link yang ada di layar ya atau lu bisa coba cek link yang ada di description box. Udah gue taruh linknya di sana. Langsung cek aja ya. Kita sering didoktrin. Mumpung masih muda, ambil cicilan rumah atau mobil biar tua enggak susah. Nah, ini lu harus hati-hati ya. Ni hati-hati sebenarnya benar, tapi eksekusinya seringkiali bodoh. Mengambil kredit barang besar kayak KPR atau KKB tanpa perhitungan cash flow yang matang itu sebenarnya bukan investasi. Itu malah ngerugiin diri sendiri jatuhnya. [musik] Misalnya kayak KKB ya, kredit kendaraan bermotor. Banyak anak muda yang gajinya itu pas-pasan maksa kredit mobil biar kelihatan mapan. pas pulang kampung atau nongkrong. Padahal mobil itu sebenarnya mengalami depresiasi brutal. Begitu mobil keluar dari dealer itu nilainya langsung turun 10 sampai 15% dan dalam 5 tahun harganya itu bisa tinggal setengahnya. Terus juga yang harus lo pikirin ketika lo beli mobil lo itu enggak cuma bayar cicilan. ada bensin, ada tol, ada parkir, ada pajak, dan juga servis rutin. Jadi kalau lu beli mobil itu cuma ngitung harga belinya aja, tapi enggak ngitung pengeluaran setelah lu punya mobil, itu sebenarnya kesalahan yang bodoh banget sih. That's why saran gue kalau lu emang mau beli mobil itu pastiin mobilnya tuh dipakai buat hal-hal yang produktif gitu. Jangan lu pakai cuma buat gengsi, apalagi cuma buat mertahanin status sosial aja di masyarakat. Karena itu jadinya malah ngebebanin kondisi finansial lu sendiri. Terus yang kedua juga ada soal KPR. Ini tuh sebenarnya ada satu jebakan namanya houseur. Misalnya lu punya rumah yang bagus tapi lu maksa beli rumah di luar kemampuan itu. Jadi ibaratnya rumahnya megah tapi di dalamnya ya lu makan nasi garam gitu atau makan seadanya karena ya gaji lu akhirnya habis buat bayar cicilan. [musik] Bahkan sebenarnya di awal cicilan tahun-tahun pertama mayoritas yang lu bayar itu bunga bukan pokok utang. Dan juga lu harus mikirin soal opportunity cost. Kalau DP dan cicilan itu lo investasikan ke instrumen lain yang return-nya lebih tinggi dari kenaikan harga properti di daerah itu, menyewa rumah kadang secara matematika itu jauh lebih untung dibandingkan lo harus KPR. Dan solusinya saran gua sih lo fokus amanin cashfall dulu. Jangan sampai lo kelihatan kaya raya punya mobil atau rumah tapi cash pur dompet lu kosong. Misalnya kalau lu mau KKB ya mau kredit kendaraan. Kalau cicilan mobil plus biaya operasionalnya itu bikin lo gak bisa nabung, artinya itu lo belum mampu. Saran gua sih lo pakai motor atau transportasi umum dulu aja. Terus juga kalau lo mau KPR, cicilan rumah itu maksimal 30% dari gaji lo ya. Jadi kalau cicilannya itu lebih dari 30% ya enggak usah dipaksain buat KPR. Mending lu coba tabungin dulu aja buat dana darurat minimal 6 sampai 12 bulan sebelum lu akhirnya akad buat kredit. Kenapa sih keseringan Gaca dan top up game itu sebenarnya bahaya banget? Alasan pertama, spending kecil kalau numpuk itu bakal bikin boncos. Lu enggak ngerasa miskin ya pas misalnya lu top up R15.000 atau Rp50.000 buat skin atau Gacaap. Tapi ini adalah definisi nyata dari late factor digital. Riset membuktikan pengeluaran kecil yang repetitif dan enggak dicatat itu adalah pembunuh cash flow nomor satu. Akumulasinya tuh ngeri ya, Rp50.000 seminggu itu bisa jadi 2,6 juta setahun. Lu bayangin ya 2,6 juta banyak banget hal yang bisa kita lakuin dari uang itu. Alasan kedua adalah dopamin trap. Sistem Gaca didesain persis kayak mesin judi. Lu cuma ngejar dopamin hit sesaat. Lu mikir sesekali pasti dapat. Tahu-tahu saldo rekening udah merah. Itu sebenarnya bukan hobi ya. Itu adalah kecanduan. Ya, solusinya lu harus pakai data, jangan pakai perasaan. Otak kita tuh sebenarnya pintar nipu ya. Makanya lu butuh alat bantu yang jujur. Misalnya lu bisa monitor pakai blue spending. Jangan cuma ngira-ngira ya. Cek di fitur blue spending di aplikasi Blue by BC digital. fitur itu kan bakal otomatis ya nge-tracking dan juga ngekategoriin pengeluaran bulanan lo. Nah, pas lo ngelihat grafik kategori gaming dan hiburan misalnya itu ternyata lebih tinggi dari kategori investasi itu tamparan sebenarnya buat kita, buat lo yang lo harus sadar kalau pengeluaran untuk entertainer lo itu udah ketinggian. Kalau lo udah lihat data di blue spending dan sadar keuangan lo berantakan, ya jangan diam aja. Saran gue lu bisa coba ikut ya. Blue Academy batch 17. Biar healing, enggak bikin dompet kering, panduan self reward in this economy. Mulai dari shopping, hingga traveling. Acara ini 100% gratis ya, Teman-teman dan bakal dipandu sama financial expert. Jadi, buat lo yang tertarik, lo langsung aja bisa daftar di website kita atau klik link yang ada di description [musik] box. Kedua, gue taruh di sana. At the end of the day, enggak ada yang salah kok sama self work. Loh banget beli barang, traveling, atau ngelakuin aktivitas berbayar cuma karena alasan lo suka sama [musik] kegiatan itu. Yang terpenting jangan sampai personal finance lo rungkat cuma karena lo enggak bisa ngontrol diri sendiri. Buat lo yang pengin belajar lebih jauh soal investasi buat pemula, lu bisa coba cek video kita yang di sebelah kiri ya atau lu juga bisa cek rekomendasi kita yang ada di sebelah kanan. Smart spending is the new flexing. Gue Danang dari 1%. Sampai jumpa di video selanjutnya. Thanks. [musik]
Resume
Categories