Filosofi Epicureanism: Seni Hidup Bahagia Tanpa Harus Kaya Raya
Bs8OtNGO1RU • 2025-11-23
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kalau lu pintar, kenapa lu enggak kaya?
Bayangin ada satu orang, sebut aja si A.
Dia adalah juara kelas dari SD [musik]
sampai kuliah. IPK-nya 4, kumlout dapat
beasiswa. Bahkan setelah lulus dia
sekarang kerja di perusahaan yang
mentereng ya, perusahaan yang bergengsi.
Jabatannya juga bagus, jabatannya keren.
Pokoknya ini adalah orang yang
certified, orang pintar gitu sesuai
standar sosial. Tapi anehnya hidupnya
tuh gitu-gitu aja. Gajinya gede,
pengeluarannya juga gede. Dia nyicil
rumah 20 tahun, nyicil mobil 5 tahun
yang kelihatannya sukses. Tapi kok
kayaknya enggak happy? Dan yang pasti
enggak sekaya itu. Di sisi lain ada
namanya si Be. Dia adalah orang yang di
sekolahnya biasa-biasa aja. Mungkin
sering dibilang bodoh. Tapi sekarang dia
punya bisnis di mana-mana. Asetnya
banyak dan yang paling penting dia punya
banyak waktu luang. Selama ini kita
diajarin kalau pintar adalah kunci
sukses dan jadi kaya. Tapi nyatanya
enggak semua orang pintar bisa jadi
kaya. terutama lewat jalur-jalur yang
konvensional. Welcome to Psychology of
Finance by [musik] 1%. Enjoy.
Welcome to psychology of finance.
[musik]
Gimana sih cara paling umum buat jadi
kaya di zaman sekarang? Ya, simpel.
Jawabannya kerja di perusahaan corporate
yang ngasih gaji gede. [musik] Lu jadi
VIP, jadi head, jadi se level, gaji
ratusan juta dapat bonus, dapat saham,
itu jalur standarnya. Tapi masalahnya
orang yang super pintar itu justru susah
banget buat dapat gaji segitu. Kenapa?
Karena ya mereka kagak bisa atau lebih
tepatnya mereka kagak mau manja tangga
jabatan corporate. Loh, kok bisa?
Bukannya orang pintar harusnya gampang
banget ya dapat promosi sebenarnya itu
gak selalu kayak gitu juga sih. Buat
sukses di dunia korporat lo itu butuh
yang namanya mental iya-iya aja. Mental
jadi yes man. Lo harus bisa ya matiin
dalam tanda kutip pikiran lo sendiri
dalam hal-hal tertentu dan setuju aja
gitu sama apa yang dikatain sama
perusahaan. [musik] Contohnya ya, lo
orang super pintar nih, terus lo masuk
ke sebuah meeting, terus bos lu
presentasiin 10 proyek yang mau
dikerjain. Karena lo pintar, lu bisa
langsung tuh analisis 10 proyek itu
dalam 5 menit. Dan lo dapat kesimpulan
kalau 9 dari 10 proyek ini ternyata
kagak guna-guna banget dan buang-buang
waktu perusahaan gitu. Jadi kagak ngasih
benefit yang baguslah buat perusahaan.
Nah, [musik] apa yang terjadi kalau lo
ngomong jujur di meeting? ya, karir lo
bakal hancur sih. Ngasih jawaban yang
jujur dan benar secara objektif kayak
gitu di dunia corporate itu jelas-jelas
bakal dihukum. Bos lu bakal nganggap lo
itu orangnya enggak supportif. Teman
kerja lo bakal nganggap lo itu orangnya
sok pintar. Padahal ya lu sebenarnya kan
cuma ngomongin fakta aja dari hasil
analisis lo gitu. Itu masalah pertama.
Masalah kedua, promosi di korporat itu
basisnya seringki bukan dari kinerja
atau produktivitas, tapi dari mana?
Yaitu dari politik. Lo harus jago main
cantik dalam tanda kutip. Lo harus jago
melindungi diri sendiri. lo harus jago
membangun relasi sama manajer yang nanti
bakal ngebelain lo pas sesi promosi.
Nah, game politik kayak gini buat orang
yang cukup pintar gitu ya, di bawah
standar orang yang pintar banget,
misalnya orang yang rentang IQ-nya tuh
105 sampai 115 gitu ya, ini masih bisa
dilakuin. Mereka secara sadar
mengabaikan hal-hal objektif dan fokus
aja sama main politiknya. Nah, tapi buat
orang yang super pintar ini tuh susah
banget. Kenapa? Karena mereka bisa
ngelihat dengan jelas semua kebohongan
dan kemunafikan ini dan sistem yang
sangat kagak efisien [musik] buat
mereka. main politik di sebuah
perusahaan itu tuh enggak logis dan
buang-buang energi. Bahkan juga ada satu
kasus menarik ya dari Google di mana
Google itu dulu dikenal sebagai
tempatnya orang paling pintar. Tapi
seiring waktu orang-orang yang beneran
pintar itu akhirnya pada cabut. Yang
tinggal di sana ya sisanya adalah grup
menengah yang IQ-nya tuh 100 sampai 115.
Alasan kedua ini lebih dalam lagi. Orang
pintar enggak kaya karena mereka sadar
kalau jadi super kaya itu enggak seworth
itu. Ini adalah soal foresite atau
ngelihat ya pandangan ke masa depan.
Orang yang super pintar itu bisa aja
duduk diam, mikir, dan dalam waktu cepat
mereka bisa memprediksi atau menghitung
jalur hidup mereka kalau mereka kerja
keras di pekerjaan yang saat ini mereka
pilih. Mereka misimulasikan tuh di
kepalanya misalnya kayak gini. Oke,
let's say gua jadi partner di firma
hukum ini. Gue harus kerja 60 jam
seminggu. Gue harus ngorbanin waktu sama
keluarga, gue harus main politik,
[musik] gua harus matiin otak gue. Gue
lakuin ini selama 20 tahun. Dan di akhir
gue dapat apa? Gaji gede, rumah mewah,
mobil bagus. Nah, terus mereka nanya
satu pertanyaan simpel. Is the juice
worth the squeeze? Apakah hasil yang
didapat itu sepadan sama pengobanannya?
Dan buat mereka jawabannya seringkiali
enggak worth it. Mereka ngelihat
outcome-nya itu enggak semenarik itu.
Kenapa enggak menarik? Karena mereka
paham. Bahkan tanpa perlu ada riset yang
kayak gimana-gimana sama satu konsep
yang namanya happiness asymptote.
Asyimptot itu gampangnya adalah garis
batas. Mereka sadar kalau hubungan
antara kebahagiaan dan duit itu ada
batasnya. Begitu standar hidup lo
misalnya udah terpenuhi, cukup buat
makan, punya tempat tinggal, dan
nikmatin sedikit aktivitas yang seru,
duit tambahan itu enggak akan nambahin
kebahagiaan lo secara signifikan. Punya
duit R miliar sama 10 miliar, level
bahagianya udah enggak beda jauh. Dan
yang paling penting, mereka sadar kalau
ngejar duit itu enggak akan secara
fundamental ngubah pengalaman hidup
mereka. Ya, kita tetap manusia, ya. Kita
tetap ngelihat lewat mata kita dan hidup
di kulit yang sama. Masalah kita mungkin
beda ya, tapi ya kita tetap aja
ngerasain cemas, bosan, [musik] bahkan
juga sampai insecure. Jadi ya mereka
bakal bertanya lagi gitu, "Ngapain gue
kerja 80 jam seminggu buat orang lain
cuma buat ngejar sesuatu yang pas udah
dapat itu enggak ngubah apapun dalam
[musik] hidup gua?" Nah, itu adalah
perspektifnya orang yang sangat pintar.
Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau
ngasih tahu info buat lu yang lagi
ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya, sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam psikotes
premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lo lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lu
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi, setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
reportnya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren, kalau lu enggak ngerti
atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat
insight lanjutan lewat konsultasi bareng
expert dari 1% langsung berdasarkan
hasil tes lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/sicotespremium
buat info lebih lanjut.
Karena mereka nolak jalur kekayaan yang
standar, mereka seringkiali bikin
standar atau jalur kekayaan mereka
sendiri. Dan kekayaan ini biasanya tuh
ada dua bentuk. Bentuk kaya pertama
adalah kekayaan intelektual. Strategi
pertama mereka adalah nyari sesuatu yang
cukup menantang secara intelektual.
Mereka enggak peduli gajinya berapa.
Yang penting kerjaan itu punya surface
area yang cukup luas buat digali
dalam-dalam. dan mereka bisa jadiin itu
sebagai karya hidup mereka. Misalnya tuh
jadi peneliti, jadi software engineer
yang ngerjain problem yang super rumit,
jadi seniman atau bahkan jadi penulis
novel misalnya. Aktivitas kayak gini
ngasih mereka kepuasan batin. Kenapa?
Karena ya ini ngegunain otak mereka buat
mecahin hal-hal yang rumit. Dan buat
mereka proses menyelesaikan masalah yang
kompleks itu ngasih rasa yang fun dan
juga exciting. Nah, ini adalah kekayaan
yang sebenarnya tuh enggak bisa dibeli
pakai duit. Dan percaya atau enggak,
konsep ini tuh sebenarnya udah ada
ribuan tahun. Ini adalah inti dari dua
filosofi Yunani kuno yang sering banget
disalah pahami, yaitu stoikisme dan
epikuranism. Gampangnya gini, misalnya
buat orang-orang stoik, hal-hal di luar
diri lo misalnya kayak gaji, status atau
promosi itu enggak penting-penting amat.
Itu di luar kendali lo dan yang penting
itu adalah prosesnya. Jadi, pas orang
pintar ini memilih buat enggak peduli
gajinya berapa dan cuma fokus jadi
peneliti yang hebat, mereka tuh
sebenarnya lagi ngejar kekayaan dalam
tanda kutip versi stoik, kepuasan batin
karena udah ngerjain sesuatu secara
[musik] maksimal. Tujuannya adalah
keadaan yang disebut sebagai antraksia,
artinya ketenangan batin. Terus ada juga
epikuranism. Ini bukan soal pesta
gila-gilaan ya. Dan ini justru
kebalikannya. Kebagian tertinggi versi
Epicurus itu adalah hidup bebas dari
rasa cemas. Dan menurut mereka ngejar
kekayaan ekstrem itu justru jadi sumber
kecemasan yang besar. [musik] Lo cemas
pas ngejarnya dan lo cemas bakal
kehilangan pas sudah dapat. Jadi
kekayaan yang didapat dari proses yang
fun dan exciting tadi itu adalah
kekayaan yang dicari [musik] sama
epicurious. Ini adalah kebahagiaan
mental yang stabil yang enggak akan
hilang cuma gara-gara pasar saham lagi
anjlok. Bahkan Epicurus itu sebenarnya
fokus ke pertemanan dan hidup sederhana
ya. bahwa kebahagiaan itu adalah ketika
lo bisa berkumpul dan dikelilingi sama
teman-teman lu, sama orang-orang yang lu
sayang, sama orang-orang yang peduli
sama lu dan seterusnya. [musik] Jadi,
gimana menurut lu? Setelah gua jelasin
dari awal, apakah lo ada pendapat lain
dan setelah dengar ini, apa definisi
kekayaan versi lo? Bisa lo coba sampaiin
di kolom komentar ya. Dan buat lo yang
pengin belajar lebih jauh tentang makna
hidup, cara menentukan tujuan hidup,
filosofi hidup, lo bisa coba cek ya dua
video yang udah gue rekomendasiin dan
tinggal lo klik aja di layar ini.
Silakan pilih mau yang kiri ataupun yang
kanan. That's all for today. Gua Danang
dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan
lupa hidup seutuhnya. Thanks.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:04 UTC
Categories
Manage