Mitos Investasi Emas & Crypto: Kenapa Aset "Aman" Bisa Bikin Portofolio Hancur?
-qVsGZSa-kk • 2025-11-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Belakangan ini di bulan Oktober terutama
ada dua kegilaan besar yang terjadi di
dunia investasi. Kegilaan pertama pasar
kripto rungkat berjamaah di 10 Oktober
kemarin 19 miliar dolar atau ratusan
triliun leverage position ludes dalam 24
jam. Banyak yang duitnya habis, banyak
yang kena margin call, dan bahkan sampai
ada yang kedorong buat bunuh diri. Ini
sempat kita bahas di video sebelumnya.
Dan di waktu yang hampir bersamaan di
bulan Oktober juga harga emas itu naik
tinggi banget dan akhirnya viral di
kalangan investor ritail. atau investor
biasa kayak gua dan el. Dan ini
menariknya Euforia dan FOMO beli emas
itu terjadi di seluruh dunia, Guys. Jadi
dari Hongkong, Ausi, India, Vietnam
sampai Bangkok termasuk Indonesia
semuanya di toko emas tuh ngantri, Guys.
Nah, uniknya setelah video-video yang
ngantri ini pada viral, 1 minggu
kemudian, 2 minggu kemudian harga emas
langsung turun drastis. Penurunannya tuh
salah satu yang tertinggi sepanjang
sejarah. Kalau enggak salah tuh antara 5
sampai 7% kalau harga emas dunia. Jadi
emas itu bukan saja ada di harga
tertinggi sepanjang sejarah, tapi juga
mengalami salah satu penurunan tertinggi
sepanjang sejarah juga. Di Indonesia
turunnya bahkan lebih drastis, Guys.
Emas Antam setelah nyentuh rekor
tertingginya di 2,4 juta per gram,
seminggu kemudian bikin pattern double
top, harganya jadi 2,2 juta. Tapi kalau
lu ngejual, harganya tuh jadi 2,1 juta,
Guys. Jadi harga beli ke harga jualnya
itu turun sekitar lebih dari 10%. Turun
lebih dari 10%. Gila, udah kayak saham
ya. Bahkan saham aja kadang-kadang saham
bank tuh enggak turun sebesar itu.
Uniknya adalah di minggu yang sama
sebelum penurunan itu banyak retailer
atau toko-toko emas yang ngejual emas
Antam dengan harga yang sepertinya
cenderung harga gorengan, yaitu di harga
Rp3 juta sampai dengan 3,3 jutaan. Dan
gua yakin ada aja orang Indo yang beli
di harga Rp3 juta. Bahkan di salah satu
aplikasi yang emasnya diback sama Antam
nih. Jadi ini aplikasi jual beli emas
digital. Aplikasi ini dibx sama Antam
itu harganya Rp3,2 juta. Nah, kalau kita
lihat chart tahunannya ini dia udah naik
sekitar 120% kemarin sih ke harga yang
tertingginya karena gua beli di sini
juga salah satunya. Nah, pas double to
kemarin akhirnya gua jual sih di harga
Rp3 juta ya sekitar 90% gua jual. Dan
kalau lu beli ya di aplikasi kayak gini
gitu ya atau di aplikasi lain atau di
retailers lain yang harganya udah
kegoreng sampai lebih dari Rp3 juta, lu
udah rugi spread atau perbedaan harga
jual dan beli yang udah gila banget ya.
spread-nya tuh bisa ratusan ribu. Terus
habis itu ketika lu mau jual juga udah
rugi spread, sekarang rugi penurunan
lagi. Jadi, ya gua mendoakan lu semua
aja. Buat lu yang FOMO beli di Pucuk pas
harga lagi tinggi-tingginya, gua
mendoakan semoga lu kuat ya dengan
penurunan itu. Karena mungkin ya mungkin
penurunan itu hanya akan bisa
dikembalikan setelah beberapa bulan atau
bahkan beberapa tahun. Bahkan floating
loss-nya sekarang kalau orang beli di
pucuk itu hampir 30%. Kalau lu beli emas
di harga Rp3 juta, ini jadi pertanyaan
gitu ya, aset agresif kayak Bitcoin dan
altcoins di Oktober bahkan setahun ke
belakang itu malah enggak perform gitu
loh. [musik]
Sepanjang sejarah crypto, Oktober itu
biasanya Octobull, bullish malah jadi
Oktober alias beish. Sementara itu aset
yang katanya aman safe heaven gitu ya.
Sering dibelinya tuh sama ibu-ibu
katanya. Naiknya malah tinggi banget
gitu ya tahun ini sama tahun kemarin
gitu. Tapi pas ril berbondong-bondong
sampai ngantri gitu ya. Bahkan salah
satu kenalan gua di Australia katanya
enggak pernah kayak begini gitu loh. Eh
ternyata setelah mereka ngantri seminggu
kemudian harganya malah jatuh turun jauh
sepanjang sejarah ya kan. So welcome to
Psycho Jo Finance by 1%. Hari ini kita
bakal bongkar lima kesalahan fatal yang
sering dilakuin sama investor pemula dan
gimana caranya biar kita kagak terjebak
atau melakukan kesalahan yang sama.
Enjoy.
Welcome toychology of finance.
Kesalahan pertama adalah FOMO dan beli
di pucuk. Sangat sering sekali terjadi
pada investor retail ya. Contoh
simpelnya ya tadi beli emas. Emas all
time high lagi tinggi-tingginya
beritanya ramai di mana-mana dan karena
rame investor retil yang enggak pernah
mantengin chart, enggak pernah mantengin
harga. Wah menarik nih emas gua harus
masuk. Dari momen itulah banyak investor
pemula masuk dan enggak jarang masuknya
enggak mikir. Udah tahu harga lagi
tinggi malah all in dan berharap untung
short term. Atau lebih buruk masuk
invest di emas pas di pucuk. Belinya
pakai pinjol, belinya pakai kredit ya
yang harus nyicil. Belinya pakai gadein
barang, itu pun belinya bukan di tempat
resmi beli emas gitu. Jadi kan rugi gitu
apalagi kalau turun. Hal yang sama juga
terjadi di perak, Guys, yang harganya
juga melesat gila-gilaan ya di tahun
ini. Dan bahkan gua mulai ngelihat
banyak sellers dan buyers, termasuk toko
perak di Indonesia itu mulai bermunculan
mulai banyak. Sayangnya setelah puncak
Euforia di tanggal ya di pertengahan
Oktober sekitar 16 Oktober ya pattern
chart-nya itu kalau di emas kan double
top dan pasar berbaik alah dengan cepat
termasuk juga dengan perak juga ya. Jadi
banyak yang melakukan selling. Investor
yang masuk dari tahun-tahun kemarin
mulai ambil profit dan ini nekan semua
harga ke bawah terutama emas dan perak.
Makanya koreksinya cukup tinggi. Nah,
inilah yang namanya beli di pucuk.
Biasanya ini kejadian di investor pemula
yang sekarang mungkin lagi nyangkut
puluhan persetasi
ini juga kejadian kayak kemarin yang
viral tuh di bulan Oktober juga ya. Ini
Oktober banyak banget sih kejadian. ada
saham namanya tuh dada di mana ratusan
investor sepertinya atau bahkan ribuan
gua enggak tahu sih. Itu semuanya
rungkat karena ikut-ikutan dan kebetulan
beli di harga pucuk. Padahal kalau
investor beneran mah ya harga terbaik
kan justru saat di bawah. Kalau di pucuk
lu jangan sampai all in gitu. Apalagi
kalau udah naik tinggi, udah naik
puluhan persen bahkan ribuan persen
kayak dada ya. Orang masih mikir itu
bakal naik lagi mau ke puluhan ribu pers
apa gimana gitu loh ya. Kalau udah naik
ribuan pers kayak begitu ratusan pers
mending cek lagi apakah harganya masih
reasonable? Apakah ada narasi yang
kira-kira bisa naikin harga lagi? Apakah
asetnya masih bagus atau justru sudah
kemahalan? Kayak contoh gitu ya. Ini
beberapa saham pilihan gua yang kemarin
gitu ya di tahun ini. Itu misalnya Wii.
Wii kan udah naik dari angka 300 ke
2.000 gitu loh. Ini contoh aja ya bukan
saran jual beli. Itu udah naik ke 2.000
bisa enggak naik lagi? Ya ternyata bisa.
Karena dari berbagai analis menilai ini
kayak growth-nya tinggi gitu. Termasuk
saham-saham lain kayak misalnya saham
harta gitu ya. Si harta ini kan
sebenarnya udah naik. Tapi kalau dari
price to earning ratio-ya, dari potensi
pertumbuhannya, mungkin mereka juga mau
bikin aplikasi let's say tahun ini atau
tahun depan, ya berarti bisa naik lagi,
gitu kan. Apalagi emas sebenarnya
diproyeksi bakal naik jangka panjang.
Jadi masih bisalah dihold meskipun udah
naik ratusan pers gitu. Yang harus lu
pikirin adalah investasi itu memang
harus di aset yang baik, tapi harus di
harga yang baik juga. Karena investasi
di aset yang baik kalau harganya
kemahalan tetap akan jadi investasi yang
buruk. Dan sebetulnya kalau udah mahal
memang rentan untuk turun ya. Ini
ngomongin statistik aja sih. Jadi memang
kenaikan penurunan harga di pasar itu
cenderung akan ke tengah ke rata-rata.
Kalau rata-ratanya di tengah ya udah
pasti kalau lagi di atas dia bakal ke
tengah lagi atau ke bawah. Kalau di
bawah ya divergence dia bakal ke atas
lagi. Sesimpel itu aja sih gitu ya. Jadi
hati-hati dengan beli di pucuk apalagi
modalnya FOMO doang enggak pakai mikir.
By the way diskusi kayak gini sering
banget kita bahas di membership 1% ya.
Buat lo yang penasaran, langsung aja
join atau cek di website kita.
Nah, kesalahan kedua investor retil
adalah orang tuh seringki enggak paham
bahwa ada biaya dalam melakukan
investasi. Biayanya tuh macam-macam. Ada
spread kalau di logam ya, ada juga fees
ya kalau di saham atau di yang
lain-lain. Atau kalau pakai leverage ada
juga fe-nya juga gitu ya. Ada bunganya
juga yang harus lu bayar. Dan ini
seringkiali gak disadarin oleh investor
pemula gitu. Mereka mikir beli emas tuh
kagak ada cost-nya gitu ya. Padahal
kalau kita simulasiin ya misal lu mau
beli emas harganya tuh let's say ya
harga jual yang bisa kita lihat ya di
tokonya itu misal,78
juta lu beli nih 1 gr. Nah 1 detik
setelah lu beli emasnya itu lu enggak
bisa jual dengan harga yang sama. Kalau
lu cek harga buyback-nya itu harganya
adalah 2,143 juta. Artinya adalah lu
langsung rugi dalam waktu 1 detik
setelah lu beli, lu langsung rugi
Rp135.000. Ini namanya adalah spread.
Ini adalah margin keuntungan si pedagang
yang enggak bisa lu hindarin. Nah, dalam
persentase tadi lu beli 2,278 juta, lu
jual 2,143 juta, itu lu baru aja rugi
instan sekitar 5,93%
bahkan sebelum marketnya bergerak naik
atau turun. Artinya harga emas di pasar,
harga emas dunia itu harus naik dulu
lebih dari 5,93% buat lu balik modal.
Dan ini kalau di tahun-tahun sebelumnya
kan tahun ini kenaikannya abnormal ya.
Itu butuh waktu sekitar ya beberapa
bulan sampai setahun. Jadi hati-hati
guys ya buat teman-teman yang baru mulai
investasi ada yang namanya spread,
[musik] ada yang namanya vis ya. Jangan
kaget kalau lu beli mau jual enggak bisa
gitu loh. Karena posisi lu masih rugi.
Dan ini enggak cuma di emas, di crypto
atau saham juga ada. Ada trading fees,
ada gas fees, ada withdrawal fee.
Kelihatannya kecil, tapi kalau sering
trading biaya-biaya ini sebenarnya bisa
ngegerogotin profit lu tuh pelan-pelan
tanpa lu sadar. Meskipun enggak kerasa
sih kalau tradingnya berhasil terus ya,
tapi kalau gagal terus ya kerasa, Guys.
Ya kan? Jadi jangan lupa dihitung risk
to reward rati-nya beserta cost-nya
sebelum lu melakukan investasi. Jangan
lupa juga cost-nya tuh termasuk sama
pajak. Apalagi yang suka pakai exchange
luar negeri itu pajaknya adalah pajak
PPH sekitar 30% dari luar negeri kalau
enggak salah bisa sampai segitu.
Deposito ada pajaknya juga 20% dari
profitnya ya kan. Obligasi ada pajaknya
juga 10%. Reksad dana enggak ada
pajaknya sih kalau reks dana tapi ada
fe-vis-nya di belakangnya gitu yang
harus lu baca karena beda-beda gitu.
Jadi jangan lupa kalau tiap investasi
itu sebetulnya pasti ya pasti ada F-nya
karena kita bermain dengan banyak
middlem. negara juga kan sebenarnya mau
yang ngambil pajak juga kan dari
penghasilan kita saat investasi. Jadi
coba manfaatin segala macam ya stimulus
stimulus pajak sih ya. Kayak misalnya
dividen bisa bebas pajak kalau
diinvestasiin lagi selama beberapa tahun
gitu selama 3 tahun ya. Nah itu bisa
ngebantu lu untuk ngurangin ee biaya
cost-nya itu. Karena seringkiali orang
tuh enggak sadar ya dengan cost-cos
seperti ini. Baru sadar pas berapa
enggak tahu ya. Bahkan ada yang mungkin
enggak sadar-sadar gitu loh. Jadi kayak
jangan sampai lu kayak begitu ya.
Nah, kesalahan ketiga adalah invest di
uang panas. [musik] Apa itu uang panas?
Ini adalah duit yang seharusnya enggak
lu pakai buat investasi, ya. Biasanya
duit buat bayar-bayar bills, utilities,
duit buat bayar kosan, duit dana
darurat, atau yang paling gila adalah
duit pinjaman alias utang. Jadi, lu
invest tapi pakai utang. Wah, itu udah
terlalu ekstrem, Guys. Gitu ya. Jadi
jangan sampai lu kepepet butuh duit atau
lu malah ningkatin beban lu gitu loh. Lu
penginnya investasikan untung eh malah
harus bayar utang. Nah, sedihnya ada
lah. Kalau lu investasi pakai utang
terus investasi lu lagi rungkat tapi lu
kepaksa harus nyicil utang tersebut ya
lu harus ngejual dong investasi jangka
panjang lu, gitu. Dan ini rugi banget
ya. Udah rugi sama bunga utangnya lu
rugi juga sama performa investasi lu
sekarang. Jadi jangan sampai dilakuin
dah. investasi itu wajib pakai uang
dingin, duit yang lu emang alokasiin
buat investasi dan enggak akan lu
butuhin dalam waktu dekat.
Nah, kesalahan keempat itu adalah all in
di satu aset. Kita terlalu terpikat sama
potensi satu aset, akhirnya kita
menempatkan seluruh modal kita dalam
satu keranjang tersebut alias all in.
Ini berlaku untuk semua aset ya. Tetap
enggak boleh sih ya, saham, deposito,
Bitcoin, emas gitu. Karena tiap aset tuh
punya resiko yang berbeda-beda gitu loh.
Jadi kalau portofolio lu mau sehat ya lu
harus diversifikasi supaya apa? Supaya
di keadaan apapun portonya bisa tetap
naik ya. Karena enggak ada satuun orang
di dunia ini yang bisa timing the market
atau benar terus gitu investasinya
secara presisi terus-menerus
bertahun-tahun itu enggak ada gitu loh.
Jadi ada aja tahun yang buruk, ada juga
bulan yang buruk. Ada hari yang baik,
ada hari yang buruk gitu. Ini juga
terjadi pada investor terbaik di dunia
kayak Warren Buffet gitu. ada aja
bulan-bulan yang dia rugi gitu dan it's
oke gitu ya. Yang penting kan dia bisa
diversifikasi untuk manajemen risiko.
Nah, investor profesional ya kayak tadi
gua bilang Warren Buffet contoh paling
umum juga Reidalio biasanya ngebangun
portofolio yang tangguh untuk berbagai
skenario. Bahkan Warren Buffet aja
sejago-jagonya dia di saham misalnya dia
tuh banyak ngelakuin diversifikasi gitu.
Ada yang usahanya di Jepang lah sahamnya
gitu ya. ada yang ditaruh di obligasi
dulu. Kalau market lagi enggak baik-baik
aja menurut dia, industrinya juga
macam-macam, ya kan? Jadi lumayan
diversified. Meskipun tentu ya kalau
udah selevel Warren Buffet, of course
ada aja investment yang terkonsentrasi
gitu. Terkonsentrasi itu lebih dari 30%,
lebih dari 40% dan itu enggak apa-apa
sih selama lu mempelajari asetnya. Tapi
yang penting adalah hindari all in.
Karena all in itu kalau udah rungkat ya
udah susah balikinnya gitu loh ya kan.
Nah, kesalahan kelima enggak punya exit
strategy. Investor pemula itu
seringkiali jago banget ya, mikirin
kapan harus beli, kapan harus masuk,
tapi enggak pernah mikirin kapan harus
keluar atau harus ngejual. Jadi enggak
punya rencana take profit tuh kapan dan
cut loss-nya tuh kapan. Kok ini bisa
terjadi? Nah, ini terjadi karena
investasinya didorong oleh FOMO. Ya,
kesalahan pertama tadi. Jadinya lu
enggak punya tujuan dan rencana. Karena
enggak punya rencana, semua keputusan
jual beli lu seringkiali ya 100%
dipengaruhi oleh emosi dan berita yang
ada gitu. Padahal ya emosi enggak selalu
benar, berita apalagi ya kan pasar
goyang dikit, media bilang wah koreksi
segala macam lu panik langsung jual.
Padahal koreksinya koreksi sehat. Nah,
seringkiali lu ngejualnya tuh di harga
terendah. Iya enggak sih? Nah, ada juga
skenario lain. Ada aset baru untung
dikit misal 2% lu buru-buru jual buat
ngunci profit kecil itu lu takut
harganya turun lagi. Sementara itu, aset
yang udah rugi parah, udah rugi 10
bahkan sampai 50% malah lu masih pegang
terus. Lu kayak merasa lu ngarep gitu ya
secara emosi gitu. Harganya tuh bakal
naik lagi. Lu enggak mau cutlos. Nah,
ini juga banyak kesalahan pemula kayak
gini. Jadi jual pas profitnya kecil,
sell pas ruginya udah gede banget. Pas
ruginya masih kecil enggak mau nge-sell.
Nah, uniknya lagi setelah asetnya udah
ke atas nanti dari dari bawah ya lu
langsung jual. Padahal kalau lu hold
bisa naik ratusan persen. Yang kejadian
di gua biasanya sih gua seringkiali
terlalu cepat taking profits ya. Jadi
kayak ada beberapa saham yang harusnya
bisa beger 100% gua ngambil profitnya di
misal 60 70% gitu. itu sering banget
kejadian di gua dan gua juga belajar
untuk tidak melakukan itu. Penyakit ini
sih terjadi di semua investor ya, Guys.
Jadi enggak cuma yang pemula, harusnya
yang udah intermediate atau advance atau
expert juga harusnya merasakan hal yang
sama gitu. Karena enggak ada yang bisa
predict the market gitu loh. Jadi kadang
kita suka takut ya, suka ngejaga resiko
lebih tinggi gitu kalau harganya udah
tinggi dan lain-lain. Tapi yang paling
penting lu harus punya strategi untuk
buying, [musik]
selling, taking profits, dan cut loss
supaya investasi lu ke kontrol. bukan
emosi yang mengontrol investasi lu, tapi
justru adalah strategi lu. Nah, buat
yang masih ngalamin kesalahan-kesalahan
yang gua udah sebutin barusan ini
waktunya lu belajar untuk punya
financial maturity. Financial maturity
itu punya empat pilar ya, yang bisa lu
lihat di layar, lu bisa pause.
Dan framework ini dirancang oleh Blue by
BCA Digital.
Nah, kalau lu perhatiin semua kesalahan
yang sudah kita bahas tadi, itu adalah
contoh nyata dari pilar-pilar yang masih
bolong. Kita juga udah bikin psikotesnya
by the way. Jadi lu bisa ngerjain
psiko-nya di website kita. Dan ini tuh
adalah kolaborasi bareng Blue di mana
kita juga bikin yang namanya Blue
Academy Financial Maturity Journey. Ini
gratis buat belajar soal investasi in
this diskonomi ya yang realistis tapi
tetap bisa cuan terutama buat lu yang
para pemula. Nah, di financial maturity
journey ini kita bakal bedah tuntas
gimana caranya ngebangun mindset biar lu
bisa investasi lebih baik dan gimana
caranya biar keuangan lu bisa balance.
Dan program ini 100% gratis guys ya.
Jadi tidak jualan sama sekali. Program
ini juga bahkan udah sempat dapat award.
Award-nya adalah Financial Literacy
Program of the Year. Dan ini ibaratnya
adalah hadiah lah ya dari blue dan 1%
untuk teman-teman untuk kayak kita
ngasih edukasi sih dengan cuma-cuma.
Jadi silakan daftar 1% juga sudah
bertahun-tahun berkolaborasi sama salah
satu bank digital terbesar di Indo.
Sayang banget kalau lu belum pernah
ikut. Jadi ya silakan bisa diikuti. Oke,
semoga bahasan gua kali ini bisa
ngebantu lu ya dalam investasi. Gua 1%.
Well, thanks
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:11 UTC
Categories
Manage