Transcript
9eZ20wh_Kpc • Stoikisme = Filosofi ORANG LEMAH (?)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0788_9eZ20wh_Kpc.txt
Kind: captions Language: id Dunia ini tuh lagi banyak masalah. Ada inflasi, potensi perang dunia, sampai robot AI yang disinyalir bakal bikin manusia tuh di PHK. Dengan banyaknya masalah yang terjadi, terus gimana sih cara terbaik buat manusia untuk bisa nyelesaiin masalahnya? Haruskah kita menjadi realistis seperti kata Theoderic atau apakah kita lebih baik menjadi ambisius, punya mimpi setinggi langit seperti yang sering dikatakan oleh Timoty Ronald. Menariknya sebetulnya dua filosofi ini tuh udah jadi perdebatan sejak ratusan tahun lalu. Dari dulu selalu ada yang namanya kubu ambis dan juga kubu yang realistis. Tapi zaman udah berubah. Sekarang udah bukan ratusan tahun lalu, udah bukan zaman filsuf. Lalu apa filosofi yang paling baik sebenarnya di zaman sekarang? Especially in this ekonomy ketika inflasi meraja lela, gaji lu susah naik dan lu susah nyari kerjaan. Apakah kita harus coba pushing the limit? Jadi ambis, punya mimpi tinggi, dan keluar dari zona nyaman. Atau jadi realistis aja biar bisa bertahan hidup, survive, dan enggak burn out karena tekanan sosial yang sangat tinggi di dunia yang udah rada gila kayak sekarang. Kalau lu pengen tahu jawabannya, lu tonton video ini sampai habis. Welcome to belajar filsafat by 1%. Kita bakal bahas filosofi realistis versus filosofi ambisius. Enjoy. Kalau kita dalamin lagi, sebenarnya yang dikatakan oleh Theoderik ini mirip sama filosofi stoik. Tujuan akhir dari filosofi realistis itu sebenarnya bukan jadi miliarder, bukan jadi triliuner. Tujuannya adalah keadaan yang disebut sebagai atraksia. Ini tuh kalau zaman Yunani dulu artinya adalah ketenangan batin. Jadi masalah angka, masalah seberapa kaya lu itu enggak terlalu penting. Karena yang penting adalah gimana caranya kalau lu start dari minus, at least lu bisa survive ke nol. Kalau lu start dari nol, lu bisa survive dan sedikit lebih tenang aja. Itu udah bagus. That's why bukunya Theoderic juga kan judulnya adalah From Zero to Survive. Kalau dilihat-lihat sebenarnya di sini filosofi realistis tuh bukan berarti sinis atau pasrah ya, tapi lebih ke ya kalau lu mau berkembang basically step by step gitu. Jadi kalau sekarang duit lu R1 juta ya mimpinya harus realistis ibaratnya coba ke Rp100 juta dulu baru habis itu 1 M. Kalau lu banyak utang ya mungkin lunasin utang dulu dan punya dana darurat. Terus kalau gagal juga enggak apa-apa at least sudah berkembang dikit. Yang gua tangkap sih begitu dari Theoder Erik. Nah, tapi jauh sebelum ada perdebatan Theoderik versus Timothy yang ramai sekarang, filosofi realistis ini dari dulu tuh udah dikritik, Guys. Jadi, filosofi kayak stoik gitu ya, itu tuh punya banyak kritikus. Tapi salah satu kritikus yang paling tajam dan sebenarnya kayak menurut gua mirip-mirip sama yang dipercaya Timoth itu adalah Frederick Nietzsche. Frederick Nietzsche bilang kalau stoicism itu pada dasarnya bukan filosofi orang bijak, tapi filosofi orang lemah dan orang denial. Kenapa? Karena menurut Nietzsche si orang-orang stoik ini dibandingkan mereka ngubah keadaan, ngelawan takdir gitu ya, pas ada kejadian buruk, si orang Stoik malah lebih memilih untuk pasrah, untuk enggak peduli sama hal yang bisa mereka kontrol, untuk kayak ya udahlah realistis aja. Maksudnya hal yang bisa gua kontrol kan cuma A B C gitu. Enggak bisa gua ngontrol misalnya gua jadi juara, jadi triliuner segala macam. Jadi kalau menurut Nietzsche, orang stoik tuh bukannya banyak aksi buat ngubah dunia, tapi orang stoik itu malah terlalu sibuk sama mindset internalnya mereka gitu. Jadi lebih sibuk sama pemikiran sendiri dan jadinya pasrah dan nyerah gitu loh. Ya, that's why stoicism menurut Nietzsche itu adalah filosofi buat orang lemah, buat orang denial. Padahal di sisi lain dunia itu keras dan manusia kalau menurut Nietsche termasuk menurut Timoti juga ya harusnya bermimpi setinggi mungkin untuk mengubah dunia sekaligus nyiptain value mereka sendiri kalau kata Nietsche. Nah, ini yang dikatakan sebagai Uberman. Jadi Superman atau overman jadi manusia yang udah melampaui batas manusia pada umumnya. Udah bisa melewati segala pengalaman manusia pada umumnya dan basically ya hidup seutuhnya gitu. Sementara itu ya, orang yang stoik udah pasti gak mikir kayak gitu ya. Mereka mah ya udah mikirin mindset. Oh, kalau gua jadi budak apaan yang bisa gua kontrol gitu ya. Epic titus ya kan. Oh, yang bisa gua kontrol pikiran gua enggak apa-apa gua disiksa. Ya udah mereka akan disiksa sampai mati gitu kan. Jadi orang stoik itu cuma sibuk sama mindset, sama realita, sama realistis gitu ya. Bahkan cenderung sinis mungkin kelihatannya. Dan menurut gua kritik Nietzsche ini bisa dibilang valid ya. Kalau dilihat-lihat ada-ada aja ya orang stoik yang akhirnya jadi terlalu pasif terus malah kejebak mindset toxic positivity. Jadi gak apa-apa kok padahal rumah lagi kebakar gitu dan jatuhnya menggunakan filosofi realistis ini sebagai coping mechanism. Ya udah enggak apa-apalah gua enggak usah bayar utang lagian gua disuruh realistis gitu kan kan itu malah jadi toxic ya kalau seperti itu. Meskipun gua tahu itu sebenarnya bukan maksudnya si Theoderic. Nah, btw, kritik tentang filosofy stoik ini juga udah pernah kita bahas ya beberapa tahun lalu pas e dulu rame soal stoicism. Lu bisa tonton videonya sih, lu cek aja channel kita, ya. Nah, jadi bisa kita simpulin kalau Theoderic itu sebenarnya nawarin ketenangan dan filosofi hidup step by step yang lebih aman. Sementara Timoti itu nawarin pertaruhan menuju ambisi yang lebih besar. jatuhnya filosofi yang lebih high reside return sih. Dan kalau menurut Timoti, ibaratnya kalau masih miskin mending pertaruhkan harta sampai ke nol sekalian gitu. Jadi kayak ya you have nothing to lose anyway. Mending lu mati dan lu udah nyoba untuk menggapai mimpi lu daripada lu mati tapi matinya realistis gitu dan tetap miskin seumur hidup. Nah, kalau kita dalamin lagi filosofi ambisius yang dianut sama Timothti ini mirip banget ya sama jalan pikirannya si Nietzsche. Btw kalau lu belum tahu, Nietzsche juga pas lagi nulis bukunya di akhir sampai dia meninggal gitu ya, itu juga sakit-sakitan, Guys. Sampai mati miskin sebelum akhirnya karyanya akhirnya membludak dan bisa mengubah dunia bahkan menginspirasi sangat banyak orang besar. Salah satunya tuh yang menarik adalah Hitler ya. Nanti kita bahas soal Hitler. Nah, jadi apa itu ajaran Nietzsche? ajaran Nietche yang paling penting soal will to. Nah, ini adalah ajaran yang paling penting dari Nietzche ya, will to power. Jadi, Nietzsche bilang dorongan fundamental manusia tuh bukan sekedar buat survive aja. Harusnya sih bukan begitu, tapi justru manusia tuh semua kedorong untuk ngedapetin power. Jadi, semua manusia tuh punya keinginan buat jadi kaya, buat jadi kuat gitu loh. Lu tuh hanya sukses kalau berhasil ngedapetin power, kekuatan besar, pengaruh luas, ya basically harta dan tahta lah. Nah, karena gini, kalau lu hidup itu cuman buat survive doang, pesimis, enggak berusaha realistis dalam tanda kutip gitu ya. Apa bedanya lu sama budak gitu yang akhirnya lu diperbudak sama tuan lu seumur hidup lu? Dan kalau sekarang kan kita udah enggak ada perbudakan ya. Dan menurut Nietzsche, kebanyakan orang itu menganut yang namanya slave morality alias moralitas budak. Jadi ini tuh adalah moralitas yang biasanya diagung-agungkan sama orang-orang goblok, sama orang-orang miskin, orang-orang yang arogan. Dan moralitas budak ini biasanya diagungkan oleh orang-orang yang kalau kata Nietzsche adalah orang yang mabuk agama. Karena Nietzsche itu kan sangat keras mengkritik Christianity ya pada zamannya. Nah, kenapa dia mengkritik Christianity, mengkritik orang-orang goblok dan miskin gitu ya? Kenapa? Karena moralitas yang dimuliakan oleh Christianity, oleh orang-orang lemah gitu ya adalah memuliakan kelemahan itu sendiri. Jadi enggak apa-apa lemah nanti juga dibalas kok di neraka gitu. Terus enggak apa-apalah lu cuma gaji UMR gitu. Jadi memuliakan kepasrahan di mana hidup biasa-biasa aja tuh enggak apa-apa. Jadi Nietzice tuh enggak suka gitu kalau disuruh kita tuh harus baik ke sesama, harus nyumbang ke orang gitu ya. Jadi very ekstreme memang makanya beberapa analis filsafat gitu ya bilang Nietzsche ini sebenarnya radikal individualis dan ini mirip juga ya sama Timoth gitu dan enggak apa-apa juga kan orang enggak suka sama orang yang begitu gitu. Kalau dalam konteks gitu ya hal yang dikritik oleh orang-orang seperti Timothi seperti Andrew Tate gitu ya. Ini tuh jatuhnya adalah kritik terhadap orang yang enggak mau ngambil resiko. Ibaratnya orang yang kerja kantoran gitu ya, orang yang hidup biasa-biasa aja gitu. itu tuh diispise lah oleh orang-orang yang mungkin menganut filosofinya Nietzsche secara radikal gitu ya. Dan Nietzsche sendiri percaya gitu kalau manusia yang oke itu adalah manusia yang bisa melampaui standar sosial dan menciptakan nilai-nilainya sendiri atau bisa disebut sebagai yang tadi gua bilang adalah Ubermanch. Nah, sayangnya sayangnya ya filosofi Nietzs juga punya kelemahan gitu dia tidak bebas kritik. Filosofi ini memang mungkin cocok buat orang-orang ambis, orang-orang yang bisa mengubah dunia gitu. ke orang-orang kayak Ilon gitu ya dan lain-lain. Tapi filosofi ini gak cocok buat banyak sekali orang. Mungkin bahkan gua bisa bilang personally ini tuh gak cocok buat 90% orang gitu loh. Karena pertama filosofi ini tuh bisa bikin lu burn out. Terus kalau lu mau bermimpi setinggi mungkin ya lu bisa burn out kalau enggak nyampe. Dan lu juga bisa burn out kalau ternyata value diri lu itu enggak setinggi Ilon gitu, enggak setinggi Timoti, enggak sepintar Albert Einstein gitu. Lu mungkin bakal ya milih untuk I don't know, mungkin mengakhiri hidup gitu ya. karena lu merasa lu adalah orang gagal, ya kan? Karena gini, kalau lu gagal bukan cuma duit lu yang habis, tapi identitas lu juga hancur, gitu. Ketika lu mempercayai filosofi ini, dalam banget, gitu loh. Jadi kalau gagal, lu bukan hanya mati miskin, tapi lu juga mati depresi, cuy. Dan itu juga yang terjadi pada Niechse. Lu lihat sendiri gitu meskipun karyanya akhirnya bisa mengubah dunia. Termasuk itu juga yang terjadi pada orang-orang yang keren ya di tiap zaman tuh kayak gitu. yang sukses tuh seringkiali menderita juga gitu loh. Yang kedua, kalau lu terlalu mengamini filosofi seperti ini, lu juga mungkin akan dirasa kurang empati sama orang yang memang mayoritas gitu loh, yang orang yang memang sulit buat sukses. Jadi, jangan heran kalau orang-orang kayak Timothy dan ya memang yang Striving for success itu dibenci oleh orang yang memegang slave morality gitu. Karena slave morality tuh kebanyakan orang mayoritas gitu. kita-kita ini nih orang-orang biasa ini jadi gak heran bakal dianggap kurang empati, bakal dibenci gitu. Dan ini juga wajar karena seakan-akan kan kalau lu mempopulerkan filosofi ini seakan-akan semua orang bisa sukses dan kaya padahal enggak kan. Nah, yang ketiga filosofi Nietzsche juga jangan lupa ya ini tuh sempat disalah artikan. Jadi, will to power ini dianggap sebagai ya pembenaran gitu untuk lu melakukan segala cara, untuk lu jadi kaya, untuk eksploitasi orang, untuk jadi rasis gitu loh. Kasus yang paling terkenal dari ini sebenarnya adalah ideologi nazinya dari Hitler gitu yang saat itu akhirnya bikin perang di mana-mana kan. Nah, Hitler itu terinspirasi dari konsep Uberman, konsep will to. Ini dijadikan justifikasi buat ambisinya Hitler pada zamannya yang menganggap bahwa ras orang Jerman itu paling kuat dan paling mantap gitu. Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau kasih info penting. Buat lo yang ngerasa stuck sama arah karir, relationship atau bahkan sama diri sendiri. Sekarang 1% punya produk membership premium namanya The Good Life Membership. The Good Life Membership adalah ekosistem pengembangan diri yang dirancang khusus buat bantu lo yang mau mencapai hidup seutuhnya dengan bertumbuh 1% setiap harinya. Apa aja sih yang bakal lo dapetin dengan join membership ini? Locotes premium satu per bulan, empat webinar premium per bulan, video dan playlist premium, artikel premium, grup WhatsApp, dan juga gathering khusus member. Semua produk ini kalau lo beli ketengan di 1% itu harganya bisa sampai jutaan rupiah. Tapi kalau lo join member produk jutaan tadi lo bisa dapatkan dengan harga mulai dari Rp79.000 aja per bulan. Mantap banget ya. Langsung aja ya kunjungi website kita 1%.net atau lu bisa klik link 1.bio/goodlife membembership buat info lebih lanjut. Solusinya gimana? Filosofi hidup apa sih yang terbaik di zaman sekarang? Indis ekonomi gitu ya. Well, kalau menurut gua pribadi, pertama-tama gak apa-apa kalau lagi masa sulit kayak gini, lu mau jadi orang biasa tuh gak apa-apa, Guys. Gitu ya. Karena gini, kalau kata Nietzsche sendiri, kebanyakan orang tuh ya memang akan mengikuti slave morality dan itu it's ok enggak apa-apa untuk jadi pekerja biasa gitu loh. Dan Nietzsche pun bilang bahwa cuma sedikit orang terpilih yang bisa jadi Uberman. Ya, Timoty juga kayaknya pernah bilang itu deh, enggak semua orang bakal jadi kaya gitu. paling 10% gitu ya dari yang nonton videonya doi gitu bakal jadi kaya dan mungkin hanya 0,001% yang bakal jadi kayak Bill Gates, Elon Mask atau Donald Trump. Jadi kalau lu adalah orang mayoritas gitu ya, terus kayak lu udah nyoba sekuat mungkin, lu bahkan udah burn out segala macam, ya mungkin takdir lu adalah untuk menjadi orang biasa gitu. Meskipun kalau Nice bilang kasar ya, ibaratnya takdir lu tuh jadi budak gitu ya. Ya udah gitu ya enggak apa-apa juga. Budak juga bisa happy gitu kan. budak juga tetap bisa ibadah, tetap bisa hidup, tetap bisa makan. Apalagi zaman sekarang lu mau makan enak, gampang gitu kan. Jadi ya it's ok untuk bersyukur menjadi orang biasa gitu. Kalau kita lihat orang-orang sukses juga ya untuk ada di level itu kan butuh personality yang sangat spesifik. Lu butuh energi yang super tinggi, lu butuh jadi batu, keras kepala, tapi harus bisa dengerin orang juga. Lu harus punya kemampuan leadership yang oke, manajemen yang oke. Lu harus belajar terus, lu harus jadi unpredictable. Dan secara psikologi enggak semua orang bisa punya personality kayak gitu. Bahkan kayaknya mungkin cuma beberapa doang gitu. Dan kalau lu punya juga belum tentu lu sukses gitu ya. Belum tentu lu hoki untuk bisa nyampai ke levelnya Bill Gates gitu loh. Ibaratnya lu harus jadi sedikit lebih gila gitu ya untuk jadi sukses atau kaya banget. Dan enggak semua orang suka jadi gila gitu ya. Enggak semua orang punya atau mau punya kepribadian seperti itu dan itu tidak apa-apa ya untuk tidak mengikuti filosofi itu. It's oke banget. Yang kedua jangan lupa filosofi hidup tuh bukan cuma dua tapi banyak ya. Lu tetap bisa happy tanpa harus ngikutin mau jadi ambis radikal atau jadi realistis gitu ya. Dunia ini tuh punya ratusan filosofi. Agama juga udah ada ribuan tahun. Ada kitabnya yang bisa lu baca gitu ya yang menawarkan banyak jalan ya. Kalau lu mau dapat filosofi lain nih gua kasih tahu ya. Salah satu filosofi hidup yang menurut gua menarik buat orang Indonesia gitu ya. Namanya adalah epicureanism. Ini tuh dicetuskan oleh Epicurus. Dia tuh filsuf juga. Yang menarik adalah dia tuh enggak ngejar kekayaan. Jadi dia enggak ambis, tapi dia juga enggak terobsesi, pasrah gitu sama nasib gitu loh untuk jadi stoik atau jadi realistis aja yuk gitu. Enggak juga. Tapi yang menarik adalah tujuan hidupnya lu tahu enggak apa tujuan hidupnya tuh sederhana yaitu nyari youimonia alias longterm happiness. Jadi dia enggak peduli tuh gitu ya sama jadi realistis, jadi amis. Dia bodo amat sama itu. Yang dia lakukan adalah dia hidup sederhana. Dia menjauhi politik dan drama-drama. Dan dia nongkrong bareng teman sampai tua di satu tempat. Jadi buat Happy Curous hidup itu bukan masalah jadi ambisiuk, jadi realis yuk. Bukan. Yang penting lu nongkrong buat dia gitu ya. Tap pertemanan gitu. Jadi menurut Epicurus ini adalah sumber kebagian jangka panjang. Mungkin menurut lu menganggap ini absurd gitu ya. Tapi sebenarnya orang Indonesia mirip kayak si Epicurus ini. Udahlah hidup sederhana aja nongkrong gitu ya kan. Nongkrong sambil main Mobile Legends sambil megang rokok guys gitu kan. Sambil pakai baju scentot gitu ya. skena total gitu loh. Jadi ada banyak, Guys, untuk filosofi hidup itu dan lu bisa pilih gitu ya. Ee ada yang dari agama, ada yang dari filsuf segala macam itu bisa lu pilih. Nah, yang ketiga, nah ini yang menurut gua cukup penting juga. Jadi, jangan sampai kita bulat-bulat menelan apa kata orang dan meyakini apa kata orang sampai radikal banget, especially influencer gitu yang ada di zaman sekarang. Kenapa? Karena ya jujur aja lu enggak tahu banyak tentang hidup influencer, Bro, ya, selain dari konten yang dia bikin. Jadi, bisa aja gini, bisa aja orang tuh ngomong sesuatu yang mungkin kedengarannya ekstrem di media gitu ya, tapi ternyata dia lagi akting, lagi gimik gitu. Bisa juga mereka lagi ada tujuan lain, bisa juga mereka ternyata hidup mereka tuh enggak sesuai omongannya alias munafik gitu loh. Nah, ini ada study case menarik soal influencer. Lu mungkin pernah lihat beberapa konten orang ini di FYP. Nah, dia itu adalah Hubs Life. Nah, awalnya si Hubs Life ini konten dia tuh viral kayaknya beberapa tahun lalu atau beapa waktu lalu ya karena mengagung-ngagungkan soal hidup 9 to5, hidup normal gitu loh. Jadi kerja 9 to5 tuh asik loh, enggak apa-apa loh gitu. It's ok gitu ya. I'm happy with it gitu ya. Dan dia juga kayak mengagung-agungkan hidup single gitu, cuma hidup sama anjingnya doang. Kelihatannya tuh oke banget dan realistis gitu ya. Akhirnya banyak orang yang wah thanks sudah bikin konten ini ya terinspirasi untuk hidup 925 bla bla bla gitu. sayangnya ternyata sekarang guys si influencer itu apa yang dia lakukan gitu ya setelah dia sukses jadi influencer akhirnya dia ya sibuk ngambil endorsan dan sekarang malah jadi full time influencer jadi kerjaan 92 to5-nya ditinggalin guys bahkan ada dugaan kuat kata beberapa orang beberapa komen ya di YouTube dan di Instagram kalau hidup yang dia tunjukin itu bohong jadi cuma akting setelah dia terkenal jadi influencer dia fokusnya sama ya kegiatan influencernya jadi dia dituduh nyewa kantor kantor palsu buat bikin konten seakan-akan dia beneran karyawan 925. Dan poin yang ketiga juga adalah ternyata dia tuh enggak single, Guys. Dia punya pacar dan dia nikah gitu loh. Sementara di videonya orang tuh berasumsi bahwa lah gua pikir lu single gitu, gua pikir lu 9 to5 with this boring life, gua pikir lu happy. Ternyata enggak, Guys, gitu ya. Dan sampai ekstremnya adalah si influencer ini si Hubs Life ini dia live TikTok terus minta minta paus gitu kalau enggak salah ke orang. Gua enggak tahu si Paus tuh apaan ya atau sawer-sawer gitulah gitu yang akhirnya bikin dia jadi lumayan dibenci sih sama viewersnya gitu. Sebenarnya enggak ada yang salah ya buat ngubah opini lu, ngubah filosofi hidup lu di tengah jalan kayak si HS tuh dia enggak salah guys menurut gua. Nah cuman kalau lu bayangin ya lu bayangin jadi viewersnya si Hubs Life terus lu mengamini apa yang dia katakan ternyata dia enggak seperti itu, gitu. Itu kayak paham enggak sih? Jadi enggak perlu terlalu e mengamini apa kata influencer ya kan. Karena lu gak tahu hidup mereka seperti apa. Lu gak benar-benar tahu influencer tuh orangnya kayak gimana. Jadi, ya ambil baiknya, buang buruknya aja gitu loh. Dan kalaupun ada yang lu enggak setuju, lu enggak perlu komen juga di si influencernya. Ya udah gitu santai aja gitu loh. Ada yang lu setuju, enggak perlu lu setujui banget juga gitu loh. Ya enggak usah terlalu dikultuskan, diikuti banget atau dibenci banget gitu. Jadi santai aja sebenarnya. Ya, itu study case yang menarik barusan. Nah, gua pengen tahu nih menurut lu gimana tentang perdebatan filosofi hidup ini dan filosofi hidup apa aja sih yang lu pegang sampai sekarang? Mungkin lu bisa taruh di comen section siapa tahu ya siapa tahu ada orang lain yang terinspirasi sama filosofi hidup lu gitu. Karena kita sama-sama belajar kan semuanya. Nah, kalau lu pengen bahasan lebih dalam tentang cara menentukan tujuan hidup, gua ada videonya lu bisa tonton dan video di sebelahnya juga worth it buat lu tonton kalau lu belum nonton. Ya, that's all for today and see you in the next video. Gua F 100%. Well, thanks