Transcript
9eZ20wh_Kpc • Stoikisme = Filosofi ORANG LEMAH (?)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0788_9eZ20wh_Kpc.txt
Kind: captions
Language: id
Dunia ini tuh lagi banyak masalah. Ada
inflasi, potensi perang dunia, sampai
robot AI yang disinyalir bakal bikin
manusia tuh di PHK. Dengan banyaknya
masalah yang terjadi, terus gimana sih
cara terbaik buat manusia untuk bisa
nyelesaiin masalahnya? Haruskah kita
menjadi realistis seperti kata Theoderic
atau apakah kita lebih baik menjadi
ambisius, punya mimpi setinggi langit
seperti yang sering dikatakan oleh
Timoty Ronald. Menariknya sebetulnya dua
filosofi ini tuh udah jadi perdebatan
sejak ratusan tahun lalu. Dari dulu
selalu ada yang namanya kubu ambis dan
juga kubu yang realistis. Tapi zaman
udah berubah. Sekarang udah bukan
ratusan tahun lalu, udah bukan zaman
filsuf. Lalu apa filosofi yang paling
baik sebenarnya di zaman sekarang?
Especially in this ekonomy ketika
inflasi meraja lela, gaji lu susah naik
dan lu susah nyari kerjaan. Apakah kita
harus coba pushing the limit? Jadi
ambis, punya mimpi tinggi, dan keluar
dari zona nyaman. Atau jadi realistis
aja biar bisa bertahan hidup, survive,
dan enggak burn out karena tekanan
sosial yang sangat tinggi di dunia yang
udah rada gila kayak sekarang. Kalau lu
pengen tahu jawabannya, lu tonton video
ini sampai habis. Welcome to belajar
filsafat by 1%. Kita bakal bahas
filosofi realistis versus filosofi
ambisius. Enjoy.
Kalau kita dalamin lagi, sebenarnya yang
dikatakan oleh Theoderik ini mirip sama
filosofi stoik. Tujuan akhir dari
filosofi realistis itu sebenarnya bukan
jadi miliarder, bukan jadi triliuner.
Tujuannya adalah keadaan yang disebut
sebagai atraksia. Ini tuh kalau zaman
Yunani dulu artinya adalah ketenangan
batin. Jadi masalah angka, masalah
seberapa kaya lu itu enggak terlalu
penting. Karena yang penting adalah
gimana caranya kalau lu start dari
minus, at least lu bisa survive ke nol.
Kalau lu start dari nol, lu bisa survive
dan sedikit lebih tenang aja. Itu udah
bagus. That's why bukunya Theoderic juga
kan judulnya adalah From Zero to
Survive. Kalau dilihat-lihat sebenarnya
di sini filosofi realistis tuh bukan
berarti sinis atau pasrah ya, tapi lebih
ke ya kalau lu mau berkembang basically
step by step gitu. Jadi kalau sekarang
duit lu R1 juta ya mimpinya harus
realistis ibaratnya coba ke Rp100 juta
dulu baru habis itu 1 M. Kalau lu banyak
utang ya mungkin lunasin utang dulu dan
punya dana darurat. Terus kalau gagal
juga enggak apa-apa at least sudah
berkembang dikit. Yang gua tangkap sih
begitu dari Theoder Erik.
Nah, tapi jauh sebelum ada perdebatan
Theoderik versus Timothy yang ramai
sekarang, filosofi realistis ini dari
dulu tuh udah dikritik, Guys. Jadi,
filosofi kayak stoik gitu ya, itu tuh
punya banyak kritikus. Tapi salah satu
kritikus yang paling tajam dan
sebenarnya kayak menurut gua mirip-mirip
sama yang dipercaya Timoth itu adalah
Frederick Nietzsche. Frederick Nietzsche
bilang kalau stoicism itu pada dasarnya
bukan filosofi orang bijak, tapi
filosofi orang lemah dan orang denial.
Kenapa? Karena menurut Nietzsche si
orang-orang stoik ini dibandingkan
mereka ngubah keadaan, ngelawan takdir
gitu ya, pas ada kejadian buruk, si
orang Stoik malah lebih memilih untuk
pasrah, untuk enggak peduli sama hal
yang bisa mereka kontrol, untuk kayak ya
udahlah realistis aja. Maksudnya hal
yang bisa gua kontrol kan cuma A B C
gitu. Enggak bisa gua ngontrol misalnya
gua jadi juara, jadi triliuner segala
macam. Jadi kalau menurut Nietzsche,
orang stoik tuh bukannya banyak aksi
buat ngubah dunia, tapi orang stoik itu
malah terlalu sibuk sama mindset
internalnya mereka gitu. Jadi lebih
sibuk sama pemikiran sendiri dan jadinya
pasrah dan nyerah gitu loh. Ya, that's
why stoicism menurut Nietzsche itu
adalah filosofi buat orang lemah, buat
orang denial. Padahal di sisi lain dunia
itu keras dan manusia kalau menurut
Nietsche termasuk menurut Timoti juga ya
harusnya bermimpi setinggi mungkin untuk
mengubah dunia sekaligus nyiptain value
mereka sendiri kalau kata Nietsche. Nah,
ini yang dikatakan sebagai Uberman. Jadi
Superman atau overman jadi manusia yang
udah melampaui batas manusia pada
umumnya. Udah bisa melewati segala
pengalaman manusia pada umumnya dan
basically ya hidup seutuhnya gitu.
Sementara itu ya, orang yang stoik udah
pasti gak mikir kayak gitu ya. Mereka
mah ya udah mikirin mindset. Oh, kalau
gua jadi budak apaan yang bisa gua
kontrol gitu ya. Epic titus ya kan. Oh,
yang bisa gua kontrol pikiran gua enggak
apa-apa gua disiksa. Ya udah mereka akan
disiksa sampai mati gitu kan. Jadi orang
stoik itu cuma sibuk sama mindset, sama
realita, sama realistis gitu ya. Bahkan
cenderung sinis mungkin kelihatannya.
Dan menurut gua kritik Nietzsche ini
bisa dibilang valid ya. Kalau
dilihat-lihat ada-ada aja ya orang stoik
yang akhirnya jadi terlalu pasif terus
malah kejebak mindset toxic positivity.
Jadi gak apa-apa kok padahal rumah lagi
kebakar gitu dan jatuhnya menggunakan
filosofi realistis ini sebagai coping
mechanism. Ya udah enggak apa-apalah gua
enggak usah bayar utang lagian gua
disuruh realistis gitu kan kan itu malah
jadi toxic ya kalau seperti itu.
Meskipun gua tahu itu sebenarnya bukan
maksudnya si Theoderic. Nah, btw, kritik
tentang filosofy stoik ini juga udah
pernah kita bahas ya beberapa tahun lalu
pas e dulu rame soal stoicism. Lu bisa
tonton videonya sih, lu cek aja channel
kita, ya.
Nah, jadi bisa kita simpulin kalau
Theoderic itu sebenarnya nawarin
ketenangan dan filosofi hidup step by
step yang lebih aman. Sementara Timoti
itu nawarin pertaruhan menuju ambisi
yang lebih besar. jatuhnya filosofi yang
lebih high reside return sih. Dan kalau
menurut Timoti, ibaratnya kalau masih
miskin mending pertaruhkan harta sampai
ke nol sekalian gitu. Jadi kayak ya you
have nothing to lose anyway. Mending lu
mati dan lu udah nyoba untuk menggapai
mimpi lu daripada lu mati tapi matinya
realistis gitu dan tetap miskin seumur
hidup. Nah, kalau kita dalamin lagi
filosofi ambisius yang dianut sama
Timothti ini mirip banget ya sama jalan
pikirannya si Nietzsche. Btw kalau lu
belum tahu, Nietzsche juga pas lagi
nulis bukunya di akhir sampai dia
meninggal gitu ya, itu juga
sakit-sakitan, Guys. Sampai mati miskin
sebelum akhirnya karyanya akhirnya
membludak dan bisa mengubah dunia bahkan
menginspirasi sangat banyak orang besar.
Salah satunya tuh yang menarik adalah
Hitler ya. Nanti kita bahas soal Hitler.
Nah, jadi apa itu ajaran Nietzsche?
ajaran Nietche yang paling penting soal
will to. Nah, ini adalah ajaran yang
paling penting dari Nietzche ya, will to
power. Jadi, Nietzsche bilang dorongan
fundamental manusia tuh bukan sekedar
buat survive aja. Harusnya sih bukan
begitu, tapi justru manusia tuh semua
kedorong untuk ngedapetin power. Jadi,
semua manusia tuh punya keinginan buat
jadi kaya, buat jadi kuat gitu loh. Lu
tuh hanya sukses kalau berhasil
ngedapetin power, kekuatan besar,
pengaruh luas, ya basically harta dan
tahta lah. Nah, karena gini, kalau lu
hidup itu cuman buat survive doang,
pesimis, enggak berusaha realistis dalam
tanda kutip gitu ya. Apa bedanya lu sama
budak gitu yang akhirnya lu diperbudak
sama tuan lu seumur hidup lu? Dan kalau
sekarang kan kita udah enggak ada
perbudakan ya. Dan menurut Nietzsche,
kebanyakan orang itu menganut yang
namanya slave morality alias moralitas
budak. Jadi ini tuh adalah moralitas
yang biasanya diagung-agungkan sama
orang-orang goblok, sama orang-orang
miskin, orang-orang yang arogan. Dan
moralitas budak ini biasanya diagungkan
oleh orang-orang yang kalau kata
Nietzsche adalah orang yang mabuk agama.
Karena Nietzsche itu kan sangat keras
mengkritik Christianity ya pada
zamannya. Nah, kenapa dia mengkritik
Christianity, mengkritik orang-orang
goblok dan miskin gitu ya? Kenapa?
Karena moralitas yang dimuliakan oleh
Christianity, oleh orang-orang lemah
gitu ya adalah memuliakan kelemahan itu
sendiri. Jadi enggak apa-apa lemah nanti
juga dibalas kok di neraka gitu. Terus
enggak apa-apalah lu cuma gaji UMR gitu.
Jadi memuliakan kepasrahan di mana hidup
biasa-biasa aja tuh enggak apa-apa. Jadi
Nietzice tuh enggak suka gitu kalau
disuruh kita tuh harus baik ke sesama,
harus nyumbang ke orang gitu ya. Jadi
very ekstreme memang makanya beberapa
analis filsafat gitu ya bilang Nietzsche
ini sebenarnya radikal individualis dan
ini mirip juga ya sama Timoth gitu dan
enggak apa-apa juga kan orang enggak
suka sama orang yang begitu gitu. Kalau
dalam konteks gitu ya hal yang dikritik
oleh orang-orang seperti Timothi seperti
Andrew Tate gitu ya. Ini tuh jatuhnya
adalah kritik terhadap orang yang enggak
mau ngambil resiko. Ibaratnya orang yang
kerja kantoran gitu ya, orang yang hidup
biasa-biasa aja gitu. itu tuh diispise
lah oleh orang-orang yang mungkin
menganut filosofinya Nietzsche secara
radikal gitu ya. Dan Nietzsche sendiri
percaya gitu kalau manusia yang oke itu
adalah manusia yang bisa melampaui
standar sosial dan menciptakan
nilai-nilainya sendiri atau bisa disebut
sebagai yang tadi gua bilang adalah
Ubermanch. Nah, sayangnya sayangnya ya
filosofi Nietzs juga punya kelemahan
gitu dia tidak bebas kritik. Filosofi
ini memang mungkin cocok buat
orang-orang ambis, orang-orang yang bisa
mengubah dunia gitu. ke orang-orang
kayak Ilon gitu ya dan lain-lain. Tapi
filosofi ini gak cocok buat banyak
sekali orang. Mungkin bahkan gua bisa
bilang personally ini tuh gak cocok buat
90% orang gitu loh. Karena pertama
filosofi ini tuh bisa bikin lu burn out.
Terus kalau lu mau bermimpi setinggi
mungkin ya lu bisa burn out kalau enggak
nyampe. Dan lu juga bisa burn out kalau
ternyata value diri lu itu enggak
setinggi Ilon gitu, enggak setinggi
Timoti, enggak sepintar Albert Einstein
gitu. Lu mungkin bakal ya milih untuk I
don't know, mungkin mengakhiri hidup
gitu ya. karena lu merasa lu adalah
orang gagal, ya kan? Karena gini, kalau
lu gagal bukan cuma duit lu yang habis,
tapi identitas lu juga hancur, gitu.
Ketika lu mempercayai filosofi ini,
dalam banget, gitu loh. Jadi kalau
gagal, lu bukan hanya mati miskin, tapi
lu juga mati depresi, cuy. Dan itu juga
yang terjadi pada Niechse. Lu lihat
sendiri gitu meskipun karyanya akhirnya
bisa mengubah dunia. Termasuk itu juga
yang terjadi pada orang-orang yang keren
ya di tiap zaman tuh kayak gitu. yang
sukses tuh seringkiali menderita juga
gitu loh. Yang kedua, kalau lu terlalu
mengamini filosofi seperti ini, lu juga
mungkin akan dirasa kurang empati sama
orang yang memang mayoritas gitu loh,
yang orang yang memang sulit buat
sukses. Jadi, jangan heran kalau
orang-orang kayak Timothy dan ya memang
yang Striving for success itu dibenci
oleh orang yang memegang slave morality
gitu. Karena slave morality tuh
kebanyakan orang mayoritas gitu.
kita-kita ini nih orang-orang biasa ini
jadi gak heran bakal dianggap kurang
empati, bakal dibenci gitu. Dan ini juga
wajar karena seakan-akan kan kalau lu
mempopulerkan filosofi ini seakan-akan
semua orang bisa sukses dan kaya padahal
enggak kan. Nah, yang ketiga filosofi
Nietzsche juga jangan lupa ya ini tuh
sempat disalah artikan. Jadi, will to
power ini dianggap sebagai ya pembenaran
gitu untuk lu melakukan segala cara,
untuk lu jadi kaya, untuk eksploitasi
orang, untuk jadi rasis gitu loh. Kasus
yang paling terkenal dari ini sebenarnya
adalah ideologi nazinya dari Hitler gitu
yang saat itu akhirnya bikin perang di
mana-mana kan. Nah, Hitler itu
terinspirasi dari konsep Uberman, konsep
will to. Ini dijadikan justifikasi buat
ambisinya Hitler pada zamannya yang
menganggap bahwa ras orang Jerman itu
paling kuat dan paling mantap gitu.
Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau kasih
info penting. Buat lo yang ngerasa stuck
sama arah karir, relationship atau
bahkan sama diri sendiri. Sekarang 1%
punya produk membership premium namanya
The Good Life Membership. The Good Life
Membership adalah ekosistem pengembangan
diri yang dirancang khusus buat bantu lo
yang mau mencapai hidup seutuhnya dengan
bertumbuh 1% setiap harinya. Apa aja sih
yang bakal lo dapetin dengan join
membership ini? Locotes premium satu per
bulan, empat webinar premium per bulan,
video dan playlist premium, artikel
premium, grup WhatsApp, dan juga
gathering khusus member. Semua produk
ini kalau lo beli ketengan di 1% itu
harganya bisa sampai jutaan rupiah. Tapi
kalau lo join member produk jutaan tadi
lo bisa dapatkan dengan harga mulai dari
Rp79.000 aja per bulan. Mantap banget
ya. Langsung aja ya kunjungi website
kita 1%.net atau lu bisa klik link
1.bio/goodlife membembership buat info
lebih lanjut.
Solusinya gimana? Filosofi hidup apa sih
yang terbaik di zaman sekarang? Indis
ekonomi gitu ya. Well, kalau menurut gua
pribadi, pertama-tama gak apa-apa kalau
lagi masa sulit kayak gini, lu mau jadi
orang biasa tuh gak apa-apa, Guys. Gitu
ya. Karena gini, kalau kata Nietzsche
sendiri, kebanyakan orang tuh ya memang
akan mengikuti slave morality dan itu
it's ok enggak apa-apa untuk jadi
pekerja biasa gitu loh. Dan Nietzsche
pun bilang bahwa cuma sedikit orang
terpilih yang bisa jadi Uberman. Ya,
Timoty juga kayaknya pernah bilang itu
deh, enggak semua orang bakal jadi kaya
gitu. paling 10% gitu ya dari yang
nonton videonya doi gitu bakal jadi kaya
dan mungkin hanya 0,001%
yang bakal jadi kayak Bill Gates, Elon
Mask atau Donald Trump. Jadi kalau lu
adalah orang mayoritas gitu ya, terus
kayak lu udah nyoba sekuat mungkin, lu
bahkan udah burn out segala macam, ya
mungkin takdir lu adalah untuk menjadi
orang biasa gitu. Meskipun kalau Nice
bilang kasar ya, ibaratnya takdir lu tuh
jadi budak gitu ya. Ya udah gitu ya
enggak apa-apa juga. Budak juga bisa
happy gitu kan. budak juga tetap bisa
ibadah, tetap bisa hidup, tetap bisa
makan. Apalagi zaman sekarang lu mau
makan enak, gampang gitu kan. Jadi ya
it's ok untuk bersyukur menjadi orang
biasa gitu. Kalau kita lihat orang-orang
sukses juga ya untuk ada di level itu
kan butuh personality yang sangat
spesifik. Lu butuh energi yang super
tinggi, lu butuh jadi batu, keras
kepala, tapi harus bisa dengerin orang
juga. Lu harus punya kemampuan
leadership yang oke, manajemen yang oke.
Lu harus belajar terus, lu harus jadi
unpredictable. Dan secara psikologi
enggak semua orang bisa punya
personality kayak gitu. Bahkan kayaknya
mungkin cuma beberapa doang gitu. Dan
kalau lu punya juga belum tentu lu
sukses gitu ya. Belum tentu lu hoki
untuk bisa nyampai ke levelnya Bill
Gates gitu loh. Ibaratnya lu harus jadi
sedikit lebih gila gitu ya untuk jadi
sukses atau kaya banget. Dan enggak
semua orang suka jadi gila gitu ya.
Enggak semua orang punya atau mau punya
kepribadian seperti itu dan itu tidak
apa-apa ya untuk tidak mengikuti
filosofi itu. It's oke banget. Yang
kedua jangan lupa filosofi hidup tuh
bukan cuma dua tapi banyak ya. Lu tetap
bisa happy tanpa harus ngikutin mau jadi
ambis radikal atau jadi realistis gitu
ya. Dunia ini tuh punya ratusan
filosofi. Agama juga udah ada ribuan
tahun. Ada kitabnya yang bisa lu baca
gitu ya yang menawarkan banyak jalan ya.
Kalau lu mau dapat filosofi lain nih gua
kasih tahu ya. Salah satu filosofi hidup
yang menurut gua menarik buat orang
Indonesia gitu ya. Namanya adalah
epicureanism. Ini tuh dicetuskan oleh
Epicurus. Dia tuh filsuf juga. Yang
menarik adalah dia tuh enggak ngejar
kekayaan. Jadi dia enggak ambis, tapi
dia juga enggak terobsesi, pasrah gitu
sama nasib gitu loh untuk jadi stoik
atau jadi realistis aja yuk gitu. Enggak
juga. Tapi yang menarik adalah tujuan
hidupnya lu tahu enggak apa tujuan
hidupnya tuh sederhana yaitu nyari
youimonia alias longterm happiness. Jadi
dia enggak peduli tuh gitu ya sama jadi
realistis, jadi amis. Dia bodo amat sama
itu. Yang dia lakukan adalah dia hidup
sederhana. Dia menjauhi politik dan
drama-drama. Dan dia nongkrong bareng
teman sampai tua di satu tempat. Jadi
buat Happy Curous hidup itu bukan
masalah jadi ambisiuk, jadi realis yuk.
Bukan. Yang penting lu nongkrong buat
dia gitu ya. Tap pertemanan gitu. Jadi
menurut Epicurus ini adalah sumber
kebagian jangka panjang. Mungkin menurut
lu menganggap ini absurd gitu ya. Tapi
sebenarnya orang Indonesia mirip kayak
si Epicurus ini. Udahlah hidup sederhana
aja nongkrong gitu ya kan. Nongkrong
sambil main Mobile Legends sambil megang
rokok guys gitu kan. Sambil pakai baju
scentot gitu ya. skena total gitu loh.
Jadi ada banyak, Guys, untuk filosofi
hidup itu dan lu bisa pilih gitu ya. Ee
ada yang dari agama, ada yang dari
filsuf segala macam itu bisa lu pilih.
Nah, yang ketiga, nah ini yang menurut
gua cukup penting juga. Jadi, jangan
sampai kita bulat-bulat menelan apa kata
orang dan meyakini apa kata orang sampai
radikal banget, especially influencer
gitu yang ada di zaman sekarang. Kenapa?
Karena ya jujur aja lu enggak tahu
banyak tentang hidup influencer, Bro,
ya, selain dari konten yang dia bikin.
Jadi, bisa aja gini, bisa aja orang tuh
ngomong sesuatu yang mungkin
kedengarannya ekstrem di media gitu ya,
tapi ternyata dia lagi akting, lagi
gimik gitu. Bisa juga mereka lagi ada
tujuan lain, bisa juga mereka ternyata
hidup mereka tuh enggak sesuai
omongannya alias munafik gitu loh. Nah,
ini ada study case menarik soal
influencer. Lu mungkin pernah lihat
beberapa konten orang ini di FYP. Nah,
dia itu adalah Hubs Life. Nah, awalnya
si Hubs Life ini konten dia tuh viral
kayaknya beberapa tahun lalu atau beapa
waktu lalu ya karena
mengagung-ngagungkan soal hidup 9 to5,
hidup normal gitu loh. Jadi kerja 9 to5
tuh asik loh, enggak apa-apa loh gitu.
It's ok gitu ya. I'm happy with it gitu
ya. Dan dia juga kayak
mengagung-agungkan hidup single gitu,
cuma hidup sama anjingnya doang.
Kelihatannya tuh oke banget dan
realistis gitu ya. Akhirnya banyak orang
yang wah thanks sudah bikin konten ini
ya terinspirasi untuk hidup 925 bla bla
bla gitu. sayangnya ternyata sekarang
guys si influencer itu apa yang dia
lakukan gitu ya setelah dia sukses jadi
influencer akhirnya dia ya sibuk ngambil
endorsan dan sekarang malah jadi full
time influencer jadi kerjaan 92 to5-nya
ditinggalin guys bahkan ada dugaan kuat
kata beberapa orang beberapa komen ya di
YouTube dan di Instagram kalau hidup
yang dia tunjukin itu bohong jadi cuma
akting setelah dia terkenal jadi
influencer dia fokusnya sama ya kegiatan
influencernya jadi dia dituduh nyewa
kantor kantor palsu buat bikin konten
seakan-akan dia beneran karyawan 925.
Dan poin yang ketiga juga adalah
ternyata dia tuh enggak single, Guys.
Dia punya pacar dan dia nikah gitu loh.
Sementara di videonya orang tuh
berasumsi bahwa lah gua pikir lu single
gitu, gua pikir lu 9 to5 with this
boring life, gua pikir lu happy.
Ternyata enggak, Guys, gitu ya. Dan
sampai ekstremnya adalah si influencer
ini si Hubs Life ini dia live TikTok
terus minta minta paus gitu kalau enggak
salah ke orang. Gua enggak tahu si Paus
tuh apaan ya atau sawer-sawer gitulah
gitu yang akhirnya bikin dia jadi
lumayan dibenci sih sama viewersnya
gitu. Sebenarnya enggak ada yang salah
ya buat ngubah opini lu, ngubah filosofi
hidup lu di tengah jalan kayak si HS tuh
dia enggak salah guys menurut gua. Nah
cuman kalau lu bayangin ya lu bayangin
jadi viewersnya si Hubs Life terus lu
mengamini apa yang dia katakan ternyata
dia enggak seperti itu, gitu. Itu kayak
paham enggak sih? Jadi enggak perlu
terlalu e mengamini apa kata influencer
ya kan. Karena lu gak tahu hidup mereka
seperti apa. Lu gak benar-benar tahu
influencer tuh orangnya kayak gimana.
Jadi, ya ambil baiknya, buang buruknya
aja gitu loh. Dan kalaupun ada yang lu
enggak setuju, lu enggak perlu komen
juga di si influencernya. Ya udah gitu
santai aja gitu loh. Ada yang lu setuju,
enggak perlu lu setujui banget juga gitu
loh. Ya enggak usah terlalu dikultuskan,
diikuti banget atau dibenci banget gitu.
Jadi santai aja sebenarnya. Ya, itu
study case yang menarik barusan. Nah,
gua pengen tahu nih menurut lu gimana
tentang perdebatan filosofi hidup ini
dan filosofi hidup apa aja sih yang lu
pegang sampai sekarang? Mungkin lu bisa
taruh di comen section siapa tahu ya
siapa tahu ada orang lain yang
terinspirasi sama filosofi hidup lu
gitu. Karena kita sama-sama belajar kan
semuanya. Nah, kalau lu pengen bahasan
lebih dalam tentang cara menentukan
tujuan hidup, gua ada videonya lu bisa
tonton dan video di sebelahnya juga
worth it buat lu tonton kalau lu belum
nonton. Ya, that's all for today and see
you in the next video. Gua F 100%. Well,
thanks