Transcript
qM31VKIpsQo • Kenapa Makin Banyak Pasangan Cerai di 2025?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0787_qM31VKIpsQo.txt
Kind: captions
Language: id
Belakangan ini sosmate kita lagi ramai
ya sama isu dan juga gosip perceraian
artis atau influencer di Indonesia. Ada
yang katanya cerai karena kasus penipuan
dan juga penggalapan uang. Ada juga yang
katanya cerai karena kasus
perselingkuhan. [musik]
Ada yang cerai karena mau kondo gitu ya
suaminya. Ada juga yang cerai karena
enggak care sama mertua. Dan juga ada
yang cerai karena diisukan salah satu
pasangannya tuh dianggap [musik] pelit.
Di tahun 2024 sendiri data nunjukin ada
sekitar 399.000 [musik] Rib kasus
perceraian yang terjadi di Indonesia.
Meskipun sebenarnya angka ini relatif
sedikit turun dari tahun lalu ya yang
408.000, tapi di 2024 ini angka
pernikahannya juga ikut turun gitu.
[musik] Jadi angka pernikahannya lebih
turun tapi angka perceraiannya tetap
tinggi. Dan Rp390.000 itu angka yang
besar gitu. Ibaratnya ada 1000 lebih
pasangan suami istri yang cerai setiap
harinya. [musik] Fenomena ini akhirnya
bikin gue bertanya-tanya, "Kenapa sih
makin ke sini?" kayaknya kok makin
banyak ya pasangan [musik] yang memilih
buat cerai. Welcome to dating and
marriage series bayak 1%. Hari ini kita
bakal bahas alasan di balik banyaknya
[musik] kasus perceraian belakangan ini.
Enjoy.
Fakta pertama di Indonesia sekitar 75%
dari semua [musik] kasus perceraian
adalah cerai gugat. Apa itu cerai gugat?
Itu adalah gugatan yang diajukan oleh
pihak istri. Dan data ini nunjukin bahwa
mayoritas perceraian di negara ini
diinisiasi, [musik] diminta, atau
dituntut oleh pihak perempuan. Terus
pertanyaannya, kenapa nih para istri ini
justru aktif minta udahan? Jawabannya
adalah ini tanda [musik] adanya
pergeseran kekuatan yang mulai seimbang
nih antara suami dan juga istri. Kalau
kita bedah lagi ya datanya, pemicu
utamanya adalah [musik] satu hal, yaitu
kemandirian ekonomi perempuan. Makin ke
sini makin banyak perempuan di Indonesia
yang punya penghasilan [musik] sendiri.
Entah itu jadi ASN, jadi guru, pengusaha
online, influencer, atau bahkan pekerja
kantoran. [musik] Ketika mereka mandiri
secara finansial, mereka enggak lagi tuh
punya ketergantungan ekonomi sama
[musik] suaminya. Yang dulu mungkin
memaksa ya generasi ibu atau nenek kita
buat bertahan sama pernikahan [musik]
yang mungkin udah enggak memuaskan lagi.
Nah, kemandirian ekonomi ini ngaruhnya
ke mana? Ngaruhnya ke pergeseran
toleransi. Mungkin dulu [musik] para
istri sering ngalah ya kalau suaminya
aneh-aneh. Tapi sekarang karena
standarnya udah naik, hal-hal aneh ini
udah kagak bisa ditolerasi lagi. Di sisi
lain, ada juga nih [musik] standar
TikTok di mana standar cewek juga udah
banyak yang semakin kagak rasional.
Misalnya nih ya bayarin makan, [musik]
jajan antar jemput, nemenin ke mana aja.
Itu tuh bukan effort. Itu adalah sebuah
kewajiban gitu ya bagi seorang cowok
kepada cewek. Ada juga yang pengin gaji
calon suaminya tuh Rp25 juta, cuy. Dan
data juga nunjukin cuma 4% populasi di
Indonesia yang beneran punya income 23
juta. Dan itu artinya kan langka banget
ya cowok yang bisa punya gaji R25 juta
itu. Dan data di Pengandalan Agama juga
nunjukin tiga alasan teratas perceraian
itu ada [musik] perselisihan dan
pertengkaran yang terus-menerus. Faktor
ekonomi dan juga meninggalkan pasangan.
Faktor ekonomi ini sering diartiin
sebagai suami yang gagal memberi nafkah
atau mau kondok enggak bertanggung jawab
secara finansial atau yang ini agak gila
si yaitu terlilit utang judi online dan
juga pinjol dan mereka enggak bisa
bayar. Dan tekatan ekonomi juga jadi
penyebab stres [musik] yang tinggi di
rumah tangga. Masalah inflasi, PHK atau
pendapatan yang emang enggak cukup gitu
buat rumah tangga itu seringkiali jadi
pemicu konflik dan menurunkan kepuasan
pernikahan yang akhirnya berujung pada
perceraian.
Nah, yang jadi pertanyaan berikutnya
adalah kenapa sih banyak pasangan suami
istri yang enggak puas sama
pernikahannya? Kenapa pertengkaran
terus-menerus dalam rumah tangga itu tuh
jadi alasan nomor satu dalam konteks
penyebab perceraian di Indonesia? Nah,
jawabannya sebenarnya kita bisa bahas
dari aspek psikologi. Ada satu teori
namanya suvocation model yang dikenalin
sama psikolog ini ya, yang lu bisa lihat
di layar. Teori ini tuh ngejelasin kalau
alasan perceraian meroket itu bukan
karena kita jadi generasi yang lebih
buruk gitu ya dalam pernikahan.
Sebenarnya bukan masalah buruknya itu.
Masalahnya adalah ekspektasi kita
terhadap pernikahan [musik] itu jadi
terlalu tinggi dari sebelumnya. Psikolog
tadi itu ngebagi sejarah pernikahan itu
jadi tiga era. Era pertama nikah buat
survive yaitu sampai sekitar tahun
1850-an. Di era ini tujuan [musik]
menikah itu simpel sebenarnya buat
survive. Orang dulu nikah itu buat cari
makan, [musik] tempat tinggal dan juga
keamanan. Era kedua nikah buat cinta.
Nah, ini sekitar tahun 1850 [musik]
sampai 1965 ya. Nah, di sini tujuan
nikah itu udah mulai bergeser. Orang
nikah buat cari cinta, romansa, [musik]
dan juga persahabatan. Mereka nikah buat
cari pasangan jiwa dan juga membangun
keluarga yang penuh kasih sayang. Nah,
era ketiga nikah [musik] buat
aktualisasi yaitu tahun 1965 sampai
sekarang. Nah, ini adalah era kita. Di
era kita ini, kita masih pengin cinta
dan persahabatan yang ada di era kedua.
[musik] Nah, tapi ada tuntutan yang
baru. Kita juga menuntut agar pernikahan
itu jadi sarana [musik] aktualisasi
diri. Pasangan modern kayak kita-kita
ini ya, nuntut pasangan kita itu enggak
cuma jadi pencari nafkah atau sahabat.
Kita juga nuntut ya pasangan kita buat
jadi personal coach kita, jadi guru
spiritual kita, jadi partner yang bisa
bantu kita nemuin jati diri dan juga
bantu kita jadi versi terbaik dari diri
kita sendiri. Bisa kebayang ya betapa
beratnya calon istri dan calon suami di
abad ini gitu. kita numpuk begitu banyak
ekspektasi psikologis yang berat ke bahu
satu orang aja yaitu [musik] pasangan
kita. Ketika pasangan kita gagal dan
sudah pasti gagal gitu ya buat menuhin
semua kebutuhan kita tadi akan penemuan
jati diri dan juga personal grow, kita
langsung ngelihat itu sebagai kegagalan
pernikahan dan enggak sedikit orang yang
akhirnya mutusin buat cerai karena
[musik] alasan ini. Pernikahan di zaman
sekarang itu konsepnya all in or nothing
alias harus menuhin semua ekspektasi itu
atau enggak sama sekali. [musik] Kalau
berasin menuhin ekspektasi setinggi
langit itu, pernikahan kita bakal jadi
pernikahan paling memuaskan ya dalam
sejarah manusia. Dan mungkin ini juga
kalau di SOSM itu bakal ramei sebagai
[musik] couple goals gitu ya, marriage
goals. Tapi kalau gagal dan kebanyakan
juga gagal, rasanya bakal mengecewakan.
Rasanya zong banget dan akhirnya ya
berujung ke perceraian. Oke, guys.
Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info
buat lu yang lagi ngerasa bingung,
ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir
ini. Entah itu soal karir, pendidikan,
hubungan, keluarga, pernikahan, atau
hal-hal personal lainnya, sekarang 1%
tuh nyediain psikotes premium. Di dalam
psikotes premium ada berbagai pilihan
tes yang dirancang buat ngebantu lo
lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya
supaya lo bisa ngambil keputusan hidup
lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh
ngegabungin berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
report-nya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren kalau lu enggak ngerti atau
lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight
lanjutan lewat konsultasi bareng expert
dari 1% langsung berdasarkan hasil tes
lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/psicotespremium
buat info lebih lanjut.
Oke, kita sudah lihat dua masalah
utamanya. Satu, di Indonesia ada
pergeseran kekuatan ya, di mana
perempuan makin mandiri dan enggak mau
toleransi lagi pernikahan yang toksik.
Dan kedua, secara psikologis ekspektasi
kita ke pasangan itu [musik]
udah ketinggian banget yang bikin beban
pernikahannya berat banget juga buat
dijalanin. Nah, terus gimana nih
solusinya [musik]
biar pernikahan kita itu semakin
bermakna? Solusi pertama, coba set
ekspektasi yang realistis dulu sama
[musik] pasangan. Kita harus sadar dan
ini mungkin berat ya, bahwa pasangan
kita itu cuma manusia biasa. Dia enggak
bisa dan enggak wajib [musik] buat jadi
segalanya untuk kita. Berhenti menumpuk
semua kebutuhan psikologis, finansial,
[musik] dan segala kebutuhan lainnya itu
cuma ke dia. Karena faktanya mau nyari
orang Indonesia yang perfect itu sulit.
Gaji rata-rata cuma R3 jutaan. [musik]
Tingkat kecerdasan emosi dan literasi
psikologi juga rendah. Gaji tinggi juga
belum tentu punya literasi finansial
yang oke. Jadi, ya sulit gitu nyari
pasangan yang perfect. Kemungkinan besar
ada aja aspek yang di bawah be minimum.
Jadi kita harus bisa toleransi itu juga
[musik] ya. Solusi kedua, jangan kemakan
standar sosm. Kita hidup di era di mana
teknologi itu jadi sumber konflik di
pernikahan. [musik] Dia menciptakan
tekanan psikologis dan finansial yang
baru. Mulai dari budaya konsumerisme,
pamer gaya hidup sampai ke standar yang
kagak masuk akal dan bikin hubungannya
jadi toksik. Daripada kita pusing
mikirin standar SOSM, better fokus ke
kebutuhan lo dan pasangan. Let's say
cowoknya tuh pengin dikasih waktu buat
ngejalanin hobi atau ceweknya tuh pengin
ngelanjutin karir setelah nikah. Nah,
itu bisa banget tuh kalian coba sepakati
berdua dan ini jauh lebih meaningful
daripada FOMO ngikutin standar sosmate
yang semakin kagak masuk akal juga.
Solusi ketiga, lu bisa coba deep talk
sama pasangan sebelum nikah. Karena
peran gender tradisional misalnya kayak
suami yang kerja, istri stay di rumah,
itu udah perlahan mulai enggak relevan
ya sama banyak pasangan. Kita wajib
ngobrol jujur soal peran dan hal-hal
sensitif lainnya. Misalnya di Sikotes
peran nikah 1% itu ada bagian yang
ngebahas peran di pernikahan yang cocok
sama kepribadian masing-masing. Lu bisa
coba [musik] lihat ya contohnya di sini.
Misalnya dari sisi cewek, lo lebih suka
peran yang kayak sahabat, yang fleksibel
dan saling ngedukung minat
masing-masing. Nah, sebagai cowok di
sini juga dijelasin nih hal-hal yang
bisa lo lakuin [musik] buat mastiin dia
nyaman sama relationship-nya. Begitupun
dari sisi cowok, misalnya lu lebih suka
peran yang egalit alias seimbang 5050.
Nah, sebagai cewek lu bisa tuh coba
lebih proaktif ngambil bagian dari
tanggung jawab yang ada di rumah. Ini
harus banget diobrolin di awal. Gimana
pembagian peran di rumah? Gimana kalau
istri gajinya lebih gede dari suami dan
juga gimana caranya mengelola keuangan
bersama. Ini adalah obrolan-obrolan
enggak enak yang justru wajib banget
dilakuin kalau mau pernikahannya itu
sehat dan jadi lebih meaningful buat ke
depannya. Intinya sih kalau lo dan
pasangan emang kesulitan buat ngobrol,
saran gue sih lo bisa cobain psikotes
pranikah ya dari 1%. Dan ini pun berlaku
buat lo yang masih single karena kita
ada psikotes pranikah single edition.
Buat lo yang tertarik langsung aja
kunjungiin website kita ya di
satpres.net net atau cek link di
description box. Di situ udah gua taruh
linknya ya buat daftar psikotes
pranikahnya. At the end of the day,
generasi milenial dan Gen sekarang ini
menuntut standar pernikahan yang jauh
lebih tinggi dari generasi sebelumnya.
Model lama yang kaku berdasarkan peran
gender itu perlahan mulai terkikis.
Model baru yang dituntut sekarang adalah
kemitraan yang setara, fleksibel, saling
menghormati, dan fokus pada
kesejahteraan emosional kedua
individunya. Dan ketika sebuah
pernikahan gagal memenuhi standar baru
yang lebih tinggi ini, perceraian enggak
lagi dilihat sebagai tragedi, tapi
sebagai solusi rasional yang bisa
diterima. Dan makanya that's why jangan
heran kalau yang menikah itu makin dikit
dan yang bercerai itu tetap banyak
jumlahnya. Buat lo yang pengin dalamin
alasan kenapa banyak pasangan yang
enggak cocok, lo bisa cek video kita
yang ada di sebelah kiri ini ya. Dan
kalau lu pengen cek rekomendasi kita
yang lain, lu bisa cek video kita yang
di sebelah kanan, ya. That's all for
this video. Sampai jumpa di video
selanjutnya. Thanks.