Seni Mengenal Diri & Tujuan Hidup menurut Psikologi & Filsafat
f4X2wVYDGlo • 2025-09-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ngapain sih kita hidup di dunia ini?
Sebuah pertanyaan yang kelihatannya
simpel banget, tapi kalau dipikirin
dalam-dalam sebelum tidur bisa bikin
kita bengung sampai subuh mikirin
jawabannya. That's why hari ini kita
akan coba bahas sebuah framework yang
bisa ngebantu lo menemukan jawaban versi
diri lo sendiri. Welcome to kelas
kehidupan by 1%. Enjoy
[Musik]
jawab pertanyaan tadi lewat salah satu
aliran filsafat yang namanya
eksistensialism. Para filsuf aliran ini
mengatakan bahwa manusia itu lahir ke
dunia sebenarnya tanpa buku manual atau
tujuan yang sudah ditulis dari sananya.
Kita itu kayak dilempar ke dunia gitu
aja. Dan tugas kitalah yang sebenarnya
itu menciptakan sendiri apa makna dan
tujuan hidup kita. Kedengarannya keren
ya. Kayak kita tuh bebas mau jadi apa
aja. Mau jadi astronot, mau jadi
seniman, jadi PNS, jadi peternak lele,
bebas pokoknya apapun yang kita mau.
Tapi ada tapinya. Seorang filsuf Prancis
bernama J. Paul Satre bilang bahwa
manusia itu sebenarnya dikutuk untuk
bebas. Condemn to be free. Maksudnya
gimana? Karena kita bebas 100% artinya
setiap pilihan yang kita ambil itu jadi
tanggung jawab kita 100% juga. Enggak
ada yang bisa kita salahin. Kita juga
enggak bisa nyalahin takdir, enggak bisa
nyalahin orang tua, dan juga enggak bisa
nyalahin keadaan di sekitar kita.
Semuanya ada di tangan kita. Nah,
kebebasan total dan tanggung jawab
inilah yang kadang tuh bikin kita cemas,
gelisah, atau dalam bahasa filsafatnya
disebut angs. Karena rasa cemas ini
enggak enak, akhirnya ya manusia dan
masyarakat itu secara alami menciptakan
sebuah standar sosial sebagai solusi.
Misalnya, lu harus sekolah yang benar,
kerja di kantor yang stabil, nikah
cepat, ya, nikah muda, cicil rumah dan
punya anak, pensiun dan mati dengan
bahagia. Standard ini sebenarnya
menawarkan rasa aman karena jalurnya
udah jelas, udah terbukti, dan udah
banyak yang berhasil melewatinya. Ini
adalah cara kita secara kolektif buat
merendahkan kecemasan karena dikutuk
untuk bebas studi. Tapi pertanyaannya,
salah enggak sih kalau kita ngikutin
standar sosial? Para filsuf ini
berpendapat sebenarnya tuh enggak ada
yang salah ketika lu ngikutin standar
sosial. Karena sebenarnya masalahnya
bukan di apa yang lo pilih, tapi lebih
ke kenapa lo memilih itu. Misalkan gini,
banyak orang Indonesia kan pengin jadi
PNS ya. Masalahnya lo memilih jadi PNS
itu karena emang itu yang benar-benar lo
pengin atau ibaratnya lo suka gitu ya
sama stabilitas dan pengabdiannya atau
ya lo memilih itu karena takut diomongin
tetangga karena itu jalan paling aman
atau ya sebenarnya semua keluarga lu
bilang lu harus jadi PNS. Di sanalah
letak perbedaannya. Pilihan yang pertama
itu sebenarnya lebih otentik ya.
Sedangkan pilihan yang kedua itu adalah
pilihan yang didasari rasa takut dan
tekanan akan standar sosial. Dan untuk
memilih secara otentik, ada satu syarat
mutlak yang harus lo penuhi, yaitu lo
harus kenal sama diri sendiri. Yang jadi
pertanyaannya adalah gimana caranya kita
tahu diri kita yang otentik atau enggak?
Gimana caranya kita bisa kenal sama diri
kita sendiri? Nah, kita akan coba bahas
di section berikutnya.
Buat kenal sama diri sendiri, kita
enggak bisa cuma ngandelin kira-kira
atau perasaan doang. Dan untungnya di
dalam psikologi modern ada salah satu
tes kepribadian yang paling diakui dan
valid secara ilmiah. Namanya adalah the
big five personality traits atau biar
gampang kita sebut aja test ocean. Lu
bisa lihat deskripsinya di layar dan lu
juga bisa pause kalau mau baca satu-satu
ya. Biar lebih kebayang kita coba bahas
pakai sebuah studi kasus ya. Dan studi
kasus ini kita pakai misalnya ada case
dua orang yang kelihatannya tuh
sama-sama rajin dan sama-sama gila
kerja. Orang yang pertama itu tuh dia
mungkin rajin karena punya skor
consentiousness yang tinggi. Orangnya
emang teratur, suka mencapai target,
rajin gitu ya. Dan memang by nature
orangnya seperti itu. Tapi orang yang
kedua bisa jadi dia tuh rajin karena
punya skor neuroticism yang tinggi. Dia
itu kerja keras karena didorong rasa
cemas, takut gagal, takut enggak
diterima, dan seterusnya. Hasilnya sama
ya. Dua orang ini sebenarnya basically
sama-sama rajin dan sama-sama kita
kerja. Tapi sumber atau motivasinya itu
beda-beda. Dan that's why di sini
akhirnya kepribadian itu bakal
berpengaruh ya ke apa yang kita lakuin
dan motivasi apa yang akhirnya itu
mendorong kita buat melakukan sesuatu.
Selain ocean, kita juga bisa lihat ya
dari perspektif tes psikologi yang lain
namanya Rasek. Tes ini sebenarnya cukup
relevan ya buat melihat gimana minat
karir yang cocok buat kita. Lu juga bisa
pause video ini ya kalau lu mau baca
deskripsinya satu-satu supaya lu juga
bisa lebih paham maksudnya itu gimana.
Nah, menariknya kita itu sebenarnya bisa
banget gabungin antara Ocean dan Riesc
itu di saat yang bersamaan. Contohnya
gini, misalnya tuh lo pengen jadi
arsitek. Dari hasil tes Ries sebenarnya
tuh lo butuh kombinasi antara artistik
buat mendesain bangunan yang indah dan
juga investigatif buat mikirin struktur
dan perhitungan teknisnya. Tapi itu aja
tuh enggak cukup. Dari test ocean lu
juga butuh skor consentiousness yang
tinggi biar bisa project management yang
oke dan rumit ya dari awal sampai
selesai dan juga bisa beres tepat waktu.
Dan juga di beberapa case, mungkin lu
juga butuh tingkat extra version yang
lumayan ya buat presentasi ataupun juga
ngyakinin klien. Minat lo ngasih tahu ke
mana lo pergi dan kepribadian lo ngasih
tahu gimana cara lo berjalan ke sana.
Dan keduanya ya antara Ocean dan resek
ini sebenarnya sangat penting untuk
membentuk gimana diri lo yang autentik.
Nah, kalau lo penasaran gimana sih
profil lengkap atau kepribadian lo
sekarang di 1% ini sebenarnya ada tes
minat bakat ya yang lengkap banget. Lu
juga bakal dapat banyak banget info ya
tentang minat karir lu seperti apa dan
banyak tes-tes lainnya juga yang
digabungin ke satu psikotes. Jadi kalau
lu mau coba stiko ini, Stikonya premium,
lu bisa langsung cek aja di description
box atau di pin komen ya. Nanti infonya
bakal gua taruh di sana. Oke, anggaplah
lo sekarang udah kenal sama diri
sendiri. Pertanyaan selanjutnya, apa
yang harus kita lakuin buat mencapai
kehidupan ideal versi kita sendiri? Kita
akan coba bahas di section berikutnya,
ya.
Sekarang kita coba jujur-jujuran aja ya.
Kalau ngomongin idealisme, ngomongin
jati diri itu sebenarnya semuanya
penting ya. Tapi kita juga sebenarnya
sekarang hidup di dalam sebuah sistem
ya, sistem kapitalisme di mana survive
atau enggaknya kita itu ditentukan dari
seberapa banyak aset yang kita punya.
Asetnya itu banyak ya, enggak harus
tentang uang, tapi juga tentang koneksi,
intelijensi, dan seterusnya. Jangan
sampai pencarian jati diri kita yang
otentik itu sebenarnya malah bikin kita
gak bisa bayar kosan atau malah
ngerepotin orang lain. Idealisme lo
harus berjalan beriringan dengan
realisme. Buat menjembatani keduanya, 1%
sebenarnya udah merancang sebuah panduan
praktis ya yang kita sebut sebagai
kurikulum life skills. Anggap aja ini
tuh kayak anak tangga yang harus kita
naiki satu persatu buat bisa mencapai ke
puncak yaitu kehidupan ideal versi kita
sendiri. Kurikulum ini terdiri dari
empat level ya. Ada level 1 yaitu
survive, level 2 adalah safety net,
level 3 adalah happy, healthy and
productive, dan yang level 4 adalah
freedom and legacy. Jadi kita harus
aware dulu sebenarnya kondisi kita
sekarang itu gimana, udah di level
berapa, dan apa yang sekarang itu jadi
prioritas kita. Misalnya saat ini, let's
say lu adalah seorang sandwich
generation. Gue paham banget ya. Jadi
sandwich generation itu sebenarnya kagak
mudah. Dan kalau kita lihat pakai
kacamata kurikulum ini sebenarnya orang
yang jadi sandwich generation itu
seringkiali energinya habis terkuras di
level 1 survive ya karena harus memenuhi
kebutuhan diri sendiri, kebutuhan
keluarga atau kebutuhan adik juga dan di
level 2 yaitu safety next. Dan di
beberapa case itu malah banyak juga
orang-orang sandwich generation yang
akhirnya agak susah ya buat bisa lulus
level 2 karena mungkin penghasilannya
pas-pasan jadi enggak sempat tuh buat
tabung dana darurat dan seterusnya. Wi
sebenarnya gak apa-apa karena emang yang
harus lu prioritasin sebenarnya adalah
survive dulu. Tapi supaya hidup lo tetap
waras, jangan lupa peduli sama diri lo
sendiri. Setelah lo melihat misalnya
kondisi keluarga itu udah baikan, lo
bisa coba explore atau ngerjain hal-hal
yang lo suka di level 3. As simple as
ngelakuin hobi yang meaningful ya buat
lo. Atau kalau ada kesempatan, lo juga
bisa coba take side project ya yang
sesuai passion buat dapetin income
tambahan. Nah, itu case pertama. Kalau
lu adalah seorang sandwich passion. Di
case kedua misalnya let's say lu adalah
seorang fresh graduate yang baru mulai
karir dan lu bertanya gitu gimana
caranya gua bisa mencapai kehidupan
ideal gua. Nah, buat lo yang fresh
graduate ada beberapa hal yang perlu lo
cek sebelum lo nentuin arah karir lo itu
mau gimana di fase awal ini. Pertama, lu
cek dulu di level 1 apakah keluarga lo
masih aman buat hidup atau makan
sehari-hari. Kalau masih sebenarnya tuh
lu bisa coba explore ya kerjaan yang
sesuai minat lo. Tapi kalau belum, lo
perlu coba prioritasin dulu buat at the
fairy list dapat kerjaan dulu untuk
survive biar bisa makan lah ya
sehari-hari dan lu juga enggak pusing
mikirin besok harus makan apa. Nah,
setelah itu lu juga bisa coba cek di
level 3 apa karir yang paling sesuai
sama kepribadian lo sekarang. Misal
kalau lo itu orangnya dengan openess
tinggi ya, yang mana ini kaitannya sama
test ocean tadi, lo mungkin bisa coba
explore industri kreatif. Tapi kalau lo
itu openness-nya let's say rendah, lo
bisa coba explore pekerjaan yang lebih
terstruktur ya kayak finance ataupun HR.
Kalau lu belum punya skill atau mungkin
belum belajar gitu ya, saran gue lu bisa
coba intern dulu atau ambil bootcamp
buat belajar skill-skill yang dibutuhin
buat kerja di profesi yang emang sesuai
sama minat lo tadi. At the end of the
day, mengenal diri sendiri dan tujuan
hidup itu sebenarnya bukan proyek jangka
pendek ya yang bisa sekali jadi, tapi
itu adalah sebuah perjalanan seumur
hidup. Mungkin bisa jadi kita seumur
hidup masih belum kenal sama diri kita
sendiri. Enggak akan pernah ada jawaban
yang final ya buat semua hal ini. Tapi
satu hal yang pasti dan yang terpenting
bukanlah menemukan jawabannya tapi
melainkan keberanian kita buat terus
bertanya dan terus berjalan buat
mengenal diri kita sendiri. Jangan takut
buat jadi diri sendiri tapi jangan lupa
juga untuk tetap berpijak di bumi.
That's all for now. Jangan lupa bahagia
dan jangan lupa buat hidup seutuhnya.
Thanks.
[Musik]
Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau
ngasih tahu info buat lu yang lagi
ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya. Sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam psikotes
premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lo lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi, setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
reportnya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren kalau lu enggak ngerti atau
lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight
lanjutan lewat konsultasi bareng expert
dari 1% langsung berdasarkan hasil tes
lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/psicotespremium
buat info lebih lanjut.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:17 UTC
Categories
Manage