3 Kebiasaan ANEH Orang Pintar menurut Psikologi
BWNBdp7D664 • 2025-09-17
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Apa yang ada di pikiran lo ketika mendengar kata orang pintar? Beberapa dari kita mungkin berpikir kalau orang pintar itu ya orang-orang yang baca buku banyak, IQ-nya tinggi, atau jago ngitung. Well, sebenarnya itu valid sih, tapi itu baru ciri-ciri yang kelihatan dari luar. Di video kali ini kita enggak akan bahas ciri-ciri yang udah sering lu dengar. Kita akan bedah tiga kebiasaan orang pintar yang ngebedain mereka antara beneran pintar dan sok pintar. Dan pastinya banyak dari kita yang mungkin belum sadar sama kebiasaan-kebiasaan ini. Setelah video ini selesai, lu juga bisa coba ceritain ya di kolom komen. Dari tiga ciri-ciri yang bakal kita bedah, lo ceklistnya ada berapa. Welcome to kelas kehidupan by 1%. Enjoy. [Musik] Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam Psikotes Premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi, setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin reportnya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren, kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/sicotespremium buat info lebih lanjut. Oke, ciri-ciri pertama dan mungkin yang paling fundamental dari kedua ciri yang lainnya adalah sesuatu yang terdengar sangat paradoks, yaitu kerendahan hati. Kemampuan terpenting orang cerdas bukanlah untuk selalu benar, tapi justru kesadaran kalau mereka itu bisa salah dan kemauan untuk mengoreksi diri sendiri. Ini bukan soal minder atau ngerasa rendah diri ya, tapi ini tuh soal kesadaran tentang keterbatasan pengetahuan yang mungkin mereka pahami. Gua juga sempat nemu ya quotes dari Sokrates yang mungkin ini relate banget. I know that, I know nothing. Gua tahu kalau gua enggak tahu apa-apa. Orang yang kagak kompeten justru paling yakin sama kemampuannya. Dan orang yang kagak kompeten justru paling yakin sama kemampuannya sendiri. Nah, sedangkan orang yang pintar tapi punya kerendahan hati ini justru kebalikannya. Semakin mereka ngerasa tahu, semakin mereka sadar betapa banyak hal yang sebenarnya tuh mereka belum tahu. Sama kayak di grafik ini ya, Daning Krueger Effect, semakin banyak hal yang kita tahu, semakin banyak hal yang kita paham, justru communis level kita malah turun dan baru habis itu naik lagi. Dan kesadaran inilah yang jadi kunci utamanya. Karena mereka sadar bisa salah, mereka akan memandang kritik sebagai serangan personal. Kritik itu dilihat sebagai masukan yang berharga ya untuk memperbaiki kekurangan. Kegagalan juga enggak dianggap sebagai aib. itu cuma sebagai data penting ya buat mereka dalam proses belajar dan juga eksperimennya. Tujuannya bukan untuk jadi yang paling benar, tapi untuk jadi orang yang tidak terlalu salah. Less wrong dari hari ke hari. Gue juga dulu pernah baca buku judulnya Think Again. Buku ini ngejelasin kalau di zaman yang serba kagak pasti kayak sekarang, pintar yang sebenarnya itu bukan cuma tentang seberapa banyak ilmu yang lo tahu, tapi juga tentang sejauh mana lo berani mempertanyakan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tuh udah kada relevan lagi. Banyak orang yang bisa melahirkan ide besar, tapi cuma sedikit orang yang mau mengakui kalau ide mereka itu mungkin udah kagak relevan lagi dan update pemikirannya sama hal-hal yang baru. Dan itu cuma bisa dilakuin sama orang pintar yang beneran punya kerendahan hati. Beberapa dari kita mikir kalau orang cerdas itu cenderung kaku, serius banget, dan mungkin selera humornya tuh kayak enggak terlalu tinggi gitu. Tapi dari beberapa sumber yang gue baca, justru sebaliknya. Selera humor mereka orang-orang yang pintar ini seringkiali tajam, sangat tajam, dan juga butuh proses mental yang kuat buat memahaminya. Ternyata selera humor seseorang, terutama joks-joks yang tinggi, sarkas atau mungkin dark jokes kayak joks-joks gelak itu bisa jadi tanda kalau orang itu beneran pintar. Coba lu bayangin untuk ngerti joks yang sarkas, otak kita itu kudu berpikir sangat cepat dan sangat keras. Pertama, diproses dulu makna literal kalimatnya. Yang kedua, dideteksi pola yang aneh dengan konteksnya. Dan ketiga, diambil kesimpulan makna sebenarnya yang berkebalikan dari yang diucapkan. Nah, proses itu butuh kerja otak atau kognitif yang sangat rumit. Gue ada sedikit games ya. Coba lo perhatiin video yang bakal kita play setelah ini dan kasih tahu gue di kolom komen secepat apa lo bisa paham maksud dari joksnya. Peraturannya kagak boleh di-pause. Oke, yuk kita mulai. [Musik] Coba berapa detik lu langsung ngehas dan ngerti sama jokes ini? Drop di kolom komentarnya. Yang jadi pertanyaannya, kok bisa sih orang pintar lebih suka dark jokes? Karena buat bisa ngerti dan ketawa sama Dark Joks itu tuh butuh banget kemampuan berpikir atau kognitif dan emosional yang canggih. Otak kita kudu bisa memproses informasi yang salah atau tabu terus dengan cepat meregulasi emosi supaya kita itu kagak tersinggung dan akhirnya bisa paham sisi lucu dari Dark Yog itu. Salah satu cash paling menarik di sini adalah Raditi Dikaya yang mana beberapa tahun lalu dia sempat bikin video sama Dedy Corbuser dan ketahuanlah kalau si Radit ini ternyata bisa berpikir layaknya seorang psikopat. Statement ini pun dikonfirmasi ya sama Radit sendiri kalau komedian itu sebenarnya di beberapa case kudu bisa berpikir seperti psikopat atau penjahat. Kenapa? Karena ya memang jokes-nya itu mereka kan butuh korban buat melakukan stand up komedi. Jadi kalau ada teman lo yang suka Dark Joks, bisa jadi itu bukan karena dia orangnya jahat. Bisa jadi ya karena emang lebih pintar aja. Ciri-ciri yang ketiga ini ada kaitannya sama kehidupan sosial. Lu pernah ngebayangin enggak sih kehidupan sosial orang yang beneran pintar itu tuh kayak gimana sih? Banyak orang yang mikir kalau kebanyakan orang pintar itu introvert, penyendiri, canggung, kagak bisa ngobrol. Sebenarnya itu mitos, cuy, dan kagak selalu benar juga. Enggak semua orang pendiam itu pintar dan enggak semua orang yang banyak ngomong itu otomatis pintar. Tapi satu hal yang pasti, orang pintar itu sebenarnya bisa jadi dan introvert tergantung sion. Kalau lagi networking ya mereka bisa jadi extrovert. Kalau lagi deep talk ya mereka bisa banget jadi introvert. Jadi ini tuh benar-benar tergantung ya sama si dan juga kebutuhannya. Mereka bakal beradaptasi sama situasi sekelilingnya dan bakal memilih mode antara introvert atauvert yang paling efektif dan efisien di situasi tertentu. Mode introvert bakal diaktifkan kalau mereka kudu produktif dan harus ngerjain project yang butuh konsentrasi tinggi. Modeovert bakal diaktifin kalau mereka itu butuh networking jadi leader atau kebutuhan-kebutuhan lainnya yang berkaitan sama tampil di publik. Ada satu penelitian yang menurut gue menarik buat jadi contoh. Banyak yang ngira kalau penjual atau mungkin orang-orang sales yang jago itu pasti orang yang paling extrovert. Ternyata risetnya tuh enggak nunjukin begitu. Studi pada ratusan orang sales ngebuktiin kalau justru para ambivert, orang-orang yang di tengah-tengah spektrum ya antara introvert dan adalah orang sales yang paling efektif. Statistiknya nunjukin kalau para ambivert ini menghasilkan pendapatan 32% lebih tinggi dibandingkan Strovert murni. Kenapa? Karena ya mereka itu fleksibel. Mereka tahu kapan harus ngomong dan kapan harus diam buat ngedengerin. Ini tuh bukti ya kalau kemampuan kita buat beralih mode sesuai kebutuhan punya keuntungan yang real. Bisa jadi pembicara sekaligus jadi pendengar yang baik itu tuh bukan skill yang mudah. Dan enggak semua orang bisa kayak gitu. At the end of the day, jadi orang pintar itu sebenarnya gak selalu tentang sebanyak apa pengetahuan yang kita tahu ya. Karena ya orang berpengetahuan belum tentu pintar dan orang yang pintar bisa jadi juga belum tentu seberpengetahuan itu. Semuanya balik lagi tergantung dari konteks. Tapi satu hal yang pasti orang-orang pintar itu satu punya kemauan besar buat mengoreksi dirinya sendiri, dua bisa memproses dark jokes yang kudu mikir banget buat paham dan tiga, bisa beradaptasi di situasi-situasi sosial yang berbeda. Nah, dari ketiga ciri-ciri yang udah gue jelasin di atas, lu ceklistnya ada berapa? Buat lo yang masih bingung, 1% kebetulan adaes kepribadian yang bisa lo coba. Ya, satu psiko ini terdiri dari beberapa tes. Jadi, hasilnya tuh bakal lebih lengkap dan detail dan buat ngebedah lo itu orangnya kayak gimana. Ada tes kepribadian dari ocean test, ada IQ test, ada tes jenis temperamen, tes nilai hidup ya, personal values, dan juga tes attachment style dan masih banyak lagi. Bayangin tes sebanyak itu harganya cuma seharga kopi Rp60.000. Buat lu yang penasaran banget, saran gue sih cobain ya si kotes sendiri. Bukan yang dipaksa sekolah atau karena seleksi kerja ya. Minimal sumber hidup sekali. Kalau pengin lebih detail lagi nanti bisa juga setelah lu ngisi psikotes dilanjut di sesi konsultasinya bareng sama live coach dari 1%. Buat lo yang tertarik langsung aja ke website sat.net atau klik link yang ada di bio atau pin komen ya. Udah gue taruh linknya di sana. That's all for now. Jangan lupa bahagia, jangan lupa hidup seutuhnya. Thanks [Musik]
Resume
Categories