Transcript
L1hgfbYRcoI • Filosofi Kapitalisme dan Adam Smith: Sudah Tidak Relevan?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0764_L1hgfbYRcoI.txt
Kind: captions Language: id Setiap kali kita ngomongin ekonomi dan kapitalisme pasti ada satu nama yang keluar yaitu adalah Adam Smith dengan konsepnya soal invisible hand. Konsepnya tuh kedengaran sangat canggih sekali dan sudah terjadi selama hampir 200 tahun sejak dia nulis buku itu. Yaitu ketika semua orang ngejar keuntungan masing-masing dan semua orang bisa bekerja untuk jadi spesialis. Eh, tahu-tahu ekonomi negara itu bisa jadi bagus dan semua orang bisa jadi sejahtera. Karena invisible hand itu bisa menciptakan pola konsumsi dan pola produksi. Simpel ya dan canggih banget. Selama ratusan tahun ide ini tuh jadi kitab suci hampir semua negara. Pemerintah tuh hampir semua disuruh minggir. Jangan banyak ikut campur. Biar pasar aja yang ngatur semuanya karena nanti bakal teratur sendiri juga. Tapi yang kita lihat sekarang malah sebaliknya ya. ketimpangan makin gila ya. Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin, negara saling sikut sekarang lewat perang dagang. Dan krisis kayaknya tuh datang terus gitu dari tahun 8 lah, 1970, tahun 2000, tahun 2008, tahun 2015, tahun COVID. Sekarang juga nyari kerja susah, barang dan jasa makin mahal karena inflasi belum nanti ada AI, waduh baru AI, belum ai, belum artificial super intelligence kayak kemarin yang kita bahas di video Stargate ya. Nah, jadi pertanyaan sekarang tuh jadi relevan banget. Emang ide bapak-bapak ini dari abad ke-18 ini masih kepakai memangnya? Dan ya kita tahu sendiri banyak yang bilang kalau kapitalisme tuh udah basih. Karena bisa jadi kapitalisme yang sekarang terjadi ini cuma jadi pembenaran aja buat feodalisme 2.0. Di mana yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, yang pewaris ya tetap aja makin kaya karena dia adalah pewaris. Yang perintis akan terus jadi perintis sampai generasi ke gua enggak tahu sampai generasi ke berapa dah jadi perintis tuh ya. Nah, di video kali ini gua bakal membedah tentang kenapa filosofi dan ide dari kapitalisme yang ada sekarang itu bisa jadi memang sudah tidak relevan lagi dan bentar lagi hancur juga. Dan gua juga bakal ngasih tahu mungkin gimana sih solusinya buat masa depan. Selamat datang di segmen belajar filsafat dari 1%. Buat lu yang belum tahu tentang 1%, kita adalah media edukasi yang ngajarin tentang berbagai hal penting yang belum dipelajari di sekolah. Jangan lupa klik like and subscribe dan yuk kita langsung masuk ke video tentang kapitalisme dan Adam Smith. [Musik] Oke, Guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam Psikotes Premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikolog profesional. Jadi, setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin report-nya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/psicotespremium buat info lebih lanjut. Kalau lu sekarang ngelihat Amerika sama China sama Indonesia sama Vietnam segala macam ribut soal tarif ekspor impor ini tuh sebenarnya cuma drama di permukaan doang ya. Jadi kita coba bedah nih kenapa sih sebenarnya sekarang tuh ribut-ribut tarif dan segala macam. Nah, sebenarnya kenapa sekarang ada ribut tarif ya terus kapitalisme makin gila, susah nyari kerja. Karena sebetulnya kapitalisme yang ada sekarang itu hanyalah perang antara si kaya dan si miskin di negara masing-masing. Maksudnya gini, gua jelasin simpelnya ya, di negara kayak China gitu ya, di negara kayak US ya, semua hampir semua negara lah ya, itu hampir selalu ada ketimpangan yang parah banget kecuali negara yang jago ngatur resource-nya ya. Tapi kita selalu ngelihat pertama itu selalu ada kaum elit. Bisa kita sebut sebagai oligarki, bisa kita sebut sebagai konglo. Ya, intinya kaum elir ini super kaya yang punya duit tuh kebanyakan. Duitnya saking banyaknya sampai bingung mau diapain. Akhirnya apa yang terjadi pada kaum elit ini? Ya duitnya adalah entah ditumpuk di bank atau jadi investasi. Karena mereka kan udah bisnis, udah segala macam, bisa nabung gila-gilaan, punya duit banyak, ya disimpan aja, diinvestasiin, ya kan biar makin banyak lagi, biar ngegulung. sampai generasi ketujuh. Nah, yang kedua kita lihat ada kaum yang satu lagi. Kaum yang satu lagi adalah kaum pekerja yang sampai sekarang dibayar makin murah. Kenapa gua bilang makin murah? Karena kenaikan gaji biasanya enggak setinggi invasi. Terus habis itu ada juga pekerjaan-pekerjaan yang gajinya makin nurun. Ini gua lihat sendiri gara-gara perkembangan AI aja karena gua ada di dunia konten ya. Kita bisa ngelihat kalau gaji video editor, scriptwriter segala macam itu makin turun dengan adanya AI atau bahkan tanpa adanya AI sekalipun ya. Jadi bakal makin turun aja karena ya makin banyak otomasi segala macam. Nah, upah ke pekerja ini sengaja ditekan biar apa? Biar ongkos produksi rendah dan biar barangnya, barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan besar ini bisa dijual murah. Nah, akibatnya apa? Kalau ada dua kaum ini dan ini dua kaum ini enggak pernah hilang ya dari dulu. Terjadilah yang namanya under consumption. Jadi, produksi barang dan jasa itu tiap negara tuh produksi banyak banget. Ada yang produksi roti lah, ada yang produksi gandum, ada yang produksi kelapa sawit lah. Tapi yang terjadi sekarang ironisnya adalah rakyat-rakyat di semua negara itu tidak punya duit buat membeli barang-barang dan jasa tersebut. Makin lama makin berasa sulit gitu untuk hidup. Jadi kayak lu bayangin nih pabrik roti yang gede tapi pekerjanya tuh cuma bikin roti doang, cuma bisa ngiler doang lihat roti yang mereka buat. Mereka enggak bisa beli rotinya. Masalahnya yang kelas menengah ke bawah ini enggak bisa beli, tapi para elit-elit global ini mereka juga enggak punya mulut dan perut yang sebanyak itu kan untuk beli rotinya gitu. Apa yang terjadi? Kelebihan produksi ini dikemain nih yang enggak dibagi-bagi dong. Namanya juga kapitalisme kan orang pengin untung. Jawabannya adalah barangnya ini dibuang dalam tanda kutip dibuang. Ini artinya adalah diekspor. Diekspor secara paksa ke negara lain, terutama negara-negara yang rakyatnya itu doyan belanja. dan doyan belanjanya tuh seringkiali pakai utang ya kayak misalnya Amerika Serikat. Amerika Serikat tuh jadi sekarang ya tong sampahnya produksian produksian dari Cina ya, dari Vietnam, dari Indonesia ya, sepatu-sepatu brand kayak Nike itu Adidas kan dari Indonesia segala macam diekspor ke Amerika. Amerika jadi apa? Jadi tong sampah. Makanya rakyat-rakyatnya kasihan sebenarnya. Ada yang jadi gembel lah, ada yang jadi apalah gitu ya. Ini kasihan sebenarnya termasuk rakyat miskin di Indonesia juga. rakyat kita tuh kasihan juga karena rakyat kita tuh ya didamping juga sama ya orang-orang kaya dari Amerika, dari Cina. Ngedampingnya ke mana? Ke Indonesia gitu ya. Makanya nih, makanya buat lu yang mungkin kurang paham soal kenapa sih Trump ini ngasih tarif ke banyak negara, karena dia enggak mau negaranya tuh jadi tong sampah. Nah, karena si Trump ini katanya ya dan kalau gua lihat memang seperti itu, katanya sih pro rakyat kecil di Amerika Serikat. Makanya dia akhirnya ngasih tarif ke semua negara yang ngekspor ke Amerika. Biar apa? Biar dari segi neraca dagangnya itu impas, enggak ada yang surplus, enggak ada negara yang cuma ngejadiin Amerika tong sampah. Makanya Indonesia juga disuruh beli kapal-kapal Boeing lah ya kan ada berapa puluh biji tuh Pak Prabowo disuruh beli kapal-kapal itu yang pesawat-pesawat terbang itu. Ee terus juga disuruh beli apalagi gua lupa lah. Pokoknya kita dibully lah untuk beli bahkan disuruh udah data lu kasih ke kita gitu ya. Trump itu idenya seperti itu. Jadi biar warga-warga miskin sana tidak kena damping barang dari negara lain dan supaya pabrik-pabrik di Amerika Serikat itu bisa hidup kembali. Karena apa? Karena kalau harga-harga barang jadi mahal dari luar negeri ya kepaksa. Akhirnya warga sono harus kerja sendiri, bikin roti sendiri, enggak ngambil roti dari Cina, terus makan rotinya sendiri. Jadi ekonominya bisa hidup. Jadi si Trum ini pengin e manufakturnya tuh kembali kuat. bisa lagi bikin roti, bikin mobil, bikin segala macam ya, biar mereka bisa berdaulat dalam tanda kutip dan hidup makmur seperti perkataan Adam Smith ya. Jadi invisible hand yang eh harusnya terjadi di Amerika doang, enggak dari negara lain gitu. Nah, jadi perang dagang yang terjadi sekarang itu sebetulnya bukan soal eh Amerika versus China gitu, bukan soal Trump kesal sama Indonesia, bukan. Ini soal gimana orang kaya ya yang kebetulan ada di banyak negara, di Indonesia ada gitu ya. kita ekspor Indomie itu yang banyak ke Nigeria lah, ke mana gitu kan. Di Amerika Serikat ada gitu ya, ada Tesla yang ngekspor Tesla ke mana-mana, di China juga ada ya, BYD segala macam. Jadi gimana caranya mereka-mereka itu orang-orang kaya ini yang punya korporasi besar yang menginvest ke korporasi besar ini bisa ngejual barangnya biar investmentnya itu bisa naik. Nah, sayangnya yang sekarang terjadi adalah si miskin ini tidak punya duit karena ya ketimpangan kan makin tinggi, si miskin ini enggak naik gaji. Jadi, ironisnya adalah si orang-orang kaya ini enggak dapat investasi yang mungkin menarik lagi ya sejak adanya tarif. Jadi banyaklah saham-saham yang turun yang profitnya turun karena gara-gara si tarif ini. Dan si orang-orang kaya ini apakah mereka mau membeli produknya sendiri gitu ya? Misal apakah ee investor rokok itu ee mau membeli rokoknya kan enggak juga gitu ya. Itu kalau produk lah atau produk yang bagus pun kayak misalnya BYD gitu ya, kita bisa argue kalau mobilnya tuh bagus, murah, inovatif gitu. Apakah orang kaya akan beli ya kan garasinya terbatas mungkin mereka akan beli Rolls-Royce aja atau akan beli McLaren gitu misalnya dibandingkan beli si BYD ini. Jadi si orang kayak enggak bisa konsumsi karena ya mereka enggak butuh barang sebanyak itu. Si orang miskin juga enggak bisa konsumsi karena mereka butuh tapi enggak punya duit juga. Jadi perang dagang segala macam itu gua tekanin sekali lagi ya, bukan soal Amerika versus China, bukan soal Amerika kesal sama bricks misalnya ya, mungkin ada kesal sedikit gitu ya. Tapi intinya bukan soal itu gitu. Intinya tuh justru adalah karena ada under consumption ini di mana produksi banyak tapi enggak ada yang konsumsi. Jadi para investor berharap ya ini bisa ekspansi ini bisa terjadi terus-terusan. Bahkan kalau bisa ekspansi ke Mars ke bulan gitu ya, ekspansi terus. Biar apa? biar para investor bisa makin kaya, bisa tetap tumbuh perusahaannya dan lain-lain. Nah, ironisnya itu juga yang sekarang mungkin para investor saham lagi lakukan. Kita semua ya, gua, El yang invest saham itu pasti pengin dong perusahaan yang kita pegang itu ekspansi ya ke negara lain. Karena apa? Karena makin cuan ya buat kita. Terus yang jadi korban ekspansi ini siapa? korban dalam tanda kutip ya. Ya, rakyat-rakyat miskin yang akhirnya harus mengkonsumsi ya barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh perusahaan besar ini, rakyat yang luas ini nih yang jadi market ini termasuk Indonesia yang marketnya sangat luas dan kemungkinan besar akan didamping terus barang-barang dari luar. Makanya muncul kalimat-kalimat nih, yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin. Karena yang kaya mau konsumsi sebanyak apapun mereka tetap akan kaya. Yang miskin mau konsumsi aja enggak bisa karena inflasi. Akhirnya apa? Tetap miskin. Kalau Adam Smith masih hidup sampai sekarang, gua yakin ya dia mungkin bakal jadi orang pertama yang ngamuk dan protes paling kencang terhadap sistem kapitalisme yang kita pakai sekarang dan kita adopsi. Kenapa? Karena ada satu kalimat dari bukunya sendiri yang sering banget dilupain sama orang-orang, yaitu adalah consumption atau konsumsi itu adalah satu-satunya tujuan akhir dari semua produksi. Jadi buat Adam Smith, tujuan ekonomi itu bukan untuk menumpuk harta benda, bukan untuk menciptakan orang-orang seperti Warren Buffet gitu yang punya ribuan triliun. Kagak. Tujuannya tuh adalah biar semua orang bisa terpenuhi kebutuhannya sebagai konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Udah itu doang bukan untuk bikin segelintir orang jadi kaya. Jadi kaya banget. Kalau sistem ini Adam Smith tahu sistem ekonomi sekarang kayak gini yang bahkan ngebuat warganya sendiri itu enggak mampu menikmati hasil produksinya. konsumsinya itu terbatas gitu ya, under consumption ya. Ini adalah sistem yang bisa jadi dibilang gagal total kalau menurut standarnya Adam Smith. Jadi yang terjadi sekarang adalah ini tuh sistem yang menekan upah pada rakyat-raket kecil buat buruh-buruh kasar atau buruh-buruh intelektual kayak gua dan lu. Kalau lu kerja sebagai ya kayak gua gitu ya, kerja di bidang konten dan lain-lain yang tidak melakukan kerja kasar, kita tuh upah kita ditekan terus demi para perusahaan besar ini yang investornya besar-besar juga supaya bisa ekspor gede-gedean. Dan ini adalah bisa kita bilang sebagai kebalikan lah dari filosofinya Adam Smith, The Invisible Hand. Dia justru mungkin takut kalau para tuan-tuan ini ya bersekongkol dengan pemerintah, dengan siapa untuk menekan upah para buru. Jadi the invisible hand itu ya akan jalan kalau ada balance. Jadi ada keseimbangan lah antara produksi dan konsumsi. Nah, kalau enggak ada keseimbangan ya kita tinggal tunggu hancur aja nih kapan hancurnya gitu. Dan kapitalisme modern ini udah sangat terlalu fokus ke produsen bukan konsumen. Oke, yang penting produksinya efisien, modalnya numpuk dan ekspornya kencang. Sementara kesejahteraan pekerja, daya beli rakyat itu urusan nomor ke seekian. Dan ironisnya gua juga melakukan ini gitu ya. Gua juga sebagai pebisnis automatically gua melakukan ini karena apa? Karena ya gua pengin efisien, gua pengin ya gua serakah lah gitu. Gua pengin untung sebanyak-banyaknya kalau dilihat dari beberapa sisi tertentu biar apa? Biar mungkin ya adsense gua makin banyak gitu ya. Views datang dari kalian terus kalian beli misalnya psikotes dari 1% gitu ya. Terus kalian misal e beli konseling dari live consultation gitu buat membership 1% dan lain-lain. Jadi ironisnya memang seperti itu. Nah, ini sebetulnya kalau Adam Swap masih hidup mungkin dia akan bilang kayak kagak jelas nih sistem ekonomi Bambang gitu kan. Dia bakal bilang seperti itu. Nah, jadi kita bisa bilang bahwa versi Adam Smith yang sering kita dengar bahwa manusia itu serakah ya. Kita harus memanfaatkan keserakahan tersebut supaya ekonomi terus jalan. Greed is good lah. Bisa jadi ini tuh udah basi gitu loh. Jadi ini tuh bisa jadi versi dangkal dari kapitalisme yang dipakai sekarang. Nah, filosofi Adam Smith yang beneran yang bilang bahwa ekonomi itu harusnya buat konsumen dan produsen. Bukan cuma produsen doang. Bahkan kalau pengusaha terlalu berkuasa atau pemerintah terlalu intervensi itu bisa jadi buruk. Ini ya relevan banget di zaman sekarang ya. Pada akhirnya apa yang harus kita lakuin? Ya solusinya kalau menurut gua sih sederhana gitu ya. gimana caranya kita menciptakan sistem di mana para pekerja ini itu bisa mengkonsumsi lebih banyak hal. Jadi, kesejahteraan itu harus ditingkatin juga buat para pekerja-pekerja itu biar mereka bisa mengkonsumsi banyak hal. Nah, siapa yang bisa menciptakan itu? Ya, gua enggak tahu. Karena kalau pemerintah juga misal maksain UMR dinaikin ee apakah nanti bakal keos, para pengusaha bakal gulung tikar? Mungkin gua enggak tahu apakah akan works atau enggak. atau justru kita sebagai para pebisnis harus sadar gitu ya ee nge-treat karyawan dengan baik, tapi ya gimana ya namanya manusia e harusnya ada keserakahan juga dan gua juga tidak menutup kemungkinan bahwa ya gua di sini sebagai bisnis owner juga untuk mengefisienkan banyak sistem produksi yang ada di perusahaan gua itu gua juga secara langsung maupun tidak langsung gua juga udah serakat ada di sistem ini ya. Paling solusinya salah satu lagi adalah ya kita tunggu ekonomi ini hancur. Hancur karena apa? karena resesi atau bahkan depresi. Karena apa? Karena ya enggak ada lagi rakyat yang bisa mengkonsumsi pada akhirnya kalau under consumption ini terjadi terus-menerus kalau teorinya benar. Nah, by the way teori ini tuh gua dapat dari salah satu buku yang menurut gua bagus banget untuk belajar makroekonomi. Nama bukunya adalah Trade Wars Are Class Wars. Jadi, perang dagang itu adalah perang antar kelas atau perang antara si kaya dan si miskin. Eh, siapa tahu lu tertarik buat baca buku itu ya silakan dibeli aja. Gua enggak ada link affiliate sih, tapi ya silakan beli aja. Beli yang asli kalau bisa gitu ya. Tapi kalau tidak pun ya keputusan pribadi masing-masing ya, Guys. Oke, semoga e video ini bisa mencerahkan tentang apa yang terjadi sekarang dalam sistem kapitalisme. At least dari opini gua dan juga dari teori yang udah gua baca. E, let me know what you think dan gua 100%. Well, thanks [Musik]