Belajar Berpikir Kritis: Biar Gak Gampang DIBODOHI!
T7JGzJuoPAM • 2025-07-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Di awal video ini gua pengen minta lu
coba ingat-ingat kondisi media sosial
dan YouTube lu 10 tahun lalu. Sekitar
tahun 2015 lah. Atau enggak usah 10
tahun lalu deh. Coba ingat kondisi
YouTube dan sosial media di zaman COVID
tahun 2019. Isinya mungkin ya foto
liburan gitu kan, status alay, meme
receh, orang lagi bikin Dalgona. Ya,
lumayan adem ayam ya dibandingkan sama
kondisi di tahun 2025. Gak ada tuh
perang opini sampai viral, sampai
klarifikasi di podcast-podcast, saling
cancel satu sama lain, saling sebar aib.
Beda banget sama sekarang. Lu buka
medsos, mau Instagram, mau Twitter, ya
itu kayak masuk ke medan perang, apalagi
Twitter sih. Beda pendapat dikit soal
politik, soal relationship atau bahkan
soal cara masak mie instan itu bisa jadi
bahan hujatan berjilid-jilit. Dan di
tengah kebisingan ini sebetulnya muncul
tren baru yang lumayan ekstrem. Jadi
bukan lagi soal siapa yang paling benar,
tapi siapa yang paling dalam tanda kutip
keras suaranya. Sekarang adalah zaman
populisme, influencer yang paling kasar,
paling polarizing, bikin polarisasi,
paling pamer kekayaan, paling pamer
kepintaran, merekalah yang akan menang
dan dapat panggung. Mereka membangun
pengikut itu biasanya ya bukan dengan
diskusi, tapi dengan menciptakan drama
dan memposisikan diri sebagai alfha yang
gak bisa dibantah. Dan kalau lu ingat
sosmate 10 atau 5 tahun lalu, kita pun
tanpa sadar ikut terseret dalam arus
tersebut. Dan di tahun 2025 ini wajar
memang kita sebagai penonton di sosmet
di YouTube itu haus ya akan informasi
tuh yang benar gitu. Karena zaman
sekarang informasi ya udah kebanyakan.
suara yang benar, suara yang logis,
fakta gitu ya, yang bisa jadi pegangan
hidup kita tuh memang langka banget.
Apalagi makin banyak pula konten-konten
AI ya yang informasinya mungkin enggak
jelas. Dan dari sana muncullah beberapa
tokoh ya kan. Lu pun mulai nonton
YouTube beberapa tokoh-tokoh baru sampai
akhirnya lu nge-fans sama berbagai tokoh
tersebut, baik dalam negeri dan luar
negeri. Lu ikutin semuanya sampai bahkan
drama-dramanya juga, jelek-jeleknya juga
lu ikutin. Nge-fans itu enggak salah sih
sebenarnya. Apalagi sama orang pintar,
orang kaya itu ya wajar. Kita butuh yang
namanya role model ya biar hidup kita
bisa berubah. Tapi sadar atau enggak
sadar kok sejak lu ngikutin orang ini
tiba-tiba yang berubah bukan cuma hidup
lu doang jadi lebih positif ya. Tapi kok
mindset juga berubah gitu? Dulu mungkin
lu bisa terbuka sama banyak opini, lu
mungkin bisa santai menghadapi
perbedaan. Lu enggak sestres itu
ngelihat drama di sosmet. Tapi kok
sekarang lu jadi cepat banget ya
nge-judge orang lain? Entah itu karena
dia miskin dan beropini atau karena lu
ngelihat ada orang berargumen tapi
penyampaiannya kurang baik gitu dan
lain-lain. Dan kok mungkin lu sadar lu
sekarang mungkin jadi lebih defensif di
era sekarang. Nah, apa jangan-jangan
kita semua bareng-bareng sekarang itu
berhenti berpikir kritis karena konsumsi
konten kita saat ini yang udah begajulan
gitu loh. Nah, itu yang bakal gua bahas
sekarang. Selamat datang di kelas
kehidupan. Kita bakal bahas soal gejala
hilangnya pemikiran kritis. Gua bakal
bahas tanda-tandanya. Gua bakal bahas
kenapa juga. Dan gua bisa argue ini tuh
karena populisme dan karena sosial
media. Welcome to 1% dan stay tune.
Tonton video ini sampai habis.
[Musik]
Oke, Guys. Sebelum lanjut, gua mau
ngasih tahu info buat lu yang lagi
ngerasa bingung, ngerasa stuck sama
hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal
karir, pendidikan, hubungan, keluarga,
pernikahan, atau hal-hal personal
lainnya, sekarang 1% tuh nyediain
psikotes premium. Di dalam Psikotes
Premium ada berbagai pilihan tes yang
dirancang buat ngebantu lo lebih paham
siapa sih diri lo sebenarnya supaya lu
bisa ngambil keputusan hidup lu dengan
lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin
berbagai jenis tes psikologi
profesional. Jadi, setiap lu beli, lu
bakal dapat beberapa psikotes disatuin
reportnya jadi puluhan halaman untuk
hasil yang akurat dan personal. Lu bisa
baca puluhan halaman ini. Dan yang
paling keren, kalau lu enggak ngerti
atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat
insight lanjutan lewat konsultasi bareng
expert dari 1% langsung berdasarkan
hasil tes lu. Langsung aja kunjungi
1.bio/sicotespremium
buat info lebih lanjut.
Kalau kita mau jujur, ada satu hal utama
yang bikin filter kritis kita tuh
langsung mati. Apa itu? yaitu adalah
narasi kita versus mereka. Nah, ini
adalah resep paling ampuh dari para
influencer di luar sana, dari para
bahkan calon presiden di luar sana untuk
mematikan logika dan menyalakan emosi.
Kenapa? Karena narasi ini tuh langsung
menargetkan dua tombol paling sensitif
di otak kita, yaitu adalah perut dan
juga rasa takut. Apalagi kita tahu
sekarang ekonomi lagi sulit dan kalau
ekonomi lagi sulit, cari kerja sulit,
harga-harga naik, kita jadi lebih cemas.
Di sinilah otak kita tuh butuh
penjelasan yang simpel. Kita tuh butuh
kambing hitam, butuh orang buat
disalahin. Nah, figur populis kayak
influencer, kayak calon presiden, kayak
siapapun, gua enggak bilang ini di
Indonesia ya, karena di luar juga sama
kejadian. Ini bisa aja memanfaatkan
momen kesulitan ini tuh dengan sangat
perfect ya. Dan ciri-ciri ketika ada
orang yang memanfaatkan ketidakkritisan
orang itu biasanya pakai tiga hal.
Pertama, biasanya mereka ngasih
penjelasan yang gampang. Contoh, lu tuh
miskin atau lu tuh susah bukan karena
sistem ekonomi segala macam, tapi karena
mereka. Nah, mereka ini bisa siapa? Bisa
banyak ya, bisa Yahudi lah, bisa SJW
lah, bisa oligarki, bisa inflasi, bisa
juga bisa apa aja sebenarnya. Jadi
penjelasannya tuh simpel, gampang di
mengerti. Nah, yang kedua tandanya
adalah biasanya mereka ini menciptakan
musuh bersama. Tiba-tiba yang jadi
masalah tuh bukan lagi kayak gaji lu
kecil gitu ya dan lain-lain, tapi yang
masalah adalah elit global misal. Yang
jadi masalah adalah oh kelompok ini nih
yang bermasalah dan lain-lain. Jadi
biasanya mereka menciptakan musuh
bersama. Itu yang kedua. Yang ketiga
adalah janji pahlawan. Nah, ini gampang
banget ya diidentifikasi karena biasanya
mereka-mereka ini yang manfaatkan
ketidakkritisan el.
Gua ngerti kok penderitaan lu. Gua janji
bakal ngebantu lu jadi X Y Z. Gua berani
kok ngelawan mereka. gua bakal jadi hero
lu dan lain-lain. Nah, ketika tiga
narasi seperti ini digabungin gitu ya,
terus dilempar, nah otak kritis manusia
itu biasanya langsung shutdown. Kenapa?
Karena kita enggak lagi nganalisis data.
Justru kita malah oh benar juga ya dia
yang harus disalahin. Jadi kita malah
menyetujui oh bahwa ini sesuatu tuh
harus disalahkan. Kita bahkan enggak
bertanya, "Oh, gimana solusinya menurut
gua?" Tapi justru kita malah semangat
sama oh ternyata ini musuhnya gitu. Jadi
narasi kita versus mereka yang ini
banyak sekali ya di dunia YouTube dan
sosmap Indonesia maupun luar negeri ini
tuh mengubah diskusi publik gitu ya dari
adu argumen dari adu data menjadi adu
loyalitas gitu dan di situlah pemikiran
kritis orang tuh bisa mati. Jadi ini
saran pertama dari gua ya lu harus
hati-hati sama siapapun yang menawarkan
narasi seperti ini. Karena siapapun yang
mengatakannya biasanya punya tujuan
tertentu untuk memanfaatkan lu supaya lu
bisa jadi loyalis. Tapi bukan loyalis
pintar ya untuk jadi loyalis yang bodoh.
Kalau kondisi ekonomi itu adalah korek
apinya dan populisme dengan strategi
tadi itu adalah orang yang memegang
korek apinya, maka media sosial itu
adalah bensinnya yang bisa bikin
semuanya jadi kebakar. Polarisasi zaman
sekarang itu jadi jauh lebih parah
karena algoritma. Orang makin enggak
kritis. Karena apa? Karena algoritma
YouTube, TikTok, dan Twitter itu
dirancang buat satu hal itu untuk
engagement, menahan lu untuk memakai
platform itu selama mungkin. Caranya
gimana? Ya caranya adalah dengan mereka
ngasih lu konten yang lu suka, yang lu
setujui. Lu nonton satu video nih ya,
yang nyalahin pemerintah, itu algoritma
bakal ngasih 10 lagi yang lebih ekstrem.
Lu nonton satu konten tentang cewek
seksi gitu ya, itu explore lu bakal
isinya cewek seksi semua. FYP lu juga
sama. Lu suka nonton konten dari kubu A
bukan kubu B. Lu enggak akan pernah lagi
lihat argumen bagus dari kubu lainnya.
Dan algoritma ini enggak peduli benar
atau salah. Dia cuma peduli sama satu
hal. Dia cuma peduli sama engagement. Ya
memang ada konten yang bisa kita report.
Memang kadang konten ke flex sebagai
spam atau hoa gitu ya. Tapi nyatanya ya
tetap aja banyak iklan judul kan. Tetap
aja banyak konten-konten hoa beredar
gitu. Jadi algoritma ini memang secara
utamanya ya tidak peduli benar atau
salah. Jadi engagement itu yang utama.
Konten yang paling memancing emosi,
marah, benci gitu ya, itu adalah yang
paling banyak mendapatkan interaksi.
Jadi kita itu sekarang sedang hidup di
dalam ecochamber. Jadi ruang yang
bergema gitu. Keyakinan kita itu akan
terus dikonfirmasi. Jadi akan terus
mantul seperti gema ecochamber, Guys.
Kita jadi terisolasi juga dari sudut
pandang lain karena kita hidup di dalam
goa doang. Goa konten yang setuju sama
kita doang. Di dalam gelembung ini,
kebencian kita terhadap orang lain yang
beda pendapat sama kita, yang hidup di
gua yang berbeda, yang berlawanan, itu
bakal makin meningkat. Dan sekalinya
kita dapat pendapat lain, bisa aja kita
enggak baca, bisa aja kita enggak nonton
keseluruhan argumennya. Lihat judul ke
comment section, lihat komen yang enggak
setuju, kita like, kita reply komen
tersebut, selesai. Ada yang pernah kayak
gitu enggak? Gua jujur pernah dan ya
mungkin gua mulai sadar kok gua jadi
kayak enggak terlalu kritis ya. Jadi,
gua juga ngerasain hal yang sama, Guys.
Contoh gampang dan ekstrem soal fenomena
ini itu sebenarnya enggak ada contoh
lain selain Donald Trump ya, yang paling
bagus gitu. Karena contoh ini tuh hampir
bikin dia jadi presiden ya kan. Dia
adalah master dari populism di era
modern. Dia tuh naik ke kekuasaan itu
dengan menyuarakan kecemasan siapa?
tidak lain dan tidak bukan menurut dia
adalah para pekerja di US yang ya of
course merasa ditinggalkan oleh elit
politik ya di zaman sebelum dia gitu.
Jadi jago banget tuh dia membikin
narasi-narasi populisme ini. Jadi selalu
kita versus mereka. Selalu kita yang
adalah rakyat, kita yang adalah pekerja
keras versus mereka. Mereka tuh siapa
ya? Elit korup lah, media fake news lah,
imigran lah, negara lain lah gitu ya.
China, China, China. Narasinya tuh jelas
negara Amerika itu hancur karena mereka
ya mereka ini bisa siapapun ya
mengkhianati kita dan cuma gua Donald J
Trump gitu ya yang bisa menyelamatkan
dan dia membuktikan beberapa ya perang
beberapa ya terhenti sementara gitu tapi
ya banyak juga hal-hal yang problematik
ya dari sana gitu. Nah, makanya
selanjutnya kita bakal bahas soal
jebakan-jebakan kalau lu udah kemakan
sama yang beginian. Dan orang yang
begini tuh enggak berarti jelek gitu ya.
Populisme tuh enggak berarti orangnya
tuh selalu jelek. Tapi jangan sampai
pemikiran kritis kita itu jadi hancur
gara-gara orang seperti ini yang
mempolarisasi, yang berjanji sebagai
pahlawan, yang seperti NPD gitu, seperti
megalomania gitu ya. Nah, gua bakal
bahas tentang ya jebakan ketika lu udah
gak kritis dan lu udah terjebak sama
populisme. Tonton sampai habis karena
ini bagian yang penting nih.
Jebakan pertama, el udah mulai merasa
jadi bagian dari kubu yang pintar.
Sementara orang lain yang di luar kubu
itu bodoh. Nah, ini adalah taktik
terselubung sebenarnya. Dan biasanya
seorang figur populis seperti ini itu
akan selalu meyakinkan para pengikutnya
gitu ya. bahwa mereka adalah kelompok
yang spesial, bahwa mereka adalah smart
people, bahwa mereka adalah orang yang
lu udah cerdas nih dengan lu nonton gua,
lu tuh cerdas, lu tuh kritis karena lu
punya pendapat sama kayak gua dan
lain-lain. Sementara itu, siapapun yang
tidak setuju, tidak menonton, atau tidak
pakai cara mereka, secara otomatis akan
diberi label lain. Ya, labelnya tuh
banyaklah. Entah itu bodoh, miskin,
sesat pikir, antek asing, dan lain-lain.
Taktik ini tuh biasanya membuat kita
yang nonton itu merasa superior dan kita
merasa eksklusif banget gitu. Ini
kelompok tuh kelompok memang memang
pintar banget gua gitu kan. Nah, kalau
lu udah merasa kayak gitu, lu berarti
udah dibodohi, Guys, ya. Lu udah tidak
kritis karena belum tentu kelompok lu
yang paling pintar ya kan. Apalagi kalau
lu udah malas ngedengerin opini dari
luar kelompok lu, ya. Lu ngerasa buat
apa gua dengerin argumen orang ini yang
gua anggap bodoh gitu. Nah, di sinilah
pintu diskusi lu udah tertutup dan
loyalitas yang buta ini dimulai. Lu juga
udah mulai mikir, "Oh, ini orang ini
enggak sacientifik. Gua enggak mau
dengar. Oh, ini orang enggak kaya. Oh,
gua enggak mau dengar ah. Oh, ini orang
ngomongnya enggak pakai rumus
matematika. Gua enggak mau dengar ah."
gitu. Jadi, banyak sebenarnya ya
narasi-narasi seperti itu dan gua
menyarankan untuk ya jangan sampai itu
menutup pintu diskusi, pintu perdebatan
gitu loh. Itu jebakan pertama.
Jebakan kedua, debat itu jadi enggak
penting. Yang penting adalah menyerang
orangnya. Nah, ini adalah jurus klasik
dari para tokoh populis yang biasa kita
bisa sebut sebagai adhominum. Jadi kalau
didebat ya daripada mereka capek-capek
membantah argumen dengan data, dengan
logika, sangat jauh lebih mudah untuk
menyerang karakter pribadi orang yang
menyerang tersebut. Nah, figur populis
ini bisa memanfaatkan ini banget gitu
ya. Mereka tuh biasanya menciptakan
julukan-julukan yang merendahkan gitu
ya. mempertanyakan motif lu apa nih, lu
ngapain nih ngelawan gua gitu atau
mengungkit-ngungkit sesuatu entah itu
aib lah, entah itu masalah sebelumnya
yang tidak relevan dengan topik debat.
Tujuannya apa? Tujuannya adalah
pembunuhan karakter lawan bicara di mata
publik. Dan sebenarnya enggak masalah
gitu ya, mau itu benar atau salah gitu.
Kalau audiens sudah terlanjur benci
dengan orangnya, ya mereka enggak akan
peduli lagi sebagus apapun argumen dari
lawan bicara ini. Itulah triknya.
Jebakan ketiga. Jebakan ketiga ini
adalah menjustifikasi perlakuan buruk
demi kebaikan. Nah, ini jebakan yang
mungkin sulit dilihat. Jadi, figur-figur
populis itu seringkiali melakukan
hal-hal yang problematik. Misalnya
merendahkan orang lain, menyebarkan data
yang salah gitu ya, pakai cara-cara yang
mungkin negatif atau kasar. Nah, tapi
kalau sudah mulai dikritik, nah biasanya
itu akan dibingkai sebagai sesuatu yang
oh ini perlu nih perlu dilakukan ini
untuk tujuan yang lebih besar untuk
kebaikan semuanya. Jadi logikanya adalah
oh ya memang gua melakukan hal ini gitu,
tapi ini perlu untuk melawan mereka yang
lebih jahat gitu atau gua kepaksa
berbohong cuy demi kebaikan yang lebih
besar. Nah ini sebenarnya adalah
mentalitas the end justifies the means.
Jadi tujuan bisa menghalalkan cara dan
biasanya followers-nya pun akan
memaklumi gitu, oh enggak apa-apalah dia
melakukan hal buruk itu. Karena mereka
percaya sama alasan itu gitu. Alasan itu
tuh dilakukan demi kebaikan bersama.
Padahal enggak juga. Dan kalau misalnya
iya pun pertanyaannya sampai kapan gitu
loh ya? Mungkin sekarang perlakuan
buruknya masih bisa diterima gitu ya.
Tapi gimana kalau nanti oh saya membunuh
orang ini demi kebaikan gitu, demi el.
Ya itulah Hitler gitu ya. Apakah lu
setuju dengan Hitler atau tidak ya
enggak tahu sih ya. Tapi selain Hitler
juga kan ada banyak contoh lain di luar
sana gitu. Jadi hati-hati dengan jebakan
seperti ini. The end justifies the
means. Itu tuh hati-hatilah dengan
seperti itu. Karena mau sampai kapan the
end justifies the mean. Nah, jebakan
yang terakhir adalah sang idola atau si
pemimpin populis ini biasanya
memposisikan diri sebagai korban. Ini
mungkin jebakan yang hampir selalu ada
gitu ya di populisme. Jadi meskipun si
populis ini adalah orang paling populer
gitu ya, paling alfamil, paling ya
paling jadi raja atau ratu gitu ya,
punya influence yang besar, biasanya
figur populis ini akan selalu membangun
narasi bahwa dia yang korban gitu. Dia
memang raja, dia memang pemimpin negara
gitu, tapi dia adalah korban. Jadi
setelah melakukan hal buruk biasanya kan
si orang ini akan dapat kritik gitu ya.
Nah, tapi setiap kali ada kritik, setiap
kali ada berita negatif atau investigasi
itu akan dibingkai sebagai ini tuh
serangan terkoordinasi untuk membunuh
karakter gue gitu dari kekuatan jahat
yang terlihat. Padahal tiap hari dia
membunuh karakter orang lain ya kan? Dia
membunuh karakter orang yang enggak
setuju sama dia. Jadi yang dia lakuin
sebaliknya tapi dia selalu ngomong bahwa
gua adalah korban, gua adalah nabi yang
kebetulan mengalami hal buruk gitu. Nah,
ini tuh sangat efektif karena setiap
serangan orang itu jadi bukti gitu ya
kan. Jadi kayak nih lihat nih gua kan
jadi diserang ini gua yakin ada yang
orkestrasi nih ada dalangnya di
belakangnya karena kan enggak juga siapa
tahu ada orang nyerang ya memang karena
lu goblok aja gitu ya memang karena lu
melakukan hal buruk aja jadi orang
ngekritik lu gitu ya kan bukan berarti
semua orang ini bekerja sama untuk
membunuh karakter si orang ini kan
enggak juga gitu sementara fans-nya jadi
apa jadi makin fanatik gitu ya gara-gara
oh benar juga nih dia diserang sama apa
orang eksternal gitu ya gua harus defend
gua harus defend, defend, defend itu.
Nah, sekarang gimana caranya biar enggak
jadi pengikut loyalis yang bodoh gitu
ya. Sebenarnya lebih ke kita melindungi
diri kita aja sih dari pola pikir yang
ditanamkan kayak tadi gitu ya, yang
enggak sehat gitu buat pemikiran kritis
kita. Jadi jangan sampai kita yakin
bahwa cuma ada satu kebenaran tunggal
dan semua yang ada di eksternal atau
yang pandangannya berbeda sama lu itu
adalah musuh. Jadi jangan sampai lu
ngikut orang karena dia kritis gitu ya,
membranding dirinya sebagai orang yang
kritis, eh lu malah jadi goblok gitu
ngikutin orang tersebut gitu ya. Lu
malah jadi antikritik bukan malah lu
jadi kritis gitu. Nah, sebagai orang
yang gua yakin lu nonton ini, lu mungkin
mau sf development gitu ya, ini beberapa
mindset yang bisa lu latih. Pertama, lu
fokus ke metodenya juga bukan cuma
pesannya. Jadi ya mungkin pesannya baik
tapi lihat juga metodenya gitu. dia
gimana sih e orang yang lu follow ini
bangun argumennya? Apakah dia si orang
yang lu follow ini membedakan dunia jadi
hitam dan putih? Apakah dia ketika
berargumen merendahkan lawan diskusinya
dari awal atau sengaja ditutup nih ruang
untuk debat tuh sengaja ditutup dari
awal? Nah, itu lu harus waspada. Jadi
bukan cuma pesannya. Pesannya mungkin
benar, tapi ya metodenya juga lu lihat
gitu. apakah pakai cara yang buruk gitu
ya dan lain-lain. Yang kedua, lu juga
harus membedakan kritik terhadap argumen
sama serangan personal. Lu belajar kalau
role model lu itu melakukan ya serangan
personal ya berarti ini adalah
tanda-tanda. Wah, ini udah pakai taktik
populisme nih, gitu kan. Apalagi kalau
diikutin orang banyak, "Wah, ini orang
udah goblok-goblok berarti kan enggak
kritis gitu ya." Nah, lu kenali aja
gitu. Oh, ternyata ini orang mulai
enggak kritis. Ya udah, lu jangan
ikut-ikutan gitu kan. Dan jujur ya, ini
caranya gimana ya dengan dilatih dari
dikit-dikit gitu ya. Dilatih dikit-dikit
untuk ngelihat, oh ini sebenarnya
nyerang argumennya atau nyerang
orangnya. Dan yang ketiga, kalau
misalnya lu udah merasa superior, lu
lawan godaan perasaan tersebut. Merasa
superior memang enak ya. Jadi apalagi
kalau ada konten yang bikin lu ngerasa
lebih pintar atau lebih benar deh orang.
Nah, tapi justru ketika perasaan itu
muncul, lu coba waspada. Termasuk juga
konten gua ini gitu ya. Mungkin konten
gua juga tadi kan ada menghakimi orang
gitu ya, wah ini goblok-goblok
ikut-ikutan gitu dan lain-lain. Nah, lu
bisa coba waspada juga terhadap gua
gitu. Dan itu enggak apa-apa juga jangan
sampai lu jadi loyalis yang bodoh gitu
karena gua misalnya mengelus-ngelus ego
lu. Misalnya lu yang nonton di sini
pintar mau self development itu juga lu
waspada ini pengen ngapain sih gitu ya.
Nah, yang keempat adalah nah, lu harus
terbiasa mencari pendapat yang berbeda.
Jadi, kalau ada role model suatu orang
bilang A, ya lu coba cari argumen lah
yang lain, yang B, gitu. Lu coba cari
argumen lain yang C. Lu coba rangkum ke
gimana yang benar gitu ya. Dan mungkin
lu juga bisa cari tahu apakah perdebatan
ini penting atau tidak penting gitu.
Karena jangan-jangan enggak penting gitu
ya. Jangan-jangan mendingan lu kerja
gitu, mendingan lu nyari duit, mendingan
lu baca buku gitu. Gua enggak tahu ya,
maksudnya ya kan enggak semua perdebatan
juga harus diladenin gitu kan. Jadi
kalau ada perdebatan ya cari pendapat
yang berbeda. Kalau ada opini juga cari
second opinion dan kadang enggak semua
opini juga harus didengar gitu, kadang
ya harus dikip aja. Dan yang kelima
adalah ya ingat enggak ada manusia yang
100% rasional. Bahkan orang paling
pintar sekalipun ya Albert Einstein
gitu. dia juga sempat kena irasionalitas
gitu ya ketika udah ada teorinya udah
kebangun gitu ya ngomongin soal quantum
fysiks gitu ya dan lain-lain ya Einstein
juga enggak sempat enggak setuju tuh
sama yang seperti itu gitu ya padahal
buktinya menyatakan laine gitu kan jadi
orang terpintar di dunia aja bisa
seperti itu ya apalagi role model lu
yang enggak sepintar Einstein gitu ya
jadi ya mungkin lu mengidolakan orang
yang lu kagumi tapi ingat juga dia bisa
salah gitu dan ya enggak apa-apa juga
kan salah gitu enggak masalah pada
akhirnya ya tujuannya adalah gimana
caranya kita bukan menemukan role model
yang sempurna dalam tanda kutip, tapi
untuk kita menjadi pribadi yang lebih
baik, bisa mikir secara mandiri karena
di zaman sekarang itu makin susah untuk
berpikir kritis. Akhir ya, semoga video
ini bisa ngebantu lu. Please jangan
relate-relate ini sama ya berbagai macam
isu yang terjadi di lokal gitu ya. Ini
anggap aja sebagai pembelajaran gitu ya
untuk lu menghadapi dunia ini secara
holistik. Oke, gua Evan di 1%. Well,
thanks
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:09 UTC
Categories
Manage