Kind: captions Language: id Di awal video ini gua pengen minta lu coba ingat-ingat kondisi media sosial dan YouTube lu 10 tahun lalu. Sekitar tahun 2015 lah. Atau enggak usah 10 tahun lalu deh. Coba ingat kondisi YouTube dan sosial media di zaman COVID tahun 2019. Isinya mungkin ya foto liburan gitu kan, status alay, meme receh, orang lagi bikin Dalgona. Ya, lumayan adem ayam ya dibandingkan sama kondisi di tahun 2025. Gak ada tuh perang opini sampai viral, sampai klarifikasi di podcast-podcast, saling cancel satu sama lain, saling sebar aib. Beda banget sama sekarang. Lu buka medsos, mau Instagram, mau Twitter, ya itu kayak masuk ke medan perang, apalagi Twitter sih. Beda pendapat dikit soal politik, soal relationship atau bahkan soal cara masak mie instan itu bisa jadi bahan hujatan berjilid-jilit. Dan di tengah kebisingan ini sebetulnya muncul tren baru yang lumayan ekstrem. Jadi bukan lagi soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling dalam tanda kutip keras suaranya. Sekarang adalah zaman populisme, influencer yang paling kasar, paling polarizing, bikin polarisasi, paling pamer kekayaan, paling pamer kepintaran, merekalah yang akan menang dan dapat panggung. Mereka membangun pengikut itu biasanya ya bukan dengan diskusi, tapi dengan menciptakan drama dan memposisikan diri sebagai alfha yang gak bisa dibantah. Dan kalau lu ingat sosmate 10 atau 5 tahun lalu, kita pun tanpa sadar ikut terseret dalam arus tersebut. Dan di tahun 2025 ini wajar memang kita sebagai penonton di sosmet di YouTube itu haus ya akan informasi tuh yang benar gitu. Karena zaman sekarang informasi ya udah kebanyakan. suara yang benar, suara yang logis, fakta gitu ya, yang bisa jadi pegangan hidup kita tuh memang langka banget. Apalagi makin banyak pula konten-konten AI ya yang informasinya mungkin enggak jelas. Dan dari sana muncullah beberapa tokoh ya kan. Lu pun mulai nonton YouTube beberapa tokoh-tokoh baru sampai akhirnya lu nge-fans sama berbagai tokoh tersebut, baik dalam negeri dan luar negeri. Lu ikutin semuanya sampai bahkan drama-dramanya juga, jelek-jeleknya juga lu ikutin. Nge-fans itu enggak salah sih sebenarnya. Apalagi sama orang pintar, orang kaya itu ya wajar. Kita butuh yang namanya role model ya biar hidup kita bisa berubah. Tapi sadar atau enggak sadar kok sejak lu ngikutin orang ini tiba-tiba yang berubah bukan cuma hidup lu doang jadi lebih positif ya. Tapi kok mindset juga berubah gitu? Dulu mungkin lu bisa terbuka sama banyak opini, lu mungkin bisa santai menghadapi perbedaan. Lu enggak sestres itu ngelihat drama di sosmet. Tapi kok sekarang lu jadi cepat banget ya nge-judge orang lain? Entah itu karena dia miskin dan beropini atau karena lu ngelihat ada orang berargumen tapi penyampaiannya kurang baik gitu dan lain-lain. Dan kok mungkin lu sadar lu sekarang mungkin jadi lebih defensif di era sekarang. Nah, apa jangan-jangan kita semua bareng-bareng sekarang itu berhenti berpikir kritis karena konsumsi konten kita saat ini yang udah begajulan gitu loh. Nah, itu yang bakal gua bahas sekarang. Selamat datang di kelas kehidupan. Kita bakal bahas soal gejala hilangnya pemikiran kritis. Gua bakal bahas tanda-tandanya. Gua bakal bahas kenapa juga. Dan gua bisa argue ini tuh karena populisme dan karena sosial media. Welcome to 1% dan stay tune. Tonton video ini sampai habis. [Musik] Oke, Guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam Psikotes Premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lu bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi, setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin reportnya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren, kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/sicotespremium buat info lebih lanjut. Kalau kita mau jujur, ada satu hal utama yang bikin filter kritis kita tuh langsung mati. Apa itu? yaitu adalah narasi kita versus mereka. Nah, ini adalah resep paling ampuh dari para influencer di luar sana, dari para bahkan calon presiden di luar sana untuk mematikan logika dan menyalakan emosi. Kenapa? Karena narasi ini tuh langsung menargetkan dua tombol paling sensitif di otak kita, yaitu adalah perut dan juga rasa takut. Apalagi kita tahu sekarang ekonomi lagi sulit dan kalau ekonomi lagi sulit, cari kerja sulit, harga-harga naik, kita jadi lebih cemas. Di sinilah otak kita tuh butuh penjelasan yang simpel. Kita tuh butuh kambing hitam, butuh orang buat disalahin. Nah, figur populis kayak influencer, kayak calon presiden, kayak siapapun, gua enggak bilang ini di Indonesia ya, karena di luar juga sama kejadian. Ini bisa aja memanfaatkan momen kesulitan ini tuh dengan sangat perfect ya. Dan ciri-ciri ketika ada orang yang memanfaatkan ketidakkritisan orang itu biasanya pakai tiga hal. Pertama, biasanya mereka ngasih penjelasan yang gampang. Contoh, lu tuh miskin atau lu tuh susah bukan karena sistem ekonomi segala macam, tapi karena mereka. Nah, mereka ini bisa siapa? Bisa banyak ya, bisa Yahudi lah, bisa SJW lah, bisa oligarki, bisa inflasi, bisa juga bisa apa aja sebenarnya. Jadi penjelasannya tuh simpel, gampang di mengerti. Nah, yang kedua tandanya adalah biasanya mereka ini menciptakan musuh bersama. Tiba-tiba yang jadi masalah tuh bukan lagi kayak gaji lu kecil gitu ya dan lain-lain, tapi yang masalah adalah elit global misal. Yang jadi masalah adalah oh kelompok ini nih yang bermasalah dan lain-lain. Jadi biasanya mereka menciptakan musuh bersama. Itu yang kedua. Yang ketiga adalah janji pahlawan. Nah, ini gampang banget ya diidentifikasi karena biasanya mereka-mereka ini yang manfaatkan ketidakkritisan el. Gua ngerti kok penderitaan lu. Gua janji bakal ngebantu lu jadi X Y Z. Gua berani kok ngelawan mereka. gua bakal jadi hero lu dan lain-lain. Nah, ketika tiga narasi seperti ini digabungin gitu ya, terus dilempar, nah otak kritis manusia itu biasanya langsung shutdown. Kenapa? Karena kita enggak lagi nganalisis data. Justru kita malah oh benar juga ya dia yang harus disalahin. Jadi kita malah menyetujui oh bahwa ini sesuatu tuh harus disalahkan. Kita bahkan enggak bertanya, "Oh, gimana solusinya menurut gua?" Tapi justru kita malah semangat sama oh ternyata ini musuhnya gitu. Jadi narasi kita versus mereka yang ini banyak sekali ya di dunia YouTube dan sosmap Indonesia maupun luar negeri ini tuh mengubah diskusi publik gitu ya dari adu argumen dari adu data menjadi adu loyalitas gitu dan di situlah pemikiran kritis orang tuh bisa mati. Jadi ini saran pertama dari gua ya lu harus hati-hati sama siapapun yang menawarkan narasi seperti ini. Karena siapapun yang mengatakannya biasanya punya tujuan tertentu untuk memanfaatkan lu supaya lu bisa jadi loyalis. Tapi bukan loyalis pintar ya untuk jadi loyalis yang bodoh. Kalau kondisi ekonomi itu adalah korek apinya dan populisme dengan strategi tadi itu adalah orang yang memegang korek apinya, maka media sosial itu adalah bensinnya yang bisa bikin semuanya jadi kebakar. Polarisasi zaman sekarang itu jadi jauh lebih parah karena algoritma. Orang makin enggak kritis. Karena apa? Karena algoritma YouTube, TikTok, dan Twitter itu dirancang buat satu hal itu untuk engagement, menahan lu untuk memakai platform itu selama mungkin. Caranya gimana? Ya caranya adalah dengan mereka ngasih lu konten yang lu suka, yang lu setujui. Lu nonton satu video nih ya, yang nyalahin pemerintah, itu algoritma bakal ngasih 10 lagi yang lebih ekstrem. Lu nonton satu konten tentang cewek seksi gitu ya, itu explore lu bakal isinya cewek seksi semua. FYP lu juga sama. Lu suka nonton konten dari kubu A bukan kubu B. Lu enggak akan pernah lagi lihat argumen bagus dari kubu lainnya. Dan algoritma ini enggak peduli benar atau salah. Dia cuma peduli sama satu hal. Dia cuma peduli sama engagement. Ya memang ada konten yang bisa kita report. Memang kadang konten ke flex sebagai spam atau hoa gitu ya. Tapi nyatanya ya tetap aja banyak iklan judul kan. Tetap aja banyak konten-konten hoa beredar gitu. Jadi algoritma ini memang secara utamanya ya tidak peduli benar atau salah. Jadi engagement itu yang utama. Konten yang paling memancing emosi, marah, benci gitu ya, itu adalah yang paling banyak mendapatkan interaksi. Jadi kita itu sekarang sedang hidup di dalam ecochamber. Jadi ruang yang bergema gitu. Keyakinan kita itu akan terus dikonfirmasi. Jadi akan terus mantul seperti gema ecochamber, Guys. Kita jadi terisolasi juga dari sudut pandang lain karena kita hidup di dalam goa doang. Goa konten yang setuju sama kita doang. Di dalam gelembung ini, kebencian kita terhadap orang lain yang beda pendapat sama kita, yang hidup di gua yang berbeda, yang berlawanan, itu bakal makin meningkat. Dan sekalinya kita dapat pendapat lain, bisa aja kita enggak baca, bisa aja kita enggak nonton keseluruhan argumennya. Lihat judul ke comment section, lihat komen yang enggak setuju, kita like, kita reply komen tersebut, selesai. Ada yang pernah kayak gitu enggak? Gua jujur pernah dan ya mungkin gua mulai sadar kok gua jadi kayak enggak terlalu kritis ya. Jadi, gua juga ngerasain hal yang sama, Guys. Contoh gampang dan ekstrem soal fenomena ini itu sebenarnya enggak ada contoh lain selain Donald Trump ya, yang paling bagus gitu. Karena contoh ini tuh hampir bikin dia jadi presiden ya kan. Dia adalah master dari populism di era modern. Dia tuh naik ke kekuasaan itu dengan menyuarakan kecemasan siapa? tidak lain dan tidak bukan menurut dia adalah para pekerja di US yang ya of course merasa ditinggalkan oleh elit politik ya di zaman sebelum dia gitu. Jadi jago banget tuh dia membikin narasi-narasi populisme ini. Jadi selalu kita versus mereka. Selalu kita yang adalah rakyat, kita yang adalah pekerja keras versus mereka. Mereka tuh siapa ya? Elit korup lah, media fake news lah, imigran lah, negara lain lah gitu ya. China, China, China. Narasinya tuh jelas negara Amerika itu hancur karena mereka ya mereka ini bisa siapapun ya mengkhianati kita dan cuma gua Donald J Trump gitu ya yang bisa menyelamatkan dan dia membuktikan beberapa ya perang beberapa ya terhenti sementara gitu tapi ya banyak juga hal-hal yang problematik ya dari sana gitu. Nah, makanya selanjutnya kita bakal bahas soal jebakan-jebakan kalau lu udah kemakan sama yang beginian. Dan orang yang begini tuh enggak berarti jelek gitu ya. Populisme tuh enggak berarti orangnya tuh selalu jelek. Tapi jangan sampai pemikiran kritis kita itu jadi hancur gara-gara orang seperti ini yang mempolarisasi, yang berjanji sebagai pahlawan, yang seperti NPD gitu, seperti megalomania gitu ya. Nah, gua bakal bahas tentang ya jebakan ketika lu udah gak kritis dan lu udah terjebak sama populisme. Tonton sampai habis karena ini bagian yang penting nih. Jebakan pertama, el udah mulai merasa jadi bagian dari kubu yang pintar. Sementara orang lain yang di luar kubu itu bodoh. Nah, ini adalah taktik terselubung sebenarnya. Dan biasanya seorang figur populis seperti ini itu akan selalu meyakinkan para pengikutnya gitu ya. bahwa mereka adalah kelompok yang spesial, bahwa mereka adalah smart people, bahwa mereka adalah orang yang lu udah cerdas nih dengan lu nonton gua, lu tuh cerdas, lu tuh kritis karena lu punya pendapat sama kayak gua dan lain-lain. Sementara itu, siapapun yang tidak setuju, tidak menonton, atau tidak pakai cara mereka, secara otomatis akan diberi label lain. Ya, labelnya tuh banyaklah. Entah itu bodoh, miskin, sesat pikir, antek asing, dan lain-lain. Taktik ini tuh biasanya membuat kita yang nonton itu merasa superior dan kita merasa eksklusif banget gitu. Ini kelompok tuh kelompok memang memang pintar banget gua gitu kan. Nah, kalau lu udah merasa kayak gitu, lu berarti udah dibodohi, Guys, ya. Lu udah tidak kritis karena belum tentu kelompok lu yang paling pintar ya kan. Apalagi kalau lu udah malas ngedengerin opini dari luar kelompok lu, ya. Lu ngerasa buat apa gua dengerin argumen orang ini yang gua anggap bodoh gitu. Nah, di sinilah pintu diskusi lu udah tertutup dan loyalitas yang buta ini dimulai. Lu juga udah mulai mikir, "Oh, ini orang ini enggak sacientifik. Gua enggak mau dengar. Oh, ini orang enggak kaya. Oh, gua enggak mau dengar ah. Oh, ini orang ngomongnya enggak pakai rumus matematika. Gua enggak mau dengar ah." gitu. Jadi, banyak sebenarnya ya narasi-narasi seperti itu dan gua menyarankan untuk ya jangan sampai itu menutup pintu diskusi, pintu perdebatan gitu loh. Itu jebakan pertama. Jebakan kedua, debat itu jadi enggak penting. Yang penting adalah menyerang orangnya. Nah, ini adalah jurus klasik dari para tokoh populis yang biasa kita bisa sebut sebagai adhominum. Jadi kalau didebat ya daripada mereka capek-capek membantah argumen dengan data, dengan logika, sangat jauh lebih mudah untuk menyerang karakter pribadi orang yang menyerang tersebut. Nah, figur populis ini bisa memanfaatkan ini banget gitu ya. Mereka tuh biasanya menciptakan julukan-julukan yang merendahkan gitu ya. mempertanyakan motif lu apa nih, lu ngapain nih ngelawan gua gitu atau mengungkit-ngungkit sesuatu entah itu aib lah, entah itu masalah sebelumnya yang tidak relevan dengan topik debat. Tujuannya apa? Tujuannya adalah pembunuhan karakter lawan bicara di mata publik. Dan sebenarnya enggak masalah gitu ya, mau itu benar atau salah gitu. Kalau audiens sudah terlanjur benci dengan orangnya, ya mereka enggak akan peduli lagi sebagus apapun argumen dari lawan bicara ini. Itulah triknya. Jebakan ketiga. Jebakan ketiga ini adalah menjustifikasi perlakuan buruk demi kebaikan. Nah, ini jebakan yang mungkin sulit dilihat. Jadi, figur-figur populis itu seringkiali melakukan hal-hal yang problematik. Misalnya merendahkan orang lain, menyebarkan data yang salah gitu ya, pakai cara-cara yang mungkin negatif atau kasar. Nah, tapi kalau sudah mulai dikritik, nah biasanya itu akan dibingkai sebagai sesuatu yang oh ini perlu nih perlu dilakukan ini untuk tujuan yang lebih besar untuk kebaikan semuanya. Jadi logikanya adalah oh ya memang gua melakukan hal ini gitu, tapi ini perlu untuk melawan mereka yang lebih jahat gitu atau gua kepaksa berbohong cuy demi kebaikan yang lebih besar. Nah ini sebenarnya adalah mentalitas the end justifies the means. Jadi tujuan bisa menghalalkan cara dan biasanya followers-nya pun akan memaklumi gitu, oh enggak apa-apalah dia melakukan hal buruk itu. Karena mereka percaya sama alasan itu gitu. Alasan itu tuh dilakukan demi kebaikan bersama. Padahal enggak juga. Dan kalau misalnya iya pun pertanyaannya sampai kapan gitu loh ya? Mungkin sekarang perlakuan buruknya masih bisa diterima gitu ya. Tapi gimana kalau nanti oh saya membunuh orang ini demi kebaikan gitu, demi el. Ya itulah Hitler gitu ya. Apakah lu setuju dengan Hitler atau tidak ya enggak tahu sih ya. Tapi selain Hitler juga kan ada banyak contoh lain di luar sana gitu. Jadi hati-hati dengan jebakan seperti ini. The end justifies the means. Itu tuh hati-hatilah dengan seperti itu. Karena mau sampai kapan the end justifies the mean. Nah, jebakan yang terakhir adalah sang idola atau si pemimpin populis ini biasanya memposisikan diri sebagai korban. Ini mungkin jebakan yang hampir selalu ada gitu ya di populisme. Jadi meskipun si populis ini adalah orang paling populer gitu ya, paling alfamil, paling ya paling jadi raja atau ratu gitu ya, punya influence yang besar, biasanya figur populis ini akan selalu membangun narasi bahwa dia yang korban gitu. Dia memang raja, dia memang pemimpin negara gitu, tapi dia adalah korban. Jadi setelah melakukan hal buruk biasanya kan si orang ini akan dapat kritik gitu ya. Nah, tapi setiap kali ada kritik, setiap kali ada berita negatif atau investigasi itu akan dibingkai sebagai ini tuh serangan terkoordinasi untuk membunuh karakter gue gitu dari kekuatan jahat yang terlihat. Padahal tiap hari dia membunuh karakter orang lain ya kan? Dia membunuh karakter orang yang enggak setuju sama dia. Jadi yang dia lakuin sebaliknya tapi dia selalu ngomong bahwa gua adalah korban, gua adalah nabi yang kebetulan mengalami hal buruk gitu. Nah, ini tuh sangat efektif karena setiap serangan orang itu jadi bukti gitu ya kan. Jadi kayak nih lihat nih gua kan jadi diserang ini gua yakin ada yang orkestrasi nih ada dalangnya di belakangnya karena kan enggak juga siapa tahu ada orang nyerang ya memang karena lu goblok aja gitu ya memang karena lu melakukan hal buruk aja jadi orang ngekritik lu gitu ya kan bukan berarti semua orang ini bekerja sama untuk membunuh karakter si orang ini kan enggak juga gitu sementara fans-nya jadi apa jadi makin fanatik gitu ya gara-gara oh benar juga nih dia diserang sama apa orang eksternal gitu ya gua harus defend gua harus defend, defend, defend itu. Nah, sekarang gimana caranya biar enggak jadi pengikut loyalis yang bodoh gitu ya. Sebenarnya lebih ke kita melindungi diri kita aja sih dari pola pikir yang ditanamkan kayak tadi gitu ya, yang enggak sehat gitu buat pemikiran kritis kita. Jadi jangan sampai kita yakin bahwa cuma ada satu kebenaran tunggal dan semua yang ada di eksternal atau yang pandangannya berbeda sama lu itu adalah musuh. Jadi jangan sampai lu ngikut orang karena dia kritis gitu ya, membranding dirinya sebagai orang yang kritis, eh lu malah jadi goblok gitu ngikutin orang tersebut gitu ya. Lu malah jadi antikritik bukan malah lu jadi kritis gitu. Nah, sebagai orang yang gua yakin lu nonton ini, lu mungkin mau sf development gitu ya, ini beberapa mindset yang bisa lu latih. Pertama, lu fokus ke metodenya juga bukan cuma pesannya. Jadi ya mungkin pesannya baik tapi lihat juga metodenya gitu. dia gimana sih e orang yang lu follow ini bangun argumennya? Apakah dia si orang yang lu follow ini membedakan dunia jadi hitam dan putih? Apakah dia ketika berargumen merendahkan lawan diskusinya dari awal atau sengaja ditutup nih ruang untuk debat tuh sengaja ditutup dari awal? Nah, itu lu harus waspada. Jadi bukan cuma pesannya. Pesannya mungkin benar, tapi ya metodenya juga lu lihat gitu. apakah pakai cara yang buruk gitu ya dan lain-lain. Yang kedua, lu juga harus membedakan kritik terhadap argumen sama serangan personal. Lu belajar kalau role model lu itu melakukan ya serangan personal ya berarti ini adalah tanda-tanda. Wah, ini udah pakai taktik populisme nih, gitu kan. Apalagi kalau diikutin orang banyak, "Wah, ini orang udah goblok-goblok berarti kan enggak kritis gitu ya." Nah, lu kenali aja gitu. Oh, ternyata ini orang mulai enggak kritis. Ya udah, lu jangan ikut-ikutan gitu kan. Dan jujur ya, ini caranya gimana ya dengan dilatih dari dikit-dikit gitu ya. Dilatih dikit-dikit untuk ngelihat, oh ini sebenarnya nyerang argumennya atau nyerang orangnya. Dan yang ketiga, kalau misalnya lu udah merasa superior, lu lawan godaan perasaan tersebut. Merasa superior memang enak ya. Jadi apalagi kalau ada konten yang bikin lu ngerasa lebih pintar atau lebih benar deh orang. Nah, tapi justru ketika perasaan itu muncul, lu coba waspada. Termasuk juga konten gua ini gitu ya. Mungkin konten gua juga tadi kan ada menghakimi orang gitu ya, wah ini goblok-goblok ikut-ikutan gitu dan lain-lain. Nah, lu bisa coba waspada juga terhadap gua gitu. Dan itu enggak apa-apa juga jangan sampai lu jadi loyalis yang bodoh gitu karena gua misalnya mengelus-ngelus ego lu. Misalnya lu yang nonton di sini pintar mau self development itu juga lu waspada ini pengen ngapain sih gitu ya. Nah, yang keempat adalah nah, lu harus terbiasa mencari pendapat yang berbeda. Jadi, kalau ada role model suatu orang bilang A, ya lu coba cari argumen lah yang lain, yang B, gitu. Lu coba cari argumen lain yang C. Lu coba rangkum ke gimana yang benar gitu ya. Dan mungkin lu juga bisa cari tahu apakah perdebatan ini penting atau tidak penting gitu. Karena jangan-jangan enggak penting gitu ya. Jangan-jangan mendingan lu kerja gitu, mendingan lu nyari duit, mendingan lu baca buku gitu. Gua enggak tahu ya, maksudnya ya kan enggak semua perdebatan juga harus diladenin gitu kan. Jadi kalau ada perdebatan ya cari pendapat yang berbeda. Kalau ada opini juga cari second opinion dan kadang enggak semua opini juga harus didengar gitu, kadang ya harus dikip aja. Dan yang kelima adalah ya ingat enggak ada manusia yang 100% rasional. Bahkan orang paling pintar sekalipun ya Albert Einstein gitu. dia juga sempat kena irasionalitas gitu ya ketika udah ada teorinya udah kebangun gitu ya ngomongin soal quantum fysiks gitu ya dan lain-lain ya Einstein juga enggak sempat enggak setuju tuh sama yang seperti itu gitu ya padahal buktinya menyatakan laine gitu kan jadi orang terpintar di dunia aja bisa seperti itu ya apalagi role model lu yang enggak sepintar Einstein gitu ya jadi ya mungkin lu mengidolakan orang yang lu kagumi tapi ingat juga dia bisa salah gitu dan ya enggak apa-apa juga kan salah gitu enggak masalah pada akhirnya ya tujuannya adalah gimana caranya kita bukan menemukan role model yang sempurna dalam tanda kutip, tapi untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, bisa mikir secara mandiri karena di zaman sekarang itu makin susah untuk berpikir kritis. Akhir ya, semoga video ini bisa ngebantu lu. Please jangan relate-relate ini sama ya berbagai macam isu yang terjadi di lokal gitu ya. Ini anggap aja sebagai pembelajaran gitu ya untuk lu menghadapi dunia ini secara holistik. Oke, gua Evan di 1%. Well, thanks [Musik]