Wajibkah Anak Berbakti (baca: Menafkahi) Orang Tua?
DGcA1IaxHy8 • 2025-06-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Lu pernah kepikiran enggak sih kalau lu
enggak ngasih uang ke orang tua, enggak
ngasih nafkah, apakah itu durhaka? Atau
ketika orang tua lu punya hutang, apakah
lo yang harus bayarin sebagai anaknya?
Hari ini kita bakal bahas sesuatu yang
lumayan sensitif tapi penting banget
buat rakyat Indonesia, terutama Genzi,
yaitu soal berbakti kepada orang tua.
Faktanya banyak dari kita yang tumbuh
dalam budaya yang nganggap bahwa anak
baik itu ya yang rajin ngasih uang.
Masalahnya kalau kita aja sebagai anak
itu masih struggling itu gimana? Kalau
kita sebagai anak jadi kehilangan
cita-cita dan mimpinya itu gimana. Kalau
kita sebagai anak ternyata ngasih tapi
enggak ikhlas, itu gimana? Welcome to
Psychology of Finance. Kita bakal bahas
tentang berbakti kepada orang tua.
Welcome toychology of finance.
secara hukum dan agama. Well, kita semua
bisa setuju anak memang punya sedikitlah
kewajiban membantu orang tua yang tidak
mampu. Seenggaknya ya dibantu sih. Tapi
kenyataannya hari ini ya banyak ya orang
tua generasi X, generasi boomers yang
enggak siap melahirkan anak yang
akhirnya melahirkan Gen
bisa mengurus para Genenials ini dengan
baik. Dan faktanya banyak juga anak muda
yang sampai sekarang belum punya rumah,
belum mapan secara finansial, bahkan
masih ngutang tapi dituntut oleh orang
tua untuk menafkahi juga. Masalahnya
gini, ini salah siapa? Apakah salah orto
yang enggak bisa mendidik anak
sepenuhnya? Apakah salah orto yang tidak
bisa mandiri sepenuhnya sampai tua? Ya
mungkin enggak juga ya. Karena ya
namanya zaman berubah. Kita ngelihat
inflasi dari tahun 2000, dari tahun
1990-an itu terjadi setiap tahun. Kita
lihat perkembangan teknologi, kita lihat
perkembangan kapitalisme. Banyak sekali
manusia yang enggak bisa keep up dengan
segala perkembangan ini. Yang akhirnya
banyak dari mereka yang gajinya stagnan
atau malah menurun setiap tahun. Kita
belum ngomongin hei ya. Menariknya
mayoritas anak muda di Indonesia masih
sandwich ya. Sekitar 64% itu adalah
sandwich generation. Terjepit antara
menafkahi keluarga sendiri dan menafkahi
orang tua serta adik atau kakak. Bahkan.
Fenomena ini adalah ketika orang tua itu
gak punya kerjaan dan adik juga masih
butuh di-support atau kakak juga bahkan
jadi dalam tanda kutip beban. Jadinya
semuanya jatuh ke si anak ini yang ada
di tengah-tengah. Dan ini bukan cuma
masalah ekonomi, ini juga masalah mental
health. Ya, dampaknya ke mental tuh
kerasa banget. Lu mungkin ngerasa
bersalah karena enggak bantu orang tua.
Lu mungkin ngerasa capek sampai burn
out. Lu mungkin jadi enggak punya waktu
buat diri sendiri. Boro-boro mikirin
mimpi ya. Lu mikirin makan buat besok
aja mungkin susah. Kondisi ini ya tentu
bisa menimbulkan tekanan psikologis.
Niatnya berbakti tapi malah burn out.
Masih mending ya kalau orang tua, adik,
kakak di rumah itu berusaha juga. Misal
nyoba buat kerja, nyoba buat usaha,
nyoba buat mungkin menenangkan kita
secara mental. Tapi faktanya banyak
sekali ya keluarga kita yang akhirnya
nyerah sama kehidupan, jadi beban
masyarakat atau malah jadi makin
menuntut anaknya dengan nominal
tertentu. Kalau udah gini salah enggak
sih kalau kita sebagai Genzi, sebagai
milenials itu berontak? Misal dengan
kabur dari rumah, enggak ngasih sesuai
nominal yang dituntut atau dengan kata
lain dalam tanda kutip ya jadi egois
lah. Salah enggak sih kalau misalnya
kita memilih untuk kayak gitu?
Kalau misalnya kita nanya pandangan
berbagai ahli, especially ahli agama ya,
misalnya ustaz gitu, ini jadi pro kontra
banget. Gua udah searching beberapa ada
yang bilang harus bantu, ada juga yang
bilang enggak wajib ya, kecuali memang
udah di tahap ekstrem. Tapi kalau dari
perspektif 1% gini sih, pertama anak itu
gak minta buat dilahirin. Kedua, anak
juga sebetulnya adalah tanggung jawab
orang tua. Dan kita juga lihat dunia
berubah sekarang anak terutamazy. E di
milenial sih enggak terlalu kerasa, tapi
di Jenzi itu mereka mulai sadar kalau
mereka tuh punya banyak keinginan.
Mereka juga mulai sadar kalau Ortu itu
tidak bisa memaksa mereka. Karena kalau
semakin dipaksa apalagi Gen ini mungkin
lebih batuh ya daripada generasi
sebelumnya ya mereka bisa cabut aja. Dan
banyak juga para genlakuan
orang tua mereka tuh enggak adil. Karena
ya ibaratnya gini, kalau gue aja enggak
diurus dengan baik oleh orang tua gue,
ya kenapa gue harus ngurus balik orang
tua gua? Jadi salah atau enggak? Ya,
kontekstual banget ya sebenarnya
pertanyaannya. Karena gini, ada Ortu
yang udah melakukan sebaik-baiknya, udah
jadi baik banget ke anaknya, eh malah
ditinggal. Tapi di sisi lain ada juga
Ortu yang anaknya nih udah melakukan
yang terbaik sampai burn out malah, tapi
malah orang tuanya makin maki-maki,
makin nuntut anak tersebut. Ada juga
kasus Ortu yang gak pernah nyoba buat
melakukan yang terbaik. Bahkan ya sampai
anaknya dewasa, sampai orang tuanya
meninggal. Gua dengar banyak banget
kasus kayak ini di mana orang tua
tersebut sampai sakit-sakitan anaknya
enggak pernah datang. Ini juga banyak.
Ada juga kasus anak yang berjuang ya
ngebiayain dari umur belasan terus
berhasil. Itu ada sampai viral gitu ya.
Tapi ada juga anak yang memilih untuk
kabur gitu terus balik bertahun-tahun
kemudian setelah berhasil itu juga ada.
Jadi pada akhirnya ya kalau ngomongin
benar atau salah, baik atau buruk ya itu
kontekstual. Tergantung gimana
hubungannya orang tua dan anak ini.
Tergantung juga si anak udah nyoba apa
belum, tergantung juga opportunity
cost-nya. Karena terkadang ya sebenarnya
juga enggak bisa nyalahin anak. Kadang
anak itu adalah cerminan hasil kerja
ortu ya. Jadi buat ini ortu-ortu yang
pada nonton, lu enggak bisa nih nyalahin
anak lu kalau akhirnya dia enggak punya
attachment sama lu gitu. Karena kalau
pola asuh lu tidak baik nih sebagai
orang tua sejak kecil gitu, ya susah
juga buat anak untuk attach dan untuk
peduli juga sama orang tua. Kalau
misalnya dari dulu ya kita nih sebagai
orang tua misalnya itu enggak benar gitu
anaknya. Mungkin kita marah-marah terus
atau gimana atau malah sampai KDRT gitu
ya. Karena banyaklah kasusnya kita bisa
baca di Twitter gitu. Lu cari trade soal
orang tua sandwich generation itu banyak
banget di komunitas marah-marah gitu ya.
Itu banyak bangetlah. Di sisi lain ini
kalau dari perspektif anak ya anak juga
banyak yang kurang ajar sebenarnya. Jadi
banyak yang akhirnya cabut gitu. Tapi ya
dari perspektif anak jangan lupa nih
buat lu para anak yang baca yang
sandwich nih. Kalau kesulitan ya jangan
lupa dibantu ya. Meskipun tetap kita
harus punya pendirian ya, harus punya
batasan juga. Jangan sampai nih hidup
kita malah jadi ikutan hancur karena
keteledoran orang tua secara finansial
ataupun secara mental. Nah, di chapter
terakhir gua bakal jelasin solusi
idealnya gimana ya.
Pada akhirnya solusi idealnya sebenarnya
adalah ya bantu sebisa kita sih sebagai
anak dan sesuai kebutuhan orang tua
juga. Jadi hal pertama yang harus kita
ketahui adalah bedakan antara kebutuhan
dan keinginan dari orang tua. Kebutuhan
itu simpel ya, sandang, pangan, papan.
Ya, mungkin satu lagi wifi kali. Kalau
ketiga atau keempat hal itu sudah
terpenuhi, sisanya ya adalah keinginan.
Jadi misalnya orang tua lu pengin beli
tas branded, ya itu keinginan. Pengin
beli mobil ya kalau enggak butuh-butuh
amat bisa naik MRT ya itu keinginan.
Jangan lupa batasi. Jangan sampai
keluarga lu ini. Lu sebagai anak mungkin
udah punya keluarga inti ya. Keluarga
inti tuh ada. Lu ada suami mungkin ada
anak lagi. Suami istri kalian malah jadi
enggak makan karena lu harus ngasih
keinginan orang tua lu. Itu menurut gua
sih udah salah ya. Jadi utamakan dulu
keluarga inti baru orang tua. Dan
sebenarnya ya memang kedua keduanya
harus bisa ya kalau bisa. Tapi cukupkan
dulu pada kebutuhan. Jadi dua-duanya
nih. Keluarga inti kebutuhan dulu apa?
Keluarga besar itu baru kebutuhannya
apa, gitu. Jadi cukupkan dulu pada
kebutuhan. Kalau memang lu belum mampu
ngasih lebih. Jangan-jangan lebih baik
duitnya ditabung dulu atau lu beliin
asuransi mungkin buat mereka gitu ya.
Kalau misal sakit atau segala macam
urgen jadi bisa ke-cover atau mungkin
malah duitnya lebih baik buat lu ngasah
skill, lu ikut bootcam atau apa biar lu
bisa jadi lebih jago dalam kerjaan lu
daripada lu ngasih keinginan ke orang
tua yang sebenarnya ya enggak bisa
dibilang urgen lah. Mungkin penting ya,
important ya but not urgent lah. Tapi
kalau misalnya soal kebutuhan ya mungkin
kita sebagai sandwich generation ya
harus memaksakan ya karena ya enggak
mungkin dong kita biarin or tuh tanpa
sandang, tanpa pangan, atau tanpa papan.
Tapi di luar itu ya bisa ditunda
dikit-dikit lah. Tapi cara nundanya
gimana? Nah, ini masuk ke poin kedua.
Jangan lupa komunikasi dengan jujur
mulai dari ngobrol. Jadi jangan langsung
dikit-dikit ngasih, jangan langsung juga
dikit-dikit nolak. Lu harus bicarain
kondisi lu dengan jujur. J misalnya Bu,
Pak, gua pengin bantu. Adik atau kakak
pengin bantu, tapi saat ini adik atau
kakak itu lagi ngejar dana darurat dan
cicilan dan lain-lain. Jadi cuma segini
nominalnya. misal sejuta lah, R2 juta
atau Rp500.000 yang lu bisa sekarang.
Jadi bukan berarti lu enggak sayang,
tapi justru karena lu peduli lu jujur
karena lu pengin ini jadi hubungan yang
sustainable. Nah, kalau misalnya terjadi
penolakan ya itu biasalah. Namanya juga
saling nego kan. Tapi ingat, lu berhak
untuk punya pendirian karena siapa tahu
ya ini siapa tahu ada opportunity cost
di mana dana yang lu pakai buat kuliah,
buat ikut bootcamp, buat upgrade diri
itu bisa ngasilin return yang berlipat
ganda yang akhirnya dalam beberapa bulan
atau berapa tahun itu bisa nge-cover
sampai bertahun-tahun kemudian daripada
lu ngikutin nurutin keinginan orang tua
lu. Ingat ya, di sini konteksnya
keinginan bukan kebutuhan. Kalau
kebutuhan ya harus diutamain, dipaksain.
Pinjol ya sekalian ya daripada enggak
bisa makan ya mendingan pinjol gitu kan.
Tapi itu untuk kebutuhan ya. Kalau buat
keinginan jangan ya jangan dipaksakan.
Yang ketiga, nah rencanakan keuangan
bareng. Nah ini sering kali jadi banyak
sekali ya. Jadi sandwich tuh gara-gara
kebodohan atau kesalahan orang tua.
Misal orang tua investasi bodong, orang
tua tiba-tiba nyicil rumah, tiba-tiba
nyicil mobil, nyicil motor segala macam,
tiba-tiba pinjol, tiba-tiba apa gitu. El
harus coba untuk mengontrol hal ini.
Karena seberapapun yang lu kasih, kalau
orang tua lu habisin lagi ke hal-hal
yang enggak penting, misal dia
mabok-mabokan gitu, ya, lu kasih duit
dia dipakai mabok, dipakai rokok, bukan
dipakai makan gitu. Itu kan sebenarnya
goblok juga. Sori, kasar ya. Abi itu
sebenarnya goblok juga gitu kan. Jadi
kalau memungkinkan lu kontrol ya
kegoblogan-kegoblogan itu. Jadi ajak
orang tua dan juga saudara-saudara lu,
keluarga besar lu lah untuk rencanain
keuangan bareng. Sulit atau mudah? Ya
sulit karena di negara timur kita enggak
terbiasa dengan hal ini. Tapi transparan
soal pengeluaran dan pemasukan keluarga
itu penting karena dari sini kita bisa
tahu siapa dan berapa yang harus
dikontribusikan. Coba cek ya. Pertama
pengeluaran bisa enggak dikurangin?
Orang tua lu boros apa enggak? orang tua
lu pemasukannya berapa gitu. Ada enggak
sih pemasukan lain yang bisa
dimaksimalin? Bisa enggak sih lu bikin
misalnya warung atau bisnis
kecil-kecilan di rumah? Ya siapa tahu
kan. Terus prioritas utama dari orang
tua lu, dari lu tuh apa? Sekarang, lu
harus mendiskusikan itu. Karena kalau
enggak transparan ya susah juga. Dan
jangan sampai kita hanya kita sendiri
yang memikul beban. lu harus ajak adik,
lu harus ajak kakak lu, bahkan kalau
bisa ajak saudara lu juga yang peduli
sama lu. Karena gini, biaya urunan,
biaya bareng-bareng ya gitu di- sharing
bebannya itu pasti lebih ringan daripada
kalau hanya kita sendiri yang memikul.
Kayak di film apa ya? Gua lupa lah. Ada
filmnya yang Sandwich Generation juga
tuh. Jadi harus berani sharing beban
juga.
Yang keempat menurut gua ya ini menurut
gua kabur aja dulu itu juga enggak
masalah. kabur aja dulu tuh bukan cuma
ke luar negeri ya ternyata, tapi juga
kabur aja dulu dari rumah ke manaun.
Karena gini, kalau kondisi rumah tuh
udah toxic dan gua ngomong toxic di sini
bukan cuma secara mental ya. Karena
kayak kalau ngomongin toxic verbal,
mental gitu kayak ya mungkin abu-abu lah
ya di sana gitu ya. Mungkin orang tua
kita jahat secara verbal dan lain-lain
ya bisa aja ada yang kuatlah menahan itu
ya menahan biaya mentalnya gitu. Tapi
gua ngomongin di sini toxic tuh misal
orang tua di rumah sampai KDRT berantem
mulu. Lu jadi gak kondusif dalam kerja,
lu gak bisa mikir jernih. Cabut itu
menurut gua enggak salah sama sekali ya.
Karena gini, kalau kita stres, mau
naikin penghasilan, mau belajar, mau
upgrade diri, lu mau ngapain di rumah
juga sulit, cuy. Rumah lu bukan tempat
yang aman buat lu, gitu. Apalagi lu
sampai dipukul lah. Ya, jangan-jangan
kita justru butuh mikir jernih gitu.
Kita butuh ketenangan. Kalau kita butuh
seperti itu, ya cabut aja dulu. Tapi
apakah balik lagi? Ya, balik lagi of
course di kemudian hari. Kalau misalnya
kita pertama kita udah dewasa, kedua
kita udah lebih tenang, ketiga kita
punya tabungan lebih. Jadi apa? Jadi
kita punya leverage, jadi kita punya
daya tawar juga dan kita juga punya
power gitu untuk ngebantu keluarga kita.
Daripada kita stay at home makin stres,
mungkin gua enggak tahu ya ada hal
negatif terjadi di rumah ya cabut.
Menurut gua it's ok sih kalau kondisinya
bahkan udah sampai fisik.
Dan kelima, nah ini yang paling penting
sih. Jangan ikut-ikutan saran dari orang
random di internet gitu ya. Apalagi
kalau enggak jelas tuh ya. Bahkan yang
jelas aja termasuk dari 1% nih gitu ya
yang kita bikin script, yang bikin ini
lulusan psikologi segala macam. Menurut
gua sih kondisi rumah tuh tiap orang
beda-beda ya. Dan gua yakin juga
ideologi kita, pandangan kita, pandangan
gua sama lu yang nonton itu beda.
Mungkin kita menyarankan secara umum ya
itu untuk penuhi kebutuhan diri sendiri
dulu. Tapi kalau lu punya mindset yang
beda dan lu mau memenuhi kebutuhan
keluarga, yang gak salah juga itu mah
hak lu gitu, itu hidup-hidup lu gitu
kan. Prioritas orang tuh beda-beda. Dan
di sini 1% sih kita dari dulu konsisten
ya, maksudnya kita cuma mengikuti
kurikulum kehidupan life skills
kurikulum nih bisa lu lihat yang sudah
piramidanya dan kurikulumnya kita buat
sejak 2017 dan kita rutin nih tiap
minggu webinar webinar webinar terus
ngomongin tuh soal apa? Soal piramida
ini. Lu bisa lihat di 1%.net Net ya.
Kalau misal lu kepo gitu ada piramidanya
tuh, ada kurikulumnya lengkap. Kalau lu
mau ikuti ya boleh karena itu principles
atau ideology kita lah. Dan udah ratusan
ribu orang yang berubah karena kurikulum
tersebut yang terinspirasi, yang keubah
mindsetnya, yang mungkin sampai
konseling juga ya, yang mungkin dari
ikut webinar ikut webinar lagi
mindsetnya berubah, beli cotes juga
segala macam gitu. Jadi udah banyak yang
berubah ya. Jadi kalau mau ikut ya
silakan. Kalau mungkin konteksnya belum
pas atau ternyata pemikiran kita beda ya
enggak usah diikutin saran-saran dari
sini gitu ya. Ini kalau kata anak krypto
mungkin ini not financial advice ya. Do
your own research gitu. Jadi NFA Dior
lah ya. Tapi intinya gini ya, apapun
pilihan lu kalau lu sandwich pasti akan
ada pengorbanan. Entah lu yang
berkorban, entah keluarga lu dulu yang
berkorban. Tapi semoga aja ya dengan
video ini lu bisa sadar kalau kebaikan
yang lu lakuin itu gak harus selalu juga
kok berbentuk pengorbanan. Enggak harus
juga kok mengorbankan mimpi-mimpi lu.
Enggak harus juga kok mengorbankan
keluarga kecil lu yang baru lu bangun
sekarang. Gua mau nekin aja, bisa juga
kok lu ngutamain diri sendiri. Itu
adalah opsi yang bisa lu pilih. Tapi
tetap jangan lupa ya ngasih juga bantuan
yang terbaik yang bisa lu usahakan buat
keluarga. Dan kalau lu lagi di titik
bingung ya jangan lupa lu enggak
sendirian. Maksudnya lu komen di comment
section gua yakin bakal ada yang
nyemangatin. Kalau ada yang bacotin gua
pasti blok hitemangatin.
Jadi kalau lu mau curhat di comment
section silakan. Dan intinya kalau lu
lagi bingung lu harus mulai dari mana,
lu butuh advice ya 1% kan lu udah tahu
sendiri kita dari tahun 2019 ya udah
buka layanan konseling, layanan live
coaching gitu dan sekarang kita udah
memasukkan itu ke brand baru namanya
Live Consultation ID. Jadi, lu bisa ke
10%.net masuk ke Liveconsultation ID di
sana ada. Terus kalau misalnya lu
bingung dalam making decision misalnya
let's say psikolog terlalu mahal buat
lu, ya enggak masalah juga gitu kan. Ada
juga opsi lain. Karena sejak bulan
November kemarin kita baru launching,
ada juga nih produk yang mungkin berguna
buat lu namanya adalah Psikotes Premium
ya. Jadi kita baru buka banyak Psikotes
Premium. Ini udah ribuan orang nyoba dan
eh so far sih so good ya dari segi e
feedback-nya. Dan kita juga akan buka
banyak psiko lain. Contohnya psiko
pranikah, psiko soal switching career,
psiko juga soal banyaklah yang bakal
kita buka lagi. Tapi buat lu yang
bingung to make a decision, gua bisa
nyaranin sih lu bisa ikut psikotes
kepribadian sih. Psikotes kepribadian
tuh isinya sampai puluhan halaman, lu
bisa dapat insight kepribadian lu kayak
gimana, personal values yang lu pegang
tuh kayak gimana, gimana pengembangan
diri yang terbaik sampai ke pengambilan
keputusan yang terbaik. Siapa tahu lu
bingung gitu. Karena ini produk yang
baru kita luncurin yang termasuk murah
lah harganya ya kalau pakai diskon
bahkan bisa sampai start from R30.000
lah. Buat L yang tertarik ya langsung
aja ke 1%.net atau ke link yang ada di
deskripsi atau komen. Dan yang jelas
kalau dari 1% jangan lupa gitu ya. Ini
prinsipnya kalau dari kita sih bantu
diri lu sendiri dulu baru lu ngebantu
orang lain. Dan kenapa? Karena menurut
kita itu adalah bentuk berbakti yang
sustainable yang jangka panjang. Bukan
cuma jangka pendek, bukan cuma
menentingin keinginan salah satu pihak
doang. Akhir kata, well, gua 1% semangat
buat nge-handle sandwich generation-nya.
Gua yakin lu bisa mengatasi ini dan
thanks. See you on the next video
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:10 UTC
Categories
Manage