Kenapa Orang Kaya Menaruh Uang di Obligasi?
F_mQwKIdDdA • 2025-06-18
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Di dunia ini cuma ada sekitar 4.000
orang yang punya kekayaan miliaran
dolar. Dan miliaran dolar ini bukan
angka biasa aja. Pernah kepikiran
enggak? Setelah orang punya duit
sebanyak itu, emang apalagi sih yang
mereka kejar dan mereka ini investasi di
mana sih? Ada satu hal yang menarik nih.
Banyak billionaires di dunia justru
malah berinvestasi di instrumen yang
beberapa orang anggap bodoh. Banyak
orang mungkin menganggapnya membosankan,
dan return-nya juga relatif lebih rendah
ya daripada instrumen lain. Nah, gua
lagi bicara soal obligasi.
Pertanyaannya, kenapa sih orang kaya itu
selalu membeli instrumen ini? Bukannya
return-nya kecil ya? Bukannya terlurus
inflasi ya. Well, welcome to Psychology
of Finance. Kita bakal kupas soal
investasi orang kaya dan kenapa orang
kaya menaruh uang di obligasi.
Welcome toychology.
Buat investor pemula, obligasi itu aneh.
Ngapain sih naruh duit di instrumen yang
untungnya cuma 6 sampai 7% setahun
ketika saham bisa ngasih puluhan bahkan
ratusan pers. Logika ini enggak salah.
Tapi ini cara pikir orang yang tidak
paham resiko. Ya, iya sih bisa puluhan
persya
segitu banyak. Apalagi orang kaya yang
jatuhnya sudah ada di puncak gunung.
Prioritas mereka sekarang bukan lagi
mendaki gimana punya sepatu yang oke
biar enggak kepeleset jatuh. Buat
mereka, obligasi itu nawarin sesuatu
yang lebih berharga dari sekedar untung
yang fantastis. Pertama, obligasi itu
bisa ngejaga modal dan harta mereka. Ya,
bayangin ya, lu punya 10 triliun,
prioritas utama lu mungkin bukan ngubah
itu jadi R triliun, tapi lu mastiin
tahun depan duit itu masih 10 triliun
terus sedikit bunga. Obligasi terutama
yang diterbitkan oleh pemerintah
resikonya tuh hampir mendekati nol.
Karena apa? Karena dia dijamin oleh
negara. Jadi apa? Jadi dia bisa menjaga
harta. Yang kedua, obligasi bisa jadi
arus kas stabil karena dia bisa ngasih
bunga atau kupon rutin yang ada aja duit
masuk ke rekening. Dan buat orang kaya
ini bukan hanya uang jajan ya, tapi cash
flow raksasa. Bisa buat biaya hidup,
bisa buat operasional bisnis, bisa
diinvestasiin lagi tanpa perlu ngejual
aset utama. Kita punya obligasi 1
triliun dengan kupon 7% itu artinya lu
dapat 70 miliar setahun, enggak perlu
kerja. 70 miliar itu bisa dipakai buat
investasi ke startup, buat beli
properti, buat operasional perusahaan
dan lain-lain. Yang ketiga, obligasi itu
ngasih risiko rendah dan ketenangan
batin. Karena apa? Karena pasar saham
itu liar. Hari ini hijau, besok bisa
merah merona. Volatilitas ini, ini bisa
jadi mimpi buruk buat portofolio
triliunan. Tapi obligasi tuh jauh lebih
kalem sebenarnya. harganya memang bisa
naik turun, tapi yang enggak seekstrem
instrumen investasi high risk yang lain
ini ngasih ketenangan pikiran yang
enggak bisa dibeli ya sama instrumen
lain. Yang keempat adalah liquidity.
Obligasi itu juga jangan lupa bisa
dijual. Obligasi juga bisa
diiversifikasi. Kalau semisal kita mau
obligasinya oh 30% di perusahaan, 30% di
pemerintah, ya bisa juga mau dijual
besok bisa juga dijual beli ya. Jadi ada
pasarnya loh untuk menjual dan membeli
obligasi. Intinya orang kaya itu pakai
obligasi untuk mempertahankan kekayaan
dan dapetin return yang mantap. Jadi
jangan heran kalau teori-teori investasi
dari para investor kayak misalnya Realio
gitu ya, dia punya portofolio allweather
investment. Dia nyuruh invest di
obligasi berapa persen nih? Sekitar 40%
dan 15%. Jadi 55% di obligasi. Ada juga
teori 6040. Ini teori klasik yang nyuruh
taruh di stoks 60% obligasi 40%. Kalau
gua Evan nih dari 1% punya teori juga.
Gua juga naruh di obligasi sekitar 20
sampai 40% di ada reksa dan pasar uang,
ada juga obligasi yang liquid yang bisa
gua jual belikan lagi. Tentunya
portofolio ini ya ada adjustment ya,
tapi ini sekarang kayak gini sesuai
dengan kondisi ekonomi, sesuai dengan
suku bunga. Karena kebetulan sekarang
return obligasi lagi tinggi ya why not
gitu kan.
Nah, sekarang kita coba turun gunung dan
lihat realita investasi di Indonesia.
Ini menarik karena kalangan kelas
menengah ini biasanya investasinya beda
dengan orang kaya. instrumen yang lagi
dan masih ngetren itu biasanya ya itu
adalah pertama udah jelas properti.
Masih banyak yang percaya kalau harga
tanah itu bakal naik drastis. Jadi
meskipun bunga KPR bisa puluhan pers ya
dalam bertahun-tahun ya enggak apa-apa
yang penting rumahnya bisa jadi tempat
tinggal. Apakah make sense? Ya make
sense aja sih asal bunganya rendah ya
karena kalau suku bunga lagi tinggi bisa
boncos ya. Lu mungkin udah lihat ya
TikTok cerita-cerita di mana orang
menyesal rumah enggak sadar ketika
bunganya floating ya cicilannya bisa
jadi dua kali lipat lebih gede. Jadi
jangan herwan kalau banyak yang ngeluh
tuh. Terus eh instrumen yang lagi
ngetren di kelas menengah adalah yang
kedua, saham. Saham ini gua juga invest
lumayan banyak di saham. Dan ini juga
kita harus say thanks to aplikasi
investasi saham yang canggih ya.
Akhirnya semua orang bisa dengan mudah
jadi investor atau trader. Yang ketiga,
reksadana. Nah, ini buat orang yang mau
invest tapi enggak punya waktu buat
riset. Kalau lu invest di reksadana
saham apapun di bulan April pas lagi
market crash kemarin itu di Juni
sekarang return-nya tuh harusnya ada di
13 sampai 20%. Rexsa dana apapun ya gua
enggak tahu sih, gua enggak lihat semua.
Tapi ini reksa dan apapun ini return-nya
bisa segini. Siapa nih yang kemarin
invest di reks dana saham kemarin
pasgun? Terus yang keempat adalah aset
crypto. Nah, ini bisa dibilang aset
paling populer sekarang ya, tapi juga
paling liar sih menurut gua. Karena
trading crypto apalagi pakai leverage
pakai utang sangat bisa bikin lu kaya
mendadak atau lu miskin seketika. Nah,
kita bisa lihat perbedaan fokusnya ya.
Kalau yang kaya itu fokusnya lebih ke
stabil-stabil aja karena duitnya udah
banyak. Tapi sementara yang menengah dan
yang ke bawah fokusnya adalah
pertumbuhan modal. sayangnya ya
seringkiali banyak ya orang menengah ke
bawah yang mengabaikan resiko yang
mengintai. Nah, sekarang gua mau nanya
nih buat lu yang udah invest di pasar
modal, lu udah punya belum nih strategi
manajemen risiko? Strategi portofolio
kayak yang tadi gua tunjukin? Kalau
misalnya belum, mendingan lu tonton
chapter selanjutnya nih sampai habis.
Kita bisa lihat bahwa banyak sekali
orang ya yang mulai skeptis sama
obligasi. Tapi sebenarnya menurut gua
obligasi yang dibilang menurut gua salah
kaprah sih. Kenapa? Karena pertama,
Gereja Vatikan tuh invest di mana? Dia
punya fun billion dollar di obligasi
cukup banyak. Realio invest di obligasi.
Warren Buffet tahun ini dia naruh
sebagian besar investmentnya sekitar
ribuan triliun di obligasi juga. Nah,
apa iya kita bisa mengatakan bahwa
mereka-mereka ini tokoh-tokoh besar ini
orang bodoh dalam berinvestasi? Ya
enggak juga. Justru obligasi itu
instrumen fundamental yang dipakai
banyak institusi. Banyak juga dipakai di
dana pensiun. Banyak juga dipakai di
banyak sekali investor cerdas di seluruh
dunia. Setelah tahu fakta ini, mungkin
banyak dari lu bertanya, "Jadi gua perlu
beli obligasi." Well, jawabannya adalah
tergantung. Gua enggak bisa bilang harus
beli sekarang atau enggak. Tapi gini,
gua bisa ngasih satu quotes. Obligasi
itu memang bukan buat semua orang di
semua waktu, tapi semua orang akan butuh
obligasi pada waktunya. Nah, ini contoh
ya. Kalau lu masih muda 20 30-an, waktu
lu masih panjang, ya kan? Lu punya
kemewahannya. Kemewahan apa? kemewahan
waktu untuk ngambil resiko lebih gede.
Di fase ini, wajar kalau porsi terbesar
portofolio lu ada di saham buat ngejar
growth. Tapi nyisihin sedikit 10 sampai
20% minimal ya buat obligasi. Itu kayak
ya latihan lah pakai rem sebelum lu
beneran butuh gitu loh. Bahkan dalam
konteks gua kan obligasi gua tuh ada 20
sampai 40% ya kalau suku bunga lagi
tinggi kayak kemarin ya. Enggak ada
salahnya. Enggak ada salahnya. Bahkan
menurut gua tepat sekali naruh di
obligasi. Kalau lu enggak punya waktu
minimal sejam lah lihat pasar gitu kan.
itu enak banget loh naruh duit di
obligasi karena return-nya tinggi cuy
bisa sampai 5 sampai 6% per tahun net ya
udah kagak ada pajak kagak ada apa-apa
lagi. Nah, kalau lu udah mapan umur 40
50 aset sudah mulai kekumpul, ya di
sinilah mungkin harusnya beli obligasi
lebih banyak kalau udah pensiun. Malah
disaranin ya obligasi semuanya aja gitu
kan. Ngapain pegang saham dan lain-lain
gitu gitu. Karena ya enak lu bisa gajian
tanpa harus ngapa-ngapain. Jadi ya di
sinilah obligasi jadi raja. Kalau lu
merasa cocok nih dengan salah satu
profil di atas dan mulai mikir, oke
kayaknya gua perlu obligasi. Beli di
mana? Kalau gua sekarang belinya di ada
iPod Bond namanya. Uniknya, harga
obligasi di epod Bond itu lebih murah
dibandingin platform lain. Bahkan mereka
juga punya fitur perbandingan harga biar
lu bisa buktiin sendiri. Dan banyak yang
belum tahu juga kalau harga beli itu
sebenarnya ngaruh ya, Guys. Ngaruhnya
tuh ke yield to maturity. Jadi makin
murah lu beli, makin gede potensi imbal
hasil lu sampai jatuh tempo. Dan ini
apalagi kalau lu beli yang 5 10 tahun
gitu, itu bakal jauh banget perbedaan
harga sedikitp. Jadi di aplikasi iPod
tempat beli saham juga tuh lu bisa beli
obligasi pemerintah dan juga obligasi
korporasi. obligasinya tuh langsung
masuk ke portofolio lu. Kalau lu pengin
jual itu bisa karena kan liquid ya.
Apalagi yang tadi gua bilang ada market
jual beli obligasi. Jadi prosesnya tuh
cepat praktis. Nah, kenapa obligasi tuh
tetap menarik meskipun kita belum kaya?
Pertama menurut gua diversifikasi ya itu
udah jelas. Jadi gini, invest di crypto,
invest di saham, trading di cripto saham
itu paling menarik tuh kapan sih? Paling
menarik tuh adalah ketika market crash.
Tapi waktu kayak gitu kan jarang gitu.
Nah, kalau kita enggak yakin sama
investment apapun ya obligasilah bisa
diversifikasi dulu. Nanti kalau ada yang
menarik bisa dijual lagi gitu. Yang
kedua pajaknya juga lebih rendah. Nah,
ini yang hidden gam nih. Pajak obligasi
SBN retil gitu ya. Itu cuma kena PPA
final 10%. Terus yang ketiga bisa dibeli
mulai dari nominal kecil. Nah, mulai
dari R1 juta aja lu udah bisa beli
obligasi. Jadi siapa aja bisa mulai
invest. Dan fun fact-nya juga obligasi
itu paling low risk, cuy. Ya, gua enggak
bilang resikonya nol karena pemerintah
bisa aja bisa aja hancur gitu ya
Indonesia gitu. Tapi obligasi pemerintah
Indonesia sampai sekarang tidak pernah
gagal bayar. pemerintah Indonesia selalu
mampu menenuhin kewajibannya dan ini
menurut gua sih masih oke karena
stabilitas ini didukung sama kekuatan
ekonomi negara kita yang sejauh ini
masih strong. Dan buat yang enggak tahu,
investor asing juga suka banget beli
obligasi pemerintahan Indonesia karena
dianggap stabil, dianggap masih return
yang lebih menarik dibanding negara
lain. Kalau lu lihat SBN rettail atau
obligasi itu sering banget over
subscribe atau kelebihan permintaan.
Nah, ini nunjukin kalau minat investor
sebenarnya tinggi. Tapi lagi-lagi ya,
gua di sini bukan mendorong beli
obligasi, enggak juga. Tapi investasi
terbaik adalah yang sesuai sama tujuan
dan profile risiko lu. Kalau gua, gua
tetap beli obligasi. Gua enggak cuma
ngikutin tren, ya, gua pelajari dengan
baik gitu. Dan gua juga enggak lupa buat
diversifikasi biar tidurnya lebih
nyenyakyak gitu. Biar kalau tiba-tiba
turun gitu ya instrumen investasi ya
santai aja masih ada nih instrumen
investasi yang aman. Dan kalau lu
tertarik buat beli obligasi, lu bisa
beli di iPod. Namanya adalah iPod Bond.
Lu bisa beli obligasi pemerintah,
obligasi korporasi di suatu tempat. Dan
setelah beli obligasinya juga langsung
masuk ke portofolio. Kalau mau dijual
lagi bisa, lu juga bisa transaksi
obligasi kapan aja. Dan transaksinya
diproses itu secara real, enggak antri
karena diproses pada jam kerja gitu.
Mungkin sekian ya bacotan gua soal
obligasi. Semoga video ini bisa ngebantu
teman-teman semua tentang kenapa sih
orang tuh masih beli obligasi gitu
meskipun ada invasi segala macam. Tadi
gua udah jabanin alasannya dan ya udah
silakan buat yang belum pernah beli
obligasi mungkin mau coba siapa tahu
pengen coba di return yang stabil ini
100% well thanks
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:01 UTC
Categories
Manage