Ambisius tapi Malas: Cara Jadi Happy, Meskipun Gak ‘Kaya’
Dpxvyfse1y4 • 2025-05-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Di era digital seperti sekarang, kita
banyak sekali dibanjiri oleh narasi
kesuksesan yang seringkiali disama
ratakan dengan kekayaan material. Dan
kita mulai melihat tren ini tuh sejak
tahun 2020 ya, banyak yang
berlomba-lomba memamerkan gaya hidup
mewah dan menawarkan resep untuk menjadi
kaya. Pesan yang digawangkan tuh
biasanya begitu kuat sekali. Ibaratnya
gini, kejarlah kekayaan, maka
kebahagiaan dan pengakuan itu akan
mengikuti. Yang mana ini fakta, ya. Tapi
di tengah hiruk pikuk, pengejaran materi
ini, pengejaran kekayaan ini, sebuah
pertanyaan fundamental mungkin
terlupakan. Apakah betul setiap orang
tuh benar-benar menginginkan kekayaan
seperti yang digambarkan oleh ya banyak
idol-idol di luar sana? Dan apakah kata
cukup itu sebenarnya hanya sebatas
nominal atau justru lebih ke masalah
mindset gitu. Dan gimana gitu kalau kita
gak bisa mencapai kekayaan itu? Gimana
kalau kita orangnya malas? Gimana kalau
kita orangnya tidak ambisius? Gimana
atau kalau kita malah termakan oleh
ambisi dan ego kita sendiri? Nah, di
video kali ini bakal sedikit berbeda dan
mungkin sedikit panjang. Tapi gua bakal
nyoba buat menjelajahi gagasan bahwa
sebenarnya dengan mindset yang tepat
bahkan gaji UMR itu bisa sangat bisa
sekali terasa cukup di dunia modern
seperti sekarang. Dan bahkan bahwa
konsep kaya miskin itu sejatinya lebih
kompleks daripada sekedar angka aja.
Selamat datang di Psychology of Finance
dan silakan subscribe dulu sebelum
nonton dan gua harap ya lu bisa nonton
video ini sampai habis.
Welcome to psychology of
finance. Sekarang bisa kita lihat ya,
banyak banget influencer dengan gaya dan
pendekatannya masing-masing ya. Ada yang
pendekatannya realistis, ada juga yang
pendekatannya tuh mendokumentasikan
sesuatu gitu ya. banyak yang secara
konsisten mendorong audiens-nya tuh
untuk mengejar kebebasan finansial,
membangun aset, dan mencapai status kaya
raya. Dan salah satunya mungkin termasuk
gua gitu ya di 1%. Tapi kita mulai
melihat ada banyak template lah ya yang
berulang kalau kita lihat di
negara-negara lain maupun di Indonesia.
Misal ada yang template-nya adalah suka
traveling ke sana kemari. Ada juga yang
tinggal di luar negeri. Ada yang punya
mobil mewah. Ada yang punya banyak
pembantu. Ada yang tinggal di gedung
tinggi. Ada juga yang cerita From Zero
to Hero dan banyak lagi. Sayangnya
ketika narasi ini udah sangat populer
sekali di media sosial, akhirnya ini
punya beberapa implikasi. Nah, gua
jelasin satu-satu. Pertama, tekanan
sosial yang sangat besar. Kita tahulah
ya sekarang masalah kesehatan mental itu
selalu meningkat tiap tahunnya. ini
bakal ningkatin masalah kesehatan mental
gitu. Kenapa? Karena mereka-mereka ini
tidak atau belum mencapai standar
kekayaan yang cukup apalagi
diejek-ejekin juga gitu ya, baik oleh
tetangganya, baik oleh influencer.
Mereka ini bisa sangat merasa gagal,
sangat merasa tertinggal, atau sangat
merasa tidak berharga. Jangan heran gitu
ya, banyak sekali orang gara-gara merasa
tidak berharga ya banyak yang akhirnya
melakukan sesuatu yang di luar field of
expertise mereka ya. Contohnya misal
invest di saham gorengan akhirnya rugi.
Invest di NFT akhirnya jadi exit
liquidity rugi. Trading crypto yang
akhirnya malah kena scam sama
developernya dan banyak lagi. Dan yang
paling populer sebenarnya sekarang
memprihatinkan sekali ya itu ada dua hal
sebenarnya. Pertama adalah judul. Orang
akhirnya nyoba pengen kaya secara instan
dari judul. Dan yang kedua yang
memprihatinkan adalah orang jadi boros
dan konsumtif tapi duitnya dari pinjol
yang bunganya bisa puluhan persen
pinjolnya ilegal lagi. Dan ketika salah
satu dari dua itu ternyata gagal dengan
banyaknya tekanan ya dari sosmet, dari
keluarga, dari lingkungan, apa yang
terjadi? Ya pada kasus ekstrem enggak
heran gitu ya. Banyak yang sampai
melakukan percobaan buruk. Itu adalah
implikasi pertama, tekanan sosial.
Implikasi kedua, narasi bahwa semua
orang harus menjadi kaya itu menurut gua
mengabaikan keragaman aspirasi manusia.
Jadi, kayak seakan-akan ya semua orang
tujuannya satu itu aja. Padahal kan
enggak semua individu tuh menempatkan
akumulasi harta itu sebagai prioritas
tertinggi dalam hidupnya. Sebagian orang
mungkin lebih prefer ya kedamaian batin,
hubungan yang oke sama pasangan,
pengembangan diri di bidang seni
misalnya, di bidang ilmu pengetahuan
atau mungkin sekedar kehidupan yang
sederhana dan tenang aja gitu. Ibarat
kata ya ya gaji UMR juga enggak apa-apa
gitu loh. Yang penting bisa nonton
Netflix, main game terbaru,
jangan-jangan sesekali dalam setahun ya
udah cukup aja gitu, enggak perlu lebih.
Nah, ketika menjadi kaya dalam tanda
kutip ini dijadikan satu-satunya tolak
ukur kesuksesan, nilai-nilai dan tujuan
hidup alternatif yang lain itu jadinya
kayak enggak penting gitu, kayak
terdevaluasi. Padahal sebenarnya enggak
juga kan gitu.
Nah, untuk ngasih perspektif lain
tentang kekayaan, gua pengen cerita
tentang salah satu filsuf Yunani kuno,
yaitu adalah namanya Tales. Si Tales ini
dia tuh dikenal sebagai salah satu dari
tujuh orang bijak di Yunani dan sering
dianggap sebagai filsuf pertama di dunia
dalam tradisi Barat. Natales ini
diceritain di buku yang ditulis sama
Aristoteles yang berjudul Politics. Jadi
si Tales ini, jadi dia tuh seorang
filsuf yang pada masa dia hidup, dia
sering diejek sama orang-orang desa di
sana. Kenapa? Karena dia tuh miskin dan
dianggap sebagai bukti bahwa filsafat
yang dia pelajari itu enggak ada gunanya
gitu. Enggak penting gitu loh. Ngapain
lu berfilsafat gitu ya. Jadi ibarat kata
si Tales ini dibacotin. Ngapain sih lu
belajar-belajar filsafat, bikin teori
segala macam. Mending lu kerja enggak
sih? Mending lu bertani aja enggak sih?
Kerja yang benar. fokus jadi petani gitu
ya. Ya udah jadi kaya dari sana gitu
loh. Nah, yang menarik adalah si Tales
ini sebenarnya dia tuh pintar cuy, cuman
memang dia orangnya malas gitu ya. Dan
sebenarnya bukan malas sih, lebih ke dia
kagak prefer untuk jadi kaya aja.
Preferensi dia ya lebih ke belajar aja
gitu. Bikin teori-teori yang sebenarnya
aneh sih kalau gua jelasin ya
teori-teorinya ya. Contoh dia bilang
manusia tuh dari ikan gitu ya. Ya
pokoknya itu bukan bahasan sekarang lah
karena kita enggak bahas filsafat kan.
Cuman intinya si Tales ini gara-gara
dibacotin mulu sama temannya, dia
akhirnya pengin ngebuktiin. Ngebuktiin
apa? Bahwa seorang filsuf pun bisa
sebenarnya untuk menjadi kaya kalau dia
mau. Nah, karena si Tales ini pintar,
dia kan pintar astronomi, pintar
matematika segala macam lah ya. Dia
akhirnya pakai pengetahuannya dari
astronomi untuk memprediksi cuaca. Dia
tuh meramalkan bahwa akan terjadi panen
zaitun yang melimpah di musim
berikutnya. Nah, sebelum panen pas
tetangga-tetangganya yang petani ini ya,
yang pada bacot ini belum pada nyadar si
Tales ini jadi satu-satunya orang yang
nyewa semua alat pemeras zaitun. Dan
karena tidak ada yang tahu pada zaman
itu ya ibaratnya orang-orang pada
bodoh-bodoh ya bahwa Zaitun itu bakal
panen ya. Jadinya dia bisa dapat harga
yang murah banget. Nah, pas musim
panennya datang nih dan prediksi si
Tales ini ternyata benar ya. Orang
akhirnya pengen nyewa dong ya. Ialah
orang pengen panen lah pakai alat yang
udah disewa dimonopoli sama si Tales
ini. Si Tales akhirnya yang sudah
memonopoli akhirnya menyewakan kembali
ke orang-orang ini dengan harga yang
jauh lebih tinggi. Akhirnya apa ya?
Cuanlah. Nah, dari sana dia membuktikan
bahwa kemampuan intelektualnya
sebenarnya sangat bisa sekali dikonversi
menjadi kekayaan material. Nah, yang
menarik adalah sebenarnya bukan berarti
bahwa filsuf itu bisa jadi kaya, cuman
yang menarik adalah hal yang dilakukan
oleh Tales setelah itu. Akhirnya ya dia
enggak lantas tiba-tiba jadi seorang
pebisnis gitu kan atau tiba-tiba numpuk
harta gitu. Enggak. Dia balik lagi
menekuni minat utamanya gitu yaitu
adalah filsafat dan ya pencarian
pengetahuan. Karena gini, buat Tales itu
gitu ya, kekayaan tuh bukan tujuan
akhir, melainkan kekayaan itu adalah ya
sebenarnya adalah satu opsi yang dia
bisa raih kalau dia mau. Dia bisa spend
time di sana. Tapi dia itu lebih memilih
untuk memprioritaskan hal lain yang
sebenarnya ya dianggap lebih lebih oke
aja buat dia. Yang akhirnya berbuah juga
kan. Kita semua jadi tahu tentang
teorinya bisa dibaca di hampir semua
buku filsafat Western philosophy ya.
Yaitu karena minat dia terhadap belajar.
Tapi di sini kita bisa lihat bahwa ya
masalah jadi kaya atau tidak itu ya soal
preferensi sebenarnya. Bahwa loh hal-hal
lain dalam hidup yang bisa ngasih
kepuasan dan makna yang lebih besar
untuk tiap orang dan itu beda-beda.
Enggak semua hal itu tentang akumulasi
uang. Nah, kali ini gua mau ngasih
statement yang cukup kontroversial bahwa
gaji UMR itu cukup kok. Statement ini
kontroversial sekali. Apalagi ketika gua
sendiri yang nyebutin udah jelas-jelas
gaji gua bukan OMR gitu ya. Tapi kalau
kita mau nyoba ubah mindset gitu ya,
anggaplah kita melakukan perbandingan.
Ini gua mau ngajak kita belajar sejarah.
Kita coba ngelakuin perbandingan antara
kualitas hidup seorang raja di zaman
feodal ya mungkin zaman sebelum masehi
lah ya zaman Game of Thrones lah dengan
seorang karyawan bergaji UMR di era
modern tahun 2025 ini. Sebenarnya di
sini kita bakal menemukan beberapa aspek
menarik yang mungkin lu udah tahu tapi
lu lupa aja gitu. Jadi di zaman feodal
ya zaman dulu lah ya zaman Majapahit
gitu ya. Seorang raja kan pasti punya
kekuasaan absolut. Dia punya tanah yang
luas, dia punya harta benda yang tidak
terbayangkanlah oleh kita-kita yang
gajinya WMR. Tapi sebetulnya kita di
zaman sekarang, thanks to kapitalisme,
bisa menikmati standar hidup seperti
itu. Seperti raja-raja di zaman dahulu.
Misal pertama soal kesehatan dan soal
harapan hidup. Lu bayangin raja yang
hidup di zaman Game of Thrones gitu ya.
Pasti lu tahulah ini contoh aja. Salah
satu raja ya, Jason Momoa alias si
Caldrogo alias si Aquamen nih. Dia tuh
mati di zaman dulu. Dia kan kesatria
yang sangat kuat, raja yang sangat kuat,
sangat berkuasa. Tapi ini gua sampai
bilang kasar ya tololnya adalah dia
matinya karena apa? Karena infeksi
bakteri gitu kan. Lu bayangin kan raja
terkuat nikah sama Deneris Stargarian,
suaminya mati bukan karena ditebas musuh
ya ditebasi dikit gitu ya. Bukan karena
sihir tapi karena infeksi bakteri gitu
kan. Jadi raja di zaman dulu bisa mati
seperti itu ya. Raja dulu pasti punya
lah ya punya dokter atau tabib pribadi
terbaik di masanya. Tapi kan zaman dulu
pengetahuan medis tuh sangat terbatas.
Infeksi ringan, kena bakteri dikit lu
bisa mati gitu ya kan. Ada wabah juga
angka kematian bayi, angka kematian
istri atau ibu yang melahirkan itu
sangat amat tinggi di ribuan tahun lalu.
Coba kita bandingin sama karyawan UMR
sekarang gitu ya yang meskipun mungkin
kita bisa kritik lah ya BPJS lama segala
macam tapi at least ada BPJS gitu loh.
Fasilitas kesehatan publik yang tinggal
ngantri ya. Lu tinggal bayar bulanan
dari berapa persen gaji lu itu tinggal
ngantri. Sakit lu bisa beli parasetamol.
Ada akses juga ke antibiotik, ke vaksin.
Kalau ada sesuatu bisa dibedah sama
dokter. Diagnosis juga jauh lebih
canggih. Ada AI, kebersihan, sanitasi
lebih baik. Ini semua itu bikin kita
yang hidup di zaman sekarang dengan gaji
UMR itu lebih sehat dibandingkan raja
zaman dahulu. Harapan hidup manusia tuh
sekarang jauh melampaui harapan hidup di
masa lalu. Bahkan kalau kita bandingin
sama kalangan bangsawan sekalipun di
zaman dulu. Itu yang pertama, kesehatan.
Yang kedua, akses informasi dan hiburan.
Zaman dulu raja pasti punya seniman,
punya juru tulis, punya perpustakaan
yang isinya tuh ratusan manuskrip,
ratusan scroll langka. Buat lu yang
nonton anime horb udah pasti relate sih
ya. Akses terhadap informasi itu sangat
terbatas, sangat dikontrol oleh ya kalau
zaman dulu gereja atau oleh sebagian
kecil orang. Cuma orang-orang terpilih
kayak ustaz-ustaz gitu yang bisa
ngakses. Hiburan juga terbatas. Paling
apa sih zaman dulu ya kalau lu main The
Witcher gitu ya, paling nonton teater
gitu sama musik. Coba lu bandingin sama
karyawan UMHR zaman sekarang dengan
smartphone, dengan koneksi internet.
Kita bisa punya akses ke perpustakaan
dunia. Kita bisa akses berita, pilihan
hiburan juga enggak terbatas gitu.
Ibaratnya kalau lu mau bajak juga bisa
kan gitu. Ada banyak lagi ya dari segi
hal-hal lain yang sebenarnya karyawan
UMR kita sekarang itu lebih unggul
daripada ratusan atau ribuan tahun lalu.
Pangan dan gizi. Karyawan UMR, lu mau
makan apa? Lu mau makan sushi, spagetti,
gacauan. Lu bisa makan semuanya itu di
Jakarta dengan gaji WM. Berbagai jenis
makanan dari berbagai belahan dunia.
Dari segi kenyamanan. Mungkin raja-raja
zaman dulu ya tidurnya memang enak,
megah, tapi ada kipas angin enggak gitu?
Kan lu bayangin hidup di negara empat
musim enggak ada kipas angin, enggak ada
AC, enggak ada water heater, enggak ada
sistem pipa air, jet pump gitu. Dari
segi mobilitas zaman Rasul lah dulu.
Dari Makkah ke Madinah orang naik apa?
Naik onta. Ya, terus zaman Vikings lu
bisa mati, cuy. Kalau lu mau nyeberang
pulau, lu misalnya mau ke Inggris gitu
dari area Scandinavia kagak bisa lu bisa
mati gitu loh. 50 atau 7030 lah gitu ya.
70-nya tuh mati 30-nya tuh lu berhasil.
Jadi zaman dulu udah kagak nyaman,
bahaya pula. Dan bisa aja ya lu jadi
raja zaman dulu mungkin lu enggak pernah
tuh traveling seumur hidup. Kalau
dibandingin sama zaman sekarang karyawan
UMR Jakarta, lu mau ke Bandung naik
travel. mau lebih cepat ada kereta
cepat. Mungkin akan ada yang bilang, "Ya
tetap aja, Bang, enggak di WMR tuh hidup
sulit." Ya, bener sih gua tahu untuk
standar hidup zaman sekarang, ya memang
sulit. Perbandingan ini memang bukan
bertujuan untuk meremehkan kesulitan lu
sebagai pejuang UMR. Tapi poinnya adalah
bahwa standar hidup dasar dan akses
terhadap banyak kemewahan itu zaman
sekarang mudah sekali diakses. Apalagi
kalau lu belajar sejarah, lu bisa
belajar bersyukur bahwa sekarang tuh ini
semua bisa dinikmati oleh semua
masyarakat luas. termasuk el yang
pejuang UMR. Ya, ini menunjukkan bahwa
sebenarnya kekayaan tuh subjektif kan.
Kalau kita mau bersyukur ya sebenarnya
di zaman sekarang bisa banget dong kita
udah kaya banget loh. Ya betul, kita
memang hidup di dalam sistem ekonomi
yang kompleks yang melibatkan uang fiat
gitu ya. Ada bunga, ada riba yang
mungkin lu enggak believe dengan sistem
itu. Memang sistem ini tuh ada banyak
sekali kekurangannya. Gua sendiri benci
sekali ya dengan kapitalisme ini. Tapi
bukan berarti kapitalisme ini
menegasikan efeknya bahwa tidak ada
peningkatan kualitas hidup. Ya, ini
semua terjadi berkat kapitalisme, Guys.
Berkat sistem fiat, berkat inflasi. Dan
ini semua mesti kita syukuri meskipun
bukan berarti kita enggak boleh ngritik.
At the end of the day, di sinilah ya
peran mindset atau pola pikir itu
menjadi sangat krusial dengan gaji WHR
ngejar gaya hidup materialistis seperti
yang digambarkan oleh para influencer
gitu ya di luar sana itu sebenarnya
adalah resep menuju frustrasi, resep
menuju stres finansial, resep menuju
jeratan utang. Jadi gini, kalau misalnya
nih sekarang lu ditawarin nih ada banyak
mindset nih, gua mau nawarin satu
mindset yang berbeda yang bisa bikin
gaji UMR pun bisa terasa cukup untuk
hidup yang happy gitu, untuk hidup yang
bermakna dan memuaskan. Gimana caranya
nih? Apa yang bisa lu lakuin? Pertama,
yang bisa lu lakuin adalah lu
definisikan ulang arti kekayaan. Jadi,
lepaskan diri lu dari definisi sempit
kekayaan. Ada yang bilang kaya itu kalau
punya 100 M. Ada yang bilang kaya itu
kalau punya 10 M. Ada yang bilang kaya
itu punya 1 M. Ada yang bilang kayak itu
cukup punya R10 juta. Tapi gini, lu
lepasin semua mindset duit itu. Karena
kekayaan itu ya bukan hanya tumpukan
uang gitu ya kan. Uang itu adalah alat
sebenarnya. Bukan juga kepemilikan
barang mewah. Kekayaan itu
multidimensional ya. Bisa berupa
kesehatan, enggak ada penyakit gitu ya,
hidup sehat. Bisa juga berupa hubungan
yang berkualitas ya kan. Lu punya istri
yang cantik, sayang sama lu. Lu punya
suami yang mungkin enggak
ganteng-ganteng amat, tapi dia sayang
sama lu juga. Lu mungkin punya keluarga
yang gak perfect tapi ya mereka sayang
sama lu. Itu kan hubungan yang
berkualitas. Waktu luang. Kalau lu kaya
tapi gak punya waktu juga rasanya
percuma, enggak sih? Enggak bisa
dinikmatin. Ya kan? Kedamaian batin,
bebas dari overthinking, ngerasa puas
dengan pencapaian lu saat ini. Ada juga
rasa syukur, kemampuan buat menghargai
apa yang sudah dimiliki. Yang tadi ya,
yang tadi kita bahas. Ada juga
pengetahuan, wisdom. Nah, ini oke banget
sih kalau lu nonton anime orb ya. Saran
gua lu tonton. Tapi intinya pengetahuan
dan wisdom juga bisa ngasih kita
kepuasan. Ketika kita memahami lebih
dalam tentang diri kita, tentang dunia
gitu, itu bakal jadi kepuasan
tersendiri. Ada juga soal kontribusi
sosial. Well, mungkin ada yang akan
ngedebat, "Ya, ketika lu enggak kaya,
ketika lu miskin, ya kontribusi lu
enggak sebesar orang-orang kaya dong,
gitu kan." Ya, benar. Tapi at least gitu
ya, kontribusi kecil kita mungkin juga
akan ngaruh loh jadi butterfly effect
gitu loh. Mungkin dengan kita misal kita
ngasih makan tetangga kita gitu ya atau
ngasih makan fakir miskin. Siapa tahu
fakir miskin itu akan menjadi kaya juga
dan itu efeknya dari makanan yang kita
kasih gitu kan atau hal kecil kayak
misalnya kita nyapa tetangga gitu kan.
Bisa aja itu jadi butterfly effect loh
yang ngaruh ke banyak hal. Enggak selalu
ya hal yang berdampak itu hal besar ya.
Semua bisa dimulai kok dari hal kecil.
Itu yang pertama, lu definisikan ulang
arti kekayaan. Yang kedua, lu fokus pada
kebutuhan, bukan keinginan. Lagi-lagi
kita bisa belajar sama filsuf. Ya, kok
belajar sama filsuf sih? Gitu. Kenapa
menurut gua belajar sama filsuf itu
penting gitu? Ya ada alasannya lah
kenapa karya mereka bisa bertahan sampai
ribuan tahun kan. Dan ada alasannya
kenapa filsuf-filsuf ini namanya tuh
bisa hampir immortal. Nah, salah satu
filsuf yang kita bisa pelajari adalah
dari epictus ya. Ini filsuf Stoik lah.
Dia bilang, "Kekayaan itu bukan dari
memiliki harta benda yang besar, tapi
dari memiliki sedikit keinginan." Jadi
bukan berarti lu punya harta jadi kaya
kalau lu masih punya banyak keinginan.
Justru orang yang kaya itu yang punya
sedikit keinginan. Jadi yang manusia
butuhin kan sebenarnya simpel ya, kayak
sandang, pangan, papan gitu ya. Kalau
kita tambah dikit ada kesehatan, ada
pendidikan, ada hubungan baik. Sisanya
kan paling cuma keinginan ya. Lu pengen
sepatu baru, lu pengen cuan dari saham,
lu pengen nonton film baru, lu pengen
nyoba maca baru. Tapi ya itu semua cuma
tren, Guys. Lu nyobain pistasio, maca
segala macam itu cuma tren. Itu tuh cuma
dari iklan, itu tuh cuma dari tekanan
sosial, atau malah gengsi semata aja.
Gaji WMR pun bisa cukup loh untuk
memenuhi kebutuhan dasar, semua
kebutuhan dasar lu ya kalau dikolah
dengan baik. Tapi ya memang gaji itu
enggak akan pernah kerasa cukup kalau
mau muasin keinginan bukan kebutuhan ya.
Karena yang namanya keinginan tuh enggak
terbatas. Itu yang kedua. Yang ketiga,
kelola keuangan dengan bijak. Meskipun
terbatas, pengelolaan keuangan yang baik
itu adalah kunci. Bukan buat jadi kaya
raya dalam semalam, ya untuk jadi instan
gitu, bukan. Tapi justru untuk mencapai
stabilitas. Jadi financial literacy itu
penting. Nah, beberapa prinsip dasarnya
bisa lu baca di bawah
sini. Nah, udah lu baca. Oke, kita
lanjut ke poin keempat. Yang bisa lu
lakuin adalah manfaatin sumber daya
gratis atau murah untuk ningkatin
kualitas hidup. Jangan lupa loh, banyak
hal berharga dalam hidup ini yang
sebenarnya enggak butuh biaya yang besar
atau malah gratis. Contoh ya, kalau lu
tinggal Jakarta. Kemarin Gubernur
Jakarta bilang, "Perpustakaan bakal buka
sampai malam." Di perpus lu bisa baca
buku, pakai Wii, mau nge-date juga bisa.
Gratis. Pergi ke sana dekat sama KRL,
harganya R5.000-an doang. Kalau misalnya
lu tinggal di desa bukan Jakarta gitu
ya, lu bisa main ke alam. Lu bisa coba
jalan-jalan sekitar komplek, lu
jalan-jalan ke alun-alun, taman kota
sambil nikmatin momen-momen santai gitu
ya. Nikmati matahari terbenam. Mungkin
kalau mau jauh dikit lu bisa ke bukit,
ke curuk, ke gunung. Ya mungkin nanti
bakal kena pungli lah ya. Enggak
gratis-gatis banget gitu sama ormas
kalau di Indo. Tapi ya itu cara murah
sebenarnya kan untuk jadi happy. Jadi lu
bisa banyak sekali memanfaatkan hal-hal
gratis di dunia ini. Enggak semuanya
harus pakai duit. Yang kelima, apa yang
perlu lakuin? Nih yang terakhir sih ya.
Jangan lupa bersyukur. Investasi terus
ke diri sendiri ya. Jadilah ambisius
memang. Tapi sadari aja bahwa semua
keinginan tuh enggak bakal cukup, enggak
bakal pernah puas gitu. Manusia tuh ya
mindsetnya harus digeser nih dari
pengejaran kekayaan gitu ya. Jadi
pencarian kepuasan. Lu nyari makna,
nyari growth bukan hanya di aspek
material tapi juga di nonmaterial. Ya,
bahkan jujur gua ya sama juga dengan
prinsip ini ya. Gaji UMR tuh cukup
sebenarnya enggak make sense secara
logika gitu. Tapi ketika gua mulai
mendalami mindset ini, semua tuh cukup
gitu. Sebenarnya yang gua malah bingung
adalah kok project-projject duit-duit
itu kok malah berdatangan gitu ya. Of
course kita perlu jago di suatu bidang
ya biar ya kita diundang oleh orang gitu
ee dan biar projek-projject pada datang
ke kita gitu kan. Dalam hal ini bidang
gua adalah psikologi ya. Ada aja gitu
yang ngundang ya ketika gua banyak
bersyukur yang ngajak tender project
gitu ya, yang ngajak jadi trainer,
pembicara gitu atau ada
opportunity-oportunity lain yang bisa
gua jalankan secara ambisius tapi tetap
santui gitu ya karena ya bersyukur aja
gitu kan. Nah, dari sini lu mungkin
bakal menyadari bahwa kualitas hidup tuh
tidak semata-mata ditentukan oleh
penghasilan tapi oleh mindset gitu.
gimana kita menyikapi hidup itu sendiri,
gimana kita ngelola sumber daya kita
gitu yang terbatas, dan gimana kita
define kecukupan gitu untuk diri kita
sendiri. Kesimpulannya ya kaya enggak
perlu ngoyo, santui bukan berarti,
enggak berdampak dan kalau lu ambis tapi
malas ya mungkin mindset ini adalah
jalannya gitu. Jadi gini, gua juga mau
disclaimer sih. Menyatakan bahwa kita
tidak mengejar kekayaan, bahwa gaji UMR
juga cukup dan bahwa dampak kecil aja
juga cukup atau ngaruh ke orang tuh
bukan karena gua denial gitu ya, gua
menyampaikan itu semua. Kita tidak denal
lah, kita tidak deny dan kita tidak
menolak bahwa realita kesulitan ekonomi
itu enggak ada. Bukan. Bukan kayak gitu.
Ini juga bukan sebuah argumen untuk
menolak upaya perbaikan gitu ya.
Misalnya untuk menolak AI, menolak
kripto segala macam gitu. Tapi video ini
tuh gua pengin jadi sebuah ajakan gitu
ya. Makanya ini agak berbeda dengan
style gua biasanya gitu ya. Mungkin gua
akan nerusin juga bikin video-video
kayak gini. Video ini tuh jadi ya ajakan
untuk bersyukur aja. Ajakan untuk
melakukan refleksi yang mendalam tentang
apa arti kaya dalam tanda kutip dan
miskin dalam tanda kutip yang
sesungguhnya gitu. Dan gimana mindset
kita tuh memainkan peran dalam
pengalaman kita menjani hidup. Karena
jujur enggak semua orang bisa jadi kaya.
Ya, of course semua orang bisa punya
ambisi gitu ya. Tapi ya kalaupun nanti
nyampe juga nih ya lu jadi ibaratnya
nyampe dalam tanda kutip. Apa artinya
kaya kalau akhirnya stres tiap hari gitu
kan? Apa artinya kaya kalau akhirnya
bunuh diri gitu ya. Kita bisa lihatlah
dari kasus yang salah satunya mungkin
trader legendaris gitu namanya adalah
Jessie Livermore yang akhirnya juga
mengakhiri hidupnya gitu. Ideologi ini
enggak seharusnya diterima dan enggak
seharusnya cocok oleh semua orang. Tapi
kita bisa tahulah bahwa para filsuf kuno
dari Tales sampai parastoik itu sudah
lama sekali, udah dari ribuan tahun yang
lalu mengingatkan kita bahwa kekayaan
material tuh bukan tujuan akhir atau
bahkan tujuan utama dari eksistensi
manusia. Eksistensi kita tuh lebih dari
itu ya, lebih dari sekedar ya menang
dalam game kapitalisme lah sudah jelas
gitu kan. Dan bahwa kebahagiaan sejahat
itu memang seringki ditemukan dalam
kesederhanaan gitu ya, dalam ketenangan
batin, dalam hubungan yang otentik gitu.
Di zaman modern, meskipun kita hidup
dalam sistem ekonomi yang kompleks dan
ya sangat banyak sekali tantangannya,
seorang individu ya dengan gaji UMR ya
sejatinya kita udah punya akses loh. Gua
mau ngingetin nih, kita udah punya akses
loh terhadap standar kualitas hidup yang
tidak bisa dinikmati oleh raja-raja di
masa lalu. Tantangan terbesar seringki
bukan terletak pada kurangnya sumber
daya gitu. Justru pada sekali lagi
mindset. di mana lu ngebanding-bandingin
sama orang lain, di mana lu konsumtif,
di mana lu punya definisi kesuksesan
yang sempit gitu. Jadi, mari ya
definisikan ulang arti kekayaan. Fokus
sama kebutuhan yang esensial buat lu.
Fokus ngelola keuangan dengan bijak,
fokus bersyukur. Tapi ya tetap lagi-lagi
bukan berarti lu tidak ambisius juga.
Bukan berarti lu tidak berinvestasi ke
diri sendiri. Tapi sekali lagi
investasilah bukan hanya di yang
material tapi di yang non material.
Karena rasa cukup tuh adalah sebuah
kondisi yang bisa diciptakan sebenarnya
terlepas dari nominal yang lu punya.
Pada akhirnya ya kaya atau miskin lebih
banyak ditentukan oleh apa yang ada
dalam pikiran dan hati kita dibandingkan
dompet. Gaji OMR bisa jadi fondasi kok
untuk ngebangun kehidupan yang penuh
makna, penuh syukur, penuh kepuasan. Ya,
semoga video ini bisa ngebantu. Jangan
lupa like, comment, dan subscribe. Gua
100%. Well, thanks
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:31 UTC
Categories
Manage