Ambisius tapi Malas: Cara Jadi Happy, Meskipun Gak ‘Kaya’
Dpxvyfse1y4 • 2025-05-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Di era digital seperti sekarang, kita banyak sekali dibanjiri oleh narasi kesuksesan yang seringkiali disama ratakan dengan kekayaan material. Dan kita mulai melihat tren ini tuh sejak tahun 2020 ya, banyak yang berlomba-lomba memamerkan gaya hidup mewah dan menawarkan resep untuk menjadi kaya. Pesan yang digawangkan tuh biasanya begitu kuat sekali. Ibaratnya gini, kejarlah kekayaan, maka kebahagiaan dan pengakuan itu akan mengikuti. Yang mana ini fakta, ya. Tapi di tengah hiruk pikuk, pengejaran materi ini, pengejaran kekayaan ini, sebuah pertanyaan fundamental mungkin terlupakan. Apakah betul setiap orang tuh benar-benar menginginkan kekayaan seperti yang digambarkan oleh ya banyak idol-idol di luar sana? Dan apakah kata cukup itu sebenarnya hanya sebatas nominal atau justru lebih ke masalah mindset gitu. Dan gimana gitu kalau kita gak bisa mencapai kekayaan itu? Gimana kalau kita orangnya malas? Gimana kalau kita orangnya tidak ambisius? Gimana atau kalau kita malah termakan oleh ambisi dan ego kita sendiri? Nah, di video kali ini bakal sedikit berbeda dan mungkin sedikit panjang. Tapi gua bakal nyoba buat menjelajahi gagasan bahwa sebenarnya dengan mindset yang tepat bahkan gaji UMR itu bisa sangat bisa sekali terasa cukup di dunia modern seperti sekarang. Dan bahkan bahwa konsep kaya miskin itu sejatinya lebih kompleks daripada sekedar angka aja. Selamat datang di Psychology of Finance dan silakan subscribe dulu sebelum nonton dan gua harap ya lu bisa nonton video ini sampai habis. Welcome to psychology of finance. Sekarang bisa kita lihat ya, banyak banget influencer dengan gaya dan pendekatannya masing-masing ya. Ada yang pendekatannya realistis, ada juga yang pendekatannya tuh mendokumentasikan sesuatu gitu ya. banyak yang secara konsisten mendorong audiens-nya tuh untuk mengejar kebebasan finansial, membangun aset, dan mencapai status kaya raya. Dan salah satunya mungkin termasuk gua gitu ya di 1%. Tapi kita mulai melihat ada banyak template lah ya yang berulang kalau kita lihat di negara-negara lain maupun di Indonesia. Misal ada yang template-nya adalah suka traveling ke sana kemari. Ada juga yang tinggal di luar negeri. Ada yang punya mobil mewah. Ada yang punya banyak pembantu. Ada yang tinggal di gedung tinggi. Ada juga yang cerita From Zero to Hero dan banyak lagi. Sayangnya ketika narasi ini udah sangat populer sekali di media sosial, akhirnya ini punya beberapa implikasi. Nah, gua jelasin satu-satu. Pertama, tekanan sosial yang sangat besar. Kita tahulah ya sekarang masalah kesehatan mental itu selalu meningkat tiap tahunnya. ini bakal ningkatin masalah kesehatan mental gitu. Kenapa? Karena mereka-mereka ini tidak atau belum mencapai standar kekayaan yang cukup apalagi diejek-ejekin juga gitu ya, baik oleh tetangganya, baik oleh influencer. Mereka ini bisa sangat merasa gagal, sangat merasa tertinggal, atau sangat merasa tidak berharga. Jangan heran gitu ya, banyak sekali orang gara-gara merasa tidak berharga ya banyak yang akhirnya melakukan sesuatu yang di luar field of expertise mereka ya. Contohnya misal invest di saham gorengan akhirnya rugi. Invest di NFT akhirnya jadi exit liquidity rugi. Trading crypto yang akhirnya malah kena scam sama developernya dan banyak lagi. Dan yang paling populer sebenarnya sekarang memprihatinkan sekali ya itu ada dua hal sebenarnya. Pertama adalah judul. Orang akhirnya nyoba pengen kaya secara instan dari judul. Dan yang kedua yang memprihatinkan adalah orang jadi boros dan konsumtif tapi duitnya dari pinjol yang bunganya bisa puluhan persen pinjolnya ilegal lagi. Dan ketika salah satu dari dua itu ternyata gagal dengan banyaknya tekanan ya dari sosmet, dari keluarga, dari lingkungan, apa yang terjadi? Ya pada kasus ekstrem enggak heran gitu ya. Banyak yang sampai melakukan percobaan buruk. Itu adalah implikasi pertama, tekanan sosial. Implikasi kedua, narasi bahwa semua orang harus menjadi kaya itu menurut gua mengabaikan keragaman aspirasi manusia. Jadi, kayak seakan-akan ya semua orang tujuannya satu itu aja. Padahal kan enggak semua individu tuh menempatkan akumulasi harta itu sebagai prioritas tertinggi dalam hidupnya. Sebagian orang mungkin lebih prefer ya kedamaian batin, hubungan yang oke sama pasangan, pengembangan diri di bidang seni misalnya, di bidang ilmu pengetahuan atau mungkin sekedar kehidupan yang sederhana dan tenang aja gitu. Ibarat kata ya ya gaji UMR juga enggak apa-apa gitu loh. Yang penting bisa nonton Netflix, main game terbaru, jangan-jangan sesekali dalam setahun ya udah cukup aja gitu, enggak perlu lebih. Nah, ketika menjadi kaya dalam tanda kutip ini dijadikan satu-satunya tolak ukur kesuksesan, nilai-nilai dan tujuan hidup alternatif yang lain itu jadinya kayak enggak penting gitu, kayak terdevaluasi. Padahal sebenarnya enggak juga kan gitu. Nah, untuk ngasih perspektif lain tentang kekayaan, gua pengen cerita tentang salah satu filsuf Yunani kuno, yaitu adalah namanya Tales. Si Tales ini dia tuh dikenal sebagai salah satu dari tujuh orang bijak di Yunani dan sering dianggap sebagai filsuf pertama di dunia dalam tradisi Barat. Natales ini diceritain di buku yang ditulis sama Aristoteles yang berjudul Politics. Jadi si Tales ini, jadi dia tuh seorang filsuf yang pada masa dia hidup, dia sering diejek sama orang-orang desa di sana. Kenapa? Karena dia tuh miskin dan dianggap sebagai bukti bahwa filsafat yang dia pelajari itu enggak ada gunanya gitu. Enggak penting gitu loh. Ngapain lu berfilsafat gitu ya. Jadi ibarat kata si Tales ini dibacotin. Ngapain sih lu belajar-belajar filsafat, bikin teori segala macam. Mending lu kerja enggak sih? Mending lu bertani aja enggak sih? Kerja yang benar. fokus jadi petani gitu ya. Ya udah jadi kaya dari sana gitu loh. Nah, yang menarik adalah si Tales ini sebenarnya dia tuh pintar cuy, cuman memang dia orangnya malas gitu ya. Dan sebenarnya bukan malas sih, lebih ke dia kagak prefer untuk jadi kaya aja. Preferensi dia ya lebih ke belajar aja gitu. Bikin teori-teori yang sebenarnya aneh sih kalau gua jelasin ya teori-teorinya ya. Contoh dia bilang manusia tuh dari ikan gitu ya. Ya pokoknya itu bukan bahasan sekarang lah karena kita enggak bahas filsafat kan. Cuman intinya si Tales ini gara-gara dibacotin mulu sama temannya, dia akhirnya pengin ngebuktiin. Ngebuktiin apa? Bahwa seorang filsuf pun bisa sebenarnya untuk menjadi kaya kalau dia mau. Nah, karena si Tales ini pintar, dia kan pintar astronomi, pintar matematika segala macam lah ya. Dia akhirnya pakai pengetahuannya dari astronomi untuk memprediksi cuaca. Dia tuh meramalkan bahwa akan terjadi panen zaitun yang melimpah di musim berikutnya. Nah, sebelum panen pas tetangga-tetangganya yang petani ini ya, yang pada bacot ini belum pada nyadar si Tales ini jadi satu-satunya orang yang nyewa semua alat pemeras zaitun. Dan karena tidak ada yang tahu pada zaman itu ya ibaratnya orang-orang pada bodoh-bodoh ya bahwa Zaitun itu bakal panen ya. Jadinya dia bisa dapat harga yang murah banget. Nah, pas musim panennya datang nih dan prediksi si Tales ini ternyata benar ya. Orang akhirnya pengen nyewa dong ya. Ialah orang pengen panen lah pakai alat yang udah disewa dimonopoli sama si Tales ini. Si Tales akhirnya yang sudah memonopoli akhirnya menyewakan kembali ke orang-orang ini dengan harga yang jauh lebih tinggi. Akhirnya apa ya? Cuanlah. Nah, dari sana dia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya sebenarnya sangat bisa sekali dikonversi menjadi kekayaan material. Nah, yang menarik adalah sebenarnya bukan berarti bahwa filsuf itu bisa jadi kaya, cuman yang menarik adalah hal yang dilakukan oleh Tales setelah itu. Akhirnya ya dia enggak lantas tiba-tiba jadi seorang pebisnis gitu kan atau tiba-tiba numpuk harta gitu. Enggak. Dia balik lagi menekuni minat utamanya gitu yaitu adalah filsafat dan ya pencarian pengetahuan. Karena gini, buat Tales itu gitu ya, kekayaan tuh bukan tujuan akhir, melainkan kekayaan itu adalah ya sebenarnya adalah satu opsi yang dia bisa raih kalau dia mau. Dia bisa spend time di sana. Tapi dia itu lebih memilih untuk memprioritaskan hal lain yang sebenarnya ya dianggap lebih lebih oke aja buat dia. Yang akhirnya berbuah juga kan. Kita semua jadi tahu tentang teorinya bisa dibaca di hampir semua buku filsafat Western philosophy ya. Yaitu karena minat dia terhadap belajar. Tapi di sini kita bisa lihat bahwa ya masalah jadi kaya atau tidak itu ya soal preferensi sebenarnya. Bahwa loh hal-hal lain dalam hidup yang bisa ngasih kepuasan dan makna yang lebih besar untuk tiap orang dan itu beda-beda. Enggak semua hal itu tentang akumulasi uang. Nah, kali ini gua mau ngasih statement yang cukup kontroversial bahwa gaji UMR itu cukup kok. Statement ini kontroversial sekali. Apalagi ketika gua sendiri yang nyebutin udah jelas-jelas gaji gua bukan OMR gitu ya. Tapi kalau kita mau nyoba ubah mindset gitu ya, anggaplah kita melakukan perbandingan. Ini gua mau ngajak kita belajar sejarah. Kita coba ngelakuin perbandingan antara kualitas hidup seorang raja di zaman feodal ya mungkin zaman sebelum masehi lah ya zaman Game of Thrones lah dengan seorang karyawan bergaji UMR di era modern tahun 2025 ini. Sebenarnya di sini kita bakal menemukan beberapa aspek menarik yang mungkin lu udah tahu tapi lu lupa aja gitu. Jadi di zaman feodal ya zaman dulu lah ya zaman Majapahit gitu ya. Seorang raja kan pasti punya kekuasaan absolut. Dia punya tanah yang luas, dia punya harta benda yang tidak terbayangkanlah oleh kita-kita yang gajinya WMR. Tapi sebetulnya kita di zaman sekarang, thanks to kapitalisme, bisa menikmati standar hidup seperti itu. Seperti raja-raja di zaman dahulu. Misal pertama soal kesehatan dan soal harapan hidup. Lu bayangin raja yang hidup di zaman Game of Thrones gitu ya. Pasti lu tahulah ini contoh aja. Salah satu raja ya, Jason Momoa alias si Caldrogo alias si Aquamen nih. Dia tuh mati di zaman dulu. Dia kan kesatria yang sangat kuat, raja yang sangat kuat, sangat berkuasa. Tapi ini gua sampai bilang kasar ya tololnya adalah dia matinya karena apa? Karena infeksi bakteri gitu kan. Lu bayangin kan raja terkuat nikah sama Deneris Stargarian, suaminya mati bukan karena ditebas musuh ya ditebasi dikit gitu ya. Bukan karena sihir tapi karena infeksi bakteri gitu kan. Jadi raja di zaman dulu bisa mati seperti itu ya. Raja dulu pasti punya lah ya punya dokter atau tabib pribadi terbaik di masanya. Tapi kan zaman dulu pengetahuan medis tuh sangat terbatas. Infeksi ringan, kena bakteri dikit lu bisa mati gitu ya kan. Ada wabah juga angka kematian bayi, angka kematian istri atau ibu yang melahirkan itu sangat amat tinggi di ribuan tahun lalu. Coba kita bandingin sama karyawan UMR sekarang gitu ya yang meskipun mungkin kita bisa kritik lah ya BPJS lama segala macam tapi at least ada BPJS gitu loh. Fasilitas kesehatan publik yang tinggal ngantri ya. Lu tinggal bayar bulanan dari berapa persen gaji lu itu tinggal ngantri. Sakit lu bisa beli parasetamol. Ada akses juga ke antibiotik, ke vaksin. Kalau ada sesuatu bisa dibedah sama dokter. Diagnosis juga jauh lebih canggih. Ada AI, kebersihan, sanitasi lebih baik. Ini semua itu bikin kita yang hidup di zaman sekarang dengan gaji UMR itu lebih sehat dibandingkan raja zaman dahulu. Harapan hidup manusia tuh sekarang jauh melampaui harapan hidup di masa lalu. Bahkan kalau kita bandingin sama kalangan bangsawan sekalipun di zaman dulu. Itu yang pertama, kesehatan. Yang kedua, akses informasi dan hiburan. Zaman dulu raja pasti punya seniman, punya juru tulis, punya perpustakaan yang isinya tuh ratusan manuskrip, ratusan scroll langka. Buat lu yang nonton anime horb udah pasti relate sih ya. Akses terhadap informasi itu sangat terbatas, sangat dikontrol oleh ya kalau zaman dulu gereja atau oleh sebagian kecil orang. Cuma orang-orang terpilih kayak ustaz-ustaz gitu yang bisa ngakses. Hiburan juga terbatas. Paling apa sih zaman dulu ya kalau lu main The Witcher gitu ya, paling nonton teater gitu sama musik. Coba lu bandingin sama karyawan UMHR zaman sekarang dengan smartphone, dengan koneksi internet. Kita bisa punya akses ke perpustakaan dunia. Kita bisa akses berita, pilihan hiburan juga enggak terbatas gitu. Ibaratnya kalau lu mau bajak juga bisa kan gitu. Ada banyak lagi ya dari segi hal-hal lain yang sebenarnya karyawan UMR kita sekarang itu lebih unggul daripada ratusan atau ribuan tahun lalu. Pangan dan gizi. Karyawan UMR, lu mau makan apa? Lu mau makan sushi, spagetti, gacauan. Lu bisa makan semuanya itu di Jakarta dengan gaji WM. Berbagai jenis makanan dari berbagai belahan dunia. Dari segi kenyamanan. Mungkin raja-raja zaman dulu ya tidurnya memang enak, megah, tapi ada kipas angin enggak gitu? Kan lu bayangin hidup di negara empat musim enggak ada kipas angin, enggak ada AC, enggak ada water heater, enggak ada sistem pipa air, jet pump gitu. Dari segi mobilitas zaman Rasul lah dulu. Dari Makkah ke Madinah orang naik apa? Naik onta. Ya, terus zaman Vikings lu bisa mati, cuy. Kalau lu mau nyeberang pulau, lu misalnya mau ke Inggris gitu dari area Scandinavia kagak bisa lu bisa mati gitu loh. 50 atau 7030 lah gitu ya. 70-nya tuh mati 30-nya tuh lu berhasil. Jadi zaman dulu udah kagak nyaman, bahaya pula. Dan bisa aja ya lu jadi raja zaman dulu mungkin lu enggak pernah tuh traveling seumur hidup. Kalau dibandingin sama zaman sekarang karyawan UMR Jakarta, lu mau ke Bandung naik travel. mau lebih cepat ada kereta cepat. Mungkin akan ada yang bilang, "Ya tetap aja, Bang, enggak di WMR tuh hidup sulit." Ya, bener sih gua tahu untuk standar hidup zaman sekarang, ya memang sulit. Perbandingan ini memang bukan bertujuan untuk meremehkan kesulitan lu sebagai pejuang UMR. Tapi poinnya adalah bahwa standar hidup dasar dan akses terhadap banyak kemewahan itu zaman sekarang mudah sekali diakses. Apalagi kalau lu belajar sejarah, lu bisa belajar bersyukur bahwa sekarang tuh ini semua bisa dinikmati oleh semua masyarakat luas. termasuk el yang pejuang UMR. Ya, ini menunjukkan bahwa sebenarnya kekayaan tuh subjektif kan. Kalau kita mau bersyukur ya sebenarnya di zaman sekarang bisa banget dong kita udah kaya banget loh. Ya betul, kita memang hidup di dalam sistem ekonomi yang kompleks yang melibatkan uang fiat gitu ya. Ada bunga, ada riba yang mungkin lu enggak believe dengan sistem itu. Memang sistem ini tuh ada banyak sekali kekurangannya. Gua sendiri benci sekali ya dengan kapitalisme ini. Tapi bukan berarti kapitalisme ini menegasikan efeknya bahwa tidak ada peningkatan kualitas hidup. Ya, ini semua terjadi berkat kapitalisme, Guys. Berkat sistem fiat, berkat inflasi. Dan ini semua mesti kita syukuri meskipun bukan berarti kita enggak boleh ngritik. At the end of the day, di sinilah ya peran mindset atau pola pikir itu menjadi sangat krusial dengan gaji WHR ngejar gaya hidup materialistis seperti yang digambarkan oleh para influencer gitu ya di luar sana itu sebenarnya adalah resep menuju frustrasi, resep menuju stres finansial, resep menuju jeratan utang. Jadi gini, kalau misalnya nih sekarang lu ditawarin nih ada banyak mindset nih, gua mau nawarin satu mindset yang berbeda yang bisa bikin gaji UMR pun bisa terasa cukup untuk hidup yang happy gitu, untuk hidup yang bermakna dan memuaskan. Gimana caranya nih? Apa yang bisa lu lakuin? Pertama, yang bisa lu lakuin adalah lu definisikan ulang arti kekayaan. Jadi, lepaskan diri lu dari definisi sempit kekayaan. Ada yang bilang kaya itu kalau punya 100 M. Ada yang bilang kaya itu kalau punya 10 M. Ada yang bilang kaya itu punya 1 M. Ada yang bilang kayak itu cukup punya R10 juta. Tapi gini, lu lepasin semua mindset duit itu. Karena kekayaan itu ya bukan hanya tumpukan uang gitu ya kan. Uang itu adalah alat sebenarnya. Bukan juga kepemilikan barang mewah. Kekayaan itu multidimensional ya. Bisa berupa kesehatan, enggak ada penyakit gitu ya, hidup sehat. Bisa juga berupa hubungan yang berkualitas ya kan. Lu punya istri yang cantik, sayang sama lu. Lu punya suami yang mungkin enggak ganteng-ganteng amat, tapi dia sayang sama lu juga. Lu mungkin punya keluarga yang gak perfect tapi ya mereka sayang sama lu. Itu kan hubungan yang berkualitas. Waktu luang. Kalau lu kaya tapi gak punya waktu juga rasanya percuma, enggak sih? Enggak bisa dinikmatin. Ya kan? Kedamaian batin, bebas dari overthinking, ngerasa puas dengan pencapaian lu saat ini. Ada juga rasa syukur, kemampuan buat menghargai apa yang sudah dimiliki. Yang tadi ya, yang tadi kita bahas. Ada juga pengetahuan, wisdom. Nah, ini oke banget sih kalau lu nonton anime orb ya. Saran gua lu tonton. Tapi intinya pengetahuan dan wisdom juga bisa ngasih kita kepuasan. Ketika kita memahami lebih dalam tentang diri kita, tentang dunia gitu, itu bakal jadi kepuasan tersendiri. Ada juga soal kontribusi sosial. Well, mungkin ada yang akan ngedebat, "Ya, ketika lu enggak kaya, ketika lu miskin, ya kontribusi lu enggak sebesar orang-orang kaya dong, gitu kan." Ya, benar. Tapi at least gitu ya, kontribusi kecil kita mungkin juga akan ngaruh loh jadi butterfly effect gitu loh. Mungkin dengan kita misal kita ngasih makan tetangga kita gitu ya atau ngasih makan fakir miskin. Siapa tahu fakir miskin itu akan menjadi kaya juga dan itu efeknya dari makanan yang kita kasih gitu kan atau hal kecil kayak misalnya kita nyapa tetangga gitu kan. Bisa aja itu jadi butterfly effect loh yang ngaruh ke banyak hal. Enggak selalu ya hal yang berdampak itu hal besar ya. Semua bisa dimulai kok dari hal kecil. Itu yang pertama, lu definisikan ulang arti kekayaan. Yang kedua, lu fokus pada kebutuhan, bukan keinginan. Lagi-lagi kita bisa belajar sama filsuf. Ya, kok belajar sama filsuf sih? Gitu. Kenapa menurut gua belajar sama filsuf itu penting gitu? Ya ada alasannya lah kenapa karya mereka bisa bertahan sampai ribuan tahun kan. Dan ada alasannya kenapa filsuf-filsuf ini namanya tuh bisa hampir immortal. Nah, salah satu filsuf yang kita bisa pelajari adalah dari epictus ya. Ini filsuf Stoik lah. Dia bilang, "Kekayaan itu bukan dari memiliki harta benda yang besar, tapi dari memiliki sedikit keinginan." Jadi bukan berarti lu punya harta jadi kaya kalau lu masih punya banyak keinginan. Justru orang yang kaya itu yang punya sedikit keinginan. Jadi yang manusia butuhin kan sebenarnya simpel ya, kayak sandang, pangan, papan gitu ya. Kalau kita tambah dikit ada kesehatan, ada pendidikan, ada hubungan baik. Sisanya kan paling cuma keinginan ya. Lu pengen sepatu baru, lu pengen cuan dari saham, lu pengen nonton film baru, lu pengen nyoba maca baru. Tapi ya itu semua cuma tren, Guys. Lu nyobain pistasio, maca segala macam itu cuma tren. Itu tuh cuma dari iklan, itu tuh cuma dari tekanan sosial, atau malah gengsi semata aja. Gaji WMR pun bisa cukup loh untuk memenuhi kebutuhan dasar, semua kebutuhan dasar lu ya kalau dikolah dengan baik. Tapi ya memang gaji itu enggak akan pernah kerasa cukup kalau mau muasin keinginan bukan kebutuhan ya. Karena yang namanya keinginan tuh enggak terbatas. Itu yang kedua. Yang ketiga, kelola keuangan dengan bijak. Meskipun terbatas, pengelolaan keuangan yang baik itu adalah kunci. Bukan buat jadi kaya raya dalam semalam, ya untuk jadi instan gitu, bukan. Tapi justru untuk mencapai stabilitas. Jadi financial literacy itu penting. Nah, beberapa prinsip dasarnya bisa lu baca di bawah sini. Nah, udah lu baca. Oke, kita lanjut ke poin keempat. Yang bisa lu lakuin adalah manfaatin sumber daya gratis atau murah untuk ningkatin kualitas hidup. Jangan lupa loh, banyak hal berharga dalam hidup ini yang sebenarnya enggak butuh biaya yang besar atau malah gratis. Contoh ya, kalau lu tinggal Jakarta. Kemarin Gubernur Jakarta bilang, "Perpustakaan bakal buka sampai malam." Di perpus lu bisa baca buku, pakai Wii, mau nge-date juga bisa. Gratis. Pergi ke sana dekat sama KRL, harganya R5.000-an doang. Kalau misalnya lu tinggal di desa bukan Jakarta gitu ya, lu bisa main ke alam. Lu bisa coba jalan-jalan sekitar komplek, lu jalan-jalan ke alun-alun, taman kota sambil nikmatin momen-momen santai gitu ya. Nikmati matahari terbenam. Mungkin kalau mau jauh dikit lu bisa ke bukit, ke curuk, ke gunung. Ya mungkin nanti bakal kena pungli lah ya. Enggak gratis-gatis banget gitu sama ormas kalau di Indo. Tapi ya itu cara murah sebenarnya kan untuk jadi happy. Jadi lu bisa banyak sekali memanfaatkan hal-hal gratis di dunia ini. Enggak semuanya harus pakai duit. Yang kelima, apa yang perlu lakuin? Nih yang terakhir sih ya. Jangan lupa bersyukur. Investasi terus ke diri sendiri ya. Jadilah ambisius memang. Tapi sadari aja bahwa semua keinginan tuh enggak bakal cukup, enggak bakal pernah puas gitu. Manusia tuh ya mindsetnya harus digeser nih dari pengejaran kekayaan gitu ya. Jadi pencarian kepuasan. Lu nyari makna, nyari growth bukan hanya di aspek material tapi juga di nonmaterial. Ya, bahkan jujur gua ya sama juga dengan prinsip ini ya. Gaji UMR tuh cukup sebenarnya enggak make sense secara logika gitu. Tapi ketika gua mulai mendalami mindset ini, semua tuh cukup gitu. Sebenarnya yang gua malah bingung adalah kok project-projject duit-duit itu kok malah berdatangan gitu ya. Of course kita perlu jago di suatu bidang ya biar ya kita diundang oleh orang gitu ee dan biar projek-projject pada datang ke kita gitu kan. Dalam hal ini bidang gua adalah psikologi ya. Ada aja gitu yang ngundang ya ketika gua banyak bersyukur yang ngajak tender project gitu ya, yang ngajak jadi trainer, pembicara gitu atau ada opportunity-oportunity lain yang bisa gua jalankan secara ambisius tapi tetap santui gitu ya karena ya bersyukur aja gitu kan. Nah, dari sini lu mungkin bakal menyadari bahwa kualitas hidup tuh tidak semata-mata ditentukan oleh penghasilan tapi oleh mindset gitu. gimana kita menyikapi hidup itu sendiri, gimana kita ngelola sumber daya kita gitu yang terbatas, dan gimana kita define kecukupan gitu untuk diri kita sendiri. Kesimpulannya ya kaya enggak perlu ngoyo, santui bukan berarti, enggak berdampak dan kalau lu ambis tapi malas ya mungkin mindset ini adalah jalannya gitu. Jadi gini, gua juga mau disclaimer sih. Menyatakan bahwa kita tidak mengejar kekayaan, bahwa gaji UMR juga cukup dan bahwa dampak kecil aja juga cukup atau ngaruh ke orang tuh bukan karena gua denial gitu ya, gua menyampaikan itu semua. Kita tidak denal lah, kita tidak deny dan kita tidak menolak bahwa realita kesulitan ekonomi itu enggak ada. Bukan. Bukan kayak gitu. Ini juga bukan sebuah argumen untuk menolak upaya perbaikan gitu ya. Misalnya untuk menolak AI, menolak kripto segala macam gitu. Tapi video ini tuh gua pengin jadi sebuah ajakan gitu ya. Makanya ini agak berbeda dengan style gua biasanya gitu ya. Mungkin gua akan nerusin juga bikin video-video kayak gini. Video ini tuh jadi ya ajakan untuk bersyukur aja. Ajakan untuk melakukan refleksi yang mendalam tentang apa arti kaya dalam tanda kutip dan miskin dalam tanda kutip yang sesungguhnya gitu. Dan gimana mindset kita tuh memainkan peran dalam pengalaman kita menjani hidup. Karena jujur enggak semua orang bisa jadi kaya. Ya, of course semua orang bisa punya ambisi gitu ya. Tapi ya kalaupun nanti nyampe juga nih ya lu jadi ibaratnya nyampe dalam tanda kutip. Apa artinya kaya kalau akhirnya stres tiap hari gitu kan? Apa artinya kaya kalau akhirnya bunuh diri gitu ya. Kita bisa lihatlah dari kasus yang salah satunya mungkin trader legendaris gitu namanya adalah Jessie Livermore yang akhirnya juga mengakhiri hidupnya gitu. Ideologi ini enggak seharusnya diterima dan enggak seharusnya cocok oleh semua orang. Tapi kita bisa tahulah bahwa para filsuf kuno dari Tales sampai parastoik itu sudah lama sekali, udah dari ribuan tahun yang lalu mengingatkan kita bahwa kekayaan material tuh bukan tujuan akhir atau bahkan tujuan utama dari eksistensi manusia. Eksistensi kita tuh lebih dari itu ya, lebih dari sekedar ya menang dalam game kapitalisme lah sudah jelas gitu kan. Dan bahwa kebahagiaan sejahat itu memang seringki ditemukan dalam kesederhanaan gitu ya, dalam ketenangan batin, dalam hubungan yang otentik gitu. Di zaman modern, meskipun kita hidup dalam sistem ekonomi yang kompleks dan ya sangat banyak sekali tantangannya, seorang individu ya dengan gaji UMR ya sejatinya kita udah punya akses loh. Gua mau ngingetin nih, kita udah punya akses loh terhadap standar kualitas hidup yang tidak bisa dinikmati oleh raja-raja di masa lalu. Tantangan terbesar seringki bukan terletak pada kurangnya sumber daya gitu. Justru pada sekali lagi mindset. di mana lu ngebanding-bandingin sama orang lain, di mana lu konsumtif, di mana lu punya definisi kesuksesan yang sempit gitu. Jadi, mari ya definisikan ulang arti kekayaan. Fokus sama kebutuhan yang esensial buat lu. Fokus ngelola keuangan dengan bijak, fokus bersyukur. Tapi ya tetap lagi-lagi bukan berarti lu tidak ambisius juga. Bukan berarti lu tidak berinvestasi ke diri sendiri. Tapi sekali lagi investasilah bukan hanya di yang material tapi di yang non material. Karena rasa cukup tuh adalah sebuah kondisi yang bisa diciptakan sebenarnya terlepas dari nominal yang lu punya. Pada akhirnya ya kaya atau miskin lebih banyak ditentukan oleh apa yang ada dalam pikiran dan hati kita dibandingkan dompet. Gaji OMR bisa jadi fondasi kok untuk ngebangun kehidupan yang penuh makna, penuh syukur, penuh kepuasan. Ya, semoga video ini bisa ngebantu. Jangan lupa like, comment, dan subscribe. Gua 100%. Well, thanks [Musik]
Resume
Categories