Bahaya Gula: Cara Gula Menghancurkan Hidup Lo dan Dunia
OkcZl5CjlYo • 2022-05-31
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Rokok, alkohol, dan narkoba, mungkin kita
semua udah tahu ya bahaya dari ketiga barang
tersebut. Mulai dari bikin kecanduan sampai
dengan resiko kematian. Tapi ada satu hal
lagi yang sebenernya bahayanya bisa dibilang
mirip, sama-sama bikin ketagihan, kecanduan, dan
sama-sama mematikan juga. Tapi uniknya barang ini
tuh enggak sebegitunya diatur peredarannya. Bahkan
mungkin bisa dibilang biasa aja enggak diatur sama
sekali. Beda sama tiga hal yang gue sebutin tadi.
Gue cukup yakin kalau lo semua udah pasti pernah
atau bahkan mungkin setiap hari mengkonsumsinya ya
sebagai warga negara Indonesia. Dan gue yakin
barang itu juga ada di mayoritas dapur orang
Indonesia. Apakah hal itu? Well hal itu adalah
gula. Sebagai bahan makanan gula bertanggungjawab
atas meningkatnya tingkat obesitas di Indonesia
sebanyak dua kali lipat selama dua dekade
terakhir. Konsumsi gula berlebih juga jadi faktor
utama munculnya penyakit diabetes, gen penyebab
utama kematian nomor 4 di Indonesia. Dan gula
ini sebenarnya kan ada di dalam nasi. Gula itu
sebenarnya bukan cuma gula pasir, ada juga gula
aren, ada juga gula apa. Basicly semuanya itu ya
Gula. Melihat fakta tadi, sebenarnya enggak
heran kalau salah satu penulis Profesor di
bidang nutrisi asal britton di tahun 1972, dia
mendeskripsikan gula dengan tiga kata ini "Pure,
White, and Deadly". Itu adalah judul buku yang
ngebuat dia dimusuhin banyak ilmuwan di masanya
karena dia berani mengungkap bahaya dibalik gula.
Dan waktu itu Profesor itu bilang kayak gini,
kalau misalnya efek gula yang sebenarnya terungkap
bahan itu bakal segera dilarang. Udah 50 tahun
sejak dia menerbitkan bukunya dan sampai sekarang
banyak dari kita yang memang udah paham dan juga
aware tentang bahaya konsumsi gula berlebihan.
Tapi kenyataannya memang gula tetap jadi bagian
yang tidak terpisahkan. Semua orang harusnya
ya hidupnya gak bakal terpisah dari gula sih.
Coba lu perhatiin deh makanan dan minuman yang
belakangan ini jadi tren dan jadi top search lah,
entah di ojol atau dimanapun. Basicly
ya boba, kopi, croffle, dessert box,
atau makanan dan minuman yang sering lo liat
di minimarket. Hampir semuanya pakaike gula
sebagai salah satu bahan utama. Sekarang yang
jadi pertanyaan adalah kalau bahasanya kayak
gitu terus kenapa sih gula nggak dilarang atau
dibatasi penggunaannya? Kita semua juga tahu
kalau kebanyakan gula itu bikin diabetes, bikin
gemuk, tapi kenapa susah banget buat lepas? Apakah
ada sesuatu dibalik gula? Well di satu video
sebelum tidur ini, gua bakal nyeritain tentang
gula. Silent killer yang bisa dibilang enak tapi
dipenuhi banyak cerita yang bisa jadi cerita
konspirasi juga. Kalau lo penasaran stay tune
sama videonya dan tonton video ini sampai habis!
Gue mulai dengan sebuah pertanyaan. Kenapa
sih ada orang yang nyiptain gula? Emang tubuh
kita butuh gula? Well di zaman dahulu untuk
bertahan hidup manusia itu makan dengan cara
berburu dan meramu. Makanannya adalah ya header
daging-dagingan atau buah-buahan. Apapun yang lo
temuin lah sebagai manusia zaman dulu yang enggak
menetap. Nah sampailah tahap dimana manusia itu
bisa bercocok tanam. Dari situlah kita kemudian
konsumsi karbohidrat. Kan petani tuh basic nya
adalah gandum kalau misalnya dia dimulai bercocok
tanam, atau padi, dan lain sebagainya. Gula
itu kan adalah karbohidrat yang sebenarnya
secara natural juga ada di nasi, kentang,
bahan buah-buahan. Jadi gula itu bukan hanya gula
pasir seperti yang tadi gua bilang. Badan kita
bakalan mengubah semuanya itu, mostly karbohidrat
menjadi glukosa yang tentunya bakal jadi sumber
energi kita. Jadi ini sebenarnya memang salah
satu main consumption nya manusia gitu. Jadi
tubuh kita butuh gula dong? Well iya dan tidak
sebenarnya. Kenapa? Karena kalau ngomongin soal
glukosa atau gula yang ada dalam tubuh, ya memang
makanan yang kita makan akan diubah menjadi
energi. Nah tapi kalau misalnya batas minimum
dari gula yang manusia butuhin udah terpenuhi,
apakah kita butuh gula tambahan? Well sebenarnya
tubuh kita itu pada umumnya gak butuh gula sama
sekali. Nah faktanya gula tambahan itu sebenarnya
memasuki tubuh dan kehidupan kita ya secara tidak
sengaja karena manusia dulu suka sama rasa manis.
Nah rasa manis ini sebenarnya dulu kan jarang
ditemuin cuy. Sampai ada pada suatu titik,
manusia menemukan kalau tebu itu manis,
menanam tebu juga jauh lebih simple daripada
bikin peternakan. Perlahan-lahan lezatnya tebu ini
mulai terdengar dari asal daerahnya New Guinea.
Tebu akhirnya mulai menyebar ke negara-negara
sekitar kayak misalnya India, dan lain sebagainya.
Sampai ya masuk ke Indonesia. India tercatat jadi
negara pertama sebenarnya yang punya resep buat
bikin gula 2.500 tahun yang lalu. Dan resep itu
akhirnya pelan-pelan menyebar ke wilayah Arab
dan Mediterania karena wilayah itu dilakukan
kolonialisme sama bangsa Eropa. Lama-lama bangsa
Eropa juga ikutan suka dan ngebawa gula ketempat
asalnya. Nah di sana lah gula jadi barang
yang bisa dibilang cukup langka, cukup mahal,
dan cuma bisa dibeli bangsawan dan orang kaya.
Nah negara yang mempopulerkan industri gula itu
adalah bangsa Portugis. Terus akhirnya mereka
nyadar kalo tebu juga bisa ditanam di tempat
gue di Brazil gitu kan, wilayah kolonialisme
mereka, dan singkat cerita Brazil jadi negara
yang mendominasi industri gula di zaman itu. Tapi
demand gula itu saking tingginya sampai enggak
bisa digarap sendirian sama orang lokal, akhirnya
12 juta penduduk dari Benua Afrika datangin ke
Brazil selama hampir empat abad untuk jadi bisa
dibilang budak pabrik gula. Dan sampai sekarang
ya Brazil masih menjadi raja dalam produksi
gula. Nah masalahnya muncul sebenarnya ketika
fakta tentang bahaya gula ini mulai terungkap.
Dimulai dari salah satu presiden Amerika Serikat
Eisenhower itu dia mengalami serangan jantung.
Dia menceritakan penyakitnya itu ke publik kan.
Dan sehari setelahnya dokter kemudian ngasih press
conference tentang penyakit yang dialaminya dan
dia ngasih tips tentang gimana caranya terhindar
dari penyakit jantung. Berhenti merokok,
kurangin lemak dan kolesterol. Simpel gitu. Ayah
gue sebenernya juga kena stroke. Gue juga berarti
kan ada turunan disana. Dan akhirnya gua belajar
yang mana lemak dan kolesterol itu kan berarti
harus dihilangin. Berarti lo harus kurusan lah,
lu jangan obesitas, dan lu jangan punya lifestyle
yang buruk seperti misalnya merokok. Saran itu dia
kutip dari penelitiannya Ancel Keys itu dia adalah
nutrisionis dan pada inti nya Keys itu ngasih
hipotesis kalau penyakit jantung itu disebabkan
oleh lemak yang berubah jadi kolesterol,
terus numpuk di jantung lo, akhirnya jantung
lu tersumbat tuh alirannya, dan bikin jantung
berhenti memompa darah. Akhirnya apa? Stroke. Nah
akhirnya ya si presiden Eisenhower itu ngikutin
sarannya tapi dia akhirnya meninggal di tahun 1969
karena penyakit jantung. Kejadian itu membuat
banyak peneliti skeptis bener gak sih penyakit
jantung disebabkan oleh lemak dan kolesterol?
Bener cuy benar, tapi lemak dan kolesterol dari
mana sih? Akhirnya ada nih dateng peneliti yang
meneliti tentang penyakit jantung yang skeptis,
akhirnya dibikin tuh penelitian. Ternyata makanan
yang paling berkorelasi dengan kematian gara-gara
penyakit jantung itu gula sebenarnya. Bukan
makanan berlemak. Jadi kalau misalnya sekarang
ada low-fat dan sebagainya bisa diperdebatkan.
Kalau di kalangan nutrisionis memang ini jadi
perdebatan. Dan gue juga bukan nutrisionis so call
your doctor gitu ya sebelum memutuskan keputusan
dari vidio ini. Tapi yang jelas kalau dari riset,
dari buku yang gue baca, yang lebih bahaya itu
gula sebenarnya daripada lemak. Sebenarnya
kalau dibilang bahaya, ya semua juga bahaya
kalau kebanyakan. Tapi emang ada orang yang makan
brokoli kebanyakan terus jadi misalnya sakit gitu?
Ya nggak juga kalau banyak kan bisa jadi sehat.
Jadi ada beberapa makanan yang memang bagus ada
beberapa makanan yang memang kalau kebanyakan,
meskipun sedikit kebanyakannya, itu jadi buruk.
Nah menurut gua gula itu masuk ke sana. Jadi gula
itu sama-sama bikin seorang punya potensi gede
buat kena penyakit jantung. Kenapa? Karena kalau
gunakan semua orang suka dan lu secara biologis
suka juga. Jadi kayak adiksi aja dan orang
Indonesia gitu ya, sekali lo ga makan nas,
kayak belum makan aja gitu. Lu harus makan nasi
gitu kan. Nah itu mungkin salah satu dampaknya.
Dan yang bikin masalahnya jadi pelik adalah di
industri gula, gula itu jadi salah satu komposisi
yang sangat diperlukan buat membuat berbagai
macam minuman, berbagai macam makanan, boba
dan lain sebagainya, semuanya lah pokoknya. Hampir
semua makanan yang kita makan setiap hari itu ada
gulanya. Permasalahan gula ini sebenernya udah
melibatkan jutaan tenaga kerja, udah ada masalah
profit juga. Tapi berbahaya jadi kayak ini adalah
multi-billion agressive industriy. Very aggressive
industry. Dan yang paling besar mungkin dampaknya
adalah buat kita para konsumen. Nah ini menjadi
masalah memang dizaman sekarang. Di zaman sekarang
masalahnya adalah bukan lagi lu nggak bisa
dapat makanan, bukan lagi tuh nggak bisa dapet
informasi, tapi masa sekarang udah kebanyakan.
Abundance atau ya memang keberlimpahan dari
sesuatu. Entah itu gula, entah itu informasi, iya
akan kebanyakan informasi lu pusing, kebanyakan
gula ya lu jadi gemuk, lu jadi ya banyak penyakit.
Dan lu juga sekarang dihadapkan dengan berbagai
macam iklan dan lain sebagainya. Akibatnya apa?
Akibatnya ya pada akhirnya ke kesehatan kita kalau
dalam konteks gula. Kalau dalam konteks lain juga
sama kesehatan kita, mungkin kesehatan mental,
dan lain sebagainya. That's why memang data dari
Amerika menunjukkan kalau tingkat obesitas naik
dua kali lipat sejak tahun 1970 dan diabetes
meningkat tiga kali lipat. Dan kenaikan angka
obesitas itu bukan cuma tentang gimana kita sering
makan dan minum gula tapi juga karena gula ini
adiktif. Dan kita ngerasa Happy pas konsumsinya,
ya makanya gue juga punya hedonic value.
Dan badan kita kan punya kontrol yang bikin
kita ngerasa kenyang gitu. Si minuman manis ini
sebenarnya bisa bikin rasa kenyang itu juga jadi
lebih enggak sensitif. Jadi bisa dibilang
mati, jadi kita pengen makan lagi, lagi,
dan lagi. Jadi meskipun lu minum boba kalorinya
banyak, setara mungkin dua mie instan. Tapi lu
mungkin gak kenyang dengan minum boba lu mesti
makan lagi, yang jadinya malah tambah laper. Lu
makan nasi yang banyak gitu mungkin pengen makan
lagi. Apapun yang kebanyakan memang enggak baik
kan. Penyakitnya tuh banyak selain diabetes ada
juga tekanan darah tinggi, inflamasi, kenaikan
berat badan, banyaklah pokoknya. Itu juga ngaruh
ke kesehatan mental juga. Kalau lo makan siang
ada nggak yang ngerasa ngantuk? Ya banyak kan yang
ngerasa ngantuk. Nah terutama kalau lu makan nasi,
makan gula gitu-gitu. Dan itu akan ngaruh
ke pekerjaan lu, yang mana lu akan ngantuk,
yang mana ngerasa ngapain ya gua kerja siang-siang
kayak gini, gua harusnya tidur, dan sebagainya.
Itu ngaruh kesehatan mental juga cuy. Dan dari
riset juga bisa ngaruh bahwa lower intake of sugar
itu ngaruh ke better psychological help, meskipun
ini masih korelasi bukan causation ya. Nah terus
gimana sih yang harus kita lakuin? Ya banyak sih
pihak yang udah mulai aware termasuk pemerintah,
terutama di luar negeri, ada pajak gula kalau
diluar itu ya sejak tahun 2018 gitu. Misalnya
kalau lu jualan gula lebih dari sekian gram,
lebih lima gram, lu bayar pajak. Mungkin kecil
tapi kayak ya sebenarnya at least ada usahanya lah
gitu. Dan kalau perusahaan udah memproduksi jutaan
liter gitu aturan itu ngaruh banget buat mereka.
Ya akhirnya 50% perusahaan dari kebijakan itu
akhirnya milih buat mengurangi jumlah gula. Selain
itu konsumsi gula juga turun akhirnya tuh 10%.
Sebuah win-win solution gan sebenarnya. Walaupun
di Indonesia juga sempat ada wacana tapi sampai
sekarang memang ini belum terlalu diterapkan
gitu ya. Memang banyak lebat and banyak kalau
kita ngomongin soal kebijakan, banyak reaksi yang
timbul, salah satunya juga dari ketua gabungan
pengusaha makanan dan minuman seluruh Indonesia.
Katanya sih enggak ada data dimana kalau diterapin
sugar tax ini bisa mengurangi obesitas dan resiko
penyakit kronis. Tapi kalau gue sih simpel ya,
kalau gue gini, gue enggak mau tuh mata kalau
intervensi dari pemerintah bakal ngebantu,
bakal sangat ngebantu mungkin. Dan industri gula
juga punya peran besar. Dan kita juga sebenarnya
tubuh kita dari dulu mungkin udah dependen dan
kalau makan gula juga enggak gimana-gimana kok
yang penting kebanyakan kan. Tapi gini kalau
menurut gua sih prefer memang gimana caranya
kita bisa ngelihat apa sih hal yang paling
bisa kita kontrol. Mungkin ada yang suka
dengan jalan advokasi, which is true kita butuh
Jalan advokasi. Kita butuh juga jalan ya sampai
mungkin demonstrasi dari sebagainya. Tapi
kalau gua buat teman-teman nih para penonton
Satu Persen yang punya banyak kesibukan,
gue sih menyarankan memang mulai dari micro,
mulai dari skala diri sendiri. Lo punya kendali
loh untuk hidup lu dengan memilih buat setidaknya,
misalnya kalo lu ngerasa ini suatu barang itu
enggak bermanfaat ya lu kurangin dan lu hidup
secara lebih sehat selalu tahu akibatnya kayak
gimana. Lu bisa do your research lah, baca buku,
dan sebagainya kalau nggak percaya sama Satu
Persen. Which gue juga menyerankan seperti itu
jangan sampai percaya sama satu entitas, lu coba
cek sumber-sumber lain. Karena gini cost yang
kita keluarin kalau sakit juga gede banget cuy.
Penyakit-penyakit kronis yang tadinya kita cuma
anggap bakal menjangkiti orang-orang tua, atau
orang kaya katanya sih ya penyakit orang kaya,
ini dialami oleh orang dewasa muda juga. Umur 30
umor 40 dah diabetes cuy. Udah asam urat, udah
jompo. Ya bayangin aja masa muda lu yang harusnya
bisa produktif, ngasilin banyak duit, main gitu
kan, dan sebagainya. Harus dihabiskan secara
tidak produktif atau bahkan terbaring di rumah
sakit gara-gara penyakit kronis yang disebabkan
karena konsumsi gula. Belum lagi hubungan kita
dengan keluarga gitu kan, dengan gebetan, dan
lain sebagainya. That's why kita punya kurikulum
Satu Persen dimana kita menganggap bahwa risk
protection itu penting. Level 2 nih, Ngomongin
physical health. Level 1 at least lu punya duit,
at least lu punya keluarga yang bahagia. Level 2
lu masih punya dana darurat, lo mesti punya risk
protection, lu mesti punya at least punya BPJS
sebagai asuransi, atau punya asuransi yang lain
karena ini bisa dipakai buat menangani penyakit
kronis ini. Dan bukan cuma itu tapi juga menangani
physical health lu. Karena kalau enggak ya bakal
f**k up, lu susah mau naik ke level 3, level
4. Level 3 tuh ya happy, healthy, produktif
kan. Lo bisa punya karir yang oke, lo bisa punya
gebetan yang oke. Terus nikah misalnya, dan lain
sebagainya. Nah makanya lu coba lihat deh level 1
dan level 2 udah bener belum? Jadi kalau misalnya
gua, gua let say nih gua mempromo kan konsultasi
kesehatan mental Satu Persen. Terus lu bilang ga
punya duit, ya memang harus cari duit dulu kalau
dari kurikulum Satu Persen. Ya cari duit dulu
level 1. At least lu punya buat bertahan. Yang
kedua, lu jaga kesehatan cuy, jaga kesehatan
fisik. Nah yang ketiga kalau misalnya lu ngerasa
nih udah punya duit dari sebagainya, dan lu ada
masalah, ya ke Satu Persen sih, kalau menurut
gue ya karena kita juga ada ahli gizi. Gue juga
sejujurnya udah pernah konsultasi di ahli
gizi Stau Persen, di lifeconsultatition.id
dan itu ngaruh sih ke mindset gua dalam memilih
makanan. Dan bukan cuma itu juga karena kan tadi
ada kesehatan mental dan sebagainya silahkan kalau
misalnya ada masalah collection.co.id. Terus masa
depan gula gimana? Well nggak ada yang tahu pasti,
tapi ya gua rasa ya perlahan-lahan karena kita
udah ngerasain dampaknya nih sekarang. Ya kita
harus mengurangi yang kebanyakan sih. Again kita
juga harus coba berpikir tentang di masa depan
tuh kita harus gimana sih? Nah ini juga gua ada
platform ya di Instagram namanya Si Paling Gen Z.
Silakan lu follow ya kalau lu mau ngedengerin soal
keresahan-keresahan gua dan juga tim tentang
the future. Silakan ya. Jadi intinya gini
kalau misalnya lu ngerasa bermasalah ya seakan
collection.co.id ada ahli gizi, ada kesehatan
mental juga gitu ya, mentor, dan psikolog.
Kalau lu pengen ikut webinar Satu Persen tentang
life skills, ini kan life skills ya tadi
kurikulumnya. Silahkan follow lifeskills.id
ada banyak ya platformnya silakan difollow satu
persatu. Semoga nanti kita bisa ketemu di platform
lain, Instagram, Twitter, dan sebagainya. Akhir
kata gua Evan dari Satu Persen, well, thanks.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:57:02 UTC
Categories
Manage