Transcript
2nNck46iCKs • TKI INDONESIA DICINTAI JEPANG!! RUPIAH akan MENGUAT, 250 RIBU warga RI siap DITAMPUNG??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0544_2nNck46iCKs.txt
Kind: captions Language: id Good news nih buat Indonesia. Ternyata buat lu ya orang-orang yang masih nganggur nih, butuh kerjaan. Ada kabar baik ternyata TKI Indonesia, tenaga kerja Indonesia semakin hari makin dibutuhkan sama Jepang. Jadi TKI Indonesia itu semakin dicintai sama orang Jepang, Guys. Jadi enggak sia-sia sih negara Jepang menjajah dan memperbudak Indonesia selama bertahun-tahun. Kita udah harus beli barang-barang Jepang, beli mobil Jepang, eh bensin ya pun disubsidi. Jadi kita disuruh mensubsidi konglomerat-konglomerat Jepang. Karena BBM di Indonesia ditekan supaya harganya murah, supaya laku mobil-mobil Jepang itu. Ternyata enggak sia-sia kita menjadi budak Jepang. Karena hari ini bukan cuma lu bisa jadi budak produk-produknya Jepang, sekarang lu juga bisa jadi budak beneran di Jepang. Tunggu apaagi? Peluang yang luar biasa nih, Guys. By the way, lu penasaran enggak sih kenapa Jepang butuh banget sama TKI Indonesia? Kenapa dia suka banget ya sama tenaga-taga muda, tenaga kerja khas Indonesia. Apa sih alasannya? Kalau lu penasaran gimana sih ceritanya kenapa Jepang jadi nge-fans jadi cinta banget sama budak-budak? Sor maksud gua kenapa orang Jepang jadi nge-fans banget sama manusia-manusia tenaga kerja Indonesia. Jangan dikip video ini. Let's check this. Jadi buat teman-teman ya, kenapa berita ini menarik ya? Karena sebetulnya kabar ini bisa jadi sangat menguntungkan buat perekonomian Republik Indonesia tercinta ini dan bahkan bisa juga membantu buat menolong mata uang rupiah. Kenapa bisa begitu? Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, kita harus tahu dulu kenapa terjadi fenomena ini, Guys. Fenomena di mana orang-orang Jepang membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia. Ya, katanya orang Indonesia rajin-rajin. Etos kerjanya bagus, orang Indonesia pintar apa betul. Ya, sebelum kita masuk ke sana, kita harus tahu akar masalahnya apa sih yang terjadi di Jepang. Kenapa? Karena ternyata di Jepang sedang terjadi krisis, bukan krisis moneter, tetapi krisis tenaga kerja. Teman-teman tahu enggak ya? Sampai 4 tahun ke depan nih, tahun 2029, Jepang itu membutuhkan lebih dari 800.000 tenaga kerja asing buat membantu perekonomian mereka, buat mengisi posisi-posisi yang kosong di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di perbankan, di sawah-sawah, perkebunan, pertanian yang ada di Jepang. Kenapa itu bisa terjadi, Guys? Tentu ada faktor negara juga di situ yang bermain. Tapi yang jelas ya, pemerintah Jepang memang sudah mengakui keadaan darurat ini. Mereka mengakui bahwa negaranya kekurangan ratusan ribu tenaga kerja. Dan mereka akhirnya juga mengakui tanpa adanya pekerja asing, ekonomi Jepang bakal staknan bahkan nyungsep, Guys. Dan Jepang enggak ada pilihan lain. Mereka harus menambah tenaga kerja asingnya sampai empat kali lipat sebelum tahun 2040. Kalau mau negaranya tetap ada di planet bumi ini. Jadi buat teman-teman yang belum tahu ya, negara Jepang ini terkenal sangat rasis. Lu terkenal sangat susah mau dapat visa kerja di Jepang. Zaman dulu itu susah banget. Lu mau kerja di sana, bahkan lu mau beli rumah pun susah. Zaman sekarang udah dipermudah buat orang-orang asing bisa bekerja di Jepang. Karena mereka negaranya sangat rasis, Guys. Sangat anti lah dengan gaijin lah, dengan orang-orang bule. Kenapa lu sih dianggap mengambil kue ekonomi? Orang di sana aja anak-anak mudanya susah, masih susah kerja, bahkan banyak yang bunuh diri. Kok tiba-tiba tenaga kerja asing boleh mengambil lapangan kerja orang lokal. Makanya mereka sangat anti, Guys, sama orang asing. Tapi sekarang semua berbalik. Apa yang terjadi? Sebetulnya ada empat alasan, Guys. Kenapa Jepang itu kekurangan tenaga kerja dan kenapa mereka menjadi butuh kekuatan tenaga kerja dari asing. Alasan yang pertama adalah karena angka kelahiran di Jepang semakin menurun. Jadi buat teman-teman yang belum tahu ya, Jepang itu lagi mengalami darurat populasi. Jepang mencatat rekor angka kelahiran terendah sepanjang sejarah. Jadi kalau di Indonesia orang sibuk bikin anak, di Jepang orang-orang itu takut buat kawin bahkan takut buat bikin anak. Sehingga angka kelahiran di Jepang itu turun di bawah 700.000 terendah dalam satu abad terakhir ini, Guys. Dan bukan cuma angka kelahirannya yang terus turun-menurun, Guys. Tetapi juga memang populasi wanita-wanita muda yang subur, yang seharusnya layak buat punya anak. itu semakin berkurang. Jadi, udah perempuan muda semakin berkurang populasinya, orang-orang tidak mau lagi menikah. Makanya enggak heran angka kelahiran juga mau enggak mau akan semakin menyusut di kemudian hari, Guys. Jadi, ini angka yang sangat menyedihkan dan ini udah terjadi di banyak negara-negara maju, Guys, di dunia ini yang mereka makin enggan mau punya anak karena biaya hidup sangat tinggi. Jadi, buat apaagi lu bawa anak ke dunia ini buat ngidupin diri lu aja udah susah. Orang tinggal di Jepang itu kayak kontrakan ukuran 3* 4 itu hari yang normal. seumur hidup tinggal di kotak sekecil itu, Guys. Nah, terus alasan yang kedua, Guys, jumlah usia produktif, jadi orang yang layak kerja, siap kerja di Jepang itu semakin lama semakin menyusut, semakin berkurang. Jadi, udah orang-orang mudanya enggak mau punya anak, jadi generasi selanjutnya bakal punah nih manusia Jepang. Eh, yang usianya produktif juga jumlahnya semakin berkurang. Bukan jumlah anak bayi doang loh yang berkurang, tapi jumlah usia produktif juga semakin berkurang. Jadi usia produktif itu ya orang-orang yang usia antara 15 tahun sampai 64 tahun ini dianggap layak kerja, Guys. Jadi beda dengan di Indonesia. Di Jepang orang bahkan bisa kerja sampai 70 tahun. Tapi usia produktif yang dicatat versi pemerintah umur 15 sampai 64 lu harus kerja cari duit membangun perekonomian bangsa dan negara. Nah, Jepang ya krisis nih penduduk usia produktif dan ini ternyata menciptakan peluang kerja buat tenaga manusia Republik Indonesia. Karena apa? Karena makin banyak pos-pos yang kosong yang enggak bisa diisi karena manusianya enggak ada, Guys. Gimana manusianya bisa ada? Yang tua mati terus, yang muda enggak mau punya anak. Akibatnya hari ini tenaga kerja di Jepang itu semakin menyusut. Orang-orang yang yang sanggup mikul beras, sanggup pergi ke ladang, sanggup jadi operator mesin di pabrik. Jadi, banyak pekerja-pekerjaan khususnya pekerjaan kasar dan pekerjaan merawat orang tua ya, lansia. Jadi, pekerjaan menjadi suster itu semakin lama menjadi langka. Kenapa? Lowongannya sih ada banyak, Guys. Lapangan kerja ada banyak, tapi tenaga kerjanya semakin sedikit. Ya, jujur aja lah. Sama aja l kayak di Indonesia. Ada gitu orang di Indonesia masih mau yang jadi petani, pekebun. Gua rasa jumlahnya sangat sedikit. Begitupun di Jepang makanya banyak lahan-lahan sawah di sana mati, tidak produktif. Yang kedua, karena masifnya urbanisasi jadi makin banyak orang-orang yang bercita-cita. Kayak di Indonesia juga kerjanya cita-cita di mana? Di ibukota. Mereka enggak mau kerja di desa, mereka enggak mau kerja di kampung. Mereka mau enggak mau kerja di pabrik. Mereka maunya kerja di kota, Guys. Akibatnya terjadi urbanisasi besar-besaran. Nah, akibatnya apa? Ya, lapangan-lapangan kerja di daerah-daerah terpencil, pabrik-pabrik pinggiran, ya mati kosong, kehabisan tenaga. Karena anak mudanya pergi semua ke Jepang nih, ke kota-kota besar kayak Tokyo, Kyoto. Kerja di mana? Kerja di perusahaan-perusahaan dagang mereka lah kayak Itochu, Mitsubishi dan lain sebagainya. Jadi ketika tenaga kerjanya makin sedikit tetapi banyak pos-pos yang kosong ya mau enggak mau mereka harus isi itu dengan tenaga kerja asing. Nah, alasan yang ketiga, udah jumlah bayi yang lahir makin sedikit, orang yang produktif juga populasinya berkurang. Ternyata populasi orang-orang tua penduduk lansia di Jepang justru meningkat drastis mencapai rekor tertinggi. Dan teman-teman tahu namanya lansia kan butuh makan, butuh minum, butuh diganti popoknya, butuh dijagain. Sementara generasi muda mereka udah sibuk nih ngurusin diri sendiri. Bayar kos makin lama makin mahal, uang makan makin lama makin mahal. Mereka juga ah enggak punya waktu buat ngurusin orang tua mereka. Ujung-ujungnya apa? Ketika populasi orang tua makin banyak, sementara mereka bisa hidup, orang-orang senior ini menggunakan apa? Dana BPJS. Dana BPJS yang bayarin siapa? Uang pajak. Uang pajak siapa yang bisa bayar uang pajak? Orang yang bekerja. Orang yang bekerja makin banyak apa makin sedikit? Orang yang bekerja makin sedikit. Sudah orang yang bekerja makin sedikit, kontribusi pajak terhadap tunjangan lansia artinya akan makin kecil. Ketika jumlah lansia makin lama makin besar, yang ada apa? membebani keuangan negara, Guys. Apalagi populasi lansia di Jepang itu mencetak rekor tertinggi. Hari ini sudah ada 36,2 juta manusia tua lanjut usia di Jepang. Bayangin, Guys, orang tua lansia di sana ada 36 juta jiwa. Padahal jumlah total populasi penduduk di Jepang itu cuma 120 juta jiwa. Artinya hampir 30% satu pertiga loh 1/3tiga dari populasi Jepang saat ini itu tidak bisa berkontribusi terhadap perekonomian mereka. Satu pertiga jumlah penduduk Jepang hari ini membebani rakyat Jepang. 36 juta jiwa menyedot duit APBN, menyedot duit pembayar pajak, menyedot duit anak-anak muda di sana. Sehingga anak muda di sana ya makin frustrasilah hidupnya. Capek-capek kerja cuma buat ngasih makan orang-orang tua. Itu ngasih makan diri sendiri aja udah susah, Guys. Suruh ngasih makan orang tua itu. Terus disuruh punya anak enggak bakal mau. Makanya jangan heran ketika populasi orang tua makin tinggi, itu ujung-ujungnya menekan keinginan anak-anak generasi yang lebih muda buat punya anak. Apalagi kalau orang-orang yang tua ini panjang umurnya, Guys. Wah, udah jelas habis membebani perekonomian Jepang. Makanya jangan heran di Jepang mereka itu mau memperpanjang usia pensiun. Enggak boleh lagi 64 tahun. Sekarang 70 tahun pun lu harus kerja, lu enggak boleh. Bahkan kalau bisa sampai mati pun lu masih kerja di Jepang. Karena kalau enggak, lu jadi beban negara, Guys. Lu hanya duduk manis terima uang pensiun. Yang bayarin uang pensiun tuh anak-anak yang lebih muda. Padahal yang anak-anak yang lebih muda udah lebih susah hidupnya di zaman sekarang ini. Kompetitor mereka bukan lagi orang Jepang sendiri. Kompetitor mereka udah animator dari Cina, harga lebih murah. Kompetitor mereka udah pembuat komik dari Cina, harga juga lebih murah. Pembuat komik dari Korea, harga juga lebih murah. Udah begitu banyak perusahaan-perusahaan di kolong langit ini yang bisa bikin stainless steel sebagus Jepang juga. Jadi udah makin kompetitif, mobil-mobil Cina bahkan udah jauh lebih bagus dibanding mobil-mobil Jepang. So, makin beratlah pertarungan hidup orang Jepang nih anak-anak mudanya. Kasihan enggak sih lu sama mereka? Dan lebih tragis lagi kalau lu lihat datanya bukan lansia. Lansia kan cuma sepertiga ya. Kalau lihat data orang-orang yang umurnya udah di atas 60 tahun ternyata hampir 40%. Jadi 40% pekerja di Jepang kalau hari ini lu pergi naik pesawat Jepang, gua suka tuh kalau ke Jepang naik pesawat Ana atau Jal. Percayalah guys, kalau lu pergi terbang pakai maskapai Jepang, most likely lu akan ketemu pramugari yang udah tuwir, Guys. Beda dengan kalau lu pergi di Indonesia, ya. Lu pakai maskapai Indonesia, pasti lu lihat pramugarinya cantik-cantik, muda-muda, seksi-seksi. Tapi kalau lu terbang pakai pesawat Jepang, ada 40% kemungkinan lu ketemu orang tuwir, Guys. Kenapa? Karena realitanya hari ini 40% tenaga kerja di Jepang umurnya di atas 60 tahun. Ini termasuk apa? tukang pos, bengkel, petani, karyawan pabrik. 40% dari mereka umurnya sudah 60 tahun. Ngeri ya, Guys, ya. Bahkan di Jepang lu tidak bisa duduk manis santai di hari tua lu. Enggak bisa kayak di Indonesia nyantai-nyantai. Di Jepang lu sampai mati pun harus macul. Lu harus kerja. Kalau enggak, lu jadi beban negara, Guys. Wah, seru nih. Kenapa jadi beban negara? Karena anak muda juga enggak mau macul, Guys. Ya, terpaksa pekerja mereka kan harus makan juga. Makan beras. Nyangkulah lu. Orang-orang tua brutal yang hidup di Jepang. Dan peristiwa ini gak usah heran namanya juga kita channel investasi pasti berhubungan juga dengan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan populasi penduduk. Contoh paling gampang ini terefleksi dengan jatuhnya saham popok terkenal di Jepang. Ini saham yang paling bagus untuk melihat kehancuran sebuah negara, sebuah generasi dari saham popok bayinya, Guys. Gua ajarin dulu. Saham popok bayi. Lu tahu Mami Poco, lu tahu Muni terkenal Indonesia itu ternyata dimiliki oleh perusahaan Uniharm. sahamnya ada di Tokyo di Jepang 5 tahun yang lalu harga sahamnya itu lebih dari 1600 1700 Japanese yen. 1700 Japanese yen, Guys. Hari ini setelah 5 tahun apa yang terjadi? Lu udah tahu ya namanya juga anak bayi di sana makin punah bukan makin banyak. Harga saham mie Poco Unich Chararm itu udah turun dari 1700 ke 900 perak alias dalam 5 tahun udah minus lebih dari 45%. Ngeri enggak? Tragis enggak? kita belum bongkar sama-sama lain lah. Tapi dari sini lu sudah bisa lihat indikasi bahwa memang Jepang itu menua dan tidak mau punya anak dan makin sedikit populasinya. Lu bisa lihat dari pergerakan saham popok bayi terkenal di sana. Makanya memang sudah wajib bagi Jepang ekspansi ke negara-negara lain. Kenapa? Mereka udah enggak bisa lagi mengandalkan bisnis di negaranya. Orang penduduknya musnah lama-lama hilang dari planet bumi. Enggak ada gunanya lu buka bisnis di sana dong. Makanya lu jangan heran, makin banyak pengusaha-pengusaha Jepang yang berekspansi ke Thailand, ke Vietnam, beli bank di Indonesia. Mereka harus lakukan itu. Negara mereka sudah enggak bisa diandalkan, Guys. Penduduknya makin lama makin sedikit. Artinya kue ekonominya mengecil. Makanya jangan heran kalau lihat GDP Jepang, Indonesia GDP-nya tumbuh di atas 5%, tapi Jepang bukannya naik seperti Indonesia 5%, mereka malah terkonstraksi, Guys. Jadi kontraksi parah sih bahkan. Jadi GP Jepang itu cuman 1 kom sekian persen. Jauh Indonesia 5 kali lipat lebih besar loh. Indonesia 5% loh. Mereka tuh diprediksi 1,2% aja udah bagus guys. 1,2 1,5 itu aja udah bagus loh. Ngeri enggak? Makanya teman-teman jangan heran ah ini artinya makin banyak sekolah-sekolah di Jepang yang tutup bangkrut collabs karena kekurangan siswa. Jadi dari sini lu sudah bisa lihat ya pelajarannya apa. Di negara-negara yang jumlah penduduknya makin lama makin berkurang. Jangan pernah bisnis popok bayi dan jangan pernah bisnis pendidikan. Karena yang ada makin nyungsep bisnis lu. Seperti sekolah-sekolah yang ada di kota-kota kecil, pedesaan, kabupaten-kabupaten yang ada di Jepang. Makin lama makin punah karena siswanya hampir nol, Guys. Sadis banget sih. Bahkan berita The Star ya mengumumkan bahwa di tahun 2002 sampai tahun 2020 itu sudah ada lebih dari 8.580 sekolah yang ditutup. Kenapa? karena jumlah siswanya berkurang rata-rata lebih dari 400 sekolah yang ditutup setiap tahunnya. Jadi dari sini lu bisa lihat bahwa masanya sangat kompleks. Dan kalau ditanya sekolah-sekolah di Jepang kenapa juga tutup? Karena makin sedikit siswanya mereka juga enggak bisa merawat sekolah itu. Gedungnya enggak bisa dimaintenance. Ujung-ujungnya apa? Lama-lama sekolahnya colollaps, roboh gedungnya. Mau dirawat enggak worth? Siswanya tinggal tuuh biji. Ngapain? Udah tutup aja sekalian. Akibatnya akhirnya orang-orang pun pindah cari tempat lain, pindah lagi ke kota, cari pendidikan di kota, Guys. Jadi makin kompleks nih permasalahan di Jepang hanya karena apa? Negaranya mismanen, Guys. Jepang ini benar-benar mis manajemen negaranya. Kenapa? Mereka membiarkan oligarki berkuasa terlalu kuat di Jepang. Tapi ya udahlah, itulah peristiwa yang terjadi di Jepang. Kita ambil benefitnya aja. Keuntungannya apa buat Indonesia. Ternyata dengan makin menuanya orang-orang di Jepang, makin jarangnya orang-orang Jepang yang ma punya anak, ternyata menciptakan peluang buat kita. Indonesia bisa ekspor tenaga kerja ke Jepang. Dan saking gedenya ya peluang kerja di Jepang, pemerintah Indonesia itu sampai bikin target loh, minimal ya setiap tahun kita kirim 50.000 TKI buat kerja di Jepang. Yang artinya kalau setiap tahun Indonesia bisa kirim 50.000 orang dikali 5, artinya dalam 5 tahun kita bisa kirim 250.000 manusia. Ini pun sebenarnya masih sedikit karena targetnya Jepang itu punya 800.000 tenaga kerja baru, Guys. But anyway, kenapa bisa begitu? Target kita kecil banget. Artinya ada pemain lain nih selain Indonesia yang bisa suplly manusia nih ke Jepang. Ternyata ada. Memang ini sayangnya buat orang Indonesia kita enggak bisa memaksimalkan peluang bisnis ini. Teman-teman tahu jumlah TKI di Jepang itu masih kalah banyak dibandingkan tenaga kerja Vietnam, Cina, dan Filipina. Indonesia meskipun penduduknya ada 280 juta jiwa, ternyata Indonesia cuma peringkat 4 dalam pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Jadi, kamu bisa lihat di layar kaca, Guys. Hari ini total pekerja asing di Jepang ada 2,3 juta manusia. Nah, dari 2,3 juta manusia ini paling besar itu Vietnam 570.000 orang alias sekitar 25%. Peringkat du ada Cina 408.000 orang. Peringkat 3 ada Filipina 245.000. R000 orang. Nah, terakhir Indonesia nih kasihan banget cuman bisa kirim antara 120 sampai 170.000 orang. Nah, pertanyaannya kan buat kita gini loh. Indonesia lagi krisis nih. Kita punya jutaan pengangguran di Indonesia. Pertanyaannya, kenapa Indonesia bisa kalah saing ya sama Jepang? Ya mungkin lu berpikir kita kalah saing karena orang-orang Indonesia enggak bagus ya, bego. Tolong pemalas. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Masalahnya itu ada gigi. Guys, kemarin kita bikin video khusus spesial tentang masa depan batu bara di tahun 2026. Teman-teman penasaran enggak gimana kalau masa depan sektor yang lain? Apalagi kemarin Venezuela habis diculik presidennya. Harga minyak dunia akan seperti apa? Termasuk harga emas, harga silver yang tahun ini aja sudah meroket lebih dari 100% dalam 1 tahun terakhir. Kita belum bicara soal sektor lain seperti pariwisata, sektor perbankan, sektor pertambangan. Apalagi kita sudah memasuki era di mana faktor geopolitik menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam menyusun strategi ekonomi kalian. Jadi buat teman-teman para pelaku usaha, orang-orang di pemerintahan, duta besar sekalipun sampai akademisi dan investor yang ada di Indonesia, lu penasaran enggak sih gimana sudut pandang BENX tentang Outlook Ekonomi Indonesia di tahun 2026 ini? Kalau lu penasaran, yuk segera join di acara Spial Benix Economic Outlook 2026 di Titan Center Bintaro hari Sabtu tanggal 24 Januari jam .00 siang. Segera daftarkan dirimu sekarang juga kalau yang mau ikutan acara Special Benix Economic Outlook 2026. Kursinya terbatas, segera daftarkan dirimu melalui nomor WhatsApp yang ada di bawah ini atau scan kode QR code yang ada di sini. Oke, guys. Sampai ketemu di Benix Economic Outlook 2026 hanya di Titan Center Bintaro. Masalahnya itu ada di sistemnya bukan di manusianya. Kok bisa sistem yang salah? Yang pertama ya kayak Vietnam. Vietnam itu menang karena dia punya skala dan kecepatan. Vietnam itu negara yang sangat agresif, kompetitif. Negara mereka serius nih mau menjadikan pengiriman tenaga kerja sebagai strategi nasional Vietnam. Jadi di sekolah-sekolah negeri di Vietnam itu sudah diwajibkan buat belajar bahasa Jepang. Kalau di Indonesia masih belajar bahasa Inggris. Tapi di Vietnam dari SD pun lu wajib belajar bahasa Jepang. Dan di sana juga udah dapat satu set lulus sekolah dapat sertifikat skill bahasa supaya lebih cepat lagi lu bisa kerja di Jepang. Dan di sana sistem penempatan tenaga kerja di Jepang dibikin sistematif, terstruktur dan harus cepat. Karena Jepang itu butuh cepat nih tenaga-tenaga. Vietnam mampu ngasih ribuan orang sekaligus karena sudah disistatisasi di sistem pendidikan dasar mereka. Nah, sementara Indonesia gimana prosesnya? Panjang, berbelit-belit, tidak terintegrasi, lembaga-lembaganya terfragmentasi, kuotanya juga seringkiali enggak keisi. Maksudnya gimana? Indonesia ini sistem pendidikannya kan random banget, ngasal banget. Masa ada orang gua ketemu ahli teknik nuklir, eh besok udah kerja di bank gitu loh. Aneh banget, enggak nyambung. Atau ada juga gua ketemu dokter. Dokter kerja hari ini jadi tukang sate di Senayan. Jadi gak ada nyambung tuh, gak ada konsistensi tuh. Atau tenaga kerja lah. Gua suka sama orang STMA sama SMK ya. Gua harapan gua kita punya ahli-ahli teknik mesin yang bagus lah. Bahkan ujung-ujungnya kayak di Belanda tuh mayoritas orang yang kerja di mobil-mobil F1, pengendaran-kendaraan balap, pabrik-pabrik otomotif di Eropa itu mayoritas karyawannya bukan S1 loh, tapi STM. Karena STM engineering mereka itu sedemikian fokus sehingga lulusan STM-nya lebih capable dibanding lulusan S1 ITB, Guys. Noh, lulusan STM-nya hebat, udah sistematis LAN, tapi di Indonesia enggak sangat random dan enggak bisa disemakan kualitasnya. Random banget, ngacau banget. Gua pernah ketemu di sebuah daerah, gua kan suka ke sekolah-sekolah ngajar, ke sebuah daerah anak SMA gua tanya 8* 8 aja enggak bisa jawab, Guys. Ini realita, ada videonya. Tapi itulah faktanya bahwa di Indonesia sistem pendidikannya tidak seragam, tidak sistematis, dan enggak tahu arahnya ke mana. Oh, lulusan kita nanti mau jadi petani. Oh, lulusan kita nanti kerja di Jerman, oh lulusan kita nanti jadi perawat di Jepang. Jadi difokusin aja SMK lu spesialis ngirim perawat ke India, ngirim perawat ke Jepang, begitu loh. Nah, kalau Vietnam itu sudah sedemikian hebatlah terstruktur satu garis namanya juga negara komunis. Kalau Filipina gimana? Kenapa Filipina bisa mengalahkan Indonesia? Jadi, Filipina itu unggul di ilmu komunikasi, Guys. Jadi, Filipina menang di soft skill mereka, bahasa mereka. Mereka terbiasa dengan dunia internasional. Mereka terbiasa kerja global. Bahasa Inggris mereka itu udah kayak hari-hari, bahasa Inggrisnya kuat banget. Jadi, budaya mereka buat melayani, memberikan servis dan komunikasi yang baik itu juga tinggi. Artinya, sektor-sektor yang vital buat Jepang seperti sektor perawat, hospitality, caregiving, hotel, restoran, kafe ya cocok banget pakai tenaga dari Filipina. Dan Jepang memang butuh orang yang sanggup memiliki ilmu komunikasi yang baik, bukan sekedar bisa ngasih tenaga kayak kuli-kuli dari Indonesia. Nah, memang Indonesia menang, Guys. Etos kerja kita bagus nih. Orang-orang yang kita kirim ke Jepang itu bagus etos kerjanya. Cuma sayangnya banyak yang terkendala bahasa dan komunikasi akibatnya sering jadi bottlenck. Maksudnya apa? Jadi sering gagal paham. Udah bahasa Jepang yang pelintat-plintut giliran ngomong bahasa Inggris juga enggak nyambung. Ketemulah sama orang Jepang yang ngomong bahasa Inggris juga pelintat-plintut. Kacau udah semua barang ini bubar, Guys. Makanya kalau Filipin gua tahulah hebat Filipin. Ke mana pun negara gua pergi selalu ada orang Filipin, Guys. Orang Filipin ini sangat internasional loh. Di Timur Tengah banyak di kapal-kapal banyak kapal pesiar, kapal tanker. Di Rusia bahkan banyak loh orang Filipina. Sampai di Irlandia aja banyak orang Filipin. Salut gua sama Filipin. Nah, terus selanjutnya kita kalah juga sama Cina. Kenapa Cina bisa menang? Wajar sih, memang Cina daerahnya juga lebih dekat ya. Secara proximity mereka tinggal nyebrang nyampai ke Jepang dibanding Indonesia. Mahal, sulit. Dan Cina sebetulnya dari kendala bahasa juga lebih sedikit dibandingkan Indonesia yang pakai huruf latin. Cina, huruf Cina sama huruf Jepang itu 111, Guys. Hampir mirip. Lu bisa paham lah garis besarnya kalau lu orang Cina. Nah, Cina itu udah menang dari segi sejarah dan jaringan juga. Jadi, Cina memang udah sejak lama lah kirim orang ke Jepang. Jadi, udah puluhan tahun orang Cina itu ada di Jepang. Bukan cuma di Jepang sih, di Guyana, di Afrika aja banyak nih orang Cina. Tapi yang hebat adalah orang Cina ini banyak yang mau jadi permanen residen. Meninggal tetap di sana. Akibatnya mereka bisa membangun network ujung-ujungnya membangun jaringan industri yang kuat. So wajar kalau posisi Cina dalam menyuply tenaga kerja di Jepang itu sangat sulit buat digeser. Nah, Indonesia sendiri baru naik beberapa tahun terakhir, Guys. Kenapa? Karena ya masalah utama di Indonesia ya masalah sebelum kerja, Guys. Sebelum kerja mereka harus siap kerja. Sebelum siap kerja mereka harus pras siap kerja. Jadi Indonesia ini memang oversupply manusia. Kita ini enggak kekurangan orang. Tapi Indonesia kekurangan orang yang siap berangkat. Udah bahasa Jepangnya minim, sertifikasinya lambat, informasinya juga enggak merata, dan banyak calon TKI kita gugur sebelum berangkat. Ujung-ujungnya jadi korban penipuan. Karena enggak murah buat berangkat ke Jepang, lu harus keluar duit puluhan juta loh. Eh, ujung-ujungnya lu enggak berangkat. Banyak yang jadi begitu. Bahkan udah sampai jual sawah, jual bapaknya sendiri pun ada. Tapi enggak bisa pun berangkat ke Jepang. Padahal negara Jepang itu sangat pragmatis, Guys. Jepang itu enggak pernah milih negara karena kasihan. Oh, gua udah jajal lu 50 tahun, gua udah bego-begin, gua udah bunuh, gua udah perenek moyang. Enggak, enggak ada hubungan. Mereka sangat pragmatis. Jepang milih bukan karena kasihan, tapi Jepang bakal milih siapa yang paling cepat dan yang paling siap. So, kalau Vietnam bisa isi cepat, Filipina komunikasinya bagus, Cina juga udah mapan secara budaya, secara sejarah dengan Jepang, ya artinya Indonesia kalau mau menang nih harus berjuang lebih keras lagi, Guys. Dan menurut gua ini worth it buat kita perjuangkan. Kenapa? Lu tahu enggak sih gaji yang ditawarkan di Jepang itu sangat-sangat menarik loh. Contoh ya, kalau lu jadi kasir di Jepang itu gajinya 20 sampai R6 juta per bulan. Sementara kalau lu jadi gaji April Maret di Indonesia, gaji lu ya sekitar UMR lah, antara R jutaan sampai R juta sebulan. So, perbedaan gajinya bisa lima kali lipat lebih banyak di Jepang dibandingkan Indonesia. Jadi dari sini lu bisa lihat lah ya gede banget ya gaji pegawai kasir di Jepang. Bahkan gaji kasir di Jepang itu ngalahin gaji menteri di Indonesia, Guys. Jadi, lu tahu enggak sih gaji menteri di Indonesia itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2000. Di situ ditulis gaji pokok menteri itu Rp5.40.000 per bulan. Gila, Guys. Gaji menteri di Indonesia cuman Rp5.40.000 per bulan. Kita enggak ngomongin insentifnya lah, belum korupsinya lah, belum tunjangan jabatan lah, tunjangan fungsional, enggak enggak enggak. Kita enggak bahas itu. Kita ngomong gaji pokok menteri di Indonesia cuma Rp5 juta per bulan. Kan gila kalah sama kasir swalayan yang ada di Jepang. Ngeri enggak sih? Makanya kasir di Jepang jujur-jujur, Guys. Tapi kalau menteri-menteri di Indonesia, e mungkin lu jadi pertanyaan kejujurannya. R juta, Guys, gajinya, Guys. Ngeri enggak? Makanya pusing banget jadi bahlil tuh. Gila, gajinya kecil banget, ya ternyata, ya. Masih mau lu jadi menteri. Dan bukan cuma gaji gasir, Guys. Gaji petani juga jauh lebih besar di Jepang dibandingkan Indonesia. Jadi di Jepang ya, petani itu gajinya bisa sekitar R juta sebulan. Tetapi kalau di Indonesia, mayoritas petani di Indonesia penghasilannya ya sekitar Rp3 juta per bulan. Jadi dari sini lu bisa lihat ya. Jadi petani di Jepang cuan gede loh. Wis bisa 10 kali lipat lebih besar loh dibanding di Indonesia loh. Dan peluang ini sebenarnya harus kita galakin sih, Guys. Kita harus lebih semangat lagi, harus mendorong sih buat negara bisa lebih banyak lagi kirim manusia ke Jepang. Kenapa? Karena mereka bisa jadi sumber devisa. Ya, lu bayangkan aja ya, kalau tiap tahun kita bisa kirim 50.000 orang, satu orang itu kirim berapa sih? R juta tiap bulan. Dan lu kalikan dalam 12 bulan mereka kirim nih 50.000 orang, kirim R5 juta setiap bulan dalam 12 bulan. Artinya dia bakal kirim R triliun per tahun. Tahun kedua kita kirim lagi 50.000 orang, dapat lagi R3 triliun plus 50.000 orang yang dari kemarin sudah di sana, Indonesia dapat 6 triliun. Tahun depan kirim lagi 50.000 orang, Indonesia bakal diterima R9 triliun setiap tahun. Lakukan ini selama 10 tahun, Indonesia bakal pegang 165 triliun, Guys. Gila enggak sih? 165 triliun loh dari bisnis kirim manusia ke Jepang. Artinya ini bisnis remitansi nih. 10 tahun TKI kita di Jepang, mereka bisa bawa 165 triliun. Ke mana? Ke Indonesia, ke Kabupaten Garut, ke Cianjur, ke Cirebon, ke Sukabumi. Ini dunia yang sangat besar loh, Guys. Jauh lebih banyak dibandingkan tol trans Jawa. Tol tuh yang menghubungkan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur itu biaya pembangunannya cuma R0 triliun. Hei, duit TKI ini bisa bawa masuk duit 165 triliun loh. Artinya dengan duit yang sama lu bisa bangun dua jalan tol lah. 2 seteng jalan tol lah. Bisa jadilah dengan duit yang sama R5 triliun nih. Wah, ini si peluang yang sangat besar guys ya. Lu bayangin lah APBD Kabupaten Garut nih banyak pengangguran ya. By the way di Garut APBD Kabupaten Garut itu cuman 4,9 triliun. 4 ya 5 triliun lah gua bulatin karena gua baik. Lu bayangin kalau orang Garut 50.000 Rib orang Garut pindah ke Jepang, kerja di Jepang selama 10 tahun mereka bisa bawa duit R5 triliun loh buat Kabupaten Garut. Artinya ekonomi di Garut bakal ketimpa ekstra duit 30 kali lipat lebih banyak dibandingkan APBD-nya sendiri, Guys. Makanya penting banget nih buat kabupaten-kabupaten di Indonesia yang serius nih pengin mengentaskan kemiskinan, bikinlah sistem pendidikan yang sistematis. Langsung sudah tahu orientasinya ke mana. Oh, lu STM spesialis teknik mesin kirim ke mana? Jerman, lu kirim ke Polandia, lu kirim ke Jepang, langsung dipersiapkan dari sekarang. Enggak usah mereka belajar yang enggak penting-genting. Udah lu belajar bahasa Jepang, selesai. Apa? Ilmu ganti popok, ilmu cebokin lansia di Jepang. Udah spesifik aja udah materinya. Enggak usah yang aneh-aneh. Belajar ilmu bumi lah. Mending dipakai. Belajar bedanya putik sari dengan indung sari dengan kelopak sari. Aduh, sedih banget lu. Belum tentu kepakai. Dan kemungkinan besar pun enggak kepakai. Buat orang-orang yang ada di kampung-kampung kecil di Indonesia udah difokuskan. buat kuliah pun gak ada duit. Udah difokuskan buat jadi TKI, buat jadi pahlawan divisa Indonesia, Guys. Ya, cuman sayangnya ya sayang ser000u sayang ya, kenapa memang berat sih buat makin banyak orang kita yang bisa kita kirim ke sana? Karena butuh modal yang gede. Lu tahu enggak sih buat pergi ke Jepang kita itu butuh duit minimal R0 juta. Beberapa orang yang gua interview, gua pernah satu pesawat sama perempuan muda lah, umur sekitar 19 tahun jadi nurse ke Jepang. Ternyata dia itu total habis R0 juta loh. Tapi ini udah mimpi dia. Dari kabupaten kecil di Indonesia. Gua tanya lu buat pergi ke Jepang persiapan berapa lama? 2 tahun. Duitnya dari mana? Emang lu punya duit? Bapak lu kerja apa enggak? Bapak saya petani, mamamu petani juga. Terus gimana lu bisa ke sini? Patungan, Pak. Jadi di kampung kita, kita patungan. Ada 17 KK di situ patungan buat sekolahin dia jadi nurse. Harapannya nanti mereka bisa merubah nasib. Kenapa? Gua tanya. Ya, Bapak saya macul-macul. Penghasilan sebulan R juta aja udah bagus, Pak. Nah, dia dianggap bisa jadi perubahan nasib desa itu, Guys. Jadi, warga di desa itu patungan buat kirim dia ke tempat pelatihan. Tempat pelatihannya ini sebuah kabupaten kecil lah, Tarutung yang ada di Sumatera Utara. Dari sana dia latihan 2 tahun, habis itu beli tiket lagi nih, beli tiket buat terbang ke Jakarta. Ada tempat penampungan lagi di Jakarta. Gua kira dia bakal kena tipu. Ternyata enggak. Memang di Jakarta dulu 2 minggu baru habis itu ngurus visa berangkat ke Jepang dan bekerjalah di Jepang. Terakhir WhatsApp-an dengan tim kita ternyata dia udah kerja di kota Nagasaki yang ada di Jepang. So, anyway, itu perjalanan yang baik. Kenapa? Karena dia total habis sekitar R0 juta sama tiket pesawat sekitar R0 juta. Tapi gua memang udah ketemu banyak orang yang kena tipu, Guys. Habis duit bahkan sampai ratusan juta, cita-cita bisa kerja di Jepang dengan program off Buildung, ternyata jadinya zong. Dan kenapa sebetulnya bisa mahal ini semua? Karena gini ya, buat bisa kerja di Jepang, lu harus bisa huruf kan, lu harus bisa berbahasa percakapan sederhana. Buat memahami ini, lu harus kursus bahasa, lu harus bayar R1 juta. Terus lu harus ikut lagi ujian internasional level N5 JLPT, bayar lagi Rp5.500. Terus ikutin lagi ujian level N4 JLPT Rp5.500. Ikut lagi ujian internasional JFT A2 R15 juta. Ikut lagi ujian keterampilan internasional skill R2 juta. Ikutin lagi persiapan melamar dan wawancara kerja Rp2 juta. Di total-total lu akan habis duit ya R jutaan, Guys. Belum termasuk tiket pesawat. Jadi betul-betul perjudian yang luar biasa ya, Guys ya. Ya, tiket pesawat ke Jakarta, ke Tokyo bolak-balik aja harganya sekitar R jutaan lah. Jadi dari sini lu udah bisa lihat bahwa memang peluangnya besar. Lu bisa dapat gaji R jutaan, tapi investasinya juga besar dan berisiko karena penipu ada di mana-mana, Guys. Apalagi ya meskipun lu udah kursus bahasa, lu udah ikut pelatihan kerja, lu udah dapat penempatan di luar negeri pun sekalipun belum tentu juga lu dapat visanya. Dapat visa pun harus bayar lagi toh. Dapat visa pun belum tentu ada sponsornya toh. Jadi ada begitu banyak ketidakpastian di sini karena manajemennya juga enggak bagus yang di Indonesia ya. Beda dengan Vietnam sama Filipina. Semua diake care sama negara. Bahkan dari lu masih SD udah didesain, lu bakal kerja di Yokohama, lu bakal kerja di Kyoto, udah diatur tuh strukturnya, skill yang lu butuhkan, apa, udah dikasih sama negara. Seru nih Vietnam nih. Jadi menurut lu gimana, Guys? Menurut lu ini worth it enggak sih negara buat fokus di sini? buat membantu supaya makin banyak anak-anak muda kita bisa kerja di luar negeri nih. Atau sebaiknya biarin aja lah mereka secara sporadik, secara independen berusaha sendiri-sendiri nih. Ujung-ujungnya banyak juga yang kena tipu ya atau gagal berangkat karena enggak cocok skillnya. Atau seharusnya pemerintah itu involve loh. Ambil tindakan, ambil peluang 165 triliun duit yang gede. Dari sekarang kasih aja pelatihan subsidi. Bahkan negara mensubsidi pelatihan bahasa buat anak-anak muda kita. Contoh ya negara memberikan subsidi berbahasa Jepang berbasis kerja. Contoh super spesifik. Bahasanya bahasa apa? Bahasa dunia rumah sakit, bahasa dunia keperawatan, caregiver, manufacture, konstruksi kan bahasanya beda-beda. Paku boleh sama paku, tapi kan artinya beda. Paku, palu, gergaji, dunia konstruksi kan beda-beda. Jadi bukan sekedar bahasa ujian doang yang ada di lembaran tes di depan tempat kursus itu enggak penting. Justru yang lebih penting bahasa hari-hari dunia kerja sebelum berangkat supaya tenaga kerja kita tahu bahasa dunia industri, bahasa praktik kerjanya seperti apa. So, mereka enggak lagi stagnan nih di posisi yang rendah-rendah gitu-gitu aja, tapi mereka juga bisa naik level di sana. Tadinya mungkin cuman tukang gergaji, tapi bisa naik level jadi supervisor. Tadinya mungkin cuman tukang traktor, menggemburkan tanah tapi bisa naik level jadi agronomis. Bisa. Kenapa enggak? Kalau memang negara fokus di sana. Jadi mulai dari sekarang kita bisa nih kasih subsidi, membiayai kursus bahasa Jepang, membiayai mereka supaya bisa juga ujian. Ujiannya lulus tes juga bahasa Jepang. Dan yang paling penting mereka punya skill industri, mereka punya skill bahasa dunia kerja di sana. ya karena lu kerja di rumah sakit, kerja di pabrik, kerja di kebun, kerja di sawah, udah beda tuh bahasa yang digunakan. Nah, yang kedua menurut gua harus ada dilakukan transparansi di proses penempatan tenaga kerja ini. Jujur aja di Indonesia ini banyak banget yang gelap nih, informasinya enggak terbuka. Kadang-kadang gua ketemu pun yang cari-cari itu udah ada koneksi dari organisasi kemasyarakatan pengusaha di Indonesia dengan kedutaan. Ben, gua dihubungin sama kedutaan Korea Selatan nih. Kita mau kirim 20.000 tukang chat dari Indonesia. Segini nilai proyeknya. Gini gini gini. Menurut gua sih banyak banget dari mereka itu yang enggak ngerti juga ujung-ujungnya apa karena informasinya gelap ya gagal berangkat juga atau mismatch skill-nya juga. Jadi menurut gua harusnya dibuka sejelas-jelasnya dibikin transparansi jangan gelap lah. Bahkan informasi suka ditahan-tahan nih sama mafia-mafia tenaga kerja ini loh. Ujung-ujungnya apa? Biayanya jadi enggak jelas biayanya bahkan jadi overprice ujung-ujungnya malah jadi penipuan. Nah, makanya menurut gua harusnya pemerintah ambil ikut serta sih di sini menciptakan keterbukaan transparansi dalam proses penempatan ini, proses hiring ini. Bahkan kontrak kerjanya bilingual wajib ada bahasa Indonesianya, ada bahasa Jepangnya. Dan juga di kontrak itu sudah harus diate secara jelas informasi soal gajinya, jam kerjanya, hak-hak dia, hari libur dia, hak dia buat ibadah, hak dia buat berwisata. Dan ini harusnya bisa diakses secara digital. Just in case kalau hilang tuh dokumen-dokumen semua udah siap tuh. Mereka punya database digital. Oh, namanya Mirna. NPWP, KTP, penempatan, paspor udah tersedia. Mereka punya profile digital sendiri yang dipegang sama kementerian. Just in case dia tidak ada kabar di Yokohama, kita tahu harus kontak siapa. Ada emergency kontaknya siapa orang terdekat dia. Ini kan harusnya dibikin ya sama negara. Pun nanti kalau dia sudah selesai 2 tahun, kementerian juga punya database. Oh, ada enggak perusahaan Jepang lain yang betuh orang ini sudah stay di sana 2 tahun daripada dia pulang bisa bantu penempatan ke kota lain yang ada di Jepang. Nah, ini bisa menutup celah nih buat calo-calo, buat orang-orang mafia-mafia buat bermain di sini. Kalau enggak, makin banyak nih praktik-praktik penempatan TKI yang bermasalah. Nah, yang ketiga, Guys, yang wajib kita lakukan selain menyediakan pelatihan yang disubsidi kalau bisa gratis, terus yang kedua membikin sistem yang lebih transparan supaya lebih gampang informasi dicerna dan mengurangi mafia. Yang ketiga, yang paling penting itu juga disediakan perlindungan hukum sih. Ini penting nih buat para TKI. Karena kita suka lihat sih TK-tk harusnya kan nyaman, happy bekerja dan kalau mereka ada masalah harusnya ada tempat berlindung supaya mereka juga berani melapor. Soalnya banyak banget nih TKI yang gua lihat zaman dulu gua di gua kan ketua PPI waktu di Leiden itu banyak warga itu ngadu ke gua ujung-ujungnya gua jadi kerjaan gua bukan cuma kuliah gua jadi harus bolak-balik nih ngurusin orang Indonesia yang bermasalah yang diperkosa, yang dibunuh, yang dipukulin KDRT, bahkan yang sampai hilang paspor aja gua urusin ke KBRI yang ada di Denhak. Jadi gua suka bolak-balik tuh Leiden sama Denhak. Pertanyaannya adalah seharusnya negara itu lebih aktif lagi dan memberikan perlindungan. Di sini maksud gua Kementerian Tenaga Kerja ya, bukan kemeno. Kenapa? Karena banyak TKI kita itu mengalami kejahatan berat, pemerkosaan, pembunuhan, kekerasan seksual, bahkan sampai penghilangan identitas. Paspornya diambil, dibakar. Wah, itu udah banyak tuh, Guys. Dan ini harusnya bisa dihindarin. Kenapa? Karena ya TKI kita ini kan pahlawan kita, pahlawan ekonomi kita loh, sumber devisa kita 165 triliun. Kita itu butuh banget penghasilan mereka. Kenapa giliran duitnya kita mau terima tapi ngasih perlindungan hukumnya kita enggak mau? Kan aneh harusnya jadi pertanyaan. Justru harusnya mesin duit kita ini kan dilindungin sama negara. Jangan negara sibuk-sibuk aja sedot duitnya, terima pajaknya, giliran mereka diperkosa didiamin. Kan enggak fair. Curang banget, culas, sadis. Nah, ini yang harusnya kita perbaikin, Guys. Supaya makin banyak orang Indonesia yang semangat, tertarik buat menjadi pekerja, jadi tenaga kerja karyawan di luar negeri. So, menurut kalian gimana, Guys? Menurut kalian kabar baik atau kabar buruk nih? Jepang membuka pintu tenaga kerja sebesar-besarnya buat orang Indonesia yang maang ke sana. Tapi lu sendiri udah tahu biayanya mahal. Biayanya R0 juta, R0 juta buat TK ini, buat kerja. Lu setuju enggak kalau negara mensubsidi mereka? Supaya mereka bisa lebih paham, lebih tepat, lebih efisien perjalanan mereka ke luar negeri, negara subsidi pelatihannya. Karena jujur aja kalau seandainya kita bisa sanggup kirim 50.000 tenaga kerja setiap tahun, dalam 10 tahun kita bisa punya 500.000 R000 tenaga kerja di luar negeri yang kalau diakumulasi total penghasilan remitansinya R juta aja sebulan yang mereka kirim itu setara 165 triliun, Bos. I think this is a lot of money dan Indonesia butuh itu. Dan dari sini kita bisa lihat bahwa TK itu bukan cuma sekedar isu tenaga kerja ya kalau kita mau berjaya nih mengalahkan Vietnam, Filipina, dan Cina, tetapi juga harus kita lihat sebagai aset strategik bangsa, sebagai aset ekonomi nasional. Artinya mereka memang berkontribusi secara nyata, skala ekonominya besar dan memang sebanding dengan proyek infrastruktur yang besar juga. Mungkin bahkan lebih bagus, mungkin bahkan lebih besar dampak ekonominya dibanding bikin bandara kosong, bikin pelabuhan kosong. Mungkin lebih bagus kita fokuskan anggaran kita buat membangun sumber daya manusia kita yang lebih capable lagi. Menjawab tuntutan zaman, menjawab kebutuhan dunia internasional. Kalau lu gimana, Guys? Lu setuju enggak sih dengan program BENIX? Kalau kita sebaiknya mensubsidi, bikin program-program yang memudahkan, yang mempercepat, yang membantu supaya tenaga kerja Indonesia lebih gampang kerja di luar negeri. Lebih baik kita habiskan duit di sana triliunan memberikan mereka perlengkapan, perlindungan yang mumpuni, Guys. Atau lebih pilih duitnya kita pakai buat bikin ibu kota lagi atau bandara lagi atau pelabuhan lagi atau jalan tol lagi yang mungkin belum tentu juga dipakai. Lu lebih pilih yang mana, Guys? strategi Benix bangun manusianya atau pakai gaya lama bangun beton lagi-lagi beton. So anyway guys, lu masih inget enggak di awal gua bilang ada empat alasan nih kenapa Jepang kekurangan tenaga kerja dan harus impor tenaga kerja asing. Gua udah sebutin tiga alasan. Menurut kalian alasan keempatnya apa? Ya tulis dong pandangan kalian di kolom komentar yang ada di bawah ini. Semoga video ini bermanfaat. Segera like video Benix sebanyak-banyaknya dan jangan lupa share ya ke teman-teman dan keluarga kamu. Oke, salam sehat, salam cuan. Bye bye.