Transcript
2nNck46iCKs • TKI INDONESIA DICINTAI JEPANG!! RUPIAH akan MENGUAT, 250 RIBU warga RI siap DITAMPUNG??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0544_2nNck46iCKs.txt
Kind: captions
Language: id
Good news nih buat Indonesia. Ternyata
buat lu ya orang-orang yang masih
nganggur nih, butuh kerjaan. Ada kabar
baik ternyata TKI Indonesia, tenaga
kerja Indonesia semakin hari makin
dibutuhkan sama Jepang. Jadi TKI
Indonesia itu semakin dicintai sama
orang Jepang, Guys. Jadi enggak sia-sia
sih negara Jepang menjajah dan
memperbudak Indonesia selama
bertahun-tahun. Kita udah harus beli
barang-barang Jepang, beli mobil Jepang,
eh bensin ya pun disubsidi. Jadi kita
disuruh mensubsidi
konglomerat-konglomerat Jepang. Karena
BBM di Indonesia ditekan supaya harganya
murah, supaya laku mobil-mobil Jepang
itu. Ternyata enggak sia-sia kita
menjadi budak Jepang. Karena hari ini
bukan cuma lu bisa jadi budak
produk-produknya Jepang, sekarang lu
juga bisa jadi budak beneran di Jepang.
Tunggu apaagi? Peluang yang luar biasa
nih, Guys. By the way, lu penasaran
enggak sih kenapa Jepang butuh banget
sama TKI Indonesia? Kenapa dia suka
banget ya sama tenaga-taga muda, tenaga
kerja khas Indonesia. Apa sih alasannya?
Kalau lu penasaran gimana sih ceritanya
kenapa Jepang jadi nge-fans jadi cinta
banget sama budak-budak? Sor maksud gua
kenapa orang Jepang jadi nge-fans banget
sama manusia-manusia tenaga kerja
Indonesia. Jangan dikip video ini. Let's
check this.
Jadi buat teman-teman ya, kenapa berita
ini menarik ya? Karena sebetulnya kabar
ini bisa jadi sangat menguntungkan buat
perekonomian Republik Indonesia tercinta
ini dan bahkan bisa juga membantu buat
menolong mata uang rupiah. Kenapa bisa
begitu? Nah, sebelum kita bahas lebih
lanjut, kita harus tahu dulu kenapa
terjadi fenomena ini, Guys. Fenomena di
mana orang-orang Jepang membutuhkan
tenaga kerja dari Indonesia. Ya, katanya
orang Indonesia rajin-rajin. Etos
kerjanya bagus, orang Indonesia pintar
apa betul. Ya, sebelum kita masuk ke
sana, kita harus tahu akar masalahnya
apa sih yang terjadi di Jepang. Kenapa?
Karena ternyata di Jepang sedang terjadi
krisis, bukan krisis moneter, tetapi
krisis tenaga kerja. Teman-teman tahu
enggak ya? Sampai 4 tahun ke depan nih,
tahun 2029, Jepang itu membutuhkan lebih
dari 800.000 tenaga kerja asing buat
membantu perekonomian mereka, buat
mengisi posisi-posisi yang kosong di
pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di
perbankan, di sawah-sawah, perkebunan,
pertanian yang ada di Jepang. Kenapa itu
bisa terjadi, Guys? Tentu ada faktor
negara juga di situ yang bermain. Tapi
yang jelas ya, pemerintah Jepang memang
sudah mengakui keadaan darurat ini.
Mereka mengakui bahwa negaranya
kekurangan ratusan ribu tenaga kerja.
Dan mereka akhirnya juga mengakui tanpa
adanya pekerja asing, ekonomi Jepang
bakal staknan bahkan nyungsep, Guys. Dan
Jepang enggak ada pilihan lain. Mereka
harus menambah tenaga kerja asingnya
sampai empat kali lipat sebelum tahun
2040. Kalau mau negaranya tetap ada di
planet bumi ini. Jadi buat teman-teman
yang belum tahu ya, negara Jepang ini
terkenal sangat rasis. Lu terkenal
sangat susah mau dapat visa kerja di
Jepang. Zaman dulu itu susah banget. Lu
mau kerja di sana, bahkan lu mau beli
rumah pun susah. Zaman sekarang udah
dipermudah buat orang-orang asing bisa
bekerja di Jepang. Karena mereka
negaranya sangat rasis, Guys. Sangat
anti lah dengan gaijin lah, dengan
orang-orang bule. Kenapa lu sih dianggap
mengambil kue ekonomi? Orang di sana aja
anak-anak mudanya susah, masih susah
kerja, bahkan banyak yang bunuh diri.
Kok tiba-tiba tenaga kerja asing boleh
mengambil lapangan kerja orang lokal.
Makanya mereka sangat anti, Guys, sama
orang asing. Tapi sekarang semua
berbalik. Apa yang terjadi? Sebetulnya
ada empat alasan, Guys. Kenapa Jepang
itu kekurangan tenaga kerja dan kenapa
mereka menjadi butuh kekuatan tenaga
kerja dari asing. Alasan yang pertama
adalah karena angka kelahiran di Jepang
semakin menurun. Jadi buat teman-teman
yang belum tahu ya, Jepang itu lagi
mengalami darurat populasi. Jepang
mencatat rekor angka kelahiran terendah
sepanjang sejarah. Jadi kalau di
Indonesia orang sibuk bikin anak, di
Jepang orang-orang itu takut buat kawin
bahkan takut buat bikin anak. Sehingga
angka kelahiran di Jepang itu turun di
bawah 700.000 terendah dalam satu abad
terakhir ini, Guys. Dan bukan cuma angka
kelahirannya yang terus turun-menurun,
Guys. Tetapi juga memang populasi
wanita-wanita muda yang subur, yang
seharusnya layak buat punya anak. itu
semakin berkurang. Jadi, udah perempuan
muda semakin berkurang populasinya,
orang-orang tidak mau lagi menikah.
Makanya enggak heran angka kelahiran
juga mau enggak mau akan semakin
menyusut di kemudian hari, Guys. Jadi,
ini angka yang sangat menyedihkan dan
ini udah terjadi di banyak negara-negara
maju, Guys, di dunia ini yang mereka
makin enggan mau punya anak karena biaya
hidup sangat tinggi. Jadi, buat apaagi
lu bawa anak ke dunia ini buat ngidupin
diri lu aja udah susah. Orang tinggal di
Jepang itu kayak kontrakan ukuran 3* 4
itu hari yang normal. seumur hidup
tinggal di kotak sekecil itu, Guys. Nah,
terus alasan yang kedua, Guys, jumlah
usia produktif, jadi orang yang layak
kerja, siap kerja di Jepang itu semakin
lama semakin menyusut, semakin
berkurang. Jadi, udah orang-orang
mudanya enggak mau punya anak, jadi
generasi selanjutnya bakal punah nih
manusia Jepang. Eh, yang usianya
produktif juga jumlahnya semakin
berkurang. Bukan jumlah anak bayi doang
loh yang berkurang, tapi jumlah usia
produktif juga semakin berkurang. Jadi
usia produktif itu ya orang-orang yang
usia antara 15 tahun sampai 64 tahun ini
dianggap layak kerja, Guys. Jadi beda
dengan di Indonesia. Di Jepang orang
bahkan bisa kerja sampai 70 tahun. Tapi
usia produktif yang dicatat versi
pemerintah umur 15 sampai 64 lu harus
kerja cari duit membangun perekonomian
bangsa dan negara. Nah, Jepang ya krisis
nih penduduk usia produktif dan ini
ternyata menciptakan peluang kerja buat
tenaga manusia Republik Indonesia.
Karena apa? Karena makin banyak pos-pos
yang kosong yang enggak bisa diisi
karena manusianya enggak ada, Guys.
Gimana manusianya bisa ada? Yang tua
mati terus, yang muda enggak mau punya
anak. Akibatnya hari ini tenaga kerja di
Jepang itu semakin menyusut. Orang-orang
yang yang sanggup mikul beras, sanggup
pergi ke ladang, sanggup jadi operator
mesin di pabrik. Jadi, banyak
pekerja-pekerjaan khususnya pekerjaan
kasar dan pekerjaan merawat orang tua
ya, lansia. Jadi, pekerjaan menjadi
suster itu semakin lama menjadi langka.
Kenapa? Lowongannya sih ada banyak,
Guys. Lapangan kerja ada banyak, tapi
tenaga kerjanya semakin sedikit. Ya,
jujur aja lah. Sama aja l kayak di
Indonesia. Ada gitu orang di Indonesia
masih mau yang jadi petani, pekebun. Gua
rasa jumlahnya sangat sedikit. Begitupun
di Jepang makanya banyak lahan-lahan
sawah di sana mati, tidak produktif.
Yang kedua, karena masifnya urbanisasi
jadi makin banyak orang-orang yang
bercita-cita. Kayak di Indonesia juga
kerjanya cita-cita di mana? Di ibukota.
Mereka enggak mau kerja di desa, mereka
enggak mau kerja di kampung. Mereka mau
enggak mau kerja di pabrik. Mereka
maunya kerja di kota, Guys. Akibatnya
terjadi urbanisasi besar-besaran. Nah,
akibatnya apa? Ya, lapangan-lapangan
kerja di daerah-daerah terpencil,
pabrik-pabrik pinggiran, ya mati kosong,
kehabisan tenaga. Karena anak mudanya
pergi semua ke Jepang nih, ke kota-kota
besar kayak Tokyo, Kyoto. Kerja di mana?
Kerja di perusahaan-perusahaan dagang
mereka lah kayak Itochu, Mitsubishi dan
lain sebagainya. Jadi ketika tenaga
kerjanya makin sedikit tetapi banyak
pos-pos yang kosong ya mau enggak mau
mereka harus isi itu dengan tenaga kerja
asing. Nah, alasan yang ketiga, udah
jumlah bayi yang lahir makin sedikit,
orang yang produktif juga populasinya
berkurang. Ternyata populasi orang-orang
tua penduduk lansia di Jepang justru
meningkat drastis mencapai rekor
tertinggi. Dan teman-teman tahu namanya
lansia kan butuh makan, butuh minum,
butuh diganti popoknya, butuh dijagain.
Sementara generasi muda mereka udah
sibuk nih ngurusin diri sendiri. Bayar
kos makin lama makin mahal, uang makan
makin lama makin mahal. Mereka juga ah
enggak punya waktu buat ngurusin orang
tua mereka. Ujung-ujungnya apa? Ketika
populasi orang tua makin banyak,
sementara mereka bisa hidup, orang-orang
senior ini menggunakan apa? Dana BPJS.
Dana BPJS yang bayarin siapa? Uang
pajak. Uang pajak siapa yang bisa bayar
uang pajak? Orang yang bekerja. Orang
yang bekerja makin banyak apa makin
sedikit? Orang yang bekerja makin
sedikit. Sudah orang yang bekerja makin
sedikit, kontribusi pajak terhadap
tunjangan lansia artinya akan makin
kecil. Ketika jumlah lansia makin lama
makin besar, yang ada apa? membebani
keuangan negara, Guys. Apalagi populasi
lansia di Jepang itu mencetak rekor
tertinggi. Hari ini sudah ada 36,2
juta manusia tua lanjut usia di Jepang.
Bayangin, Guys, orang tua lansia di sana
ada 36 juta jiwa. Padahal jumlah total
populasi penduduk di Jepang itu cuma 120
juta jiwa. Artinya hampir 30% satu
pertiga loh 1/3tiga dari populasi Jepang
saat ini itu tidak bisa berkontribusi
terhadap perekonomian mereka. Satu
pertiga jumlah penduduk Jepang hari ini
membebani rakyat Jepang. 36 juta jiwa
menyedot duit APBN, menyedot duit
pembayar pajak, menyedot duit anak-anak
muda di sana. Sehingga anak muda di sana
ya makin frustrasilah hidupnya.
Capek-capek kerja cuma buat ngasih makan
orang-orang tua. Itu ngasih makan diri
sendiri aja udah susah, Guys. Suruh
ngasih makan orang tua itu. Terus
disuruh punya anak enggak bakal mau.
Makanya jangan heran ketika populasi
orang tua makin tinggi, itu
ujung-ujungnya menekan keinginan
anak-anak generasi yang lebih muda buat
punya anak. Apalagi kalau orang-orang
yang tua ini panjang umurnya, Guys. Wah,
udah jelas habis membebani perekonomian
Jepang. Makanya jangan heran di Jepang
mereka itu mau memperpanjang usia
pensiun. Enggak boleh lagi 64 tahun.
Sekarang 70 tahun pun lu harus kerja, lu
enggak boleh. Bahkan kalau bisa sampai
mati pun lu masih kerja di Jepang.
Karena kalau enggak, lu jadi beban
negara, Guys. Lu hanya duduk manis
terima uang pensiun. Yang bayarin uang
pensiun tuh anak-anak yang lebih muda.
Padahal yang anak-anak yang lebih muda
udah lebih susah hidupnya di zaman
sekarang ini. Kompetitor mereka bukan
lagi orang Jepang sendiri. Kompetitor
mereka udah animator dari Cina, harga
lebih murah. Kompetitor mereka udah
pembuat komik dari Cina, harga juga
lebih murah. Pembuat komik dari Korea,
harga juga lebih murah. Udah begitu
banyak perusahaan-perusahaan di kolong
langit ini yang bisa bikin stainless
steel sebagus Jepang juga. Jadi udah
makin kompetitif, mobil-mobil Cina
bahkan udah jauh lebih bagus dibanding
mobil-mobil Jepang. So, makin beratlah
pertarungan hidup orang Jepang nih
anak-anak mudanya. Kasihan enggak sih lu
sama mereka? Dan lebih tragis lagi kalau
lu lihat datanya bukan lansia. Lansia
kan cuma sepertiga ya. Kalau lihat data
orang-orang yang umurnya udah di atas 60
tahun ternyata hampir 40%. Jadi 40%
pekerja di Jepang kalau hari ini lu
pergi naik pesawat Jepang, gua suka tuh
kalau ke Jepang naik pesawat Ana atau
Jal. Percayalah guys, kalau lu pergi
terbang pakai maskapai Jepang, most
likely lu akan ketemu pramugari yang
udah tuwir, Guys. Beda dengan kalau lu
pergi di Indonesia, ya. Lu pakai
maskapai Indonesia, pasti lu lihat
pramugarinya cantik-cantik, muda-muda,
seksi-seksi. Tapi kalau lu terbang pakai
pesawat Jepang, ada 40% kemungkinan lu
ketemu orang tuwir, Guys. Kenapa? Karena
realitanya hari ini 40% tenaga kerja di
Jepang umurnya di atas 60 tahun. Ini
termasuk apa? tukang pos, bengkel,
petani, karyawan pabrik. 40% dari mereka
umurnya sudah 60 tahun. Ngeri ya, Guys,
ya. Bahkan di Jepang lu tidak bisa duduk
manis santai di hari tua lu. Enggak bisa
kayak di Indonesia nyantai-nyantai. Di
Jepang lu sampai mati pun harus macul.
Lu harus kerja. Kalau enggak, lu jadi
beban negara, Guys. Wah, seru nih.
Kenapa jadi beban negara? Karena anak
muda juga enggak mau macul, Guys. Ya,
terpaksa pekerja mereka kan harus makan
juga. Makan beras. Nyangkulah lu.
Orang-orang tua brutal yang hidup di
Jepang. Dan peristiwa ini gak usah heran
namanya juga kita channel investasi
pasti berhubungan juga dengan
perusahaan-perusahaan yang terkait
dengan populasi penduduk. Contoh paling
gampang ini terefleksi dengan jatuhnya
saham popok terkenal di Jepang. Ini
saham yang paling bagus untuk melihat
kehancuran sebuah negara, sebuah
generasi dari saham popok bayinya, Guys.
Gua ajarin dulu. Saham popok bayi. Lu
tahu Mami Poco, lu tahu Muni terkenal
Indonesia itu ternyata dimiliki oleh
perusahaan Uniharm. sahamnya ada di
Tokyo di Jepang 5 tahun yang lalu harga
sahamnya itu lebih dari 1600 1700
Japanese yen. 1700 Japanese yen, Guys.
Hari ini setelah 5 tahun apa yang
terjadi? Lu udah tahu ya namanya juga
anak bayi di sana makin punah bukan
makin banyak. Harga saham mie Poco Unich
Chararm itu udah turun dari 1700 ke 900
perak alias dalam 5 tahun udah minus
lebih dari 45%. Ngeri enggak? Tragis
enggak? kita belum bongkar sama-sama
lain lah. Tapi dari sini lu sudah bisa
lihat indikasi bahwa memang Jepang itu
menua dan tidak mau punya anak dan makin
sedikit populasinya. Lu bisa lihat dari
pergerakan saham popok bayi terkenal di
sana. Makanya memang sudah wajib bagi
Jepang ekspansi ke negara-negara lain.
Kenapa? Mereka udah enggak bisa lagi
mengandalkan bisnis di negaranya. Orang
penduduknya musnah lama-lama hilang dari
planet bumi. Enggak ada gunanya lu buka
bisnis di sana dong. Makanya lu jangan
heran, makin banyak pengusaha-pengusaha
Jepang yang berekspansi ke Thailand, ke
Vietnam, beli bank di Indonesia. Mereka
harus lakukan itu. Negara mereka sudah
enggak bisa diandalkan, Guys.
Penduduknya makin lama makin sedikit.
Artinya kue ekonominya mengecil. Makanya
jangan heran kalau lihat GDP Jepang,
Indonesia GDP-nya tumbuh di atas 5%,
tapi Jepang bukannya naik seperti
Indonesia 5%, mereka malah
terkonstraksi, Guys. Jadi kontraksi
parah sih bahkan. Jadi GP Jepang itu
cuman 1 kom sekian persen. Jauh
Indonesia 5 kali lipat lebih besar loh.
Indonesia 5% loh. Mereka tuh diprediksi
1,2% aja udah bagus guys. 1,2 1,5 itu
aja udah bagus loh. Ngeri enggak?
Makanya teman-teman jangan heran ah ini
artinya makin banyak sekolah-sekolah di
Jepang yang tutup bangkrut collabs
karena kekurangan siswa. Jadi dari sini
lu sudah bisa lihat ya pelajarannya apa.
Di negara-negara yang jumlah penduduknya
makin lama makin berkurang. Jangan
pernah bisnis popok bayi dan jangan
pernah bisnis pendidikan. Karena yang
ada makin nyungsep bisnis lu. Seperti
sekolah-sekolah yang ada di kota-kota
kecil, pedesaan, kabupaten-kabupaten
yang ada di Jepang. Makin lama makin
punah karena siswanya hampir nol, Guys.
Sadis banget sih. Bahkan berita The Star
ya mengumumkan bahwa di tahun 2002
sampai tahun 2020 itu sudah ada lebih
dari 8.580
sekolah yang ditutup. Kenapa? karena
jumlah siswanya berkurang rata-rata
lebih dari 400 sekolah yang ditutup
setiap tahunnya. Jadi dari sini lu bisa
lihat bahwa masanya sangat kompleks. Dan
kalau ditanya sekolah-sekolah di Jepang
kenapa juga tutup? Karena makin sedikit
siswanya mereka juga enggak bisa merawat
sekolah itu. Gedungnya enggak bisa
dimaintenance. Ujung-ujungnya apa?
Lama-lama sekolahnya colollaps, roboh
gedungnya. Mau dirawat enggak worth?
Siswanya tinggal tuuh biji. Ngapain?
Udah tutup aja sekalian. Akibatnya
akhirnya orang-orang pun pindah cari
tempat lain, pindah lagi ke kota, cari
pendidikan di kota, Guys. Jadi makin
kompleks nih permasalahan di Jepang
hanya karena apa? Negaranya mismanen,
Guys. Jepang ini benar-benar mis
manajemen negaranya. Kenapa? Mereka
membiarkan oligarki berkuasa terlalu
kuat di Jepang. Tapi ya udahlah, itulah
peristiwa yang terjadi di Jepang. Kita
ambil benefitnya aja. Keuntungannya apa
buat Indonesia. Ternyata dengan makin
menuanya orang-orang di Jepang, makin
jarangnya orang-orang Jepang yang ma
punya anak, ternyata menciptakan peluang
buat kita. Indonesia bisa ekspor tenaga
kerja ke Jepang. Dan saking gedenya ya
peluang kerja di Jepang, pemerintah
Indonesia itu sampai bikin target loh,
minimal ya setiap tahun kita kirim
50.000 TKI buat kerja di Jepang. Yang
artinya kalau setiap tahun Indonesia
bisa kirim 50.000 orang dikali 5,
artinya dalam 5 tahun kita bisa kirim
250.000 manusia. Ini pun sebenarnya
masih sedikit karena targetnya Jepang
itu punya 800.000 tenaga kerja baru,
Guys. But anyway, kenapa bisa begitu?
Target kita kecil banget. Artinya ada
pemain lain nih selain Indonesia yang
bisa suplly manusia nih ke Jepang.
Ternyata ada. Memang ini sayangnya buat
orang Indonesia kita enggak bisa
memaksimalkan peluang bisnis ini.
Teman-teman tahu jumlah TKI di Jepang
itu masih kalah banyak dibandingkan
tenaga kerja Vietnam, Cina, dan
Filipina. Indonesia meskipun penduduknya
ada 280 juta jiwa, ternyata Indonesia
cuma peringkat 4 dalam pengiriman tenaga
kerja ke Jepang. Jadi, kamu bisa lihat
di layar kaca, Guys. Hari ini total
pekerja asing di Jepang ada 2,3 juta
manusia. Nah, dari 2,3 juta manusia ini
paling besar itu Vietnam 570.000 orang
alias sekitar 25%. Peringkat du ada Cina
408.000 orang. Peringkat 3 ada Filipina
245.000. R000 orang. Nah, terakhir
Indonesia nih kasihan banget cuman bisa
kirim antara 120 sampai 170.000 orang.
Nah, pertanyaannya kan buat kita gini
loh. Indonesia lagi krisis nih. Kita
punya jutaan pengangguran di Indonesia.
Pertanyaannya, kenapa Indonesia bisa
kalah saing ya sama Jepang? Ya mungkin
lu berpikir kita kalah saing karena
orang-orang Indonesia enggak bagus ya,
bego. Tolong pemalas. Sebenarnya bukan
itu masalahnya. Masalahnya itu ada gigi.
Guys, kemarin kita bikin video khusus
spesial tentang masa depan batu bara di
tahun 2026. Teman-teman penasaran enggak
gimana kalau masa depan sektor yang
lain? Apalagi kemarin Venezuela habis
diculik presidennya. Harga minyak dunia
akan seperti apa? Termasuk harga emas,
harga silver yang tahun ini aja sudah
meroket lebih dari 100% dalam 1 tahun
terakhir. Kita belum bicara soal sektor
lain seperti pariwisata, sektor
perbankan, sektor pertambangan. Apalagi
kita sudah memasuki era di mana faktor
geopolitik menjadi salah satu faktor
yang paling penting dalam menyusun
strategi ekonomi kalian. Jadi buat
teman-teman para pelaku usaha,
orang-orang di pemerintahan, duta besar
sekalipun sampai akademisi dan investor
yang ada di Indonesia, lu penasaran
enggak sih gimana sudut pandang BENX
tentang Outlook Ekonomi Indonesia di
tahun 2026 ini? Kalau lu penasaran, yuk
segera join di acara Spial Benix
Economic Outlook 2026 di Titan Center
Bintaro hari Sabtu tanggal 24 Januari
jam .00 siang. Segera daftarkan dirimu
sekarang juga kalau yang mau ikutan
acara Special Benix Economic Outlook
2026. Kursinya terbatas, segera
daftarkan dirimu melalui nomor WhatsApp
yang ada di bawah ini atau scan kode QR
code yang ada di sini. Oke, guys. Sampai
ketemu di Benix Economic Outlook 2026
hanya di Titan Center Bintaro.
Masalahnya itu ada di sistemnya bukan di
manusianya. Kok bisa sistem yang salah?
Yang pertama ya kayak Vietnam. Vietnam
itu menang karena dia punya skala dan
kecepatan. Vietnam itu negara yang
sangat agresif, kompetitif. Negara
mereka serius nih mau menjadikan
pengiriman tenaga kerja sebagai strategi
nasional Vietnam. Jadi di
sekolah-sekolah negeri di Vietnam itu
sudah diwajibkan buat belajar bahasa
Jepang. Kalau di Indonesia masih belajar
bahasa Inggris. Tapi di Vietnam dari SD
pun lu wajib belajar bahasa Jepang. Dan
di sana juga udah dapat satu set lulus
sekolah dapat sertifikat skill bahasa
supaya lebih cepat lagi lu bisa kerja di
Jepang. Dan di sana sistem penempatan
tenaga kerja di Jepang dibikin
sistematif, terstruktur dan harus cepat.
Karena Jepang itu butuh cepat nih
tenaga-tenaga. Vietnam mampu ngasih
ribuan orang sekaligus karena sudah
disistatisasi di sistem pendidikan dasar
mereka. Nah, sementara Indonesia gimana
prosesnya? Panjang, berbelit-belit,
tidak terintegrasi, lembaga-lembaganya
terfragmentasi, kuotanya juga
seringkiali enggak keisi. Maksudnya
gimana? Indonesia ini sistem
pendidikannya kan random banget, ngasal
banget. Masa ada orang gua ketemu ahli
teknik nuklir, eh besok udah kerja di
bank gitu loh. Aneh banget, enggak
nyambung. Atau ada juga gua ketemu
dokter. Dokter kerja hari ini jadi
tukang sate di Senayan. Jadi gak ada
nyambung tuh, gak ada konsistensi tuh.
Atau tenaga kerja lah. Gua suka sama
orang STMA sama SMK ya. Gua harapan gua
kita punya ahli-ahli teknik mesin yang
bagus lah. Bahkan ujung-ujungnya kayak
di Belanda tuh mayoritas orang yang
kerja di mobil-mobil F1,
pengendaran-kendaraan balap,
pabrik-pabrik otomotif di Eropa itu
mayoritas karyawannya bukan S1 loh, tapi
STM. Karena STM engineering mereka itu
sedemikian fokus sehingga lulusan
STM-nya lebih capable dibanding lulusan
S1 ITB, Guys. Noh, lulusan STM-nya
hebat, udah sistematis LAN, tapi di
Indonesia enggak sangat random dan
enggak bisa disemakan kualitasnya.
Random banget, ngacau banget. Gua pernah
ketemu di sebuah daerah, gua kan suka ke
sekolah-sekolah ngajar, ke sebuah daerah
anak SMA gua tanya 8* 8 aja enggak bisa
jawab, Guys. Ini realita, ada videonya.
Tapi itulah faktanya bahwa di Indonesia
sistem pendidikannya tidak seragam,
tidak sistematis, dan enggak tahu
arahnya ke mana. Oh, lulusan kita nanti
mau jadi petani. Oh, lulusan kita nanti
kerja di Jerman, oh lulusan kita nanti
jadi perawat di Jepang. Jadi difokusin
aja SMK lu spesialis ngirim perawat ke
India, ngirim perawat ke Jepang, begitu
loh. Nah, kalau Vietnam itu sudah
sedemikian hebatlah terstruktur satu
garis namanya juga negara komunis. Kalau
Filipina gimana? Kenapa Filipina bisa
mengalahkan Indonesia? Jadi, Filipina
itu unggul di ilmu komunikasi, Guys.
Jadi, Filipina menang di soft skill
mereka, bahasa mereka. Mereka terbiasa
dengan dunia internasional. Mereka
terbiasa kerja global. Bahasa Inggris
mereka itu udah kayak hari-hari, bahasa
Inggrisnya kuat banget. Jadi, budaya
mereka buat melayani, memberikan servis
dan komunikasi yang baik itu juga
tinggi. Artinya, sektor-sektor yang
vital buat Jepang seperti sektor
perawat, hospitality, caregiving, hotel,
restoran, kafe ya cocok banget pakai
tenaga dari Filipina. Dan Jepang memang
butuh orang yang sanggup memiliki ilmu
komunikasi yang baik, bukan sekedar bisa
ngasih tenaga kayak kuli-kuli dari
Indonesia. Nah, memang Indonesia menang,
Guys. Etos kerja kita bagus nih.
Orang-orang yang kita kirim ke Jepang
itu bagus etos kerjanya. Cuma sayangnya
banyak yang terkendala bahasa dan
komunikasi akibatnya sering jadi
bottlenck. Maksudnya apa? Jadi sering
gagal paham. Udah bahasa Jepang yang
pelintat-plintut giliran ngomong bahasa
Inggris juga enggak nyambung. Ketemulah
sama orang Jepang yang ngomong bahasa
Inggris juga pelintat-plintut. Kacau
udah semua barang ini bubar, Guys.
Makanya kalau Filipin gua tahulah hebat
Filipin. Ke mana pun negara gua pergi
selalu ada orang Filipin, Guys. Orang
Filipin ini sangat internasional loh. Di
Timur Tengah banyak di kapal-kapal
banyak kapal pesiar, kapal tanker. Di
Rusia bahkan banyak loh orang Filipina.
Sampai di Irlandia aja banyak orang
Filipin. Salut gua sama Filipin. Nah,
terus selanjutnya kita kalah juga sama
Cina. Kenapa Cina bisa menang? Wajar
sih, memang Cina daerahnya juga lebih
dekat ya. Secara proximity mereka
tinggal nyebrang nyampai ke Jepang
dibanding Indonesia. Mahal, sulit. Dan
Cina sebetulnya dari kendala bahasa juga
lebih sedikit dibandingkan Indonesia
yang pakai huruf latin. Cina, huruf Cina
sama huruf Jepang itu 111, Guys. Hampir
mirip. Lu bisa paham lah garis besarnya
kalau lu orang Cina. Nah, Cina itu udah
menang dari segi sejarah dan jaringan
juga. Jadi, Cina memang udah sejak lama
lah kirim orang ke Jepang. Jadi, udah
puluhan tahun orang Cina itu ada di
Jepang. Bukan cuma di Jepang sih, di
Guyana, di Afrika aja banyak nih orang
Cina. Tapi yang hebat adalah orang Cina
ini banyak yang mau jadi permanen
residen. Meninggal tetap di sana.
Akibatnya mereka bisa membangun network
ujung-ujungnya membangun jaringan
industri yang kuat. So wajar kalau
posisi Cina dalam menyuply tenaga kerja
di Jepang itu sangat sulit buat digeser.
Nah, Indonesia sendiri baru naik
beberapa tahun terakhir, Guys. Kenapa?
Karena ya masalah utama di Indonesia ya
masalah sebelum kerja, Guys. Sebelum
kerja mereka harus siap kerja. Sebelum
siap kerja mereka harus pras siap kerja.
Jadi Indonesia ini memang oversupply
manusia. Kita ini enggak kekurangan
orang. Tapi Indonesia kekurangan orang
yang siap berangkat. Udah bahasa
Jepangnya minim, sertifikasinya lambat,
informasinya juga enggak merata, dan
banyak calon TKI kita gugur sebelum
berangkat. Ujung-ujungnya jadi korban
penipuan. Karena enggak murah buat
berangkat ke Jepang, lu harus keluar
duit puluhan juta loh. Eh,
ujung-ujungnya lu enggak berangkat.
Banyak yang jadi begitu. Bahkan udah
sampai jual sawah, jual bapaknya sendiri
pun ada. Tapi enggak bisa pun berangkat
ke Jepang. Padahal negara Jepang itu
sangat pragmatis, Guys. Jepang itu
enggak pernah milih negara karena
kasihan. Oh, gua udah jajal lu 50 tahun,
gua udah bego-begin, gua udah bunuh, gua
udah perenek moyang. Enggak, enggak ada
hubungan. Mereka sangat pragmatis.
Jepang milih bukan karena kasihan, tapi
Jepang bakal milih siapa yang paling
cepat dan yang paling siap. So, kalau
Vietnam bisa isi cepat, Filipina
komunikasinya bagus, Cina juga udah
mapan secara budaya, secara sejarah
dengan Jepang, ya artinya Indonesia
kalau mau menang nih harus berjuang
lebih keras lagi, Guys. Dan menurut gua
ini worth it buat kita perjuangkan.
Kenapa? Lu tahu enggak sih gaji yang
ditawarkan di Jepang itu sangat-sangat
menarik loh. Contoh ya, kalau lu jadi
kasir di Jepang itu gajinya 20 sampai R6
juta per bulan. Sementara kalau lu jadi
gaji April Maret di Indonesia, gaji lu
ya sekitar UMR lah, antara R jutaan
sampai R juta sebulan. So, perbedaan
gajinya bisa lima kali lipat lebih
banyak di Jepang dibandingkan Indonesia.
Jadi dari sini lu bisa lihat lah ya gede
banget ya gaji pegawai kasir di Jepang.
Bahkan gaji kasir di Jepang itu ngalahin
gaji menteri di Indonesia, Guys. Jadi,
lu tahu enggak sih gaji menteri di
Indonesia itu diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2000. Di situ
ditulis gaji pokok menteri itu
Rp5.40.000
per bulan. Gila, Guys. Gaji menteri di
Indonesia cuman Rp5.40.000 per bulan.
Kita enggak ngomongin insentifnya lah,
belum korupsinya lah, belum tunjangan
jabatan lah, tunjangan fungsional,
enggak enggak enggak. Kita enggak bahas
itu. Kita ngomong gaji pokok menteri di
Indonesia cuma Rp5 juta per bulan. Kan
gila kalah sama kasir swalayan yang ada
di Jepang. Ngeri enggak sih? Makanya
kasir di Jepang jujur-jujur, Guys. Tapi
kalau menteri-menteri di Indonesia, e
mungkin lu jadi pertanyaan kejujurannya.
R juta, Guys, gajinya, Guys. Ngeri
enggak? Makanya pusing banget jadi
bahlil tuh. Gila, gajinya kecil banget,
ya ternyata, ya. Masih mau lu jadi
menteri. Dan bukan cuma gaji gasir,
Guys. Gaji petani juga jauh lebih besar
di Jepang dibandingkan Indonesia. Jadi
di Jepang ya, petani itu gajinya bisa
sekitar R juta sebulan. Tetapi kalau di
Indonesia, mayoritas petani di Indonesia
penghasilannya ya sekitar Rp3 juta per
bulan. Jadi dari sini lu bisa lihat ya.
Jadi petani di Jepang cuan gede loh. Wis
bisa 10 kali lipat lebih besar loh
dibanding di Indonesia loh. Dan peluang
ini sebenarnya harus kita galakin sih,
Guys. Kita harus lebih semangat lagi,
harus mendorong sih buat negara bisa
lebih banyak lagi kirim manusia ke
Jepang. Kenapa? Karena mereka bisa jadi
sumber devisa. Ya, lu bayangkan aja ya,
kalau tiap tahun kita bisa kirim 50.000
orang, satu orang itu kirim berapa sih?
R juta tiap bulan. Dan lu kalikan dalam
12 bulan mereka kirim nih 50.000 orang,
kirim R5 juta setiap bulan dalam 12
bulan. Artinya dia bakal kirim R triliun
per tahun. Tahun kedua kita kirim lagi
50.000 orang, dapat lagi R3 triliun plus
50.000 orang yang dari kemarin sudah di
sana, Indonesia dapat 6 triliun. Tahun
depan kirim lagi 50.000 orang, Indonesia
bakal diterima R9 triliun setiap tahun.
Lakukan ini selama 10 tahun, Indonesia
bakal pegang 165 triliun, Guys. Gila
enggak sih? 165 triliun loh dari bisnis
kirim manusia ke Jepang. Artinya ini
bisnis remitansi nih. 10 tahun TKI kita
di Jepang, mereka bisa bawa 165 triliun.
Ke mana? Ke Indonesia, ke Kabupaten
Garut, ke Cianjur, ke Cirebon, ke
Sukabumi. Ini dunia yang sangat besar
loh, Guys. Jauh lebih banyak
dibandingkan tol trans Jawa. Tol tuh
yang menghubungkan Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur itu biaya
pembangunannya cuma R0 triliun. Hei,
duit TKI ini bisa bawa masuk duit 165
triliun loh. Artinya dengan duit yang
sama lu bisa bangun dua jalan tol lah. 2
seteng jalan tol lah. Bisa jadilah
dengan duit yang sama R5 triliun nih.
Wah, ini si peluang yang sangat besar
guys ya. Lu bayangin lah APBD Kabupaten
Garut nih banyak pengangguran ya. By the
way di Garut APBD Kabupaten Garut itu
cuman 4,9 triliun. 4 ya 5 triliun lah
gua bulatin karena gua baik. Lu bayangin
kalau orang Garut 50.000 Rib orang Garut
pindah ke Jepang, kerja di Jepang selama
10 tahun mereka bisa bawa duit R5
triliun loh buat Kabupaten Garut.
Artinya ekonomi di Garut bakal ketimpa
ekstra duit 30 kali lipat lebih banyak
dibandingkan APBD-nya sendiri, Guys.
Makanya penting banget nih buat
kabupaten-kabupaten di Indonesia yang
serius nih pengin mengentaskan
kemiskinan, bikinlah sistem pendidikan
yang sistematis. Langsung sudah tahu
orientasinya ke mana. Oh, lu STM
spesialis teknik mesin kirim ke mana?
Jerman, lu kirim ke Polandia, lu kirim
ke Jepang, langsung dipersiapkan dari
sekarang. Enggak usah mereka belajar
yang enggak penting-genting. Udah lu
belajar bahasa Jepang, selesai. Apa?
Ilmu ganti popok, ilmu cebokin lansia di
Jepang. Udah spesifik aja udah
materinya. Enggak usah yang aneh-aneh.
Belajar ilmu bumi lah. Mending dipakai.
Belajar bedanya putik sari dengan indung
sari dengan kelopak sari. Aduh, sedih
banget lu. Belum tentu kepakai. Dan
kemungkinan besar pun enggak kepakai.
Buat orang-orang yang ada di
kampung-kampung kecil di Indonesia udah
difokuskan. buat kuliah pun gak ada
duit. Udah difokuskan buat jadi TKI,
buat jadi pahlawan divisa Indonesia,
Guys. Ya, cuman sayangnya ya sayang
ser000u sayang ya, kenapa memang berat
sih buat makin banyak orang kita yang
bisa kita kirim ke sana? Karena butuh
modal yang gede. Lu tahu enggak sih buat
pergi ke Jepang kita itu butuh duit
minimal R0 juta. Beberapa orang yang gua
interview, gua pernah satu pesawat sama
perempuan muda lah, umur sekitar 19
tahun jadi nurse ke Jepang. Ternyata dia
itu total habis R0 juta loh. Tapi ini
udah mimpi dia. Dari kabupaten kecil di
Indonesia. Gua tanya lu buat pergi ke
Jepang persiapan berapa lama? 2 tahun.
Duitnya dari mana? Emang lu punya duit?
Bapak lu kerja apa enggak? Bapak saya
petani, mamamu petani juga. Terus gimana
lu bisa ke sini? Patungan, Pak. Jadi di
kampung kita, kita patungan. Ada 17 KK
di situ patungan buat sekolahin dia jadi
nurse. Harapannya nanti mereka bisa
merubah nasib. Kenapa? Gua tanya. Ya,
Bapak saya macul-macul. Penghasilan
sebulan R juta aja udah bagus, Pak. Nah,
dia dianggap bisa jadi perubahan nasib
desa itu, Guys. Jadi, warga di desa itu
patungan buat kirim dia ke tempat
pelatihan. Tempat pelatihannya ini
sebuah kabupaten kecil lah, Tarutung
yang ada di Sumatera Utara. Dari sana
dia latihan 2 tahun, habis itu beli
tiket lagi nih, beli tiket buat terbang
ke Jakarta. Ada tempat penampungan lagi
di Jakarta. Gua kira dia bakal kena
tipu. Ternyata enggak. Memang di Jakarta
dulu 2 minggu baru habis itu ngurus visa
berangkat ke Jepang dan bekerjalah di
Jepang. Terakhir WhatsApp-an dengan tim
kita ternyata dia udah kerja di kota
Nagasaki yang ada di Jepang. So, anyway,
itu perjalanan yang baik. Kenapa? Karena
dia total habis sekitar R0 juta sama
tiket pesawat sekitar R0 juta. Tapi gua
memang udah ketemu banyak orang yang
kena tipu, Guys. Habis duit bahkan
sampai ratusan juta, cita-cita bisa
kerja di Jepang dengan program off
Buildung, ternyata jadinya zong. Dan
kenapa sebetulnya bisa mahal ini semua?
Karena gini ya, buat bisa kerja di
Jepang, lu harus bisa huruf kan, lu
harus bisa berbahasa percakapan
sederhana. Buat memahami ini, lu harus
kursus bahasa, lu harus bayar R1 juta.
Terus lu harus ikut lagi ujian
internasional level N5 JLPT, bayar lagi
Rp5.500. Terus ikutin lagi ujian level
N4 JLPT Rp5.500. Ikut lagi ujian
internasional JFT A2 R15 juta. Ikut lagi
ujian keterampilan internasional skill
R2 juta. Ikutin lagi persiapan melamar
dan wawancara kerja Rp2 juta. Di
total-total lu akan habis duit ya R
jutaan, Guys. Belum termasuk tiket
pesawat. Jadi betul-betul perjudian yang
luar biasa ya, Guys ya. Ya, tiket
pesawat ke Jakarta, ke Tokyo bolak-balik
aja harganya sekitar R jutaan lah. Jadi
dari sini lu udah bisa lihat bahwa
memang peluangnya besar. Lu bisa dapat
gaji R jutaan, tapi investasinya juga
besar dan berisiko karena penipu ada di
mana-mana, Guys. Apalagi ya meskipun lu
udah kursus bahasa, lu udah ikut
pelatihan kerja, lu udah dapat
penempatan di luar negeri pun sekalipun
belum tentu juga lu dapat visanya. Dapat
visa pun harus bayar lagi toh. Dapat
visa pun belum tentu ada sponsornya toh.
Jadi ada begitu banyak ketidakpastian di
sini karena manajemennya juga enggak
bagus yang di Indonesia ya. Beda dengan
Vietnam sama Filipina. Semua diake care
sama negara. Bahkan dari lu masih SD
udah didesain, lu bakal kerja di
Yokohama, lu bakal kerja di Kyoto, udah
diatur tuh strukturnya, skill yang lu
butuhkan, apa, udah dikasih sama negara.
Seru nih Vietnam nih. Jadi menurut lu
gimana, Guys? Menurut lu ini worth it
enggak sih negara buat fokus di sini?
buat membantu supaya makin banyak
anak-anak muda kita bisa kerja di luar
negeri nih. Atau sebaiknya biarin aja
lah mereka secara sporadik, secara
independen berusaha sendiri-sendiri nih.
Ujung-ujungnya banyak juga yang kena
tipu ya atau gagal berangkat karena
enggak cocok skillnya. Atau seharusnya
pemerintah itu involve loh. Ambil
tindakan, ambil peluang 165 triliun duit
yang gede. Dari sekarang kasih aja
pelatihan subsidi. Bahkan negara
mensubsidi pelatihan bahasa buat
anak-anak muda kita. Contoh ya negara
memberikan subsidi berbahasa Jepang
berbasis kerja. Contoh super spesifik.
Bahasanya bahasa apa? Bahasa dunia rumah
sakit, bahasa dunia keperawatan,
caregiver, manufacture, konstruksi kan
bahasanya beda-beda. Paku boleh sama
paku, tapi kan artinya beda. Paku, palu,
gergaji, dunia konstruksi kan beda-beda.
Jadi bukan sekedar bahasa ujian doang
yang ada di lembaran tes di depan tempat
kursus itu enggak penting. Justru yang
lebih penting bahasa hari-hari dunia
kerja sebelum berangkat supaya tenaga
kerja kita tahu bahasa dunia industri,
bahasa praktik kerjanya seperti apa. So,
mereka enggak lagi stagnan nih di posisi
yang rendah-rendah gitu-gitu aja, tapi
mereka juga bisa naik level di sana.
Tadinya mungkin cuman tukang gergaji,
tapi bisa naik level jadi supervisor.
Tadinya mungkin cuman tukang traktor,
menggemburkan tanah tapi bisa naik level
jadi agronomis. Bisa. Kenapa enggak?
Kalau memang negara fokus di sana. Jadi
mulai dari sekarang kita bisa nih kasih
subsidi, membiayai kursus bahasa Jepang,
membiayai mereka supaya bisa juga ujian.
Ujiannya lulus tes juga bahasa Jepang.
Dan yang paling penting mereka punya
skill industri, mereka punya skill
bahasa dunia kerja di sana. ya karena lu
kerja di rumah sakit, kerja di pabrik,
kerja di kebun, kerja di sawah, udah
beda tuh bahasa yang digunakan. Nah,
yang kedua menurut gua harus ada
dilakukan transparansi di proses
penempatan tenaga kerja ini. Jujur aja
di Indonesia ini banyak banget yang
gelap nih, informasinya enggak terbuka.
Kadang-kadang gua ketemu pun yang
cari-cari itu udah ada koneksi dari
organisasi kemasyarakatan pengusaha di
Indonesia dengan kedutaan. Ben, gua
dihubungin sama kedutaan Korea Selatan
nih. Kita mau kirim 20.000 tukang chat
dari Indonesia. Segini nilai proyeknya.
Gini gini gini. Menurut gua sih banyak
banget dari mereka itu yang enggak
ngerti juga ujung-ujungnya apa karena
informasinya gelap ya gagal berangkat
juga atau mismatch skill-nya juga. Jadi
menurut gua harusnya dibuka
sejelas-jelasnya dibikin transparansi
jangan gelap lah. Bahkan informasi suka
ditahan-tahan nih sama mafia-mafia
tenaga kerja ini loh. Ujung-ujungnya
apa? Biayanya jadi enggak jelas biayanya
bahkan jadi overprice ujung-ujungnya
malah jadi penipuan. Nah, makanya
menurut gua harusnya pemerintah ambil
ikut serta sih di sini menciptakan
keterbukaan transparansi dalam proses
penempatan ini, proses hiring ini.
Bahkan kontrak kerjanya bilingual wajib
ada bahasa Indonesianya, ada bahasa
Jepangnya. Dan juga di kontrak itu sudah
harus diate secara jelas informasi soal
gajinya, jam kerjanya, hak-hak dia, hari
libur dia, hak dia buat ibadah, hak dia
buat berwisata. Dan ini harusnya bisa
diakses secara digital. Just in case
kalau hilang tuh dokumen-dokumen semua
udah siap tuh. Mereka punya database
digital. Oh, namanya Mirna. NPWP, KTP,
penempatan, paspor udah tersedia. Mereka
punya profile digital sendiri yang
dipegang sama kementerian. Just in case
dia tidak ada kabar di Yokohama, kita
tahu harus kontak siapa. Ada emergency
kontaknya siapa orang terdekat dia. Ini
kan harusnya dibikin ya sama negara. Pun
nanti kalau dia sudah selesai 2 tahun,
kementerian juga punya database. Oh, ada
enggak perusahaan Jepang lain yang betuh
orang ini sudah stay di sana 2 tahun
daripada dia pulang bisa bantu
penempatan ke kota lain yang ada di
Jepang. Nah, ini bisa menutup celah nih
buat calo-calo, buat orang-orang
mafia-mafia buat bermain di sini. Kalau
enggak, makin banyak nih praktik-praktik
penempatan TKI yang bermasalah. Nah,
yang ketiga, Guys, yang wajib kita
lakukan selain menyediakan pelatihan
yang disubsidi kalau bisa gratis, terus
yang kedua membikin sistem yang lebih
transparan supaya lebih gampang
informasi dicerna dan mengurangi mafia.
Yang ketiga, yang paling penting itu
juga disediakan perlindungan hukum sih.
Ini penting nih buat para TKI. Karena
kita suka lihat sih TK-tk harusnya kan
nyaman, happy bekerja dan kalau mereka
ada masalah harusnya ada tempat
berlindung supaya mereka juga berani
melapor. Soalnya banyak banget nih TKI
yang gua lihat zaman dulu gua di gua kan
ketua PPI waktu di Leiden itu banyak
warga itu ngadu ke gua ujung-ujungnya
gua jadi kerjaan gua bukan cuma kuliah
gua jadi harus bolak-balik nih ngurusin
orang Indonesia yang bermasalah yang
diperkosa, yang dibunuh, yang dipukulin
KDRT, bahkan yang sampai hilang paspor
aja gua urusin ke KBRI yang ada di
Denhak. Jadi gua suka bolak-balik tuh
Leiden sama Denhak. Pertanyaannya adalah
seharusnya negara itu lebih aktif lagi
dan memberikan perlindungan. Di sini
maksud gua Kementerian Tenaga Kerja ya,
bukan kemeno. Kenapa? Karena banyak TKI
kita itu mengalami kejahatan berat,
pemerkosaan, pembunuhan, kekerasan
seksual, bahkan sampai penghilangan
identitas. Paspornya diambil, dibakar.
Wah, itu udah banyak tuh, Guys. Dan ini
harusnya bisa dihindarin. Kenapa? Karena
ya TKI kita ini kan pahlawan kita,
pahlawan ekonomi kita loh, sumber devisa
kita 165 triliun. Kita itu butuh banget
penghasilan mereka. Kenapa giliran
duitnya kita mau terima tapi ngasih
perlindungan hukumnya kita enggak mau?
Kan aneh harusnya jadi pertanyaan.
Justru harusnya mesin duit kita ini kan
dilindungin sama negara. Jangan negara
sibuk-sibuk aja sedot duitnya, terima
pajaknya, giliran mereka diperkosa
didiamin. Kan enggak fair. Curang
banget, culas, sadis. Nah, ini yang
harusnya kita perbaikin, Guys. Supaya
makin banyak orang Indonesia yang
semangat, tertarik buat menjadi pekerja,
jadi tenaga kerja karyawan di luar
negeri. So, menurut kalian gimana, Guys?
Menurut kalian kabar baik atau kabar
buruk nih? Jepang membuka pintu tenaga
kerja sebesar-besarnya buat orang
Indonesia yang maang ke sana. Tapi lu
sendiri udah tahu biayanya mahal.
Biayanya R0 juta, R0 juta buat TK ini,
buat kerja. Lu setuju enggak kalau
negara mensubsidi mereka? Supaya mereka
bisa lebih paham, lebih tepat, lebih
efisien perjalanan mereka ke luar
negeri, negara subsidi pelatihannya.
Karena jujur aja kalau seandainya kita
bisa sanggup kirim 50.000 tenaga kerja
setiap tahun, dalam 10 tahun kita bisa
punya 500.000 R000 tenaga kerja di luar
negeri yang kalau diakumulasi total
penghasilan remitansinya R juta aja
sebulan yang mereka kirim itu setara 165
triliun, Bos. I think this is a lot of
money dan Indonesia butuh itu. Dan dari
sini kita bisa lihat bahwa TK itu bukan
cuma sekedar isu tenaga kerja ya kalau
kita mau berjaya nih mengalahkan
Vietnam, Filipina, dan Cina, tetapi juga
harus kita lihat sebagai aset strategik
bangsa, sebagai aset ekonomi nasional.
Artinya mereka memang berkontribusi
secara nyata, skala ekonominya besar dan
memang sebanding dengan proyek
infrastruktur yang besar juga. Mungkin
bahkan lebih bagus, mungkin bahkan lebih
besar dampak ekonominya dibanding bikin
bandara kosong, bikin pelabuhan kosong.
Mungkin lebih bagus kita fokuskan
anggaran kita buat membangun sumber daya
manusia kita yang lebih capable lagi.
Menjawab tuntutan zaman, menjawab
kebutuhan dunia internasional. Kalau lu
gimana, Guys? Lu setuju enggak sih
dengan program BENIX? Kalau kita
sebaiknya mensubsidi, bikin
program-program yang memudahkan, yang
mempercepat, yang membantu supaya tenaga
kerja Indonesia lebih gampang kerja di
luar negeri. Lebih baik kita habiskan
duit di sana triliunan memberikan mereka
perlengkapan, perlindungan yang mumpuni,
Guys. Atau lebih pilih duitnya kita
pakai buat bikin ibu kota lagi atau
bandara lagi atau pelabuhan lagi atau
jalan tol lagi yang mungkin belum tentu
juga dipakai. Lu lebih pilih yang mana,
Guys? strategi Benix bangun manusianya
atau pakai gaya lama bangun beton
lagi-lagi beton. So anyway guys, lu
masih inget enggak di awal gua bilang
ada empat alasan nih kenapa Jepang
kekurangan tenaga kerja dan harus impor
tenaga kerja asing. Gua udah sebutin
tiga alasan. Menurut kalian alasan
keempatnya apa? Ya tulis dong pandangan
kalian di kolom komentar yang ada di
bawah ini. Semoga video ini bermanfaat.
Segera like video Benix
sebanyak-banyaknya dan jangan lupa share
ya ke teman-teman dan keluarga kamu.
Oke, salam sehat, salam cuan. Bye bye.