Kind: captions Language: id Guys, seru banget nih, Guys. Bank Indonesia akhirnya ya kewenangannya bakal diobok-obok, bakal dipretelin. Wah, ini seru banget nih, Teman-teman. Tahu ggak, Bank Indonesia ini dalam posisi dukdukser? Mereka lagi jantungan nih. Mereka agak cemas nih detik-detik belakangan ini. Kenapa? Karena independensi Bank Indonesia, otoritas Bank Indonesia akan mulai dipertaruhkan. Dan gua suka karena mainnya cantik. Kalau orang yang enggak sadar pasti enggak tahu permainan cantik yang dilakukan oleh Yah, seru deh. Nanti kita bahas lebih detail aja. Makanya itu jangan skip video ini. Let's check. So, teman-teman lihat ya di Kompas itu lagi hot nih. Ada kepentingan politik beresiko obok-obok Bank Indonesia dan otoritas keuangan lainnya. Lalu ada lagi soal cawe-cawe politik independensi Bank Indonesia kembali dipertaruhkan. Soalnya DPR mau membahas ya rancangan undang-undang terkait perubahan Undang-Undang P2SK. Ini undang-undang di sini tentang Bank Indonesia nih. Nah, beberapa pasal di dalamnya itu katanya nih syarat muatan politik yang mengganggu independensi bank sentral. Ah, masa sih? Lalu ada lagi berita perbankan katanya independensi Bank Indonesia terancam dalam revisi RUU P2SK. Well, anyway, apa sih Undang-Undang P2SK ini? Dan kenapa katanya Bank Indonesia lagi harap-harap cemas nih, Guys? Karena lu tahu ya sekarang Bank Indonesia di seluruh dunia itu lagi goyang dangdut nih. Ini dimulai dari Amerika Serikat yang kemarin apa? Ada Donald Trump nih. Donald Trump itu pengin banget suku bunga di Amerika Serikat turun turun turun turun. Terus namanya juga pengusaha penginnya bunga itu murah. Tapi Jerome Powell orangnya kepala batu enggak bisa dibilangin. Tapi dia juga enggak bisa pecat Jarum Pawel karena independen. So apa yang dia lakukan? Dia lakukan kriminalisasi. Jadi lu tahu salah satu anggota dewan gubernur yang namanya Lisa Cook ya pakai gaya kobonya Donald Trump itu diancam bakal dipenjarakan e karena dia kabarnya menyalahgunakan kekuasaannya buat mendapatkan kredit KPR dengan bunga rendah. Tapi udah kita bahas nih di video yang kemarin ya. Anyway guys, kita kembali ke soal Undang-Undang P2SK. Apa sih ini barang? Jadi buat teman-teman ya Undang-Undang P2SK ini adalah Undang-Undang tentang pengembangan dan penguatan sektor keuangan. Nah, di sini isinya banyaklah yang berhubungan dengan sektor keuangan. Bukan cuma soal perbankan sih. Di sini ada soal OJK juga, ada soal lembaga penjamin simpanan. Nih kantornya si Purbaya dulu nih. Jadi ada Bank Indonesia juga. Anyway, ini salah satu permainan cantik yang menurut gua luar biasa. Gua suka permainannya luar biasa menarik. pintu masuknya ketika ada judicial review alias uji materi ya yang dilakukan oleh beberapa dosen hukum dan mahasiswa yang di Jawa Barat. Intinya mereka menguji materi soal Undang-Undang P2SK atau Undang-Undang yang berhubungan dengan sektor keuangan lah. Intinya apa sih yang diuji? Kok LPS itu katanya lembaga independen? Katanya harusnya lembaga yang setingkat dengan kementerian. Tapi kok anggarannya masih minta-minta ngemis-ngemis sama Menteri Keuangan ya? Nah, mereka itu bilang harusnya terjadi independensi anggaran nih kalau lembaga LPS ini independen juga. Jadi harusnya anggaran LPS jangan lagi lewat Menteri Keuangan, tetapi bisa langsung ke DPR dong seperti yang lain. Contoh, BPK bisa minta anggaran ke DPR, Bank Indonesia bisa minta anggaran ke DPR, OJK minta anggaran ke DPR. Jadi, ya kedudukannya LPS harusnya yang sesama independen ya, harusnya setara dong dengan Bank Indonesia dan OJK. So, kemudian akademisi-akademisi ini berkumpul untuk menggugat nih undang-undang yang mengatur si LPS ini lah, undang-undang sektor keuangan ini supaya ya LPS itu kembali menjadi independen. Seperti BI dan OJK nih gengsi juga nih si LPS nih. Intinya dia enggak maulah kalau soal anggaran dia harus ngemis-ngemis ke Menteri Keuangan. Emangnya dia siapa? Karyawannya Sri Mulat kan? Enggak. Dia kan lembaga yang independen. Harusnya dia ngobrol dong dengan anggota DPR. So anyway, akhirnya mereka gugat dan ternyata dikabulkan sama Mahkamah Konstitusi tanggal 23 Desember 2024 melalui putusan nomor 85 PU XX11 2024. Intinya adalah ya okelah kita revisi ya Undang-Undang P2SK ini, undang-undang sektor keuangan ini. Nah, karena harus direvisi akhirnya undang-undang itu wajib dibahas sama anggota DPR dan ini sudah dikaji sama Kovisi 11 DPR. Mereka bakal merevisi Undang-Undang P2SK ini dengan visi misi mengembalikan independensi LPES yang setara dengan BI dan OJK. Dan DPR sudah resmi nih menetapkan target bahwa revisi harus selesai di tahun 2025. Ah, seru nih, Guys. Jadi khusus buat ini mah cepat aja nih dikabulkan ya. Tapi kalau Undang-Undang Perampasan Aset apa kabar tuh? Enggak ada kabarnya nih. Tapi kalau ini harus dikejar cepat nih. Padahal enggak penting-penting banget ya LPS mau gajinya dari hantu belau juga ya. Penting terima gaji kan lu ya. Tapi intinya bukan itu, Guys. Ini bukan soal gaji LPS. Ini lebih besar dari itu. Kenapa lebih besar dari itu? Karena undang-undang sektor keuangan ini atau P2SK ini isinya ternyata bukan cuma soal LPS, tapi di situ juga ada tentang OJK dan Bank Indonesia, bank sentral. Dan ini momen untuk merevisi undang-undang sektor keuangan itu dijadikan momen juga nih. Buat apa? Mengobok-ngobok kewenangan lembaga lain, BI dan OJK di sini. Dan gua suka nih alasannya juga cukup menarik ya alasannya DPR ya kenapa dia kemudian cawe-cawe ya ke toko sebelah bukan cuma LPS yang dirubah nih padahal yang disuruh sama MK itu cuman soal LPS tapi sampai meraja lela nih ke sektor lain ada alasan pertama soal konsistensi hukum jadi ya kalau kalangan akademisi kan fokusnya soal independensi LPS tapi DPR menilai ya kalau LPS yang kita revisi, sebetulnya BI dan OJK juga perlu direvisi lagi supaya ada selarasan nih antara lembaga keuangan. Nah, terus di samping itu juga ada kritik sih dari publik. Contohnya, gua juga udah berulang kali mengkritik ya, gua sih enggak percaya ya sama banyak lembaga-lembaga Kuani ini. Banyak yang ngacau aja. Contoh OJK nih eh banyak banget kan kasus pinjaman online lah, kasus ada bank yang bocor lah datanya lah, ada lagi sekuritas-sekuritas bermasalah di Indonesia, belum lagi fintech-fintech bermasalah, duit orang kabur. Aduh, bukan cuma soal jiwa seraya, Guys. Berapa banyak dari kalian lu jadi pinjaman online korban fintech-finek enggak jelas. Padahal ada logo OJK. Enggak benar nih menurut gua harusnya dibinasakan itu direformasi total tuh OJK tuh Bank Indonesia sama juga ngacaunya sih soal kebijakan moneter BI pengawasan industri OJK yang enggak jelas juga pengawasan industri keuangan ini betul-betul harus dikontrol menurut gua sih harus ada akuntabilitas yang jelas dari mereka. Nah, menurut gua memang ini jangan-jangan jadi momen yang pas nih buat DPR memanfaatkan ya momentum revisi ini karena ya kita harus tata ulang memang regulasi BI sama OJK. Kenapa ini harus kita kritisi? Karena gini ya, Bank Indonesia ini menurut gua isinya para pemalas nih yang kerjanya juga menurut gua itu enggak jelas. Contohnya gampang aja. Begitu Purbaya naik jadi mentir, lu jadi lihat, heh, ada duit kita R00 triliun di Bank Indonesia. Nganggur aja enggak jelas. Mendingan duitnya turun dong ke sistem, taruh itu di bank Himbara. Jadi hidup perekonomi yang di bawah. Benar enggak? Benar. Setuju juga enggak? Aneh. Selama ini kok malah diam-diam aja nih. Nyantai-nyantai aja. Bank Indonesia terima gaji gede, cetak duit sendiri, sayaak jidad. Tapi fungsinya apa? Ternyata kalau gua heran ya kalau banyak orang enggak setuju dengan ini. Kalau menurut gua ini justru hal yang bagus. Kenapa harus dirubah nih pasal 7 Undang-Undang ini? Karena Bank Indonesia jadi dapat tugas baru dibandingkan hari ini cuma onkang-ongkang kaki, enggak jelas dapat duit ratusan juta miliar, kartu kredit pun unlimited. Hello. Rakyat lagi sengsara nih. Kebijakan pemerintah dengan kebijakan Bank Indonesia sering enggak selaras. Contoh, pemerintah mau ekspansi ekonominya tapi suku bunga enggak turun-turun. Percuma siapapun presidennya kalau suku bunga Bank Indonesia 20% kapan ceritanya ekonomi kita bisa tumbuh? Kan enggak logis. Harusnya kalau ekonomi tumbuh, bunga ya harus diturunin supaya orang lebih semangat. Kredit ke bank, buka usaha baru, ekspansi bisnis. Kan logikanya begitu. Tapi ternyata faktanya enggak selalu pemimpin kita di Bank Indonesia itu punya otak. Enggak selalu. Dan mereka juga enggak peduli karena mereka enggak ada tugas menciptakan lapangan kerja. Karena kalau bunga diturunkan pasti tadi ya ekspansi bisnis terjadi, penciptaan lapangan kerja terjadi. Tapi kan itu enggak dilakukan. Kok bisa ya mereka enggak punya hati seperti itu. Ternyata sangat jelas. Karena kalau lu lihat ya, Bank Indonesia dengan Bank Sentral Amerika Serikat, ternyata KPI-nya jauh lebih susah KPI-nya Bank Sentral Amerika Serikat. Jadi, Teman-teman lihat ya, kalau di Bank Indonesia ya, itu tugasnya cuman jaga inflasi lah, jaga nilai tukar lah. Udah sisanya apa? Stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran. Jadi fokusnya cuma di inflasi dan nilai tukar, stabilitas perbankan, sistem pembayaran. Udah terus mendukung pembiayaan ekonomi berkelanjutan. Yang enggak jelas juga maksudnya apa. Tapi kalau the Fed itu sangat konkret. Mandat mereka ada dua. Pertama, stabilitas harga. Jadi inflasi harus rendah dan stabil supaya harga stable. Yang kedua, apa? Maximum employment, guys. Lapangan kerja maksimal. Jadi harus tercipta lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi rakyat Amerika Serikat. Lu bayangin itu jadi beban bank sentral untuk menciptakan maksimum employment. Jadi kalau mereka ada pemikiran seperti itu, bank sentral itu harus mau kerja ekstra untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Nah, di Indonesia anehnya di bank sentral kita itu banyak yang enggak jelas. Makanya mereka itu tinggal di Menara Gading enggak pernah nginjak bumi, enggak peduli di bawa ada orang mati ngap-ngapan, enggak bisa makan, enggak bisa minum, enggak peduli, enggak ada pekerjaan, enggak peduli. Bukan kayak pii mereka mati, mati aja lu. Dewa-dewa itu mana peduli. Tapi sekarang nih bakal dirubah. Mereka udah harus peduli tentang penciptaan lapangan kerja. Kalau gua sih setuju, Guys. Masuk akal. Lu setuju enggak kalau Bank Indonesia itu sudah mulai harus mikir, bukan cuma soal kayak Dewa. Oh, enggak apa-apa. Yang penting inflasi rendah. Oh, enggak apa-apa. Yang penting nilai tukar aman, cadangan devisa aman. Inilah pemikiran kaum-kaum teknokrat yang tinggal di Menara Gading, Guys. Mereka enggak peduli di bawah megap-megap karena suku bunga tinggi. Mereka enggak peduli banyak orang nganggur karena suku bunga tinggi. Tapi giliran nanti orang enggak punya pekerjaan, giliran banyak orang yang miskin yang dibakar siapa? Eksekutif. Lu enggak pernah lihat? Peristiwa Bank Indonesia dibakar enggak ada ya? Padahal asal lu tahu ya. Good news guys. Kabar spesial buat kalian karena sekolah Sambenix season 8 akan segera dibuka dan temanya luar biasa menarik nih. Khusus buat teman-teman investor pemula di IASG yang bingung cara beli saham, investasi dan bisnis apa yang menarik. Kita akan membahas tentang mineral berharga dengan lebih detail lagi. So, buat kamu yang masih bingung gimana sih cara beli saham di ISG, gimana sih caranya profit di ISG, kamu bisa pakai kalkulator investasi yang ada di www.skolasahambenix.com. pakai di situ, tentukan target investasi kamu dan kamu bisa lihat bagaimana caranya kamu bisa mendulang cuan di ISG. So, buat kamu yang belum bergabung di season sebelumnya, ini kesempatan langka buat segera bergabung. Dari yang harganya R jutaan, sekarang tinggal R jutaan saja. Ingat ya, khusus 25 orang pertama yang mendaftar. Segera daftarkan dirimu sekarang juga di www.skolashambenix.com atau hubungi nomor WhatsApp yang ada di bawah ini. Bank Indonesia dibakar enggak ada ya. Padahal selalu lu tahu ya, negara ini kalau susah, kalau ekonomi nyungsep, salah satu faktor yang menghancurkan perekonomian Indonesia ketika bank sentral enggak ada otak dan enggak punya otak terjadi ya krisis 98. Jadi menurut gua memang harus ada tugas baru nih buat Bank Indonesia karena yang undang-undang lama ya tidak ada tugas yang eksplisit bagi Bank Indonesia untuk mendukung sektor real atau menciptakan lapangan kerja. Akibatnya, Bank Indonesia jadi tidak punya pemikiran, visi misi untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektoril. Dan mereka juga tidak punya visi misi untuk menciptakan lapangan kerja. Ini kan ngeri artinya Bank Indonesia seringki tidak sinkron dengan eksekutif alias pemerintah. Jadi, gua sih sangat setuju kalau seandainya Bank Indonesia dapat tugas tambahan nih, Guys. Harus melakukan sinergitas ya, kebijakan moneter, fiskal, dan sektoril pemerintah. Jangan lu ongkang-ongkang kaki enggak ada kerja. Termasuk di sini ya, Bank Indonesia wajib nih untuk mendukung upaya-upaya membangkitkan iklim investasi yang baik, meningkatkan daya saing ekspor, produktivitas sektoril, pemberdayaan masyarakat, bahkan sampai ekonomi inklusif dan ekonomi hijau. Mereka enggak bisa lagi duduk di menara gading, enggak peduli dengan kejadian yang ada di dunia nyata. Nah, di sini sih gua setuju, Guys. Karena memang ini wajib ya kita punya bank sentral yang peduli dengan kehidupan rakyat di bawah. Kalau menurut lu gimana? Terus kenapa kemudian Bank Indonesia enggak mau nambah kerjaan? Karena mereka pemalas. Bisa jadi. Buktinya ya pekerjaan mereka jauh lebih mudah dibandingkan bank sentral yang ada di Amerika Serikat. Anyway, salah satu yang suka jadi considerance para politisi di Senayan itu adalah pasal 48 guys. Jadi pasal 48 itu intinya ya dewan gubernur kalau di Amerika Serikat itu cuman boleh dipecat ya kalau dia bertindak kriminal lah atau dia matilah jadi bisa digantilah. Nah, kalau di Indonesia itu bisa karena mengundurkan diri karena fungsi baru mengawasi dewan gubernur Bank Indonesia. Kalau kinerjanya enggak bagus tadi ya, inflasi, stabilitas mata uang atau nilai tukar kita rupiah, terus termasuk penciptaan lapangan kerja, Gubernur Bank Indonesia bisa dipecat sama DPR. Ya konsepnya di sini evaluasi lah. Terus nanti dia propose ke presiden, jadi presiden yang pecat. Nah, ini yang banyak orang khawatir bahwa jadinya enggak independen. Jadi gini ya. Pertama kita satu-satu dulu bahas. Kalau gua setuju KPI Bank Indonesia itu ditambahin. Setuju banget gua. Wajib mereka berpikir lapangan kerja itu seperti apa. Supaya jangan seenak jidat taruh bunga tinggi. Orang enggak bisa kredit, orang enggak bisa usaha, orang enggak bisa bisnis, ujung-ujungnya orang enggak bisa menciptakan lapan kerja. Setuju? Cuman dalam menjalankan fungsinya menurut lu, apakah anggota DPR adalah organ yang tepat untuk mengawasi? Nah, ini kenapa harus diungkit ya? Karena selama ini ya Bank Indonesia itu seperti negara dalam negara, Bro. Dia itu self governing bodies. Bayangin ya, dia punya anggaran, mereka yang nentuin sendiri. Mereka enggak ngemis-ngemis ke Menteri Keuangan. Kayak si Amran nih, kurang budget, dia harus ngemis-ngemis ke Menteri Keuangan. Atau menteri e HAM enggak ada budget, dia harus ngemis-ngemis ke Menteri Keuangan. Nah, kalau Bank Indonesia mau bikin proyek apa atau mau kerjaan apa ngemis-ngemis ke menteri keuangan? Enggak. Tinggal pencet tombol cetak duit selesai. Mereka bisa print sendiri uangnya. Hebat enggak Bank Indonesia? Canggih kayak negara di dalam negara. Nah, selama ini ada yang ngawasin enggak? Ternyata mereka berlindung di balik independensi. Independensi independensi. Tapi apakah betul-betul mereka independence? Enggak tahu juga. Apakah betul-betul mereka menjalankan tugasnya dengan baik? Enggak tahu juga. Buktinya Indonesia berulang kali tuh jatuh ke dalam krisis ekonomi. Buktinya berapa kali rupiah kita juga gagal. Jadi kalau dibilang benar-benar mereka paham dengan yang mereka lakukan, enggak juga. Yang jadi masalah adalah terus siapa yang bisa ngasih skor sama Bank Indonesia? Kalau menteri kinerja yang enggak bagus, pecat sama presiden. Selesai. Lu ada nilai A B C D. Kalau nilai lu jelek, lu dipecat. Nah, Bank Indonesia ternyata enggak bisa secepat itu dan enggak bisa dipecat seperti itu karena mereka independen, Guys. Mereka selalu berlindung di balik itu. Tapi kan jadi aneh, ya. Lu kerja di kantor, lu enggak achieve target, ya lu dipecat. Selesai. Lu di Bank Indonesia, lu dapat target, lu harus ciptakan 2 juta lapangan kerja. Eh, kecuk, kecuk, kecuk. Sudah berapa lapangan kerja tercipta? 73 orang, Pak. Hah? Target lu 2 juta, lu 73 orang. Terus gimana? Apa yang lu lakukan? Ya udah, Pak. Enggak apa-apa. Kenapa enggak apa-apa? Ya kan Bapak juga enggak bisa mencatat saya. Kan bodoh. Negara apa yang kita lakukan ini enak bener mereka tetap dapat gaji, tetap dapat bonus padahal enggak bisa kerja. Coba lu pikir logikanya mereka harus diawasin, tapi siapa? Siapa yang ngawasin? E sekarang mau ditambahin DPR, lu setuju enggak? Gua sih ada propose gimana kalau yang ngawasin itu konsorsium aja lah. Konsorsium gimana, Pak? Jadi yang ngawasin kan lu juga enggak percaya sama anggota DPR ya. Jadi kita bikin konsorsium yang ngawasin Bank Indonesia supaya tidak jadi negara dalam negara. Mereka belaganya itu setinggi langit. Gimana kalau mereka diawasi sama DPR berkombinasi dengan BPK dan pemeriksa keuangan. Lalu yang ketiga dengan DPD. Nah, ini unsur senat dari Indonesia yang tidak terafiliasi dengan partai. Nah, kalau tiga konsorsium ini sepakat kita pecat si Dewan Gubernur Bank Indonesia, pecat selesai. Jadi ada mekanisme yang gua tawarkan di sini supaya Bank Indonesia ini bisa jadi punya tanggung jawab yang lebih lah dan enggak ada reporting lainnya itu enggak jelas karena merasa paling independen sih paling independen. Ini udah kayak media tempe bacem nih. Cuman ya di level negara nih negara dalam negara yang bisa print money sendiri. Nah gua menurut gua sih memang mereka itu harus mulai discrutinize wajib. Tapi pertanyaannya lu setuju enggak kalau DPR doang yang mengawasi? Karena bisa jadi berganding politik walaupun itu murah sih menurut gua. Tapi jadi ada resiko atau pakai strategi BIK, ada majelis di sini isinya adalah DPR, BPK dan DPD. Ee konsorsium inilah yang menentukan karena toh mereka memang lembaga negara yang kita sudah angkat sebagai lembaga negara yang independen, enggak ada hubungan dengan eksekutif. Dan mereka di sana ada kamar-kamar sendiri. Kamar yang berhubungan dengan ekonomi makro, kamar yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi kita, kamar yang berhubungan dengan industri, penciptaan lapangan kerja. Biar mereka yang menilai ini. Tapi ada negatifnya enggak ada. Kita jadi semakin birokratis. Dan ujung-ujungnya ini cuman bicara soal lobi. Makin banyak meeting, makin banyak kebocoran anggaran, makin banyak deal-deal politik di belakang layar karena makin banyak yang harus dikasih makan nih kalau pakai format Benix atau ya udahlah sistem yang paling murah. Toh kita sudah mewakili memberikan kepercayaan terhadap representasi kita di parlemen. Biarlah parlemen yang mengawasi. Menurut lu gimana? Nah, soal kekhawatiran Benixnya kalau diawasin dengan anggota DPR bakal ada deal-deal di belakang layar, di belakang meja itu juga udah terbukti sih dari beberapa kasus yang sudah naik ke permukaan teman-teman. Tahu enggak ada tersangka baru dari kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh Yayasan Bank Indonesia. Jadi KPK itu baru rilis berita tentang dua tersangka korupsi pengelolaan dana bantuan sosial Bank Indonesia. Ni dana bans korupsi nih. Nah, bukan cuma BI. BI berkolaborasi dengan OJK, Otoritas Jasa Keuangan. Nah, inilah yang namanya lobi-lobi politik. Bahkan menurut The News ya, ada anggota DPR yang diduga pakai dana CSR BIO OJK buat beli rumah dan mobil. Nilainya gila miliaran, Guys, sampai 15 miliar. Dan ini ya orang-orang dari partai, Guys. Ee dari semua partailah ada partai magic hubibini semua juga ada. Nah, inilah yang gua bilang. Jadi resiko enggak ya kalau seandainya BI itu bisa diawasi sama DPR parlemen? Jangan-jangan kekhawatiran gua ini bakal menjadi semakin kenyataan. Atau memang yang ideal pakai konsorsium aja. Di situ ada BPK, di situ ada DPD wakil rakyat. Kan ada si Komeng nih di sini. Seru nih kalau ada komeng nih. Anyway, jadi makin banyaklah mata yang mempelototin. Kalau enggak ujung-ujungnya cuman terjadi deal-deal politik di belakang layar atau kalau pakai solusi Bix justru jadi biaya tinggi. Karena Indonesia hobi banget rapat-rapat enggak jelas, Guys. Pusing ya kita ini ya. Atau suruh menteri keuangan aja deh ikut di sini ngawasin join. Cuma nanti dibilang enggak independen. Kok bisa ada orang dari eksekutif pemerintahan yang ikut di pengawasan. Bingung ya di republik ini karena enggak ada yang bisa dipercaya guys buat pengawasan. Kalau menurut lu gimana deh? Tapi gua sepakat yang namanya Bank Indonesia harus diawasin. Kalau enggak kinerjanya bagus atau tidak, siapa yang tahu? UN. Dan kok mereka bisa lebih sakti dibandingkan presiden? Sekalipun Presiden aja masih bisa digulingkan loh sama DPR, MPR, sama rakyat masih bisa loh. Tapi Bank Indonesia enggak pernah tuh ceritanya didemo suruh turun atau dibakar gitu. Enggak ada. Tapi kalau eksekutif, selalu eksekutif yang disalahkan. Ya, menarik, Guys. Nah, menurut lu gimana? Kenapa sih Bank Indonesia ini menurut Benix harus ikut mendukung ya iklim pertumbuhan kita ya? Ya simpel aja. Karena gini ya, inflasi itu sekarang kita masih rendah nih menurut datanya Badan Pusat Secan Ario ya, inflasi kita ini masih 2,3% padahal spare-nya kita, kita itu sanggup sampai 3,5%. Jadi inflasi itu masih terjaga. Nah, kenapa pemerintah ngotot nih BI itu harus kolaborasi dengan pemerintah? Ya, kenapa? Karena gua melihat ada indikasi kita mau mengorbankan inflasi yang artinya inflasi mau dilepas biar naik dikit. Ini konsep threade off moneter, Guys. Jadi, lu lihat di layar kaca ya, ada segitiga namanya segitiga pertumbuhan ekonomi. Di bab atas itu pertumbuhan ekonomi. Sebelah kiri bawah suku bunga, sebelah kanan inflasi. Nah, biar gampangnya gini, Guys. Gua mau kasih tahu. Kalau lu pengin pertumbuhan ekonomi tinggi, artinya suku bunga harus rendah supaya orang semangat. Ambil kredit di bank, usaha ekspansi. Jadi, pertumbuhan ekonomi tinggi. Tapi konsekuensinya apa? Ketika suku bunga rendah, inflasi naik tinggi. Ah, ini threade off segitiga. Atau lu pilih yang mana? Oke, kalau gitu gimana kalau yang rendah inflasi? Oke, kalau lu mau inflasi rendah artinya suku bunga harus tinggi biar orang semangat nabung. Ternyata nabung di atas inflasi return-nya jadi naik. Suku bunga taruh di tinggi. Peredaran uang makin terbatas di masyarakat. Akibatnya pertumbuhan ekonomi turun. Jadi kalau lu mau inflasi rendah bisa enggak bisa pertumbuhan ekonomi lu korbankan suku bunga naik tinggi. Aduh, berat dong. Mati kita semua. So, yang ideal apa? Karena kita masih ada spare untuk naikin inflasi. kemungkinan jalan yang akan diambil pemerintah dan ini wajib punya gubernur BI yang punya pemikiran yang sejalan dengan strategi visi misi Prabowo. Wajib suku bunga itu turun. Suku bunga diturunkan supaya pertumbuhan ekonomi naik, inflasi ya naik juga. Toh kita masih punya spare. Kenapa menurut Benix? Ya, ini memang perlu kita lakukan dan ini enggak akan bisa terjadi kalau Bank Indonesia enggak punya visi misi yang sama dengan pemerintah, yaitu apa? Pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja. itu enggak akan bisa terjadi kalau tidak satu visi misi dan segitiga threade of monetary ini ya suka enggak suka apa sih kejadian lu mau pilih yang mana inflasi tinggi atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau suku bunga yang tinggi lu pilih yang mana lu enggak bisa punya semuanya suku bunga rendah inflasi rendah pertumbuhan ekonomi tinggi enggak mungkin guys. Nah, di sini jadi menarik nih, Guys. Karena ya lu tahu ya, pengganti istri Mulat ini kan ketua LPS ya. Dan ternyata ini inline story-nya nih. Karena Probowo punya goal buat bikin pertumbuhan ekonomi 8% dan pertumbuhan ekonomi 8% ini enggak bakal bisa jalan kalau ya Bank Indonesia, OJK itu enggak sinkron sama Presiden. Cuman yang gua masih pertanyakan adalah apakah bijaksana kalau kita pengawasan Bank Indonesia itu dikasih ke DPR dan menurut lu purubaya apa sih komentarnya? Yuk kita lihat. Ternyata lu bisa lihat ya, kalau Menteri Keuang Purba ini pintar juga nih. Kalau ditanya soal revisi Undang-Undang P2SK, dia bilang itu terlalu dini lah. Ngapain orang undang-undangnya masih baru? Enggak usah cepat-cepatlah merubah aturan di tirto.id. Lalu ada lagi di pikiran rakyat terlalu cepat kalau Undang-Undang P2SK direvisi lagi padahal baru 2 tahun berlaku. Soalnya kan Undang-Undang P2SK, Undang-Undang sektor keuangan ini disakan di tahun 2023. Tahun 2024 judicial review ke MK dan tahun 2025 ke amandemen. Ya, menurut Purbaya ini terlalu cepat. Hebat. Kembali lagi ketua kamu, Guys. Menurut kalian gimana? Lu setuju enggak kalau seandainya Undang-Undang Bank Indonesia direvisi? Kalau soal LPS mah soal gajiannya dari menteri kek, mau dari hantu belau, kek, mau dari Bank Indonesia, gua enggak peduli. Karena LPS ya jujur aja, enggak penting-penting amat juga kita toh pakai LPS ini ketika ada bank yang bangkrut aja, lu dapat ganti rugi 2 miliar per rekening lu kan begitu. That's it lah. Pak, ada LPS. Tapi kita ngomong yang lebih penting. Ternyata ini jadikan pintu masuk dan menurut gua mungkin momennya juga pas. Buat apa? merubah supaya Bank Indonesia jadi lebih bertanggung jawab dong terhadap perekonomian Indonesia. Ditambah dong KPI dia menciptakan lapangan kerja. Bank sentral di Amerika Serikat aja ada KPI itu. Kenapa di sini enggak? Dan yang terakhir gimana soal pertanggungjawabannya? Siapa yang monitoring? Siapa yang mengawasi Bank Indonesia? Apakah bijak kalau kita kasih itu ke DPR? Atau mendingan enggak usah diawasin sama sekali? Biarin aja mereka independen. Ujung-ujungnya apa? Tadi juga ada korupsi juga. Dugaan korupsi yang banyak orang masuk penjara nilainya juga enggak kecil. Miliaran guys. Baru satu orang partai. Ngeri ya. Nah, menurut lu gimana? Bank Indonesia kita biarkan tetap independen atau biarkan aja Bank Indonesia diawasi oleh anggota DPR atau pakai solusi BENX Bank Indonesia diawasi oleh Trimirat. Ada BPK seperti Amerika diawasi oleh BPK. Lalu ada DPR, lalu ada Senat yang independen, non partai, yaitu anggota DPD. Atau justru ini malah menciptakan banyak lubang-lubang korupsi baru. Karena makin banyak orang yang harus dilobi, makin banyak orang yang harus disuap, makin menciptakan inefisiensi karena semakin birokratis. Pusing ya. Menurut lu gimana sih sebaiknya? Kasih saran kalian di kolom di bawah ini. Menurut kalian Bank Indonesia sebaiknya kita awasi seperti apa, Guys? Dan lu setuju enggak kalau ditambah KPI-nya? Mereka harus bertanggung jawab terhadap penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Ditunggu pandangan kalian seperti apa, Guys. Segera subscribe di channel Benix dan share video ini. Dan semoga lu makin paham ya, bahwa ternyata ketika ekonomi kita hancur, itu ada faktor Bank Indonesia juga loh. Tapi kok enggak pernah didemo, ya? Oke, semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]