Transcript
I4Vw3y7MdsM • TERLALU BERANI!! Purbaya Bongkar Ekonomi Jokowi Mentok 5%, Era SBY Tembus 6%??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0440_I4Vw3y7MdsM.txt
Kind: captions Language: id Guys, kita dapat kiriman video menarik banget tentang meeting pertamanya Purbaya ya, Menteri Keuangan kita yang baru sama DPR. Ini meetingnya seru banget karena di pertemuan ini akhirnya terjawab pertanyaan kalian semua para pelaku usaha di Indonesia. Kenapa ya di zaman SBY gampang banget cari duit, tapi kok di zaman Jokowi rasanya kering banget, sulit banget cari duit? Bener enggak lu rasakan itu? Jujur deh, teman-teman pelaku usaha, teman-teman UMKM, lu berasa enggak sih kalau waktu di eranya SBY itu gampang banget cari duit sebagai pedagang kita ya, sebagai pengusaha itu gampang banget. Tapi kalau di eranya Presiden Jokowi, lu merasa enggak lebih susah lu cari duit, lebih kering duit itu? Benar enggak? Kalau lu merasakan hal yang sama dan lu penasaran jawabannya apa, lu jangan skip video ini. Let's check this. Jadi saya berangkat belajar sebelum krisis 95. Tujuannya saya pikir oke mungkin saya bisa membangun membantu ekonomi. Tapi sebelum sekolah selesai 1998, krisis pulang negara sudah berantakan pada waktu itu ya. 2000 pertumbuhan mendekati 0 2001 rendah kan. Habis itu kita bantu ke sana ee dan waktu itu Pak SBY bisa meningkatkan pertumbuhan sampai mendekati 6%. Terus diganti Pak Jokowi. Pak Jokowi pertumbuhannya sedikit di bawah 5% on average. Jadi saya pelajarin dari krisis salah kita di mana? Kenapa ketika 9798 negara yang mulai diserang adalah Thailand dan Korea dan lain-lain. Kenapa yang paling terpuruk kita? J saya pelajari betul apa yang ee terjadi waktu itu dan bagaimana cara mengatasi krisis kalau terjadi lagi. Jadi ee ini boleh teori sedikit yang saya izin. Silakan Pak. Bapak mau ngomong apa saya kasih kebebasan, Pak. Oke, di buku moneter itu ada pemenang-pemenang Nobel yang bilang bahwa dia mempelajari krisis eh tahun 1930 di Amerika. Dia bilang waktu itu krisis mereka debat bunga dinolin kok masih krisis. Rupanya pada waktu itu walaupun suku bunga rendah nol tapi uang vitamin yang di sistem perekonomian itu negatif. Jadi ekonominya dicekek. itu sebetulti yang melandasi eh teori utama kebijakan moneter. Jadi kalau Anda mau lihat kebijakan moneter ketat apa longgar jangan hanya dilihat dari suku bunga. Dia bilang begitu, lihat laju pertumbuhan uang primer base money. Jadi dampak kebijakan monet amat signifikan di perekonomian. Jadi teman-teman di sini yang dimaksud Purbaya ya dia ng-mention banyak hal sih. Intinya apa ya? Dia mau bilang soal ketika lu bikin kebijakan publik nih, krisis Tomyamkung misalnya dia mention soal Thailand, Korea, mereka juga diserang tuh. Tapi kenapa Indonesia paling terpuruk? Ternyata memang ada berbagai kebijakan ekonomi yang kita ambil itu salah, Guys. Waktu itu lu mungkin ingat ya, suku bunga kita itu sempat tinggi banget loh. Anyway, dia mau ngasih contoh di sini bahwa enggak selalu hubungan suku bunga dengan perekonomian itu bisa directly related. Bahwa ketika orang bilang, "Eh, kebijakan moneter kita lagi longgar nih." Kenapa? Karena suku bunganya lagi 0% kecil, artinya kebijakan monitor kita longgar. Maksudnya longgar apa? Orang jadi mudah kredit perbankan karena bunga 0% atau rendah. Harusnya kan orang jadi semangat ambil kredit rumah, kredit mobil, kredit buat beli mesin baru, buka cabang, buka tanah, buka ruko baru, ekspansi bisnis besar-besaran, hire lapangan kerja lebih banyak lagi. Harusnya ekonomi tumbuh. Faktanya enggak. Itu kejadian di Amerika tahun 1930 menurut si Purbaya. Gua ada contoh lain yang mirip-mirip kurang lebih kayak Jepang juga. Jepang itu lu bayangin suku bunganya juga rendah 0%. Ekonominya apakah tumbuh? Tidak. Stock nonstak flasi bahkan. Kenapa bisa begitu? Ternyata memang ada ilmu baru. Menurut gua sih ini sih sangat bodoh kalau enggak paham juga sih. Bahwa lu memang enggak bisa lagi cuman bilang kalau suku bunga 0% ekonomi pasti tumbuh. Enggak. Karenapa? Karena penting juga buat ngecek money supply. Suplly uangnya itu seperti apa. Ini yang namanya base money itu percuma seandainya suku bunganya 1% kek atau 2% kek, tapi money suplly yang beredar di masyarakat itu enggak banyak. Ini yang mau dibilang sama si Purbaya. So, kita enggak bisa lagi bilang bahwa tingkat indikator suku bunga itu 0% atau di atas 10% itu adalah bukti bahwa kebijakan moneter ketat atau longgar. Tapi penting banget juga memperhatikan pertumbuhan uang primer, Guys. Nah, uang primer ini apa? Uang primer ini uang kartal yang beredar di masyarakat. Kalau lu transaksi beli somai, beli mewetiau, di pasar, di jalan, bayar tiket bis segala macam, itu uang primer tuh, uang kartal yang beredar. Tambah cadangan yang ada di bank sentral. Nah, itu harus ada. Kalau enggak percuma duit itu enggak berputar di bawah. Jadi, yang gua mau bilang apa? Ketika suku bunga rendah, bukan artinya lu bisa bilang kebijakan ekonomi moneter kita itu lagi longgar. Enggak. Ada kondisi di mana ketika peredaran duit ya ee primer itu masih rendah, maka kita bisa bilang kebijakan ekonomi itu masih ketat, bukannya longgar meskipun suku bunganya itu rendah. Semoga lu nyambung yang gua bilang ini. Dan ini jadi penjelasan nih kenapa masuk akal buat si Purbaya itu bagi-bagi duit ya maksud gua narik duit dari bank sentral ditaruh ke bank-bank Himbara 200 triliun itu. Nah, ini penting buat kita pahami karena kondisi sebaliknya juga bisa berlaku, Guys. Kalau supply duit ya base money-nya itu meningkat tajam tapi ekonominya tetap staknan. Bisa juga loh suplly duitnya banyak tapi ekonominya tetap stagnan. Artinya permasalahannya itu ada pada transmisi kebijakan moneternya. Jadi uang itu memang tersedia, Guys. Uang itu tersedia, tetapi dia tidak berputar dalam perekonomian. Kenapa? Karena tidak ada kepercayaan. Masyarakat takut buat konsumsi, masyarakat takut buat investasi. Tingkat kepercayaan masyarakat itu begitu rendah untuk melakukan aktivitas ekonomi. Jadi, ada juga kerugiannya. Bahkan ketika suplly duit itu tinggi, ada kemungkinan juga loh ekonominya bisa tetap stagnan. Nah, inilah yang memang terjadi di Jepang ya selama theos decade itu. Di Jepang suku bunga itu mendekati nol dan base money-nya naik pesat melalui quantitatif easing. Tetapi pertumbuhan ekonomi tetap lemah akibat deflasi, rendahnya permintaan terhadap barang dan jasa, serta kecepatan perputaran uang alias velocity of money di Jepang itu sangat rendah. Nah, fenomena inilah yang disebut sebagai liquidity trap di mana kebijakan moneter konvensional kehilangan daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi. Jadi, inilah, Guys, namanya teorinya Krukman ya. Bahwa enggak selalu ketika suku bunga lu kecilin, orang otomatis belanja, orang otomatis transaksi, investasi, enggak selalu. Bahkan ketika sudah diinject juga nih pakai teorinya Purbaya kan, suku bunga dikecilin terus diinjek lagi duit ke perekonomian. Ee faktanya juga enggak gerak juga karena apa tadi ya? kepercayaan masyarakat itu sangat rendah. Masyarakat itu pesimis, velocity of money jadi pelan. Dan akibatnya apa? Konsumsi berkurang, permintaan berkurang. Nah, ini jebakan yang menurut gua ee enggak bakal kejadian sih di Indonesia karena rakyat Indonesia itu sangat-sangat royal. Jadi kalau ada duit di depannya langsung habis. Kalau bisa habis detik ini ngapain habisnya besok kan gitu ya. Jadi permasalahan di Jepang itu enggak bakal terjadi di Indonesia. Kalau di Jepang itu kemungkinan terjadi karena biaya hidup tinggi. Orang takut punya anak. Di Indonesia orang enggak punya kerjaan aja punya anak gitu loh. Di sana enggak. Kalau orang sudah punya anak udah pasti konsumsi ya harus naik beli susu, beli diapers, beli baju anaknya, beli makanan bayi dan lain sebagainya. Jadi teorinya si Krukman ini enggak bakal berlaku di Indonesia. Tapi teorinya si Purbaya gua yakin berlaku di Indonesia. Bahwa memang sekarang kita butuh velocity of money, kita butuh supply money yang ditingkatkan di perekonomian kita. Jadi make sense kalau buat teman-teman lihat pertumbuhan ekonomi di era Jokowi itu di bawah 5%. Tapi kalau di era SBY itu di atas 5%. Kenapa? Berarti di era SBY, velocity of money, kecepatan pergerakan uang itu lebih cepat dan suplainya juga jadi lebih banyak di era SBY dibandingkan eranya Jokowi. Eh, moga-moga dibahas nih nanti sama dia nih. Next. Tahun 1997 9897 kita melakukan kesalahan yang fatal. Pada waktu itu BI menaikkan bunga sampai 60% lebih karena untuk menjaga rupiah. Semua berpikir kita melakukan kebijakan uang ketat ya kan. Wah, bunga tinggi. Bunga tinggi perasaan mana ada yang pinjam. Tapi kalau kita lihat di belakangnya apa yang terjadi? Kita mencetak uang base itu tumbuhnya 100%. Jadi kebijakannya kacau balau. Mau apa? Mau ketat apa mau longgar? Kalau kita melayikan kebijakan kacau, yang keluar adalah setan-setannya dari kebijakan itu. Bunga yang tinggi menghancurkan ee real sektor, uang yang banyak dipakai untuk menyerang nilai tukar rupiah kita. Jadi, kita membiayai kehancuran ekonomi kita pada waktu itu tanpa sadar. Ini bukan karena yang ekonom-ekonom yang dulu bodoh atau gimana, tapi emang kita belum pernah mengalami keadaan seperti itu. Jadi kita belum tahu nyata seperti apa. Jadi menurut gua itu hal yang sangat realistis dan memang bodoh kalau Purbaya bilang tidak bodoh. Kalau menurut gua bodoh ya bodohlah lu naikin suku bunga misalkan di Bank Indonesia kalau lu nabung berapa tuh perbankan kata dia 60%. Faktanya gua mangelihat ada yang beberapa bahkan sampai di atas 100%. Kok katanya negara mau menahan inflasi naikin suku bunga dong. Iya dong biar duit itu enggak beredar di masyarakat masuk ke bank. So, suku bunga dinaikin jadi 60%. Cuman kebalikannya juga terjadi. Apa harusnya kan inflasi berkurang dong. Tapi teman-teman kalau di 98 kan merasa harga barang-barang naik tinggi. Padahal bunga deposito tinggi banget. Terus duit masuk ke perbankan enggak? Iya. Orang banyak nabung di bank tapi kenapa tetap inflasi? Ternyata di belakang layar negara cetak duit. Cetak duitnya itu di atas 100% kata dia. Jadi suplai duit bertaburan akibatnya apa? Kalah. Bank Indonesia mau bikin 60% pun atau 2000% enggak ada gunanya kalau seandainya cetak duitnya bisa sampai R1 juta%. Logis enggak maksud lu? Jadi lu harusnya paham ya ini Bank Indonesia aja bisa melakukan hal yang tolol loh. Kok bisa-bisanya ya suku bunga lu naikin buat menahan laju inflasi. Iya betul pintar. Tapi di belakang air lu malah cetak duit gila-gilaan. Mungkin buat membiayai korupsi. So teman-teman di sini gua mau bilang harus betul-betul kayak negara kita ya. Misalkan mau hemat anggaran, hemat anggaran. Oke bagus. Tapi korupsi dibiarkan. Itu pertanyaan. Hemat anggaran. Hemat anggaran. Oke, bagus. Cuman di belakang layar. Cetak duit. Cetak duit. Cetak duit. Cetak duit. Good news, Guys. Kabar spesial buat kalian karena sekolah Sambenix season 8 akan segera dibuka dan temanya luar biasa menarik nih. Khusus buat teman-teman investor pemula di IASG yang bingung cara beli saham, investasi dan bisnis apa yang menarik. Kita akan membahas tentang mineral berharga dengan lebih detail lagi. So, buat kamu yang masih bingung gimana sih cara beli saham di ASG, gimana sih caranya profit di ISG, kamu bisa pakai kalkulator investasi yang ada di www.skolas. skolasahambeni.com. Pakai di situ, tentukan target investasi kamu dan kamu bisa lihat bagaimana caranya kamu bisa mendulang cuan di ISG. So, buat kamu yang belum bergabung di season sebelumnya, ini kesempatan langka buat segala bergabung. Dari yang harganya R jutaan, sekarang tinggal R jutaan saja. Ingat ya, khusus 25 orang pertama yang mendaftar. Segera daftarkan dirimu sekarang juga di www.sskolashambenix.com atau hubungi nomor WhatsApp yang ada di bawah ini. Katanya kita deflasi. Kalau deflasi tapi cetak duit, cetak duit terus. Gimana tuh? itu juga harus hati-hati karena kalau enggak bisa-bisa jadi ya hyper inflation. Jadi ini pun bisa masuk ke dalam jebakan itu. Kenapa? Karena sekarang suku bunga gua yakin di Indonesia bakal makin kecil, makin kecil dan akan makin kecil. terus ngikutin di Amerika bentar lagi gua yakin red card itu di fed pasti dikurangin lagi. Pada saat yang sama suku bunga di Indonesia dikurangin dan sistem keuangannya diinjek nih sama menteri keuangan R triliun plus masuk lagi government spending bakal dibuang lagi. Dan ternyata kalau seandainya kita masih cetak duit lagi wah gua yakin ekonomi bakal tumbuh tinggi. Tapi pada set yang sama karena suplly duit beredar gua yakin inflasi juga pasti ikut naik kalau tidak dikontrol dengan benar. Dan ini yang dibilang sama si Purbaya, jangan-jangan nanti bisa membiayai kehancuran ekonomi kita sendiri gara-gara ulah kita sendiri. Nah, kalau di contoh 98 kan dia bilang suku bunga dinaikin tinggi jadi 60% orang berbondong-bondong naruh duit di bank. Cuman kerugiannya apa? Sektor ril, pelaku usaha UMKM. Kalau mau kredit ke bank, bunganya juga jadi tinggi. Siapa yang mau? Kalau gitu ngapain gua buka usaha? Mendingan gua tabungin aja duitnya. Akibatnya hancur dunia bisnis di tahun '98 itu. Makanya ekonomi rusak karena ulah kita sendiri. Ya memang konyol ya. Ya, tapi sekarang jadi terbuka kan pikiran kita. Kenapa seandainya oh negara cetak duit itu bisa menghancurkan dirinya sendiri loh. Oh ternyata suku bunga tinggi bukan artinya sedang pengetatan nih. Ternyata di belakang layar cetak duit sama aja. Ini namanya pelonggaran walaupun suku bunga tinggi. Uh menarik nih Purbaya. Kalau itu yang dimanfaatkan adalah real sektor. Saya ingin tunjukkan lagi ya. Kenapa zaman tadi sudah cerita belum ya? Zaman Pak SBY tumbuh 6%. zaman Jokowi rata-rata 5% apa di bawah Pak SB Pak Jokowi ya. Kalau Anda lihat di pertumbuhan uang Mnya base money teori dasar moneter itu di zaman Pak SBY rata-rata tumbuh 17% lebih. Akibatnya uang di sistem cukup, kredit tumbuh berapa? 22%. Jadi pada waktu zaman Pak PSB walaupun dia enggak bangun infrastruktur habis-habisan, private sektor yang hidup yang menjalankan ekonomi itu berhubungan juga dengan rasio tax. Ketika tax eh private sektor yang jalan, dia akan lebih banyak bayar pajak dibanding pemerintah. T rasio kita tinggal tumbuh 0,5% lebih tinggi dibanding ketika zaman Pak Jokowi. Pada pada zaman Pak Jokowi uang tumbuh hanya sekitar 7% M0-nya. Bahkan di titik-titikit itu sepanjang tahun, 2 tahun terakhir sebelum krisis itu tumbuhnya 0%. Memang ekonomi sedang dicekek cuman saya enggak tahu waktu itu karena saya di maritim. J begitu 2020 saya diminta bantu, saya kaget, "Pak, kenapa begini Pak? Bapak bangun apa-apa, mati-mati pun enggak bisa. Karena mesin ekonomi kita pincang, hanya pemerintah yang jalan. Sedangkan yang tadi 90% berhenti atau diperlambat. Zaman Pak Prabowo juga bisa sama. ini sekarang masih baru. Kalau pemerintahnya masih lambat belanjanya dan mencekek perekonomian juga dari sisi lain dan ee moneternya juga sama, maka akan lebih buruk dibanding yang 2 zaman sebelumnya. Dua dua mesin mati. Jadi tugas saya di sini adalah menghidupkan kedua mesin tadi, mesin moneter dan mesin fiskal. Nanti saya mohon restu dari parlemen untuk saya menjalankan tugas itu. So, Teman-teman ini menarik nih. N lu bisa lihat ya. Tangan kanan gua SBY, tahan kiri gua Jokowi. Di SBY itu pertumbuhan ekonomi 6% lebih tinggi. Jokowi itu di bawah 5% kepeminan Jokowi. Kenapa yang ISB bisa tinggi? Ternyata berlaku nih suplly duit ya base money itu lebih tinggi di eranya SBY itu 17% base money-nya. Akibatnya apa? pertumbuhan kredit rata-rata di 22%. Nah, Jokowi itu lebih rendah pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi di era Jokowi itu ya di bawah 5% artinya base money-nya juga lebih kecil dong. Benar. Base money-nya cuman 7%. Akibatnya apa? Pertumbuhan kredit rata-rata cuma 5%. Jadi, lu bisa bayangin ya betapa pentingnya ya ee arus duit, betapa pentingnya ya pemahaman terhadap base money ini terhadap pertumbuhan ekonomi kita. Ya wajar aja si Jokowi pertumbuhanin kreditnya kecil. Banyak swasta yang mati. Gua yakin teman-teman yang orang swasta juga ngerasa yang di eranya Jokowi itu pertumbuhan ekonomi usaha lu pasti berasa lebih menderita lah dibanding eranya Jokowi ya. Tadi kenapa? Karena duit lebih kering, pertumbuhan kredit juga lebih sedikit, base money juga lebih sedikit. Di aranya SBY base money lebih tinggi 17%. Akibatnya pertumbuhan kredit rata-rata 22%. Wih, hebat loh. 22% berarti bisa tiga kali lipat rata-ratanya Jokowi ya. Jokowi bahkan katanya tadi di beberapa titik tertentu pertumbuhan kredit itu cuma 0%. Berarti ada level di mana rakyat itu ketakutan buat berbisnis di eranya Jokowi. Ini fakta nih. Bahkan ada di titik tertentu ya, rata-rata pertumbuhannya base money ini cuma 0%. Artinya ya duit itu enggak beredar ya, Teman-teman. Tahulah ke mana larinya duit itu. Rata-rata ke projject-projek infrastruktur yang ngerjain BUMN lagi, BUMN lagi. Swasta enggak kebagian kue, pasti lu merasakan dampaknya juga. Nah, di eranya SBY ternyata dia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi tanpa perlu mengandalkan pembangunan infrastruktur segala besar seperti pembangunan ipukuu kota di planet Neptunus IKN, pembangunan bandara-bandara di planet Jupiter gitu kan. Jadi tanpa perlu dilakukan itu ternyata pertumbuhan ekonomi kita bisa cepat tumbuh tinggi dan jauh lebih tinggi dibandingkan eranya Jokowi. Menarik nih. Nah, dia juga bilang sih wanti-wanti buat untuk si Prabowo bahwa Prabowo bisa juga masuk ke jebakan yang sama kalau seandainya dia tidak melakukan perubahan terhadap basem money itu sendiri. Bahkan ya di era Prabowo bisa jadi lebih buruk dibandingkan 2 zaman sebelumnya. Wah, kenapa nih? Coba kita lihat selanjutnya. Langkah pertama sudah kami jalankan. Saya sudah lapor ke Presiden, Pak. Saya akan taruh uang ke sistem perekonomian berapa? Saya sekarang punya 425 triliun di BI Cash. Besok saya taruh R triliun. Sudah jalan belum? Sudah jalan belum? Sudah jalan lagi dijalankan. Kalau itu masuk ke sistem dan saya nanti sudah minta ke bank sentral jangan diserap uangnya. Biar aja kalau Anda ngejalankan kebijakan moneter. Kami dari sisi fiskal yangjalankan sedikit. Tapi nanti mereka juga mendukung. Artinya ekonomi akan bisa hidup lagi nanti. Itu sisi private side dari kebijakan moneter, dari kebijakan fiskal. Di government side-nya sendiri saya akan pastikan lagi tadi belanja-belanja yang ee lambat berjalan dengan lebih baik lagi. Nah, jadi di sini dibilang ya kalau menurut strategisasi Purbaya sih salah satu alasan ya kenapa dia perlu untuk menghidupkan engine engine itu ada dua sih. Yang pertama ini dari aspek ya pemerintah ya. dia mau meningkatin likuiditas. Sebetulnya masih ada dua nih, sisa anggaran itu yang kita enggak pernah pakai itu kan balik lagi. Nah, sisa anggaran itu ternyata ngendap di Bank Indonesia. APBN kita kan selama ini enggak pernah efisien. So, sisa-sisa anggarannya itu ngendap di Bank Indonesia ditaruh di tabung di sana 425 triliun. Dia udah dapat izin buat tarik 200 triliun taruh ke Himbara. Ya harapannya Himbara itu bisa kucurin tuh ke masyarakat. Jangan sampai sih. Dan untungnya udah dilarang nih Himbara buat pakai duitnya buat nabung lagi di Bank Indonesia buat dapat bunga. Enggak boleh. Nah, ini good news nih. Jadi biar kerja dikitlah, pakai otak dikit lah. Direktur bank BUMN itu jangan mauongkang-ongkang kaki hidup santai main golf terus cuman makan duit BI doang bunganya doang udah untung. Jadi gua senang nih dia udah turunin R triliun dan dilarang dipakai duitnya buat nabung di Bank Indonesia. Bagus nih. Nah, harapannya dia bisa nih duit ini buat mendorong pertumbuhan ekonomi kita lewat kredit. Ingat ya, lewat perbankan di sini maksudnya. Jadi, lu jangan berharap 200 triliun itu turun dari langit kayak hujan duit. Enggak. Enggak begitu konsepnya, Guys. Entar lu pakai lagi buat judul yang bener aja lu. Atau beli rokok. Enggak, enggak, enggak, enggak ada. Lu harus gunakan itu buat hal yang produktif. Nah, si Purbaya itu yakin sih ekonomi kita bisa lebih hidup lagi. Nah, ini penjelasan nih, Guys. Salah satu engine ekonomi yang bisa dipakai buat bikin GDP kita tumbuh besar, yaitu apa? Suntik money supply, velocity of money itu biar kencang mesin ini jalan nih. Nah, satu lagi tadi ya tadi government spending. Nah, kita lihat aja ya. ini bakal jadi perjalanan yang bagus atau tidak nih? Pesawat berangkat take off, pertumbuhan ekonomi di atas 6% atau tidak? Gua sih by the way ya, gua sangat confident sih ekonomi kita bisa tumbuh di atas 6%. Mungkin tidak tahun ini karena gua yakin velocity of money ini penyalurannya tidak akan secepat itu gulungannya. Ingat ya, R triliun menurut Benix minimal bisa jadi 11.133 triliun. Tapi gua yakin itu tidak akan terjadi di semester kedua tahun ini. Kita akan butuh waktu untuk merubah R triliun menjadi 11.133 133 triliun menurut gua dalam jangka waktu 2 tahun itu akan terjadi. So anyway guys, di sini lu mungkin makin jelas ya harapannya sekarang jadi jelas. Gua sih happy juga Purbaya buka-bukaan alasan kenapa kalau di eranya Jokowi itu berasa duit kering banget tapi kalau di eranya SBY duit itu gampang banget. Nyari duit itu jauh lebih gampang. Lu merasakan yang sama enggak sih? Guys tolong dong share ya pandangan kalian sebagai pelaku usaha, pengusaha UMKM, followernya Benix. apapun yang lu lakukan dalam 20 tahun ke belakang, lu rasakan enggak sih menurut lu lebih gampang cari duit ya di era SB atau di era Jokowi? Tulis dong perjalanan bisnis kalian di bawah ini seperti apa dan semoga terjawab ya kenapa era SBY pertumbuhan ekonomi jauh lebih bagus. By the way, kalau lu bandingkan dengan ISG, pertumbuhan IASG di era SBY dengan era Jokowi, lu tahu enggak lebih tinggi yang mana? Tentu sekarang lu sudah tahu dong jawabannya. Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Ditunggu komentar kalian seperti apa. Jangan lupa segera subscribe channel Benix dan share video ini ke teman-teman terdekat kamu. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]