Transcript
I4Vw3y7MdsM • TERLALU BERANI!! Purbaya Bongkar Ekonomi Jokowi Mentok 5%, Era SBY Tembus 6%??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0440_I4Vw3y7MdsM.txt
Kind: captions
Language: id
Guys, kita dapat kiriman video menarik
banget tentang meeting pertamanya
Purbaya ya, Menteri Keuangan kita yang
baru sama DPR. Ini meetingnya seru
banget karena di pertemuan ini akhirnya
terjawab pertanyaan kalian semua para
pelaku usaha di Indonesia. Kenapa ya di
zaman SBY gampang banget cari duit, tapi
kok di zaman Jokowi rasanya kering
banget, sulit banget cari duit? Bener
enggak lu rasakan itu? Jujur deh,
teman-teman pelaku usaha, teman-teman
UMKM, lu berasa enggak sih kalau waktu
di eranya SBY itu gampang banget cari
duit sebagai pedagang kita ya, sebagai
pengusaha itu gampang banget. Tapi kalau
di eranya Presiden Jokowi, lu merasa
enggak lebih susah lu cari duit, lebih
kering duit itu? Benar enggak? Kalau lu
merasakan hal yang sama dan lu penasaran
jawabannya apa, lu jangan skip video
ini. Let's check this.
Jadi saya berangkat belajar sebelum
krisis 95. Tujuannya saya pikir oke
mungkin saya bisa membangun membantu
ekonomi. Tapi sebelum sekolah selesai
1998, krisis pulang negara sudah
berantakan pada waktu itu ya. 2000
pertumbuhan mendekati 0 2001 rendah kan.
Habis itu kita bantu ke sana ee dan
waktu itu Pak SBY bisa meningkatkan
pertumbuhan sampai mendekati 6%. Terus
diganti Pak Jokowi. Pak Jokowi
pertumbuhannya sedikit di bawah 5% on
average. Jadi saya pelajarin dari krisis
salah kita di mana? Kenapa ketika 9798
negara yang mulai diserang adalah
Thailand dan Korea dan lain-lain. Kenapa
yang paling terpuruk kita? J saya
pelajari betul apa yang ee terjadi waktu
itu dan bagaimana cara mengatasi krisis
kalau terjadi lagi. Jadi ee ini boleh
teori sedikit yang saya izin.
Silakan Pak. Bapak mau ngomong apa saya
kasih kebebasan, Pak. Oke, di buku
moneter itu ada pemenang-pemenang Nobel
yang bilang bahwa dia mempelajari krisis
eh tahun 1930 di Amerika. Dia bilang
waktu itu krisis mereka debat bunga
dinolin kok masih krisis. Rupanya pada
waktu itu walaupun suku bunga rendah nol
tapi uang vitamin yang di sistem
perekonomian itu negatif. Jadi
ekonominya dicekek. itu sebetulti yang
melandasi eh teori utama kebijakan
moneter. Jadi kalau Anda mau lihat
kebijakan moneter ketat apa longgar
jangan hanya dilihat dari suku bunga.
Dia bilang begitu, lihat laju
pertumbuhan uang primer base money. Jadi
dampak kebijakan monet amat signifikan
di perekonomian.
Jadi teman-teman di sini yang dimaksud
Purbaya ya dia ng-mention banyak hal
sih. Intinya apa ya? Dia mau bilang soal
ketika lu bikin kebijakan publik nih,
krisis Tomyamkung misalnya dia mention
soal Thailand, Korea, mereka juga
diserang tuh. Tapi kenapa Indonesia
paling terpuruk? Ternyata memang ada
berbagai kebijakan ekonomi yang kita
ambil itu salah, Guys. Waktu itu lu
mungkin ingat ya, suku bunga kita itu
sempat tinggi banget loh. Anyway, dia
mau ngasih contoh di sini bahwa enggak
selalu hubungan suku bunga dengan
perekonomian itu bisa directly related.
Bahwa ketika orang bilang, "Eh,
kebijakan moneter kita lagi longgar
nih." Kenapa? Karena suku bunganya lagi
0% kecil, artinya kebijakan monitor kita
longgar. Maksudnya longgar apa? Orang
jadi mudah kredit perbankan karena bunga
0% atau rendah. Harusnya kan orang jadi
semangat ambil kredit rumah, kredit
mobil, kredit buat beli mesin baru, buka
cabang, buka tanah, buka ruko baru,
ekspansi bisnis besar-besaran, hire
lapangan kerja lebih banyak lagi.
Harusnya ekonomi tumbuh. Faktanya
enggak. Itu kejadian di Amerika tahun
1930 menurut si Purbaya. Gua ada contoh
lain yang mirip-mirip kurang lebih kayak
Jepang juga. Jepang itu lu bayangin suku
bunganya juga rendah 0%. Ekonominya
apakah tumbuh? Tidak. Stock nonstak
flasi bahkan. Kenapa bisa begitu?
Ternyata memang ada ilmu baru. Menurut
gua sih ini sih sangat bodoh kalau
enggak paham juga sih. Bahwa lu memang
enggak bisa lagi cuman bilang kalau suku
bunga 0% ekonomi pasti tumbuh. Enggak.
Karenapa? Karena penting juga buat
ngecek money supply. Suplly uangnya itu
seperti apa. Ini yang namanya base money
itu percuma seandainya suku bunganya 1%
kek atau 2% kek, tapi money suplly yang
beredar di masyarakat itu enggak banyak.
Ini yang mau dibilang sama si Purbaya.
So, kita enggak bisa lagi bilang bahwa
tingkat indikator suku bunga itu 0% atau
di atas 10% itu adalah bukti bahwa
kebijakan moneter ketat atau longgar.
Tapi penting banget juga memperhatikan
pertumbuhan uang primer, Guys. Nah, uang
primer ini apa? Uang primer ini uang
kartal yang beredar di masyarakat. Kalau
lu transaksi beli somai, beli mewetiau,
di pasar, di jalan, bayar tiket bis
segala macam, itu uang primer tuh, uang
kartal yang beredar. Tambah cadangan
yang ada di bank sentral. Nah, itu harus
ada. Kalau enggak percuma duit itu
enggak berputar di bawah. Jadi, yang gua
mau bilang apa? Ketika suku bunga
rendah, bukan artinya lu bisa bilang
kebijakan ekonomi moneter kita itu lagi
longgar. Enggak. Ada kondisi di mana
ketika peredaran duit ya ee primer itu
masih rendah, maka kita bisa bilang
kebijakan ekonomi itu masih ketat,
bukannya longgar meskipun suku bunganya
itu rendah. Semoga lu nyambung yang gua
bilang ini. Dan ini jadi penjelasan nih
kenapa masuk akal buat si Purbaya itu
bagi-bagi duit ya maksud gua narik duit
dari bank sentral ditaruh ke bank-bank
Himbara 200 triliun itu. Nah, ini
penting buat kita pahami karena kondisi
sebaliknya juga bisa berlaku, Guys.
Kalau supply duit ya base money-nya itu
meningkat tajam tapi ekonominya tetap
staknan. Bisa juga loh suplly duitnya
banyak tapi ekonominya tetap stagnan.
Artinya permasalahannya itu ada pada
transmisi kebijakan moneternya. Jadi
uang itu memang tersedia, Guys. Uang itu
tersedia, tetapi dia tidak berputar
dalam perekonomian. Kenapa? Karena tidak
ada kepercayaan. Masyarakat takut buat
konsumsi, masyarakat takut buat
investasi. Tingkat kepercayaan
masyarakat itu begitu rendah untuk
melakukan aktivitas ekonomi. Jadi, ada
juga kerugiannya. Bahkan ketika suplly
duit itu tinggi, ada kemungkinan juga
loh ekonominya bisa tetap stagnan. Nah,
inilah yang memang terjadi di Jepang ya
selama theos decade itu. Di Jepang suku
bunga itu mendekati nol dan base
money-nya naik pesat melalui quantitatif
easing. Tetapi pertumbuhan ekonomi tetap
lemah akibat deflasi, rendahnya
permintaan terhadap barang dan jasa,
serta kecepatan perputaran uang alias
velocity of money di Jepang itu sangat
rendah. Nah, fenomena inilah yang
disebut sebagai liquidity trap di mana
kebijakan moneter konvensional
kehilangan daya dorong terhadap
pertumbuhan ekonomi. Jadi, inilah, Guys,
namanya teorinya Krukman ya. Bahwa
enggak selalu ketika suku bunga lu
kecilin, orang otomatis belanja, orang
otomatis transaksi, investasi, enggak
selalu. Bahkan ketika sudah diinject
juga nih pakai teorinya Purbaya kan,
suku bunga dikecilin terus diinjek lagi
duit ke perekonomian. Ee faktanya juga
enggak gerak juga karena apa tadi ya?
kepercayaan masyarakat itu sangat
rendah. Masyarakat itu pesimis, velocity
of money jadi pelan. Dan akibatnya apa?
Konsumsi berkurang, permintaan
berkurang. Nah, ini jebakan yang menurut
gua ee enggak bakal kejadian sih di
Indonesia karena rakyat Indonesia itu
sangat-sangat royal. Jadi kalau ada duit
di depannya langsung habis. Kalau bisa
habis detik ini ngapain habisnya besok
kan gitu ya. Jadi permasalahan di Jepang
itu enggak bakal terjadi di Indonesia.
Kalau di Jepang itu kemungkinan terjadi
karena biaya hidup tinggi. Orang takut
punya anak. Di Indonesia orang enggak
punya kerjaan aja punya anak gitu loh.
Di sana enggak. Kalau orang sudah punya
anak udah pasti konsumsi ya harus naik
beli susu, beli diapers, beli baju
anaknya, beli makanan bayi dan lain
sebagainya. Jadi teorinya si Krukman ini
enggak bakal berlaku di Indonesia. Tapi
teorinya si Purbaya gua yakin berlaku di
Indonesia. Bahwa memang sekarang kita
butuh velocity of money, kita butuh
supply money yang ditingkatkan di
perekonomian kita. Jadi make sense kalau
buat teman-teman lihat pertumbuhan
ekonomi di era Jokowi itu di bawah 5%.
Tapi kalau di era SBY itu di atas 5%.
Kenapa? Berarti di era SBY, velocity of
money, kecepatan pergerakan uang itu
lebih cepat dan suplainya juga jadi
lebih banyak di era SBY dibandingkan
eranya Jokowi. Eh, moga-moga dibahas nih
nanti sama dia nih. Next.
Tahun 1997 9897
kita melakukan kesalahan yang fatal.
Pada waktu itu BI menaikkan bunga sampai
60% lebih karena untuk menjaga rupiah.
Semua berpikir kita melakukan kebijakan
uang ketat ya kan. Wah, bunga tinggi.
Bunga tinggi perasaan mana ada yang
pinjam. Tapi kalau kita lihat di
belakangnya apa yang terjadi? Kita
mencetak uang base itu tumbuhnya 100%.
Jadi kebijakannya kacau balau. Mau apa?
Mau ketat apa mau longgar? Kalau kita
melayikan kebijakan kacau, yang keluar
adalah setan-setannya dari kebijakan
itu. Bunga yang tinggi menghancurkan ee
real sektor, uang yang banyak dipakai
untuk menyerang nilai tukar rupiah kita.
Jadi, kita membiayai kehancuran ekonomi
kita pada waktu itu tanpa sadar. Ini
bukan karena yang ekonom-ekonom yang
dulu bodoh atau gimana, tapi emang kita
belum pernah mengalami keadaan seperti
itu. Jadi kita belum tahu nyata seperti
apa.
Jadi menurut gua itu hal yang sangat
realistis dan memang bodoh kalau Purbaya
bilang tidak bodoh. Kalau menurut gua
bodoh ya bodohlah lu naikin suku bunga
misalkan di Bank Indonesia kalau lu
nabung berapa tuh perbankan kata dia
60%. Faktanya gua mangelihat ada yang
beberapa bahkan sampai di atas 100%. Kok
katanya negara mau menahan inflasi
naikin suku bunga dong. Iya dong biar
duit itu enggak beredar di masyarakat
masuk ke bank. So, suku bunga dinaikin
jadi 60%. Cuman kebalikannya juga
terjadi. Apa harusnya kan inflasi
berkurang dong. Tapi teman-teman kalau
di 98 kan merasa harga barang-barang
naik tinggi. Padahal bunga deposito
tinggi banget. Terus duit masuk ke
perbankan enggak? Iya. Orang banyak
nabung di bank tapi kenapa tetap
inflasi? Ternyata di belakang layar
negara cetak duit. Cetak duitnya itu di
atas 100% kata dia. Jadi suplai duit
bertaburan akibatnya apa? Kalah. Bank
Indonesia mau bikin 60% pun atau 2000%
enggak ada gunanya kalau seandainya
cetak duitnya bisa sampai R1 juta%.
Logis enggak maksud lu? Jadi lu harusnya
paham ya ini Bank Indonesia aja bisa
melakukan hal yang tolol loh. Kok
bisa-bisanya ya suku bunga lu naikin
buat menahan laju inflasi. Iya betul
pintar. Tapi di belakang air lu malah
cetak duit gila-gilaan. Mungkin buat
membiayai korupsi. So teman-teman di
sini gua mau bilang harus betul-betul
kayak negara kita ya. Misalkan mau hemat
anggaran, hemat anggaran. Oke bagus.
Tapi korupsi dibiarkan. Itu pertanyaan.
Hemat anggaran. Hemat anggaran. Oke,
bagus. Cuman di belakang layar. Cetak
duit. Cetak duit. Cetak duit. Cetak
duit. Good news, Guys. Kabar spesial
buat kalian karena sekolah Sambenix
season 8 akan segera dibuka dan temanya
luar biasa menarik nih. Khusus buat
teman-teman investor pemula di IASG yang
bingung cara beli saham, investasi dan
bisnis apa yang menarik. Kita akan
membahas tentang mineral berharga dengan
lebih detail lagi. So, buat kamu yang
masih bingung gimana sih cara beli saham
di ASG, gimana sih caranya profit di
ISG, kamu bisa pakai kalkulator
investasi yang ada di www.skolas.
skolasahambeni.com. Pakai di situ,
tentukan target investasi kamu dan kamu
bisa lihat bagaimana caranya kamu bisa
mendulang cuan di ISG. So, buat kamu
yang belum bergabung di season
sebelumnya, ini kesempatan langka buat
segala bergabung. Dari yang harganya R
jutaan, sekarang tinggal R jutaan saja.
Ingat ya, khusus 25 orang pertama yang
mendaftar. Segera daftarkan dirimu
sekarang juga di www.sskolashambenix.com
atau hubungi nomor WhatsApp yang ada di
bawah ini.
Katanya kita deflasi. Kalau deflasi tapi
cetak duit, cetak duit terus. Gimana
tuh? itu juga harus hati-hati karena
kalau enggak bisa-bisa jadi ya hyper
inflation. Jadi ini pun bisa masuk ke
dalam jebakan itu. Kenapa? Karena
sekarang suku bunga gua yakin di
Indonesia bakal makin kecil, makin kecil
dan akan makin kecil. terus ngikutin di
Amerika bentar lagi gua yakin red card
itu di fed pasti dikurangin lagi. Pada
saat yang sama suku bunga di Indonesia
dikurangin dan sistem keuangannya
diinjek nih sama menteri keuangan R
triliun plus masuk lagi government
spending bakal dibuang lagi. Dan
ternyata kalau seandainya kita masih
cetak duit lagi wah gua yakin ekonomi
bakal tumbuh tinggi. Tapi pada set yang
sama karena suplly duit beredar gua
yakin inflasi juga pasti ikut naik kalau
tidak dikontrol dengan benar. Dan ini
yang dibilang sama si Purbaya,
jangan-jangan nanti bisa membiayai
kehancuran ekonomi kita sendiri
gara-gara ulah kita sendiri. Nah, kalau
di contoh 98 kan dia bilang suku bunga
dinaikin tinggi jadi 60% orang
berbondong-bondong naruh duit di bank.
Cuman kerugiannya apa? Sektor ril,
pelaku usaha UMKM. Kalau mau kredit ke
bank, bunganya juga jadi tinggi. Siapa
yang mau? Kalau gitu ngapain gua buka
usaha? Mendingan gua tabungin aja
duitnya. Akibatnya hancur dunia bisnis
di tahun '98 itu. Makanya ekonomi rusak
karena ulah kita sendiri. Ya memang
konyol ya. Ya, tapi sekarang jadi
terbuka kan pikiran kita. Kenapa
seandainya oh negara cetak duit itu bisa
menghancurkan dirinya sendiri loh. Oh
ternyata suku bunga tinggi bukan artinya
sedang pengetatan nih. Ternyata di
belakang layar cetak duit sama aja. Ini
namanya pelonggaran walaupun suku bunga
tinggi. Uh menarik nih Purbaya.
Kalau itu yang dimanfaatkan adalah real
sektor. Saya ingin tunjukkan lagi ya.
Kenapa zaman tadi sudah cerita belum ya?
Zaman Pak SBY tumbuh 6%. zaman Jokowi
rata-rata 5% apa di bawah Pak SB Pak
Jokowi ya. Kalau Anda lihat di
pertumbuhan uang Mnya base money teori
dasar moneter itu di zaman Pak SBY
rata-rata tumbuh 17% lebih. Akibatnya
uang di sistem cukup, kredit tumbuh
berapa? 22%. Jadi pada waktu zaman Pak
PSB walaupun dia enggak bangun
infrastruktur habis-habisan, private
sektor yang hidup yang menjalankan
ekonomi itu berhubungan juga dengan
rasio tax. Ketika tax eh private sektor
yang jalan, dia akan lebih banyak bayar
pajak dibanding pemerintah. T rasio kita
tinggal tumbuh 0,5% lebih tinggi
dibanding ketika zaman Pak Jokowi. Pada
pada zaman Pak Jokowi uang tumbuh hanya
sekitar 7% M0-nya. Bahkan di
titik-titikit itu sepanjang tahun, 2
tahun terakhir sebelum krisis itu
tumbuhnya 0%. Memang ekonomi sedang
dicekek cuman saya enggak tahu waktu itu
karena saya di maritim. J begitu 2020
saya diminta bantu, saya kaget, "Pak,
kenapa begini Pak? Bapak bangun apa-apa,
mati-mati pun enggak bisa. Karena mesin
ekonomi kita pincang, hanya pemerintah
yang jalan. Sedangkan yang tadi 90%
berhenti atau diperlambat. Zaman Pak
Prabowo juga bisa sama. ini sekarang
masih baru. Kalau pemerintahnya masih
lambat belanjanya dan mencekek
perekonomian juga dari sisi lain dan ee
moneternya juga sama, maka akan lebih
buruk dibanding yang 2 zaman sebelumnya.
Dua dua mesin mati. Jadi tugas saya di
sini adalah menghidupkan kedua mesin
tadi, mesin moneter dan mesin fiskal.
Nanti saya mohon restu dari parlemen
untuk saya menjalankan tugas itu.
So, Teman-teman ini menarik nih. N lu
bisa lihat ya. Tangan kanan gua SBY,
tahan kiri gua Jokowi. Di SBY itu
pertumbuhan ekonomi 6% lebih tinggi.
Jokowi itu di bawah 5% kepeminan Jokowi.
Kenapa yang ISB bisa tinggi? Ternyata
berlaku nih suplly duit ya base money
itu lebih tinggi di eranya SBY itu 17%
base money-nya. Akibatnya apa?
pertumbuhan kredit rata-rata di 22%.
Nah, Jokowi itu lebih rendah pertumbuhan
ekonominya. Pertumbuhan ekonomi di era
Jokowi itu ya di bawah 5% artinya base
money-nya juga lebih kecil dong. Benar.
Base money-nya cuman 7%. Akibatnya apa?
Pertumbuhan kredit rata-rata cuma 5%.
Jadi, lu bisa bayangin ya betapa
pentingnya ya ee arus duit, betapa
pentingnya ya pemahaman terhadap base
money ini terhadap pertumbuhan ekonomi
kita. Ya wajar aja si Jokowi
pertumbuhanin kreditnya kecil. Banyak
swasta yang mati. Gua yakin teman-teman
yang orang swasta juga ngerasa yang di
eranya Jokowi itu pertumbuhan ekonomi
usaha lu pasti berasa lebih menderita
lah dibanding eranya Jokowi ya. Tadi
kenapa? Karena duit lebih kering,
pertumbuhan kredit juga lebih sedikit,
base money juga lebih sedikit. Di aranya
SBY base money lebih tinggi 17%.
Akibatnya pertumbuhan kredit rata-rata
22%. Wih, hebat loh. 22% berarti bisa
tiga kali lipat rata-ratanya Jokowi ya.
Jokowi bahkan katanya tadi di beberapa
titik tertentu pertumbuhan kredit itu
cuma 0%. Berarti ada level di mana
rakyat itu ketakutan buat berbisnis di
eranya Jokowi. Ini fakta nih. Bahkan ada
di titik tertentu ya, rata-rata
pertumbuhannya base money ini cuma 0%.
Artinya ya duit itu enggak beredar ya,
Teman-teman. Tahulah ke mana larinya
duit itu. Rata-rata ke projject-projek
infrastruktur yang ngerjain BUMN lagi,
BUMN lagi. Swasta enggak kebagian kue,
pasti lu merasakan dampaknya juga. Nah,
di eranya SBY ternyata dia bisa mencapai
pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi
tanpa perlu mengandalkan pembangunan
infrastruktur segala besar seperti
pembangunan ipukuu kota di planet
Neptunus IKN, pembangunan
bandara-bandara di planet Jupiter gitu
kan. Jadi tanpa perlu dilakukan itu
ternyata pertumbuhan ekonomi kita bisa
cepat tumbuh tinggi dan jauh lebih
tinggi dibandingkan eranya Jokowi.
Menarik nih. Nah, dia juga bilang sih
wanti-wanti buat untuk si Prabowo bahwa
Prabowo bisa juga masuk ke jebakan yang
sama kalau seandainya dia tidak
melakukan perubahan terhadap basem money
itu sendiri. Bahkan ya di era Prabowo
bisa jadi lebih buruk dibandingkan 2
zaman sebelumnya. Wah, kenapa nih? Coba
kita lihat selanjutnya.
Langkah pertama sudah kami jalankan.
Saya sudah lapor ke Presiden, Pak. Saya
akan taruh uang ke sistem perekonomian
berapa? Saya sekarang punya 425 triliun
di BI Cash. Besok saya taruh R triliun.
Sudah jalan belum? Sudah jalan belum?
Sudah jalan lagi dijalankan. Kalau itu
masuk ke sistem dan saya nanti sudah
minta ke bank sentral jangan diserap
uangnya. Biar aja kalau Anda ngejalankan
kebijakan moneter. Kami dari sisi fiskal
yangjalankan sedikit. Tapi nanti mereka
juga mendukung. Artinya ekonomi akan
bisa hidup lagi nanti. Itu sisi private
side dari kebijakan moneter, dari
kebijakan fiskal. Di government side-nya
sendiri saya akan pastikan lagi tadi
belanja-belanja yang ee lambat berjalan
dengan lebih baik lagi.
Nah, jadi di sini dibilang ya kalau
menurut strategisasi Purbaya sih salah
satu alasan ya kenapa dia perlu untuk
menghidupkan engine engine itu ada dua
sih. Yang pertama ini dari aspek ya
pemerintah ya. dia mau meningkatin
likuiditas. Sebetulnya masih ada dua
nih, sisa anggaran itu yang kita enggak
pernah pakai itu kan balik lagi. Nah,
sisa anggaran itu ternyata ngendap di
Bank Indonesia. APBN kita kan selama ini
enggak pernah efisien. So, sisa-sisa
anggarannya itu ngendap di Bank
Indonesia ditaruh di tabung di sana 425
triliun. Dia udah dapat izin buat tarik
200 triliun taruh ke Himbara. Ya
harapannya Himbara itu bisa kucurin tuh
ke masyarakat. Jangan sampai sih. Dan
untungnya udah dilarang nih Himbara buat
pakai duitnya buat nabung lagi di Bank
Indonesia buat dapat bunga. Enggak
boleh. Nah, ini good news nih. Jadi biar
kerja dikitlah, pakai otak dikit lah.
Direktur bank BUMN itu jangan
mauongkang-ongkang kaki hidup santai
main golf terus cuman makan duit BI
doang bunganya doang udah untung. Jadi
gua senang nih dia udah turunin R
triliun dan dilarang dipakai duitnya
buat nabung di Bank Indonesia. Bagus
nih. Nah, harapannya dia bisa nih duit
ini buat mendorong pertumbuhan ekonomi
kita lewat kredit. Ingat ya, lewat
perbankan di sini maksudnya. Jadi, lu
jangan berharap 200 triliun itu turun
dari langit kayak hujan duit. Enggak.
Enggak begitu konsepnya, Guys. Entar lu
pakai lagi buat judul yang bener aja lu.
Atau beli rokok. Enggak, enggak, enggak,
enggak ada. Lu harus gunakan itu buat
hal yang produktif. Nah, si Purbaya itu
yakin sih ekonomi kita bisa lebih hidup
lagi. Nah, ini penjelasan nih, Guys.
Salah satu engine ekonomi yang bisa
dipakai buat bikin GDP kita tumbuh
besar, yaitu apa? Suntik money supply,
velocity of money itu biar kencang mesin
ini jalan nih. Nah, satu lagi tadi ya
tadi government spending. Nah, kita
lihat aja ya. ini bakal jadi perjalanan
yang bagus atau tidak nih? Pesawat
berangkat take off, pertumbuhan ekonomi
di atas 6% atau tidak? Gua sih by the
way ya, gua sangat confident sih ekonomi
kita bisa tumbuh di atas 6%. Mungkin
tidak tahun ini karena gua yakin
velocity of money ini penyalurannya
tidak akan secepat itu gulungannya.
Ingat ya, R triliun menurut Benix
minimal bisa jadi 11.133 triliun. Tapi
gua yakin itu tidak akan terjadi di
semester kedua tahun ini. Kita akan
butuh waktu untuk merubah R triliun
menjadi 11.133 133 triliun menurut gua
dalam jangka waktu 2 tahun itu akan
terjadi. So anyway guys, di sini lu
mungkin makin jelas ya harapannya
sekarang jadi jelas. Gua sih happy juga
Purbaya buka-bukaan alasan kenapa kalau
di eranya Jokowi itu berasa duit kering
banget tapi kalau di eranya SBY duit itu
gampang banget. Nyari duit itu jauh
lebih gampang. Lu merasakan yang sama
enggak sih? Guys tolong dong share ya
pandangan kalian sebagai pelaku usaha,
pengusaha UMKM, followernya Benix.
apapun yang lu lakukan dalam 20 tahun ke
belakang, lu rasakan enggak sih menurut
lu lebih gampang cari duit ya di era SB
atau di era Jokowi? Tulis dong
perjalanan bisnis kalian di bawah ini
seperti apa dan semoga terjawab ya
kenapa era SBY pertumbuhan ekonomi jauh
lebih bagus. By the way, kalau lu
bandingkan dengan ISG, pertumbuhan IASG
di era SBY dengan era Jokowi, lu tahu
enggak lebih tinggi yang mana? Tentu
sekarang lu sudah tahu dong jawabannya.
Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat.
Ditunggu komentar kalian seperti apa.
Jangan lupa segera subscribe channel
Benix dan share video ini ke teman-teman
terdekat kamu. Salam sehat, salam cuan.
Bye bye.
[Musik]