Transcript
SDuez_nHelA • EXPOSE ILLEGAL MONEY FLOWS IN RI OFFICIALS! THE STATE HARMED 18 TRILLION | Prabowo IS ANGRY!!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0418_SDuez_nHelA.txt
Kind: captions
Language: id
Yang gua enggak masuk di akal gua adalah
kok bisa-bisanya ya Menteri BUMN membuat
pernyataan bahwa perusahaan rugi itu
bisa bagi tantim. Kok bisa-bisanya ya
pejabat setingkat menteri ya peraturan
menteri BUMN bikin peraturan perusahaan
itu kalau rugi bisa bagi tantim bagi
bonusan. Apa landasan berpikirnya kalau
menurut lu? Apa guys?
Good news, guys. Jeritan hati suara
rakyat akhirnya didengar oleh Presiden
Prabowo. Ya, setelah video Benix yang
viral kemarin itu ya, tentang bagaimana
gua itu tidak suka melihat banyak
perusahaan-perusahaan kita BUMN yang
masih rugi, nyungsep, belangsak. Tapi
kok bisa-bisanya udah bego kerjanya,
enggak becus kerjanya, tapi pejabatnya,
direksinya, komisarisnya kok
bisa-bisanya dapat bonus, tantim,
whatever lah sampai puluhan miliar. Ini
kan mengerikan banget, Guys. Posisi
tabungan kita udah paling parah.
Tabungan warga terkuras. Kok
bisa-bisanya pejabat-pejabat di
bank-bank milik negara Kazakhstan itu
pesta pora, pesta duit. Logis enggak
ini? Valuasi sebuah perusahaan bisa
sampai 0,36%nya kayak Bang Beni ini.
0,36% dari valuasi perusahaan itu hilang
dibagikan kepada direksi dan komisaris
yang menurut gua performanya biasa
banget. Hei, gimana prestasi lu tahun
ini? ya bisnis gua tumbuh 0,06% sih
profitnya dibanding tahun lalu. Itu kan
menurut lu pikir logis enggak sih untuk
mendapatkan bonusan sebanyak itu? Dan
kita sangat bersyukur karena ya salah
satu penonton setia channel Benix ya
Presiden Prabowo ternyata orangnya
sangat objektif. Ya lu tahulah channel
Benix ini adalah channel investasi
terbesar nomor satu di Indonesia yang
membahas ekonomi dan geopolitik secara
objektif. Maksudnya apa? Ya, kalau salah
kita bilang salah, kalau benar ya kita
bilang benar. Kalau hitam kita bilang
hitam, kalau putih ya bilang putih. masa
yang salah kita benar-benerin atau yang
benar kita salah-salahin? Enggak
mungkin. Dan ternyata video kita ya
direspon langsung oleh Presiden Prabowo
di pidato kenegaraan beliau ini di acara
penting di tanggal 15 Agustus 2025
kemarin. Isinya tentang apa? Di situ
Presiden Prabowo mengatakan ironis nih,
tantim komisaris BUMN kerjanya minim
penghasilan puluhan miliar. Ada lagi nih
dari Kompas. Prabowo hapus Tantim
direksi BUMN yang rugi. Di CNN, Prabowo
tegas, Tantim-akalan.
Wis mantap banget sih, Guys. Jadi, ya
gua sih bersyukur ya follower kita Pak
Probowo memang betul-betul mau
mendengarkan ya jeritan hati rakyat yang
merasa kok enggak adil negara ini. Aneh
kalau ada pejabat enggak bisa kerja,
enggak becus, perusahaan rugi kok aneh
masih dapat duit miliaran rupiah. Oh,
thank you. Loh, udah bertahun-tahun gua
suarakan ini. Akhirnya didengar juga
oleh pejabat tertinggi di negara
Republik Indonesia. Thank you, Pak Bro
and Tim. So, buat teman-teman yang
penasaran apa sih isinya dan kenapa
tantim itu begitu mengerikan dan harus
segera diadress dan gua senang ini
dibawa ya karena ini bukan cuma soal
investasi kalian ya di
perusahaan-perusahaan itu seperti Bank
Mandiri, BNI BR dan lain sebagainya. No,
no, no. Ini tentang bangsa kita juga.
Bagaimana berpikir menggunakan akal
sehat. Mana hal yang waras, mana hal
yang harus diapresiasi, mana hal yang
harus dirombak, dihancurkan, dikritisi
habis-habisin. Karena apa? Tetap pada of
the day kita mau negara kita jadi lebih
baik, bukan makin hancur kecuali lu
budaknya Jor Soros. So, buat lu yang
penasaran apa sih pidato tantimnya
Presiden Prabowo? Jangan dikip video
ini. Let's check this out.
Jadi, satu hal yang gua mau address,
Guys. Hal yang paling penting ya dari
pidatonya Prabowo itu yang pertama apa?
Pengelolaannya tidak masuk akal. Yang
kedua apa? Perusahaan rugi kok
komisarisnya banyak. Gila. Yang ketiga
apa? kita harus potong jumlah komisaris.
Paling banyak enam orang lah. Kalau bisa
empat atau lima juga cukup. Oke, good.
Yang keempat apa dia bilang? Saya mau
hilangkan tantim. Saya tidak mengerti
apa arti tantim itu. Itu akal-akalan
mereka saja. Mereka pakai istilah asing
supaya kita tidak mengerti apa itu
tantim. Ya jujur aja gua juga enggak
ngerti ya kenapa pakai tantim. Kan bisa
aja pakai istilah komisilah, bonuslah,
remunerasi atau banyak pilihan. Tapi kok
tiba-tiba lahirnya tantim gua juga
enggak ngerti. Ini ini konyol sih
memang. Tapi ya sudahlah gua senang juga
akhirnya ada orang level pejabat
tertinggi di negara kita yang ng-address
hal ini. Yang kelima, saudara-saudara,
gua juga bingung nih kata Prabowo, masa
ada komisaris yang meetingnya rapatnya
cuma sebulan sekali, tantimnya 40 miliar
setahun. Kan gila masuk kantor cuma
sebulan sekali, terima duit 40 miliar
setahun. Ini gila dan beliau bilang,
"Saya telah perintahkan danantara
direksi pun enggak perlu terima tantim
kalau rugi. Dan pun kalau untung ya
untungnya harus untung benar. Jangan
untung akal-akalan. Nah, kalau ada
direksi dan komisaris yang keberatan,
udahlah lu berhenti aja. Wih, luar biasa
ini, Guys. Jadi, di sini ada tujuh hal,
Guys. Tujuh hal yang wajib diwaspadai
kalau lu adalah direksi dan komisaris
nakal di BUMNBUMN laknat itu. Itu juga
tujuh hal yang patut diapresiasi karena
akhirnya ada pejabat level tertinggi di
langit Indonesia ini mengakui bahwa kita
ya harus memperbaiki sistem yang seperti
ini yang sudah lama berlangsung
berpuluh-puluh tahun. Kebiadaban ini
dibiarkan oleh pemimpin negeri ini.
Akhirnya ada juga yang mau bicara.
Respect gua. Jujur gua salut. Lu juga
gua yakin deh kalau lu ada investor atau
pemegang saham perusahaan BUMN,
perusahaan plat merah, lu pasti
mengapresiasi ya hal yang seperti ini
karena enggak pernah ada yang dimention
seumur hidup yang gua tahu. Terus apa
sih sebetulnya yang dimention video apa
sih sebetulnya? Video Benix yang mana
sih yang ditonton sama Prabowo sampai
kemudian dibawa ke forum negara tingkat
tinggi seperti itu ya. Satu hal yang gua
address di video itu dan ini gua mau
ulangin lagi di sini buat teman-teman
yang jadi direksi atau komisaris di BUMN
Indonesia harus pakai akal sehat lah
dalam menjalankan bisnisnya. Gua mau
kasih contoh nih. Bank Mandiri. Bank
Mandiri, lu tahu tahun 2023 laba
bersihnya cuma R5 triliun. Naik ke tahun
2024 jadi 55,8 triliun. Intinya sih
enggak bergerak di situ-situ doang.
Cuman 55 55. Buat apa kenaikannya itu
cuman 1,3%. Lu bayangin perusahaan
tadinya untung R5 triliun tahun 2023.
naik ke 2024 tetap juga R5 triliun cuman
beda 0 koma sekian di belakang koma.
Maksudnya apa? Kenapa gua bilang ini
aneh? Ingat ya, pertumbuhannya hampir
enggak ada L cuman 1% sekian. Tetapi
tant direksi sama komisarisnya naik 70%
lebih. Jadi lu bayangin ya labanya cuma
naik 1% tapi tanim mengkomisaris
direksinya naik 70% lebih. Di tahun 2023
tanti mereka itu cuman 700-an miliar,
Guys. Naik ke tahun 2024, perusahaan mah
jalan di tempat. Tapi bonus buat direksi
kamisaris naik jadi 1,3 triliun. Kan
gila 1,3 triliun bonus atas prestasi
mereka berhasil meningkatkan laba yang
tadinya 55,06
triliun menjadi 55,8 triliun.
Gila gila gila gila gila. kenaikan bonus
buat direksi komisarisnya aja udah
hampir ngalahin kenaikan laba
perusahaan. Ini goblok banget asli. Dan
yang lebih sadis lagi lu tahu enggak
direksi di sana cuma ada 12 orang.
Mereka berbagi tantim buat direksi 945
miliar. Artinya 945 miliar dibagi 12
orang per kepala menerima 78 miliar.
Luar biasa ya. Ketika masih banyak orang
Indonesia yang hidup dengan gaji di
bawah R3 juta per bulan, mereka bawa
pulang 78 miliar direksi. Tapi ya
udahlah. Direksi kerja sekarang kita mau
bahas komisaris. Komisaris itu terima
komisi ya, tantim itu 388 miliar dibagi
10 orang. Artinya satu kepala menerima
tantim komisaris 38,8 M. Di sini lu bisa
tahu, gila ini orang komisaris kerjanya
apa sih? Berpengaruh enggak sih dalam
perjalanan bisnis? Terus kenapa bisa
sampai 10 orang? Ya gua juga enggak
enggak nyambung. Karena Bank BCA aja ya,
bank dengan valuasi terhebat tertinggi
di Indonesia komisarisnya cuman li orang
loh. Bank Mandiri gila udah
pertumbuhannya cuman 1% tapi tantimnya
triliunan buat direksi komisaris
komisarisnya sampai 10 biji kan gila
aneh. Tapi ya itulah realita keanehan di
republik ini. Performa enggak
bagus-bagus amat tapi bonus jalan terus
bahkan naik 70% dibandingkan tahun
sebelumnya. Oh gila. Ada juga yang
enggak kalah gilanya. Ingat ya, negara
Republik Indonesia ini kalau bisa
berlomba-lomba menjadi tolol,
berlomba-lomba menjadi gila. Jadi, ada
yang enggak mau kalah sama Bank Mandiri,
namanya Bank BRI. Lu tahu Bank BRI itu
labanya cuman tumbuh 0,36%.
Gua ulangin, laba mereka cuma tumbuh
0,36%
tapi tantnya naik 61% lebih. Ini lebih
gila lagi nih. Lu tahu tahun 2023 laba
bersih Bank BRI itu 60,4 triliun. Di
tahun 2024 labanya naik 0,3% menjadi
60,64
triliun. Jadi sama-sama 60 triliun,
Guys. Sebenarnya ini 111 sama Bang
Mandiri ini jalan di tempat ini
perusahaan. Tetapi hebatnya ya inilah
enaknya jadi pejabat perbankan BUMN
Indonesia ketika perusahaan stagnan
hampir tidak tumbuh 0,36%. Kan malu ya.
Tapi tantimnya naik. Tahun 2023 direksi
komisaris dapat bonus R63 miliar. Dengan
prestasi mereka berhasil meningkatkan
performa perusahaan senilai 0,3% alias
alias nothing. Bonus mereka naik dari
563 miliar jadi 900
miliar kan gila ya gila gila gila gila
dan lu bayangin ya direksi mereka ada 12
orang paket buat direksi tantimnya itu
648 miliar jadi 648 miliar dibagi 12
kepala artinya per kepala direksi itu
mendapat duit 54 miliar kalau
dirata-ratakan nah komisarisnya gimana
komisaris Bang BRI itu ada 10 orang gila
juga nih tant buat komisaris 259 so
kalau lu bagi 259 miliar dibagi 10 orang
itu nilainya 25 miliar per kepala. Apa
enggak stres republik ini? Ya, makanya
lu jangan heran ya kalau dengan begitu
banyaknya kebocoran-kebocoran ini buat
orang-orang yang sebetulnya enggak ada
prestasi tapi kita kasih duit
bermiliar-miliar.
Hah. Dasco itu sampai bilang dengan kita
menghilangkan tantim-tantim enggak jelas
ini, negara itu bisa hemat 18 triliun.
Gila enggak? Di situ lu bisa lihat ya
duit 18 triliun dengan menghemat
tantim-tantim dari direksi komisaris
yang belum tentu bisa kerja ini juga.
itu duitnya bisa bikin ribuan sekolah,
Guys. Bisa bikin jembatan, bisa kasih
makan anak-anak yang kurang mampu. Jadi,
tega banget ya kita ini. Kok
bisa-bisanya sih kita itu memberikan
duit gratisan kepada orang-orang yang
harusnya dipertanyakan kinerjanya bagus
atau enggak. Gua sih yakin ya, kalau lu
kerja di bank asing ya, lu kerja di City
Bank atau lu kerja di bank Jepang,
perusahaan lu labanya enggak tumbuh,
enggak ada pertumbuhan. Stagnan aja. Gua
enggak yakin bonusnya malah naik 50%
atau naik 100%. Gua rasa mereka tidak
gila. Tapi kenapa kita melakukan hal
yang sebaliknya ya? Good news guys,
kabar spesial buat kalian karena sekolah
Sambenix season 8 akan segera dibuka dan
temanya luar biasa menarik nih. Khusus
buat teman-teman investor pemula di IASG
yang bingung cara beli saham, investasi
dan bisnis apa yang menarik, kita akan
membahas tentang mineral berharga dengan
lebih detail lagi. So, buat kamu yang
masih bingung gimana sih cara beli saham
di ASG, gimana sih caranya profit di
ISG, kamu bisa pakai kalkulator
investasi yang ada di
www.skolasahambenix.com.
pakai di situ, tentukan target investasi
kamu dan kamu bisa lihat bagaimana
caranya kamu bisa mendulang cuan di ISG.
So, buat kamu yang belum bergabung di
season sebelumnya, ini kesempatan langka
buat segala bergabung. Dari yang
harganya R jutaan, sekarang tinggal R9
jutaan saja. Ingat ya, khusus 25 orang
pertama yang mendaftar sebelum tanggal
31 Agustus 2025. Segera daftarkan dirimu
sekarang juga di www.sskolashambenix.com
atau hubungi nomor WhatsApp yang ada di
bawah ini. Tapi kenapa kita melakukan
hal yang sebaliknya ya? Aneh ya. Apalagi
kalau lu lihat nih bank sebelah. Ingat
ya negara ini selalu berlomba-lomba
melakukan hal yang tolol dan goblok. Lu
lihat Bank BNI itu di 2023 labanya 20,9
triliun. Di tahun 2024 labanya jadi 21,5
triliun alias tumbuh cuma 2,7%.
Tetapi bonusan buat direksi dan
komisaris tumbuh 82%.
Gila, dari tantim 2023 yang 315 miliar
di tahun 2024 melonjak tinggi menjadi
576 miliar. Ini benar-benar sadis, Guys.
Karena apa? Jumlah direksinya banyak
banget 12 orang. Tantim direksi total
403 miliar. Dibagi 12 artinya per kepala
mendapat 33 miliar. Dan yang makin tolol
lagi lu tahu di Bank BNI komisarisnya
ada 11 orang. Total tantim direksi 172
miliar. So, kalau lu bagi 172 miliar
dibagi 11 orang per kepala mendapat 15
miliar. Ini ini gila ya buat lu yang
tahu ya, Bank BNI itu ukurannya aja udah
lebih kecil dibanding Bank BRI yang ada
dari Sabang sampai Merauke. Tapi
bisa-bisanya jumlah komisaris BNI lebih
banyak dari Bank BRI.
Bank BRI aja menurut gua juga udah
kebanyakan karena Bank BCA yang
sedemikian besarnya komisarnya cuma lima
orang, Guys. Dan kalau lu lihat logika
berpikir yang sepatutnya kita contoh ya,
misalkan ya Bang BCA itu laba bersih
2023 itu 48,6 triliun, ke tahun 2024
menjadi 54,8
triliun alias laba bersihnya tumbuh
12,7%.
Oke, gimana dengan komisi, Tantim? Bonus
buat si komisaris direksi nih ternyata
naiknya cuma 15%.
Di tantim 2023 itu 660 miliar. Di 2024
cuma jadi 765
miliar. Kalau lu pakai logika BUMN
rampok ya, pejabat-pejabat rampok ya,
Bank BCA tumbuhnya 12%, Bank BR
growth-nya cuma 0,3% tetapi tamtimnya
tumbuh sampai 61% kan gila. Bank BCA
growth-nya 12% 40 kali lipat
dibandingkan Bank BRI. Tapi tantimnya
cuman 15%. Kalau pakai logika yang sama,
harusnya Bank BCA itu terima tantim bisa
lebih dari 2.000 kali lipat Bank BRI.
Tapi logikanya mereka cuma terima 15%,
Guys. Jadi ini adalah kewarasan yang
menurut gua ya sistem meritokrasi di
Indonesia itu memang harus dibudayakan
seperti ini. Aneh ya. Kalau lu
perusahaan lu cuman tumbuh 12% ya, kalau
lu mau dapat bonus lebih 200% dia
perusahaan lu growth-nya harus 200%
dong. Kan logis. Tapi gimana ceritanya
perusahaan cuma tumbuh 0,3%, perusahaan
cuma tumbuh 1%. Kok bisa-bisanya minta
bagi hasil, komisi, bonus dan
sebagainya, tantim itu lebih dari 50%
kan enggak masuk akal ya. Bahkan
sebetulnya lebih berhak sih Beng BCA ini
loh minta tantim sampai 50% tapi dia toh
enggak lakukan itu karena laba cuma naik
12% dia naiknya 15% bonus komisaris.
Logis enggak logis? Dan yang lebih ngeri
lu tahu komisaris di Bang BC itu cuma 5
orang tapi Bang-bang Semprul tadi
komisaris sampai 10 orang. Gila, lebih
gede labanya Bank BCA tapi komisarisnya
cuman lima orang. Jadi guys, itu baru
hitungan kalau seandainya pertumbuhan
laba dibandingkan dengan pertumbuhan
tantim yang tidak wajar ya di BUMN
khususnya dalam sampling ini adalah bank
BUMN. Nah, penting buat kita ketahui ya
gimana caranya kita bisa menghitung
efisiensi seorang direksi atau seorang
komisaris. Gampang aja. Kita tinggal
cari aja berapa sih profit yang mereka
hasilkan per kepalanya. Jadi,
Teman-teman lihat di layar kaca Bank
Mandiri di tahun 2024 menghasilkan laba
55,8 triliun. Sementara jumlah
direksinya ada 12 orang. Artinya kalau
55,8 / 12, satu kepala direksi
menghasilkan 4,7 triliun. Bagus atau
tidak? Kita harus bandingkan dengan
PI-nya. Jadi, PI-nya di sini ada siapa?
Ada Bank BRI. Bank EBRI labanya 60,64
triliun dibagi 12 orang direksi. Maka
per kepala direksi menghasilkan 5,1
triliun. Ketiga itu ada Bank BNI. Bank
BNI cuma bisa menghasilkan 21,5
triliun labanya di 2024. Tetapi kalau
dibagi ke 12 orang direksi, maka per
kepala direksi cuma bisa menghasilkan
1,8 triliun. Lalu bagaimana dengan Bank
BCA? Bank BCA labanya 54,8 triliun di
tahun 2024. Kalau dibagi ke 12 orang
direksi, maka per kepala direksi
menghasilkan profit 4,6 triliun. Nah,
kalau dari angka ini lu sudah bisa lihat
ya, bank yang paling efisien itu adalah
Bank BRI. Karena per kepala mereka bisa
menghasilkan 5 triliun. Jauh di atas
Bank BNI yang per kepala direksinya
cuman bisa bawa pulang 1,8 triliun. Dan
kenapa menarik untuk dibahas di sini?
Karena ternyata Bang BCA ketahuan per
kepala direksinya cuma bisa menghasilkan
4,6 triliun. Oke, jadi dari sini kita
bisa lihat mana bank yang efisien, mana
bank yang tidak efisien. Kalau kita
masuk sekarang ke laba per komisaris,
angka jadi lebih menarik karena ternyata
komisaris di Bank Mandiri itu ada 10
orang. Sementara labanya 55,8 triliun
yang artinya per komisaris bisa
menghasilkan 5,5 triliun per kepalanya.
Bank BRI menghasilkan 60,64 triliun
labanya dibagi 10 orang komisaris, maka
per komisaris menghasilkan 6,06
triliun. Lalu di sini ada Bank BNI,
labanya kecil banget cuman 21,5 triliun,
tetapi dibagi ke 11 orang komisaris yang
artinya per komisaris cuma bisa
menghasilkan laba setara 1,95
triliun. Dan yang terakhir, Bank BCA.
Labanya 54,8 triliun. Kalau kita bagi ke
li orang komisaris, maka per komisaris
bisa menghasilkan laba setara 10,9
triliun. Nah, Teman-teman dari sini lu
sudah bisa lihat ya, mana bank yang
paling efisien. Kalau hari ini kita
membicara tentang komisaris, maka yang
paling efisien adalah Bank BCA. Karena
Bank BCA satu komisarisnya bisa
menghasilkan 10 triliun buat perusahaan.
Sementara Bank BNI komisarisnya ada 11,
tapi satu komisaris cuma bisa
menghasilkan 1,9 triliun. Nah, penting
ini buat disajikan sama teman-teman
supaya bisa melihat bahwa oke by data
ternyata ya kalau kita ngomongin
komisaris hari ini hubungannya dengan
tantim dan segala macam ternyata Bank
BUMN ya performanya kalah jauh
dibandingkan bank swasta. Karena
contohnya di Bank BC aja mereka
komisarisnya cuman sedikit tetapi bisa
menghasilkan rupiah yang lebih banyak
dibandingkan Bank BNI. Sementara yang
lain gimana ya, Bank Mandiri, Bank BRI
ya, 11 lah. Jadi dari sini kita bisa
lihat standar industri. Jadi contohnya
misalkan Bank BNI Danantara mau lihat
valuasi logis enggak buat Bank BNI punya
tantim segitu besar, komisaris sebegitu
banyak, ada 11 orang tapi pengin punya
rasio 10 seperti Bank BCA yang satu
komisaris bisa menghasilkan 10 triliun
buat laba perusahaan. Simpel aja, Bank
BNI komisarisnya harus turun dari 11
orang ke dua orang. Yang artinya 21,5
triliun laba 2024 dibagi 2 orang per
kepala artinya menyumbang 10,7 triliun.
Ya kita bikin itu jadi standar industri
aja bahwa apa ya 10 triliun per kepala
itu atau kalau ke direksi ya kita sudah
punya benchmark di range 4 sampai 5.
Selama lu masih berada di range itu ya
lu normal 4 sampai 5 triliun per kepala
direksi. yang artinya kalau kita
masukkan itu ke Bank BNI yang labanya
cuma 21 triliun dalam 1 tahun. Logikanya
ya berarti direksi lu enggak perlu
sampai 12 orang, direksi lu 5 orang aja
cukup. Selesai. Standar industri harus
dipakai dong. Ya jujur aja gua kaget
banget ya. Ada begitu banyak direksi
komisaris ya di BUMNBUMN yang untungnya
dalam studi kasus ini profit walaupun
pertumbuhannya enggak signifikan. Tapi
lu kan lihat ya, gua kritisi banget ya
buat BWN khususnya perbankan ya, yang
even sebetulnya profit loh, kondisi
mereka enggak rugi. Tapi karena
pertumbuhan yang enggak signifikan
menurut gua aneh ketika bonus yang
diterima komisaris direksi kok tumbuh
signifikan. Tapi dasar lu tahu ya,
negara kita ini memang negara ajaib.
Bahkan ada loh BUMN yang betul-betul
rugi posisinya. Rugi tapi tetap terima
bonus yang luar biasa. Ini memang enggak
masuk akal republik kita. Ini contoh
Wijaya Karya ya. Wijaya Karya tahun 2024
itu bagi-bagi tantim tahun buku 2023.
Total tantimnya itu senilai 617 juta.
Ini pintar nih strategi mereka karena
ternyata apa? Mereka gedenya di
remunerasi
alias honorarium. Honorarium di 2024 itu
nilainya 11,5 miliar. Jadi lu bayangin
ya ini yang dibilang sama Prabowo
pintar-pintar banget nih pejabat-pejabat
ini. Kadang-kadang dia bilang itu bonus,
honorarium, tunjungan transport, THR dan
lain sebagainya. Karena kalau kita lihat
ya tunjangan transport aja sampai
ratusan juta nih Wijaya Karya.
Honorarium sampai miliaran. Tantimnya
kecil cuman itu jutaan. Jadi pintar
strateginya. Tapi satu yang mau gua
bilang adalah lu tahu Wijaya Karya ini
posisinya lagi untung apa rugi?
Teman-teman bisa lihat di layar kaca ya.
Di tahun 2024 kerugian Wijaya Karya itu
2,4 triliun. Di tahun 2023 kerugiannya
7,7
triliun. Ini gila ini, Guys. Ini
perusahaan rugi. Tetapi faktanya apa
yang terjadi? Mereka membagikan bonusan
senilai 11,5 miliar, Guys. Posisi
perusahaan rugi. Jadi, lu bayangin,
Guys. Posisi perusahaan rugi. Rugi
triliunan, tapi bagi-bagi bonus. Gua
direksi sama komisaris karena kinerjanya
yang luar biasa. Rugi triliunan, dapat
bonus miliaran. Kan enggak masuk akal.
Ini republik apa sebetulnya? Gua enggak
kebayang ya kalau ada perusahaan swasta
ya. Posisi perusahaan rugi, rugi, rugi
triliunan masih dapat bonus bonus
miliaran kan enggak masuk akal, Guys.
So, anyway, Guys, kenapa sih ada
perusahaan yang masih rugi? Dari tadi
gua kritik terus perusahaan yang
sebetulnya profit ya. Kayak Bank
Mandiri, Ban itu ya profit, cuman
pertumbuhannya enggak signifikan. Yang
gua pertanyakan, kenapa pertumbuhan
bonus komisaris, bonus tantim,
remunerasi dan sebagainya kok bisa naik
signifikan? Kan enggak masuk akal. Terus
kemudian udah gua udah kasih contoh
perusahaannya yang rugi-rugi rugi
namanya Wijaya Karya. Kok bisa juga
tetap dapat TTIM ini konyol. Ternyata
ini karena ada peraturan mentn yang
memang konyol, yaitu apa? Permen BUMN
nomor 3 MBU03 2023. Yang intinya di situ
kalau lu lihat ya, ternyata perusahaan
rugi boleh bagi bonusan. Wow. Jadi,
Teman-teman lihat ya isi pasal 1 ayat 43
di situ disebutkan definisi tantim
adalah penghasilan yang merupakan
penghargaan yang diberikan kepada
anggota direksi dan dewan komisaris
BUMN. Apabila BUMN bersangkutan
memperoleh laba, sampai saat ini gua
masih terima. Logis. Kalau dia
memperoleh laba, dia boleh bagi tantim.
Itu logis dan itu gua terima fakta itu.
Tapi kemudian dilanjutkan dan tidak
mengalami akumulasi kerugian. Nah, jadi
dari situ sudah bisa lihat bahwa oh
berarti kalau BUMN rugi boleh bagi
tantim asal kerugiannya tidak bertambah.
Oke, menarik nih. Karena kemudian di
pasal 102 Peraturan Menteri BUMN yang
sama juga dinyatakan bahwa apa? BUMN
dapat memberikan tantim atau insentif
kinerja kepada anggota direksi dan dewan
komisaris bilamana
kondisi BUMN yang bersangkutan tidak
semakin merugi dari tahun sebelumnya
untuk BUMN dalam kondisi rugi atau BUMN
tidak menjadi rugi dari sebelumnya dalam
kondisi untung. Jadi di sini memang
itulah amazing-nya republik kita.
Perusahaan yang tidak untung boleh bagi
tantim. Perusahaan yang rugi boleh bagi
bonusan, insentif kerja atau tantim atau
apapun itu namanya. Yang menurut gua ya
unik. Itulah uniknya Indonesia. Jadi
perusahaan untung boleh bagi tantim,
perusahaan rugi boleh juga bagi tantim.
Luar biasa peraturan menteri BUMN ini
ya. Walaupun beberapa logikanya mungkin
masuk akal ya. Mungkin dia sudah
melakukan segala hal yang terbaik, tapi
perusahaan tetap rugi. Tapi setidaknya
kerugiannya tidak bertambah, tapi malah
berkurang. Harusnya dapat bonus dong.
Hmm. Lu masih bisa enggak terima fakta
itu? Menurut lu logis enggak perusahaan
yang tetap rugi? Tetap rugi, tetap rugi
tapi bagi bonusan. Masuk akal enggak sih
menurut lu peraturan menteri BUMN ini?
Atau memang mungkin harusnya direvisi
sama Danantara? Karena sekarang kita
sudah punya lembaga investasi yang
powerful namanya Danantara. Makanya gua
senang banget, Guys. Karena sekarang gua
udah dengar ya, ada Danantara. Danantara
itu lembaga pengawas ya. kita harapkan.
Jadi bisa seperti tema seks Singapura
yang bisa membantu mengawasi BUMN BUMN
konyol di Indonesia. Salah satunya apa
yang menurut gua aneh bagi-bagi tantim
ketika perusahaan kondisinya rugi, rugi
rugi, rugi, rugi. Tapi bagi-bagi tantim
menurut gua itu enggak masuk akal. Nah,
makanya ketika kemudian gua membuka, gua
jadi penasaran, gua membuka Kamus Besar
Bahasa Indonesia, di situ ternyata ada
juga definisi tantim dan definisi tantim
di Kamus Besar Bahasa Indonesia beda
dengan di versi Menteri BUMN. Kalau
menteri BUM posisi perusahaan rugi,
boleh enggak bagi tantim? Boleh. Tapi
kalau lu punya otak dan tidak buta mata
dan buta hati, ternyata definisi tantim
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
bukan menurut kamus menteri BUMN.
Definisi tantim adalah sebagian
keuntungan perusahaan yang dihadiahkan
kepada karyawan. Kok beda? Definisi
tantim menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia salah. Gila, Menteri BUMN bisa
bikin definisi sendiri. Kalau menurut
kamus besar bahasa Indonesia, bahasa
Indonesia yang baik dan benar, Tantim
itu sebagian keuntungan perusahaan yang
dibagikan. Berarti kan perusahaannya
harus untung, bego. Terus kalau
perusahaannya rugi, bagi enggak? Ya
menurut Menteri BUMN bagi aja, Gu.
Makanya gua sangat apresiatif ya ketika
kemudian Danantan Tara itu mengeluarkan
peraturan baru, Guys, yang namanya S063
DIP7
2025. Jadi peraturannya dikeluarkan
tanggal 30 Juli 2025. Surat yang
ditandatangani langsung CEO danantara
Rosan Roslani. Dan di situ ditulis
secara jelas anggota Dewan Komisaris
BUMN dan anak usaha BUMN tidak
diperkenankan mendapatkan tantim
insentif dan atau penghasilan dalam
bentuk lain yang berkaitan dengan
kinerja perusahaan. Luar biasa. Kasih
sound effect. Tepuk tangan. Jadi di sini
udah jelas lu enggak boleh terima
tantim. Oke. Oke. Ini jauh lebih bagus,
jauh lebih menyeluruh dan semuanya
langsung udah jelas lu enggak boleh
terima tantim. Yang gua enggak masuk di
akal gua adalah kok bisa-bisanya ya
Menteri BUMN membuat pernyataan bahwa
perusahaan rugi itu bisa bagi tantim.
Kok bisa-bisanya ya pejabat setingkat
menteri ya, peraturan menteri BUMN bikin
peraturan perusahaan itu kalau rugi bisa
bagi tantim, bagi bonusan. Apa landasan
berpikirnya kalau menurut lu? Apa guys?
Makanya gua sih jujur aja ya. makin ke
sini gua makin banyak yang aneh-aneh lah
di republik ini memang harus kita
luruskan. Jadi kalau ya salah ya bilang
salah, kalau enggak benar ya bilang
enggak benar. Nah, gua senang dengan
Adanya danantara ya karena mereka punya
visi misi yang dari situ kita bisa lihat
bertujuan baik meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pengelolaan aset negara
supaya bisa memberikan manfaat maksimal
bagi masyarakat Indonesia. Jadi BUMN ini
bisa memberikan kontribusi positif bukan
buat komisaris, bukan buat diacing.
Kontribusi yang positif bermanfaat bagi
rakyat Indonesia. Makanya gua senang
ketika kemudian Danantara memutuskan
buat matikan itu semua tantim-tantim
enggak jelas itu dan negara diprediksi
ya kita bisa menghemat sampai 18 triliun
guys dengan menghentikan pengeluaran
tantim-tantim bonus-bonusan konyol itu.
Nah kalau menurut lu gimana? Lu setuju
enggak sih kalau seandainya bonus-bonus
ini harus dikoreksi lah. Kalau
perusahaan sudah bertahun-tahun rugi,
bertahun-tahun rugi, kok bisa-bisanya
masih bagi-bagi bonus? Kok enggak fair
ya bagi rakyat ya? Apalagi masih banyak
loh rakyat Indonesia yang enggak bisa
makan dua kali sehari. Masih banyak loh.
Kok bisa-bisanya ya mereka menikmati itu
duit triliunan itu loh. Tapi ada yang
bilang, "Pak, mereka kan sudah bekerja
keras komisarisnya sampai 15 orang, 20
orang atau direksi sampai berapa tadi?
Ada yang 10, 11 orang. Harusnya dikasih
apresiasi lah menurut gua. Iya, wajar
kasih apresiasi ketika perusahaan bisa
bertumbuh,
perusahaan bisa berkembang, perusahaan
profitable. Menurut gua itu logika
berpikir yang harus kita bangun dengan
sistem meritokrasi. Ketika lu melakukan
performa yang baik, wajar dong dikasih
kompensasi yang baik juga. Iya dong. Dan
ini logis sebagai pemegang saham karena
gua pemegang saham dan antara pemegang
saham. Mereka juga pengin dapat profit
dari perusahaan yang profit. Jangan
sampai perusahaannya rugi rugi rugi
marah foya-foya bagi-bagi harta milik
negara. Dibagi-bagi sama mereka pakai
jalur tantim lah atau jalur kompensasi
lah, jalur komisilah, jalur tunjangan
lah, jalur remunerasi lah. Aneh. Jadi
menurut kalian gimana? Lu setuju enggak
sih dengan yang dilakukan Danantara? Ya
mereka mau bikin efisiensi,
tantim-tantim enggak jelas ini, komisi
honorarium yang enggak jelas, bonusan
ini dihilangin aja lah. Kalau lu pengin
dapat, ya buktikan kinerja lu itu bagus.
Lu setuju enggak sih dengan yang
dilakukan Danantara? Atau memang
sebaiknya ya udah bagi-bagi aja lah. Toh
duitnya turun dari langit, toh yang
bayar pajak manusia-manusia bodoh di
Indonesia, kalangan kelas menengah,
biarin aja mereka kayak budak bekerja
keras, duitnya diambil, dirampas negara
terus dibagi-bagi di atas. Lu setuju
kayak begitu? Oke, guys. Ditunggu
pandangan kalian seperti apa. Jangan
lupa tulis di kolom komentar di bawah
ini. Menurut lu sebaiknya seperti apa?
Apakah kita harus lebih efisien kayak
Bank BCA yang komisarisnya cuma 5 orang
atau kayak Bank BNI yang udah provinnya
kecil tapi komisarisnya bisa sampai 11
orang. Luar biasa. Hebat republik kita.
Kaya raya pejabatnya. Semoga video ini
bermanfaat. Salam sehat. Salam cuan. Bye
bye.
[Musik]