Transcript
SDuez_nHelA • EXPOSE ILLEGAL MONEY FLOWS IN RI OFFICIALS! THE STATE HARMED 18 TRILLION | Prabowo IS ANGRY!!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0418_SDuez_nHelA.txt
Kind: captions Language: id Yang gua enggak masuk di akal gua adalah kok bisa-bisanya ya Menteri BUMN membuat pernyataan bahwa perusahaan rugi itu bisa bagi tantim. Kok bisa-bisanya ya pejabat setingkat menteri ya peraturan menteri BUMN bikin peraturan perusahaan itu kalau rugi bisa bagi tantim bagi bonusan. Apa landasan berpikirnya kalau menurut lu? Apa guys? Good news, guys. Jeritan hati suara rakyat akhirnya didengar oleh Presiden Prabowo. Ya, setelah video Benix yang viral kemarin itu ya, tentang bagaimana gua itu tidak suka melihat banyak perusahaan-perusahaan kita BUMN yang masih rugi, nyungsep, belangsak. Tapi kok bisa-bisanya udah bego kerjanya, enggak becus kerjanya, tapi pejabatnya, direksinya, komisarisnya kok bisa-bisanya dapat bonus, tantim, whatever lah sampai puluhan miliar. Ini kan mengerikan banget, Guys. Posisi tabungan kita udah paling parah. Tabungan warga terkuras. Kok bisa-bisanya pejabat-pejabat di bank-bank milik negara Kazakhstan itu pesta pora, pesta duit. Logis enggak ini? Valuasi sebuah perusahaan bisa sampai 0,36%nya kayak Bang Beni ini. 0,36% dari valuasi perusahaan itu hilang dibagikan kepada direksi dan komisaris yang menurut gua performanya biasa banget. Hei, gimana prestasi lu tahun ini? ya bisnis gua tumbuh 0,06% sih profitnya dibanding tahun lalu. Itu kan menurut lu pikir logis enggak sih untuk mendapatkan bonusan sebanyak itu? Dan kita sangat bersyukur karena ya salah satu penonton setia channel Benix ya Presiden Prabowo ternyata orangnya sangat objektif. Ya lu tahulah channel Benix ini adalah channel investasi terbesar nomor satu di Indonesia yang membahas ekonomi dan geopolitik secara objektif. Maksudnya apa? Ya, kalau salah kita bilang salah, kalau benar ya kita bilang benar. Kalau hitam kita bilang hitam, kalau putih ya bilang putih. masa yang salah kita benar-benerin atau yang benar kita salah-salahin? Enggak mungkin. Dan ternyata video kita ya direspon langsung oleh Presiden Prabowo di pidato kenegaraan beliau ini di acara penting di tanggal 15 Agustus 2025 kemarin. Isinya tentang apa? Di situ Presiden Prabowo mengatakan ironis nih, tantim komisaris BUMN kerjanya minim penghasilan puluhan miliar. Ada lagi nih dari Kompas. Prabowo hapus Tantim direksi BUMN yang rugi. Di CNN, Prabowo tegas, Tantim-akalan. Wis mantap banget sih, Guys. Jadi, ya gua sih bersyukur ya follower kita Pak Probowo memang betul-betul mau mendengarkan ya jeritan hati rakyat yang merasa kok enggak adil negara ini. Aneh kalau ada pejabat enggak bisa kerja, enggak becus, perusahaan rugi kok aneh masih dapat duit miliaran rupiah. Oh, thank you. Loh, udah bertahun-tahun gua suarakan ini. Akhirnya didengar juga oleh pejabat tertinggi di negara Republik Indonesia. Thank you, Pak Bro and Tim. So, buat teman-teman yang penasaran apa sih isinya dan kenapa tantim itu begitu mengerikan dan harus segera diadress dan gua senang ini dibawa ya karena ini bukan cuma soal investasi kalian ya di perusahaan-perusahaan itu seperti Bank Mandiri, BNI BR dan lain sebagainya. No, no, no. Ini tentang bangsa kita juga. Bagaimana berpikir menggunakan akal sehat. Mana hal yang waras, mana hal yang harus diapresiasi, mana hal yang harus dirombak, dihancurkan, dikritisi habis-habisin. Karena apa? Tetap pada of the day kita mau negara kita jadi lebih baik, bukan makin hancur kecuali lu budaknya Jor Soros. So, buat lu yang penasaran apa sih pidato tantimnya Presiden Prabowo? Jangan dikip video ini. Let's check this out. Jadi, satu hal yang gua mau address, Guys. Hal yang paling penting ya dari pidatonya Prabowo itu yang pertama apa? Pengelolaannya tidak masuk akal. Yang kedua apa? Perusahaan rugi kok komisarisnya banyak. Gila. Yang ketiga apa? kita harus potong jumlah komisaris. Paling banyak enam orang lah. Kalau bisa empat atau lima juga cukup. Oke, good. Yang keempat apa dia bilang? Saya mau hilangkan tantim. Saya tidak mengerti apa arti tantim itu. Itu akal-akalan mereka saja. Mereka pakai istilah asing supaya kita tidak mengerti apa itu tantim. Ya jujur aja gua juga enggak ngerti ya kenapa pakai tantim. Kan bisa aja pakai istilah komisilah, bonuslah, remunerasi atau banyak pilihan. Tapi kok tiba-tiba lahirnya tantim gua juga enggak ngerti. Ini ini konyol sih memang. Tapi ya sudahlah gua senang juga akhirnya ada orang level pejabat tertinggi di negara kita yang ng-address hal ini. Yang kelima, saudara-saudara, gua juga bingung nih kata Prabowo, masa ada komisaris yang meetingnya rapatnya cuma sebulan sekali, tantimnya 40 miliar setahun. Kan gila masuk kantor cuma sebulan sekali, terima duit 40 miliar setahun. Ini gila dan beliau bilang, "Saya telah perintahkan danantara direksi pun enggak perlu terima tantim kalau rugi. Dan pun kalau untung ya untungnya harus untung benar. Jangan untung akal-akalan. Nah, kalau ada direksi dan komisaris yang keberatan, udahlah lu berhenti aja. Wih, luar biasa ini, Guys. Jadi, di sini ada tujuh hal, Guys. Tujuh hal yang wajib diwaspadai kalau lu adalah direksi dan komisaris nakal di BUMNBUMN laknat itu. Itu juga tujuh hal yang patut diapresiasi karena akhirnya ada pejabat level tertinggi di langit Indonesia ini mengakui bahwa kita ya harus memperbaiki sistem yang seperti ini yang sudah lama berlangsung berpuluh-puluh tahun. Kebiadaban ini dibiarkan oleh pemimpin negeri ini. Akhirnya ada juga yang mau bicara. Respect gua. Jujur gua salut. Lu juga gua yakin deh kalau lu ada investor atau pemegang saham perusahaan BUMN, perusahaan plat merah, lu pasti mengapresiasi ya hal yang seperti ini karena enggak pernah ada yang dimention seumur hidup yang gua tahu. Terus apa sih sebetulnya yang dimention video apa sih sebetulnya? Video Benix yang mana sih yang ditonton sama Prabowo sampai kemudian dibawa ke forum negara tingkat tinggi seperti itu ya. Satu hal yang gua address di video itu dan ini gua mau ulangin lagi di sini buat teman-teman yang jadi direksi atau komisaris di BUMN Indonesia harus pakai akal sehat lah dalam menjalankan bisnisnya. Gua mau kasih contoh nih. Bank Mandiri. Bank Mandiri, lu tahu tahun 2023 laba bersihnya cuma R5 triliun. Naik ke tahun 2024 jadi 55,8 triliun. Intinya sih enggak bergerak di situ-situ doang. Cuman 55 55. Buat apa kenaikannya itu cuman 1,3%. Lu bayangin perusahaan tadinya untung R5 triliun tahun 2023. naik ke 2024 tetap juga R5 triliun cuman beda 0 koma sekian di belakang koma. Maksudnya apa? Kenapa gua bilang ini aneh? Ingat ya, pertumbuhannya hampir enggak ada L cuman 1% sekian. Tetapi tant direksi sama komisarisnya naik 70% lebih. Jadi lu bayangin ya labanya cuma naik 1% tapi tanim mengkomisaris direksinya naik 70% lebih. Di tahun 2023 tanti mereka itu cuman 700-an miliar, Guys. Naik ke tahun 2024, perusahaan mah jalan di tempat. Tapi bonus buat direksi kamisaris naik jadi 1,3 triliun. Kan gila 1,3 triliun bonus atas prestasi mereka berhasil meningkatkan laba yang tadinya 55,06 triliun menjadi 55,8 triliun. Gila gila gila gila gila. kenaikan bonus buat direksi komisarisnya aja udah hampir ngalahin kenaikan laba perusahaan. Ini goblok banget asli. Dan yang lebih sadis lagi lu tahu enggak direksi di sana cuma ada 12 orang. Mereka berbagi tantim buat direksi 945 miliar. Artinya 945 miliar dibagi 12 orang per kepala menerima 78 miliar. Luar biasa ya. Ketika masih banyak orang Indonesia yang hidup dengan gaji di bawah R3 juta per bulan, mereka bawa pulang 78 miliar direksi. Tapi ya udahlah. Direksi kerja sekarang kita mau bahas komisaris. Komisaris itu terima komisi ya, tantim itu 388 miliar dibagi 10 orang. Artinya satu kepala menerima tantim komisaris 38,8 M. Di sini lu bisa tahu, gila ini orang komisaris kerjanya apa sih? Berpengaruh enggak sih dalam perjalanan bisnis? Terus kenapa bisa sampai 10 orang? Ya gua juga enggak enggak nyambung. Karena Bank BCA aja ya, bank dengan valuasi terhebat tertinggi di Indonesia komisarisnya cuman li orang loh. Bank Mandiri gila udah pertumbuhannya cuman 1% tapi tantimnya triliunan buat direksi komisaris komisarisnya sampai 10 biji kan gila aneh. Tapi ya itulah realita keanehan di republik ini. Performa enggak bagus-bagus amat tapi bonus jalan terus bahkan naik 70% dibandingkan tahun sebelumnya. Oh gila. Ada juga yang enggak kalah gilanya. Ingat ya, negara Republik Indonesia ini kalau bisa berlomba-lomba menjadi tolol, berlomba-lomba menjadi gila. Jadi, ada yang enggak mau kalah sama Bank Mandiri, namanya Bank BRI. Lu tahu Bank BRI itu labanya cuman tumbuh 0,36%. Gua ulangin, laba mereka cuma tumbuh 0,36% tapi tantnya naik 61% lebih. Ini lebih gila lagi nih. Lu tahu tahun 2023 laba bersih Bank BRI itu 60,4 triliun. Di tahun 2024 labanya naik 0,3% menjadi 60,64 triliun. Jadi sama-sama 60 triliun, Guys. Sebenarnya ini 111 sama Bang Mandiri ini jalan di tempat ini perusahaan. Tetapi hebatnya ya inilah enaknya jadi pejabat perbankan BUMN Indonesia ketika perusahaan stagnan hampir tidak tumbuh 0,36%. Kan malu ya. Tapi tantimnya naik. Tahun 2023 direksi komisaris dapat bonus R63 miliar. Dengan prestasi mereka berhasil meningkatkan performa perusahaan senilai 0,3% alias alias nothing. Bonus mereka naik dari 563 miliar jadi 900 miliar kan gila ya gila gila gila gila dan lu bayangin ya direksi mereka ada 12 orang paket buat direksi tantimnya itu 648 miliar jadi 648 miliar dibagi 12 kepala artinya per kepala direksi itu mendapat duit 54 miliar kalau dirata-ratakan nah komisarisnya gimana komisaris Bang BRI itu ada 10 orang gila juga nih tant buat komisaris 259 so kalau lu bagi 259 miliar dibagi 10 orang itu nilainya 25 miliar per kepala. Apa enggak stres republik ini? Ya, makanya lu jangan heran ya kalau dengan begitu banyaknya kebocoran-kebocoran ini buat orang-orang yang sebetulnya enggak ada prestasi tapi kita kasih duit bermiliar-miliar. Hah. Dasco itu sampai bilang dengan kita menghilangkan tantim-tantim enggak jelas ini, negara itu bisa hemat 18 triliun. Gila enggak? Di situ lu bisa lihat ya duit 18 triliun dengan menghemat tantim-tantim dari direksi komisaris yang belum tentu bisa kerja ini juga. itu duitnya bisa bikin ribuan sekolah, Guys. Bisa bikin jembatan, bisa kasih makan anak-anak yang kurang mampu. Jadi, tega banget ya kita ini. Kok bisa-bisanya sih kita itu memberikan duit gratisan kepada orang-orang yang harusnya dipertanyakan kinerjanya bagus atau enggak. Gua sih yakin ya, kalau lu kerja di bank asing ya, lu kerja di City Bank atau lu kerja di bank Jepang, perusahaan lu labanya enggak tumbuh, enggak ada pertumbuhan. Stagnan aja. Gua enggak yakin bonusnya malah naik 50% atau naik 100%. Gua rasa mereka tidak gila. Tapi kenapa kita melakukan hal yang sebaliknya ya? Good news guys, kabar spesial buat kalian karena sekolah Sambenix season 8 akan segera dibuka dan temanya luar biasa menarik nih. Khusus buat teman-teman investor pemula di IASG yang bingung cara beli saham, investasi dan bisnis apa yang menarik, kita akan membahas tentang mineral berharga dengan lebih detail lagi. So, buat kamu yang masih bingung gimana sih cara beli saham di ASG, gimana sih caranya profit di ISG, kamu bisa pakai kalkulator investasi yang ada di www.skolasahambenix.com. pakai di situ, tentukan target investasi kamu dan kamu bisa lihat bagaimana caranya kamu bisa mendulang cuan di ISG. So, buat kamu yang belum bergabung di season sebelumnya, ini kesempatan langka buat segala bergabung. Dari yang harganya R jutaan, sekarang tinggal R9 jutaan saja. Ingat ya, khusus 25 orang pertama yang mendaftar sebelum tanggal 31 Agustus 2025. Segera daftarkan dirimu sekarang juga di www.sskolashambenix.com atau hubungi nomor WhatsApp yang ada di bawah ini. Tapi kenapa kita melakukan hal yang sebaliknya ya? Aneh ya. Apalagi kalau lu lihat nih bank sebelah. Ingat ya negara ini selalu berlomba-lomba melakukan hal yang tolol dan goblok. Lu lihat Bank BNI itu di 2023 labanya 20,9 triliun. Di tahun 2024 labanya jadi 21,5 triliun alias tumbuh cuma 2,7%. Tetapi bonusan buat direksi dan komisaris tumbuh 82%. Gila, dari tantim 2023 yang 315 miliar di tahun 2024 melonjak tinggi menjadi 576 miliar. Ini benar-benar sadis, Guys. Karena apa? Jumlah direksinya banyak banget 12 orang. Tantim direksi total 403 miliar. Dibagi 12 artinya per kepala mendapat 33 miliar. Dan yang makin tolol lagi lu tahu di Bank BNI komisarisnya ada 11 orang. Total tantim direksi 172 miliar. So, kalau lu bagi 172 miliar dibagi 11 orang per kepala mendapat 15 miliar. Ini ini gila ya buat lu yang tahu ya, Bank BNI itu ukurannya aja udah lebih kecil dibanding Bank BRI yang ada dari Sabang sampai Merauke. Tapi bisa-bisanya jumlah komisaris BNI lebih banyak dari Bank BRI. Bank BRI aja menurut gua juga udah kebanyakan karena Bank BCA yang sedemikian besarnya komisarnya cuma lima orang, Guys. Dan kalau lu lihat logika berpikir yang sepatutnya kita contoh ya, misalkan ya Bang BCA itu laba bersih 2023 itu 48,6 triliun, ke tahun 2024 menjadi 54,8 triliun alias laba bersihnya tumbuh 12,7%. Oke, gimana dengan komisi, Tantim? Bonus buat si komisaris direksi nih ternyata naiknya cuma 15%. Di tantim 2023 itu 660 miliar. Di 2024 cuma jadi 765 miliar. Kalau lu pakai logika BUMN rampok ya, pejabat-pejabat rampok ya, Bank BCA tumbuhnya 12%, Bank BR growth-nya cuma 0,3% tetapi tamtimnya tumbuh sampai 61% kan gila. Bank BCA growth-nya 12% 40 kali lipat dibandingkan Bank BRI. Tapi tantimnya cuman 15%. Kalau pakai logika yang sama, harusnya Bank BCA itu terima tantim bisa lebih dari 2.000 kali lipat Bank BRI. Tapi logikanya mereka cuma terima 15%, Guys. Jadi ini adalah kewarasan yang menurut gua ya sistem meritokrasi di Indonesia itu memang harus dibudayakan seperti ini. Aneh ya. Kalau lu perusahaan lu cuman tumbuh 12% ya, kalau lu mau dapat bonus lebih 200% dia perusahaan lu growth-nya harus 200% dong. Kan logis. Tapi gimana ceritanya perusahaan cuma tumbuh 0,3%, perusahaan cuma tumbuh 1%. Kok bisa-bisanya minta bagi hasil, komisi, bonus dan sebagainya, tantim itu lebih dari 50% kan enggak masuk akal ya. Bahkan sebetulnya lebih berhak sih Beng BCA ini loh minta tantim sampai 50% tapi dia toh enggak lakukan itu karena laba cuma naik 12% dia naiknya 15% bonus komisaris. Logis enggak logis? Dan yang lebih ngeri lu tahu komisaris di Bang BC itu cuma 5 orang tapi Bang-bang Semprul tadi komisaris sampai 10 orang. Gila, lebih gede labanya Bank BCA tapi komisarisnya cuman lima orang. Jadi guys, itu baru hitungan kalau seandainya pertumbuhan laba dibandingkan dengan pertumbuhan tantim yang tidak wajar ya di BUMN khususnya dalam sampling ini adalah bank BUMN. Nah, penting buat kita ketahui ya gimana caranya kita bisa menghitung efisiensi seorang direksi atau seorang komisaris. Gampang aja. Kita tinggal cari aja berapa sih profit yang mereka hasilkan per kepalanya. Jadi, Teman-teman lihat di layar kaca Bank Mandiri di tahun 2024 menghasilkan laba 55,8 triliun. Sementara jumlah direksinya ada 12 orang. Artinya kalau 55,8 / 12, satu kepala direksi menghasilkan 4,7 triliun. Bagus atau tidak? Kita harus bandingkan dengan PI-nya. Jadi, PI-nya di sini ada siapa? Ada Bank BRI. Bank EBRI labanya 60,64 triliun dibagi 12 orang direksi. Maka per kepala direksi menghasilkan 5,1 triliun. Ketiga itu ada Bank BNI. Bank BNI cuma bisa menghasilkan 21,5 triliun labanya di 2024. Tetapi kalau dibagi ke 12 orang direksi, maka per kepala direksi cuma bisa menghasilkan 1,8 triliun. Lalu bagaimana dengan Bank BCA? Bank BCA labanya 54,8 triliun di tahun 2024. Kalau dibagi ke 12 orang direksi, maka per kepala direksi menghasilkan profit 4,6 triliun. Nah, kalau dari angka ini lu sudah bisa lihat ya, bank yang paling efisien itu adalah Bank BRI. Karena per kepala mereka bisa menghasilkan 5 triliun. Jauh di atas Bank BNI yang per kepala direksinya cuman bisa bawa pulang 1,8 triliun. Dan kenapa menarik untuk dibahas di sini? Karena ternyata Bang BCA ketahuan per kepala direksinya cuma bisa menghasilkan 4,6 triliun. Oke, jadi dari sini kita bisa lihat mana bank yang efisien, mana bank yang tidak efisien. Kalau kita masuk sekarang ke laba per komisaris, angka jadi lebih menarik karena ternyata komisaris di Bank Mandiri itu ada 10 orang. Sementara labanya 55,8 triliun yang artinya per komisaris bisa menghasilkan 5,5 triliun per kepalanya. Bank BRI menghasilkan 60,64 triliun labanya dibagi 10 orang komisaris, maka per komisaris menghasilkan 6,06 triliun. Lalu di sini ada Bank BNI, labanya kecil banget cuman 21,5 triliun, tetapi dibagi ke 11 orang komisaris yang artinya per komisaris cuma bisa menghasilkan laba setara 1,95 triliun. Dan yang terakhir, Bank BCA. Labanya 54,8 triliun. Kalau kita bagi ke li orang komisaris, maka per komisaris bisa menghasilkan laba setara 10,9 triliun. Nah, Teman-teman dari sini lu sudah bisa lihat ya, mana bank yang paling efisien. Kalau hari ini kita membicara tentang komisaris, maka yang paling efisien adalah Bank BCA. Karena Bank BCA satu komisarisnya bisa menghasilkan 10 triliun buat perusahaan. Sementara Bank BNI komisarisnya ada 11, tapi satu komisaris cuma bisa menghasilkan 1,9 triliun. Nah, penting ini buat disajikan sama teman-teman supaya bisa melihat bahwa oke by data ternyata ya kalau kita ngomongin komisaris hari ini hubungannya dengan tantim dan segala macam ternyata Bank BUMN ya performanya kalah jauh dibandingkan bank swasta. Karena contohnya di Bank BC aja mereka komisarisnya cuman sedikit tetapi bisa menghasilkan rupiah yang lebih banyak dibandingkan Bank BNI. Sementara yang lain gimana ya, Bank Mandiri, Bank BRI ya, 11 lah. Jadi dari sini kita bisa lihat standar industri. Jadi contohnya misalkan Bank BNI Danantara mau lihat valuasi logis enggak buat Bank BNI punya tantim segitu besar, komisaris sebegitu banyak, ada 11 orang tapi pengin punya rasio 10 seperti Bank BCA yang satu komisaris bisa menghasilkan 10 triliun buat laba perusahaan. Simpel aja, Bank BNI komisarisnya harus turun dari 11 orang ke dua orang. Yang artinya 21,5 triliun laba 2024 dibagi 2 orang per kepala artinya menyumbang 10,7 triliun. Ya kita bikin itu jadi standar industri aja bahwa apa ya 10 triliun per kepala itu atau kalau ke direksi ya kita sudah punya benchmark di range 4 sampai 5. Selama lu masih berada di range itu ya lu normal 4 sampai 5 triliun per kepala direksi. yang artinya kalau kita masukkan itu ke Bank BNI yang labanya cuma 21 triliun dalam 1 tahun. Logikanya ya berarti direksi lu enggak perlu sampai 12 orang, direksi lu 5 orang aja cukup. Selesai. Standar industri harus dipakai dong. Ya jujur aja gua kaget banget ya. Ada begitu banyak direksi komisaris ya di BUMNBUMN yang untungnya dalam studi kasus ini profit walaupun pertumbuhannya enggak signifikan. Tapi lu kan lihat ya, gua kritisi banget ya buat BWN khususnya perbankan ya, yang even sebetulnya profit loh, kondisi mereka enggak rugi. Tapi karena pertumbuhan yang enggak signifikan menurut gua aneh ketika bonus yang diterima komisaris direksi kok tumbuh signifikan. Tapi dasar lu tahu ya, negara kita ini memang negara ajaib. Bahkan ada loh BUMN yang betul-betul rugi posisinya. Rugi tapi tetap terima bonus yang luar biasa. Ini memang enggak masuk akal republik kita. Ini contoh Wijaya Karya ya. Wijaya Karya tahun 2024 itu bagi-bagi tantim tahun buku 2023. Total tantimnya itu senilai 617 juta. Ini pintar nih strategi mereka karena ternyata apa? Mereka gedenya di remunerasi alias honorarium. Honorarium di 2024 itu nilainya 11,5 miliar. Jadi lu bayangin ya ini yang dibilang sama Prabowo pintar-pintar banget nih pejabat-pejabat ini. Kadang-kadang dia bilang itu bonus, honorarium, tunjungan transport, THR dan lain sebagainya. Karena kalau kita lihat ya tunjangan transport aja sampai ratusan juta nih Wijaya Karya. Honorarium sampai miliaran. Tantimnya kecil cuman itu jutaan. Jadi pintar strateginya. Tapi satu yang mau gua bilang adalah lu tahu Wijaya Karya ini posisinya lagi untung apa rugi? Teman-teman bisa lihat di layar kaca ya. Di tahun 2024 kerugian Wijaya Karya itu 2,4 triliun. Di tahun 2023 kerugiannya 7,7 triliun. Ini gila ini, Guys. Ini perusahaan rugi. Tetapi faktanya apa yang terjadi? Mereka membagikan bonusan senilai 11,5 miliar, Guys. Posisi perusahaan rugi. Jadi, lu bayangin, Guys. Posisi perusahaan rugi. Rugi triliunan, tapi bagi-bagi bonus. Gua direksi sama komisaris karena kinerjanya yang luar biasa. Rugi triliunan, dapat bonus miliaran. Kan enggak masuk akal. Ini republik apa sebetulnya? Gua enggak kebayang ya kalau ada perusahaan swasta ya. Posisi perusahaan rugi, rugi, rugi triliunan masih dapat bonus bonus miliaran kan enggak masuk akal, Guys. So, anyway, Guys, kenapa sih ada perusahaan yang masih rugi? Dari tadi gua kritik terus perusahaan yang sebetulnya profit ya. Kayak Bank Mandiri, Ban itu ya profit, cuman pertumbuhannya enggak signifikan. Yang gua pertanyakan, kenapa pertumbuhan bonus komisaris, bonus tantim, remunerasi dan sebagainya kok bisa naik signifikan? Kan enggak masuk akal. Terus kemudian udah gua udah kasih contoh perusahaannya yang rugi-rugi rugi namanya Wijaya Karya. Kok bisa juga tetap dapat TTIM ini konyol. Ternyata ini karena ada peraturan mentn yang memang konyol, yaitu apa? Permen BUMN nomor 3 MBU03 2023. Yang intinya di situ kalau lu lihat ya, ternyata perusahaan rugi boleh bagi bonusan. Wow. Jadi, Teman-teman lihat ya isi pasal 1 ayat 43 di situ disebutkan definisi tantim adalah penghasilan yang merupakan penghargaan yang diberikan kepada anggota direksi dan dewan komisaris BUMN. Apabila BUMN bersangkutan memperoleh laba, sampai saat ini gua masih terima. Logis. Kalau dia memperoleh laba, dia boleh bagi tantim. Itu logis dan itu gua terima fakta itu. Tapi kemudian dilanjutkan dan tidak mengalami akumulasi kerugian. Nah, jadi dari situ sudah bisa lihat bahwa oh berarti kalau BUMN rugi boleh bagi tantim asal kerugiannya tidak bertambah. Oke, menarik nih. Karena kemudian di pasal 102 Peraturan Menteri BUMN yang sama juga dinyatakan bahwa apa? BUMN dapat memberikan tantim atau insentif kinerja kepada anggota direksi dan dewan komisaris bilamana kondisi BUMN yang bersangkutan tidak semakin merugi dari tahun sebelumnya untuk BUMN dalam kondisi rugi atau BUMN tidak menjadi rugi dari sebelumnya dalam kondisi untung. Jadi di sini memang itulah amazing-nya republik kita. Perusahaan yang tidak untung boleh bagi tantim. Perusahaan yang rugi boleh bagi bonusan, insentif kerja atau tantim atau apapun itu namanya. Yang menurut gua ya unik. Itulah uniknya Indonesia. Jadi perusahaan untung boleh bagi tantim, perusahaan rugi boleh juga bagi tantim. Luar biasa peraturan menteri BUMN ini ya. Walaupun beberapa logikanya mungkin masuk akal ya. Mungkin dia sudah melakukan segala hal yang terbaik, tapi perusahaan tetap rugi. Tapi setidaknya kerugiannya tidak bertambah, tapi malah berkurang. Harusnya dapat bonus dong. Hmm. Lu masih bisa enggak terima fakta itu? Menurut lu logis enggak perusahaan yang tetap rugi? Tetap rugi, tetap rugi tapi bagi bonusan. Masuk akal enggak sih menurut lu peraturan menteri BUMN ini? Atau memang mungkin harusnya direvisi sama Danantara? Karena sekarang kita sudah punya lembaga investasi yang powerful namanya Danantara. Makanya gua senang banget, Guys. Karena sekarang gua udah dengar ya, ada Danantara. Danantara itu lembaga pengawas ya. kita harapkan. Jadi bisa seperti tema seks Singapura yang bisa membantu mengawasi BUMN BUMN konyol di Indonesia. Salah satunya apa yang menurut gua aneh bagi-bagi tantim ketika perusahaan kondisinya rugi, rugi rugi, rugi, rugi. Tapi bagi-bagi tantim menurut gua itu enggak masuk akal. Nah, makanya ketika kemudian gua membuka, gua jadi penasaran, gua membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, di situ ternyata ada juga definisi tantim dan definisi tantim di Kamus Besar Bahasa Indonesia beda dengan di versi Menteri BUMN. Kalau menteri BUM posisi perusahaan rugi, boleh enggak bagi tantim? Boleh. Tapi kalau lu punya otak dan tidak buta mata dan buta hati, ternyata definisi tantim menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bukan menurut kamus menteri BUMN. Definisi tantim adalah sebagian keuntungan perusahaan yang dihadiahkan kepada karyawan. Kok beda? Definisi tantim menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia salah. Gila, Menteri BUMN bisa bikin definisi sendiri. Kalau menurut kamus besar bahasa Indonesia, bahasa Indonesia yang baik dan benar, Tantim itu sebagian keuntungan perusahaan yang dibagikan. Berarti kan perusahaannya harus untung, bego. Terus kalau perusahaannya rugi, bagi enggak? Ya menurut Menteri BUMN bagi aja, Gu. Makanya gua sangat apresiatif ya ketika kemudian Danantan Tara itu mengeluarkan peraturan baru, Guys, yang namanya S063 DIP7 2025. Jadi peraturannya dikeluarkan tanggal 30 Juli 2025. Surat yang ditandatangani langsung CEO danantara Rosan Roslani. Dan di situ ditulis secara jelas anggota Dewan Komisaris BUMN dan anak usaha BUMN tidak diperkenankan mendapatkan tantim insentif dan atau penghasilan dalam bentuk lain yang berkaitan dengan kinerja perusahaan. Luar biasa. Kasih sound effect. Tepuk tangan. Jadi di sini udah jelas lu enggak boleh terima tantim. Oke. Oke. Ini jauh lebih bagus, jauh lebih menyeluruh dan semuanya langsung udah jelas lu enggak boleh terima tantim. Yang gua enggak masuk di akal gua adalah kok bisa-bisanya ya Menteri BUMN membuat pernyataan bahwa perusahaan rugi itu bisa bagi tantim. Kok bisa-bisanya ya pejabat setingkat menteri ya, peraturan menteri BUMN bikin peraturan perusahaan itu kalau rugi bisa bagi tantim, bagi bonusan. Apa landasan berpikirnya kalau menurut lu? Apa guys? Makanya gua sih jujur aja ya. makin ke sini gua makin banyak yang aneh-aneh lah di republik ini memang harus kita luruskan. Jadi kalau ya salah ya bilang salah, kalau enggak benar ya bilang enggak benar. Nah, gua senang dengan Adanya danantara ya karena mereka punya visi misi yang dari situ kita bisa lihat bertujuan baik meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan aset negara supaya bisa memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Indonesia. Jadi BUMN ini bisa memberikan kontribusi positif bukan buat komisaris, bukan buat diacing. Kontribusi yang positif bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Makanya gua senang ketika kemudian Danantara memutuskan buat matikan itu semua tantim-tantim enggak jelas itu dan negara diprediksi ya kita bisa menghemat sampai 18 triliun guys dengan menghentikan pengeluaran tantim-tantim bonus-bonusan konyol itu. Nah kalau menurut lu gimana? Lu setuju enggak sih kalau seandainya bonus-bonus ini harus dikoreksi lah. Kalau perusahaan sudah bertahun-tahun rugi, bertahun-tahun rugi, kok bisa-bisanya masih bagi-bagi bonus? Kok enggak fair ya bagi rakyat ya? Apalagi masih banyak loh rakyat Indonesia yang enggak bisa makan dua kali sehari. Masih banyak loh. Kok bisa-bisanya ya mereka menikmati itu duit triliunan itu loh. Tapi ada yang bilang, "Pak, mereka kan sudah bekerja keras komisarisnya sampai 15 orang, 20 orang atau direksi sampai berapa tadi? Ada yang 10, 11 orang. Harusnya dikasih apresiasi lah menurut gua. Iya, wajar kasih apresiasi ketika perusahaan bisa bertumbuh, perusahaan bisa berkembang, perusahaan profitable. Menurut gua itu logika berpikir yang harus kita bangun dengan sistem meritokrasi. Ketika lu melakukan performa yang baik, wajar dong dikasih kompensasi yang baik juga. Iya dong. Dan ini logis sebagai pemegang saham karena gua pemegang saham dan antara pemegang saham. Mereka juga pengin dapat profit dari perusahaan yang profit. Jangan sampai perusahaannya rugi rugi rugi marah foya-foya bagi-bagi harta milik negara. Dibagi-bagi sama mereka pakai jalur tantim lah atau jalur kompensasi lah, jalur komisilah, jalur tunjangan lah, jalur remunerasi lah. Aneh. Jadi menurut kalian gimana? Lu setuju enggak sih dengan yang dilakukan Danantara? Ya mereka mau bikin efisiensi, tantim-tantim enggak jelas ini, komisi honorarium yang enggak jelas, bonusan ini dihilangin aja lah. Kalau lu pengin dapat, ya buktikan kinerja lu itu bagus. Lu setuju enggak sih dengan yang dilakukan Danantara? Atau memang sebaiknya ya udah bagi-bagi aja lah. Toh duitnya turun dari langit, toh yang bayar pajak manusia-manusia bodoh di Indonesia, kalangan kelas menengah, biarin aja mereka kayak budak bekerja keras, duitnya diambil, dirampas negara terus dibagi-bagi di atas. Lu setuju kayak begitu? Oke, guys. Ditunggu pandangan kalian seperti apa. Jangan lupa tulis di kolom komentar di bawah ini. Menurut lu sebaiknya seperti apa? Apakah kita harus lebih efisien kayak Bank BCA yang komisarisnya cuma 5 orang atau kayak Bank BNI yang udah provinnya kecil tapi komisarisnya bisa sampai 11 orang. Luar biasa. Hebat republik kita. Kaya raya pejabatnya. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat. Salam cuan. Bye bye. [Musik]