Transcript
Sk25qgNgH_Q • The Dominance of 9 Dragons Has Now Fallen, Protesters Must Watch This Video!! Don't Let Them Get ...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0409_Sk25qgNgH_Q.txt
Kind: captions
Language: id
Gua tadinya masih mencari-cari sampai
kemudian gua diundang di podcast
tersebut dan mendapatkan bocoran meeting
BOD di sana. Sekarang ceritanya jadi
jelas bahwa ini semua adalah perang
bisnis. Pengusaha oligarki lokal
dirugikan oleh Donald Trump.
Good news Malaysia. Akhirnya tidak
sia-sia ya Perdana Menteri Malaysia
Anwar Ibrahim orang nomor satu di
Malaysia terbang ke Indonesia untuk
berguru langsung dengan Prabowo. Gimana
caranya sih bisa dapat diskon tarif
Donald Trump?
[Musik]
Karena ternyata ilmu yang diturunkan
Prabowo ke Perdana Menteri Malaysia
berhasil membantu Malaysia mendapatkan
tarif 19% sama seperti Indonesia. Wah,
berarti enggak sia-sia nih Perdana
Menteri Anwar Ibrahim berguru terbang ke
Indonesia langsung kepada Presiden
Prabowo. Wah, luar biasa. Tapi yang jadi
pertanyaan penting, Guys. Sebetulnya
kalau seandainya Malaysia dapat 19%,
terus kemarin juga kita tahu ada
Thailand dapat 19%, Kamboja 19%,
Filipina juga 19%. Artinya Indonesia
enggak lagi spesial dong di mata Amerika
Serikat. Apa benar begitu? Dan apakah
ini artinya Indonesia dirugikan sama
Amerika Serikat? Kalau ah penasaran,
jangan dikip video ini karena kita akan
bahas dengan detail sebenarnya Indonesia
diuntungkan atau dirugikan dengan tarif
19%. Let's check this out.
Jadi, Teman-teman kalian tahu ya negara
Asia Tenggara itu banyak. Ada Thailand,
ada Vietnam, ada Laos, ada Kamboja,
Singapura, Indonesia, Brunei dan lain
sebagainya. Tidak termasuk Timur Leste
yang baru saja merdeka. Anyway, kita
bahas satu-satu ya di negara di Asia
Tenggara yang pertama itu Laos. Slaos
itu tarif lamanya 48% sekarang jadi 40%.
Myanmar tarif lama 44% sekarang jadi
40%. Lalu ada Brunei tarif lama 24%
sekarang 25% malah naik nih 1%. Lalu
kemudian ada Vietnam tarif lama 40%
sekarang 20%. Nah terakhir ini ada
Kamboja tarif lama 49% tarif baru 19%.
Lalu ada Indonesia sendiri dulu 32%
sekarang 19%. Tetangga kita Malaysia
berkat bantuan Presiden Prabowo mereka
berhasil mendapatkan tarif baru 19%
padahal sebelumnya 24%.
Filipina tarif lama 17% sekarang 19%
seperti Indonesia. Begitupun Thailand
dulu 36% dan sekarang tinggal 19%. So,
dengan ini lu bisa lihat ya, bahwa
inilah faktor geopolitik. Karena artinya
Indonesia dirugikan atau tidak itu kamu
bisa lihat di akhir video ini kesimpulan
yang akan menjawab pertanyaan kamu.
Karena kalau benar Indonesia lebih
spesial dibandingkan negara lainnya,
kenapa tarifnya sama-sama 19%? Nah,
untuk menjawab pertanyaan ini sebetulnya
Indonesia dirugikan atau enggak sih
dengan tarif 19%? Lu harus tahu dulu
nyawa kita itu seperti apa, nyawa
Indonesia ke Amerika Serikat itu seperti
apa. Karena ternyata ekspor Indonesia ke
Amerika Serikat nilainya ya di year to
date ya, Januari sampai bulan Maret 2025
itu nilainya sudah lebih dari 7.000 juta
dolar loh atau lebih tepatnya 7,3 biliun
dar alias setara 120 triliun. Wow,
lumayan loh 120 triliun nilai ekspor
kita. Nah, untuk mengetahui Indonesia
sebetulnya dirugikan atau tidak, kita
lihat aja dulu daftar komoditasnya.
Teman-teman bisa lihat ya, three lah
atau top four lah, produk-produk yang
kita ekspor ke Indonesia tentu
banyaklah. Ada ikan, ada udang, ada
karet segala macam. Kita enggak bahas
itu karena nilainya kecil. Kamu bisa
lihat di layar kaca produk kita paling
banyak, paling nilainya paling tinggi
itu adalah mesin dan perlengkapan
elektronik itu 1,2
billion dollar. Peringkat dua, ada alas
kaki, sepatu, sendal, dan lain
sebagainya. itu 6657 juta. Lalu ada
pakaian dan aksesoris itu 629 juta. Lalu
pakaian dan aksesoris yang bukan dalam
bentuk rajutan itu nilainya 568 juta. Do
kalau kita gabungkan, Guys, artinya
sektor yang paling banyak menyumbang
dolar bagi devisa negara kita itu adalah
yang berhubungan dengan fashion, alas
kaki, baju, celana, ya, baik yang
rajutan maupun bukan rajutan. Karena
nilainya itu aja udah lebih dari 1.300
juta dolar alias 1,3 billion dolar. So,
kalau kalian mau tahu dengan pasti kita
diuntungkan atau dirugikan ya kita ambil
aja sektor yang paling cuan itu buat
Indonesia. Kita mau bahas sektor fashion
ini. Yang pertama apa? Industri alas
kaki. Nah, teman-teman bisa lihat ya
data menunjukkan ya industri alas kaki
hari ini adalah penyumbang tenaga kerja
terbesar. Nah, buat teman-teman ya ini
kita punya data ya. Data membuktikan di
2025 bulan Februari, sektor yang banyak
menyerap tenaga kerja itu adalah sektor
salah satunya alas kaki. Karena di tahun
2025 bulan Februari itu sudah ada lebih
dari 750.000
tenaga kerja yang diserap dari sektor
alas kaki. Padahal tahun sebelumnya di
Februari 2024 cuma Rp549.000
saja. Dan ini pertumbuhan yang luar
biasa, Guys. Artinya lebih dari 200.000
penciptaan tenaga kerja baru loh dari
sektor alas kaki ya, fashion ya. Dan
kenapa ini penting dan ini harus
dilindungi? Soalnya ternyata nyawanya
adalah jualan ke Amerika. Makanya kalau
lu kaget ya Benix kok kemarin diundang
podcast segala macam. Gua spesifik
banget ya bahas soktor footware, alas
kaki, gandum segala macam ya. Karena
kita harus fokus dengan komoditas yang
penting yang ada cuannya buat bangsa ini
dan menyediakan lapangan kerja buat
bangsa kita. Nah, berdasarkan data
ternyata industri alas kaki kita itu
bergantung kepada Amerika Serikat.
Karena faktanya Amerika Serikat itu
mengimpor begitu banyak alas kaki dari
lima negara besar ini di dunia. Yang
pertama peringkat satu itu Cina. Cina
itu R3 triliun impor alas kaki Amerika
Serikat dari Cina. Amerika juga impor
dari Vietnam nilainya 149 triliun.
Peringkat du peringkat 3 ada Indonesia
itu R2 triliun. Peringkat 4 ada Italia
itu R2 triliun. Peringkat 5 ada Kamboja
14 triliun negara judi online. Nah, dari
sini kita bisa lihat bahwa oh ternyata
Indonesia itu diuntungkan dengan perang
tarif ini. Kita enggak usah ngomong
Italia Kambaala, enggak. Kita fokus di
top three-nya aja kompetitor kita.
Pertama Cina, Guys. Di bisnis alas kaki.
Cina itu ekspor alas kaki senilai R3
triliun. Tapi mereka sekarang sudah
menangis karena kena tarif 55%.
Yang ke peringkat dua, Vietnam nilai
ekspor sepatu sendal ke Amerika Serikat
itu R9 triliun. Tapi dengan tarif baru
mereka kena 20%. Nah, peringkat 3
Indonesia. Ternyata Indonesia cuma 42
triliun nilai ekspornya, tapi sekarang
tarifnya lebih kecil, cuman 19%.
Artinya dari top three negara-negara
yang hobi ekspor ke Amerika Serikat di
industri sepatu sendal, Indonesia adalah
negara dengan tarif paling kecil. Jadi
kalau dibilang Indonesia dirugikan tidak
juga. Yang jauh lebih dirugikan adalah
eksportir terbesar China 55%. Dan dengan
logika berpikir seperti itu, kalau lu
adalah pengusaha pabrik sepatu, sendal
di Cina, lu masih mau bertahan di Cina
atau lu akan pindah ke negara yang
tarifnya paling kecil? Dan kalau lihat
negara-negara dengan tarif yang paling
kecil, tentu lu enggak pergi ke Vietnam
yang 20%. Kemungkinan besar lu juga akan
buka pabrik di Indonesia yang lebih
kecil dari Vietnam. Karena Indonesia
cuma 19%. Jadi dari sini lu sudah bisa
lihat bahwa hei artinya dengan tarif ini
kita diuntungkan dibandingkan tetangga
kita di Asia ini. Oh gitu tuh. Terbuka
enggak pikiran lu sekarang? Ini adalah
potensi buat Indonesia bisa men-download
duit R3 triliun yang biasanya ekspor
dari Cina ke Amerika. Lalu setengahnya
aja pindah ke Indonesia R triliun.
Artinya teman-teman bisa melihat akan
ada jutaan lapangan kerja baru yang
diserap oleh Indonesia. Karena posisi
hari ini kita itu cuma 42 triliun ekspor
ke Amerika. Itu aja bisa menyerap
750.000 tenaga kerja cuman dengan nilai
bisnis 42 triliun. Kalau tiba-tiba dapat
lagi bisnis senilai R80 triliun, artinya
akan ada peningkatan tiga kali lipat.
Artinya di bisnis sepatu sendal tadinya
cuman bisa menyerap R50.000
tenaga kerja. Dengan pindahnya investasi
dari Cina, kita bisa nyerap tenaga kerja
baru minimal Rp1.500.000
orang. Gila enggak, Guys? 1,5 juta
lapangan kerja baru akan tercipta karena
akan makin banyak pabrik-pabrik sepatu
yang bangkrut di China. So, this is a
good news atau bad news. Lalu, selain
itu, business fashion. Tadi kan kita
udah sepakat yang paling besar ya kalau
dikombinasikan itu adalah aparel ya.
Namanya aparel itu pakaian lah. Ada di
situ topi lah, ada di situ sweater lah,
ada di situ jaz, jaket, jeans dan lain
sebagainya. Nah, aparel teman-teman tahu
Indonesia itu ekspor aparel ke Amerika
Serikat nilainya 34 triliun per tahun.
Kita cuma peringkat lima. Eksportir
terbesar nomor 5 ke Amerika Serikat di
bidang aparel. Nah, kompetitor kita
siapa, Om Ben? Di bidang aparel?
Ternyata peringkat satunya lagi-lagi
Cina 127 triliun. Peringkat dua, Vietnam
ekspor aparel 111 triliun ke Amerika.
Peringkat 3 ada Bangladesh 78 triliun ke
Amerika. Peringkat 4 ada India ekspor
aparel 40 triliun ke Amerika. Baru
kemudian Indonesia R4 triliun. Nah, kita
bahas satu-satu deh. Peringkat 1 Cina
127 triliun, tarifnya ternyata 55% lebih
tinggi dari Indonesia. Musuh kita
Vietnam 111 triliun nilai ekspornya.
Tarifnya berapa? 20% lebih unggul
Indonesia. Bangladesh R8 triliun,
tarifnya 20% lebih bagus Indonesia 19%.
India nilai bisnisnya R0 triliun,
tarifnya 25%. Ngeri, Guys. Ngeri nih.
Jauh lebih tinggi dibanding Indonesia
yang cuma 19%. Jadi kalau dari sini lu
bisa lihat ya di bisnis aparel Indonesia
dengan adanya perang tarif ini
diuntungkan atau dirugikan? Ternyata
kita sangat diuntungkan karena
Bangladesh jadi tidak kompetitif, India
jadi tidak kompetitif, China yang paling
dewa jadi tidak kompetitif. Artinya,
Guys, kalau produk Cina bakal 55% lebih
mahal masuk di Amerika. Kalau lu pemilik
pabrik aparel di China, lu lebih pilih
bertahan di situ, tapi barang lu jadi
enggak kompetitif melawan India yang 25%
atau lu lebih pilih pindah? Gua yakin lu
pindah. Dan kalau pindah, lu mau pindah
ke mana? Ke India 25%. Tentu tidak dong.
Pilihannya apa tadi yang menarik? Maybe
Vietnam tapi 20% atau Bangladesh 20%
atau Indonesia. Jadi di sini lu bisa
lihat guys bahwa Indonesia ya jujur aja
memang diuntungkan kalau terjadi perang
tarif ini. Karena sekarang negara
Indonesia walaupun cuma peringkat 5 ya
Indonesia di 34 triliun tetapi Indonesia
akan menjadi negara eksportir aparels
yang paling murah dengan tujuan Amerika
Serikat. Menarik kan? Nah kalau kita
bicara aparel pasti suka enggak suka
kita akan bicara bahan baku aparel yaitu
tekstil. Nah, Indonesia ternyata selama
ini masuk ke negara top six tekstil ke
Amerika Serikat. Sedih banget kita cuma
peringkat 6 loh. Nilainya cuma R7
triliun. Nah, buat teman-teman, total
ekspor tekstil ke Amerika Serikat itu
nilainya ribuan triliun setiap tahun.
Tetapi kue terbesar dinikmati oleh Cina.
Cina mendapat triliun dari hasil ekspor
mereka ke Amerika Serikat. Vietnam
peringkat 2 R139 triliun. Kamboja
peringkat 3 45 triliun. Ada Bangladesh
peringkat 4 triliun lalu diikuti India
dengan 39 triliun. Nah, Indonesia
sendiri rankingnya ada di peringkat 6 di
bawah India dengan nilai 37 triliun.
Nah, buat teman-teman jadi diil sudah
tahu ya kalau Indonesia mau menjadi
penguasa bisnis tekstil, lawan yang
harus kita hancurkan itu ada Cina, ada
Vietnam, dan yang lebih murah dari kita
itu ada Bangladesh, ada India, dan
ternyata negara judi online yang namanya
Kamboja yang sibuk kita perkaya. So
anyway dari angka-angka tadi kan itu
adalah kompetitor kita di bidang
tekstil, ternyata Indonesia adalah
negara dengan tarif paling murah bersama
Kamboja. Karena peringkat satu Cina 180
triliun itu tarifnya 55% enggak
kompetitif. Pindahlah dia kabur ke
peringkat 2 Vietnam R139 triliun tapi
tarifnya 20% enggak menarik. Terus Cina
pindah ke India. India menarik enggak?
India 25% enggak ada menarik. So pindah
ke mana yang menarik ya pilihannya? Ya,
kalau mau ke Kamboja 19% cuman lu ada
resiko kena bom kan lagi main
tembak-tembakan sama Thailand atau ya
pindah ke Indonesia yang 19%. Jadi dari
sini teman-teman bisa lihat lah akan
makin banyak ya pabrikan Cina dan
pabrikan India yang pindah ke Indonesia
kalau masih mau ekspor ke Amerika
Serikat dengan tarif yang kompetitif.
So, is this a good news atau bad news
buat teman-teman pelaku usaha di bidang
tekstil? Nah, sebelum kita maju ke tahap
selanjutnya berbicara soal pangan, ya.
Jadi dari sini lu bisa lihat ya, peta
geopolitik dunia itu spesifik banget.
Yang mau diserang oleh Amerika Serikat
ternyata bukan kita. Kalau dari situ
kamu bisa lihat ya, Indonesia 19%,
Malaysia 19%, Filipina 19%, Kamboja 19%,
Vietnam 20%. Kalau lu lihat di peta ini,
ini semua adalah negara-negara yang
berada di pinggiran Cina, negara Asia
Tenggara yang mengelilingi Cina. Mereka
semua dibikin tarif yang sama, rata sama
rasa. Sebetulnya kalau gitu yang diincer
siapa sama Donald Trump? Kalau lu pintar
dan pakai akal sehat, berarti yang
pengin diincar oleh Donald Trump adalah
deindustrialisasi. Supaya ekonomi Cina
makin hancur, dia berharap dengan
blokade 55% akan makin banyak pabrikan
dari Cina yang pindah ke Asia Tenggara.
Jadi sekarang yang dilakukan Donald
Trump adalah bagi-bagi kue. Selama ini
Amerika Serikat ngasih duit triliunan
dolar ke Cina, ke pabrik-pabrik di Cina.
He doesn't wanna to do it no more. Udah
enggak mau lagi gua ngasih duit sama lu.
Kalau lu mau lu keluar dari sana.
Artinya di sini adalah kode keras Donald
Trump kepada pengusaha asli Republik
Rakyat Cina. Dan buat teman-teman yang
paham geopolitik, artinya posisi Cina
itu betul-betul dikepung. Cina dan
negara-negara pinggirannya. Di situ ada
Jepang, tarifnya lebih murah. Di situ
ada Thailand, ada Vietnam, ada Kamboja,
ada India. Tarifnya lebih murah. Kalau
ini dibiarkan terus-menerus, maka apa
yang terjadi itu cuman dua. Pengusaha
pada lari dari Cina. Cina dipaksa untuk
berperang melawan Amerika Serikat. Lu
harus bayangkan juga posisi Cina. Kalau
makin banyak pengusaha lu yang tersedot
keluar ke negara-negara Asia Tenggara,
apa yang terjadi? Dia marah atau dia
sedih? Udah pasti dia sedih dong. dan
dia akan lakukan segala cara supaya
bisnis di negaranya tetap lebih seksi
dibanding berbisnis di negara lain. So,
itu tentang perang tarif, Guys. 19% yang
kita alami apakah Indonesia dirugikan?
Tidak. Faktanya Indonesia diuntungkan
dan gua sangat yakin akan terjadi
deindustrialisasi skala besar di Cina
dengan catatan ya. Good news nih, Guys.
Buat kamu para investor saham yang mau
bergabung di Benix Investor Group,
sekarang kita ada diskon khusus 17%
hanya untuk 17 orang pertama yang
mendaftar sebelum 17 Agustus 2025. Jadi,
kamu dapat diskon besar. Tadinya bayar
Rp50 juta untuk setahun, sekarang
tinggal R1 jutaan saja. So, tunggu
apaagi? Segera daftarkan dirimu sekarang
juga loh. Karena cuma di Benix Investor
Group kamu bisa datang investigasi
langsung bareng Benix. namanya Big
Investigation seperti investigasi BENXIX
di perusahaan kelapa sawit yang ada di
Bangka Belitung, perusahaan yang ada di
Sumatera, perusahaan yang ada di
Kalimantan, di Sulawesi, lu bisa dapat
akses langsung ketemu dengan direktur
perusahaannya, ngobrol bareng sama
manajemen perusahaannya, bahkan lihat
langsung operasional perusahaannya
seperti apa sih. Ingat ya, investasi itu
kan real, jangan sampai lu investasi
bodong. Itu namanya beli kucing dalam
karung. Makanya penting buat kalian bisa
ikut di Big Investigation. Bukan cuman
itu, Guys. Kita juga ada namanya Big
Gathering. Jadi, ini ngopi-ngopi bareng
santai lah. Kita selalu bikin nih, ngopi
santai bareng Benix. Ada di Singapura,
ada di Jakarta, ada di Semarang, di
Jogja, di Bali, di mana-mana lah.
Teman-teman bisa ikut buat ngobrol
langsung tentang investasi kamu. Nah,
buat Teman-teman yang enggak bisa hadir
secara fisik, kita juga ada pertemuan
online. Jadi, sebulan ada tiga kali
every weekend live langsung sama Benix
bisa tanya jawab langsung soal
perjalanan investasi kamu. Kita juga ada
sharing, kamu bisa dapat rekamannya,
video-video edikasi khusus untuk Benix
Investor Group. Nah, yang seru kita ada
gala dinner. Next. Gala dinner itu di
tanggal 29 Agustus bulan depan. kamu
harus segera daftar karena kita akan
mengundang direktur dari perusahaan yang
omset-nya ribuan triliun, Guys, buat
berbagi ngobrol bareng gimana sih
strategi investasinya di tengah perang
tarif Donald Trump. Wow, emiten-emiten
apa aja yang siap atau bahkan enggak
siap? Tentunya sih dari setiap peristiwa
ada opportunity yang kita bisa dapat.
Makanya penting banget buat kamu bisa
join ke gala diner Benix setahun sekali
kita adakan next gala dinner di tanggal
29 Agustus 2025. Oke, guys. Segera
daftarkan dirimu sekarang juga. Ingat
ya, diskon 17% cuma untuk 17 orang
pertama yang daftar sebelum 17 Agustus
2025. Segera kunjungi www.benix.id atau
hubungi nomor yang ada di bawah ini
08113220886.
Yuk, segera gabung dan daftarkan dirimu
menjadi bagian dari komunitas saham
paling seru di Indonesia bersama Benix
Investor Group. Dengan catatan ya,
Indonesia berhasil membuat diri kita
lebih seksi dibandingkan Vietnam. Dari
segi regulasi yang lebih ramping, dari
segi korupsi yang diberantas habis, dan
yang paling pasti ormas harus
dibinasakan, Guys. Karena ini bakal
menghalangi investasi asing. Seperti
kejadian kemarin tuh, Candra asli bikin
pabrik di demo enggak jelas. Belum lagi
di Jawa Barat demo enggak jelas.
Akibatnya investor takut dong. Itulah
kisah kita bersama 19%. Semoga lu makin
jelas, makin clear bahwa apakah
Indonesia dirugikan ketika Malaysia 19%,
ketika Kamboja 19% dan enggak. kita
diuntungkan karena justru itu akan makin
banyak menyerap investor asing ke
Indonesia. Oke, jadi sekarang sudah
jelas ya bahwa Indonesia diuntungkan
dengan tarif 19% karena
kompetitor-kompetitor kita di
bisnis-bisnis sejenis yang hasil
ekspornya sama ya tadi gua udah bilang
bisnis fashion utamanya ada baju,
sepatu, sendal, dan tekstil danin
sebagainya kita diuntungkan. Sekarang
kita bahas tentang pangan ini biar clear
A sampai Z kita bahas tuntas. Terus
sekarang gimana soal tarif yang 0% dari
Amerika ke Indonesia? Apakah Indonesia
dirugikan? Tidak jawabannya semoga jelas
dulu. Ingat ya. Pertama, tarif 19% itu
yang bayar siapa? Bukan Indonesia. Yang
bayar adalah Amerika Serikat. Rakyat
Amerika yang impor barang di sana.
Ketika barangnya sampai ke pelabuhan, di
pelabuhan dia harus bayar 19% lebih
mahal. Jadi kalau dia harusnya impor
cuma R1 juta, sekarang mereka harus
bayar R1 juta plus Rp10.000. Itulah
tarif 19%. Yang bayar orang Indonesia no
yang bayar orang Amerika Serikat. Tapi
kalau dibikin lebih mahal jadi enggak
kompetitif dong kita bikin aja 50% toh
yang bayar orang Amerika Serikat. Ya
bisa aja begitu tapi kan akibatnya jadi
enggak kompetitif. Produsen akan pindah
ke tempat lain yang tarifnya lebih
kompetitif. Nah beruntung bagi kita
ternyata di kawasan Asia Tenggara untuk
bisnis fashion yang nyawanya ada di
Amerika Serikat itu alas kaki, sepatu,
sendal, baju, rajutan, aparel, tekstil,
dan sebagainya kita itu punya tarif yang
paling kompetitif. Next kita bicara soal
yang 0%. Nah, Indonesia katanya
diperbudak, Pak. Kita kan harus impor
gandum, kacang kedelai dan lain
sebagainya dari Amerika Serikat.
Faktanya petani kita bakal makin miskin
nih, makin dijajah. Apa iya itu terjadi,
Pak? Kok rakyat makin banyak yang
dipajakin? Giliran petani Amerika
Serikat kita tidak pajaki, Pak. Mereka
bayar 0%. Tunggu dulu. Lu cek dulu
komoditas apa yang sebetulnya kita
impor. Ternyata ada enggak ada Donald
Trump? Republik Indonesia itu memang
mengimpor banyak makanan seperti beras,
gula, kedelai yang di tahun 2024 aja
jumlahnya hampir mencapai 83 triliun,
Guys. Yang pertama beras, ya. Jadi beras
aja di tahun 2024 ya kita itu impor
lebih dari 3 juta ton alias nilainya
lebih dari 30 triliun. Mayoritas dari
Thailand tuh nilainya 700 juta. Do
peringkat dua ada Vietnam 600 juta. Do
peringkat 3 ada Pakistan 200 juta dolar.
Artinya ada enggak ada Donald Trump kita
memang impor beras. Terus next kita maju
ke gula. Ini bahan pangan juga loh. Gula
ada enggak ada Donald Trump? Kita memang
impor gula sampai lebih dari 3,6 juta
ton atau setara R3 triliun. Sumber utama
impor gula kita adalah Brazil. Nilainya
1,2 miliar US Dar. Setelah itu ada
Thailand lagi nih nilainya 500 juta. Do
lalu apaagi, Pak? Ada kedelai. Lu kan
hobby ya makan martabak. Lu hobi makan
ayam goreng pakai tepung, lu hobi makan
mie, ada mie goreng lu suka mie rebus,
mie instan, apapun itu. Itu semua
bikinnya pakai tepung terigu. Tepung
terigu berasal dari gandum. Gandum bisa
enggak ditanam di Indonesia? Enggak bisa
karena dia makanan subtropis. So, memang
lu harus tanam itu di negara-negara
subtropis yang hobi makan roti karena
roti juga dari gandum. Contohnya apa?
Gampang, Pak. Negara yang suka makan
roti siapa? Lah lu tahulah orang Eropa,
Jerman, orang Belanda, orang Kanada,
orang Amerika, orang Australia. Nah,
itulah negara-negara subtropis. Jadi,
jangan heran kalau Indonesia pasti
banyak sekali impor dari negara-negara
seperti itu. Kita memang enggak tanam
itu. Aneh gua menurut gua pun kalau kita
nanam itu artinya apa? Ada enggak ada
Donald Trump pasti kita impor
komunitas-komitas itu. Jadi, data
membuktikan ya tahun 2023 kita impor 2,2
juta ton kacang kedelai. ternyata hampir
2 juta ton dari Amerika Serikat sendiri.
Artinya ada enggak ada Donald Trump?
Memang kita buang duit triliunan buat
impor kacang kedelai dari Amerika.
Artinya Donald Trump kecelai dong sama
Indonesia. Iya soalnya ada enggak ada
Donald Trump memang kita impor itu dari
Amerika Serikat. Peringkat dua ada
Kanada 200.000 ton. Peringkat 3 ada
Brazil 24.000 ton. Lalu ada Argentina
23.000 ton. So, Teman-teman ini
membuktikan bahwa kalau banyak orang
bernarasi Indonesia dibodohi, Indonesia
memperkaya petani Amerika Serikat,
padahal ada enggak ada Donald Tr memang
kita impor kacang kedelai. Buktinya lu
kan sukanya makan tahu tempe. Tahu tempe
kan dari kacang kedelai. Lu kan suka
makan nasi goreng pakai kecap. Kecapnya
dari kacang kedelai. Lu juga suka minum
susu soy milk, susu kedelai. Dari mana?
Bukan dari Indonesia, Guys. Karena kita
enggak bisa tanam itu. Jenis kacang
kedelai yang tumbuh di Indonesia itu
enggak enak rasanya. Kalah sama Amerika
Serikat. So, apa yang terjadi? Ya, kita
impor itu dari luar negeri. Ada enggak
ada Donald Trump? Kita memang impor 25
triliun. Hampir 100% kacang kendelai
kita impor. Hampir 100% gandum kita
impor. Memang enggak bisa tumbuh di
sini. Pilihannya apa? Ini kan mustahil.
Sama aja lu pengin beli durian dari
Jerman. Ya, enggak mungkin. Lu mau beli
rambutan mangga dari Jerman enggak
mungkin. Beda iklim loh. Nah, ini
kejadian juga di Gandum. Teman-teman
tahu ada enggak ada Donald Trump tahun
2024 Gandum itu kita impor 12 juta ton.
Nilainya setara 60 triliun. Ini jumlah
yang fantastis. Artinya apa? Indonesia
ada enggak ada Donald Trump memang
membutuhkan gandum ini. Dan siapa yang
memberikan kita gandum selama ini?
Ternyata Australia nilainya 00 juta. Do.
Lalu Kanada 900 juta dolar juga. Lalu
ada Ukraina 700 juta. Do. Setelahnya ada
Argentina 400 juta. Do lalu ada Rusia
400 juta. Do-lagi
ada Amerika Serikat 200 juta dolar. Nah,
ini membuktikan kalau seandainya terjadi
perang dagang ini dan kita beli ban
pangan 0% yang diuntungkan siapa?
Sebetulnya Amerika Serikat kita memang
impor ratusan juta dolar dari mereka
tapi yang paling dirugikan adalah
negara-negara yang selama ini kita impor
yaitu dari Ukraina, Argentina, Kanada,
Rusia. Itulah yang pengin diserang sama
Amerika Serikat bahwa nanti yang
dirugikan yang selama ini jadi supplier
di sana. Artinya ya ada enggak ada
Donald Trump memang kita impor gandum
dari Amerika Serikat dan dari
negara-negara lain karena hampir 100%
gandum memang Indonesia tidak bisa tanam
bisanya impor. Bahkan satu perusahaan
yang namanya Indofood aja mereka belanja
di tahun 2024 itu setara 500 juta dolar
buat beli gandum doang. Gila ya. Dan
nilai impor kita kan 3,6 miliar dolar.
Kalau Indofood itu aja nilai impornya
500 juta dolar. Artinya Indovid itu
impor gandum itu setara 13,33%.
Makanya jangan heran kalau lu hobi
banget makan mie rebus atau mie goreng,
mie instan, most likely ya yang lu makan
adalah produknya Indofood dan mereka
memang penting dan wajib buat impor itu
karena memang enggak ada petaninya di
Indonesia. Nah, terus gimana soal
energi, Pak? Katanya kita mau
diperbudak. Oh, tunggu dulu. Lu udah
ngerti kan? Jadi ya intinya mau bahan
pangan apapun tadi lu sebut, kacang
kedelai lah atau gandumlah, ya. Faktanya
memang kita impor dari negara lain
karena kita enggak bisa tanam itu di
sini. Semoga lu cukup paham bahwa
Indonesia enggak dirugikan dengan itu.
Sekarang kita ngomong yang faktual,
energi. Karena ada yang bilang energi
Indonesia wajib belanja itu dari Amerika
Serikat. Betul. Ini adalah pembodohan
terbesar dalam sejarah negara kita.
Kenapa? Ada enggak di Amerika Serikat
posisi Indonesia adalah net importir
minyak? Jadi, kamu bisa lihat di layar
kaca ya ada enggak ada Donald Trump ya.
Kita itu sudah impor lebih dari 634
triliun sejak 1 tahun terakhir dari
Maret 2024 sampai Maret 2025. Artinya
kita impor itu lebih dari 39 biliun
dolar. Nah, ini jumlah yang fantastis
dan mengerikan. Kenapa mengerikan?
Karena kita impor minyak dalam bentuk
yang sudah jadi itu dari Singapura.
Karena mereka bangun kilang kilang
kilang kilang. Mereka salah satu
eksportir minyak terbesar di dunia. Lu
bayangin enggak punya minyak bumi, tapi
jadi eksportir minyak terbesar di dunia.
cuma ya udah diolah ya jadi bensin, jadi
diesel, Pertamax Plus apa dan lain
sebagainya lah. Nah, kalau dalam bentuk
crut kita impor juga bahan baku minyak
bumi masih kotor itu kita impor tentu
dominasinya dari negara-negara Timur
Tengah lah seperti Saudi Arabia, Uni
Emirat Arab, Qatar, Nigeria, bahkan
Australia. Nah, jadi dari sini
teman-teman bisa tahu bahwa Indonesia
diperbudak nih karena ada enggak ada
Donald Trump memang kita impor minyak
dari Timur Tengah dalam bentuk grut
mentah bahan baku atau dalam bentuk jadi
dari Singapura. Memang kiri kanan kita
kena tipu dan ada enggak ada Donald
Trump memang kita impor energi dari luar
negeri. Sekarang yang dilakukan oleh
Donald Trump malam menurut gua bagus.
Kita selama ini dikuasai oleh mafia
migas bersarang di Singapura yang
sekarang lagi masuk DPO ya dicari sama
kejaksaan. Nah, ini bisa jadi momen buat
bersih-bersih karena sekarang pasti
Singapura terkencing-kencing. Kita dari
kemarin diperbudak Singapura. Sekarang
kita punya kesempatan eh bersih-bersih
Singapura. Kita punya supplier lain,
kita bakal ambil barang dari Amerika
Serikat. So, I think this is a good
news. Nah, satu yang menarik itu LPG.
Ini gua pengin bikin video khusus ya
mengenai pembodohan di republik ini.
Teman-teman tahu sejarah LPG. Indonesia
hari ini adalah importir terbesar LPG
dan kita impornya dari Amerika Serikat.
Sekali lagi ada enggak ada Donald Trump?
kita impor LPG dari Amerika Serikat. Kok
bisa, Pak? Ya, inilah pembodohan
kemiskinan Indonesia secara terstruktur
dan masif melalui program LPG ini. Zaman
dulu Indonesia itu di daerah-daerah
kalau masak pakai minyak tanah. Tapi
kemudian ada orang pintar, cerdas, dan
brilian berpikir minyak tanah itu kan
kotor, merusak lingkungan. Inilah
agen-agen asing nih brengsek emang.
Terus gimana caranya? Ya pakai aja LPG.
Nah, si Tol Serakah ini memang punya
program dia diuntungkan dengan LPG tapi
faktanya Indonesia tidak memproduksi
LPG. Indonesia adalah produsen LNG,
salah satu terbesar di dunia. Jangan
kaget, kita itu harus impor gas LPG dari
Amerika Serikat. Gas melon, lu, gas pink
lu, gas biru lu. Itu semua made in USA,
Guys. Terus kita memang enggak punya
gas, Pak. Katanya negara kita kaya raya.
Gas kita kita ekspor bahkan ke Jepang
harganya murah. Namanya LNG. Nah, gas
LNG ini harganya sangat murah dan sangat
menguntungkan dibandingkan LPG. LPG
harga aslinya itu Rp16.000 R.000 per kg,
Guys. Tapi lu diubsidi sama negara
Rp12.000.
Contoh yang paling gampang ya, gas LPG
lah. Lu mungkin beli gas LPG itu
angkanya berapa sih? Tergantung wilayah
lah ya. Mungkin ada yang dapat 16.000
sekilo, ada yang dapat Rp2.000 sekilo
atau R25.000 sekilo itu ternyata
komponennya 70% itu adalah subsidi.
Artinya negara kita ini begitu bodohnya
mensubsidi terus-terusan gas LPG,
program yang sangat konyol hanya untuk
memperkaya ya lu tahu sendirilah siapa
nama pejabatnya dan permainannya seperti
apa. Padahal di saat yang sama Indonesia
itu ekspor gas ke Jepang dengan harga
yang sangat murah. Kita ekspor gas ke
seluruh dunia dengan harga yang sangat
murah tetapi gasnya LNG. Nah, kalau
dengan logika berpikir seperti itu, oke,
Indonesia tidak kayak minyak bumi, tapi
kayak LNG. Logikanya kenapa kita pakai
LPG? Ya padahal LPG harus impor dari
Amerika. Kenapa kita tidak pakai gas LNG
yang harganya jauh lebih murah
dibandingkan gas LPG? Karena kalau kita
semua berubah menjadi pengguna gas LNG,
maka subsidi LPG itu bisa berkurang
lebih dari 70%, Guys. Nah, ini kenyataan
yang sangat pahit. Ini sebuah pembodohan
massal. Kita dibilang kita harus ramah
lingkungan. Kita dibilang kita harus
matikan program minyak tanah beralih ke
gas LPG yang subsidinya jauh lebih
mahal. Pembodohan yang sangat masif,
Guys. Tetapi ya sudahlah, kita kembali
ke fakta dunia ini. Saat ini Indonesia
menjadi budak LPG. Ketika harga gas LPG
naik, demonstrasi massal terjadi di
mana-mana. Padahal mereka sedang
menyembah produk Amerika Serikat. So,
Teman-teman dari sini lu bisa lihat
bahwa wah ternyata ada ggak ada Donald
Trump memang kita impor bahan makanan
dari luar negeri. Ada gak ada Donald
Trump memang kita impor energi dari luar
negeri. Kita adalah budak Singapura
lebih persis lagi. Kita adalah budak
Arab Saudi, lebih jelas lagi. Dan untuk
LPG memang kita adalah budak Amerika
Serikat. So, ada enggak ada Donald
Trump, Guys. Memang kita banyak impor
barang dari luar negeri. Sekarang apa
yang terjadi dengan tarif ini? Menurut
gua, kita diuntungkan dari segi
manufacturing. Kita mau menjadi negara
industrialisasi bisa jadi kenyataan
karena makin tidak kompetitif
produk-produk made in China. Dan
kompetitor kita tadi kita sudah bahas
India, Bangladesh, Kamboja, Vietnam
sudah pasti menjadi tidak menarik kalau
dibandingkan dengan Indonesia yang tidak
ada perang seperti Kamboja yang tarifnya
lebih murah dibandingkan India 25% atau
Vietnam 20%. So this is a very good
news. Makanya gua yakin ya kalau
seandainya ekonomi semester 1 itu tidak
terlalu menarik, tetapi gua yakin ya
ekonomi di semester 2 bisa jadi lebih
tinggi loh dibandingkan yang semester 1.
Dan ini bisa menciptakan ruang bagi
pemerintahan buat bagi-bagi duit. Kenapa
bisa? Karena kalau seandainya bahan
pangan semua dibikin jadi 0% dan jadi
kenyataan dan kita dapat supplier baru,
apa yang terjadi? Harga bahan baku di
lapangan akan makin murah. Biasanya
seperti itu dong. Karena bahan baku
tukang martabak, bahan baku tukang nasi
goreng, bahan baku tukang mie goreng,
bahan baku tukang tahu goreng, dan tempe
goreng di pinggiran semua sama dari
kacang kedelai dan tepung terigu.
Sekarang harganya lebih murah. Logikanya
bahan pangan Indonesia jadi lebih murah.
Khususnya buat lu yang ternak peternak
sapi, peternak ayam, bahan bakunya dari
mana? Ada di situ bungkil kedelai, ada
di situ jagung. Sekarang bisa dapat
dengan harga yang jauh lebih murah. Jadi
ini justru bisa memberikan ruang buat
pemerintah ketika spending manusia kan
paling banyak konsumsi makanan. Harganya
bisa ditekan. Ada ruang buat bagi
pemerintah cetak duit. Makanya gua
enggak kaget kalau pemerintah kemudian
memutuskan buat bagi-bagi duit. Ya, di
pertengahan tahun 2025 setiap orang itu
bahkan setahu gua ada yang dapat 600.000
loh. Kenapa? Karena memang ada ruangan
buat cetak itu. Menarik nih. Berarti
artinya ada ekstra tambahan duit buat
orang spending. By the way, untuk
teman-teman di Malaysia, lu juga jangan
bersenang hati juga ya. Walaupun si
Anwar itu udah dapat ilmu dari Prabowo
buat negosiasi tarif ke-19%, tetap ada
catch-nya. Namanya juga deal dengan
Donald Trump. Dan ini enggak dipublikasi
oleh media-media di Malaysia yang enggak
paham. Tapi ada catch-nya juga. Di
Malaysia mereka boleh dapat tarif 19%
dengan catatan Malaysia wajib mengimpor
jenis produk pertanian Amerika Serikat.
Indonesia diuntungkan, Malaysia tidak.
Karena Indonesia udah spesifik,
komoditas yang kita impor adalah memang
kita impor dari zaman bahula gandum,
kedelai kita memang enggak punya, enggak
bisa nanam, kita wajib impor. Cuman itu
spesifik. Tapi Malaysia ada 191 jenis
produk-produk pertanian yang wajib
dibeli oleh rakyat Malaysia. Dan bukan
cuman itu, Malaysia juga diwajibkan
belanja 1347
produk-produk manufacturing Amerika
Serikat. Ini ngeri sih, Guys. Ini ngeri.
Indonesia jauh diuntungkan karena kita
memang impor LPG dari sana. Kita memang
impor minyak dari sana. Kita memang
impor gandum dari sana. Kita memang
impor kacang kedal dari sana. Kita
memang betul-betul sangat diuntungkan.
Dan Donald Trump betul-betul sangat kena
tipu, kegocek habis sama Prabowo.
Malaysia. Apakah bisa lakukan yang sama?
Ternyata tidak. Menteri Perdagangan
Malaysia, Tengku Zafrul Aziz nih harus
siap-siap nih menjelaskan ratusan produk
pertanian Amerika Serikat, 191 loh
produk pertanian Amerika Serikat akan
membanjiri pasar Malaysia dan ribuan
produk elektronik industri manufacturing
Amerika Serikat. Nah, dari sini guys, lu
akan semoga semakin jelas bahwa
Indonesia diuntungkan. Tetapi kenapa
narasi yang beredar di luar sana
Indonesia dirugikan? Indonesia gelap,
Indonesia hancur, musnah, Indonesia kena
meteor, segala macam lah. Simpel aja.
Gua pun dari kemarin curiga ini ada agen
yang bermain dan ternyata jadi kenyataan
ketika gua diundang podcast oleh salah
seorang yang lu mungkin lihat videonya
di situ dia dengan gamblang menerangkan
yang dirugikan adalah oligarki terkaya
di Indonesia bukan Hartono. Kenapa?
Karena ternyata diam-diam dia sudah buka
kebon pertanian di luar negeri. Dan
nanti oligarki ini dirugikan karena dia
sudah tahu ya peta penjualan tepung
terigu di Indonesia seperti apa, mie
bungkus di Indonesia seperti apa.
Ternyata di sini mereka punya data yang
orang lain enggak punya. Podcast itu
kalau lu lihat dia secara spesifik
bilang pengusaha tersebut dirugikan. Kok
lu bisa tahu? Iya karena dia punya kebun
di luar. Jadi selama ini kita impor
gandum dari kebun dia, kita impor
kedelai dari kebun dia. Eh mendadak
semua digeser ke Amerika Serikat. Hm.
kesakitan dong dia. Karena ternyata
dialah pemilik kebun yang kita impor
itu. Wajar dia menangis. Dan ini juga
ada hubungannya dengan data yang kemarin
kita bicarakan, Guys. Karena teman-teman
tahu pengusaha data terbesar di
Indonesia dengan pengusaha gandum
terbesar di Indonesia jangan-jangan
oligarki yang sama. Ya, menurut kalian
gimana? Apakah ini artinya oligarki
oligarki semakin menangis? Karena kalau
lu lihat di meeting-meeting oligarki itu
orang terkait di Indonesia itu nama
Prabowo selalu disebut-sebut dan selalu
dihina-hina dengan bahasa yang
merendahkan. Di situ gua curiga. Kenapa
lu bilang Indonesia tolol, Indonesia
bodoh, Indonesia gagal perang dagang.
19% 0% adalah keburukan. Oh, ternyata
bisnis dia yang paling dirugikan. Karena
si dia sudah terlanjur memiliki kebun
gandum dan kebun jagung
yang selama ini memperbudak kita. yang
selama ini lu harusnya bertanya-tanya,
"Kenapa Indonesia jadi hobi impor makan
tepung terigu?" Ya, padahal enggak ada
budaya kita makan roti. Enggak ada.
Enggak ada loh budaya kita makan tempe
tahu. Itu bukan makanan tradisional
Indonesia. Tapi kenapa kita dicuci otak?
Seolah-olah itu makanan tradisional
kita. Hm. Ternyata ini program oligarki
dan oligarki yang sama juga yang hobinya
sekarang ya melecehkan presiden kita
juga lagi kecewa karena soal data itu
perang data kalau nonton video kita
kemarin itu akan merugikan perusahaan
data dia. Makanya dia capek-capi bilang
bilang Indonesia kedaulatannya diserang.
Indonesia menggadaikan datanya.
Indonesia menjual data pribadi rakyatnya
ke Amerika. Padahal tidak ada sama
sekali seperti itu. Lu bisa lihat video
kita yang kemarin. Tetapi kenapa dia
sakit hati? Karena ternyata oligarki
pemilik data center di Indonesia. Wow.
Siapa sih oligarki yang dimaksud? Gua
tadinya masih mencari-cari sampai
kemudian gua diundang di podcast
tersebut dan mendapatkan bocoran meeting
BOD di sana. Sekarang ceritanya jadi
jelas bahwa ini semua adalah perang
bisnis. Pengusaha oligarki lokal
dirugikan oleh Donald Trump. So, untuk
menjawab pertanyaan ini, segera kalian
pencet tombol like. Minimal 24.000 1000
likes dalam 24 jam kita akan buka siapa
sih pemilik kebun gandum, kebun jagung,
kebun kedelai di luar negeri itu. Dan
kenapa beliau sedemikian sadisnya
membuat Indonesia menjadi negara
importir? Karena kan belanja itu pakai
dolar, rupiah semakin lemah. Semakin
belanja barang impor, semakin lemah
rupiah kita. Kenapa dia setega itu?
Karena kalau udah kekayaannya sehebat
itu seharusnya dia bisa mengembangkan
rekayasa genetika supaya kedelainya atau
gandumnya atau jagungnya bisa ditanam di
tanah kita dong. Tapi dia tidak lakukan
itu. Kenapa? Kenapa Indonesia dipaksa
menjadi budak impor bahan pangan milik
negara lain? Itu yang harusnya jadi
pertanyaan. Lu setuju, Guys, kalau kita
bahas detail dan buka total di video
selanjutnya? Jangan lupa segera pencet
likes. Minimal 24.000 likes, kita akan
buka informasi ini. Semoga video ini
bermanfaat. Salam sehat. Salam cuan. Bye
bye.
[Musik]