THE INDONESIAN ECONOMY IS SLUMBERING!! PUBLIC PURCHASING POWER IS DECREATING!! IS THE MIDDLE CLAS...
27FmNOPcpzI • 2025-08-05
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Guys, ngeri banget nih, Guys. Ada rombongan-rombongan di Indonesia yang digerakkan secara khusus untuk menghancurkan perekonomian Indonesia. Teman-teman tahu, ekonomi kita itu berbasis konsumsi loh. Tetapi sekarang ini fenomena sangat aneh. Karena kan banyak orang yang bilang, "Ya, ekonomi Indonesia itu baik-baik saja, Bro. Tambah kaya. Buktinya mall-mall banyak yang ramai setelah pandemi. Habis pemilu, bahkan banyak orang yakin kunjungan mall bakal naik 20%. Apalagi kemarin sebenar ada Ramadan dan lain sebagainya. So, kalau seandainya semua berjalan lancar, seharusnya kan everybody is happy. Tapi faktanya hari ini banyak pengusaha mall yang menangis. Kenapa mereka menangis? Karena ada tersangka yang begitu kejamnya menghancurkan bisnis-bisnis ritail di Indonesia. Ya, inilah orang-orang Rojali alias rombongan jarang beli. So, kalau lu penasaran ya gimana strategi Rojali ini dalam menghancurkan perekonomian kita, lu jangan skip video ini. Let's check this out. So, Teman-teman, sebelum kita bahas lebih spesifik ya tentang bisnis mall, sebelumnya kita suka bahas tentang kehancuran bisnis rokok. Dan teman-teman kan udah lihat ya, banyak perusahaan rokok terbukti ya ramalan gua terbukti benar sama-sama yang berhubungan dengan gudang garam Sampurna itu ya tambah nyungsep. Salah satunya biang keroknya sama guys gara-gara si Rojali ini rokok jarang beli ini nih. Ini betul-betul jahanam guys. Betul-betul nih mereka ini menghancurkan banyak bisnis di Indonesia. Dan sekarang tersangka utama kita ya Rojali ini ekspansi guys. Kemarin habis bikin bangkrut pabrik rokok. Sekarang Rojali itu pengen bikin bankruk pengusaha mall. Kenapa ya? Karena ini momentumnya lagi bagus ya, prahara terkait kebijakan pemerintah, prahara terkait ekonomi dunia, mungkin juga gara-gara Donald Trump ya memotivasi Rojali ini buat bikin kehancuran di mana-mana. Tapi satu hal yang jadi fakta adalah terlepas dari orang bilang, "Oh, ekonomi Indonesia tambah baik, tambah bagus, tambah meroket." Ya, faktanya menunjukkan khususnya buat pelaku bisnis ril ya ternyata mengerikan. Contoh kamu bisa lihat di layar kaca baru saja nih matahari tutup dua toko dalam sebulan. Lalu kemarin ada juga nih fresh nih from the oven Transmart di Indonesia hanya tersisa 18 toko doang bahkan yang di Bogor berubah nih kayak Power Rangers. Tadinya Transmart jadi Great Mall. Gua kira cuma Power Ranger yang bisa berubah bentuk ya. Ternyata transfer juga bisa berubah, Guys. Lalu kita lihat lagi orang terkaya di Indonesia punya bisnis range market, toko buat barang-barang groceries yang mahal-mahal itu merugi. Jadi enggak heran sudah ada tujuh toko range market, toko retail milik orang terkaya di Republik Indonesia yang resmi tutup. Dan yang paling baru kemarin kita juga udah bilang ya, pengusaha Korea kan lagi banyak yang dikerjain ya di Indonesia, bukan cuma Hyundai loh. Nah, anyway ada pengusaha retail khusus jualan groceries juga namanya GS. GS Retail, GS The Fresh, GS Supermarket, mereka juga resmi tutup. Jadi ada GS Supermarket, ada Lulu Hypermarket resmi juga tutup. Kok bisa semua kompak tutup nih para pengusaha ril? Ada yang bilang, "Ya mungkin tutup karena tempatnya sepi, Pak. Kayak kuburan kosong melompong." Oh, kalau gitu wajar ya. Berarti kan sekarang yang datang penuh bukan lagi penuh dengan pembeli, tapi penuh dengan roh halus. Roh halus itu apa? Rombongan hanya ngelus. Jadi beli kagak ya, mereka datang ngelus-ngelus doang. Bingung juga gua. hobinya aneh, hobi ngeluse. But anyway, ya kita faktanya karena market tidak pernah bohong di layar kaca, kamu bisa lihat ya sahamnya MAP Mitra di Perkasa to date itu sudah minus 14%. Lalu ada lagi aspirasi hidup Indonesia. Anyway, ya itu dia sudah minus 36%. Terus ada lagi DFI Retail Nusantara ini sudah minus 24%. Jadi buat teman-teman yang menganggap remeh ya fenomena Rojali ya. Rojali ini memang tersangka yang luar biasa terkenal lah. Udah dari bertahun-tahun lalu gua bilang hati-hati ya dengan orang yang sukanya itu ngerokok gratis ya. Tias rokok jarang beli ya. Udah pasti dia ini musuhnya Sumitro nih. Lu tahulah si suka minta rokok. Yang satu jarang beli rokok, yang satu sukanya minta rokok. Berantemlah mereka ini. Intinya orang-orang romantislah hubungan kedua manusia ini. Rokok makan gratis sedih. Mereka berhasil membuat banyak pengusaha rokok di Indonesia kalangkabut, gulung tikar dan sahamnya minus gratis. Makanya lu enggak usah bingung kalau udah dari bertahun-tahun lalu gua udah bilang ya harga saham Sampurna itu bakal jatuh di bawah 900. Hari ini jadi kenyataan. Nah, tapi ya udahlah itu kan bisnis rokok di Indonesia. Sekarang kita mau ngomong target baru Rojali ya. Rojali sudah sukses menghancurkan pengusaha rokok. Sekarang Rojali mau menghancurkan pengusaha retail, pengusaha mall. Pertanyaan utama, kenapa banyak retail yang gulung tiker? ya. Padahal kata mereka data menunjukkan mall itu banyak, semakin ramai dikunjungin. Sebetulnya sedang terjadi fenomena apa ini, Guys? So, kalau lu penasaran guys, jangan lu skip video ini karena ada delapan alasan yang menyebabkan banyak pengusaha mall retail modern yang gulung tiker. Dan kalau lu bisa manfaatkan peluang ini, ya tentu lu bisa ambil cuan yang besar dari bisnis ini. So, guys, ada delapan alasan ya, kenapa makin nyungsep nih pengusaha ril, pengusaha mall di Indonesia. Alasan yang pertama, ketika kunjungan ke pusat-pusat belanja mall-mall shopping center ini naik, tetapi kok banyak yang bangkrut. Ternyata alasan pertama karena daya beli melemah. Nah, Teman-teman tahu data menunjukkan kenaikan pengunjung itu memang terjadi di tahun 2025 ini. Jadi, secara tahunan pengunjung ini sudah naik 10%. Bahkan diperkirakan sampai akhir tahun pengunjung mall itu bisa naik lagi sampai 20 hingga 30%. Tetapi sayangnya ini bukan berarti transaksi juga ikut naik karena ternyata daya beli justru menurun khususnya yang kejadian di kelas menengah. Karena daya belinya berkurang maka uang yang dipegang semakin sedikit. Tetapi mereka tetap pengin pergi ke mall, cuci mata, menikmati AC yang dingin sehingga mereka tetap datang ke pusat-pusat perbelanjaan seperti mall-mall favorit kamu. Makanya ya menurut data Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia alias APPBI memang menyatakan bahwa jumlah kunjungan ke pusat belanja naik, tetapi pola belanjanya sudah berubah karena sekarang mereka enggak lagi mau belanja di mall. Dan penurunan daya beli ini sebetulnya udah tercermin, Guys, dari penurunan inflasi inti di Indonesia. Ingat ya, Guys. Di Indonesia itu punya tiga jenis inflasi umum. Nah, jadi pada umumnya inflasi di Indonesia itu dibagi tiga. Yang pertama itu inflasi at administered price. Jadi inflasi karena faktor pemerintah menaikkan harga-harga yang bisa disetel sama pemerintah. Contoh, kenaikan harga BBM. Begitu harga BBM disetel pemerintah naik, pasti inflasi juga ikut naik. Ketika harga tol dibikin naik, harga listrik dibikin naik, pasti semuanya ikut naik. Jadi, administer price itu adalah inflasi yang memang settingan dari pemerintah. Nah, yang kedua itu ada inflasi dari volatile food. Jadi, Teman-teman kalau lihat harga bawang, harga beras, harga makanan itu naik atau turunnya karena ya harga bahan pokok sembako utamanya itu dicatat sebagai inflasi volatile food. Nah, yang penting apa? Yang penting itu adalah inflasi yang ketiga. Yang ketiga adalah inflasi inti. Nah, ini yang kita mau bahas. Karena inflasi inti ini adalah refleksi dari permintaan yang sesungguhnya. Ketika inflasi inti naik berarti memang ada kenaikan demand, hukum supplyan demand aja. Tetapi ketika inflasi inti turun berarti enggak ada orang yang mau belanja, demand-nya berkurang. Dan ini secara faktual terjadi karena berdasarkan data yang kita punya, penurunan di inflasi umum faktanya memang naik. Di bulan Juni itu 1,87%. Tetapi di bulan Juli naik menjadi 2,37%. Jadi betul secara umum naik nih inflasi umum ini naik dari 1,8 sekian pers. Tetapi ketika kita membahas inflasi inti, inflasi inti ternyata tidak naik, Guys. Karena faktanya inflasi inti di bulan Juni nilainya 2,37%. Tetapi di bulan Juli inflasi inti justru berkurang ke 2,32%. Dan ini sebetulnya terus-menerus turun trennya karena di bulan April aja inflasi inti itu sebetulnya 2,5%. Nah, inflasi inti ini yang penting buat kita lihat karena apa? Dia merefleksikan demand. Jadi seandainya kalau inflasi di volatil food naik terus, betul teman-teman kan menyaksikan ya harga bahan pangan di Indonesia naik terus, naik terus, naik terus. Betul terjadi inflasi. Betul. Tetapi secara keseluruhan kalau kita lihat inflasi intinya itu justru menurun. Artinya ada pengurangan pembelian. Wah menarik nih. Karena ini memberikan sinyal bahaya, Guys, buat Indonesia yang bercita-cita mempunyai GDP pertumbuhan ekonomi kita 8%. Nah, Teman-teman tahu ya GDP itu faktornya ada empat. Yang pertama konsumsi, yang kedua investasi, yang ketiga government spending, pengeluaran pemerintah, dan yang terakhir ekspor yang harus lebih besar dari impor kalau kita mau pertumbuhan yang positif terus. Nah, Indonesia yang paling penting di mana sih dari empat komponen pertumbuhan ekonomi ini? Ternyata komponen terbesar adalah yang nomor satu, konsumsi. Data menunjukkan di tahun 2024 konsumsi itu menyumbang 54% terhadap pertumbuhan GDP. Makanya kalau teman-teman bilang negara Indonesia pertumbuhan ekonominya berbasis konsumsi, betul enggak? Betul sekali. Karena 54% pertumbuhan ekonomi di Indonesia disumbangkan oleh konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga. Wow. Yang artinya kalau rumah tangga mengurangi konsumsinya, kalau rumah tangga bergabung dengan Rojali, ekonomi kita bukan to the moon 8%, tapi bahkan bisa di bawah 5%. Nah, ini yang kita lihat dan kita cermati bahwa ini bisa menjadi sinyal bahaya Rojali. dan roh halus dan rohana bergabung menjadi satu. Rombongan hanya nanya by the way bergabung jadi satu akan makin berdampak lagi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. So, itulah alasan pertama guys kenapa makin banyak rojali ya rombongan jarang beli karena memang daya beli berkurang. Dibuktikan dari inflasi inti yang terus berkurang padahal itu komponen penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nah, yang kedua apa, Pak? Yang kedua ada perubahan pola belanja, Guys. Ini sudah berulang kali gua bilang ya. user, customer itu pindah. Mereka dulu suka belanja offline, tapi sekarang makin banyak konsumen yang belanjanya online. Contoh gua dulu kita beli perlengkapan kantor kan datang fisik lihat kursinya, mejanya segala macam. Sekarang kita buat beli perlengkapan kantor aja online, semuanya serba online. Beli laptop online, beli meja online, beli beli baju online, beli topi online. Apa yang beli offline? Mungkin beli kendaraan kali ya yang masih offline ya. Sekarang beli listrik aja udah online, Guys. Beli pulsa aja udah online. Lu masih ingat enggak zaman dulu beli pulsa itu kita harus pergi ke kios di pinggir jalan? ada loh masalah itu loh. Ternyata sekarang semua udah online dan ini terbukti secara data karena lu bisa lihat di layar kaca ya, fakta membuktikan sejak tahun 2019 itu pertumbuhan transaksi e-commerce di Indonesia itu terus-menerus naik tinggi. Di tahun 2019 transaksi online cuma 205 triliun, tetapi di 2024 sudah tumbuh dua kali lipat lebih menjadi 487 triliun. Jadi ini membuktikan bahwa kenapa banyak mall-mall itu sepi ya? Karena roh halus ya bisa jadi ya. Tapi kalau ada mall yang ramai tapi transaksinya sedikit kenapa? Karena orang datang cuma ngelihat belinya nanti di e-commerce terbukti dengan data. Nah, yang ketiga apa data lagi kita ngomong? Yang ketiga adalah big data dari Bank Sentral Asia, Bank BCA, bank swasta terbesar di Indonesia. Jadi kemarin baru saja mereka mengeluarkan data yang menunjukkan bahwa terjadi tren penurunan belanja masyarakat hingga kuartal 2 2025. Nah, ini membuktikan ya karena semakin sedikit masyarakat yang berbelanja ini membuktikan makin banyak warga negara Republik Indonesia yang bergabung menjadi anggota Rojali. Nah, menurut BCA ya, lemahnya daya beli masyarakat ini membuat orang-orang yang datang ke tempat belanja cuma untuk jalan-jalan. Mereka tidak membeli apa-apa. Kalaupun mereka belanja, mereka akan pilih-pilih yang nilainya tidak besar. Nah, menarik nih. Artinya kan banyak orang yang pergi ke mall berdasarkan data Bank BCA itu sebenarnya cuma buat window shopping. Artinya di sini ada perubahan gaya hidup, Guys. Nah, di sini kita berbicara tentang lifestyle karena ternyata sekarang lifestyle itu terus berubah loh. Zaman dulu itu ngetren kalau orang ditanya, "Lu olahraga apa?" Karate, lu olahraga apa? Tekondo cuma kan makin banyak orang yang patah kaki, Guys. Jadi mereka pikir ulang, "Gua mau olahraga apa ya?" Upgrade lah orang dari sana olahraga bela diri upgrade ke olahraga pedal hari ini karena mereka enggak bisa patah kaki, enggak bisa patah tangan. Yang ada stres aja karena ternyata susah sama kayak main tenis susah, Bro. Anyway, lifestyle berubah, Guys. Jadi, lifestyle berubah. Data penggunaan kartu kredit itu juga menunjukkan perubahan. Kalau zaman dulu banyak orang pakai kartu kredit, belanja ke mall, beli baju, beli tas, dan lain sebagainya. Tetapi saat ini data menunjukkan orang pergi ke mall cuma untuk nongkrong. Lihat-lihat pun kalau transaksi adalah transaksi makanan dan minuman. Makanya teman-teman akan melihat bahwa terjadi perubahan tren ketika pembelian barang-barang retail itu menurun. Pembelian groceries, aparel, sepatu, baju, aksesoris, perhiasan itu menurun. Ternyata di mall yang sama terjadi peningkatan khusus untuk satu segmen yang namanya FNB, food and beverage. Makanya teman-teman jangan kaget kalau banyak copy shop makin ramai tempat makan, kafe itu makin ramai. Karena memang data menunjukkan ketika semuanya lagi pada turun tetapi penjualan FnB justru naik bisa sampai 10%. So di sini kita mempelajari satu pola baru terjadi perubahan tren di masyarakat. Nah, peluang ini contohnya udah banyak sih yang ngambil ya. Kalau mall-mall pengusaha yang gesit, mereka langsung rubah tuh mall-nya. Tadinya konsepnya kayak ITC atau konsepnya kayak pusat belanja pada umumnya, sekarang dirubah menjadi konsep good news nih, Guys. Buat kamu para investor saham yang mau bergabung di Benix Investor Group, sekarang kita ada diskon khusus 17% hanya untuk 17 orang pertama yang mendaftar sebelum 17 Agustus 2025. Jadi, kamu dapat diskon besar. Tadinya bayar Rp50 juta untuk setahun, sekarang tinggal R1 jutaan saja. So, tunggu apaagi? Segera daftarkan dirimu sekarang juga loh. Karena cuma di Benix Investor Group kamu bisa datang investigasi langsung bareng Benix. Namanya Big Investigation. Seperti investigasi Benix di perusahaan kelapa sawit yang ada di Bangka Belitung, perusahaan yang ada di Sumatera, perusahaan yang ada di Kalimantan, di Sulawesi, lu bisa dapat akses langsung ketemu dengan direktur perusahaannya, ngobrol bareng sama manajemen perusahaannya, bahkan lihat langsung operasional perusahaannya seperti apa sih. Ingat ya, investasi itu kan real. Jangan sampai lu investasi bodong. Itu namanya beli kucing dalam karung. Makanya penting buat kalian bisa ikut di Big Investigation. Bukan cuman itu, Guys. Kita juga ada namanya Big Gathering. Jadi, ini ngopi-ngopi bareng santai lah. Kita selalu bikin nih ngopi santai bareng Benix. Ada di Singapura, ada di Jakarta, ada di Semarang, di Jogja, di Bali, di mana-mana lah. Teman-teman bisa ikut buat ngobrol langsung tentang investasi kamu. Nah, buat Teman-teman yang enggak bisa hadir secara fisik, kita juga ada pertemuan online. Jadi, sebulan ada tiga kali every weekend live langsung sama Benix bisa tanya jawab langsung soal perjalanan investasi kamu. Kita juga ada sharing, kamu bisa dapat rekamannya, video-video edikasi khusus untuk Benix Investor Group. Nah, yang seru kita ada gala dinner. Next. Gala dinner itu di tanggal 29 Agustus bulan depan. kamu harus segera daftar karena kita akan mengundang direktur dari perusahaan yang omset-nya ribuan triliun, Guys, buat berbagi ngobrol bareng gimana sih strategi investasinya di tengah perang tarif Donald Trump. Wow, emiten-emiten apa aja yang siap atau bahkan enggak siap? Tentunya sih dari setiap peristiwa ada opportunity yang kita bisa dapat. Makanya penting banget buat kamu bisa join ke gala diner Benix setahun sekali kita adakan next gala dinner di tanggal 29 Agustus 2025. Oke, guys. Segera daftarkan dirimu sekarang juga. Ingat ya, diskon 17% cuma untuk 17 orang pertama yang daftar sebelum 17 Agustus 2025. Segera kunjungi www.benix.id atau hubungi nomor yang ada di bawah ini 08113220886. Yuk, segera gabung dan daftarkan dirimu menjadi bagian dari komunitas saham paling seru di Indonesia bersama Benix Investor Group. Sekarang dirubah menjadi konsep nongkrong. Bukan lagi banyak pedagang baju, bukan lagi banyak pedagang motor, tapi dibanyakin pedagang tenan yang jualan makanan, yang jualan minuman. Contohnya ada mall tuh yang di dekat Semanggi. Gua enggak mau sebut merek, tapi mall ini udah berubah. Dulu dikenal sebagai mall yang sepi kayak kuburan, sekarang jadi ramai. Berubah nama menjadi mall nusantara. Bahkan menjadi icon baru nih di Jakarta. Gua udah datang ke sana dan gua juga kaget sih dengan perubahan transformasinya di sana. Ih, berubah banget ini tempat dan memang faktanya jadi lebih ramai. Nah, di sini teman-teman bisa lihat ya kalau pengusaha yang adaptif melihat kesulitan ini bukannya dia bermurung menangis di pojokan kamarnya seperti Sincan tapi ya dia berinovasi contohnya ya mall yang ada di Semanggi itu guys. Nah, lalu yang alasan yang kelima ini menarik karena ini berhubungan dengan kita semua para investor di Indonesia. Ternyata manusia di Indonesia itu tambah cerdas. Mereka udah berpikir eh dibanding gua ganti handphone baru kan lewat 1 detik langsung jadi handphone bekas harganya turun. ya mendingan gu ini gua pakai buat investasi. So terjadi perubahan gaya hidup bukan hanya di bidang FnB loh, tetapi juga di spending mereka mengurangi spending-spending yang enggak penting dan sekarang mereka menjadi selective spending. Fenomena Rojali ternyata memberikan kabar baik buat kita investor di Bursa effect. Ternyata konsumen menengah atas mereka menahan dirinya buat belanja barang-barang yang enggak penting. Sekarang mereka mengalihkannya ke investasi. Data menunjukkan hal yang sama atau tidak? Ada enggak buktinya? ada, Guys. Karena data menunjukkan hingga Juni 2025, jumlah investor di pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Karena per hari ini minimal sudah ada 17 juta orang yang punya rekening saham. Ini tumbuh 10 kali lipat dibandingkan tahun 2018. Nah, Teman-teman, ini adalah berita positif. Makanya gua dari dulu bilang, lu harus jadi investor saham. Lu harus jadi investor saham. Dibandingkan lu jadi investor togel atau investor judi online atau lu jadi investor lilin lilin enggak jelas. Udahlah itu bukan investasi, Guys. Lu melakukan spekulasi. Ingat, itu bukan spekulator. Lu kalau ada duit, jadilah investor. Investasi sesuatu yang pasti. Saham perusahaannya ada, bisnisnya jelas. Kenapa lu masih kayak orang goblok beli kripto? kan to tool otak lu itu dan data memang menunjukkan ya kita sih bersyukur ternyata ya jumlah investor pasar modal tumbuh ketika jumlah orang yang belanja ke mall berkurang ternyata jumlah orang yang belanja saham meningkat so this is a very good news makanya lu jangan sampai telat deh menjadi investor saham gua dengar kemarin juga ada orang ngelamar ya ditanya sama orang tuanya kamu udah jadi investor saham belum belum Pak enggak usah kawin sama anak saya semoga ini membuktikan ya masa depan Indonesia itu cerah guys ingat loh kunci pertum tumbuhan ekonomi itu bukan cuma konsumsi, Guys. Ingat ada empat. Salah satunya adalah investasi. Investasi dari luar negeri maupun investasi dari dalam negeri. So, this is a very good news menurut gua. Iya. Dan ini memang berdasarkan data karena tadi kan kita cuma ngomong investor yang di pasar modal, sekarang kita ngomong investor ya investor di bank lah, investor deposito misalkan. Ini terbukti juga data ini. Kenapa? Karena dana pihak ketiga alias DPK orang yang nabung deposito tahun lalu di bulan Juni 2024 cuman 8.000. 00 triliun. Ingat ya, cuma R8.700 triliun. Hari ini naik 1 tahun di bulan Juni 2025 angkanya sudah naik signifikan dari 8.000 triliun menjadi 9.300 triliun, Guys. Jadi luar biasa loh ini. Artinya makin banyak orang-orang yang melag investasi. Gua senang banget semakin sedikit orang-orang yang gila tolol percaya lilin-lilin candlestick dan sebagainya, tapi makin banyak orang yang waras ya investasi yang pasti-pasti aja. So, this is a very good news. Dan ini membuktikan ya bahwa ternyata orang itu shifting. Bukan cuma shifting gaya hidup, tapi shifting juga ke pola spending-nya. Tadinya spending asal-asalan, sekarang spending untuk investasi. So, this is a very good thing. Nah, yang keenam. Yang keenam ini faktor kehancuran kelas menengah. Jadi, di Indonesia itu yang punah bukan cuma Tyrannosaurus Rex ya atau Raptor ya. Jadi, di Indonesia juga punah namanya kelas menengah. Hati-hati ya, bentar lagi masuk daftar UNESCO nih, manusia kelas menengah di Indonesia nih. Karena jumlahnya terus berkurang, Guys. Gila emang nih. Gila. Jadi ini fenomena terjadi di Indonesia bahwa ya lemahnya konsumsi ini menurut gua ya karena juga karena kelas menengah bukannya bertambah tetapi berkurang. Nah, total konsumsi di Republik Indonesia itu nilainya ribuan triliun setiap tahun. Nah, dari total belanja ribuan triliun setiap tahun itu ternyata 70% manusia yang berbelanja di Indonesia itu adalah kelas menengah. So, kalau populasi kelas menengah semakin menghilang berkurang, artinya orang yang belanja semakin berkurang juga. Karena 70% konsumsi, ingat ya, pertumbuhan GDP Indonesia itu bergantung dari sektor konsumsi. Ternyata ditopang oleh kelas menengah. Ketika kelas menengah itu makin hilang, makin langka, artinya ya mall bakal makin sepi, mall makin banyak, Rojali dan Rohana rombongan hanya nanya. Dan paling parah lagi ya, kelas menengah Republik Indonesia ini enggak di-support, Guys. Jujur ini sedih lah. Udah mereka sulit dapat kerja, PHK di mana-mana, mau dapat bansos juga enggak dapat karena mereka kelas menengah. Yang boleh dapat bansos kan yang romusa rombongan muka susah. Susah deh sekarang kalau lu menjadi kelas menengah. lu digencet mau ke bawah enggak bisa, di atas juga enggak bisa. Di tengah-tengah lu digencet terus. Terus apalagi orang-orang yang masuk udah kelas menengah masuk lagi sandwich generation. Maksudnya apa, Pak? Sandwich generation itu ini adalah orang-orang generasi sandwich. Lu tahu ya sandwich itu kayak burger ya. Dia digencet dari atas, ditekan juga dari bawah. Dari atas dia harus ikut menghidupi orang tuanya. Dari bawah dia harus menopang hidup mungkin anaknya, anak tetangganya juga ya. Kalau di atas selingkuhan ya termasuk ponakannya atau saudaranya atau sepupunya dia tidak bisa spending untuk dirinya sendiri. Dan ini gua lihat udah banyak ini kejadian sih di beberapa kenalan gua ya. Memang dia enggak bisa lagi bergerak karena duitnya habis buat kasih makan ibunya yang sakit-sakitan, perawatan orang tuanya. Saat yang sama dia juga menumpang hidup biaya sekolah, biaya kuliah adik-adiknya. Terus dia gimana ya? Dia enggak bisa bergerak. Sedih, Guys, generasi sandwich ini. Dan ini apakah ditolong sama pemerintah? Ya, pemerintah menolong dengan mengeluarkan pajak. Jadi, kelas menengah udah makin kesulitan hidupnya ya menurut pemerintah. Ah, cuman gitu doang lu. Ini ada ujian baru nih, pajak. Jadi udah makin sulit hidupnya, insentif juga enggak banyak, dapat bansos juga kagak. Ternyata sekarang kelas menengah dapat bonus lagi pajak. Dan ini udah berulang kali gua bilang ya, eh lu itu jangan aneh-anehlah, demo-demo ngasalah Indonesia gelap lah, Indonesia negro lah, Indonesia apalah enggak tahu gua. Apalagi yang kemarin demo-demo tambang. Ingat, Guys. Semakin banyak perusahaan tambang yang ditutup, berarti semakin dikit duit yang beredar, semakin sedikit penghasilan pengusaha di Indonesia, semakin dikit penghasilan karyawan, buruh pabrik, dan ekonomi pelaku usaha di sekitarnya. Karena ketika lu demo tambang biar tutup, berarti tutup juga. Pengusaha catering di sana, pengusaha transportasi di sana, orang yang suka masak di sana, orang yang nyapu jalan di sana, semua hilang. Tutup habis. Ya, gara-gara lu hobi demo peluk-peluk pohon. Padahal lu ke sana juga enggak pernah, ya. buang sampah sembarangan lagi lu. Awas aja lu. Terus apaagi? Orang yang demo pabrik. Pabrik-pabrik disuruh tutup setiap tahun rutin. Ini udah jadi agenda rutin nih. Lu kira cuman sarapan nasi uduk doang yang rutin di Indonesia? Enggak, Guys. Demonstrasi itu udah kayak sarapan di Indonesia. Jadi makin banyak pabrik yang tutup karena demo terus. Demo enggak jelas. Ada aja selalu ada 1001 alasan buat demo. Akibatnya apa? Yah, udah tambang-tambang makin banyak ditutup. Perusahaan kelapa sawit banyak ditutup. Padahal tulang punggung perekonomian Indonesia ya dari ekspor apa? Ekspor tambang batubara, ekspor sawit, terus giliran kita mau ekspor manufacturing, pabrik-pabrik itu didemo juga tutup. Akhirnya apa? Jangan heran kelas menengah akan semakin hilang. Padahal kelas menengah ini adalah pahlawan pajak. Ingat, Guys. Kalau lu terus-terus menggaung-gaungkan Indonesia, UMKM maju, UMKM maju. Padahal yang diubsidi itu cuman pengusaha-pengusaha mikro, pengusaha-pengusaha kecil, bayar pajak 0,5%. Lu pernah pikir enggak sih pengusaha gorengan pinggir jalan, pengusaha pecelele pinggir jalan, mereka bayar gaji karyawannya berapa? Apa UMR? Gua yakin tidak. Pasti di bawah UMR. Kalau gaji karyawannya dibawa UMR, berarti mereka bayar pajak PPH 21 enggak? PPH perorangan tidak. Artinya ada kontribusi enggak sama negara? Eh, lu pikir lagi. So, yang harus di-support siapa? Ya, sama aja ya, bukan hanya kelas menengah, tetapi pengusaha menengah itu juga harus di-support. Karena gua yakin sih pengusaha menengah apalagi yang bisa naik ke menengah atas, gua yakinlah karyawannya dibayar UMR. sehingga mereka bisa berkontribusi terhadap pembangunan negara ini. Tetapi data menunjukkan sebaliknya, Teman-teman bisa lihat di tahun 2019 ini adalah tabulasi ya prioritas pengeluaran kelas menengah di Indonesia dalam 5 tahun terakhir. Teman-teman lihat pemerintah itu nge-track loh eh kelas menengah nih sebentar lagi jadi barang langka nih mengalahkan dinosaurus. Coba kita track duitnya pada ke mana sih kelas menengah? Tertek kelas menengah duitnya yang warna hijau di tahun 2019 41% pergi untuk makanan. Lalu yang kedua yang warna coklat tua 27,8% teman-teman lihat di grafik itu adalah pengeluaran kelas menengah yang terbesar. Nomor dua adalah perumahan. Artinya ya buat teman-teman yang nyicil KPR, gua yakin mayoritas orang beli rumah ya dengan KPR. Keluar udah habis di situ buat bayar KPR. Lalu yang terbesar selanjutnya apa, Guys? Ya tentu saja ya ada pengeluaran buat cicilan kendaraan dan lain sebagainya. Tetapi yang menarik adalah ternyata 3,4% pengeluaran kelas menengah adalah buat bayar pajak. Wow, ternyata ya komponen pajak ada loh di dalam komponen pengeluaran kelas menengah. Gua kira kelas menengah enggak bayar pajak, Guys. Ternyata enggak bayar pajak. Dan data ini menunjukkan setelah 5 tahun di tahun 2024, pengeluaran pajak kelas menengah itu bukannya berkurang, tetapi bertambah. Karena ketika di tahun 2019 pengeluaran pajak cuman menyita 3,4% dari penghasilan kelas menengah, ternyata di tahun 2024 pajak sudah menyita 4,5% dari spendingnya si kelas menengah ini. Artinya ya ketika kelas menengah semakin hilang, semakin punah, ternyata bukannya pajak tambah ringan, tetapi pajak makin nyelekit, Guys. Data membuktikan. Kita bicara berdasarkan data. So, Teman-teman ya, dari sini kita melihat ini adalah indikasi yang positif bahwa perekonomian Indonesia yang digadang-kadang tumbuh 8% bisa jadi terhambat nih, tertunda nih karena fenomena Rojali ini ya. Rojali bisa terjadi ternyata kear kalangan menengah hilang. Kenapa kalangan menengah hilang? Ya karena banyak pengeluaran-pengeluaran kelas menengah ya yang makin gila-gilaan ya tadi ya, inflasi ya sudah inflasi makin tinggi kayak contohnya tadi ya, bahan makanan dan lain sebagainya. Di sisi lain daya beli berkurang. Eh, pemerintah apakah mau menolong? Ternyata pemerintah naikin pajak. Ya, ironis ini, Guys. Padahal ya khususnya ya gua mau bicara soal kelas menengah sebagai pelaku usaha yang sebetulnya lebih butuh bantuan dari pemerintah. Karena tadi apa ya? Orang-orang kalau pengusaha kelas menengah ya, apalagi kelas menengah atas, kita enggak ngomong peng usaha enterprise, tapi kan UMKM itu ada usaha kecil, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah. Yang sebetulnya yang menengah ini butuh bantuan. Mereka mungkin omset-nya sudah di atas R miliar. Mereka mungkin sudah punya banyak ratusan karyawan, tetapi kenapa yang dikasih insentif dari pemerintah selalu yang pengusaha mikro mikro mikro mikro kredit mikro misalkan itu kan cuman berapa R00 juta, R00 juta lu dapat mau jadi apa? Tapi pengusaha menengah kalau kita bisa bikin jadi naik kelas nih pengusaha menengah kan bisa jadi the next unilever, the next nestle. Why not gitu loh kita support mereka? Kasihlah insentif pajak yang menarik. Jangan 0,5% itu hanya untuk pengusaha mikro. Kenapa enggak dibikin insentif pajak yang berjenjang, Guys? 0,5 1% 2% 3% udah berulang kali gua bilang ya kalau tiba-tiba orang pengusaha menengah harus kena pajak 22% berhadapan nih dengan pengusaha multinasional lain yang omset-nya udah ratusan triliun pajak sama-sama 22% gimana caranya dia bisa compete dia jangankan mau jadi enterprise mau naik level dari pengusaha menengah ke pengusaha yang kelas besar aja udah berat guys jadi perlu ada keberpihakan dari pemerintah dan ini penting buat pemerintah ketahui ya bahwa faktanya daya beli itu makin berkurang dan kelas menengah semakin menghilang. Ya, di sini kita mau bilang artinya pemerintah harus segera turun tangan. Bukan cuma buat kalangan kecil atau pengusaha kecil atau pengusaha mikro, no. Tapi juga masuk ke pengusaha menengah, ke rakyat kelas menengah. Karena merekalah yang paling banyak sebetulnya menciptakan lapangan kerja yang berkontribusi kepada pendapatan pajak negara. Karena bayar pajak PPDA satu karyawan-karyawannya ini bayar pajak penghasilan. Bukan yang pinggir jalan itu yang bayar pajak penghasilan. No, justru pengusaha menengah ini. Tetapi kenapa pemerintah tidak turun tangan? Karena menurut gua pribadi, pemerintah wajib memberikan stimulus ekonomi yang harus berdampak dan berefek langsung terhadap kemampuan daya beli masyarakat Indonesia. yang kalau ini enggak segera dilakukan sama pemerintah, kalau makin banyak kelas menengah yang nyungsep menghilang bergabung dengan Tyronosaurus, Rex, dan Raptor, ya kita harus siap pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5%. Boro-boro ya di atas 7% seperti Vietnam, gua yakin seyakin-yakinnya pertumbuhan Indonesia di bawah 5%. Dan ini bukan kabar baik buat Indonesia karena momentumnya buat Indonesia sekarang adalah grow, grow and grow. Dan pertanyaan pentingnya ingat ya, ini adalah channel investasi. Menurut kamu dengan fenomena Rojali dan Rohana ini, ini menjadi indikasi positif atau buruk buat Indonesia. Karena ingat yang namanya investasi selalu berlaku dua arah. Di sini kan teman-teman langsung bisa bilang ada pihak yang dirugikan, tapi kamu tahu enggak ada juga loh yang diuntungkan. Menurut kamu perusahaan apa sih yang diuntungkan dengan fenomena Rojali ini? Karena dari kemarin gua udah nunggu pengen beli sahamnya, cuman kurang satu poin lagi di brengsek hari ini udah loncat kodok. So, gimana kalau menurut kalian, Guys? Eh, apakah ini udah waktunya ya kita investasi saham atau masih ada nih rombongan Rojali ke loter yang selanjutnya? Jadi, mendingan wait dulu nih. Gimana menurut kalian perekonomian Indonesia akan semakin naik meroket ke bulan atau nyungsep? Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Jangan lupa tuliskan pandangan kamu gimana ya terkait rombongan Rojali ini positif atau negatif. Dan sekali lagi yang lebih penting, emiten apa? Perusahaan apa yang dirugikan itu gampang dan yang diuntungkan dengan fenomena ini. Semoga video ini bermanfaat. Segelas subscribe channel Benix. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]
Resume
Categories