Transcript
pfSsgWdsZsI • LINE'S DESTRUCTION IN INDONESIA!! Once a Millennial Favorite, Now a Digital Wreck?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0397_pfSsgWdsZsI.txt
Kind: captions Language: id Bad news, Guys. Salah satu aplikasi buat teksting, aplikasi messaging yang pernah sangat populer di Indonesia hari ini menuju kehancuran. Teman-teman tahu, lu pernah dengar dan pasti pernah pakai aplikasi yang namanya Line. Line itu makin hari itu makin sedikit penggunanya dan enggak heran kalau makin banyak fitur-fiturnya yang resmi ditutup. Mulai dari aplikasi Line Today. Line Today itu udah resmi ditutup bulan Juli tapi 2 tahun yang lalu. Tahun 2022 resmi ditutup. pamit dari Indonesia, Line Today. Terus ada lagi Lineom. Ini aplikasi buat sharing file ya di Line. Itu juga resmi pamit dari Indonesia. Goodbye Line Foom. Gua aja sampai enggak tahu Line Foom ini barang apa. Ternyata ada di bumi ini ya. Lalu ada lagi yang ketiga, aplikasi buat berbagi tagihan nih. Jadi kalau lu lagi pergi makan atau lu mau bayar, lu bisa bagi split bill. Namanya namanya line split bill. Di Indonesia itu udah resmi juga ditutup. Ini fresh from the oven. Baru kemarin nih, awal Juli 2025. Lain, split build resmi ditup. Wis ngeri nih teman-teman. Bahkan disuruh langsung segera simpan data kalian kalau lu masih pakai aplikasi yang namanya Line. By the way, jadi pertanyaan ya, lu masih ingat enggak sih pada suatu masa banyak orang Indonesia pernah pakai aplikasi ini dan sekarang kok bisa-bisanya makin sedikit ya penggunanya. Apa jangan-jangan nasibnya akan seperti Blackberry Messenger yang sempat tersangat terkenal berpuluh-puluh tahun lalu atau jangan-jangan dia bisa menjadi sukses. Anyway, kalau lu penasaran kita kupas tuntas yuk. Kenapa bisnis lain menuju jurang kehancuran? Makanya jangan dikip video ini. Let's check this. [Musik] So, Teman-teman, buat yang belum tahu ya, sejarah kelahirannya Line ini benar-benar sangat menarik sih. Karena bermula dari peristiwa gempa bumi 8,9 skala richer yang terjadi di Jepang tahun 2011 dan ini menciptakan tsunami, Guys. Tsunaminya tingginya 30 kaki lebih. Korban jiwa ada begitu banyak. Gempa bumi ini begitu mengerikan karena kemudian menimbulkan retakan. Retakannya menimbulkan kerusakan di pabrik listrik tenaga nuklir yang namanya Fukushima Daichi. Jadi ini peristiwa yang sangat populer karena radiasi nuklirnya juga sampai ke Indonesia dalam bentuk apa? Ikan-ikan beracun. Ikan-ikan di laut yang terkontaminasi radiasi nuklir di laut Jepang ternyata berenang sampai ke laut Indonesia. Terus lu makan. E syukurlah lu masih hidup. Ya. Anyway, ini sangat unik karena ketika terjadi gempa bumi yang dahsyat itu sekitar 18.000 orang meninggal dunia, Guys, di tempat karena bencana yang luar biasa besar ini. Dan ketika terjadi bencana di mana-mana juga di Indonesia biasanya apa yang terjadi? Saluran komunikasi terputus, saluran akses karena longsor dan lain sebagainya juga hilang, bantuan susah masuk, koordinasi antara pemberi bantuan dan rakyat yang di dalam itu juga hilang. Karena tower-tawur banyak yang hancur, Guys. Menara BTS, kabel di bawah laut, dan lain sebagainya. Nah, ini menciptakan kesulitan karena masyarakat Jepang ya pada saat itu masih mengandalkan komunikasi satu sama lain itu pakai SMS ya. Mereka budayanya budaya SMS dan telepon zaman itu. Sampai kemudian para korban ini saking kesulitannya mereka sudah terdampar, terjepit, enggak bisa bergerak ke mana-mana, gelap gulita, enggak ada listrik. Dan mereka juga gak ada cara gimana caranya menghubungi teman-teman terdekat mereka, orang yang mereka sayangin, anak, istri, keluarga mereka. Enggak ada caranya. So, mereka harus cari cara menggunakan koneksi internet, mungkin menggunakan satelit dan lain-lain sebagainya untuk menjangkau keluarga mereka. Nah, dalam peristiwa yang mengerikan ini dan mencekam ini ya, ternyata menciptakan kesempatan. Kesempatan ini dilihat oleh karyawan perusahaan NHN Japan. NHN ini by the way bukan perusahaan Jepang. NHN ini adalah anak perusahaan milik Korea Selatan yang namanya Never. Ya, anyway, teman-teman pasti tahulah kalau lu bekerja di dunia IT. Saat itu gua sendiri pernah di Tensen kita pegang WeChat itu lawannya banyak banget lah. Ada WeChat, Kaka Talk, BBM, WhatsApp, ada Line, ada Beatalk dan lain sebagainya lah ya. Banyak dari Korea juga produk itu ya. Salah satunya ya ternyata Line. Line itu adalah produk Korea Selatan yang sangat populer di Jepang. Bahkan orang Jepang mengira Line adalah aplikasi made in Japan karya anak bangsa Jepang. Padahal enggak. Ini aplikasi mirip perusahaan Korea. Tetapi karena never perusahaan Corsel ini berhasil bikin sebuah aplikasi lain dan kebelakangan sangat populer di Jepang. Dan ini ternyata menjadi solusi bagi rakyat Jepang yang terdampar, yang terjepit, yang di rumahnya terputus, tidak bisa telepon atau SMS normal ya mereka bisa mengandalkan aplikasi Never untuk situasi krisis. Bahkan saking pesatnya pertumbuhan Line, belum 1 tahun berdiri Line itu sudah mendapatkan 50 juta user di Jepang. Ini jauh mengalahkan Facebook Jepang yang membutuhkan 3 tahun untuk mendapatkan 50 juta user. Satu hal yang mengejutkan dan luar biasa dari line untuk saat itu di mana mayoritas orang untuk ngirim teks pesan atau telepon harus mengandalkan jaringan GSM dan berbayar hanya untuk kirim pesan singkat. Menggunakan aplikasi lain, ternyata bisa menelepon dan mengirimkan pesan hanya menggunakan paket data. Jadi, harganya bisa jauh sangat murah. Karena kalaupun mereka ngobrol lewat telepon, mereka hanya bayar data internetnya saja dibandingkan harus membayar jaringan GSM untuk bertelepon dengan kerabatnya. Makanya gak heran karena di Jepang ternyata aplikasi buatan Never yang namanya Line ini begitu populer. Mereka bisa mencapai 300 juta downloader ya user hanya dalam waktu 2 tahun sejak mereka diluncurkan. Dan di tahun 2013 alias 2 tahun setelah peristiwa gempa bumi di Jepang, lain sudah mendominasi pasar Jepang dan negara-negara Asia lain seperti Taiwan, Thailand, dan bahkan sampai sukses besar di negara Latin Amerika seperti Meksiko, Colombia, dan Venezuela. Nah, untuk di Indonesia sendiri ya itu gua menyaksikan ya Line itu hadir di tahun 2012 lah dan mereka mulai betul-betul lokalisasi konten hire orang-orang di Indonesia, bikin tim Indonesia di tahun 2013. Jadi kita bisa bilang geraknya cepat banget. 2011 gempa bumi, 2012 masuk Indonesia buka kantor. 2013 sudah mulai lokalisasi konten. Makanya jangan heran kalau waktu itu lu lihat Line ini rasanya Indonesia banget gitu loh. Bercandanya, stikernya, jokes-nya itu Indonesia banget. Dan ketika dia mulai resmi hiring tim di Indonesia, ya Line ternyata berhasil mendapatkan sukses luar biasa, Guys. Karena mereka berhasil masuk top five. Jadi aplikasi lima besar dengan pengguna terbanyak di Indonesia. Ternyata Line berhasil masuk ke peringkat lima. bisa duduk sama besar sejajar dengan Facebook yang udah lebih dahulu, lebih populer dengan WhatsApp dan lain sebagainya. So, ini aplikasi yang sangat luar biasa ya. Korea Selatan bisa lihat peluang pasar mereka sukses di pasar Jepang dan mereka PD ambil alih pasar Indonesia juga. Begitu hebatnya Line di tahun 2013, 2 tahun sejak diluncurkan Omzet Line itu sudah sampai R5,5 triliun. Wis bisnis apa coba? Mereka bisa cuan 5,5 triliun hanya dari menjual stiker. Yang kedua, official brand account dan yang ketiga in purchase. Jadi lu bisa belanja item-item lah. Belanja yang ada di aplikasinya mereka lah. So, total pendapatan mereka itu 5,5 triliun, Guys. Hebat sih. Tapi sayang ser000u sayang ya segala sesuatu ada masanya ya. Termasuk aplikasi ajaib yang namanya Line ini ternyata mulai ditinggalkan khususnya di Indonesia. Apa alasannya aplikasi ajaib ini ditinggalkan, Guys? Ternyata kita mendeteksi ada tujuh alasan loh kenapa Line mulai ditinggalkan oleh penggunanya di Indonesia. So alasan pertama itu berhubungan dengan ya penggunanya sendiri. Penggunanya Line itu sudah banyak yang pindah ke WhatsApp. Kok bisa? Karena ketika tahun 2011, 2012, 2013 mayoritas pengguna lain gua yakin umurnya masih 20-an. Tetapi masuk ke detik ini, banyak pengguna lain itu usianya udah 30-an atau sudah tambah usia. Ketika mereka sudah tambah usia, mereka enggak lagi anak SMA, mereka enggak lagi anak kuliahan, mereka terpaksa harus masuk ke dunia kerja. Ketika mereka masuk ke dunia kerja, bocil-bocil ini ketemu generasi milenials, ketemu generasi X yang enggak ngerti pakai Line, mereka ngertinya pakai WhatsApp. Jadi, mau enggak mau bocil-bocil SMA mahasiswa ini yang dulunya pakai L terpaksa pindah ke WhatsApp karena tuntutan dunia kerja seiring dengan pertumbuhan usia. Ternyata demography line yang terlalu kuat di kalangan ABG, di kalangan remaja itu jadi serangan balik buat dia. Ketika mereka nambah umur, mereka secara tidak langsung dipaksa untuk pindah aplikasi yang lebih berfungsi di dunia kerjanya, bukan lagi dunia sosial SMA atau kuliahannya, Guys. Jadi, ternyata eh strategi branding line yang anak muda banget justru menjadi pembunuhnya mereka sendiri. Karena sekarang user mereka sudah tidak relevan lagi. Jadi lain gagal menjawab relevansi perkembangan zaman. Dan ini lu makanya harus hatihati kalau seandainya menciptakan brand lu harus tahu usianya akan bertumbuh. Contoh paling gampanglah mungkin teman-teman di sini pernah nonton Naruto ya. Naruto kan terus bertambah tua. Hari ini kalau lu masih ngotot bikin Naruto dengan gaya yang sudah berumur, enggak ada yang laku tuh produk-produknya Naruto. Makanya dia bikin Boruto supaya bisa relevan dengan bocil-bocil yang baru lahir. Kalau enggak mati. ini pintarnya mereka gitu loh. Nah, lain gagal baca ini bahwa penggunanya pembaca komiknya itu sudah nambah umur. Harusnya mereka berubah juga. Either stay ikutin umurnya jadi Line berkembang menjadi aplikasi yang lebih dewasa tidak lagi anak muda atau ya Line tetap kuat di core-nya itu dan mulai masuk ke generasi Genzi. Tapi mereka kalah cepat karena sekarang Gen lebih banyak pakai Instagram dan TikTok. Dan Instagram dan TikTok juga udah bisa sharing pesan, ada inbox-nya, ada messaging-nya juga. Dan fakta ini tercermin kok, Guys, bahwa makin banyak pengguna lain itu yang pindah ke toko sebelah namanya WhatsApp. Karena berdasarkan data ya, di tahun 2023 jumlah pengguna Active Line itu hanya tinggal 196 juta saja. Sementara pengguna aktif WhatsApp ada 2,4 miliar. manusia ini angka yang luar biasa fantastis artinya WhatsApp penggunanya 12 kali lipat lebih banyak dibandingkan pengguna lain. Nah, alasan kedua. Alasan kedua ini berhubungan dengan handphone, Guys. Jadi, handphone lu ya. Nah, Teman-teman tahu enggak sih makin hari itu makin banyak fitur-fitur di Line itu yang sampah, enggak penting, enggak berguna. Makanya kalau lu buka aplikasi Line itu sangat lelet, lambat, lemot, itu sangat memberatkan performance handphone kita. Dan ini penting banget karena waktu gua di Tensen ya di WeChat itu penting banget buat kita ngitung orang nyalain handphone, masukin password, scrolling ke aplikasinya, pencet aplikasinya butuh berapa detik untuk masuk ke tampilan utama aplikasi yang mereka inginkan itu. Ternyata line itu ya jujur aja, Guys. Hai, gua Benix, the CEO of Benix Investor Group. Dengan lu bergabung bersama Benix Investor Group, lu bakal dapat ilmu investasi saham selama 1 tahun penuh. Dan bukan cuman itu, lu bakalan dapat strategi rahasia cuannya Benix. Ratusan bahkan ribuan persen cuma dari saham. Di Benix Investor Group, lu bakal dapat begitu banyak pelajaran investasi selama 1 tahun ke depan, Guys. Mulai dari sharing saham yang bagus bareng BENX setiap bulannya. Kita juga bakal update portofolio Benix dan kita juga akan membedah laporan keuangan setiap bulannya. Yang paling seru kita juga bakal mengunjungi nih emiten-emiten yang ada di ISG supaya lu bisa ngecek langsung ini saham perusahaan bagus, perusahaan bodong atau perusahaan sampah. Kalau gua sih jelas gua enggak mau beli saham-saham perusahaan sampah. Nah, kalau lu gimana lu udah yakin portofolio Sam lu udah bersih dari saham-saham perusahaan sampah ini? Kalau belum, mendingan lu segera sapu bersih deh kayak siem ini. Tahun lalu gua dan teman-teman di komunitas Sambenix saja udah cuan ratusan pers nih, Guys. Ini dari saham ANJT. Bisnisnya simpel banget, cuma jualan minyak goreng kelapa sawit. Lu juga pakai di rumah lu, ya? Enggak, N? Iya, Pak. Ini juga pakai. Eh, stop, stop, stop, stop. Ini mah saham gorengan bahaya, Guys. Kolesterolnya tinggi. Lu masih suka buang-buang duit, beli saham gorengan? Hasil rekomendasi grup sambodong di sebelah yang hobinya jualan candlestick. Goblok, berhenti, Bro. Itu sih bukan investasi, itu juri. Dan kalau lu masih belum join sekarang juga, Guys, lu itu udah rugi banget. Soalnya tahun ini aja kita udah cuan 50% lebih loh dari saham parkiran mobil yang namanya IPCC. Jadi buat apagi L ragu bergabung di komunitas saham Benix Investor Group. Soalnya guys, tahun ini aja kita udah punya list saham-saham yang berpotensi memperkaya kita semua. So, tunggu apaagi guys? Kalau lu mau cuan, segera daftarkan dirimu di komunitas saham Benix Investor Group sekarang juga. [Musik] Ternyata line itu ya jujur aja, Guys. Apapun handphone lu, merek apapun, gua yakin jauh lebih lambat buka aplikasi lain dibanding aplikasi WhatsApp. Jadi enggak heran kalau makin banyak orang yang pindah ke WhatsApp. Nah, ini salah satu kendala ya buat orang asing itu kayaknya masuk ke Indonesia langsung bikin bloating fitur-fitur dibanyakin. Lu lihat aja kayak Xiaomi itu masuk ke Indonesia bloating banget. Terus lain juga copy paste strategi itu. Mereka masuk ke sini fitur-fitur yang enggak penting kita jadi harus download. Fitur-fitur yang banyak banget. Padahal kita butuh line itu cuma buat teksting aja. Mungkin sedikit baca berita atau update dari yang lain. Tetapi kita jadi terpaksa pakai aplikasi-aplikasi yang enggak berguna sebetulnya. Jadi karena terlalu pengin line ini mendapatkan market anak ABG, anak alay, anak kuliah, orang kerja, mungkin orang tua, jadi semua fitur dia hadirkan ujung-ujungnya aplikasinya jadi lambat, lemot ya dan makin banyak orang yang malas buka aplikasi Line. Gua aja bahkan hampir lupa ya bahwa gua pernah punya aplikasi Line. Tapi ter sekarang gua jadi ingat, iya dulu kita semua pernah pakai Line, pada suatu masa kita berhenti menggunakan aplikasi Line. Terus yang ketiga ya, konyolnya Line itu udah banyak aplikasi yang gak penting, fitur-fitur yang gak penting. Eh, malah fitur-fitur yang penting di Line itu dihapus. Contoh, gua masih ingat gua pernah pakai aplikasi namanya Line Today. Itu buat baca berita lah. Jadi mereka udah bisa kurasi begitu banyak portal berita di dalam satu titik. Tinggal buka itu dapat berita dari Kompas, dari kontan, dari bisnis, dari detik. Itu gampang banget lah. Eh, fitur yang berguna itu buat gua malah didelete. Sedih banget. Terus line di-delete, open chat, line official account itu semua di-delete ya. Terus buat apalagi lu pakai line karena aplikasi yang penting malah lu tidak dikasih giliran aplikasi yang remeh-temeh enggak jelas malah lu disuruh download. Kan malas ya pakai aplikasi begitu. Nah, yang keempat, alasan keempat kenapa Line itu makin ditinggalkan? Karena kalau orang lain tuh bikin user interface itu bikin nyaman, orang cepat suka mengaksesnya, airline malah menyulitkan penggunanya. Kalau dulu ya gua masih ingat login di Line tuh bisa pakai Facebook contohnya. Sekarang udah gak bisa lagi login pakai Facebook diine. Jadi, lu harus hafalin username, password dan lain sebagainya. Itu ribet lah. Dan yang paling konyol lagi kalau lu ganti handphone, namanya juga orang di Indonesia enggak mungkin lu pakai handphone sampai 5 tahun, 10 tahun. Begitu lu ganti handphone, lu mau pakai lagi nomor line lu yang lama, lu enggak bisa, lu dipersulit. Padahal yang di aplikasi yang lama udah lu delete, handphone-nya mungkin juga udah hilang, enggak bisa, Guys. Jadi, banyak data itu hilang, usernya akibatnya hilang. Dan betul-betul ketika orang dipersulit buat instalasi lain di handphone baru mereka dan mereka gak bisa akses lagi accoun lamanya padahal di account lamanya ada file-foto segala macam ya lu udah enggak ada relevansi lagi buat gua pakai lu. Karena ternyata ya data-data kita kita enggak bisa akses lagi karena kita enggak bisa login lagi karena kita dipersulit untuk pakai aplikasi itu. Ini sama kayak salah satu bank lah di Indonesia yang gua sebel banget. Pokoknya setiap kali login username, password salah aja. Jadi ujung-ujungnya lu nelepon lagi customer servis, nelepon lagi customer service, bayar mahal dong. Lama-lama gua berpikir jangan-jangan penghasilan bank ini dari telepon premium bayar customer service itu konyol banget. Banknya dari luar negeri lagi, bank asing. Tapi aplikasinya selalu begih ya. Mungkin gua rasa lain punya strategi yang sama bikin bego aja. Makanya wajar aja kalau mereka ditinggalkan oleh penggunanya sendiri. Sedih ya. Nah, yang kelima. Yang kelima ini agak unik, Teman-teman. Line ini kan perusahaan di Korea Selatan never berkembang di Jepang. Jepang itu kan sangat menghargai privasi ya. Beda dengan masyarakat Indonesia. Nah, lain ini gagal baca ini. Masyarakat Indonesia itu lebih suka kontak-kontak kantung kartu nama segala macam. Bukan tukerin ID tapi tukerin nomor telepon. Makanya kalau di WhatsApp itu very simple. Tinggal nanya nomor telepon lu apa, langsung terkoneksi dengan kode WhatsApp lu juga. Tapi kalau laine enggak. Lu harus ngfalin ID orang siapa? Gua tanya di sini yang mau ngfalin. Eh, ketika tukeran ID lu apa? ID gua G45679 tanda petik tiga kali accumulate @com86. Siapa coba orang yang mau ngapalin itu? Kan enggak ribet banget. Jadi kalau lu mau tukaran kontak dengan sesama lu, sementara pakai WhatsApp lu tinggal berapa nomor telepon lu simpan selesai. Kan mudah. Tapi ya lain ini konsepnya sama kayak PNS lah di negara Kazakhstan. Kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah? Itu adalah prinsip hidup mereka. Jadilah itu kebawa di Indonesia. Dipersulit banget lu buat tukaran konteks dengan sesama pengguna lain. Sebetulnya ini ada hubungan dengan kultur. Jadi kalau di Jepang itu kan sangat menghargai privasi, penduduknya sedikit. Jadi mereka betul-betul menghargai privasi satu sama lain. Kalau nomor kontak handphone disebar ke mana-mana kan bahaya. Bisa divising, bisa dipam, bisa di-hack. Mereka mendingan tukaran ID supaya nomor telepon yang sifatnya pribadi tidak ke-share ke mana-mana. Nah, culture ini beda dengan di Indonesia. Indonesia culture-nya oversharing. So, enggak berguna gaya Jepang yang diterapkan line itu di Indonesia. Bukannya mempermudah komunikasi antar manusia di Indonesia, tetapi malah mempersulit komunikasi antar manusia di Indonesia. Nah, yang keenam. Keenam ini ada faktor regulasi. Ini sama aja ya. Namanya juga lu investor. Ini wajib tahu karena regulasi juga menjadi penghambat perkembangan line di Indonesia. Dan ini mungkin kabar baik buat kita. Kok bisa? Jadi bayangin ya, pada masanya Line itu penggunanya begitu banyak atau WhatsApp hari ini penggunanya begitu banyak. Logikanya kalau lu jadi pemilik WhatsApp atau pemilik Kin di Indonesia, hei pengguna gua udah ratusan juta orang, mendingan gua bikin aja dong aplikasi buat orang bayar kayak GoPay di WhatsApp gua sendiri. WhatsApp Pay misalkan. Atau gua bikin wallet perbankan, gua buka WhatsApp wallet atau Line Wallet. Terus gua buka juga shop e-commerce, WhatsApp Pedia misalkan, atau line lapak, lapak lain gitu loh. Logikanya kan begitu. Jadi betul-betul super app yang maha kuasa karena mereka sudah punya basis data dari seluruh penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti pakai aplikasi WhatsApp saat ini ya atau lain zaman dulu. Tetapi ternyata buy regulasi itu tidak dimungkinkan karena regulasi Indonesia kalau lu punya wallet izinnya izin wallet sendiri. Aplikasi aplikasi wallet sendiri kalau lu mau aplikasi payment ya lu aplikasi payment sendiri. Enggak boleh dicombine dengan sosial media. Makanya jangan heran kayak kemarin TikTok itu di demo besar bahkan sampai dihambat buat berbisnis di Indonesia karena dia perusahaan media sosial bukan perusahaan e-commerce. Ini izinnya beda. So, mereka mau enggak mau harus akuisisi Tokopedia. Dan salah satu yang jadi faktor ini jarang orang bahas ya, ini faktor soal kepemilikan, data, rahasia negara. Tadi kan gua udah bilang struktur kepemilikan lain ini begitu kompleks. Rakyat Jepang mengira lain adalah produk asli karya anak bangsa Jepang. Padahal di dalamnya ada unsur Korea Selatan. Dan teman-teman tahu hobinya Jepang dan Korea Selatan adalah berantem, berperang dari zaman ratusan tahun yang lalu sampai detik ini. Dan ini menciptakan trauma buruk nih buat rakyat di Jepang dan pemerintahan di Jepang sendiri. Teman-teman tahu oposisi di Korea Selatan hari ini lagi demo juga. Nah, di Korea juga itu lagi demo juga. Oposisi Korea itu bilang kalau Line harus dimiliki oleh Jepang. Itu artinya kita menyerah dan bertekuk lutuk kepada bangsa Jepang. Jadi sampai sekarang pun mereka masih jadi bahan gorengan terus nih buat menggulingkan Presiden Korea Selatan saat ini. Kalau dia sampai hati tunduk kepada permintaan pemerintah Jepang untuk menyerahkan saham lain dari Korea ke Jepang, dia pasti jatuh digulingkan karena langsung digoreng sama oposisi bahwa Korea bertekuk lutut di hadapan samurai Jepang. Wih, segitunya ya politik di Korea Selatan itu menggabungkan aspek bisnis, teknologi, dan politik rakyatnya. Padahal ini cuma ngomongin aplikasi media sosial loh, sosm chattingan doang. Tapi dampak politiknya sangat hebat karena bisa menjatuhkan presiden sekalipun. Well, anyway guys, ini kan channel investasi. Kenapa kita bahas tentang kehancurannya Line terang saja? Karena Line ini adalah perusahaan Tbk. Teman-teman tahu Line ini listingnya di Jepang ya terang saja karena mereka dikenal sebagai perusahaan Jepang. Dan kejatuhannya Line ini sebetulnya udah bisa kita lihat dari kejatuhan sahamnya Lin sendiri. Dalam 5 tahun terakhir, Teman-teman tahu harga saham lain itu cuman 500 yen. Hari ini naik dikit 5 poin jadi 513 yen. Anyway, lu pegang sahamnya lain ni selama 5 tahun apa yang terjadi? Lu cuma naik 1% stakn lah, sedih lah. Dan dari sini lu pasti udah tahu dong analisanya apa. Ya, sebaliknya kalau ada yang dirugikan pasti ada yang diuntungkan. Di awal kita sudah bilang ketika line nyungsep ada aplikasi lain yang naik tinggi yaitu WhatsApp. Makanya teman-teman jangan heran kalau detik ini WhatsApp yang dimiliki oleh Facebook dan teman-teman tahu Facebook itu kode sahamnya adalah meta. Saham meta kalau kamu pegang dalam 5 tahun periode yang sama dengan lain, cuan kamu itu udah hampir 200%. Jadi saham Facebook itu tadinya cuma 200-an, hari ini udah 700-an. So, kalau lu pegang saham Facebook dibandingkan pegang sahamnya Line, ya lu udah auto cuan nih, Guys. Well, anyway, ini adalah salah satu indikasi ya, bahwa ternyata bisnis itu betul-betul fluid. Lu itu betul-betul harus bisa ikut dengan yang namanya perubahan zaman, perubahan generasi dari generasi milenial sekarang kita dai generasi Genzi. Dan ternyata enggak semua perusahaan siap loh dengan perubahan zaman ini. Menurut kalian gimana? Gua udah sebutin tuh enam alasan kenapa line itu hancur dan makin sedikit penggunanya. Menurut kamu alasan ketujuh apa ya yang menyebabkan Line itu hancur dan makin sedikit penggunaannya? Dan masih ada harapan engak ya buat Line ini bersaing bangkit lagi melawan WhatsApp yang sekarang sudah dimiliki oleh Facebook atau justru malah makin berat nih perjuangan Line di masa depan. Oke guys, ditunggu ya pandangan kamu, komentar kamu seperti apa. Menurut karya masa depan Line akan makin sukses, makin jaya, atau makin nyungsep. Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Jangan lupa subscribe dan nyalakan loncengnya. Salam sehat. Salam cuan. Bye bye. [Musik]