Transcript
pfSsgWdsZsI • LINE'S DESTRUCTION IN INDONESIA!! Once a Millennial Favorite, Now a Digital Wreck?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0397_pfSsgWdsZsI.txt
Kind: captions
Language: id
Bad news, Guys. Salah satu aplikasi buat
teksting, aplikasi messaging yang pernah
sangat populer di Indonesia hari ini
menuju kehancuran. Teman-teman tahu, lu
pernah dengar dan pasti pernah pakai
aplikasi yang namanya Line. Line itu
makin hari itu makin sedikit penggunanya
dan enggak heran kalau makin banyak
fitur-fiturnya yang resmi ditutup. Mulai
dari aplikasi Line Today. Line Today itu
udah resmi ditutup bulan Juli tapi 2
tahun yang lalu. Tahun 2022 resmi
ditutup. pamit dari Indonesia, Line
Today. Terus ada lagi Lineom. Ini
aplikasi buat sharing file ya di Line.
Itu juga resmi pamit dari Indonesia.
Goodbye Line Foom. Gua aja sampai enggak
tahu Line Foom ini barang apa. Ternyata
ada di bumi ini ya. Lalu ada lagi yang
ketiga, aplikasi buat berbagi tagihan
nih. Jadi kalau lu lagi pergi makan atau
lu mau bayar, lu bisa bagi split bill.
Namanya namanya line split bill. Di
Indonesia itu udah resmi juga ditutup.
Ini fresh from the oven. Baru kemarin
nih, awal Juli 2025. Lain, split build
resmi ditup. Wis ngeri nih teman-teman.
Bahkan disuruh langsung segera simpan
data kalian kalau lu masih pakai
aplikasi yang namanya Line. By the way,
jadi pertanyaan ya, lu masih ingat
enggak sih pada suatu masa banyak orang
Indonesia pernah pakai aplikasi ini dan
sekarang kok bisa-bisanya makin sedikit
ya penggunanya. Apa jangan-jangan
nasibnya akan seperti Blackberry
Messenger yang sempat tersangat terkenal
berpuluh-puluh tahun lalu atau
jangan-jangan dia bisa menjadi sukses.
Anyway, kalau lu penasaran kita kupas
tuntas yuk. Kenapa bisnis lain menuju
jurang kehancuran? Makanya jangan dikip
video ini. Let's check this.
[Musik]
So, Teman-teman, buat yang belum tahu
ya, sejarah kelahirannya Line ini
benar-benar sangat menarik sih. Karena
bermula dari peristiwa gempa bumi 8,9
skala richer yang terjadi di Jepang
tahun 2011 dan ini menciptakan tsunami,
Guys. Tsunaminya tingginya 30 kaki
lebih. Korban jiwa ada begitu banyak.
Gempa bumi ini begitu mengerikan karena
kemudian menimbulkan retakan. Retakannya
menimbulkan kerusakan di pabrik listrik
tenaga nuklir yang namanya Fukushima
Daichi. Jadi ini peristiwa yang sangat
populer karena radiasi nuklirnya juga
sampai ke Indonesia dalam bentuk apa?
Ikan-ikan beracun. Ikan-ikan di laut
yang terkontaminasi radiasi nuklir di
laut Jepang ternyata berenang sampai ke
laut Indonesia. Terus lu makan. E
syukurlah lu masih hidup. Ya. Anyway,
ini sangat unik karena ketika terjadi
gempa bumi yang dahsyat itu sekitar
18.000 orang meninggal dunia, Guys, di
tempat karena bencana yang luar biasa
besar ini. Dan ketika terjadi bencana di
mana-mana juga di Indonesia biasanya apa
yang terjadi? Saluran komunikasi
terputus, saluran akses karena longsor
dan lain sebagainya juga hilang, bantuan
susah masuk, koordinasi antara pemberi
bantuan dan rakyat yang di dalam itu
juga hilang. Karena tower-tawur banyak
yang hancur, Guys. Menara BTS, kabel di
bawah laut, dan lain sebagainya. Nah,
ini menciptakan kesulitan karena
masyarakat Jepang ya pada saat itu masih
mengandalkan komunikasi satu sama lain
itu pakai SMS ya. Mereka budayanya
budaya SMS dan telepon zaman itu. Sampai
kemudian para korban ini saking
kesulitannya mereka sudah terdampar,
terjepit, enggak bisa bergerak ke
mana-mana, gelap gulita, enggak ada
listrik. Dan mereka juga gak ada cara
gimana caranya menghubungi teman-teman
terdekat mereka, orang yang mereka
sayangin, anak, istri, keluarga mereka.
Enggak ada caranya. So, mereka harus
cari cara menggunakan koneksi internet,
mungkin menggunakan satelit dan
lain-lain sebagainya untuk menjangkau
keluarga mereka. Nah, dalam peristiwa
yang mengerikan ini dan mencekam ini ya,
ternyata menciptakan kesempatan.
Kesempatan ini dilihat oleh karyawan
perusahaan NHN Japan. NHN ini by the way
bukan perusahaan Jepang. NHN ini adalah
anak perusahaan milik Korea Selatan yang
namanya Never. Ya, anyway, teman-teman
pasti tahulah kalau lu bekerja di dunia
IT. Saat itu gua sendiri pernah di
Tensen kita pegang WeChat itu lawannya
banyak banget lah. Ada WeChat, Kaka
Talk, BBM, WhatsApp, ada Line, ada
Beatalk dan lain sebagainya lah ya.
Banyak dari Korea juga produk itu ya.
Salah satunya ya ternyata Line. Line itu
adalah produk Korea Selatan yang sangat
populer di Jepang. Bahkan orang Jepang
mengira Line adalah aplikasi made in
Japan karya anak bangsa Jepang. Padahal
enggak. Ini aplikasi mirip perusahaan
Korea. Tetapi karena never perusahaan
Corsel ini berhasil bikin sebuah
aplikasi lain dan kebelakangan sangat
populer di Jepang. Dan ini ternyata
menjadi solusi bagi rakyat Jepang yang
terdampar, yang terjepit, yang di
rumahnya terputus, tidak bisa telepon
atau SMS normal ya mereka bisa
mengandalkan aplikasi Never untuk
situasi krisis. Bahkan saking pesatnya
pertumbuhan Line, belum 1 tahun berdiri
Line itu sudah mendapatkan 50 juta user
di Jepang. Ini jauh mengalahkan Facebook
Jepang yang membutuhkan 3 tahun untuk
mendapatkan 50 juta user. Satu hal yang
mengejutkan dan luar biasa dari line
untuk saat itu di mana mayoritas orang
untuk ngirim teks pesan atau telepon
harus mengandalkan jaringan GSM dan
berbayar hanya untuk kirim pesan
singkat. Menggunakan aplikasi lain,
ternyata bisa menelepon dan mengirimkan
pesan hanya menggunakan paket data.
Jadi, harganya bisa jauh sangat murah.
Karena kalaupun mereka ngobrol lewat
telepon, mereka hanya bayar data
internetnya saja dibandingkan harus
membayar jaringan GSM untuk bertelepon
dengan kerabatnya. Makanya gak heran
karena di Jepang ternyata aplikasi
buatan Never yang namanya Line ini
begitu populer. Mereka bisa mencapai 300
juta downloader ya user hanya dalam
waktu 2 tahun sejak mereka diluncurkan.
Dan di tahun 2013 alias 2 tahun setelah
peristiwa gempa bumi di Jepang, lain
sudah mendominasi pasar Jepang dan
negara-negara Asia lain seperti Taiwan,
Thailand, dan bahkan sampai sukses besar
di negara Latin Amerika seperti Meksiko,
Colombia, dan Venezuela. Nah, untuk di
Indonesia sendiri ya itu gua menyaksikan
ya Line itu hadir di tahun 2012 lah dan
mereka mulai betul-betul lokalisasi
konten hire orang-orang di Indonesia,
bikin tim Indonesia di tahun 2013. Jadi
kita bisa bilang geraknya cepat banget.
2011 gempa bumi, 2012 masuk Indonesia
buka kantor. 2013 sudah mulai lokalisasi
konten. Makanya jangan heran kalau waktu
itu lu lihat Line ini rasanya Indonesia
banget gitu loh. Bercandanya, stikernya,
jokes-nya itu Indonesia banget. Dan
ketika dia mulai resmi hiring tim di
Indonesia, ya Line ternyata berhasil
mendapatkan sukses luar biasa, Guys.
Karena mereka berhasil masuk top five.
Jadi aplikasi lima besar dengan pengguna
terbanyak di Indonesia. Ternyata Line
berhasil masuk ke peringkat lima. bisa
duduk sama besar sejajar dengan Facebook
yang udah lebih dahulu, lebih populer
dengan WhatsApp dan lain sebagainya. So,
ini aplikasi yang sangat luar biasa ya.
Korea Selatan bisa lihat peluang pasar
mereka sukses di pasar Jepang dan mereka
PD ambil alih pasar Indonesia juga.
Begitu hebatnya Line di tahun 2013, 2
tahun sejak diluncurkan Omzet Line itu
sudah sampai R5,5 triliun.
Wis bisnis apa coba? Mereka bisa cuan
5,5 triliun hanya dari menjual stiker.
Yang kedua, official brand account dan
yang ketiga in purchase. Jadi lu bisa
belanja item-item lah. Belanja yang ada
di aplikasinya mereka lah. So, total
pendapatan mereka itu 5,5 triliun, Guys.
Hebat sih. Tapi sayang ser000u sayang ya
segala sesuatu ada masanya ya. Termasuk
aplikasi ajaib yang namanya Line ini
ternyata mulai ditinggalkan khususnya di
Indonesia. Apa alasannya aplikasi ajaib
ini ditinggalkan, Guys? Ternyata kita
mendeteksi ada tujuh alasan loh kenapa
Line mulai ditinggalkan oleh penggunanya
di Indonesia. So alasan pertama itu
berhubungan dengan ya penggunanya
sendiri. Penggunanya Line itu sudah
banyak yang pindah ke WhatsApp. Kok
bisa? Karena ketika tahun 2011, 2012,
2013 mayoritas pengguna lain gua yakin
umurnya masih 20-an. Tetapi masuk ke
detik ini, banyak pengguna lain itu
usianya udah 30-an atau sudah tambah
usia. Ketika mereka sudah tambah usia,
mereka enggak lagi anak SMA, mereka
enggak lagi anak kuliahan, mereka
terpaksa harus masuk ke dunia kerja.
Ketika mereka masuk ke dunia kerja,
bocil-bocil ini ketemu generasi
milenials, ketemu generasi X yang enggak
ngerti pakai Line, mereka ngertinya
pakai WhatsApp. Jadi, mau enggak mau
bocil-bocil SMA mahasiswa ini yang
dulunya pakai L terpaksa pindah ke
WhatsApp karena tuntutan dunia kerja
seiring dengan pertumbuhan usia.
Ternyata demography line yang terlalu
kuat di kalangan ABG, di kalangan remaja
itu jadi serangan balik buat dia. Ketika
mereka nambah umur, mereka secara tidak
langsung dipaksa untuk pindah aplikasi
yang lebih berfungsi di dunia kerjanya,
bukan lagi dunia sosial SMA atau
kuliahannya, Guys. Jadi, ternyata eh
strategi branding line yang anak muda
banget justru menjadi pembunuhnya mereka
sendiri. Karena sekarang user mereka
sudah tidak relevan lagi. Jadi lain
gagal menjawab relevansi perkembangan
zaman. Dan ini lu makanya harus hatihati
kalau seandainya menciptakan brand lu
harus tahu usianya akan bertumbuh.
Contoh paling gampanglah mungkin
teman-teman di sini pernah nonton Naruto
ya. Naruto kan terus bertambah tua. Hari
ini kalau lu masih ngotot bikin Naruto
dengan gaya yang sudah berumur, enggak
ada yang laku tuh produk-produknya
Naruto. Makanya dia bikin Boruto supaya
bisa relevan dengan bocil-bocil yang
baru lahir. Kalau enggak mati.
ini pintarnya mereka gitu loh. Nah, lain
gagal baca ini bahwa penggunanya pembaca
komiknya itu sudah nambah umur. Harusnya
mereka berubah juga. Either stay ikutin
umurnya jadi Line berkembang menjadi
aplikasi yang lebih dewasa tidak lagi
anak muda atau ya Line tetap kuat di
core-nya itu dan mulai masuk ke generasi
Genzi. Tapi mereka kalah cepat karena
sekarang Gen lebih banyak pakai
Instagram dan TikTok. Dan Instagram dan
TikTok juga udah bisa sharing pesan, ada
inbox-nya, ada messaging-nya juga. Dan
fakta ini tercermin kok, Guys, bahwa
makin banyak pengguna lain itu yang
pindah ke toko sebelah namanya WhatsApp.
Karena berdasarkan data ya, di tahun
2023 jumlah pengguna Active Line itu
hanya tinggal 196 juta saja. Sementara
pengguna aktif WhatsApp ada 2,4
miliar. manusia ini angka yang luar
biasa fantastis artinya WhatsApp
penggunanya 12 kali lipat lebih banyak
dibandingkan pengguna lain. Nah, alasan
kedua. Alasan kedua ini berhubungan
dengan handphone, Guys. Jadi, handphone
lu ya. Nah, Teman-teman tahu enggak sih
makin hari itu makin banyak fitur-fitur
di Line itu yang sampah, enggak penting,
enggak berguna. Makanya kalau lu buka
aplikasi Line itu sangat lelet, lambat,
lemot, itu sangat memberatkan
performance handphone kita. Dan ini
penting banget karena waktu gua di
Tensen ya di WeChat itu penting banget
buat kita ngitung orang nyalain
handphone, masukin password, scrolling
ke aplikasinya, pencet aplikasinya butuh
berapa detik untuk masuk ke tampilan
utama aplikasi yang mereka inginkan itu.
Ternyata line itu ya jujur aja, Guys.
Hai, gua Benix, the CEO of Benix
Investor Group. Dengan lu bergabung
bersama Benix Investor Group, lu bakal
dapat ilmu investasi saham selama 1
tahun penuh. Dan bukan cuman itu, lu
bakalan dapat strategi rahasia cuannya
Benix. Ratusan bahkan ribuan persen cuma
dari saham. Di Benix Investor Group, lu
bakal dapat begitu banyak pelajaran
investasi selama 1 tahun ke depan, Guys.
Mulai dari sharing saham yang bagus
bareng BENX setiap bulannya. Kita juga
bakal update portofolio Benix dan kita
juga akan membedah laporan keuangan
setiap bulannya. Yang paling seru kita
juga bakal mengunjungi nih emiten-emiten
yang ada di ISG supaya lu bisa ngecek
langsung ini saham perusahaan bagus,
perusahaan bodong atau perusahaan
sampah.
Kalau gua sih jelas gua enggak mau beli
saham-saham perusahaan sampah. Nah,
kalau lu gimana lu udah yakin portofolio
Sam lu udah bersih dari saham-saham
perusahaan sampah ini? Kalau belum,
mendingan lu segera sapu bersih deh
kayak siem ini.
Tahun lalu gua dan teman-teman di
komunitas Sambenix saja udah cuan
ratusan pers nih, Guys. Ini dari saham
ANJT. Bisnisnya simpel banget, cuma
jualan minyak goreng kelapa sawit. Lu
juga pakai di rumah lu, ya? Enggak, N?
Iya, Pak. Ini juga pakai.
Eh, stop, stop, stop, stop. Ini mah
saham gorengan bahaya, Guys.
Kolesterolnya tinggi. Lu masih suka
buang-buang duit, beli saham gorengan?
Hasil rekomendasi grup sambodong di
sebelah yang hobinya jualan candlestick.
Goblok, berhenti, Bro. Itu sih bukan
investasi, itu juri.
Dan kalau lu masih belum join sekarang
juga, Guys, lu itu udah rugi banget.
Soalnya tahun ini aja kita udah cuan 50%
lebih loh dari saham parkiran mobil yang
namanya IPCC.
Jadi buat apagi L ragu bergabung di
komunitas saham Benix Investor Group.
Soalnya guys, tahun ini aja kita udah
punya list saham-saham yang berpotensi
memperkaya kita semua. So, tunggu apaagi
guys? Kalau lu mau cuan, segera
daftarkan dirimu di komunitas saham
Benix Investor Group sekarang juga.
[Musik]
Ternyata line itu ya jujur aja, Guys.
Apapun handphone lu, merek apapun, gua
yakin jauh lebih lambat buka aplikasi
lain dibanding aplikasi WhatsApp. Jadi
enggak heran kalau makin banyak orang
yang pindah ke WhatsApp. Nah, ini salah
satu kendala ya buat orang asing itu
kayaknya masuk ke Indonesia langsung
bikin bloating fitur-fitur dibanyakin.
Lu lihat aja kayak Xiaomi itu masuk ke
Indonesia bloating banget. Terus lain
juga copy paste strategi itu. Mereka
masuk ke sini fitur-fitur yang enggak
penting kita jadi harus download.
Fitur-fitur yang banyak banget. Padahal
kita butuh line itu cuma buat teksting
aja. Mungkin sedikit baca berita atau
update dari yang lain. Tetapi kita jadi
terpaksa pakai aplikasi-aplikasi yang
enggak berguna sebetulnya. Jadi karena
terlalu pengin line ini mendapatkan
market anak ABG, anak alay, anak kuliah,
orang kerja, mungkin orang tua, jadi
semua fitur dia hadirkan ujung-ujungnya
aplikasinya jadi lambat, lemot ya dan
makin banyak orang yang malas buka
aplikasi Line. Gua aja bahkan hampir
lupa ya bahwa gua pernah punya aplikasi
Line. Tapi ter sekarang gua jadi ingat,
iya dulu kita semua pernah pakai Line,
pada suatu masa kita berhenti
menggunakan aplikasi Line. Terus yang
ketiga ya, konyolnya Line itu udah
banyak aplikasi yang gak penting,
fitur-fitur yang gak penting. Eh, malah
fitur-fitur yang penting di Line itu
dihapus. Contoh, gua masih ingat gua
pernah pakai aplikasi namanya Line
Today. Itu buat baca berita lah. Jadi
mereka udah bisa kurasi begitu banyak
portal berita di dalam satu titik.
Tinggal buka itu dapat berita dari
Kompas, dari kontan, dari bisnis, dari
detik. Itu gampang banget lah. Eh, fitur
yang berguna itu buat gua malah
didelete. Sedih banget. Terus line
di-delete, open chat, line official
account itu semua di-delete ya. Terus
buat apalagi lu pakai line karena
aplikasi yang penting malah lu tidak
dikasih giliran aplikasi yang
remeh-temeh enggak jelas malah lu
disuruh download. Kan malas ya pakai
aplikasi begitu. Nah, yang keempat,
alasan keempat kenapa Line itu makin
ditinggalkan? Karena kalau orang lain
tuh bikin user interface itu bikin
nyaman, orang cepat suka mengaksesnya,
airline malah menyulitkan penggunanya.
Kalau dulu ya gua masih ingat login di
Line tuh bisa pakai Facebook contohnya.
Sekarang udah gak bisa lagi login pakai
Facebook diine. Jadi, lu harus hafalin
username, password dan lain sebagainya.
Itu ribet lah. Dan yang paling konyol
lagi kalau lu ganti handphone, namanya
juga orang di Indonesia enggak mungkin
lu pakai handphone sampai 5 tahun, 10
tahun. Begitu lu ganti handphone, lu mau
pakai lagi nomor line lu yang lama, lu
enggak bisa, lu dipersulit. Padahal yang
di aplikasi yang lama udah lu delete,
handphone-nya mungkin juga udah hilang,
enggak bisa, Guys. Jadi, banyak data itu
hilang, usernya akibatnya hilang. Dan
betul-betul ketika orang dipersulit buat
instalasi lain di handphone baru mereka
dan mereka gak bisa akses lagi accoun
lamanya padahal di account lamanya ada
file-foto segala macam ya lu udah enggak
ada relevansi lagi buat gua pakai lu.
Karena ternyata ya data-data kita kita
enggak bisa akses lagi karena kita
enggak bisa login lagi karena kita
dipersulit untuk pakai aplikasi itu. Ini
sama kayak salah satu bank lah di
Indonesia yang gua sebel banget.
Pokoknya setiap kali login username,
password salah aja. Jadi ujung-ujungnya
lu nelepon lagi customer servis, nelepon
lagi customer service, bayar mahal dong.
Lama-lama gua berpikir jangan-jangan
penghasilan bank ini dari telepon
premium bayar customer service itu
konyol banget. Banknya dari luar negeri
lagi, bank asing. Tapi aplikasinya
selalu begih ya. Mungkin gua rasa lain
punya strategi yang sama bikin bego aja.
Makanya wajar aja kalau mereka
ditinggalkan oleh penggunanya sendiri.
Sedih ya. Nah, yang kelima. Yang kelima
ini agak unik, Teman-teman. Line ini kan
perusahaan di Korea Selatan never
berkembang di Jepang. Jepang itu kan
sangat menghargai privasi ya. Beda
dengan masyarakat Indonesia. Nah, lain
ini gagal baca ini. Masyarakat Indonesia
itu lebih suka kontak-kontak kantung
kartu nama segala macam. Bukan tukerin
ID tapi tukerin nomor telepon. Makanya
kalau di WhatsApp itu very simple.
Tinggal nanya nomor telepon lu apa,
langsung terkoneksi dengan kode WhatsApp
lu juga. Tapi kalau laine enggak. Lu
harus ngfalin ID orang siapa? Gua tanya
di sini yang mau ngfalin. Eh, ketika
tukeran ID lu apa? ID gua G45679
tanda petik tiga kali accumulate @com86.
Siapa coba orang yang mau ngapalin itu?
Kan enggak ribet banget. Jadi kalau lu
mau tukaran kontak dengan sesama lu,
sementara pakai WhatsApp lu tinggal
berapa nomor telepon lu simpan selesai.
Kan mudah. Tapi ya lain ini konsepnya
sama kayak PNS lah di negara Kazakhstan.
Kalau bisa dipersulit ngapain
dipermudah? Itu adalah prinsip hidup
mereka. Jadilah itu kebawa di Indonesia.
Dipersulit banget lu buat tukaran
konteks dengan sesama pengguna lain.
Sebetulnya ini ada hubungan dengan
kultur. Jadi kalau di Jepang itu kan
sangat menghargai privasi, penduduknya
sedikit. Jadi mereka betul-betul
menghargai privasi satu sama lain. Kalau
nomor kontak handphone disebar ke
mana-mana kan bahaya. Bisa divising,
bisa dipam, bisa di-hack. Mereka
mendingan tukaran ID supaya nomor
telepon yang sifatnya pribadi tidak
ke-share ke mana-mana. Nah, culture ini
beda dengan di Indonesia. Indonesia
culture-nya oversharing. So, enggak
berguna gaya Jepang yang diterapkan line
itu di Indonesia. Bukannya mempermudah
komunikasi antar manusia di Indonesia,
tetapi malah mempersulit komunikasi
antar manusia di Indonesia. Nah, yang
keenam. Keenam ini ada faktor regulasi.
Ini sama aja ya. Namanya juga lu
investor. Ini wajib tahu karena regulasi
juga menjadi penghambat perkembangan
line di Indonesia. Dan ini mungkin kabar
baik buat kita. Kok bisa? Jadi bayangin
ya, pada masanya Line itu penggunanya
begitu banyak atau WhatsApp hari ini
penggunanya begitu banyak. Logikanya
kalau lu jadi pemilik WhatsApp atau
pemilik Kin di Indonesia, hei pengguna
gua udah ratusan juta orang, mendingan
gua bikin aja dong aplikasi buat orang
bayar kayak GoPay di WhatsApp gua
sendiri. WhatsApp Pay misalkan. Atau gua
bikin wallet perbankan, gua buka
WhatsApp wallet atau Line Wallet. Terus
gua buka juga shop e-commerce, WhatsApp
Pedia misalkan, atau line lapak, lapak
lain gitu loh. Logikanya kan begitu.
Jadi betul-betul super app yang maha
kuasa karena mereka sudah punya basis
data dari seluruh penduduk Indonesia
dari Sabang sampai Merauke pasti pakai
aplikasi WhatsApp saat ini ya atau lain
zaman dulu. Tetapi ternyata buy regulasi
itu tidak dimungkinkan karena regulasi
Indonesia kalau lu punya wallet izinnya
izin wallet sendiri. Aplikasi aplikasi
wallet sendiri kalau lu mau aplikasi
payment ya lu aplikasi payment sendiri.
Enggak boleh dicombine dengan sosial
media. Makanya jangan heran kayak
kemarin TikTok itu di demo besar bahkan
sampai dihambat buat berbisnis di
Indonesia karena dia perusahaan media
sosial bukan perusahaan e-commerce. Ini
izinnya beda. So, mereka mau enggak mau
harus akuisisi Tokopedia. Dan salah satu
yang jadi faktor ini jarang orang bahas
ya, ini faktor soal kepemilikan, data,
rahasia negara. Tadi kan gua udah bilang
struktur kepemilikan lain ini begitu
kompleks. Rakyat Jepang mengira lain
adalah produk asli karya anak bangsa
Jepang. Padahal di dalamnya ada unsur
Korea Selatan. Dan teman-teman tahu
hobinya Jepang dan Korea Selatan adalah
berantem, berperang dari zaman ratusan
tahun yang lalu sampai detik ini. Dan
ini menciptakan trauma buruk nih buat
rakyat di Jepang dan pemerintahan di
Jepang sendiri. Teman-teman tahu oposisi
di Korea Selatan hari ini lagi demo
juga. Nah, di Korea juga itu lagi demo
juga. Oposisi Korea itu bilang kalau
Line harus dimiliki oleh Jepang. Itu
artinya kita menyerah dan bertekuk lutuk
kepada bangsa Jepang. Jadi sampai
sekarang pun mereka masih jadi bahan
gorengan terus nih buat menggulingkan
Presiden Korea Selatan saat ini. Kalau
dia sampai hati tunduk kepada permintaan
pemerintah Jepang untuk menyerahkan
saham lain dari Korea ke Jepang, dia
pasti jatuh digulingkan karena langsung
digoreng sama oposisi bahwa Korea
bertekuk lutut di hadapan samurai
Jepang. Wih, segitunya ya politik di
Korea Selatan itu menggabungkan aspek
bisnis, teknologi, dan politik
rakyatnya. Padahal ini cuma ngomongin
aplikasi media sosial loh, sosm
chattingan doang. Tapi dampak politiknya
sangat hebat karena bisa menjatuhkan
presiden sekalipun. Well, anyway guys,
ini kan channel investasi. Kenapa kita
bahas tentang kehancurannya Line terang
saja? Karena Line ini adalah perusahaan
Tbk. Teman-teman tahu Line ini
listingnya di Jepang ya terang saja
karena mereka dikenal sebagai perusahaan
Jepang. Dan kejatuhannya Line ini
sebetulnya udah bisa kita lihat dari
kejatuhan sahamnya Lin sendiri. Dalam 5
tahun terakhir, Teman-teman tahu harga
saham lain itu cuman 500 yen. Hari ini
naik dikit 5 poin jadi 513 yen. Anyway,
lu pegang sahamnya lain ni selama 5
tahun apa yang terjadi? Lu cuma naik 1%
stakn lah, sedih lah. Dan dari sini lu
pasti udah tahu dong analisanya apa. Ya,
sebaliknya kalau ada yang dirugikan
pasti ada yang diuntungkan. Di awal kita
sudah bilang ketika line nyungsep ada
aplikasi lain yang naik tinggi yaitu
WhatsApp. Makanya teman-teman jangan
heran kalau detik ini WhatsApp yang
dimiliki oleh Facebook dan teman-teman
tahu Facebook itu kode sahamnya adalah
meta. Saham meta kalau kamu pegang dalam
5 tahun periode yang sama dengan lain,
cuan kamu itu udah hampir 200%.
Jadi saham Facebook itu tadinya cuma
200-an, hari ini udah 700-an. So, kalau
lu pegang saham Facebook dibandingkan
pegang sahamnya Line, ya lu udah auto
cuan nih, Guys. Well, anyway, ini adalah
salah satu indikasi ya, bahwa ternyata
bisnis itu betul-betul fluid. Lu itu
betul-betul harus bisa ikut dengan yang
namanya perubahan zaman, perubahan
generasi dari generasi milenial sekarang
kita dai generasi Genzi. Dan ternyata
enggak semua perusahaan siap loh dengan
perubahan zaman ini. Menurut kalian
gimana? Gua udah sebutin tuh enam alasan
kenapa line itu hancur dan makin sedikit
penggunanya. Menurut kamu alasan ketujuh
apa ya yang menyebabkan Line itu hancur
dan makin sedikit penggunaannya? Dan
masih ada harapan engak ya buat Line ini
bersaing bangkit lagi melawan WhatsApp
yang sekarang sudah dimiliki oleh
Facebook atau justru malah makin berat
nih perjuangan Line di masa depan. Oke
guys, ditunggu ya pandangan kamu,
komentar kamu seperti apa. Menurut karya
masa depan Line akan makin sukses, makin
jaya, atau makin nyungsep. Oke, guys.
Semoga video ini bermanfaat. Jangan lupa
subscribe dan nyalakan loncengnya. Salam
sehat. Salam cuan. Bye bye.
[Musik]