Kind: captions Language: id Halo, Good News Indonesia. Kita sebentar lagi bakal swasembada pangan. Dan itu ah jadi kenyataan karena posisi kita hari ini berada dalam stok ya, cadangan beras kita yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia ini berdiri. Ini jadi salah satu contoh sukseslah program pemerintah khususnya buat sasembada pangan ya. Nah, kemarin kita habis bikin video juga Indonesia punya rencana mau sasembada energi dalam 5 tahun ke depan. Wis revolusioner kalau bisa tercapai nih. Tapi ada satu hal yang menarik sekarang kita mau bahas dari kemarin kok kita ngomong ekonomi tingkat tinggi ya. So, sekarang kita mau membahas tentang ekonomi yang ada di daerah. Kenapa? Karena pemerintah sekarang punya program nilainya 500 triliun guys untuk membangun ekonomi Indonesia. Khususnya teman-teman yang berkegiatan di luar kota. Jadi kalian yang kerja di daerah, kerja di pedesaan, sekarang ada kabar baik nih, bakal banyak duit yang turun khusus buat teman-teman yang ada tinggal di daerah. So, buat lu yang penasaran ya apa sih program senilai 500 triliun ini, jangan dikip video ini. Let's check this [Musik] out. Jadi, ya kemarin kan kita sudah bilang bahwa Indonesia sudah suasembada beras dan tidak akan impor lagi setidaknya ya hingga 2026. Nah, selain itu Republik Indonesia juga mau mengurangi nih impor BBM kita. Makanya kita sekarang lagi sibuk, katanya sih mau bikin kilang minyak untuk kita olah sendiri. Nah, sekarang ada kabar baik nih, khususnya buat teman-teman yang tinggal di pedesaan, tinggal di daerah, karena Indonesia akan segera meliris program revolusioner yang namanya Koperasi Merah Putih. Dan ini dikhususkan buat kalian yang tinggal di wilayah pedesaan. Karena ya koperasi ini dikhususkan untuk menjadi lembaga ekonomi yang beranggotakan masyarakat desa. Jadi lu yang hidup di kota siap-siap pindah nih dibanding lu jadi ojol demo pindah ke desa lah ikut kerja. Nih di desa sekarang akan banyak pekerjaan. Sama seperti di Cina nih sudah mulai banyak orang-orang yang pindah dari kota ke desa. Nah program ini diumumkan sih di bulan kemarin, Guys. Di bulan Maret 2025 dan ini sebagai salah satu upaya ya untuk meningkatkan ketahanan pangan. Tentu saja ini ada hubungannya dengan swasembada pangannya Prabowo. Nah, kalau menurut versi istana sih akan diluncurkan 80.000 ya koperasi desa yang akan dinamai koperasi desa atau Koperasi Kelurahan Merah Putih. Yang uniknya ya kalau selama ini mungkin teman-teman tahu koperasi itu kan cuma berhubungan dengan proses yang ada di produksi pertanian atau peternakan atau perkebunan. Tapi sebetulnya kalau di luar negeri ya, koperasi yang ada di luar negeri, gua tahu Zeno yang ada di Jepang itu itu menguasai pelabuhan-pelabuhan yang ada di Amerika Serikat. Mereka koperasinya juga menguasai ya pabrik-pabrik traktor terkenal yang selama ini mungkin pun kalian pakai. Jadi koperasi di luar negeri itu begitu canggih loh. Sampai ada koperasi di Spanyol itu saking hebatnya koperasi itu dia punya jaringan keuangan yang lebih besar dibanding bank yang ada di Spanyol. Jadi orang kalau nabung di koperasi itu narik duit di situ ATM dia punya. Hebat banget ini koperasi yang ada di Spanyol. Jadi kalau kita sekarang tahu koperasi-koperasi yang ada di benak kalian, lupakan. Karena koperasi yang akan dibikin si Prabowo ini beda, Guys. Ada setidaknya ada tujuh unit usaha nih yang standar-standar aja. L mungkin sudah tahu ada koperasi pada umumnya lah, koperasi produksi pertanian, koperasi simpan pinjam. Tapi sekarang yang beda nih ada koperasi khusus nanganin pergudangan logistik cold chain storage untuk pengadaan sembako, koperasi khusus buat jadi apotek, khusus jadi klinik. Wih, macam-macam nih. Jadi di sini kita sudah lihat koperasinya udah bukan lagi koperasi ortodoks loh. Kan tahu koperasi ngurusin pengalengan ikan susu, peternakan, pertanian. Nah, sekarang udah masuk advance nih kelasnya. cuman ya masih belum advance yang ada di Italia lah atau yang ada di Spanyol yang sampai masuk ke bisnis jasa keuangan versi digital. Hebat ya. Nah, yang bikin program ini revolusioner dan heboh tentu saja ya karena sumber dananya itu luar biasa, Guys. R50 triliun dan 550 triliun ini akan didanai oleh APBN, APBD, dan anggaran pendapatan belanja desa dan sumber-sumber yang lain. Jadi, lu bayangin ya 550 triliun ini duit banyak loh. Ini kalau enggak dikelola dengan benar bisa jadi petaka. Kenapa? Ya, kita tahu aja sekarang kemarin itu sempat ada program revolusionernya si Jokowi. Jadi, di era Presiden Jokowi beliau itu bikin program yang namanya program dana desa. Nilainya R0 triliun, Guys. Dan di situ ya lu tahu ya banyak penyimpangan yang terjadi. Walaupun intinya itu sih bagus sih supaya desa itu berinovasi lah. Mereka punya dana lah buat pembangunan desanya sendiri. Dan harapannya kan kalau desa berkembang, rakyat berkembang ya pada akhirnya negara juga berkembang. Nah, metodenya cukup unik. Yang pertama, sumber dananya berasal dari APBN yang dialokasikan untuk pedesaan oleh Kementerian Keuangan. Cuman prosedurnya pertama kali dana itu diambil dari APBN lalu oleh Kementerian Keuangan disetorkan ke rekening kas umum daerah RKUD di tingkat kabupaten atau kota. Nah, setelah masuk ke rekening kas umum daerah, maka bupati atau walikota wilayah yang bersangkutan baru mentransfer rekening kas desa ke desa masing-masing. Dari sana dana barulah berpindah dari rekening kabupaten kota ke rekening kas desa. Di situ pemerintah desa bisa bikin rencana sendiri melalui musyawarah desa untuk menentukan duitnya mau dipakai buat apa. 70 triliun, Guys. Nah, dana-dana ini sih harapannya ya digunakan untuk membiayai proyek kegiatan sosial atau bantuan langsung tunai seperti bantuan pupuk atau juga modal usaha dan lain sebagainya. Nah, pada perjalanannya ya dana desa ini gua ketemu sih memang banyak penyimpangan. Contoh ada kepala desa yang pakai dana desa ini buat ganti Pajero baru setiap tahunnya itu ada atau buat kawin lagi atau pakai buat mabok atau buat bayar atau buat nyanyi-nyanyi enggak jelas di night club itu banyak yang pakai dana desa ini disalahgunakan. Intinya yang namanya Indonesia ini yang namanya koruptor itu ada dari tingkat ibu kota sampai tingkat pedesaan. So dari situ teman-teman bisa lihat bahwa wah ngeri juga ya kalau ini disalahgunakan yang 70 triliun aja amburadul. Tapi apakah artinya sejelek itu? Tidak juga. Karena dana desa pada praktiknya gua pun melihat kisah suksesnya ada dana desa yang dipakai oleh para pemerintah di desa itu untuk bikin jalan jembatan, perbaikin saluran irigasi sehingga banyak desa-desa bisa panen dua sampai tiga kali dalam 1 tahun. Hebat dong. Ada juga yang pakai itu buat beli franchise, Guys. Franchise bengkel populer supaya mereka bisa buka bengkel-bengkel, buka sekolah, montir, mekanik di pedesaannya. Mungkin lu tahunya Asgar ya, kayak potong rambut asli Garut, yaitu kehebatan Garut. Kalau ke sana semua orang lulusan Garut jago motong rambut ya karena memang desa-desanya dira itu. Tapi sudah ada loh beberapa desa yang memang spesialis memproduksi montir dan mekanik karena ada desa-desa yang menggunakan dana desanya untuk ambil franchise bengkel. Kalau gua enggak mau sebut bengkelnya lah. Tapi artinya apa? Ada memang dana desa itu yang dipakai untuk kegiatan produktif. So that's a good thing. Nah, sekarang kita kembali lah. Okelah itu eranya Presiden Jokowi. Sekarang kita ngomong Presiden Prabowo punya agenda koperasi merah putih yang sebetulnya agendanya luar biasa. Mereka itu punya 10 tujuan mulia loh, Guys. Yang pertama meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Yang kedua menciptakan lapangan kerja. Yang ketiga memberikan pelayanan secara sistematis dan cepat. Yang keempat, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi melalui koperasi. Yang kelima, meningkatkan harga di tingkat petani hingga NTP alias nilai tukar petani supaya kesejahteraan petani naik. Lalu yang keenam, menekan pergerakan tengkulak. Yang ketujuh, memperpendek rantai pasok. Yang kedelapan, menekan harga di tingkat konsumen. Yang kesemb menekan tingkat kemiskinan ekstrem. Yang ke-10 menekan inflasi. Ini luar biasa. Kalau lu lihat ya, ini koperasi merah putih udah jadi kayak pahlawan nih. Menekan inflasi ini kayaknya bisa jadi kompetitornya Bank Indonesia nih. Bisa-bisanya dia ikut berperan aktif ya buat menekan inflasi, menyelamatkan ekonomi makro Indonesia. Hebat nih Koperasi Merah Putih. Lalu ada juga agendanya apa? Menekan tingkat kemiskinan ekstrem. Kan kalau menurut Bank Dunia orang miskin di Indonesia 60%, kalau menurut BPS cuman 8%. Nah, ini ada kompetitor nih. Semoga yang ini lebih hebat ya dibanding BPS ya. Kalau koperasi merah putih ini bisa berjalan lancar ya, harapannya kita bisa memperbaiki tingkat kemiskinan kita yang cuma 8% menurut BPS. Aduh. Anyway, di sini teman-teman bisa lihat ya. Ya, ada 10 agenda. Salah satu yang menarik menurut gua adalah program yang ada di tengah yang namanya nomor 6. Menekan pergerakan tengkulak dan menekan rantai pasok. Dipikin jadi lebih pendek. Ya, Teman-teman tahu hari ini lu makan beras atau makan buah di rumah lu, itu rantai pasoknya panjang banget tuh. Dari petani ke tengkulak, tengkulak ke pengepul grosir. Dari pengepul grosir masuk ke modern retail atau ke pasar basah. Nanti dari sana baru masuk ke perut kalian. W panjang banget. Jadi yang aslinya sih bisa lebih panjang lagi. Bahkan dari sana modern retail atau dari pasar tradisional pindah lagi ke rumah sakit atau pindah lagi ke catering dari sana baru pindah lagi ke kalian itu juga bisa. Jadi rantai pasok kita itu panjang banget. Banyak nilai yang lost di situ. So, kalau lu bayangin ya, gampangnya gini, kayak pisang lah. Gua kan nanam pisang. Skala besar kita itu dibeli di harga R5.000 per kilo. Realitanya di kota lu makan pisang kita harganya Rp25.000 R per kilo. Jadi dari situ lu sudah lihat nilai tukar petani orang yang nanam itu kecil banget, Guys. Cuman seperlima dari harga real yang lu bayarkan di kota, kan ya dengan segala kompleksitasnya lah. Karena logistik juga enggak mudah dan enggak murah di Indonesia ini. Anyway, menurut gua 10 tujuan koperasi merah putih ini sungguh sangat bagus ya. Mereka bisa menjadi the next Bank Indonesia atau the next BPS karena apa? Visi misinya luar biasa. Budgetnya juga luar biasa. R50 triliun ini lebih dari setengah kuadriliun, Guys. Gila enggak? Ini setengah valuasi Bank BCA ada di Koperasi Merah Putih nih. Lama-lama bisa ngalahin Bank BCA nih kalau begini ceritanya. Ini luar biasa sih. Lalu terus gimana bedanya dengan programnya Jokowi yang desa itu yang itu ditransfer dari Menteri Keuangan APBN ke rekening bersama, rekening kas umum daerah yang dipegang oleh walikota sama bupati baru kemudian masuk ke rekening kas desa dan lain sebagainya. Prosedurnya gimana nih yang sekarang? Nah, ada satu hal yang menarik menurut gua dari Koperasi Merah Putih ya. Menarik karena sebetulnya rantainya itu lebih pendek dan ada keterjaminan terhadap pembelian output pertanian. Contoh yang membedakan adalah kalau di sini APBN, dana APBN itu ditransfer ke koperasi merah putih. Lalu koperasi merah putih menyalurkan dananya ke petani anggotanya, anggota koperasi mereka. Nanti anggotanya kemudian mengambil dana yang digunakan bisa untuk beli pupuk, obat-obatan, bibit, jagung, dia tanam, produksi jagungnya, kemudian dijual ke koperasi. Jadi memang ada hasil yang kembali ke koperasi itu. Nah, Teman-teman, hebat enggak? Menurut gua hebat karena ini membantu orang karena selama ini masalah petani adalah funding, pendanaan. Lalu kemudian hasil produknya siapa yang beli? Percuma gua nanam capek-capek terus kemudian enggak ada yang beli, tapi harus bayar bunga kalau minjam ke koperasi atau pinjam ke bank kan gitu. Begitu pun juga koperasi ini kan anggotanya tuh ada petani-petani ya, warga ya. Mereka juga bisa pakai duitnya ini buat beli gudang koperasinya. Mereka bisa beli mesin pengering, kredit bibit, pupuk. Koperasi lalu kemudian bisa menyalurkan ya alat-alat produksi itu alsintan dan lain sebagainya ke pasar-pasar yang ada yang selama ini di daerah kalian. Lalu kemudian di situ ada selisih laba dong marginnya. Marginnya kemudian bisa dibagi nih ke sesama anggota koperasi. Dan ini legal. Memang undang-undang koperasi itu membolehkan itu. Kita bisa dapat dividen kalau di saham dari PT. Koperasi juga ada bagi hasil namanya SHU sisa hasil usahanya. So menurut gua program ini sangat baik. Kenapa? Karena biasanya kalau dalam struktur koperasi itu banyak pengurusnya ya, bukan cuman satu atau dua orang seperti PT, direktur dan komisaris. Selesai. Tapi kalau koperasi enggak. Struktur koperasi itu sangat dalam. sedalam apa ya konstruksi di sistem koperasi yang ada di Indonesia. Teman-teman tahu kan tadi kan gua bilang ya kalau PT itu cuman dua, ada direktur, ada komisaris jalan itu perusahaan. Tapi kalau koperasi itu harus ada pengurusnya, harus ada pengawasnya, harus ada pembinanya. Sebetulnya yang paling tinggi itu adalah anggotanya sendiri karena mereka harus rapat setiap tahun. Namanya rapat anggota sama kayak RUPS mereka berhak menentukan siapa yang jadi direktur perusahaan ini. Begituun di koperasi. Jadi pengawasannya jauh lebih spektakuler lah dengan segala birokrasinya ya dibandingkan dengan sistem Presiden Jokowi dana desa yang memang pengawasannya biasanya sih semau kepala desa aja. Karena dananya kan dari dana pemerintah langsung masuk ke dana kabupaten atau kota, lalu kemudian dari sana masuk ke rekening desa. Kepala desa udah seenak udel aja dia mau ke situ. Tapi kalau pakai sistem koperasi ini jujur nih menurut gua jauh lebih banyak mata yang bisa ikut turut masuk mengawasi. Dari situ aja gua bisa bilang ini program ok lah. Karena memang Indonesia dalam kondisi gawat darurat guys. Kita itu 60% rakyatnya miskin versi World Bank Bank Dunia. Lu enggak pakai enggak usah pakai versi organisasi lain yang menurut gua ngacau lah bilang cuma 8% enggak betul itu ya. Faktanya makin banyak orang susah di Indonesia. Bahkan ada provinsi ini yang gua datang satu pertiga penduduknya pengangguran kan ngeri banget fakta itu. Nah hari ini juga inflasi juga makin lama makin tinggilah di Indonesia kalau kita ngomong dunia real. Dan bukan cuma inflasi yang makin tinggi, Guys. Teman-teman juga kalau yang mau berusaha juga makin sekarang kan makin susah buat dapat pendanaan dari bank dengan segala kompleksitasnya. Ujung-ujungnya orang pun pinjam online atau kredit peer to peer landing masuk ke tengkulak, masuk ke rentenir. Yang saat ini pun makin lama bukannya tambah bagus sistem kita, tapi tambah susah. Akibatnya apa? mulai banyak tuh yang dibersihkan retenir-rentenir atau tukang tipu online tupir-tupir landing yang enggak berijin maupun yang berizin. Akhirnya mereka semua rentenir berkedok koperasi itu semakin merajal lela. Dan teman-teman kalau lihat berita bahkan di Bima masyarakat Bima itu bertani panennya bukan panen buah ya tapi panen derita karena tengkulak untung petani terkubur hutang. Bahkan gubernur Edi Ramadi itu pernah bilang, "Ya, banyak petani rugi karena pinjam modal ke rentenir. Habis panen tidak dapat apa-apa." Nah, itulah realitanya, Guys, di Indonesia ya. Ketika lu mau berusaha, berbisnis di Indonesia ini sulit banget karena duit itu kering. Kumpulnya di atas aja, di pusat aja, pejabat-pejabat aja yang nikmatin tuh. Nah, dengan program seperti ini sih harapannya ya betul-betul duit itu turun ke bawah dan kerasa lah terasa di bawah sehingga mereka enggak usah lagi lari ke rentenir-rentenir ilegal itu. Cuman satu yang jadi masalah yang namanya di Indonesia yang namanya GCG, good corporate governance. Karena kita lihat ya, kita enggak usah ngomong soal koperasi dulu, kita ngomong soal perusahaan aja. Kita sudah lihat begitu banyak ya, kayak mulai dari kasus jiwa seraya lah, asabri lah, lain sebagainya. Itu duit triliunan habis enggak jelas. Terus kalau kita balik lagi ke soal koperasi yang mau dibikin dananya R50 triliun itu sangat besar, Guys. Kita masih ingat kok ada koperasi yang namanya Arta Jaya Mandiri itu ya pengurusnya divonis 11 tahun penjara karena menggelapkan dana nasabah 4,2 miliar. Lalu masih ada lagi koperasi langit biru bawa kabur duit 6 triliun. Kan gila 6 triliun. Dan ini koperasi bukan dari kota besar loh, tapi daerah kecil di Tulung Agung. Gila enggak 6 triliun duitnya nasabahnya ada 125.000 orang. Jadi kalau lu bagi rata-rata orang kena tipu sekitar Rp50 juta lah per kepalanya kan gila ya. Memang Indonesia ini prospek yang luar biasa nih buat bisnis konyol-konyol kayak begini nih. Well, anyway, jadi gimana nih soal koperasi merah putih? Duit 550 triliun, bisa enggak sih koperasi merah putih ini jadi pendorong ekonomi Indonesia? E sebentar guys, bentar guys sebelum kita lanjut videonya, portofolio kamu lagi kebakaran merah merona semuanya turun anjlok. Bahkan saham-saham perbankan besar di Indonesia semuanya masuk ke jurang. Loh, kok bisa, ya? Nah, ini semua udah pernah kita bahas di BENX Investor Group, komunitas saham terbesar yang ada di Indonesia. So, tunggu apaagi, Guys? segera bergabung di Benix Investor Group karena cuma di sini ya, kita bisa berdiskusi langsung secara live baik online maupun offline termasuk kita sering melakukan kunjungan site visit loh ke perusahaan-perusahaan, ke pabrik-pabrik emiten-emiten yang ada di Indonesia. Dan kamu di sini juga bisa langsung tanya jawab secara langsung live sama direktur perusahaannya. Kapan lagi ada peluang kayak begini? Nah, kemarin kita juga baru habis datang nih ke sebuah perusahaan yang menurut gua sangat prospek di tahun 2025. Nama perusahaannya apa ya? Yuk, langsung aja daftar di Benix Investor Group melalui website yang ada di bawah ini www.benix.id atau segera kontak WhatsApp kita yang ada di bawah ini. Oke, guys. Kita tunggu ya di Benix Investor Group karena makin seru nih dunia investasi yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Apa sih saham yang menarik selanjutnya buat kita bahas. Sampai ketemu di Benix Investor Group. Bisa enggak sih koperasi merah putih ini jadi pendorong ekonomi Indonesia utamanya di sektor ketahanan pangan? Karena ya Koperasi Mora Putih belum launching aja itu udah banyak pengamat ekonomi yang pesimis. Bahkan ada ya gilanya ya pengamat ekonomi yang bilang bahwa sebetulnya koperasi itu kan pendekatannya harusnya bottom up bukan top down. Jadi harusnya lebih mandiri. Memang inisiatif dari para anggota-anggotanya untuk berkumpul mendirikan organisasi yang namanya koperasi itu sendiri. Jadi pengamat ekonomi itu menolak kalau seandainya koperasi itu didorong dibangun oleh negara. Apalagi kalau modalnya semua dibiayai oleh pemerintah. Menurut dia ini namanya menghancurkan kemandirian koperasi. Jadi menurut dia ini namanya membinasakan koperasi bukan membangun koperasi. Gua bingung juga sih ini pengamat enggak jelas banget, Guys. Sorry banget nih. Kok bisa-bisanya ya koperasi dapat dana dari pemerintah dianggap itu menghancurkan dunia koperasi tidak sesuai dengan prinsip jiwa koperasi. Ini gua enggak tahu nih. Ini mungkin juga enggak pernah bikin koperasi ini orang. Inilah salah satu contoh ekonom-ekonom konyol ya yang gimana ceritanya dia bisa menentang pembangunan koperasi. Bahkan bilang itu tidak otonom, itu tidak independen. Karena namanya saja sudah harus diwajibkan sama seragam oleh pemerintah namanya Kopdes Merah Putih. sehingga kemudian Kopdes Merah Putih ini tidak independen. Enggak begitu juga sih menurut gua karena jujur aja memang banyak koperasi di Indonesia yang bangkrut karena kekurangan modal. Ya, jujur mungkin juga memang karena bisnisnya enggak menarik atau tren bergeser atau ya memang ada salah manajemen, tetapi memang salah satu faktor yang menentukan sebuah keberhasilan ya, sebuah usaha apapun itu usahanya mau CV, mau PT, mau koperasi ya tentu ketersediaan modal guys. So, kalau dibilang Koperasi Maara Putih ini bakal collapse karena namanya jadi tentukan pemerintah atau karena dianggap tidak otonom karena sumber pendanaannya dibantu oleh pemerintah dengan 80.000 000 unit koperasi yang rencana akan dijalankan. Menurut gua sih enggak ada hubungannya sih. Memang kembali lagi kepada bisnisnya bagus atau tidak, kembali lagi kepada manajemennya bagus atau tidak. Kalau kita bilang sebuah koperasi itu tidak lagi otonom atau jiwa koperasinya karena dari namanya aja wajib kopdes gini aja sih simpel. Ada begitu banyak kok yang menentukan nama itu harus seperti apa. Contoh misalkan dulu itu ada zamannya perusahaan jawatan lalu ada Perum misalkan Perum kereta api, lalu ada kayak sekarang kalau PT wajib ada PT di depannya PT baru nama PT-nya baru kemudian kalau di belakangnya ada terbuka berarti dia Tbk. Itu semua diwajibkan tuh oleh peraturan perundang-undangan atau lu bikin firma depannya ada FA. Terus salah kalau misalkan pemerintah bikin wajib depannya harus pakai FA atau PT atau PT titik. Menurut gua sepele banget bukan itu loh. Soalnya koperasi ini mau hidup atau enggak, mau jalan atau enggak tergantung dari para anggotanya sendiri. Gimana cara dia bangun itu organisasi dengan baik, bagaimana dia jalankan bisnisnya. Kembali ke situ dong. Kalau cuma karena persalahan nama aja, semua nama pun banyak yang diatur oleh pemerintah. Jangankan kita, lu pergi ke Malaysia bikin perusahaan pun wajib di belakangnya kasih berhad salah dosa. Lu pergi ke Jerman wajib ada GMBH wajib itu sama pemerintah. Dosa enggak, Bro? Ya itu enggak menentukan perusahaannya bagus atau jelek atau independen atau tidak independen. Enggak ada hubungannya menurut gua. Jadi, koperasi pun kita mau bikin seperti apapun namanya enggak menentukan dia bagus atau buruk. Dan malah menurut gua harus dipertanyakan nih agenda-agenda ekonomekonom tidak jelas kayak begini nih. Kenapa menurut gua aneh? Gua sih mau mendukung aja kalau argumentasinya karena tadi yang gua bilang ya, historical-nya Indonesia memang banyak koperasi yang collaps, bangkrut, bawa duit kabur triliunan. Kalau itu dasarnya ya bagus. Artinya koperasi harus dikasih pendampingan, pelatihan gimana cara bikin perusahaannya lebih akuntable, koperasinya lebih manajemennya lebih transparan, lebih up to date. Gimana sistem auditingnya, gimana sistem supervising-nya. Jadi jauh lebih masuk akal. Tapi kemudian kalau kita harus menentang program koperasi merah putih karena ekonom yang bilang bahwa Indonesia harusnya tidak membuka program membangun masyarakat desa karena namanya wajib Kopdes merah putih. Sowat. Bank aja dibilang namanya wajib depannya bank. Banknya pun bukan B A kayak Bank Somat, tapi banknya BK. Dosa gitu. Karena banknya pakai Ban kok aneh banget. Kan bukan di situ lihatnya sih. Kalau lihat bank lokal kan semuanya pakai bank depannya. Bank rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia dan sebagainya. Tapi kalau lu pergi ke luar negeri enggak juga ada Mayapada enggak pakai bank-bangan, CIMB enggak pakai bank-bangan. Di sini aja wajib jadi bank niaga dan sebagainya. Terus salah gitu. Enggak, menurut gua terlalu aneh, terlalu dangkal gitu pemikirannya. Jadi harus diperhatikan lagi nih, apa sih agendanya? Banyak ekonom ekonom enggak jelas bikin kritikan tapi enggak masuk akal, enggak ada logikanya. Yang agak berkualitas dikit dong. Contohnya nih, kalau lu mau kasih kritikan, ambil negara Venezuela. Venezuela lu tuh punya program tuh dulu ya, namanya program buat pembangunan koperasi di sana di era Presiden Hugo Chavez. Di situ negara kasih dana triliunan untuk membangun rakyat pedesaan. Kalau kasih contoh gini nih. Ini ekonom-ekonom tolol ini di tahun 90. Lu tahu enggak? Hugo Chavez itu pertama kali resmi jadi presiden nih di Venezuela. Nah, dia itu punya program-program yang populis lah. Membangun rakyat pedesaan, hasil kekayaan negara harus untuk rakyat. Sumber daya alam mineral, oil and gas wajib dinikmati oleh seluruh rakyat secara sama rata. Jadi jiwa-jiwanya jiwa-jiwa sosialis komunis lah. Nah, itu dia wujudkan ketika dia jadi presiden. Jadi dia sangat cinta dengan rakyat-rakyat yang hidup di pedesaan, bukan yang di kota karena dia sosialis. Nah, karena dia menganut paham sosialisme makanya Hugo itu banyak membentuk revolusi atau gerakan politik yang namanya revolusi Bolivian. di mana dia berjanji untuk mengurangi kemiskinan di negara Bolivia dan dia akan mengurangi kesenjangan sosial yang selama ini terjadi ekstrem dengan menggunakan kekayaan sumber daya alam yang ada di negaranya. Contohnya minyak. Sejak tahun 99, pemerintah mengambil ahli sebagian besar ekonomi. Ada lebih dari 1000 perusahaan dan beberapa juta hektar lahan dinasionalisasi, termasuk di sektor pertanian, perbankan, semen, besi, minyak, manufaktur, retail, dan telekomunikasi. Semua itu dinasionalisasi oleh negara. Ngeri banget ini negara nih. Komunis banget. Jadi, lu bayangin apapun kegiatan usahanya yang lu lakukan itu adalah milik bersama alias milik negara. Nah, di saat yang sama ya Hugo Chavez ini juga punya program untuk menjadikan koperasi sebagai strategi utama pembangunan ekonomi. Jadi, dia punya pendapat kalau yang namanya koperasi adalah cara tercepat, Guys. Untuk apa? Untuk melunasi hutang sosial kepada ratusan ribu pekerja yang miskin yang selama ini dizalimi nih dengan sistem kapitalis. Dia berpikir bahwa oke ini adalah hutang hutang sosial dari negara kepada rakyatnya. Gimana caranya? Kita berdayakan yuk. Koperasi. Pintar nih. Gayanya beda nih dengan Presiden Jokowi sama Presiden Prabowo. Karena sistem yang dipakai di negara itu adalah komunis maka dalam mencapai upaya dan misvisi misinya Hugo Chavez ya Chavez menekankan koperasi ini alat yang paling benar. Karena untuk mengubah kepemilikan yang berbasis kapitalis itu pengelolaan properti yang tadinya menjadi hak milik pemilik modal yang duitnya paling banyak bergeser menjadi milik kolektif kita semua bersama. Jadi bukan lagi dimiliki individu atau korporasi besar, Guys. Tetapi dimiliki oleh koperasi. Koperasi itu kan tadi gua bilang tertinggi adalah para anggotanya, rapat para anggotanya. Ini milik kita semua. Itulah jiwanya, jiwa komunis itu. Makanya dia pakai tools-nya, tools koperasi. Nah, bedanya ya dengan gaya Jokowi atau gaya Prabowo. Kalau Jokowi kan duitnya dikasih langsung ke kabupaten, kota, lad Kabupaten masuk ke rekening desa atau gayanya Prabowo duitnya dikasih dari APBN langsung ke ee koperasi merah putih. Kalau si Hugo Chavez beda. Metode dia adalah dia bikin dulu program yang namanya pelatihan kerja nasional namanya Mission Velvas Caras. Intinya apa? Pemerintah itu ngasih pelatihan kepada rakyat miskin gratis. Pada saat mereka ikut pelatihan itu, pemerintah tetap bayar gaji UMR, upah minimum kepada para pengangguran ini selama mereka belajar keterampilan kerja yang dasar. Gimana cara bikin seedling, perawatan nursery, gimana cara bikin pupuk organik, gimana cara menanam, gimana cara merawat pohon kalian, dan lain sebagainya. Nah, ini semua ilmu-ilmu dasar yang diajarkan khususnya juga tentang koperasi juga dan pelatihannya itu lama, Guys, antara e sampai 2 tahun. Jadi pelatihan paling cepat 6 bulan sampai 24 bulan alias 2 tahun. Baru setelah mereka lulus program ini, mereka boleh membentuk koperasi setelah pelatihannya selesai. Menurut gua brilian juga sih. Jadi dia mulai bukan dengan gucurin dana nih duit. Eh yang di bawah enggak tahu gimana cara pakainya. Ujung-ujungnya jajan. Ujung-ujungnya pergi ke night club beli korupsi ganta-ganti mobil mewah. Faktanya begitu di Indonesia. Nah, Chavez enggak kasih pelatihan dulu gimana cara mengelola koperasi, gimana cara menjalankan usaha itu visi misinya tentu saja ya. Visi misi yang bagus dan positif belum tentu outcome-nya juga positif. Karena di kemudian hari di tahun 2005 Hugo Chavez itu bikin touring keliling Venezuela dengan agenda populis memberikan pinjaman kepada koperasi-koperasi di sana yang udah dikasih pelatihan itu. Bukan cuman itu juga, Guys. Ia bahkan menggratiskan pendaftaran pendirian koperasi. menggratiskan koperasi dari pajak penghasilan. Lu bayangin enggak usah bayar pajak. Dan dia memberikan koperasi-koperasi ini akses ke kredit mikro atau pinjaman kecil pakai duit negara dengan bunga yang sangat kecil. Jadi sangat-sangat mulia, sangat-sangat bagus. Step by step-nya juga sangat proper menurut gua sih. Hebat sih. Tapi sayang ser000u sayang tadi gua bilang mimpi yang baik, cita-cita yang baik, tujuan yang baik belum tentu hasilnya juga baik. Karena cuma selang 2 tahun di tahun 2007 itu total ya lahir 140.000 R000 koperasi baru loh gara-gara Hugo Chavez jauh lebih besar dibanding koperasi merah putih yang cuma Rp80.000. Hugo Chavez berhasil mendirikan 140.000 koperasi. Berdirinya pun atas inisiatif orang-orang sendiri yang sudah lulus pelatihan itu. Tetapi ternyata dengan sedemikian banyak kemudahan yang dikasih negara, bebas pajak, bunganya ringan, dikasih pelatihan. Ternyata dari 140.000 koperasi itu yang bertahan cuma 48.000. R000 ngeri artinya 2/3 musnah yang bertahan tinggal sepertiga. Ngeri guys. Pertanyaannya kenapa mayoritas koperasi gulung tikar? Ternyata setelah kita periksa, mayoritas koperasi itu gulung tikar karena tiga alasan ini. Alasan pertama. Alasan pertama adalah mereka semua oke. Jago bertani, jago macul, jago nanam. Keluar kebunnya itu ada pohon pisang, ada biji kopi, dan lain sebagainya. Tetapi ternyata ketika produktivitas bertambah, tidak ada permintaan atas produk atau jasa dari koperasi itu. Contohnya gini, mereka sudah dikasih pupuk, dikasih bibit, mereka nanam. Setelah nanam dijual ke koperasi. Sama kayak koperasi merah putih, dijual ke koperasi hasilnya. Jadi ada standby buyer, guys. Buer yang ready untuk belanja itu. Uh, visi misinya bagus. Ternyata koperasinya udah nampung barang, udah nampung coklat, udah nampung kopi, udah nampung pisang, beras, dan sebagainya. koperasinya enggak tahu cara jualnya gimana. Ternyata permintaannya tidak sebanyak itu. Dan koperasinya juga tidak ngerti gimana cara ekspor barang-barang yang dia kumpulkan ini. Akibatnya apa? Dia kan tetap harus bayar kepada anggotanya. Akibatnya banyak yang gagal bayar. Banyak barang yang musnah, yang busuk, yang hancur. Jadi ngeri banget. Ini di sini ada salah satu kelebihannya programnya Prabowo. Apa ya? Dia berani bilang koperasi akan nampung hasil penjualan, hasil produksi. para anggota koperasi ini. Tapi nanti gimana? Dia akan ketemu masalah yang sama enggak seperti Hugo Chavez di Venezuela. Lalu yang kedua, yang kedua ini masalah GCG. Masalah GCG adalah ternyata pengurus koperasi itu di kemudian hari banyak yang tertangkap tangan sering mencuri uang dari koperasi itu. Ini bodoh banget memang betul-betul gayanya Indonesia banget. Korupsi di mana-mana. Mereja lela. Jadi enggak heranlah kemudian koperasi ini hancur lebur. Anyway, dari semua perkara itu semua dari total 140.000 koperasi hancur lebur tersisa tinggal 58.000, ada enggak sukses story-nya yang bisa diambil? Ada. Saat ini masih ada beberapa koperasi yang tersisa dari program populisnya Hugo Chavez itu dan sukses masih berdiri seperti contohnya Keko Sesola. Ini koperasi yang mengelola e bisnis makanan, dia mengelola layanan kesehatan, punya klinik, punya Puskesmas. dan bahkan punya bisnis pemakaman, revolusioner juga, Guys. Gua sampai detik ini belum pernah lihat koperasi di Indonesia bisnisnya apa? Pemakaman, tapi ternyata udah ada nih di Venezuela namanya Kekos Sola ini. Dan bisnisnya sangat-sangat viral, sangat-sangat laku. Lu bayangin Om Z mereka setahun aja 326 miliar loh. Lu bayangin koperasi jasa pemakaman bisa punya OMZ tahunan 326 miliar. Ya, ini salah satu buah-buah yang sukses ya dari program koperasinya Hugo Chavez. Selain itu masih ada koperasi Tagum. Jadi, koperasi Tagum ini cukup populer ya buat teman-teman di bidang jasa keuangan biasanya tahu karena koperasi ini bergerak di bidang asuransi dan jasa pengiriman uang juga. Nah, total aset nih kita bicara ya, total aset mereka 10 tahun yang lalu aja udah lebih dari seteng triliun, Guys. Jadi, ini betul-betul koperasi kalau dibilang bisnis kecil juga enggak. Bahkan di Indonesia sendiri kalau lu ambil konteks di Indonesia, di Pekalongan, gua tahu ada koperasi punya Pak Haji di sana duitnya lebih dari 10 triliun. Jadi kalau dibilang koperasi itu bisnis yang lu anggap sebelah mata. Tidak juga orang tadi aja kita kasih contoh di Tulung Agung nipu aja bisa 6 triliun apalagi kalau bisnis beneran kan. Jadi jangan heran juga kalau begitu banyak sebetulnya koperasi yang punya prospek bisnis sangat-sangat bagus di Indonesia. Cuma ya, Guys, gak semua kok bisnis koperasi itu jelek. Seperti Hugo Chapez di Venezuela yang program populisnya ternyata ya merugikan negara juga sih pada ujung-ujungnya. Karena mereka kan jadi gagal bayar negara, jadi makin tertekan negara tambah miskin. Koruptor-koruptor yang di bawah itu korupsi berjemaah. Ada enggak sih kisah sukses di mana negara mengintervensi program koperasi dan menjadi bagus bagi mayoritas orang? Ada. Contohnya di Italia ini namanya program koperasi Emilia Romanya. Di sini lu bayangin ya, begitu hebatnya ya program koperasi yang digadang-gadang oleh pemerintahan Italia sampai koperasi itu bisa mengkontribusi 30% dari GDP negaranya itu berasal dari koperasi. Ini gila, Guys. Karena contohnya kayak di Indonesia selalu dibilang pahlawan ekonomi UMKM, UMKM, UMKM. Di Italia ternyata sepertiga GDP-nya disumbangkan oleh koperasi yang dimiliki oleh kita semua bersama-sama secara kolektif. Jadi, Teman-teman tahu enggak? Italia itu kan dulu ikut perang dunia 2, tapi dia salah pilih kubuh sehingga kemudian kalah perang. Mereka punya ekonomi sama sekali tidak berkembang dan koperasi bukanlah solusi yang tepat pada saat itu. Hingga akhirnya ya pada tahun 1947 pemerintah Italia mencetuskan bahwa semua pemerintah daerah harus mendukung koperasi. Di sini pendiri koperasi layak mendapatkan subsidi. Bahkan para anggota koperasi diizinkan untuk meminjam uang dengan pajak yang rendah. Pemerintah Italia juga membuat lembaga penjamin simpanan khusus koperasi seperti LPS di Indonesia, tetapi kelainnya perbankan. Kalau di sana di Itali mereka mewajibkan koperasi untuk memberikan 3% dari keuntungan mereka kepada dana penjamin simpanan yang akan bertindak sebagai payung pelindung. Kalau saja ada koperasi yang lagi kesulitan keuangan. Jadi, Teman-teman tahu enggak di Indonesia itu ada lembaga penjamin simpanan. Jadi, bank-bank yang lu pakai contohnya Bank BRI atau lu pakai Bank BCA, Bank Mandiri sebagainya, itu mereka bayar iuran kepada lembaga penjamin simpanan. Iuran itu gede loh, Guys. Itu hampir R triliun setiap tahunnya. Dipakai buat apa? Mereka itu setor sekitar 0,1% ya dari labanya mereka ya. Kalau yang di sini koperasi kan 3% dari labanya mereka. Intinya kalau ada bank-bank yang colollaps, enggak ada nasabah yang dirugikan karena duitnya ditalangin nih sama LPS. Nah, di sini menurut gua salah satu yang revolusioner yang mungkin kita bisa copy paste dari kesuksesan Italia adalah mereka bikin LPS tapi khusus koperasi. 3% dari keuntungan mereka wajib disetor ke lembaga penjamin simpanan khusus koperasi alias LPSK. Boleh juga tuh singkatannya. Anyway, bukan cuman itu aja. Pemerintah juga mau mendorong supaya koperasi-koperasi ini tidak boros. So, negara memberikan insentif pajak. Pajak koperasi akan dibikin lebih murah lagi kalau seandainya koperasi-koperasi ini berani menahan labanya untuk investasi jangka panjang. Jadi, jangan ke ada laba dikit dibagi ke anggota, ada laba dikit dibagi ke anggota. Enggak sehat juga. Itu anti dividen lah kayak gua anti dividen. Ngapain perusahaan enggak bakal bisa berkembang kalau dikit-dikit bagi dividen. Kalau di koperasi namanya SHU. Dikit-dikit bagi sisa hasil usaha. Kapan lu bisa tambah kaya? So, yang dilakukan di sana adalah dikasih insentif. Kalau koperasi menahan diri, hidup frugal, fokus dengan jangka panjang, harapannya ya koperasi ini lama-lama bisa tumbuh mandiri tanpa tergantung pada utang bank atau bantuan negara. Begitu suksesnya program koperasi di Emilia Romanya ini sehingga di tahun 2023, Guys, itu meskipun ya ada 5.681 koperasi, jadi cuma 5.600 koperasi loh. Ini kita ambil satu sampling di wilayah Emilia Romanya, ternyata kontribusi 5.681 koperasi di wilayah Emilia Romanya itu bisa menyumbangkan 903 triliun buat perekonomian wilayah itu. Kenapa ini hebat? Karena teman-teman tahu wilayah Emilia Romanya itu GDP-nya itu sekitar 3.000an triliun lah di tahun 2023. Dari 3.000 triliun itu ternyata 30%-nya alias R00 triliun itu disumbangkan oleh koperasi. Jadi kita enggak bisa anggap remeh ya. ternyata bisa menghidupi loh satu pertiga dari ekonomi di sebuah wilayah sampling yang namanya Emilia Romanya di Italia itu sukses besar karena ada program koperasinya didukung oleh pemerintah. Ini banyak ilmu nih yang kita bisa ambil nih. Semoga Presiden Prabowo juga terapkan itu di kita supaya orang-orang enggak melihat nih program koperasi merah putih 550 triliun cuman sebagai ajang pestapora, ajang korupsi berjemaah. ngeri itu. E kita sih punya mimpi yang baik tentunya enggak mau gagal seperti Hugo Chavez ya. Tapi kita ambil prinsip-prinsip baiknya lah di programnya Hugo Chavez dan kita ambil juga prinsip baiknya yang ada di Italia juga supaya kita bisa bikin koperasi merah putih yang makin bagus. Karena kalau enggak gini, Indonesia udah enggak gagal nih manufacturing kita. Kita udah kalah tuh nih dari Vietnam, dari Thailand. Pertanian juga bisa jadi kalah juga nih sama Vietnam sama Thailand. Salah satu solusinya gimana kalau gitu ya? Kita harus bisa menghidupi orang-orang pendidikan rendah yang bahkan pendidikannya cuman lulus SD, SMP, enggak bisa kuliah. Bahkan mereka mau gimana? Mau kerja di bank, mau jadi PNS kan berat. So, kita harus hidupkan ekonomi pedesaan supaya mereka tidak pergi ke kota jadi preman, jadi tukang parkir, jadi anggota ormas. Solusinya gimana? Harus diciptakan kantong-kantong ekonomi di daerah itu supaya orang tidak berbondong-bondong pergi ke Jakarta atau pergi ke kota untuk mencari penghidupan. Lama-lama bisa jadi meledak juga nih, jadi bom waktu nih kalau makin banyak pengangguran dari daerah pindah ke kota. Ya, ini salah satu pelajaran sih dan alasan kenapa gua juga sebetulnya suka dengan program koperasi merah putih ini. Asal ya dikelola dengan benarlah. Ada beberapa nilai positif negatif dari program di Ital maupun yang di Venezuela. Tapi kita ambil, kita copy paste aja yang positifnya. Itu menurut gua sih bermanfaat dan bisa kita lakukan. Tapi ada satu hal menurut gua yang menarik yang gua juga harus ikut bahas di sini. Terpaksa sih karena apa ya? Karena kalau kita lihat program-programnya Prabowo ini semuanya kan program populis. Dia mau apa? Ketahanan energi, ketahanan pangan, sasembada pangan. Sekarang kita juga mau masuk lagi membangun ekonomi pedesaan. Ini semua adalah program-program populis yang menguntungkan rakyat miskin di desa. Bagus enggak? Ya, bagus. Bagus. Cuman hati-hati juga karena banyak orang yang tidak suka dengan itu. Dan lu bisa lihatlah sekarang makin banyak tuh anggota anggota oposisi juga yang mengkritik program-program yang populis yang berbuat baik kepada rakyat miskin. Mereka enggak senang Prabowo bisa lakukan itu. Mereka pun enggak senang lihat Prabowo sukses soas sembada pangan. Dan ini sudah ada contoh kasus yang sangat menarik. Kejadiannya juga sama di Bolivia, kisahnya Evo Morales. Teman-teman tahu enggak setelah dilantik menjadi presiden baru Bolivia di tahun 2006, Evo Morales yang seorang ciri populis langsung menasionalisasikan industri gas dan minyak di Bolivia. Tujuannya baik, dia mau menegosiasi ulang kontrak dengan perusahaan energi asing sehingga dia bisa mengalihkan kekuasaan dan pendapatan dari sumber daya alam minyak gas Bolivia kembali ke tangan pemerintah. Bukan cuman itu, di bulan Mei 2006 enggak lama setelah dilantik of Moralis juga menasional sektor hidrokarbon serta mendirikan kembali perusahaan energi milik negara Bolivia yang namanya YPFB. Yasimientos, Petrolos, Visales, Bolivianos. Jadi, perusahaan ini adalah perusahaan mirip Pertamina Indonesia dan dia melakukan nasionalisasi dengan cara melakukan pembelian kembali di buyback saham-saham mayoritas perusahaan-perusahaan yang diprivatisasi alias dimiliki oleh swasta dan asing tentunya. Nah, di sini dia memaksa pemerintahannya untuk bernegosiasi bekerja sama dengan Brazil dan Argentina dalam hal ekspor gas sehingga negara-negara Amerika Latin bisa tambah kaya dan memiliki nilai tukar, nilai negosiasi yang lebih tinggi ketika berbicara dengan kapitalis barat. Nah, akibat kebijakan-kebijakan tersebut, harga gas dan barang ekspor lainnya di Bolivia melonjak pesat. Nah, ini menurut gua yang lemah ya dari Indonesia ya. Kalau negara OECD, negara-negara Arab itu kompak. Mereka bersatu padu memonopoli harga pasar. Dimainkanlah harga minyak itu supaya kita jadi budak mereka. Argentina, Bolivia, Brazil ternyata pernah lakukan yang sama. Mereka paham mereka itu menguasai sumber daya hidrokarbon yang sangat besar, oil and gas yang sangat besar. Kenapa kita enggak bersatu padu? kompakan aja jualan sehingga kita bisa kontrol harga itu. Indonesia juga punya kekuatan itu. By the way, Guys, lu tahu kita itu bersama Malaysia adalah eksportir CPO terbesar di dunia. Tetapi anehnya kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol harganya. Malah pembeli yang ngontrol harganya. Kan kocak ya. Inilah kita mudah diadu domba. Selalu di Indonesia dibilang Malaysia, Malaysia negara musuh. Kita harus hina Malaysia. Kita harus binasakan Malaysia. kita harus berperang melawan Malaysia. Aneh. Kenapa kita mau dipecah belah seperti India, Pakistan, Bangladesh, seperti negara Afghanistan, seperti negara-negara lainnya. Jangan. Justru ketika kita kompak seperti yang dilakukan Bolivia itu, inisiasinya bagus, kita harusnya bisa dapat lebih untung dari sumber daya alam kita yang namanya sawit itu. Jangan kita sudah nanam sawit, tebang hutan di mana-mana, banjir, orang mati tapi negara tidak tambah kaya. Yang ada tambah miskin karena duitnya dikontrol sama Singapura. Singapura lagi, Singapura lagi. Anyway, kembali ke Evo Morales lah fokus kita. Evo Morales itu ternyata dengan program populisnya cinta rakyat. Apa yang terjadi menurut Bank Dunia? Kemiskinan ekstrem di Bolivia di saat Evo Morales menjabat itu berkurang pesat. Tadinya 36% rakyat Bolivia miskin. Menurut Bank Dunia sejak Morales jadi presiden turun jadi cuma 17%. Hebat enggak? Ini hebat banget. Dia ya pakai data mengurangi kemiskinan bukan pakai strategi BPS tapi dia memang konsisten pakai strateginya World Bank. Wordbank bilang 36% turun jadi 17% valid. Yang ngukur ya Bank Dunia sendiri jadi lebih valid. Bukan pakai mempermainkan statistik kayak gaya yang ada di pabrik pusat skenario di Indonesia. Enggak hebat nih. Jadi sahih programnya sukses besar. Tapi apakah artinya Evo Morales bisa berkuasa dengan tenang? Memimpin dengan tenang? Ternyata tidak. Justru karena dia sukses besar, berhasil dicintai rakyatnya, berhasil membangun negaranya. Ini membuat banyak orang benci sama dia. Saking hebatnya Bolivia ya di era Evo Morales, semoga Prabowo itu bisa mengalahkan Evo Morales. Di tahun 2010 ya, Bank Dunia itu mengklasifikasi Bolivia sebelumnya negara berpenghasilan rendah, lower income country seperti Indonesia. Sekarang dia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah alias lower middle income country. karena negaranya berhasil melampaui nih batas pendapatan nasionalnya menjadi 11.100 per kapita ya. So, hebat nih Evo Morales berhasil naik derajat rakyatnya dibawa oleh dia sendirian nih. Cuman sayang ser000u sayang guys. Kenapa? Karena setelah dia 14 tahun berkuasa di tahun 2019 dia dijatuhkan. Kenapa itu bisa terjadi? Karena Evo Morales lupa diri. Dia berusaha untuk menjadi presiden seumur hidup. Dia merasa di atas langit. Dia merasa rakyat sangat mencintai dia. Jadi keruntuhan kejatuhan Eva Morales itu terjadi akibat Morales mengabaikan suara rakyat dan berusaha untuk menjadi presiden yang keempat kalinya. Nah, banyak rakyat Bolivia tidak ingin Morales berkuasa terlalu lama sehingga saat pemilu berlangsung banyak protes di mana-mana meminta agar Morales mundur. Saking kacaunya ya pemilu di Bolivia organisasi negara-negara di benua Amerika Serikat. Jadi kayak ASEANnya lah. Kalau di Indonesia ASEAN isinya Singapura, Vietnam, Thailand, Indonesia. Ini sama juga ini kumpulan negara-negara 35 negara yang ada di benua Amerika. Jadi negara anggotanya di situ ada Meksiko, Guatemala, Uruguay, Brazil termasuk Amerika Serikat. Mereka buat organisasi negara-negara di benua Amerika ini dan ternyata mereka melakukan intervensi ikut campur dan menyebarkan propaganda adanya manipulasi di pemilu Bolivia. Akibatnya apa? Oposisi yang padahal saat itu OVO Morales sudah menang pemilu yang sah, dia sudah menang. Oposisi bergerak menggunakan gorengan yang dibuat oleh organisasi anggaran negara benua Amerika ini untuk menolak kemenangan Morales. Jadi, padahal Morales sudah menang, Guys. Tapi sayangnya oposisi didukung oleh kekuatan asing yang di dalamnya tentunya sudah tahulah negara paling kuat ya Amerika Serikat berhasil menjatuhkan Morales. Akibatnya apa? Morales harus mundur dan kabur ke luar negeri, Guys. Itulah dia. Karena dia terlalu dicintai rakyatnya, terlalu populis, terlalu komunis, terlalu sosialis. Dia wajib disingkirkan dengan segala cara. Ngeri ya. Dan alat yang digunakan adalah partai oposisi. Eh, ceritanya selalu berulang, Guys. Mau di Turki, mau di Uruguay, mau di Venezuela, mau di Bolivia. Kisahnya selalu sama. Kalau lu gagal, negara lu hancur, lu tambah miskin. Kalau berhasil, siap-siap aja lu mati, lu dikarungin sama The Invisible Hand. And anyway, kita tentu berharap yang terbaiklah semoga program 550 triliun ini berjalan dengan lancar dan Presiden tetap hidup sehat walafiat ya tentunya ya. Jangan sampai kayak Ova Morales yang sampai kocar-kacir dikejar oleh agen-agen asing ini. Tapi apakah kita harus mundur? Menurut saya enggak. Dan memang udah saatnya koperasi di Indonesia ini harus berjaya, Guys. Karena apa? Kita enggak bisa tutup mata ya. Begitu banyak koperasi yang sukses kok di luar negeri. Contohnya ya kita sebutin aja ada tiga koperasi. Mereka punya pendapatan yang sangat luar biasa. Pertama Zeno berulang kali gua sebut di channel ini dari 5 tahun yang lalu koperasi Zeno di Jepang. Mereka punya penghasilan 928 triliun. Gila enggak penghasilannya R28 triliun. Ini ngeri banget. Fokusnya cuman dua di bidang pangan, pertanian dan distribusi pangan. Hebat. Anggotanya berapa? Cuma 900 koperasi lokal yang ada di Jepang. Bisa sehebat itu, bisa sebesar itu. Bahkan mendominasi bisnis pertanian yang ada di Indonesia, yang ada di Asia Tenggara, bahkan yang ada di Amerika Serikat. Hebat. Yang kedua ada kredit Agricola dari Prancis. Mereka memiliki pendapatan 434 triliun dalam 1 tahun. bidang kegiatannya fokus di bisnis perbankan dan asuransi. Per hari ini mereka memiliki 53 juta nasabah atau yang kalau dalam konsep koperasi 53 juta anggota. Saking hebatnya kredit agricola ini mereka punya ATM sendiri, Guys. Ini koperasi. Lu bayangin ya betapa hebatnya bisnis koperasi di Prancis. Yang ketiga adalah Des Jardin Group. Ini dari Kanada. Mereka punya pendapatan 289 triliun dengan bidang usaha yang sama dengan Prancis juga di bidang keuangan dan asuransi. Anggotanya ada 7,15 juta orang. Jadi gimana nih, Guys, menurut kalian ya? Menurut kalian koperasi merah putih milik Indonesia bisa enggak sih mengikuti jejak koperasi-koperasi sukses yang ada di luar sana? yang ada di Jepang, yang ada di Kanada, yang ada di Italia, Emelia Romanya, atau malah gagal nih seperti koperasi yang ada di Venezuela. Kenapa ini sangat waring? Memang sih potensinya besar kalau berhasil negara Indonesia bisa tumbuh tinggi ekonominya. Lu bayangin ada koperasi bisa omset-nya hampir satu kuadriliun seperti Zeno yang ada di Jepang. Kan luar biasa. Cuman kalau dilihat resikonya bukan artinya enggak ada resiko. Karena apa? duit yang sangat besar 550 miliar itu kan duit rakyat, duit pajak loh bukan punya Presiden Prabowo. Dan seperti yang lu tahu ya berdasarkan rating ya tingkat korupsi di Indonesia itu levelnya ya jauh lebih buruk dibandingkan Italia. Lu bayangin dari 100 negara yang disurvei ternyata Italia itu enggak bersih-bersih amat loh. Italia cuman rankingnya 52. Tetapi Indonesia itu ada di ranking 99. Gila enggak? Jadi kita 99 dari 100 negara yang paling korup makin bawah itu makin korup makin kecil angkanya makin bersih. Padaingkat satu itu ada Singapura, ada negara-negara Norway, Denmark, pokoknya negara-negara bersih lah. Nah, Indonesia ternyata di peringkat 99 tuh, peringkat paling bawah. Dan lu tahu Italia ranking 52 sukses ya dengan program koperasinya. Indonesia itu rankingnya 99. Nah, Venezuela itu hari ini rankingnya 178, Guys. Itu kayak kiamat, Guys. Jadi, salah satu hal paling apes di dunia ini memang kalau lu lahir di Venezuela, otomatis kemungkinan besar jatuh miskin karena pemerintahan lu super korup 178 rankingnya. Gila ya. Jadi Italia 52, Indonesia 99, Venezuela 178. Ternyata masih ada neraka di bawah neraka, Guys. Namanya Venezuela. So, menurut kalian gimana? Indonesia bisa berhasil atau tidak dengan resiko separah itu Venezuela sampai hancur-hancuran ranking 178 atau jangan-jangan kita bisa jadi sukses kaya besar seperti Jepang, seperti Italia. Menurut kalian dengan resiko yang seperti dan potensi keuntungan sehabat itu menurut kalian program 550 triliun ini koperasi merah putih ini itu harus didukung, harus dilanjutkan atau sebaiknya diop aja guys ganti program yang lain? Menurut kamu gimana baiknya? Kamu dukung atau tidak program koperasi merah putih ini untuk membangun masyarakat pedesaan di Indonesia? Yuk, segera tuliskan ya pandangan kamu, komentar kamu di bawah ini. Jangan lupa di-share video ini dan like and subscribe. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]