Di Balik Kursi Panas Direktur Garuda: Cerita Lengkap Irfan Setiaputra !!
N4syb-UNzAk • 2025-05-30
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Wah, kalau Pak Irfan tuh kerja gila
hardcore sampai pagi, Bro. Masih kerja
pun SMS kita harus standby gitu. Oh, ya.
I tiba-tiba ada teman telepon gitu salah
satu di rot BUMN. Terus dia bilang,
"Fan, ini kenapa delay? Gua mesti ada di
satu lokasi itu jam sekian." Oh,
baik-baik saya cek gitu kan. Terus saya
tanya sama direksi kebetulan kan ada
yang banyak yang dari Bang dari Garuda
kan. Saya tanya, "Delay itu gimana sih
ya cara nanganin dan kenapa penyebabnya
gitu kan. Bayangin Anda di Rot Airlines
sudah jalan berapa minggu enggak tahu
delay gini segala. Tapi saya orangnya
enggak terlalu malu gitu nanya-nanya
satu jawab satu jawab satu. Begitu orang
yang keempat jawab saya gebrak
meja. Saya bilang lu gila lu ya
pada-bada ya. He kenapa? Tiba-tiba staf
saya salah satu miskin. Pak jangan lewat
sini Pak. Kenapa ini dikate ini ada
penerbangan ke Kendari? Terus delay,
Pak. Terus itu ada sekeluarga
marah-marah. H
delay kenapa Kendari hujan deras, Pak?
He. Jadi enggak mungkin kita mendarat,
"Oke, oke, Pak." Oke. Apa? Oke. Kita
datangin keluarga itu, Pak. Yang yang
benar, Pak. Kalau Pak Irfan sejujurnya H
mau
enggak invest di penerbangan dalam
kondisi hari ini? Efisiensi anggaran,
invest apa? Ee saham. Jadi, saat itu pun
posisi ekuitas sudah negatif. Alham
sudah negatif. sampai sekarang kalau
enggak salah masih negatif sampai masih
negatif tapi jauh jauh berkurang ya jauh
mendingan jauh lebih mending jauh
mendingan gitu kan tapi kita kan
berharap bisa jadi positif ya tadinya
berharap dari organic growth tapi
kayaknya enggak mungkin ya dari organic
growth dan Anda hari Minggu sore Minggu
malam tuh semangat apa deg-degan enggak
n besok Senin besok ini mau kejak nih
asik nih asik nih I kan adah syik main
Senin
halo teman Selamat pagi, Guys. Balik
lagi bersama Benix. Kita sekarang
kedatangan tamu yang spektakuler. Tentu
teman-teman sudah tahu dong siapa. Tidak
lain dan tidak bukan Pak Irfan
Setyaputra mantan CEO Garuda Indonesia.
Maskapai kebanggaan kita semua. Thank
you nih Pak Irfan sudah mau datang.
Sama-sama. Sama-sama. Kita sudah
berkali-kali nih ketemu Pak Irfan pas
RUPS. Akhirnya dapat juga susah banget
loh nyari jadwal beliau. Sebenarnya
enggak juga susah, Pak. 2 tahun kita
kejar-kejar. Memang pada waktu masih di
Garuda agak mesti hati-hatilah. Harus
hati-hati. Sepakat. E kalau udah di luar
bebas kok. Udah freedom nih sekarang
nih. Udah free. So ee Pak Irfan nih kita
kan banyak investor kita memang
mayoritas investor ya. Tapi ada juga
memang yang bukan investor dan mereka
belum tahu Pak Irfan itu siapa. Oke. So
kita sedikit perkenalan buat teman-teman
yang belum tahu Pak Irfan ini beliau
adalah dulu ee CEO-nya Garuda Indonesia
dan termasuk yang paling hebat menurut
saya pribadi ya karena perubahannya
sangat-sangat drastis di eranya Pak
Irfan. Ini bukan muji-muji karena ada
orang ini, tapi gua kan orang
pariwisata, kita dulu kelola hotel 4.000
lebih, Pak, seluruh Indonesia. Dan
sering juga naik Garuda Indonesia itu
kita lihat memang perubahannya drastis.
Apalagi Pak Irfan ini melewati banyak
badai ya. Covid ya di era Pak Irfan toh.
Covid i Covid. Terus PKPU yang pil itu
mau bangkrut itu era Pak Irfan juga.
Wah, ini kayaknya badai yang paling
ekstrem deh kayaknya. Iya. Jadi, PKPU
itu by definisi itu adalah
restrukturisasi terbesar dalam sejarah
korporasi di Indonesia. Not only Garuda,
not only airlines ya, tapi di Indonesia.
Di Indonesia karena nilai dari hutangnya
menakjubkan gitu. Berapa triliun, Pak,
waktu
itu angkanya berubah? Tapi saya selalu
pakai R0 triliun lah. Jadi, STEX enggak
ada apa-apanya lah. Steex enggak ada
apa-apanya. 100 kalau dari sisi nilai
utang ya. Gila. Iya. Gila ini gua sih
yakin prosesnya gua rasa enggak mudah
tuh. Pasti pasti pusing ya. Apalagi ada
politisnya kali. Mungkin banyak
kepentingan kali. Oh ya macam-macam.
Tapi ee saya kalau disuruh cerita si
sekarang gembira gitu tapi disuruh
ngulang enggak mau lagi. Engak mau lagi.
Tapi ilmunya banyak tuh Pak. Oh banyak
banyak banyak stresnya apa happy-nya
Pak? Ee saya orang yang ee apa aja saya
bikin happy gitu kan ya. Jadi kalau
stres sendirian aja. Stres sendiri kita
nanganin itu hampir 2 tahun lebih gitu
kan. Buset, PKPU sendiri 6 bulan
negosiasi sama para kreditur yang kita
potong 80% itu kan pasti enggak gampang.
Enggak ada yang sakit hati kreditornya,
Pak? Ee enggak tahu ya. Pastinya sih
banyak yang sakit hati, tapi ya kita
coba ajak bertemanlah dan kita ajak
melihat
bahwa ee Anda mending dapat 20% daripada
enggak dapat apa-apa. Semalam better
than nothing. I contohnya kayak yang
seritex itu contoh nothing-nya tuh. Iya.
diskonnya kemarin itu 98% tuh, Pak. Oke.
Ngeri ya. Jadi cuma dapat 2% balik. Ee
itu pun masih banyak yang enggak mau
akibatnya bisa jadi 0% per hari ini.
Better 2% enggak, Pak, dibanding 0%? Ya,
jadi waktu itu kita sebenarnya dari awal
tuh pada waktu PKPU kita kan proposal
kita itu ee haircut 80% tapi untuk BUMN
dan bank kan enggak bisa dipotong
hutangnya karena itu akan menciptakan
kerugian. He. Jadi yang kita lakukan
kita perpanjang hutangnya menjadi 22
tahun, bunganya 0,1%
setahun gitu kan ya. Basically kalau
dihitung-hitung sama aja lah. Sebenarnya
masuk kantong kiri, keluar kantong kanan
juga 80% juga gitu kan ya. Ee memang
pada waktu itu kita menghire salah satu
konsultan untuk melakukan penilaian
liquidation value ya. Ee jadi begitu
sudah di ujung beberapa yang ngotot ya
kita sampaikan ini loh liquidation
value. Kalau Anda enggak setuju, Anda
hanya akan dapat 3%. itu pun
klasifikasinya insyaallah. Oh, iya kan?
Karena yang pertama mesti kalau
aset-aset dijual kan pajak mesti
dibayar,
pegawai dan mungkin ini tahunan karena
aset kita kan enggak banyak juga dan
bentuknya bangunan segala macam kan
kalau mau dijual segala macam kan butuh
waktu. Jadi saat itu pun posisi ekuitas
sudah negatif. Sudah negatif sampai
sekarang kalau enggak salah masih
negatif sampai sekatif tapi jauh jauh
berkurang ya. Jauh mendingan jauh lebih
mending jauh mendingan gitu kan. Tapi
kita kan berharap bisa jadi positif ya.
Tadinya berharap dari organic growth,
tapi kayaknya enggak mungkin ya dari
organic growth. Ee dulu pada waktu
proposal pertama yang kita sampaikan tuh
sebenarnya adalah ada dua. Jadi ee
penyertaan modal yang 7,5T kan sudah
masuk angka yang kita minta awalnya
sebenarnya enggak segitu lebih tinggi
gitu kan. Cuman waktu itu ada
kesepakatan ya nanti penertaan modal
kedua lah cuman enggak kejadian. Dan
kita terakhir itu ada solusi ijarah
pelakuan akuntansi ya. Tapi nampaknya
juga ee tidak berhasil. Nah, enggak tahu
nih solusi kepimpinan yang sekarang
seperti apa gitu. Kalau memang pemegang
saya masukkan dana lagi sih otomatis
bisa positif.
Oh, iya pasti. Tapi semuanya langsung
terdilusi massal ya. Ya, itu
konsekuensinya. Kan ada salah satu di
dalam yang dapat posisi komisaris ya
toh. Kemarin kan sudah terdilusi ya.
Kalau nanti right ISO lagi terdil itu
enggak ada komplain sama sekali. Oh
pasti pasti waktu itu sih cukup ketatlah
kita diskusi. Tapi kan pilihan enggak
ada enggak banyak ya. Dan sebenarnya
kita enggak menyampaikan pada waktu itu
di awal bahwa ee Bapak akan terdilusi.
Kita cuma menyampaikan pemerintah akan
inject 7,5T proportionally Bapak mau
inject juga enggak gitu kan. Intinya lu
sudah tahulah lu bakal tulu sih kalau
enggak injek. Ya, tapi kan itu
konsekuensi logis di semua perusahaan
yang ee pemegang sahamnya banyak ya. He.
Artinya kalau salah satu memasukkan dana
yang lainnya kalau enggak bisa masukin
ya terdilusi kan. Itu si teori simpel
aja gitu kan. Siap. Siap Pak. Ini kita
mau sedikit gali ke belakang nih. Oke.
Boleh. Semua orang yang pernah bekerja
sama zaman saya tahu persis how
passionate saya kalau ngerjain sesuatu
gitu kan. Saya enggak mungkin bisa
pulang jam 5. gitu. Enggak mungkin.
Masih banyak yang kep pending gituah
segala. Enggak mungkin saya enggak
terima komplain orang hari Sabtu Minggu
gitu kan. Terus enggak mungkin juga saya
matiin handphone tengah malam. He kita
punya banyak teman kok dari eranya waktu
itu dia suka kerja masih di deloit
orang-orang PWC. Wah kalau Pak Irfan tuh
kerja gila hardcore bisa sampai pagi bro
masih kerja pun SMS kita harus standby
gitu. Oh ya ya iya iya memang bukan apa
Pak Kena kalau enggak direspon ini
segala macam kan ada delay dalam
pengambilan keputusan ada impactnya akan
ke mana-mana gitu. Jadi cukup lelah saya
saya menyatakan sama keluarga enough is
enough. Terus saya pensiun, pensiun,
pensiun terus jadi advisor. Ternyata itu
masa-masa paling enak. Saya jadi advisor
empat perusahaan gitu. Tugas saya
menasihati tanpa perlu jadi komisaris.
Enggak perlu jadi. Tugas saya hanya
menasihati dan dibayar kontan gitu kan.
Oke. Oke. I kan empat perusahaan loh kan
gitu kan. Kadang-kadang saya lupa yang
nasihat saya yang kemarin apa ya gitu
kan gitu kan.
Nah, tiba terus kemudian ada beberapa
teman-teman kita bikin startup yang
namanya Sifox itu. Oh, menarik juga nih
IoT gitu. Coba coba coba aknya kita
bikinlah. Jadi itu start up company lah
sebenarnya untuk IoT eh kerja sama
dengan Prancis ya, teknologi dari
Prancis dan beberapa orang saja yang
bekerja di sana. Jadi kita punya
perusahaan tuh di atas Kov kafe di
daerah Kebayoran gitu kan. Oh. Iya kan?
Dari sana barulah tiba-tiba ada
permintaan ke Garuda. Garuda gitu.
Gimana tuh ceritanya tuh, Pak?
Gimana ceritanya itu? Apakah Bapak yang
minta, apakah diminta? Saya kan pernah
di inti dulu karena perah inti. Inti itu
BUMN by the way. Tapi kecil jadi Bandung
lah gitu kan. Dan pengalaman saya di
inti saya bilang, "Aduh, udah deh capek
juga di BUMN gitu karena bosnya banyak
banget gitu kan." Iya. Iya. Terus apapun
yang kita lakukan itu kan bisa
dipidanakan. Heeh.
Sementara kan saya ini bukan orang yang
tipikal eh berhati-hati. Saya bilang
saya ini orang yang sangat cepat ngambil
keputusan dan kalau keputusan itu salah
saya perbaiki aja gitu kan sambil jalan
sambil jalan gitu kan. Sementara kalau
di BUMN kan enggak bisa begitu keputusan
menimbulkan kerugian ya Anda siap-siap
kan BPK, KPK jaksa macamlah gitu.
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Padahal
kepentingannya saya cuman dalam sisi
pengambilan keputusan karena saya ee
bisnis kan harus cepat. bisnis aku cepat
dan saya ini penganut pahamnya Pak Robi
Johan.
Pak Robi Johan saya tempat saya pertama
kali kerja itu Biaga waktu kita ee
manajemen train waktu lulus yang wisuda
beliau dan beliau cuma kasih kalimat
sebentar aja saya cuman dia cuma bilang
bahwa saya hanya minta Anda setelah
lulus ini
memutuskan i kan memutuskan untuk
memutuskan apapun dan jangan pernah
jangan pernah ragu karena keputusan Anda
salah atau benar itu waktu yang
membuktikan.
Saya enggak mau lihat Anda yang lulus
ini dalam situ buat situasi nanti di
depan di Bank Niaga, Anda enggak bisa
mutusin dan enggak mau mutusin tidak
mengambil keputusan itu bukan keputusan.
Dia bilang gitu
kan. Dan kebetulan memang pada waktu di
Bank Niaga di-endorse orang untuk
mengambil keputusan dan berbuat salah
dari keputusan. Dikasih keleluasaan juga
ya. Iya. Dikasih keluasan dikasih
kewenangan gitu. Kita waktu sudah belum?
Belum. Masih bank niaga. Masih bank
niaga. Dulu ee saya masih ingat salah
satu yang membuat saya ee agak
terkejut-kejut sampai sekarang pun gitu.
Dulu ada polisi di Bank Niaga. Kalau ada
situasi tertentu dalam di bank tersebut,
karena saya kebetulan di IT, di
lingkungan situ yang ambil alih dan
bertanggung jawab untuk memutuskan itu
yang pangkatnya paling
tinggi. Kan kita di bank ada
kepangkatan, sistem kepangkatan bukan
jabatan aja tapi ada sistem yang
pangkatnya paling tinggi dialah yang
harus tanggung jawab. Jadi ada situasi
misalnya komputer mati gitu semua orang
lihat Irfan paling tinggi lu mutusin
saya bilang gua enggak ngerti masalah
apa mesti mutusin tapi itu bagian dari
itu. Jadi, balik lagi ke pertanyaannya
saya enggak. Tapi beberapa teman-teman
bujuk-bujuk saya untuk balik lagi ke
BUMN butuh ya jualannya kita butuh orang
kayak lu van gini gini lu kan gini lu
kan gini kan. Saya masih coba-coba nolak
gitu kan. Ditawarkanlah satu BMN yang
lain sebenarnya bukan Garuda yang
ditawarin. Kalau Garuda hari itu
langsung saya putusin enggak?
Kalau tahu ya kalau tahu Garuda gitu kan
kayak semua orang tahulah semua kita
profesional itu tahu persislah running
and itu berat ribet berat detail minta
ampun belum kan ada banyak sekali yang
lucu-luculah waktu itu di Garud
sampingannya lah pusingnya tuh pusingnya
dan cerita di Garuda kan lucu-lucunya
banyaklah waktu itu. Pusinglah gitu kan.
E ditawarin sesuatu yang lain setelah
pikir-pikir berapa kali ya sudah saya
mah eh enggak dipanggil-panggil sama ee
Pak Menteri waktu itu ya. Saya pikir
enggak jadi. Ya sudah bagus gitu kan.
Tiba-tiba satu hari dipanggil ketemulah.
Ya setelah diskusi saya masih coba agak
sedikit-sedikit menolak, "Pak, saya nih
cuman S1 gitu. Saya ini sudah tua gitu
kan waktu itu sudah 5 ITB, Guys."
Iyaalah kan kalau banyak yang lainnya
S2, S3 lah gitu. Saya S1 IP saya juga
enggak bagus, Pak. Saya bilang gitu kan.
Walaupun istri saya dan anak-anak ini
tapi sayang. Nah, terus segala macamlah
saya menyampaikan keburukan sayalah
supaya beliau waktu itu bisa berubah
pikiran gitu kan. Tapi ternyata tidak
bubah pikir karena beliau sudah cek sana
sini gitu kan ya. Terus saya bilang ya
Pak kalau Bapak minta bantuan masa saya
kan rakyat jelata Pak. Bapak menteri
saya ray jelata masa saya bilang enggak
gitu kan ya. Ya saya tentu saja bersedia
apalagi Bapak asal tahto aja. Saya
datang ke sini nih sekampung tahu semua
keluarga saya tahu semua saya ini mau
dipanggil menteri itu semua tahu gitu
kan. Sebuah kebanggaan di keluarga saya
saya bilang begitu kan. Dia bilang
bercanda aja Pak Ian. Enggak benar benar
benar benar gitu kan. Oh iya kalau Pak
Ivan sudah bantu saya ya terima kasih.
Baik, Pak. Di Garuda ya. Oh, itu baru
keluar ya. Saya dapat gosip-gosip
sebelumnya, tapi saya teman-teman itu
ngomong enggak mungkinlah. Udah kan
enggak itu saya kan enggak bukan orang
airlines gitu kan. Saya sampai
terenganga saya bilang, "Pak, yang itu
kegampangan." Aduh. Dan saya langsung
ingat ee ayah saya yang yang apa ya?
Yang selalu ngajarin integrity ya. Kalau
sudah bilang aa ya kan saya sudah bilang
mau bantuin ya. Salah saya enggak nanya
bantuin di mana gitu kan. Saya pikir kan
yang keitu gitu kan ternyata bukan. Ya
udah the disaster start.
Di situlah kepusingan mulai bertubuh
kepusingan dan semua walaupun akhirnya
belum dilantik tapi sudah mulai sudah
mulai peninglah mulai baca-baca mulai
deg-degan juga gitu kan dan sebagainya.
Lihat ngelihat apa kondisi finansial
deg-degan lagi gitu kan. Itu belum buka
laporan keuangan tuh. Sudah buka tuh kok
banyak merahnya gitu loh kan. Hm. He.
Terus tanya sana, tanya sini kok gitu
ya, gitu dan segala macam segala macam.
Wah, saya cuma bilang, "Wah, tugasnya
berat banget nih kan." Jadi begitu masuk
ya sudah habis itu untungnya COVID ya.
Iya. Iya. Untungnya COVID itu blessing
tapi juga problem ya. Ya kan? Jadi ee di
situlah akhirnya sambil jalan ya kita
belajarlah.
Hm. Dan banyak bertanya memang apa Pak
ya? Banyak aja bertanya ini kenapa, ini
kenapa, ini kenapa gitu kan. Salah satu
pertanyaan saya itu adalah pada waktu
kita lagi rapat direksi. He lagi rapat
direksi tiba-tiba ada teman telepon gitu
salah satu di rut BUMN. Terus dia
bilang, "Fan nih kenapa delay? Gua mesti
ada di satu lokasi itu jam sekian." Oh,
baik-baik saya cek gitu kan. Terus saya
tanya sama direksi kebetulan kan ada
yang banyak yang dari Bang dari Garuda
kan. Saya tanya delay itu gimana sih ya
cara nanganin dan kenapa penyebabnya
gitu kan. Bayangin Anda di Rot Airlines
sudah jalan berapa minggu enggak tahu
delay gini segala. Tapi saya orangnya
enggak terlalu malu gitu nanya-nanya
satu jawab satu jawab satu. Begitu orang
yang keempat jawab saya gebrak
meja. Saya bilang lu gila lu ya
pada-bada ya. He. Kenapa? Karena enggak
ada satu pun dari Anda yang ngomongin
penumpang.
Emang jawaban mereka apa? Ya teknislah
Pak. Ini delay karena ini ini kalau ada
delay ini begini begini begini. Even di
dalam pembicaraan itu enggak ada satu
statement ya, Pak. Kalau ada delay SOP
kita yang pertama adalah memberitahu
para penumpang penyebab delay. Bagaimana
enggak ada yang ngomong lu gila lu ya.
Ini bukan ngomongin nasi kotak bahkan
belum sampai situ ya ngasih nasi kotak
ke ya walaupun dari salah satu DMK Pak
kita kan SOP-nya begitu. Saya bilang,
"Waduh." Dan benar premis saya awal-awal
pada waktu masuk Garuda di town hall
meeting pertama, saya
bilang, "Saya ini enggak ngerti
airlines. Tapi saya sebelum masuk Garuda
sudah 56 tahun
terbang punya pengalaman sebagai
penumpang." Dan saya bilang, "Pada
dasarnya orang maskap enggak peduli kok
sama penumpang." Maksudnya 56 tahun
terbang dari umur 3 tahun. 3 bulan eh 3
bulan ya. 3 bulan Pak Irvan itu sudah
terbang. Sudah terbang. sudah jadi
klien. Kebetulan Bapak saya kerja di
Deplu lah karena di Kemenlu. Kemenlu
jadi ee penugasan pertamanya waktu saya
masih bayi tahun '65 '
65 pas G30 SP sebelum G30 SPKI gitu kan.
Jadi itu pertama kalinya saya jadi saya
boleh declare 56 tahun saya dan di situ
memang premis saya mengatakan Airlines
itu sebenarnya enggak peduli. H ya Anda
kalau delay gitu kan Anda yang mesti
nanya kenapa nih delay? Kapan
selesainya?
Kan orang Airlines biasanya ya sibuk aja
ngurusin delay-nya itu segala macam
tanpa menginformasikan kepada para
penumpang. Betul. Kita blank selalu
sering blank ya. Sering blank. Padahal
saya katakan sama teman-teman, begitu
Anda
jual penerbangan rute jam tertentu
misalnya Jakarta Bali jam .00 siang itu
pada dasar kita berjanji sama mereka
yang beli tiket bahwa kita akan
terbangkan Anda jam .00 siang. H artinya
it's our obligation to make sure jam .00
siang terbang. Kalau enggak bisa kasih
tahu, kasih tahu lebih awal biar kita
enggak check out, kasih option. Iya.
Kita bisa ke mana dulu? Ngopi dulu kek,
ngetik dulu kek. Enggak usah bangun
subuh-subuh ngejar pesawat. Ternyata
delay. Jadi saya pernah kejadian pernah
ke terminal 3 tiba-tiba staf saya salah
satu miskin, "Pak, jangan lewat sini
Pak. Kenapa ini dikate ini ada
penerbangan ke Kendari?" Terus delay,
Pak. Terus itu ada sekeluarga
marah-marah. H so delay. Kenapa? H
Kendari hujan deras, Pak. He. Jadi
enggak mungkin kita mendarat, "Oke. Oke,
Pak." Oke. Apa, Pak? Oke. Kita datangin
keluarga itu, Pak. Yang yang benar, Pak.
Ya, kita datangin. Saya datang, saya
mereka lagi pokoknya lagi
maki-makiah-Tak lah. Ah, pastilah. Ya,
setelah terak-terak terus
ngomong-ngomong pokoknya udah ya biasa
kan sama seperti kayak orang lagi
ngumpul setelah pertandingan bola gitu
kan. Semua dianalisa gitu kan.
Ter saya ter saya perkenalkan Pak Bapak
Ibu mohon maaf saya Irfan Direktur Utama
Garuda langsung ya pertama mungkin dia
bilang ini udah gila di rutnya datang
gitu kan kebetulan lagi ada di situ ya
saya sampaikan Pak saya mohon Pak Bu
mohon maaf kita memang belum bisa
menebangkan enggak ada masalah dengan
pesawat tapi kalau Bapak mungkin bisa
dapat cek informasinya juga di Kendari
lagi hujan deras h kita enggak mungkin
mendarat dan dipikir Kira kan masih
cukup lama. Jadi mohon kesabarannya Pak
untuk bisa menunggu karena keselamatan
buat kita nomor satu gitu.
Kes enggak apa-apa, Pak. Take your time.
Take your time. Kita enggak ada masalah
kok. Yang teman saya yang dampingin itu,
staf saya yang dampingin tadi maki-maki
sekarang. Take your time. Take your
time. Ya udah. Terus terus kasih kartu
nama, sharing nomor telepon, nomor
WhatsApp. Ya, sampai sekarang masih
kadang-kadang suka WhatsApp kalau lagi
lebaran dan segala macam ya. Tapi yang
penting memang menginformasikan sih,
Pak. Kalau kita saya kebetulan
memang sekali dua kali sering sekali dua
kali pertama-tama gugup juga. Tapi lama
senang aja saya gitu karena ujungnya
dari situ saya punya banyak teman.
Betul. Betul. I kan walaupun teman-teman
itu juga suka WhatsApp saya, "Pak, nih
kok belum berangkat-berangkat?"
Seru banget. Seru banget. Atau Pak nih
kita sekolah sudah dapat seat tinggal
anak saya satu belum. Bisa minta tolong
enggak? Okelah kita tolong kita cariin.
Siap. Siap. Siap. Dan akhirnya dari situ
pengalaman saya, saya sebarin nomor
handphone saya, saya sebarin Instagram
saya. Ee dengan maksud apa? Supaya makin
banyak penumpang tuh merasa pegang
sesuatulah. Kan gini, kalau Anda terbang
mungkin Anda terbang ini kan yang selalu
jadi masalah. Apalagi penerbangan jauh.
Kalau ada apa-apa siapa yang saya mesti
kejar? Ya iya. I dan standar operating
prosedur semua penerbangan kan hubungi
customer service. Betul. Yang belum
tentu bisa diangkat. yang belum tentu
diangkat. Kalau ada di kalau ada di apa
airport baik Pak gitu. Kita sudah marah
dia dengan tenangan. Baik, Pak. Ya
memang mereka diajarin untuk cool kan.
Iya. Tapi kalau Anda pegang nomor
telepon saya terbang sama Garuda, kalau
ada apa-apa saya telepon Pak Irfan lah
gitu kan. Iya. Iya. Iya kan? Dan saya
pengalaman saya atau ya pengalaman saya
ternyata enggak banyak kok yang kontak
saya. Mungkin pada waktu mengalami delay
atau mengalami masalah mau nelepon saya.
Ah enggak enak ah gitu kan. Mungkin
beliau sibuk segala macam gitu ya.
Yang jadi masalah sampai hari ini aja
saya masih terima tuh komplain dan ini
sekali padahal enggak dia. Enggak di
Garuda gitu. Tapi masih fire fighting
nih namanya nih. Ya bukan apa-ap lah ya.
Itu kan saya 4 hampir 5 tahun di situ
ya. Kalau orang komplain ya pasti saya
forward ke teman-temannya ada komplain
gitu. Kalau ada orang minta bantuan
kemarin ada yang bagasinya hilang gitu
kan. Baik saya kontak. Saya cuma bilang
sama teman-teman yang kontak itu, "Saya
sudah enggak punya anak buah lagi di
Garuda, tapi kayaknya masih banyak teman
deh." Jadi saya minta tolong, "Bro, ini
ada orang WhatsApp gua, bisa ditolong
enggak?" gitu kan. Ya, mayoritas jawab,
"Baik, Pak, kita cariin gitu loh." Hm.
Seru nih. Seru nih. Seru nih. Jadi, Pak
Irfan ini salah satu yang gimana ya,
direktur BUMN yang cukup unik lah,
nyentrik lah. He. Kita lihat dari
zamannya ya, orang-orang di BUMN kita
sudah ketemu banyak, Pak. orang direktur
BWN banyak banget. He. Ya, salah satu
yang nyrik ini Pak Irfan lah. Kalau ny
trik gimana? Nyent triklah. Kalau RUPs
orang nanya apa dia jawab apa gitu.
Terus bubar RUPS. Hm. Ee kita selalu
ngobrol di depan pintu. Kalau orang lain
langsung sembunyi tuh lewat pintu
belakang. RDP juga gitu. Oh gitu ya.
Kalau RDP misalnya atau RDP itu banyak
teman-teman tim communication saya kami
itu bilang, "Pak, Pak, Pak itu banyak
kataan J lewat sini." Saya bilang,
"Guys, enggak begitu.
H ya
kan ini wartawan yang ngikutin RDP itu
misalnya RDP jam .00 siang kan M sudah
jam 11.00 ada situ kan RDP itu kan bisa
berjam-jam kan. Iya betul. Dan mereka
yang hadir di RDP itu kan punya
kewajiban melaporkan ke kantor redaksi
kan hasilnya ini ya. Saya cari makan
jadi dirut. Mereka cari makan memberikan
laporan ya kita temenin aja. Jadi saya
selalu habis RDP gagak bekas ngadapin
bataan ada pertanyaan apa saya bilang
gitu kan. Iya itu gua saksinya gua lihat
memang walaupun saya enggak janji jawab
kan enggak enggak wajib juga enggak
wajib juga jawab tapi ya ee penting buat
saya untuk kemudian menghargai profesi
orang lain gitu. Itu itu bentuk ini dan
alhamdulillah akhirnya cumanya banyak
teman wartawan kan. Iya. Ya kan? Jadi ya
saya berapa kali marah sama beberapa
wartawan kan gua enggak pernah nutupin
apapun.
Kok Anda menyampaikan sebuah berita
enggak klarifikasi sama saya. Ada waktu
itu ada berita agak negatif gitu kan ya.
Mereka minta maaf dan habis itu enggak
ada masalah. Tapi tetap aja enggak semua
direksi mau doorstop orang bilangnya.
Tapi kan kalau orang kan bawa wartawan
ya biasanya kalau ini investor yang
nanya langsung sama direktur utama
Garuda bisa di depan situ di RUPS ya
apalagi invest mungkin Pak sudah lupa
kali enggak apa tapi sering ketemu kan
di pintu-pintu orang ngobrol iya apalagi
investor kan dia tahu duit itu kan saya
enggak tahu duitnya halal apa enggak
tapi saya asumsi halal aja
kan ya saya saya asumsi udah udah dia
taruh duit mungkin waktu dulu beli dia
agak berapa 600 gitu kan jauh-jauh
datang Jadi, jadi tinggal 100 jadi gocap
jauh-jauh datang ke Cengkar ngikutin
kan. Masa kita cuekin kan enggak mungkin
kan. Kita ada dulu ya Dam ya ketemu di
Eropes ada orang beli Garuda udah berapa
tahun
dam 20 tahun pegang saham Garuda. Gila
ini orang gila udah sampai tadinya belum
punya anak sekarang punya cucu masih
pegang saham Garut dan enggak ada
tanda-tanda balik ya. Enggak ada
tanda-tanda
balik tapi kata-katanya selalu bilang,
"Itulah, Dek, namanya jadi investor
harus sabar gitu.
Hebat memang investor tuh selalu tahan
banting, Pak Irfan. Selalu tahun
banting. Tapi gua respect karena di
barulah di RUPS Garuda ya. He. Kita
ketemu ada perusahaan BUMN yang punya
duit triliunan bikin RUPS itu di ruangan
meeting di bandara. Lu bayangin orang
lain mah bikin di bintang lima biasanya
kan bintang lima lah, bintang empat di
hotel-hotel mewah. Enggak. Jadi ketika
Pak Irfan ini gua senang banget gua tuh
udah jangan sampai ya nih bikin RUPS
gaya-gayaan kayak B tapi sekali kita
pernah bikin kok tahun berapa setelah
PKPU lah kalau setelah PKPU jor-joran ya
enggak juga jorjo kita pakai apa yang di
PP tuh hotel e Rich Cton Rich Cton tapi
cuman ruangan dua keuangan tiga keuangan
lah gitu kan siang sekali-sekalilah di
hotel lah gitu kan iya kan tapi gua
tetap amaz jadi jujur ya gua tuh kalau
datang rupaya selalu ngitungin Pak ini
budgetnya berapa ya kira-kira bagian
meeting Oh, ada makan berapa packs ya?
Oh, 200 packs. Ee saya lupa ya 2022
kalau enggak salah deh. Itu gua
ngitungin kita meeting di ruangannya
Garuda Indonesia yang lantai 1 itu, Pak.
Iya. Di auditorium gitu. Di auditorium.
Terus makanan yang dikasih itu cuman
enam jenis. Di situ gua senang banget.
Ya ampun, akhirnya ada juga ya direksi
kita yang masuk akal gitu ya. Posisi
perusahaan lagi ekuitas minus.
Meetingnya meeting di ruang kantor gitu.
Gua betul-betul appreciate loh, Pak
Irfan. Thank you. Itu kasih pendidikan.
Iya. Dan dan baju yang kita pakai kan
suka seragam kan. Seragam baru putih itu
ada yang ee pernah putih hijau pernah
gitu kan itu ada di Ridu gitu kan. He
kenapa ya pernah jadi ee tim itu nanya
jadi Bapak-bapak Pak Ivan e untuk grup
berikutnya apa mau bikin seragam baru
alah yang 2 tahun lalu lah akan lupa
juga gitu kan.
Jadi jadi kita rindu kita rindu kita
rindu gitu kan ya. Jangan terlalu sering
gantilah. Iya iya. Lagi pula kalau udah
kayak berhenti saya kayak saya gini
berhenti gitu, batiknya saya mau pakai
entar ketahuan batik pembagian ya gitu
kan. Sementara baju yang biasa yang ada
logo Garudanya kan enggak mungkin juga
saya pakai orang supaya salah arti kan.
Tapi tetap itu sejarah kalau Pak Irfan
enggak tahu itu persejarah ya. Ada BUMN
Tbk bikin meeting di kantornya DW buat
menghemat biaya. Aduh gua senang banget
jujur. Gua really appreciate Pak. Gua
senang banget. Makasih. Makasih. Eh, gua
sebenarnya teman-teman ada mau mainin
video nih. Teman-teman suka bilang ya
orang jadi direktur, direksi lah apa
direktur di BUMN itu selalu happy, enak,
enjoy, fasilitas banyak, gaji tinggi.
Sebetulnya seperti itu, Pak. Sehappy
itukah
dari sisi apa ya? Ee enggak tahu ya.
Orang awam selalu bilang kan namanya
direct sih. Saya happy, saya enggak
ngitung gitu-gituan sih. Enggak ada
hubungannya ya. Tapi saya happy terus.
Selalu happy di manapun posisinya,
selalu happy gitu. Tapi saya enggak tahu
orang sekeliling saya happy apa enggak.
Tapi saya enggak yakin Pak Irfan ini
happy karena karena Pak Irfan terbukti
itu sudah sering mengajukan pengunduran
diri. Iya. Menjadi direktur BUMN
mengundur. Semua orang pengin jadi
direktur, Pak di BUMN. Boleh gini. Jadi
enggak bukan mengajukan pengundungan
diri apa Pak? Pengin mundur. Pengin
mundur. Ya memang saya pernah di satu
event saya ngomong 138 kali pengin
mundur gitu kan ya. Banyak orang ee
nanya tim sehat memang benar 138 enggak
sih? Jadi mungkin lebih dari itu. Tapi
sering sekali hari Jumat sama hari Senin
paling sering sampai setiap minggu gitu
kan. Hari Jumat tuh kenapa? Karena aduh
capek banget minggu ini masa minggu
depan gini lagi gitu kan. Senin kalau
lagi rapat direksi kok enggak ada solusi
gitu apa gua mundur gitu ya. Tapi ya
batal sendiri gitu kan. Kita maininkan
videonya nih pengingat nih. Katanya
Bapak itu sempat 138 kali itu mau mundur
Pak dari jabatan. Ya. Saya berapa kali
mimpin pulusan lagi masalah gitu. Tapi
ini masalahnya besar berat banget gitu
loh kan itu gitu kan dan kita manusia
biasa manusia biasa putus asa apakah
sebaiknya saya keluar jangan-jangan ada
orang yang lebih jago nangan ini kan
mesti tahu diri juga gitu kan ya itulah
muncul 138 kali gitu kan dan mayoritas
dari keinginan itu hari Jumat tapi gitu
minggu malam ah enggak terus sajalah
gitu kan kalau saya bilang 138 kali
mungkin angkanya enggak terus tapi saya
ingin mengatakan the pressure is
menakjubkan Kan Pak ini jadi direktur
BUMN itu cita-cita banyak orang loh. He.
Kenapa Pak Irfan menganggap itu nothing?
Bukan nothing ya. Bukan nothing ya. Tapi
jadi gini gini ini juga perlu
diklarifikasi dan mungkin ini kesempatan
baguslah saya karena saya selalu
ngingetin teman-teman juga gitu kan.
Direksi yang pertama ee adalah kalau
kasusnya saya di Garuda itu kan memang
masuk COVID babak belur lah. Jadi hampir
5 tahun tuh most of the time
itu pressure-nya just to saja. Kita juga
manusia biasa kan seperti saya sampaikan
itu kan kadang-kadang juga enggak tahan
juga apalagi ee keluarga suka bilang
sudahlah tinggalin aja lah. Gitu ya.
Mungkin mereka ngelihat wajah saya dan
muka saya yang ini atau dan kecipratan
stresnya juga kali. dan pasti kecepatan
stresnya. Dan lebih mengconfirm karena
kalau hari-hari sekarang ni ketemu
teman-teman yang dulu sering ketemu di
Garuda, mereka selalu bilang, "Muka lu
cerah." Ya, terapti gitu kan keluar dari
Garuda muka saya cerah gitu kan. Yang
kedua yang juga jadi masalah di direksi
BUMN apalagi di ROUT itu protokol.
Hm. Maksudnya protokol direksi BUMN itu
menakjubkan. Pergi ke mana-mana ada yang
nemenin ajudannya ajudannya lah
protokolnya. Kalau mau kawinan selalu
ambil jalur pintas langsung duluan
enggak pernah berhenti ngantri gitu kan
ya. Ee dan segala macam. Kalau naik
pesawat jalan gitu masuk ke airport
tiba-tiba body passnya sudah dapat gitu
kan terus ada yang bawain tas gitu kan.
Itu kan menakjubkan dan menakjubkan dan
banyak orang di Indonesia atau kalau
Anda di airport Anda kalau perhatikan di
airport Anda kan suka misalnya jalan
sendiri terus ada orang yang di ada
orang jalan didampingi sama orang yang
bawain koper ini kadang-kadang ini siapa
sih ya hebat sekali nih orang gitu kan
jadi banyak sekali yang pengin begitu
banyak sekali yang pengin kalau lagi
kawinan bypass orang suka fasilitas gitu
kan itu jahat sekali kenapa karena
begitu anda berhenti gon itu
semuanya gon
Nah, ada aturan di BUMN misalnya yang
mengatakan mobil masih bisa boleh
dipakai walaupun sudah bukan pejabat
walaupun sudah bukan ini. Jadi waktu
saya berhenti yang memang dadakan pada
waktu itu enggak dadakan sebenarnya
kayaknya saya sudah siapin diri kan.
Tapi sebenarnya pada waktu di Garuda itu
setiap kali grup saya selalu ngingetin
semua direksi eh bungkus-bungkus
bungkus-bungkus. Siap-siap ya mak.
Siap-siap siapsiap. Jadi supaya enggak
enggak ini ya enggak enggak syok. Yang
kedua, saya selalu mengingatkan bawa
mobil lagi satu lagi. Oh, kan karena
mobil Anda, Anda enggak boleh lagi pakai
mobil itu. Superir itu enggak boleh lagi
pakai. Langsung ganti pribadi ya. Ganti
pribadi. Kalau Anda enggak punya mobil
satu lagi, nanti tim akan ngurusin
pulang naik Silverbird. Heeh. Tapi lu
yang bayar bukan kita. He. Kayak receh
begitu saya ngurusin gitu. Saya mau
kasih pesan bahwa one day sooner or
later it will come. Dan menjubkan
kehilangan semuanya itu gitu. Apalagi
kalau sudah terbiasa ya. Apalagi kalau
terbiasa. Untung istri saya enggak punya
protokol ya. Untung istri saya enggak
punya protokol ya. Ini mau ngomong
enggak juga sih. Enggak punya mobil juga
gitu kan. Oh iya enggak punya mobil dari
perusahaan. Enggak dong. Ini unik. Ini
unik. Enggak dong. Karena yang yang
kerjakan saya bukan istri saya. Saya
setuju Pak. Makanya saya bingung kalau
ada BUMN istrinya dapat ajudan sampai
dua biji tiga biji. Saya enggak mau
ngomong itu. Tapi saya mau mengatakan
enggak ada urusan apa-apa gitu kan. Saya
juga menganjukan sama dia untuk
mengurangi kegiatan-kegiatan dalam tanda
kutip.
He ya. Kebetulan istri saya jadi dosen
jadi jarang sekali bikin acara gitu kan.
Iya. Saya sepakat Pak dulu karena itu
jadi jadi sumber gosip sumber ini,
sumber ini dan enggak penting ya. Dan
kalau istri kita membilang ini istrinya
ini oke loh bisa enggak suaminya
dinaikin pangkat? Kan pening juga kita
lama-lama kan. Udah mendingan enggak
usah kenal lah gitu kan. Jadi protokol
itu sadis kayaknya gon the day anda
berhenti gon. Nah, tapi enggak bisa juga
dikurangin, Pak, protokol itu enggak
mungkin ya dihilangin ya. Ya, sulit
budaya itu kayaknya sudah bagian dari
budaya, tapi juga bagian dari aturan. Ya
memang direksi pergi kan harus ada yang
dampingin gitu kan. Direksi nyampai ke
satu tempat sudah ada orang di sana. Iya
itu betul. Dan banyakan direksi yang
marah ketika dia mau datang kawinan
terus ngantri ngantri gitu kan. Nah,
bubar jalanlah timnya kan ya. Dan kalau
soal mobil itu segala macam supir saya
sudah tegasin bahwa memang the day saya
berhenti saya bawa mobil sendiri. Memang
kebetulan setelah itu saya ada mobil ya
saya nyetir sendiri
pulang supir saya larang untuk ikut.
Saya bilang lu bukan suir gua lagi. H lu
suir perusahaan yang lu supir di rout.
Kalau suir yang di rut yang baru enggak
mau pakai lu ya I wish you good luck
tapi lu bukan sopir gua. Kalau mau jadi
sopir saya ya keluar dari Garuda jadi
sopir pribadi saya gitu kan. Iya. Dan
mobil saya tidak pakai gitu sama sekali.
Dan benar berapa minggu, 2 minggu
kemudian saya ada undangan kawinan ya di
jalan saya ngomong sama istri saya,
"Kita ngantri ya enggak apa-apa ya." Oh,
enggak apa-apa. Kita dari dulu juga
ngantri, kenapa mesti ini gitu. Ya kita
siap-siap ngantri, eh ada yang kena
event lewat sini. Oh ya silakan gitu.
Anda akan bisa lihat itu kalau orang
yang dapat fasilitas di kawinan tuh ya
untuk motong VIP itu pada waktu dia
motong dia sama sekali enggak pemisi
sama yang
lain. Saya selalu ngasih tahu tim maupun
keluarga ini segalaang kalau kita jadi
VIP terus motong antrian orang minta
maaflah. Yang kedua kalau bisa enggak
usah foto lah. Malu lama-lama ya. Bu mod
foto itu menghabiskan sekian menit
menambah sekian antrian kan. Heeh. Yang
kedua emang foto sama kita disimpan sama
mereka. Boro-boro boro-boro memang
digedein di figura si penganten itu. Gua
pernah foto sama Pak Ivan nih gitu kan
juga lah gitu kan. Paling juga dikip
dimasuk ke file aja kan. Jadi gitulah.
Jadi ee itu yang membuat mungkin banyak
direksi pengin lama jadi direksi gitu
kan melakukan apapun untuk menjaga
posisinya. Ini satu contoh juga waktu
PKPU gitu saya kumpulin para
direksi saya bilang, "Anda punya opsi
untuk go with me dengan PKPU dan kita
akan struggling gila-gilaan. Sedemikian
rupa bisa jadi kita gagal dan perusahaan
ini tutup kalau PKPU kita kalah."
Atau atau Anda mutusin berhenti enggak
pakai stres atau Anda ngotot sama saya
untuk kita jangan PKPU. Terus gimana
tuh? Ya, negosiasi satu-satu. Oke. Saya
cuma bilang sebelum lu jawab, gua jawab
dulu ya. El jadi direksi ini bukan untuk
jaga kursi lu. Lu jadi direksi untuk
memperbaiki
perusahaan ya kan? Bukan begitu. Jadi
direksi melakukan segala macam upaya
supaya bertahan. He jaga bukan jaga
kursi gitu kan ya. Dan pilihan buat kita
saat ini adalah go PKP. Are you with me
or not? Saya cuma gitu aja ya. Semua
jawab ya. Oke kita jalan.
Karena kan untung PKPU kita selamat ya.
Coba kalau enggak selamat menurut Anda
ada enggak yang mau mempekerjakan Irfan
lagi dan direksi? Kan enggak ada. Enggak
ada ya? Enggak ada. Dan kita akan dalam
sejarah menjadi direksi yang membuat
Garuda tutup
kan gitu. Pertama kali dan terakhir
mungkin. Mungkin terakhir gitu kan. Iya.
Ya. Ya. Ya. Tapi ada sedikit pertanyaan
Pak. Kalau kita lihat sekarang ekuitas
negatif itu masih ada hubungannya juga
dengan beban anak-anaknya Garuda.
Pertanyaannya, kenapa mereka enggak ikut
PKPU kayak Cinking eh GMF misalkan. Jadi
gini ee setelah Garuda itu memang kita
pada waktu itu ada diskusi apakah anak
Pusahan sekalian di PKPU berbarsi
sekalian. Ee waktu itu kita putuskan
daripada lebih kompleks ceritanya hanya
Garuda aja yang di PKPU. Tapi setelah
itu ada cucu perusahaan kita PKPU ACS.
Iya. Iya. ACS. Dan memang untuk
perusahaan-perusahaan yang ekuitas
negatif atau hutangnya membesar ya saya
selalu sampaikan kepada mereka bisa
enggak lu lakukan
sesuatu? Alhamdulillah GMF bisa, City
Link bisa gitu kan ya. Ya sudah
dimaintain itu punya hutang kan biasa.
Hm. Yang penting adalah Anda punya
capability bayar hutang
kan ya
kan. Nah kalau Anda enggak punya
capability bayar utang, enggak mampu
bisa bayar hutang, barulah kita ke PKPU
kan.
Kan konsepnya sederhana aja, berarti
belum ada kebutuhan mendesak lah ya.
Terutama untuk perusahaan-pusahan yang
Anda sebut sepanjang di masa saya kita
tidak ada pikiran untuk mempk GMF maupun
city link karena mereka bisa negosiasi
dengan para kreditnya mereka. I see. I
see. Kalau pada waktu itu mereka tidak
bisa negosiasi sebelum PKP ada opsi
lain ya kita ganti orangnya yang bisa
negosiasi.
Ganti direksi nih maksudnya nih direksi
gitu. Saya even waktu di Garuda umur 656
waktu jadi di Rut Garuda hampir waktu
saya bertanya saya habiskan waktu tanya
sama siapa? Siapa aja yang bisa saya
tanya? Para pendahulu saya baik itu Pak
Emir Satar, Pak Arif, Pak Pahala, maupun
Pak Ari Askara mereka semua bersahabat
sama saya termasuk sama tim. Heeh.
Termasuk sama para penumpang gitu kan
ya. Karena dari masukan-masukan, dari
belajar itulah kita kemudian bisa tahu,
oh ternyata ini loh, oh ternyata ini.
Oh, yang kemarin salah begini, salah
begini. Anda enggak bisa punya asumsi
sendiri kan. Anda punya asumsi dasar lu
anda apa? Your assumptions gitu kan.
Belajar dan sampai sebelum saya mundur
pun saya masih banyak belajar gitu kan.
Salah satu contoh salah satu yang kita
tangani, saya terlibat aktif nangani
bersama konsultan waktu itu adalah
mencari jawab pertanyaan. Kenapa sih
bagasi telat terus datangnya?
Kenapa, Pak?
Jadi beberapa hal ya. Yang pertama
mungkin dari pesawatnya sendirilah.
Pengaturan pesawat. Di Garuda juga ada
berapa kali kejadian? Mudah-mudahan hari
ini sudah enggak. Di mana ketinggalan?
Ya, kalau ketinggalan itu jarang sekali
kejadian, kecuali tag-nya hilang. Hm.
Kalau misalnya Anda dari mana ke mana,
tag-nya hilang. Dan memang beberapa
airport di dunia ini babak belur nih
nanganin transit baggage ya. Kalau
Garuda, kalau Cengkareng kan relatif
enggak banyak lah ya dibandingkan
Singapura. Tapi sebetulnya itu bukan
masalah yang di airlines sih. Kalau
setahu saya malah itu di pengelola
bandara atau di pengelola bagasi lah
bandara gitu. Ee yang pertama mungkin di
airlines-nya. Kenapa saya katakan di
airlines-nya itu adalah bagaimana menata
koper-koper. Artinya musik keluar duluan
kan koper first class sama bisnis class
kan. Iya. Atau platinum. Berarti mereka
terakhir masuk kan?
terakhir dimasukkan. He ya kan ini
kadang-kadang ada aja yang muncul di
belakangan gitu kan. Makanya banyak
penumpang bisnis kelas, kenapa gua punya
bagasi datang lebih lambat daripada
ekonomi? Buat apa gitu kan itu itu ya
salah masukin lah atau atau seperti apa
gitu kan. Yang kedua bagaimana membawa
bagasi itu masuk ke gedung he terminal
untuk diproses. Ini yang saya juga
sempat kirim surat ke pengelola bandara.
Tolong dong apennya dimulusin. Oh,
karena dadakan bisa goyang jatuh kop
jatuh. Makanya kecepatan
baga lambat gitu kan. Karena kalau dia
jadi lambat apalagi posisinya jauh kan
dia berbalik lagi sulit kan. Iya. Iya.
Kemudian BHS sistemnya kalau itu saya
enggak mau komentarnya sudah dibeli,
sudah dijalankan segala macam gitu.
Kalau yang dari luar negeri itu luar
negeri itu ada tempat kan mesti dicek
sama Be Cukai kan. Iya. itu ada yang ee
ada satu beberapa tempat entry masuk ke
sistemnya itu masuk X-ray kan Xray-nya
cuma
satu. Nah, ini terus menurus ngantri
dong ya jadinya ya enggak ngantri
desek-desekan desek-desekan ya. Terus
kemudian pengelolaan bagasinya segala
macam. Nah itu kita monitor kita monitor
kita masuk ini segala macam.
Alhamdulillah ternyata juga ada masalah
besar di Garudanya. Di mananya?
dengan dengan gapura yang kita. Jadi
setelah bolak-balik kita lakukan ini,
bolak-balik kita lakukan kok enggak
pernah bisa beres gitu. Apa saving-nya
tuh ee bervariasi maksudnya yang kok
enggak bisa diandarize ya? Enggak bisa
diandarize ada apa nih gitu. Terus saya
bilang, "Udah deh gini deh gini deh.
Saya mau tanya deh dari awal gimana sih
ceritanya nih bagaimana?" Oh pak kita
kalau malam-malam kita bilang ni besok
Garuda tebang jam jamjam sekian datang
jam jamjam sekian. kita lokate, Pak.
Orang-orangnya
malam-malam kan kenyataan di lapangan
beda. Betul. Jadi dari malam itu
sebenarnya sudah ketahuan petak besok
tuh kayak apa. Jadi kalau pesawat itu
tebang dari sini, kalau ada yang datang
masuk ke gate ini, sebenarnya semuanya
sudah rapi. Tapi begitu ada problem di
pesawat, ada menteri telat kan telat
keluar, tiba-tiba ada pesawat yang mesti
masuk situ kan enggak bisa masuk ke
situ. Pindah gate kan. He. Jadi
menggeser semuanya ya kacau balau
semuanya kan. Nah, saya bilang, "Anda
lakukan itu terus Anda lempar ke tim
terus Anda tidur." Nah, kita coba datang
pagi-pagi di situlah lihat bikin tim
habis itu lu ke sana, lu ke sana, lu ke
sana, lu ke sana, lu ke sana gitu kan.
Artinya proyektively ngelihat kondisi di
lapang 30% lebih cepat. Hm. Tapi syarnya
harus ada apel pagi ya, harus datang
pagi-pagi gitu kan ya. Ini kan harus
dilakukan oleh viak manajemen, bukan
viak manajemen bikin malam-malam terus
tidur. Betul, betul, betul. Besok I've
done my job.
Bukan salah saya. Saya kan tentunya itu
itu skema yang sudah terjadi puluhan
tahun. Hmm. Jadi tim leader-tim leader
ini ibaratnya enggak turun ke bawah lah
ya. Ini bisnis proses itu kan kalau
sudah dijalanin bertahun-tahun kan jadi
culture ya. Jadi culture gitu kan. Terus
mengharapkan sebuah hasil yang baik
lebih bagus itu kan. Bisa dapat bisa
dapat bintang lima
Skyrex karena enggak sih? Ya, saya
enggak mau ngatin. Tapi poinnya itu
adalah bahwa ya kita acak-acak, kita
lihat-lihatin deh apa yang kita bisa
perbaiki, apa yang kita bisa perbaiki,
apa yang kita perbaiki. I kan kita juga
dulu pernah ngirim yang sekali dua kali
keekpos tapi habis itu enggak keekpos
gitu. Kita kirim orang. He hanya untuk
nungguin bagasi dan naruh bantalan dan
dihitung ya berapa itu bukan bagasi yang
turun kluk keluar ke itu kita taruh
bantalan supaya karena itu kayak loncat
gitu F duak jalan dua ya kita ya kita
memang ngikutin gayanya orang Jepang
alhamdulillah sekarang kayaknya diikutin
oleh bandara yang lakukan itu ya oke
dulu ee apa apa bagasi Garuda aja yang
kita lakukan itu. Sekarang ciling
sekarang nampaknya dan citiling sekarang
dikasih bantal di kopernya bukan. Jadi
pada waktu keluar kan itu oh supaya
enggak mentok nabrak gitu kan. Nah kalau
Anda lihat perhatikan itu kan ada lubang
bagasinya keluar sebelum dia muter ya
keluar makanya di sini ada besi. Betul
betul duak gitu kan baru jalan. Nah kita
ada satu orang tugasnya naruh pegang
bantal aja gitu kan. Bantal. Heeh. He
tahan tahan supaya apa? Gempurannya
enggak terlalu keras gitu. Harusnya sih
bandara yang bikin itu ya. katanya
sekarang bandara ya saya juga enggak
tahuah apalagi kan banyak binatang
sekarang kebun binatang di situ kan
mesti bagus juga kan iya ya ya ya enggak
apa-apa ya kita ini bukan soal
siapa-siapa yang penting kan adalah kita
lakukan yang terbaik buat para customer
penumpang kita penumpangnya ya dan satu
yang saya rekam nih Pak Irfan tuh kalau
Eropa selalu bilang saya selalu surprise
ada orang yang mau invest di bisnis
penerbangan this is a single digit
margin
business e jadi bukan cuma Garud Pak kan
kalau kita lihat kayak Singapore
Airlines cowokannya gede ada Qatar punya
nya Airland Emirates. Seolah-olah
kayaknya aneh banget ya kok Garuda itu
rugi. Apalagi kemarin ada anak muda tuh
yang di Singapura bikin Indonesia
Airlines. Ada videonya enggak? Dia
bilang pernyataannya aneh sekali ada
perusahaan penerbangan yang dimiliki
oleh negara tetapi rugi. Nah, nih yuk.
Saya juga enggak tahu kenapa banyak yang
mengklaim itu bisnis airline itu susah
untungnya. Hm.
Ini saya bingung boleh dicek di semua
data, di semua airline. Tidak ada major
international airline itu yang rugi.
Enggak ada. Cuma di Indonesia aja yang
selalu teriak-teriak, maskap itu rugi,
penerbangan itu rugi, harus disubsidi
terus sama pemerintah.
Oke, kisah nyata tahun 2023 Singapore
Airlines kasih bonus karyawan itu ke
semua level 8 kali gaji. Bonus akhir
tahun 2024 kemarin ini baru dikeluarin
lagi bonusnya. Semua level karyawan
dapat bonus sama 8 kali gaji.
Pertanyaannya, apakah mungkin mereka
rugi kalau mereka bayar bonus karyawan
segede itu? Gimana, Pak Irfan? Oh, saya
nonton ini. Oh, nonton juga. Nonton
juga. Syok dong. Enggak. Kenapa? Saya
malah gembira. Kenapa? Kenapa gembira?
Bahwa ada Pak Iskandar nih ya. Iya. Ee
yang begitu yakin bahwa menjalankan
airlines di Indonesia bisa untung. Hm.
Ya, seperti saya selalu bilang ini kita
perlu mengagumi anak-anak muda yang cara
berpikirnya mungkin berbeda dan mungkin
jauh lebih cerdas dari orang seperti
saya, Tony Fernandez dan yang lainnya
gitu kan ya. Eh, silakan lah. Silakan
jalankan ee buka Airlines di Indonesia
silakan
terbangkan. Ee dan saya hari ini angkat
topi gitu kan tapi kalau nanti Anda ma
kenapa angkat topi orang belum ada hasil
ini kan semangat kita perlu hargai dong.
Semangat kita perlu hargai dong kan ke
optimisme kita perlu hargai dong kan. Ee
dan ee nanti topinya saya pasang kalau
rugi ternyata gitu kan. Tapi saya
berharap topinya saya bisa lepaskan aja
terus gitu kan. Hmm. Ya, mudah-mudahan
bisa secepatnya Indonesia berarti salut
terus.
Mudah-mudahan Indonesia bisa secepatnya
terbang. He ya kan ee di Indonesia dan
bisa terbang dan bersaing sama
teman-teman yang lain gitu dan profit
dan untung. Iya. Even even kesulitan
saya tahu sih sampai sekarang. Tapi saya
selalu penasaran, Pak. Kalau memang itu
bisnis yang sangat-sangat sulit lah dan
rugi, kenapa toko sebelah yang warna
merah itu bisa nambah terus, ekspansi
terus, bisnisnya banyak terus?
Rahasianya apa tuh, Pak? Nambah pesawat
apa ke Gunung Kawi ya? Nambah pesawat.
Nambah pesawat. Memang kalau nambah
pesawat dia untung. Saya enggak tahu
tuh. Tapi nambah pesawat terus pesawat
kan sekarang sewa semua. Bukan beli ya?
Bukan beli. Hmm. Ya, enggak tahu saya.
ee nambah rute Pak Rusdi dan teman-teman
ya. Agak susah saya berkomentar soal
untung rugi ya dari teman sebelah karena
kita enggak ada laporan keuangannya kan.
Iya karena bukan Tbk ya. Bukan Tbk gitu
kan. Kalau saya kan karena kita harus
Tbk, kita harus melaporkan jadi apa
adanya gitu kan. Jadi
ee ini pengalaman saya membandingkan
juga dengan teman-teman di luar negeri
juga kalau tadi disebutin ee Singapore
Airlines gitu segala macam. Ini ini
perlu kita jadi pembelajaran ya. Jadi
gini, kenapa airlines yang maju itu
justru hub
airlines? Jadi gini, ada dua tipe
airlines gitu. Satu nonhub, satu hub.
Hub Airlines itu kayak SQ, Qatar,
Etihad, Emirates, Turkis dan ini mau
keluar sebentar lagi Riyad gitu. Riad
KLM kan termasuk hub enggak?
KLM tanggung hub-nya sebenarnya. Kenapa?
karena dia hub-nya di Amsterdam untuk
ngelayanin orang-orang di sekelilit
Eropa gitu. Kita suka kan gini, Hub tu
kan basically antara Eropa Asia, Asia
Amerika, Eropa Amerika kan. Oh, karena
di tengah-tengah ya harusnya karena ada
posisi di tengah. Makanya dulu zaman
tahun '0-an 90-an kan airlines yang jadi
hub itu kan cuman SQ sama katai ya. Ya,
Japan Airlines coba jugal lah tapi kan
enggak pernah berhasil. Tapi kalau saya
mau mengatakan yang paling berasik kan
ee ee Katai sama Singapore Airlines gitu
kan. Tapi begitu ada Itihad, Emirates,
Turkis dan segala macam itu kan jadi
ramai sekali gitu kan. Nah, SQ misalnya
buat melayani eh Asia Tenggara,
Indonesia ini agak challenging kan kalau
mau ke Eropa misalnya kita tebang 2 jam,
habis itu 14 jam. Sementara kan
teman-teman yang di tengah Middle East
ini kan 68 86 gitu kan. pas ya, paslah
buat mereka yang senang berhenti. He.
Nah, K Airlines itu umumnya di-support
full oleh
pemerintah. Kenapa? Karena pemerintah
negara yang punya airlines itu
mengharapkan orang berhenti dan keluar
dan melakukan spending belanja. Belanja,
devisa ya, devisa. Jadi, ada cerita yang
cukup menarik. orang Amerika, orang
Eropa tuh enggak tahu bahwa ada negara
Qatar, tapi dia tahu ada Qatar Airlines.
Oh, ada negara ya gitu kan. Betul,
betul, betul ya kan. Jadi ee kalau Anda
naik dulu saya enggak tahu sekarang ya
dulu tuh saya pernah naik Emirates belum
masuk Garuda ya. Naik Emirates. Kalau
kita naik Emirates kita bisa dapat
penginapan gratis 1 hari. He. Kalau
bisnis kas 2 hari gitu loh di hotel yang
sudah diidentify sama mereka gitu kan.
Terus naik itihad kalau mau ke Amerika
itu bisa checking imigrasi Amerika di
Abu Dhabi gitu kan. Jadi mereka punya
banyak sekali kemudahan-kemudahan. Nah,
negara tersebut percaya sekali
bahwa kedatangan orang ke negaranya itu
penting sehingga perlu dibantu
fasilitasilah dibantuah. subsidi malah
saya enggak ngatakan subsidi, tapi
airlines, airport, dan the country itu
kerja sama, duduk sama-sama. Dan kalau
menangani negara seperti kayak QTER
seperti korporasi, korporasi kan belum
tentu airlines-nya untung, belum tentu
airport-nya untung, tapi negara yang
penting untung in total kan. Oh, paham
paham. Jadi kalau dalam konteks
Indonesia itu satu harusnya dikerjain
bareng Menteri Pariwisata sampai masuk,
Menteri Perhubungan sampai masuk,
Airlines juga masuk semuanya ya semuanya
gitu kan. Contoh yang paling menarik kan
adalah misalnya kayak Singapore ngundang
Taylor Shift. H kan dia enggak boleh
enggak boleh e konser di mana-mana cuman
di Indonesia kan. He code play code play
di Jakarta sekali 10 10 malam di
Singapura. I betul ini kan pancingan
buat mereka yang enggak dapat tiket di
Jakarta akan ke Singapura kan. Betul.
Apa yang dilakuk
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:06:58 UTC
Categories
Manage