Di Balik Kursi Panas Direktur Garuda: Cerita Lengkap Irfan Setiaputra !!
N4syb-UNzAk • 2025-05-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Wah, kalau Pak Irfan tuh kerja gila hardcore sampai pagi, Bro. Masih kerja pun SMS kita harus standby gitu. Oh, ya. I tiba-tiba ada teman telepon gitu salah satu di rot BUMN. Terus dia bilang, "Fan, ini kenapa delay? Gua mesti ada di satu lokasi itu jam sekian." Oh, baik-baik saya cek gitu kan. Terus saya tanya sama direksi kebetulan kan ada yang banyak yang dari Bang dari Garuda kan. Saya tanya, "Delay itu gimana sih ya cara nanganin dan kenapa penyebabnya gitu kan. Bayangin Anda di Rot Airlines sudah jalan berapa minggu enggak tahu delay gini segala. Tapi saya orangnya enggak terlalu malu gitu nanya-nanya satu jawab satu jawab satu. Begitu orang yang keempat jawab saya gebrak meja. Saya bilang lu gila lu ya pada-bada ya. He kenapa? Tiba-tiba staf saya salah satu miskin. Pak jangan lewat sini Pak. Kenapa ini dikate ini ada penerbangan ke Kendari? Terus delay, Pak. Terus itu ada sekeluarga marah-marah. H delay kenapa Kendari hujan deras, Pak? He. Jadi enggak mungkin kita mendarat, "Oke, oke, Pak." Oke. Apa? Oke. Kita datangin keluarga itu, Pak. Yang yang benar, Pak. Kalau Pak Irfan sejujurnya H mau enggak invest di penerbangan dalam kondisi hari ini? Efisiensi anggaran, invest apa? Ee saham. Jadi, saat itu pun posisi ekuitas sudah negatif. Alham sudah negatif. sampai sekarang kalau enggak salah masih negatif sampai masih negatif tapi jauh jauh berkurang ya jauh mendingan jauh lebih mending jauh mendingan gitu kan tapi kita kan berharap bisa jadi positif ya tadinya berharap dari organic growth tapi kayaknya enggak mungkin ya dari organic growth dan Anda hari Minggu sore Minggu malam tuh semangat apa deg-degan enggak n besok Senin besok ini mau kejak nih asik nih asik nih I kan adah syik main Senin halo teman Selamat pagi, Guys. Balik lagi bersama Benix. Kita sekarang kedatangan tamu yang spektakuler. Tentu teman-teman sudah tahu dong siapa. Tidak lain dan tidak bukan Pak Irfan Setyaputra mantan CEO Garuda Indonesia. Maskapai kebanggaan kita semua. Thank you nih Pak Irfan sudah mau datang. Sama-sama. Sama-sama. Kita sudah berkali-kali nih ketemu Pak Irfan pas RUPS. Akhirnya dapat juga susah banget loh nyari jadwal beliau. Sebenarnya enggak juga susah, Pak. 2 tahun kita kejar-kejar. Memang pada waktu masih di Garuda agak mesti hati-hatilah. Harus hati-hati. Sepakat. E kalau udah di luar bebas kok. Udah freedom nih sekarang nih. Udah free. So ee Pak Irfan nih kita kan banyak investor kita memang mayoritas investor ya. Tapi ada juga memang yang bukan investor dan mereka belum tahu Pak Irfan itu siapa. Oke. So kita sedikit perkenalan buat teman-teman yang belum tahu Pak Irfan ini beliau adalah dulu ee CEO-nya Garuda Indonesia dan termasuk yang paling hebat menurut saya pribadi ya karena perubahannya sangat-sangat drastis di eranya Pak Irfan. Ini bukan muji-muji karena ada orang ini, tapi gua kan orang pariwisata, kita dulu kelola hotel 4.000 lebih, Pak, seluruh Indonesia. Dan sering juga naik Garuda Indonesia itu kita lihat memang perubahannya drastis. Apalagi Pak Irfan ini melewati banyak badai ya. Covid ya di era Pak Irfan toh. Covid i Covid. Terus PKPU yang pil itu mau bangkrut itu era Pak Irfan juga. Wah, ini kayaknya badai yang paling ekstrem deh kayaknya. Iya. Jadi, PKPU itu by definisi itu adalah restrukturisasi terbesar dalam sejarah korporasi di Indonesia. Not only Garuda, not only airlines ya, tapi di Indonesia. Di Indonesia karena nilai dari hutangnya menakjubkan gitu. Berapa triliun, Pak, waktu itu angkanya berubah? Tapi saya selalu pakai R0 triliun lah. Jadi, STEX enggak ada apa-apanya lah. Steex enggak ada apa-apanya. 100 kalau dari sisi nilai utang ya. Gila. Iya. Gila ini gua sih yakin prosesnya gua rasa enggak mudah tuh. Pasti pasti pusing ya. Apalagi ada politisnya kali. Mungkin banyak kepentingan kali. Oh ya macam-macam. Tapi ee saya kalau disuruh cerita si sekarang gembira gitu tapi disuruh ngulang enggak mau lagi. Engak mau lagi. Tapi ilmunya banyak tuh Pak. Oh banyak banyak banyak stresnya apa happy-nya Pak? Ee saya orang yang ee apa aja saya bikin happy gitu kan ya. Jadi kalau stres sendirian aja. Stres sendiri kita nanganin itu hampir 2 tahun lebih gitu kan. Buset, PKPU sendiri 6 bulan negosiasi sama para kreditur yang kita potong 80% itu kan pasti enggak gampang. Enggak ada yang sakit hati kreditornya, Pak? Ee enggak tahu ya. Pastinya sih banyak yang sakit hati, tapi ya kita coba ajak bertemanlah dan kita ajak melihat bahwa ee Anda mending dapat 20% daripada enggak dapat apa-apa. Semalam better than nothing. I contohnya kayak yang seritex itu contoh nothing-nya tuh. Iya. diskonnya kemarin itu 98% tuh, Pak. Oke. Ngeri ya. Jadi cuma dapat 2% balik. Ee itu pun masih banyak yang enggak mau akibatnya bisa jadi 0% per hari ini. Better 2% enggak, Pak, dibanding 0%? Ya, jadi waktu itu kita sebenarnya dari awal tuh pada waktu PKPU kita kan proposal kita itu ee haircut 80% tapi untuk BUMN dan bank kan enggak bisa dipotong hutangnya karena itu akan menciptakan kerugian. He. Jadi yang kita lakukan kita perpanjang hutangnya menjadi 22 tahun, bunganya 0,1% setahun gitu kan ya. Basically kalau dihitung-hitung sama aja lah. Sebenarnya masuk kantong kiri, keluar kantong kanan juga 80% juga gitu kan ya. Ee memang pada waktu itu kita menghire salah satu konsultan untuk melakukan penilaian liquidation value ya. Ee jadi begitu sudah di ujung beberapa yang ngotot ya kita sampaikan ini loh liquidation value. Kalau Anda enggak setuju, Anda hanya akan dapat 3%. itu pun klasifikasinya insyaallah. Oh, iya kan? Karena yang pertama mesti kalau aset-aset dijual kan pajak mesti dibayar, pegawai dan mungkin ini tahunan karena aset kita kan enggak banyak juga dan bentuknya bangunan segala macam kan kalau mau dijual segala macam kan butuh waktu. Jadi saat itu pun posisi ekuitas sudah negatif. Sudah negatif sampai sekarang kalau enggak salah masih negatif sampai sekatif tapi jauh jauh berkurang ya. Jauh mendingan jauh lebih mending jauh mendingan gitu kan. Tapi kita kan berharap bisa jadi positif ya. Tadinya berharap dari organic growth, tapi kayaknya enggak mungkin ya dari organic growth. Ee dulu pada waktu proposal pertama yang kita sampaikan tuh sebenarnya adalah ada dua. Jadi ee penyertaan modal yang 7,5T kan sudah masuk angka yang kita minta awalnya sebenarnya enggak segitu lebih tinggi gitu kan. Cuman waktu itu ada kesepakatan ya nanti penertaan modal kedua lah cuman enggak kejadian. Dan kita terakhir itu ada solusi ijarah pelakuan akuntansi ya. Tapi nampaknya juga ee tidak berhasil. Nah, enggak tahu nih solusi kepimpinan yang sekarang seperti apa gitu. Kalau memang pemegang saya masukkan dana lagi sih otomatis bisa positif. Oh, iya pasti. Tapi semuanya langsung terdilusi massal ya. Ya, itu konsekuensinya. Kan ada salah satu di dalam yang dapat posisi komisaris ya toh. Kemarin kan sudah terdilusi ya. Kalau nanti right ISO lagi terdil itu enggak ada komplain sama sekali. Oh pasti pasti waktu itu sih cukup ketatlah kita diskusi. Tapi kan pilihan enggak ada enggak banyak ya. Dan sebenarnya kita enggak menyampaikan pada waktu itu di awal bahwa ee Bapak akan terdilusi. Kita cuma menyampaikan pemerintah akan inject 7,5T proportionally Bapak mau inject juga enggak gitu kan. Intinya lu sudah tahulah lu bakal tulu sih kalau enggak injek. Ya, tapi kan itu konsekuensi logis di semua perusahaan yang ee pemegang sahamnya banyak ya. He. Artinya kalau salah satu memasukkan dana yang lainnya kalau enggak bisa masukin ya terdilusi kan. Itu si teori simpel aja gitu kan. Siap. Siap Pak. Ini kita mau sedikit gali ke belakang nih. Oke. Boleh. Semua orang yang pernah bekerja sama zaman saya tahu persis how passionate saya kalau ngerjain sesuatu gitu kan. Saya enggak mungkin bisa pulang jam 5. gitu. Enggak mungkin. Masih banyak yang kep pending gituah segala. Enggak mungkin saya enggak terima komplain orang hari Sabtu Minggu gitu kan. Terus enggak mungkin juga saya matiin handphone tengah malam. He kita punya banyak teman kok dari eranya waktu itu dia suka kerja masih di deloit orang-orang PWC. Wah kalau Pak Irfan tuh kerja gila hardcore bisa sampai pagi bro masih kerja pun SMS kita harus standby gitu. Oh ya ya iya iya memang bukan apa Pak Kena kalau enggak direspon ini segala macam kan ada delay dalam pengambilan keputusan ada impactnya akan ke mana-mana gitu. Jadi cukup lelah saya saya menyatakan sama keluarga enough is enough. Terus saya pensiun, pensiun, pensiun terus jadi advisor. Ternyata itu masa-masa paling enak. Saya jadi advisor empat perusahaan gitu. Tugas saya menasihati tanpa perlu jadi komisaris. Enggak perlu jadi. Tugas saya hanya menasihati dan dibayar kontan gitu kan. Oke. Oke. I kan empat perusahaan loh kan gitu kan. Kadang-kadang saya lupa yang nasihat saya yang kemarin apa ya gitu kan gitu kan. Nah, tiba terus kemudian ada beberapa teman-teman kita bikin startup yang namanya Sifox itu. Oh, menarik juga nih IoT gitu. Coba coba coba aknya kita bikinlah. Jadi itu start up company lah sebenarnya untuk IoT eh kerja sama dengan Prancis ya, teknologi dari Prancis dan beberapa orang saja yang bekerja di sana. Jadi kita punya perusahaan tuh di atas Kov kafe di daerah Kebayoran gitu kan. Oh. Iya kan? Dari sana barulah tiba-tiba ada permintaan ke Garuda. Garuda gitu. Gimana tuh ceritanya tuh, Pak? Gimana ceritanya itu? Apakah Bapak yang minta, apakah diminta? Saya kan pernah di inti dulu karena perah inti. Inti itu BUMN by the way. Tapi kecil jadi Bandung lah gitu kan. Dan pengalaman saya di inti saya bilang, "Aduh, udah deh capek juga di BUMN gitu karena bosnya banyak banget gitu kan." Iya. Iya. Terus apapun yang kita lakukan itu kan bisa dipidanakan. Heeh. Sementara kan saya ini bukan orang yang tipikal eh berhati-hati. Saya bilang saya ini orang yang sangat cepat ngambil keputusan dan kalau keputusan itu salah saya perbaiki aja gitu kan sambil jalan sambil jalan gitu kan. Sementara kalau di BUMN kan enggak bisa begitu keputusan menimbulkan kerugian ya Anda siap-siap kan BPK, KPK jaksa macamlah gitu. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Padahal kepentingannya saya cuman dalam sisi pengambilan keputusan karena saya ee bisnis kan harus cepat. bisnis aku cepat dan saya ini penganut pahamnya Pak Robi Johan. Pak Robi Johan saya tempat saya pertama kali kerja itu Biaga waktu kita ee manajemen train waktu lulus yang wisuda beliau dan beliau cuma kasih kalimat sebentar aja saya cuman dia cuma bilang bahwa saya hanya minta Anda setelah lulus ini memutuskan i kan memutuskan untuk memutuskan apapun dan jangan pernah jangan pernah ragu karena keputusan Anda salah atau benar itu waktu yang membuktikan. Saya enggak mau lihat Anda yang lulus ini dalam situ buat situasi nanti di depan di Bank Niaga, Anda enggak bisa mutusin dan enggak mau mutusin tidak mengambil keputusan itu bukan keputusan. Dia bilang gitu kan. Dan kebetulan memang pada waktu di Bank Niaga di-endorse orang untuk mengambil keputusan dan berbuat salah dari keputusan. Dikasih keleluasaan juga ya. Iya. Dikasih keluasan dikasih kewenangan gitu. Kita waktu sudah belum? Belum. Masih bank niaga. Masih bank niaga. Dulu ee saya masih ingat salah satu yang membuat saya ee agak terkejut-kejut sampai sekarang pun gitu. Dulu ada polisi di Bank Niaga. Kalau ada situasi tertentu dalam di bank tersebut, karena saya kebetulan di IT, di lingkungan situ yang ambil alih dan bertanggung jawab untuk memutuskan itu yang pangkatnya paling tinggi. Kan kita di bank ada kepangkatan, sistem kepangkatan bukan jabatan aja tapi ada sistem yang pangkatnya paling tinggi dialah yang harus tanggung jawab. Jadi ada situasi misalnya komputer mati gitu semua orang lihat Irfan paling tinggi lu mutusin saya bilang gua enggak ngerti masalah apa mesti mutusin tapi itu bagian dari itu. Jadi, balik lagi ke pertanyaannya saya enggak. Tapi beberapa teman-teman bujuk-bujuk saya untuk balik lagi ke BUMN butuh ya jualannya kita butuh orang kayak lu van gini gini lu kan gini lu kan gini kan. Saya masih coba-coba nolak gitu kan. Ditawarkanlah satu BMN yang lain sebenarnya bukan Garuda yang ditawarin. Kalau Garuda hari itu langsung saya putusin enggak? Kalau tahu ya kalau tahu Garuda gitu kan kayak semua orang tahulah semua kita profesional itu tahu persislah running and itu berat ribet berat detail minta ampun belum kan ada banyak sekali yang lucu-luculah waktu itu di Garud sampingannya lah pusingnya tuh pusingnya dan cerita di Garuda kan lucu-lucunya banyaklah waktu itu. Pusinglah gitu kan. E ditawarin sesuatu yang lain setelah pikir-pikir berapa kali ya sudah saya mah eh enggak dipanggil-panggil sama ee Pak Menteri waktu itu ya. Saya pikir enggak jadi. Ya sudah bagus gitu kan. Tiba-tiba satu hari dipanggil ketemulah. Ya setelah diskusi saya masih coba agak sedikit-sedikit menolak, "Pak, saya nih cuman S1 gitu. Saya ini sudah tua gitu kan waktu itu sudah 5 ITB, Guys." Iyaalah kan kalau banyak yang lainnya S2, S3 lah gitu. Saya S1 IP saya juga enggak bagus, Pak. Saya bilang gitu kan. Walaupun istri saya dan anak-anak ini tapi sayang. Nah, terus segala macamlah saya menyampaikan keburukan sayalah supaya beliau waktu itu bisa berubah pikiran gitu kan. Tapi ternyata tidak bubah pikir karena beliau sudah cek sana sini gitu kan ya. Terus saya bilang ya Pak kalau Bapak minta bantuan masa saya kan rakyat jelata Pak. Bapak menteri saya ray jelata masa saya bilang enggak gitu kan ya. Ya saya tentu saja bersedia apalagi Bapak asal tahto aja. Saya datang ke sini nih sekampung tahu semua keluarga saya tahu semua saya ini mau dipanggil menteri itu semua tahu gitu kan. Sebuah kebanggaan di keluarga saya saya bilang begitu kan. Dia bilang bercanda aja Pak Ian. Enggak benar benar benar benar gitu kan. Oh iya kalau Pak Ivan sudah bantu saya ya terima kasih. Baik, Pak. Di Garuda ya. Oh, itu baru keluar ya. Saya dapat gosip-gosip sebelumnya, tapi saya teman-teman itu ngomong enggak mungkinlah. Udah kan enggak itu saya kan enggak bukan orang airlines gitu kan. Saya sampai terenganga saya bilang, "Pak, yang itu kegampangan." Aduh. Dan saya langsung ingat ee ayah saya yang yang apa ya? Yang selalu ngajarin integrity ya. Kalau sudah bilang aa ya kan saya sudah bilang mau bantuin ya. Salah saya enggak nanya bantuin di mana gitu kan. Saya pikir kan yang keitu gitu kan ternyata bukan. Ya udah the disaster start. Di situlah kepusingan mulai bertubuh kepusingan dan semua walaupun akhirnya belum dilantik tapi sudah mulai sudah mulai peninglah mulai baca-baca mulai deg-degan juga gitu kan dan sebagainya. Lihat ngelihat apa kondisi finansial deg-degan lagi gitu kan. Itu belum buka laporan keuangan tuh. Sudah buka tuh kok banyak merahnya gitu loh kan. Hm. He. Terus tanya sana, tanya sini kok gitu ya, gitu dan segala macam segala macam. Wah, saya cuma bilang, "Wah, tugasnya berat banget nih kan." Jadi begitu masuk ya sudah habis itu untungnya COVID ya. Iya. Iya. Untungnya COVID itu blessing tapi juga problem ya. Ya kan? Jadi ee di situlah akhirnya sambil jalan ya kita belajarlah. Hm. Dan banyak bertanya memang apa Pak ya? Banyak aja bertanya ini kenapa, ini kenapa, ini kenapa gitu kan. Salah satu pertanyaan saya itu adalah pada waktu kita lagi rapat direksi. He lagi rapat direksi tiba-tiba ada teman telepon gitu salah satu di rut BUMN. Terus dia bilang, "Fan nih kenapa delay? Gua mesti ada di satu lokasi itu jam sekian." Oh, baik-baik saya cek gitu kan. Terus saya tanya sama direksi kebetulan kan ada yang banyak yang dari Bang dari Garuda kan. Saya tanya delay itu gimana sih ya cara nanganin dan kenapa penyebabnya gitu kan. Bayangin Anda di Rot Airlines sudah jalan berapa minggu enggak tahu delay gini segala. Tapi saya orangnya enggak terlalu malu gitu nanya-nanya satu jawab satu jawab satu. Begitu orang yang keempat jawab saya gebrak meja. Saya bilang lu gila lu ya pada-bada ya. He. Kenapa? Karena enggak ada satu pun dari Anda yang ngomongin penumpang. Emang jawaban mereka apa? Ya teknislah Pak. Ini delay karena ini ini kalau ada delay ini begini begini begini. Even di dalam pembicaraan itu enggak ada satu statement ya, Pak. Kalau ada delay SOP kita yang pertama adalah memberitahu para penumpang penyebab delay. Bagaimana enggak ada yang ngomong lu gila lu ya. Ini bukan ngomongin nasi kotak bahkan belum sampai situ ya ngasih nasi kotak ke ya walaupun dari salah satu DMK Pak kita kan SOP-nya begitu. Saya bilang, "Waduh." Dan benar premis saya awal-awal pada waktu masuk Garuda di town hall meeting pertama, saya bilang, "Saya ini enggak ngerti airlines. Tapi saya sebelum masuk Garuda sudah 56 tahun terbang punya pengalaman sebagai penumpang." Dan saya bilang, "Pada dasarnya orang maskap enggak peduli kok sama penumpang." Maksudnya 56 tahun terbang dari umur 3 tahun. 3 bulan eh 3 bulan ya. 3 bulan Pak Irvan itu sudah terbang. Sudah terbang. sudah jadi klien. Kebetulan Bapak saya kerja di Deplu lah karena di Kemenlu. Kemenlu jadi ee penugasan pertamanya waktu saya masih bayi tahun '65 ' 65 pas G30 SP sebelum G30 SPKI gitu kan. Jadi itu pertama kalinya saya jadi saya boleh declare 56 tahun saya dan di situ memang premis saya mengatakan Airlines itu sebenarnya enggak peduli. H ya Anda kalau delay gitu kan Anda yang mesti nanya kenapa nih delay? Kapan selesainya? Kan orang Airlines biasanya ya sibuk aja ngurusin delay-nya itu segala macam tanpa menginformasikan kepada para penumpang. Betul. Kita blank selalu sering blank ya. Sering blank. Padahal saya katakan sama teman-teman, begitu Anda jual penerbangan rute jam tertentu misalnya Jakarta Bali jam .00 siang itu pada dasar kita berjanji sama mereka yang beli tiket bahwa kita akan terbangkan Anda jam .00 siang. H artinya it's our obligation to make sure jam .00 siang terbang. Kalau enggak bisa kasih tahu, kasih tahu lebih awal biar kita enggak check out, kasih option. Iya. Kita bisa ke mana dulu? Ngopi dulu kek, ngetik dulu kek. Enggak usah bangun subuh-subuh ngejar pesawat. Ternyata delay. Jadi saya pernah kejadian pernah ke terminal 3 tiba-tiba staf saya salah satu miskin, "Pak, jangan lewat sini Pak. Kenapa ini dikate ini ada penerbangan ke Kendari?" Terus delay, Pak. Terus itu ada sekeluarga marah-marah. H so delay. Kenapa? H Kendari hujan deras, Pak. He. Jadi enggak mungkin kita mendarat, "Oke. Oke, Pak." Oke. Apa, Pak? Oke. Kita datangin keluarga itu, Pak. Yang yang benar, Pak. Ya, kita datangin. Saya datang, saya mereka lagi pokoknya lagi maki-makiah-Tak lah. Ah, pastilah. Ya, setelah terak-terak terus ngomong-ngomong pokoknya udah ya biasa kan sama seperti kayak orang lagi ngumpul setelah pertandingan bola gitu kan. Semua dianalisa gitu kan. Ter saya ter saya perkenalkan Pak Bapak Ibu mohon maaf saya Irfan Direktur Utama Garuda langsung ya pertama mungkin dia bilang ini udah gila di rutnya datang gitu kan kebetulan lagi ada di situ ya saya sampaikan Pak saya mohon Pak Bu mohon maaf kita memang belum bisa menebangkan enggak ada masalah dengan pesawat tapi kalau Bapak mungkin bisa dapat cek informasinya juga di Kendari lagi hujan deras h kita enggak mungkin mendarat dan dipikir Kira kan masih cukup lama. Jadi mohon kesabarannya Pak untuk bisa menunggu karena keselamatan buat kita nomor satu gitu. Kes enggak apa-apa, Pak. Take your time. Take your time. Kita enggak ada masalah kok. Yang teman saya yang dampingin itu, staf saya yang dampingin tadi maki-maki sekarang. Take your time. Take your time. Ya udah. Terus terus kasih kartu nama, sharing nomor telepon, nomor WhatsApp. Ya, sampai sekarang masih kadang-kadang suka WhatsApp kalau lagi lebaran dan segala macam ya. Tapi yang penting memang menginformasikan sih, Pak. Kalau kita saya kebetulan memang sekali dua kali sering sekali dua kali pertama-tama gugup juga. Tapi lama senang aja saya gitu karena ujungnya dari situ saya punya banyak teman. Betul. Betul. I kan walaupun teman-teman itu juga suka WhatsApp saya, "Pak, nih kok belum berangkat-berangkat?" Seru banget. Seru banget. Atau Pak nih kita sekolah sudah dapat seat tinggal anak saya satu belum. Bisa minta tolong enggak? Okelah kita tolong kita cariin. Siap. Siap. Siap. Dan akhirnya dari situ pengalaman saya, saya sebarin nomor handphone saya, saya sebarin Instagram saya. Ee dengan maksud apa? Supaya makin banyak penumpang tuh merasa pegang sesuatulah. Kan gini, kalau Anda terbang mungkin Anda terbang ini kan yang selalu jadi masalah. Apalagi penerbangan jauh. Kalau ada apa-apa siapa yang saya mesti kejar? Ya iya. I dan standar operating prosedur semua penerbangan kan hubungi customer service. Betul. Yang belum tentu bisa diangkat. yang belum tentu diangkat. Kalau ada di kalau ada di apa airport baik Pak gitu. Kita sudah marah dia dengan tenangan. Baik, Pak. Ya memang mereka diajarin untuk cool kan. Iya. Tapi kalau Anda pegang nomor telepon saya terbang sama Garuda, kalau ada apa-apa saya telepon Pak Irfan lah gitu kan. Iya. Iya. Iya kan? Dan saya pengalaman saya atau ya pengalaman saya ternyata enggak banyak kok yang kontak saya. Mungkin pada waktu mengalami delay atau mengalami masalah mau nelepon saya. Ah enggak enak ah gitu kan. Mungkin beliau sibuk segala macam gitu ya. Yang jadi masalah sampai hari ini aja saya masih terima tuh komplain dan ini sekali padahal enggak dia. Enggak di Garuda gitu. Tapi masih fire fighting nih namanya nih. Ya bukan apa-ap lah ya. Itu kan saya 4 hampir 5 tahun di situ ya. Kalau orang komplain ya pasti saya forward ke teman-temannya ada komplain gitu. Kalau ada orang minta bantuan kemarin ada yang bagasinya hilang gitu kan. Baik saya kontak. Saya cuma bilang sama teman-teman yang kontak itu, "Saya sudah enggak punya anak buah lagi di Garuda, tapi kayaknya masih banyak teman deh." Jadi saya minta tolong, "Bro, ini ada orang WhatsApp gua, bisa ditolong enggak?" gitu kan. Ya, mayoritas jawab, "Baik, Pak, kita cariin gitu loh." Hm. Seru nih. Seru nih. Seru nih. Jadi, Pak Irfan ini salah satu yang gimana ya, direktur BUMN yang cukup unik lah, nyentrik lah. He. Kita lihat dari zamannya ya, orang-orang di BUMN kita sudah ketemu banyak, Pak. orang direktur BWN banyak banget. He. Ya, salah satu yang nyrik ini Pak Irfan lah. Kalau ny trik gimana? Nyent triklah. Kalau RUPs orang nanya apa dia jawab apa gitu. Terus bubar RUPS. Hm. Ee kita selalu ngobrol di depan pintu. Kalau orang lain langsung sembunyi tuh lewat pintu belakang. RDP juga gitu. Oh gitu ya. Kalau RDP misalnya atau RDP itu banyak teman-teman tim communication saya kami itu bilang, "Pak, Pak, Pak itu banyak kataan J lewat sini." Saya bilang, "Guys, enggak begitu. H ya kan ini wartawan yang ngikutin RDP itu misalnya RDP jam .00 siang kan M sudah jam 11.00 ada situ kan RDP itu kan bisa berjam-jam kan. Iya betul. Dan mereka yang hadir di RDP itu kan punya kewajiban melaporkan ke kantor redaksi kan hasilnya ini ya. Saya cari makan jadi dirut. Mereka cari makan memberikan laporan ya kita temenin aja. Jadi saya selalu habis RDP gagak bekas ngadapin bataan ada pertanyaan apa saya bilang gitu kan. Iya itu gua saksinya gua lihat memang walaupun saya enggak janji jawab kan enggak enggak wajib juga enggak wajib juga jawab tapi ya ee penting buat saya untuk kemudian menghargai profesi orang lain gitu. Itu itu bentuk ini dan alhamdulillah akhirnya cumanya banyak teman wartawan kan. Iya. Ya kan? Jadi ya saya berapa kali marah sama beberapa wartawan kan gua enggak pernah nutupin apapun. Kok Anda menyampaikan sebuah berita enggak klarifikasi sama saya. Ada waktu itu ada berita agak negatif gitu kan ya. Mereka minta maaf dan habis itu enggak ada masalah. Tapi tetap aja enggak semua direksi mau doorstop orang bilangnya. Tapi kan kalau orang kan bawa wartawan ya biasanya kalau ini investor yang nanya langsung sama direktur utama Garuda bisa di depan situ di RUPS ya apalagi invest mungkin Pak sudah lupa kali enggak apa tapi sering ketemu kan di pintu-pintu orang ngobrol iya apalagi investor kan dia tahu duit itu kan saya enggak tahu duitnya halal apa enggak tapi saya asumsi halal aja kan ya saya saya asumsi udah udah dia taruh duit mungkin waktu dulu beli dia agak berapa 600 gitu kan jauh-jauh datang Jadi, jadi tinggal 100 jadi gocap jauh-jauh datang ke Cengkar ngikutin kan. Masa kita cuekin kan enggak mungkin kan. Kita ada dulu ya Dam ya ketemu di Eropes ada orang beli Garuda udah berapa tahun dam 20 tahun pegang saham Garuda. Gila ini orang gila udah sampai tadinya belum punya anak sekarang punya cucu masih pegang saham Garut dan enggak ada tanda-tanda balik ya. Enggak ada tanda-tanda balik tapi kata-katanya selalu bilang, "Itulah, Dek, namanya jadi investor harus sabar gitu. Hebat memang investor tuh selalu tahan banting, Pak Irfan. Selalu tahun banting. Tapi gua respect karena di barulah di RUPS Garuda ya. He. Kita ketemu ada perusahaan BUMN yang punya duit triliunan bikin RUPS itu di ruangan meeting di bandara. Lu bayangin orang lain mah bikin di bintang lima biasanya kan bintang lima lah, bintang empat di hotel-hotel mewah. Enggak. Jadi ketika Pak Irfan ini gua senang banget gua tuh udah jangan sampai ya nih bikin RUPS gaya-gayaan kayak B tapi sekali kita pernah bikin kok tahun berapa setelah PKPU lah kalau setelah PKPU jor-joran ya enggak juga jorjo kita pakai apa yang di PP tuh hotel e Rich Cton Rich Cton tapi cuman ruangan dua keuangan tiga keuangan lah gitu kan siang sekali-sekalilah di hotel lah gitu kan iya kan tapi gua tetap amaz jadi jujur ya gua tuh kalau datang rupaya selalu ngitungin Pak ini budgetnya berapa ya kira-kira bagian meeting Oh, ada makan berapa packs ya? Oh, 200 packs. Ee saya lupa ya 2022 kalau enggak salah deh. Itu gua ngitungin kita meeting di ruangannya Garuda Indonesia yang lantai 1 itu, Pak. Iya. Di auditorium gitu. Di auditorium. Terus makanan yang dikasih itu cuman enam jenis. Di situ gua senang banget. Ya ampun, akhirnya ada juga ya direksi kita yang masuk akal gitu ya. Posisi perusahaan lagi ekuitas minus. Meetingnya meeting di ruang kantor gitu. Gua betul-betul appreciate loh, Pak Irfan. Thank you. Itu kasih pendidikan. Iya. Dan dan baju yang kita pakai kan suka seragam kan. Seragam baru putih itu ada yang ee pernah putih hijau pernah gitu kan itu ada di Ridu gitu kan. He kenapa ya pernah jadi ee tim itu nanya jadi Bapak-bapak Pak Ivan e untuk grup berikutnya apa mau bikin seragam baru alah yang 2 tahun lalu lah akan lupa juga gitu kan. Jadi jadi kita rindu kita rindu kita rindu gitu kan ya. Jangan terlalu sering gantilah. Iya iya. Lagi pula kalau udah kayak berhenti saya kayak saya gini berhenti gitu, batiknya saya mau pakai entar ketahuan batik pembagian ya gitu kan. Sementara baju yang biasa yang ada logo Garudanya kan enggak mungkin juga saya pakai orang supaya salah arti kan. Tapi tetap itu sejarah kalau Pak Irfan enggak tahu itu persejarah ya. Ada BUMN Tbk bikin meeting di kantornya DW buat menghemat biaya. Aduh gua senang banget jujur. Gua really appreciate Pak. Gua senang banget. Makasih. Makasih. Eh, gua sebenarnya teman-teman ada mau mainin video nih. Teman-teman suka bilang ya orang jadi direktur, direksi lah apa direktur di BUMN itu selalu happy, enak, enjoy, fasilitas banyak, gaji tinggi. Sebetulnya seperti itu, Pak. Sehappy itukah dari sisi apa ya? Ee enggak tahu ya. Orang awam selalu bilang kan namanya direct sih. Saya happy, saya enggak ngitung gitu-gituan sih. Enggak ada hubungannya ya. Tapi saya happy terus. Selalu happy di manapun posisinya, selalu happy gitu. Tapi saya enggak tahu orang sekeliling saya happy apa enggak. Tapi saya enggak yakin Pak Irfan ini happy karena karena Pak Irfan terbukti itu sudah sering mengajukan pengunduran diri. Iya. Menjadi direktur BUMN mengundur. Semua orang pengin jadi direktur, Pak di BUMN. Boleh gini. Jadi enggak bukan mengajukan pengundungan diri apa Pak? Pengin mundur. Pengin mundur. Ya memang saya pernah di satu event saya ngomong 138 kali pengin mundur gitu kan ya. Banyak orang ee nanya tim sehat memang benar 138 enggak sih? Jadi mungkin lebih dari itu. Tapi sering sekali hari Jumat sama hari Senin paling sering sampai setiap minggu gitu kan. Hari Jumat tuh kenapa? Karena aduh capek banget minggu ini masa minggu depan gini lagi gitu kan. Senin kalau lagi rapat direksi kok enggak ada solusi gitu apa gua mundur gitu ya. Tapi ya batal sendiri gitu kan. Kita maininkan videonya nih pengingat nih. Katanya Bapak itu sempat 138 kali itu mau mundur Pak dari jabatan. Ya. Saya berapa kali mimpin pulusan lagi masalah gitu. Tapi ini masalahnya besar berat banget gitu loh kan itu gitu kan dan kita manusia biasa manusia biasa putus asa apakah sebaiknya saya keluar jangan-jangan ada orang yang lebih jago nangan ini kan mesti tahu diri juga gitu kan ya itulah muncul 138 kali gitu kan dan mayoritas dari keinginan itu hari Jumat tapi gitu minggu malam ah enggak terus sajalah gitu kan kalau saya bilang 138 kali mungkin angkanya enggak terus tapi saya ingin mengatakan the pressure is menakjubkan Kan Pak ini jadi direktur BUMN itu cita-cita banyak orang loh. He. Kenapa Pak Irfan menganggap itu nothing? Bukan nothing ya. Bukan nothing ya. Tapi jadi gini gini ini juga perlu diklarifikasi dan mungkin ini kesempatan baguslah saya karena saya selalu ngingetin teman-teman juga gitu kan. Direksi yang pertama ee adalah kalau kasusnya saya di Garuda itu kan memang masuk COVID babak belur lah. Jadi hampir 5 tahun tuh most of the time itu pressure-nya just to saja. Kita juga manusia biasa kan seperti saya sampaikan itu kan kadang-kadang juga enggak tahan juga apalagi ee keluarga suka bilang sudahlah tinggalin aja lah. Gitu ya. Mungkin mereka ngelihat wajah saya dan muka saya yang ini atau dan kecipratan stresnya juga kali. dan pasti kecepatan stresnya. Dan lebih mengconfirm karena kalau hari-hari sekarang ni ketemu teman-teman yang dulu sering ketemu di Garuda, mereka selalu bilang, "Muka lu cerah." Ya, terapti gitu kan keluar dari Garuda muka saya cerah gitu kan. Yang kedua yang juga jadi masalah di direksi BUMN apalagi di ROUT itu protokol. Hm. Maksudnya protokol direksi BUMN itu menakjubkan. Pergi ke mana-mana ada yang nemenin ajudannya ajudannya lah protokolnya. Kalau mau kawinan selalu ambil jalur pintas langsung duluan enggak pernah berhenti ngantri gitu kan ya. Ee dan segala macam. Kalau naik pesawat jalan gitu masuk ke airport tiba-tiba body passnya sudah dapat gitu kan terus ada yang bawain tas gitu kan. Itu kan menakjubkan dan menakjubkan dan banyak orang di Indonesia atau kalau Anda di airport Anda kalau perhatikan di airport Anda kan suka misalnya jalan sendiri terus ada orang yang di ada orang jalan didampingi sama orang yang bawain koper ini kadang-kadang ini siapa sih ya hebat sekali nih orang gitu kan jadi banyak sekali yang pengin begitu banyak sekali yang pengin kalau lagi kawinan bypass orang suka fasilitas gitu kan itu jahat sekali kenapa karena begitu anda berhenti gon itu semuanya gon Nah, ada aturan di BUMN misalnya yang mengatakan mobil masih bisa boleh dipakai walaupun sudah bukan pejabat walaupun sudah bukan ini. Jadi waktu saya berhenti yang memang dadakan pada waktu itu enggak dadakan sebenarnya kayaknya saya sudah siapin diri kan. Tapi sebenarnya pada waktu di Garuda itu setiap kali grup saya selalu ngingetin semua direksi eh bungkus-bungkus bungkus-bungkus. Siap-siap ya mak. Siap-siap siapsiap. Jadi supaya enggak enggak ini ya enggak enggak syok. Yang kedua, saya selalu mengingatkan bawa mobil lagi satu lagi. Oh, kan karena mobil Anda, Anda enggak boleh lagi pakai mobil itu. Superir itu enggak boleh lagi pakai. Langsung ganti pribadi ya. Ganti pribadi. Kalau Anda enggak punya mobil satu lagi, nanti tim akan ngurusin pulang naik Silverbird. Heeh. Tapi lu yang bayar bukan kita. He. Kayak receh begitu saya ngurusin gitu. Saya mau kasih pesan bahwa one day sooner or later it will come. Dan menjubkan kehilangan semuanya itu gitu. Apalagi kalau sudah terbiasa ya. Apalagi kalau terbiasa. Untung istri saya enggak punya protokol ya. Untung istri saya enggak punya protokol ya. Ini mau ngomong enggak juga sih. Enggak punya mobil juga gitu kan. Oh iya enggak punya mobil dari perusahaan. Enggak dong. Ini unik. Ini unik. Enggak dong. Karena yang yang kerjakan saya bukan istri saya. Saya setuju Pak. Makanya saya bingung kalau ada BUMN istrinya dapat ajudan sampai dua biji tiga biji. Saya enggak mau ngomong itu. Tapi saya mau mengatakan enggak ada urusan apa-apa gitu kan. Saya juga menganjukan sama dia untuk mengurangi kegiatan-kegiatan dalam tanda kutip. He ya. Kebetulan istri saya jadi dosen jadi jarang sekali bikin acara gitu kan. Iya. Saya sepakat Pak dulu karena itu jadi jadi sumber gosip sumber ini, sumber ini dan enggak penting ya. Dan kalau istri kita membilang ini istrinya ini oke loh bisa enggak suaminya dinaikin pangkat? Kan pening juga kita lama-lama kan. Udah mendingan enggak usah kenal lah gitu kan. Jadi protokol itu sadis kayaknya gon the day anda berhenti gon. Nah, tapi enggak bisa juga dikurangin, Pak, protokol itu enggak mungkin ya dihilangin ya. Ya, sulit budaya itu kayaknya sudah bagian dari budaya, tapi juga bagian dari aturan. Ya memang direksi pergi kan harus ada yang dampingin gitu kan. Direksi nyampai ke satu tempat sudah ada orang di sana. Iya itu betul. Dan banyakan direksi yang marah ketika dia mau datang kawinan terus ngantri ngantri gitu kan. Nah, bubar jalanlah timnya kan ya. Dan kalau soal mobil itu segala macam supir saya sudah tegasin bahwa memang the day saya berhenti saya bawa mobil sendiri. Memang kebetulan setelah itu saya ada mobil ya saya nyetir sendiri pulang supir saya larang untuk ikut. Saya bilang lu bukan suir gua lagi. H lu suir perusahaan yang lu supir di rout. Kalau suir yang di rut yang baru enggak mau pakai lu ya I wish you good luck tapi lu bukan sopir gua. Kalau mau jadi sopir saya ya keluar dari Garuda jadi sopir pribadi saya gitu kan. Iya. Dan mobil saya tidak pakai gitu sama sekali. Dan benar berapa minggu, 2 minggu kemudian saya ada undangan kawinan ya di jalan saya ngomong sama istri saya, "Kita ngantri ya enggak apa-apa ya." Oh, enggak apa-apa. Kita dari dulu juga ngantri, kenapa mesti ini gitu. Ya kita siap-siap ngantri, eh ada yang kena event lewat sini. Oh ya silakan gitu. Anda akan bisa lihat itu kalau orang yang dapat fasilitas di kawinan tuh ya untuk motong VIP itu pada waktu dia motong dia sama sekali enggak pemisi sama yang lain. Saya selalu ngasih tahu tim maupun keluarga ini segalaang kalau kita jadi VIP terus motong antrian orang minta maaflah. Yang kedua kalau bisa enggak usah foto lah. Malu lama-lama ya. Bu mod foto itu menghabiskan sekian menit menambah sekian antrian kan. Heeh. Yang kedua emang foto sama kita disimpan sama mereka. Boro-boro boro-boro memang digedein di figura si penganten itu. Gua pernah foto sama Pak Ivan nih gitu kan juga lah gitu kan. Paling juga dikip dimasuk ke file aja kan. Jadi gitulah. Jadi ee itu yang membuat mungkin banyak direksi pengin lama jadi direksi gitu kan melakukan apapun untuk menjaga posisinya. Ini satu contoh juga waktu PKPU gitu saya kumpulin para direksi saya bilang, "Anda punya opsi untuk go with me dengan PKPU dan kita akan struggling gila-gilaan. Sedemikian rupa bisa jadi kita gagal dan perusahaan ini tutup kalau PKPU kita kalah." Atau atau Anda mutusin berhenti enggak pakai stres atau Anda ngotot sama saya untuk kita jangan PKPU. Terus gimana tuh? Ya, negosiasi satu-satu. Oke. Saya cuma bilang sebelum lu jawab, gua jawab dulu ya. El jadi direksi ini bukan untuk jaga kursi lu. Lu jadi direksi untuk memperbaiki perusahaan ya kan? Bukan begitu. Jadi direksi melakukan segala macam upaya supaya bertahan. He jaga bukan jaga kursi gitu kan ya. Dan pilihan buat kita saat ini adalah go PKP. Are you with me or not? Saya cuma gitu aja ya. Semua jawab ya. Oke kita jalan. Karena kan untung PKPU kita selamat ya. Coba kalau enggak selamat menurut Anda ada enggak yang mau mempekerjakan Irfan lagi dan direksi? Kan enggak ada. Enggak ada ya? Enggak ada. Dan kita akan dalam sejarah menjadi direksi yang membuat Garuda tutup kan gitu. Pertama kali dan terakhir mungkin. Mungkin terakhir gitu kan. Iya. Ya. Ya. Ya. Tapi ada sedikit pertanyaan Pak. Kalau kita lihat sekarang ekuitas negatif itu masih ada hubungannya juga dengan beban anak-anaknya Garuda. Pertanyaannya, kenapa mereka enggak ikut PKPU kayak Cinking eh GMF misalkan. Jadi gini ee setelah Garuda itu memang kita pada waktu itu ada diskusi apakah anak Pusahan sekalian di PKPU berbarsi sekalian. Ee waktu itu kita putuskan daripada lebih kompleks ceritanya hanya Garuda aja yang di PKPU. Tapi setelah itu ada cucu perusahaan kita PKPU ACS. Iya. Iya. ACS. Dan memang untuk perusahaan-perusahaan yang ekuitas negatif atau hutangnya membesar ya saya selalu sampaikan kepada mereka bisa enggak lu lakukan sesuatu? Alhamdulillah GMF bisa, City Link bisa gitu kan ya. Ya sudah dimaintain itu punya hutang kan biasa. Hm. Yang penting adalah Anda punya capability bayar hutang kan ya kan. Nah kalau Anda enggak punya capability bayar utang, enggak mampu bisa bayar hutang, barulah kita ke PKPU kan. Kan konsepnya sederhana aja, berarti belum ada kebutuhan mendesak lah ya. Terutama untuk perusahaan-pusahan yang Anda sebut sepanjang di masa saya kita tidak ada pikiran untuk mempk GMF maupun city link karena mereka bisa negosiasi dengan para kreditnya mereka. I see. I see. Kalau pada waktu itu mereka tidak bisa negosiasi sebelum PKP ada opsi lain ya kita ganti orangnya yang bisa negosiasi. Ganti direksi nih maksudnya nih direksi gitu. Saya even waktu di Garuda umur 656 waktu jadi di Rut Garuda hampir waktu saya bertanya saya habiskan waktu tanya sama siapa? Siapa aja yang bisa saya tanya? Para pendahulu saya baik itu Pak Emir Satar, Pak Arif, Pak Pahala, maupun Pak Ari Askara mereka semua bersahabat sama saya termasuk sama tim. Heeh. Termasuk sama para penumpang gitu kan ya. Karena dari masukan-masukan, dari belajar itulah kita kemudian bisa tahu, oh ternyata ini loh, oh ternyata ini. Oh, yang kemarin salah begini, salah begini. Anda enggak bisa punya asumsi sendiri kan. Anda punya asumsi dasar lu anda apa? Your assumptions gitu kan. Belajar dan sampai sebelum saya mundur pun saya masih banyak belajar gitu kan. Salah satu contoh salah satu yang kita tangani, saya terlibat aktif nangani bersama konsultan waktu itu adalah mencari jawab pertanyaan. Kenapa sih bagasi telat terus datangnya? Kenapa, Pak? Jadi beberapa hal ya. Yang pertama mungkin dari pesawatnya sendirilah. Pengaturan pesawat. Di Garuda juga ada berapa kali kejadian? Mudah-mudahan hari ini sudah enggak. Di mana ketinggalan? Ya, kalau ketinggalan itu jarang sekali kejadian, kecuali tag-nya hilang. Hm. Kalau misalnya Anda dari mana ke mana, tag-nya hilang. Dan memang beberapa airport di dunia ini babak belur nih nanganin transit baggage ya. Kalau Garuda, kalau Cengkareng kan relatif enggak banyak lah ya dibandingkan Singapura. Tapi sebetulnya itu bukan masalah yang di airlines sih. Kalau setahu saya malah itu di pengelola bandara atau di pengelola bagasi lah bandara gitu. Ee yang pertama mungkin di airlines-nya. Kenapa saya katakan di airlines-nya itu adalah bagaimana menata koper-koper. Artinya musik keluar duluan kan koper first class sama bisnis class kan. Iya. Atau platinum. Berarti mereka terakhir masuk kan? terakhir dimasukkan. He ya kan ini kadang-kadang ada aja yang muncul di belakangan gitu kan. Makanya banyak penumpang bisnis kelas, kenapa gua punya bagasi datang lebih lambat daripada ekonomi? Buat apa gitu kan itu itu ya salah masukin lah atau atau seperti apa gitu kan. Yang kedua bagaimana membawa bagasi itu masuk ke gedung he terminal untuk diproses. Ini yang saya juga sempat kirim surat ke pengelola bandara. Tolong dong apennya dimulusin. Oh, karena dadakan bisa goyang jatuh kop jatuh. Makanya kecepatan baga lambat gitu kan. Karena kalau dia jadi lambat apalagi posisinya jauh kan dia berbalik lagi sulit kan. Iya. Iya. Kemudian BHS sistemnya kalau itu saya enggak mau komentarnya sudah dibeli, sudah dijalankan segala macam gitu. Kalau yang dari luar negeri itu luar negeri itu ada tempat kan mesti dicek sama Be Cukai kan. Iya. itu ada yang ee ada satu beberapa tempat entry masuk ke sistemnya itu masuk X-ray kan Xray-nya cuma satu. Nah, ini terus menurus ngantri dong ya jadinya ya enggak ngantri desek-desekan desek-desekan ya. Terus kemudian pengelolaan bagasinya segala macam. Nah itu kita monitor kita monitor kita masuk ini segala macam. Alhamdulillah ternyata juga ada masalah besar di Garudanya. Di mananya? dengan dengan gapura yang kita. Jadi setelah bolak-balik kita lakukan ini, bolak-balik kita lakukan kok enggak pernah bisa beres gitu. Apa saving-nya tuh ee bervariasi maksudnya yang kok enggak bisa diandarize ya? Enggak bisa diandarize ada apa nih gitu. Terus saya bilang, "Udah deh gini deh gini deh. Saya mau tanya deh dari awal gimana sih ceritanya nih bagaimana?" Oh pak kita kalau malam-malam kita bilang ni besok Garuda tebang jam jamjam sekian datang jam jamjam sekian. kita lokate, Pak. Orang-orangnya malam-malam kan kenyataan di lapangan beda. Betul. Jadi dari malam itu sebenarnya sudah ketahuan petak besok tuh kayak apa. Jadi kalau pesawat itu tebang dari sini, kalau ada yang datang masuk ke gate ini, sebenarnya semuanya sudah rapi. Tapi begitu ada problem di pesawat, ada menteri telat kan telat keluar, tiba-tiba ada pesawat yang mesti masuk situ kan enggak bisa masuk ke situ. Pindah gate kan. He. Jadi menggeser semuanya ya kacau balau semuanya kan. Nah, saya bilang, "Anda lakukan itu terus Anda lempar ke tim terus Anda tidur." Nah, kita coba datang pagi-pagi di situlah lihat bikin tim habis itu lu ke sana, lu ke sana, lu ke sana, lu ke sana, lu ke sana gitu kan. Artinya proyektively ngelihat kondisi di lapang 30% lebih cepat. Hm. Tapi syarnya harus ada apel pagi ya, harus datang pagi-pagi gitu kan ya. Ini kan harus dilakukan oleh viak manajemen, bukan viak manajemen bikin malam-malam terus tidur. Betul, betul, betul. Besok I've done my job. Bukan salah saya. Saya kan tentunya itu itu skema yang sudah terjadi puluhan tahun. Hmm. Jadi tim leader-tim leader ini ibaratnya enggak turun ke bawah lah ya. Ini bisnis proses itu kan kalau sudah dijalanin bertahun-tahun kan jadi culture ya. Jadi culture gitu kan. Terus mengharapkan sebuah hasil yang baik lebih bagus itu kan. Bisa dapat bisa dapat bintang lima Skyrex karena enggak sih? Ya, saya enggak mau ngatin. Tapi poinnya itu adalah bahwa ya kita acak-acak, kita lihat-lihatin deh apa yang kita bisa perbaiki, apa yang kita bisa perbaiki, apa yang kita perbaiki. I kan kita juga dulu pernah ngirim yang sekali dua kali keekpos tapi habis itu enggak keekpos gitu. Kita kirim orang. He hanya untuk nungguin bagasi dan naruh bantalan dan dihitung ya berapa itu bukan bagasi yang turun kluk keluar ke itu kita taruh bantalan supaya karena itu kayak loncat gitu F duak jalan dua ya kita ya kita memang ngikutin gayanya orang Jepang alhamdulillah sekarang kayaknya diikutin oleh bandara yang lakukan itu ya oke dulu ee apa apa bagasi Garuda aja yang kita lakukan itu. Sekarang ciling sekarang nampaknya dan citiling sekarang dikasih bantal di kopernya bukan. Jadi pada waktu keluar kan itu oh supaya enggak mentok nabrak gitu kan. Nah kalau Anda lihat perhatikan itu kan ada lubang bagasinya keluar sebelum dia muter ya keluar makanya di sini ada besi. Betul betul duak gitu kan baru jalan. Nah kita ada satu orang tugasnya naruh pegang bantal aja gitu kan. Bantal. Heeh. He tahan tahan supaya apa? Gempurannya enggak terlalu keras gitu. Harusnya sih bandara yang bikin itu ya. katanya sekarang bandara ya saya juga enggak tahuah apalagi kan banyak binatang sekarang kebun binatang di situ kan mesti bagus juga kan iya ya ya ya enggak apa-apa ya kita ini bukan soal siapa-siapa yang penting kan adalah kita lakukan yang terbaik buat para customer penumpang kita penumpangnya ya dan satu yang saya rekam nih Pak Irfan tuh kalau Eropa selalu bilang saya selalu surprise ada orang yang mau invest di bisnis penerbangan this is a single digit margin business e jadi bukan cuma Garud Pak kan kalau kita lihat kayak Singapore Airlines cowokannya gede ada Qatar punya nya Airland Emirates. Seolah-olah kayaknya aneh banget ya kok Garuda itu rugi. Apalagi kemarin ada anak muda tuh yang di Singapura bikin Indonesia Airlines. Ada videonya enggak? Dia bilang pernyataannya aneh sekali ada perusahaan penerbangan yang dimiliki oleh negara tetapi rugi. Nah, nih yuk. Saya juga enggak tahu kenapa banyak yang mengklaim itu bisnis airline itu susah untungnya. Hm. Ini saya bingung boleh dicek di semua data, di semua airline. Tidak ada major international airline itu yang rugi. Enggak ada. Cuma di Indonesia aja yang selalu teriak-teriak, maskap itu rugi, penerbangan itu rugi, harus disubsidi terus sama pemerintah. Oke, kisah nyata tahun 2023 Singapore Airlines kasih bonus karyawan itu ke semua level 8 kali gaji. Bonus akhir tahun 2024 kemarin ini baru dikeluarin lagi bonusnya. Semua level karyawan dapat bonus sama 8 kali gaji. Pertanyaannya, apakah mungkin mereka rugi kalau mereka bayar bonus karyawan segede itu? Gimana, Pak Irfan? Oh, saya nonton ini. Oh, nonton juga. Nonton juga. Syok dong. Enggak. Kenapa? Saya malah gembira. Kenapa? Kenapa gembira? Bahwa ada Pak Iskandar nih ya. Iya. Ee yang begitu yakin bahwa menjalankan airlines di Indonesia bisa untung. Hm. Ya, seperti saya selalu bilang ini kita perlu mengagumi anak-anak muda yang cara berpikirnya mungkin berbeda dan mungkin jauh lebih cerdas dari orang seperti saya, Tony Fernandez dan yang lainnya gitu kan ya. Eh, silakan lah. Silakan jalankan ee buka Airlines di Indonesia silakan terbangkan. Ee dan saya hari ini angkat topi gitu kan tapi kalau nanti Anda ma kenapa angkat topi orang belum ada hasil ini kan semangat kita perlu hargai dong. Semangat kita perlu hargai dong kan ke optimisme kita perlu hargai dong kan. Ee dan ee nanti topinya saya pasang kalau rugi ternyata gitu kan. Tapi saya berharap topinya saya bisa lepaskan aja terus gitu kan. Hmm. Ya, mudah-mudahan bisa secepatnya Indonesia berarti salut terus. Mudah-mudahan Indonesia bisa secepatnya terbang. He ya kan ee di Indonesia dan bisa terbang dan bersaing sama teman-teman yang lain gitu dan profit dan untung. Iya. Even even kesulitan saya tahu sih sampai sekarang. Tapi saya selalu penasaran, Pak. Kalau memang itu bisnis yang sangat-sangat sulit lah dan rugi, kenapa toko sebelah yang warna merah itu bisa nambah terus, ekspansi terus, bisnisnya banyak terus? Rahasianya apa tuh, Pak? Nambah pesawat apa ke Gunung Kawi ya? Nambah pesawat. Nambah pesawat. Memang kalau nambah pesawat dia untung. Saya enggak tahu tuh. Tapi nambah pesawat terus pesawat kan sekarang sewa semua. Bukan beli ya? Bukan beli. Hmm. Ya, enggak tahu saya. ee nambah rute Pak Rusdi dan teman-teman ya. Agak susah saya berkomentar soal untung rugi ya dari teman sebelah karena kita enggak ada laporan keuangannya kan. Iya karena bukan Tbk ya. Bukan Tbk gitu kan. Kalau saya kan karena kita harus Tbk, kita harus melaporkan jadi apa adanya gitu kan. Jadi ee ini pengalaman saya membandingkan juga dengan teman-teman di luar negeri juga kalau tadi disebutin ee Singapore Airlines gitu segala macam. Ini ini perlu kita jadi pembelajaran ya. Jadi gini, kenapa airlines yang maju itu justru hub airlines? Jadi gini, ada dua tipe airlines gitu. Satu nonhub, satu hub. Hub Airlines itu kayak SQ, Qatar, Etihad, Emirates, Turkis dan ini mau keluar sebentar lagi Riyad gitu. Riad KLM kan termasuk hub enggak? KLM tanggung hub-nya sebenarnya. Kenapa? karena dia hub-nya di Amsterdam untuk ngelayanin orang-orang di sekelilit Eropa gitu. Kita suka kan gini, Hub tu kan basically antara Eropa Asia, Asia Amerika, Eropa Amerika kan. Oh, karena di tengah-tengah ya harusnya karena ada posisi di tengah. Makanya dulu zaman tahun '0-an 90-an kan airlines yang jadi hub itu kan cuman SQ sama katai ya. Ya, Japan Airlines coba jugal lah tapi kan enggak pernah berhasil. Tapi kalau saya mau mengatakan yang paling berasik kan ee ee Katai sama Singapore Airlines gitu kan. Tapi begitu ada Itihad, Emirates, Turkis dan segala macam itu kan jadi ramai sekali gitu kan. Nah, SQ misalnya buat melayani eh Asia Tenggara, Indonesia ini agak challenging kan kalau mau ke Eropa misalnya kita tebang 2 jam, habis itu 14 jam. Sementara kan teman-teman yang di tengah Middle East ini kan 68 86 gitu kan. pas ya, paslah buat mereka yang senang berhenti. He. Nah, K Airlines itu umumnya di-support full oleh pemerintah. Kenapa? Karena pemerintah negara yang punya airlines itu mengharapkan orang berhenti dan keluar dan melakukan spending belanja. Belanja, devisa ya, devisa. Jadi, ada cerita yang cukup menarik. orang Amerika, orang Eropa tuh enggak tahu bahwa ada negara Qatar, tapi dia tahu ada Qatar Airlines. Oh, ada negara ya gitu kan. Betul, betul, betul ya kan. Jadi ee kalau Anda naik dulu saya enggak tahu sekarang ya dulu tuh saya pernah naik Emirates belum masuk Garuda ya. Naik Emirates. Kalau kita naik Emirates kita bisa dapat penginapan gratis 1 hari. He. Kalau bisnis kas 2 hari gitu loh di hotel yang sudah diidentify sama mereka gitu kan. Terus naik itihad kalau mau ke Amerika itu bisa checking imigrasi Amerika di Abu Dhabi gitu kan. Jadi mereka punya banyak sekali kemudahan-kemudahan. Nah, negara tersebut percaya sekali bahwa kedatangan orang ke negaranya itu penting sehingga perlu dibantu fasilitasilah dibantuah. subsidi malah saya enggak ngatakan subsidi, tapi airlines, airport, dan the country itu kerja sama, duduk sama-sama. Dan kalau menangani negara seperti kayak QTER seperti korporasi, korporasi kan belum tentu airlines-nya untung, belum tentu airport-nya untung, tapi negara yang penting untung in total kan. Oh, paham paham. Jadi kalau dalam konteks Indonesia itu satu harusnya dikerjain bareng Menteri Pariwisata sampai masuk, Menteri Perhubungan sampai masuk, Airlines juga masuk semuanya ya semuanya gitu kan. Contoh yang paling menarik kan adalah misalnya kayak Singapore ngundang Taylor Shift. H kan dia enggak boleh enggak boleh e konser di mana-mana cuman di Indonesia kan. He code play code play di Jakarta sekali 10 10 malam di Singapura. I betul ini kan pancingan buat mereka yang enggak dapat tiket di Jakarta akan ke Singapura kan. Betul. Apa yang dilakuk
Resume
Categories