PERTAMA KALI DALAM SEJARAH‼️ PM Singapura Berani Sindir Amerika | Siap Perang Dunia 3
uCoU8A4lPaM • 2025-04-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Halo, selamat pagi, Guys. Kembali lagi
bersama Beni Enix. Kita kali ini dapat
kiriman video yang luar biasa kabarnya
ya dari kawan kita di Singapura yang
mereka bilang, "Omenik sekarang lagi
hebohon nih di Singapura." Karena
kemarin baru saja perdana menteri mereka
membuat sebuah pernyataan dan perdana
menteri ini kabarnya itu menyatakan
perang terhadap Amerika Serikat. Dan ini
sepanjang sejarah ini menurut warga
Singapura. Gua juga belum lihat
videonya, tapi ini mengejutkan ya.
Banyak warga Singapura itu yang inbox ke
gua, kirim DM ke Instagram kita juga.
Ini gimana nih Singapura sepanjang
sejarah? Belum pernah loh perdana
menterinya semarah ini, seemosional ini.
Ya, gua juga penasaran sih, Guys. So,
daripada kita berlama-lama, langsung aja
ya jangan dikip video ini. Let's check
this
out. The Vietnam War remains
controversial and so what we say about
it may not be universally accepted even
in America itself. But Singapore is
profoundly grateful for the tremendous
sacrifices the US made intervening in
Indo China at that time. Then when the
Soviet Union collapsed in 1991, the US
stood alone as a soul superpower. Its
leadership and security umbrella
maintained peace and stability in Asia
and created an environment in which
countries like Singapore could flourish
and thrive. Of course things were not
perfect. From time to time, America was
criticized for double standards and
inconsistency. But by and large, it
remained a force for stability and a
force for good. It is in this
international context that Singapore
took flight. Back in 1972, Mr. Raja
Ratnam envisioned Singapore as a global
city. One that would quote draw
sustenance not only from the region but
also from the international economic
system. Oke, jadi menarik nih, Guys.
Karena Mr. Wong di sini Perdana Menteri
Singapura itu dia berbicara tentang
sejarah, ya. Bagaimana dia menceritakan
Amerika Serikat itu betul-betul penolong
lah dari era Vietnam perang perang di
IndoCina. Di situ komunis itu ekspansi
besar-besaran. Tetapi untung aja ya ada
Amerika Serikat mereka melakukan
intervensi sehingga mencegah supaya
komunisme tidak berkembang biak di Asia
Tenggara khususnya. Di situ Singapura
bilang dia berterima kasihlah. Contohnya
ya kayak Indonesia lah. Indonesia hampir
jadi negara komunis. Kita juga enggak
tahu itu hal yang buruk atau hal yang
jelek. Tetapi intinya CIA dan Amerika
juga melakukan intervensi sama seperti
yang ada di Malaysia, yang ada di
Filipina, yang ada di Vietnam juga. Nah,
dari sana dia berangkat dari sejarah
IndoCina, perang Vietnam dan dia masuk
ke Soviet. Ketika Soviet bubar di tahun
1991, Singapura Perdana Menteri Wong itu
berterima kasih. Kenapa? Karena ketika
Soviet collaps, untung ada kekuatan
dunia lain yang mau mengambil alih
perannya. Jadi mau mengambil ahli
tanggung jawab sebagai penguasa dunia,
sebagai polisi di bumi ini yang namanya
Amerika Serikat. Dan ini menciptakan era
kejayaan Singapura. Ya, kenapa? Karena
dia bilang, "Ya, ini alasannya nih gua
gua jelasin kenapa." Jadi gini, kalau
seandainya posisi polisi dunia itu
hilang, tidak ada orang yang mau
incharge, bertanggung jawab ambil alih
sebagai juragan penguasa langit dan bumi
yang ada di galaksi kita ini namanya
Amerika Serikat, negara super power.
Yang terjadi apa? Enggak ada yang
namanya perdagangan dunia. Suka tidak
suka, Teman-teman, sekarang bisa
ngerasain nikmatnya ya. Makan beras
impor dari India, makan sapi dari
Australia, pakai handphone dari Cina dan
lain sebagainya, pakai barang-barang tas
mahal dari Eropa dan Amerika. Kenapa
bisa terjadi? Karena ada angkatan laut
Amerika Serikat yang beroperasi
membersihkan teroris-teroris bajak laut
yang bertaburan yang ada di Afrika, di
India, bahkan di Selat Malaka. Jadi
itulah peran dia sebagai polisi dunia,
menciptakan kedamaian dunia. Suka enggak
suka teman-teman bisa merasakan
perdagangan global saat ini? Ya, karena
ada perlindungan dari kekuatan super
power yang namanya Amerika Serikat.
Kalau enggak lu enggak bisa makan beras
hari ini, kalau enggak lu enggak bisa
pakai iPhone hari ini. Itu faktanya.
Nah, tapi enaknya nih perdana menteri
Wong itu juga mengakui bahwa US itu
seringkiali double standard, Guys.
Seringki juga inkonsisten. Tetapi suka
enggak suka, mau enggak mau memang
merekalah yang menciptakan kestabilan.
Dan ini menciptakan Singapura bisa
menjadi negara yang kuat, yang berjaya
sampai detik ini. Jadi, negara Singapura
bertumbuh dan berkembang dia akui itu
thanks to Amerika. Karena Amerika mampu
menjaga perdamaian dunia, mampu menjaga
stabilitas di Asia. Ini membantu
Singapura menjadi negara super power.
Dan ini sesuai dengan planning yang
dibuat sama Raja Ratnam. Ini gua catat
di tahun 1972 bahwa Singapura harus
menjadi pusat ekonomi, pusat bisnis,
pusat keuangan, pusat dagang di dunia
ini. Jadi, teman-teman bisa lihat memang
faktanya Singapura sangat-sangat
bersyukur dan harus berterima kasih sama
Amerika Serikat. Tetapi enaknya ya,
fair-nya nih Lawrence Wong juga bilang
ya memang kadang-kadang juga Amerika ini
double standard. Cuman ya suka enggak
suka memang mereka yang punya kekuatan
untuk menciptakan kestabilan di dunia
ini. Suka enggak suka. Termasuk mereka
juga yang punya kekuatan untuk
menciptakan ketidan di dunia ini. What's
next? Kayaknya seru nih. Today very
unfortunately this international order
is frame. The conditions that sustain it
no longer hold. Within America, support
for global engagement has declined. Many
Americans feel left behind by
globalization. Their communities have
suffered job losses, stagnant wages, and
social dislocation. There is a growing
sense that other countries are
benefiting disproportionately from
America's security umbrella and access
to its markets while contributing little
in return. The long and costly wars in
Afghanistan and Iraq after 911 have
deepened public towards foreign
entangements and the shocks from the
global financial crisis of 2008 and the
COVID pandemic have caused further
disruptions and dislocations. So there
is now a strong and growing impulse
within America to turn inward to focus
on its own domestic priorities and to
scale back costly overseas commitments.
shift this evident under the current
American administration. The US
Secretary of State Marco Rubio himself
highlighted that the unique role of the
US was quote anomally and a product of
the end of the cold war. It was an
anomally and a product of the end of the
cold war. Jadi di sini Perdana Menteri
Wong itu bilang bahwa ya saat ini
tatanan dunia nih internasional sedang
dalam bahaya karena ya berbagai faktor
yang terjadi belakangan ini menciptakan
situasi yang sangat tidak bisa ditebak.
Apalagi dengan Amerika sekarang sedang
jatuh mengalami kemunduran. Banyak
rakyatnya yang pengangguran. banyak
rakyatnya merasakan tekanan dari adanya
globalisasi dan rakyatnya semakin
menjadi tidak kompetitif di tengah
tekanan dunia internasional ini. Ya,
fakta aja sekarang ya, kemampuan
manufacturing, kemampuan teknologi itu
Cina udah jauh lebih canggih
dibandingkan Amerika Serikat. Jadi
Amerika Serikat yang selama ini dikenal
sebagai negara paling maju, paling
canggih, paling berkuasa, paling kaya,
dan aktif ya terlibat di dalam tatanan
global, sekarang sedang mengalami
kesulitan dari tingkat rakyat yang
paling bawah sampai tingkat negara
elitnya sendiri. Dan ini juga
menciptakan dunia semakin tidak aman.
Kenapa? Akan hilang posisi polisi dunia
ini. Jadi akan muncul kekuatan-kekuatan
dan ancaman-ancaman asing. Ini menurut
Lawrence Wong L. Dan satu yang paling
penting nih yang harus kita garis bawahi
itu ya Lawrence bilang gini, situasi
tekanan di dalam negeri internal konflik
yang sedemikian rupa di Amerika Serikat
akan mengakibatkan negara itu menjadi
lebih fokus untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri, masalah dalam
negerinya. Jadi focus on its own.
Akibatnya apa? Amerika udah enggak bisa
lagi punya mindset ekspansi, ekspansi,
eksploitasi, globalisasi, dan lain
sebagainya. Enggak. Mereka harus scale
back, mundur dulu, analisis dulu,
evaluasi dulu. Dan ini udah diumumin
juga ya sama Rubyo, Menteri Amerika
Serikat bahwa ya memang dulu suka enggak
suka Amerika Serikat berada pada posisi
yang sangat unik karena ya perang dingin
itu menciptakan anomali yang tidak
wajar. Jadi, byprodu apa ya? Amerika
Serikat terpaksa ya suka enggak suka,
mau enggak malu mereka menjadi penguasa
dunia. Mereka mau enggak mau menjadi
polisi dunia mau enggak mau. Tetapi
sekarang Amerika berada di posisi yang
sepertinya harus mengurangi komitmen
luar negeri mereka. Karena gini,
Teman-teman, Amerika Serikat itu
mengontrol semua lautan yang ada di
dunia ini. Angkatan lautnya paling
powerful. Ada di Pasifik, ada di India,
ada di Atlantik, ada di Eropa, belum
lagi di Timur Tengah yang hobinya saling
bunuh satu sama lain di situ. Makanya
banyak juga pangkalan Amerika Serikat.
Dan jujur aja itu memerlukan biaya yang
sangat tinggi, Guys. Dan Amerika
sekarang berada posisi yang tidak baik
nih dari segi finansial. Jadi, Laron
Swong membuat prediksi bahwa Amerika
akan semakin protektif dan akan semakin
fokus pada negaranya sendiri. Dan ini
akan mengurangi perana Amerika di dalam
tatanan global dunia. Oh, gua udah lihat
nih arahnya nih. Gua belum gua belum
lanjutin videonya ini, tapi gua udah
lihat nih. Kayaknya arah pembicaraan
Wong itu mau lihat kalau seandainya
Amerika mundur dari perannya sebagai
penguasa dunia, polisi dunia, maka akan
tercipta era baru di mana dunia ini
kemungkinan menjadi tidak stabil dan
Singapura harus bersiap-siap untuk itu.
Kayaknya begitu. Jadi yang berusaha
dikatakan oleh Perdana Menteri Lauron
adalah sepertinya nih Singapura harus
bersiap-siap. Ini adalah sebuah ramalan,
ini adalah sebuah prediksi dari seorang
pemimpin negara Singapura tentang
kejadian yang akan datang di planet bumi
ini. Hebat juga nih teorinya Lawrence
Wong. Next kita cek yuk. In resolving
every problem and it now needs to cut
back on what it does abroad. So this may
not just be a temporary change in
policy. This could reflect the new
normal in the US for some time to come.
At the same time China has emerged as a
near peer competitor of the US. China
has benefited immensely from this US la
order. And today a new generation of
Chinese raised in an era of rapid growth
and national revival believe that the
east is rising and the west is
declining. They are also more assertive,
determined to correct the perceived
humiliations of the past and to secure
what they see as China's rightful place
in the world. America and China are now
locked in a fierce contest for global
supremacy. Neither country wants open
conflict but there is deep mistrust and
suspicion on both sides. Miscalculations
especially over fles points like Taiwan,
could trigger a broader and more
dangerous escalation. Both powers claim
they do not wish to force countries to
choose sides, but in reality each seeks
to draw others closer into their
respective orbits. Oke, ini menarik,
Guys. Jadi, ternyata benar ya, bahwa
Amerika itu harus cutback, mereka harus
scalback. Mereka akan kurangin begitu
banyak spending yang selama ini dia
buang ke luar negeri dan kemungkinan
besar menjadi new normal siapapun
presiden yang di Amerika Serikat. Karena
apa? Karena enggak bisa lu jalankan
negara Amerika Serikat dengan sistem
pemborosan, defisit di mana-mana. Ya,
akibatnya apa ya? Negara bisa jadi
collaps karena krisis moneter. Nah, new
normal-nya apa nih, Guys? New normal-nya
Amerika Serikat ya, Teman-teman sudah
lihat dari kemarin kita udah bikin
videonya Amerika Serikat ngurangin
pendanaan yang dia sumbangin ke UNDP, ke
UNICEF, ke BBB, ke WHO. Jadi bukan cuma
soal tentara nih. Jadi banyak hal di
dunia ini yang selama ini Amerika
Serikat jadi pahlawan bantu menciptakan
vaksin lah. Kasih bantuanlah ke negara
Afrika yang miskin lah. Kasih bantuanlah
ke negara Indonesia lah yang enggak bisa
ngatasin penyakit-penyakit malaria,
diabetes dan lain sebagainya itu
berkurang. Jadi udah enggak bisa lagi
mengharapkan bantuan dari Amerika
Serikat. Termasuk teman-teman yang
hobinya nyari S2 program beasiswa ke
Amerika Serikat harus berharap dan
bersiap itu akan hilang. Nah, dari situ
Perdana Menteri Lawrence itu juga bilang
bahwa dengan penurunan peran Amerika
Serikat di market dunia, di bumi ini
yang terjadi apa? Ternyata ya Cina
bangkit. Kenapa? Suka tidak suka Cina
itu diuntungkan immensely. Kalau kata
Lawrence Wong sangat-sangat diuntungkan.
Begitu luar biasa. Kenapa? Karena ketika
Amerika Serikat semakin kaya, punya duit
membiayai angkatan lautnya, punya duit
membiayai kestabilan ekonomi dunia,
punya duit buat ngasih utang ke
negara-negara miskin sehingga
negara-negara miskin bisa berjaya.
Negara-negara ini kemudian bisa beli
barang-barang made in China. Jadi, Cina
ini sangat-sangat diuntungkan. Bukan
cuman itu, Cina juga sangat diuntungkan
karena begitu banyak pabrik yang pindah
dari Amerika Serikat ke Cina.
Menciptakan lapan kerja, membawa dolar.
dan memberikan transfer pengetahuan dan
teknologi. Jadi, suka enggak suka Cina
sangat-sangat diuntungkan dari Amerika
Serikat. Makanya mitra terbesar, mitra
dagang terbesar Cina itu adalah Amerika
Serikat. sampai sebelum terjadinya
perang tarif ini ya, Guys. Dan ini
kemudian membawa apa ya, generasi muda
Cina itu menjadi lebih percaya diri,
menjadi lebih dominan, dan mereka yakin
mereka bisa membawa Cina menuju puncak
kejayaannya di kolong langit ini. Karena
selama ini dia tidur. Jadi istilahnya eh
orang suka bilang hidden dragon ya atau
sleeping dragon. Jadi naga tidur mereka
ini selama ini. Tetapi generasi muda
Cina ini bagus nih. Sekarang para pemuda
di sana itu sudah mulai punya semangat
motivasi bahwa ini adalah saatnya mereka
bersatu padu mengembalikan kejayaan
Cina. Jangan mau lagi Cina itu
dipermalukan di dunia ini, dibully
istilahnya. Makanya teman-teman lihat
ketika Donald Trump mencanangkan perang
tarif Liberation Day, semua negara ingat
ya berlomba-lomba untuk jilat pantat
Donald Trump. Ampuni kami Tuhan raja
yang mulia. Belas kasihanlah untuk kami
Tuan Raja Donald Trump. I'm telling you,
these countries are calling us up.
Kissing my ass, kissing my ass, kissing
my ass. They are they are dying to make
it please sir, make it do anything. Nah,
itulah realita dunia ini. Tetapi Cina
tidak begitu. Oh, lu ngasih gua tarif,
gua naikin juga tarif buat negara lu. Lu
naikin lagi, gua naikin lagi. Lu jual,
gua beli. Itu jadi Cina udah tidak lagi
malu-malu kucing. No. Ini naga tidur
siap lagi bangkit sebentar lagi naik nih
ke dunia nih, ke permukaan nih. Dan suka
enggak suka ya ada istilah di Cina itu
dalam satu gunung tidak boleh ada dua
harimau. Pasti akan terjadi konflik.
Nah, ini bocoran yang paling bagus. Ini
bocoran yang paling kuat. Pemimpin dunia
ya, Lawrence Wong, negara paling kaya di
Asia Tenggara, perkapita nih kita
ngomong itu membocorkan, membeli, dia
kasih bocoran nih bahwa di kulit, di
permukaan Amerika sama Cina ini ngomong,
"Lu enggak usah pilih kubu, lu netral
aja. Kita tidak memaksa lu buat memilih
salah satu di antara kita." Tetapi in
reality in
reality seeks to draw others closer into
their respective orbits. In reality,
negara-negara ini di belakang layar
ditekan untuk memilih lu belain siapa,
lu berada di pihak mana, lu mau jadi
budak
siapa. Ini kode nih, ini kode Lawrence
Wong. Jadi dari sini gua lihat video ini
dibikin sama Lawrence Wong itu bukan
buat rakyat Singapura.
Video ini dibikin Lawrence Wong buat
presiden Indonesia, buat Presiden
Thailand, buat Presiden Vietnam, buat
presiden Malaysia, perdana menteri di
sana. Bahwa gua tahu lu semua lagi pada
akting, gua tahu di belakang layar lu
udah ditelepon, lu sudah ditekan sama
Amerika Serikat, lu sudah ditekan sama
Cina, lu harus bersumpah setia kepada
salah satu negara itu. Nah, ini kode
nih. Ini kode yang dia lagi kirimkan
kepada kita. In reality, di belakang
layar Lawrence Wong sudah diteror. Ini
kode in reality. Di sini udah bisa
artikan lah. Berarti Prabowo sekarang
lagi ngapain tuh? Keringat dingin.
Karena kita ngomong reality ini. Ini ini
Lawrence Wong secara tidak langsung
membocorkan rahasia negara nih. Di
belakang layar lu udah harus pilih
negara lu mau jadi budak Amerika atau
budak Cina. Istilahnya Lawrence kan
sangat-sangat politis ya, memilih kubu
gitu. Enggak, enggak, enggak. Lu tuh
cuman bisa memilih jadi budak siapa.
Menarik. ini udah ngomong rahasia
perusahaan. Jadi dia ngebongkar rahasia
negara Singapura nih. Next. E. Bentar
guys, bentar guys sebelum kita lanjut
videonya. Good news guys. Colah Sambenik
season 7 kembali dibuka nih. Jadi buat
teman-teman yang belum sempat join yang
season 6 kita sekarang udah masuk ke
season keet7uh dan ini seru banget
karena tahun ini kita membahas tentang
energi terbarukan. So, Teman-teman tahu
enggak orang kalau ngomong energi di
Indonesia ini cuman ada batu bara atau
minyak bumi. Tetapi sekarang kita sudah
masuk ke era di mana saham-saham
perusahaan yang prospek itu justru
datang bukan dari batu bara lagi, tapi
dari energi terbarukan. Dan banyak loh
sebetulnya energi terbarukan. Ada lu
ngomong minyak sawit, ada namanya gas
bumi, ada namanya tenaga surya dari
matahari termasuk tenaga air dan masih
begitu banyak lagi yang belum kita
bahas. Nah, makanya di season 7 ini kita
akan membahas saham-saham yang sangat
prospek. investasi yang menurut gua
sangat menarik buat kita pelajari
bersama hanya di Skall Sambenix Season 7
tentang emiten-emiten dan prospek
prospek yang luar biasa dari sektor
energi terbarukan. Makanya jangan sampai
ketinggalan guys. Segera buruan daftar
karena kita ada promo nih diskon 25%
hanya untuk 50 orang pertama yang daftar
sebelum 25 April 2025. So, tunggu apa
lagi, Guys? Buruan yuk segera hubungi
nomor handphone yang ada di bawah ini
atau www.skalasambenix.com.
[Musik]
This river is already reshaping our
world and will continue to define the
geopolitical landscape for years to
come. So we are in the midst of a messy
transition globally to what nobody can
tell. America is stepping back from its
traditional role as the guarantor of
order and the world's policemen. But
neither China nor any other country is
willing or able to fill the vacuum. So
nations are turning inward prioritizing
their own narrow interest. The ones
rising tide of global cooperation that
define the past decades is giving way to
one of growing competition and distrust.
And as a result, the world is becoming
more fragmented and disorderly. Di sini
Lawrence Song bilang bahwa dunia saat
ini berada di tengah-tengah masa
transisi yang berantakan. Jadi secara
global tatanan dunia yang selama ini
diciptakan oleh Amerika Serikat
perlahan-lahan hancur, Guys. It's
crumbling. Dan persaingan antara Cina
dan Amerika Serikat akan menentukan
landscape geopolitik kita nih di
tahun-tahun yang akan datang. Yang
mengerikan menurut Lawrence, nobody can
tell. Jadi enggak ada yang tahu ini akan
separah apa kehancurannya, separah apa
kekosongan kekuasaan. Ingat ya, ketika
kekuasaan sebagai polisi dunia tadi dia
bilang loh, the world policeman itu
kosong. Sebetulnya detik ini tidak ada
yang bisa mengisi posisi itu. Amerika
udah enggak mau lagi jadi polisi dunia.
Dan dia bilang dengan sangat jelas, Cina
pun tidak sanggup untuk ambil alih
posisinya Amerika Serikat. Cina tidak
sanggup. Dan saya yakin, gua yakin Cina
pun tidak akan mau. Kenapa? Sekarang
kita bilang kan Cina berkuasa, Cina
hebat. Banyak orang yang muja-muja kalau
Cina perang dengan Amerika, Cina menang.
Enggak juga. Mungkin Cina bisa menang
kalau tembak-tembakannya di laut Cina.
Dia punya kapal induk di sana. Tetapi
apakah Cina beroperasi? di Rusia. Apakah
Cina beroperasi di Eropa, di India, di
Afrika, di Timur Tengah, di Amerika
Selatan, di Amerika Tengah seperti
daerah operasional tentara Amerika
Serikat. Bahkan Amerika Serikat aja
punya tentara di Alaska dan Antartika.
Itu realitanya. Apakah Cina bisa lakukan
itu? Tidak. Ya memang kalau
tembak-tembakannya di Laut Cina Selatan,
ya dia menang. Memang armadanya paling
besar di sana. Tetapi Cina tidak punya
armada di Amerika Latin, tidak punya
armada di Eropa, di Timur Tengah, tidak
ada. Jadi, apakah Cina bisa mengisi
kekosongan itu? Tidak. Tidak ada yang
sanggup. So, apa yang terjadi ketika
posisi penguasa dunia World Policem itu
kosong, enggak ada yang tahu. Dan
akibatnya apa? Negara akan semakin
banyak yang menuju kekacauan karena
sudah tidak ada lagi nih yang bisa
diandalkan. Contohnya ya, Singapura
sangat mengandalkan hubungannya dengan
Amerika Serikat. Sangat mengandalkan
Amerika Serikat itu menjadi penguasa
dunia. Karena Singapura bergantung
dengan perdagangan dunia. Ya dunia kalau
aman-aman aja ya dia cuan. Sekarang
enggak ada tuh posisi itu. Enggak ada
yang ambil alih. Dan Cina pun tidak
sanggup sebetulnya buat ambil alih.
Bangkrut Cina. Gua yakin bangkrut tuh
Cina kalau tiba-tiba buka pangkalan
militer di Australia, buka pangkalan
militer di Jerman seperti Amerika
Serikat. Cina buka pangkalan militer di
Jepang di Okinawa seperti Amerika
Serikat. Cina buka pangkalan militer di
Timur Tengah. Ada di Israel, ada di
Jordan, ada di Arab Saudi. Bangkrut itu
Cina. Jadi Cina juga enggak bisa ambil
alih posisi super power-nya Amerika
Serikat detik ini. Mereka pun enggak
sanggup. So, dunia harus siap nih, Guys,
di era baru yang akan penuh dengan
kekacauan. Bayangannya gini aja, ini kan
dalam konsep planet bumi. Bayangan
paling gampang itu dalam konsep
kelurahan kamu atau perumahan tempat
kamu tinggal. Kalau tiba-tiba enggak ada
satpam, enggak ada hansip, tidak ada
polisi, tidak ada tentara, apa yang akan
terjadi? Ah, lu jawab sendiri aja. Itu
yang sedang dirasakan oleh Lawrence Wong
di rumah kecilnya yang namanya
Singapura. Menarik ini, Guys. Pantesan
orang Singapura banyak yang gelagapan
nih ngirimin video-video ke kita nih.
Next. There isable anxiety over over
reliance on US military support and
European countries are fundamentally
rethinking their defense postures.
France has raised the idea of extending
its nuclear umbrella to other European
partners. For example, Poland has
expressed interest in acquiring access
to nuclear weapons and Germany's
Bundestank has voted to exempt defense
spending from its fiscal
rules. These are not minor
shifts. They reflect a deeper and more
fundamental realization in Europe that
the postc war peace dividend is over and
Europe must now reinvest in its own
defense and resilience. In Asia, these
developments are being watched just as
closely. The former Japanese prime
minister Fumo Kishida once warned that
Ukraine today may be East Asia tomorrow.
That warning carries greater weight and
urgency today. Jadi benar, Guys, yang
gua bilang di awal ya, eh arah
pembicaranya kayaknya tentang kekuasaan
militer lah di dunia ini. Ternyata benar
nih di terakhir nih ngomong nih Lawrence
Wong. Jadi memang ada kekhawatiran nih
mengenai ketergantungan negara-negara
lain khususnya negara barat terhadap
kekuatan militernya Amerika Serikat. Dia
kasih contoh Prancis nih. Prancis itu
salah satu negara yang kuat lah di NATO
ya, di Eropa. Dulu sangat bergantung
dengan Amerika Serikat. Tetapi saat ini
mereka mulai memperluas kerja samanya ke
banyak negara. Contoh lain, Polandia
kini udah minta akses untuk memperoleh
senjata nuklir. Contoh lain dia kasih
contoh. Jerman, Bundestak, DPR-nya yang
ada di Jerman itu udah minta untuk
menambah budget militer mereka,
melanggar undang-undang mereka. Bahkan
karena mereka dilimit supaya enggak
kembali ke era Hitler, mereka dilimit
spending military budgetnya. Itu
sekarang harus ditambah. Kenapa harus
ditambah? Kenapa negara-negara ini
tiba-tiba Polandia contoh minta akses
buat punya senjata nuklir? Simpel aja.
Lawrence Wong mengutip perkataan mantan
perdana menteri Jepang Fio Kisida. Fumio
Kisida bilang, "Ukraine today maybe is
Asia tomorrow." Tomorrow tuh besok,
Guys. Bukan 1000 tahun lagi. Tomorrow
itu besok. Ukraina hari ini bisa terjadi
di Asia Timur besok. Dan kata-kata ini
saat ini, detik ini, ini memiliki
kekuatan nih, memiliki bobot dan urgency
yang sangat-sangat besar. Kenapa? Karena
menurut perdana menteri Lawrence Wong,
eh by the way inteligijennya Singapura
itu kuat sekali loh, Guys. Termasuk yang
paling kuat di Asia. Gua yakin dia punya
data yang sangat valid bahwa Lawrencew
sudah mengantisipasi akan terjadi perang
besar di Asia Timur. Apa yang terjadi di
Ukraina hari ini?
bisa dan kemungkinan besar akan terjadi
di Asia Timur. Asia Timur itu siapa?
Kita kan Asia Tenggara. Asia Timur itu
maksudnya Cina dengan Taiwan atau Cina
dengan Korea Selatan. Suka enggak suka
kalau Cina nyerang Taiwan udah pasti
efeknya ke kita juga. Laut Cina Selatan.
Menarik nih, Guys. Menarik nih. Perdana
Menteri Singapura sudah melihat dunia
bergerak ke arah perang dunia 3. Tidak
pernah bahkan ya seorang perdana menteri
di Singapura yang selalu biasanya sopan
santun, hati-hati dalam berkata-kata.
Bisa sekhawatir ini, bisa sebblak-blakan
ini, soal dia ditekan, soal perang dunia
3, soal posisi Amerika yang melemah.
berani ngomong majikannya melemah loh
hebat loh. Next there is a wellknown
addage in international economics about
the trilemma between economic
interdependence, economic security and
geopolitical competition. Only two can
coexist at the same time but not all
three. So after the end of the cold war
geopolitical tensions subsided. Hence
countries could embrace
interdependence while maintaining a
broad sense of economic security. Today
geopolitical competition has returned
with a vengeance. The major powers no
longer feel economically
secure. So something got to give. And
where economic interdependence was once
seen as a virtue, it is now seen as a
vulnerability.
And therefore, governments are
responding by localizing production,
building up self-sufficiency and
reasserting greater control over
critical supply chains and strategic
industries. Economic instruments like
tariffs, export controls and sanctions
are being used not for market purposes
but as instruments of state craft to
advance national interest. Teori itu
mengatakan bahwa sebuah negara tidak
bisa memiliki mencapai tiga tujuan
secara bersamaan. Tujuan itu ada tiga.
Yang pertama apa? Interdependence of
economy. Jadi maksudnya saling
ketergantungan ekonomi. Yang kedua
keamanan ekonomi. Yang ketiga itu
persaingan geopolitik. Jadi
negara-negara itu tidak bisa menang
secara geopolitik, tidak bisa juga aman
secara ekonomi, tetapi pada saat yang
sama ekonominya masih bergantung ke
negara lain. Tidak mungkin. Jadi tiga
hal ini tidak mungkin bisa terjadi di
saat yang sama. Mereka harus pilih dua
maksimal. Contohnya gampang. Teman-teman
pernah dengar ini gua mau jelasin ya
supaya lu ngerti apa maksudnya trilema
economics theory. Teman-teman tahu
pernah dengar yang namanya Uni Eropa?
Bahasa Inggrisnya European Union tahu
ya? Di situ ada Polandia, ada Italia,
ada Jerman. Nah, itu dibentuk setelah
terjadinya perang dunia 2. Mata uangnya
jadi satu euro. Berhasil atau enggak?
Berhasil. Eropa itu hobinya perang. Ada
perang punik zamannya Napoleon, ada
perang Inggris, ada perang di Itali, ada
perangnya si Bismark dan lain
sebagainya. Sampai kemudian naik level
perang Prussi lah dan kemudian perang
dunia antara Jerman dengan negara-negara
di sekitarnya dan kemudian jadi perang
dunia ya. Jadi, Teman-teman bisa lihat
di situ. Kemudian orang-orang Eropa itu
berkumpul. Gimana sih supaya kita enggak
saling bunuh lagi nih orang Eropa ini?
Ya udahlah kita bikin deh negara kita
itu saling bergantung secara ekonomi
sehingga kita enggak bakal saling bunuh.
Soalnya kalau gua bunuh lu nanti gua
enggak dapat beras dari lu. Kalau gua
serang si X gua nanti enggak punya batu
bara dari lu karena gua butuh PLN, butuh
listrik. Itu yang diciptakan oleh Uni
Eropa dan terbukti berhasil. Berhasil.
Sekarang, sejak tahun
1945 sampai sekarang itu tidak ada lagi
perang di Eropa. Padahal di Eropa itu
takdirnya setiap 10 tahun sekali itu
perang, perang, perang, perang, perang,
perang. Tapi sejak 1945 sampai detik ini
enggak ada lagi yang namanya
perang-perangan. Itu realitanya. Jadi
berhasil enggak? Berhasil. Jadi ternyata
saling ketergantungan ekonomi itu bisa
menciptakan situasi geopolitik yang
lebih damai. Tenang. Jadi trilema
ekonomi itu dua tercapai. Tetapi apakah
tercipta keamanan ekonomi? Tidak. Jadi
ekonominya juga tidak aman. Karena apa?
Ya, karena dia bergantung. Tapi kalau
dia tidak menggantungkan stabilitas
ekonomi dia, yang terjadi apa? Dia akan
berpikir bagaimana menaklukkan negara
lain untuk mendapatkan batuaranya.
Bagaimana Indonesia berpikir untuk
menguasai Australia supaya menguasai
daging sapinya? Iya dong. Tapi dengan
menciptakan situasi bisnis yang
kondusif, saling bergantung apa yang
terjadinya negara-negara ini. Oke, lu
suply gua ini, gua kasih lu itu. Nah,
jadi Lawrenceong kasih contoh yang
sangat baik karena tiga itu enggak bisa
koeksis bersamaan. Enggak mungkin.
Enggak mungkin negara itu yang saling
tergantung ekonominya dan sangat tahan,
sangat kuat ekonominya bisa terjadi
ketika
terjadi isu atau masalah geopolitik, ada
ketegangan di situ, ada kompetisi
geopolitik, enggak bisa. Tetapi dalam 50
tahun terakhir ya itu bisa terjadi.
Kenapa? Karena geopolitical tension,
persaingan geopolitik itu hilang, enggak
ada. Makanya orang merasa nyaman, saling
berdagang satu sama lain, merasa tenang,
merasa percaya karena hilang tuh satu
unsur yang namanya ketegangan
geopolitik. So, negara-negara bisa
merasa tenang, berdagang satu sama lain,
saling menggantungkan ekonominya satu
sama lain tanpa perlu memikirkan tentang
political tension. Dia enggak perlu
berpikir, "Oh, ini negara
hobinya. Oh, ini
negara, oh ini negara nuklir. Oh, ini
negara enggak ada. Enggak ada." Itu
dagang is dagang. Makanya, Teman-teman,
jangan kaget kalau lu bicara nih 10
tahun yang lalu listrik di Jerman dari
mana? Dari Rusia. Tapi detik ini orang
Jerman salaman sama Rusia pun og. Tapi
zaman dulu Jerman ya sangat bergantung
dengan Rusia. Mereka bisa lakukan itu
karena tidak ada geopolitical tension.
salah satu unsur dari trilema ekonomi
teori itu. Nah, karena sekarang timbul
ketegangan politik dan negara-negara
mulai tidak lagi merasa aman secara
ekonomi, maka akan semakin banyak
pemerintah, negara-negara yang
menggunakan instrumen ekonomi mereka
seperti Donald Trump ini menggunakan
instrumen ekonomi yang namanya tarif
untuk kepentingan nasional.
bukan lagi untuk kepentingan market
menciptakan perdagangan dunia yang
nyaman, yang stabil, tidak. Tetapi akan
semakin banyak negara-negara yang
mindsetnya adalah yang penting negara
gua aman dulu, yang penting negara gua
sustain dulu, yang penting gua ketahanan
pangan, gua ketahanan energi, gua
ketahanan ekonomi, gua tidak mau
bergantung dengan negara lain. Bahaya
nih. Karena udah geopolitik udah makin
ekstrem. Akibatnya apa? Negara semakin
fasis, semakin nasionalis, dan dia akan
semakin mengungkung dirinya sendiri.
Itulah yang sedang terjadi di Amerika
Serikat. Itu kesimpulan yang gua tarik
nih dari pembicaraan dengan Lawrence
Wong nih. Ini menurut gua betul dan ini
sedang terjadi dan itu juga terjadi di
mana-mana. Di Indonesia pun begitu.
Faktanya teman-teman kalau lihat berita
kemarin ada negara Malaysia rakyatnya
itu kelaparan, panen beras gagal. Harga
beras naik drastis di sana. Di Jepang
harga beras itu udah di atas Rp100.000
per kilo. Gila enggak? Malaysia ke sini
tergopoh-gopoh menangis seperti pengemis
minta beras sama menteri Amran. Menteri
Amran, Menteri Amran, kasihan kami mau
makan Menteri Amran. Lalu apa yang
dilakukan Menteri Amran? Ya tentu saja
ya dia membela kepentingan bangsa kita.
Seperti teori yang dikatakan oleh
Lawrence Wong ini. Dia sudah memprediksi
masa depan nih. Ya tentu saja ya
pemerintah kita itu bilang menteri,
"Sori banget kita memprioritaskan perut
rakyat Indonesia dulu. Sori banget ini
juga kejadian loh. Di India juga gitu.
Dulu kita sempat mau impor, tapi
negara-negara seperti India menutup stok
beras mereka. So, itu dilakukan sama
kementerian kita. Jadi, di situ lu bisa
lihat ya jadi kenyataan apa yang
dibilang Lawrence Wong. Tetapi ya
berbahagialah rakyat Malaysia karena
ternyata Presiden Prabowo memiliki belas
kasihan. Ya, tetapi poin yang gua mau
bilang di sini apa? Bahwa memang betul
negara-negara makin memikirkan tentang
dirinya sendiri. Kalau dulu mereka masih
okelah impor daging dari Australia,
okelah impor jagung dari luar negeri,
okelah impor beras dari Thailand, dari
Vietnam, dari India. Tapi sekarang
negara-negara udah makin mengungkung
dirinya. Yang penting rakyat gua makan
dulu. Yang penting rakyat gua ada
listrik, ada energi. Gua harus jaga
sumber energi gua. Gua harus jaga bahan
pangan gua. Itu realita. Ya, jujur aja
nih gua ya, kita itu harus bersyukur.
Kenapa? Karena ramalan politik ini
menjadi kenyataan.
Lu bayangin kalau stok beras kita hari
ini kosong, 280 juta orang harus dikasih
makan. Ya kali lu minta ke Singapura
dikasih atau ke Malaysia, Malaysia aja
pusing kasih makan rakyatnya. Makanya
kan dari kemarin tuh banyak orang
mengomplain program food estate lah atau
apalah. Ya, suka enggak suka memang
walaupun programnya kita enggak bisa
bilang 100% berhasil juga suka enggak
suka memang kita harus lakukan itu
karena dunia sedang bergerak menuju
krisis pangan. Apa jadinya kalau kita
gak bisa kasih makan ratusan juta
penduduk? Oh ya, ngeri banget ini.
Banyak mulu nih yang harus dikasih
makan. Strategik menurut gua ini salah
satu hal yang strategik dan memang harus
berhasil. Ya, kita beruntung ya, Menteri
Anak itu ya model-model Menteri Amran
inilah yang memegang bisnis pertanian,
mengembangkan industri pertanian di
Indonesia. Jujur menurut gua salah satu
menteri yang capable ya menteri Amran
nih. Bukan menteri abal-abal tuh kayak
toko sebelah tuh yang hobinya Indonesia
gelap. Oh bagus gitu. Lu aja yang gelap
atau oh Indonesia rakyatnya kabur ke
luar negeri? Ya kabur aja dulu. Enggak
usah balik lagi ke sini. Siapa lu? Kita
enggak butuh lu. Kacau negara ini kalau
semua menterinya cap kaki lima model
begitu. Tetapi Menteri Amran ini ya
syukurnya ya programnya kita bisa bilang
berhasil ya. Mungkin tidak bisa
memuaskan semua orang lah udah pastilah.
Tapi ya kita bisa bilang kalau Malaysia
aja sampai mengemis beras ke Indonesia
berarti ada sesuatu yang salah dengan
pemerintah. Manajemen pemerintah
Malaysia. Manajemen pangan di Malaysia.
Ada yang salah di situ dan ada yang
benar dengan sistem manajemen pangan
yang ada di Indonesia. Ya itu fakta aja
ya. Kalau enggak Malaysia mengemisnya ke
Thailand dong, ke Vietnam dong. Ya, dia
minta ke Indonesia. Kenapa? Karena dia
udah lihat Indonesia berkelimpahan.
Indonesia berhasil meningkatkan
produktivitas berasnya. Weh, boleh juga
nih. So, kita lihat y next. Apa kata
Lawrence Wong? I've just shared what I
think is sobering but a realistic
assessment of our concerns happening
globally. For a small open economy like
Singapore, these global developments are
deeply worrying. Our prosperity has
depended on a stable rules-based global
order and the free flow of trade,
capital, people and ideas. As the old
order phrase, a new one will eventually
emerge. It is likely to be more
multipolar, less coordinated and more
contested. It will not be shaped by the
grand designs of a single superpower nor
by a harmonious Concord of all the major
powers but more by the actions and
choices of many different players. And
despite our limitations as a small
state, we cannot afford to be a passive
bystander in this evolving landscape.
Instead, we must respond with agility
and resolve and actively shape our own
destiny. And Singapore today is not
without agency. We are better resourced,
more capable, more connected than we
were in 1965. Eh, menarik nih, Guys.
Tahun 1965 seingat gua itu tahun di mana
terjadinya transisi G30 SPK. Itu kenapa
Lawonong tiba-tiba ngomong 1965 ya?
Anyway, dia bilang gini ya, perkembangan
global saat ini dunia sangat
mengkhawatirkan terutamanya bagi
kemakmuran Singapura karena pada
dasarnya negara Singapura itu
sangat-sangat bergantung sebagai negara
jasa menjadi hak perdagangan dunia, Hub
finansial dunia. Negara Singapura sangat
bergantung pada tatanan global yang
stabil. Dan tatanan global yang stabil
ini bisa terjadi karena ada negara yang
super power yang mengontrol semuanya
dengan aturan main yang dibentuk,
di-shape oleh satu negara itu. Tetapi
sekarang kita sudah lihat negara itu
menghilang dan enggak ada negara lain
yang bisa take over. Artinya tidak ada
lagi satu pemain tunggal di mana-mana.
Orang lebih senang kalau permainannya
itu lebih teratur, lebih tertib. Ada
satu yang bikin aturan kita sepakati
bersama. Tetapi sekarang kita sudah
masuk di era tidak ada lagi pemain
tunggal peraturan tunggal. Semua orang
akan bermain dengan gayanya dan caranya
sendiri. Ini bahaya. Dan karena hal ini
sudah pasti akan terjadi menurut
Lawrence Wong, Singapura tidak bisa
menjadi pasif. Cuman penonton, pengamat
yang diam aja. Tetapi Singapura harus
merespon dengan tangkas, dengan gesit.
dan harus bergerak secara aktif
membentuk menentukan nasib mereka
sendiri. Hebat ini kode kode keras bahwa
Singapura siap bergerak dan akan
bergerak. Artinya teman-teman akan
melihat Singapura yang sekarang jauh
berbeda dengan Singapura 20 tahun yang
lalu. Di sini juga kasih segi kode
Singapura saat ini jauh lebih baik, jauh
lebih kuat. jauh lebih mampu
dibandingkan Singapura di tahun
1965. Lu sudah ngerti dong maksudnya
apa? Indonesia hari ini apakah masih
sama dengan Indonesia di tahun 1965 yang
seorang presiden bisa jatuh hanya karena
setuju menjatuhkan negara itu? Nyambung
enggak lu yang mau dibilang Lawrence
Wong ini? Tadi dia udah bilang
realistically, dia bilang in reality
mereka di belakang layar para pemimpin
ini ditelepon, ditekan, ditodong ambil
posisi. Artinya guys, Singapura siap
diserang. Dia mau ambil posisi nih. Dia
enggak mau lagi jadi pemain yang netral.
Dia mau bergerak dan dia tahu udah mulai
banyak pergerakan di bawah. Sekarang gua
jadi jelas kenapa gua minggu depan tuh
diundang untuk datang ngobrol sama
kementerian di Singapura, Guys. Makanya
kita bakal bikin meeting di Singapura.
Teman-teman yang di Singapura datang.
Gua juga menarik untuk mengkaji ya lebih
dalam lagi bagaimana kemampuan Singapura
buat navigasi nih di era Perang Dunia 3.
Hebat Singapura hebat. Kalau menurut
kalian, Guys, ini gua nanya dari hati
ya. Artinya nih kalau Lawrence Wong aja
udah ditodong pistol nih. Dia ngomong in
reality.
Kita ngomong real nih. Indonesia menurut
lu sebaiknya jadi budak Amerika Serikat
atau jadi budak Cina? Lu harus ambil
keputusan lu akan pilih yang mana. Oh
enggak, Pak. Indonesia politiknya bebas
aktif. Ini bukan dunia fantasi, Guys.
Ini yang mau dibilang sama Lawens Wong.
Be realistis. Udah enggak bisa lagi lu
menjadi orang yang pasif, penonton,
netral. No. Lu harus respon dengan
tangkas. Lu harus aktif bergerak, lu
harus berani ambil posisi. Dan artinya
Singapura sudah menentukan nih geraknya
mau ke mana. Ee gua sih bisa tahu sih
Singapore arahnya ke mana dengan
kode-kode yang dari tadi Lawrence Wong
bilang. Tapi sekarang pertanyaan ini
buat lu lah. Menurut kalian kita polling
nih di bawah nih. Indonesia
pilihannya menurut kalian para penonton
Benix sebaiknya menjadi budak Amerika
Serikat atau budak Cina? Tulis di kolom
komentar di bawah ini dan kasih alasan
kamu apa kenapa kita harus memilih salah
satu itu. Kalau Lawens Wong jawabannya
baik. Dia kan gayanya gaya politisi.
Tadi gua bilang milih ikut kubu siapa,
lu pilih ikut siapa, posisinya di mana,
gitu. Enggak ada gitu. Lu ril aja. Jadi
budak siapa? Negara Indonesia harus jadi
budak siapa? Menurut kalian yang mana?
Dan kalau Indonesia sudah menentukan
posisinya, menurut kamu Indonesia sudah
siap belum masuk ke era perang dunia 3?
Siap dari segi energi, mati lampu enggak
kita kalau terjadi perang dunia 3? Siap.
Dari segi teknologi informasi, handphone
lu masih bisa dipakai enggak kalau
terjadi perang nuklir? Kalau
satelit-satelit ditembak? Hmm. Siap
enggak? Siap. Dari segi ketahanan
pangan, negara bisa enggak kasih makan?
Kalau seandainya India memutuskan join
dengan Amerika, Thailand memutuskan join
Cina, Vietnam memutuskan join Rusia.
Intinya Indonesia siap enggak menurut
kalian di Perang Dunia 3? Jadi, tentukan
pilihan kamu dengan bijak. Menurut
kalian sebaiknya Indonesia masuk yang
mana? Ya, artinya kan menjadi lawan dari
kubu yang sebelah. Seru nih, Guys. Oke,
Guys. Semoga video ini bermanfaat.
Ditunggu komentar kalian di bawah ini.
Segera share video ini ke teman-teman
kalian karena yang ngobrol di sini ini
sudah pejabat tertinggi Singapura.
Ditunggu like, share, and comennya ya,
guys. Semoga video ini bermanfaat. Salam
sehat, salam cuan. Bye bye.
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:07:02 UTC
Categories
Manage