The Louis Vuitton Story: From Luggage Boy to Global Luxury Giant
yxRTb_YsCmw • 2025-04-27
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo, Guys. Lu tahu tujuh strategi Louis Vitong supaya dia bisa menjadi brand yang paling terkenal di dunia selama ratusan tahun. Kalau lu penasaran jangan diskip video ini. Let's check this out. Kamu tahu dong salah satu merek yang paling terkenal di dunia itu namanya Louis Vitong LV. Semua orang itu bermimpi untuk bisa membeli produk-produknya LV. bahkan selebritis-selebritis ternama yang ada di Indonesia maupun yang ada di luar negeri ya, mereka semua pengin banget dan suka banget untuk membelanjakan duitnya untuk membeli produk-produk dari Louis Vitong. Nah, kenapa mereka suka banget dengan LV? Apa sih yang membuat LV ini begitu menarik dan paling penting? Kok Benix bahas Vitong buat apa? Karena kita channel investasi. Kalian harus tahu LV itu begitu luar biasa besar sampai mereka punya market cap alias valuasinya itu bisa mengalahkan bank-bank besar yang ada di Indonesia. Teman-teman tahu per detik ini valuasi Louis Vitong itu ada di 5.500 triliun alias 5,5 kuadriliun. Ini jauh lebih besar dibandingkan emiten di IASG yang paling keren yang namanya Bank BCA. Valuasinya sekarang cuma sekitar 1 kuadriliun. Artinya valuasi LV ini 5 kali lipat lebih besar dibandingkan Bank BCA. Nah, kalau lu bandingkan dengan bank lainnya yang punya negeri namanya Bank BRI. Bank MBRI market cap-nya cuman 500-an triliun. Artinya dia punya market cap cuman 10% dari market cap-nya Luis Vitong. Makanya penting banget buat kita pelajari ya studi kasus kisah suksesnya Luis Vitong ya. Harapannya ya supaya ada nih perusahaan di Indonesia yang bisa membangun bisnisnya lebih besar bahkan dibandingkan Louis Vitong. Nah, buat teman-teman yang penasaran ya, yang menikmati kekayaan terbesar tiap kali lu beli tasnya Luis Vitong itu sebetulnya bukan lagi keluarga Vitong, tetapi keluarganya Bernard Arnold. Kenapa? Karena dia udah beli sahamnya Louis Vitong. So, kalau lu lihat Bernard Arnold ini adalah orang terkaya nomor lima di dunia. Jauh lebih kaya dibandingkan Warren Buffett, dia cuma nomor 6. Lalu ada Larry Page, pendirinya Google, dia nomor 7. Kekayaan Bernard Ornok per hari ini itu mencapai 2.800 triliun. Sementara Warren Buffet itu cuma 2.500 triliun dan Larry Page itu cuma 2.300 triliun. So, gimana sih sejarah Louis Vitong sehingga mereka bisa sesukses sekarang? Nah, ini semua bermula dari kisah seorang petani di Prancis. Jadi pada masa kecilnya Luitong ya, Lu Fitong ini lahir dari ayah seorang petani dan ibu seorang tukang giling gandum yang sayangnya meninggal saat usia Louis Vitong baru 10 tahun karena dia lahir dari keluarga yang miskin dan menjadi anak yang piatu ya. Jadi dia dibesarkan sama bapaknya, ibunya mati ketika dia masih muda. Maka dari usia yang sangat-sangat muda, Livitong ini harus kerja keras, Guys. Kerja rodi. Bahkan dia mulai bekerja di usia 13 tahun dan karena bosan dengan kehidupan di daerah terpencil dan dia punya ibu tiri yang sangat hardcore, Lou. Vitong akhirnya meninggalkan rumahnya dan pergi kabur berjalan kaki ke Paris menempuh perjalanan sejauh 469 km. Nah, karena jaraknya sangat jauh, Louis Vitong itu membutuhkan waktu 2 tahun untuk berjalan kaki nih sampai di Paris. Dan dalam perjalanannya menuju Paris, ia pun melakukan berbagai pekerjaan sambilan untuk menghidupi dirinya. Nah, Teman-teman ya, kenapa Louis Vitong itu harus jalan kaki? Ya tentu karena zaman itu cuman orang kaya lah yang punya kuda atau bahkan kendaraan seperti mobil. Nah, lu bayangin ya umurnya masih 13 tahun harus jalan kaki 400-an km dari Anca. Itu kota kecil yang ada di selatan d sebelah tenggaranya lah. Sebelah tenggaranya Prancis, south east-nya Prancis. Lebih dekat ke Swiss sebetulnya. Tetapi kenapa dia harus pergi ke Paris? Sama seperti di Indonesia. Kalau lu mau maju, lu enggak bisa. Lu lahir di Papua terus lu berharap lu tambah sukses, kaya raya, sejahtera. Wow. Kalau lu tetap stay di Papua atau lu tetap stay di Sumatera atau tetap stay di Sulawesi, mayoritas orang kalau mencari peruntungan merubah nasibnya harus pindah ke Jakarta, ibu kota negara. Itu pun yang dilakukan oleh Luis Vitong. Dia sudah lihat keluarganya menderita sekali kehidupannya sebagai petani. Jadi dia mau merubah nasib, dia harus pergi ke ibu kota dengan cara apapun. Ya, dia udah coba sih cara pakai ambil kendaraan, angkot atau pesawat, tapi zaman itu ternyata belum ada, Guys. So, dia lakukan modal kakinya sendiri. Secara teoritis, kalau lu lihat di Google Map ini, lu niat banget jalan kaki dari ujung Jura tuh, dari Ancai ke Paris itu lu butuh waktu 94 jam. Ini kalau nonstop ya, lu kayak robot enggak perlu makan ke WC, minum, enggak usah jalan terus. Lu butuh waktu 94 jam alias sekitar 4 harian lah buat lu bisa menyelesaikan. Itu sangat tidak logis ketika yang jalan ini adalah bocil umur 13 tahun yang ada bisa mati ya. So apa yang dia lakukan? Dia jalan itu pelan-pelan selangkah demi selangkah demi selangkah. Dalam perjalanannya dia melakukan begitu banyak pekerjaan mulai dari pembersih sepatu, nyapu jalan, bantuin orang angkat-angkat barang-barang di toko, dan lain sebagainya. Jadi itu yang dilakukan oleh Luis Vitong supaya bisa merubah nasibnya dia lakukan itu selama 2 tahun. Jadi lu bayangin ini bocah anak kecil sambil jalan, sambil kerja nyari duit enggak pantang menyerah diperbudak kayak apapun dia disuruh bersihin kotoran kuda pun dia mau hanya demi bisa jalan kaki ke Paris. Nyambung hidup sambil makan sambil minum. Dia berkali-kali pun harus terpaksa tidur di kandang babi. Guys, ini luar biasa nih perjuangan seorang anak petani yang namanya Luis Vitong. Dia lakukan itu secara konsisten selama 2 tahun. Pada akhirnya dia sampai di Paris di tahun 1837. Di tahun 1837, Louis Vitong akhirnya tiba di Paris dan ia pun bekerja sebagai pembuat kotak dan kemasan di salah satu toko kerajinan merek ternama di Paris, yakni Monsor Mareile. Di sana ia menjadi salah satu pengrajin terbaik di kota itu. Di tahun 1853 saking bagusnya kualitas kerajinan yang dibuat oleh Louis Vitong, ia diangkat menjadi pembuat kotak dan pengepak pribadi permaisuri Prancis saat itu, yaitu Eugene de Montio, istrinya Napoleon Bonaparte. Jadi, lu lihat ya, contoh orang yang betul-betul menekuni satu bidang. Dia lakukan itu dengan serius sampai meningkatkan eksertis-nya sehingga mampu menghasilkan barang sangat berkualitas. kerjanya pakai hati nih, Guys. Enggak serampangan. Apa yang terjadi? Dia ditengok hasil karyanya oleh keluarga kerajaan. Istrinya Napoleon Bonaparte saat itu orang yang paling berkuasa di planet bumi. Lu bayangin pakai produk buatan tangannya Livitong. Pada akhirnya di tahun 1854 dirinya menikahi Clemens Emilie. Ini membawa cuan nih buat dia karena dia kemudian berani untuk mendirikan tokonya sendiri. Sampai pada akhirnya di tahun 1867 dirinya dianugerahi medali perunggu oleh sebuah pameran yang diselenggarakan oleh Napoleon Bonaparte. Jadi di sini kita bisa lihat ya bagaimana kegigihan Louis Vitong ini buat merubah nasibnya. Dia rela melakukan pekerjaan apapun supaya langkah kaki kecilnya bisa terus berjalan dari ujung desa ke ibu kota Perancis dan sampai pada akhirnya dia dilirik langsung oleh Napoleon Bonaparte. Sayangnya, Guys, di tahun 1870 sampai 1871 itu pecah perang Prusia. Nah, dari namanya lu sudah tahu ya Prusia ini bukan Rusia. Prusia ini maksudnya adalah Jerman. Di situ Prancis berperang melawan Jerman. Dan di sini toko pertama Luis Vitong habis dibakar oleh tentara Jerman. Tetapi guys sekali lagi ya, karena Luis Vitong ini memiliki tekad yang sangat kuat dan tidak pernah kenal yang namanya kata menyerah. Di tahun 1872, Louis Vitong kembali membuat koper buatannya sendiri dan dia mengenalkan koper terbarunya yang berhasil menarik minat para kaum elit. Dan kemudian di tahun 1889, Louis Vitong kembali memenangkan penghargaan bergengsi yang membuat mereknya semakin terkenal di kalangan elit Eropa. Hingga pada tahun 1892, Louis Vitong meninggal dunia, barulah di sana anak laki-lakinya George Vitong mengambil alih toko Louis Vitong. Dan George Vitong di tahun 1900 berhasil menumbuhkan bisnis elvie sampai dia memiliki karyawan lebih dari 100 orang. Dan ini dilanjutkan, Guys. Sampai mereka kemudian di tahun 1914 berhasil buka toko baru lagi di jalan raya yang sangat terkenal di Paris, Prancis yang namanya Shang Elise. Ini jalan yang sangat lebar kayak Broadway dan di situ dia berhasil buka toko, harganya sangat mahal dan dia berhasil membangun Louis Vitong menjadi brand tas yang paling populer hingga saat ini. So, gimana sih strategi Louis Vitong sehingga dia berhasil menjadi brand mewah yang bertahan hingga 100 tahun lebih? Yang pertama itu konsisten dengan produk berkualitas terbaik. Salah satu kunci mengapa LV bisa bertahan lama sejak zaman revolusi Prancis hingga saat ini adalah karena LV memproduksi barang-barang mewah dengan kualitas yang sangat baik. Terlebih karena produk-produk LV juga diwajibkan melewati proses quality check yang sangat panjang. Salah satu contohnya gini, Guys. Sebelum tas ALV itu dijual sama lu, ya tas LV itu wajib tahan beban. Jadi, tas-tas tangannya LV yang buat cewek-cewek itu dibisi barang beratnya sampai 3,5 kg lebih digoyang-goyang dan enggak boleh rusak, enggak boleh kendor benangnya. Itu dicek quality checknya. Dan mereka juga wajib tes buka tutup resleting tas LV kamu itu sampai 5.000 kali minimal. Kalau terjadi kerusakan, resetinya rusak, benangnya kendor, gagangnya lepas, tukar bikin baru. Nah, itu standar kualitas Louis Vitong itu betul-betul luar biasa. dicek. Bukan hanya bikin tas langsung dijual, enggak. Mereka cek, dites beratnya, ditesletingnya, dites bahannya. Itu semua dilakukan karena Louis Vitong memiliki standar yang sangat tinggi. Nah, yang kedua ciri khas LV itu dibuat dengan handmade. Jadi, bikinan tangan dengan bahan baku yang paling bagus. Jadi, selain LV terkenal karena membuat produk yang berkualitas, mereka juga terkenal karena semua bahan baku yang digunakan merupakan kualitas terbaik. Proses pembuatannya pun masih handmade sehingga setiap detail produknya amat diperhatikan. Diketahui produk LV dibuat menggunakan teknik kulit khusus. Sangat tidak main-main, Guys. Total proses yang dilewati selama produksi barang LV ialah 350 bagian yang berbeda. Mulai dari tahap pemilihan kulit sebagai bahan baku hingga proses kontrol kualitas akhir. Jadi, setiap bagian kulit yang akan digunakan untuk produksi harus dipoles dua kali sehari dengan batu akik. Jadi bisa menciptakan efek glasir yang amat halus pada bagian permukaannya. Jadi teman-teman bayangin ya, lu kalau pegang tas kulitnya Lu Vitong itu beda dengan tas-tas kulit pada biasanya yang kayak kasar-kasar gimana. Tapi tas kulit Lou Vitong itu harus dipoles dua kali sehari. Ini udah kayak minum obat ya dari dokter ya, lu harus poles dua kali sehari dan jenis batu akiknya pun dipilih hanya yang kualitas terbaik. Dan ini melahirkan apa? Syarat yang ketiga, LV memiliki identitas merek yang sangat kuat. Jadi, salah satu strategi bisnis yang dilakukan oleh LV untuk menjaga kelanggengan mereknya sejak dahulu kalah hingga saat ini yaitu menciptakan branding atau identitas merek yang kuat. Dalam hal ini LV menggunakan logo, simbol atau monogram merek yang didesain khusus untuk merepresentasikan brand mereka. Jadi pelanggan sudah bisa mengenali produk Louis Vitong hanya dengan melihat signature yang ditandai dengan inisial LV. Maksudnya gini, Guys. Ini punya brand yang sangat kuat. Itu kayak lu melihat monogram LV itu yang warnanya coklat tua dengan coklat muda selang-seling seperti papan catur. Orang kalau lihat itu saking kuatnya brand image LV, dia udah tahu, "Oh, itu LV." Enggak perlu dia pun tulis Livitong, orang udah lihat monogram, coklat muda, coklat tua, papan catur. Oh, itu LV. So, begitu powerfulnya brand image-nya LV ya. Salah satunya juga karena tasnya mereka di era zaman perang Eropa dulu, orang-orang elit kalau pergi liburan segala macam itu tasnya itu kan sering dilempar-lempar sama kurir karena naik kereta kuda. Dan salah satu tas yang bertahan ketika dilempar-lempar itu ya tas buatannya LV. Jadi memang mereka terkenal mempunyai tas khusus koper ya. Pada saat itu punya kualitas yang sangat-sangat baik karena daya tahannya itu sangat tinggi. Nah, di era sekarang masuk era digital ya, LV itu bisa tetap relevan dengan zaman. Kenapa? E, bentar, Guys. Bentar, Guys. Sebelum kita lanjut videonya, good news guys, Kalau Samen season 7 kembali dibuka nih. Jadi buat teman-teman yang belum sempat join yang season 6, kita sekarang udah masuk ke season keet7uh dan ini seru banget karena tahun ini kita membahas tentang energi terbarukan. So, teman-teman tahu enggak orang kalau ngomong energi di Indonesia ini cuman ada batu bara atau minyak bumi. Tetapi sekarang kita sudah masuk ke era di mana saham-saham perusahaan yang prospek itu justru datang bukan dari batu bara lagi, tapi dari energi terbarukan. Dan banyak loh sebetulnya energi terbarukan. Ada lu ngomong minyak sawit, ada namanya gas bumi, ada namanya tenaga surya dari matahari termasuk tenaga air. Dan masih begitu banyak lagi yang belum kita bahas. Nah, makanya di season 7 ini kita akan membahas saham-saham yang sangat prospek, investasi yang menurut gua sangat menarik buat kita pelajari bersama. Hanya di Skola Sambenix season 7 tentang emiten-emiten dan prospek prospek yang luar biasa dari sektor energi terbarukan. Makanya jangan sampai ketinggalan, Guys. Segera buruan daftar karena kita ada promo nih diskon 25% hanya untuk 50 orang pertama yang daftar sebelum 25 April 2025. So, tunggu apaagi, Guys? Buruan yuk, segera hubungi nomor handphone yang ada di bawah ini atau www.skalashambenix.com. Karena dia sering banget melakukan strategi yang keempat, bermitra dengan orang-orang terkenal. Ini penting karena dia melihat akhirnya brand kita bukan lagi dikenal karena ketangguhannya, tetapi dikenal karena kualitasnya dan orang-orang penting yang menggunakannya. Selebritis eh bahkan istrinya Napoleon Bon parte Parte pakai tas merek LV. Lu bayangin mereka punya heritage sekian lama bersama elit-elit global yang ada di Eropa. Jadi sebenarnya BL Elv ini sudah dikenal sebagai produk mewah sejak dahulu kala karena banyak digunakan oleh para bangsawan di Prancis. Maka hingga kini Elvi pun terus mempertahankan kelas bisnisnya di kalangan orang-orang terkenal. Jadi citra mereknya sebagai produk desainer yang mewah dan mahal bisa terus melekat. Nah, salah satu strategi yang diterapkan ialah dengan menggandeng orang-orang terkenal sekaligus berpengaruh sebagai mitra untuk memasarkan produknya. Contohnya artis Rihanna dari Amerika Serikat. Lalu ada Lisa Blackpink tuh dari Korea Selatan sampai di orang Korea loh di-endor sama perusahaan Prancis. Lalu ada Emma Watson, bintang film Hollywood dan masih banyak lagi lah. Mereka semua diundang dan diajak untuk bekerja sama dengan Elvie. Dan satu yang paling penting, Guys, karena udah tahu brand image-nya seperti apa, brand positioning-nya seperti apa, mereka akhirnya menerapkan strategi yang kelima, yaitu apa? Menjaga eksklusivitas merek dengan tidak pernah memberikan diskon. Oh, ini ekstrem. Banyak orang yang suka nunggu yang enggak ngerti ya. Mereka nunggu tunggu liburan Natal, tunggu tahun baru, tunggu lebaran supaya toko LV itu yang di Pacific Place itu mau ngasih diskon. Tidak ada, Bro. yang namanya LV itu tidak ngasih diskon karena apa? Itu masalah merek. Bukannya mereka gak mau penjualannya naik, no. Tapi mereka mau menjaga eksklusivitas produk mereka. Kenapa mereka berani melakukan itu? Karena semua produk yang dihasilkan LV merupakan barang dengan bahan baku terbaik dan melalui proses produksi yang berkualitas tinggi. Tidak hanya itu juga loh, eksklusivitas sangat amat dijaga dengan cara mengembalikan semua produk yang tidak laku ke pabrik di Prancis. mau itu tas, baju, sepatu, pokoknya lainnya yang enggak laku lah. Itu bakal dipulangkan ke pabrik untuk dihancurkan. Nah, strategi ini yang enggak banyak dilakukan oleh brand-brand kelas menengah ya. Kayak banyak tas-tas kelas menengah kalau lu tahulah kayak cat, coach, apa segala macam itu bernyalting tuh dibanding barang yang enggak laku udah ganti season kita kasih diskon lah. Tapi enggak begitu kalau lu ngomongin LV, oke tasnya enggak laku, gimana bos? Bakar, buang, hancurkan. Kenapa enggak dikasih diskon? Jangan, justru bagus. Kalau dibakar jadi barang langka. Kalau lu jual diskon makin banyak orang yang pakai tasie. Jadi enggak keren lagi nih barang kalau semua orang jadi bisa pakai. So lebih baik dibanding kita buang ke barang diskon, toko-toko diskonan, lebih baik barang kita kita hancurkan. Oh, hebat ya. Nah, yang keenam, strategi LV itu adalah berani melakukan ekspansi bisnis ke berbagai wilayah. Mereka tidak bermain di zona nyaman hanya di Paris, Prancis, di Song Elise. No, mereka berani buka cabang di mana-mana. Jadi, selain pintar menjaga keeksklusifan, LV juga melakukan ekspansi bisnis besar-besaran melalui pendirian toko di berbagai wilayah yang potensial. Hingga saat ini sudah ada banyak sekali toko LV, Guys, di berbagai negara di dunia. Totalnya ada sekitar 460 toko yang tersebar di 50 negara dunia. Dan toko LV yang terbesar ini ada terletak di 101 Avenue The Shang Elise Paris Prancis dengan luas sekitar 1800 m². Nah, toko ini guys gua udah pernah datangin ya. Begitu luar biasanya toko yang ada di Song Elise itu lu harus ngantri sampai ke trotoar yang ada di luar. Ngeselin memang, Guys. Tapi itulah brand strategi yang dilakukan oleh LV supaya orang-orang yang lewat di Song Elis itu ngelihat toko apa sih itu kok orang-orang pada ngantri sih di depan. Itu yang dilakukan oleh mereka. Dan ini dicontoh enggak sama brand? Brandline banyak yang mau copy paste, tapi apakah bisa berhasil sebagus LV? Enggak juga. Sangat sedikit yang bisa lakukan itu. Dan lu bayangin ya, ada toko seluas 1800 m². Lu bayangin 1800 m² isinya yang mayoritas cuman tas-tasnya si LV aja. Dan orang ngantri buat masuk ke situ. Gila ini gila banget. Kalau lu lihat toko LV tuh yang ada di Pacific Place atau Plaza Indonesia dan menurut lu itu udah gede, itu salah total, Guys. Yang paling besar itu ada di Paris. Lu jalan aja di tokonya capek. Begitu besarnya tokonya, lu jalan kaki di situ aja udah capek. Ini luar biasa nih, LV. Dan yang bikin ya kalau lu penasaran ya, kok bisa ya bisa lebih gede dibanding Bank BCA loh. Bank BCA dikali 5 aja masih lebih gede LV loh dibanding Bank BCA. Kenapa? Karena mereka berani melakukan strategi yang ketujuh. Mereka sadar diri bahwa apa? Satu itu tidak cukup. Ada begitu banyak loh brand mewah dan terkenal di dunia ini. Kalau LV sukses karena dia fokus di luggage, copper, clutch, pokoknya berhubungan dengan tas, masih begitu banyak ada brand-brand lain di dunia ini yang terkenal di segmennya masing-masing. So, pintarnya apa? LV itu mereka tidak hanya bermain di satu brand, tetapi mereka menaungi banyak brand yang lu mungkin enggak tahu. Sebetulnya yang punya satu rumah juga dengan LV, yaitu apa? Kita ngomong di bisnis fashion sama leather lah, bisnis kulit. Selain Elvie, mereka juga punya sister company nih yang namanya Christian Dior, Fendy, Cellin, Givensi, Louis, Kenzo, Berluti, Mark Jacobs, Loro, Piana, Aqua de Parma termasuk Rimoa. So, teman-teman lu kalau beli koper kan udah tahu koper paling mahal, salah satunya paling gampang juga dipakai, simpel itu namanya Rima. Ternyata Rimowa itu satu rumah dengan Louis Vitong. Wow, unus. Bukan cuman sampai di situ, lu suka minum wine. Wine yang berkualitas, spirit yang berkualitas. Lu ada Mood, ada Viv Click, ada Dom Perinon, ada Hennessy, ada Renard, ada M Hennessy. Itu semua merek itu sama. Bahkan saking hebatnya ya mereka akuisisi sih Louis Vitong ini bikin perusahaan join company namanya LVMH. Sekarang orang kalau bilang perusahaan Louis Vitong itu bukan Louis Vitong lagi, tapi LVMH. Louis Vitong mood Hennessy. Kenapa? AR ternyata duitnya lebih banyak nih pebisnis wine ini. Dan mereka pun ekspansi sekarang bukan hanya main di fashion leather goods, bukan hanya main di minuman alkohol berkualitas tinggi, mereka sekarang juga udah masuk ke bisnis yang berhubungan dengan jam tangan mewah. Teman-teman tahu dong ada merek seperti Bulgari, Tech Her, Hubl, Chamed, Zenit, Fred, Riposi. Itu semua satu rumah dengan LV MH. Dan bukan cuman sampai di situ loh. Hingga saat ini ada 75 brand yang berada di bawah naungan LVMH dengan enam grup bisnis. Mulai dari fashion, anggur, alkohol, parfum, kosmetik, jam tangan, perhiasan, retail, dan berbagai aktivitas bisnis lainnya. So, jangan heran kalau LV bisa sebesar ini karena LV tidak lagi LV tetapi LV MH. Ini merupakan gabungan dari rumah mode Louis Vitong dengan perusahaan sampany mood Hennessy. So, karena mereka punya strategi bisnis yang sangat luar biasa ya, tujuh langkah bisnis LV yang luar biasa itu maka jadi masuk akal nih kalau market cap-nya LV itu lebih besar dibandingkan saingan-saingan lainnya. Contoh, lu pernah dengar mungkin tas yang paling mahal salah satunya Herme. Lu tahu Herme itu cuma berapa sih nilai perusahaannya? Cuma R.600 triliun di bawah LV yang 5.500 triliun. Woi, Hermnya lewat. Kedua apa? Kedua ada lagi namanya kering. Lu mungkin gak pernah dengar ya? Kering. Kering itu bukan kering kerontang, tapi kering ini sebuah rumah mode juga. Dia menaungi brand-brand yang lu pernah dengar seperti Botega, Sonorang, terus Gucci, terus Balenciaga. Makanya lu suka lihat ya artis-artis Gucci. Kadang-kadang di Switch aja tuh tukar-tukar Balensiaga. Gucci, Gucci, Balciaga. Sebenarnya sama belakangnya kering. Nah, kering ini valuasi perusahaannya cuma R58 triliun. Kecil banget. Jadi lu orang pada bangga tuh pakai merek Gucci, ternyata itu cuma seujung kukunya si Louis Vitong yang 5.500 triliun. Bukan sampai di situ, Guys. Lu tahu salah satu brand powerhouse jam tangan terbesar di dunia itu adalah Rolex. Rolex itu di grupnya SA lah, Switzerland lah. Pokoknya agak aneh lah karena Switzerland ini struktur perusahaannya bukan kayak PT ya, tetapi dibikin seolah-olah seperti di bawah yayasan Rolex. Ya tentu alasannya karena pajak lah. Anyway, sahamnya Rolex ini dimiliki oleh kompan Financier Richimond Switzerland. Intinya perusahaan semacam yayasan lah. Dan brand yang dipegang itu bukan cuma Rolex. Rolex itu masih saudaraan loh dengan yang namanya Cartier, Dupon, Montblank sampai Dhill. Jadi dari situ lu ah tahulah fokus mereka di mana. Fokus mereka dibikin jam dan sahamnya per hari ini valuasinya itu cuman R00 triliun. Hei, beda tipis nih sama Bang Beca. Jadi, Bang Beca kalau mau beli Rolex silakan. Cuman beda tipis nih market cap-nya. Oke, Guys. Jadi, udah lihat ya beberapa strategi nih yang diterapkan sama Louis Vitong untuk menjadi brand luxury. Salah satu yang nomor satu di dunia. Nah, kebetulan nih, Guys, karena kita baru aja terima paket lebaran nih dari Ibu Martha. Thank you banget buat kebaikan hatinya. Tapi gua enggak pakai tas. Ini kan tas perempuan yang dikasih. Ternyata beliau udah cuan ratusan persen, Guys, dari saham Bangka Belitung. Kita jadi dapat ya hadiah lebaran ini dapat Tastas LV. Thank you sekali lagi. Tetapi pertanyaan yang paling penting nih, kita harus tanya nih sama kalian. Ada enggak perusahaan di Indonesia ya yang memiliki kemampuan dan strategi yang bahkan lebih baik dari LV untuk membawa merek kita merek nasional, merek di Indonesia, merek lokal menjadi pemain global di dunia internasional. Menurut lu ada enggak ya peluangnya? Ada enggak sih merek lokal kita yang bisa go internasional menjadi brand luxury seperti Louis Vitong ini? Ditunggu ya pendapat kamu di kolom komentar di bawah ini. Ada harapan gak sih bagi brand Indonesia untuk Go internasional menjadi pemain global khusus untuk barang luxury, barang mewah. Kalau ada mention dong di bawah ini brand apa sih dari Indonesia yang berpeluang masuk ke situ? Kalau Indomie kita udah tahulah sukses. Tapi kan bukan main di bidang luxury. Ditunggu ya guys komentar kalian. Semoga video ini bermanfaat. Sekali lagi thank you Ibu Mara. Salam sehat. Salam cuan. Bye bye. Hai sohabat investor. Kalau kamu tertarik dengan konten-konten seperti ini dan ingin tahu lebih dalam lagi tentang Benix, yuk ikuti sosial media kita yang lain seperti beranda Facebook kita di @Benix atau ikuti juga Instagram kita di @benix.official. Ditunggu ya. Kosongelana
Resume
Categories