Kitab Ath-Thahawiyah #45: Berharap & Takut Mana Yang Didahulukan Atau Harus Seimbang
YxSxJyrxr5c • 2026-01-06
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ba'ad. Kita lanjutkan bahasan kita tentang masalah alkhauf dan arraja. Sebagaimana sudah kita bahas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya bahwasanya seorang hamba harus menggambungkan antara alkhauf dan raja. Ya, ibarat kalau burung terbang maka harus ada dua sayapnya. Satu alkhauf rasa takut kepada Allah dan satu arraja berharap kepada Allah. Sudah kita sebutkan kalau seorang khaufnya hanya ada khauf rajnya tidak ada, maka dia akan putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa taala. Tapi kalau dia raja tanpa khauf, dia akan alamnu min makrillah. Dia akan merasa aman dari ee apa? Azab Allah Subhanahu wa taala. Maka harus ada khauf, harus ada arraja. Ada khilaf di kalangan para ulama yang terkait apakah raja atau khauf yang lebih mendominasi. Ya, dalam kondisi apa? Di mana khauf mendominasi atau arraja mendominasi. Tetapi dengan catatan tetap kedua-duanya masih ada pada seorang hamba. Jadi harus ada dua-duanya, ada khauf dan raja. Tapi kapan khauf mendominasi, kapan raja mendominasi? Dan ini pembahasan penting karena termasuk dari amalul qulub. Dikatakan bahwasanya arkan a'malil qulub ada tiga, yaitu alkhauf, arraja, dan almahabbah. Maka seorang ee berusaha dalam setiap ibadahnya selain ikhlas dan ittiba, selain ikhlas dan ittiba, maka ada rukun yang lain yang harus dia perhatikan agar ibadahnya menjadi afdal, yaitu antara khauf dan apa? Dan raja disertai dengan mahabbah. Ya, disebut dengan arkan al-ibadat alqalbiyah, rukun-rukun ibadah hati ya. Jadi dalam setiap ibadah kita salat ada khauf dan raja, kita baca Quran ada khauf dan raja. Kita salat malam ada khauf dan raja. Ya, kita bersedekah ada khauf dan raja. Ya, dan selalu ini beda dengan syarat diterimanya amal saleh. Kalau syarat diterima amal saleh ada berapa? Dua. Yaitu apa? Ittiba dan ikhlas. Ini namanya rukun ibadah hati yang jika ibadah dibangun di atas ee khauf dan raja maka menjadi ibadah yang agung. Ya. Tib. Jadi sekarang khilaf kalangan para ulama tentang kapan khauf di dominasi dan kapan rajak dominasi. Ada sekitar tujuh pendapat. Ini saya carikan dari penjelasan Syekh ee Saleh Sindi hafidahullahu taala dalam syarah thahawiyahnya ya. Pendapat pertama mengatakan selalu khauf dikuatkan dalam kondisi apapun maka selalu khauf yang dikuatkan. Raja ada, tapi khauf yang selalu dikuatkan. Dalilnya nanti kita sebutkan insyaallah. Yang kedua, sebaliknya bahwasanya selalu raja yang dikuatkan. Ada khauf tetapi raja yang dikuatkan dalam kondisi apapun. Dalam kondisi apun raja selalu dikuatkan. Pendapat ketiga dibedakan ketika rakaha yaitu ketika senang lagi sehat lagi banyak duit ya maka khauf yang dikuatkan kata mereka kalau kalau lagi senang tidak khauf khawatir maksiat ya maka harus ada khauf. Sebaliknya ketika dalam syiddah ketika sakit, sulit, menderita, maka rojak yang dikuatkan. Jangan sampai putus asa. Maksudnya jangan sampai putus putus asa. Jadi dalam kondisi lapang dikuatkan rasa takut, dalam kondisi susah dikuatkan harapan kepada Allah. Ini pendapat ketiga. Pendapat keempat, jika sehat atau senang maka seimbang. Jika sehat atau senang maka seimbang antara khauf dan raja. Tetapi jika sakit atau sulit, raja dikuatkan. Ini bedanya antara tiga dan empat. Kalau tiga khauf dikuatkan ketika dalam kondisi sehat. Kalau pendapat keempat, ketika sehat seimbang. Ketika senang khauf dan raja seimbang. Tetapi ketika sakit dan sulit khauf dikuatkan, raja dikuatkan. Pendapat yang kelima, jika sedang taat kuatkan raja. Jika sedang taat kuatkan raja. Yaitu berharap amal diterima. Ketika maksiat, kuatkan khauf supaya berhenti maksiat. Supaya berhenti maksiat. Ini cara pandang para ulama beda-beda. Jadi kata mereka, kalau lagi taat kepada Allah, kuatkan rajanya biar terus semakin semangat ibadah. Kalau lagi maksiat, jangan rojak. Bahaya nanti maksiat terus, tenang, diampuni, aman. Allah maha pengampun, Allah maha penyayang, maksiat terus. Maka harus khaufnya dikuatkan supaya berhenti maksiat. Ya, maksudnya ee ini agar apa? Agar berhenti maksiat. Kalau ini tadi apa? Agar tambah taat. Agar tambah taat. Ya. Kalau tadi jika sakit sulit agar tidak putus asa. Jika sehat seimbang. Ini kalau jika pendapat ketiga, jika senang maka khauf dikuatkan agar tidak tidak maksiat. Agar tidak maksiat. Kalau sakit roja sama agar tidak putus asa. Bab ini ee lima pendapat. Pendapat keenam, jika masih muda raja. Kalau sudah mau mati khauf. Kalau masih muda berharap biar semangat ibadah. Kalau sudah tua saatnya takut supaya apa? Kalau tua berhenti maksiat. Kalau tua berhenti maksiat. Tes tes tes tes. Pendapat yang terakhir, pendapat ketujuh selalu seimbang dalam segala kondisi. Mau sakit, mau sehat, mau mati, mau kuat, mau menderita, mau aman-aman aja, selalu seimbang antara khauf dan raja. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh ee Syikhuna Syekh e Shin Abdul Aziz Sindi hafidahullahu taala. Tib. Dan ini kita berbicara tentang detail-detailnya ibadah hati ya. Dan ini penting, ini pembahasan penting karena kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari kita kontrol antara khauf kita dengan rajak kita. Kita kontrol tayib. Paham? Inilah khilaf di kalangan para ulama tentang kondisi antara khauf dan raja. Sudah kita lanjut ya. Tib. Adapun dalil terkait hal ini, kenapa bisa berbeda pendapat? Karena ada dalil-dalil yang mengesankan setiap pendapat. Seakan-akan ada dalil-dalil khusus, spesifik yang mendukung setiap pendapat. Contoh pendapat pertama, ada dalil-dalil yang mengesankan agar selalu mendahulukan raja. Seperti hadis qudsi Allah berfirman, "Ana indadonni abdi bi falyadunna bi abdi masyaa." Indonna khairon falahu wa syarron falahu. Aku tergantung persangkaan hambaku kepadaku. Ya, kalau hambaku berprasangka baik padaku, maka bagi dia kebaikan. Kalau hambaku berprasangka buruk kepadaku, bagi dia keburukan. Hadis seperti ini mengesankan bahwasanya seorang hendaknya senantiasa berprasangka ba baik dan berprasangka baik mengkonsekuensikan raja. Raja ini hadis mengesankan bahwasanya raja harus mendominasi dalam segala kondisi. Salah satu pendapat dari tujuh pendapat yang tadi kita sebutkan. Contoh juga dalam hadis qudsi kata Allah ya bna adam innaka ma dautani warutani gofartu laka ala maana minka w ubali. Wahai anak Adam, selama kau berdoa kepadaku, selama kau berharap kepadaku, aku akan ampun dosa-dosamu. Dan aku tidak peduli. Dan aku tidak peduli dosamu sebesar apapun dengan syarat kau selalu berdoa kepadaku dan selalu berharap berharap kepadaku. Maka ini juga dalil mengesankan bahwasanya selalu raja atau berharap selalu mendominasi dalam kondisi apapun. Ini salah satu yang menjadikan pendapat kenapa rajak selalu mendominasi. Sebaliknya yang mengesankan selalu menguatkan khauf. Yang selalu menguatkan khauf seperti ayat-ayat terkait keutamaan takut kepada Allah Subhanahu wa taala ya juga hadis-hadis Nabi. Contoh ayat seperti ketika penghuni surga saling bertemu. Kata Allah, "Faqbala ba'duhum ala ba'din yatasaalun qu inna kunna qoblu fi ahlina musfiqinallahu ala waqabum." Maka penghuni surga saling berhadap-hadapan di antara mereka. Saling bertanya-tanya nostalgia tentang bagaimana mereka ketika di dunia. Q. Maka di antara mereka ada yang berkata, "Inna kunna qoblu fi ahlina musfikin." Kami dulu di tengah keluarga kami dalam kondisi takut. Musyfikin maksudnya dalam kondisi apa? Takut. Ya. Ya. Dan Allah memuji orang-orang yang takut kepada azab Allah Subhanahu wa taala. Famanallahu alaina. Maka Allah menganugerahkan kepada kami ya keamanan bahwaum maka Allah selamatkan kami dari azab neraka jahanam. Ayat seperti ini ee mengesankan e bahwasanya khauf selalu didahulukan ya seperti ainani lam tamassahumanar dua mata yang tidak akan dikena oleh api neraka. Ainun ee apa namanya? Di antaranya ainun bakat min khasiyatillah ya. yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Tib. Kemudian ada dalil-dalil yang mengesankan rajak dikuatkan pada kondisi susah. Raja dikuatkan pada kondisi susah. Seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, "La yamutanna ahadukum illa wahua yuhsinudonna billahi azza wa jalla." Jangan sekali-kali seorang dari kalian meninggal kecuali berbaik sangka kepada Allah. Ini Rasulullah sebutkan untuk berbaik sangka secara spesifik ketika akan meninggal dalam kondisi sulit. Berarti ketika dalam kondisi sulit raja hendaknya dikuatkan. Ya, dalil juga kuat ya. Sehingga ada dalil yang mengatakan bahwasanya dalam kondisi sulit rajak dikuatkan, dalam kondisi tidak sulit maka seimbang. Contoh yang mengesankan khauf dikuatkan pada kondisi maksiat. Seperti firman Allah, qul inni aku initubizaba yauminim. Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya aku takut jika aku bermaksiat kepada Rabbku, aku takut dengan azab di hari yang dahsyat. Ini terkait dengan maksiat. Takut kapan? Ketika maksiat, ya. Ketika maksiat. Maka ketika maksiat ee seorang takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Demikian juga kisah lelaki Bani Israil yang ketika dia mau meninggal, dia mengatakan kepada anak-anaknya, "Mittu faahriquunihan. Eh, kalau aku mati maka bakarlah aku wahai anak-anakku. Setelah itu sudah jadi arang, maka tumbuklah diriku." Kemudian taburkanlah debuku di laut dan di udara. Lain qodirallahu alaiya ladzibannani la yuadibuhu ahadan minal alamin. Kalau Allah mampu bangkitkan aku, tentu Allah akan mengazab aku dengan azab yang tidak pernah Allah azab kepada orang lain. Ini orang yang dalam kondisi banyak maksiat maka ketika dia mati dia takut dan dia pengin jangan sampai dia dibangkitkan. Dia ragu Allah bisa bangkitkan. Kalau bisa bangkitkan repot. Maka dia usaha untuk dibangkitkan. Cara usaha untuk tidak dibangkitkan maka dia dibakar, ditumbuk. Debunya bertebaran. Gimana enggak mungkin lagi menurut dia susah. Tiba-tiba Allah berkata, "Ya ardu ya ardu ijmai ma fiki minhu." Wahai bumi, kumpulkanlah bagian-bagian dia. Maka seluruh debu yang sudah bertebaran kembali lagi. Allah proses kembali hidup lagi. Maka Allah berkata, "Ma hamalaka alalik?" Apa yang mendorongmu untuk melakukan demikian? Kata dia, "Khasyataka ya rab. Aku takut kepadamu. Ini menunjukkan ketika dalam kondisi maksiat hendaknya orang mengedepankan apa? Takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Tib. Ada juga hadis yang mengesankan keseimbangan selalu dalam seimbang bahkan ketika mau meninggal dunia. Ini di antara dalil yang menguatkan bahwasanya seimbang dalam hal segala hal. Bahkan ketika akan meninggal dunia dalam kondisi sakit parah. Ada Nabi sallallahu alaihi wasallam menjenguk seorang pemuda yang sedang sakit. Maka Rasul sahu alaihi wasallam bertanya, "Kaifa tajiduka?" Bagaimana kau mendapati dirimu? Dia dalam kondisi sakit. Kata dia, "Wallahi ya Rasulullah, inni la arju arjullah wa akunubi. Sungguh aku sangat berharap kepada Allah dan aku takut dosa-dosaku." Yaitu dia menggabungkan dua-duanya. Saya sedang raja dan juga sedang apa? Takut. faqala nabi sallallahu alaihi wasallam kata ras wasamin ya fial mautin illaullahu ma yarju wa amanahu mimma yakata nabi sallallahu alaihi wasallam tidaklah berkumpul raja dan khauf pada seseorang dalam kondisi seperti ini dalam kondisi sakit sakit parah kecuali Allah akan membuat memenuhi apa yang dia harapkan dan membuat dia aman dari apa yang dia takutkan maka ini dalil menunjukkan seakan-akan Bahkan dalam kondisi sekarat, dalam kondisi sakit pun tetap menyeimbangkan antara khauf dan raja. Paham? Inilah kenapa terjadi perselisihan. Karena ada sudut pandang yang berbeda dari para ulama. Tapi intinya mereka sepakat semua bahwasanya khauf dan rajak harus selalu ada. Cuma kapan mendominasi, kapan didominasi. Ini sesuatu situasi dan kondisi yang tidak boleh kalau salah satunya hilang. Karena kalau salah satunya hilang akan menjerumuskan ke kebinasaan. Apakah masuk dalam dosa besar al amnu min makrillah merasa aman dari hukuman Allah atau masuk ke dosa besar berikutnya alyasu min rauhillah wal qunut min rahmatillah sebagaimana kita bahas pada pertemuan kemarin itu putus asa dari pertolongan Allah atau putus asa dari rahmat Allah maka harus ada khauf harus ada raja mana yang lebih kuat wallahuam ee Syekh Saleh bin Abdul Aziz Sindi hafidahullahu taala merojikan pendapat ketuju Tujuh bahwasanya hendaknya selalu seimbang dalam segala kondisi. Apa dalilnya? Kata beliau, di antara dalilnya beliau menyebutkan dalil-dalil datang tentang khauf dan raj secara umum tanpa ditqyid, tanpa dikhususkan pada kondisi-kondisi tertentu. Seperti firman Allah Subhanahu wa taala, "Nabbi ibadi anni analofurur rahim wazabi hualzabul alim." Kabarkanlah kepada hamba-hambaku sesungguhnya aku ini maha pengampun lagi maha penyayang. Ini raja. Waabi alim. Dan kabarkan kepada mereka bahwasanya azabku adalah azab yang pedih. Ini adalah khauf. Dan Allah mengatakan nabi, nabi adalah naba. Naba adalah berita penting. Yaitu kabarkanlah Allah suruh nabi kabarkan agar timbul dalam diri mereka khauf dan raja. Ya, khauf dan raja secara umum tanpa terkecualikan dengan kondisi-kondisi tertentu. Contoh juga eh Allah berfirman, "Innahum yusariunairatiunana waohaba w khin tentang para nabi kata Allah, ragaban waohaba." Mereka berdoa kepadaku ragaban warba dalam kondisi ee berharap dan takut. Ragaban itu berharap. Rahaban maksudnya takut. Dan ini Allah juga menyebutkan secara umum para nabi demikian kalau mereka beribadah. Yadunana ini maknanya beribadah. Karena doa bisa dua. Bisa maknanya doaul ibadah, bisa maknanya doaul masalah. Jadi terkadang disebut dia berdoa kepada Allah maksudnya beribadah kepada Allah atau dia berdoa kepada Allah maksudnya sedang meminta kepada Allah. Adapun ayat ini, innahum yadunana. Bisa diartikan mereka kalau beribadah kepada Allah selalu ragaban wara, selalu berharap dan takut. Maka di sini digabungkan keduanya tanpa dikhususkan dengan kondisi tertentu. Maka ini menunjukkan keuman. Demikian juga dalam surat azzumar kata Allah, "Aman huitunili waqiman yahdarul akirarju rahmatbih. Ataukah seorang yang bangun malam kemudian dia sujud dan berdiri sedang salat yahul akhirah. Dia takut dengan akhirat waarju rahmat dan berharap rahmat Allah menggabungkan antara khauf dan dan raja. Kemudian juga kata Allah dalam surat Alaf, waduh khaufan waan inna rahmatallahi qorib minal muhsinin. Berdoalah kepada Allah khaufan waa ya takut dan dan ber berharap. Takut dan berharap ya. Ayat seperti ini banyak ya. Ya, seperti tatunubuhum khaufanquun. Mereka bangun malam kemudian mereka salat berdoa kepada Allah khaufan waah, takut dan berharap. Jadi ini menguatkan bahwasanya ayat-ayat umum menunjukkan keseimbangan. Menunjuk keseimbangan. Tib. Ee kemudian di antara dalil yang kedua, dikhawatirkan kalau mendominasi salah satunya akan tidak terkontrol sehingga akhirnya bisa jadi rajak terlalu berat sehingga khauf sangat kecil ini bisa mengantarkan kepada merasa aman dari makrullah atau sebaliknya dia mendominasi membuat khauf mendominasi khawatir terlalu berlebihan sehingga rajaknya bisa hilang dan akhirnya bisa menjatuhkan dalam putus asa sehingga keseimbangan tetap dijaga. Kemudian juga tadi ada nas. Saya katakan nas tadi jelas Rasulullah menyengguk orang sedang sakit dan Rasulullah mengatakan tidaklah berkumpul khauf dan raja dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memenuhi keinginannya, harapannya dan Allah akan mengamankan dia dari apa yang dia takutkan. Padahal dalam kondisi apa? Sa sakit. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan didominasi salah satunya daripada kuasa tertentu, maka wallahualam. Tujuannya adalah dalam rangka menjaga keseimbangan. Karena pada kondisi tertentu ada potensi salah satunya sangat kuat. Contoh ketika seorang sedang sakit atau dalam menderita ada potensi dia putus asa. Ada potensi dia putus asa. Maka Allah ingatkan atau Nabi ingatkan untuk berbaik sangka. Karena ada potensi dia putus asa sehingga disuruh untuk berbaik sangka. Apalagi ketika akan meninggal, setan akan datang membuat dia putus asa. Setan akan buat dia putus asa. Maka di saat itu dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa taala. Demikian ketika dia maksiat. Kenapa dia berani maksiat? Kar dia merasa aman. Dia merasa aman berarti dia harapan dia lagi besar. Ini ada ketidakseimbangan. Maka disuruh kuatkan rasa apa? Tak takut agar dia meninggalkan maksiat tersebut. Sekarang tidaklah dia berani bermaksiat kecuali ada rasa aman, ada rasa Allah maha pengampun, Allah maha penyayang. Nantilah tobat setelah ini. Khawatir seperti perkataan ee saudara-saudaranya Nabi ee Yusuf ya. Ehquietum failin. Mereka rencana untuk melempar Yusuf atau membunuh Yusuf. Kemudian watakunu min ba'dihian shihin. Setelah itu sadar kita bunuh Yusuf dulu atau buang dia. Setelah itu tobat aman. Ini kan ada rasa rasa aman. Sehingga kalau rasa berharapnya tinggi dia mudah bermaksiat. Seperti saya ketemu seorang kenapa maksiat? Saya ketemu ada orang Arab waktu itu saya kamu dia lagi enggak tahu. Dia pamer-pamer saya maksiat saya gini-gini pamer ke saya. Saya bilang ittaqillah bertakwa kepada Allah. Kata dia, "Kawan, gampang, tinggal pergi umrah selesai urusan." Katanya dosa semua dia. Ini kan bahaya seperti ini. Berarti dia rajaannya berlebihan sehingga dia nekad maksiat dan dia bilang gampang sudah tinggal tawaf tujuh kali selesai. Kenapa susah-susah perkara? Subhanallah. Dia minum khamar dia ini kemudian dia bilang gampang tinggal tawaf selesai. Berarti ketika dia bermaksiat dia rajaknya terlalu tinggi. Maka disuruh takut kepada ketika sedang berb untuk menetralisir menyeimbangkan antara khauf dan dan raja. Wallahuam biswab. Ini pendapat ini pendapat. Meskipun saya cenderung kalau dalam kondisi mau meninggal rajak lebih kuat. Saatnya kita rojak seingga datang dalam asar banyak salaf. Ya tentunya ada asar seperti asar seperti ini. Tapi kalau sudah mau meninggal sudah banyaklah berprasangka baik kepada Allah. Allah maha pengampun. Allah lebih baik daripada ibu saya. Kita akan menuju kepada zat yang menciptakan saya yang lebih sayang kepada kita daripada orang tua kita. Yang maha pengampun, yang maha maha maha mah saatnya sebelum mening meninggal ya. Wallahuam bawab tayib. Paham? Kita lanjut faedah. Maka dengan kita mengenal fikih ini, fikih khauf dan raja, fikih khauf dan raja, maka pertama adalah faedah pertama kita senantiasa memperhatikan kondisi jiwa sehingga menjaga keseimbangan antara khauf dan raja. Dan ini sangat penting kita kontrol selalu kontrol diri kita. Jangan sampai kita berlebihan rajnya, jangan sampai berlebihan apa? Khauf. Khaufnya karena bisa buruk dalam kehidupan sehari-hari. Contoh misalnya, apakah ketika kita bersendirian masih khauf bersama kita atau khauf sedang hilang? Ketika itu rajak kita lagi mendominasi sehingga kita berani bermaksiat ketika dalam bersendirian. Biasanya dalam kondisi merasa aman ah kita khaufnya lagi hilang. Kalau kita khauf mungkin kita enggak berani bermaksiat. Ini contoh bahwasanya oh berarti saya khaufnya lagi lemah sehingga berani bermaksiat tidak ada orang. Sehingga ini contoh bahwasanya kita ket itu sadar bahwasanya khauf kita lagi lemah. Ya, makanya harus segera ingat Allah. Allah berfirman, "Innalladinaq thifum minitakaru faid hum mubsirun." Dalam surat Ala'raf kata Allah, "Sesungguhnya orang-orang bertakwa jika disentuh oleh setan, yaitu setan mulai bisik-bisik membuat dia bergejolak syahwatnya, membuat dia punya ide-ide nakal, mau ini, mau anu, mau ini." Ya, tadakaru. Tiba-tiba dia ingat Allah Subhanahu wa taala. Faidirun. Kemudian dia sadar, mereka sadar. Ya, kalau orang kalau sudah begitu dia harus menguatkan rasa takutnya. Makanya di antara tafsir firman Allah Subhanahu wa taala ee firman Allah Subhanahu wa taala, "Waliman khaofa maqoma rbihi jannatan." Bagi yang takut dengan kedudukan Allah, maka dia mendapatkan dua surga. Sebagian ulama menafsirkan, yaitu orang hamma bimaksiah. Dia ingin bermaksiat yaitu khaufnya lagi rendah. tahu-tahu dia ingat Allah Subhanahu wa taala, maka dia pun takut. Ketika dia takut, dia tinggalkan. Ini pentingnya kita menetralisir antara khauf dengan raja ya. Kadang-kadang khaufnya lagi hilang ya. Lagi lagi hilang ya. Ngeri ya. Namun kita saya sudah cerita berapa kali namanya orang tergoda kapan-kapan saja bisa khaufnya lagi hilang. Ya ngeri ya. Bayangkan ada kawan-kawan waktu itu sempat kita kita di hotel, saya di kamar lain, mereka di kamar lain. Tahu-tahu jam berapa? Jam .00 apa jam waktu sahur datang perempuan ketuk pintu. Buka pintu katanya, "Mas, pesan saya ya. Ini ada aplikasi Mas, nomornya sama." Kalau sendirian kan goyang juga. Untung bertiga jadi takut. [tertawa] Besoknya mereka cerita, "Ustaz, tadi malam ada kuntilanak. Jam berapa datang kuntilanaknya?" Saya kira kuntilanak beneran ada jin ganggu ternyata makhluk halus. [tertawa] Nah, seperti itu. Ngeri kalau kita enggak ada khauf lagi jauh dari istri, lagi jauh keluarga lagi tadi malam entah nonton apa ya pucuk apa pucuk pucuk apa dicinta ulang pun tiba. Subhanallah ngeri ya. Saya juga cerita tentang kisah kawan saya waktu ceramah ya. Dia cerita di Mekah, dia ceramah pada tanggal ee 7 6 7 8 musim haji. Para jemaah haji hadir. Kemudian mereka berhaji tanggal 8. Dia balik lagi tanggal 13 datang. Ternyata ada salah seorang di antara mereka yang berzina. Bayangkan baru pulang dari haji dari Mina berzina. Dia bilang, "Syekh, saya tidak mungkin diampuni oleh Allah." K. Syekh kenapa kok tidak diampuni? Saya pulang dari Mina, saya masuk hotel, tahu-tahu ada cewek lewat, saya panggil ngobrol, terjadi. Bayangkan baru pulang haji. Untung haji reguler. Kalau haji furoda kan mahal, apalagi haji korupsi. [tertawa] Jadi, subhanallah maksud saya kadang kita khaufnya hilang ketika dalam kes tertentu. Makanya di antara kita belajarnya agar kita bisa takut. Kenapa kok lagi takut, merasa aman segera lawan dengan apa? Takut. Qul inni akhafu in asituaba yauminim. Katakanlah jika aku bermaksiat kepada Allah, aku takut dengan azab yang pedih. Tib. Misalnya contoh kedua ini contoh pertama. Contoh pertama misal contoh kedua apakah ketika di tengah keluarga khauf masih menyertai itu kita lagi nyaman ya kita masih menyerti. Padahal orang tadi penghuni surga mengatakan inna kunna qoblu fi ahlina musfiqin. Kami di tengah-tengah keluarga masih takut kepada Allah. yaitu dalam keluarga ketika ngurusin anak adakah khauf kepada Allah saya bakalan dihisab ketika berinteraksi dengan istri, ngomelin istri, ngobrol sama istri, adakah khauf kepada Allah subhanahu wa taala? Jadi dia mengatakan, "Kami di tengah keluarga tetap ada khauf, tidak hilang padahal lagi senang-senang. Kalau istri minta beli sesuatu, takut enggak kepada Allah? Apa semua keinginan istri dipenuhi?" Maka tetap ada khauf. Ataukah hilang ketika kita sedang bercengkerama dengan istri dengan sedang-sedang, khauf itu hilang atau tidak? Ya. Kemudian apakah ketika ketika ketika sedang dalam nyaman kita masih berharap semoga kenyamanan ini adalah mukadimah dari nikmat surga? Allah begitu baik. Kita husnudan bahwasanya ini adalah kebaikan Allah berikan. Mudah-mudahan lanjut di mana? Di di surga. Jadi khauf dan raja. Tidak boleh khauf juga tidak boleh juga ra roja saja. Contoh lagi ketika terkena musibah. Ketika terkena musibah apa kita takut? Jangan ini sebagian dari akibat dosa kita. Dan kemungkinan besar akibat dari dosa dosa kita. Ataukah kita raja, kita berharap ini teguran dari Allah karena Allah sayang kepada kita. Dan innallah idza ahabbaan ibtalahum. Allah kalau cinta suatu kaum Allah mengujinya. Mriillahu bikhairin yusib minhu. Siapa yang Allah ingin kebaikan baginya Allah timpakan musibah kepadanya. Semakin tinggi iman semakin banyak musibah. Maksudnya ada khauf ada raja. Tapi kita introspeksi nih maksiat mungkin kemarin saya begini ya. Alhamdulillah Allah tegur saya antara khauf dan raja. Atau kita takut apakah musibah ini adalah mukadimah azab? Jangan-jangan ini mukadimah apa? Azab. Ataukah kita berharap ini untuk mengangkat derajat? Jadi dalam setiap kondisi kita tidak terbuai dengan raja dan juga tidak terbuai dengan apa? Tergurus dengan khauf antara keduanya. Maka ini contoh dengan kita belajar ini, kita selalu mengontrol jiwa kita, iman kita antara khauf dan raja. Kemudian faedah kedua, berusaha untuk meningkatkan khauf dan raja. Karena keduanya merupakan ibadah. Khauf ibadah, raja juga ibadah. Berharap kepada Allah ibadah, tidak berharap kepada manusia tauhid. Saya hanya berharap kepada Allah. Tauhid atau bukan? Tauhid. Saya tidak takut kecuali pada Allah. Tauhid. Oleh karenanya perlu kita tingkatkan khauf dan raja tersebut. Untuk itu untuk meningkatkan khauf dan raja maka ada dua hal yang harus kita perhatikan. Hal yang pertama adalah sebab-sebab untuk menaikkan rasa takut dan juga sebab-sebab untuk menaikkan level rajak kita. Kita harus takut kepada Allah semakin tinggi. Kita juga berharap kepada Allah semakin apa? Ting ting tinggi. Ini pertama. Yang kedua, mengenali apa saja yang harus kita takuti. Demikian juga mengenali apa saja yang harus kita harapi, yang kita harapkan untuk apa aja dengan mengenal dua poin ini. Sebab-sebab kita, sebab-sebab khauf apa? Terus apa yang perlu kita takuti, kemudian sebab-sebab menambah level raj apa dan apa saja yang perlu di saat apa kita berharap, di saat apa kita berharap sehingga kita selalu mengontrol diri kita untuk khauf dan raja tayib. Paham? Kita lanjut ee sekarang pada ee sebab-sebab khauf ya. Sebab-sebab menimbulkan rasa takut di antaranya seperti mengenali sifat-sifat Allah atau nama-nama Allah yang menunjukkan keagungan. Seperti al-qahar yang menunjukkan qahar. Yaitu Allah berkuasa, Allah menundukkan gak ada yang bisa. Kalau Allah ingin kau tidak bisa apa-apa, kau mau sembunyi di mana pun kau tidak akan lolos. Ya, alkibriah Allah yang maha agung ya, maha penuh ee yang berhak untuk sombong hanj Allah subhanahu wa taala seperti aljal yang maha agung. Allah juga punya sifat ghadab. Allah bisa marah. Ya, seperti ini. Allah juga berbuat makar bagi yang berbuat makar di antara sifat Allah subhanahu wa taala. Ya. Ya. Wakaru makarallahu khairul makirin. Maka membuat kita takut kepada Allah subhanahu wa taala. Buat kita takut kepada Allah subhanahu wa taala. Qala Hammad bin Salamah. Hammad bin Salamah berkata, contoh ini kita takut. Man thabal hadirillah mukira bihi. Siapa yang mencari ilmu hadis bukan karena Allah hanya untuk disanjung, untuk disombong, untuk diakui, untuk banyak-banyakan hadis, banyak-banyak riwayat. Mukiro bihi. Allah akan bikin makar kepada dia. Siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah, dia akan dibuat makar oleh Allah kepadanya maka dia akan menjauh dari Allah dengan cara Allah subhanahu wa taala. Karena dia nuntut ilmu bukan karena Allah subhanahu wa taala. Seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, manabal ilma bihi al ulama bihifahari bihi wujuh. Siapa nuntut ilmu dalam rangka agar bisa disejajarkan dengan ulama supaya diakui ya atau untuk berdebat membodoh-bodohin orang bodoh supaya kelihatan jago ngalang-ngalin orang bodoh. Tujuan untuk ilmu untuk itu aja untuk jago-jagoan atau agar liasrifu biha junas. Agar orang semua terfokus kepada dia. Orang semua fokus kepada dia. Maka dia tidak akan mencium bau sur surga. Dia tidak akan masuk surga. Haram kepada dia surga. ngeri berarti nuntut ilmu bukan karena Allah. Contoh, Nabi bersabda, "Man thaabal ilma mimma yubi wajah laallamuhu illausiba ard minad dunya lam yajid arfal jannah." Siapa nuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, untuk ikhlas, untuk takwa, seharusnya ikhlas. Mencari wajah Allah maksudnya ibarat dari apa? Ikhlas. Dan ilmu adalah suatu yang paling utama untuk mencari keikhlasan. Laamu minun. Ternyata ilmu hanya untuk mencari dunia maka dia tidak akan mencium bau surga. Siapa yang jamin dirinya? Bahaya. Kita tahu Allah bisa buat makar. Kita enggak sadar. Kita digiring pada kesesatan, terpedaya dengan pujian orang. Ngeri. Makanya Ahmad bin Salam mengatakan, "Man tholabal hadhairillah mukir bihi." Siapa yang nuntut ilmu karena bukan karena Allah, dia akan dimakarin oleh Allah subhanahu wa taala. Di antaranya mengenal aib diri sendiri. Ya, aib kita banyak kekurangan membuat kita takut. J masih niat masih belum bel beres, ibadah masih ngacau ya, masih pelit, masih kurang berbakti sama orang tua, masih kurang mendidik anak istri, masih banyak tugas belum dikerjakan. Ya, masih banyak hal kita penuh dengan kekurangan, ya. Maka membuat kita takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian juga membaca nas-nas tentang ancaman. Allah berfirman, "Innaabbihimun." Sesungguhnya azab rab mereka tidaklah aman. "Tidaklah aman." Dia merasa aman dari azab Allah. Ini akum katakanlah wahai Muhammad, Allah suruh Nabi berkata inni akubim. Aku takut kalau aku bermaksiat kepada Allah. Aku takut dengan azab di hari yang dahsyat. Kemudian mengali ayat-ayat kauniah. Wurs ayati takwifa. "Tidaklah kami kirim ayat-ayat Allah kecuali untuk beri rasa takut." Allah bikin peristiwa-peristiwa besar membuat orang harusnya takut. Kalau Allah ingin timpakan bencana, Allah bisa membuat kita mati mendadak. Allah bisa buat kita celaka, Allah bisa tarik ee kenikmat yang ada pada kita kapan-kapan saja. Ya, mudah bagi Allah bisa bongkar aib kita kapan-kapan saja. Alam ini diatur oleh Allah. Allah membikin hujan, mau bikin badai, membikin gempa, membikin gerhana terserah Allah Subhanahu wa taala. Kata Allah, nursidu bilati takwifa. "Tidaklah kami kirim ayat-ayat Allah, yaitu ayat kauniah, kecuali untuk memberikan rasa takut." Harusnya orang takut. Orang takut meskipun dia selamat, dia juga harus rasa takut. Ya, ee betapa banyak orang sedang bermaksiat, tahu-tahu Allah hentikan nafasnya. Banyak tidak banyak lagi men judi mati dalam kondisi kaku lagi berzina tahu-tahu mati di atas perut perempuan perempuan enggak jelas kuntilanak ya makhluk halus was maksiat lagi minum bir mati lagi macam-macam macam-macam macam-macam sebab-sebab menemukan raja ya ad mengenali sifat-sifat keindahan Allah punya sifat-sifat yang sifatul jamal seperti arrahim Allah nama Allah arrahim itu rahmat aljamil maha ini maha penyayang aljamil maha indah alatif maha lembut kepada hamba-hambnya alghffar maha pengampun alkarim yang maha baik albar yang maha baik ya alkarim maha dermawan banyak ituu membuat kita tidak putus asa tuhan kita begini begini ya ini dengan yang paling cepat belajar asmaul husna paling cepat belajar tentang asmaul husna kemudian juga membaca nasas tentang janji-janji Allah bagaimana janji-janji Allah tentang surga buat kita berharap ya tentang kenikmatan surga tentang kebahagiaan orang yang beriman macam-macam. Kemudian baca kisah-kisah tentang ampunan Allah dari Al-Qur'an, hadis. Kisah-kisah tentang orang-orang beriman. Ya, ini buat kita berharap ya. Seperti bagaimana Allah mengampuni para penyihir Firaun yang sekian puluh tahun menjadi penyihir atau di akhir hayat Allah ampuni. Kisah tentang pembunuh 100 nyawa, Allah ampuni. Kisah tentang sahibul hadis sahibul bitaqah yang dibukakan 9 musim catatan amal maksiat. Tapi dia punya lailahall ak diampuni. Kisah tentang seorang ee pelacur yang diampuni gara-gara banyak seperti ini buat kita berharap kepada Allah. Berharap tentang Rasulullah bersabda, "Sabaqo dirhamun miata alfi dirham." Satu keping dirham mengungguli mengalahkan 100.000 dirham. Mau sedekah sedikit juga kalau Allah berkehendak bisa bikin pahalanya besar ya. Dan macam-macam ya kita membuat kita. Ya. Kemudian tadi ee kisah orang-orang beriman dengan kesudahan yang indah membuat kita banyak berharap kepada Allah subhanahu wa taala. Ini di antara sebab-sebab ee menumbuhkan khauf dan menumbuhkan rajab. Tayib. Sudah kita lanjutkan. Ee di antara hal yang penting adalah tentang mutaalaqatul khauf. Tentang kita tuh takut kepada Allah pada perkara takut pada perkara-perkara apa saja yang harus kita takuti. Itu takut syar itu takut pada apa saja ya. Takut syari itu takut pada apa saja. Yang pertama takut kepada Allah. Takut kepada Allah subhanahu wa taala tentunya dengan merenungkan tentang tadi sifat-sifat Allah yang agung ya. Dia aljabbar, dia almutakabbir, ya. Dialah Allahu Akbar, dialah alkabir. Ya, dialah alqahar. Ini membuat seorang takut kepada Allah subhanahu wa taala. Dan Allah mengatakan, "Wauhad wirukumullahu nafsah." Dan Allah ingatkan kalian akan dirinya. Waspadalah. Ya wuhadzirukumullahu nafs. Allah mengingatkan kalian akan dirinya itu agar kalian takut kepada Allah. Allah mengat, "Ya ayyuhantaqubakum." Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian. Allah ceritakan tentang malaikat yakunabahum min fauqih. Malaikat takut kepada Rabb mereka dari atas mereka. Malaikat takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Allah juga berfirman, "Yusabbihuusabbihu bihamdihi wal malaikatu min khifatih." Bahwasanya petir bertasbih kepada Allah dan memuji Allah. Dan malaikat juga bertasbih min khifatih karena takut kepada Allah. Malaikat takut kepada Allah. Bertasbih karena takut kepada Allah. Allah juga berfirman, "Man khasyarahmana bil ghaib." Siapa yang takut kepada Arrahman ketika sedang bersendirian? Ketika seorang lelaki diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik, jelita, dan kaya raya, dia berkata, "Inni akhafulah." Aku takut kepada Allah subhanahu wa taala. Jadi Allah sebagaimana kita harapin, sebagaimana kita cintai, kita juga takut kepadanya. Kita juga takut kepadanya. Maka takut kepada Allah di antara ibadah yang yang agung. Ya. Yang kedua, takut kepada azab Allah. Takut kepada azab Allah. Inna fi dzalika laayatan liman khofa adzabal akhirah. Ya dzalika yaumun majmuun lahunasalika yaumun masyhud. Ya surat Hud bahwasanya pada hal tersebut yaitu bagaimana Allah membinasakan suatu kaum kalau Allah berkehendak. Laayatan liman khaofa adabal akhirah. Sungguh ini adalah pelajaran bagi orang yang takut dengan azab akhirat. Harus takut azab Allah. Ya kata Allah inna adabbihim giru makmun. Sesungguhnya azab mereka tidak diaman. Ya contoh Allah mengatakan la yadibuahu ahad wqahu ahad. Allah kalau mengazab tidak ada yang bisa mengazab seperti azabnya. Seorang mau berinovasi, berkreasi dalam mengazab orang lain. Mau dia pakai gas, mau dia pakai bom, mau dia pakai masih kalah dengan azab Allah Subhanahu wa taala. Allah kalau sudah mengazab sangat mengerikan ya. Sangat mengerikan ya. Masalahnya api neraka membakar ee tapi tidak bikin mati. Itu masalahnya kalau bikin mati selesai. Ya. Ya. Allati alal afidah di mana api langsung masuk ke dalam dada. Saya sering sampaikan kalau api dunia membakar bagian luar dulu, tapi kalau api neraka langsung luar dalam sekaligus. langsung masuk ke tembus ke dalam dada dan apinya sangat panas. Narun hamiah maknanya api yang dipanaskan. Sudah panas dipanasin lagi. Jadi tidak ada yang bisa mengazab seperti azabnya Allah. W yuqu waqahu ah. Dan tidak ada yang bisa membelenggu seperti belunggunya Allah. Oleh karenanya azab Allah sangat pedih buat kita harus takut. Ya, harus kita takut. Makanya kisah yang masyur tentang seorang w lelaki yang terbetik hatinya ingin berzina, maka dia segera mengambil lampu atau lilin kemudian dia bakar jari-jarinya agar dia berhenti dari hasratnya tersebut. Hasratnya bergojolak terus dia bakar jarinya satu-satu dia tidak tidur. Kalau dia lepas maka dia hasratnya bergejolak lagi. Sampai akhirnya tangannya semua rusak. Ya, kita tahu bahwasanya api lilin tidak kita kuat apalagi azab neraka jahanam. Maka seorang takut dengan azab Allah subhanahu wa taala dan Allah memuji orang yang takut dengan azab akhirat. Tidaklah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya azab akhirat agar kita takut kecuali agar kita takut. Kemudian contoh takut kalau amal saleh tidak diterima. Ya, di antara kita enggak tahu amal saleh Allah maha menerima amal. Allah maha menerima tobat. Tapi apakah kita sudah memenuhi persyaratan amal ataukah sudah memenuhi persyaratan tobat? Orang saleh bukan suudan kepada Allah tapi suudun pada dirinya sendiri. Ya, makanya Allah mengatakan dan orang-orang yang melakukan apa yang mereka lakukan itu mereka salat, mereka bersedekah, mereka puasa sementara hati mereka takut. Takut apa? La yutaqobbala minhum. Tidak diterima amalan mereka tidak diterima. Mereka takut sehingga mereka yusariuna filhairat. Sehingga mereka semakin banyak cepat melakukan kebajikan. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim, Nabi Ismail ketika membangun Ka'bah mereka berdoa, "Rabbana taqobbal minna innaka antamil." Ya Rabb kami, terimalah amalan kami. Kenapa? Mereka takut tidak di diterima. Mereka takut tidak terima. Sedang membangun rumah Allah dengan perintah Allah langsung kemudian takut tidak di diterima. Ya, takut seperti ini disyariatkan. Kenapa kita takut? Bukan Allah bukannya Allah menolak amal saleh. Kita takut karena kita seuzun pada diri kita. Jangan-jangan kita tidak memenuhi persyaratan amal saleh. Enggak ada yang jamin, enggak ada yang kita ini hal gaib. Terima tidak yang tahu cuma Allah subhanahu wa taala. Kecuali ada wahyu yang turun. Tib. Allah berfirman, innama yataqobbalullahu minal muttaqin. Sungguh suungguhnya Allah hanya menerima dari orang yang bertakwa. Kalau dia bertakwa dalam amal salehnya diterima. Kalau tidak bertakwa tidak diterima. Siapa yang jamin dirinya bertakwa ketika amal saleh tersebut? Siapa yang jamin? Enggak ada yang jamin. Memang sekarang saya dakwah saya jamin memenuhi persyaratan enggak ada yang tahu. Enggak ada yang tahu. Kita umrah kita jamin pasti um kita terima. Enggak ada yang tahu. Makanya ada kekhawatiran dan ini kekhawatiran yang disyariatkan tapi tidak putus asa. Ada berharap dan juga tak takut. Ya, ini maksud saya ini contoh perkara-perkara apa saja kita takutkan ya. Makanya ada seorang salaf yang menangis. mengatakan unzuru ila khilirrahman bana baitarrahman biamr minarrahman tma yakfu alla yataqobbala minurahman lihatlah kepada kekasih Allah Ibrahim dia sedang membangun rumah Allah yaitu Ka'bah masjid terbaik di alam semesta bukan sedang bangun masjid Asunah bukan atau Masjid Istiqlal bukan masjid haram Ka'bah yang bangun siapa masjid Nabi Nabi Ibrahim Nabi Ismail ya biamri minarrahman langsung diperintahkan oleh Allah langsung Nabi Ibrahim diper langsung oleh Allah entah melalui malaikat Jibril tapi langsung Allah perintahkan kemudian dia masih takut tidak diterima padahal kerjaannya sangat berat bayangkan dia dan Ismail harus pergi ke gunung kemudian belah batu dikotakin dipikul emang kerjaan ringan berat itu. Belum nyusun nyusun sampai ada makam Ibrahim naik nyusun itu berat ya berat. Kemudian mereka masih takut tidak diterima oleh kita kayak apa. Kemudian takut tobat kita tidak diterima sehingga kita selalu ingat-ingat maksiat kita. Kenapa bisa demikian? Karena enggak ada yang jamin. Lihatlah wa alatilladzina khullifu tentang tiga orang sahabat yang tidak ikut perang apa? Perang Tabuk. Mereka bertobat tidak langsung diterima. Tunggu 50 tahun baru Allah turunkan ya tobat mereka. Baru Allah tunjukkan. Bayangkan sahabat sudah nangis-nangis, sudah ini, sudah ini, tidak ya diakhirkan apa kondisi mereka sampai Allah turunkan tobat setelah berapa? 50 hari. Itu sahabat kita santai aja pasti diterima pasti diterima. Wallahualam. Memang Allah maha penerima tobat. Masalahnya bukan pada Allahnya. Masalahnya pada kita. Apakah kita sudah memenai persyaratan apa tobat? Sehingga kalau kita takut, kita selalu ingat kita istigfar lagi, istigfar lagi, istigfar lagi. Oh, PD saya sudah diterima. Maksiat lagi nanti. Ya, kita enggak tahu kalau kita tahu ada pemberitahuan diterima merasa aman, maksiat lagi, tobat lagi diterima [tertawa] maksiat terus. Kita gaib, kita enggak tahu benar Allah maha menerima tobat masalahnya bukan pada Allah. Bukannya kita suudon kepada Allah, tapi suudon pada diri sendiri. Contoh lagi, kenapa takut amal s kita? Takut amal kita tercampur ria. Siapa yang jamin kita ikhlas? Tiap hari posting amal ibadah gimana? Siapa yang jamin ikhlas? Ya, lagi umrah posting, lagi haji posting, lagi dorong orang tua posting, lagi ajal-ajalan istri posting, lagi ke masjid posting, semuanya posting yang baik-baik semua. Siapa jamin ente ikhlas? Enggak ada yang tahu. Enggak ada yang tahu. Dan ikhlas sangat berat. Ikhlas sangat sangat. Siapa yang jamin kita ikhlas? Enggak ada yang jamin kita ikhlas. Kemudian kita juga takut ternyata niat duniawi mendominasi. Berdakwah ternyata niatnya duniawi. Nuntut ilmu ternyata niatnya dniawi. Duniawi itu banyak. Ingin dipuji, ingin diakui atau supaya menang Pilkada banyak. Duniawi pencitraan banyak. Siapa yang jamin kita bersih? Enggak ada. Maka ini semua hal membuat kita takut. Jangan sampai amal kita tidak diterima. Tapi bukan tidak berharap antara berharap dan ta takut. Kemudian takut amal kita batal. Amal kita bisa batal. Bisa. Allah mengatakan, "Ya ayyuhalladzina amanu lautqatikum bilni walzi yun maahuas wahi walumil akhir. Wahai orang beriman, janganlah kalian batalkan sedekah kalian yang ikhlas. Kalian ikhlas tapi bisa batal. Dia sedekah ikhlas tapi batal." Kenapa? Dengan menyakiti dan mungkit-mungkit. Seperti orang yang riak batal amalnya. Orang riak amalnya batal tidak diterima. Nah, sama kamu kalau bersedekah ikhlas tapi kamu ungkit-ungkit bisa batal. Kita lagi sudah bantu keluarga lama terus dia cerita, "Kau saya bantu kau gini kau." Ah, sudah hilang semua dulu. Yang sekolahin kamu siapa? Tahu? Iya tahu. Selama tinggal amal hilang, batal sedekah selama ini. Rugi kita rugi. Bisa ada amal salat ternyata bisa ba batal. Apa kata Aisyah kepada seorang sahabat? Sampaikan kepada dia bahwasanya riba yang dilakukan qod abtola jihadahu. Jihadnya telah batal gara-gara riba yang dia lakukan. Bayangkan ngeri. Aisyah berkata, "Sampaikan kepada dia jihad yang telah dia jihad pahalanya kayak apa? Batal gara-gara riba. Ini kita kadang kepepet kita riba kepepet. Ini darurat. Darurat apa? Beli mobil darurat. Karena mobil murah bisa hutang. Itu enggak bisa. Harus yang mewah. Mewah harus pakai uang bank. Darurat. Padahal enggak darurat. Riba gampangin riba. Enggak tahu riba ini bisa membatalkan berapa banyak amal saleh kita. kita enggak tahu. Makanya dibahas oleh para ulama tentang sebagaimana hasanatul mahiyat, sebagaimana amal saleh bisa menggugurkan dosa-dosa. Sebagian dosa-dosa bisa menggugurkan apa? Amal saleh. Bahkan Imam Ahmad berbicara tentang pandangan haram. Pandangan haram ini bisa membatalkan sebagian amal saleh. Siapa yang bisa jamin amal amal saleh kita kalaupun diterima tidak akan batal atau tidak berkurang pahalanya? Enggak ada yang tahu. Enggak ada yang tahu. Maka kita perlu takut akan hal tersebut. Kata Allah, wala tubtilu a'mal. Jangan kalian batalkan amalamal kalian. Bab yang kelima, takut kenikmatan duniawi mengurangi nikmat akhirat. Ini bagi orang kaya yang miskin ya, enggak masuk dalam hal ini. Ini pendapat sebagian ulama seperti Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf bahwasanya nikmat dunia bisa mengurangi nikmat apa? Akhirat. Ini khilaf di kalangan para sahabat. Tapi sebagian sahabat memandang demikian. Sehingga imam e apa namanya? Ee apa namanya? Para ulama mengatakan seorang berusaha taklil attaqlil minad dunya berusaha semaksi seminimal mungkin memanfaatkan dunia sebelum dia meninggalkan dunia ini agar semakin ringan hisabnya, agar semakin banyak pahalanya. Ya, ini pendapat sebagian ulama ya. Dan itu praktik Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yuqallil minad dunya. Rasulullah menggunakan dunia seminimal mungkin yang bisa dia lakukan. Sebentar kita dilapangkan rezeki. Enggak tahu ya apakah ini mengurangi nikmat kita di akhirat. Wallahuam ya. Wallahuam. Takut hisab kata Allah. Wakuna sual hisab. Bahwasanya mereka takut hisab yang buruk. Kita duit banyak bakalan banyak hisab. Enggak jelas. Semakin banyak duit semakin banyak hisab. Semakin kaya semakin banyak hisab. Semakin miskin hisabnya semakin sedikit. Makanya yang miskin duluan masuk surga. Ada raja dikatakan anak buahnya, "Raja, nanti kita duluan masuk surga yang raja-raja belakangan." Kata raja tersebut, "Iya, kalian masuk surga siapin buat saya." Katanya [tertawa] ini ada seorang raja ngomong begitu. Dia bercanda sama anak buahnya. Masuk dulu, siapin ya. Kalau sudah siap kasih tahu. [tertawa] Subhanallah. Kita hisab banyak. Semakin banyak mobil semakin banyak hisab. Semakin banyak akun semakin banyak hisab. Semakin banyak rumah semakin banyak hisab. Semakin banyak istri semakin banyak hisab. Semakin banyak [tertawa] semakin banyak nikmat semakin banyak apa? Hisab. Takut kita enggak habis bisa? Bisa jawab semuanya. Habis bisa jawab. HP aja bisa kita jawab kalau HP kita dihisab. Apa saja yang sudah kita bukan HP tersebut. Wallahuam. Azanah. Hah. 3 menit lagi. Iya. Kemudian juga di antaranya yang ketujuh, takut akibat maksiat cepat atau lambat. Maksiat la budda yuatir. Maksiat pasti ada dampaknya cepat atau lambat. Kebanyakan orang hanya fokus akibat maksiat pada akibat zahir. Takut rezekinya kurang, mungkin sakit, mungkin istrinya ngomel-ngomel, mungkin ya. Padahal pasti langsung kena yaitu pada hati. Inal abdaanbi sauda. Sesungguhnya seorang ketika bermaksiat ada noda hitam di hatinya dan itu pasti mempengaruhi imannya. Entah dia sulit salat khusyuk, entah dia susah untuk ikhlas, entah dia susah untuk bangun malam, entah dia pelit, itu masalah hati. Jadi ee maksiat pasti menyerang hati langsung dan tidak tertunda. Cuma efek zahirnya kadang belakangan. Ibarat racun kalau masuk sedikit-sedikit kata Ibnu Qayyim lama-lama baru meledak tapi racunnya sudah masuk. kita maksiat santai-santai aja kita enggak sadar ternyata apa-apa yang menimpa kita, kita lagi malas ini ternyata efek maksiat yang akumulasi selama ini kita akumulatif kita lakukan. Kemudian di antaranya ketakutan, takut terjerumus dalam maksiat ketika bersendirian. Betapa banyak orang ketika depan banyak orang kuat, tetapi ketika bersendirian dia terjungkal imannya lemah maka dia takut. Jangan sampai dia ketika sudah beriman baik-baik, habis Ramadan, tahu-tahu ketika bersendirian terjunus lagi dalam maksiat, tahu-tahu wa-WA istri orang ngeri pacar lama di wa-WA kemudian asik, enjoy ngobrol sama istri orang, ngobrol dengan wanita yang tidak halal bagi dia. Dan itu mungkin saja terjadi. Kemudian takut kenikmatan adalah istidraj. Mungkin kenikmatan kita semakin bertambah. Semakin apakah kita semakin zuhud atau semakin duniawi. Sebagian orang Allah bukakan kenikmatan dia ngaji tapi pikirannya semakin duniawi. Dia ngaji, ngaji rutin tapi pemikiran semakin dunia. Dikasih buka harta semakin ngomong ini, ngomong ini, jalan-jalan branded, barang-barang branded. Ngomongannya dunia, dunia terus itu istidraj. Kenikmatan yang buat kita semakin dekat dengan Allah itulah nikmat berkah. Kalau nikmat membuat kita semakin jauh itu apa? Is istidraj. Kita introspeksi diri. Jangan khawatir. Yang terakhir takut suul apa? Khatimah. Enggak tahu kesudahan kita seperti apa. Betapa banyak orang di awal baik ujungnya suul khatimah. Azan tayib. Kita lanjutkan sekarang terkait dengan raja. Perkara-perkara apa yang diharapkan? Kebalikan dari yang kita takutkan. Pertama misalnya berharap amal diterima. Kita berharap terutama ketika mau meninggal dunia kita berharap semua amal kita diterima. La yamutanna ahadukum illa wahua yuhsinna billahi azza waalla. Jangan sekali-sekan orang meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik. Itu berasangka akan kembali ke zat yang maha penyayang. Akan disambut dengan baik husnuzan akan diterima amal saleh kita, akan diampuni dosa-dosa. Berharap magfirah ampunan Allah. Seperti eh kata Ibrahim alaihi salam, "Walladziamagfirti yaumaddin." Dialah Allah yang aku berharap mengampuni dosa-dosaku pada hari kiamat kelak. berharap atma aku berharap diampuni dosa-dosaku. Inna natma ayagfir lana rbuna khatayana an kunna awal mukminin. Ya kami berharap Allah mengampuni dosa-dosa dosa kami. Berharap diampuni dengan mengingat bahwasanya Firaun saja yang begitu bejat Allah masih tawarkan ampunan. Ketika Allah tawarkan ampunan berarti masih mungkin diampuni dan seterusnya. Kita berharap hisab yang ringan. Kita berharap Allah ketika menghisab cuma ditanya sampel-sampel kemudian tidak detail. Itu namanya hisaban yasiran atau disebut dengan ard. Hanya Allah tanya sebagian, setelah itu Allah lewatin. Kalau detail-detail repot. Detail-detail apa? Repot. Ditanya HP aja sudah pusing jawabnya [tertawa] repot. Kita berharap bertemu dengan Allah ya. Di antaranya rindu memandang wajah Allah. Nabi berdoa asalukatan wajik. Aku berharap aku minta kelezatan wajahmuq dan kerinduan untuk bertemu denganmu. Allah berfirman amalan sh yusrik biibadati ahad. Siapa yang ingin bertemu dengan Allah di antara tafsirannya siapa ingin melihat wajah Allah maka melakukan amal saleh dan jangan syirik. Falyyaal amalan shiha wala yusrik biibadati. Ikhlas kalau ingin ketemu Allah subhanahu wa taala. Manana yurjika Allah fna ajalallahi laad. Siapa yang ingin bertemu Allah maka akan ada waktunya bertemuan Allah. Berharap aib-ayib ditutup oleh Allah subhanahu wa taala. Ya, berharap aib ditutup oleh Allah subhanahu wa taala. Berharap amal sedikit dibalas banyak di dunia maupun di akhirat. Tapi pengin sedikit sedekah sedikit Allah ganti banyak di dunia apalagi di a di akhirat. Dan biasanya begitu modal sedikit dapat banyak cuma melihara anak yatim satu ternyata Allah kasih kaya raya. Padahal modal melihara anak yatim cuma sedikit [tertawa] kenyataannya. Begitu kenyataannya begitu. Sedekah-sedekah sedikit Allah ganti ba banyak. Enggak apa-apa kita berharap dunia tapi jangan duniawi ya. Dunia dan a akhirat enggak ada masalah. Berharap baik terutama berharap ketika kepada Allah ketika perkara semakin sulit. berharap ketika kondisi semakin genting. Karena sunatullah sering terjadi, semakin genting baru ee terjadi kemudahan. Innama al usri yusro. Semakin sulit nanti ada kemudahan. Ya, alfaraj ma alkarb bahwasanya solusi disertai dengan penderitaan dan banyak contoh dalam Al-Qur'an ketika dalam susah kondisi semakin sulit maka semakin husnudan kepada Allah. Seperti kita sudah sebutkan pada pertemuan kemarin Yakub alaihi salam ketika tiga anaknya enggak pulang baru dia semakin kuat harapannya. Sampai dia mewasiatkan kepada anak-anaknya kapan? Ketika Yusuf sudah enggak tahu ke mana, Benyamin ketangkap, dituduh mencuri, kakak yang paling tua tidak mau pulang. Baru saat itu dia berkata, "Ya bani yadhabu fatahassasu min Yusufa wa akhiasu miruhillah." Jangan kalian putus asi rahmat ee pertolo
Resume
Requeue
Categories