Kitab Ath-Thahawiyah #45: Berharap & Takut Mana Yang Didahulukan Atau Harus Seimbang
YxSxJyrxr5c • 2026-01-06
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Alhamdulillah
wasalatu wasalamu ala rasulillah wa
ba'ad. Kita lanjutkan bahasan kita
tentang masalah alkhauf dan arraja.
Sebagaimana sudah kita bahas pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya
bahwasanya seorang hamba harus
menggambungkan antara alkhauf dan raja.
Ya, ibarat kalau burung terbang maka
harus ada dua sayapnya. Satu alkhauf
rasa takut kepada Allah dan satu arraja
berharap kepada Allah. Sudah kita
sebutkan kalau seorang khaufnya hanya
ada khauf rajnya tidak ada, maka dia
akan putus asa dari rahmat Allah
subhanahu wa taala. Tapi kalau dia raja
tanpa khauf, dia akan alamnu min
makrillah. Dia akan merasa aman dari ee
apa? Azab Allah Subhanahu wa taala. Maka
harus ada khauf, harus ada arraja.
Ada khilaf di kalangan para ulama yang
terkait apakah raja atau khauf yang
lebih mendominasi. Ya, dalam kondisi
apa? Di mana khauf mendominasi atau
arraja mendominasi. Tetapi dengan
catatan tetap kedua-duanya masih ada
pada seorang hamba. Jadi harus ada
dua-duanya, ada khauf dan raja. Tapi
kapan khauf mendominasi, kapan raja
mendominasi? Dan ini pembahasan penting
karena termasuk dari amalul qulub.
Dikatakan bahwasanya arkan a'malil qulub
ada tiga, yaitu alkhauf, arraja, dan
almahabbah. Maka seorang ee berusaha
dalam setiap ibadahnya selain ikhlas dan
ittiba, selain ikhlas dan ittiba, maka
ada rukun yang lain yang harus dia
perhatikan agar ibadahnya menjadi afdal,
yaitu antara khauf dan apa? Dan raja
disertai dengan mahabbah. Ya, disebut
dengan arkan al-ibadat alqalbiyah,
rukun-rukun ibadah hati ya. Jadi dalam
setiap ibadah kita salat ada khauf dan
raja, kita baca Quran ada khauf dan
raja. Kita salat malam ada khauf dan
raja. Ya, kita bersedekah ada khauf dan
raja. Ya, dan selalu ini beda dengan
syarat diterimanya amal saleh. Kalau
syarat diterima amal saleh ada berapa?
Dua. Yaitu apa? Ittiba dan ikhlas. Ini
namanya rukun ibadah hati yang jika
ibadah dibangun di atas ee khauf dan
raja maka menjadi ibadah yang agung. Ya.
Tib. Jadi sekarang khilaf kalangan para
ulama tentang kapan khauf di dominasi
dan kapan rajak dominasi. Ada sekitar
tujuh pendapat. Ini saya carikan dari
penjelasan Syekh ee Saleh Sindi
hafidahullahu taala
dalam syarah thahawiyahnya ya. Pendapat
pertama mengatakan selalu khauf
dikuatkan dalam kondisi apapun maka
selalu khauf yang dikuatkan. Raja ada,
tapi khauf yang selalu dikuatkan.
Dalilnya nanti kita sebutkan insyaallah.
Yang kedua, sebaliknya bahwasanya selalu
raja yang dikuatkan. Ada khauf tetapi
raja yang dikuatkan dalam kondisi
apapun. Dalam kondisi apun raja selalu
dikuatkan.
Pendapat ketiga dibedakan ketika rakaha
yaitu ketika senang lagi sehat lagi
banyak duit ya maka khauf yang dikuatkan
kata mereka kalau
kalau lagi senang tidak khauf khawatir
maksiat ya maka harus ada khauf.
Sebaliknya ketika dalam syiddah ketika
sakit, sulit, menderita, maka rojak yang
dikuatkan.
Jangan sampai putus asa. Maksudnya
jangan sampai putus putus asa. Jadi
dalam kondisi lapang dikuatkan rasa
takut, dalam kondisi susah dikuatkan
harapan kepada Allah. Ini pendapat
ketiga. Pendapat keempat, jika sehat
atau senang maka seimbang. Jika sehat
atau senang maka seimbang antara khauf
dan raja. Tetapi jika sakit atau sulit,
raja dikuatkan. Ini bedanya antara tiga
dan empat. Kalau tiga khauf dikuatkan
ketika dalam kondisi sehat. Kalau
pendapat keempat, ketika sehat seimbang.
Ketika senang khauf dan raja seimbang.
Tetapi ketika sakit dan sulit khauf
dikuatkan,
raja dikuatkan. Pendapat yang kelima,
jika sedang taat kuatkan raja. Jika
sedang taat kuatkan raja. Yaitu berharap
amal diterima. Ketika maksiat, kuatkan
khauf supaya berhenti maksiat. Supaya
berhenti maksiat. Ini cara pandang para
ulama beda-beda. Jadi kata mereka, kalau
lagi taat kepada Allah, kuatkan rajanya
biar terus semakin semangat ibadah.
Kalau lagi maksiat, jangan rojak. Bahaya
nanti maksiat terus, tenang, diampuni,
aman. Allah maha pengampun, Allah maha
penyayang, maksiat terus. Maka harus
khaufnya dikuatkan supaya berhenti
maksiat. Ya, maksudnya ee ini agar apa?
Agar berhenti maksiat.
Kalau ini tadi apa? Agar tambah taat.
Agar
tambah taat.
Ya. Kalau tadi jika sakit sulit agar
tidak putus asa.
Jika sehat seimbang. Ini kalau jika
pendapat ketiga, jika senang maka khauf
dikuatkan agar tidak
tidak maksiat.
Agar tidak maksiat.
Kalau sakit roja sama agar tidak putus
asa.
Bab ini ee lima pendapat. Pendapat
keenam, jika masih muda raja. Kalau
sudah mau mati khauf.
Kalau masih muda berharap biar semangat
ibadah. Kalau sudah tua saatnya takut
supaya apa? Kalau tua berhenti maksiat.
Kalau tua berhenti maksiat. Tes tes
tes tes.
Pendapat yang terakhir, pendapat ketujuh
selalu seimbang dalam segala kondisi.
Mau sakit, mau sehat, mau mati, mau
kuat, mau menderita,
mau aman-aman aja,
selalu seimbang antara khauf dan raja.
Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh ee
Syikhuna Syekh e Shin Abdul Aziz Sindi
hafidahullahu taala.
Tib. Dan ini kita berbicara tentang
detail-detailnya ibadah hati ya. Dan ini
penting, ini pembahasan penting karena
kita perlukan dalam kehidupan
sehari-hari
kita kontrol antara khauf kita dengan
rajak kita. Kita kontrol
tayib. Paham? Inilah khilaf di kalangan
para ulama tentang kondisi antara khauf
dan raja.
Sudah kita lanjut ya.
Tib. Adapun dalil terkait hal ini,
kenapa bisa berbeda pendapat? Karena ada
dalil-dalil yang mengesankan setiap
pendapat. Seakan-akan ada dalil-dalil
khusus, spesifik yang mendukung setiap
pendapat. Contoh pendapat pertama, ada
dalil-dalil yang mengesankan agar selalu
mendahulukan raja. Seperti hadis qudsi
Allah berfirman, "Ana indadonni abdi bi
falyadunna bi abdi masyaa." Indonna
khairon falahu wa syarron falahu. Aku
tergantung persangkaan hambaku kepadaku.
Ya, kalau hambaku berprasangka baik
padaku, maka bagi dia kebaikan. Kalau
hambaku berprasangka buruk kepadaku,
bagi dia keburukan. Hadis seperti ini
mengesankan bahwasanya seorang hendaknya
senantiasa berprasangka ba baik dan
berprasangka baik mengkonsekuensikan
raja. Raja ini hadis mengesankan
bahwasanya raja harus mendominasi dalam
segala kondisi. Salah satu pendapat dari
tujuh pendapat yang tadi kita sebutkan.
Contoh juga dalam hadis qudsi kata Allah
ya bna adam innaka ma dautani warutani
gofartu laka ala maana minka w ubali.
Wahai anak Adam, selama kau berdoa
kepadaku, selama kau berharap kepadaku,
aku akan ampun dosa-dosamu. Dan aku
tidak peduli. Dan aku tidak peduli
dosamu sebesar apapun dengan syarat kau
selalu berdoa kepadaku dan selalu
berharap berharap kepadaku. Maka ini
juga dalil mengesankan bahwasanya selalu
raja atau berharap selalu mendominasi
dalam kondisi apapun. Ini salah satu
yang menjadikan pendapat kenapa rajak
selalu mendominasi.
Sebaliknya yang mengesankan selalu
menguatkan khauf. Yang selalu menguatkan
khauf seperti ayat-ayat terkait
keutamaan takut kepada Allah Subhanahu
wa taala ya juga hadis-hadis Nabi.
Contoh ayat seperti ketika penghuni
surga saling bertemu. Kata Allah,
"Faqbala ba'duhum ala ba'din yatasaalun
qu inna kunna qoblu fi ahlina
musfiqinallahu
ala waqabum."
Maka penghuni surga saling
berhadap-hadapan di antara mereka.
Saling bertanya-tanya nostalgia tentang
bagaimana mereka ketika di dunia. Q.
Maka di antara mereka ada yang berkata,
"Inna kunna qoblu fi ahlina musfikin."
Kami dulu di tengah keluarga kami dalam
kondisi takut. Musyfikin maksudnya dalam
kondisi apa? Takut. Ya. Ya. Dan Allah
memuji orang-orang yang takut kepada
azab Allah Subhanahu wa taala.
Famanallahu alaina. Maka Allah
menganugerahkan kepada kami ya keamanan
bahwaum maka Allah selamatkan kami dari
azab neraka jahanam. Ayat seperti ini ee
mengesankan
e bahwasanya khauf selalu didahulukan ya
seperti ainani lam tamassahumanar dua
mata yang tidak akan dikena oleh api
neraka. Ainun ee apa namanya? Di
antaranya ainun bakat min khasiyatillah
ya.
yaitu mata yang menangis karena takut
kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya.
Tib. Kemudian ada dalil-dalil yang
mengesankan rajak dikuatkan pada kondisi
susah. Raja dikuatkan pada kondisi
susah. Seperti sabda Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "La yamutanna ahadukum
illa wahua yuhsinudonna billahi azza wa
jalla." Jangan sekali-kali seorang dari
kalian meninggal kecuali berbaik sangka
kepada Allah. Ini Rasulullah sebutkan
untuk berbaik sangka secara spesifik
ketika akan meninggal dalam kondisi
sulit. Berarti ketika dalam kondisi
sulit raja hendaknya dikuatkan. Ya,
dalil juga kuat ya. Sehingga ada dalil
yang mengatakan bahwasanya dalam kondisi
sulit rajak dikuatkan, dalam kondisi
tidak sulit maka seimbang.
Contoh yang mengesankan khauf dikuatkan
pada kondisi maksiat. Seperti firman
Allah, qul inni aku initubizaba
yauminim. Katakanlah wahai Muhammad,
sesungguhnya aku takut jika aku
bermaksiat kepada Rabbku, aku takut
dengan azab di hari yang dahsyat. Ini
terkait dengan maksiat. Takut kapan?
Ketika maksiat, ya. Ketika maksiat. Maka
ketika maksiat ee seorang takut kepada
Allah Subhanahu wa taala. Demikian juga
kisah lelaki Bani Israil yang ketika dia
mau meninggal, dia mengatakan kepada
anak-anaknya, "Mittu
faahriquunihan.
Eh, kalau aku mati maka bakarlah aku
wahai anak-anakku. Setelah itu sudah
jadi arang, maka tumbuklah diriku."
Kemudian taburkanlah debuku di laut dan
di udara.
Lain qodirallahu alaiya ladzibannani
la yuadibuhu ahadan minal alamin. Kalau
Allah mampu bangkitkan aku, tentu Allah
akan mengazab aku dengan azab yang tidak
pernah Allah azab kepada orang lain. Ini
orang yang dalam kondisi banyak maksiat
maka ketika dia mati dia takut dan dia
pengin jangan sampai dia dibangkitkan.
Dia ragu Allah bisa bangkitkan. Kalau
bisa bangkitkan repot. Maka dia usaha
untuk dibangkitkan. Cara usaha untuk
tidak dibangkitkan maka dia dibakar,
ditumbuk. Debunya bertebaran. Gimana
enggak mungkin lagi menurut dia susah.
Tiba-tiba Allah berkata, "Ya ardu ya
ardu ijmai ma fiki minhu." Wahai bumi,
kumpulkanlah bagian-bagian dia. Maka
seluruh debu yang sudah bertebaran
kembali lagi. Allah proses kembali hidup
lagi. Maka Allah berkata, "Ma hamalaka
alalik?" Apa yang mendorongmu untuk
melakukan demikian? Kata dia,
"Khasyataka ya rab. Aku takut kepadamu.
Ini menunjukkan ketika dalam kondisi
maksiat hendaknya orang mengedepankan
apa? Takut kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Tib. Ada juga hadis yang mengesankan
keseimbangan selalu dalam seimbang
bahkan ketika mau meninggal dunia. Ini
di antara dalil yang menguatkan
bahwasanya seimbang dalam hal segala
hal. Bahkan ketika akan meninggal dunia
dalam kondisi sakit parah. Ada Nabi
sallallahu alaihi wasallam menjenguk
seorang pemuda yang sedang sakit. Maka
Rasul sahu alaihi wasallam bertanya,
"Kaifa tajiduka?" Bagaimana kau
mendapati dirimu? Dia dalam kondisi
sakit. Kata dia, "Wallahi ya Rasulullah,
inni
la arju arjullah wa akunubi.
Sungguh aku sangat berharap kepada Allah
dan aku takut dosa-dosaku." Yaitu dia
menggabungkan dua-duanya. Saya sedang
raja dan juga sedang apa? Takut. faqala
nabi sallallahu alaihi wasallam kata ras
wasamin
ya fial mautin illaullahu ma yarju wa
amanahu mimma yakata nabi sallallahu
alaihi wasallam tidaklah berkumpul raja
dan khauf pada seseorang dalam kondisi
seperti ini dalam kondisi sakit sakit
parah kecuali Allah akan membuat
memenuhi apa yang dia harapkan dan
membuat dia aman dari apa yang dia
takutkan maka ini dalil menunjukkan
seakan-akan Bahkan dalam kondisi
sekarat, dalam kondisi sakit pun tetap
menyeimbangkan antara khauf dan raja.
Paham? Inilah kenapa terjadi
perselisihan. Karena ada sudut pandang
yang berbeda dari para ulama. Tapi
intinya mereka sepakat semua bahwasanya
khauf dan rajak harus selalu ada. Cuma
kapan mendominasi, kapan didominasi. Ini
sesuatu situasi dan kondisi yang tidak
boleh kalau salah satunya hilang. Karena
kalau salah satunya hilang akan
menjerumuskan ke kebinasaan. Apakah
masuk dalam dosa besar al amnu min
makrillah merasa aman dari hukuman Allah
atau masuk ke dosa besar berikutnya
alyasu min rauhillah wal qunut min
rahmatillah sebagaimana kita bahas pada
pertemuan kemarin itu putus asa dari
pertolongan Allah atau putus asa dari
rahmat Allah maka harus ada khauf harus
ada raja mana yang lebih kuat wallahuam
ee Syekh Saleh bin Abdul Aziz Sindi
hafidahullahu taala merojikan pendapat
ketuju Tujuh bahwasanya hendaknya selalu
seimbang dalam segala kondisi. Apa
dalilnya? Kata beliau, di antara
dalilnya beliau menyebutkan dalil-dalil
datang tentang khauf dan raj secara umum
tanpa ditqyid, tanpa dikhususkan pada
kondisi-kondisi tertentu. Seperti firman
Allah Subhanahu wa taala, "Nabbi ibadi
anni analofurur rahim wazabi hualzabul
alim." Kabarkanlah kepada hamba-hambaku
sesungguhnya aku ini maha pengampun lagi
maha penyayang. Ini raja. Waabi
alim. Dan kabarkan kepada mereka
bahwasanya azabku adalah azab yang
pedih. Ini adalah khauf.
Dan Allah mengatakan nabi, nabi adalah
naba. Naba adalah berita penting. Yaitu
kabarkanlah Allah suruh nabi kabarkan
agar timbul dalam diri mereka khauf dan
raja.
Ya, khauf dan raja secara umum tanpa
terkecualikan dengan kondisi-kondisi
tertentu. Contoh juga eh Allah
berfirman, "Innahum yusariunairatiunana
waohaba w khin tentang para nabi kata
Allah, ragaban waohaba." Mereka
berdoa kepadaku ragaban warba dalam
kondisi
ee berharap dan takut. Ragaban itu
berharap. Rahaban maksudnya takut. Dan
ini Allah juga menyebutkan secara umum
para nabi demikian kalau mereka
beribadah. Yadunana ini maknanya
beribadah. Karena doa bisa dua. Bisa
maknanya doaul ibadah, bisa maknanya
doaul masalah. Jadi terkadang disebut
dia berdoa kepada Allah maksudnya
beribadah kepada Allah atau dia berdoa
kepada Allah maksudnya sedang meminta
kepada Allah. Adapun ayat ini, innahum
yadunana.
Bisa diartikan mereka kalau beribadah
kepada Allah selalu ragaban wara, selalu
berharap dan takut. Maka di sini
digabungkan keduanya tanpa dikhususkan
dengan kondisi tertentu. Maka ini
menunjukkan keuman. Demikian juga dalam
surat azzumar kata Allah, "Aman
huitunili
waqiman yahdarul akirarju rahmatbih.
Ataukah seorang yang bangun malam
kemudian dia sujud dan berdiri sedang
salat yahul akhirah. Dia takut dengan
akhirat waarju rahmat dan berharap
rahmat Allah menggabungkan antara khauf
dan dan raja.
Kemudian juga kata Allah dalam surat
Alaf, waduh khaufan waan inna
rahmatallahi qorib minal muhsinin.
Berdoalah kepada Allah khaufan waa
ya takut dan dan
ber berharap. Takut dan berharap ya.
Ayat seperti ini banyak ya. Ya,
seperti tatunubuhum
khaufanquun.
Mereka bangun malam kemudian mereka
salat berdoa kepada Allah khaufan waah,
takut dan berharap. Jadi ini menguatkan
bahwasanya ayat-ayat umum menunjukkan
keseimbangan. Menunjuk keseimbangan.
Tib.
Ee kemudian di antara dalil yang kedua,
dikhawatirkan kalau mendominasi salah
satunya akan tidak terkontrol sehingga
akhirnya bisa jadi rajak terlalu berat
sehingga khauf sangat kecil ini bisa
mengantarkan kepada merasa aman dari
makrullah atau sebaliknya dia
mendominasi membuat khauf mendominasi
khawatir terlalu berlebihan sehingga
rajaknya bisa hilang dan akhirnya bisa
menjatuhkan dalam putus asa sehingga
keseimbangan tetap dijaga.
Kemudian juga tadi ada nas. Saya katakan
nas tadi jelas Rasulullah menyengguk
orang sedang sakit dan Rasulullah
mengatakan tidaklah berkumpul khauf dan
raja dalam kondisi seperti ini kecuali
Allah akan memenuhi keinginannya,
harapannya dan Allah akan mengamankan
dia dari apa yang dia takutkan. Padahal
dalam kondisi apa? Sa sakit.
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan
didominasi
salah satunya daripada kuasa tertentu,
maka wallahualam. Tujuannya adalah dalam
rangka menjaga keseimbangan.
Karena pada kondisi tertentu ada potensi
salah satunya sangat kuat. Contoh ketika
seorang
sedang
sakit atau dalam menderita ada potensi
dia putus asa. Ada potensi dia putus
asa. Maka Allah ingatkan atau Nabi
ingatkan untuk berbaik sangka. Karena
ada potensi dia putus asa sehingga
disuruh untuk berbaik sangka. Apalagi
ketika akan meninggal, setan akan datang
membuat dia putus asa. Setan akan buat
dia putus asa. Maka di saat itu dia
hendaknya berbaik sangka kepada Allah
Subhanahu wa taala.
Demikian ketika dia maksiat. Kenapa dia
berani maksiat? Kar dia merasa aman. Dia
merasa aman berarti dia harapan dia lagi
besar. Ini ada ketidakseimbangan. Maka
disuruh kuatkan rasa apa? Tak takut agar
dia meninggalkan maksiat tersebut.
Sekarang tidaklah dia berani bermaksiat
kecuali ada rasa aman, ada rasa Allah
maha pengampun, Allah maha penyayang.
Nantilah tobat setelah ini.
Khawatir seperti perkataan
ee saudara-saudaranya Nabi ee Yusuf ya.
Ehquietum
failin. Mereka rencana untuk melempar
Yusuf atau membunuh Yusuf. Kemudian
watakunu min ba'dihian shihin. Setelah
itu sadar kita bunuh Yusuf dulu atau
buang dia. Setelah itu tobat aman. Ini
kan ada rasa rasa aman. Sehingga kalau
rasa berharapnya tinggi dia mudah
bermaksiat. Seperti saya ketemu seorang
kenapa maksiat? Saya ketemu ada orang
Arab waktu itu saya kamu dia lagi enggak
tahu. Dia pamer-pamer saya maksiat saya
gini-gini pamer ke saya. Saya bilang
ittaqillah bertakwa kepada Allah. Kata
dia, "Kawan, gampang, tinggal pergi
umrah selesai urusan." Katanya dosa
semua dia. Ini kan bahaya seperti ini.
Berarti dia rajaannya berlebihan
sehingga dia nekad maksiat dan dia
bilang gampang sudah tinggal tawaf tujuh
kali selesai. Kenapa susah-susah
perkara? Subhanallah. Dia minum khamar
dia ini kemudian dia bilang gampang
tinggal tawaf selesai. Berarti ketika
dia bermaksiat dia rajaknya terlalu
tinggi. Maka disuruh takut kepada ketika
sedang berb untuk menetralisir
menyeimbangkan antara khauf dan dan
raja. Wallahuam biswab. Ini pendapat ini
pendapat. Meskipun saya cenderung kalau
dalam kondisi mau meninggal rajak lebih
kuat. Saatnya kita rojak seingga datang
dalam asar banyak salaf. Ya tentunya ada
asar seperti asar seperti ini. Tapi
kalau sudah mau meninggal sudah
banyaklah berprasangka baik kepada
Allah. Allah maha pengampun. Allah lebih
baik daripada ibu saya. Kita akan menuju
kepada zat yang menciptakan saya yang
lebih sayang kepada
kita daripada orang tua kita. Yang maha
pengampun, yang maha maha maha mah
saatnya sebelum mening meninggal ya.
Wallahuam bawab
tayib.
Paham?
Kita lanjut
faedah.
Maka dengan kita mengenal fikih ini,
fikih khauf dan raja, fikih khauf dan
raja,
maka pertama adalah faedah pertama kita
senantiasa memperhatikan kondisi jiwa
sehingga menjaga keseimbangan antara
khauf dan raja. Dan ini sangat penting
kita kontrol selalu kontrol diri kita.
Jangan sampai kita berlebihan rajnya,
jangan sampai berlebihan apa? Khauf.
Khaufnya karena bisa buruk dalam
kehidupan sehari-hari. Contoh misalnya,
apakah ketika kita bersendirian
masih khauf bersama kita atau khauf
sedang hilang? Ketika itu rajak kita
lagi mendominasi sehingga kita berani
bermaksiat ketika dalam bersendirian.
Biasanya dalam kondisi merasa aman ah
kita khaufnya lagi hilang. Kalau kita
khauf mungkin kita enggak berani
bermaksiat. Ini contoh bahwasanya oh
berarti saya khaufnya lagi lemah
sehingga berani bermaksiat tidak ada
orang. Sehingga ini contoh bahwasanya
kita ket itu sadar bahwasanya khauf kita
lagi lemah. Ya,
makanya harus segera ingat Allah. Allah
berfirman, "Innalladinaq
thifum minitakaru
faid hum mubsirun." Dalam surat Ala'raf
kata Allah, "Sesungguhnya orang-orang
bertakwa jika disentuh oleh setan, yaitu
setan mulai bisik-bisik
membuat dia bergejolak syahwatnya,
membuat dia punya ide-ide nakal, mau
ini, mau anu, mau ini." Ya, tadakaru.
Tiba-tiba dia ingat Allah Subhanahu wa
taala. Faidirun. Kemudian dia sadar,
mereka sadar. Ya, kalau orang kalau
sudah begitu dia harus menguatkan rasa
takutnya. Makanya di antara tafsir
firman Allah Subhanahu wa taala ee
firman Allah Subhanahu wa taala,
"Waliman khaofa maqoma rbihi jannatan."
Bagi yang takut dengan kedudukan Allah,
maka dia mendapatkan dua surga. Sebagian
ulama menafsirkan, yaitu orang hamma
bimaksiah. Dia ingin bermaksiat yaitu
khaufnya lagi rendah. tahu-tahu dia
ingat Allah Subhanahu wa taala, maka dia
pun takut. Ketika dia takut, dia
tinggalkan. Ini pentingnya kita
menetralisir antara khauf dengan raja
ya. Kadang-kadang khaufnya lagi hilang
ya. Lagi lagi hilang ya.
Ngeri ya. Namun kita saya sudah cerita
berapa kali namanya orang tergoda
kapan-kapan saja bisa khaufnya lagi
hilang. Ya ngeri ya.
Bayangkan ada kawan-kawan waktu itu
sempat
kita kita di hotel, saya di kamar lain,
mereka di kamar lain. Tahu-tahu jam
berapa? Jam .00 apa jam waktu sahur
datang perempuan ketuk pintu. Buka pintu
katanya, "Mas, pesan saya ya.
Ini ada aplikasi Mas, nomornya sama."
Kalau sendirian kan goyang juga. Untung
bertiga jadi takut. [tertawa]
Besoknya mereka cerita, "Ustaz, tadi
malam ada kuntilanak.
Jam berapa datang kuntilanaknya?" Saya
kira kuntilanak beneran ada jin ganggu
ternyata makhluk halus. [tertawa]
Nah, seperti itu. Ngeri kalau kita
enggak ada khauf lagi jauh dari istri,
lagi jauh keluarga lagi tadi malam entah
nonton apa ya pucuk apa pucuk pucuk apa
dicinta ulang pun tiba. Subhanallah
ngeri ya. Saya juga cerita tentang kisah
kawan saya waktu ceramah ya. Dia cerita
di Mekah, dia ceramah pada tanggal ee 7
6 7 8 musim haji. Para jemaah haji
hadir. Kemudian mereka berhaji tanggal
8. Dia balik lagi tanggal 13 datang.
Ternyata ada salah seorang di antara
mereka yang berzina. Bayangkan baru
pulang dari haji dari Mina berzina.
Dia bilang, "Syekh, saya tidak mungkin
diampuni oleh Allah." K. Syekh kenapa
kok tidak diampuni? Saya pulang dari
Mina, saya masuk hotel, tahu-tahu ada
cewek lewat, saya panggil ngobrol,
terjadi. Bayangkan baru pulang haji.
Untung haji reguler. Kalau haji furoda
kan mahal, apalagi haji korupsi.
[tertawa]
Jadi, subhanallah maksud saya kadang
kita khaufnya hilang
ketika dalam kes tertentu. Makanya di
antara kita belajarnya agar kita bisa
takut. Kenapa kok lagi takut, merasa
aman segera lawan dengan apa? Takut. Qul
inni akhafu in asituaba yauminim.
Katakanlah jika aku bermaksiat kepada
Allah, aku takut dengan azab yang pedih.
Tib. Misalnya contoh kedua ini contoh
pertama.
Contoh pertama misal contoh kedua apakah
ketika di tengah keluarga khauf masih
menyertai itu kita lagi nyaman
ya kita masih menyerti. Padahal orang
tadi penghuni surga mengatakan inna
kunna qoblu fi ahlina musfiqin. Kami di
tengah-tengah keluarga masih takut
kepada Allah. yaitu dalam keluarga
ketika ngurusin anak adakah khauf kepada
Allah saya bakalan dihisab ketika
berinteraksi dengan istri, ngomelin
istri, ngobrol sama istri, adakah khauf
kepada Allah subhanahu wa taala? Jadi
dia mengatakan, "Kami di tengah keluarga
tetap ada khauf, tidak hilang padahal
lagi senang-senang. Kalau istri minta
beli sesuatu, takut enggak kepada Allah?
Apa semua keinginan istri dipenuhi?"
Maka tetap ada khauf. Ataukah hilang
ketika kita sedang bercengkerama dengan
istri dengan sedang-sedang, khauf itu
hilang atau tidak? Ya. Kemudian apakah
ketika ketika ketika sedang dalam nyaman
kita masih berharap semoga kenyamanan
ini adalah mukadimah dari nikmat surga?
Allah begitu baik. Kita husnudan
bahwasanya ini adalah kebaikan Allah
berikan. Mudah-mudahan lanjut di mana?
Di di surga. Jadi khauf dan raja. Tidak
boleh khauf juga tidak boleh juga ra
roja saja. Contoh lagi ketika terkena
musibah. Ketika terkena musibah apa kita
takut? Jangan ini sebagian dari akibat
dosa kita. Dan kemungkinan besar akibat
dari dosa dosa kita. Ataukah kita raja,
kita berharap ini teguran dari Allah
karena Allah sayang kepada kita. Dan
innallah idza ahabbaan ibtalahum. Allah
kalau cinta suatu kaum Allah mengujinya.
Mriillahu bikhairin yusib minhu. Siapa
yang Allah ingin kebaikan baginya Allah
timpakan musibah kepadanya. Semakin
tinggi iman semakin banyak musibah.
Maksudnya ada khauf ada raja. Tapi kita
introspeksi nih maksiat mungkin kemarin
saya begini ya. Alhamdulillah Allah
tegur saya antara khauf dan raja.
Atau kita takut apakah musibah ini
adalah mukadimah azab? Jangan-jangan ini
mukadimah apa? Azab.
Ataukah kita berharap ini untuk
mengangkat derajat? Jadi dalam setiap
kondisi kita tidak terbuai dengan raja
dan juga tidak terbuai dengan apa?
Tergurus dengan khauf antara keduanya.
Maka ini contoh dengan kita belajar ini,
kita selalu mengontrol jiwa kita, iman
kita antara khauf dan raja.
Kemudian faedah kedua, berusaha untuk
meningkatkan khauf dan raja. Karena
keduanya merupakan ibadah. Khauf ibadah,
raja juga ibadah. Berharap kepada Allah
ibadah, tidak berharap kepada manusia
tauhid. Saya hanya berharap kepada
Allah. Tauhid atau bukan? Tauhid. Saya
tidak takut kecuali pada Allah. Tauhid.
Oleh karenanya perlu kita tingkatkan
khauf dan raja tersebut.
Untuk itu untuk meningkatkan khauf dan
raja maka ada dua hal yang harus kita
perhatikan.
Hal yang pertama adalah sebab-sebab
untuk menaikkan rasa takut dan juga
sebab-sebab untuk menaikkan level rajak
kita. Kita harus takut kepada Allah
semakin tinggi. Kita juga berharap
kepada Allah semakin apa? Ting ting
tinggi.
Ini pertama. Yang kedua, mengenali apa
saja yang harus kita takuti.
Demikian juga mengenali apa saja yang
harus kita harapi, yang kita harapkan
untuk apa aja dengan mengenal dua poin
ini. Sebab-sebab kita, sebab-sebab khauf
apa? Terus apa yang perlu kita takuti,
kemudian sebab-sebab menambah level raj
apa dan apa saja yang perlu di saat apa
kita berharap, di saat apa kita berharap
sehingga kita selalu mengontrol diri
kita untuk khauf dan raja
tayib. Paham?
Kita lanjut ee sekarang pada ee
sebab-sebab khauf ya.
Sebab-sebab menimbulkan rasa takut di
antaranya seperti mengenali sifat-sifat
Allah atau nama-nama Allah yang
menunjukkan keagungan. Seperti al-qahar
yang menunjukkan qahar. Yaitu Allah
berkuasa, Allah menundukkan gak ada yang
bisa. Kalau Allah ingin kau tidak bisa
apa-apa, kau mau sembunyi di mana pun
kau tidak akan lolos. Ya, alkibriah
Allah yang maha agung ya, maha penuh ee
yang berhak untuk sombong hanj Allah
subhanahu wa taala seperti aljal yang
maha agung. Allah juga punya sifat
ghadab. Allah bisa marah. Ya, seperti
ini. Allah juga berbuat makar bagi yang
berbuat makar di antara sifat Allah
subhanahu wa taala. Ya.
Ya. Wakaru makarallahu khairul makirin.
Maka membuat kita takut kepada Allah
subhanahu wa taala. Buat kita takut
kepada Allah subhanahu wa taala. Qala
Hammad bin Salamah. Hammad bin Salamah
berkata, contoh ini kita takut. Man
thabal hadirillah
mukira bihi. Siapa yang mencari ilmu
hadis bukan karena Allah hanya untuk
disanjung, untuk disombong, untuk
diakui, untuk banyak-banyakan hadis,
banyak-banyak riwayat. Mukiro bihi.
Allah akan bikin makar kepada dia.
Siapa yang menuntut ilmu bukan karena
Allah, dia akan dibuat makar oleh Allah
kepadanya maka dia akan menjauh dari
Allah dengan cara Allah subhanahu wa
taala. Karena dia nuntut ilmu bukan
karena Allah subhanahu wa taala.
Seperti sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam, manabal ilma
bihi al ulama bihifahari
bihi wujuh. Siapa nuntut ilmu dalam
rangka agar bisa disejajarkan dengan
ulama supaya diakui ya atau untuk
berdebat membodoh-bodohin orang bodoh
supaya kelihatan jago ngalang-ngalin
orang bodoh. Tujuan untuk ilmu untuk itu
aja untuk jago-jagoan atau agar liasrifu
biha junas. Agar orang semua terfokus
kepada dia. Orang semua fokus kepada
dia. Maka dia tidak akan mencium bau sur
surga. Dia tidak akan masuk surga. Haram
kepada dia surga. ngeri berarti nuntut
ilmu bukan karena Allah. Contoh, Nabi
bersabda, "Man thaabal ilma mimma yubi
wajah
laallamuhu illausiba
ard minad dunya lam yajid arfal jannah."
Siapa nuntut ilmu yang seharusnya untuk
mencari wajah Allah, untuk ikhlas, untuk
takwa, seharusnya ikhlas. Mencari wajah
Allah maksudnya ibarat dari apa? Ikhlas.
Dan ilmu adalah suatu yang paling utama
untuk mencari keikhlasan. Laamu
minun. Ternyata ilmu hanya untuk mencari
dunia maka dia tidak akan mencium bau
surga. Siapa yang jamin dirinya? Bahaya.
Kita tahu Allah bisa buat makar. Kita
enggak sadar. Kita digiring pada
kesesatan, terpedaya dengan pujian
orang. Ngeri. Makanya Ahmad bin Salam
mengatakan, "Man tholabal hadhairillah
mukir bihi." Siapa yang nuntut ilmu
karena bukan karena Allah, dia akan
dimakarin oleh Allah subhanahu wa taala.
Di antaranya mengenal aib diri sendiri.
Ya, aib kita banyak kekurangan membuat
kita takut. J masih niat masih belum bel
beres, ibadah masih ngacau ya, masih
pelit, masih kurang berbakti sama orang
tua, masih kurang mendidik anak istri,
masih banyak tugas belum dikerjakan. Ya,
masih banyak hal kita penuh dengan
kekurangan, ya. Maka membuat kita takut
kepada Allah Subhanahu wa taala.
Kemudian juga membaca nas-nas tentang
ancaman. Allah berfirman,
"Innaabbihimun."
Sesungguhnya azab rab mereka tidaklah
aman. "Tidaklah aman." Dia merasa aman
dari azab Allah. Ini akum
katakanlah wahai Muhammad, Allah suruh
Nabi berkata
inni akubim.
Aku takut kalau aku bermaksiat kepada
Allah. Aku takut dengan azab di hari
yang dahsyat. Kemudian mengali ayat-ayat
kauniah. Wurs ayati takwifa. "Tidaklah
kami kirim ayat-ayat Allah kecuali untuk
beri rasa takut." Allah bikin
peristiwa-peristiwa besar membuat orang
harusnya takut. Kalau Allah ingin
timpakan bencana, Allah bisa membuat
kita mati mendadak. Allah bisa buat kita
celaka, Allah bisa tarik ee kenikmat
yang ada pada kita kapan-kapan saja. Ya,
mudah bagi Allah bisa bongkar aib kita
kapan-kapan saja. Alam ini diatur oleh
Allah. Allah membikin hujan, mau bikin
badai, membikin gempa, membikin gerhana
terserah Allah Subhanahu wa taala. Kata
Allah, nursidu bilati takwifa. "Tidaklah
kami kirim ayat-ayat Allah, yaitu ayat
kauniah, kecuali untuk memberikan rasa
takut." Harusnya orang takut. Orang
takut meskipun dia selamat, dia juga
harus rasa takut. Ya, ee betapa banyak
orang sedang bermaksiat, tahu-tahu Allah
hentikan nafasnya. Banyak tidak banyak
lagi men judi mati dalam kondisi kaku
lagi berzina tahu-tahu mati di atas
perut perempuan
perempuan enggak jelas kuntilanak ya
makhluk halus was maksiat lagi minum bir
mati lagi macam-macam macam-macam
macam-macam
sebab-sebab menemukan raja ya ad
mengenali sifat-sifat keindahan Allah
punya sifat-sifat yang sifatul jamal
seperti arrahim Allah nama Allah arrahim
itu rahmat aljamil maha ini maha
penyayang aljamil maha indah alatif maha
lembut kepada hamba-hambnya alghffar
maha pengampun alkarim yang maha baik
albar yang maha baik ya alkarim maha
dermawan banyak ituu membuat kita tidak
putus asa tuhan kita begini begini ya
ini dengan yang paling cepat belajar
asmaul husna paling cepat belajar
tentang asmaul husna kemudian juga
membaca nasas tentang janji-janji Allah
bagaimana janji-janji Allah tentang
surga buat kita berharap ya tentang
kenikmatan surga tentang kebahagiaan
orang yang beriman macam-macam. Kemudian
baca kisah-kisah tentang ampunan Allah
dari Al-Qur'an, hadis. Kisah-kisah
tentang orang-orang beriman. Ya, ini
buat kita berharap ya.
Seperti bagaimana Allah mengampuni para
penyihir Firaun yang sekian puluh tahun
menjadi penyihir atau di akhir hayat
Allah ampuni. Kisah tentang pembunuh 100
nyawa, Allah ampuni. Kisah tentang
sahibul hadis sahibul bitaqah yang
dibukakan 9 musim catatan amal maksiat.
Tapi dia punya lailahall ak diampuni.
Kisah tentang seorang ee pelacur yang
diampuni gara-gara banyak seperti ini
buat kita berharap kepada Allah.
Berharap tentang Rasulullah bersabda,
"Sabaqo dirhamun miata alfi dirham."
Satu keping dirham mengungguli
mengalahkan 100.000 dirham. Mau sedekah
sedikit juga kalau Allah berkehendak
bisa bikin pahalanya besar ya. Dan
macam-macam ya kita membuat kita. Ya.
Kemudian tadi ee kisah
orang-orang beriman
dengan kesudahan yang indah
membuat kita banyak berharap kepada
Allah
subhanahu wa taala. Ini di antara
sebab-sebab ee menumbuhkan khauf dan
menumbuhkan rajab.
Tayib. Sudah
kita lanjutkan. Ee di antara hal yang
penting adalah tentang
mutaalaqatul khauf. Tentang kita tuh
takut kepada Allah pada perkara takut
pada perkara-perkara apa saja yang harus
kita takuti. Itu takut syar itu takut
pada apa saja ya. Takut syari itu takut
pada apa saja. Yang pertama takut kepada
Allah. Takut kepada Allah subhanahu wa
taala tentunya dengan
merenungkan tentang tadi sifat-sifat
Allah yang agung ya. Dia aljabbar, dia
almutakabbir,
ya. Dialah Allahu Akbar, dialah alkabir.
Ya, dialah alqahar. Ini membuat seorang
takut kepada Allah subhanahu wa taala.
Dan Allah mengatakan, "Wauhad
wirukumullahu nafsah." Dan Allah
ingatkan kalian akan dirinya.
Waspadalah. Ya wuhadzirukumullahu nafs.
Allah mengingatkan kalian akan dirinya
itu agar kalian takut kepada Allah.
Allah mengat, "Ya ayyuhantaqubakum."
Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb
kalian. Allah ceritakan tentang malaikat
yakunabahum min fauqih. Malaikat takut
kepada Rabb mereka dari atas mereka.
Malaikat takut kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Allah juga berfirman, "Yusabbihuusabbihu
bihamdihi wal malaikatu min khifatih."
Bahwasanya
petir bertasbih kepada Allah dan memuji
Allah. Dan malaikat juga bertasbih min
khifatih karena takut kepada Allah.
Malaikat takut kepada Allah. Bertasbih
karena takut kepada Allah.
Allah juga berfirman, "Man khasyarahmana
bil ghaib." Siapa yang takut kepada
Arrahman ketika sedang bersendirian?
Ketika seorang lelaki diajak berzina
oleh seorang wanita yang cantik, jelita,
dan kaya raya, dia berkata, "Inni
akhafulah."
Aku takut kepada Allah subhanahu wa
taala. Jadi Allah sebagaimana kita
harapin, sebagaimana kita cintai, kita
juga takut kepadanya. Kita juga takut
kepadanya.
Maka takut kepada Allah di antara ibadah
yang yang agung. Ya. Yang kedua, takut
kepada azab Allah. Takut kepada azab
Allah. Inna fi dzalika laayatan liman
khofa adzabal akhirah. Ya dzalika yaumun
majmuun lahunasalika
yaumun masyhud. Ya surat Hud bahwasanya
pada hal tersebut yaitu bagaimana Allah
membinasakan suatu kaum kalau Allah
berkehendak. Laayatan liman khaofa
adabal akhirah. Sungguh ini adalah
pelajaran bagi orang yang takut dengan
azab akhirat. Harus takut azab Allah.
Ya
kata Allah inna adabbihim giru makmun.
Sesungguhnya azab mereka tidak diaman.
Ya contoh Allah mengatakan la yadibuahu
ahad wqahu ahad. Allah kalau mengazab
tidak ada yang bisa mengazab seperti
azabnya. Seorang mau berinovasi,
berkreasi dalam mengazab orang lain. Mau
dia pakai gas, mau dia pakai bom, mau
dia pakai masih kalah dengan azab Allah
Subhanahu wa taala. Allah kalau sudah
mengazab sangat mengerikan ya. Sangat
mengerikan
ya.
Masalahnya api neraka membakar
ee tapi tidak bikin mati. Itu masalahnya
kalau bikin mati selesai. Ya. Ya. Allati
alal afidah di mana api langsung masuk
ke dalam dada. Saya sering sampaikan
kalau api dunia membakar bagian luar
dulu, tapi kalau api neraka langsung
luar dalam sekaligus.
langsung masuk ke tembus ke dalam dada
dan apinya sangat panas. Narun hamiah
maknanya api yang dipanaskan. Sudah
panas dipanasin lagi. Jadi tidak ada
yang bisa mengazab seperti azabnya
Allah. W yuqu waqahu ah. Dan tidak ada
yang bisa membelenggu seperti
belunggunya Allah. Oleh karenanya azab
Allah sangat pedih buat kita harus
takut. Ya, harus kita takut. Makanya
kisah yang masyur tentang seorang w
lelaki yang terbetik hatinya ingin
berzina, maka dia segera mengambil lampu
atau lilin kemudian dia bakar
jari-jarinya agar dia berhenti dari
hasratnya tersebut. Hasratnya bergojolak
terus dia bakar jarinya satu-satu dia
tidak tidur. Kalau dia lepas maka dia
hasratnya bergejolak lagi. Sampai
akhirnya tangannya semua rusak. Ya, kita
tahu bahwasanya api lilin tidak kita
kuat apalagi azab neraka jahanam. Maka
seorang takut dengan azab Allah
subhanahu wa taala dan Allah memuji
orang yang takut dengan azab akhirat.
Tidaklah Allah menyebutkan tentang
dahsyatnya azab akhirat agar kita takut
kecuali agar kita takut. Kemudian contoh
takut kalau amal saleh tidak diterima.
Ya, di antara kita enggak tahu amal
saleh Allah maha menerima amal. Allah
maha menerima tobat. Tapi apakah kita
sudah memenuhi persyaratan amal ataukah
sudah memenuhi persyaratan tobat? Orang
saleh bukan suudan kepada Allah tapi
suudun pada dirinya sendiri.
Ya, makanya Allah mengatakan
dan orang-orang yang melakukan apa yang
mereka lakukan
itu mereka salat, mereka bersedekah,
mereka puasa sementara hati mereka
takut. Takut apa? La yutaqobbala minhum.
Tidak diterima amalan mereka tidak
diterima. Mereka takut sehingga mereka
yusariuna filhairat. Sehingga mereka
semakin banyak cepat melakukan
kebajikan. Lihatlah bagaimana Nabi
Ibrahim, Nabi Ismail ketika membangun
Ka'bah mereka berdoa, "Rabbana taqobbal
minna innaka antamil." Ya Rabb kami,
terimalah amalan kami. Kenapa? Mereka
takut tidak di diterima. Mereka takut
tidak terima. Sedang membangun rumah
Allah dengan perintah Allah langsung
kemudian takut tidak di diterima. Ya,
takut seperti ini disyariatkan. Kenapa
kita takut? Bukan Allah bukannya Allah
menolak amal saleh. Kita takut karena
kita seuzun pada diri kita.
Jangan-jangan kita tidak memenuhi
persyaratan amal saleh. Enggak ada yang
jamin, enggak ada yang kita ini hal
gaib. Terima tidak yang tahu cuma Allah
subhanahu wa taala. Kecuali ada wahyu
yang turun. Tib. Allah berfirman, innama
yataqobbalullahu minal muttaqin. Sungguh
suungguhnya Allah hanya menerima dari
orang yang bertakwa. Kalau dia bertakwa
dalam amal salehnya diterima. Kalau
tidak bertakwa tidak diterima. Siapa
yang jamin dirinya bertakwa ketika amal
saleh tersebut? Siapa yang jamin? Enggak
ada yang jamin. Memang sekarang saya
dakwah saya jamin memenuhi persyaratan
enggak ada yang tahu. Enggak ada yang
tahu. Kita umrah kita jamin pasti um
kita terima. Enggak ada yang tahu.
Makanya ada kekhawatiran
dan ini kekhawatiran yang disyariatkan
tapi tidak putus asa. Ada berharap dan
juga tak takut. Ya, ini maksud saya ini
contoh perkara-perkara apa saja kita
takutkan ya. Makanya ada seorang salaf
yang menangis. mengatakan unzuru ila
khilirrahman bana baitarrahman biamr
minarrahman tma yakfu alla yataqobbala
minurahman lihatlah kepada kekasih Allah
Ibrahim dia sedang membangun rumah Allah
yaitu Ka'bah masjid terbaik di alam
semesta bukan sedang bangun masjid
Asunah bukan atau Masjid Istiqlal bukan
masjid haram Ka'bah yang bangun siapa
masjid Nabi Nabi Ibrahim Nabi Ismail ya
biamri minarrahman langsung
diperintahkan oleh Allah langsung Nabi
Ibrahim diper langsung oleh Allah entah
melalui malaikat Jibril tapi langsung
Allah perintahkan kemudian dia masih
takut tidak diterima padahal kerjaannya
sangat berat bayangkan dia dan Ismail
harus pergi ke gunung kemudian belah
batu dikotakin dipikul emang kerjaan
ringan berat itu. Belum nyusun nyusun
sampai ada makam Ibrahim naik nyusun itu
berat ya berat. Kemudian mereka masih
takut tidak diterima oleh kita kayak
apa.
Kemudian
takut tobat kita tidak diterima sehingga
kita selalu ingat-ingat maksiat kita.
Kenapa bisa demikian? Karena enggak ada
yang jamin. Lihatlah wa alatilladzina
khullifu tentang tiga orang sahabat yang
tidak ikut perang apa? Perang Tabuk.
Mereka bertobat tidak langsung diterima.
Tunggu 50 tahun baru Allah turunkan ya
tobat mereka. Baru Allah tunjukkan.
Bayangkan sahabat sudah nangis-nangis,
sudah ini, sudah ini, tidak ya
diakhirkan apa kondisi mereka sampai
Allah turunkan tobat setelah berapa? 50
hari. Itu sahabat kita
santai aja pasti diterima pasti
diterima. Wallahualam. Memang Allah maha
penerima tobat. Masalahnya bukan pada
Allahnya. Masalahnya pada kita. Apakah
kita sudah memenai persyaratan apa
tobat? Sehingga kalau kita takut, kita
selalu ingat kita istigfar lagi,
istigfar lagi, istigfar lagi. Oh, PD
saya sudah diterima. Maksiat lagi nanti.
Ya, kita enggak tahu kalau kita tahu ada
pemberitahuan diterima merasa aman,
maksiat lagi, tobat lagi diterima
[tertawa]
maksiat terus. Kita gaib, kita enggak
tahu benar Allah maha menerima tobat
masalahnya bukan pada Allah. Bukannya
kita suudon kepada Allah, tapi suudon
pada diri sendiri.
Contoh lagi, kenapa takut amal s kita?
Takut amal kita tercampur ria. Siapa
yang jamin kita ikhlas?
Tiap hari posting amal ibadah gimana?
Siapa yang jamin ikhlas?
Ya, lagi umrah posting, lagi haji
posting,
lagi dorong orang tua posting, lagi
ajal-ajalan istri posting,
lagi ke masjid posting, semuanya posting
yang baik-baik semua. Siapa jamin ente
ikhlas? Enggak ada yang tahu.
Enggak ada yang tahu. Dan ikhlas sangat
berat. Ikhlas sangat sangat. Siapa yang
jamin kita ikhlas? Enggak ada yang jamin
kita ikhlas. Kemudian kita juga takut
ternyata niat duniawi mendominasi.
Berdakwah ternyata niatnya duniawi.
Nuntut ilmu ternyata niatnya dniawi.
Duniawi itu banyak. Ingin dipuji, ingin
diakui atau supaya menang Pilkada
banyak. Duniawi pencitraan banyak. Siapa
yang jamin kita bersih? Enggak ada. Maka
ini semua hal membuat kita takut. Jangan
sampai amal kita tidak diterima. Tapi
bukan tidak berharap antara berharap dan
ta takut. Kemudian takut amal kita
batal. Amal kita bisa batal. Bisa. Allah
mengatakan, "Ya ayyuhalladzina amanu
lautqatikum bilni walzi yun maahuas
wahi walumil akhir. Wahai orang beriman,
janganlah kalian batalkan sedekah kalian
yang ikhlas. Kalian ikhlas tapi bisa
batal. Dia sedekah ikhlas tapi batal."
Kenapa? Dengan menyakiti dan
mungkit-mungkit. Seperti orang yang riak
batal amalnya. Orang riak amalnya batal
tidak diterima. Nah, sama kamu kalau
bersedekah ikhlas tapi kamu
ungkit-ungkit bisa batal. Kita lagi
sudah bantu keluarga lama terus dia
cerita, "Kau saya bantu kau gini kau."
Ah, sudah hilang semua dulu. Yang
sekolahin kamu siapa? Tahu?
Iya tahu. Selama tinggal amal hilang,
batal sedekah selama ini. Rugi kita
rugi.
Bisa ada amal salat ternyata bisa ba
batal.
Apa kata Aisyah kepada seorang sahabat?
Sampaikan kepada dia bahwasanya riba
yang dilakukan qod abtola jihadahu.
Jihadnya telah batal gara-gara riba yang
dia lakukan. Bayangkan ngeri. Aisyah
berkata, "Sampaikan kepada dia jihad
yang telah dia jihad pahalanya kayak
apa? Batal gara-gara riba.
Ini kita kadang kepepet kita riba
kepepet. Ini darurat. Darurat apa? Beli
mobil darurat. Karena mobil murah bisa
hutang. Itu enggak bisa. Harus yang
mewah. Mewah harus pakai uang bank.
Darurat.
Padahal enggak darurat. Riba gampangin
riba. Enggak tahu riba ini bisa
membatalkan berapa banyak amal saleh
kita. kita enggak tahu.
Makanya dibahas oleh para ulama tentang
sebagaimana
hasanatul mahiyat, sebagaimana amal
saleh bisa menggugurkan dosa-dosa.
Sebagian dosa-dosa bisa menggugurkan
apa? Amal saleh. Bahkan Imam Ahmad
berbicara tentang pandangan haram.
Pandangan haram ini bisa membatalkan
sebagian amal saleh. Siapa yang bisa
jamin amal amal saleh kita kalaupun
diterima tidak akan batal atau tidak
berkurang pahalanya? Enggak ada yang
tahu. Enggak ada yang tahu. Maka kita
perlu takut akan hal tersebut.
Kata Allah, wala tubtilu a'mal. Jangan
kalian batalkan amalamal kalian. Bab
yang kelima, takut kenikmatan duniawi
mengurangi nikmat akhirat. Ini bagi
orang kaya yang miskin ya, enggak masuk
dalam hal ini.
Ini pendapat sebagian ulama seperti Umar
bin Khattab, Abdurrahman bin Auf
bahwasanya nikmat dunia bisa mengurangi
nikmat apa? Akhirat. Ini khilaf di
kalangan para sahabat. Tapi sebagian
sahabat memandang demikian. Sehingga
imam e apa namanya?
Ee apa namanya? Para ulama mengatakan
seorang berusaha
taklil attaqlil minad dunya berusaha
semaksi
seminimal mungkin memanfaatkan dunia
sebelum dia meninggalkan dunia ini agar
semakin ringan hisabnya, agar semakin
banyak pahalanya. Ya, ini pendapat
sebagian ulama ya. Dan itu praktik Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Yuqallil
minad dunya. Rasulullah menggunakan
dunia seminimal mungkin yang bisa dia
lakukan. Sebentar kita dilapangkan
rezeki. Enggak tahu ya apakah ini
mengurangi nikmat kita di akhirat.
Wallahuam ya. Wallahuam.
Takut hisab kata Allah. Wakuna sual
hisab. Bahwasanya mereka takut hisab
yang buruk. Kita duit banyak bakalan
banyak hisab. Enggak jelas. Semakin
banyak duit semakin banyak hisab.
Semakin kaya semakin banyak hisab.
Semakin miskin hisabnya semakin sedikit.
Makanya yang miskin duluan masuk surga.
Ada raja dikatakan anak buahnya, "Raja,
nanti kita duluan masuk surga yang
raja-raja belakangan." Kata raja
tersebut, "Iya, kalian masuk surga
siapin buat saya." Katanya [tertawa]
ini ada seorang raja ngomong begitu. Dia
bercanda sama anak buahnya.
Masuk dulu, siapin ya. Kalau sudah siap
kasih tahu. [tertawa]
Subhanallah. Kita hisab banyak. Semakin
banyak mobil semakin banyak hisab.
Semakin banyak akun semakin banyak
hisab. Semakin banyak rumah semakin
banyak hisab. Semakin banyak istri
semakin banyak hisab. Semakin banyak
[tertawa]
semakin banyak nikmat semakin banyak
apa? Hisab.
Takut kita enggak habis bisa? Bisa jawab
semuanya. Habis bisa jawab. HP aja bisa
kita jawab kalau HP kita dihisab. Apa
saja yang sudah kita bukan HP tersebut.
Wallahuam. Azanah.
Hah. 3 menit lagi. Iya.
Kemudian juga di antaranya yang ketujuh,
takut akibat maksiat cepat atau lambat.
Maksiat la budda yuatir. Maksiat pasti
ada dampaknya cepat atau lambat.
Kebanyakan orang hanya fokus akibat
maksiat pada akibat zahir. Takut
rezekinya kurang, mungkin sakit, mungkin
istrinya ngomel-ngomel, mungkin ya.
Padahal pasti langsung kena yaitu pada
hati.
Inal abdaanbi
sauda. Sesungguhnya seorang ketika
bermaksiat ada noda hitam di hatinya dan
itu pasti mempengaruhi imannya. Entah
dia sulit salat khusyuk, entah dia susah
untuk ikhlas, entah dia susah untuk
bangun malam, entah dia pelit, itu
masalah hati. Jadi ee maksiat pasti
menyerang hati langsung dan tidak
tertunda. Cuma efek zahirnya kadang
belakangan.
Ibarat racun kalau masuk sedikit-sedikit
kata Ibnu Qayyim lama-lama baru meledak
tapi racunnya sudah masuk.
kita maksiat santai-santai aja kita
enggak sadar ternyata apa-apa yang
menimpa kita, kita lagi malas ini
ternyata efek maksiat yang akumulasi
selama ini kita akumulatif kita lakukan.
Kemudian di antaranya
ketakutan, takut terjerumus dalam
maksiat ketika bersendirian. Betapa
banyak orang ketika depan banyak orang
kuat, tetapi ketika bersendirian dia
terjungkal imannya lemah maka dia takut.
Jangan sampai dia ketika sudah beriman
baik-baik, habis Ramadan, tahu-tahu
ketika bersendirian terjunus lagi dalam
maksiat, tahu-tahu wa-WA istri orang
ngeri pacar lama di wa-WA kemudian asik,
enjoy ngobrol sama istri orang, ngobrol
dengan wanita yang tidak halal bagi dia.
Dan itu mungkin saja terjadi.
Kemudian takut kenikmatan adalah
istidraj. Mungkin kenikmatan kita
semakin bertambah. Semakin apakah kita
semakin zuhud atau semakin duniawi.
Sebagian orang Allah bukakan kenikmatan
dia ngaji tapi pikirannya semakin
duniawi.
Dia ngaji, ngaji rutin tapi pemikiran
semakin dunia. Dikasih buka harta
semakin ngomong ini, ngomong ini,
jalan-jalan branded, barang-barang
branded. Ngomongannya dunia, dunia terus
itu istidraj. Kenikmatan yang buat kita
semakin dekat dengan Allah itulah nikmat
berkah. Kalau nikmat membuat kita
semakin jauh itu apa? Is istidraj. Kita
introspeksi diri. Jangan khawatir. Yang
terakhir takut suul apa? Khatimah.
Enggak tahu kesudahan kita seperti apa.
Betapa banyak orang di awal baik
ujungnya suul khatimah. Azan
tayib. Kita lanjutkan sekarang terkait
dengan raja. Perkara-perkara apa yang
diharapkan? Kebalikan dari yang kita
takutkan. Pertama misalnya berharap amal
diterima. Kita berharap terutama ketika
mau meninggal dunia kita berharap semua
amal kita diterima. La yamutanna
ahadukum illa wahua yuhsinna billahi
azza waalla. Jangan sekali-sekan orang
meninggal dunia kecuali dia berprasangka
baik. Itu berasangka akan kembali ke zat
yang maha penyayang. Akan disambut
dengan baik husnuzan akan diterima amal
saleh kita, akan diampuni dosa-dosa.
Berharap magfirah ampunan Allah. Seperti
eh kata Ibrahim alaihi salam,
"Walladziamagfirti
yaumaddin."
Dialah Allah yang aku berharap
mengampuni dosa-dosaku pada hari kiamat
kelak. berharap atma aku berharap
diampuni dosa-dosaku. Inna natma ayagfir
lana rbuna khatayana an kunna awal
mukminin. Ya kami berharap Allah
mengampuni dosa-dosa dosa kami. Berharap
diampuni dengan mengingat bahwasanya
Firaun saja yang begitu bejat Allah
masih tawarkan ampunan. Ketika Allah
tawarkan ampunan berarti masih mungkin
diampuni dan seterusnya. Kita berharap
hisab yang ringan. Kita berharap Allah
ketika menghisab cuma ditanya
sampel-sampel kemudian tidak detail. Itu
namanya hisaban yasiran atau disebut
dengan ard. Hanya Allah tanya sebagian,
setelah itu Allah lewatin. Kalau
detail-detail repot. Detail-detail apa?
Repot. Ditanya HP aja sudah pusing
jawabnya [tertawa]
repot.
Kita berharap bertemu dengan Allah ya.
Di antaranya rindu memandang wajah
Allah. Nabi berdoa asalukatan wajik. Aku
berharap aku minta kelezatan wajahmuq
dan kerinduan untuk bertemu denganmu.
Allah berfirman
amalan sh yusrik biibadati ahad. Siapa
yang ingin bertemu dengan Allah di
antara tafsirannya siapa ingin melihat
wajah Allah maka melakukan amal saleh
dan jangan syirik. Falyyaal amalan shiha
wala yusrik biibadati. Ikhlas kalau
ingin ketemu Allah subhanahu wa taala.
Manana yurjika Allah fna ajalallahi
laad. Siapa yang ingin bertemu Allah
maka akan ada waktunya bertemuan Allah.
Berharap aib-ayib ditutup oleh Allah
subhanahu wa taala. Ya, berharap aib
ditutup oleh Allah subhanahu wa taala.
Berharap amal sedikit dibalas banyak di
dunia maupun di akhirat. Tapi pengin
sedikit sedekah sedikit Allah ganti
banyak di dunia apalagi di a di akhirat.
Dan biasanya begitu modal sedikit dapat
banyak cuma melihara anak yatim satu
ternyata Allah kasih kaya raya. Padahal
modal melihara anak yatim cuma sedikit
[tertawa]
kenyataannya. Begitu kenyataannya
begitu. Sedekah-sedekah sedikit Allah
ganti ba banyak. Enggak apa-apa kita
berharap dunia tapi jangan duniawi ya.
Dunia dan a akhirat enggak ada masalah.
Berharap baik terutama berharap ketika
kepada Allah
ketika perkara semakin sulit. berharap
ketika
kondisi semakin genting.
Karena sunatullah sering terjadi,
semakin genting baru ee terjadi
kemudahan. Innama al usri yusro. Semakin
sulit nanti ada kemudahan. Ya,
alfaraj ma alkarb bahwasanya solusi
disertai dengan penderitaan dan banyak
contoh dalam Al-Qur'an ketika dalam
susah kondisi semakin sulit maka semakin
husnudan kepada Allah. Seperti kita
sudah sebutkan pada pertemuan kemarin
Yakub alaihi salam ketika tiga anaknya
enggak pulang baru dia semakin kuat
harapannya.
Sampai dia mewasiatkan kepada
anak-anaknya kapan? Ketika Yusuf sudah
enggak tahu ke mana, Benyamin ketangkap,
dituduh mencuri, kakak yang paling tua
tidak mau pulang. Baru saat itu dia
berkata, "Ya bani yadhabu fatahassasu
min Yusufa wa akhiasu miruhillah."
Jangan kalian putus asi rahmat ee
pertolo
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:20:16 UTC
Categories
Manage