Transcript
CJHFMz0NFlo • 4 Alasan Pernyataan Pers Prabowo Perlu Dikritisi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/WatchdocDocumentary/.shards/text-0001.zst#text/0302_CJHFMz0NFlo.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Saya minta
sungguh-sungguh
seluruh warga negara untuk percaya
kepada pemerintah,
untuk tenang pemerintah yang saya pimpin
dengan semua partai politik termasuk
partai yang di luar pemerintahan. Kami
bertekad untuk selalu
memperjuangkan
kepentingan rakyat dan bangsa.
Merespon aksi protes rakyat yang terjadi
belakangan ini, pada 31 Agustus 2025,
Presiden Prabowo Subianto menggelar
konferensi pers di Istana Negara.
Bersama pimpinan lembaga tinggi negara
dan ketua umum partai politik, Presiden
menyampaikan pernyataan resmi. Namun,
pernyataan tersebut tetap menimbulkan
banyak pertanyaan. Pernyataan sepanjang
kurang lebih 13 menit itu perlu kita
kritisi. Berikut empat alasan mengapa
pernyataan Presiden Prabowo patut kita
kritisi.
Alasan yang pertama, pernyataan arogan
wakil rakyat memperlihatkan ada masalah
besar di sistem pemilihan umum.
Catat nih, orang yang cuman mental
bilang bubarin DPR itu adalah orang
tolol sedunia.
Arogannya pernyataan pejabat publik
menunjukkan ini bukan persoalan
individual. Ini adalah problem
carut-marutnya partai politik. Mereka
yang masuk partai politik bukan individu
dengan kredibilitas dan integritas yang
teruji. Jika tak punya modal, mereka
yang kredibel dan berintegritas akan
kalah oleh mereka yang punya popularitas
dan tentu saja bermodal uang banyak.
Membatalkan kenaikan tunjangan bagi DPR
hanyalah solusi permukaan dan tentu saja
itu tak menyentuh akar masalah. Praktik
partai politik termasuk praktik seleksi
calon legislatif perlu direformasi.
Jangan lupa arogannya ucapan anggota DPR
atau bahkan para pembantu presiden, bisa
jadi ini hasil meniru cara Presiden
berkomunikasi.
Ada orang-orang pintar.
Kabinet ini kabinet gemuk
terlalu besar.
[Tepuk tangan]
Alasan kedua, Presiden menutup mata
terhadap kekerasan aparat yang telah
jadi problem sistemik di kepolisian.
Aksi protes rakyat selalu dihadapi
dengan kekerasan.
Sejak awal polisi melakukan penembakan
gas air mata dan pemukulan termasuk
penyerangan kepada jurnalis yang
bertugas. Bahkan seorang pengemudi ojol,
Afan Kurniawan, tewas dilindas oleh
kendaraan tempur milik Brimop.
Kasus ini bukan satu-satunya kasus
kekerasan yang dilakukan oleh polisi.
Di banyak daerah aparatur negara seperti
polisi dan tentara tentunya mereka
melihat rakyat seperti musuh.
[Tepuk tangan]
Aparat yang seharusnya menjadi pelindung
rakyat malah menjadi alat pelindung
kekuasaan dan pemilik modal.
Ini kepalanya.
Hei, tolong
tolong.
Mereka bersenjata tapi moncongnya selalu
diarahkan kepada rakyat.
Maju,
salah arahnya fungsi kepolisian ini tak
bisa diperbaiki hanya dengan menghukum
individu yang melakukan kesalahan dan
menyebutnya sebagai oknum. Sudah saatnya
kepolisian harus direformasi.
Tapi ahli-alih memikirkan reformasi
kepolisian, Prabowo justru memberikan
kenaikan pangkat luar biasa bagi polisi
yang bertugas.
Saya sampaikan ke Kapolri, saya minta
semua petugas ee dinaikin pangkat luar
biasa.
Dinaikin pangkat luar biasa karena
bertugas ee di lapangan membela negara,
membela rakyat.
Alasan yang ketiga, statement Prabowo
memperkuat narasi konspirasi dan politik
stigma. Stigma makar, terorisme, hingga
stigma ditunggangi pihak asing memang
paling mudah dan murah.
Mengarah kepada
makar
dan
terorisme.
Narasi ini sering dipakai rezim untuk
mengabaikan substansi tuntutan rakyat.
Akibatnya fokus bergeser dari masalah
sebenarnya ke teori konspirasi yang
tidak terukur.
Bagaimana rakyat bisa tenang jika
pemerintah berjanji akan mendengarkan
keluhan rakyat, tapi sekaligus memberi
cap kepada para demonstran sebagai
perusuh atau pelaku makar.
Oh ya, jangan lupa juga Presiden pernah
bilang aksi-aksi protes dan kritik
rakyat dibiayai oleh koruptor.
Bisa jadi rakyat lebih percaya bahwa
kampanye pemilulah yang dibiayai oleh
koruptor.
Koruptor-koruptor itu yang biayai
demo-demo itu. Indonesia gelap,
Indonesia gelap. Sorie
Indonesia cerah.
Pernyataan seorang presiden sebaiknya
berbasis data dan analisa yang cukup.
Jika tak pernah ada bukti yang
ditunjukkan, rakyat akan menyimpulkan
bahwa ini hanya omong-omong kosong dari
Presiden saja. Alasan keempat,
pernyataan Presiden terlalu normatif dan
tak menjawab krisis kepercayaan publik.
Presiden meminta rakyat untuk tenang,
percaya pada pemerintah, dan menjaga
persatuan nasional.
Tapi ajakan untuk percaya tanpa
dibarengi membangun akuntabilitas hanya
akan jadi kalimat kosong saja. Penekanan
terus-menerus pada persatuan dan
gotongroyong akhirnya terdengar seperti
mantra politik yang diulang-ulang untuk
menutup kegagalan menjawab masalah
sebenarnya.
Bagaimana rakyat bisa percaya jika
kekerasan aparat polisi dan TNI tak
pernah dihentikan?
Kurang dari 2* 24 jam sejak pernyataan
Presiden, kampus UNISBA dan UNAS di
Bandung ditembaki gas air mata oleh
polisi.
Di waktu yang hampir bersamaan di
Jakarta, Del Pedro Marhain, seorang
aktivis dari Lokataru, ditangkap polisi.
Sekuat dan semanis apapun retorika dari
presiden itu tak akan bisa menghentikan
suara rakyat. untuk mengajukan protes
dan menggugat dari setiap ketidakadilan
yang terjadi. Itu tadi empat alasan
kenapa pernyataan Presiden pantas kita
kritisi. Kamu pasti punya alasan lain
ya? Tulis di kolom komentar ya.
[Musik]