Transcript
DK4OlUH-bTg • TAN TAT HIN | Sang Maestro di Balik Layar
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/WatchdocDocumentary/.shards/text-0001.zst#text/0295_DK4OlUH-bTg.txt
Kind: captions Language: id [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Karya karya beliau sekarang hampir tidak terlihat lagi. Our little cameraman merupakan julukan teman-teman tatin kecil ketika bersekolah di Hua Ing Tiongha Semarang. Ia lahir di Desa Wulingi Blitar pada tanggal 29 November 1910. Ayahnya Tuan Taningle adalah saudaga Rich Peller atau pengupas beras. [Musik] Ketika ia remaja, ia pernah menyampaikan keinginannya untuk mengembara. Namun ternyata tidak didukung ayahnya, Tuan Tan Chingli dan Nyonya Lim King New serta engkongnya Chan Shobi. Nama saya Ivon Sibuea, lebih sering dipanggil Ivon. Saya bekerja di sebuah lembaga non pemerintah yang bernama IN Institute. Kebetulan lembaga kami ini bekerja untuk mempromosikan pluralitas Indonesia. Jadi, salah satu fokus yang sering kami teliti adalah isu etnis Tionghoa yang mungkin jarang tersentuh di Indonesia. Pada masanya pada tahun 30-an hingga 50-an ketika beliau berkarya di Semarang memang fasilitas fotografi pada saat itu belum secanggih sekarang. Namun karya-karya beliau yang beredar secara terbatas itu sudah sangat ee secara teknis sangat mumpuni dan sangat menggambarkan Semarang ee pada masanya sehingga karya-karya fotografer beliau ini ee sangat bisa diambil sebagai titik tolak bagaimana situasi Semarang pada saat itu. Nama saya Yuwono Purwoko. Usia saya 74 tahun. Saya pernah bertemu dengan Om Tantadin pada tahun 1956. Ketika itu saya diajak oleh ayah saya. Pada saat itu ayah saya sering mengunjungi foto-foto studio karena ada pesanan memperbaiki kamera milik studio itu yang rusak. Nama ayah saya Kianbik atau nama Indonesianya Basuki Purwoko. Saya diajak ke tempat fotografer terkenal pada masa itu namanya Om Tantadin. Saya diajak di studionya di Jalan Gajah Mada. Kalau dulu namanya duet. Sejak tahun 1928 saat ia masih bersekolah, ia sering mengirimkan hasil fotonya. Kalau terakhir saya bertemu beliau itu sekitar tahun 8 1958 saya bertemu sambil saya lihat ke etalase foto. Di situ banyak foto-foto panorama mengenai Semarang yang fenomenal. adalah foto di pelabuhan di mana kalau kita masih melihat sampai sekarang itu foto mercar banyak foto-foto yang ada mengenai pasar Johar Semarang, Kota Lama di beberapa sudut sebetulnya foto itu banyak ya tapi kalau kita bicara tentang masa kini foto-foto itu sudah banyak enggak kita bisa lihat. Kesulitan yang saya alami dalam mengumpulkan data-data riset ini sebenarnya karena ee foto-foto yang saya dapatkan ini berupa ee dokumentasi dari koran-koran digital yang terbit di masa lalu di Kota Semarang. Dan tentunya kualitasnya sangat ee buram sekali karena itu adalah ee hasil pindai dari koran yang terbit tahun 30-an hingga 50-an. Jadi bisa diduga ee kualitasnya itu sangat tidak layak untuk ee dilihat secara langsung apabila dicetak secara besar juga. Jadi memang upaya-upaya yang dilakukan adalah restorasi digital yang cukup rumit. Karya beliau, karya Om Tantadin itu sudah dihapus nama beliau. Kalau orang sekarang bilang watermark-nya dihapus. Meski jalan hidup yang dijalaninya cukup berliku, ia tidak pernah berkecil hati. Ia memulai usahanya dengan menawar salah satu rumah yang berlokasi di Geranggan Barat 121. Kalau kita membandingkan dengan hasil foto pada zaman ini, pada waktu sekarang di mana kita sudah di era digital, membuat foto itu adalah sangat mudah ya. Menekan tombol sudah bisa melihat hasil dari sebuah foto yang ada. Tapi pada masa Om Tantadin membuat foto itu adalah sangat sulit. [Musik] Seiring berjalannya waktu, usaha yang ia jalankan mulai membuahkan hasil. Ia juga sering mendapatkan pekerjaan dari para pengguna jasanya. Seperti ketika ia diundang oleh Mayor Pikuat Kun di Salatiga untuk memutret Raja Siam dari Thailand dan Sri Ratu selama mengunjungi beliau. Pada masa itu untuk membuat sebuah foto dibutuhkan perangkat kamera. Sesudah selesai memotret, kita harus memproses sebuah film. prosesnya lewat kamar gelap. Tinggal sekarang cetak fotonya. Nah, cetak fotonya dibutuhkan sebuah alat pembesar yang namanya enlarger ya. Nah, enlat pembesar ini untuk mencetak foto sebesar apapun dengan penyinaran yang baik pula ya. itu kesulitannya kita perlu apresiasi. Karena apa? Kalau kita bisa menghargai sebuah proses sampai di mana pun kita akan tetap gigih. Jadi harus sabar, harus tekun untuk menghasilkan foto yang bisa maksimal semaksimal-maksimalnya. Jadi itu itu memang kita harus akui ya bahwa Om Tatadini itu gigih dalam menghasilkan sebuah karya. dari sekian banyak eh seniman fotografi, seniman lukis, maupun eh berbagai zandre seniman di Kota Semarang yang sangat aktif dalam berkarya, yang dianggap ee kurang ee dalam menarasikan kota itu adalah ketika karya-karya itu dikumpulkan tetapi tidak ee memiliki pembingkaian tentang sejarah kota. Jadi biasanya ketika waktu berlalu dan foto-foto itu masih ada hingga berapa puluh tahun ke depan, generasi berikutnya tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya foto-foto ini mengandung cerita apa. Jadi yang penting daripada dokumentasi fotografi sebagai contohnya adalah bagaimana ee seorang pembuat karya itu kemudian memberikan bingkai pada ee foto-foto yang dihasilkan, karya-karya yang dihasilkan. Apakah cerita di balik foto itu sejarah apa yang melatar belakanginya sehingga eh gambar-gambar yang terkumpul itu juga memiliki kisah yang bisa diteruskan kepada generasi berikutnya. Studio terakhir milik Tanhin adalah studio pot di Jalan Pandanaran 70 Semarang sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1979 di usia 69 tahun. [Tepuk tangan] [Musik] H [Musik] Yeah.