Transcript
MAu-rj5clQQ • The Silent Threat: Dokumenter Ancaman & Mitigasi Megathrust di Pesisir
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/WatchdocDocumentary/.shards/text-0001.zst#text/0285_MAu-rj5clQQ.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Lak Selatan itu berada di pesisir dengan
pusat-pusat ee penduduk itu berada di
pesisir. Ada enam kecamatan yang berada
di zona rawan tsunami. Ada 21 desa yang
berada di zona rawan tsunami.
Ada yang kekurangan asik memang sangat
khawatir. Sangat khawatir di kala
terjadi itu ya. Apalagi katanya kalau
yang gede gitu kan mungkin kampung saya
kampung kami ini hampir habislah gitu.
Hingga saat ini kami menilai bahwa 20%
pun belum masyarakat untuk bisa disebut
siap menghadapi potensi risiko bencana
itu. Kegiatan pengurangan risiko bencana
itu bukan kegiatan yang populis ya.
Orang-orang lebih suka bencananya
terjadi, orang-orang datang membawa
bantuan
menjadi superhero yang kemudian ee
membagikan bantuan-bantuan itu. Ada foto
yang kemudian di-upload dan sebagainya.
Sementara di pengurangan risiko bencana
itu rata-rata kita banyak tantangan
tidak populis gitu.
Gempa Megatras menjadi isu yang
menghantui masyarakat Indonesia
belakangan ini. Gempa ini memiliki
potensi untuk memicu tsunami besar yang
dapat menghancurkan wilayah pesisir
dalam waktu. BMKG memperingatkan gempa
Megatrust tinggal tunggu waktu untuk
mengguncang Indonesia. Megatrus, Mega
Trust. Mega Trust Mega Trust. Mega Trust
menghantui. Warga RI diminta waspada.
Fakta gempa Megatras dan tsunami dari
penjelasan Brin. Kami kan memprediksi
kalau ada Megat. Auzubillahik. Semoga
tidak terjadi. Megatras. Sebuah nama
yang perlahan kembali terdengar menyusup
ke tengah kekhawatiran publik. Apakah
ini hanya peringatan atau awal dari
sesuatu yang lebih besar?
Kalau ee waktu ke sini-sini sih memang
sering dengar gitu. Memang ee sekarang
ini kan lagi genting gitu ya.
masalah ee gempa ada isu lagi masalah
megatras apa gitu. Udah dengar saya
dengar memang ada kepanikan dari
masyarakat setempat khususnya orang tua
wali murid yang ada di sini karena
memang sekolahnya berdekatan dengan
pantai dan kemungkinan besarnya ya ee
terjadi megatras itu akan ada gitu. Nah,
bahkan pertama-tama kan di sini ada
sering gempa. Nah, sering gempa di sini.
Terus sudah gitu e orang tuanya
menyarankan anaknya untuk tidak sekolah
dulu. khawatir megatras itu terjadi pada
saat anak-anak ada di lingkungan sekolah
orang tua tidak bisa melindungi begitu
ya.
Megatras adalah zona di mana terjadi
pertemuan antara dua lempeng samudra dan
benua sehingga membentuk suatu lokasi
yang rawan gempa bumi. Di Indonesia
tempat itu berada di antara ee zona
Eurasia dan zona Indo-Australia sehingga
menyebabkan barat Sumatera dan selatan
Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara rawan
gempa. Di zona Megatras itu ada lempeng
samudra dan lempeng benua saling
bertabrakan. Kemudian lempeng samudranya
ini menekuk ke bawah. Lempeng benuanya
menekuk ke atas. Nah, ketika nekuk ke
atas di waktu yang e kita belum tahu
kapan, dia akan membuat e suatu getaran
yang sangat kuat sampai di sekitaran
Mentawai Sumatera Barat itu ada banyak
kerusakan sampai 9 MMI. Nah, jadi kalau
di Aceh itu sampai 11 MMI. Nah, kalau di
Mentawai itu paling maksimumnya adalah 9
mm. Kemudian juga di Megatra Selat Sunda
kalau terjadi seperti itu tadi ada ee
lempeng samudra menunjam ke lempeng
benua, lempeng benuanya naik ke atas itu
akan membuat tetaran yang sangat kuat.
Kerusakan terjadi di mana-mana termasuk
di Lampung, di Jakarta, di Banten, Jawa
Barat. Karena kebetulan ada banyak
sekali populasi dan ee rumah-rumah di
sekitaran Lampung dan ee Jawa ini
menyebabkan banyak kerusakan. Jadi
sebenarnya bencana itu bisa terjadi
bilamana di tempat tersebut tidak
terlalu banyak ada populasi dan
bangunan. Tapi karena di daerah megatras
ini di tempat padat penduduk maka e
kerusakan itu akan semakin banyak. Kalau
megatrasnya itu terjadi gempanya tepat
di selatan Banten atau tepatnya di
selatan Lembak, maka kekuatan gempanya
itu akan sampai ee magnitud 8,7 dan
intensitas atau guncangannya itu bisa
sampai 8 atau 9 mm modified Mercali
intensity. Nah, kalau gempa dengan
sekuat itu maka rumah-rumah itu banyak
mengalami kerusakan di Lebak Selatan.
Jembatan-jembatan juga putus.
Akses-akses ee apa darat itu juga
terisolir. Dan yang lebih bahaya lagi
adalah tadi tsunami yang ketinggiannya
diprediksi sampai 20 m. Jadi kapan dan
di mana megatras akan terjadi? BMKG
tidak bisa ee menentukan dalam waktu
kapan. Yang bisa ditentukan itu hanya
dua, yaitu kekuatan dengan lokasi. Jadi
BMKG sudah memetakkan di mana
lokasi-lokasi gempa besar yaitu Megatras
ini akan terjadi dan itu ada di garis
yang sudah kita buat di peta sumber
gempa bumi nasional dari barat Sumatera,
selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara
menekuk ke Maluku, kemudian terbelah dua
di Sulawesi dan di Papua. Nah, kalau
yang berikutnya adalah kekuatan itu juga
sudah kita petakan di Aceh itu
maksimumnya 9,2. Kemudian di Megatras
Mentawa itu 8,7. di selatan Jawa 8,7.
Nah, di Jawa, Bali, ee maaf di Bali,
Nusa Tenggara dan ee sampai ke timur itu
8,5. Nah, itu sudah kita tentukan sampai
ke situ. Tapi kalau kapan sampai ke jam,
menit, detik itu kita tidak tahu. Dan
juga di BMKG di luar, di negara-negara
lain juga tidak ada yang sampai ke situ.
Yang kita lakukan upaya yang sama di
secara global itu adalah memperkuat
kapasitas baik itu dari desa maupun
sampai ke pusat.
seperti itu. Desa Situregen, salah satu
desa di Pesisir Lebak Selatan yang
letaknya berhadapan langsung dengan zona
Megatras menjadikannya salah satu
wilayah dengan risiko bencana gepa dan
tsunami tertinggi di Pulau Jawa.
Ketika masyarakat mendengar tentang isu
Megatras ini, masyarakat otomatis panik
dengan beritanya
tersiur kabar tinggi gelombang hampir 30
m.
Sedangkan masyarakat berada di pesisir
pantai kurang lebih 100 m dari bibir
pantai dengan ketinggian ombak 30 m.
Udah tinggal nunggu waktu aja.
Dari 2021
kan sudah ada ee isu gempa, isu tsunami.
Berhubung di masyarakat Citurgen itu
belum paham tentang mitigasi kebencanaan
ee tentang apa itu Megatras gitu kan.
Tsunami belum terjadi, masyarakat
Siturgen sudah mengungsi duluan. Jadi
udah panik duluan gitu. sudah mengungsi.
Akhirnya bukannya selamat malah terjadi
kecelakaan. Di masyarakat kami di
Siturgen itu ada yang kepatu ular di
tempatnya evakuasi terus ada yang
kecelakaan motor gitu saking paniknya.
Kenapa saking paniknya? Karena
masyarakat itu belum tahu, belum paham
tentang mitigasi kebencanaan.
[Musik]
ini
[Tepuk tangan]
[Musik]
Kalau dari saya sendiri ee khawatir
mungkin ada ya pasti ya namanya juga
manusia kita khawatir apalagi di sini
anak-anak bukan anak sendiri, anak orang
lain yang harus kita lindungi gitu ya
beberapa bulan ke belakang Jadi ee
ompaknya sedang besar. Terdengar sekali,
Kak. Ke sini kencang ditambah angin sama
hujan. Ya, waktu itu emang cuaca memang
lagi ekstrem.
Panik di sini yang sekolah hanya
beberapa saja. Waktu itu hanya ada tujuh
orang. Ibu pengin pulang gitu kan.
Teriak nangis. Ibu pengin pulang.
Hujannya kencang, takut. Maaf, maaf,
maaf, maaf. Ee memang sih kalau sekarang
kan lagi genting banyak informasinya
gitu. Jadi perasaan memang perasaan sih
ee khawatir ada gitu. Ada memang
khawatir juga ada. Jadi kebanyakan kan
orang lain yang belum
mengetahui asal-usulnya gini-gini itu
malah lebih panik gitu. Makanya saya
himbau k teman-teman juga penting kita
usahakan jang jangan panik dulu dah.
Memang sangat khawatir sangat khawatir
di kala terjadi itu ya. Apalagi katanya
kalau semi yang gede gitu kan, mungkin
kampung saya, kampung kami ini hampir
habislah gitu. Memang sih perasaan kalau
misalnya ke pindah dulu itu memang masih
ada. Cuman saya kalau misalnya pengin
pindah, pindahnya pindah ke mana gitu
ya, tanah enggak punya gitu. Ah, udah
pasrah aja lah sama yang puasa gitu.
Kalau si Turgen termasuk zona merah
karena sebagian wilayah itu berada di
pesisir pantai. Dari zona itu zona
merah, terus zona kuning, zona hijau,
sama zona putih. Zona merah itu udah
tercakup zona paling parah ya dari
pinggir pantai laut itu sekitar 100 m.
Kalau zona
kuning itu lumayan parah sih, enggak
cuman terdampak juga kena ee air tsunami
itu. Terus kalau zona hijau, zona hijau
itu termasuk zona rendaman.
Kalau zona putih, zona putih itu udah
zona aman, enggak ada sama sekali
tersentuh air. Jadi, zona putih itu
adalah tempat untuk tempat pengungsian
terakhir. Dilatar belakangi oleh
ketakutan dan kegelisahan akan ancaman
Megatras, sekelompok masyarakat di Lebak
Selatan bangkit merajut harapan di
tengah bayang-bayang bencana. Dengan
kesadaran dan keteguhan, mereka merintis
langkah-langkah mitigasi berupaya
menekan resiko dan melindungi garis
pantai yang menjadi rumah mereka. Gugus
Mitigasi Lebak Selatan adalah sebuah
kelompok masyarakat yang kecil,
komunitas yang mencoba
urun rembuk di dalam urusan pengurangan
risiko bencana yang ada di ee Indonesia
khususnya fokus kepada ee mitigasi gempa
bumi dan tsunami yang ada di Lebak
Selatan. kita mulai merintis kegiatan
mitigasi itu dari tahun 2017 dan ee
sebetulnya di tahun 2015 16 pun kami
sudah mulai mewacanakan itu di
masyarakat mulai ngobrol-ngobrol
ee Destana itu Desa Tangguh Bencana. Di
sini kami Destana bertugas untuk ee
sosialisasi ke masyarakat tentang
mitigasi kebencanaan.
Jadi di kami ini memberi pemahaman ke
masyarakat apa itu mitigasi, apa itu
bencana. Jadi kami pembelajarannya itu
pertama ke tingkat bawah sekolah dasar
ee TK, sekolah dasar ke MTs terus ke
masyarakat. Destana ini adalah sebuah
organisasi bentukan dari pemerintah. Ee
biasanya itu ee
mohon maaf. Jadi kalau pemerintah
sifatnya sekedar dibentuk ee yang asal
itu aja lah. Dan ketika mereka
kegiatannya selesai ee
anggarannya selesai, mereka kalau
desanya itu base-nya itu anggaran gitu
ya. Jadi ada anggaran mereka jalan, ada
anggaran mereka jalan. Sementara kami
tidak, kami ada anggaran, tidak ada
anggaran kami jalan. Dan kami merasakan
ada potensi yang yang ee kami bisa
ee garap di mana kebetulan Desa Sitorgen
ini destananya memiliki tiket baik untuk
meneruskan kegiatan destananya pasca
anggarannya selesai. Nah, hari ini kami
mencoba mendampingi mereka ee melakukan
berbagai kegiatan sambil mencoba
meningkatkan kapasitas istana untuk
nanti bisa menyelenggarakan kegiatan itu
secara mandiri di desanya. Kami kan
bukan ee superhero juga yang bisa turun
di semua desa. Nah, kami datang tapi
kami berharap bahwa ini akan bisa
sustain nanti. Untuk mitigasi daerah
pesisir kita BMKG tentu tidak bekerja
sendiri. Kita juga bekerja sama dengan
mitra di pemerintah daerah yaitu BPBD
atau Badan Penanggulangan Bencana
Daerah. Kemudian juga pemerintah
setempat seperti kecamatan, kelurahan
atau kantor desa untuk memperkuat
kapasitas yaitu melengkapi 12 kriteria
desa siaga tsunami. Khusus untuk tsunami
itu
kita mempunyai patokan atau standar yang
kami coba terapkan agar masyarakat
disebut sebagai masyarakat yang siaga
menghadapi potensi risiko itu. ee
standar ini ditetapkan oleh ee IOC
UNESCO di mana ada 12 indikator
masyarakat
ee disebut masyarakat yang siaga
tsunami. Nah, ke-12 indikator itu harus
dipenuhi agar mereka ee masuk ke dalam
diakui sebagai masyarakat yang siaga
tsunami.
12 indikator itu yang pertama adalah ee
masyarakat memiliki
atau bisa mengakses peta bahaya tsunami
yang di tempat mereka tinggal. Artinya
dalam konteks misalkan ada Desa
Panggarangan yang pernah kami tangani
atau desa Sutergen ee desa ini harus
memiliki peta bahaya tsunami di mana di
dalam peta itu
tergambarkan pemodelan atau ee simulasi
atau
hasil riset para peneliti daerah-daerah
mana yang berpotensi akan terendam oleh
tsunami itu. Nah, dari pemetaan itu akan
tampak ee
penduduk mana yang berpotensi ee
terdampak oleh tsunaminya sehingga kita
bisa menentukan skala prioritas
penanganan penduduk di zona-zona mana
yang harus kita segera e berikan
peningkatan kapasitas. Itu satu hal, itu
baru peta saja. Kemudian ee indikator
kedua sampai ke-12 itu
lebih menekankan kapasitas masyarakat
ya, termasuk salah satunya
infrastruktur. di indikator ke-11
contohnya bahwa masyarakat harus
memiliki
[Musik]
peralatan yang bisa menerima peringatan
dini dari pemerintah, peringatan dini
tsunami. Kemudian di indikator ke-12,
masyarakat juga harus mampu memiliki ee
media untuk menyebarluaskan peringatan
dini yang mereka terima itu disebarkan
lagi kepada masyarakat.
Kalau lebak itu ada sebenarnya ada cukup
banyak ya sensor seesmic. Tapi kalau
potensi tsunami itu sebenarnya bukan
dengan sismic, itu adalah dengan tight
gauge. Nah, tight gauge ini sudah
dipasang di muara Binuangen berbatasan
dengan Pandeglang. Jadi kalau di
Panggarangan itu memang ti gas-nya
enggak ada di situ di di daerah Muara
Binuangen. Nah, kenapa sensor sesmik
atau gempa enggak enggak kami buat di
daerah pantai itu karena ee Sesmik itu
harus merekam getaran yang eh minim
bising atau minim ee apa ya gangguan.
Kalau dia ditempatkan di pantai itu ada
deru-deru ombak yang bisa mengkaburkan
keakuratan dari gelombang sesmik. Sensor
SESMIK itu juga bisa merekam gempa-gempa
di Banten atau di Selebak Selatan
meskipun lokasinya jauh seperti misalkan
di Serang atau di Tangerang itu
sebenarnya kita juga bisa merekam
gempa-gempa dari situ. Enggak perlu di
ditaruh di dekat dengan penggarangan.
Jadi gempa di laut selatan Lebak Selatan
itu juga bisa direkam dari e Jakarta
meskipun sensornya ada di Jabor Tabek
pun juga bisa merekam.
sampai sekarang BMKG itu e fokus kepada
gempa ya. Jadi kalau tsunami jelas
diawali gempa. Namun kita kalau lebih e
spesifik lagi tanda-tanda alam sebelum
gempa atau gempa kuat Megatras itu
banyak pakar yang mulai mempublikasikan
itu adanya aktivitas tidak lazim dari
hewan-hewan. Seperti misalnya ee habitat
dari hewan-hewan gunung itu sudah mulai
lepas dari sarangnya. Kemudian juga di
laut itu ada ikan-ikan yang dari laut
dalam itu sudah mulai mendekat ke ee
permukaan. Kemudian juga ada yang mati
di sekitaran pantai. Masyarakat juga
pertama perlu dibekali dengan literasi.
Jadi literasi itu adalah dasar bagi
mereka merespon dari ee informasi ini.
Ketika masyarakat abai dengan informasi
atau literasi, maka ee ke depannya dia
akan acuh, tidak ikut dengan program
pemerintah. Eh, selain sosialisasi kami
di Desa Sitti melakukan langkah-langkah
dengan penanaman pohon mangruve ee terus
ketapang, pohon ketapang, terus ee
cemara laut. Untuk alat-alatnya juga
alhamdulillah di Desa Siturgen kami
sudah mempunyai sirine peringatan dini.
dari Destana kolaborasi sama GMLS
terciptalah yang bernama itu Sirine
Mandiri Desa yang ada di Siturgen.
Sirine Mandiri desa. Jadi itu
bukan dari dananya atau anggaran dari
pemerintah. Jadi mereka itu anggarannya
dari dana dana pribadi melalui project
community project yang dilakukan oleh
GMLS dan berkegiatan di Sorgen
didampingi sama Destana. Kalau untuk
jalur revakuasi udah ada dari Kampung
Cimandira Laut, Kampung Cisih, Kampung
Cipurun untuk jalur revokasi sudah
dibuka semuanya sudah ada.
Titik dari laut masuk ke zona merah itu
ombak sekitaran nyampai 14 menit sampai
10 menit. Jadi ee Kampung Cimandiri Laut
itu penduduknya ketika ada tsunami
datang mereka punya waktu 10 menit
sampai 15 menit untuk lari ke jalur
evakuasi. Habis sosialisasi kami
melakukan kegiatan evakuasi mandiri.
Jadi yang bernama itu keluarga tangguh
bencana. Jadi setiap keluarga itu kami
mempunyai dan menerapkan menerapkan ke
setiap keluarga itu tentang evakuasi
mandiri. Bagaimana caranya penempatan
barang-barang di rumah.
Terus dengan skala besarnya kami tahun
2024 awal kami melakukan simulasi
evakuasi bekerja sama dengan GMLS dan ee
BPBD juga hadir di sini melakukan ee
evakuasi simulasi mandiri dan berskala
besar juga melibatkan banyak pihak dari
pihak desa, pihak kecamatan, ee dari
koramil,
terus Dari Puskesmas kami libatkan semua
pihak dan masyarakat juga. Di luar
berbagai langkah mitigasi yang disiapkan
pemerintah untuk menghadapi ancaman
Megatras, ada kesadaran lain yang harus
dibangun bahwa alam memiliki
keseimbangannya sendiri. Sebuah
ketahanan yang juga berperan dalam
menghadapi bencana. Ekosistem pesisir
seperti terumpu karang, lamun, dan
mangrove berperan sebagai garis
pertahanan alami yang tak tergantikan
dalam meredam dampak yang mungkin
terjadi. Ekosistem ini mampu menyerap
energi gelombang tsunami dan melindungi
pantai dari abrasi. Oleh karena itu,
program restorasi ekosistem pesisir
perlu menjadi bagian dari strategi
mitigasi bencana. Kalau mangroove atau
vegetasi alami itu BMKG secara offisial
itu tidak ada. Karena ee penanaman
mangroove dan hutan pantai, bakau,
cemara udang dan sebagainya itu adalah
ee upaya dari pemerintah setempat karena
penghijauan itu ee tidak masuk dalam ee
program BMKG. Kendalanya di kami itu
kalau penanaman pohon mangr ee cemara
laut yang pertama dari ini abrasi.
Abrasi laut di Siturgen ini lumayan
parah. Jadi ketika kita tanami pohon
mangrup, pohon cemara laut, ombak
pasangnya itu emang gede sekali. Kita
tanami habis sama ombak. Udah itu yang
keduanya
di sini itu di Siturgen kan ada yang
mempunyai ternak. Jadi ternaknya itu
enggak di iniak gembala kambingnya itu
kan enggak dipantau. Akhirnya pohon
ketapang, pohon mangrup dimakan sama
ternak seperti kerbau, kambing gitu.
Namun di balik segala persiapan dan
langkah mitigasi yang telah dijalankan
di Desa Situregen, muncul satu
pertanyaan besar. Apakah semua itu
benar-benar cukup? Cukup untuk
menghadapi Mega Trust yang diam-diam
menyimpan kekuatan dahsyat yang bisa
mengguncang tanpa peringatan kapan saja?
Belum. Oke. Belum cukup. Sangkan
masyarakat tahunya enggak enggak mau
tahu dia mah. Kalau kalau dibilangin kan
ah enggak enggak bakalan terjadi. Jadi
enggak enggak begitu ditanggapilah sama
masyarakat. Sepertinya kurang ya. Kalau
hanya untuk melihat di berita seperti
itu kan kita kurang jelas sih
sebetulnya. Cuman ee penginnya tuh
langsung di sini tatap muka sama
pakarnya gitu ya. Kayak misalnya
mitigasi gitu. Nah, hingga saat ini kami
menilai bahwa belum
20% pun belum masyarakat untuk bisa
disebut siap menghadapi potensi risiko
bencana itu. saat sebelum 2020
sebelum media mempublikasikan ee hasil
riset mengenai gempa megatas yang
berpotensi tsunami itu, masyarakat
relatif abai terhadap ee apa yang kami
sampaikan bahwa ee di selatan Jawa ada
potensi gempa besar yang berpotensi
tsunami. Ketika membangun kesadaran saja
ee sangat sulit ee tentu ini berat bagi
kita ya. e awal-awal kami merasakan
cibiran, kemudian cemohan dan yang
lain-lain. Ee tidak hanya dari
masyarakat, bahkan dari keluarga kami
sendiri seperti itu. Tapi itu lebih
karena memang ketidaktahuan.
Ee ketidaktahuan inilah yang kemudian
membuat kami
malah harus terus bergerak. Karena
sebetulnya sebagaimana kata seorang
jurnalis kebencanaan Mas Ahmad Arif
bilang bahwa gempa bumi dan tsunami itu
tidak membunuh. Yang membunuh itu adalah
ketidaketahuan
dan ketidakpedulian kita. Nah, kegiatan
pengurangan risiko bencana itu bukan
kegiatan yang populis ya. orang-orang
lebih suka bencananya terjadi,
orang-orang datang membawa bantuan
menjadi superhero yang kemudian ee
membagikan bantuan-bantuan itu. Ada foto
yang kemudian di-upload dan sebagainya.
Sementara di pengurangan risiko bencana
itu rata-rata kita banyak tantangannya,
tidak populis gitu. sampai sekarang dari
BNPB dari pemerintah itu memberikan
alat-alat atau sensor itu di sekitar
selatan ini belum ada destana ketika
beres program pemerintah enggak ngucurin
anggaran lagi dan kami
dididik dan harus mandiri.
Jadi intinya gini, ke pemerintah itu
ketika udah ngasih program ke
masyarakat, ke lembaga yang ada di desa,
tolong untuk berkelanjutan. Minimnya
peran pemerintah dalam mitigasi di Desa
Situregen menciptakan celah yang semakin
sulit diisi. Dengan kebijakan efisiensi
anggaran yang membatasi pengeluaran
untuk alat peringatan bencana sejak awal
2025, kesiapan menghadapi ancaman kini
bergantung pada daya juang masyarakat
sendiri. Indonesia memiliki
ee
ada 5.744
desa di Indonesia yang rawan tsunami
untuk tsunami saja. Ee dan tidak di
semua tempat itu sudah ada infrastruktur
peringatan dini yang
ee bisa diandalkan. Nah, BMKG dan
pemerintah pusat tentu memiliki
keterbatasan untuk memasang peringatan
ini di semua tempat.
Nah, sudah terbatas tapi sekarang mulai
ada efisiensi ya tentu akan ada
dampaknya. Jadi efisiensi anggaran itu
ee yang terjadi di BMKG sekarang
sebenarnya tidak menurunkan kualitas
performa pelayanan informasi gempa bumi
dan tsunami. Karena dengan kita memiliki
eh maaf 533
sensor seismik di Indonesia. Kemudian
juga 450
warning receiver system yang tersebar di
seluruh Indonesia itu juga sudah cukup
handal untuk menyebarluaskan informasi
dan peringatan dini. Hanya dengan
efisiensi anggaran ini kami tidak bisa
menambah
[Musik]
garda terdepan untuk kegiatan mitigasi
ee di daerah
sebagaimana amanat Undang-Undang
Penanggulangan Bencana itu adalah
pemerintah daerah. Semua ee lini di
pemerintahan untuk turun. Tidak hanya
BPBD, pendidikan harus masuk. Dinas
Pendidikan harus mulai memasukkan
kurikulum pendidikan ke sekolah-sekolah.
Misalnya harapan kami yang ada di Desa
Siturgen khususnya di Pesisir Selatan
ini berdekatan langsung dengan laut,
berdekatan langsung dengan Megatras.
Jadi harapan kami tolonglah dari dari
pemerintah apa yang kami pengin itu
laksanakan. Jadi udah beberapa tahun ke
belakang kami itu pengin ada peringatan
dini. Harapan saya tuh ya masyarakat di
sini itu memang membutuhkan tanda-tanda
yang semacam ee dari pemerintah itu
semacam diadakan serine apa itu kan
kemungkinan itu jelas gitu pada
masyarakat. Apabila misalnya kita mau
terjadi serina itu berbunyi berarti kan
masyarakat tuh langsung teriak gitu. ee
PU ya, Dinas Pekerjaan Umum harus mulai
memikirkan rute-rute yang akan apa
jalanan yang akan menjadi rute evakuasi
mereka. Kemudian di Dinas Pertanian
harus mulai memikirkan cadangan-cadangan
pangan yang ada di zona-zona bencana.
Nah, yang pertama desana diteruskan
supaya lebih lebih merata tahunya ke
masyarakat. Serindunya ditambah kalau
bisa gitu. tolonglah anggarkan buat yang
ada di desa. Soalnya nyampai sekarang
kami destana minta anggaran ke
pemerintahan desa.
Ee pemerintahan desa enggak bisa
menganggarkan soalnya enggak ada dari
pusatnya. Kemudian Dinas Kependudukan
sudah lulus mulai memetakkan ada berapa
ee masyarakat yang berada di zona rawan,
bagaimana status ekonomi dan sebagainya
seperti itu. Jadi semua lini di
pemerintahan harus turun. sampai saat
ini kami memang belum belum lihat
keseriusan seperti itu untuk pemerintah
daerah.
Di balik ketenangan yang tampak di
sepanjang pesisir tersimpan kesiapan
yang tak terlihat. Bukan hanya kesiapan
untuk bertahan tetapi untuk terus
menjalani hidup di bawah bayang-bayang
ancaman yang bisa datang kapan saja.
Masyarakat pesisir ini memahami bahwa
mereka hidup di tepian resiko. Namun di
sinilah mereka berakar. Di tengah rasa
cemas dan ketabahan yang terus
berdampingan, bencana mungkin tak
terhindarkan, tetapi kehidupan di
pesisir ini tetap berdenyut, penuh tekad
dan kewaspadaan.
[Musik]