Transcript
MAu-rj5clQQ • The Silent Threat: Dokumenter Ancaman & Mitigasi Megathrust di Pesisir
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/WatchdocDocumentary/.shards/text-0001.zst#text/0285_MAu-rj5clQQ.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Lak Selatan itu berada di pesisir dengan pusat-pusat ee penduduk itu berada di pesisir. Ada enam kecamatan yang berada di zona rawan tsunami. Ada 21 desa yang berada di zona rawan tsunami. Ada yang kekurangan asik memang sangat khawatir. Sangat khawatir di kala terjadi itu ya. Apalagi katanya kalau yang gede gitu kan mungkin kampung saya kampung kami ini hampir habislah gitu. Hingga saat ini kami menilai bahwa 20% pun belum masyarakat untuk bisa disebut siap menghadapi potensi risiko bencana itu. Kegiatan pengurangan risiko bencana itu bukan kegiatan yang populis ya. Orang-orang lebih suka bencananya terjadi, orang-orang datang membawa bantuan menjadi superhero yang kemudian ee membagikan bantuan-bantuan itu. Ada foto yang kemudian di-upload dan sebagainya. Sementara di pengurangan risiko bencana itu rata-rata kita banyak tantangan tidak populis gitu. Gempa Megatras menjadi isu yang menghantui masyarakat Indonesia belakangan ini. Gempa ini memiliki potensi untuk memicu tsunami besar yang dapat menghancurkan wilayah pesisir dalam waktu. BMKG memperingatkan gempa Megatrust tinggal tunggu waktu untuk mengguncang Indonesia. Megatrus, Mega Trust. Mega Trust Mega Trust. Mega Trust menghantui. Warga RI diminta waspada. Fakta gempa Megatras dan tsunami dari penjelasan Brin. Kami kan memprediksi kalau ada Megat. Auzubillahik. Semoga tidak terjadi. Megatras. Sebuah nama yang perlahan kembali terdengar menyusup ke tengah kekhawatiran publik. Apakah ini hanya peringatan atau awal dari sesuatu yang lebih besar? Kalau ee waktu ke sini-sini sih memang sering dengar gitu. Memang ee sekarang ini kan lagi genting gitu ya. masalah ee gempa ada isu lagi masalah megatras apa gitu. Udah dengar saya dengar memang ada kepanikan dari masyarakat setempat khususnya orang tua wali murid yang ada di sini karena memang sekolahnya berdekatan dengan pantai dan kemungkinan besarnya ya ee terjadi megatras itu akan ada gitu. Nah, bahkan pertama-tama kan di sini ada sering gempa. Nah, sering gempa di sini. Terus sudah gitu e orang tuanya menyarankan anaknya untuk tidak sekolah dulu. khawatir megatras itu terjadi pada saat anak-anak ada di lingkungan sekolah orang tua tidak bisa melindungi begitu ya. Megatras adalah zona di mana terjadi pertemuan antara dua lempeng samudra dan benua sehingga membentuk suatu lokasi yang rawan gempa bumi. Di Indonesia tempat itu berada di antara ee zona Eurasia dan zona Indo-Australia sehingga menyebabkan barat Sumatera dan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara rawan gempa. Di zona Megatras itu ada lempeng samudra dan lempeng benua saling bertabrakan. Kemudian lempeng samudranya ini menekuk ke bawah. Lempeng benuanya menekuk ke atas. Nah, ketika nekuk ke atas di waktu yang e kita belum tahu kapan, dia akan membuat e suatu getaran yang sangat kuat sampai di sekitaran Mentawai Sumatera Barat itu ada banyak kerusakan sampai 9 MMI. Nah, jadi kalau di Aceh itu sampai 11 MMI. Nah, kalau di Mentawai itu paling maksimumnya adalah 9 mm. Kemudian juga di Megatra Selat Sunda kalau terjadi seperti itu tadi ada ee lempeng samudra menunjam ke lempeng benua, lempeng benuanya naik ke atas itu akan membuat tetaran yang sangat kuat. Kerusakan terjadi di mana-mana termasuk di Lampung, di Jakarta, di Banten, Jawa Barat. Karena kebetulan ada banyak sekali populasi dan ee rumah-rumah di sekitaran Lampung dan ee Jawa ini menyebabkan banyak kerusakan. Jadi sebenarnya bencana itu bisa terjadi bilamana di tempat tersebut tidak terlalu banyak ada populasi dan bangunan. Tapi karena di daerah megatras ini di tempat padat penduduk maka e kerusakan itu akan semakin banyak. Kalau megatrasnya itu terjadi gempanya tepat di selatan Banten atau tepatnya di selatan Lembak, maka kekuatan gempanya itu akan sampai ee magnitud 8,7 dan intensitas atau guncangannya itu bisa sampai 8 atau 9 mm modified Mercali intensity. Nah, kalau gempa dengan sekuat itu maka rumah-rumah itu banyak mengalami kerusakan di Lebak Selatan. Jembatan-jembatan juga putus. Akses-akses ee apa darat itu juga terisolir. Dan yang lebih bahaya lagi adalah tadi tsunami yang ketinggiannya diprediksi sampai 20 m. Jadi kapan dan di mana megatras akan terjadi? BMKG tidak bisa ee menentukan dalam waktu kapan. Yang bisa ditentukan itu hanya dua, yaitu kekuatan dengan lokasi. Jadi BMKG sudah memetakkan di mana lokasi-lokasi gempa besar yaitu Megatras ini akan terjadi dan itu ada di garis yang sudah kita buat di peta sumber gempa bumi nasional dari barat Sumatera, selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara menekuk ke Maluku, kemudian terbelah dua di Sulawesi dan di Papua. Nah, kalau yang berikutnya adalah kekuatan itu juga sudah kita petakan di Aceh itu maksimumnya 9,2. Kemudian di Megatras Mentawa itu 8,7. di selatan Jawa 8,7. Nah, di Jawa, Bali, ee maaf di Bali, Nusa Tenggara dan ee sampai ke timur itu 8,5. Nah, itu sudah kita tentukan sampai ke situ. Tapi kalau kapan sampai ke jam, menit, detik itu kita tidak tahu. Dan juga di BMKG di luar, di negara-negara lain juga tidak ada yang sampai ke situ. Yang kita lakukan upaya yang sama di secara global itu adalah memperkuat kapasitas baik itu dari desa maupun sampai ke pusat. seperti itu. Desa Situregen, salah satu desa di Pesisir Lebak Selatan yang letaknya berhadapan langsung dengan zona Megatras menjadikannya salah satu wilayah dengan risiko bencana gepa dan tsunami tertinggi di Pulau Jawa. Ketika masyarakat mendengar tentang isu Megatras ini, masyarakat otomatis panik dengan beritanya tersiur kabar tinggi gelombang hampir 30 m. Sedangkan masyarakat berada di pesisir pantai kurang lebih 100 m dari bibir pantai dengan ketinggian ombak 30 m. Udah tinggal nunggu waktu aja. Dari 2021 kan sudah ada ee isu gempa, isu tsunami. Berhubung di masyarakat Citurgen itu belum paham tentang mitigasi kebencanaan ee tentang apa itu Megatras gitu kan. Tsunami belum terjadi, masyarakat Siturgen sudah mengungsi duluan. Jadi udah panik duluan gitu. sudah mengungsi. Akhirnya bukannya selamat malah terjadi kecelakaan. Di masyarakat kami di Siturgen itu ada yang kepatu ular di tempatnya evakuasi terus ada yang kecelakaan motor gitu saking paniknya. Kenapa saking paniknya? Karena masyarakat itu belum tahu, belum paham tentang mitigasi kebencanaan. [Musik] ini [Tepuk tangan] [Musik] Kalau dari saya sendiri ee khawatir mungkin ada ya pasti ya namanya juga manusia kita khawatir apalagi di sini anak-anak bukan anak sendiri, anak orang lain yang harus kita lindungi gitu ya beberapa bulan ke belakang Jadi ee ompaknya sedang besar. Terdengar sekali, Kak. Ke sini kencang ditambah angin sama hujan. Ya, waktu itu emang cuaca memang lagi ekstrem. Panik di sini yang sekolah hanya beberapa saja. Waktu itu hanya ada tujuh orang. Ibu pengin pulang gitu kan. Teriak nangis. Ibu pengin pulang. Hujannya kencang, takut. Maaf, maaf, maaf, maaf. Ee memang sih kalau sekarang kan lagi genting banyak informasinya gitu. Jadi perasaan memang perasaan sih ee khawatir ada gitu. Ada memang khawatir juga ada. Jadi kebanyakan kan orang lain yang belum mengetahui asal-usulnya gini-gini itu malah lebih panik gitu. Makanya saya himbau k teman-teman juga penting kita usahakan jang jangan panik dulu dah. Memang sangat khawatir sangat khawatir di kala terjadi itu ya. Apalagi katanya kalau semi yang gede gitu kan, mungkin kampung saya, kampung kami ini hampir habislah gitu. Memang sih perasaan kalau misalnya ke pindah dulu itu memang masih ada. Cuman saya kalau misalnya pengin pindah, pindahnya pindah ke mana gitu ya, tanah enggak punya gitu. Ah, udah pasrah aja lah sama yang puasa gitu. Kalau si Turgen termasuk zona merah karena sebagian wilayah itu berada di pesisir pantai. Dari zona itu zona merah, terus zona kuning, zona hijau, sama zona putih. Zona merah itu udah tercakup zona paling parah ya dari pinggir pantai laut itu sekitar 100 m. Kalau zona kuning itu lumayan parah sih, enggak cuman terdampak juga kena ee air tsunami itu. Terus kalau zona hijau, zona hijau itu termasuk zona rendaman. Kalau zona putih, zona putih itu udah zona aman, enggak ada sama sekali tersentuh air. Jadi, zona putih itu adalah tempat untuk tempat pengungsian terakhir. Dilatar belakangi oleh ketakutan dan kegelisahan akan ancaman Megatras, sekelompok masyarakat di Lebak Selatan bangkit merajut harapan di tengah bayang-bayang bencana. Dengan kesadaran dan keteguhan, mereka merintis langkah-langkah mitigasi berupaya menekan resiko dan melindungi garis pantai yang menjadi rumah mereka. Gugus Mitigasi Lebak Selatan adalah sebuah kelompok masyarakat yang kecil, komunitas yang mencoba urun rembuk di dalam urusan pengurangan risiko bencana yang ada di ee Indonesia khususnya fokus kepada ee mitigasi gempa bumi dan tsunami yang ada di Lebak Selatan. kita mulai merintis kegiatan mitigasi itu dari tahun 2017 dan ee sebetulnya di tahun 2015 16 pun kami sudah mulai mewacanakan itu di masyarakat mulai ngobrol-ngobrol ee Destana itu Desa Tangguh Bencana. Di sini kami Destana bertugas untuk ee sosialisasi ke masyarakat tentang mitigasi kebencanaan. Jadi di kami ini memberi pemahaman ke masyarakat apa itu mitigasi, apa itu bencana. Jadi kami pembelajarannya itu pertama ke tingkat bawah sekolah dasar ee TK, sekolah dasar ke MTs terus ke masyarakat. Destana ini adalah sebuah organisasi bentukan dari pemerintah. Ee biasanya itu ee mohon maaf. Jadi kalau pemerintah sifatnya sekedar dibentuk ee yang asal itu aja lah. Dan ketika mereka kegiatannya selesai ee anggarannya selesai, mereka kalau desanya itu base-nya itu anggaran gitu ya. Jadi ada anggaran mereka jalan, ada anggaran mereka jalan. Sementara kami tidak, kami ada anggaran, tidak ada anggaran kami jalan. Dan kami merasakan ada potensi yang yang ee kami bisa ee garap di mana kebetulan Desa Sitorgen ini destananya memiliki tiket baik untuk meneruskan kegiatan destananya pasca anggarannya selesai. Nah, hari ini kami mencoba mendampingi mereka ee melakukan berbagai kegiatan sambil mencoba meningkatkan kapasitas istana untuk nanti bisa menyelenggarakan kegiatan itu secara mandiri di desanya. Kami kan bukan ee superhero juga yang bisa turun di semua desa. Nah, kami datang tapi kami berharap bahwa ini akan bisa sustain nanti. Untuk mitigasi daerah pesisir kita BMKG tentu tidak bekerja sendiri. Kita juga bekerja sama dengan mitra di pemerintah daerah yaitu BPBD atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kemudian juga pemerintah setempat seperti kecamatan, kelurahan atau kantor desa untuk memperkuat kapasitas yaitu melengkapi 12 kriteria desa siaga tsunami. Khusus untuk tsunami itu kita mempunyai patokan atau standar yang kami coba terapkan agar masyarakat disebut sebagai masyarakat yang siaga menghadapi potensi risiko itu. ee standar ini ditetapkan oleh ee IOC UNESCO di mana ada 12 indikator masyarakat ee disebut masyarakat yang siaga tsunami. Nah, ke-12 indikator itu harus dipenuhi agar mereka ee masuk ke dalam diakui sebagai masyarakat yang siaga tsunami. 12 indikator itu yang pertama adalah ee masyarakat memiliki atau bisa mengakses peta bahaya tsunami yang di tempat mereka tinggal. Artinya dalam konteks misalkan ada Desa Panggarangan yang pernah kami tangani atau desa Sutergen ee desa ini harus memiliki peta bahaya tsunami di mana di dalam peta itu tergambarkan pemodelan atau ee simulasi atau hasil riset para peneliti daerah-daerah mana yang berpotensi akan terendam oleh tsunami itu. Nah, dari pemetaan itu akan tampak ee penduduk mana yang berpotensi ee terdampak oleh tsunaminya sehingga kita bisa menentukan skala prioritas penanganan penduduk di zona-zona mana yang harus kita segera e berikan peningkatan kapasitas. Itu satu hal, itu baru peta saja. Kemudian ee indikator kedua sampai ke-12 itu lebih menekankan kapasitas masyarakat ya, termasuk salah satunya infrastruktur. di indikator ke-11 contohnya bahwa masyarakat harus memiliki [Musik] peralatan yang bisa menerima peringatan dini dari pemerintah, peringatan dini tsunami. Kemudian di indikator ke-12, masyarakat juga harus mampu memiliki ee media untuk menyebarluaskan peringatan dini yang mereka terima itu disebarkan lagi kepada masyarakat. Kalau lebak itu ada sebenarnya ada cukup banyak ya sensor seesmic. Tapi kalau potensi tsunami itu sebenarnya bukan dengan sismic, itu adalah dengan tight gauge. Nah, tight gauge ini sudah dipasang di muara Binuangen berbatasan dengan Pandeglang. Jadi kalau di Panggarangan itu memang ti gas-nya enggak ada di situ di di daerah Muara Binuangen. Nah, kenapa sensor sesmik atau gempa enggak enggak kami buat di daerah pantai itu karena ee Sesmik itu harus merekam getaran yang eh minim bising atau minim ee apa ya gangguan. Kalau dia ditempatkan di pantai itu ada deru-deru ombak yang bisa mengkaburkan keakuratan dari gelombang sesmik. Sensor SESMIK itu juga bisa merekam gempa-gempa di Banten atau di Selebak Selatan meskipun lokasinya jauh seperti misalkan di Serang atau di Tangerang itu sebenarnya kita juga bisa merekam gempa-gempa dari situ. Enggak perlu di ditaruh di dekat dengan penggarangan. Jadi gempa di laut selatan Lebak Selatan itu juga bisa direkam dari e Jakarta meskipun sensornya ada di Jabor Tabek pun juga bisa merekam. sampai sekarang BMKG itu e fokus kepada gempa ya. Jadi kalau tsunami jelas diawali gempa. Namun kita kalau lebih e spesifik lagi tanda-tanda alam sebelum gempa atau gempa kuat Megatras itu banyak pakar yang mulai mempublikasikan itu adanya aktivitas tidak lazim dari hewan-hewan. Seperti misalnya ee habitat dari hewan-hewan gunung itu sudah mulai lepas dari sarangnya. Kemudian juga di laut itu ada ikan-ikan yang dari laut dalam itu sudah mulai mendekat ke ee permukaan. Kemudian juga ada yang mati di sekitaran pantai. Masyarakat juga pertama perlu dibekali dengan literasi. Jadi literasi itu adalah dasar bagi mereka merespon dari ee informasi ini. Ketika masyarakat abai dengan informasi atau literasi, maka ee ke depannya dia akan acuh, tidak ikut dengan program pemerintah. Eh, selain sosialisasi kami di Desa Sitti melakukan langkah-langkah dengan penanaman pohon mangruve ee terus ketapang, pohon ketapang, terus ee cemara laut. Untuk alat-alatnya juga alhamdulillah di Desa Siturgen kami sudah mempunyai sirine peringatan dini. dari Destana kolaborasi sama GMLS terciptalah yang bernama itu Sirine Mandiri Desa yang ada di Siturgen. Sirine Mandiri desa. Jadi itu bukan dari dananya atau anggaran dari pemerintah. Jadi mereka itu anggarannya dari dana dana pribadi melalui project community project yang dilakukan oleh GMLS dan berkegiatan di Sorgen didampingi sama Destana. Kalau untuk jalur revakuasi udah ada dari Kampung Cimandira Laut, Kampung Cisih, Kampung Cipurun untuk jalur revokasi sudah dibuka semuanya sudah ada. Titik dari laut masuk ke zona merah itu ombak sekitaran nyampai 14 menit sampai 10 menit. Jadi ee Kampung Cimandiri Laut itu penduduknya ketika ada tsunami datang mereka punya waktu 10 menit sampai 15 menit untuk lari ke jalur evakuasi. Habis sosialisasi kami melakukan kegiatan evakuasi mandiri. Jadi yang bernama itu keluarga tangguh bencana. Jadi setiap keluarga itu kami mempunyai dan menerapkan menerapkan ke setiap keluarga itu tentang evakuasi mandiri. Bagaimana caranya penempatan barang-barang di rumah. Terus dengan skala besarnya kami tahun 2024 awal kami melakukan simulasi evakuasi bekerja sama dengan GMLS dan ee BPBD juga hadir di sini melakukan ee evakuasi simulasi mandiri dan berskala besar juga melibatkan banyak pihak dari pihak desa, pihak kecamatan, ee dari koramil, terus Dari Puskesmas kami libatkan semua pihak dan masyarakat juga. Di luar berbagai langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi ancaman Megatras, ada kesadaran lain yang harus dibangun bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri. Sebuah ketahanan yang juga berperan dalam menghadapi bencana. Ekosistem pesisir seperti terumpu karang, lamun, dan mangrove berperan sebagai garis pertahanan alami yang tak tergantikan dalam meredam dampak yang mungkin terjadi. Ekosistem ini mampu menyerap energi gelombang tsunami dan melindungi pantai dari abrasi. Oleh karena itu, program restorasi ekosistem pesisir perlu menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana. Kalau mangroove atau vegetasi alami itu BMKG secara offisial itu tidak ada. Karena ee penanaman mangroove dan hutan pantai, bakau, cemara udang dan sebagainya itu adalah ee upaya dari pemerintah setempat karena penghijauan itu ee tidak masuk dalam ee program BMKG. Kendalanya di kami itu kalau penanaman pohon mangr ee cemara laut yang pertama dari ini abrasi. Abrasi laut di Siturgen ini lumayan parah. Jadi ketika kita tanami pohon mangrup, pohon cemara laut, ombak pasangnya itu emang gede sekali. Kita tanami habis sama ombak. Udah itu yang keduanya di sini itu di Siturgen kan ada yang mempunyai ternak. Jadi ternaknya itu enggak di iniak gembala kambingnya itu kan enggak dipantau. Akhirnya pohon ketapang, pohon mangrup dimakan sama ternak seperti kerbau, kambing gitu. Namun di balik segala persiapan dan langkah mitigasi yang telah dijalankan di Desa Situregen, muncul satu pertanyaan besar. Apakah semua itu benar-benar cukup? Cukup untuk menghadapi Mega Trust yang diam-diam menyimpan kekuatan dahsyat yang bisa mengguncang tanpa peringatan kapan saja? Belum. Oke. Belum cukup. Sangkan masyarakat tahunya enggak enggak mau tahu dia mah. Kalau kalau dibilangin kan ah enggak enggak bakalan terjadi. Jadi enggak enggak begitu ditanggapilah sama masyarakat. Sepertinya kurang ya. Kalau hanya untuk melihat di berita seperti itu kan kita kurang jelas sih sebetulnya. Cuman ee penginnya tuh langsung di sini tatap muka sama pakarnya gitu ya. Kayak misalnya mitigasi gitu. Nah, hingga saat ini kami menilai bahwa belum 20% pun belum masyarakat untuk bisa disebut siap menghadapi potensi risiko bencana itu. saat sebelum 2020 sebelum media mempublikasikan ee hasil riset mengenai gempa megatas yang berpotensi tsunami itu, masyarakat relatif abai terhadap ee apa yang kami sampaikan bahwa ee di selatan Jawa ada potensi gempa besar yang berpotensi tsunami. Ketika membangun kesadaran saja ee sangat sulit ee tentu ini berat bagi kita ya. e awal-awal kami merasakan cibiran, kemudian cemohan dan yang lain-lain. Ee tidak hanya dari masyarakat, bahkan dari keluarga kami sendiri seperti itu. Tapi itu lebih karena memang ketidaktahuan. Ee ketidaktahuan inilah yang kemudian membuat kami malah harus terus bergerak. Karena sebetulnya sebagaimana kata seorang jurnalis kebencanaan Mas Ahmad Arif bilang bahwa gempa bumi dan tsunami itu tidak membunuh. Yang membunuh itu adalah ketidaketahuan dan ketidakpedulian kita. Nah, kegiatan pengurangan risiko bencana itu bukan kegiatan yang populis ya. orang-orang lebih suka bencananya terjadi, orang-orang datang membawa bantuan menjadi superhero yang kemudian ee membagikan bantuan-bantuan itu. Ada foto yang kemudian di-upload dan sebagainya. Sementara di pengurangan risiko bencana itu rata-rata kita banyak tantangannya, tidak populis gitu. sampai sekarang dari BNPB dari pemerintah itu memberikan alat-alat atau sensor itu di sekitar selatan ini belum ada destana ketika beres program pemerintah enggak ngucurin anggaran lagi dan kami dididik dan harus mandiri. Jadi intinya gini, ke pemerintah itu ketika udah ngasih program ke masyarakat, ke lembaga yang ada di desa, tolong untuk berkelanjutan. Minimnya peran pemerintah dalam mitigasi di Desa Situregen menciptakan celah yang semakin sulit diisi. Dengan kebijakan efisiensi anggaran yang membatasi pengeluaran untuk alat peringatan bencana sejak awal 2025, kesiapan menghadapi ancaman kini bergantung pada daya juang masyarakat sendiri. Indonesia memiliki ee ada 5.744 desa di Indonesia yang rawan tsunami untuk tsunami saja. Ee dan tidak di semua tempat itu sudah ada infrastruktur peringatan dini yang ee bisa diandalkan. Nah, BMKG dan pemerintah pusat tentu memiliki keterbatasan untuk memasang peringatan ini di semua tempat. Nah, sudah terbatas tapi sekarang mulai ada efisiensi ya tentu akan ada dampaknya. Jadi efisiensi anggaran itu ee yang terjadi di BMKG sekarang sebenarnya tidak menurunkan kualitas performa pelayanan informasi gempa bumi dan tsunami. Karena dengan kita memiliki eh maaf 533 sensor seismik di Indonesia. Kemudian juga 450 warning receiver system yang tersebar di seluruh Indonesia itu juga sudah cukup handal untuk menyebarluaskan informasi dan peringatan dini. Hanya dengan efisiensi anggaran ini kami tidak bisa menambah [Musik] garda terdepan untuk kegiatan mitigasi ee di daerah sebagaimana amanat Undang-Undang Penanggulangan Bencana itu adalah pemerintah daerah. Semua ee lini di pemerintahan untuk turun. Tidak hanya BPBD, pendidikan harus masuk. Dinas Pendidikan harus mulai memasukkan kurikulum pendidikan ke sekolah-sekolah. Misalnya harapan kami yang ada di Desa Siturgen khususnya di Pesisir Selatan ini berdekatan langsung dengan laut, berdekatan langsung dengan Megatras. Jadi harapan kami tolonglah dari dari pemerintah apa yang kami pengin itu laksanakan. Jadi udah beberapa tahun ke belakang kami itu pengin ada peringatan dini. Harapan saya tuh ya masyarakat di sini itu memang membutuhkan tanda-tanda yang semacam ee dari pemerintah itu semacam diadakan serine apa itu kan kemungkinan itu jelas gitu pada masyarakat. Apabila misalnya kita mau terjadi serina itu berbunyi berarti kan masyarakat tuh langsung teriak gitu. ee PU ya, Dinas Pekerjaan Umum harus mulai memikirkan rute-rute yang akan apa jalanan yang akan menjadi rute evakuasi mereka. Kemudian di Dinas Pertanian harus mulai memikirkan cadangan-cadangan pangan yang ada di zona-zona bencana. Nah, yang pertama desana diteruskan supaya lebih lebih merata tahunya ke masyarakat. Serindunya ditambah kalau bisa gitu. tolonglah anggarkan buat yang ada di desa. Soalnya nyampai sekarang kami destana minta anggaran ke pemerintahan desa. Ee pemerintahan desa enggak bisa menganggarkan soalnya enggak ada dari pusatnya. Kemudian Dinas Kependudukan sudah lulus mulai memetakkan ada berapa ee masyarakat yang berada di zona rawan, bagaimana status ekonomi dan sebagainya seperti itu. Jadi semua lini di pemerintahan harus turun. sampai saat ini kami memang belum belum lihat keseriusan seperti itu untuk pemerintah daerah. Di balik ketenangan yang tampak di sepanjang pesisir tersimpan kesiapan yang tak terlihat. Bukan hanya kesiapan untuk bertahan tetapi untuk terus menjalani hidup di bawah bayang-bayang ancaman yang bisa datang kapan saja. Masyarakat pesisir ini memahami bahwa mereka hidup di tepian resiko. Namun di sinilah mereka berakar. Di tengah rasa cemas dan ketabahan yang terus berdampingan, bencana mungkin tak terhindarkan, tetapi kehidupan di pesisir ini tetap berdenyut, penuh tekad dan kewaspadaan. [Musik]