JAKARTA KOTA AIR (Part 2) - Banjir Jakarta Dari Tahun ke Tahun
EzEGPp7ls9Y • 2020-01-16
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
...airnya setinggi ini, terendam.
Ini tadi kerendam dan mati pompanya.
Kita penyembab banjir ?
Lihat, kita tidak adapun masih banjir.
Berapa kali terjadi banjir meskipun kita digusur.
Jadi taman ini memang untuk membantu,
berbagi luapan sungai Ciliwung.
Air ditahan dulu di selatan Jakarta,
supaya teman-teman di hilir, di Jakarta Utara
tidak menerima limpasan air yang besar.
Jadi untuk sementara ditahan dulu di sini.
Karena teman-teman di Jakarta Utara juga punya persoalan dengan pasang air laut.
Jadi ketika air laut pasang, air sungai Ciliwung tidak bisa secara grafitasi langsung ke laut,
jadi harus menunggu kerja pompa untuk sementara air tahan dulu di selatan kawasn kota ini.
Ini yang kami sebut ini adalah naturalisasi sungai Ciliwung.
Kembalikan sungai Ciliwung ke fungsi alamiahnya.
Bang Tio kita ngobrol sebentar.
Ngomongi sungai Ciliwung, dulu itu pangkala siapa?
Jadi waktu pertama kali kita untuk mencari,
waktu pertama kali ada isu betonisasi,
kita bertanya, "bagaimana sih nenek moyang kita dulu merawat sungai atau bersinegi dengan sungai?".
Alhasil, kita semua mencari info, kita tanya.
Tanya ke Kakek kita, naya ke Bapak kita
Kamu tanya ke sana, ternyata orangnya sudah meninggal. Inilah yang disebut "pati obor"
Salah satu permasalah besar di Tanjung Barat adalah "mati obor".
Jadi ilmu yang ada di orang tua...
...itu tidak sampai ke yang muda, karena yang muda merasa bahwa itu sesuatu yang tidak masuk akal,
atau sesuatu kadang-kadang merasa bilang mistis.
Nah, saat kami mulai menanam pohon,
lalu kami melihat pohon yang udah lama tumbuh,
kita ukur jaraknya benar-benar 6 meter.
Skema itu sudah ada dari dulu berarti.
Hanya kadang-kadang, nenek moyang atau orang tua kita saat menjelaskan...
...kalau kita bantah dia tidak menjelasin lagi,
dia tidak memaksa untuk mengajarkan.
Bilangnya, "kalau kamu mau belajar, ya belajar aja.
Kalau tidak mau belajar, ya tidak apa-apa".
Yang harus di mengerti itu pertama,
Jakarta itu lahir bersama air.
Jadi kalau kita baca riset itu bisa menjelaskan bahwa...
...4.000 tahun yang lalu itu hujan tropis mengkikis punggung gunung di selatan Jakarta.
Jadi ada 3 gunung. Gunung Pangrango, Gunung Gede,
sama Gunung Salak.
Dia membawa lumpur dan akhirnya membentuk dataran aluvia.
Dan airnya itu menjadi sungai-sungai.
Jadi kalau kita buka peta...
...kawasan Jakarta itu dilalui banyak sekali sungai.
Mayaoritas nama tempatnya juga identik dengan air.
Beberapa tempat di Jakarta menggunakan kata "rawa".
Ada Rawa Gatel, Rawa Belong, Rawa Sari.
Terus banyak menggunakan kata "kali".
Peradaban yang paling tua pertama orang Jakarta itu justru itu di sungai.
Semua penemuan Arkeologis,
yang menandakan kehidupan pertama manusia
itu semua di daerah aliran Ciliwung.
Nah konsep ini di dunia modern...
...dimanivestasikan istlah ilmiah, naturalisasi, normalisasi, kota penyerapaan.
Karena apa? Karena air itu berkah.
Dia harus diambil, harus dipanen...
...harus disimpan.
Apalagi Jakarta kalau musim panas sangat kering,
kalau musim hujan sangat basah.
Pikiran ini dirusak oleh Belanda .
Pikiran mereka apa?
Air itu harus dibuang kelaut, dikanalisasi.
Jadi kalau ada yang sekarang ngomong sitem kanal itu bisa membuat berhasil,
orang Belanda itu belajarnya gagal membuat kota Batavia dan Batavia harus pindah...
...dan dibentuk menyerupai kota Amsterdam dengan banyak kanal-kanal.
Kanal-kanal itu dari mana? Dari Ciliwung.
Ciliwung diluruskan, dibeton,
diminta orang-orang Cina kerja,
tapi yang terjadi pendangkalan.
Jadi bukan hanya kanal itu gagal,
kanal itu juga membunuh.
Membunuh warga Batavia,
Dan akhirnya mereka pindah di Abad 19
awal tahun 1800 lebih ke selatan.
Dan di situ mereka mulai belajar mendukung konesp rumah dengan konsep arsitektural tropis
dengan menyidakan ruang taman yang besar.
Seperti arsitektural ruang seperti orang Betawi,
Rumah sebagian kecil dari arsitektural ruang yang dominan pohon dan ruang biru.
Ini secara toponimi sudah mengajarkan arah ke masa depan kalau mau membentuk kota supaya selamat,
itu cuma 2,
menjadi jadi kota biru sekaligus kota hijau.
Persoalanya kita bentuk menjadi kota abu-abu,
aspal dan beton melulu.
Luas Ruang Terbuka Hijau (HRT) DKI Jakarta 14,8% atau sekitar 98,5 km2
Sedangkan luas minimal RTH kota menurut undang-undang adalah 30%
Jakarta, 1872
Jakarta, 1898
Jakarta, 1918
Jakarta, 1920
Jakarta, 1925
Jakarta, 1935
Jakarta, 1979
Jakarta, 2013
Jakarta, 2020
_ Saya kok tidak dapat daster?
- Saya juga tidak dapat.
Jadi dalam periode yang panjang,
Ciliwung itu membentuk dirinya sedemikan rupa,
dia berkelok-kelok, itu bagian menahan air, meresapkan air, punya ruang-ruang berhenti, parkir,
agar arus tidak terlalu besar di tengah, di muara.
Seharusnya di muara justru menjadi sangat luas.
Tapi sekarang yang terjadi sebaliknya,
di muara malah di bendung, dibuat pulau reklamasi.
Padahal pusat peradaban dari sungai di masa lalu itu,
justru ada muara-muara itu.
Jadi pusat peradaban sesuatu yang dianggap tinggi,
itu justru ada di pesisir.
Oleh karena itu, jurgan sero atau jurgan perahu yang sekarang di katakan rumah Si Pitung.
Juragan Sero ini adalah juragan besar perahu,
itu bisa menggambarkan...
...dahulu Ciliwung ini bukan sungai belaka,
tapi sebagai transportasi.
Ada tukang perahu, tukang getek, tukang eretan.
Itu menjelaskan profesi-profesi yang hidup di masa lalu,
dan menjadikan...
...sungai bukan hanya ruang suci,
tapi ruang rejeki.
Dan semua yang berakit dengan sungai itu simbol dari peradaban yang tinggi,
digambarkan dengan sastra-sastra di Betawi.
Sekarang berbalik.
Rumah sekarang itu belakangin sungai,
sungai dianggap tong sampah raksasa.
Jadi kita membuat pernusuhaan dalam periode yang panjang.
Kalau misalkan kita membayangkan sebuah proyek besar naturlisasi atau normalisasi,
saya pikir kita bicara tentang ekosistem yang besar,
karena yang kita rusak adalah ekologi.
Jadi Pak Jokowi itu sebenarnya sudah betul.
Tapi yang kita harapkan dari omongan ini
tidak seperti kasus HAM atau kasus korupsi.
Jadi sebatas akrobat public relations.
Tetapi betul-betul menjadi patok kesadaran baru
untuk mengoreksi...
...ekologi yang rusak, yang bisa dimulai dengan mengaudit,
rencana tata ruang,
kenapa menjadi rencana tata uang.
Jadi pas waktu dahulu mau digusur,
kita rapat seluruh warga, 3 kampung ini.
Kita rapat, musyawarah dan kita sepakat
tidak mau digusur, tidak mau dipindah.
Kita mau di sini karena pekerjaannya rata-rata di sini.
Lalu kita buat usulan, usulan apa? Menawar.
Jadi kalau pemda maunya total 25 meter,
kita maunya 5 meter aja begitu.
Waktu sheet pile (tanggul) ini mau dibanggun,
ini tadinya rancangannya tidak ada pohon.
Rencananya semua pohon mau dicabut lalu kita protes
Kita mau pohon ini tetap dipertahankan.
Apalagi kalau pagi di sini masih banyak burung.
Jadi kalau saya sendiri sih nyaman sekali.
Pagi banggun minum kopi sambil burung itu.
Jadi rumah saya itu kan bambu, nah di batang-batang bambu itu jadi tempat sarangnya walau burung gereja,
menurut saya sih,
kenikmatan tersendiri hidup di Jakarta bisa punya
banyak burung tampa harus saya memelihara.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:21:41 UTC
Categories
Manage