File TXT tidak ditemukan.
Transcript
YZm1paIS4s4 • Terpaksa menipu: Di balik mafia siber | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0099_YZm1paIS4s4.txt
Kind: captions
Language: id
Penipuan dapat terjadi kepada siapa pun.
Siapa pun bisa tertipu.
Tidak peduli secerdas apa mereka.
Saya terperangkap.
Cuma butuh satu hari yang buruk.
Jumlahnya sampai miliaran dolar
yang dicuri jaringan kriminal ini tiap tahunnya.
Saya enggak pernah menyangka saat itu,
kalau saya bakal diculik dan diperbudak.
Di sebelah sana, ada pusat penipuan.
Setiap hari, kami bangun tidur
dan tahu kami akan menipu orang-orang.
Saya ingin menceritakan kisah saya
untuk mengungkap industri mengerikan ini
kepada dunia.
Beberapa waktu lalu,
Patrick K, yang berusia 35 tahun,
berkenalan dengan seorang perempuan muda
di internet.
Patrick bekerja di bidang Teknologi Informasi
dan aktif dalam politik lokal.
Dia yang masih lajang
dihubungi seorang perempuan bernama Emmi.
Dulu saya main Tinder karena bosan.
Saya menggunakannya untuk mencari pasangan
di waktu senggang.
Beberapa hari kemudian,
saya menerima pesan di Instagram.
Pesannya pakai bahasa Inggris,
"Halo, apa kabar?"
Sangat sederhana.
Saya sama sekali enggak curiga.
Saya pikir, coba saja dulu,
dan membalas pesan itu.
Obrolan mereka kian erotis.
Yang terjadi selanjutnya,
juga semakin banyak dialami laki-laki lain.
Namun, sangat sedikit yang mau berbicara terbuka
tentang hal itu seperti Patrick K.
Yihao Lu berasal dari Cina.
Dia kenal pesan-pesan macam ini,
karena dulu dia juga pernah menulisnya.
Untuk menjaga keselamatannya,
kini dia tinggal di Amsterdam.
Sebelum diperbudak,
saya tahu ada penipuan semacam itu
dan tidak pernah menyangka
akan jadi bagian dari itu semua.
Dia mengungkapkan pengalamannya ke publik,
jauh dari jangkauan para mafia di belahan dunia lain.
Satu orang menipu
sekitar 15 sampai 25 orang sekaligus.
Perlu diketahui,
para penipu ini
biasanya bekerja 16 hingga 17 jam per hari.
Dan biasanya, operasi penipuan
berakhir tengah malam.
Dan itulah yang tengah dihadapi Patrick.
Namun, dia belum menyadarinya.
Perempuan cantik dari Asia itu
berulang kali mengirim pesan.
Saya sudah enggak berpikir logis.
Justru saya semakin senang dan menikmatinya.
Jadi, saya ikuti saja.
Mereka pun semakin dekat.
Orang bilang, pria itu makhluk sederhana.
Dan saya setuju.
Saat kami merasakan sensasi itu,
otak tidak berfungsi,
dan hanya melakukannya.
Jadi, begitulah rasanya.
Kejahatan transnasional ini melampaui ruang dan waktu.
Mereka punya alat terbaik untuk menemukan korban
dan membuat mereka jatuh cinta.
Jadi, saya rasa, kesepian menjadi penyebab utamanya.
Dia memulai panggilan video.
Awalnya, saya melihat
seorang perempuan Asia di kasur
dengan selimut putih menutupi tubuhnya,
lalu tiba-tiba dia menarik selimut itu
dan saya bisa melihatnya telanjang.
Saat itu, semuanya terlihat
seperti panggilan langsung biasa.
Namun, kini Patrick sadar itu pasti video rekaman.
Naluri saya meminta saya berhati-hati.
Tapi entah kenapa,
saya menunjukkan wajah sedikit.
Dan mulai bersandar,
lalu saya masturbasi.
Saat bermasturbasi itulah, dia direkam.
Panggilan video itu tiba-tiba terputus,
dan tidak sampai sedetik, masuk pesan audio.
Sebuah pesan pemerasan,
dari seorang pria yang tidak ia kenal.
Hai, kau mau videomu saya sebar?
Menyebarkan video itu ke semua temannya?
Patrick pun terkejut.
Antara saya harus bayar,
atau dia sebar semuanya.
Semua foto dan pesannya.
Malam itu, Patrick sangat syok.
Yihao Lu telah meninggalkan semua itu.
Memakai identitas palsu.
Merayu korban ke jerat penipuan.
Para pelaku bebas beraksi dari tempat
sejauh 8.000 kilometer di Asia Tenggara,
di negara seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar.
Ratusan pusat penipuan beroperasi di sini,
memperdaya orang di seluruh dunia.
Rekaman rahasia dari dalam.
Sangat terorganisir, mirip call center,
dan menghasilkan miliaran dolar.
Di Myanmar saja,
konon ada ratusan ribu orang bekerja
di pusat-pusat penipuan macam ini.
Dan banyak yang dipaksa melakukannya.
Gabungan antara penipuan bernilai miliaran dolar
dan perdagangan manusia.
Divisi Pencegahan Kejahatan
Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bangkok
menganalisis jaringan penipuan global ini.
Ada hubungan yang sangat erat
antara kejahatan daring di pusat-pusat penipuan ini
dan perdagangan manusia.
Kami melihat banyak orang bekerja di sana
bukan karena kemauan mereka.
Mereka ditawan, seperti budak.
Dipaksa menipu dan mengambil uang korbannya.
Dan mereka bekerja dalam keadaan yang buruk.
Suara yang penuh dengan keputusasaan.
Panggilan darurat, dari pusat penipuan.
Jay Kritiyan menerima pesan seperti ini setiap saat.
Aktivis Thailand ini bekerja
untuk sebuah organisasi bantuan
dan berkomitmen memerangi perdagangan manusia.
Jay membantu mereka yang ingin melarikan diri,
bahkan di malam hari.
Pria itu mengirimkan lokasi tempatnya ditahan.
Pria itu hanya beberapa kilometer
dari perbatasan di Myanmar.
Lalu, ia mengirimkan sebuah video.
Pria berusia 31 tahun itu berasal dari Kenya.
Dia terluka dan mengaku dipukuli selama enam jam.
Ada memar di kakinya.
Dia hanya menginginkan satu hal:
Keluar dari sana, dengan bantuan Jay.
Namun, hari itu terlalu berisiko.
Tidak ada yang berhasil kabur malam itu.
Kota perbatasan Mae Sot.
Di sana, ada penyeberangan ke Myanmar.
Negara ini tengah dilanda perang saudara,
dan sindikat kriminal memanfaatkan kekacauan ini.
Di sini, mereka menjalankan bisnis
bernilai miliaran dolar,
tanpa gangguan.
Salah satu pusat penipuan
terletak di belakang sungai di perbatasan.
Jay menerima banyak panggilan permintaan tolong.
Para tawanan menyebarkan nomor ponselnya
ke sesama mereka.
Terkadang, ia menerima ratusan pesan dalam sehari.
Mereka dikurung di ruangan gelap.
Tanpa makanan atau air.
Diikat, dipukuli dengan tongkat kayu
atau batang logam.
Akhirnya, hampir semua orang
dipaksa melakukan penipuan.
Pria yang meminta bantuan dengan putus asa itu
sebenarnya adalah koki terlatih,
dan punya restoran sendiri di Kenya.
Namun, ia tergiur tawaran kerja
di sebuah hotel mewah di Bangkok.
Di bandara, semua tampak baik-baik saja.
Sembilan jam?
Ada yang tidak beres.
Diam-diam, ia mulai merekam,
termasuk merekam kejadian penculikannya.
Begitu kabar tersebar di antara para tawanan
bahwa ada beberapa yang kami bantu,
mereka mulai mengirimkan informasi
tentang keberadaan mereka.
Koordinat, nama, bahkan bukti jika memungkinkan.
Pria itu dikurung di kompleks gedung ini.
Kartu identitas dan ponselnya disita.
Namun, dia berhasil menyembunyikan ponsel kedua.
Ponsel itulah yang menyelamatkan hidupnya.
Ponsel ini memberikan gambaran langka
kepada para penyidik
tentang yang sebenarnya terjadi
di pusat-pusat tersebut.
Hukuman lainnya:
Berdiri terus-menerus selama 24 jam.
Hanya karena orang ini tidak cukup banyak
menipu dan mencuri uang.
Tawanan lain mencoba membantu.
Hukuman bahkan jadi lebih kejam.
Pria itu diam-diam merekam penyiksaan
dari sebuah lubang di atap.
Korban disetrum hingga pingsan.
Kebrutalan yang sungguh di luar batas nalar.
Mereka ingin melarikan diri,
meski harus bertaruh nyawa.
Thomas W. adalah pensiunan kaya dari Bayern.
Ia pernah menjabat sebagai direktur pelaksana.
Dia bertemu seorang perempuan Asia di LinkedIn.
Dia misalnya bertanya,
apakah saya bisa cerita lebih banyak tentang Jerman
atau mungkin mengajarinya sedikit bahasa Jerman
agar dia tidak kebingungan sewaktu sampai di Jerman.
Di satu titik,
kisah ini pun berubah menjadi musibah
saat para penipu mencuri uangnya.
Itulah sebabnya Thomas W. ingin tetap anonim.
Yang menghubunginya adalah pengusaha gadungan, Jin Wenja.
Saya rasa, menarik juga.
Jadi saya pikir, kenapa tidak?
Perempuan itu menampilkan
citra sosok yang anggun dan atletis.
Ada foto-foto mobil, makanan lezat,
dan tas tangan mewah.
Thomas W. merasa mereka punya minat yang sama.
Saya kira dia itu orangnya autentik dan juga jujur.
Jadi, ketika dia menulis,
‘Sayang, aku kangen,'
saya tidak pernah merasa dia sedang menggoda.
Hanya mengobrol biasa.
Kami ngobrol panjang lebar,
dan mungkin agak menebar janji
bisa berpacaran suatu saat nanti.
Selama fase itu, sebagai penipu,
saya akan menanamkan ide ke pikiran calon korban:
Omong-omong, saya punya kesempatan investasi,
dan saya pernah untung besar,
tapi saya hanya akan membahasnya
sebentar di fase awal.
Pesan dan foto baru
terus-menerus dikirimkan ke korban.
Begitulah awal mula jebakan ini.
Para pelaku menyebutnya “pig butchering”.
Kartel Cina menganggap korban penipuan
sebagai ternak babi.
Istilah “menggemukkan babi”,
berarti para penipu
berusaha mendapatkan kepercayaan,
dan membangun keyakinan pada calon korban.
Lalu di saat yang tepat,
penipu akan “menyembelih babi” itu.
Jin membujuk Thomas W.
bergabung ke sebuah investasi
yang dijanjikan membawa untung.
Saya pikir, 'Kenapa tidak?
Kita bisa mulai dulu berinvestasi
beberapa ribu euro.
Dua atau tiga ribu euro
(sekitar Rp40-Rp60 juta) dulu.
Kenapa tidak?'
Namun, semua yang ada di aplikasi itu palsu.
Tentu saja, dia tidak tahu.
Thomas yakin dia benar-benar sedang berinvestasi.
Pertama seribu,
lalu hingga 30.000 euro (sekitar Rp587 juta).
Semuanya tampak berjalan lancar.
Bukan main gembiranya Jin.
Namun, uangnya menghilang ke dalam akun kripto.
Sementara itu, di malam yang sama di Hannover,
Patrick K. kembali mengalami mimpi buruk.
Dan para penipu meningkatkan tekanan mereka.
Libido saya turun.
Saya bisa berpikir jernih,
mungkin agak lelah karena sudah malam,
tetapi saya langsung bereaksi
dan benar-benar fokus.
Rasa takut mendorongnya untuk bertindak.
Patrick tidak punya banyak,
tetapi dia berhasil mengumpulkan uangnya.
Akhirnya, rekening bank saya minus,
termasuk biaya denda,
jadi saya tidak bisa mentransfer lagi.
Namun, saya masih punya sekitar 2.000 euro
(Rp39 juta) di rekening tabungan.
Saat itu, saya juga sudah sangat kelelahan.
Setelah semalaman tidak tidur, dia depresi.
Dia mentransfer sekitar 3.000 euro (Rp58 juta).
Akankah penipu itu menepati janji?
Dan tidak menyebarkan videonya?
Apa kata teman-temannya nanti?
Thomas W. dari München
berinvestasi lebih banyak lagi.
Dia berinvestasi dengan Jin
selama lebih dari empat bulan.
Dan Jin terus mengomporinya.
Lalu dia bilang,
“Kalau mau untung sebesar saya,
kamu harus deposit lebih banyak.“
Karena tidak mau dan merasa ragu,
saya bilang saya tidak punya uang lagi.
Lalu, saya rasa di tahap ini,
dia mendeposit 30.000 dolar (hampir setara Rp500 juta)
ke platform trading saya,
agar bisa dapat keuntungan yang lebih tinggi.
Triknya berhasil.
Para peneliti di Pusat Keamanan Informasi Helmholtz
mencoba memahami metode para penipu
dengan lebih baik.
Para penipu membuat situs web.
Ada angka, lalu berlipat ganda,
dan semakin besar.
Mungkin di awal,
korban bisa melakukan beberapa transaksi
dan menerima kembali uangnya.
Setelah korban berinvestasi 5.000
dan mendapatkan 7.000 kembali,
lalu ia berinvestasi lagi 50.000
dan situs web menunjukkan ia mendapatkan 150.000,
tetapi sebenarnya saat itu uang korban sudah hilang.
Untuk melacak penipu,
para peneliti menggunakan Kecerdasan Buatan
dan menciptakan semacam korban virtual.
Tujuannya adalah untuk membuang waktu penipu
dan yang paling penting,
untuk lebih memahami cara kerja penipuan ini
dan bagaimana mereka menipu korbannya.
Setelah mendapatkan informasi pembayaran,
kami tahu cara mereka beroperasi
dan bagaimana menghentikannya.
Mesin dengan Kecerdasan Buatan
yang bisa berbincang dengan penipu,
bahkan di telepon.
Apa benar bisa berfungsi?
Yihao Lu berjuang keras demi kebebasannya.
Pria berusia 30 tahun itu
menjabat sebagai asisten eksekutif
ketika ditawari bekerja di Bangkok.
Itu adalah jebakan.
Dia menjadi saksi dan menyelundupkan
ratusan dokumen internal keluar
dari pusat penipuan itu.
Saya dipaksa melintasi perbatasan,
lalu diangkut ke kamp penipuan
bernama Kamp Dongmei.
Setelah diculik dari Thailand ke Myanmar,
dia ditawan oleh mafia selama tujuh bulan.
Namun diam-diam,
ia membuat foto dari dalam penjara.
Jika berdiri di tengah kamp dan melihat ke luar,
kita bisa lihat kawat berduri dan pagar.
Lalu ada penjaga bersenjata
untuk memastikan tidak ada yang bisa
menyeberangi lapangan dan kabur.
Saya pikir, "Kenapa aku bisa sampai ada di sini?"
Dia tidak yakin apakah harus lari atau melawan.
Kartel itu memperingatkan saya.
Jika tidak patuh, mereka bisa menghukum saya,
menyiksa atau menjual saya ke pihak lain.
Saya benar-benar tidak tahan.
Saya tidak kuat.
Ini seperti acara Netflix atau film dokumenter
kriminal yang saya tonton.
Dalam beberapa hari pertama,
dia dilatih cara menipu orang.
Dia ingat ada berbagai ruangan.
Di salah satu ruangan,
mereka membuat akun-akun palsu,
menambahkan foto-foto, dan cerita-cerita palsu.
Dengan pengawasan ketat,
para korban perdagangan manusia
dipaksa berkomunikasi dengan target mereka.
Untuk keluar dari pekerjaan itu,
Yihao Lu menawarkan diri
mengurusi pembukuan sindikat itu.
Catatannya menunjukkan bahwa
bisnis kriminal itu telah menipu korban
hingga hampir empat juta euro (Rp78,5 miliar).
Ibarat perusahaan,
Ada departemen untuk
menjalankan operasi sehari-hari
dan ada tim pengembangan
untuk mencari peluang baru.
Pekerjaannya sangat efisien.
Misalnya, foto-foto perempuan muda tadi dibeli
dari kanal kriminal di Telegram.
Atau diambil dari influencer.
Namun, Yihao Lu juga mengalami penyiksaan.
Saya berada di ruang penyiksaan selama 18 hari.
Tidak ingat lagi berapa kali saya dipukuli.
Menjelang akhir penawanannya,
dia disiksa dengan disetrum.
Mafia mengirimkan video ini kepada orang tuanya.
Mereka membayar uang tebusan
sebesar 39.000 dolar (Rp650 juta).
Dan setelah tujuh bulan,
dia dibebaskan.
Sejak saat itu,
misinya adalah meningkatkan kesadaran,
mengumpulkan bukti,
dan mengungkap jaringan penipuan ini.
Satu nama terus muncul: Wan Kuok Koi.
Penjahat ini dulunya adalah tokoh penting triad 14K,
kelompok turunan dari mafia Cina.
Julukannya: Broken Tooth.
Mafia dari Cina ini aktif di Myanmar.
Mereka memanfaatkan kekacauan
yang melanda negara itu
sejak kudeta militer tahun 2021.
Video dari kota perbatasan Myawaddy ini
direkam diam-diam.
Sebagian besar pusat penipuan berada di sini.
Banyak pihak mencari untung
dari dunia yang dipenuhi dengan
persaingan antargeng, perjudian dan korupsi ini.
Orang-orang biasanya membayangkan
para mafia berkeliling memakai kacamata hitam
dan membawa senjata.
Tapi sebenarnya, mereka pebisnis.
Dan mereka berusaha
menampilkan diri sebagai pebisnis.
Mereka cenderung berbicara tentang investasi.
Gambaran sekilas Kamp Dongmei,
tempat Yihao Lu ditawan.
Broken Tooth juga berinvestasi di area ini.
Berikut foto-foto yang diambil saat peresmiannya.
Rencana awalnya, bangunan-bangunan ini
dibuat untuk jadi kompleks hiburan.
Namun, selama pandemi Corona,
bangunan tersebut dialihfungsikan
menjadi pusat penipuan.
Dalam kasus saya,
Broken Tooth diduga tergabung dalam kelompok itu.
Dia diduga pemegang saham,
atau setidaknya, inisiator kompleks tersebut.
Foto-foto dan video baru terus bermunculan di internet.
Di sini, dia bersama para petinggi triad
di sebuah bandara di Laos.
Wartawan tidak dapat menghubungi Wan Kuok Koi.
Sementara itu, bisnis penipuan berkembang pesat.
Kami memperkirakan, keuntungannya
sebanding dengan perdagangan narkoba.
Perdagangan narkoba di Asia Tenggara dan Asia Timur
bernilai sekitar 60 hingga 80 miliar dolar
(Rp960-1.200 triliun) per tahun.
Dan kami prediksi bisnis penipuan ini
menghasilkan jumlah yang sama.
Foto-foto yang diambil dari media sosial
menunjukkan Broken Tooth di awal tahun.
Ia bermain paralayang di Laos dan berpesta.
Dia tampak santai,
terlepas adanya sanksi dan investigasi
yang dilakukan Amerika Serikat.
Koki dari Afrika itu
menjadi tahanan di Myanmar selama empat bulan,
hidup dalam belas kasihan penculiknya.
Ia hanya ingin melarikan diri.
Kemudian, dia melihat peluang dan memanfaatkannya.
Langkah yang sangat berani.
Dia mengaku bersembunyi di antara bambu
dan berlari melintasi lapangan.
Namun, mereka mengejarnya.
Saya berlari demi hidup saya dan keluarga saya.
Saya tak menoleh ke belakang.
Tidak tahu dari mana saya punya energi itu,
tapi saya berlari secepat mungkin.
Ia berhasil dan berenang
menyeberangi sungai menuju Thailand.
Dia ditawan, tapi juga sudah menipu banyak orang.
Jadi dia harus meyakinkan polisi Thailand
bahwa dia juga adalah korban.
Jay Kritiyan membantunya.
Jay adalah seseorang yang sangat saya hormati,
karena sewaktu saya hampir menyerah dan putus asa,
dia satu-satunya orang yang memberi harapan.
Thomas W. telah berbincang dengan Jin
selama delapan bulan.
Jin sering mengirimkan pesan kepadanya.
Thomas W. sudah menginvestasikan
lebih dari 250 ribu euro (Rp4,9 miliar)
dan mulai ragu.
Saya bilang ke dia,
"Jin, saya tidak tahu,"
atau "Saya tidak yakin,
coba kirimkan kartu identitasmu."
Dan dia mengirimkannya.
Penawan saya bisa mengedit kartu identitas
untuk ditunjukkan kepada calon korban,
dan saya melihatnya sendiri.
Jadi, sama sekali tidak terkejut.
Thomas W. ingin uangnya kembali.
Namun, apa pun usahanya,
tidak ada uang yang kembali ke rekeningnya.
Membuang-buang uang sebanyak itu
memang tidak baik.
Itu memengaruhi hidupmu dan keluargamu.
Kejadian seperti itu sangat besar pengaruhnya.
Saya langsung sadar bahwa saya harus
melaporkan kasus ini ke polisi.
Akhirnya kasusnya sampai di sini.
Dia hanyalah satu dari banyak kasus.
Kejaksaan Umum Bayern,
di Kantor Pusat Kejahatan Siber
menerima laporan semacam ini hampir setiap hari.
Ketika melihat para korban,
Anda menyadari bahwa
tidak ada yang namanya 'korban biasa'.
Mereka cenderung berpendidikan tinggi,
profesional sukses,
dan punya uang untuk diinvestasikan.
Korban individu di Bayern ada yang merugi
hingga 3 juta euro (Rp58,8 miliar).
Itu baru dari segi finansial.
Sangat penting juga melihat dampak personal
dari kejahatan seperti ini.
Telah terjadi sejumlah kasus bunuh diri,
atau korban serius berniat bunuh diri,
dan dalam beberapa kasus,
keluarga hancur.
Thomas W. juga mengambil langkahnya sendiri.
Ia menyewa firma hukum
yang ahli dalam jenis penipuan ini.
Semuanya sangat terstruktur.
Seperti ada pembunuhan yang sempurna,
ada juga penipuan yang sempurna.
Dan itulah yang kami lihat di sini.
Para pelakunya terlatih,
pekerjaan mereka rapi.
Selalu ada penipu yang bertugas, 24 jam,
terus mencari korban, menghubungi mereka,
mengirimi pesan WhatsApp,
apa pun untuk mencegah korban berpikir dua kali
atau meminta bantuan.
Ternyata ada jaringan luas di balik penipuan ini.
Sangat profesional dan terorganisasi dengan baik.
Uang Thomas W. awalnya mengalir
ke sebuah akun Bitcoin.
Dari sana, uang itu didistribusikan dan ditransfer.
Dua spesialis sedang mencoba melacak rutenya.
Mereka berhasil melacak pelaku dengan cara ini.
Kami menyadari betapa profesionalnya para pelaku.
Mereka menghasilkan banyak uang
dan beroperasi dalam skala besar.
Jika kita cermati kembali,
terlihat bahwa para pelaku masih aktif hingga saat ini.
Jejaknya berakhir di berbagai akun Bitcoin.
Pemiliknya tidak diketahui.
Dari sini, terserah otoritas terkait
apakah akan menyelidikinya.
Pencarian foto mengungkapkan lebih banyak lagi:
Foto profil LinkedIn tokoh Jin muncul beberapa kali.
Hanya saja namanya berbeda.
Sebagai Esma, Mori, Evangeline, dan Lucy.
Itu adalah foto wajah seorang model amatir Thailand.
Agensi modelnya di Bangkok tidak dapat dihubungi.
Kami menunjukkan foto-foto itu kepada Thomas W.
Itu dia.
Saya tidak pernah menyangka
ini bisa terjadi kepada saya.
Ada sesuatu yang terasa aneh
dari sikap ramah orang yang menghubungi saya.
Pria sepertinya dipaksa
menipu orang seperti Thomas W.,
sambil bersembunyi di balik profil perempuan.
Betul.
Dulu kami menggunakan profil perempuan.
Dulu saya berpura-pura jadi perempuan pebisnis.
Kini, pria itu sudah kembali
ke Nairobi bersama keluarganya.
Dia masih ingat persis
bagaimana dulu ia menipu korbannya.
Kami tidak secara langsung mengatakan
kepada korban kalau kami perempuan kaya,
tapi kami tunjukkan foto-foto kehidupan mewah kami,
dan meeting-meeting kami hari itu.
Kecerdasan Buatan telah membantunya dalam menipu.
Saya tidak tahu bagaimana cara perempuan mengobrol.
Jadi, saya tanya kepada ChatGPT
tentang cara memikat hati pria.
Dan karena saya seorang pria,
saya tahu apa yang diinginkan dari seorang perempuan.
Jadi itu bisa membantu kami.
Kami lihat, semakin banyak kecerdasan buatan
digunakan untuk melakukan penipuan.
Dan kini, Anda bisa berada di Asia Tenggara
dan menargetkan korban di belahan dunia lain
tanpa ada hambatan.
Pada akhirnya, siapa pun bisa menjadi korban penipuan.
Itulah yang membuatnya begitu berbahaya
dan mengapa mereka bisa berkembang sangat pesat.
Kantor Kejaksaan Umum Hannover.
Patrick K. yang ditipu hingga
tiga ribu euro (Rp58,7 juta),
mengajukan pengaduan
dan mengumpulkan bukti pemerasan.
Beberapa minggu kemudian,
dia menerima sebuah berkas.
Berkas yang tipis.
Investigasinya dihentikan.
Ya, saya kecewa.
Saya pikir tuntutan itu bisa membantu.
Polisi hanya memeriksa apakah akun mencurigakan itu
telah ditandai sebelumnya.
Penipu tidak mengirimkan videonya.
Patrick membagikan kisahnya kepada teman-temannya
untuk memperingatkan potensi bahaya ini.
Teman-teman saya semua baik.
Mereka merespons dengan baik
dan menganggap saya sangat berani untuk berbicara.
Mereka sangat menghormati saya.
Seorang teman bercerita bahwa hal yang sama persis
terjadi pada saudara laki-lakinya.
Di München, Thomas W. masih menanti hasil akhir kasusnya,
sejak dilaporkan enam bulan sebelumnya.
Ini gila.
Ini bisa dianggap seperti ajakan
bagi para penipu di Jerman untuk ikut menipu.
Karena mereka tahu bahwa proses
penuntutan kejaksaan di Jerman sangat lama.
Perlu dicatat bahwa ketentuan
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
tentang penyitaan uang tidak sepenuhnya berlaku
untuk mata uang kripto.
Kasus ini tidak sepenuhnya dibahas
dalam undang-undang kami.
Menanggapi pertanyaan kami,
Kementerian Kehakiman Federal Jerman menyatakan
bahwa mereka tidak melihat perlunya amendemen,
dan bahwa undang-undang yang berlaku
saat ini sudah memadai.
Mata uang kripto sudah dapat disita.
Namun pada praktiknya, sulit dilakukan.
Terutama di area yang kita bahas ini,
modus penipuan investasi di internet
atau penipuan “pig butchering”,
angka kasusnya meningkat.
Sayangnya, kami sering kali tidak mendapat informasi
dari penyedia layanan,
terutama jika mereka tidak diatur
atau berbasis di negara
yang tidak begitu bersedia bekerja sama.
Artinya, kami menemui jalan buntu dan tanpa solusi.
Sementara itu, Jay Kritiyan terus menerima panggilan
yang memohon pertolongan.
Tujuan saya hanyalah
membebaskan sebanyak mungkin korban,
tapi bukan hanya para korban di sini.
Ini juga tentang mengurangi
jumlah korban penipuan di seluruh dunia.
Itu akan membantu semua orang.
Kita perlu bekerja sama.
Saling mendukung, dan tunjukkanlah empati.
Baru-baru ini,
digelar operasi penyelamatan besar-besaran.
Sepuluh ribu orang yang diculik
berhasil dibebaskan dari pusat-pusat penipuan
di Myanmar.
Untuk saat ini, di Thailand dan Cina,
negara mulai turun tangan dalam kasus ini.
Dan untuk sesaat, para penipu terekspos.
Namun, operasi penipuan terus berlanjut.
Bagaimana dengan Jerman?
Para ilmuwan saat ini tengah melatih Kecerdasan Buatan
untuk menjadi korban virtual.
Seorang pria virtual yang dapat terus
melayani para penipu
untuk berbincang tanpa henti.
Tujuannya adalah mengikuti ke mana perginya uang,
karena penipu mencari uang.
Jadi, kami ingin memahami
cara mereka memilih kontak
dan cara mereka
mendapatkan informasi finansialnya.
Contoh, ini PayPal, dan ini akun kripto.
Jika kami memahami
cara mereka mendapatkan uang,
kami bisa mengumpulkan informasi ini dari PayPal.
Para penipu itu berkomunikasi
dengan Kecerdasan Buatan.
Perangkat lunak ini telah berbincang
dengan ratusan penipu.
Dan setiap kali, mereka berhasil mendapatkan informasi
ke mana calon korban harus mentransfer uangnya.
Kami lalu memberikan informasi ini kepada PayPal
agar akun-akun itu dapat diblokir.
Proses ini juga otomatis,
jadi kami dapat memahami arus uang
serta cara memblokirnya untuk menghentikan penipuan.
Menghentikan penipuan,
atau setidaknya menguranginya,
adalah misi mereka.
Saya menginginkan keadilan dan pembalasan dendam.
Akan ada banyak orang tidak bersalah,
baik korban penipuan
maupun korban perdagangan manusia,
yang bisa diselamatkan dan dibebaskan.
Saya merasa sangat sedih.
Setiap hari, kami bangun tidur
dan tahu kami akan menipu orang-orang.
Saya juga ingin menyemangati orang lain.
Jangan diam saja.
Musibah bisa terjadi.
Berani berbicara membuat saya lebih kuat.
Dan akhirnya, saya ingin menjadi lebih kuat
daripada pelakunya.
Dengan bersuaranya para penyintas,
dan dengan kemajuan teknologi,
penipuan dapat dilemahkan.
Saya ini Kecerdasan Buatan
dan waktu saya tak terbatas.