Perdagangan tengkorak manusia dari era kolonial, ada juga tengkorak dari suku Dayak | DW Dokumenter
owvKhD2cCYk • 2025-07-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Inilah awal penelusuran kami.
Sebuah penelusuran yang akan membawa
kami ke masa kelam sejarah Jerman.
Berawal di sini sebuah pasar tempat
tengkorak manusia dijual.
Anda beli apa?
Saya beli rahang bawah manusia.
Saya sudah punya beberapa bagian
tengkorak, tapi rahang belum ada. Saya
pernah dengar tentang pasar ini dan
ingin lihat ke sini. Saya langsung
menemukan sesuatu.
Apa kisah di balik tulang-tulang ini?
[Musik]
Saat menuju ke pasar ini, kami tidak
tahu apa yang akan kami temukan.
Pasarnya ada di Belgia, tidak jauh dari
perbatasan ke Jerman. Katanya di sini
dijual tengkorak manusia. Asal usulnya
tidak jelas. Begitu tiba di lokasi, kami
berpencar.
Kesan pertama mencengangkan. Di
mana-mana tulang belulang dan bangkai
makhluk hidup benar-benar di luar nalar.
Dan semuanya untuk dijual.
Peminatnya banyak.
Di sana sini kami lihat tengkorak
manusia dipajang.
Kebanyakan pengunjung tidak merasa
terganggu membeli tulang dan bangkai
binatang di sini.
Kalian suka di sini?
Ini ketiga kalinya saya ke sini. Saya
suka. Banyak hal di sini yang tidak bisa
ditemukan di tempat lain. Banyak yang
unik. Sangat mengesankan apa yang bisa
didapat di sini.
Awalnya saya skeptis pertama kali ke
sini. Melihat bagian-bagian tubuh
manusia dipajang, ya ada saja pikiran
negatif yang muncul. Bagaimana dengan
tengkorak manusia? Iya, menarik. Tapi
saya tidak akan beli.
Kenapa?
Ya, rasanya aneh saja. Membayangkan ada
tengkorak manusia di rumah saya.
[Musik]
Ini peninggalan orang yang pernah hidup.
Kita tidak tahu mereka siapa. Apa mereka
setuju tulang-tulangnya diperjual
belikan seperti ini? Perdagangan
tengkorak manusia di sini benar-benar
terbuka. Sepertinya tidak ada larangan
apa-apa. Tapi dari mana asalnya?
[Musik]
Hello, we're from first German TV
broadcaster.
[Tertawa]
Deutschre
dari mana datangnya ini? Pertanyaan
bagus. Sejujurnya tidak ada yang tahu.
Anda tahu kisah tengkorak-tengkorak ini?
Seringnya sih tidak.
Yang mencolok banyak tengkorak berasal
dari tempat yang jauh.
[Musik]
Dari togo. Ini pigmi dari Afrika. Ini
tengkorak orang dewasa yang lebih kecil
dari Konggo. Kongo
yang ini Afrika tapi tidak tahu tepatnya
dari mana. Banyak tengkorak di sini
berusia lebih dari satu abad lalu ketika
Eropa menjajah dan menjarah apapun yang
mereka inginkan.
Sekarang tindakan seperti itu adalah
kejahatan. Apa di sini ada juga
tengkorak kolonial?
Ada berita bahwa beberapa museum mulai
mengembalikan barang-barang seperti ini.
Bagaimana menurut kalian?
Saya kira di sini tidak ada tengkorak
kolonial. Setidaknya saya belum pernah
lihat tengkorak Afrika yang terbukti
jelas bahwa itu berasal dari Afrika dari
masa kolonial.
Memang pada masa itu tengkorak dibawa ke
Eropa.
Tapi dalam konteks ini sangat sulit
membuktikan asal-usul tengkoraknya.
Pengelola pasar juga tidak memberi
jawaban jelas ketika ditanya tentang
tengkorak kolonial.
Dengan tegas mereka bilang menentang
rasisme dan kolonialisme. Kami
melanjutkan investigasi secara
terselubung.
Mungkin dengan begitu para penjual akan
lebih terbuka.
Dan beberapa menit kemudian kami
menemukan sesuatu.
Ini sangat bagus dan langka. Dan ada ini
harganya cukup mahal. Ini tengkorak
anak-anak dari Papua Nugini. Ini
tengkorak leluhur. Bisa dilihat dari
patinanya. Ini langkah sangat bagus.
Kalau mau Anda bisa mengambil gambar.
Iya.
Harganya
50o. Tanpa ragu, dia juga menceritakan
asal-usul tulang-tulang itu.
Dulu orang-orang Eropa memperdagangkan
ini pada masa kolonial. Orang Inggris
mereka pergi ke sana dan mencuri atau
membelinya.
I know.
Beberapa tempat berikutnya kisah yang
sama berulang.
Ini tengkorak dari Afrika.
Ini tengkorak dari Indonesia.
Dan ini tengkorak inuit. Sangat langk.
Pedagang ini juga yakin
tengkorak-tengkorak itu dari masa
kolonial. Dulu tengkorak digunakan untuk
penelitian ras.
Mereka bilang ada bedanya tengkorak
Afrika dan Eropa.
Mereka ingin buktikan Eropa yang
terbaik. Sedangkan Afrika kecil lebih
mirip kera. Itu rasis. Tapi dulu memang
seperti itu.
Penjual ketiga, seorang kolektor Prancis
memberi gambaran tentang cara mereka
memberi harga pada tengkorak kolonial
ini.
Ini tengkorak dari Kalimantan, dari suku
Dayak. Harganya 15
R.000.000o.
Ibu
yang ini dari Afrika. Saya tidak tahu
dari daerah mana.
Ada lubang peluru di tengkoraknya.
Harganya 2000o.
Oh, dia ditembak
sepertinya iya.
Ditembak di kepala. Ini bisa membuat
tengkorak jadi lebih menarik dan
harganya pun lebih mahal.
Lalu dia ingin menunjukkan sebuah benda
dari koleksi pribadinya.
Saya tunjukkan barang favorit saya.
Apa itu?
Itu kepala orang Mauri dari Selandia
Baru.
Kami tidak ingin menayangkan gambarnya.
Itu kepala orang suku Mauri yang
terpenggal masih dengan kulit, rambut,
gigi penuh tato.
Itu bertato. Ada di Instagram Anda.
Tidak. Karena suku Mauri ingin kepala
itu dikembalikan ke Selandia Baru.
Jadi dia tahu negara asal kepala itu
menuntut leluhur mereka dikembalikan.
Tapi dia yakin koleksinya aman di rumah.
Ini koleksi pribadi jadi tidak ada
masalah.
Ini di rumah Anda.
Iya. Dulu harganya Rp100.000o.
R.000.
Ini sangat langka.
Kepala yang terpenggal, jasad yang
dicuri, korban kekerasan.
Semua itu tidak dianggap jadi masalah di
sini. Malah bisa meningkatkan penjualan.
Tapi di balik semua ini ada kejahatan
yang lebih besar lagi.
[Musik]
Pada masa kekaisaran, Eropa termasuk
Jerman menjajah berbagai wilayah dan
menyebutnya koloni.
Mereka menggunakan kekerasan brutal
untuk mendominasi penduduk lokal,
merampas tanah, dan mengeksploitasi
sumber daya alamnya. Dan mereka membawa
kembali puluhan ribu tengkorak ke Jerman
pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Mereka menjarah banyak kuburan berlomba
untuk mendapatkan tengkorak sebagai
trofi.
Di wilayah yang sekarang disebut
Namibia, pasukan Jerman melakukan
genosida. Puluhan ribu orang Hereroanama
dibiarkan kelaparan dan dibunuh.
Kepala mereka dipenggal. dikemas dan
dikirim ke Jerman. Semua itu dilakukan
agar para ilmuwan Jerman dapat mengukur
dan mempelajarinya. Tujuannya untuk
membuktikan superioritas ras kulit
putih.
Penelitian ilmiah untuk museum juga sama
kejamnya.
Orang-orang mengambil apapun yang mereka
inginkan,
termasuk tengkorak leluhur yang dihias
dari Papua Nugini.
Pria ini bahkan merekam dirinya saat
melakukan penjarahan. Ia berpose dengan
barang jarahannya di depan kamera.
Hingga hari ini, sekitar 17.000 sisa
jasad manusia masih disimpan di
museum-museum Jerman.
[Musik]
Mengingat sejarah kelam ini, mengapa
tengkorak-tengkorak manusia ini sekarang
bisa diperdagangkan?
Saya pergi ke museum alam di Hamburg.
[Musik]
Daniel Bin melakukan penilaian untuk Bea
Cukai. Salah satu tugasnya adalah
menentukan apakah spesimen alami dapat
diimpor secara legal.
Sebagai kurator koleksi biokultural
museum, dia paham topik ini. Museum itu
sendiri punya etalase untuk
barang-barang ilegal.
Di etalase ini, Anda bisa mendapat
gambaran tentang apa yang kami tangani.
Di dalam etalase ada kerang laut yang
disita, hewan yang diawetkan, dan kulit
ular.
Selalu menarik melihat reaksi
orang-orang.
Ada yang bilang, "Oh, ini seperti
etalase toko." Dan mereka bertanya,
"Berapa harga barang-barang itu." Saya
katakan kepada mereka, "Ini 5 tahun
penjara, ini 5.000 semua ini barang
sitaan bea, cukai."
Perdagangan tumbuhan dan hewan termasuk
kerang laut seperti ini dapat dikenakan
sanksi menurut hukum internasional.
Tapi untuk perdagangan tengkorak manusia
tak ada sanksi.
Singkatnya, membeli atau menjual
tengkorak manusia tidak otomatis ilegal
dan transportasi melintasi perbatasan
juga tidak dilarang.
Jadi, sepertinya perdagangan tengkorak
manusia diperbolehkan. Tapi bagaimana
dengan tengkorak dari masa kolonial yang
diambil dengan kekerasan atau dicuri?
Kami membawa beberapa foto tengkorak
dari berbagai belahan dunia.
[Musik]
Bagaimana dengan ini?
Di sini semuanya menjadi tidak masuk
akal.
Katakanlah kita punya tengkorak dari
Oseania yang dihias dengan indah dengan
kerang dan tanaman khusus.
Sebuah objek yang punya pengaruh budaya
yang nyata.
Masalahnya bukan tengkoraknya tapi
kerangnya.
Jika kerang itu diidentifikasi sebagai
spesies yang dilindungi, mengimpornya
adalah ilegal.
Tapi tengkoraknya sendiri tidak
dilindungi.
Jadi tanpa kerangnya semuanya baik-baik
saja.
Pada dasarnya begitu. Anda dapat
mengimpor tengkoraknya, kerangnya tidak.
Memperdagangkan kerangnya dilarang.
Tengkorak bisa dilarang kalau ada bukti
tindak pidana seperti pencurian atau
pembunuhan.
Tapi itu hampir mustahil dibuktikan
kalau terjadi satu abad lalu. Jadi
perdagangannya saat ini terus berlanjut.
Mikael Asil Kingga dari Kamerun sedang
mencari tengkorak di Jerman. Ia mau
memulangkan tengkorak itu ke tanah
airnya. Dia sedang menyelidiki apakah
ada tengkorak dari Kamerun yang disimpan
dalam koleksi antropologi di Universitas
Gutingen.
Tengkorak dari Camerun ada di sini.
Rak-raknya dipenuhi kotak dengan
tengkorak manusia. Kehidupan yang
berakhir mengenaskan.
Melihat tengkorak-tengkorak ini seperti
menyaksikan bukti semua kekerasan yang
pernah terjadi.
Ada hari-hari di mana saya harus
berhenti dulu karena ini terlalu berat.
Sejauh ini dia telah mengidentifikasi 10
tengkorak dari Kamerun. Ini keberhasilan
besar. Tengkorak-tengkorak itu berasal
dari masa penjajahan Jerman.
Di Kamerun ada keluarga yang telah
menghabiskan lebih dari satu abad untuk
mencari sisa-sisa leluhur mereka atau
tengkorak pemimpin yang mereka hormati.
Semua orang ingin tahu ada di mana
tengkorak leluhurnya.
Mereka masih mencarinya.
Bagi seluruh komunitas ini hal penting.
[Tepuk tangan]
Itu semacam trauma. Beberapa orang mulai
kehilangan harapan.
Bagi banyak orang di Kamerun, tengkorak
leluhur punya makna spiritual yang dalam
dan merupakan bagian penting dari
kehidupan sehari-hari.
Beberapa keluarga menyimpan tengkorak di
rumah dan memajangnya di ruangan khusus.
Mereka berkomunikasi dengan orang mati
melalui tengkorak-tengkorak di rumah
mereka. Jadi kamar-kamar leluhur itu
merupakan tempat sakral.
Kami menceritakan tentang pasar yang ada
di Belgia dan menunjukkan bagaimana
tengkorak-tengkorak dari masa kolonial
masih diperjual belikan sampai sekarang.
Saya tidak bisa percaya ada orang yang
tidak terganggu melakukan itu.
Tengkorak seperti itu. Tengkorak leluhur
tidak ternilai harganya. Memang ada yang
memberi harga untuk itu.
Tapi bagi saya itu tidak bisa dinilai.
Tidak ternilai harganya.
Karena untukmu tengkorak itu adalah
seseorang bukan sebuah objek. Iya. It
manusia
dan kemanusiaannya harus dihormati.
Namun martabat manusia ini tidak berarti
apa-apa lagi. Terlebih pada masa
kolonial.
Bagi Mikael, ketidakadilan akibat
kolonialisme belum usai.
Kami menyelidiki lebih jauh tentang
dunia pedagang dan kolektor
dan kami menemukan daftarnya di
Instagram.
[Musik]
Yang ini sekitar 9.000o.
Penawaran murah.
Iya, ini juga pengiriman ke seluruh
dunia. Sudah termasuk asuransi.
Kami menemukan banyak koleksi tengkorak.
Beberapa dipajang dalam kota kaca
seperti di museum pribadi. Sepertinya
ada jejaring khusus bagi kolektor dan
pedagang yang memperdagangkan tengkorak
manusia di Instagram.
Beberapa di antaranya berasal dari
kebudayaan yang menghiasi tengkorak
leluhurnya. Misalnya dengan bulu unggas.
Di balik wajah yang tertutup tanah liat
ini ada tengkorak manusia.
Jejaring perdagangan tengkorak manusia
ini sangat luas.
[Musik]
Lagi-lagi kami menemukan bukti bahwa
banyak tengkorak ini berasal dari masa
kolonial.
[Musik]
Misalnya dari Kamerun, Konggo,
Indonesia, Papua Nugini.
Banyak yang diberi label Afrika.
Banyak tengkorak ini yang dijual dengan
harga 1.000 sampai 2000.000o atau lebih.
Kami menyelidiki platformnya
dan akhirnya menemukan ratusan
tengkorak. Banyak di antaranya diduga
berasal dari masa kolonial. Kami tidak
dapat memverifikasi, tetapi banyak
indikasinya.
Satu pedagang menarik perhatian kami.
Seorang penjual dari Inggris dengan
73.000 follower. Dia salah satu pedagang
terbesar di sini.
Kami menghubunginya.
Mungkin dia bisa menceritakan lebih
banyak tentang jaringan perdagangan
tengkorak.
Pedagang itu menjawab kami. Dia tinggal
di London dan mengundang kami untuk
berkunjung.
Selain berjualan secara daring, dia juga
punya toko kecil di sebelah utara
London.
Hei,
[Musik]
nice to meet you. Thanks for having us.
Henry Screk adalah sosok unik tokonya
juga.
[Musik]
Sulit menentukan mau mulai dari mana.
[Musik]
Tengkorak manusia diletakkan di samping
tengkorak hewan,
tulang dari berbagai spesies.
Dia menjualnya sebagai barang unik.
Tulang-tulang ini berasal dari kolektor
pribadi, museum, dan institusi medis.
Sebagian besar penjualan dilakukan
secara daring. Dia mengatakan telah
menjual ribuan tengkorak.
Saya mengirim barang ke seluruh dunia,
ke Eropa, Amerika, Kanada, Selandia
Baru. Jauh lebih sulit bagi saya untuk
mengirim bangkai hewan karena sebagian
besar termasuk spesies selangka.
[Musik]
Dia tidak menganggap perdagangan
tengkorak manusia sebagai masalah.
Tengkorak itu bukan manusia lagi.
Tengkorak hanya kerangka saja.
Apakah ada tengkorak yang lebih berharga
dari yang lain?
Ada. Tengkorak dengan cedera tanda
kebudayaan, tengkorak dari prajurit atau
tengkorak leluhur.
Lalu sesuatu yang diawetkan seperti
anak-anak atau bayi pokoknya yang
khusus.
Saya punya beberapa tengkorak kesukuan
itu sedikit lebih mahal.
Itu dari mana
ini? Suku Beleki dari Afrika.
yaitu mungkin tengkorak Dayak atau
tengkorak bergaya Dayak
yang itu berasal dari Haiti tengkorak
vudu
yang itu berasal dari Konggo itu juga
bemeleki dari Afrika
[Musik]
tengkorak bamille yang berwarna-warni
dihiasi dengan manik-manik berasal dari
Kamerun dari awal abad ke-20
Ketika negara itu masih menjadi koloni
Jerman,
kami juga diberitahu bahwa yang disebut
tengkorak suku kemungkinan juga berasal
dari masa kolonial yang sama.
[Musik]
Ini mungkin berasal dari masa kolonial.
Hanya karena asal-usulnya tidak
diketahui. Bukan berarti ini ilegal atau
dicuri atau punya sejarah buruk.
Selama Henry Screk tidak tahu sejarah
tengkoraknya,
dia tampak tidak terganggu.
Ketidakadilan apapun yang pernah terjadi
dengan tengkorak-tengkorak itu, dia
tidak terlalu peduli.
[Musik]
Ini ketidakadilan yang seringkiali
diabaikan.
Di Berlin, kami bertemu menyaka sururu
Emboro dari Tanzania, negara bekas
koloni Jerman lainnya. Sejak tiba di
Jerman saat muda, dia sudah mencari
tengkorak. Di kampung halamannya,
orang-orang telah berharap selama lebih
dari 40 tahun bahwa dia akan menemukan
tengkorak Manggimi, seorang pejuang
lokal yang digantung oleh pasukan
kolonial Jerman.
Berapa lama lagi kami telah menunggu
lebih dari 100 tahun? Berapa lama lagi?
Sampai sekarang masih terasa
menyakitkan.
Tidak perlu ditanyakan lagi. Meski
menyakitkan, dia setuju untuk melihat
apa yang kami temukan di Instagram. Kami
sudah memberitahu sebelumnya apa yang
akan dia lihat.
Ini bukan gambar yang baik. Kami sepakat
melihatnya bersama-sama.
Ada dari Kamerun. Kami juga melihat
penawaran dari Togo.
Sulit dipercaya.
Dia heran mengapa hal seperti ini masih
belum dilarang.
Bagaimana kita bisa menoleransi dan
membiarkan hal seperti ini?
Itu mengganggu saya.
Untuk dia, tengkorak yang dicuri adalah
bukti dari kekerasan brutal masa
kolonial.
Tapi di Jerman, banyak orang memilih
untuk tidak mengingat sejarah ini.
Beberapa bahkan mengklaim bahwa masa
kolonial Jerman tidak seburuk itu.
Mereka bilang, "Kami hanya di sana
sebentar saja dan kami disukai.
Disukai hanya sebentar. Saya bilang itu
seperti neraka.
Sepanjang 30 tahun berperang,
fakta menyakitkan yang tidak ingin
didengar banyak orang.
Dan apa tanggapan meta perusahaan
pemilik Instagram tentang semua ini?
Mereka memberi tanggapan tertulis,
perdagangan organ tubuh manusia
melanggar pedoman komersial dan
komunitas kami.
Tapi tidak disebutkan mengapa
perdagangan seperti itu masih terjadi di
platform ini.
Kami menuju kota Mines mengunjungi
Kristablom.
Masa lalu kolonial Jerman juga merupakan
bagian dari sejarah keluarganya.
[Musik]
Di gudang bawah tanahnya ada sebuah
kotak. Kotak itu berisi tengkorak
leluhur dari Nugini.
Meski tidak mau,
dia mewarisi ini dari keluarganya.
[Musik]
Itu ada di sini dan itu bagian dari
sejarah saya. Jadi, saya berterima kasih
Anda memberi saya kesempatan untuk
menceritakannya.
Saya akan mengeluarkannya. Hati-hati,
Anda tidak masalah mengeluarkannya.
Bukan sesuatu yang saya nikmati, tapi
ini realitas.
Saya bertanya-tanya, apa cerita di
baliknya? Apa sejarah orang ini?
Bagaimana dia meninggal? Kita tidak tahu
apa-apa tentang dia.
Keluarganya tidak pernah membicarakan
itu. Yang dia tahu kakek neneknya
membawa tengkorak itu kembali dari
Nugini. Mereka misionaris saat Nugini
masih menjadi koloni Jerman yang dikenal
sebagai Kaiser Wilhelmand.
Kakek neneknya tinggal di sana
bertahun-tahun untuk menjadikan penduduk
setempat pemeluk agama Kristen.
Foto-foto dalam album keluarga
menggambarkan kehidupan yang harmonis
bersama penduduk setempat.
Mereka bahkan membuat kereta bayi dengan
gaya Jerman mirip kursi roda. Itu ayah
saya saat masih balita.
[Musik]
Ayahnya selalu menceritakan hal baik
tentang masa kecilnya di sana.
Dia selalu bercerita tentang hewan,
terutama rubah terbang dan kelelawar
buah. Mereka biasa memburunya.
Tapi bagaimana kisah di balik tengkorak
itu?
Itu pertanyaan yang selalu dia pikirkan.
Akhirnya dia mulai melihat masa lalu
keluarganya dengan lebih kritis.
Krista Blom mencari di dokumen-dokumen
lama dan menemukan foto-foto yang
sebelumnya tidak begitu dia perhatikan.
Foto-foto yang menceritakan kisah
berbeda.
Kami punya perhiasan seperti ini di
rumah.
Ada tulisannya.
Apa tulisannya?
Bisakah Anda baca?
Tidak.
tulisannya membakar benda-benda ajaib.
Oh, itu topik yang sangat mengerikan.
Dia di sini memakai jubah.
Iya, tanda otoritasnya.
[Musik]
Penduduk harus melihat budaya mereka
dirusak.
Disebut sebagai salah, ilmu sihir dan
tahayul dan kemudian dihancurkan.
Budaya itu harus dihapus agar mereka
menerima keyakinan baru. Mengerikan.
Yang dihancurkan di sini adalah
identitas dan budaya.
Ekspresi kekuasaan dan dominasi.
Api itu menurut saya sangat mengerikan.
[Musik]
Saat memeriksa dokumen lama ayahnya, dia
juga menemukan hal lain tentang
tengkorak itu.
Itu artikel dari koran lokal. Ini foto
ayah Anda.
Dengan tengkorak itu.
Gambar tersebut menunjukkan ayahnya
dengan tengkorak leluhur. Dia
menggunakannya untuk mendukung misi.
Pesan artikel itu jelas. Hanya dengan
bantuan ras kulit putih yang rasional
dan cerdas, kaum kafir dapat menemukan
iman yang sebenarnya.
Mereka menjalani kehidupan sehari-hari
dengan penduduk setempat, berteman
dengan mereka, anak-anak bermain
bersama-sama.
Tapi mereka selalu melihat dirinya
sebagai orang yang lebih unggul.
Kristabloom ingin mengungkap masa lalu
keluarganya
dan menghadapi fakta bahwa kakek
neneknya adalah bagian dari kekerasan
kolonial.
Ada sejarah yang bermasalah dan
mengerikan di balik semua ini.
Tengkorak leluhur itu merupakan bagian
dari sejarah keluarganya. Krista belum
bertekad untuk mengembalikannya ke Papua
Nugini. Tetapi sejauh ini dia belum
menemukan orang yang dapat membantunya.
Sementara itu, perdagangan tengkorak
leluhur terus berlanjut.
Di Wsburg, sebuah rumah lelang sedang
bersiap menjual tengkorak yang mirip
dengan yang diwarisi Krista Blom.
Ini tertera di dalam katalog mereka.
Ini tengkorak leluhur yang terbuat dari
tanah liat menggambarkan wajah orang
yang meninggal.
Tengkorak ini berasal dari wilayah
Sungai Sepik di Papua, Nugini.
Di Jerman, tengkorak sepik akan dilelang
di balai lelang khusus seni suku kuno.
Kami sempat mengobrol sebentar dengan
juru lelang. Dia tidak mau berbicara di
depan kamera dan kami tidak boleh
merekam selama pelelangan.
Tapi pelelangan akan disiarkan langsung
secara daring.
[Musik]
9.000o untuk leluhur dari suku Cik.
9000o sekali.000o
[Musik]
dua kali.
Tidak ada penawaran lagi. Terjual untuk
9.000.
Terjual dengan harga 9.000o.
Tengkorak itu dibeli penawar daring yang
anonim.
Kami tidak tahu siapa yang membelinya.
[Musik]
Kami berbicara dengan beberapa kolektor.
Banyak dari mereka tidak melihat ada
masalah membeli atau memiliki tengkorak
leluhur dari zaman kolonial.
Pernahkah Anda berpikir tentang
asal-usul tengkorak Anda?
Asal ususulnya jelas.
Tengkorak saya dulunya dikoleksi seorang
direktur museum di Hamburg.
Benda-benda ini telah diperdagangkan
selama berabad-abad di Eropa. Jadi itu
bukan masalah.
Jika tengkorok diambil sebagai rampasan
perang, ya itu memang sering terjadi
dalam perang.
hari ini juga masih terjadi.
Itu proses alamiah
dan menurut saya ini membantu
melestarikan budaya-budaya itu. Pada
akhirnya negara-negara asal akan dapat
membeli kembali karya-karya mereka.
Tengkorak-tengkorak itu memperoleh nilai
kebudayaan melalui upacara yang pernah
dilakukan terhadap mereka.
tidak perlu mengembalikannya.
Di Eropa tengkorak-tengkorak itu dirawat
lebih baik. Di sana hampir tidak ada
orang yang tertarik pada
tengkorak-tengkorak itu.
Tengkorak-tengkorak itu akan berakhir di
pasar lagi.
Ada banyak orang Afrika yang sangat kaya
akhir-akhir ini. Tentu saja mereka
menjadi kaya karena korupsi. Tetapi
begitulah keadaannya.
Begitu mereka memahami betapa pentingnya
benda-benda ini dan bahwa kami
melestarikannya di sini, mereka akhirnya
akan membayar mahal untuk benda-benda
itu.
[Musik]
Itu adalah ungkapan umum,
artefak-artefak ini lebih baik disimpan
di Eropa. Orang-orang di negara asal
tidak tertarik pada artefak-artefak ini.
Apa itu benar?
Kami ingin menelusuri sejarah tengkorak
sepik dan kalau mungkin menemukan
keturunannya.
Pencarian kami dimulai di Hamburg. Di
masa itu, Hamburg adalah pusat
perdagangan utama Jerman untuk
barang-barang dari koloninya.
Para pedagang, prajurit, dan pelaut
kembali ke Jerman dengan barang-barang
yang mereka anggap eksotik, termasuk
tengkorak dan tulang manusia. Bahkan
saat itu sudah banyak perdagangan jasad
manusia.
Banyak perusahaan di Hamburg yang
berspesialisasi dalam perdagangan hewan,
seni, dan bahkan orang dari daerah
koloni.
[Musik]
Salah satu perusahaan tersebut menjual
tengkorak leluhur dari Sungai Sepik.
Inilah petunjuk pertama yang kami
temukan.
Petunjuk ini membawa kami ke bekas
museum etnologi di Hamburg. Kabarnya
arsip mereka menyimpan catatan dari
perusahaan dagang itu. Kabar itu benar.
Kami menemukan banyak penyebutan
tengkorak. Pada saat itu disebut
tengkorak ras.
Kami juga menemukan faktur dan
inventaris perusahaan dari perdagangan
tengkorak.
Gendang, nugini, ikat pinggang, lonceng,
hiasan dada, tengkorak, tengkorak, 45
mark,
selandia baru, kepala bertato, rambut
utuh.
[Musik]
Kemudian kami menemukan petunjuk penting
yang mengungkapkan bagaimana tengkorak
sepik sampai ke Jerman dan siapa yang
membawanya ke sini.
Pembawanya seorang peneliti Jerman.
Dia tidak hanya membawa tengkorak ini,
tapi juga membawa sisa-sisa jasad
manusia seperti tengkorak dan kepala
yang terpenggal. semuanya untuk apa yang
kemudian disebut penelitian ras.
Dia bahkan mengambil sisa-sisa jasad
korban genosida Jerman di daerah yang
sekarang dikenal Namibia.
Dia menuliskannya dalam laporannya.
Saya dapat memanfaatkan korban perang
dan mengambil bagian-bagian dari mayat
penduduk asli yang masih segar yang
merupakan tambahan yang bagus untuk
mempelajari tubuh manusia.
Orang-orang Hotentot yang ditangkap
sering ditawarkan ke saya.
[Musik]
Kami juga menemukan laporan penelitian
dari ekspedisinya di Nugini.
Apakah laporannya menyebutkan tengkorak
leluhur dari dekat Sungai Sepik?
Di bagian belakang buku, kami menemukan
beberapa foto.
Ini tengkorak yang dimodifikasi dari
tengkorak asli.
Sama seperti yang dijual di pelelangan
kemarin,
Anda dapat melihat mata dari kerang,
cat, dan rambut. Dan yang juga menarik,
dia menghubungkannya dengan desa nomor
25, Ches Bandai.
[Musik]
Apakah ini salah satu tengkorak yang
kita cari?
Kami memeriksa gambar-gambar itu. Tidak
mudah. Gambar pada tengkorak lelang itu
sudah memudar, tapi ada kemiripan.
[Musik]
Selanjutnya kami mencoba mencari lokasi
desa 25. Tempat tengkorak itu diambil.
23 24 25 itu Ches Bandai.
Desa-desa di wilayah itu sangat kecil.
Kami ingin menemukan lokasi desa di
peta.
Kami memperbesar peta Papua Nugini di
utara Australia lalu turun ke sungai
sepik.
[Musik]
Ini Yamanumbo.
Iya dekat sekali. Iya. Terus
lihat ada huruf M pada namanya.
Di dekat situ kami melihat sebuah guest
house bernama Crocodile Laod.
Ada nomor teleponnya.
Ada nomor telepon. Nomor ponsel.
Saya bisa kirim pesan.
Ide bagus.
[Musik]
Dan kami berhasil menghubungi Gideon
Marl, pemilik Crocodile Launch. Dia
mengirimkan video dirinya dan sungai
sepik.
Dia mulai mencari keturunan dari desa
25. Kami pun melakukan panggilan video.
Oh, great.
[Musik]
Dia menemukan keturunan desa 25. Dia
sudah menunjukkan foto tengkorak leluhur
itu kepada mereka.
Peter.
Nice to meet you.
Ini Peter Kipma. Dia ingin menceritakan
apa yang dia ketahui tentang tengkorak
leluhur.
Waktu saya lihat foto itu, saya masih
bisa mengingat
apa yang kakek buyut saya ceritakan.
Dia khawatir,
kecewa dan bilang, "Mengapa mereka ambil
pahlawan kami dari sungai sipik?
Kepala leluhur kami.
Itu adalah bagian sejarah kami. Mengapa
mereka mengambilnya?
Orang Jerman yang ambil.
Iya. Tidak ada orang kulit putih lain
yang pernah ke sini sebelumnya.
Jadi mereka orang kulit putih pertama
yang menyeberangi sungai Sipik.
Itu kapal Jerman.
Ketika kapal-kapal datang untuk
mengambil tengkorak-tengkorak itu, kakek
kami merasa takut, tapi mereka tidak
melawan. Mereka takut kalau mereka
mengatakan sesuatu, mereka akan dibunuh.
Mereka membiarkan tengkorak-tengkorak
itu diambil karena takut orang kulit
putih akan membunuh mereka semua.
Kami berbicara dengannya tentang
perdagangan tengkorak-tengkorak ini dan
menunjukkan tengkorak yang dijual di
pelelangan. Awalnya Peter mengira
tengkorak itu disimpan di museum.
Dia tidak langsung sadar bahwa tengkorak
itu diperdagangkan.
[Musik]
Saya harus menceritakannya.
Mereka menjual leluhur Anda.
Tengkorak-tengkorak ini tidak boleh
dijual.
[Musik]
Kami tidak akan pernah menjualnya. Itu
tidak benar.
Kalau tengkorak-tengkorak ini diambil
dan bahkan sekarang diperdagangkan untuk
menghasilkan uang, tengkorak-tengkorak
ini sakral. Ini roh leluhur kami, para
pejuang yang berperang.
Ini warisan sejarah kami.
Tengkorak leluhur masih bermakna bagi
komunitasnya. Sekalipun rumah lelang
tersebut berjanji untuk berhenti menjual
tengkora kolonial, bagi Peter Kitma
tidak ada bedanya.
Adat dan budaya kami telah hancur.
Bagaimana saya bisa menceritakan tentang
adat dan tradisi ini kalau sudah hancur?
Ini sulit.
Saya tahu ceritanya.
Tapi anak saya hanya mendengar ceritanya
apakah mereka akan pernah mendapat
kesempatan melihat tengkorak-tengkorak
itu atau tidak.
Investigasi kami tentang asal-usul
tengkorak telah membawa kami ke belahan
dunia lain.
Lebih dari satu abad kemudian, dampak
penjajahan masih dirasakan keluarga
Peter Kipma.
Perjalanan ini juga mengajarkan banyak
hal tentang diri kami dan sejarah kami
sendiri di Jerman.
Tengkorak-tengkorak itu yang sebelumnya
tampak aneh bagi kami adalah simbol
kejahatan yang masih tertutup.
Sudah waktunya mengungkap babak kelam
dari masa itu.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:13:00 UTC
Categories
Manage