Transcript
Md8ZIcQl3nA • Konflik Identitas – Minoritas Rusia di Latvia | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0020_Md8ZIcQl3nA.txt
Kind: captions
Language: id
Syok. Bencana.
Dalam hati ada ketakutan dan teror.
Hingga saat akhir,
kami berharap mereka akan mencapai kesepakatan
dan tidak terjadi hal buruk.
Pukul 6 pagi, teman saya menelepon,
katanya, “Malam ini, Rusia menyerang
tanah kelahiran ayahmu.”
Yang pertama saya pikir:
Untunglah orang tua saya sudah tiada,
jadi mereka tidak perlu mengalami ini.
Hari itu tanggal 24 Februari 2022,
dua jam kemudian saya berdiri di depan Kedutaan Rusia
dengan papan bertuliskan: Hentikan perang!
Invasi Rusia ke Ukraina membuat minoritas penutur Rusia
di Latvia menderita tekanan emosional.
Latvia, yang merupakan anggota Uni Eropa dan NATO, berpenduduk 1,9 juta.
Satu dari empat penduduknya berlatar belakang Rusia.
Invasi itu membangkitkan kembali ketakutan,
prasangka lama, dan permusuhan
terhadap etnis Rusia
yang terkait dengan pendudukan bekas Soviet.
Setelah aneksasi Latvia pada 1940-an,
Uni Soviet mendorong migrasi warga Rusia ke Latvia
untuk mempercepat industrialisasi di negara itu.
Latvia meraih kemerdekaan pada 1991,
tapi hubungan antara minoritas penutur Rusia
dan mayoritas Latvia semakin tegang.
Stanislavs dibesarkan di kompleks perumahan khas era Soviet.
Invasi Rusia membawa penderitaan tak terhingga bagi Ukraina,
dan secara tidak langsung,
berdampak pada minoritas penutur Rusia di Latvia.
Bagi saya, 24 Februari 2022 berarti kekecewaan mendalam.
Terhadap kultus orang Rusia yang pemberani
dan nyali besar yang terkait latar belakang Rusia saya.
Ikatan yang dulu pernah saya punya,
kini saya harap hancur selamanya.
Menyakitkan rasanya, ketika sadar
bahwa keberanian yang saya yakini ternyata hanya ilusi.
Setelah merenung panjang,
saya putuskan bahwa saya adalah orang Latvia
keturunan Rusia.
Tidak pernah berpikir siapa saya,
sampai beranjak dewasa
dan sadar ada masyarakat mayoritas Latvia,
dan minoritas penutur Rusia seperti saya
bukan bagian darinya.
Keraguan tentang identitas pun muncul.
Apa saya orang Rusia?
Haruskah saya ke Rusia?
Atau saya orang Latvia, yang berbahasa Rusia?
Dulu, tidak ada pertanyaan macam itu.
Kami merayakan 9 Mei ketika sekolah libur.
Di rumah, kami menonton TV Rusia
dan tahu semua selebritas Rusia.
Tidak tahu apa-apa tentang budaya Latvia.
Kami hidup dalam dunia kami sendiri.
Perubahan sudah mulai terjadi
bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina,
tapi tidak begitu terlihat.
Perang menjadi pemicunya.
Saat itu, ada sikap sangat negatif
terhadap segala hal yang berbau Rusia.
Identitas Rusia, kewarganegaraan, atau apa pun.
Rasanya, semua yang berhubungan dengan Rusia
otomatis dianggap buruk atau jahat.
Ini mengkhawatirkan,
karena saya tidak mau pergi.
Irina lahir dan besar di Latvia.
Ibunya, seorang veteran Perang Dunia II
pindah ke Latvia setelah perang
untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Banyak penutur Rusia yang punya kenangan indah
saat Latvia masih bagian dari Uni Soviet.
Namun Soviet tiba-tiba runtuh dan segalanya berubah.
Seperti apa rasanya di tahun 1991?
Saya ingat saat mereka mendeklarasikan kemerdekaan...
Kami tahu itu akan terjadi.
Itu fakta, mau bicara apa lagi.
Jadi, tidak ada perubahan?
Hidup tetap sama?
Tentu saja semua berubah.
Saya menganggur, karena universitas tutup.
Di tahun 1991?
Ya, tepat setelah kemerdekaan.
Bagi saya, hidup di era Soviet sangat baik.
Tapi kemudian era 90-an tiba, segalanya berubah.
Ada masanya kami bahkan tidak tahu
bagaimana bertahan hidup
atau bagaimana harus bersikap.
Pada 6 September 1991, Uni Soviet resmi
mengakui deklarasi kemerdekaan Latvia.
Beberapa bulan kemudian,
Soviet pun runtuh dan tinggal sejarah.
Sebelum 1990-an, penolakan terhadap kekuasaan Soviet
melahirkan gerakan "Kebangkitan Nasional"
dan gerakan damai untuk mendapatkan kembali kemerdekaan.
Pada 23 Agustus 1989,
lebih dari dua juta orang di Estonia, Latvia, dan Lituania
membentuk rantai manusia sepanjang 650 kilometer
yang menghubungkan ibu kota negara-negara itu.
Tepat pada hari peringatan 50 tahun pakta nonagresi Hitler-Stalin
yang membagi Eropa timur laut ke
dalam zona pengaruh Jerman dan Soviet.
Sebuah demonstrasi solidaritas dan seruan untuk kebebasan
serta kemerdekaan dari Uni Soviet.
Itu adalah salah satu aksi protes terbesar Popular Front.
Jalur Baltik juga mencerminkan gagasan kembali ke Eropa,
jalan menuju keanggotaan NATO.
Karena itu, Jalur Baltik kini bukan lagi milik kami.
Sandra Kalniete adalah tokoh penting dalam gerakan ini
dan anggota terkemuka dari Popular Front of Latvia,
kelompok politik yang berkomitmen pada kemerdekaan Latvia.
Sekarang, ia menjadi anggota Parlemen Eropa.
Saya ingat persis ketika mendapat inspirasi itu.
Tanggal 14 Juni 1987,
ketika gerakan Helsinki-86 mengajak
orang-orang meletakkan bunga di Monumen Kebebasan
untuk mengenang deportasi besar-besaran 14 Juni 1941.
Tapi saya tidak berani melakukannya,
meski tiga dari kakek nenek saya meninggal karenanya,
orang tua saya dideportasi,
dan saya sendiri lahir di sana.
Saat itulah saya merasakan perubahan mendalam.
Setelah Pakta Hitler-Stalin,
atau dikenal dengan Pakta Molotov-Ribbentrop,
Uni Soviet menduduki Latvia pada 1940
dan mendeportasi puluhan ribu orang tak bersalah ke Siberia.
Ribuan kilometer ke timur,
mereka dipaksa meninggalkan tanah air
dan banyak yang terbunuh.
Saat perang dimulai pada 1941,
orang yang dideportasi berjuang untuk bertahan hidup.
Nyaris tidak ada makanan.
Ibu saya ditinggalkan di pulau tak berpenghuni
bersama 200 orang lainnya.
Mereka harus menggali tanah
untuk membangun gubuk dan mencari makanan.
Peristiwa di Ukraina mengingatkan saya pada saat itu.
Saya sangat ketakutan sejarah terulang lagi.
Penulis Latvia-Rusia Marina Kosteņecka
adalah salah satu pendiri Popular Front of Latvia
bersama Sandra Kalniete,
dan salah satu anggota yang paling aktif.
Anggota parlemen Soviet
dari Lituania, Latvia, dan Estonia
menuntut Kremlin membatalkan Pakta Molotov-Ribbentrop beserta protokol rahasianya.
Tuntutan ini praktis membuka jalan
bagi kemerdekaan negara Baltik.
4 Mei 1990 adalah hari spesial dalam hidup saya,
dan saya rasa, bagi banyak orang Latvia juga.
Ada gelombang kebahagiaan di jalanan.
Itulah saat kami mengadopsi deklarasi kemerdekaan.
Saya sepanjang malam berada di barikade di berbagai lokasi.
Di mana-mana, saya dengar banyak orang
berbicara bahasa Rusia.
Ada kekhawatiran besar bahwa Moskow
mungkin akan merespons deklarasi kemerdekaan
dengan invasi militer dan pendudukan kembali.
Setelah serangan oleh unit elit Soviet
di Riga pada Januari 1991,
pemerintah Latvia meminta warga
untuk mendirikan barikade sebagai perlindungan.
Itu satu-satunya saat kami berdiri bersama.
Banyak orang Rusia menjaga barikade itu,
tapi mereka dikhianati.
Dijanjikan kewarganegaraan dan hak istimewa lainnya,
dan orang-orang percaya.
Saat itulah perpecahan dimulai,
dan kami masih merasakan dampaknya sampai sekarang.
Ketika Latvia merdeka,
semua yang pindah ke sana sejak 1940 beserta keluarganya
ditolak sebagai warga negara dan tidak punya hak pilih.
Hampir sepertiga dari populasi.
Butuh bertahun-tahun hingga mereka bisa
menjadi warga negara di tanah kelahiran sendiri.
Penting untuk menengok sejarah,
karena langkah besar pertama Latvia
adalah membangun kembali komunitas warga negara
seperti pada 1940...
Ini mencakup semua warga negara Latvia
dan keturunannya,
termasuk minoritas Rusia, Polandia, Yahudi, dan lainnya.
Langkah selanjutnya adalah undang-undang
yang menetapkan aturan jelas untuk kewarganegaraan Latvia.
Secara garis besar, ada tiga syarat:
Berbicara bahasanya, memahami sejarah negara ini,
dan mengucapkan sumpah setia kepada negara.
Mengapa sebagian minoritas Rusia
memilih tidak mengajukan kewarganegaraan?
Anda harus bertanya langsung kepada mereka.
Sejak awal, orang Latvia,
ingin Latvia jadi bahasa resmi,
dan semua sekolah Rusia mengajar dalam bahasa Latvia.
Namun saat itu, di awal 90-an, tidak ada yang berani
mengangkat isu ini karena terlalu berbahaya.
Sejak awal milenium, pemerintah secara bertahap
menambah proporsi pelajaran bahasa Latvia
di sekolah-sekolah minoritas,
yang menyebabkan protes dari komunitas Rusia.
Mulai tahun ajaran 2025-2026,
semua anak akan diajarkan sepenuhnya dalam bahasa Latvia.
Karena fase transisi baru dimulai,
masih ada kesulitan.
Anak-anak awalnya belajar dengan kurikulum bilingual,
dan mulai kelas empat,
semua pelajaran menggunakan bahasa Latvia.
Kami perlahan menyesuaikan diri,
tapi transisinya masih sulit.
Ada orang tua yang merasa ini mengesalkan,
yang lain merasa tidak masalah.
Mereka menyesuaikan diri dan membantu anak-anak.
Saya tahu beberapa keluarga yang mengatakan,
“Kami akan pergi karena kami ingin anak-anak
tetap berbicara bahasa Rusia,
dan ingin mereka belajar dalam bahasa ibu mereka.”
Mengajar dengan bahasa nasional itu benar
dan seharusnya sudah dilakukan dari dulu.
Tapi, menghapus bahasa Rusia
sebagai bahasa kedua di sekolah itu berlebihan.
Akan lebih baik jika mereka bisa
mempelajari bahasa yang dipakai di rumah.
Akan baik jika mereka bisa membahas buku
yang diberikan orang tua untuk dibaca.
Jika tidak ada buku, itu satu-satunya cara
untuk mengenal mereka.
Mempertahankan identitas nasional lebih merupakan
tanggung jawab keluarga dibandingkan sekolah.
Saya rasa anak-anak tidak akan menderita,
meski tidak bisa belajar bahasa ibu di sekolah negeri.
Jika dirasa penting, mereka mungkin akan cari cara lain.
Loránt Vincze adalah anggota Parlemen Eropa dari Rumania
dan presiden organisasi yang memperjuangkan
hak minoritas nasional serta bahasa regional di Eropa.
Pengadilan hak asasi manusia
menyatakan bahwa Latvia sudah benar
menghentikan pendidikan bahasa Rusia di sekolah
dan menutup sekolah-sekolah Rusia,
karena kewajiban negara adalah
menyediakan pendidikan publik dalam satu bahasa.
Sayangnya, sejak perang Ukraina,
orang Rusia mendapat stigma dan memang ada masalah.
Tentu ada manipulasi propaganda Rusia,
bahkan dari individu yang punya hubungan erat
dengan Rusia dan terpengaruh olehnya.
Tapi itu individu.
Kita harus fokus
pada komunitas yang membutuhkan dukungan.
Ini adalah perang.
Ini menakutkan bagi semua orang.
Tapi yakinlah, sebagai negara,
saya mendukung Anda.
Saya memastikan Anda akan tetap memiliki sekolah
dan media dalam bahasa minoritas,
serta lembaga kebudayaan Anda.
Latvia menuduh Rusia menggunakan bahasa
dan budaya untuk menebar perselisihan dan konflik.
Perang di Ukraina mengingatkan akan Perang Dunia II,
memperlebar jurang perpecahan di masyarakat,
dan membuat minoritas Rusia kesulitan menyelaraskan
identitas mereka dengan kesetiaan kepada Latvia.
Ibu, waktunya makan malam.
Ibu ingat waktu kita pergi ke peringatan tanggal 9 Mei?
Ingat waktu anak-anak memberi bunga
dan mengucapkan selamat?
Ibu senang, kan?
Ibu ingat masa perang?
Perang.
Tanggal 9 Mei adalah hari libur terpenting bagi keluarga kami.
Sakral bagi saya karena ibu saya bertugas dalam perang.
Hari untuk mengenang para tentara yang berkorban nyawa
demi mempertahankan Latvia dan tempat lain.
Selama era Soviet, Victory Park di Riga
mengadakan perayaan tahunan pada 9 Mei.
Bagi sebagian, itu menandai kemenangan atas Nazi Jerman.
Bagi yang lainnya, itu adalah awal masa pendudukan.
Saat kami datang ke sini pada 9 Mei,
nenek saya mengatakan,
“Ini bukan lagu-lagu yang dulu biasa kita nyanyikan.”
Tanggal 9 Mei telah sangat dipolitisasi,
jadi saya tidak lagi pergi ke perayaannya.
Saya merasa hanya dijadikan alat
untuk menunjukkan bahwa 35.000 orang telah hadir,
lalu mereka berkata, “Ini situasi yang baru.”
Pada 2022, pemerintah Latvia menetapkan 9 Mei
sebagai hari mengenang korban perang Ukraina
yang disulut Rusia tiga bulan sebelumnya.
Mereka mengimbau untuk tidak meletakkan bunga
di monumen yang dianggap
"mengagungkan pendudukan Soviet,"
meski banyak yang tetap melakukannya.
Bunga-bunga mereka dibersihkan keesokan paginya,
bukannya beberapa hari setelahnya seperti biasa.
Hal ini memicu kemarahan
dan membuat sebagian orang
meletakkan lebih banyak bunga keesokan harinya.
Mengapa orang bahkan diizinkan meletakkan bunga
di masa perang dan penuh ketegangan seperti ini?
Jika diizinkan, menyingkirkan bunga itu keesokan harinya
adalah pesan jelas tentang sikap pemerintah
terhadap komunitas berbahasa Rusia.
Beberapa orang yang meletakkan bunga
menunjukkan dukungan terhadap Rusia.
Kami tidak akan peduli dengan tugu peringatan itu
jika Moskow tidak memanfaatkannya
untuk memecah komunitas Rusia di Latvia.
Pada awal kemerdekaan, tempat itu sepi.
Namun, sejak Putin menghidupkan kembali kultus lama,
lokasi itu berubah jadi panggung besar
untuk aksi unjuk kekuasaan.
Sebuah hinaan bagi martabat dan negara kami.
Pada dasarnya, itu adalah simbol kekuasaan kolonial.
Pada Agustus 2022, obelisk di pusat Victory Park dirobohkan.
Di sinilah dulunya monumen para pembebas Riga berada,
yang menjadi sumber pertikaian antara orang Latvia dan Rusia.
Saya mengerti orang Rusia, yang menganggap
Perang Dunia II sebagai luka yang tak pernah sembuh,
memori yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Saya juga memahami orang Latvia,
bagi mereka pembebasan Riga dari penjajah Jerman
tidak berarti pembebasan dari semua penjajah.
Kita juga harus membebaskan diri secara visual
dari kenangan masa-masa yang sulit dalam sejarah kita.
Dulu, saya tidak mengerti
mengapa ada permusuhan pada hari itu.
Tapi setelah dipikir lebih dalam,
saya mengerti perayaan itu terasa asing bagi orang Latvia,
karena pendudukan, lalu deportasi ke Siberia,
dan peristiwa lainnya.
Akhirnya, saya bisa berempati terhadap pengalaman mereka.
Kami ingin menciptakan Eropa yang seragam,
tempat setiap orang setidaknya bisa menikmati
beberapa standar hak-hak minoritas.
Kami banyak berdiskusi dengan Sandra Kalniete
dan kawan-kawan dari negara Baltik.
Meski ada yang keberatan,
mereka mendukung inisiatif ini.
Fakta bahwa banyak minoritas dapat hidup berdampingan
dengan damai dan konstruktif, seperti di Latvia,
bisa sangat berguna bagi negara-negara
yang sekarang menghadapi kesulitan dalam integrasi.
Negara tidak seharusnya mengklaim
telah melakukan segalanya untuk minoritasnya.
Tanyakan minoritas,
apa mereka puas dengan keadaan mereka?
Keadaannya sangat sulit bagi orang Rusia di sini.
Sulit untuk melihat diri sebagai bagian bangsa agresor,
sambil menjaga harga diri.
Sulit menerima dan memahami semua ini.
Saat ini, saya malu jadi orang Rusia,
tetapi tidak ada niatan menolak akar Rusia saya.
Jika ada yang bertanya,
saya akan katakan,
“Saya adalah patriot Latvia keturunan Rusia.”
Saat ini, banyak orang punya pandangan sangat hitam-putih,
meski itu bisa dimengerti, mengingat ada perang
yang sedang berlangsung tidak jauh dari sini.
Orang Latvia sulit membedakan
antara orang Rusia asli dan penutur bahasa Rusia di Latvia,
serta menganggap 30 tahun kemerdekaan
sebagai waktu yang singkat,
padahal itu cukup lama.
Kami bukanlah orang Rusia yang sama.
Kami orang Rusia Latvia,
dengan budaya Baltik dan kebangsaan Latvia.
Identitas minoritas berbahasa Rusia di Latvia berubah,
terutama setelah perang Ukraina.
Tantangannya sekarang adalah apakah masyarakat
dapat meninggalkan warisan Soviet
dan mengatasi perbedaan yang ada.
Saya percaya mayoritas warga Latvia
yang berbahasa Rusia setia kepada Latvia,
meski ada yang masih terpengaruh propaganda Putin
dan ide-ide sosial yang sudah kuno.
Saya berbicara dengan orang Latvia dan Rusia,
dan melihat konflik di antara kami semakin berkurang
di setiap generasi baru.
Dalam 20 atau 30 tahun lagi,
saya rasa itu bukan lagi masalah,
dan akan hilang sendiri.
Saya ingin masyarakat bisa lebih bersatu.
Saya mendukung persahabatan antara warga
dan berharap dapat berteman dengan orang Latvia.
Saya cinta Latvia dan orang Latvia.
Generasi baru telah tumbuh dalam 30 tahun ini.
Saya yakin, mereka dan generasi muda Rusia
yang berbicara bahasa Latvia,
akan berusaha untuk hidup berdampingan.
Dan kami, generasi yang lebih tua,
akan melupakan perbedaan historis di masa lalu.