Transcript
hiRWouRCZ1M • ASN Belajar Seri 2 | 2026 - From Smart Thinking to Smart Policy
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0291_hiRWouRCZ1M.txt
Kind: captions
Language: id
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Marah kami junjung taguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas kebanggaan negeri
sis melaihani bangsa dengan
akuntabilitas tinggi.
Hem
di sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan AS yang lebih beragung.
menggenas penuh hati tulus membantu
sesama bila kami melayani
dengan kami melayani
dengan menga kami melayani
bangsa
H
Bersam membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaruan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jing Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tandu cerdasin
inovasi bersatu dalam visi yang terang
menjawab tantangan dan jalan kamiang
PPSD dan Jawa Timur Center of Sans masa
depan
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencat STM berkompetensi
tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan dan jangan demiang
PPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
depan gemilang L
Has muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cambalak Jawa Timur terus melaju
bersama BPST yang cim kita terus melesa
Untuk Indonesia emas prestasi hebat ASN
unggul
tiada yang tertinggal no one left
behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
melayu bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi.
Inovasi cemalah. Jawa Timur terus
melaju. Bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat. Untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PPSM
Jatim. No one left behind. ASN unggul
dan berkualitas.
Melesa tinggi
Indonesia jaya. Yeah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera, Om swastiastu, namo buddhaya,
salam kebajikan rahayu. Selamat pagi
sobat ASN di mana pun berada. Senang
sekali pada pagi hari ini saya Yuri
Sabrina yang akan memandu berjalannya
webinar ASN belajar seri 2 2026. Boleh
kasih tepuk tangan buat kita semua.
Dan yang pasti pagi hari ini sobat ASN
dan juga saya, kita akan sama-sama
belajar tentang tema yaitu tema pada
hari ini from smart thinking to smart
policy, yaitu berpikir bijak untuk
keputusan berdampak. Nah, di sini
ditekankan pentingnya bahwa pola pikir
yang cerdas, kritis, dan berbasis data
sebagai fondasi utama dalam setiap
proses pengambilan kebijakan. Jadi,
Sobat ASN sebagai aparatur dituntut
tidak hanya memahami regulasi dan
prosedur, tetapi juga harus mampu
membaca konteks serta mengelola
informasi dan juga mempertimbangkan
berbagai dampak sosial, ekonomi, dan
pelayanan publik secara komprehensif.
Nah, melalui pemikiran yang bijak dan
terstruktur di setiap keputusan yang
dihasilkan nantinya diharapkan bisa
menjadi kebijakan yang solutif. adaptif
dan berorientasi pada kepentingan
masyarakat. Transformasi dari cara
berpikir yang cerdas menuju kebijakan
yang tepat sasaran bisa menjadi kunci
dalam mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang efektif, akuntabel,
dan bisa memberikan dampak nyata bagi
pembangunan daerah serta peningkatan
kualitas pelayanan publik. Dan
seluruhnya selengkapnya akan dibahas
dalam webinar ISN Belajar Seri 2 2026.
Baik, Sobat ASN, sebentar lagi kita akan
menyimak bersama, mendengarkan bersama
yaitu opening speech yang akan
disampaikan oleh Bapak Dr. Ramlianto,
S.PMP selaku Kepala Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam ruang belajar bersama
webinar series ASN belajar persembahan
JATEM Corporate University Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur.
Forum pengembangan kompetensi ASN ini
merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk
menjaga semangat pembelajaran ASN agar
tetap menyala dan berkelanjutan di
tengah tugas pengabdian yang semakin
kompleks.
Sat SN, tema yang kita angkat pada seri
kedua tahun 2026 ini adalah from smart
thinking to smart policy. Berpikir bijak
untuk keputusan berdampak.
Tema ini adalah kelanjutan logis dari
ikhtiar kita membangun ASN yang smart
sebagaimana kita bahas di seri pertama
minggu lalu. Namun tema ini juga
mengandung pesan yang lebih dalam dan
lebih luas bahwa kecerdasan berpikir
harus bermuara pada kebijakan yang
tepat, keputusan yang arif, dan dampak
yang nyata bagi masyarakat. Di tengah
dunia yang semakin kompleks ditandai
oleh banjir informasi, percepatan
perubahan, serta persoalan publik yang
saling terkait, ASN tidak cukup hanya
patuh pada prosedur.
ASN dituntut mampu berpikir kritis,
menimbang dengan jernih, dan memutuskan
dengan bijaksana.
Sebab satu keputusan birokrasi hari ini
dapat menentukan kualitas hidup
masyarakat di masa depan. bahwa smart
thinking bukan sekedar kecerdasan
intelektual, tetapi kemampuan untuk
membaca konteks, menguji asumsi, memilah
fakta dari opini, serta melihat masalah
secara utuh. Sementara smart policy
bukan sekedar kebijakan yang sah secara
regulasi, tetapi kebijakan yang logis,
etis, berbasis data, dan berpihak pada
kepentingan publik.
Sabat ASN di seluruh tanah air. Di
sinilah peran critical thinking menjadi
sangat krusial. Berpikir kritis adalah
soft kompetensi strategis ASN masa kini
dan masa depan. Kompetensi yang membuat
kita tidak reaktif, tidak tergesa-gesa,
dan tidak terjebak pada rutinitas
administratif.
Dengan berpikir kritis, ASN mampu
menjembatani pengetahuan dengan
tindakan. visi dengan implementasi serta
regulasi dengan dampak nyata.
Dengan kemampuan inilah ASN mampu
mengurangi persoalan yang kompleks
menjadi keputusan yang jernih dan
terukur.
Critical thinking menuntut aparatur
untuk berani bertanya mengapa. bukan
sekedar bagaimana
berani menguji pilihan sebelum
menetapkannya serta berani menimbang
risiko dan manfaat demi kepentingan
publik. Dari proses berpikir yang matang
inilah lahir kebijakan yang tidak hanya
cepat dan patuh aturan, tetapi juga
adil, solutif, dan benar-benar dirasakan
dampaknya oleh masyarakat.
Sabat ASN, birokrasi yang kuat bukan
hanya dibangun oleh sistem dan struktur,
tetapi oleh kualitas nalar para
pengambil keputusan di dalamnya.
Ketika SN mampu berpikir bijak, maka
kebijakan akan lebih presisi, pelayanan
publik lebih bermakna, dan kepercayaan
masyarakat akan tumbuh dengan
sendirinya.
Birokrasi yang kuat bukan hanya dibangun
oleh sistem dan struktur, tetapi oleh
kualitas para pengambil keputusan di
dalamnya. Kita perlu bersepakat bahwa
belajar berpikir adalah bagian dari
pengabdian. Bahwa setiap ASN di level
manaun memiliki tanggung jawab moral
untuk memastikan keputusan yang diambil
tidak sekedar aman secara administratif,
tapi juga adil, rasional, dan berdampak.
Shabat ASN di seluruh tanah air.
Akhirnya saya berharap forum ini menjadi
ruang menajamkan nalar, memperluas
perspektif dan memperkuat keberanian
berpikir agar ASN Indonesia hadir
sebagai aparatur yang cerdas dalam
berpikir, bijak dalam memutuskan, dan
nyata dalam memberikan dampak bagi
masyarakat. Karena pada akhirnya ASN
yang berpikir kritis adalah ASN yang
memuliakan amanah. Ia tidak bekerja
sekedar menyelesaikan tugas, tetapi
menimbang dampak. Ia tidak berhenti pada
kepatuhan prosedur, tetapi bergerak
menuju makna pelayanan.
Dan dari aparatur yang demikianlah
birokrasi menemukan rohnya kembali
sebagai penggerak perubahan, penjaga
kepercayaan publik, dan penopang masa
depan bangsa.
Sahabat ASN di seluruh tanah air,
kehadiran para narasumber hebat kali ini
akan semakin memberikan wawasan yang
luas dan makin memantapkan langkah
pengabdian kita sebagai ASN Indonesia.
Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan
seluruh ASN Indonesia, izinkan kami
menyampaikan apresiasi dan penghormatan
setinggi-tingginya. Pertama kepada Bapak
Dr. Yusharto Untoyungo, M.Pd. Beliau
adalah Kepala Badan Strategi Kebijakan
Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri
Republik Indonesia. Kedua kepada Bapak
Deni Junanto, S. MPP, PhD. Beliau adalah
Direktur Direktorat Pembelajaran
Karakter dan Sosial Kultural Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.
Dan ketiga kepada Ibu Berlian Gresarini,
MS, PhD, psikolog. Beliau adalah
akademisi dari Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga Surabaya.
Kehadiran para narasumber ini menegaskan
bahwa SN belajar bukan sekedar forum
diskusi tapi ruang strategis untuk
menyatukan visi, menyelaraskan
kebijakan, dan memastikan bahwa
pembelajaran benar-benar bertransformasi
menjadi kinerja dan dampak nyata. Nah,
Sobat ASN seluruh tanah air, mari kita
simak dengan seksama. Webinar ASN
belajar seri kedua tahun 2026. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Sobat ASN, saya ingin mengingatkan
jangan lupa untuk mengisi absensi di
semestabangkom.id
dan karena akan ada tiga narasumber yang
hari ini akan memberikan ee banyak
insight pastinya jangan sampai
kesempatan ini disia-siakan dan nanti
juga kami akan memberikan souvenir untuk
tiga orang penanya aktif di kolom
komentar. Jadi disimak dengan baik.
Jangan lupa nanti bertanya
sebanyak-banyaknya ke para narasumber.
Nah, kali ini saya akan menyapa langsung
untuk narasumber pertama yang sudah
hadir di webinar ASN Belajar seri 2
2026.
Selamat pagi Bapak Yus Harto.
Selamat pagi. Apa suara saya bisa
didengar, Bu?
Aman, Pak. Aman sekali. Jelas clear di
sini. Bagaimana kabar, Pak?
Kabar baik, Bu. Terima kasih.
Alhamdulillah. Jadi, Sobat ASN kalau
saya ee Pak, saya izin memperkenalkan
terlebih dahulu Bapak Yusharto ini
adalah Kepala Badan Strategi Kebijakan
Dalam Negeri atau BSKDN Kementerian
Dalam Negeri. Sehat ya, Pak, hari ini,
Pak?
Alhamdulillah sehat.
Alhamdulillah, Pak. Kayaknya ee
pemandangan di belakang itu cerah
sekali. itu background atau memang
iya itu ee background yang dicreate
teman-teman bisa
Oh, keren. Tampak nyata ya, Pak ya.
Siap.
Kantor kami di BSKDN Kemendagri.
Baik, Bapak.
Bapak, Ibu yang berkesempatan ke Jakarta
silakan mampir.
Siap. Terima kasih, Bapak. Bapak
langsung saja kalau begitu untuk tema
pertama pada pagi hari ini. Silakan,
ya. Terima kasih.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi. Salam sejahtera untuk kita
sekalian. Om swastiastu, Namo Buddhaya,
salam kebajikan.
Yang terhormat dan kita banggakan Bapak
Ramlianto, sahabat saya, Kepala BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Yang kami hormati para narasumber pada
ASN belajar seri kedua yang dilaksanakan
hari ini yaitu Bapak Deni Junanto dan
Ibu Berlian Gresi Septarini.
Ee memulai pagi ini saya ingin
menyampaikan satu pantun untuk seluruh
peserta yang sudah hadir pada pagi hari
ini.
Pagi hari memetik cendana, disimpan rapi
dalam peti. Data bicara bukan sekedar
wacana, kebijakan berdampak lahir dari
bukti.
Bapak, Ibu sekalian ee kami senang
sekali bisa bersama-sama dengan Bapak
pada Bapak dan Ibu pada pagi hari ini
untuk membahas tema yang menurut kami
juga sangat penting, yaitu yang
berkaitan dengan system thinking
eh
smart thinking dalam perumusan kebijakan
publik. Bapak, Ibu sekalian ee Badan
Strategi Kebijakan Dalam Negeri ini
memiliki amanah untuk bersama-sama
dengan stakeholder yang ada di
Kementerian Dalam Negeri untuk
merumuskan ee kebijakan yang berkaitan
dengan penyelenggaraan pemerintahan
daerah di lingkup Kementerian Dalam
Negeri.
Tugas ini ee disampaikan melalui
Peraturan Presiden Nomor 111 tahun 2021
dan peraturan Menteri Dalam Negeri nomor
9 tahun 2025 yang mengatur tentang ee
tugas dan fungsi ee Kementerian Dalam
Negeri.
Tentu ruang lingkup ini sangat di ee
tentukan oleh ee beberapa hal di
antaranya
ee luasan dari peran Kementerian Dalam
Negeri dalam pelaksanaan ee tugas yaitu
melakukan pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Ada beberapa hal yang ingin kami
ingatkan berdasarkan ee pasal 8 ayat 3
lalu
pasal 379 ayat 2 tentang pembinaan dan
pengawasan yang dilaksanakan secara
berjenjang dari tingkat nasional sampai
dengan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah e pemerintah pusat itu
melaksanakan fungsi pembinaan dan
pengawasan. pembinaan umum itu dilakukan
oleh Menteri Dalam Negeri sekaligus
beberapa ee pembinaan dan pengawasan
yang sifatnya teknis yang berkaitan
dengan tugas teknis Kementerian Dalam
Negeri ke Pemerintah Daerah. Ee di
antaranya adalah kebijakan
berkaitan dengan kependudukan catatan
sipil, lalu
penataan wilayah, pemberian coding untuk
wilayah dan sebagainya. Berikutnya
adalah ee pelaksanaan pemilihan umum,
pemilihan kepala daerah melalui
Direktorat Jenderal Otonomi Daerah.
Sementara pada pemerintah daerah itu
ditugaskan kepada ee pemerintah provinsi
di mana ee gubernur sebagai wakil
pemerintah pusat melaksanakan pembinaan
dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
pemerintahan yang ada di pemerintah
kabupaten kota BINAS itu. Bapak, Ibu
sekalian, salah satu di antara 10
pembinaan yang dilakukan itu adalah
terhadap kebijakan daerah. diharapkan
kebijakan itu lahir
berdasarkan
bukti dan data yang cukup sehingga ee
menjadi ee instrumen untuk ee
memandu penyelenggaraan pemerintahan
daerah secara keseluruhan.
Dilihat dari ee urusan atau bidang apa
saja yang akan dilahirkan kebijakan
tersebut.
sangat luas Bapak, Ibu sekalian. Ini
berdasarkan juga ketentuan Undang-Undang
Das Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2024.
Dia meliputi urusan pemerintahan umum
ya. Urusan pemerintahan umum ini
banyak
dilaksanakan sebenarnya oleh Presiden
lalu disampaikan kepada Menteri Dalam
Negeri setelah itu kepada pemerintah
daerah. melekat pada fungsi kepala
wilayah di antaranya pembinaan wawasan
kebangsaan dan ee pembinaan wawasan
kebangsaan dan ketahanan nasional,
pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa,
pembinaan kehidupan demokrasi,
koordinasi antar instansi pemerintahan,
ee pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan
dalam penanganan konflik sosial. dan ee
tugas-tugas yang sifatnya pise ermission
yaitu tugas-tugas yang tidak ditampung
dalam ee pembagian urusan yang ada.
Ini menjadi bagian dari urusan
pemerintahan umum. Di samping itu, ada
juga urusan yang sifatnya konkurrensi
dilaksanakan bersama-sama antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
dibagi dua, yaitu urusan wajib lalu
urusan pilihan.
Urusan wajib dibagi lagi atas urusan
wajib dengan layanan dasar. Ada enam,
yang memiliki standar pelayanan minimal
dan urusan wajib yang tanpa layanan
dasar atau tanpa ee SPM. hanya
ditetapkan norma standar ee NSPK oleh
pemerintah pusat. Demikian juga ada
urusan konkuren lain yang sifatnya
pilihan. Ada delapan urusan
dan pemerintah daerah tidak harus
memilih semuanya. Nah, di antaranya
adalah yang berkaitan dengan pertanian,
kehutanan, energi dan sumber daya
mineral, pariwisata, kelautan dan
perikanan, perdagangan, perindustrian,
dan transmigrasi.
Sedemikian luasnya ee urusan ini, Bapak
Ibu sekalian, ini akan diwarnai oleh
berbagai kebijakan yang akan dipeluarkan
oleh pemerintah secara berjenjang,
pemerintah kabupaten, kota, dan
pemerintah provinsi.
untuk bisa merumuskan kebijakan Bapak,
Ibu sekalian. setidak-tidaknya kita bisa
melihat beberapa level dari ee strategi
kebijakan atau perumusan kebijakan yang
kita ee sampaikan melalui rekomendasi
kebijakan atau instrumen-instrumen yang
lain. Bisa berupa polisi brief, bisa
berupa makalah kebijakan, nota dinas dan
sebagainya.
itu dimulai dari learning and grow
perspective.
Jadi dibutuhkan sumber daya manusia yang
berkompetensi tinggi. Benar yang
disampaikan oleh Pak
Ramlianto tadi bahwa dukungan sumber
daya manusia yang berkompeten
terutama dengan banjir data yang ada
saat ini ini menjadikan ee prasyarat
untuk bisa menghasilkan kebijakan yang
baik. ini harus kita mulai dari
ketersediaan sumber daya manusia yang
berkompetensi tinggi. Kita bukan hanya
bersaing sesama
ASN dalam mengolah data, tetapi juga
sudah bersaing dengan kecepatan yang
luar biasa yang ditawarkan oleh
teknologi informasi. Saat ini kita
mengenal berbagai aplikasi yang sudah
sehari-hari Bapak dan Ibu gunakan. ini
hanya menjadi tools bagi kita. Tetapi
sumber daya manusia itu masih yang utama
yang dapat memanfaatkan berbagai potensi
termasuk di antaranya teknologi digital
untuk menunjang penyelenggaraan tugas
dalam rangka menganalisa dan ee
menyampaikan berbagai rekomendasi
terhadap permasalahan kritis yang
dihadapi oleh ee pemerintah saat ini.
ee
mungkin sumber daya manusia yang
berkompetensi inilah yang serus kita
ciptakan. Di antaranya lewat kegiatan
ASN ee belajar saat ini. Kemarin kami
diskusi dengan ee Komisi eh public
services yang ada di Kandra. Nah, mereka
menyampaikan bahwa fokus dari
pengembangan sumber daya manusia saat
ini adalah speak out ya, menjadikan SDM
itu mau mengemukakan gagasannya secara
terbuka entah secara tertulis maupun
dalam forum-forum yang di
desain sedemikian rupa sehingga semua
hal yang berkaitan dengan kondisi saat
ini dapat diung lungkap dan dapat
dianalisis dengan tepat.
Mudah-mudahan ee Jawa Timur berikut
pemerintah daerah akan terus berbenah
untuk bisa menghasilkan SDM yang
berkompetensi tinggi. Yang berikutnya
adalah organisasi yang sesuai kebutuhan.
Mungkin saja desain organisasi yang akan
mengeksekusi berbagai
saran kebijakan ini juga perlu dilakukan
penyesuaian.
banyak sekali pekerjaan-pekerjaan
yang sifatnya
klerikal ya, yang berulang dan
sebagainya masih tetap saja dikerjakan
oleh ee pemerintah. Umpama ini yang
harus kita desain sedemikian rupa
sehingga organisasi kita menjadi lebih
kejil, lebih lincah untuk menghadapi
kebutuhan yang dihadapi saat ini.
Ambatan yang lain juga dalam
pengorganisasian di antaranya pelibatan
sektor swasta.
Swasta ada dalam ee pemahaman kita
menjadi mitra dalam penyelenggaraan
pemerintahan,
pelayanan publik dan pemberdayaan
masyarakat. Namun ada kalanya kita masih
bersikap semuanya harus dilakukan oleh
pemerintah. Contohnya pengelolaan
sampah.
Mungkin saja organisasi Dinas Lingkungan
kita ya tidak perlu lagi dibebani dengan
pekerjaan yang sebenarnya pekerjaan itu
akan lebih baik apabila ditangani oleh
pihak swasta. Demikian juga dengan
pekerjaan-pekerjaan yang lain yang
semestinya sudah bertransformasi.
pemerintahan yang baik itu hanya
menghasilkan kebijakan yang adil,
merata,
dan berkeadilan sosial untuk diterapkan
oleh masyarakat secara keseluruhan.
Yang berikutnya adalah sistem informasi
yang handal.
Dengan adanya sistem informasi yang
handal,
proses pengambilan keputusan tidak akan
bertele-tele, tidak akan ada lagi rapat
yang harus dilakukan secara ee manual
dan sebagainya. Dengan sistem informasi
yang tersedia real time terupdate lalu
teranalisa dengan algoritme yang sudah
ditetapkan, para pihak akan menyerap
informasi itu dan langsung mengeksekusi.
Dengan demikian ee sistem informasi
benar-benar dapat mendukung ee penerapan
kebijakan hingga sampai implementasi
kebijakan. Yang berikutnya adalah
pengelolaan anggaran yang akuntabel. Ini
pun bisa menjadi bagian dari learning
and crowd perspective untuk kita bisa
menghasilkan kebijakan yang ee baik.
SDM yang berkualitas ini akan
menghasilkan perencanaan yang ber yang
baik. Lalu, pengelolaan anggaran ini
akan mengendalikan mutu kebijakan yang
lebih baik. Dan dengan demikian, ee
fasilitasi dan pembinaan strategi
kebijakan, pembinaan manajemen strategi
kebijakan, dan formulasi rumusan
kebijakan akan semakin baik dan
berkualitas.
Pada customer perspektif ini ada
Kementerian Lembaga terkait, Unit Kerja
Sat Kemendagri, pemda berikut
stakeholder yang sangat luas sampai
dengan asosiasi berikut masyarakat
secara individual mungkin saja bisa
merepresentasi ee kepentingannya lewat
ee proses perumusan kebijakan.
Di sini akan ada perumusan kebijakan.
Lalu ada pembinaan inovasi daerah yang
ee berkualitas. Karena memang kami
memahami bahwa ee inovasi daerah sebagai
salah satu sumber dari best practices
yang ada di daerah ini akan menjadi
salah satu evidence yang bisa dirujuk
yang akan menjadi bahan dasar untuk
perumusan kebijakan.
Yang berikutnya adalah peningkatan
pengelolaan tata kelola kelembagaan yang
efektif. Dengan demikian ee Bapak Ibu
sekalian ee kita akan menghasilkan ee
kebijakan yang dirumuskan ee secara
berkualitas.
Bapak, Ibu sekalian ee
dari perspektif
peta strategi kebijakan tadi, kita akan
mencoba melihat ee seperti apa
penyelenggaraan kebijakan yang ada.
Penyelenggara kebijakan itu ee mencakup
ee rangkaian proses terstruktur untuk
menghasilkan kebijakan yang tepat
sasaran, implementatif, dan selaras
dengan mandat pemerintahan.
terdiri dari beberapa langkah dan bisa
dikembangkan lebih jauh Bapak Ibu
sekalian berdasarkan
ee banyak panduan yang kita bisa ikuti.
Di antaranya dengan William dan dengan
lima langkah dan sebagainya. Yang
pertama adalah perumusan kebijakan. ini
mencakup proses untuk mengidentifikasi
isu strategis analisis kebutuhan
kebijakan serta penyusunan alternatif
solusi.
Nah, proses penyusunan kebijakan ini
berfokus pada penerjemahan hasil
perumusan menjadi dokumen kebijakan yang
lengkap, terstandar, dan operasional.
di antara lain berupa strategi
kebijakan, pedoman teknis, norma, lalu
ada standar, prosedur, dan kriteria,
serta rencana aksi yang dihasilkan dari
ee hasil melakukan analisis terhadap
kebutuhan kebijakan, lalu ee menentukan
isu strategis yang akan diselesaikan.
Yang berikutnya adalah pelaksanaan
kebijakan. Pada pelaksanaan kebijakan
ini secara implementatif dilakukan
apa yang menjadi muatan dari kebijakan
yang telah ditetapkan. Pilihan-pilihan
yang ada itu di ee laksanakan secara
tertib dan sesuai dengan ee target dan
standar yang telah ditetapkan.
Ada beberapa tantangan dalam perumusan
kebijakan di Indonesia, Bapak, Ibu
sekalian.
Yang pertama, disparitas pembangunan.
Ee kita melihat bahwa ee kesenjangan
antara wilayah di Indonesia itu sangat
besar ya, di mana
belum merata atau senjang dalam tingkat
kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi dan
kualitas hidup.
ini menjadi ee tantangan di antaranya
juga dengan wilayah perkotaan dan
perdesaan atau antara provinsi,
kabupaten, dan kota.
Nah, disparitas
ini dapat dilihat dari data PDRB
terutama yang membandingkan PDRB per
kapita antar wilayah. Ee jauh sekali e
bedanya. Di antaranya Jakarta itu sudah
sekitar 26an juta pendapatan per kapita.
berdasarkan PDRB. Sementara daerah lain
ini masih sangat tertinggal. Ada yang
masih sekitar 2.000 ee per kapita,
pendapatan per kapita. Dan ee ini
menjadi tantangan bagi kita untuk
memperbaiki kebijakan dalam pelaksanaan
pembangunan maupun juga dalam proses
pengukuran.
umpama ee sudah saatnya enggak ini kita
saya ajak teman-teman untuk berpikir
kalau kita mencoba membandingkan antara
kebijakan yang ditetapkan pemerintah
Vietnam dengan Indonesia dalam penetapan
batas kemiskinan
untuk fitnah mereka ya menetapkan
perbedaan antara wilayah kota dan
pedesaan dalam batas kemiskinan
Untuk Indonesia saat ini masih
menetapkan satu ee batas kemiskinan
yaitu sekitar
r.000
lebih itu pendapatan.
Kalau kurang dia berkategori miskin,
sementara kalau ee lebih tinggi dia
sudah bukan penduduk miskin lagi. Tetapi
untuk fitnah mereka membagi atas wilayah
perdesaan itu sekitar 1,2 juta. Kalau
dirupiahkan itu menjadi batas miskin
antara ee penduduk untuk perkotaan
sekitar 1,8 juta.
ini kalau dilihat dari batas kemiskinan
saja antara Vietnam dan Indonesia ya
kita sudah agak berbeda dan mereka sudah
melampaui pendapatan per kapita ee
Indonesia untuk tahun 2025 kemarin.
Mereka sudah berada pada ee 5.000 US Do
per kapita per tahun. Sementara
Indonesia masih sekitar 4.900.
ini barangkali bagian dari tugas kita
Bapak Ibu sekalian dalam ee mencoba
untuk ee mendorong percepatan ee
pemerataan pembangunan yang harus
didukung dengan kebijakan yang tepat.
Yang berikutnya adalah partisipasi ee
publik dalam penyelenggaraan ee
perumusan kebijakan ini juga masih belum
optimal. ada upaya untuk melibatkan
masyarakat, tetapi kecenderungannya itu
masih sifatnya ee seremonial dan
sangat-sangat prosedural.
Ee untuk itu ee kita harus memperbaiki
kebijakannya Bapak Ibu sekalian. kami
lewat ee BSKDN menawarkan apa yang
disebut dengan program review yang kita
adopsi dari ee pemerintah Jepang di mana
ee pada proses
ee monitoring atau evaluasi setiap
kebijakan nah itu ee pelibatan
masyarakatnya tidak orang-orang itu
saja. Pencenderungan yang saya amati di
desa ya, aktor utamanya itu kalau bukan
guru ya pemuka agama sehingga ee
partisipasi itu tidak meluas. Begitu
kita terapkan di salah satu wilayah di
Yogyakarta, pengakuan dari masyarakat
itu baru kali ini saya diundang dalam
proses bisa berbicara di depan Pak
Kepala Desa ini merupakan pengalaman
pertama saya. Nah, ini Bapak Ibu
sekalian menunjukkan bahwa ee
partisipasi publik dalam kegiatan
perumusan kebijakan kita memang masih
perlu untuk ditingkatkan.
Nah, contoh yang ada dalam gambar ini ee
bagaimana kejadian di Jawa Tengah ya,
Pak Ramli ya dan Bapak Ibu sekalian di
mana ee masyarakat tidak dilibatkan atau
tidak menjadi bagian dari proses dalam
penetapan kebijakan ee besaran pajak
bumi dan bangunan pedesaan dan
perkotaan.
Yang berikutnya
ee yang berkaitan dengan tantangan ini
adalah data dan informasi yang kurang
akurat.
Ee
adaum atau tagline yang kita pakai
selama ini adalah evidence based policy.
Berarti kita harus merumuskan kebijakan
yang akurat itu berdasarkan evidence.
Evidence ini diantaranya adalah data.
dan informasi yang kita jadikan input
utama dalam proses perumusan kebijakan
ini pun masih ee belum akurat Bapak Ibu
sekalian dan terus dilakukan berbagai
upaya untuk
sinkronisasi lewat SPBE dan Bapak dan
Ibu mungkin apabila sebagai analis
kebijakan silakan mengambil inisiatif
untuk bisa melihat
Masih ada enggak data yang sepertinya
dipublish, dipublish sudah begitu bagus,
tetapi kok terasa di masyarakat belum
seperti yang dipublish umpama. ini
barangkali ee bisa ee menjadi kajian
para analis kebijakan untuk bisa ee
merekomendasikan
bagian data dan informasi mana yang
masih kurang
dalam konstellasi ee perumusan kebijakan
yang ada di daerah masing-masing atau di
organisasi pemerintah masing-masing.
Apakah diperbaiki cara pengambilan
datanya?
ee jenis datanya mungkin saja kita perlu
data rasio umpama, tetapi yang terkumpul
hanya data ordinal, data nominal umpama.
Ini barangkali e menjadi bagian yang
harus kita coba kaji. Ee jenis datanya,
cara memprosesnya
ya. data yang bukan rasio masih data
nominal kok digunakan operasi matematis
yang belum
memenuhi syarat untuk diberlakukan untuk
data nominal.
Nah, cara menganalisa pun ini bisa
menjadi ee kesalahan dalam ee proses
yang menjadikan kebijakan yang kita
hasilkan berdasarkan data dan informasi
itu menjadi tidak akurat.
Yang berikutnya masalah koordinasi dan
sinergi antar lembaga.
Ini ee sangat penting Bapak Ibu
sekalian. Ee
banyak sekali
ee inisiasi-inisiasi
yang dilakukan tetapi oleh kelompok yang
belum ee memiliki kewenangan. Dan untuk
itu ee kita harus mengkanalisasi
berbagai pemikiran yang timbul ini untuk
bisa ee bersinergi dan bisa diberikan
atau memberikan manfaat bagi ee pihak
yang lebih luas.
Untuk itu ee BSKDN mengajak Bapak Ibu
sekalian berikut seluruh komponen yang
berkaitan dengan perumusan kebijakan di
Indonesia untuk bersinergi dalam
melaksanakan perumusan kebijakan.
Kepala Daerah dan DPRDAN
Perkompinda, lalu Camat Lurah,
Satlinmas, Polp,
ee Tim Penggerak PKK, akademisi,
pendidik dan tenaga kependidikan, dunia
usaha, ee tokoh agama dan sebagainya ini
diharapkan akan menjadi ee stakeholder
dalam ee perumusan kebijakan yang ada di
ee Indonesia Lanjut
ee
smart thinking ini ya hanya menjadi cara
dan bagaimana harus kita transformasi
menjadi smart policy.
Smart thinking ini dalam konteks
kebijakan publik bukan hanya sekedar
metode atau ee
singkatan tertentu, melainkan cara
berpikir yang cerdas, bernalar kuat,
berbasis data, dan berorientasi dampak
dalam seluruh kebijakan.
Ee smart thinking ini berangkat dari
kemampuan untuk beberapa hal, yaitu
memahami masalah publik secara mendalam.
Berarti kita harus turun ke bawah bisa
merasakan ee apa saja yang menjadi
masalah yang ada pada masyarakat kita.
Jangan gunakan asumsi ee nanti ee kita
akan salah memahami permasalahan dalam
ee lingkungan komunitas kita. Yang
berikutnya, kemampuan untuk menggunakan
data dan bukti sebagai dasar keputusan
mengaitkan kebijakan dengan hasil,
dampak nyata dan mengantisipasi risiko
atau dinamika perubahan yang terjadi di
waktu yang akan datang. dengan smart
thinking ya, kita bisa mengantisipasi ee
memitigasi
permasalahan. Karena pada dasarnya
pengambilan satu kebijakan berarti
keberpihakan kita. Kalau kita sudah
berpihak berarti akan ada dua pihak.
Akan ada yang mendukung dan akan ada
yang
berlawanan atau akan menjadi pihak yang
harus kita mitigasi. agar kepentingannya
tidak tereduksi lebih jauh karena
kebijakan yang kita hasilkan.
Ada beberapa pendekatan dalam smart
thinking yaitu evidence based policy
yaitu keputusan kebijakan didasarkan
pada data, riset dan bukti empiris.
bukti kalau dalam berbagai literatur
yang berkaitan dengan evidence based
policy itu disebutkan inovasi yang
menjadi bagian dari best practices ini
pun bisa menjadi evidence yang dapat
diterapkan atau dijadikan dasar untuk
pengambilan kebijakan
yang berikutnya adalah system thinking.
kebijakan dipahami sebagai bagian dari
sistem yang saling terkait lintas sektor
dan di wilayah. Pendekatan ini juga
sangat baik Bapak Ibu sekalian di mana
kita bisa
terbantu dengan adanya aplikasi yang
sudah dikembangkan untuk mendukung
sistem thinking dan sistem dinamik di
mana kita ee dipandu dan bisa menemukan
causa loop diagram ya yang akan ee
menjadi leverage atau permasalahan utama
yang harus kita selesaikan dan akan
mempengaruhi pencapaian atau
penyelesaian masalah yang lain.
Yang berikutnya, analytical thinking
menggunakan analisis kebijakan untuk
menimbang berbagai opsi dan konsekuensi.
Dan ada juga eh pendekatan berupa result
and impact orientation yang fokus pada
hasil dan perubahan yang dihasilkan oleh
kebijakan.
Ada beberapa referensi yang dapat kita
gunakan untuk smart thinking dalam
kebijakan publik, yaitu yang ditulis
oleh Eugin Bardah dan Erik Fatasnik ya
dalam bukunya
Practical Guide for Policy Analysis The
F to effective Solving.
ee pada catatan ini eh pada tulisan ini
menekankan pada kebijakan publik yang
baik lahir dari proses berpikir sistemis
sistematis
yang berfokus pada pemecahan masalah
nyata dengan beberapa
tahapan dan di sini juga ditemukan ee
definisi operasional tentang smart
thinking yaitu berpikir cerdas dan
solutif
Demikian juga dalam Danela Midows dalam
buku Thinking in System
Primer ini memberikan perspektif
bahwa masalah publik merupakan bagian
dari sistem yang saling terkait,
saling menjalin antara satu sama lain.
Dan di sini ditekankan bahwa smart
thinking adalah cara berpikir untuk
mendorong perumus kebijakan untuk
memahami keterkaitan antar sektor,
dampak tidak langsung kebijakan, serta
risiko kebijakan jangka panjang. Bagi
pemerintah daerah, system thinking
membantu menghindari kebijakan sektoral
yang parsial dan mendorong kebijakan
yang lebih terintegrasi dan
berkelanjutan. dirajut kembali berbagai
kebijakan yang mungkin saja sudah
ditetapkan di pemerintah pusat
disesuaikan dengan kondisi lokal yang
ada di daerah.
Dalam konteks pemerintahan, smart
thinking ee ini merupakan pendekatan
sistematis dalam memahami permasalahan,
mengolah informasi, mengelola
ketidakpastian, dan menghasilkan
keputusan kebijakan yang berkualitas.
ada dalam
beberapa tahapan mulai dari identifikasi
dan perumusan masalah, lalu penyusunan
alternatif kebijakan, smart thinking
juga terkait yaitu analisis dampak
kebijakan lalu penetapan kebijakan
sampai dengan evaluasi dan pembelajaran
kebijakan.
Bapak, Ibu sekalian ee kalau kita
mencoba untuk ee
melakukan sintesa dari berbagai
pemikiran tentang smart thinking yang
dikemukakan
secara general tadi pada level daerah,
apa yang kita sebut sebagai kebijakan
daerah yang berdampak dan berbaris
nyata. Secara sederhana ee kebijakan
daerah itu tidak hanya harus tepat
secara administratif, tetapi juga
berdampak nyata bagi masyarakat. ini
mungkin ee jadi catatan kita semua dan
setuju dengan pernyataan dari Pak
Ramianto di pembukaan tadi disusun
berdasarkan data yang valid dan anda
ini akan berdampak dan berbasis data
menjadi kunci untuk memastikan bahwa
kebijakan publik mampu menjawab
kebutuhan ril masyarakat, meningkatkan
efektivitas pembangunan, dan memperkuat
akuntabilitas pemerintahan daerah.
Kebijakan daerah berbasis data
dirumuskan dan ditetapkan dan
dilaksanakan dengan menjadikan data dan
bukti empiris sebagai dasar utama dalam
lima tahapan. Ya, seperti yang
disampaikan tadi dalam pengambilan
keputusan
implementasi smart thinking dalam
mendorong kebijakan daerah berbasis data
di antaranya data dan evidence daerah,
pemanfaatan data statistik daerah, data
sektoral OPD, serta data kabupaten kota
sebagai dasar perumusan kebijakan. Apa
saja yang ada di sekitar kita? data
tentang IPM.
IPM dibagi lagi atas kesehatan,
pendidikan, dan pendapatan untuk sampai
memungkinkan untuk kita bisa mengakses
row data yang menyusun ee IPM tersebut.
Karena mungkin untuk analisa kita, kita
membutuhkan tidak data sebagai hasil
analisis, tetapi juga masih dalam bentuk
grow data grow input yang akan kita coba
analisis dan kombinasikan melihat relasi
dengan kondisi atau data yang baik.
Yang berikutnya berpikir sistemik dan
terintegrasi. Ya, ini
pemikiran dari fif disiplin dari Peter
Sing ini juga ee dapat kita terapkan
dalam berpikir sistemik dan terintegrasi
yang dikenal dengan sistem thinking dan
sistem dinamik. ee banyak diajarkan di
Diklat PIM DU juga sudah dikenalkan
diklat PIM 3.
Praktiknya ini kita harus sering-sering
menyusun kausal loop yang ada
berdasarkan bidang tugas kita. seumpama
apa saja sih faktor yang menentukan ee
atas berhasilnya pendidikan
PAUD. Nah, itu memiliki sistem thinking
tersendiri ya. Begitu juga sistem
pendidikan pada satuan pendidikan
tertentu
ya dilakukan secara ee sistemik. Setelah
itu diintegrasikan
atau kalau kita melakukan pendekatan
dengan statistik diferensial ini, kita
bisa melakukan metaanalisis
terhadap data-data yang kita hasilkan.
Dan dari sana ya diharapkan ee dukungan
data dan informasi ini akan bermanfaat
karena kita gunakan
dengan cara menganalisis yang tepat.
Yang berikutnya adalah kontekstual dan
spasial. Pendekatan kewilayahan dan
spasial ini untuk memahami perbedaan
antar wilayah di Jawa Timur.
Berorientasi dampak pembangunan.
Menetapkan tujuan yang terukur dan
berorientasi pada perubahan nyata pada
masyarakat. Adaptif terhadap dinamika
daerah.
Kami selaku BSKDN diharapkan ee
kami akan berperan sebagai salah satu
wadah untuk bisa
mengintegrasikan berbagai pemikiran yang
berasal dari smart thinking yang sudah
menjadi ee hasil di antaranya adalah
bentuk policy brief dan sebagainya.
ini sudah kami lakukan secara
ee bertahap Bapak Ibu sekalian. Di
antaranya
kerja sama dengan Australia kita
melakukan peningkatan kapasitas untuk
anjak di sekitar 12 provinsi yang
menjadi lokasi kerja sama kami dengan ee
Australia.
mereka setiap tahun ee membuat ee polisy
yang diharapkan berdasarkan smart
thinking di antaranya.
Lalu kita lakukan ee
apa namanya ee penilaian seleksi yang
terpilih ini akan mengikuti program di
Australia National University dan
Queensland University.
selama kurang lebih ee 2 minggu.
Ee setelah itu ee mereka balik lalu
diseminarkan hasilnya.
Rumusan kebijakan yang sudah dihasilkan
lewat proses belajar ini dicangkokkan ke
dalam ee kondisi eh permanen institution
yang itu yang ada di tempat kerja
masing-masing.
Diberi waktu sekitar 3 bulan sehingga
dalam proses mulai dari ee agenda
setting sampai dengan perumusan
perumusan masalah. Lalu penulisan
kebijakan,
implementasi dan evaluasi dalam siklus
yang utut bisa dirasakan oleh peserta.
Rencananya tanggal 28 Januari di akhir
Januari ini akan ada seminar yang
diikuti oleh ee narasumber dari
Queensland University yang akan kami
laksanakan di Ambon, Maluku.
Dan para peserta memang diarahkan untuk
bisa menggunakan salah satunya tools
marketing untuk bisa merumuskan
kebijakan yang lebih baik.
Akan ada forum kebijakan nasional dan
daerah. Nah, ini
mudah-mudahan kita bisa lakukan dan akan
ada dalam bentuk outlook kebijakan ee
pemerintahan daerah yang akan kita
laksanakan setiap tahun.
Yang berikutnya adalah platform
kolaborasi digital yaitu integrasi dari
SIPD, IIID, IKD, ITKPDN ini berbasis
data sehingga kita bisa ee membangun ee
knowledge hub yang berdasarkan
hasil-hasil pengukuran dan evidence yang
dikumpulkan oleh ee Kementerian Dalam
Negeri.
Yang berikutnya adalah polisi lab dan
policy network. Nah, ini
yang sedang terus dan sedang kita
laksanakan Bapak Ibu sekalian untuk
meningkatkan fungsi BSKDN ke depan di
mana kita sudah tidak punya peneliti
lagi tetapi kita akan menjadi pengguna
dari hasil penelitian, menjadi
beneficiari dari
penyelenggara-penyelenggara penelitian.
Saya pikir ini yang dapat kami share Pak
Ramli dan Bapak dan Ibu sekalian selaku
peserta ASN Belajar seri 2 yang
dilaksanakan oleh BPSDN Provinsi Jawa
Timur. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita
pun akan terus bersama-sama
ee meningkatkan kapasitas dan kompetensi
kita dalam
melaksanakan ya
smart thinking untuk mendukung perumusan
kebijakan yang lebih berkualitas ke
depan. Demikian kami akhiri. Wabillahi
taufik walhidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita
sekalian. Om santi shanti shanti. Om
nama buddhaya. Salam kebajikan. Selesai.
Terima kasih, Pak Yus Harto untuk
seluruh materinya yang diberikan pada
pagi hari ini. Nah, sepertinya sudah ada
beberapa sobat ASN yang sudah mulai ee
bertanya di kolom komentar. Langsung
saja kalau begitu mungkin. Dan sekali
lagi saya ingatkan untuk sobat ASN yang
mungkin belum absen, jangan lupa untuk
absen terlebih dahulu di
semestabangkom.id.
Dan untuk penanya nantinya kami akan ada
souvenir yang akan diberikan kepada
penanya aktif lewat kolom komentar
ataupun yang nanti akan langsung
bertanya kepada para narasumber. Dan
untuk penanya pertama pada pagi hari
ini, silakan Bapak dengan Bapak siapa,
Pak?
Selamat pagi Bapak Shihin kalau saya
tidak salah ya.
Bapak Solihin dari Dispusip Banyuwangi.
Baik.
Oke.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera bagi kita semua.
Waalaikumsalam warak Dr. Yusarto yang
saya hormati. Terima kasih Bapak yang
sudah banyak memberikan pencerahan
kepada kami sebagai aparatur sipir
negara dan Ibu host yang terkorba.
Ee tadi sudah di banyak pemaparan yang
disajikan oleh Bapak Dr. Yus Harto.
Namun ada beberapa hal yang perlu kami
apa eh tanyakan terkait dengan
from smart thinking to smart policy atau
berpikir pijak untuk keputusan
berdampak.
tentunya Bapak ee berpikir ijab dalam
pengambilan keputusan yang berdampak
smart thinking for
decision atau melibatkan pendekatan
kritis,
sistematik, dan berbasis data untuk
meminimalkan
ee risiko dan memaksimalkan dampak
positif.
Ada beberapa hal yang perlu kami
tanyakan ketika kami ee berpikir untuk
bagaimana untuk bisa memaksimalkan
ee kebijakan ini supaya kebijakan yang
kami ee berikan ini ee berdampak bagus
bagi apa yang menjadi ee keinginan kita
semua. Tentunya ee dampak-dampak ini
perlu kita pikirkan. Jangan sampai
kebijakan-kebijakan yang kita nanti
berikan kepada ee publik supaya tidak
berdampak sangat besar tentunya bisa
merugikan ee bukan hanya yang
ee apa namanya? Bukan hanya yang memberi
memberi ee kebijakan maupun yang
menerima kebijakan.
Ee apa yang perlu saya tanyakan ini,
Pak?
apa sebenarnya masalah
ee masalah atau keputusan utama yang
perlu diambil Bapak itu yang pertama
Bapak. Saya ulangi lagi Bapak apa
sebenarnya masalah atau keputusan utama
yang perlu kita ambil supaya kebijakan
ini kebijakan itu bisa berdampak baik
kepada ee orang yang menerima kebijakan.
Kemudian yang kedua dampak dan
konsekuensinya
dari jangka panjang Bapak.
Apa dampak positif dan negatif dari
keputusan ini atau kebijakan ini dalam
jangka pendek dan jangka panang panjang
ketika kita memberikan ee kebijakan ini
supaya berdampak baik dan bermanfaat
bagi ee si penerima kebijakan itu
sendiri. Terus yang ketiga, Bapak, apa
risiko terbesar jika saya misalkan salah
untuk mengambil keputusan ini atau
memberikan ee apa namanya kebijakan ini?
Itu, Pak. Tiga yang perlu kami sampaikan
karena kita mungkin bisa di ASN ini kan
minimal kan bisa untuk melayani ee
masyarakat yang memperluk memerlukan
informasi. Saya kira itu, Pak dr. Yus
Harto. Terima kasih, mohon maaf.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat, Bapak.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Iya.
Oke.
Baik.
Pertanyaan yang lain? Iya.
Mungkin langsung dijawab dulu Bapak
untuk pertanyaan dari Bapak Shihin
karena sudah ada tiga pertanyaan
langsung silakan Pak
I. Terima kasih Pakihin. Salam. ini
untuk Banyuwangi. Kemarin saya hadir di
acara
apa tuh Gandrung Sewu ya dengan ee
kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh
pemerintah kabupaten
ee
Banyuwangi. Menurut kami ini sudah
berdampak ya dilihat dari berbagai
indikator makro yang dicapai oleh
Kabupaten Banyuwangi. Saya pikir ee
sudah on the track lah bagaimana ee
pemerintah Kabupaten Banyuwangi
melahirkan kebijakan-kebijakannya.
di antaranya yang menurut saya di yang
sangat-sangat fenomenal
untuk daerah lain berusaha untuk menarik
sebanyak-banyaknya investasi tetapi
kebijakan untuk ee Banyuwangi terutama
untuk akomodasi membatasi ee akomodasi
yang
ee tingkat apa tuh ee bintang tiga
atau bintang empat gitu dan diserahkan
kepada masyar masyarakat dalam bentuk
homestay dan ini menjadi ee salah satu
pemicu begitu besarnya pertumbuhan
ekonomi dan kita bisa mengecek juga ee
tingkat hunian ee
homestay berikut ee
peningkatan pendapatan ee secara
rata-rata dari pemilik homestay itu juga
semakin baik dan yang utama tingkat
kepuasan dari masyarakat masyarakat di
mana ee lama tinggal juga ini bisa
menjadi salah satu ukuran yang cukup
meningkat signifikan untuk Kabupaten
Banyuwangi.
Berarti ee dalam proses
perumusan kebijakan
hemat kami apa yang menjadi pengalaman
Kabupaten Banyuwangi ini sudah bisa
dijadikan sebagai best practices bagi
daerah lain. Mulai dari ee agenda
setting. Agenda setting itu mau
menemukan common enemy yang ada di
Kabupaten Banyuwangi. Musuh bersama kita
itu apa?
Musi bersama adalah ee dari yang saya
amati dan diskusi dengan Pak Abdullah
Azwar Anas berikut pejabat-pejabat yang
ada di Kabupaten Banyuwangi itu dimulai
dengan perbaikan ee standar hidup
masyarakat di antaranya tentang
kebersihan.
Bagaimana ee permasalahan utama dilihat
dari ee perkampungan ee yang paling
dekat dengan pelabuhan yang ada di
penyeberangan ee
Bali, Banyuwangi umpama ini akan menjadi
ee cermin apabila ini bisa diperbaiki
dengan baik akan mengikuti ee daerah
yang lain dan dengan demikian akan di ee
mengundang wisatawan untuk tinggal dan
berlama-lama di Banyuwangi menjadi tidak
bermasalah karena standar dalam ee
layanan dasar yang sangat penting dan
diperhatikan oleh masyarakat atau
wisatawan itu di antaranya kebersihan
dapat dipenuhi.
Berarti masalahnya sudah dirumuskan
dengan benar. Tidak semua masalah itu
harus menjadi bagian dari penyelesaian
ee permasalahan dan menjadi muatan
kebijakan. Masalah yang akan kita pilih
adalah masalah yang mendesak dan
prioritas dan memiliki leverage terbesar
untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan yang baik.
Ini yang harus kita rumuskan dengan
tepat.
dalam
proses perumusan kebijakan setelah
agenda setting ya kita akan merumuskan
masalah. masalah itu adalah ee
tidak sesuainya antara harapan dengan
kenyataan yang sudah prioritas
diselesaikan saat ini.
Saat ini
itu yang akan menjadi ee permasalahan
apa ee
muatan masalah kita ya. Tidak kesesuaian
atau ada diskrepansi.
antara dasoin dan dasolen dan harus
diselesaikan saat ini. Lebih baik lagi
apabila pilihan itu akan merupakan ee
leverage, merupakan penentu atas sekian
banyak masalah yang lain yang menjadi
penyerta dalam kondisi yang kita hadapi.
Untuk itu ya sekali lagi banyak sekali
instrumen mulai dari FBON analisis
sampai dengan menggunakan
ee pendekatan
ee melihat hubungan, relasi regresi.
Lalu kalau kita menggunakan sistem
thinking, sistem dinamik, kita
memasukkan semua masalah berikut
faktor-faktor yang berpengaruh ke dalam
pensing, ya, aplikasi untuk mendukung
sistem thinking dan sistem dinamik
sehingga kita bisa menemukan
permasalahan yang sebenarnya yang
memiliki le rate tertinggi dan akan kita
jadikan sebagai muatan dalam kebijakan
kita.
Dengan demikian Bapak, Ibu sekalian,
apabila kita melakukan langkahnya secara
benar, kita akan menghasilkan dampak.
Akan ada ee dampak positif yang lebih
besar dan negatif yang lebih kecil.
ini akan menjadi bagian yang kita
pertimbangkan dalam pemilihan alternatif
kebijakan procons
yang mana ee negatif yang masih kita
bisa tolerir di mana para pihak yang
mungkin saja ee dirugikan dengan adanya
kebijakan ini masih kita bisa tangani
dengan baik, diberikan
cara lain ya untuk bisa ee
apa ee
menyelesaikan permasalahan yang timbul.
Contoh yang tadi bagaimana ee
masyarakat itu bisa memulai usaha dengan
akomodasi, penyediaan akomodasi yang
representatif mungkin. Nah, di sini
dipilih dilakukan ee pemilihan ee
proons yang lebih banyak proya dan lebih
sedikit kontranya. Kalau semua pengusaha
dias diundang lalu akan mematikan usaha
di tingkat lokal, ya tentu kita akan
berhadapan dengan masyarakat kita
sendiri yang menerima ee efek negatif
dari kebijakan yang kita ee keluarkan.
dampaknya ya. Kalau salah ya mau tidak
mau kita harus mengulangi Bapak ya.
Ee
kita memperbaiki proses ya mungkin saja
dalam agenda setting-nya yang kita ee
salah masih ada faktor yang lain yang
Bapak tidak masukkan sebagai penentu ya.
Nah, di sini saya melihat ee
apa bagusnya atau komprehensifnya
pensim atau system thinking system
dinamik dalam membantu kita dalam
merumuskan kebijakan. Tinggal kejelian
kita, Bapak ya, memasukkan semua faktor.
Jangan ini sudah banyak sekali, jangan
dibatasi.
Begitu juga dengan ee para stakeholder
yang akan ee menjadikan kita ee memahami
data yang akan ee kita ee
hasilkan. Salah satu contoh yang
menarik, Kementerian Dalam Negeri
diminta oleh pemerintah Presiden pada
saat itu Pak Jokowi untuk melakukan ee
perumusan kebijakan yang berkaitan
dengan strategi yang tepat dalam
menangani ee virus Covid ya.
Ya. Baik, Bapak. Ee itu
Iya. Mohon izin.
Ini barangkali jawaban saya ya. Terima
kasih.
Terima kasih. Baik, untuk Bapak Sihin
kira-kira dari seluruh pertanyaan tadi
apakah sudah terjawab dengan baik?
Sudah. Keren. Untuk Bapak Solohin kami
mohon izin untuk bisa mencantumkan di
kolom komentar nanti nama, asal instansi
dan nomor telepon atau nomor WhatsApp.
Jadi nanti akan dihubungi oleh panitia
dari BPSDM ya, Pak untuk souvenirnya.
He. Oke, selamat untuk Pak Solihin.
Terima kasih sekali lagi Bapak Shihin.
Bapak Yus terima kasih banyak untuk
waktunya pada pagi hari ini. Sudah
berkenan untuk memberikan materi ya,
memaparkan materi-materi yang memang
sesuai dengan tema ee webinar ASN pada
seri kali ini. Kami doakan kita bisa
ketemu lagi ya, Pak ya. Semoga ya di
webinar
Amin.
ASN belajar seri selanjutnya. Baik,
Bapak. sehat selalu. Salam untuk
keluarga. Bapak
silakan melanjutkan kegiatan atau
aktivitas pada pagi hari ini. Terima
kasih.
Baik, itu tadi ee narasumber pertama
kita ya dari Bapak
Yus.
Mohon maaf saya agak sedikit lupa nama
beliau karena namanya sungguh unik ya
kan. Bapak
Yusharto Huntoyungo.
Nah, Dr. Yusharto Huntoyungo selaku
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam
Negeri BSKDN Kementerian Dalam Negeri.
Sekali lagi terima kasih. Untuk
selanjutnya mungkin kita akan bisa
langsung ke
narasumber kedua
yang siang hari ini pagi menjelang siang
hari ini sudah siap untuk memberikan
juga pemaparan materi sesuai dengan tema
webinar ASN belajar seri 2 2026 yaitu
From Smart Thinking to Smart Policy.
Berpikir bijak untuk keputusan
berdampak. Sekali lagi saya ingatkan
untuk seluruh sobat ASN jangan lupa
mengisi absensi di semestabank.id
ya dan nantinya juga kami masih tetap
akan membagikan souvenir untuk penanya
aktif lewat kolom komentar ataupun yang
bertanya langsung.
Baik, untuk narasumber kedua sepertinya
sudah siap.
Selamat pagi Bapak Deni Junanto, S. MP,
PhD.
Selamat pagi.
Selamat pagi. Sehat, Pak?
Alhamdulillah. Sehat-sehat ya.
Alhamdulillah. Jadi, Sobat ASN untuk
pemateri kedua kali ini yaitu Bapak Deni
Junanto, S. MP, PhD. Beliau ini selaku
Direktur Direktorat Pembelajaran
Karakter dan Sosial di Lembaga
Administrasi Administrasi Negara
Republik Indonesia. Sudah siap untuk
membagikan materi pada pagi hari ini,
Pak?
Insyaallah. Insyaallah siap.
Insyaallah. Bismillah. Baik, Bapak,
langsung saja kami silakan.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat pagi menjelang siang ya. Tentu
semangatnya semangat pagi semua.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya.
Salam kebajikan.
Ya. Yang saya hormati Pak Ramlianto,
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ee Pak
Yuris ya sebagai moderator
ee Bapak Ibu ee narasumber yang lain ya,
ada Pak Yusarto, ada Bu Gresi Septarini
dan teman-teman di BPSDM Jawa Timur. Dan
tidak lupa ee izinkan saya menyapa para
peserta webinar seri 2 ya di yang
diselenggarakan oleh BPSTM Provinsi Jawa
Timur ini. Luar biasa sekali. Ee saya
kira
ee sebuah kebanggaan ya ee bagi kami ya
bisa hadir dalam ee sharing ya yang
diselenggarakan oleh BPS Prosi Jawa
Timur.
ini sebuah budaya yang kira saya kira
harus di ee kembangkan terus dijaga ya
komitmennya, konsistensinya ya Pak
Ramli. Baik ee terkait dengan topik kita
pagi hari ini ya. Ya, ini adalah topik
yang menarik. saya kira ee
pilihan topiknya ini tepat sekalah saya
kira bahwa di tengah-tengah situasi kita
yang ya ee bahkan sekarang mungkin
ice-nya kita ke
ee ke global begitu ya, ke Amerika. Apa
yang mau dilakukan oleh Amerika Serikat
dan seterusnya. Nah, ini adalah
kaitannya juga dengan bagaimana
Indonesia me mengantisipasinya begitu
ya.
Baik. Ee
untuk memper ee singkat waktu dan supaya
lebih efektif mohon izin saya share ee
paparan saya sebentar ya.
Ya,
tentu judulnya ini menarik ya, smart
thinking to smart policy. Artinya kalau
kita tidak smart berpikir gitu maka
polisnya juga tidak akan smart. Nah,
bagaimana kita bisa membuat smart
policy? Ya, ini tentu banyak ee syarat
ya, banyak kondisi yang harus kita ee
apa namanya? penuhi dulu sebelum bisa
mencapai dia bisa berdampak.
Pada tataran tertinggi saya kira bukan
hanya bijak ya polis tapi sudah mencapai
ke wisdom sebenarnya ya kalau dari
konsep kata gitu ya.
Jadi yang harusnya keluar dari
pemerintah itu adalah sebuah
kebijaksanaan, bukan hanya sebuah
kebijakan. Karena kalau sebuah kebijakan
ya belum tentu dia bijaksana, kan begitu
ya. Nah, bagaimana kebijaksanaan itu
bisa tumbuh, bisa muncul?
Nah, ini ee yang akan kita diskusikan
gitu ya pagi hari ini. Baik, Ibu Bapak
sekalian ya. Ee
pada kesempatan ini saya ingin mengajak
dulu ya, kita lihat
ini adalah sebuah potret ya, di mana
pemerintah ya
memberikan layanan ya, membuat halte ya,
shelter, BS gitu ya. Ee
niatnya baik gitu ya. Niatnya baik ya.
Ee desainnya pun menarik gitu ya. Tapi
sekalian ketika hujan ya ternyata
shelternya ini bolong gitu atasnya ya.
Jadi
percuma rasanya kalau ee kita punya
kebijakan yang baik gitu ya, kita punya
desain yang menarik gitu ya, tapi
masyarakat yang merasakannya tetap harus
kesulitan.
Nah, saya kira kita bisa belajar banyak
dari sebuah ee katakanlah ini kesalahan
gitu ya. Apa
sebenar yang salah dari desain ini? Apa
yang salah sebenarnya? Artinya kita kan
tidak pernah bertanya kepada masyarakat
sebenarnya apa sih yang dibutuhkan?
Hanya kadang-kadang kita pemerintah ini
ee serba
merasa paling tahu apa yang dibutuhkan
masyarakat. Nah, ini dia yang ee Ibu
Bapak sekalian yang dari gambar ini saya
kira kita bisa belajar banyak.
Nah,
untuk bisa memutuskan sesuatu itu lebih
tepat, ya, kita bisa belajar dari
Einstein.
Einstein katakan bahwa if I had an hour
to solve a problem, ya, I would spend 55
minutes thinking about the problem and 5
minutes thinking about the solutions.
Jadi sebetulnya ya
berbagai kebijakan kita ya atau
solusi-solusi yang kita tawarkan
itu harus kita pikirkan dulu dengan
matang ya. Apa sih sebenarnya mencari
menjadi penyebabnya gitu kan. Jangan
kita terburu-buru langsung mengeluarkan
solusi, mengeluarkan kebijakan ya
mengeluarkan keputusan tanpa mengetahui
akar permasalahannya. Nah, dari foto
yang sebelumnya kan kita tahu ya, kita
lihat ya bahwa oke solusinya apa sih
kalau orang kehujanan, kepanasan, nunggu
base gitu ya, solusinya apa kita buatkan
halte. Nah,
ternyata halenya pun tidak sesuai dengan
apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Nah, jadi saya kira ini ee harus kita
renungi ya bersama ya. Apakah
betul-betul sebenarnya
keputusan-keputusan yang kita ambil di
sektor publik ini
ee sudah berdasarkan pemikiran yang
matang, pemikiran yang komprehensif
begitu untuk bisa memberikan sebuah
solusi yang tepat yang betul-betul
memang ee menyasar pada akar
permasalahannya. Nah, itu Ibu, Bapak ya.
Nah, ini menarik ya. Kalau bicara smart
eh policy ya, kenapa itu menjadi penting
ya?
Karena kebijakan publik ya kalau dia
kebijakan publiknya tidak smart gitu ya.
Padahal kebijakan ini yang sangat
menentukan kehidupan
dari jutaan warga. Apalagi Indonesia
sekarang sudah 280 juta orang begitu ya.
Nah, ini kalau tidak dikelola ya
dampaknya akan sangat
ee fatal begitu ya.
Dan kenapa smart policy itu penting?
Karena dari kesalahan berpikir ya
artinya ada banyak bias di situ ya
asumsi yang keliru, kemudian keputusan
kita yang reaktif ya kebijakan itu tidak
menjadi efektif bahkan cenderung
merugikan. Nah, di Indonesia ya, negara
yang sama-sama kita cintai, yang kita
harapkan terus menuju ke Indonesia emas
ya, kompleksitas sosial dan keragaman
wilayah kita sangat-sangat
ee dinamis begitu.
Kita juga punya keterbatasan sumber daya
dan juga tekanan politik. bahkan bukan
hanya dari ee luar gitu ya, dari dalam
negeri sendiri juga ee apa namanya ee
sangat tinggi.
Dan kita sebagai pilihan kita sebagai
negara demokrasi ya dengan dinamika
sosial ekonomi yang demikian ini butuh
cara berpikir ya dari yang reaktif
menjadi strategis. Jadi bukan hanya kita
ee menunggu sesu masalah itu terjadi
gitu ya.
Tapi kita bagaimana mengantis
mengantisip masalah ya ee supaya masalah
itu tidak terjadi. Nah, saya kira ini
perlunya eh smart policy ya dalam
bukunya ya Daron dan James ya James
Robinson ini
menyatakan bahwa apa sih yang
menyebabkan sebuah negara atau
negara-negara itu gagal
ya. Ya, salah satunya adalah disebabkan
oleh institusinya ya. institusi tentu ya
dalam hal ini yang mengeluarkan
ee serangkaian kebijakan negara. Jadi
perbedaan antara
Korea Utara, Korea Selatan misalnya atau
katakanlah ya di Semenanjung ya
Malaysia, Malaysia dengan Singapura
dengan Indonesia atau kita punya
kondisi geografis yang tidak terlalu
berbeda ya.
cuacanya mirip-mirip ya, hujannya juga
banyak begitu, panasnya juga tinggi.
Tapi ternyata ya kesejahteraannya atau
kemajuan dari suatu bang ee apa dari
negara-negara ini berbeda ya. Salah
satunya disebabkan oleh karena tadi ya
karena institusinya yang pada gilirannya
juga berkaitan pada kebijakan
ya. Nah, ini yang ingin saya sharing ya
Ibu Bapak sekalian.
dunia ya dunia kebijakan publik ya
sekarang ini kompleks. Tadi ya sudah
disinggung tadi disampaikan oleh Pak
Ramli kemudian juga Pak Yusarto tadi
juga ya bahwa sekarang adalah kompleks
serba cepat sehingga kita perlu berpikir
cerdas ya dan ini menjadi dasar untuk
pengambilan kebijakan yang berdampak.
Jadi, smart policy tentu bukan keputusan
administratif, tapi keputusan yang
berbasis pada data ya,
berpihak pada publik, punya orientasi
jangka panjang, tidak hanya jangka
pendek, kemudian adaptif terhadap
perubahan dan bisa diimplementasikan
secara efektif,
ya. Jadi, ini ee keputusan yang smart
begitu.
Dan yang ini yang perlu ee saya
sampaikan juga bahwa kebijakan yang baik
itu tidak lahir hanya dari niat baik,
tapi cara berpikir yang tepat.
Kita ya nanti kita bisa diskusi ya
banyak ee contoh ya bahwa niatnya baik
gitu tapi ternyata cara berpikir kita
yang tidak tepat sehingga kebijakannya
menjadi tidak efektif begitu ya.
Nah,
saya ingin mengajak ya Bapak, Ibu
sekalian kita melihat ee fenomena yang
ada ya terkait dengan tuntutan kenaikan
UMP
di Jakarta itu di 2006 ya 2000 di 2026
ini nyaris 6 juta, Jawa Barat masih R
juta. intinya bahwa tuntutan
buru ya untuk kenaikan gajinya, kenaikan
upahnya itu sangat-sangat realistis gitu
ya.
Apa namanya? Ditambah juga dengan
tingkat inflasi yang tinggi gitu ya.
Sehingga daya beli masyarakat itu
tertekan.
Kita tentu dengan mudah kita akan
memihak siapa? Memihak buruh atau
memihak siapa? Pengusaha. misalnya
karena di sini yang berhadapan adalah
pengusaha dengan buruk.
Tapi sebagai pengambil kebijakan ya kita
tentu harus tadi berpikir ya secara
cerdas begitu kan.
Ini kalau dibahas tentu ee panjang ya.
Ee ini hanya saya sebutkan bahwa
fenomena ini inilah yang dihadapkan kita
di pemerintah selalu dihadapkan pada
pilihan-pilihan seperti ini ya. antara
pilihan ke mana kita memihak ya,
kemudian apa kita bisa berpikir di
jangka panjang. Faktanya ya, faktanya ya
berdasarkan data ketika
harga atau upah ya upah tenaga kerja ya
itu meningkat yang terjadi pengusaha
bukan mungkin kita enggak bicara UMKM ya
atau pengusaha-pengusaha yang kecil,
pengusaha-usaha
itu mengalihkan produksinya
ke negara-negara lain yang memiliki
tingkat upah yang lebih rendah daripada
Indonesia
yang terjadi adalah merubah
pabrik-pabrik itu ya menjadi
distributor.
Jadi yang ada hanya impor barang ya.
Jadi Indonesia secara
agregat gitu ya, secara sebuah negara
kita tidak lagi menjadi negara yang ee
produktif, tapi kita menjadi negara yang
hanya sebagai distributor.
Nah, itu tentu perlu pendalaman yang
lebih ee jauh gitu ya terkait dengan
kasus ini. Ini saya sampaikan karena
seringkiali nanti kita diharapkan pada
seperti ini kondisi-kondisi yang membuat
kita menjadi iya ya. kita harus
bagaimana kita berpihak, bagaimana kita
harus bersikap kan gitu ya.
Nah,
dari smart thinking ke smart policy ya
tentu eh
smart policy tidak akan bisa terjadi
kalau kita tidak berpikir secara smart
ya.
Dan Pak Yus tadi juga sudah sampaikan
ya, apa itu smart thinking. Saya kira eh
pada intinya bahwa smart thinking adalah
berpikir sistematis,
berbasis data dan bukti, bukan asumsi.
Begitu kan menggunakan data riset dan
bukti kita bisa harus paham akar
masalahnya ya. Bukan hanya gejala yang
kita obati begitu.
Kemudian kita bisa mengelola bias
kognitif ya dan kepentingan sehingga
melihat dampaknya secara ee apa namanya
lebih luas. Jadi antara lintas sektor
ya kita berpikir sistemik dan jangka
panjang
sehingga ya smart policy adalah hasil
dari smart thinking yang
dia relevan terhadap masalah publik ya
karena tidak semua apa ee tidak semua
polisi ternyata relevan begitu kan. Dia
layak secara politik dan administratif
kemudian berdampak nyata dan
berkelanjutan. Nah, kalau dilihat ya
kunci dari smart policy atau
karakteristik dari smart policy adalah
evidence base ya, berbasis data dan
riset yang valid ya karena banyak juga
data dan riset yang tidak valid. Begitu.
Yang kedua adalah people centered ya
menjawab kebutuhan masyarakat
ya bukan hanya sekedar birokrasi sekali
lagi
yang kita jadikan centered itu adalah
masyarakat. Contoh halte tadi itu
jelas-jelas membuktikan bahwa hanya
government centered ya. Kita hanya
melihat kepentingan bahwa oke ee
anggaran sudah ditetapkan, anggaran
sudah cair gitu, anggaran sudah
dimanfaatkan sehingga halnya
ada terbangun begitu. Tapi masalahnya
apakah itu menjawab kebutuhan masyarakat
atau tidak? Begitu kan. Kemudian
karakteristiknya dari smart policy
adalah adaptif. dia mampu menyesuaikan
dengan perubahan zaman ya. Kemudian
smart policy juga ya. Nah, di sana ada
kolaboratif artinya melibatkan
seluruh stakeholder yang ada baik itu
akademisi, swasta, masyarakat sipil.
Kita kenal dengan istilah pentah gitu
ya.
Kemudian juga dia measur ya memiliki
indikator kinerja yang jelas ya. Kita
enggak bisa bilang bahwa kebijakan ini
berhasil, kebijakan ini tidak berhasil.
kebijakan ini sukses atau kebijakan ini
tidak sukses, ukurannya apa gitu kan.
Maka indikator ini menjadi penting ya,
bagaimana kita bisa menyusun indikator
itu yang ee jelas begitu ya, yang
terukur. Jadi ee ini adalah
karakteristik dari ee smart policy
begitu ya.
Nah,
kita sering bilang ya, oke ayo kita
bikin kebijakan yang evidence base,
evidence based dan seterusnya.
Tapi ternyata ada permasalahan dalam
evidence base policy ya. Eh,
Bapak, Ibu sekalian,
masalah yang pertama dalam evidence
policy adalah tergantung pada randomized
control trials, ya.
It istilah it work there but not always
it will work here. Jadi
kadang-kadang kita latah begitu ketika
kita melihat kebijakan di suatu negara
itu berhasil lalu dengan satama- mata,
oke kita tiru ee apa namanya ee kita
terapkan di Indonesia, kita terapkan di
Sim belum tentu berhasil. Demikian juga
di daerah mungkin kita lihat
keberhasilan Provinsi Jawa Timur gitu
ya.
belum tentu juga akan sama berhasilnya
ketika kebijakan yang sama itu
diterapkan di provinsi yang lain. Bahkan
dalam eh scop provinsi ya, kebijakan
yang ada di Kabupaten A gitu ya atau di
Kota Surabaya belum tentu sok cocok
dengan di Kota Malang gitu ya ee dan
lain juga sebagainya. Jadi pembuat
kebijakan harus memahami bagaimana
kebijakan itu bekerja gitu ya. Faktor
pendukung apa yang harus tersedia.
Kemudian konteks lokal
kita harus lihat kalau kita bilang
istilah apa? Kearifan kearifan lokal
begitu memungkinkan proses kausalnya
sama. Jadi tidak cukup hanya
mengeluarkan perb ya per gup gitu ya.
Kemudian kita berharap bahwa kebijakan
itu akan berjalan sendiri. Oh, sudah kok
gitu ya. Ee jadi kita harus
memperhitungkan namanya faktor-faktor
pendukung lainnya dan banyak kombinasi
ya yang juga menghasilkan efek yang
sama. Jadi tidak harus bahwa faktor yang
ada di contoh yang kita tiru begitu ya
itu harus ada juga di ee tempat yang
akan kita laksanakan. bisa jadi
kombinasinya lain.
Nah, ini dia permasalahan dari evidence
base policy. Nah, supaya dia lebih ee
apa namanya? Konkret gitu ya, ini saya
sampaikan contoh kegagalan ya dalam
penerapan evidence based policy
di Bangladesh. Ada istilah Bangladesh
integrated project ya. Program
diluncurkan tahun 95 untuk mengurangi
kekurangan gizi pada anak-anak, ibu
hamil, dan menyusui melalui apa?
Pemantauan pertumbuhan. pemilihan
makanan tambahan ya, peningkatan
kapasitas nutrisi ya dari tingkat
nasional maupun komunitas atau komunitas
masyarakat. Ini adalah meniru yang
namanya dari Tamil Nadu Integrated
Nutrition Project begitu. Nah, tapi
program ini gagal. Kenapa gagal? Karena
tadi faktor-faktor pendukungnya beda ya.
ketika di Tamil ya, ibu-ibu itu punya
akses langsung ya, punya power gitu ya
untuk membeli sayuran, makanan, bahan
makanan dan seterusnya tidak terjadi di
Bangladesh
ya. Di Bangladesh yang belanja itu
laki-laki, suami-suaminya atau
bapak-bapaknya.
Sehingga enggak paham ketika ini
diberikan ke ee program yang sama,
efeknya berbeda
ya.
Kemudian yang kedua ada kasus misalnya
di California Classiz Reduction ya.
Ini di tahun '96 ya. Intinya bahwa ee
mengurangi jumlah siswa.
Jadi ee dulu kita dulu zaman sekolah
gitu ya kan satu orang mungkin 40 orang
eh satu satu guru ngajar 40 murid ya
mungkin lebih gitu sampai 48 50 gini
kebanyakan di sekolah-sekolah negeri
seperti itu. Nah ini berdasarkan
penelitiannya dari star student teacher
achievement ratio. Jadi ada penelitian
di tahun '85 sampai 9 itu bahwa semakin
sedikit muridnya maka pencapaian nilai
matematik dan IPA gitu ya itu akan
semakin tinggi berdasarkan penelitian di
Tennessee ya. Tapi ketika diterapkan di
California
ini dampaknya tidak sama.
Karena apa? Karena banyak faktor yang ee
apa namanya? mempengaruhi ee sehingga
ee impact-nya berbeda begitu ya.
Nah, ini adalah contoh kalau kita
apa istilahnya ya benar-benar plekplek
gitu ya mengikuti apa yang ada di
evidence base policy. Nah, sekarang kita
bergeser ke kebijakan publik di
Indonesia. Masalahnya apa sih gitu?
kebijakan publik di Indonesia. Saya
enggak mungkin enggak sebutkan satu
persatu secara umum ya mungkin kita
lihat ya kita masih rasakan kebijakannya
reaktif terhadap tekanan publik atau
viral di media sosial. Ada istilah no
viral no justice gitu ya. Kalau enggak
ini viral, enggak diviralkan, enggak ada
perhatian dari pemerintah. Jalan jelek
gitu ya, rumah sakit ee apa namanya?
tidak memadai, jembatan mau rubuh gitu
ya, ee transportasi umum jelek, ya
macam-macam ya. Ah, ini kalau viral saya
kira ini juga salah satu
dampak ya kalau kita bilang dampak
positif juga lah ya dari sosial media.
Mungkin kalau dulu kita enggak pernah
tahu yang namanya mungkin jalan di mana
itu ee sudah mau hancur begitu ya,
enggak bisa dilewati gitu. Tapi dengan
adanya sekarang di media sosial, maka
perhatian pemerintah ee lebih concern
gitu. Nah, problemnya juga adalah
sekarang masyarakat punya tuntutan yang
luar biasa begitu dengan berbagai tadi
ya aliran data informasi
masyarakat tahu berapa sih APBD di
Provinsi Jawa Timur gitu, berapa sih
APBN kita untuk ke mana, berapa sih
anggaran untuk BGN gitu, berapa sih
anggaran untuk pendidikan kesehatan dan
seterusnya.
masyarakat punya tuntutan yang lebih
besar sekali.
Nah, ini dia. Nah, problemnya
kadang-kadang ya pemerintah sifatnya
hanya reaktif gitu. Kalau ada muncul di
sosial media baru kita berapa kerubuk
gitu ya, kebakaran jenggot seperti.
Nah, kemudian masalahnya yang kedua
adalah seringki pendekatan kita adalah
seragam untuk masalah yang beragam. Jadi
istilah one size fits all itu ya ini
seringkiali kita temukan
ya.
Kemudian kebijakan publik di Indonesia
juga minim uji coba dan evaluasi saya ya
mungkin banyaklah kita kalau misalnya ee
apa
yang paling gampang misalnya adalah
sekarang apa apakah sekarang kebijakan
atau peraturan ya ee buang sampah itu
benar-benar kita diterapkan dengan benar
yang sesederhana itulah
kebijakannya ada, peraturannya ada, tapi
kan enggak pernah dicoba apalagi deval
kebijakan publik di kita juga kebanyakan
fokus pada output ya, bukan outcome
ya, apalagi dampaknya
ya. Contoh misalnya program bantuan ya
itu tetap tepat sasaran secara desain
tetapi bocor dalam implementasi karena
datanya tidak mutahir atau datanya
mungkin dimanipulasi begitu ya. Jadi
banyak faktor di kita yang mempengaruhi
kenapa jadi tidak smart polisinya.
Nah, masalahnya juga adanya bias ya
dalam pengambilan keputusan kebijakan.
Contoh yang seringki muncul adalah
confirmation bias.
Hanya mencari data yang mendukung
kebijakan yang sudah diputuskan. Jadi
kita putuskan dulu kebijakan baru
kemudian kita cari argumentasinya gitu.
Ini kan keliru jadinya ya. Jadi kemudian
kita juga kadang-kadang oke banyak
sekali ee policy paper ya, policy brief
segala macam gitu ya. Itu juga
kadang-kadang ee sesuai pesanan begitu
ya. Jadi policy brief yang memang
mendukung untuk ee sebuah kebijakan itu
keluar. Nah, ini yang seringkiali kalau
kita di pelatihan analis kebijakan ee
saya sarankan bahwa
ee setiap analisis kebijakan itu tidak
boleh bohong tapi boleh salah begitu ya.
Tapi enggak boleh bohong. Kemudian
adanya political bias ya, kebijakan demi
popularitas jangka pendek ya. Ya, ini
diskusi yang menarik ya kalau bicara
political bias. Kemudian juga ada status
quas ya. Menjaga status qu ini malas
kita. Udahlah kebijakan yang lama
walaupun enggak efektif ya kita terapkan
aja terus-menerus ya.
Padahal smart thinking itu menuntut
keberanian untuk mengoreksi diri ya.
Jadi
kita ya di pemerintah gitu ya ini harus
membuka diri ya kita harus terima
koreksi dari masyarakat karena sejatinya
adalah yang kita layani adalah
masyarakat kan begitu. Kalau kita sudah
enggak mau dikoreksi ya, akhirlah
terjadinya bias.
Studi kasus di Indonesia misalnya
subsidi energi. Masalahnya misalnya kita
ambil adalah subsidi BBM yang terlalu
besar ya sehingga apa membebani APBN dan
tidak tepat sasaran karena subsidinya
diterata dinikmati oleh mereka yang
mampu begitu. Nah, smart thinking yang
kita kembangkan adalah bahwa perlu
adalah analis perlu adanya analisis data
penerima manfaat.
Kemudian kita simulasikan ya dampak
fiskalnya dan sosial begitu.
Dan smart polisinya bagaimana?
Pengalihan subsidi ya subsidi BBM ke
bantuan langsung ya dan program-program
sosial.
Nah, pelajaran yang bisa kita ambil ya
dari ee kasus subsidi energi ini adalah
kebijakan populer belum tentu adil ya.
Subsidi kan kita senang kalau harga
bensin murah ya,
harga ee solar murah gitu ya, tapi belum
tentu adil. Sekarang kita tentu masih
bisa melihat di faktanya di masyarakat
siapa yang menikmati Pertalight, siapa
yang menikmati solar, begitu kan? Apakah
dirasakan adil atau tidak? Nah, itu dia
dan data dan komunikasi publik sangat
menentukan keberhasilan ya. Nah, ini dia
ee
kasus subsidi BBM.
Contoh yang kedua status ee kasusnya
adalah penanganan stunting.
Stunting itu di awal ya dianggap hanya
masalah kesehatan ya ketika anak tidak
tumbuh ya secara normal tingginya, berat
badannya dan seterusnya. Wah, ini
kaitannya dengan kesehatan. Padahal cara
berpikirnya harusnya kan kita kita sudah
rubah stunting adalah masalah
multidimensi. Dia berkaitan juga terkait
dengan gizi, terkait juga dengan
sanitasi, pendidikan, kemiskinan gitu
ya. Sehingga smart policy yang harus
dikeluarkan adalah penekatan konvergensi
lintas sektor. Sekali lagi konvergen ya
harus ada keterkaitan.
Jangan e setiap sektor itu bekerja
sendiri-sendiri gitu kan sehingga
mengklaim kemudian ya bahwa tingkat
stunting turun itu karena saya dinas
ini, dinas itu dan seterusnya harus ada
yang konvergen gitu kan dan dampaknya
penurunan prevalansi stunting di
berbagai daerah. Nah, ini adalah smart
policy yang kita sudah lakukan ya untuk
stunting.
Kemudian kita belajar dari beberapa
negara di dunia. Contoh di Finlandia di
pendidikan smart thinking ya.
Masalah pendidikan bukan soal kurikulum
semata, tapi kualitas guru dan
kepercayaan trust kita terhadap
institusi pendidikan. So why finance
education system ranks among the best
globally? Ini yang menjadi menarik
di Finland ya, di Finlandia otonomi
sekolah itu sangat tinggi ya.
Guru itu sebuah profesi yang sangat
punya
apa ya nilai tinggi di masyarakat
ya punya kelas lah. Punya kelas. Jadi
enggak seperti di
ya kalau saya buat negara plus 62 ini
kan gitu ya. guru yang kadang-kadang ee
apa namanya itu ee honorer begitu ya
ee masih bergelut dengan ya
kebutuhan-kebutuhan dasar. Ini yang
harus kita rubah sebetulnya ya.
Kemudian minim ujian nasional. Jadi di
sana ya ee apa namanya? Jam waktunya
juga belajar sedikit, waktu istirahatnya
lebih banyak. Tapi kenapa kok
kualitasnya lebih bagus? ini menjadi
menarik kualitas pendidikan dingin
dengan tekanan rendah sehingga potensi
siswa belajar ya potensi siswa itu lebih
ee berkembang gitu. Nah, untuk Indonesia
berarti reformasi kebijakannya harus
menyentuh akar sistemnya. kita tidak
bisa bongkar
pasang kurikulum ya seakan-akan kalau
kurikulum oke kita pakai kurikulum
merdeka belajar kurikulum ini ternyata
masalahnya lebih dari itu. Nah, ini yang
kita bisa belajar dari Ilandia.
Kita lihat ee Singapura misalnya terkait
dengan kasus transportasi publik ya. Ya,
sama si Singapura juga punya masalah
yang sama dengan kita macet
lahannya terbatas. Saya kira ini Prof.
ee problematik di mana-mana ya yang
dilakukan apa?
Mobil pribadi bukan hak mutlak
ya ini diatur ya, tetapi pilihan yang
harus diatur sehingga masyarakatnya
beralih ke transportasi umum. Begitu.
Smart policy-nya bagaimana? Dengan
menerapkan
eh electronic road pricing ya, ERP ya.
Kita katanya sudah mau dibahas tapi
enggak tahu sampai kapan. belum ada
kejelasannya. Kemudian ada istilah
sertifikat kepemilikan kenaraan
sertificat of entitlement ya.
Nah, Ibu Bapak sekalian kalau di ee apa
namanya? Di Singapura itu orang enggak
mentang-mentang punya duit dia beli
mobil du l dan seterusnya ya suka-suka
dia gitu ya. Sekarang kebijakan ganjil
genap, ternyata ganjil genap
menguntungkan siapa gitu kan.
Menguntungkan pedagang mobil gitu ya.
Karena orang beli lagi mobil biar
platnya beda begitu. Kalau di Singapura
enggak, walaupun Anda punya uang entar
dulu gitu. Anda punya ee sertifikat
kepemilikan enggak ya. Dan di sini bisa
lihat Ibu Bapak sekalian ya, semakin apa
istilahnya ee
jenis mobilnya makin ya ee mewah begitu
ya, sedan kemudian ini makin mahal harga
sertifikat kepemilikannya ini. Jadi ee
kalau di Singapura kalau mau beli mobil
bukan hanya langsung ke dealer kasih
uang gitu ya, tapi tanya dulu mana
sertifikat kepemilikan Anda. Ee jadi ee
seperti itu sehingga pilihan masyarakat
akan dipaksa untuk menggunakan
transportasi publik.
Nah, ini saya kira juga yang perlu kita
ee belajar dari e Singapura. Di Selandia
Baru misalnya ya, ada istilah wellbe
budget
bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu
berarti pada kesejahteraan. Ini sudah
dibuktikan di ee banyak negara gitu ya.
Intinya kesejahteraan. Jadi jangan hanya
mengejar pertumbuhan ekonomi ya, tapi
kita fokus pada kesehatan mental
misalnya ya, kesehatan anak ya,
kesenjangan gitu. Sehingga pelajarannya
adalah indikator kebijakan itu
menentukan arah kebijakan
ya.
Nah, itu Bapak sekalian.
Nah, problem dari evidence based policy
ya e dalam bukunya ya Nancy Kart Wright
dan Jeremy Hardy disampaikan bahwa
eh
prediksi kita berharap bahwa sebuah
kebijakan itu akan berhasil akan smart
itu misalnya katakanlah ya it will work
here kalau misalnya ada tiga ini bangku
yang punya anak kaki tiga gitu ya
karena kita berpikir bahwa it worksh itu
sudah berhasil di tempat lain kemudian
Kemudian support factors are here. Jadi
kita juga punya kok faktor-faktor yang
mendukungnya. Kemudian berperannya akan
bekerja yang sama. Tapi ketika satu
asumsinya atau premisnya enggak ada, ini
tidak akan berhasil. Jadi Bapak
sekalian, kita tidak boleh terlalu
gegabah gitu ya. Oke, kita tiru apa yang
berhasil di satu daerah, satu negara.
Kemudian kita plek-plekan gitu ya.
benar-benar ee habis-habisan gitu ya
kita tiru belum tentu berhasil
gitu. Jadi harus ada ee premis yang
sama, harus ada ee apa support yang
sama.
Nah, untuk Indonesia misalnya ya, smart
policy jadi berbasis bukti bukan asumsi.
Sekali lagi ya, bukan asumsi. kita
seringki pemerintah berasumsi bahwa ee
yang dibutuhkan masyarakat A ya, yang
dibutuhkan masyarakat B.
Kita harus lihat dulu evidence-nya ya.
Kita harus belajar kontekstual dengan
keragaman daerah. Nah, ini dia. Tidak
ada kebijakan yang one fits for all.
Katakanlah misalnya kebijakan ee
pendidikan misalnya apakah mungkin ya di
jangka saya enggak tahu nanti di kita
pertimbangkan lagi
pendidikan di Jawa Timur apakah sama
dengan di Jawa Tengah misal apa di
Provinsi DKI
ya apakah kesehatan juga sama apakah ee
apa namanya perumahan dan banyak hal
lainnya ya saya kira ini harus
kontekstual dengan keragaman daerah
Ada satu kabupaten ya di Indonesia Timur
bisa katakan itu jalanannya halus mulus
begitu ya. Tapi ternyata masyarakatnya
enggak ada yang punya mobil, enggak ada
yang punya kendaraan. Jadi buat apa
kadang-kadang kita bangun jalan yang
sebagus itu? Karena enggak ada
manfaatnya juga bagi masyarakat. Tapi
dari perspektif pemerintah, oh iya nih
jalan kita, kita sudah berhasil
membangun jalan sekian ee kilometer
gitu.
Kemarin kolaboratif lintas sektor ini
yang paling sulit juga.
sektor kita ego namanya. Saya enggak
tahu sampai kapan kita selalu ee apa
namanya egosektoral ini kapan pernah
selesai begitu ya.
Kalau Bapak Ibu lihat kabel listrik kita
ya keluar rumah aja Bapak Ibu atau
keluar kantor kita lihat kabel listrik
di jalanan ya kabel telepon, kabel fiber
optik, kabel apalagi di situ ya bulat di
situ di tiang-tiang listrik itu. Ya
seperti itulah kondisi birokrasi kita
ya. ruet enggak mau kolaborasi
ya. Padahal apa susahnya sih gitu mereka
kerja sama begitu ya
ee sehingga punya satu pemahaman yang
sama, satu visi yang sama.
Untuk smart policy kita adaptif ya
terbuka terhadap evaluasi. Jadi jangan
jangan alergi dengan evaluasi. Big data
ya sekali lagi big data analytics. Terus
orientasi kita harus berdampak jangka
panjang. Nah, untuk itu Ibu Bapak
sekalian, smart policy itu harus kita
berbicaranya. Misalnya gini, kegagalan
di Bangladesh tadi ya, BNP integrated eh
program tadi
itu karena ya horizontal search-nya
tidak dilakukan. Jadi, faktor-faktor
pendukungnya itu tidak di ee apa
namanya? Tidak disediakan. Mereka tidak
bisa mengidentifikasi semua ee support
factors-nya.
Apakah kemudian apakah dengan
implementasi kebijakan adalah
menghilangkan faktor positif dan malah
menyebabkan faktor ee negatif yang baru?
Kita harus ketika kita menyelar satu
kebijakan ya maka kita harus eh perbesar
perlebar horizon kita ya. Apa sih
faktor-faktor yang bisa mendukung
kebijakan? Nah, kemudian eh
vertical set juga harus kita lakukan ya
untuk menemukan tingkat kausal yang
tepat.
ya
kegagalan di California tadi
karena ee hierarkinya gitu ya, hierarki
kausalnya itu
tidak sama dengan apa yang ada dilakukan
di Tes ya. Nah, jadi Bapak sekalian ini
ee bahwa prinsip-prinsip ini harus kita
ee jaga kita lakukan. Nah, sekarang kita
ASN ya dan pengambil kebijakan. Perannya
kita apa? kita adalah sebagai policy
thinker ya, bukan sekedar pelaksana
kebijakan publik walaupun di ASN ya
salah satu fungsi kita adalah sebagai
pelaksana kebijakan publik.
Tapi jangan lupa ya ini Indonesia ini
kan sudah sekarang apa eh fenomenanya
adalah political technocracy i
sebenarnya ya bahwa kebijakan-kebijakan
kita lebih dipengaruhi oleh
kepentingan-kepentingan politik
dibanding kepentingan-kepentingan
teknokrasi
ya. Dan kita sebagai ASN harus berani
sebagai policy thinker membangun kita
budaya diskusi berbasis data. Ayo ketika
kita mengeluarkan kebijakan ya dinas
apa? Dinas apa ya kita datanya mana gitu
datanya apa sehingga kebijakan kita
tidak berdasarkan asumsi.
Kita harus berani menyampaikan evidence
meski enggak populer misalnya tapi
evidence-nya begini. Masyarakatnya
enggak puas.
Ada sedikit gangguan ee kendala teknis
ya dari sinyal narasumber kedua pada
sesi kali ini. Masih akan ada. Oke,
Bapak
yang lebih penting adalah sebentar kok
kepencet ya. Ya, relevance is essential.
Jadi eh
kebijakan itu harus relevan dengan apa
yang ada di kondisi kita masing-masing
gitu ya.
No policy works everywhere but policy
works in context ya. Sekali lagi
relevansi. Jadi smart policy kita bicara
kalau bicara smart gitu ya bukan yang
paling canggih bukan. Kalau kebijakan
yang paling membingungkan masyarakat
gitu ya ee oh ini berarti smart nih
polisinya enggak gitu. Tapi kebijakan
yang paling bijak dan yang berdampak
dari mana dia bisa keluar? Dari cara
berpikir yang jernih ya. Lahirlah
keputusan yang adil, efektif dan
berkelanjutan.
Ya,
good policy starts with good thinking
and good thinking starts with humility
to learn keinginan kita, kerendahan hati
kita untuk terus belajar. Pemerintah
enggak boleh sombong, enggak boleh
mentang-mentang gitu ya. Merasa paling
tahu, merasa paling benar. Saya kira
kita harus belajar dari banyak hal,
bahkan dari masyarakatnya bahkan harum
itu yang nomor satu malah.
Nah, caranya gimana? Salah satunya kita
bisa menggunakan scoping immersion
namanya ya. Kita immer dengan
masyarakat.
Tinggalkan kunjungan-kunjungan apa
daerah apa kunjungan kerja dan mbok kita
ayo kita ke terjun ke masyarakat
langsung kita merasakan apa yang apa
masyarakat rasakan. Nah dengan demikian
kita bisa berpikirnya dengan jernih. I
Bapak sekalian
nah di foto ini ya. Sekarang kita eranya
apa? Sekarang bisa beralih ke era energi
terbarukan, mobil listrik. Sekarang
kalau kita beli mobil listrik misalnya,
maka yang harus kita lakukan apa? Kita
beli, kita pasang meter itu di listrik,
di rumah, ya, dan seterusnya. Di sana
kalau pemerintah itu mau lebih
mendorong, lebih wise gitu, tiang-tiang
listrik itu kan ada listriknya.
tiang-tiang lampu ya, tiang lampu di
jalan, lampu jalan ya, bukan tiang lampu
jalan itu kan ada listrik
di UK itu sudah di
lakukan seperti ini, Bapak. Jadi orang
ngecas itu enggak ke SPKLU ya, enggak ke
pomension di mana pun dia ya itu kalau
pemerintah kita mau serius ya mendorong
energi ee terbarukan
ya. Nah, ini adalah contoh bahwa yuk
kita ke mana kita mau bergerak.
Nah, ini saya tutup dengan eh Einstein
lagi ya.
Einstein katakan ya, "We cannot solve
our problems with the same thinking we
use when we created it." Jadi
cara berpikir kita harus berubah.
Mungkin nanti e dari sisi psikologi ya,
Bu.
Materi yang pertama sudah diuraikan oleh
Pakarto ya. pendekatan makro. Di sini
kita melihat ee bagaimana di tataran
organisasi dirumuskan kebijakan publik
yang didasarkan pada proses berpikir
bijak dan smart. Ya, kemudian Pak Deni
Yunanto tadi juga memberikan ee
penjelasan di level MESO atau level
menengah. Di sini kita lihat, kita
pelajari bersama-sama bagaimana ASN
sebagai bagian dari sistem organisasi
menerapkan smart thinking dalam
perumusan program yang berdampak pada
masyarakat. Tadi simpel aja indikatornya
gimana sih ee cara kita lihat kalau apa
yang kita lakukan itu sudah melalui
proses smart thinking atau belum. tadi
dijawab oleh Pak Deni, simpel saja
dilihat dampaknya di masyarakat. Apakah
mereka merasakan dampak tersebut atau
tidak dari apa yang kita lakukan. Jika
dampaknya positif tentunya Bapak, Ibu
sekalian sudah menerapkan proses smart
thinking dalam merumuskan dan kemudian
merealisasikan apa yang ada di pikiran
Bapak Ibu sekalian. Nah, yang saya
jelaskan di sini adalah pendekatan
mikronya.
Nah, orang psikologi sukanya yang
mikro-mikro ya, kecil tapi indah gitu.
Ee maksudnya mikro di sini adalah
bagaimana Bapak Ibu sebagai ASN atau
sebagai individu di sini
mengidentifikasi
karakter bijak dalam dirinya dan
bagaimana ee proses berpikir bijak itu
dilakukan. Ya, nantinya kita akan
mempelajari bersama di sini apa yang
dimaksud dengan berpikir bijak. Kemudian
apa saja karakteristik individu yang
bijak serta bagaimana berpikir bijak dan
pengambilan keputusan itu ee punya
keterkaitan satu sama lain.
Silakan lanjut.
Nah, yang pertama kita lihat dulu ya
konsep kebijakan nih apa sih gitu.
Kebijakan kebijaksanaan ya bukan polusi
ya. Wisdom itu pengertiannya adalah
kecerdasan. individu.
Tiap diri Bapak Ibu sekalian punya
kebijaksanaan ini dan ini berlaku umum.
Lintas budaya, lintas usia punya, kita
semua punya. Dan ini termasuk dalam ee
psychological capital ya. Kalau saya
boleh bilang dari ee sudut pandang
psikologi ini adalah modal psikologis
kita yang harus kita kelola dengan baik
supaya ee bisa dimanfaatkan
dengan ee nilai dampak yang
sebesar-besarnya ya.
Jadi kebijaksanaan
merupakan kecerdasan individu
menggunakan
pikirannya berdasarkan pada pengalaman
dan pengetahuan sebelumnya.
Tadi saya masih ingat ya, ada quot-nya
Einstein bahwa setelah kita
menyelesaikan persoalan ya, kita enggak
menggunakan cara yang sama untuk melihat
persoalan yang lain. Kenapa? karena kita
sudah mengalami proses pembelajaran dan
tambahan pengetahuan yang harusnya tidak
sama dengan kondisi awal ketika kita
menelaah sebuah persoalan ya. Kemudian
dalam proses ee pembentukan
kebijaksanaan dalam diri kita ya ada
proses ini kenapa ya monitornya kok
kejang-kejang begini ya? Jangan-jangan
trouble juga ya.
Baik, Ibu. Ee aman, Ibu di sini
masih bisa
di sini aman sih? Aman ya?
Baik, saya lanjutkan. Heeh. Kok saya
lihat di sini monitornya kejang-kejang
gitu, ya.
Oke, saya lanjutkan ya. Jadi, ada proses
integrasi. Integrasi ini berarti
sinkronisasi ya, keselarasan antara
pikiran, perasaan, dan perbuatan.
Jadi ini harus dalam satu garis yang
sama. Apa yang kita pikirkan, apa yang
kita rasakan, dan apa yang kita lakukan
hendaknya sejalan. Kalau kita memang ee
ingin mengidentifikasi apakah diri kita
itu memiliki kebijaksanaan atau tidak,
gitu ya.
juga ada keinginan untuk mengevaluasi
diri kita sendiri ya
ketika kita mengevaluasi
atau melihat sebuah persoalan.
Dan uniknya
di Indonesia ini Sahrani dan Dharma
tahun 2022 ini melakukan penelitian ya
tentang ee bagaimana cara bagaimana
kebijaksanaan itu dirumuskan di
Indonesia yang spesifik di budaya
Indonesia.
Karena Indonesia itu budayanya adalah
kolektivism
sehingga kita itu selalu berpegang teguh
untuk menjaga
keselarasan antara kita dengan
lingkungan kita. Ya, maka kebijaksanaan
ditujukan untuk menciptakan kondisi
selaras antara individu dan
lingkungannya.
Ya. Jadi ini yang dimaksud dengan
kebijaksanaan.
Ini adalah potensi psikologis kita,
modal psikologis kita yang berguna ya ee
sebagai bahan kita untuk
bersifat resilien, tahan terhadap segala
jenis tantangan, tahan terhadap segala
jenis persoalan dan ee situasi yang
kritis. ini termasuk di dalamnya
psychological capital ini.
Mohon dilanjutkan ke slide berikutnya.
Nah, masih menurut Sahrani dan Dharma
tadi ya. Jadi kalau di Indonesia ee ada
tiga faktor kebijaksanaan.
Yang pertama adalah smart thinking.
Smart thinking yang kita bahas ya pada
hari ini gitu. Jadi betul panitia
menuliskan bahwa smart thinking ini from
smart thinking akhirnya bisa keluar ee
pembuatan kebijaksanaan yang didasarkan
pada kebijaksanaan gitu ya. Karena
memang elemen dari kebijaksanaan yang
pertama adalah berpikir cerdas, smart
thinking. Tapi tidak cukup hanya itu
saja ya Bapak Ibu. harusnya juga
dilengkapi dengan positif personality,
kepribadian Bapak, Ibu yang positif dan
kemudian bagaimana Bapak Ibu melakukan
sebuah tindakan yang dapat dipercaya
atau reliability in acting. Tiga
komponen ini yang mendefinisikan
bagaimana konsep kebijaksanaan
itu spesifik ada di dalam budaya
masyarakat kita. Secara umum tiga faktor
ini juga ditemukan ya, tapi ee
proporsinya akan berbeda-beda di setiap
budaya. Kalau di Indonesia proporsi
terbesarnya ada pada smart thinking.
Jadi saya rasa sudah tepat ya eh BPSDM
membuat TOR ee belajar bersama pada sesi
ini untuk di smart thinking karena
memang itu adalah eh komponen yang
paling penting untuk membentuk pola
pikir bijaksana.
Selanjutnya.
Nah, di sini yang dimaksud dengan smart
thinking. Saya minta Bapak Ibu juga
melakukan proses ee refleksi gitu ya.
Apakah saya memiliki ini gitu
karena saya yakin Bapak Ibu nanti akan
berhadapan dengan ee masyarakat, dengan
komunitas. Coba dipikirkan kembali
karena di sini adalah bagian saya
menjelaskan secara mikro gitu ya. Apakah
benar Bapak, Ibu memiliki
karakteristik-karakteristik seperti ini?
Ya, yang dimaksud dengan smart thinking
ya, Bapak, Ibu punya prinsip yang kuat,
punya kepemimpinan untuk dirinya
sendiri, bisa mengelola dirinya sendiri
dengan baik, ya. Kemudian bisa dijadikan
contoh panutan bagi masyarakat. coba
diintrospeksi apakah ee karakteristik
seperti ini ada pada diri Bapak dan Ibu
sekalian. Kalau ada aman ya. Kemudian
juga tidak mudah menyerah ya, konsisten
terhadap tujuannya.
Kalau menghadapi hambatan ketika
menghadapi masyarakat yang susah untuk
didekati, Bapak, Ibu tetap dengan
tujuannya menggunakan strategi yang
berbeda, berpikir ulang, kemudian juga
ee
tetap ya pada tujuan dan target yang
ingin dicapai.
cerdas, kompeten berpikiran maju ya,
terbuka, kritis,
kemudian juga memiliki pengetahuan yang
bisa diandalkan. Bapak, Ibu dapat
memberikan pencerahan kepada stakeholder
terpenting ee dalam pekerjaan Bapak, Ibu
yaitu masyarakat ya. Kemudian juga
berpengalaman menunjukkan pengalaman
yang memuaskan ketika
berhadapan dengan masyarakat dan
memberikan pelayanan.
Bapak, Ibu juga hendaknya memiliki
kemampuan untuk memberikan
saran, memberikan masukan kepada orang
lain, baik itu kepada masyarakat, kepada
rekan kerja Bapak Ibu sekalian, juga
kepada organisasi.
Kemudian kemampuan untuk mengevaluasi
diri Bapak Ibu sendirian. Bapak Ibu
sendiri ya mengetahui apa kekuatan dan
kelemahannya ya. Saya kira ini adalah
karakteristik ee idaman ya semua ASN.
Kebetulan saya juga terlibat dalam
pembuatan ee soal seleksi CASN ya. Kami
para psikolog di Indonesia biasanya
dikirim ke Jakarta setiap tahun untuk ee
merumuskan apa saja karakteristik
sosiokultural yang diharapkan ada dalam
diri ASN ya. sehingga kami buat soalnya
berupa ee situational judgment test
dengan menggunakan indikator ee perilaku
yang sudah menjadi baku ya, sudah
menjadi standar utama di situ.
Selanjutnya mohon di
lanjutkan.
Nah,
komponen yang kedua adalah kepribadian
yang positif. Ya, di sini coba
ditelusuri Bapak Ibu sekalian apakah
Bapak Ibu memiliki
perhatian atau ketertarikan ya terhadap
persoalan publik daripada diri kita
sendiri. Ya, coba dilihat apakah ketika
kita berinteraksi
apakah kita masih mengedepankan
kepentingan diri sendiri. Saya harap
tidak ya, karena itu bukan bagian dari
kepribadian yang positif. Kemudian taat
pada aturan.
Bapak, Ibu juga hendaknya punya
kepribadian yang rendah hati ya. Ee
kalau kita menampilkan hedonisme itu
saya kira jauh sekali ya dari ee rendah
hati gitu ya. Kemudian ee berbicara
secara halus ee tahu pendekatan yang
tepat untuk berbicara kepada publik.
tentunya publik yang akan dihadapi oleh
Bapak Ibu punya segmentasi yang
berbeda-beda dengan dan membutuhkan
strategi berbicara yang variatif juga
sopan ya, kemudian ramah dan kalem gitu
ya. Jadi enggak mudah terpicu
ee emosinya.
Bapak, Ibu hendaknya sebagai bagian dari
kepribadian positif ini juga ee
senang ya membantu orang lain. Jadi,
kami juga ada indikator untuk ASN itu em
concern to others need ya. Jadi
keinginan kita untuk
merespon kebutuhan orang lain ya. Jadi
kepekaan kita terhadap kebutuhan orang
lain. Kemudian juga rela untuk berkorban
ya punya
passion atau punya ketertarikan,
semangat untuk memberikan pelayanan yang
terbaik terhadap orang lain.
Simpel ya, tidak mengada-ada
ya. Saya paham untuk ASN yang sekarang
di Jensi pasti punya second account ya
yang tidak bisa diakses oleh atasannya
gitu. Tapi hati-hati second account Anda
ee pada saatnya juga akan bisa merubah
kepribadian Anda gitu ya. Jadi lebih
baik kalau punya account ya sudah cukup
satu saja hidup seadanya. Memang itu
harus selaras antara apa yang Anda
pikirkan yang Anda lakukan ya. mudah
memaafkan ya, mau memaafkan orang lain.
Nah, ini tadi berkaitan dengan ego
lintas oral atau kalau yang dikenal di
konsep psikologi namanya silentality ya.
Kita enggak mau kolaborasi sama bagian
yang lain karena kita ngerasa kalau
bagian kerja kita ini yang paling ngasih
kontribusi yang paling oke gitu ya buat
ee perusahaan. Padahal kan tidak
semestinya seperti itu. Kita harus mau
berkolaborasi gitu ya. Kemudian
mencintai ee kedamaian
juga bisa memahami apa yang menjadi
persoalan orang lain. Bertanggung jawab
konsisten, memiliki komitmen yang kuat
gitu ya. Kemudian mempertahankan
integritas Bapak Ibu ketika bekerja.
percaya diri ee mampu untuk
mengekspresikan pendapatnya, menyatakan
pendapatnya,
mandiri, mudah untuk beradaptasi,
berempati. Ya, sekali lagi ini kaitannya
dengan bagaimana kita memahami apa yang
dialami oleh orang lain, baik itu
masyarakat yang langsung terkena imbas
dari pekerjaan kita gitu ya, ataupun
rekan kita yang terdekat di organisasi.
Kita lanjut ke komponen yang ketiga.
Nah, di sini Bapak Ibu harus ada
konsistensi antara apa yang Bapak Ibu
pikirkan dan apa yang Bapak Ibu lakukan
ya.
Pertama di sini Bapak Ibu harus memiliki
kemampuan untuk melihat sebuah persoalan
dari berbagai sudut pandang ya. Kemudian
secara hati-hati merumuskan respon apa
yang tepat.
Silakan dipikirkan apa dampak dari
keputusan yang Bapak Ibu ambil.
Berhati-hatilah di situ. Manajemen
risiko harus tetap dikedepankan. Apa
yang terjadi jika saya jalankan ini?
Siapa yang terdampak? Dampak positifnya
apa? Dampak negatifnya apa? Ya. Kemudian
berani mengambil keputusan yang memang
seharusnya untuk menyelesaikan sebuah
persoalan.
Di sini juga Bapak Ibu diharapkan
untuk bisa mengontrol emosi ya. Jadi
kecerdasan emosi pun di sini juga ee
ikut berperan ya, Bapak, Ibu. Ee harus
bisa berpikir positif gitu ya. Bisa jadi
program yang Bapak Ibu jalankan saat ini
tidak terlihat tidak bermakna gitu ya ee
kalau dibandingin dibandingin dengan apa
yang dilakukan oleh rekan-rekan Bapak
Ibu sekalian. Tapi sekali lagi jangan
dilihat seperti itu karena yang menjadi
patokan kita adalah ee apakah yang kita
lakukan itu punya dampak yang positif.
terhadap masyarakat tu.
Kemudian juga Bapak Ibu harus menghargai
ee diri sendiri dan juga orang lain jika
mengalami kegagalan.
Ee jangan melabel bahwa Bapak Ibu tidak
becus, tidak kompeten. Coba dilihat
apakah situasinya sama pendekatan tadi
yang diajarkan oleh Pak Deni gitu ya.
Jangan-jangan ee situasinya sudah
berbeda. Jadi bangku yang tadinya punya
kaki tiga itu salah satunya tidak
seimbang gitu. Jadi kita evaluasi belum
tentu pendekatan yang sama bisa
diterapkan pada situasi yang kita hadapi
saat ini. Ya, Bapak Ibu juga diminta
untuk bisa bekerja bersama mendengarkan
orang lain pendapatnya seperti apa,
termasuk mendapatkan masukan dari
masyarakat. Jika memang ada yang salah
ya kita mengaku saja bahwa kita salah
mungkin melakukan diagnosis di awal.
Kemudian juga ee salah mungkin dalam hal
teknis ada kekurangan kita akui kemudian
kita minta maaf kepada masyarakat. ee
kemudian kita minta saran kepada mereka
bagaimana cara memperbaiki pendekatan
yang paling efektif seperti apa. Nah,
ini adalah karakteristik dari ee
kebijaksanaan ya, Bapak Ibu. Jadi, ada
tiga komponen yang saya jelaskan
sebelumnya.
Kita lanjut.
Nah, kebijaksanaan dan pengambilan
keputusan itu berkaitan satu sama lain.
Tadi sudah dijelaskan di level MESO ya
oleh Pak Deni. Itu di sini ada dua
model kebijaksanaan. Yang pertama
analitikal. Analytical itu proses kita
berpikir dengan m-breakdown sebuah
persoalan yang ee besar menjadi
bagian-bagian yang kecil dengan
menggunakan database. Tadinya ee tadi
sempat saya lihat gitu ya, data yang
digunakan adalah big data kalau sekarang
sehingga kita bisa punya wawasan gitu
ya. ee data tersebut
bisa kita gunakan untuk mengambil sebuah
kebijakan yang dampaknya bisa lebih
dirasakan.
Kemudian kemampuan kita untuk berpikir
abstrak. Di sini maksudnya berpikir
abstrak adalah membayangkan bahwa
setelah kita pilah menjadi hal yang
kecil-kecil ya, apakah faktor ini punya
ee hubungan sebab akibat atau mungkin
menjadi bagian dari faktor yang lainnya.
Ini adalah kemampuan kita untuk berpikir
abstrak. Yang kedua, model kebijaksanaan
adalah sintetik. ya sintetik ini
kemampuan untuk menyimpulkan kita
melakukan refleksi terhadap
elemen-elemen kecil itu tadi ya. Setelah
data itu kita pilihpilih ee pilah-pilah
gitu ya menjadi data yang kecil kita
ambil kesimpulannya.
Kemudian juga eh emotional empat gitu
ya, kepedulian kita. Jadi ini adalah
bagian dari konteks kontekstualnya kita
melakukan ee pemahaman terhadap konteks
permasalahan. Kita kaitkan dengan
datanya seperti apa ya. Nah, yang
menarik ini dari penelitian Takahasi
gitu ya.
Di lintas budaya ya usia menentukan cara
kita menerapkan model kebijaksanaan yang
mana ya. Jadi kalau di Indonesia tadi
angka harapan hidupnya sampai dengan 75.
Ini penelitian ini ada di US dan Jepang
gitu ya. US dan Jepang sama saja ee pada
usia
dewasa lanjut ya
yang banyak difungsikan di sini adalah
proses berpikir sintetisnya
menjadi hal yang wajar karena di usia
ini Bapak Ibu sekalian sudah punya
pengalaman hidup yang banyak gitu ya.
usia dewasa lanjut. Kalau di Indonesia
ee dewasa lanjut itu dimulai usia 55 ke
atas gitu ya. Dan punya helicopter view
ya karena sudah mengalami berbagai
pengalaman ups and down gitu ya. Jadi
paham oh kalau seperti ini berarti nanti
apa yang akan terjadi gitu. Nah kalau di
middle age yang rata-rata usianya 45
tahun yang banyak dipakai adalah proses
berpikir analitiknya.
Nah, kaitannya apa dalam perilaku kerja
Bapak Ibu di lingkungan ASN? Ya, akan
menjadi sangat harmonis jika Bapak Ibu
ketika melibatkan proses berpikir
seperti ini meminta masukan ya dari
pihak-pihak yang sudah punya pengalaman
yang lebih kompeten untuk menelaah
sebuah persoalan dan merumuskan
kebijakan.
karena proses berpikirnya beda. Kecuali
Bapak Ibu ee setelah ini paham bahwa oh
saya berarti harus mulai melatih proses
berpikir sintetis saya gitu ya. Ee mulai
melihat dan mempelajari data dengan
lebih komprehensif dibandingkan proses
berpikir analitiknya.
Nah, ini yang bisa saya sampaikan dari
pendekatan individu ya ee dari segi
bagaimana karakteristik berpikir kritis
ada dalam diri Bapak dan Ibu sekalian
sebagai ASN. Silakan jika ada yang mau
ditanyakan. Ini adalah referensinya ya
Bapak Ibu. Kalau mau mendalami boleh di
halaman selanjutnya panitia.
Ya, ini adalah referasinya. Sahrani dan
Dharma ini adalah peneliti di Indonesia.
Jadi, dia menjelaskan bagaimana
karakteristik kebijaksanaan itu bisa
berbeda ya di lintas budaya. Tapi temuan
mereka semua mengkonfirmasi bahwa
elemennya tetap sama di tiga itu tadi.
Hanya memang karakteristiknya dijabarkan
secara lebih rinci.
Silakan Bapak Ibu jika ada yang ingin
ditanyakan. Saya kembalikan kepada
selaku moderator untuk memandu.
Baik, terima kasih Bu Gresi untuk
pemaparan materi di segmen ketiga ini
ya. Jadi untuk sobat ASN seluruhnya yang
siang hari ini sudah mengikuti dari awal
narsum pertama hingga narsum ketiga ini,
kami persilakan untuk di segmen ketiga
ini. Apabila ada yang ingin bertanya
lewat ee kolom komentar atau mungkin mau
bertanya langsung dengan Ibu Gresi kami
persilakan. Jangan lupa sekali lagi saya
ingatkan untuk sobat ASN mengisi absen
di semestabangkom.id
ya. Dan untuk seluruh penanya yang sudah
bertanya pada webinar seri ee webinar
ASN seri 2026 ini nantinya akan
mendapatkan souvenir. Jadi silakan
kepada Bapak Ibu apakah sudah ada yang
mau bertanya
mungkin.
Baik, sambil saya tunggu Bapak Ibu yang
mau bertanya kepada Bu Gresi ya, Ibu.
Saya mungkin mau sedikit cit karena
sepertinya kita tetanggaan ya, Bu ya.
Oh iya.
Oh iya. Ibu di Kenjeran ya.
Tangan di mana, Mbak?
Iya saya di Surabaya
Utara atau timur ya komplek itu ya Pak.
Oh
situ.
BPSDM di mana ya ini ya kantornya ya?
Kalau BPSDM sendiri di Surabaya Barat.
Surabaya Barat.
Saya seringnya main ke BKD itu nantin
mahasiswa praktik di situ.
Silakan nih sudah ada yang mau nanya ya.
Baik, sudah ada satu pertanyaan dari
Bapak Maulana Bintang Bahari dari
instansi Pengadilan Tinggi
Tuin. Betul Surabaya.
Silakan Pak.
Iya betul Bu. Pengadilan Tinggi Tun.
Iya. Silakan Pak I. Halo. Aman. Suaranya
jelas.
Suara saya masuk ya, Bu.
Masuk. Oke, Bu. Eh, Ibu eh izin
bertanya. Tadi Ibu kan mmention beberapa
hal. Yang pertama adalah two modes of
wisdom yang di dalamnya ada the ada
analytical sama the sintetic gitu ya.
Kalau misalkan tadi kan Ibu sebutkan
misalkan eh the analytical itu cara
mengolah apa? Berpikirnya menggunakan
database eh database ataupun eh
reasoningreasoning begitu. Kemudian
desintetik itu lebih ke empat dan
emotional regulation. Nah, nah yang saya
tanyakan ee untuk menggunakan dua mode
ini ee itu kapan kita bisa menentukan oh
ee kayaknya this time ini ee adalah saat
yang tepat untuk kita menggunakan cara
berpikir yang analitikal atau kayaknya
saat ini tuh lebih tepatnya kita untuk
ee mengambil polisi itu menggunakan ee
yang mode sintetik itu kapan dan
bagaimana kita menentukan
kriteria-kriteria case-case tertentu
yang ketika kita harus ambil satu polay
ee kita oh ini indikatornya ini
sebaiknya kalau kasusnya seperti ini
kita harus menggunakan e the the
analytical way atau oh kalau misalkan
kasusnya seperti ini ya I think it's
better ketika kita gunakan the synthetic
eh synthetic way gitu menggunakan
empathy emotional regulation. Nah, itu
pertanyaan saya yang pertama. Kemudian
yang kedua, tadi Bu juga menyjung soal
positif personality. Yang saya mau
tanyakan eh apakah positif personality
itu merupakan sifat bawaan ataukah
positif personality itu hasil dari
konstruksi sosial, Bu? Gitu. Lanjutannya
saya juga mau bertanya, Bu. Bagaimana
sebenarnya kepribadian positif itu
berpengaruh pada proses pengambilan
keputusan dalam diri seseorang gitu?
Terima kasih.
Baik, silakan.
Baik, pertanyaannya diborong tiga ya,
Pak ya.
Yang pertama kondisi apa yang jadikan
panduan gitu ya, bahwa kita waktunya
menggunakan proses analytical ataukah
sintetik.
Pertama dilihat dulu dari segi
keterbaruan sebuah persoalan. Jika itu
adalah persoalan yang baru, kita belum
punya database yang banyak di situ kita
tidak bisa berpikir reduksionis dengan
menggunakan sintetis. Tentunya kita juga
harus mengeksplorasi
data-data lain ya yang bisa kita jadikan
acuan untuk memandu kita merumuskan
sebuah kebijakan. Tapi jika novelty-nya
itu enggak ada, ini adalah persoalan
yang berulang ya, Bapak, Ibu dapat
menerapkan proses berpikir yang sifatnya
sintetik. Sintetik di sini maksudnya
kita melakukan ekstrapolasi. Kemarin
pendekatannya apa yang berhasil, apa
yang tidak gitu ya. Kemudian kalau
diterapkan sekarang kondisinya apakah
masih sama? Kondisinya seperti itu
kemudian sukses faktornya seperti apa?
Fil factornya seperti apa? jika mungkin
diterapkan cara yang sama, tingkat
efektivitasnya seperti apa?
Pertama dari segi novelty-nya, ya.
Kemudian yang kedua, novelty of the
problem. Yang kedua, kondisi yang harus
kita pertimbangkan adalah maturity dari
anggota atau tim yang kita ajak untuk
bekerja sama.
Nah, Bapak, Ibu hendaknya lihat bersama
di situ apakah
ee stakeholder yang terlibat dengan
pekerjaan Bapak, Ibu ketika berhubungan
dengan proses pengambilan keputusan ini
ya punya tingkat kematangan yang tinggi
atau tidak. Tingkat kematangan itu
dilihat dari bagaimana mereka memahami
informasi yang ada dalam sebuah
organisasi tersebut dan bagaimana mereka
mempersepsikan informasi itu untuk
digunakan. ee memproses sebuah
permasalahan.
Nah, kalau tingkat maturity-nya itu
rendah ya,
Bapak, Ibu dapat langsung menggunakan
proses berpikir yang sintetik. Dalam hal
ini kita bisa lebih ee oto otoriter ya
untuk mengatakan datanya kita pakai ini
saja, tidak usah melebar ke mana-mana,
silakan dipahami.
Akan tetapi jika stakeholder Bapak Ibu
punya tingkat kematangan yang tinggi ya
silakan digunakan proses brainstorming.
kita analisis bareng-bareng Anda punya
data apa dari seksi itu punya data apa
kita padu padankan ya karena tingkat
pemahaman mereka terhadap informasi dan
data itu sudah baik
ya. Jadi itu menjawab pertanyaan yang ee
pertama Pak Maulana ya. Ini kayaknya
trouble network ya. Kok saya keluar
kayak nge-freeze gitu
Mbak Yuris baik-baik saja kah? Aman, Bu.
Aman. Aman. Terjelas. Clear. Terdengar
di sini.
Oke. Ya. Ee terus tadi yang kedua apa,
ya, Pak Maulana? Ya,
positif personality ya tadi ya.
Iya, Bu. Positive personality.
Positive personality itu apakah
personality
sifat bawaan atau
ya I apakah itu sifat bawaan atau ya
hasil konstruksi sosial.
Oke. Kepribadian pada prinsipnya
merupakan karakteristik yang sifatnya
menetap. Tapi kami di psikologi percaya
bahwa kepribadian merupakan fungsi dari
ee dan individu dan lingkungan yang
membentuk ya. Sehingga makanya dibilang
relatif menetap. Jadi enggak ada ya
pakemnya bilang kalau orang
berkepribadian sulit itu entar entar dia
juga mulai dari level pelaksana sampai
kepala bagian akan sulit terus. tidak
tergantung pada bagaimana dia disemai di
lingkungan yang seperti apa ya.
Lingkungan yang supportif dia memberikan
ee memfasilitasi orang untuk berkembang
tentunya juga akan berkontribusi
terhadap perubahan kepribadiannya ya.
Tapi kalau lingkungannya negatif
misalnya prestasi kerjanya enggak ada ee
pengakuannya gitu ya, yang berprestasi
malah banyak disyirikin, dikasih kerjaan
yang benar-benar enggak enak gitu ya,
enggak berhenti berhenti kerjaannya ya.
Berarti dia akan ada di lingkungan yang
pupuknya tidak baik gitu ya. Maka dia
akan berkembang ee negatif terus
kepribadiannya. Jadi tidak bersifat
menetap, tergantung di lingkungan mana
Bapak Ibu ee berada
tadi. Terus pertanyaan yang ketiga ee
apa ya Mas Maulana?
Ee itu tadi Bu, kalau misalkan eh
positif personality itu kan Ibu barusan
jawab bahwa dia tidak menetap artinya ee
sangat tidak harus tergantung dari ee
lingkungannya. Kemudian pertanyaan
berikutnya eh bagaimana eh positif
personality itu berpengaruh pada proses
pengambilan keputusan yang sulit?
Iya.
Bagaimana kepribadian bisa berpengaruh
terhadap proses pengambilan keputusan?
Ee sebenarnya proses pengambilan
keputusan tidak banyak terkait dengan
kepribadian kita ya, tapi pada fungsi
kognitif kita, Pak. kemampuan kita untuk
menganalisis, mengintegrasikan data,
kemudian menyatukan data itu kembali
gitu ya. Akan tetapi proses pengambilan
keputusan kita akan sangat dipengaruhi
oleh sikap, attitude.
Dalam attitude tersebut juga eh ada
kepribadian yang berpengaruh. Salah satu
contohnya di big personality itu ada
kepribadian namanya agreableness.
Agabel itu adalah kecenderungan individu
untuk bersikap setuju, tidak kritis.
Karena dia kalau bahasa anak sekarang
namanya people pleasure ya. Jadi
kecenderungan untuk udahlah pokoknya
asal disepakatin aja daripada nyari
konflik sama yang lain gitu. Nah, ini
yang membentuk
sikap kita terhadap suatu persoalan.
Sikap itu merupakan penilaian kita
terhadap sebuah persoalan ya.
Mempengaruhi sikap kita. Kalau kita
punya kepribadian agreableness itu pada
akhirnya ketika kita dihadapkan pada
persoalan misalnya ya ee misalnya kalau
di tempat Bapak apa ya ee PTUN ya.
Intinya pada saat dihadapkan pada sebuah
persoalan,
kita enggak lagi berpikir bahwa kita ada
di pihak yang kritis untuk menyelesaikan
atau memberikan solusi terhadap sebuah
persoalan. Kita akan melihat orang-orang
ngelihat persoalan itu kayak gimana sih?
Oh, setuju. Kalau setuju ngapain saya
rasa bahwa saya harus enggak setuju gitu
kan. Meskipun sebenarnya setuju itu
melawan prinsipnya dia, tapi karena dia
punya agraabess yang tinggi, dia people
pleasure, dia enggak mau mengecewakan
orang lain, pada akhirnya dia akan
mengikut pendapat yang terbanyak seperti
itu. Itu, Pak. Contohnya bagaimana
kepribadian juga sedikit berkontribusi
terhadap proses pengambilan keputusan.
saya bilang sedikit karena sebenarnya
yang berperan banyak di sini adalah
proses atau kemampuan kognitif kita.
Baik, sudah terjawab ya Mas Maulana
untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah
diberi dan juga nomor WhatsApp-nya ya,
Mas ya di kolom chat, di kolom komentar.
Baik, Ibu Gra
ya. Di chat.
Oh, di kolom chat.
Di kolom chat. Betul di kolom chat.
Oke, eh terima kasih sudah berkenan
menjawab pertanyaan dari sobat ASN pada
siang hari ini. Dan untuk closing materi
ketiga kali ini Bu kami silakan.
Baik untuk closing statement-nya Sobat
ASN
dengan mempelajari apa itu karakteristik
kebijaksanaan. Saya harap Sobat ASN juga
bisa
mengidentifikasi ya karakteristik apa
yang ada untuk kemudian dioptimalkan
untuk membentuk karakter ASN yang
bijak, menerapkan cara berpikir yang
cerdas gitu ya. kemudian juga memiliki
kepribadian yang positif serta memiliki
tindakan yang konsisten dengan apa yang
dipikirkan. Saya sangat berharap ee pada
materi yang saya sampaikan kali ini bisa
membantu para sobat ASN untuk
mengidentifikasi
karakteristik dalam diri masing-masing
sehingga kita tahu apa saja yang harus
kita tonjolkan ketika kita melakukan
pelayanan terhadap publik. memenuhi
kebutuhan komunitas dan masyarakat di
sekitar kita. Itu Mbak yang bisa saya
sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon
maaf dan terima kasih atas kesempatan
yang diberikan. Terima kasih Mbak Yuris.
Dengan senang hati Bu Gresi. Sampai
ketemu lagi mungkin di seri webinar ASN
belajar yang selanjut-selanjutnya.
Terima kasih. Salam sehat, salam hormat
untuk keluarga.
Salam sehat untuk semuanya, Sobat ASN.
Baik, untuk seluruh sobat ASN yang
sampai saat ini masih tetap ee menyimak
seluruh rangkaian acara, seluruh materi
yang diberikan oleh para narasumber dan
juga harapan saya, harapan kami di sini
seluruh materi ini bisa membawa dampak,
membawa manfaat ya. karena semua materi
yang diberikan oleh para narasumber
sangat-sangat insightful sekali. Nah,
sekali lagi jangan lupa untuk yang belum
absen silakan absen terlebih dahulu di
semestabangkom.id
ya
karena nanti bisa tidak mendapatkan
sertifikat kalau enggak absen ya. dan
juga kepada seluruh penanya
saya ingatkan sekali lagi untuk tidak
lupa menulis nama lalu dari instansi
mana dan juga ee nomor telepon atau
nomor WhatsApp yang bisa dihubungi untuk
pengiriman souvenir atau merchandise
dari BPSDM Jawa Timur. Untuk itu
langsung saja saya akhiri webinar ASN
belajar seri 2 2026 kali ini. Saya Yuri
Sabrina pamit. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Berhak kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri. Memerasi
melayan bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hindi.
Suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
telah
berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya.
Kalau ada dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragam
mengerjas penuh hati tulus membantu
sesama bila kami melayani
bangah kami melayani
kami melayani
B