File TXT tidak ditemukan.
ASN Belajar Seri 1 | 2026 - Start with Smart – From Learning to Impact
AeGs6j9eeTQ • 2026-01-15
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat. [musik]
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala [musik] tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu [musik] inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap menyongsong Indonesia [musik] emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan [musik]
berkelas dunia lakukan tekad pantang
[musik] menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
perintah
selaku dunia
tekat [musik] pantang menyerah
jadi
berkuit
sama
[musik]
semangat membara
di era digital [musik] terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cembalak [musik] Jawa Timur
terus melaju bersama BPSTN [musik]
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas [musik] prestasi hebat ASN unggut
[musik]
Tiada yang tertinggal. No one left
behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif [musik] tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur [musik]
terus melayu. Bersama BPSDM
Jatim kita terus [musik]
melesat. Untuk Indonesia emas [musik]
prestasi her aset unggur tiada [musik]
yang tak tinggal
no one left behind. Kita terus [musik]
melangkah
berkolaborasi [musik]
inisiatif tinggi
inovasi cemalah Jawa Timur [musik] terus
melaju.
Bersama BPSDM [musik]
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas prestasi [musik]
hebat bersama kampus satelit PPSM
[musik]
Jatim no one left behind ASN [musik]
unggul dan berkualitas
melesar tinggi
Indonesia jaya
[musik]
bersama membangun asa
menuju [musik] cipta yang mulia
kami hadirkan Kami [musik] berkarya
untuk Jawa Timur yang berjaya.
Langkah pasti [musik] menitipi zaman
dengan semangat pembaruan. [musik]
Ilmu dedikasi dan harapan [musik]
menjadi bekal masa depan.
PPS Temen Jatim Pusat unggulan.
Tempat lahirnya insan [musik]
berkualitas.
Mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas tuh inovasi
bersatu dalam visi [musik]
yang terang menjawab tantangan jangan
gemilang [musik]
PPSDM Jawa Timur Center [musik] of
Sensilang
[musik]
bersama membangun asa [musik]
menuju cita yang mulia.
Kami [musik] hadir, kami berkarya untuk
Jawa Timur yang berjaya.
Langkah pasti [musik] mengiti zaman
dengan semangat pembaruan, [musik]
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal [musik] masa depan.
BPSM Japin pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencet [musik] STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi [musik]
bersatu dalam visi yang terang [musik]
menjawab tantangan jangan gemilang.
PPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
[musik] depan gemilang
[musik]
Kami mencoba [musik] menjadi yang
terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Mudahlah kami junjung [musik] taguhkan
diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
[musik] Hadir di sini untuk mengabdi
laksanakan tugas.
Kebanggaan negeri
situs melayani bangsa dengan
akuntabilitas [musik]
tinggi.
Hong
kami di [musik] sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
[musik]
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya
dan berkolaborasi
bergandeng tangan [musik]
satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak [musik]
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
[musik]
bangsa
[musik]
Kami dari sini [musik]
tegas dengan hati.
Tujukan kompetensi [musik] dalam
harmoni.
Bangsa loyal tanpa [musik] batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan [musik]
ASN lebih beragama.
mengerjas penuh hati tulus [musik]
membantu sesama di mana kami [musik]
melayani
dengan kami [musik] melayani
dengan kami melayani
bangsa
[musik]
H
[musik]
Mentari pagi begitu cerah. Semoga hari
ini penuh dengan berkah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan. Dengan senang hati saya
Stefan Imelda kembali menyapa Anda hari
ini dalam ASN Belajar pada seri 1 2026.
Bapak, Ibu yang bergabung pada
kesempatan kali ini, tentu saja ini
merupakan episode terbaru, merupakan
episode pertama di tahun ini yang
berarti bukan hanya tahunnya yang baru,
namun semangatnya juga baru dengan satu
tema yakni start with smart from
learning to impact. Menata arah,
menguatkan langkah, mengemban amanah.
Berbicara soal awal selalu berhubungan
dengan menata terlebih dahulu. Karena
pada kesempatan kali ini menekankan
pentingnya memulai pengabdian dengan
perencanaan cerdas, kesadaran peran, dan
tujuan yang jelas. Tentunya di awal
tahun ini diharapkan aparatur diajak
menata kembali arah dan juga prioritas
kerja agar selaras dalam integritas
pastinya untuk bertanggung jawab dalam
pelayanan publik. Pada kesempatan kali
ini, tema yang akan kita persembahkan
dan juga akan kita pelajari bersama
Bapak Ibu yang tergabung lebih dari
sekedar belajar saja karena tema ini
mendorong transformasi pengetahuan
menjadi tindakan nyata, inovasi dan
peningkatan kualitas pelayanan sehingga
amanah dapat dijalankan secara optimal
dan berkelanjutan. Tentu saja webinar
ASN Pelajar 2026 ini dipersembahkan
spesial oleh BPSDM Jawa Timur. Dan
jangan lupa kami mengimbau kepada
seluruh peserta yang bergabung pada
kesempatan kali ini untuk melakukan
absensi terlebih dahulu di semesta
Bangkok. Dan tentu saja selengkapnya
materi akan kita bahas dalam ASN belajar
seri 1 2026.
[musik]
Yang saya hormati, tentu saja pada pagi
hari ini begitu spesial karena kita juga
akan menyimak terlebih dahulu sambutan
dan juga opening speech yang akan
disampaikan oleh Dr. Ramlianto, S.P,MP.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Provinsi Jawa Timur. Kepada
beliau kami silakan.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. SOB ASN
di seluruh tanah air. Alhamdulillah hari
ini, Kamis tanggal 15 Januari 2026 kita
kembali dipertemukan dalam ruang belajar
bersama menandai dimulainya ASN belajar
tahun 2026.
Webinar seriesen belajar adalah sebuah
ikhtiar berkelanjutan persembahan JTIM
Corporate University Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga
api pembelajaran tetap menyala di tengah
tugas pengabdian yang tidak pernah
sederhana.
Sopat SN tema yang kita angkat sebagai
pembuka tahun 2026 ini adalah start with
smart from learning to impact. Menata
arah menguatkan langkah mengemban
amanah. Tema pembuka tahun 2026 ini
adalah sebuah penegasan arah bahwa di
tengah tantangan yang semakin kompleks,
persaingan yang kian global dan
ekspektasi masyarakat yang terus
meningkat. ASN tidak cukup hanya bekerja
keras, tetapi harus bekerja cerdas,
bekerja berbasis pengetahuan, dan
bekerja berorientasi pada dampak.
Tema ini menegaskan bahwa kecerdasan ASN
hari ini bukan lagi diukur dari seberapa
sibuk kita bekerja, tetapi seberapa
tepat kita menempatkan energi,
pengetahuan dan keputusan.
Bekerja cerdas berarti mampu membaca
konteks, mengelola kompleksitas, dan
mentransformasikannya
pembelajaran tersebut menjadi sebuah
solusi nyata.
Dari sinilah arah ditata, langkah
diperkuat, dan amanah dijalankan dengan
penuh tanggung jawab agar setiap
kebijakan, setiap layanan, dan setiap
keputusan ASN benar-benar menghadirkan
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
ASN yang cerdas adalah ASN yang mampu
menjembatani pengetahuan dengan
tindakan, visi dengan implementasi,
serta regulasi dengan dampak nyata bagi
kesejahteraan masyarakatnya, kemuliaan
bangsanya, dan martabat negerinya.
Sfat ASN di seluruh tanah air tahun 2026
menuntut ASN untuk semakin smart. Smart
dalam membaca perubahan, smart dalam
menata kebijakan, smart dalam mengelola
sumber daya, dan smart dalam
menghadirkan pelayanan publik yang
bermakna.
Smart bukan semata soal teknologi atau
kecanggihan digital, tetapi tentang
kecernihan berpikir, ketepatan
bertindak, dan kebijaksanaan dalam
mengambil keputusan.
Karena itu kita memulai dengan belajar.
Sebab belajar adalah titik mula dari
semua perubahan besar. Dari belajar kita
menata arah. Dari belajar kita
menguatkan langkah.
Dan dari belajar pula amanah pengabdian
kita menemukan maknanya yang paling
dalam.
Webinar series belajar sejak dimulainya
pada tahun 2022 yang lalu hadir untuk
memastikan bahwa pembelajaran tidak
berhenti di ruang diskusi tetapi
berlanjut menjadi kinerja nyata, inovasi
konkret dan dampak yang dirasakan
masyarakat.
Karena telah menjadi kesadaran kolektif
kita bahwa birokrasi masa depan adalah
birokrasi pembelajar. Organisasi yang
tidak belajar akan tertinggal dan
aparatur yang berhenti belajar akan
kehilangan relevansinya.
Hal ini terlihat dari antusiasme SN
Indonesia untuk berpartisipasi aktif
mengikuti ASN belajar yang mencapai
hampir 4 juta ASN sampai dengan tahun
2025 yang lalu. Karena itu ASN belajar
bukan sekedar program melainkan sebuah
gerakan budaya. budaya untuk terus
memperbaiki diri, membuka wawasan, dan
menjadikan ilmu sebagai pondasi
pengabdian. Di sinilah makna from
learning to impact kita teguhkan bahwa
setiap pengetahuan yang kita peroleh
harus bermuara pada perubahan cara
kerja. setiap wawasan yang harus
berujung pada pelayanan yang lebih
cepat, lebih adil, dan lebih manusiawi.
Dan setiap pembelajaran harus
menghadirkan kepercayaan publik yang
semakin kuat kepada birokrasi.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, mari
kita jadikan ASN belajar 2026 sebagai
ruang menata ulang orientasi, memperkuat
kompetensi, dan menyatukan langkah agar
ASN Indonesia hadir sebagai aparatur
yang profesional, adaptif, dan
berintegritas. Aparatur yang tidak gagap
menghadapi perubahan, tidak lelah
menjawab tantangan, dan tidak kehilangan
kompas nilai dalam mengemban amanah.
Aparatur yang tidak gagap menghadapi
perubahan adalah aparatur yang mau
belajar sebelum dipaksa oleh keadaan. Ia
membaca tanda-tanda zaman, memahami arah
kebijakan global dan nasional, serta
sigap menyesuaikan cara kerja tanpa
kehilangan kualitas.
Dalam dunia yang bergerak cepat,
kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi
kunci agar birokrasi tetap relevan dan
dipercaya. Aparatur yang tidak lelah
menjawab tantangan adalah aparatur yang
menjadikan pengabdian sebagai energi,
bukan sebagai beban. Tantangan dipahami
sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan
untuk berhenti. Dengan ketangguhan
mental dan kecernian berpikir, ASN mampu
berdiri tegak di tengah tekanan menjaga
kinerja dan terus menghadirkan solusi
bagi masyarakat.
Aparatur yang tidak kehilangan Kompas
nilai adalah aparatur yang menjaga
etika, integritas, dan kepentingan
publik sebagai poros setiap keputusan.
Di tengah kompleksitas regulasi dan
dinamika kepentingan, nilai-nilai inilah
yang menjaga agar kekuasaan tetap
berpihak pada pelayanan dan kewenangan
tetap berada dalam koridor moral. Pada
akhirnya aparatur seperti inilah yang
diharapkan. ASN yang adaptif tanpa
kehilangan jati diri.
kuat tanpa kehilangan empati dan cerdas
tanpa meninggalkan nurani. Dari tangan
aparatur semacam inilah amanah negara
dijalankan dengan martabat dan
kepercayaan publik tumbuh sebagai
pondasi birokrasi yang kokoh dan
berdampak.
Sobat ASN di seluruh tanah air, pada
kesempatan pembuka ASN belajar tahun
2026 ini, kita beruntung dapat belajar
langsung dari para tokoh nasional yang
memiliki peran strategis dalam membangun
kapasitas dan kualitas ASN Indonesia.
Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan
seluruh ASN Indonesia, izinkan kami
menyampaikan apresiasi dan penghormatan
setinggi-tingginya kepada pertama Bapak
Dr. Muhammad Taufik di, Kepala Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia
yang akan memberikan perspektif
strategis tentang pembelajaran ASN dan
transformasi birokrasi pembelajar. Kedua
kepada Bapak Prof. Dr. Arif Fakrullah,
SH. MH. Beliau adalah Kepala Badan
Kepegawaian Negara Republik Indonesia
yang akan menguatkan arah kebijakan
Manajemen Talenta dan pengembangan
kompetensi ASN ke depan. Dan ketiga
kepada Bapak Dr. Sugeng Haryono, M.Pd.
Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan
Sumber Manusia Kementerian Dalam Negeri
yang akan memperkaya diskusi kita
tentang penguatan kapasitas ASN daerah
dalam menjawab tantangan pemerintahan
modern. Kehadiran para narasumber hari
ini menegaskan bahwa ASN belajar bukan
sekedar forum diskusi, tapi ruang
strategis untuk menyatukan visi,
menyelaraskan kebijakan, dan memastikan
bahwa pembelajaran benar-benar
bertransformasi menjadi kinerja dan
dampak nyata. Nah, Sobat ASN di seluruh
tanah air, mari kita simak dengan
seksama webinar ASN belajar seri pertama
tahun 2026. Semoga bermanfaat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[musik]
Baik, terima kasih untuk sambutan
hangatnya kepada yang kami hormati Bapak
Ramlianto, Kepala Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Seperti apa yang disampaikan beliau, ASN
hadir untuk memberikan angin segar,
memberikan pencerahan untuk kita semua
dalam pelayanan masyarakat. tentunya
Bapak, Ibu sekalian, sobat ASN di mana
pun Anda berada, mari bersama kita akan
menyimak dan belajar pada pagi hari ini
dengan narasumber-narasumber yang telah
tergabung. Dan pada kesempatan ini
begitu spesial karena kita akan belajar
bersama dengan pakarnya yakni Dr. TR.
Erna Irawati, Sos, Empol, ADM. Beliau
adalah Deputi Bidang Transformasi
Pembelajaran Aparatur Sipil Negara ASN
di Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia atau LAN RI. Untuk itu kepada
beliau kami silakan.
[musik]
Baik, selamat pagi Ibu Erna Irawati
telah bergabung bersama kami dalam ASN
belajar.
Terima kasih banyak. Selamat pagi.
Selamat pagi Ibu. Semoga hari ini sehat
selalu. Pagi ini begitu cantik dan cerah
ini menambah semangat kita untuk
belajar, Ibu. Silakan Ibu ee berkenan
untuk memberikan materi kepada seluruh
peserta.
Oke, terima kasih banyak. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi, salam sejahtera Bapak Ibu
semuanya. Pak Harmen juga sudah hadir.
Terima kasih banyak. Jadi ee terima
kasih banyak kawan-kawan dari BPSDM
Provinsi
Jawa Timur yang secara konsisten
sudah melakukan sebuah forum
pembelajaran bagi ASN di Indonesia. Dan
pada pagi hari ini temanya sangat
menarik gitu ya, smart from learning to
impact gitu. Nah, ini sangat-sangat
relevan Bapak Ibu dengan paradigma yang
baru gitu. mungkin saya akan sedikit me
mungkin sudah sering kita diskusikan
mengenai paradigma pembelajaran gitu.
Saya selalu mengatakan bahwa dari tahun
sebenarnya sudah dari mulai tahun 2013
tapi secara formal tahun 2017
paradigma pengembangan kompetensi untuk
aparatur sipil negara
sudah mengalami perubahan dari training
ke learning gitu. Kalau training
fokusnya adalah pembelajaran secara
struktur formal. Mayoritas dilaksanakan
di kelas. Kemudian kita mengubah menjadi
learning. Kalau learning itu tidak hanya
formal. Kemudian kalau dulu kita kenal
ada klasikal non klasikal tapi dengan
undang-undang yang baru kita kenal ada
istilah formal, sosial dan experi
learning.
ee saya ingin membawa perubahan
paradigma ini lagi khususnya di awal
tahun 2026 gitu. Mengingatkan kembali
bagaimana kita sudah mencoba mengarah
selain dari training ke learning, ada
satu lagi paradigma yang menjadi penting
menjadi tonggak kita. Kalau nanti saya
biasanya berbicara transformasi
pembelajaran basisnya adalah corporate
university. bagaimana kita mencoba
bergerak dari pendekatan tradisional ini
ke pendekatan yang baru yaitu outcome
based learning. Kalau di pendidikan ada
OBE, outcome based education gitu. Dan
ini sama di learning juga sama gitu.
Bagaimana
ee kalau mungkin kawan-kawan bukannya
kita sudah sekarang sudah outcome
outcome based learning, sekarang kita
sudah ke-learning-nya sendiri tidak
secara klasikal tapi sekali lagi Bapak
Ibu kita masih menjumpai dan sering
sekali ketika menerapkan outcome based
learning tapi di dalam praktik di
bawahnya kita masih menggunakan
pendekatan-pendekatan yang sifatnya
tradisional. Kalau tradisional biasanya
kan fokusnya pada isi apa yang diajarkan
gitu. Intinya adalah mendengarkan dan
memahami gitu. Ee fasilitator atau guru
menyampaikan materi, peserta menyerap
informasi. Biasanya indikator hasilnya
adalah ujian yang mengukur ingatan kita,
gitu. Nah, sering sekali juga
pembelajaran tidak terhubung dengan
kebutuhan di dunia kerja. Jadi ee
biasanya lembaga penyelenggara pelatihan
mengidentifikasi pelatihan kemudian
menawarkan gitu. Ah, ini yang saya bikin
program, ayo kamu ikut dong dengan
program saya gitu. Pendekatan ini
mengalami sebuah perubahan Bapak Ibu. Ee
dari sisi metodologi ketika kita belajar
berarti melakukan dan membuktikan. Kalau
ilustrasinya tadi lembaga pelatihan
menyusun program kemudian menawarkan
kalau outcome based learning adalah
lembaga penyelenggara pelatihan
mendengarkan kebutuhan dari instansi
pemerintah dari unit kerja butuh apa
baru kemudian membuat program. Nah, ini
ini sebuah paradigma yang menurut saya
menjadi sangat penting ketika kita
berbicara mengenai pengembangan
kompetensi.
Karena kalau kita menerapkan outcome
based learning atau OBL menempatkan
hasil atau outcome sebagai titik tolak
dalam perencanaan perancangan
pembelajaran. Makanya tadi bukan Lemdik
menyusun program kemudian menawarkan,
tapi justru Lemdik mendengarkan apa
kebutuhan kemudian baru merancang
programnya. secara spesifik nanti OBL
akan mengikuti misalnya ketika tujuan
atau outcome itu sudah jelas yang
dibutuhkan apa dari unit kerja dari
instansi pemerintah dari pengguna butuh
apa kemudian fasilitator mengembangkan
desain pembelajaran sampai kompetensi
cara mengukur kriteria keberhasilannya
disusun sesuai dengan outcome atau
tujuan yang ingin dicapai dan juga
proses di dalam pembelajarannya nya
peserta benar-benar dapat menunjukkan
kemampuan bukan sekedar mengumpulkan jam
pembelajaran. Jadi kalau saya
mengingatkan kembali mengenai
Undang-Undang 20 ketika kita berbicara
semua ASN sekarang wajib untuk melakukan
pengembangan kompetensi bukan narasi
kuantitatif yang diutamakan berapa JP
dan berapa JP tapi lebih kepada setiap
ASN mengembangkan kompetensi supaya
relevan dengan perubahan dengan tuntutan
pekerjaan. Jadi melakukan dan
membuktikan adalah ciri utama ketika
kita berbicara mengenai outcome based
learning. Kemudian kenapa kita
membutuhkan outcome based learning? Yang
pertama, Bapak Ibu,
pembelajaran adalah sebuah investasi
yang harus bermanfaat terhadap
organisasi.
sehingga OBL sebagai sebuah pendekatan
baru hasil-hasil pembelajarannya dapat
diukur
sehingga relevan dengan kalau kita
melakukan investasi harus ada dong
manfaatnya bagi organisasi kita dan
ukuran-ukuran itu harus diukur. Kemudian
juga kesesuaian dengan kebutuhan kerja
karena apa tujuan yang pertama harus
diidentifikasi baru kita menyusun sebuah
program. Kemudian kedua, biasanya kalau
OBL kita memanfaatkan berbagai
sarana-sarana yang kita butuhkan untuk
menyelenggarakan pengembangan kompetensi
secara ee lebih efektif. misalnya
perkembangan teknologi dan data dapat
digunakan sesuai dengan kebutuhan,
memungkinkan pencatatan dan lain-lain.
Dan juga Bapak Ibu, generasi yang kita
hadapi saat ini termasuk untuk ASN di
Indonesia mulai lebih menyukai
pembelajaran dengan melakukan
atau learning by doing umpan baliknya
dilakukan secara cepat. Makanya
metode-metode seperti project based
learning, eh simulasi dan lain-lain
menjadi lebih menarik dibandingkan
pembelajaran-pembelajaran yang sifatnya
adalah
misalnya ceramah dan lain-lain. Dan yang
keenam adalah efisiensi dan
akuntabilitas. Kalau tadi saya
mengatakan investasi ee investasi itu
harus ada hasilnya, harus ada manfaatnya
bagi organisasi kita sehingga efisiensi
dan akomtabilitas menjadi kunci.
Dari
dari perubahan paradigma tadi kita
melihat bahwa tujuan menjadi kunci
ketika kita melakukan pengembangan
kompetensi.
Tujuannya itu mau ke mana dari
pengembangan kompetensi? Kenapa tujuan
ini menjadi sangat penting, Bapak, Ibu?
Ini faktanya, Bapak, Ibu. Ee saya
mengambil ee apa namanya? data eh World
Bank itu ada satu publikasi yang
mengatakan bahwa 70% proyek pengembangan
kompetensi gagal karena tujuannya tidak
jelas. Makanya tadi OBL tadi menjadi
penting outcome based learning.
Pembelajaran harus ada manfaatnya.
Ketika kita bisa bicara mengenai manfaat
berarti sebuah pembelajaran harus ada
tujuan yang jelas.
Kalau tujuannya tidak jelas,
pengembangan kompetensinya gagal. Bank
mengatakan bahwa kegagalan pengembangan
kompetensi
70% itu karena tujuannya tidak jelas.
dan juga Bapak Ibu ee beberapa fakta
yang lain adalah riset yang dilakukan
oleh Boston Consulting Group tahun 2024
dan ini sama Bapak Ibu ketika mereka
melakukan sebuah riset mengenai
transformasi digital perusahaan
perbankan, Bapak Ibu, mereka menemukan
bahwa 70% transformasi digital
perusahaan gagal karena tujuan yang
tidak jelas. juga
kegagalan dipembangan
kompetensi tidak ada visi yang
terdefinisi dengan baik dan juga
inisiatif digitalnya cenderung berjalan
melampaui anggaran, kehilangan fokus dan
tidak memberikan nilai yang diharapkan.
Jadi sekali lagi tujuan menjadi fokus
ketika kita berbicara cara baru
mentransformasi pengembangan kompetensi.
Jadi kita harus jelas dulu perusahaan
yang menerapkan transformasi digital
tanpa tujuan yang jelas hanya akan
mengarah kepada kegagalan. Jadi ini
Bapak Ibu tadi ketika paradigmanya
dirubah dari tradisional ke outcome
based learning yang di awal tujuan harus
jelas dan ini dibuktikan dengan berbagai
riset bahwa kalau kita tidak tahu
tujuannya mau kita melakukan
pengembangan kompetensi yang jumlahnya
100.000 dan lain-lain. Tapi tujuannya
tidak jelas, 70% akan mengalami
kegagalan.
Kemudian apa langkah utama yang yang
dapat kita lakukan ketika kita akan
melakukan
analisis ulang atau direction dari arah
pengembangan kompetensi atau bahkan kita
refleksi terhadap pengembangan
kompetensi yang kita lakukan saat ini
ketika kita menata arah pengembangan.
Yang pertama tadi Bapak, Ibu, kita harus
tahu menentukan tujuan secara spesifik.
Nah, tema pada pagi hari ini menjadi
sangat menar menarik bahwa kita harus
smart. Nanti saya akan menyinggung ke
sana gitu menentukan tujuan secara
spesifik ya harus smart tadi gitu.
Kemudian yang kedua adalah kalau kita
tujuannya sudah jelas, yang kedua adalah
melakukan visualisasi dari peta
kompetensi itu sendiri. Kalau tujuannya
seperti ini, kompetensi yang akan kita
capai seperti apa? Baru kemudian kita
berbicara mengenai kejelasan dari action
plan dari pengembangan kompetensi
ownership. ownership itu semua tahu
arahnya mau ke mana, stepnya seperti
apa, monitoring, evaluasinya nanti akan
dilakukan seperti apa. Jadi sekali lagi
Bapak, Ibu semua yang bisnisnya atau
pekerjaan mengenai pengembangan
kompetensi mumpung masih pada awal tahun
mungkin kita mencoba berkontlasi
melakukan refleksi terhadap diri kita
sendiri apakah pengembangan kompetensi
ini tujuannya sudah jelas,
smart-nya ketemu atau tidak. Apakah
ketika tujuannya sudah jelas, PT peta
kompetensi yang akan kita capai juga
dengan jelas, action plan-nya apakah
memang nanti ketika kita ukur
benar-benar mengukur tujuan yang tadi
sudah kita spesifikkan? Jadi, ini
langkah-langkah utama ketika menata arah
dari pengembangan kompetensi.
Kompetensi yang akan kita lakukan. Ini
beberapa contoh Bapak Ibu yang tadi
kalau WorldBank mengatakan 70% itu gagal
karena tujuannya enggak jelas. Ini ada
beberapa contoh.
Misalnya contoh yang pertama adalah
proyek digital upskilling di sebuah bank
regional gitu. Tujuannya meningkatkan
kompetensi digital staffnya.
Masalahnya
ketika mereka membuat program digital
upskilling tidak ada matrik yang
ditetapkan. misalnya jumlah modul yang
selesai berapa, peningkatan
produktivitasnya seperti apa, itu tidak
ada. Akibatnya ada 80% peserta memang
menyelesaikan
digital upscaling, namun tidak ada
perubahan pada penggunaan alat digital
dalam pekerjaan sehari-hari. Jadi, 80
peserta menyelesaikan pelatihannya,
namun tidak ada perubahan pada
penggunaan alat digital. Jadi tidak ada
modul-modul
yang terkait dengan digitalisasi
yang dapat dilihat dari pekerjaan 80
peserta yang mengikuti pelatihan ini.
Anggaran yang terpakai 1, juta US tanpa
dampak bisnisnya belum ada, Bapak, Ibu.
Misalnya seperti ini, Bapak, Ibu nanti
bisa melakukan evaluasi terhadap
beberapa program pengembangan kompetensi
yang dilakukan. Contoh yang kedua adalah
inisiatif soft skill-nya membangun
kepemimpinan yang lebih efektif.
Masalahnya ketika mengembangkan program
ini visinya terlalu luas, tidak
dijabarkan ke level tim atau individu.
Akibatnya hanya 30 yang mengikuti
program dan survei kepuasan menunjukkan
kurang relevansinya dari sisi
program-program yang ada dengan
tantangan operasional. Kemudian ada
contoh yang lain, Bapak Ibu, misalnya
ada kursus data analytik, tidak ada
kriteria smart dan lain-lain. Nah,
peserta merasa bahwa ee
tidak terlalu teoritis, tidak dapat
menerapkan ilmu yang dipelajari. ee
nanti monggo silakan kawan-kawan
melakukan evaluasi terhadap
program-program pengembangan kompetensi
yang ada saat ini. Akibatnya apakah
sudah oke. Ketika akibatnya oke, berarti
tadi tujuan, kemudian direction, dan
lain-lain sudah disusun. Tapi kalau
belum Bapak Ibu waktunya bagi kita untuk
tadi tujuan tadi diterjemahkan di dalam
sebuah konsep yang kita sebut sebagai
smart. Jadi ini beberapa permasalahan
secara teknis Bapak Ibu ketika kita
tidak bisa mengukur mengenai
keberhasilan dari pengembangan
kompetensi. Yang pertama adalah minimnya
definisi matrik yang dapat diukur. Jadi
kita membuat program tapi matrik untuk
mengukurnya
tidak jelas gitu. Misalnya bagaimana
kita menghubungkan program pengembangan
kompetensi kita dengan persentase
peningkatan produktivitas. waktu
penyelesaian tugas, batas waktunya tidak
realistis, tujuan tidak dibreakdown
menjadi langkah-langkah kecil yang
mencerminkan bahwa aktivitas ini nanti
bisa diukur. Kemudian yang keempat
adalah tidak ada hubungan atau minim
hubungan pembelajaran dengan dampak
pekerjaan yang jelas agar peserta
melihat nilai langsungnya gitu.
Lembaga administrasi negara dengan
kebijakan pelatihan kepemimpinan. Bapak,
Ibu, kalau Bapak, Ibu cermati ada satu
instrumen yang penting yaitu valuasi
nilai ekonomi dari misalnya proyek
perubahan, aksi perubahan gitu. Tapi
sampai dengan tahun 2025 kemarin
kelihatannya masih belum menjadi ukuran
utama ketika dilakukan assesment
terhadap peserta untuk melihat manfaat
atau nilai langsung dari setiap aksi
perubahan atau proyek perubahan. Nah,
ini Bapak Ibu ee harapan kita adalah
ketika kita melakukan pengembangan
kompetensi nilainya ada. Karena tadi
yang saya sebutkan setiap pengembangan
kompetensi adalah investasi dari
organisasi. Investasi harus memiliki
manfaat. Jadi ee ini ada empat yang
secara teknis kalau masalah pengembangan
kompetensi di Indonesia misalnya kemarin
saya berbicara akses dan lain-lain Bapak
Ibu. Sekarang kita berbicara mengenai
lebih teknis lagi. Matrik ukurannya
belum secara jelas didefinisikan. Batas
waktunya juga sering sekali bagaimana
kita mengukur hasil dan lain-lain.
Kemudian tujuannya secara breakdown
kecilnya juga perlu kita perbaiki di
beberapa sisi. Kemudian kemanfaatannya
yang masih sering sekali kita harus
pertanyakan ulang. Bukan berarti tidak
ada, tapi sering sekali ketika orang
tidak melihat nilainya. dianggap
pengembangan kompetensi tidak ada
hasilnya. Sekali lagi, masa yang baru
kita harus secara khusus Bapak Ibu
melihat atau melakukan valuasi terhadap
hasil dari pengembangan kompetensi yang
ada. Ee Bapak Ibu kembali tadi saya
mengatakan bahwa
pembelajaran dengan paradigma yang baru
harus memberikan manfaat gitu. Ketika
kita bergerak kepada sekarang corpu
adalah kewajiban bagi semua instansi
pemerintah sebagai sebuah learning
ekosistem, kita harus memastikan bahwa
pengembangan kompetensi yang
dilaksanakan di dalam corporate
university mampu mendukung pencapaian
tujuan pembangunan nasional ataupun
kalau kita berbicara mengenai
instansi pemerintah
Kementerian Lembaga Pemerintah Daerah
Korpu dalam konteks pengembangan
kompetensinya harus mampu menangani
isu-isu strategis yang menjadi mandat
dari masing-masing kementerian, lembaga,
dan pemerintah daerah. Jadi sekali lagi
corpus sebagai pendekatan utama. Kenapa
ini dibutuhkan? Karena apa? Harusnya
pengembangan kompetensi harus menangani
isu-isu strategik nasional. Makanya
topik hari ini Bapak Ibu sangat-sangat
menarik dan sangat-sangat relevan dengan
dua kebijakan, dua satu paradigma dan
juga kebijakan corporate university.
Paradigmanya mengarah kepada outcome
base. Berarti tujuannya harus jelas,
harus ada manfaatnya. Yang kedua,
corporate university tadi saya sebutkan
bahwa harus memberikan manfaat untuk
bagaimana organisasi mampu menyelesaikan
berbagai mandat strategis, isu-isu
strategis yang ada baik yang sifatnya
instansi maupun nasional. Sehingga
temanya ketika kita berbicara mengenai
smart
dari pembelajaran ke dampak Bapak, Ibu,
smart tidak artinya hanya pintar, Bapak
Ibu. Saya yakin kawan-kawan BPSDM dengan
sengaja mengambil smart. Bukan berarti
smart dalam bahasa Inggris diterjemahkan
ke Indonesia pintar, namun lebih
mengarah kepada smart ketika berbicara
mengenai metode lama. Saya yakin ini
familiar Bapak Ibu, spesifik,
measurable, achievable, relevan, dan
juga time bound. Outcome based learning
harus ada tujuan tertentu. Pengembangan
kompetensi corpo harus berkontribusi
terhadap tujuan-tujuan yang sifatnya
strategis. Ketika kita sudah mengarah
kepada outcome based learning untuk
memastikan pembelajaran berkontribusi
sehingga ketika kita membuat sebuah
program pengembangan kompetensi harus
spesifik, measurable, achievable,
relevan, dan juga time bound. ini bukan
pendekatan yang baru Bapak Ibu, tapi
sekali lagi bagaimana untuk memastikan
smart-nya ini diadaptasi. Ini yang
mungkin masih banyak permasalahan yang
dapat kita diskusikan yang harus kita
selesaikan untuk memastikan bahwa smart
di dalam pengembangan kompetensi ketika
kita berbicara tujuan strategis tadi
dapat benar-benar diimplementasikan di
dalam program pembelajaran. Bapak, Ibu,
ini tadi yang pertama adalah tujuannya
harus jelas dulu ketika berbicara
mengenai pengembangan kompetensi. saya
membawa mengenai profil dan strategi
pemenuhan pengembangan kompetensi secara
nasional yang nantinya untuk setiap
instansi di setiap corpu instansi harus
mengarah atau membuat profiling dari
tujuan-tujuan tadi. Misalnya Bapak Ibu
di sini saya membawa mengenai profil
atau kebutuhan kompetensi generik
nasional nasional yang ada di sini Bapak
Ibu misalnya kita berbicara mengenai
Smart ISN robus dan lain-lain yang ada
di sini kita bisa meng-customize di
dalam instansi kita misalnya Bapak Ibu
untuk yang generik tujuannya adalah
digital. bagaimana misalnya ee semua ASN
di instansi kita memiliki literasi
digital, integritas dan etika,
kompetensi skill-nya misalnya bisa
berkomunikasi dan negosiasi. Jadi ini
adalah sebuah tujuan. Kemudian yang
secara spesifik Bapak Ibu juga ada gitu
misalnya ini kemarin saya diskusi dengan
kawan-kawan dari BPK gitu. Core
skill-nya untuk bidang pemeriksaan
selain yang nanti di JPT MAD di Dirjen
Badan dan juga di Sejennya ada yang
secara spesifik sebagai tujuan atau
profiling dari kompetensi tapi misalnya
core audit skill itu harus dimiliki
strategic misalnya manajemen risiko,
analisis strategic thinking dan
lain-lain itu menjadi sebuah tujuan
ketika kita sudah mampu Bapak Ibu
menetapkan kan tujuan dari pengembangan
kompetensi atau arah dari pengembangan
kompetensi. Bapak, Ibu, kita memiliki
profile yang jelas.
Profile ini adalah sebuah
peta data framework bagi kita untuk
mengarahkan tujuan dari pembelajaran
kita. Ketika ini secara spesifik
beberapa contoh Bapak Ibu ketika kita
mengcate dari tujuan-tujuan yang
sifatnya strategis sampai dengan
kompetensi yang dibutuhkan yang ada di
sebelah kanan ini. Kemudian kalau kita
sudah memiliki arah yang jelas baru kita
akan menanyakan kepada organisasi kita
profiling tadi sudah dipenuhi oleh semua
ASN yang kita miliki atau belum.
Nah, baru program tadi secara khusus
ketika kita menemukan gap antara
profiling dengan kondisi yang ada,
programnya kita susun. Saya tidak akan
menjelaskan secara spesifik, tapi nanti
kalau ada pertanyaan bagaimana
menterjemahkan dari tujuan-tujuan tadi
di dalam corporate university, tata
kelolanya dari level teknis, level
operasional, level strategis, monggo.
Cuman saya hanya ingin menggaris bawahi
Bapak Ibu ketika kita sudah memiliki
profiling tadi kan yang utama adalah
tujuannya jelas Bapak, Ibu. Tujuan tadi
profiling ada di sini analisisnya
kemudian kita muncul tujuan baru kita
berbicara mengenai program. Apakah
programnya nanti akan diselenggarakan
pengembangan kompetensinya mau formal,
sosial dan experiential learning. Ini
menjadi pilihan kita untuk kita
selenggarakan. Tapi yang utama adalah
tujuan tadi untuk sebuah pembelajaran
harus harus jelas. Nah, ini Bapak Ibu
ini contohnya bagaimana kita ketika
tujuannya sudah jelas
baru kemudian smart tadi ketika
pengembangan kompetensi harus
diterjemahkan gitu. Misalnya tujuannya
adalah meningkatkan kemampuan presentasi
publik tim pemasaran atau tim apa ini
swasta misalnya Bapak Ibu
spesifiknya apa? Setiap smart-nya kita
susun. Setiap anggota tim pemasaran
dapat menyampaikan presentasi produk 10
menit dengan struktur yang jelas.
Measurable-nya nilai rata-rata dari
audiensi skalanya 1 sampai 5 nilainya
harus 4 lebih pada tiga presentasi
berturut-turut. Achievable alokasi 2 jam
pelatihan per minggu selama 6 minggu
plus coaching ee selama 30 menit tiap
minggu Bapak Ibu. One onone coaching
dilaksanakan 30 menit. Relevansinya
presentasi yang lebih baik akan
meningkatkan konversi lead sebesar 15%
dalam kuartal berikutnya. Time bond-nya
selesai dan dievaluasi pada akhir bulan
keenam. Baru kemudian Bapak Ibu
langkah-langkah konkretnya itu diision.
Oke, workshop-nya storyting, praktiknya
seperti apa, coaching-nya 30 menit
seperti apa, workshop lagi simulasi
sampai review.
tidak berhenti di sana. Sekali lagi
untuk memastikan smart tadi Bapak Ibu
ada pemantauan setiap akhir minggu tim
mengisi apa minggu lakukan bols check
kemudian tidak lanjutnya misalnya selama
2 minggu kalau sudah tercapai skornya
baru tim ini diterjunkan ke presentasi
eksternal. Literasi digital juga sama,
Bapak Ibu. Misalnya spesifiknya
setiap karyawan menyelesaikan tiga modul
dapat membuat satu contoh kerja.
Targetnya 60% mencapai nilai-nilai nilai
rata-ratanya 80 mengumpulkan contoh
kerja yang disetujui atasan.
Achievable-nya, relevannya, time
bound-nya. Nah, di sini misalnya
evaluasi pada minggu kees9. Jadi kalau
kita bisa menyusun dari tujuan yang
jelas, langkah-langkah konkret
monitoring evaluasi misalnya Bapak Ibu
di akhir sebuah pembelajaran kita akan
melihat sebuah perubahan. Situasi
awalnya misalnya literasi digital tadi
30% karyawan dapat menggunakan Google
Workspace secara efektif.
30% enggak cukup, Bapak, Ibu. Sehingga
dilakukan intervensi program smart
literasi digital tadi diterapkan selama
8 minggu. Akhirnya hasil di ujungnya ada
62% karyawan mencapai nilai 80,
mengumpulkan contoh kerja dan juga ada
produktivitas meningkat misalnya 15%
dalam 3 bulan berikutnya. Jadi sekali
lagi Bapak Ibu, smart tidak hanya pintar
Bapak Ibu, tapi smart adalah bagaimana
kita mampu membawa pengembangan
kompetensi ini mendapatkan hasil sesuai
yang dibutuhkan oleh organisasi.
Sehingga ketika mengembangkan sebuah
program pengembangan kompetensi
tujuannya harus jelas. Kalau tujuannya
tidak jelas, Bapak Ibu, apa yang kita
lakukan tidak ada hasilnya. Seperti yang
tadi disebutkan oleh WorldBank, 70%
kegagalannya karena tujuannya enggak
jelas. Jadi, langkah awal adalah tujuan
yang jelas. Dari tujuan yang jelas
dibreakdown secara smart menjadi sebuah
langkah-langkah dan ukuran-ukuran
konkret untuk memastikan hasil. Demikian
Bapak, Ibu yang dapat saya sampaikan
untuk memulai di tahun 2026 kita
melakukan refleksi, kita melakukan ee
apa namanya? duduk sebentar untuk
mengevaluasi apakah pengembangan
kompetensi kita sebagai strategi
memenuhi kebutuhan organisasi untuk
beradaptasi memiliki tujuan dan
kemanfaatan yang jelas. Kalau tidak
saatnya persis tema yang diambil pada
hari ini kita harus smart dari learning
mendapatkan dampak atau manfaat bagi
organisasi kita. Demikian dari kami,
sekali lagi terima kasih banyak.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[musik]
Terima kasih Ibu Erna untuk materi yang
diberikan. benar-benar sungguh
menyegarkan kita. Apalagi terkait dengan
tema ini sangat sejalan begitu ya. Ada
specific, measurable, achievable,
relevan, dan time bound. Ini kita bisa
pelajari bersama dan kita pedomani
begitu ya Bapak Ibu sekalian. Baik, Ibu
Erna mohon izin apakah berkenan untuk
membuka sesi Q&A kira-kira?
Boleh satu aja ya, Mbak ya.
Satu. Siap, Ibu. Akan kami ee berikan
kesempatan untuk satu penanya. Ini sudah
banyak yang antri sebetulnya Ibu untuk
berbincang langsung dengan Ibu. Namun
ada satu yang beruntung nanti ini bisa
berbincang dengan Ibu secara langsung.
Silakan untuk penanya.
Ya, tentu saja dengan apa yang
disampaikan Ibu Erna tadi dan ini
terkait juga dengan sebuah outcome based
learning, suatu hal yang menjadi basic
ya, Ibu ya dari ASN belajar dan tentunya
setiap ASN yang bergabung pada
kesempatan kali ini harus belajar lebih
lagi terutama untuk menata arah untuk
membangun ASA di tahun yang baru ini.
Begitu ya Bu Erna ya. Tentu saja ini ada
beberapa penanya pada kesempatan kali
ini pastinya menanyakan terkait suatu
hal yang berhubungan dengan materi yang
telah dibawakan oleh Ibu Erna.
Baik, di sini telah bergabung bersama
kami Bapak Firman Supriadi. Selamat
pagi.
Warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Baik, silakan Bapak.
Eh, dari paparannya Ibu tadi ee
ada yang ingin kami tanyakan.
Di antara pendekatan pembelajaran antara
outcam basaning dengan impact basaning
itu mana yang terbaik, Bu? Terus ee
kelemahan dan kelebihannya di mana?
Mohon pencerahan.
Terima kasih Bapak Firman. Mohon izin
Ibu berkenan untuk menanggapi.
Ee terima kasih ee banyak Pak Firman
atas pertanyaannya. sebenarnya mau
impact atau outcome gitu ya, Pak ya. Mau
outcome atau impact. Ee Bapak, Ibu tadi
saya menyebutkan salah satu yang kita
bawa di dalam tema ini saya katakan
menjadi sangat relevan ketika kita
berbicara mengenai smart tadi
eh smart governance tadi eh sori smart
ketika kita menyusun sebuah desain
pembelajaran ukurannya harus jelas.
Salah satu ukuran ketika kita berbicara
mengenai tujuan ya tadi outcome tadi.
Kalau pertanyaannya mana yang apakah
kita mau dampak? Kegagalannya tadi Bapak
Ibu yang kedua ketika kita mengembangkan
sebuah pembelajaran adalah tidak secara
spesifik kita mengcascade gitu. Kenapa
saya katakan outcome based learning
bukan impact based learning? meskipun
dua-duanya saya setuju, pengembangan
kompetensi harusnya ya berdampak dan ee
sori memiliki hasil kemanfaatan yang
jelas dan juga berdampak gitu. Jadi
kalau saya ketika berbicara mengenai
cascading secara spesifik
mulainya kan biasanya kita bicara kita
paradigmanya lama misalnya outcome
impact
yang menjadi sasaran terakhir adalah
impact tujuannya tapi tujuan tadi harus
perlu dicascet Pak makanya kalau tadi
saya memberikan contoh misalnya
produktivitas naik 15%
di bawahnya Bapak Ibu,
di bawah sebuah di contoh saya yang
terakhir misalnya ini saya kembali ke
saya mungkin untuk menggambarkan mana
yang lebih relevan ee ukuran-ukurannya.
Kalau kita mau sampai ukurannya sampai
ke dampak akan lebih bagus. Tapi sekali
lagi ketika kita membuat sebuah program
pelatihan, kita harus meng-cascet-nya
secara lebih jah di sini Bapak Ibu,
produktivitas tim meningkat 15
ini akan berdampak ini outcome-nya Bapak
Ibu. Dampaknya apa? Ketika produktivitas
tim meningkat 15%
dampaknya organisasi, saya yakin
misalnya keuntungan dari organisasi itu
akan meningkat misalnya ee 5% atau 10%
karena peningkatan keuntungan organisasi
tidak hanya dikontribusikan dari tim ini
saja gitu. Jadi kalau pertanyaannya mana
yang akan kita gunakan, apakah outcome
atau
dampak dari sebuah pembelajaran ini
sebuah cascading saja gitu. Jadi minimal
Bapak Ibu adalah outcome tapi kalau mau
menggunakan dampak pastikan outcome-nya
juga ada. Karena apa? Outcome yang
terhubung langsung dengan output dari
sebuah pembelajaran. kita tidak bisa
meloncat dari sebuah output pembelajar
langsung kepada dampak. Tapi ketika kita
melakukan pengukuran, ada pengukuran
yang secara langsung kita hubungkan dari
output-nya, gitu. Jadi kalau
pertanyaannya, "Bu, boleh enggak kalau
ketika mengembangkan sebuah pembelajaran
kita ke dampak? Dampak output, outcome,
dan dampak adalah ukuran keberhasilan."
Nah, biasanya yang medium ini menjadi
lebih terukur. Ketika Bapak Ibu mau
mengukur dampaknya, kita perlu berbicara
mengenai program-program yang lain.
Jadi, saya tidak mengatakan salah ketika
paradigma pembelajarannya sudah ke
impact based learning, tidak outcome
based learning, tapi pastikan ketika
kita mengarah kepada impact based
learning pasti muaranya dari outcome.
Outcome itu harus ada output-nya dulu,
gitu. Jadi monggo kalau mau dampak. Tapi
dengan outcome, outcome pun sebenarnya
kita sudah bisa mengukur kemanfaatan
dari sebuah pengembangan kompetensi.
Jadi tergantung ukuran yang mau kita
gunakan sih Pak Firman. Karena tadi saya
katakan measurable-nya itu mau di mana
gitu. Tapi jangan sampai di output saja.
Kalau di output tidak sesuai dengan
paradigma yang baru gitu. Jadi
miserablenya kalau kita hanya output
mungkin kita banyak sekarang masih di
output.
ya kemanfaatannya belum kita ukur.
Kemudian kalau measurableya mau sampai
dengan outcome sudah ada progres
kemanfaatan bagi organisasi. Kemudian
dampaknya biasanya kalau kita sudah
mengarah ke outcome,
kita akan mengarah ke dampaknya gitu.
Jadi tergantung dari
measurable kita itu ukurannya mau ke
mana. Tapi minimal kalau kita menerapkan
yang paling moderat saat ini adalah
outcome based learning. Berarti outcome
ini sudah harus diukur ketika
pembelajaran. Tapi kalau mau dilanjutkan
ke dampak monggo. Gitu. Mungkin itu
respon saya untuk pertanyaan Pak Firman.
Terima kasih. Baik.
Baik. Terima kasih Ibu Erna. Terima
kasih Bapak Firman untuk pertanyaan yang
telah diberikan. Baik sekali lagi kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Erna
Irawati, Deputi Bidang Transformasi
Pembelajar Aparatur Sipil Negara di LAN
RI. Semoga hari ini membawa manfaat
untuk kita semua. Selamat melanjutkan
aktivitas, Ibu. Sehat selalu dan
semangat selalu, Ibu. Oke, terima kasih
banyak Bapak Ibu semuanya, moderator Pak
Herman izin saya melanjutkan aktivitas.
Terima kasih.
Terima kasih banyak, Ibu. Sehat selalu.
Makasih, Bu Herna.
Oke, makasih.
Baik, tentunya Bapak, Ibu sekalian,
Sobat ASN di mana pun Anda berada
tentunya masih ada beberapa pemateri
yang akan memberikan materinya pada
kesempatan kali ini. Untuk itu tetaplah
bersama kami nantikan di segmen
selanjutnya dan jangan lupa juga untuk
mengisi semesta Bangk bagi yang belum
registrasi.
[musik]
Terima kasih masih setia membersamai
kami Bapak, Ibu, Sobat ASN. Tentu saja
dalam segmen kali ini kita juga akan
bertemu dan juga berbincang langsung
begitu dengan pemateri yang juga tak
kalah luar biasa. Beliau hadir yakni
Bapak Suharmen, SKOM, M.Si. Beliau
adalah Wakil Kepala Badan Kepegawaian
Negara BKR Republik Indonesia.
Baik, selamat pagi. Kami menyapa Bapak
Suharm.
Selamat pagi.
Semoga dalam keadaan yang sehat dan
bahagia pada pagi hari ini ya, Pak.
Amin. Amin. Insyaallah.
Amin. Terima kasih Bapak Suermen telah
berkenan untuk bergabung bersama kami.
Dan pada kesempatan kali ini kami
silakan untuk memberikan materi kepada
seluruh peserta. Silakan.
Baik, terima kasih eh apa operator.
Saya izin untuk share tahan.
Sudah terlihat ya, Mbak?
Baik, sudah terlihat Bapak.
Baik, terima kasih.
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
ee yang hadir pada kegiatan webinar ASN
belajar seri pertama ee di yang sebagai
host teman-teman di BPSDM ee Provinsi
Jawa Timur. Senang sekali pagi hari ini
saya bisa berbagi dengan teman-teman
yang tentu saling belajar antara ee apa
kami di Badan Kepayaan Negara dengan
seluruh teman-teman ASN yang hadir pada
kegiatan pagi hari ini. Ee menarik judul
yang tadi di apa yang disampaikan oleh
Pak Kaban tadi, Pak Dr. Andri, kemudian
ee apa yang sudah disampaikan oleh Ibu
Dr. karena di mana ee seri pertama
memulai dengan sesuatu yang smart tapi
smartnya tidak hanya pintar tapi juga
sesuatu yang bisa terukur spesifik dan
terukur kemudian mampu dichieve dan ee
dalam waktu yang tentu ter ee apa ee
bisa di ee
rencanakan dengan baik dan bagaimana
dari sebuah pembelajaran kemudian mampu
memberikan dampak yang signifikan dalam
menata arah, menguatkan langkah dan
mengeb
dalam mengemban amanah. Nah, ee karena
materi yang disampaikan ke saya adalah
bagaimana kemudian kita melakukan
akselerasi terkait dengan kinerja dan
pengembangan kompetensi apartisip negara
dalam rangka menuju birokrasi perkelas
dunia. Maka ada dua substansi yang nanti
akan ee apa kami sampaikan dalam konteks
ini. Pertama adalah pentingnya ee setiap
aparatur sipil negara berkinerja dengan
baik. Dan yang kedua adalah kinerja dan
potensi nanti ke depan itu akan
digunakan sebagai bagian di dalam
pengembangan atau menentukan kepastian
karir dari setiap apartisip negara
melalui ee sebuah tools atau alat yang
kita sebut dengan talent management.
Nah, Bapak, Ibu yang kami hormati, ee
per 1 Januari 2026 kemarin ee jumlah
aparatur sipil negara meningkat luar
biasa besar. ee dari tahun-tahun
sebelumnya jumlah ASN kita itu
relatively sekitar 4,5 juta. Sekarang
itu menjadi sekitar 6,5 juta. Karena
kenapa terjadi peningkatan yang luar
biasa besar di dalam ee jumlah
partnership dan negara kita dalam 1
tahun ee selama tahun 2025 kemarin
terlebih karena ee sesuai dengan mandat
dalam Undang-Undang 20 tahun 2023
tentang aparat negara di mana pemerintah
diminta untuk menyelesaikan ee seluruh
tenaga honorer yang ada di instansi
pemerintah yang jumlahnya lebih kurang
sebanyak ee hampir sekitar 1,8 juta
orang dan ee ee setelah dilakukan
seleksi ee ada dua kemarin yang
dilakukan pengangkatan yaitu ee calon
pegawai negeri sipil dan pegawai
pemerintah dengan ee perjanjian kerja
maka total yang diangkat hampir
R2.200.000
orang sehingga total pengangkatan sampai
dengan posisi eh per 1 Januari kemarin
menjadi 6,5 juta orang. Dari 6,5 juta
aparatur sipil negara ini 78%-nya tentu
ada di ee instansi daerah. Eh jumlahnya
saat ini menjadi 5,1 juta orang dan
instansi pusat sekitar 22% yaitu sekitar
1,4 juta orang. Dan kalau kita melihat
dari sisi ee apa level generasi yang
terbesar itu masih berada di eh apa eh
generation Y eh sebanyak 53% eh atau
sekitar 3,5 juta orang dan kemudian
diikuti dengan ee generasi X sebanyak eh
37% atau 2,3 juta orang. Kemudian baru
Jen, J genzy dan eh sebanyak 9% dan eh
baby woman sebanyak 1%.
Dari sisi gender tentu ee yang sebagian
besar atau terbesar itu adalah di ee ee
wanita atau perempuan sebanyak 55% dan
laki-laki sebanyak 45%.
Nah, kalau kita lihat dari sisi tingkat
pendidikan sebagian besar adalah ee apa?
58% tingkat pendidikannya adalah ee
diploma 4 ee ataupun eh strata 1.
Kemudian 9% strata 2 dan ee 1% di strata
3. Bagaimana dengan Jawa Timur sendiri?
Jawa Timur jumlah ASN-nya per 1 Januari
2026 ee di dalam data kami sebanyak
82.655
55 orang ee dengan jumlah pegawai negeri
sipil sebanyak 46% atau 37.615
orang dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja ee sebanyak 28%
dan P3K par waktu atau pegawai
pemerintah dengan perjanjian kerja pada
waktu sebanyak 26%.
yang ee di Jawa Timur ee dari sisi
gender relatively berimbang antara
laki-laki dan ee perempuan. Ee lebih ee
banyak sedikit laki-laki tetapi dari
proporsi secara keseluruhan masih ee
sama-sama 50% jumlahnya. Dan ee dari
berdasarkan ee apa usia generasi maka
yang terbesar itu adalah sama dengan
nasional yaitu ee generasi Yitu sebanyak
52% atau 44.184 184 orang dan ee
kemudian diikuti eh generation X
sebanyak 39%
dan eh generation Z sebanyak eh 8%. ini
ini ee kenapa ini penting untuk
disampaikan tadi ee karena tadi Bu ee Bu
Bu Erna Bu Deputi juga sudah
menyampaikan bagaimana mekanisme
pembelajaran yang sekarang ee apa ee
terutama generasi-generasi ASN yang
sekarang ini dalam pengembangan
kompetensinya ini tentu juga akan inline
dengan ee apa tingkat yang ada eh
gambaran dari postur apar negara kita di
Indonesia saat ini. Bapak, Ibu yang kami
hormati.
saya setelah menggambarkan sedikit
mengenai ee kondisi aparisip negara
kita,
pertanyaan mendasarnya adalah dari ee
apa sekitar 6,5 juta pegawai tadi,
apakah kita sudah akan mampu menjawab ee
apa statement yang pernah dikeluhkan
oleh Bapak Presiden pada apa pidato
sidang kabinet perdana beliau di tanggal
23 Oktober 2024 yang lalu di istana di
negara misalnya Ya, Presiden mengatakan
kita harus jujur untuk mengakui bahwa
birokrasi kita ini sangat terkenal. Tapi
sangat terkenalnya itu sangat terkenal
dengan ribetnya dan sangat terkenal
dengan lambatnya di dalam memberikan
layanan kepada partisip negara. Dengan
kata lain, pertanyaan mendasarnya adalah
birokrasi di mata presiden adalah ee
sangat-sangat ee apa? Less produktif.
Jadi kurang produktif dan seringki
kemudian apa berusaha kalau bisa di apa
tagline yang sering kali kita dengarkan
yang walaupun itu tidak enak di kuping
misalnya kalau bisa diperlambat kenapa
harus dipercepat ini adalah ee stigma
yang muncul di masyarakat yang stigma
ini tentu perlu kita apa kita ee
perbaiki secara bersama-sama dalam
sebagai bagian dari aparatip negara.
Nah, untuk bisa memperbaikinya tentu
kita sudah harus menjadi birokrasi yang
ee smart. Kalau kita lihat di dalam ee
apa? landskap birokrasi di era disrupsi
terjadi pergeseran paradigma Bapak Ibu
yang ee dulu beras apa ee masih
berdasarkan pada apa rule based eh
birokrasi eh
di mana eh menjadi transformative eh
governance atau mobilitas talenta
nasional. Apa sih itu rule based eh
birokrasi?
Robers Birokrasi itu adalah sistem
pemerintahan atau organisasi yang sangat
kaku dan berpusat pada kepatuhan mutlak
terhadap aturan, prosedur, dan hierarki
yang sudah ditetapkan. Sehingga
penekanan utamanya adalah aktivitas
berdasarkan aturan atau activity base
yang pada akhirnya seringki membuat
birokrasi tadi menjadi lebih lambat,
sulit berinovasi, dan tidak adaptif
terhadap ee perubahan seperti yang
terjadi pada ee reformasi. ee birokrasi
di era-era di awal-awal tahun 2013-an
yang lalu. Dan ee ini tentu di era
seperti sekarang sudah tidak bisa lagi
di apa ee di ee lakukan.
Bagaimana kita kemudian mampu melakukan
transformasi governance dalam konteks eh
karena memang terjadi perubahan eh
mindset mindset di dalam sebuah
organisasi. Kala
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:02 UTC
Categories
Manage