File TXT tidak ditemukan.
ASN Belajar Seri 1 | 2026 - Start with Smart – From Learning to Impact
AeGs6j9eeTQ • 2026-01-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. [musik] Saatnya kita melangkah. Hadapi segala [musik] tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu [musik] inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsong Indonesia [musik] emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan [musik] berkelas dunia lakukan tekad pantang [musik] menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan perintah selaku dunia tekat [musik] pantang menyerah jadi berkuit sama [musik] semangat membara di era digital [musik] terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cembalak [musik] Jawa Timur terus melaju bersama BPSTN [musik] Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas [musik] prestasi hebat ASN unggut [musik] Tiada yang tertinggal. No one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif [musik] tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur [musik] terus melayu. Bersama BPSDM Jatim kita terus [musik] melesat. Untuk Indonesia emas [musik] prestasi her aset unggur tiada [musik] yang tak tinggal no one left behind. Kita terus [musik] melangkah berkolaborasi [musik] inisiatif tinggi inovasi cemalah Jawa Timur [musik] terus melaju. Bersama BPSDM [musik] Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi [musik] hebat bersama kampus satelit PPSM [musik] Jatim no one left behind ASN [musik] unggul dan berkualitas melesar tinggi Indonesia jaya [musik] bersama membangun asa menuju [musik] cipta yang mulia kami hadirkan Kami [musik] berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] menitipi zaman dengan semangat pembaruan. [musik] Ilmu dedikasi dan harapan [musik] menjadi bekal masa depan. PPS Temen Jatim Pusat unggulan. Tempat lahirnya insan [musik] berkualitas. Mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas tuh inovasi bersatu dalam visi [musik] yang terang menjawab tantangan jangan gemilang [musik] PPSDM Jawa Timur Center [musik] of Sensilang [musik] bersama membangun asa [musik] menuju cita yang mulia. Kami [musik] hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] mengiti zaman dengan semangat pembaruan, [musik] ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal [musik] masa depan. BPSM Japin pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas. Mencet [musik] STM berkompetensi. Tangguh cerdas penuh inovasi [musik] bersatu dalam visi yang terang [musik] menjawab tantangan jangan gemilang. PPSDN Jawa Timur Center of Sans masa [musik] depan gemilang [musik] Kami mencoba [musik] menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Mudahlah kami junjung [musik] taguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. [musik] Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas. Kebanggaan negeri situs melayani bangsa dengan akuntabilitas [musik] tinggi. Hong kami di [musik] sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. [musik] Melayani bangsa loyal tanpa batasannya dan berkolaborasi bergandeng tangan [musik] satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak [musik] bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani [musik] bangsa [musik] Kami dari sini [musik] tegas dengan hati. Tujukan kompetensi [musik] dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa [musik] batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan [musik] ASN lebih beragama. mengerjas penuh hati tulus [musik] membantu sesama di mana kami [musik] melayani dengan kami [musik] melayani dengan kami melayani bangsa [musik] H [musik] Mentari pagi begitu cerah. Semoga hari ini penuh dengan berkah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Dengan senang hati saya Stefan Imelda kembali menyapa Anda hari ini dalam ASN Belajar pada seri 1 2026. Bapak, Ibu yang bergabung pada kesempatan kali ini, tentu saja ini merupakan episode terbaru, merupakan episode pertama di tahun ini yang berarti bukan hanya tahunnya yang baru, namun semangatnya juga baru dengan satu tema yakni start with smart from learning to impact. Menata arah, menguatkan langkah, mengemban amanah. Berbicara soal awal selalu berhubungan dengan menata terlebih dahulu. Karena pada kesempatan kali ini menekankan pentingnya memulai pengabdian dengan perencanaan cerdas, kesadaran peran, dan tujuan yang jelas. Tentunya di awal tahun ini diharapkan aparatur diajak menata kembali arah dan juga prioritas kerja agar selaras dalam integritas pastinya untuk bertanggung jawab dalam pelayanan publik. Pada kesempatan kali ini, tema yang akan kita persembahkan dan juga akan kita pelajari bersama Bapak Ibu yang tergabung lebih dari sekedar belajar saja karena tema ini mendorong transformasi pengetahuan menjadi tindakan nyata, inovasi dan peningkatan kualitas pelayanan sehingga amanah dapat dijalankan secara optimal dan berkelanjutan. Tentu saja webinar ASN Pelajar 2026 ini dipersembahkan spesial oleh BPSDM Jawa Timur. Dan jangan lupa kami mengimbau kepada seluruh peserta yang bergabung pada kesempatan kali ini untuk melakukan absensi terlebih dahulu di semesta Bangkok. Dan tentu saja selengkapnya materi akan kita bahas dalam ASN belajar seri 1 2026. [musik] Yang saya hormati, tentu saja pada pagi hari ini begitu spesial karena kita juga akan menyimak terlebih dahulu sambutan dan juga opening speech yang akan disampaikan oleh Dr. Ramlianto, S.P,MP. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Kepada beliau kami silakan. [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. SOB ASN di seluruh tanah air. Alhamdulillah hari ini, Kamis tanggal 15 Januari 2026 kita kembali dipertemukan dalam ruang belajar bersama menandai dimulainya ASN belajar tahun 2026. Webinar seriesen belajar adalah sebuah ikhtiar berkelanjutan persembahan JTIM Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga api pembelajaran tetap menyala di tengah tugas pengabdian yang tidak pernah sederhana. Sopat SN tema yang kita angkat sebagai pembuka tahun 2026 ini adalah start with smart from learning to impact. Menata arah menguatkan langkah mengemban amanah. Tema pembuka tahun 2026 ini adalah sebuah penegasan arah bahwa di tengah tantangan yang semakin kompleks, persaingan yang kian global dan ekspektasi masyarakat yang terus meningkat. ASN tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi harus bekerja cerdas, bekerja berbasis pengetahuan, dan bekerja berorientasi pada dampak. Tema ini menegaskan bahwa kecerdasan ASN hari ini bukan lagi diukur dari seberapa sibuk kita bekerja, tetapi seberapa tepat kita menempatkan energi, pengetahuan dan keputusan. Bekerja cerdas berarti mampu membaca konteks, mengelola kompleksitas, dan mentransformasikannya pembelajaran tersebut menjadi sebuah solusi nyata. Dari sinilah arah ditata, langkah diperkuat, dan amanah dijalankan dengan penuh tanggung jawab agar setiap kebijakan, setiap layanan, dan setiap keputusan ASN benar-benar menghadirkan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. ASN yang cerdas adalah ASN yang mampu menjembatani pengetahuan dengan tindakan, visi dengan implementasi, serta regulasi dengan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakatnya, kemuliaan bangsanya, dan martabat negerinya. Sfat ASN di seluruh tanah air tahun 2026 menuntut ASN untuk semakin smart. Smart dalam membaca perubahan, smart dalam menata kebijakan, smart dalam mengelola sumber daya, dan smart dalam menghadirkan pelayanan publik yang bermakna. Smart bukan semata soal teknologi atau kecanggihan digital, tetapi tentang kecernihan berpikir, ketepatan bertindak, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Karena itu kita memulai dengan belajar. Sebab belajar adalah titik mula dari semua perubahan besar. Dari belajar kita menata arah. Dari belajar kita menguatkan langkah. Dan dari belajar pula amanah pengabdian kita menemukan maknanya yang paling dalam. Webinar series belajar sejak dimulainya pada tahun 2022 yang lalu hadir untuk memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti di ruang diskusi tetapi berlanjut menjadi kinerja nyata, inovasi konkret dan dampak yang dirasakan masyarakat. Karena telah menjadi kesadaran kolektif kita bahwa birokrasi masa depan adalah birokrasi pembelajar. Organisasi yang tidak belajar akan tertinggal dan aparatur yang berhenti belajar akan kehilangan relevansinya. Hal ini terlihat dari antusiasme SN Indonesia untuk berpartisipasi aktif mengikuti ASN belajar yang mencapai hampir 4 juta ASN sampai dengan tahun 2025 yang lalu. Karena itu ASN belajar bukan sekedar program melainkan sebuah gerakan budaya. budaya untuk terus memperbaiki diri, membuka wawasan, dan menjadikan ilmu sebagai pondasi pengabdian. Di sinilah makna from learning to impact kita teguhkan bahwa setiap pengetahuan yang kita peroleh harus bermuara pada perubahan cara kerja. setiap wawasan yang harus berujung pada pelayanan yang lebih cepat, lebih adil, dan lebih manusiawi. Dan setiap pembelajaran harus menghadirkan kepercayaan publik yang semakin kuat kepada birokrasi. Sahabat ASN di seluruh tanah air, mari kita jadikan ASN belajar 2026 sebagai ruang menata ulang orientasi, memperkuat kompetensi, dan menyatukan langkah agar ASN Indonesia hadir sebagai aparatur yang profesional, adaptif, dan berintegritas. Aparatur yang tidak gagap menghadapi perubahan, tidak lelah menjawab tantangan, dan tidak kehilangan kompas nilai dalam mengemban amanah. Aparatur yang tidak gagap menghadapi perubahan adalah aparatur yang mau belajar sebelum dipaksa oleh keadaan. Ia membaca tanda-tanda zaman, memahami arah kebijakan global dan nasional, serta sigap menyesuaikan cara kerja tanpa kehilangan kualitas. Dalam dunia yang bergerak cepat, kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi kunci agar birokrasi tetap relevan dan dipercaya. Aparatur yang tidak lelah menjawab tantangan adalah aparatur yang menjadikan pengabdian sebagai energi, bukan sebagai beban. Tantangan dipahami sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan untuk berhenti. Dengan ketangguhan mental dan kecernian berpikir, ASN mampu berdiri tegak di tengah tekanan menjaga kinerja dan terus menghadirkan solusi bagi masyarakat. Aparatur yang tidak kehilangan Kompas nilai adalah aparatur yang menjaga etika, integritas, dan kepentingan publik sebagai poros setiap keputusan. Di tengah kompleksitas regulasi dan dinamika kepentingan, nilai-nilai inilah yang menjaga agar kekuasaan tetap berpihak pada pelayanan dan kewenangan tetap berada dalam koridor moral. Pada akhirnya aparatur seperti inilah yang diharapkan. ASN yang adaptif tanpa kehilangan jati diri. kuat tanpa kehilangan empati dan cerdas tanpa meninggalkan nurani. Dari tangan aparatur semacam inilah amanah negara dijalankan dengan martabat dan kepercayaan publik tumbuh sebagai pondasi birokrasi yang kokoh dan berdampak. Sobat ASN di seluruh tanah air, pada kesempatan pembuka ASN belajar tahun 2026 ini, kita beruntung dapat belajar langsung dari para tokoh nasional yang memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas dan kualitas ASN Indonesia. Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan seluruh ASN Indonesia, izinkan kami menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada pertama Bapak Dr. Muhammad Taufik di, Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia yang akan memberikan perspektif strategis tentang pembelajaran ASN dan transformasi birokrasi pembelajar. Kedua kepada Bapak Prof. Dr. Arif Fakrullah, SH. MH. Beliau adalah Kepala Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia yang akan menguatkan arah kebijakan Manajemen Talenta dan pengembangan kompetensi ASN ke depan. Dan ketiga kepada Bapak Dr. Sugeng Haryono, M.Pd. Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Manusia Kementerian Dalam Negeri yang akan memperkaya diskusi kita tentang penguatan kapasitas ASN daerah dalam menjawab tantangan pemerintahan modern. Kehadiran para narasumber hari ini menegaskan bahwa ASN belajar bukan sekedar forum diskusi, tapi ruang strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan kebijakan, dan memastikan bahwa pembelajaran benar-benar bertransformasi menjadi kinerja dan dampak nyata. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri pertama tahun 2026. Semoga bermanfaat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Baik, terima kasih untuk sambutan hangatnya kepada yang kami hormati Bapak Ramlianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Seperti apa yang disampaikan beliau, ASN hadir untuk memberikan angin segar, memberikan pencerahan untuk kita semua dalam pelayanan masyarakat. tentunya Bapak, Ibu sekalian, sobat ASN di mana pun Anda berada, mari bersama kita akan menyimak dan belajar pada pagi hari ini dengan narasumber-narasumber yang telah tergabung. Dan pada kesempatan ini begitu spesial karena kita akan belajar bersama dengan pakarnya yakni Dr. TR. Erna Irawati, Sos, Empol, ADM. Beliau adalah Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran Aparatur Sipil Negara ASN di Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia atau LAN RI. Untuk itu kepada beliau kami silakan. [musik] Baik, selamat pagi Ibu Erna Irawati telah bergabung bersama kami dalam ASN belajar. Terima kasih banyak. Selamat pagi. Selamat pagi Ibu. Semoga hari ini sehat selalu. Pagi ini begitu cantik dan cerah ini menambah semangat kita untuk belajar, Ibu. Silakan Ibu ee berkenan untuk memberikan materi kepada seluruh peserta. Oke, terima kasih banyak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera Bapak Ibu semuanya. Pak Harmen juga sudah hadir. Terima kasih banyak. Jadi ee terima kasih banyak kawan-kawan dari BPSDM Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten sudah melakukan sebuah forum pembelajaran bagi ASN di Indonesia. Dan pada pagi hari ini temanya sangat menarik gitu ya, smart from learning to impact gitu. Nah, ini sangat-sangat relevan Bapak Ibu dengan paradigma yang baru gitu. mungkin saya akan sedikit me mungkin sudah sering kita diskusikan mengenai paradigma pembelajaran gitu. Saya selalu mengatakan bahwa dari tahun sebenarnya sudah dari mulai tahun 2013 tapi secara formal tahun 2017 paradigma pengembangan kompetensi untuk aparatur sipil negara sudah mengalami perubahan dari training ke learning gitu. Kalau training fokusnya adalah pembelajaran secara struktur formal. Mayoritas dilaksanakan di kelas. Kemudian kita mengubah menjadi learning. Kalau learning itu tidak hanya formal. Kemudian kalau dulu kita kenal ada klasikal non klasikal tapi dengan undang-undang yang baru kita kenal ada istilah formal, sosial dan experi learning. ee saya ingin membawa perubahan paradigma ini lagi khususnya di awal tahun 2026 gitu. Mengingatkan kembali bagaimana kita sudah mencoba mengarah selain dari training ke learning, ada satu lagi paradigma yang menjadi penting menjadi tonggak kita. Kalau nanti saya biasanya berbicara transformasi pembelajaran basisnya adalah corporate university. bagaimana kita mencoba bergerak dari pendekatan tradisional ini ke pendekatan yang baru yaitu outcome based learning. Kalau di pendidikan ada OBE, outcome based education gitu. Dan ini sama di learning juga sama gitu. Bagaimana ee kalau mungkin kawan-kawan bukannya kita sudah sekarang sudah outcome outcome based learning, sekarang kita sudah ke-learning-nya sendiri tidak secara klasikal tapi sekali lagi Bapak Ibu kita masih menjumpai dan sering sekali ketika menerapkan outcome based learning tapi di dalam praktik di bawahnya kita masih menggunakan pendekatan-pendekatan yang sifatnya tradisional. Kalau tradisional biasanya kan fokusnya pada isi apa yang diajarkan gitu. Intinya adalah mendengarkan dan memahami gitu. Ee fasilitator atau guru menyampaikan materi, peserta menyerap informasi. Biasanya indikator hasilnya adalah ujian yang mengukur ingatan kita, gitu. Nah, sering sekali juga pembelajaran tidak terhubung dengan kebutuhan di dunia kerja. Jadi ee biasanya lembaga penyelenggara pelatihan mengidentifikasi pelatihan kemudian menawarkan gitu. Ah, ini yang saya bikin program, ayo kamu ikut dong dengan program saya gitu. Pendekatan ini mengalami sebuah perubahan Bapak Ibu. Ee dari sisi metodologi ketika kita belajar berarti melakukan dan membuktikan. Kalau ilustrasinya tadi lembaga pelatihan menyusun program kemudian menawarkan kalau outcome based learning adalah lembaga penyelenggara pelatihan mendengarkan kebutuhan dari instansi pemerintah dari unit kerja butuh apa baru kemudian membuat program. Nah, ini ini sebuah paradigma yang menurut saya menjadi sangat penting ketika kita berbicara mengenai pengembangan kompetensi. Karena kalau kita menerapkan outcome based learning atau OBL menempatkan hasil atau outcome sebagai titik tolak dalam perencanaan perancangan pembelajaran. Makanya tadi bukan Lemdik menyusun program kemudian menawarkan, tapi justru Lemdik mendengarkan apa kebutuhan kemudian baru merancang programnya. secara spesifik nanti OBL akan mengikuti misalnya ketika tujuan atau outcome itu sudah jelas yang dibutuhkan apa dari unit kerja dari instansi pemerintah dari pengguna butuh apa kemudian fasilitator mengembangkan desain pembelajaran sampai kompetensi cara mengukur kriteria keberhasilannya disusun sesuai dengan outcome atau tujuan yang ingin dicapai dan juga proses di dalam pembelajarannya nya peserta benar-benar dapat menunjukkan kemampuan bukan sekedar mengumpulkan jam pembelajaran. Jadi kalau saya mengingatkan kembali mengenai Undang-Undang 20 ketika kita berbicara semua ASN sekarang wajib untuk melakukan pengembangan kompetensi bukan narasi kuantitatif yang diutamakan berapa JP dan berapa JP tapi lebih kepada setiap ASN mengembangkan kompetensi supaya relevan dengan perubahan dengan tuntutan pekerjaan. Jadi melakukan dan membuktikan adalah ciri utama ketika kita berbicara mengenai outcome based learning. Kemudian kenapa kita membutuhkan outcome based learning? Yang pertama, Bapak Ibu, pembelajaran adalah sebuah investasi yang harus bermanfaat terhadap organisasi. sehingga OBL sebagai sebuah pendekatan baru hasil-hasil pembelajarannya dapat diukur sehingga relevan dengan kalau kita melakukan investasi harus ada dong manfaatnya bagi organisasi kita dan ukuran-ukuran itu harus diukur. Kemudian juga kesesuaian dengan kebutuhan kerja karena apa tujuan yang pertama harus diidentifikasi baru kita menyusun sebuah program. Kemudian kedua, biasanya kalau OBL kita memanfaatkan berbagai sarana-sarana yang kita butuhkan untuk menyelenggarakan pengembangan kompetensi secara ee lebih efektif. misalnya perkembangan teknologi dan data dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, memungkinkan pencatatan dan lain-lain. Dan juga Bapak Ibu, generasi yang kita hadapi saat ini termasuk untuk ASN di Indonesia mulai lebih menyukai pembelajaran dengan melakukan atau learning by doing umpan baliknya dilakukan secara cepat. Makanya metode-metode seperti project based learning, eh simulasi dan lain-lain menjadi lebih menarik dibandingkan pembelajaran-pembelajaran yang sifatnya adalah misalnya ceramah dan lain-lain. Dan yang keenam adalah efisiensi dan akuntabilitas. Kalau tadi saya mengatakan investasi ee investasi itu harus ada hasilnya, harus ada manfaatnya bagi organisasi kita sehingga efisiensi dan akomtabilitas menjadi kunci. Dari dari perubahan paradigma tadi kita melihat bahwa tujuan menjadi kunci ketika kita melakukan pengembangan kompetensi. Tujuannya itu mau ke mana dari pengembangan kompetensi? Kenapa tujuan ini menjadi sangat penting, Bapak, Ibu? Ini faktanya, Bapak, Ibu. Ee saya mengambil ee apa namanya? data eh World Bank itu ada satu publikasi yang mengatakan bahwa 70% proyek pengembangan kompetensi gagal karena tujuannya tidak jelas. Makanya tadi OBL tadi menjadi penting outcome based learning. Pembelajaran harus ada manfaatnya. Ketika kita bisa bicara mengenai manfaat berarti sebuah pembelajaran harus ada tujuan yang jelas. Kalau tujuannya tidak jelas, pengembangan kompetensinya gagal. Bank mengatakan bahwa kegagalan pengembangan kompetensi 70% itu karena tujuannya tidak jelas. dan juga Bapak Ibu ee beberapa fakta yang lain adalah riset yang dilakukan oleh Boston Consulting Group tahun 2024 dan ini sama Bapak Ibu ketika mereka melakukan sebuah riset mengenai transformasi digital perusahaan perbankan, Bapak Ibu, mereka menemukan bahwa 70% transformasi digital perusahaan gagal karena tujuan yang tidak jelas. juga kegagalan dipembangan kompetensi tidak ada visi yang terdefinisi dengan baik dan juga inisiatif digitalnya cenderung berjalan melampaui anggaran, kehilangan fokus dan tidak memberikan nilai yang diharapkan. Jadi sekali lagi tujuan menjadi fokus ketika kita berbicara cara baru mentransformasi pengembangan kompetensi. Jadi kita harus jelas dulu perusahaan yang menerapkan transformasi digital tanpa tujuan yang jelas hanya akan mengarah kepada kegagalan. Jadi ini Bapak Ibu tadi ketika paradigmanya dirubah dari tradisional ke outcome based learning yang di awal tujuan harus jelas dan ini dibuktikan dengan berbagai riset bahwa kalau kita tidak tahu tujuannya mau kita melakukan pengembangan kompetensi yang jumlahnya 100.000 dan lain-lain. Tapi tujuannya tidak jelas, 70% akan mengalami kegagalan. Kemudian apa langkah utama yang yang dapat kita lakukan ketika kita akan melakukan analisis ulang atau direction dari arah pengembangan kompetensi atau bahkan kita refleksi terhadap pengembangan kompetensi yang kita lakukan saat ini ketika kita menata arah pengembangan. Yang pertama tadi Bapak, Ibu, kita harus tahu menentukan tujuan secara spesifik. Nah, tema pada pagi hari ini menjadi sangat menar menarik bahwa kita harus smart. Nanti saya akan menyinggung ke sana gitu menentukan tujuan secara spesifik ya harus smart tadi gitu. Kemudian yang kedua adalah kalau kita tujuannya sudah jelas, yang kedua adalah melakukan visualisasi dari peta kompetensi itu sendiri. Kalau tujuannya seperti ini, kompetensi yang akan kita capai seperti apa? Baru kemudian kita berbicara mengenai kejelasan dari action plan dari pengembangan kompetensi ownership. ownership itu semua tahu arahnya mau ke mana, stepnya seperti apa, monitoring, evaluasinya nanti akan dilakukan seperti apa. Jadi sekali lagi Bapak, Ibu semua yang bisnisnya atau pekerjaan mengenai pengembangan kompetensi mumpung masih pada awal tahun mungkin kita mencoba berkontlasi melakukan refleksi terhadap diri kita sendiri apakah pengembangan kompetensi ini tujuannya sudah jelas, smart-nya ketemu atau tidak. Apakah ketika tujuannya sudah jelas, PT peta kompetensi yang akan kita capai juga dengan jelas, action plan-nya apakah memang nanti ketika kita ukur benar-benar mengukur tujuan yang tadi sudah kita spesifikkan? Jadi, ini langkah-langkah utama ketika menata arah dari pengembangan kompetensi. Kompetensi yang akan kita lakukan. Ini beberapa contoh Bapak Ibu yang tadi kalau WorldBank mengatakan 70% itu gagal karena tujuannya enggak jelas. Ini ada beberapa contoh. Misalnya contoh yang pertama adalah proyek digital upskilling di sebuah bank regional gitu. Tujuannya meningkatkan kompetensi digital staffnya. Masalahnya ketika mereka membuat program digital upskilling tidak ada matrik yang ditetapkan. misalnya jumlah modul yang selesai berapa, peningkatan produktivitasnya seperti apa, itu tidak ada. Akibatnya ada 80% peserta memang menyelesaikan digital upscaling, namun tidak ada perubahan pada penggunaan alat digital dalam pekerjaan sehari-hari. Jadi, 80 peserta menyelesaikan pelatihannya, namun tidak ada perubahan pada penggunaan alat digital. Jadi tidak ada modul-modul yang terkait dengan digitalisasi yang dapat dilihat dari pekerjaan 80 peserta yang mengikuti pelatihan ini. Anggaran yang terpakai 1, juta US tanpa dampak bisnisnya belum ada, Bapak, Ibu. Misalnya seperti ini, Bapak, Ibu nanti bisa melakukan evaluasi terhadap beberapa program pengembangan kompetensi yang dilakukan. Contoh yang kedua adalah inisiatif soft skill-nya membangun kepemimpinan yang lebih efektif. Masalahnya ketika mengembangkan program ini visinya terlalu luas, tidak dijabarkan ke level tim atau individu. Akibatnya hanya 30 yang mengikuti program dan survei kepuasan menunjukkan kurang relevansinya dari sisi program-program yang ada dengan tantangan operasional. Kemudian ada contoh yang lain, Bapak Ibu, misalnya ada kursus data analytik, tidak ada kriteria smart dan lain-lain. Nah, peserta merasa bahwa ee tidak terlalu teoritis, tidak dapat menerapkan ilmu yang dipelajari. ee nanti monggo silakan kawan-kawan melakukan evaluasi terhadap program-program pengembangan kompetensi yang ada saat ini. Akibatnya apakah sudah oke. Ketika akibatnya oke, berarti tadi tujuan, kemudian direction, dan lain-lain sudah disusun. Tapi kalau belum Bapak Ibu waktunya bagi kita untuk tadi tujuan tadi diterjemahkan di dalam sebuah konsep yang kita sebut sebagai smart. Jadi ini beberapa permasalahan secara teknis Bapak Ibu ketika kita tidak bisa mengukur mengenai keberhasilan dari pengembangan kompetensi. Yang pertama adalah minimnya definisi matrik yang dapat diukur. Jadi kita membuat program tapi matrik untuk mengukurnya tidak jelas gitu. Misalnya bagaimana kita menghubungkan program pengembangan kompetensi kita dengan persentase peningkatan produktivitas. waktu penyelesaian tugas, batas waktunya tidak realistis, tujuan tidak dibreakdown menjadi langkah-langkah kecil yang mencerminkan bahwa aktivitas ini nanti bisa diukur. Kemudian yang keempat adalah tidak ada hubungan atau minim hubungan pembelajaran dengan dampak pekerjaan yang jelas agar peserta melihat nilai langsungnya gitu. Lembaga administrasi negara dengan kebijakan pelatihan kepemimpinan. Bapak, Ibu, kalau Bapak, Ibu cermati ada satu instrumen yang penting yaitu valuasi nilai ekonomi dari misalnya proyek perubahan, aksi perubahan gitu. Tapi sampai dengan tahun 2025 kemarin kelihatannya masih belum menjadi ukuran utama ketika dilakukan assesment terhadap peserta untuk melihat manfaat atau nilai langsung dari setiap aksi perubahan atau proyek perubahan. Nah, ini Bapak Ibu ee harapan kita adalah ketika kita melakukan pengembangan kompetensi nilainya ada. Karena tadi yang saya sebutkan setiap pengembangan kompetensi adalah investasi dari organisasi. Investasi harus memiliki manfaat. Jadi ee ini ada empat yang secara teknis kalau masalah pengembangan kompetensi di Indonesia misalnya kemarin saya berbicara akses dan lain-lain Bapak Ibu. Sekarang kita berbicara mengenai lebih teknis lagi. Matrik ukurannya belum secara jelas didefinisikan. Batas waktunya juga sering sekali bagaimana kita mengukur hasil dan lain-lain. Kemudian tujuannya secara breakdown kecilnya juga perlu kita perbaiki di beberapa sisi. Kemudian kemanfaatannya yang masih sering sekali kita harus pertanyakan ulang. Bukan berarti tidak ada, tapi sering sekali ketika orang tidak melihat nilainya. dianggap pengembangan kompetensi tidak ada hasilnya. Sekali lagi, masa yang baru kita harus secara khusus Bapak Ibu melihat atau melakukan valuasi terhadap hasil dari pengembangan kompetensi yang ada. Ee Bapak Ibu kembali tadi saya mengatakan bahwa pembelajaran dengan paradigma yang baru harus memberikan manfaat gitu. Ketika kita bergerak kepada sekarang corpu adalah kewajiban bagi semua instansi pemerintah sebagai sebuah learning ekosistem, kita harus memastikan bahwa pengembangan kompetensi yang dilaksanakan di dalam corporate university mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional ataupun kalau kita berbicara mengenai instansi pemerintah Kementerian Lembaga Pemerintah Daerah Korpu dalam konteks pengembangan kompetensinya harus mampu menangani isu-isu strategis yang menjadi mandat dari masing-masing kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Jadi sekali lagi corpus sebagai pendekatan utama. Kenapa ini dibutuhkan? Karena apa? Harusnya pengembangan kompetensi harus menangani isu-isu strategik nasional. Makanya topik hari ini Bapak Ibu sangat-sangat menarik dan sangat-sangat relevan dengan dua kebijakan, dua satu paradigma dan juga kebijakan corporate university. Paradigmanya mengarah kepada outcome base. Berarti tujuannya harus jelas, harus ada manfaatnya. Yang kedua, corporate university tadi saya sebutkan bahwa harus memberikan manfaat untuk bagaimana organisasi mampu menyelesaikan berbagai mandat strategis, isu-isu strategis yang ada baik yang sifatnya instansi maupun nasional. Sehingga temanya ketika kita berbicara mengenai smart dari pembelajaran ke dampak Bapak, Ibu, smart tidak artinya hanya pintar, Bapak Ibu. Saya yakin kawan-kawan BPSDM dengan sengaja mengambil smart. Bukan berarti smart dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke Indonesia pintar, namun lebih mengarah kepada smart ketika berbicara mengenai metode lama. Saya yakin ini familiar Bapak Ibu, spesifik, measurable, achievable, relevan, dan juga time bound. Outcome based learning harus ada tujuan tertentu. Pengembangan kompetensi corpo harus berkontribusi terhadap tujuan-tujuan yang sifatnya strategis. Ketika kita sudah mengarah kepada outcome based learning untuk memastikan pembelajaran berkontribusi sehingga ketika kita membuat sebuah program pengembangan kompetensi harus spesifik, measurable, achievable, relevan, dan juga time bound. ini bukan pendekatan yang baru Bapak Ibu, tapi sekali lagi bagaimana untuk memastikan smart-nya ini diadaptasi. Ini yang mungkin masih banyak permasalahan yang dapat kita diskusikan yang harus kita selesaikan untuk memastikan bahwa smart di dalam pengembangan kompetensi ketika kita berbicara tujuan strategis tadi dapat benar-benar diimplementasikan di dalam program pembelajaran. Bapak, Ibu, ini tadi yang pertama adalah tujuannya harus jelas dulu ketika berbicara mengenai pengembangan kompetensi. saya membawa mengenai profil dan strategi pemenuhan pengembangan kompetensi secara nasional yang nantinya untuk setiap instansi di setiap corpu instansi harus mengarah atau membuat profiling dari tujuan-tujuan tadi. Misalnya Bapak Ibu di sini saya membawa mengenai profil atau kebutuhan kompetensi generik nasional nasional yang ada di sini Bapak Ibu misalnya kita berbicara mengenai Smart ISN robus dan lain-lain yang ada di sini kita bisa meng-customize di dalam instansi kita misalnya Bapak Ibu untuk yang generik tujuannya adalah digital. bagaimana misalnya ee semua ASN di instansi kita memiliki literasi digital, integritas dan etika, kompetensi skill-nya misalnya bisa berkomunikasi dan negosiasi. Jadi ini adalah sebuah tujuan. Kemudian yang secara spesifik Bapak Ibu juga ada gitu misalnya ini kemarin saya diskusi dengan kawan-kawan dari BPK gitu. Core skill-nya untuk bidang pemeriksaan selain yang nanti di JPT MAD di Dirjen Badan dan juga di Sejennya ada yang secara spesifik sebagai tujuan atau profiling dari kompetensi tapi misalnya core audit skill itu harus dimiliki strategic misalnya manajemen risiko, analisis strategic thinking dan lain-lain itu menjadi sebuah tujuan ketika kita sudah mampu Bapak Ibu menetapkan kan tujuan dari pengembangan kompetensi atau arah dari pengembangan kompetensi. Bapak, Ibu, kita memiliki profile yang jelas. Profile ini adalah sebuah peta data framework bagi kita untuk mengarahkan tujuan dari pembelajaran kita. Ketika ini secara spesifik beberapa contoh Bapak Ibu ketika kita mengcate dari tujuan-tujuan yang sifatnya strategis sampai dengan kompetensi yang dibutuhkan yang ada di sebelah kanan ini. Kemudian kalau kita sudah memiliki arah yang jelas baru kita akan menanyakan kepada organisasi kita profiling tadi sudah dipenuhi oleh semua ASN yang kita miliki atau belum. Nah, baru program tadi secara khusus ketika kita menemukan gap antara profiling dengan kondisi yang ada, programnya kita susun. Saya tidak akan menjelaskan secara spesifik, tapi nanti kalau ada pertanyaan bagaimana menterjemahkan dari tujuan-tujuan tadi di dalam corporate university, tata kelolanya dari level teknis, level operasional, level strategis, monggo. Cuman saya hanya ingin menggaris bawahi Bapak Ibu ketika kita sudah memiliki profiling tadi kan yang utama adalah tujuannya jelas Bapak, Ibu. Tujuan tadi profiling ada di sini analisisnya kemudian kita muncul tujuan baru kita berbicara mengenai program. Apakah programnya nanti akan diselenggarakan pengembangan kompetensinya mau formal, sosial dan experiential learning. Ini menjadi pilihan kita untuk kita selenggarakan. Tapi yang utama adalah tujuan tadi untuk sebuah pembelajaran harus harus jelas. Nah, ini Bapak Ibu ini contohnya bagaimana kita ketika tujuannya sudah jelas baru kemudian smart tadi ketika pengembangan kompetensi harus diterjemahkan gitu. Misalnya tujuannya adalah meningkatkan kemampuan presentasi publik tim pemasaran atau tim apa ini swasta misalnya Bapak Ibu spesifiknya apa? Setiap smart-nya kita susun. Setiap anggota tim pemasaran dapat menyampaikan presentasi produk 10 menit dengan struktur yang jelas. Measurable-nya nilai rata-rata dari audiensi skalanya 1 sampai 5 nilainya harus 4 lebih pada tiga presentasi berturut-turut. Achievable alokasi 2 jam pelatihan per minggu selama 6 minggu plus coaching ee selama 30 menit tiap minggu Bapak Ibu. One onone coaching dilaksanakan 30 menit. Relevansinya presentasi yang lebih baik akan meningkatkan konversi lead sebesar 15% dalam kuartal berikutnya. Time bond-nya selesai dan dievaluasi pada akhir bulan keenam. Baru kemudian Bapak Ibu langkah-langkah konkretnya itu diision. Oke, workshop-nya storyting, praktiknya seperti apa, coaching-nya 30 menit seperti apa, workshop lagi simulasi sampai review. tidak berhenti di sana. Sekali lagi untuk memastikan smart tadi Bapak Ibu ada pemantauan setiap akhir minggu tim mengisi apa minggu lakukan bols check kemudian tidak lanjutnya misalnya selama 2 minggu kalau sudah tercapai skornya baru tim ini diterjunkan ke presentasi eksternal. Literasi digital juga sama, Bapak Ibu. Misalnya spesifiknya setiap karyawan menyelesaikan tiga modul dapat membuat satu contoh kerja. Targetnya 60% mencapai nilai-nilai nilai rata-ratanya 80 mengumpulkan contoh kerja yang disetujui atasan. Achievable-nya, relevannya, time bound-nya. Nah, di sini misalnya evaluasi pada minggu kees9. Jadi kalau kita bisa menyusun dari tujuan yang jelas, langkah-langkah konkret monitoring evaluasi misalnya Bapak Ibu di akhir sebuah pembelajaran kita akan melihat sebuah perubahan. Situasi awalnya misalnya literasi digital tadi 30% karyawan dapat menggunakan Google Workspace secara efektif. 30% enggak cukup, Bapak, Ibu. Sehingga dilakukan intervensi program smart literasi digital tadi diterapkan selama 8 minggu. Akhirnya hasil di ujungnya ada 62% karyawan mencapai nilai 80, mengumpulkan contoh kerja dan juga ada produktivitas meningkat misalnya 15% dalam 3 bulan berikutnya. Jadi sekali lagi Bapak Ibu, smart tidak hanya pintar Bapak Ibu, tapi smart adalah bagaimana kita mampu membawa pengembangan kompetensi ini mendapatkan hasil sesuai yang dibutuhkan oleh organisasi. Sehingga ketika mengembangkan sebuah program pengembangan kompetensi tujuannya harus jelas. Kalau tujuannya tidak jelas, Bapak Ibu, apa yang kita lakukan tidak ada hasilnya. Seperti yang tadi disebutkan oleh WorldBank, 70% kegagalannya karena tujuannya enggak jelas. Jadi, langkah awal adalah tujuan yang jelas. Dari tujuan yang jelas dibreakdown secara smart menjadi sebuah langkah-langkah dan ukuran-ukuran konkret untuk memastikan hasil. Demikian Bapak, Ibu yang dapat saya sampaikan untuk memulai di tahun 2026 kita melakukan refleksi, kita melakukan ee apa namanya? duduk sebentar untuk mengevaluasi apakah pengembangan kompetensi kita sebagai strategi memenuhi kebutuhan organisasi untuk beradaptasi memiliki tujuan dan kemanfaatan yang jelas. Kalau tidak saatnya persis tema yang diambil pada hari ini kita harus smart dari learning mendapatkan dampak atau manfaat bagi organisasi kita. Demikian dari kami, sekali lagi terima kasih banyak. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Terima kasih Ibu Erna untuk materi yang diberikan. benar-benar sungguh menyegarkan kita. Apalagi terkait dengan tema ini sangat sejalan begitu ya. Ada specific, measurable, achievable, relevan, dan time bound. Ini kita bisa pelajari bersama dan kita pedomani begitu ya Bapak Ibu sekalian. Baik, Ibu Erna mohon izin apakah berkenan untuk membuka sesi Q&A kira-kira? Boleh satu aja ya, Mbak ya. Satu. Siap, Ibu. Akan kami ee berikan kesempatan untuk satu penanya. Ini sudah banyak yang antri sebetulnya Ibu untuk berbincang langsung dengan Ibu. Namun ada satu yang beruntung nanti ini bisa berbincang dengan Ibu secara langsung. Silakan untuk penanya. Ya, tentu saja dengan apa yang disampaikan Ibu Erna tadi dan ini terkait juga dengan sebuah outcome based learning, suatu hal yang menjadi basic ya, Ibu ya dari ASN belajar dan tentunya setiap ASN yang bergabung pada kesempatan kali ini harus belajar lebih lagi terutama untuk menata arah untuk membangun ASA di tahun yang baru ini. Begitu ya Bu Erna ya. Tentu saja ini ada beberapa penanya pada kesempatan kali ini pastinya menanyakan terkait suatu hal yang berhubungan dengan materi yang telah dibawakan oleh Ibu Erna. Baik, di sini telah bergabung bersama kami Bapak Firman Supriadi. Selamat pagi. Warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Baik, silakan Bapak. Eh, dari paparannya Ibu tadi ee ada yang ingin kami tanyakan. Di antara pendekatan pembelajaran antara outcam basaning dengan impact basaning itu mana yang terbaik, Bu? Terus ee kelemahan dan kelebihannya di mana? Mohon pencerahan. Terima kasih Bapak Firman. Mohon izin Ibu berkenan untuk menanggapi. Ee terima kasih ee banyak Pak Firman atas pertanyaannya. sebenarnya mau impact atau outcome gitu ya, Pak ya. Mau outcome atau impact. Ee Bapak, Ibu tadi saya menyebutkan salah satu yang kita bawa di dalam tema ini saya katakan menjadi sangat relevan ketika kita berbicara mengenai smart tadi eh smart governance tadi eh sori smart ketika kita menyusun sebuah desain pembelajaran ukurannya harus jelas. Salah satu ukuran ketika kita berbicara mengenai tujuan ya tadi outcome tadi. Kalau pertanyaannya mana yang apakah kita mau dampak? Kegagalannya tadi Bapak Ibu yang kedua ketika kita mengembangkan sebuah pembelajaran adalah tidak secara spesifik kita mengcascade gitu. Kenapa saya katakan outcome based learning bukan impact based learning? meskipun dua-duanya saya setuju, pengembangan kompetensi harusnya ya berdampak dan ee sori memiliki hasil kemanfaatan yang jelas dan juga berdampak gitu. Jadi kalau saya ketika berbicara mengenai cascading secara spesifik mulainya kan biasanya kita bicara kita paradigmanya lama misalnya outcome impact yang menjadi sasaran terakhir adalah impact tujuannya tapi tujuan tadi harus perlu dicascet Pak makanya kalau tadi saya memberikan contoh misalnya produktivitas naik 15% di bawahnya Bapak Ibu, di bawah sebuah di contoh saya yang terakhir misalnya ini saya kembali ke saya mungkin untuk menggambarkan mana yang lebih relevan ee ukuran-ukurannya. Kalau kita mau sampai ukurannya sampai ke dampak akan lebih bagus. Tapi sekali lagi ketika kita membuat sebuah program pelatihan, kita harus meng-cascet-nya secara lebih jah di sini Bapak Ibu, produktivitas tim meningkat 15 ini akan berdampak ini outcome-nya Bapak Ibu. Dampaknya apa? Ketika produktivitas tim meningkat 15% dampaknya organisasi, saya yakin misalnya keuntungan dari organisasi itu akan meningkat misalnya ee 5% atau 10% karena peningkatan keuntungan organisasi tidak hanya dikontribusikan dari tim ini saja gitu. Jadi kalau pertanyaannya mana yang akan kita gunakan, apakah outcome atau dampak dari sebuah pembelajaran ini sebuah cascading saja gitu. Jadi minimal Bapak Ibu adalah outcome tapi kalau mau menggunakan dampak pastikan outcome-nya juga ada. Karena apa? Outcome yang terhubung langsung dengan output dari sebuah pembelajaran. kita tidak bisa meloncat dari sebuah output pembelajar langsung kepada dampak. Tapi ketika kita melakukan pengukuran, ada pengukuran yang secara langsung kita hubungkan dari output-nya, gitu. Jadi kalau pertanyaannya, "Bu, boleh enggak kalau ketika mengembangkan sebuah pembelajaran kita ke dampak? Dampak output, outcome, dan dampak adalah ukuran keberhasilan." Nah, biasanya yang medium ini menjadi lebih terukur. Ketika Bapak Ibu mau mengukur dampaknya, kita perlu berbicara mengenai program-program yang lain. Jadi, saya tidak mengatakan salah ketika paradigma pembelajarannya sudah ke impact based learning, tidak outcome based learning, tapi pastikan ketika kita mengarah kepada impact based learning pasti muaranya dari outcome. Outcome itu harus ada output-nya dulu, gitu. Jadi monggo kalau mau dampak. Tapi dengan outcome, outcome pun sebenarnya kita sudah bisa mengukur kemanfaatan dari sebuah pengembangan kompetensi. Jadi tergantung ukuran yang mau kita gunakan sih Pak Firman. Karena tadi saya katakan measurable-nya itu mau di mana gitu. Tapi jangan sampai di output saja. Kalau di output tidak sesuai dengan paradigma yang baru gitu. Jadi miserablenya kalau kita hanya output mungkin kita banyak sekarang masih di output. ya kemanfaatannya belum kita ukur. Kemudian kalau measurableya mau sampai dengan outcome sudah ada progres kemanfaatan bagi organisasi. Kemudian dampaknya biasanya kalau kita sudah mengarah ke outcome, kita akan mengarah ke dampaknya gitu. Jadi tergantung dari measurable kita itu ukurannya mau ke mana. Tapi minimal kalau kita menerapkan yang paling moderat saat ini adalah outcome based learning. Berarti outcome ini sudah harus diukur ketika pembelajaran. Tapi kalau mau dilanjutkan ke dampak monggo. Gitu. Mungkin itu respon saya untuk pertanyaan Pak Firman. Terima kasih. Baik. Baik. Terima kasih Ibu Erna. Terima kasih Bapak Firman untuk pertanyaan yang telah diberikan. Baik sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Erna Irawati, Deputi Bidang Transformasi Pembelajar Aparatur Sipil Negara di LAN RI. Semoga hari ini membawa manfaat untuk kita semua. Selamat melanjutkan aktivitas, Ibu. Sehat selalu dan semangat selalu, Ibu. Oke, terima kasih banyak Bapak Ibu semuanya, moderator Pak Herman izin saya melanjutkan aktivitas. Terima kasih. Terima kasih banyak, Ibu. Sehat selalu. Makasih, Bu Herna. Oke, makasih. Baik, tentunya Bapak, Ibu sekalian, Sobat ASN di mana pun Anda berada tentunya masih ada beberapa pemateri yang akan memberikan materinya pada kesempatan kali ini. Untuk itu tetaplah bersama kami nantikan di segmen selanjutnya dan jangan lupa juga untuk mengisi semesta Bangk bagi yang belum registrasi. [musik] Terima kasih masih setia membersamai kami Bapak, Ibu, Sobat ASN. Tentu saja dalam segmen kali ini kita juga akan bertemu dan juga berbincang langsung begitu dengan pemateri yang juga tak kalah luar biasa. Beliau hadir yakni Bapak Suharmen, SKOM, M.Si. Beliau adalah Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara BKR Republik Indonesia. Baik, selamat pagi. Kami menyapa Bapak Suharm. Selamat pagi. Semoga dalam keadaan yang sehat dan bahagia pada pagi hari ini ya, Pak. Amin. Amin. Insyaallah. Amin. Terima kasih Bapak Suermen telah berkenan untuk bergabung bersama kami. Dan pada kesempatan kali ini kami silakan untuk memberikan materi kepada seluruh peserta. Silakan. Baik, terima kasih eh apa operator. Saya izin untuk share tahan. Sudah terlihat ya, Mbak? Baik, sudah terlihat Bapak. Baik, terima kasih. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di ee yang hadir pada kegiatan webinar ASN belajar seri pertama ee di yang sebagai host teman-teman di BPSDM ee Provinsi Jawa Timur. Senang sekali pagi hari ini saya bisa berbagi dengan teman-teman yang tentu saling belajar antara ee apa kami di Badan Kepayaan Negara dengan seluruh teman-teman ASN yang hadir pada kegiatan pagi hari ini. Ee menarik judul yang tadi di apa yang disampaikan oleh Pak Kaban tadi, Pak Dr. Andri, kemudian ee apa yang sudah disampaikan oleh Ibu Dr. karena di mana ee seri pertama memulai dengan sesuatu yang smart tapi smartnya tidak hanya pintar tapi juga sesuatu yang bisa terukur spesifik dan terukur kemudian mampu dichieve dan ee dalam waktu yang tentu ter ee apa ee bisa di ee rencanakan dengan baik dan bagaimana dari sebuah pembelajaran kemudian mampu memberikan dampak yang signifikan dalam menata arah, menguatkan langkah dan mengeb dalam mengemban amanah. Nah, ee karena materi yang disampaikan ke saya adalah bagaimana kemudian kita melakukan akselerasi terkait dengan kinerja dan pengembangan kompetensi apartisip negara dalam rangka menuju birokrasi perkelas dunia. Maka ada dua substansi yang nanti akan ee apa kami sampaikan dalam konteks ini. Pertama adalah pentingnya ee setiap aparatur sipil negara berkinerja dengan baik. Dan yang kedua adalah kinerja dan potensi nanti ke depan itu akan digunakan sebagai bagian di dalam pengembangan atau menentukan kepastian karir dari setiap apartisip negara melalui ee sebuah tools atau alat yang kita sebut dengan talent management. Nah, Bapak, Ibu yang kami hormati, ee per 1 Januari 2026 kemarin ee jumlah aparatur sipil negara meningkat luar biasa besar. ee dari tahun-tahun sebelumnya jumlah ASN kita itu relatively sekitar 4,5 juta. Sekarang itu menjadi sekitar 6,5 juta. Karena kenapa terjadi peningkatan yang luar biasa besar di dalam ee jumlah partnership dan negara kita dalam 1 tahun ee selama tahun 2025 kemarin terlebih karena ee sesuai dengan mandat dalam Undang-Undang 20 tahun 2023 tentang aparat negara di mana pemerintah diminta untuk menyelesaikan ee seluruh tenaga honorer yang ada di instansi pemerintah yang jumlahnya lebih kurang sebanyak ee hampir sekitar 1,8 juta orang dan ee ee setelah dilakukan seleksi ee ada dua kemarin yang dilakukan pengangkatan yaitu ee calon pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan ee perjanjian kerja maka total yang diangkat hampir R2.200.000 orang sehingga total pengangkatan sampai dengan posisi eh per 1 Januari kemarin menjadi 6,5 juta orang. Dari 6,5 juta aparatur sipil negara ini 78%-nya tentu ada di ee instansi daerah. Eh jumlahnya saat ini menjadi 5,1 juta orang dan instansi pusat sekitar 22% yaitu sekitar 1,4 juta orang. Dan kalau kita melihat dari sisi ee apa level generasi yang terbesar itu masih berada di eh apa eh generation Y eh sebanyak 53% eh atau sekitar 3,5 juta orang dan kemudian diikuti dengan ee generasi X sebanyak eh 37% atau 2,3 juta orang. Kemudian baru Jen, J genzy dan eh sebanyak 9% dan eh baby woman sebanyak 1%. Dari sisi gender tentu ee yang sebagian besar atau terbesar itu adalah di ee ee wanita atau perempuan sebanyak 55% dan laki-laki sebanyak 45%. Nah, kalau kita lihat dari sisi tingkat pendidikan sebagian besar adalah ee apa? 58% tingkat pendidikannya adalah ee diploma 4 ee ataupun eh strata 1. Kemudian 9% strata 2 dan ee 1% di strata 3. Bagaimana dengan Jawa Timur sendiri? Jawa Timur jumlah ASN-nya per 1 Januari 2026 ee di dalam data kami sebanyak 82.655 55 orang ee dengan jumlah pegawai negeri sipil sebanyak 46% atau 37.615 orang dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja ee sebanyak 28% dan P3K par waktu atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja pada waktu sebanyak 26%. yang ee di Jawa Timur ee dari sisi gender relatively berimbang antara laki-laki dan ee perempuan. Ee lebih ee banyak sedikit laki-laki tetapi dari proporsi secara keseluruhan masih ee sama-sama 50% jumlahnya. Dan ee dari berdasarkan ee apa usia generasi maka yang terbesar itu adalah sama dengan nasional yaitu ee generasi Yitu sebanyak 52% atau 44.184 184 orang dan ee kemudian diikuti eh generation X sebanyak 39% dan eh generation Z sebanyak eh 8%. ini ini ee kenapa ini penting untuk disampaikan tadi ee karena tadi Bu ee Bu Bu Erna Bu Deputi juga sudah menyampaikan bagaimana mekanisme pembelajaran yang sekarang ee apa ee terutama generasi-generasi ASN yang sekarang ini dalam pengembangan kompetensinya ini tentu juga akan inline dengan ee apa tingkat yang ada eh gambaran dari postur apar negara kita di Indonesia saat ini. Bapak, Ibu yang kami hormati. saya setelah menggambarkan sedikit mengenai ee kondisi aparisip negara kita, pertanyaan mendasarnya adalah dari ee apa sekitar 6,5 juta pegawai tadi, apakah kita sudah akan mampu menjawab ee apa statement yang pernah dikeluhkan oleh Bapak Presiden pada apa pidato sidang kabinet perdana beliau di tanggal 23 Oktober 2024 yang lalu di istana di negara misalnya Ya, Presiden mengatakan kita harus jujur untuk mengakui bahwa birokrasi kita ini sangat terkenal. Tapi sangat terkenalnya itu sangat terkenal dengan ribetnya dan sangat terkenal dengan lambatnya di dalam memberikan layanan kepada partisip negara. Dengan kata lain, pertanyaan mendasarnya adalah birokrasi di mata presiden adalah ee sangat-sangat ee apa? Less produktif. Jadi kurang produktif dan seringki kemudian apa berusaha kalau bisa di apa tagline yang sering kali kita dengarkan yang walaupun itu tidak enak di kuping misalnya kalau bisa diperlambat kenapa harus dipercepat ini adalah ee stigma yang muncul di masyarakat yang stigma ini tentu perlu kita apa kita ee perbaiki secara bersama-sama dalam sebagai bagian dari aparatip negara. Nah, untuk bisa memperbaikinya tentu kita sudah harus menjadi birokrasi yang ee smart. Kalau kita lihat di dalam ee apa? landskap birokrasi di era disrupsi terjadi pergeseran paradigma Bapak Ibu yang ee dulu beras apa ee masih berdasarkan pada apa rule based eh birokrasi eh di mana eh menjadi transformative eh governance atau mobilitas talenta nasional. Apa sih itu rule based eh birokrasi? Robers Birokrasi itu adalah sistem pemerintahan atau organisasi yang sangat kaku dan berpusat pada kepatuhan mutlak terhadap aturan, prosedur, dan hierarki yang sudah ditetapkan. Sehingga penekanan utamanya adalah aktivitas berdasarkan aturan atau activity base yang pada akhirnya seringki membuat birokrasi tadi menjadi lebih lambat, sulit berinovasi, dan tidak adaptif terhadap ee perubahan seperti yang terjadi pada ee reformasi. ee birokrasi di era-era di awal-awal tahun 2013-an yang lalu. Dan ee ini tentu di era seperti sekarang sudah tidak bisa lagi di apa ee di ee lakukan. Bagaimana kita kemudian mampu melakukan transformasi governance dalam konteks eh karena memang terjadi perubahan eh mindset mindset di dalam sebuah organisasi. Kala
Resume
Categories