Webinar Pengembangan Kompetensi Jabfung - Kupas Tuntas Tips dan Trik Menulis Karya Ilmiah
co3zUm8uCJ8 • 2025-10-06
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Halo, asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi dan salam
hangat saya sampaikan kepada seluruh
sobat ASN di seluruh Indonesia. Senang
sekali saya Yuli Risnawati bisa hadir
dan menemani sobat ASN di seluruh
Indonesia dalam kegiatan yang sangat
inspiratif dan penuh manfaat ini, yaitu
webinar pengembangan kompetensi jabatan
fungsional dengan tema kupas tuntas tips
dan trik menulis karya ilmiah. Kegiatan
ini diselenggarakan oleh Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur sebagai wujud
komitmen untuk meningkatkan kapasitas
dan kompetensi aparatur sipil negara
khususnya jabatan fungsional umum dan
jabatan fungsional tertentu.
Kami ucapkan selamat datang kepada sobat
ASN yang tengah menyaksikan webinar hari
ini, baik yang melalui platform Zoom
Meeting ataupun yang tengah menyaksikan
secara live di YouTube BPSDM Jatim TV.
Semoga webinar hari ini bisa mendapatkan
inset untuk teman-teman sobat ASN agar
bisa diimplementasikan di unit kerja
masing-masing. Saya ingatkan untuk sobat
ASN di seluruh Indonesia untuk melakukan
presensi di akses laman sebastabank.id.
Setelah itu juga bisa melakukan
pengisian link monitoring dan evaluasi
untuk memperoleh e-sertifikat.
Sobat ASN yang berbahagia, seiring
dengan perkembangan teknologi dan
dinamika dunia pekerjaan yang sangat
cepat, kompetensi pengembangan
kompetensi ASN menjadi kunci utama untuk
mewujudkan ASN yang profesional,
adaptif, dan berdaya saing. Salah satu
bentuk pengembangan kompetensi yang
dapat diterapkan yaitu kemampuan menulis
karya ilmiah. Melalui karya ilmiah, ASN
tidak hanya mewujudkan profesionalisme
dan kemampuan analisis saja. Nah, namun
Sobat ASN juga mampu berkontribusi
secara nyata terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan dan praktik kerja di
instansi masing-masing.
Namun, kami juga memahami bahwa menulis
karya ilmiah bukanlah suatu hal yang
mudah. Seringki tantangannya justru
bagaimana sih cara memulai menyusunnya
dan bagaimana menyusun karya ilmiah
sebagai suatu karya yang sistematis.
Nah, di sinilah peningnya webinar kita
pada hari ini untuk memberikan tips,
trik, dan strategi praktis agar menulis
karya ilmiah menjadi lebih mudah,
terarah, dan berkualitas.
Sobat ASN, untuk memulai webinar
pengembangan kompetensi jabatan
fungsional hari ini, marilah sejenak
kita dengarkan opening speech yang pada
kesempatan ini akan disampaikan oleh
Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Kepada beliau disilakan.
dalam serial ASNI
hari ini
adalah hari Senin.
kita berharap pada
kemudian ee
Usta
Baik, sahabat ASN yang hebat. Hari ini
kita beruntung sekali karena akan
langsung belajar dari narasumber yang
luar biasa yaitu Bapak Dr. Theofilus,
S., M.M., CR. MI. Beliau saat ini
menjabat sebagai ketua program Magister
Manajemen Universitas Ciputra online dan
dikenal sebagai akademisi sekaligus
praktisi yang aktif dalam bidang
penelitian dan publikasi ilmiah. Melalui
berbagai karya dan pengalaman
akademiknya, beliau telah banyak
membantu mahasiswa dan peneliti dalam
menyusun karya ilmiah yang terstruktur,
logis, dan dapat terbit di jurnal
terakreditasi.
Hari ini beliau akan berbagi pengalaman
dan panduan praktis kepada kita semua
dalam sesi bertajuk kupas tuntas tips
dan trik menulis karya ilmiah.
Baik, selanjutnya apakah Bapak Dr.
Teofilus sudah bisa bergabung bersama
kami?
Baik dan telah bergabung bersama kami
semua di sini Bapak Dr. Theofilos, S.
M.M.,
CRMI selaku Ketua Program Magister
Manajemen Universitas Ciputra Online.
Selamat pagi, Bapak.
Selamat pagi, Bapak. Apakah bisa
mendengar suara saya, Bapak?
Baik.
Baik. Selamat pagi Bapak. selamat datang
di ee acara webinar kita pada hari ini.
Terima kasih Bapak telah berkenan hadir
di sela-sela kesibukan untuk memberbagi
inset bersama sobat ASN di seluruh
Indonesia. Sepertinya sobat ASN di
seluruh Indonesia sudah tidak sabar nih
untuk mendengarkan bersama paparan dari
Bapak Teo terkait bagaimana tips dan
trik menulis karya ilmiah. Kami
persilakan kepada Bapak Teo untuk waktu
pemaparan 90 menit. Setelah itu kita
lanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Kepada sobat ASN di seluruh Indonesia
dikarenakan sedang terdapat gangguan
audio untuk sejenak kita break terlebih
dahulu sobat ASN sambil bisa menyiapkan
untuk sesi pemaparan dari Bapak T.
Terima kasih.
Hasen muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemal Jawa Timur terus melaju.
Bersama BPST
Jatim kita terus melesar untuk Indonesia
emas prestasi hebat ASN unggul
tiada yang tertinggal no one left behind
kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang
Jawa Timur terus melat
[Musik]
kita terus melesat untuk Indonesia emas
prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif Tinggi
inovasi cemalah. Jawa Timur terus
melaju.
Bersama BPSDM
Jatim kita terus melesar untuk Indonesia
emas prestasi hebat bersama kampus
satelit PPSM
Jatim. No one left behind. I um unggul
dan berkualitas.
Mel tinggi
Indonesia jaya
[Musik]
bersama membangun asa
Menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jatim Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan
jalan genial
PPSDM Jawa
[Musik]
Baik. Ee mohon maaf Bapak dan Sobat ASN
semua tadi terdapat kendala teknis
sebelumnya. Apakah Bapak Teo sudah bisa
bergabung bersama kami?
I sudah terdengarkah suaranya Mbak Yuli?
Baik. Halo, Bapak. Selamat pagi, Bapak.
Halo. Selamat pagi.
Bagaimana kabarnya hari ini, Bapak?
Hah? Luar biasa Mbak Yuli sudah diundang
dan dipercaya untuk melakukan sharing.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Teo yang sudah berkenan hadir ya Bapak
di sela-sela kesibukan untuk berbagi
insight bersama teman-teman sobat ASN di
seluruh Indonesia. Jadi, Bapak Teo untuk
audiens kita pada hari ini adalah
teman-teman Sobat ASN di seluruh
Indonesia yang memiliki jabatan
fungsional umum dan jabatan fungsional
tertentu yang sepertinya sudah tidak
sabar untuk menyerap ilmu dan pengalaman
dari Bapak untuk bagaimana tips dan trik
menulis karya ilmiah.
Oke. Ba
baik kami persilakan kepada Bapak Teo
untuk ee memulai pemaparannya. Waktu
pemaparan 90 menit. Setelah itu kami
lanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Silakan, Bapak.
Baik, terima kasih Mbak Yuli untuk ee
kesempatannya. Ee saya izin share screen
sebentar ini. Apakah sudah terlihat
share screen saya, ya?
Oke.
Nah, ee
selamat pagi buat Bapak, Ibu ASN dan
teman-teman yang hadir baik di Zoom
maupun di YouTube. Hari ini kita akan
sedikit sharing gitu ya terkait apa yang
menjadi ee
Betul. menulis itu adalah sesuatu yang
tidak gampang untuk dilakukan gitu ya.
Dan yang paling susah adalah ketika kita
memulai untuk menulis. Nah, ini yang
ingin saya ee coba gitu ya, sharingkan
kepada Bapak, Ibu, dan Teman-teman semua
gitu. Bahwa memulai sesuatu adalah hal
yang paling sulit untuk kita lakukan.
Jadi either kita suka atau tidak suka
yang penting mulai dulu aja gitu. Jadi
seperti semalam gitu ya, saya ingin
menulis sebuah artikel gitu, saya juga
bingung apa yang ingin saya tulis gitu.
Eh, akhirnya saya mulai dengan satu kata
introduction gitu ya, Bapak, Ibu ya.
Nah, ketika saya mulai dengan
introduction, saya mulai menulis sebaris
gitu ya, sekalimat gitu. Nah, mulaiul ee
ini akan berlanjut Bapak Ibu ketika kita
sudah bisa menulis kalimat pertama maka
biasanya akan muncul kalimat-kalimat
berikutnya gitu ya. Nah, ee intinya
adalah memulai terlebih dahulu.
Nah, kemudian
dalam penulisan sebuah karya ilmiah,
Bapak, Ibu ya, yang pertama yang harus
kita fokuskan adalah bagaimana kita
menulis sebuah abstrak, gitu ya. Abstrak
itu adalah ee satu elemen yang sangat
penting ya untuk
karya ilmiah kita. Kenapa? Karena
penulisan abstrak itu adalah satu hal
yang
gampang-gampang susah. Namun abstrak itu
punya fungsi untuk dalam tanda petik
menjual karya kita, menjual tulisan
kita. Jadi sebelum orang-orang lain itu
membaca ee artikel kita, membaca tulisan
kita, membaca inti dari ee apa yang
sudah kita tulis secara panjang lebar
begitu ya, mereka akan fokus kepada
abstrak dulu.
Nah, maka dari itu penulisan sebuah
abstrak itu harus sangat-sangat
komprehensif, sangat-sangat
singkat, tapi juga memiliki isi dari
keseluruhan tulisan kita.
Nah,
sehingga sehingga dengan abstrak yang
sangat-sangat baik, Bapak, Ibu, gitu ya,
kita bisa meningkatkan peluang bahwa
tulisan kita ini nantinya akan dibaca
loh sama orang-orang, gitu ya. Nah, ini
terkait menulis abstrak. Nah, kira-kira
ya kan dalam menulis abstrak itu harus
ada apa aja?
Nah, seringki orang-orang itu menulis
abstrak atau banyak sekali abstrak yang
kalau kita lihat hanya menuliskan bahwa
ee oh riset saya berbicara tentang A B C
kemudian dilakukan di mana, hasilnya
apa. Selesai. sampai di situ. Apakah itu
salah?
Enggak salah sih, cuman saya pikir kok
itu bisa lebih menarik ya penulisan
abstrak ini. Nah, saya coba merangkum
dari beberapa
ee apa namanya? karya ilmiah gitu ya.
Menulis abstrak yang baik itu harus apa
sih? Harus ada apa aja sih? Yang pertama
harus ada motivasinya,
harus ada problem statement-nya,
harus ada pendekatannya,
hasilnya seperti apa dan kesimpulannya
seperti apa. Jadi,
semua hal yang kita lakukan dalam riset
itu harus termaktub di dalam satu
paragraf yang berisikan 250 kata itu
gitu ya. itu adalah cara cara kita
menjual nantinya riset kita seperti apa.
Nah, kalau kita kupas lebih dalam Bapak
Ibu ya, kita akan kupas lebih dalam
motivasi itu apa aja sih? Jadi apa yang
membuat kita mau mengangkat isu itu gitu
ya.
Yang pertama adalah kenapa kita harus
peduli dengan masalah yang mau k kita
angkat itu gitu ya. Nah, kemarin-kemarin
saya sempat menulis terkait ee manajemen
perubahan gitu ya, terutama dalam
konteks eh family bisnis gitu. Nah,
kenapa sih harus ada manajemen perubahan
dalam konteks family bisnis?
Why do we care about the problem and the
result? Kenapa kita harus peduli tentang
itu?
Nah, ini yang harus kita jelaskan dalam
satu kalimat sederhana
gitu ya. Nah, yang menjadi kendala
adalah kita jarang sekali mengangkat
kenapa saya mau mengangkat masalah
perubahan organisasi dalam konteks
family bisnis.
Toh
dalam family bisnis perubahan atau tidak
berubah itu yo enggak penting-penting
banget.
Mungkin bagi beberapa orang berpikir
seperti itu. Nah, tapi kita bisa
mengangkat itu dan kita kasih tahu
tujuan dari perubahan itu seperti apa
dan kenapa itu penting. Nah, terutama
dalam konteks family bisnis sehingga
mereka tidak terjebak di dalam yang
namanya organisational inersia misalnya.
Oke, itu satu hal gitu ya. Nah, tentu
nanti Bapak, Ibu, dan Teman-teman yang
pengin menulis tentang family bisnis
bisa menemukan masalah-masalah lain di
situ.
Nah, kemudian yang menjadi penting
adalah ya kita harus paham juga ini
penting Bapak Ibu. Oke, poin kedua
adalah
kita harus paham sesuatu yang mau kita
angkat itu adalah sesuatu yang baru
atau sesuatu yang memang
sudah ada sebelumnya
gitu ya. Kalau sesuatu itu baru
misalnya, oke, maka kita harus
menempatkan bahwa itu problem statement
duluan, gitu loh. Oke. Problem statement
itu harus didulukan ketika yang kita
anggap adalah fenomena baru. Nah, tapi
kalau fenomenanya, problemnya itu tidak
terlalu baru, misalnya saya ingin
mengangkat terkait service quality, saya
ingin mengangkat terkait kepuasan gitu
ya. Jangan dulukan problem statementnya,
tapi dulukan motivation-nya.
Jadi ini dipahami dulu Bapak, Ibu, dan
teman-teman. Oke.
Fenomena yang mau saya angkat itu adalah
sesuatu yang baru
atau ini sudah menjadi rahasia umum
gitu. Nah, kalau yang kita angkat itu
adalah ee rahasia umum gitu ya, tentu
yang kita dulukan itu motivasi kita.
Kenapa sih kita mau mengangkat itu? Atas
dasar apa?
Apakah problema ini terjadi karena satu
scop tertentu yang ee membedakan?
Contoh, iya, Pak. Kalau saya mengangkat
terkait service quality misalnya,
service quality itu berbeda loh, Pak, di
family bisnis dan di organisasi publik
atau di swasta.
Perbedaannya di mana, Nak? Itu
motivation-nya
gitu ya. nanti baru dilanjutkan dengan
problemnya,
masalahnya apa. Tapi kalau ini adalah
sesuatu yang baru, mulai dari problemnya
apa gitu ya. Nah, kemudian kemudian
garis bawahi complexity-nya apa. Oke.
The difficulty of the areanya apa, itu
menjadi penting Bapak, Ibu, dan
teman-teman.
ya. Kenapa masalah-masalah ini menjadi
kompleks dan sulit sekali untuk di ee
cari jalan keluarnya sehingga butuh nih
ee apa sebuah riset yang mengedepankan
fenomena tersebut gitu ya. Nah, itu
adalah komponen dari motivation.
Nah, jadi motivation itu bukan hanya eh
satu kalimat singkat gitu ya, tapi dia
juga penuh makna terkait kenapa kita mau
mengangkat masalah itu. Nah, kemudian
kita lanjut ke dalam komponen problem
statement gitu ya. Nah, problem
statement itu menceritakan
apa sih masalah saya? Kenapa saya
berbicara mengenai family bisnis? Ada
masalah apa di dalam situ? Terutama
dalam konteks perubahan misalnya, ya
kan? Nah,
em ketika kita berbicara mengenai
manajemen perubahan dalam konteks family
bisnis, kita harus bisa m-breakdown.
Oke. Masalah-masalah yang terjadi ya
dalam family bisnis itu seperti A, B, C,
D, E. gitu. Jadi kita juga harus
berbicara secara terstruktur di sini.
Jangan loncat-loncat gitu ya.
Jadi pahami dulu masalah kita apa.
Karena karena ketika kita tidak bisa
mengerucutkan problem statement-nya,
maka nanti abstrak kita menjadi
tidak apa ya,
tidak concise dan tidak
tajam gitu bahasnya tuh enggak tajam.
Nah, ini yang harus kita pahami dan
jangan menggunakan bahasa-bahasa yang eh
too much jargon. Jargon itu artinya
bahasa-bahasa yang enggak terlalu
penting gitu ya. Pengulangan bahasa,
kemudian ee singkatan-singkatan yang
tidak jelas gitu ya. Usahakan bahasanya
itu adalah bahasa yang clear gitu. Nah,
ini yang harus menjadi ee perhatian buat
Bapak, Ibu, dan Teman-teman dalam
menulis satu motivation dilanjutkan
dengan problem statement, gitu ya. Nah,
langkah berikutnya apa? Langkah
berikutnya kita berbicara mengenai
approach gitu ya. Apa itu approach?
Approach itu adalah apa sih yang kita
coba berikan solusinya? pendekatan kita
gimana.
Kita mau melihat masalah ini, POV-nya
tuh pakai apa sih? Nah, kalau saya
misalnya saya ingin meneliti terkait
manajemen perubahan di family bisnis
gitu ya dengan
kuantitatif data analisis. Misalnya
ketika kita berbicara kuantitatif data
analisis maka metodenya apa?
Oke. Menggunakan kuesioner kah,
menggunakan eksperimental kah?
Uji ANOV kah. Nah, jadi ini penting
untuk kita tekankan dan kita sampaikan
ke pembaca gitu ya. Nah, kalau kita
menggunakan eh kualitatif apakah case
study single atau multiple case study ya
kan atau kita melakukan observation atau
apapun itu diate di situ disebutkan.
Kemudian kita juga menekankan ya
variabel-variabel apa, komponen-komponen
apa yang mau kita angkat gitu ya. Jadi
semisal saya ingin berbicara mengenai
manajemen perubahan ya. Saya akan
berbicara mengenai variabel-variabel
terkait manajemen perubahan ya. Semisal
ada empowering leadership, semisal ada
transformational leadership, ada sinism
misalnya. Oke. Nah, itu kita sebutkan
dan kenapa kita mengangkat itu.
Kemudian kalau kita berbicara case
study, single case study atau multiple
case study, kenapa
kenapa kita tidak menggunakan yang lain?
Nah, itu kita sebutin di situ. Jadi,
approach-nya mesti jelas Bapak, Ibu, ya.
Jadi jangan sampai kita menggunakan
data-data yang tidak clear, metode yang
tidak clear, gitu ya. Baik kita
menggunakan ee data primer atau data
sekunder gitu. Jadi
sampaikan semuanya secara terarah,
terstruktur gitu ya.
Nah, kemudian kita juga berbicara
mengenai result yang sudah kita hasilkan
nantinya. Jadi, ketika kita berbicara
result, jangan menggunakan bahasa-bahasa
yang
shallow, menggunakan bahasa-bahasa yang
abu-abu, gitu ya.
Gunakan bahasa-bahasa yang clear, yang
pasti, yang firm gitu ya.
sehingga orang-orang itu juga paham
bahwa hasil yang kita dapatkan itu
seperti A B C D E gitu. Jadi clear
bahasanya. Jangan kita menggunakan
bahasa-bahasa yang ee
ya
hasil ini memungkinkan gitu atau hasil
ini ya ee sekiranya bla bla bla. Nah,
itu jangan. Usahakan bahasa-bahasa kita
itu jangan abu-abu seperti itu. Kalau
signifikan bilang signifikan. Kalau
tidak signifikan bilang tidak
signifikan. Gitu ya. Dan
pembahasan-pembahasan seperti ini,
result ee hasil yang kita dapatkan
seperti ini ya. Kenapa harus menggunakan
bahasa-bahasa clear, keras, kaku seperti
itu untuk menghindari misunderstanding?
Bapak, Ibu ya. Jadi seringki
berbicara mengenai hasil dari sebuah
result gitu ya, hasil dari sebuah
penelitian misalnya ketika kita
menggunakan bahasa-bahasa yang abu-abu
gitu ya, mereka itu bisa
menginterpretasikannya
ee ke arah positif tapi bisa juga
diinterpretasikan ke arah negatif. Nah,
ini yang kita tidak mau karena ketika
bisa diinterpretasikan macam-macam nanti
hasil kita menjadi bias gitu ya. Nah,
padahal yang mau kita tuju, yang mau
kita sasar, yang mau kita simpulkan itu
clear gitu. Nah, ini hati-hati ketika
kita berbicara mengenai result gitu ya.
Kemudian di conclusion, oke kita
berbicara mengenai implication-nya
seperti apa. Oke, kesimpulannya seperti
apa? Apakah menjawab ee hipotesis yang
kita ajukan atau menjawab enggak
permasalahan-permasalahan
yang kita angkat di atas tadi?
Nah, apakah ini bisa di generalisasi,
bisa di kalau bahasa kita apa ya?
Gebiyah uyah gitu ya, bisa di
generalisasi enggak? Bisa dipukul rata
enggak hasilnya?
Nah, kalau bisa kenapa? Kalau tidak bisa
kenapa? Nah, ini yang harus kita
jelaskan dalam konteks conclusion gitu
ya, Bapak, Ibu, dan teman-teman. Nah,
jadi ini ada beberapa eh apa namanya?
Consideration dalam menulis abstrak gitu
ya. Perhatikan word count limitation.
Jadi menulis abstrak yang baik itu tidak
lebih dari 250
kata gitu ya. Usahakan berada di rentang
seperti itu sehingga
ee orang yang membaca itu tidak terlalu
berat gitu ya. mereka bisa langsung
mendapatkan ee kesimpulannya.
Oh, riset ini berbicara mengenai ABC.
Melakukan pendekatan menggunakan ABC.
Kemudian solusinya adalah ABC. Hasilnya
ini selesai seperti itu. Harusnya
seperti itu, gitu ya. Nah, kemudian
hindari juga kata-kata yang sepertinya
mungkin. Nah, kayak gitu-gitu. Jadi, ee
harus ada kata-kata yang cukup firm gitu
ya.
Nah, gunakan bahasa-bahasa baku,
kemudian bahasa-bahasa yang umum tapi
baku dan kalau bisa keyword-nya juga
clear. gitu ya. Sehingga ee
kata-kata kunci yang kita sampaikan itu
bisa dicari dengan leluasa oleh
orang-orang gitu ya. Nah, kenapa sih
kata kunci ini menjadi penting Bapak
Ibu? Kata kunci ini menjadi penting
karena dengan kata kunci yang simpel ya,
umum
peluang riset kita untuk dibaca oleh ee
halayak lain itu lebih ee terbuka
peluangnya gitu ya. Jadi ini yang harus
kita pahami. Nah, jadi penulisan abstrak
harus ada lima komponen itu, Bapak, Ibu,
dan Teman-teman gitu ya. Jadi pahami itu
adalah ee cara paling simpel dalam
menulis abstrak.
Nah,
itu kalau abstrak Bapak Ibu gitu ya.
Bagaimana dengan cara kita menulis yang
namanya introduction?
Nah, introduction itu juga enggak
terlalu simpel, Bapak, Ibu, ya. Kenapa
kita harus menulis introduction yang
baik?
Kenapa tidak bisa kita ya udah nulis aja
introduction, saya punya latar belakang
karena saya ingin menulis ini, ini, ini,
gitu ya. Kemudian ee masalahnya ini
kemudian saya
simpulkan dengan latar belakang masalah.
Selesai.
Nah,
tidak seperti itu, Bapak, Ibu, dalam
menulis introduction yang baik dan
benar. Ya, menulis introduction yang
baik dan benar
ee mungkin gampang-gampang susah ya
kalau saya bilang ya, Bapak, Ibu. Yang
pertama kita harus mulai dari common
ground Bapak Ibu ya. Apa itu common
ground? Nanti saya akan ceritakan
bagaimana pengalaman saya dalam menulis
eh introduction yang baik dan benar gitu
ya.
Common ground itu adalah sesuatu yang
tidak bisa kita sangkal. Kita mulai dari
fenomena umum. Sesuatu yang tidak bisa
kita sangkal gitu ya. Kasihlah satu satu
paragraf loh ya. Semisal kalau saya
kemarin berbicara mengenai digitalisasi
gitu ya, information overload kalau saya
nulisnya biasa seperti itu. Nah, saya
harus paham fenomena common ground
terkait information overload itu seperti
apa, dimulai dari apa, kenapa bisa
terjadi yang namanya information
overload gitu kan. Nah, ini harus saya
ceritakan dalam satu paragraf, gitu.
Jadi, common ground-nya seperti apa.
Oke. Kemudian, dari common ground itu
akan muncul yang namanya complexity,
Bapak, Ibu, dan teman-teman ya. Apa itu
complexity? Kalau kita lihat complexity
artinya complexity itu berbicara
mengenai masalah, gitu ya. Jadi di sini
kita harus berbicara mengenai masalah
apa yang
ingin kita angkat sebenarnya
dan kenapa masalah itu menjadi
sedemikian kompleks
ya. Karena masalah itu kan ada yang
enggak kompleks yang yang bisa
diselesaikan begitu aja gitu kan. Nah,
tapi ini adalah masalah-masalah yang
sangat-sangat kompleks sehingga
dibutuhkan riset lebih dalam. Nah, di
sini harus kita paham, Bapak, Ibu. Nah,
setelah kita ada masalah, gitu ya,
kemudian kita ada masalah nih, sekarang
kita akan menuju ke yang namanya
concern. Nah, ketika kita berbicara
koncern, Bapak, Ibu, apa yang ingin kita
angkat? kita akan mengangkat terkait
terus gitu. Nah, kalau masalah tadi kan
kita sudah ngomong,
"Oke,
masalah saya
adalah titik titik titik kan gitu ya.
Koncern itu berbicara soat. Kalau
masalah kamu adalah A B C ya udah terus.
Kenapa?
Nah, di sini harus kita ceritain gini
loh, Pak. Kalau masalah saya adalah
terjadinya information overload, ya kan,
maka
ini bisa menjadi kendala yang
berkelanjutan
kalau tidak segera diselesaikan.
Nah, ini impact-nya itu bisa A B C loh,
Pak. bisa seperti ini loh. Nah, itu
adalah concern Bapak, Ibu. Ada
masalah-masalah yang ingin kita gali
lebih dalam seperti apa sih dampaknya
nanti kan gitu ya. Nah, kemudian setelah
kita simpulkan itu ya kita masuk ke
dalam course of action.
Nah, course of action berbicara, "Saya
ingin melihat
masalah itu dari POV apa?"
I kan. Kemudian tools-nya untuk
menganalisis masalah itu apa?
Jadi ketika kita berbicara course of
action, kita sudah menemukan gitu ya,
saya ingin membedah
masalah ini dari POV apa?
Semisal
saya kalau berbicara mengenai
information transparency overload tadi
ya. Oh, saya punya POV information
processing theory. Saya akan menggunakan
teori information processing, Pak. Nah,
di sini dijelaskan
why kan gitu ya. Kenapa saya ingin
mengangkat menggunakan information
processing? Kenapa enggak teori lain?
Kemudian tools yang ingin saya gunakan
itu seperti apa?
Apakah saya menggunakan
kuantitatif, saya menggunakan
kualitatif, saya menggunakan
eksperimental dan sebagain sebagainya.
Ya, itu yang harus kita ee lakukan
sehingga
sehingga di sini menjadi jelas gitu ya,
poov kita apa, tools dan cara kita
menganalisis itu seperti apa. Nah, itu
di introduction. Kemudian terakhir di
contribution
reset ini
ya kan kontribusinya apa?
buat dunia akademik kan gitu ya,
buat dunia praktis kan gitu.
Di sini juga kita jelaskan oh kalau buat
dunia akademik misalnya ini akan menjadi
satu masukan
atau ini bisa menjadi pandangan baru
terkait teorinya, terkait variabel-nya
kan gitu ya.
Kalau praktisnya seperti apa? Kalau
praktisnya nanti ini bisa berkontribusi
bagi dunia usaha, kemudian e-commerce,
kemudian ee konsumennya nanti akan
seperti apa. Nah, ini yang akan ada di
dalam sebuah writing and introduction.
Jadi menulis introduction Bapak Ibu ya
itu harus memenuhi lima hal ini.
Tidak boleh tidak. Karena dengan adanya
lima hal ini maka
introduction Bapak Ibu akan lebih tajam
gitu ya. Kita jadi jelas kita mau
ngomong apa. Jadi enggak ke mana-mana
gitu. Nah, seringkiali kan kalau Bapak
Ibu membaca sebuah artikel ya, saya mau
menulis nih sebuah artikel, ah saya baca
dulu ah fenomenanya.
Semakin Bapak Ibu banyak membaca semakin
pusing juga kan kita kadang-kadang
semakin banyak yang kita mau gitu loh.
Nah, karena semakin banyak yang kita
mau, kita masukin tuh semuanya
sehingga complexity-nya menjadi tidak
clear. koncern-nya jadi enggak jelas,
course of action-nya, POV-nya menjadi ke
mana-mana.
Oke. Saya pernah punya satu anak
bimbingan gitu ya, di awal-awal
bimbingan saya minta dia untuk melakukan
yang namanya
eh mementalkan state of the art dari
sebuah teori gitu ya. Akhirnya saya
tanya, "Kamu mau pakai fenomena apa?
Teorinya apa?" "Oh iya, Pak. Fenomena
saya A. Teori yang mau kamu pakai apa?
Teori yang mau saya pakai ada empat,
Pak. Sebentar. Kok jadi banyak teorinya
gitu loh. Apakah tidak boleh? Boleh.
Tapi itu akan sangat-sangat kompleks ya
dalam berbicara empat teori.
Artinya apa? saya harus mengintegrasikan
teori tersebut sehingga
layak untuk diangkat kan gitu ya. Dan
proses integrasi teori ini juga tidak
sesimpel itu, gitu loh. Nah, saran saya
adalah pada saat kita berbicara course
of action, fokuskan
pada satu sampai dua teori maksimal.
Jangan lebih daripada itu karena proses
integrasinya akan sangat-sangat sulit
gitu ya. Nah, kita akan lanjut dulu
Bapak Ibu.
Nah, ini yang akan saya ceritakan. Oke.
Jadi, mungkin Bapak Ibu bingung gitu ya,
apa sih yang dimaksud dengan common
ground? Apa sih yang dimaksud dengan eh
complexity dan lain-lain? Ini saya
ceritain Bapak Ibu.
Ini adalah model yang saya tulis di
studi lanjut saya, gitu ya.
Model saya seperti ini. Variabel yang
ingin saya angkat seperti ini. Jadi saya
akan berbicara mengenai information
overload. Saya berbicara mengenai
impulsive buying, ya. Kemudian saya
kaitkan dengan information transparency,
saya kaitkan dengan
ubiquitus connectivity, dan saya kaitkan
juga dengan celebrity endorsement.
Nah, apa itu Ubiquitus Connectivity,
Pak? Ubiquitus connectivity adalah
konektivitas berlebih, gitu ya. Nah,
common ground-nya seperti apa? kita akan
mulai karena kita mulai dari common
ground, complexity, concern, course of
action, dan contribution. Bapak Ibu,
kita lihat di sini common ground ada dua
common ground yang saya gunakan. Oke,
ingat common ground tadi adalah sebuah
fakta
ya
atau fenomena
yang tidak bisa disangkal. Artinya itu
terjadi. Oke, kita mulai.
Pertama kita lihat ada dinamika
keterbukaan informasi.
Nah,
untuk memulai
untuk memulai terkait information
transparansi, ubiquites, selebriti,
overload gitu ya, kita punya kerangka
berpikir dari sebuah fenomena
ya. Yang pertama adalah satu, kita
perhatikan di sini
pertumbuhan
itu selalu ada di sini gitu ya.
Kita melalui lima fase itu, Bapak, Ibu.
Oke, kita ceritakan di situ. Jadi, nanti
di introduction saya itu saya
menceritakan ini
bahwa oke keterbukaan information itu
berevolusi
ya dari yang zaman dulu kita ngelewati
zaman pre internet dengan komunikasi
seperti ini gitu ya.
Kemudian saya juga berlanjut ke zaman
internet of content itu di sekitaran
tahun berapa sampai kita ke e-commerce
gitu ya. Kemudian kita lanjut ke
Internet of People di tahun 2000-an
sampai sekarang 2020-an kita mulai masuk
ke
big data atau internet of things. Nah,
itu kita ceritakan rangkaiannya.
Nah, hal-hal seperti ini ya itu memicu
terjadinya variabel-variabel ini.
Oke,
terjadi empat variabel ini. Jadi, kita
terpapar sangat-sangat terpapar
oleh yang namanya
internet, oleh yang namanya dunia
digital, akhirnya timbullah
ini kan gitu ya.
UB quitus connectivity
kan gitu. Kemudian
hasil dari itu ya kita masuk ke internet
of content di mana semua mulai terbuka.
kita terpapar oleh Google, kita terpapar
oleh Yahoo waktu itu. I kan muncullah
fenomena information transparany.
Oke. Kemudian dari transparansi kita
mulai nih. Oke. Web 2.0 di internet of
service ya kan ada e-commerce kemudian
ditambah dengan internet of people
muncullah selebrity endorsement. Artinya
kita lebih percaya dengan orang-orang
yang ada di luaran sana. Kita mulai
menilai orang itu dari followers dan
kawan-kawan. Oke.
Sampai akhirnya akan memicu terjadinya
information overload. Kenapa? Nah, ini
nanti akan saya ceritakan kenapa gitu
ya. Oke.
Kemudian
kemudian
common ground kedua yaitu konektivitas
antar individu. Ya, kalau konektivitas
antar individu kita berbicara mengenai
bahwa orang-orang itu ya kan orang-orang
itu mulai berbicara mengenai sori. Oke.
melalui internet. Koneksinya itu based
on internet. Saya telepon sudah pakai
WhatsApp call segala macam sudah tidak
lagi menggunakan ee telepon biasa, ya
kan. Nah, kemudian dia berkembang
menggunakan Bluetooth gitu ya,
menggunakan receiver, menggunakan
satellite dan kawan-kawan
itu berubah.
Oke,
dari sini muncullah semua hal terconnect
dengan satu sama lain. Saya punya smart
home, saya punya smart building, saya
punya eh smart cars dan lain-lain ya.
Nah, ini adalah common ground. Jadi yang
kita sebut dengan common ground itu ini
bagaimana kita menceritakan ini dalam
sebuah paragraf
ya. Tentu itu butuh latihan Bapak, Ibu.
Tapi common ground itu ee ini
gambarannya gitu ya. Ini adalah gambaran
dari sebuah common ground. Nah, tadi
setelah common ground muncullah
kompleksitas
masalah gitu ya. Oke, masalahnya seperti
apa? Ini masalahnya. Yuk kita lihat.
Masalahnya adalah Bapak Ibu ya.
terlalu banyak informasi
yang diterima oleh seseorang individu
menjadi masalah.
Oke.
Artinya apa? Ketika informasi itu
diberikan kepada kita, oke, tanpa sebuah
filtrasi yang baik, itu akan jadi
masalah. Oke, yang kita sebut dengan too
much information. Nah, Bapak Ibu ya,
masalah-masalah ini, masalah-masalah ini
seperti apa? Oh, iya, Pak. Dikemukakan
oleh Hana All dan Jacobi 1977
dan 2019.
Nah, silakan nanti ini di-breakdown
masalahnya apa aja nih. Oke, itu di
dalam tulisan Bapak, Ibu di artikel gitu
ya.
Nah, tapi paling tidak kita berfokus
pada saya bisa berpikir seperti ini
karena ada riset dari Hana dan Jakobi.
Itu yang penting Bapak Ibu. Jadi kita
tidak menyimpulkan complication kita
seperti apa, tapi kita juga punya
data-data referensi pendukungnya,
gitu ya. Nah,
kemudian
complication berikutnya apa? Ya, iya
kompleks. Kenapa? Karena pengelolaan
informasi tiap individu itu berbeda
kan gitu.
Bagaimana cara saya mengelola informasi
tentu berbeda satu dengan yang lain. Si
A merasa informasi ini sudah cukup
banyak, tapi si B merasa enggak ah ini
biasa aja.
Nah,
itu kalau hanya membandingkan dua orang.
Bagaimana dengan 10 orang? Seperti kita
mengajar di kelas misalnya. Oke. Satu
kelas saya ada 40 anak ya kan. Setiap
kali saya mengajar di depan ya kan
kemampuan pengelolaan informasi tiap
mahasiswa itu menjadi berbeda. Ada yang
nangkap, ada yang ngambang, ada yang
enggak nangkap sama sekali.
Nah, ini juga menjadi kendala.
Kenapa menjadi kendala? Pada saat dia
terpapar oleh sebuah informasi
dan kalau dia itu belum bisa mengelola
informasi itu dengan baik dan benar,
yang terjadi adalah dia akan
kebingungan.
Nah, oke, Pak. Ada dasar berpikirnya
enggak? tentu ada dari Atkinson dan
Papas gitu ya. Jadi
tidak boleh kita berbicara tanpa dasar
berpikir.
Itu kita berbicara complication. Nah,
complication berikutnya ya kan. Oh iya,
karena orang-orang itu punya kemampuan
berpikir yang berbeda, daya analisis
yang berbeda, ya. Maka seringki para
produsen, para produser gitu ya itu
menggunakan cara singkat untuk
ee
menyampaikan
informasi kepada konsumen,
digunakanlah selebriti.
Kan gitu
supaya apa? Supaya orang itu fokus akan
produknya kan gitu ya.
Namun, nah penggunaan selebriti ini juga
diyakini memiliki
pedang bermata dua gitu kan, memiliki
resiko. Kenapa kredibilitas selebriti
itu dipertanyakan
karena seringki menimbulkan like and
dislike. Kata siapa? Kata Kuita dan
Kusumonjaya.
Nah, kenapa bisa dipertanyakan dan
kenapa bisa menimbulkan like and
dislike? Contoh ketika kita
menggunakan endorser-endorser yang high
controversial misalnya atau
sangat-sangat kontroversial
ya kan itu bisa menimbulkan like and
dislike. Nah,
dari complication ini menuju ke concern
sehingga apa koncernnya
kan gitu
kualitas informasi menjadi tidak
seragam. Nah, ketika tidak seragam apa
yang terjadi? Menjadi overload. Nah, itu
dasar berpikirnya. Kalau overload,
pengambilan keputusan tidak optimal, kan
gitu.
Clear di situ, Bapak, Ibu, dan
teman-teman. Jadi pembangunan
narasi kita dari
common ground, complication, dan concern
itu clear gitu ya. Narasi kita
terstruktur nantinya.
Kemudian
koncern berikutnya kan gitu ya,
penggunaan endorser pemberi informasi
produk kesan positif bisa mempengaruhi
emosi dan pola pikir.
Nah, atas dasar siapa? Dari Kusumonjaya
dan
Hoang gitu. Jadi ingat Bapak Ibu, yang
kita ungkapkan selalu ada dasar
pikirannya, tidak boleh menurut
berdasarkan kita gitu ya. Kenapa? Kenapa
tidak boleh berdasarkan kita? Karena
ketika kita bertindak sebagai peneliti
seringki seringki
ya ada masalah objektivitas di situ ya
kan. kita udah suka nih sama satu ee apa
namanya? Satu fenomena misalnya, ya.
Saya akan terobsesi untuk melihat itu
sebagai sesuatu yang bagus gitu ya
sehingga apapun koncernnya itu menjadi
hal yang penting buat saya kan gitu.
Nah, tapi kalau kita menyertakan
ee referensi, kita menyertakan
ee apa namanya data gitu ya, itu
membuktikan bahwa kita ini objektif
dalam melakukan penelitian
gitu.
Nah, kemudian
ya kenapa Pak kalau pakai celebrity
endorser ya ini informasi yang didapat
dari selebriti itu memicu terjadinya
pembelian impulsif gitu ya kan. Karena
orang-orang itu punya kecenderungan ya
kan untuk mengikuti dan mendengarkan
apapun yang disampaikan gitu dan mereka
pengin seperti selebriti
itu disampaikan oleh Huang dan Junti
Wasaraka gitu
gitu ya. Nah ini adalah complication
concern. Jadi sudah clear Bapak, Ibu,
dan teman-teman bagaimana penciptaan
narasi kita gitu ya dari eh common
ground complication ke concern gitu.
Sekarang kita akan coba gitu ya masuk ke
course of action. Nah, course of action
tadi apa? Course of action adalah eh
kita mau melihat dari POV apa ya kan
kita mau melihat dari konteks seperti
apa. Nah,
saya melihat course of action itu
menggunakan dua mekanisme yaitu
eksperimental research dan causal
research. Jadi ada dua penelitian yang
saya gabungkan jadi satu di sini gitu
ya. bagaimana pendekatan eksperimen dan
kenapa
nih kenapa saya menggunakan
eksperimental dan kenapa saya harus
menggabungkan untuk bisa mengkonfirmasi
temuan dari hasil studi eksperimental.
Nah, ini adalah cara saya untuk melihat
ya sebuah hasil dari research. Oke.
Nah, buat Bapak Ibu yang ee pengin
melakukan
kombinasi riset seperti ini, silakan
gitu ya. Itu bisa dianggap sebagai satu
kebaruan, gitu. Nah,
kemudian kontribusinya seperti apa?
kontribusinya bisa kita lihat
riset ini kita bisa menilai nantinya
kecenderungan perilaku pembelian
impulsif itu seperti apa. Kemudian
melihat bagaimana promotion focus dan
prevention focus itu menyikapi perilaku
pembelian impulsif kan gitu.
itu adalah kontribusinya saya ya dalam
riset ini.
Kemudian, nah kita kupas lebih dalam
Bapak Ibu terkait eh course of action
tadi ya. Kita berbicara menggunakan
teori. Nah,
kenapa harus ada teori?
Teori itu apa sih? Teori itu adalah
pisau bedah kita. POV kita gitu ya dalam
melihat segala sesuatu.
Nah,
jadi
satu fenomena satu fenomena Bapak, Ibu
ya dan teman-teman semuanya itu bisa
dilihat dari dua teori yang berbeda.
Oke. Semisal
saya ingin berbicara sinisme gitu ya.
Sinisme itu bisa dibahas menggunakan
attribution theory. Misalnya teori
atribusi
bisa juga dijelaskan menggunakan social
exchange theory.
Nah, tapi ini menjadi POV yang berbeda.
Kenapa? Kalau attribution itu seperti
apa? Set itu seperti apa? POV-nya gitu.
Kenapa seperti itu? Satu
ketika saya bilang atau saya memutuskan
saya ingin pakai teori A gitu ya. Maka
dari itu pahami konsep teori A itu
seperti apa.
Kan gitu ya. Jadi sehingga ketika kita
bilang saya mau pakai teori social
exchange
itu clear. Kenapa? Contoh ketika saya
menggunakan teori ST gitu ya, social
exchange theory. Ada yang dipertukarkan
social exchange yang dipertukarkan di
sini. Oke, beda dengan LMX.
LMX juga berbicara mengenai pertukaran
Bapak Ibu, tapi berbeda dengan set. Nah,
kita kupas lebih dalam.
Kenapa ST itu berbeda dengan LMX?
Bedanya apa? Contoh, kalau saya
menggunakan teori LMX, maka
pertukarannya itu harus
disposisi,
gitu ya. Leader ke member ada perintah
gitu. Jadi saya itu bertukar jasa karena
adanya perintah.
Misal atasan saya memberikan perintah,
"Pak Teo, Bapak harus ABC ya. Siap, Pak.
Laksanakan. saya laksanakan
sebaik-baiknya itu leader member
exchange.
Oke. Ketika saya mengerjakan tugas saya
dengan baik karena perintah ya kan
performa saya naik maka LMX digunakan
untuk melihat performa organisasi
yang didasari oleh
saya ini nurut enggak sama atasan saya
kan gitu.
Nah, berbeda dengan yang namanya
ee social exchange. Nah, social exchange
itu seperti apa? Social exchange
berbicara pertukaran juga. Tapi nah
ya kita ini
bertukar
jasa bukan karena saya patuh, bukan saya
bukan karena saya takut dengan atasan
saya, tapi karena saya respek.
Oke. Saya respek dengan beliau. Beliau
adalah ee junjungan saya. Beliau adalah
panutan saya. Saya respek sama beliau.
Oke. Maka dari itu ya udahlah ya kerja
lebih-lebih dikit enggak apa-apa wis
gitu. Nah, itu adalah pertukaran sosial.
Jadi
antara ST dan LMX itu aja sudah berbeda
gitu kan.
Nah, POV-nya sudah berbeda. Jadi, kalau
saya berbicara mengenai ST, POV saya
seperti apa? Saya berbicara LMX, POV
saya seperti apa? Itu clear. Kita
sebutkan
di
course of action kita nantinya,
gitu ya. Tapi pembahasan di course of
action Bapak, Ibu, dan teman-teman ya di
introduction atas tadi itu enggak usah
panjang-panjang
nanti overlap sama tinjauan literatur.
Cukup disebutkan aja saya ingin
menggunakan teori apa, kenapa w selesai
sampai di situ ya. Kemudian
fungsi teori lainnya adalah kita bisa ya
kan kalau tadi kita berbicara mengenai
perspektif gitu ya, kita bisa melihat
teori tersebut ya kan dalam gaining new
insight.
Ada enggak pandangan-pandangan baru? Ya
kan terkait
teori-teori yang kita gunakan.
Contoh nih, contoh
ketika kita mengacu pada set atau lmx
tadi nih biar gampang
versus LMX begitu ya.
Nah, kita lihat POV-nya sudah clear,
tapi apakah ada new inside di sini gitu
loh ya kan? New inside. Ada ada ee apa
ya pandangan baru enggak terkait
teori-teori ini? Oh, ada, Pak. Kenapa?
Kadang-kadang ya, Pak, kita itu, Pak.
Oke.
Bangsa Indonesia itu pemaafnya luar
biasa, Pak. Jadi meskipun
ya kan saya itu dizalimi sama bos saya
misalnya ya atau saya itu enggak suka
deh dengan bos saya karena bos saya itu
cuman bisa mendisposisi aja memberikan
tugas aja tapi ya ditanya apa-apa enggak
ngerti gitu ya.
Tapi dia baik sebenarnya.
Iya kan? Kadang-kadang dia perhatian loh
sama saya. Nah,
apakah itu masuk ke ST atau LMX pada
saat dia memberikan penugasan?
Nah, ini adalah new insight yang harus
kita angkat
bahwa masyarakat Indonesia, konteks
Indonesia itu seperti ini loh.
Nah, sebagai contoh Bapak, Ibu ya, saya
melakukan riset menggunakan set yaitu di
ee organizational behavior gitu ya.
ee sempat masuk Q1 juga sama teman-teman
dari UNER gitu. Nah, kita menemukan yang
namanya silenisme
gitu.
Silen sinisism.
Apa itu silent sinisme? Jadi ketika kita
berbicara mengenai sinis ya kan itu ada
masukan dari reviewer
ya.
Bagaimana kita menilai sebuah sinisme di
Indonesia?
Ya, terus kita berpikir, iya ya,
bagaimana kita meneliti sinisme di
Indonesia?
Toh tidak terlihat. Kenapa bisa tidak
terlihat sinisme di Indonesia itu?
Karena
ya orang Indonesia
itu punya satu budaya iut
eh social huring. Nah, social hurding
itu seperti ini. Misalnya ya satu
kelompok teman-teman gitu ya kemudian
diberikan penugasan dan teman-teman itu
enggak suka gitu. Teman-teman akan
bilang, "Udahlah, enggak usah
dikerjain." Udah, udah. Mereka loh
enggak ngerjain apa-apa.
Benar ya, kamu enggak ngerjain, ya. Aku
juga enggak ngerjain nih. Ya udah, jadi
begitu.
Oke. Kemudian ee ada lagi. Aduh, aku
enggak suka banget sama si A karena
penugasannya suka enggak masuk akal.
Terus teman-teman yang bilang, "Udah,
udah enggak apa-apa, udah kerjain aja
ala kadarnya.
Nanti juga paling ya cuman dinilai
begitu, enggak ngeh kok dia. Nah,
akhirnya akhirnya kelompok itu ya ya
hanya mengerjakan
tapi ya udah tanpa hati tanpa apa ya
udah dikerjain aja yang penting KPI-nya
terpenuhi. Nah, itu yang kita sebut
dengan silencinisme. Tiba-tiba memicu
terjadinya quiet quitting kan gitu. Nah,
ini adalah new insight
ya. Karena new insight gitu kita masuk
ke dalam novel team yang akhirnya kita
bisalah masuk ke KI 1 gitu kan. Puji
Tuhan gitu.
Nah,
kemudian kemudian ya
selain daripada itu, nah yang ingin saya
kemukakan adalah seperti ini. Nah, ini.
Oke.
Saya berbicara mengenai sinisme, Bapak
Ibu ya. Saya mencoba berbicara mengenai
sinisme, ya. Sinisme saya
itu menggunakan sosial kognitif nih di
sini.
Oke, kita berbicara mengenai sosial
kognitif.
Nah, sosial kognitif
berbicara mengenai inersia sustainable
family business empowering leadership.
Tapi
di beberapa
sudut pandang saya dan teman-teman
menggunakan social exchange padahal
sama-sama ngomongin sinisme.
Jurnal yang saya acu menggunakan
attribution theory dan expectancy
theory.
Ada yang hanya menggunakan attribution.
Nah, ini yang membuktikan Bapak, Ibu,
dan Teman-teman.
Satu fenomena bisa dilihat dari beberapa
sudut pandang.
Eh, tergantung sudut pandang mana yang
mau Bapak, Ibu fokuskan gitu ya. Nah,
sudut pandang itu
sudut pandang itu kita kristalisasi
lewat yang namanya teori gitu ya.
Nah, tapi kita harus paham juga teori
ini ngomong apa sehingga kita bisa tahu,
oh berarti saya tidak boleh membahas
lebih daripada itu. Tuh.
Oke,
lanjut.
Nah, ini adalah fungsi dari teori gitu
ya.
Oke. Developing a clear logical argument
gitu. Jadi
argumen yang kita gunakan dalam
pembahasan sebuah teori itu harus logis
ya. Harus logis, harus masuk akal dan
tidak boleh absurd.
Nah, ini yang menjadi kendala
kadang-kadang Bapak Ibu ya. penciptaan
hipotesis
nantinya ya ini kan berbicara mengenai
hipotesis nih gitu kan. Pembicaraan
hipotesis itu supposed to be mengikuti
logical argumen tidak boleh enggak
Pak logical argumen itu seperti apa?
Contoh
kalau saya ingin mengukur sebuah
variabel gitu ya, variabel saya ini kita
sebut dengan performa
kinerja.
Nah,
kemudian
saya kaitkan di sini. Iya kan?
in insentif.
Nah,
insentif akan meningkatkan performa
kinerja secara
biasa, secara umum ya enggak ada
masalah, Pak. memang tidak ada masalah
secara umum, tapi coba kita gali lebih
dalam dengan konteks
logical argument.
Oke, pertanyaan saya simpel. Yang
merasakan ini siapa?
Karyawan.
Karyawan merasakan insentif. Betul.
They love incentive.
Yang merasakan performa kinerja siapa?
Departemen
atau kepala biro kan gitu
lah. Bagaimana caranya POV karyawan dan
POV kepala biro atau kepala departemen
ini sama? kan enggak bisa
ketika mengukur performa kinerja
yang harus saya ambil kuesionernya itu
bukan ke karyawan tapi
ke biro
gitu kan. Nah, ini yang kita sebut
dengan logical argument gitu ya. Jadi
pahami Bapak Ibu terkait pembangunan
hipotesis dan logical argumennya seperti
apa.
Jangan sampai kita melakukan sesuatu
yang eh kok begini ya, kok enggak masuk
akal ya gitu.
Oke. Nah,
ini kita akan lanjut terkait bagaimana
sih kita men-develop sebuah hipotesis.
Nah, kalau tadi kita sudah berbicara
mengenai ee
apa namanya? Pembangunan teori gitu ya,
POV teori.
Nah, sekarang kita akan membahas tentang
yang namanya
hipotesis development. Nah, hipotesis
development itu seperti apa? Hipotesis
development
berbicara mengenai
keterhubungan
antar variabel. Nah, ketika kita
berbicara keterhubungan antar variabel
ya kan ada banyak yang bisa kita angkat.
yang pertama.
Oke.
Atas dasar apa?
Ya kan
kita bilang
variabel tersebut
saling terhubung
atas dasar apa? e kita ceritain ya kalau
menurut ee model yang tadi saya angkat
loh. Iya, Pak. Jadi information
transparancy itu ya, Pak. Oke. Itu
adalah sebuah fenomena di mana nanti
orang itu terpapar oleh banyak sekali
informasi loh, Pak. Nah, sekarang dalam
banyak informasi tersebut ya kan
orang-orang itu justru bukannya
mempermudah
tapi sangat-sangat mempersulit orang.
Kenapa? Karena informasi yang didapat
tidak bisa diolah sedemikian rupa. Nah,
impactnya Pak itu nanti akan ada hoaks
dan kawan-kawan,
ya. Nah, sehingga
oke information transparan dalam bentuk
1 2 3 4 iya kan itu harus bisa kita
kontrol. Nah, kemudian
sehing kalau sudah kita kontrol maka
overload-nya juga enggak terlalu
banget-banget, Pak. Oke. Nah,
berdasarkan itu maka kita yakin bahwa
ada keterhubungan tuh antar variabel
yang kita pakai.
Nah, selain daripada itu didukung oleh
riset-riset terdahulu
ya. Ada pro, ada kontra.
Prior research-nya itu ada pro dan
kontra enggak?
misalnya, oh iya, Pak. Jadi
ada beberapa riset yang bilang, "Pak,
information yang transparan itu justru
sangat baik loh, Pak, untuk ee
pengambilan keputusan. Jadi, mereka
enggak akan overload." Oke.
Tapi, Pak, ada beberapa riset yang
berbicara sebaliknya. Nah, ini biasanya
terjadi di
generasi-generasi yang
lebih senior misalnya. Nah, itu kita
ambil ada pro dan kontranya.
Itu memperkuat kita bahwa terdapat
keterubungan antar variables, gitu ya.
Nah, ini yang harus kita pahami gitu.
Oke,
ini outline-nya. Nah, ini.
Jadi, ya, Bapak, Ibu, bagaimana
kita menjelaskan sebuah hipotesis itu?
Ya, perhatikan ada tanda ee
tulisan-tulisan merah yang sudah coba
saya ee highlight gitu ya. Yang pertama
adalah autor itu harus over enough
verbal explication
ya. Jadi penulis itu harus menunjukkan
ya penulis itu harus nunjukin kalau dia
ini paham banget sama apa yang dia
angkat gitu ya.
Nah, kemudian
apa yang saya pahami itu harus didukung
oleh empirical evidence
gitu.
Dan disertai dengan logical rasional
gitu. Kenapa seperti itu? Kenapa harus
begitu? Jadi
apa yang sudah saya bahas harus didukung
oleh bukti-bukti empiris. Bukti-bukti
empiris itu kayak apa sih, Pak? Bukti
empiris itu adalah misal bisa berupa
referensi, bisa berupa data, dan
lain-lain gitu ya.
Nah, kemudian
pembangunan hipotesis itu juga harus
mengikuti
standar-standar
dari teori yang kita gunakan.
Jadi, kalau kita berbicara konsep teori
information processing ya, fokus pada
information processing konsepnya seperti
apa kan gitu.
I kan. Jadi bukan berarti saya hanya
menceritakan ya kalau Bapak Ibu ada
model penelitian yang seperti ini gitu
ya. Ada X ke Y misalnya.
Iya. Bapak Ibu cuma bercerita bahwa oh
terdapat keterubungan antara X dan Y.
Loh, enggak gitu. Kita pahami dulu
konteks teorinya itu seperti apa kan
gitu.
Saya kasih contoh Bapak Ibu. Saya kasih
contoh. Kalau di model saya ya seperti
ini.
Ada information transparency,
information overload dan impulse buying.
Ini bisa seperti ini tapi tidak mungkin
tidak mungkin terjadi seperti ini
ya. information transparency itu tidak
boleh langsung ke impulsif time. Kenapa?
Logical rasionalnya enggak masuk, Bapak,
Ibu.
Oke. Kenapa logikal rasionalnya enggak
masuk? lah. Sekarang gini,
tadi di atas
di common ground kemudian di eh
complexity, concern, cost of action
sampai dengan literatur review saya
berbicara bahwa
orang-orang yang terpapar informasi
itu harus memiliki satu tahap dulu.
informasi yang didapat itu diproses
dulu.
Nah, bentuk dari prosesnya adalah ini.
Jadi, dia akan mengalami sebuah proses
yang mengakibatkan overload baru dia
mengambil
keputusan. Tidak bisa dia itu langsung
dari sini ke sini. berarti dia melewati
satu skip proses.
Nah, itu yang saya bangun dari awal,
Bapak, Ibu, gitu ya. Konsep teori
information processing itu seperti itu.
Jadi, tidak boleh saya melangkahi,
"Pak, kalau saya enggak pakai teori
information processing, boleh saya bikin
langsung panah garis ke sini?" Loh,
boleh. Silakan.
Tapi apakah ada yang mendukung itu
menjadi penting Bapak, Ibu, dan
teman-teman
gitu ya. Oke. Kemudian,
kenapa saya harus menggunakan teori itu
instead of others, gitu? Karena ada
banyak sekali teori-teori tentang
communication,
tentang information.
contoh asimetric information yang ada.
Iya kan? Kemudian terkait eh marketing
communication dan printming itu juga
ada.
Nah,
Teman-teman, kenapa saya menggunakan
information processing theory itu harus
diate secara clear di sini. Tidak boleh.
Tidak. Karena kalau tidak kita state
secara clear, maka yang terjadi adalah
teori kita tidak fix menjadi pisau bedah
dan poov yang tajam akan sebuah fenomena
gitu ya. Oke.
Nah, ini adalah kenapa teori itu menjadi
penting? Karena kita menggunakan logika
berpikir.
Nah,
penjelasan lebih dalam Bapak Ibu ya.
Kita melihat ada tiga model di sini ya
Bapak Ibu ya. Ini yang saya lakukan
untuk eksperimentalnya
yang ini untuk kuesionernya
ya. Yang ini adalah hasil akhirnya
gabungan antara ini dan ini menjadi ini.
Oke,
jangan dicontoh Bapak Ibu. Ini karena
saya kurang kerjaan aja, jadi saya pakai
riset yang kayak gini-gini gitu ya. Nah,
Bapak, Ibu, dan teman-teman. Oke, saya
akan masuk ke dalam bagaimana sih, Pak,
mencerna atau membuat sebuah ee
keterhubungan antara ini. Oke, ini
itu menjadi make sense alur berpikirnya
itu gimana. Nah, ini yang saya itu
kadang-kadang bingung gitu ya
menjelaskan kepada Bapak Ibu harus
gimana. Kenapa? Karena saya melakukannya
secara manual gitu ya. Jadi kayak gini
Bapak Ibu. Nah,
saya membaca Bapak Ibu. Oke. Keterhungan
antara variabel ubiquitous connectivity,
information transparency dan overload
itu saya baca ya dari banyak artikel
ini.
Yang saya tampilkan di sini itu hanya
sebagian kecil daripada apa yang ada di
riset saya sebelumnya di buku yang tebal
itu gitu ya.
Nah, ini saya baca satu-satu Bapak Ibu
dan usahakan ya saya selalu ngomong ke
teman-teman mahasiswa saya usahakan
kalau kita mencari sumber referensi itu
ada yang paling lama sampai dengan yang
paling baru waktu itu ya nih paling lama
sampai dengan paling baru. Oke, ini ada
83 malah. Oke,
kemudian,
nah ini yang saya lakukan secara manual
Bapak, Ibu, dan Teman-teman. Ini saya
lakukan manual, gitu ya. Jadi,
saya membaca, saya menarik garis, saya
menarik kesimpulan dari apa yang sudah
saya baca. Jadi kalau saya berbicara
mengenai impulsive buying tendency di
sini mungkin kelihatannya agak kecil
gitu ya. Dari sini akan muncul panah ke
mana-mana Bapak Ibu dan akhirnya bisa
muncul ke sini.
Nah itu gimana tuh?
Oke. Kemudian bisa muncul ke sini.
Itu saya lakukan secara manual dulu,
Bapak, Ibu. Dulu gitu ya. di mana
zaman-zaman AI itu belum belum banyak
bisa membantu kita dalam memetakan
ee apa yang mau kita tulis gitu ya. Jadi
dengan kata lain Bapak Ibu, oke
coret-coretan ini adalah isi kepala kita
yang
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:13 UTC
Categories
Manage