Transcript
n6JlgZ04gog • ASN Mengaji Seri 17 | 2025 - Fiqih Safar: Apa dan Bagaimana? (Eps. 02)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0265_n6JlgZ04gog.txt
Kind: captions Language: id wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin. Wabihi nastainu ala umuriddin waddin. Wasalatu wasalamu ala asrofil iya wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba'du. Hadratul kiram almukaramin. Yang kami hormati Ustaz K. H. Haji Abdul Faid Alfaizin dan yang kami muliakan para jamiyah Masjid Al-Huda yang dirahmati Allah. Alhamdulillah. Pertama-tama marilah kita selalu senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala atas karunia-Nya kita semua masih diberi kesehatan, diberi kenikmatan, diberi kesempatan sehingga kita semua bisa melaksanakan jemaah salat zuhur sekaligus mengikuti kajian ASN mengaji seri yang ke-17 episode yang kedua. Mudah-mudahan amal ibadah panjenengan sedoyo dicatat kalian Allah subhanahu wa taala dan dijadikan Allah sebagai amalan ingkang saleh masakat fiddini wad dunya wal akhirah. Amin. Yang kedua kalinya selawat dan salam tetap kita sanjungkan kepada Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang telah memberikan bimbingan kepada kita semua yaitu berupa adinil Islam. Para jamiyah Masjid Al-Huda yang dirahmati oleh Allah. Untuk kajian ASN pada siang hari ini yaitu fikih syafar episode kedua seri yang ke-17 yang mana akan disampaikan oleh Ustaz K. H. Abdul Faid Alfaizin. Kepada beliaunya kami persilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu wasalamu ala sayyidil mursalin sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi wabarik wasallim ajmain. Qolu subhanaka la ilma lana illa ma alamtana innaka antal alimul hakim. Allahummaah ala futuhalfin w'alana khatanwajhikal karim birahmatika ya arhamar rahimin. Rbisrohli sodri waassirli amri wahlul uqdatan m lisani yafqohu qoli. Amma ba'duh. Para jemaah ASN Mengaji Masjid Al-Huda. Alhamdulillah kita oleh Allah masih diberikan nikmat sehat walafiat sehingga kita bisa berkumpul di majelis yang insyaallah penuh barokah ini. Semoga setiap langkah kita menuju majelis ini menjadi penggugur dosa-dosa kita, menjadi peningkat derajat kita, dan semoga Allah subhanahu wa taala selalu memudahkan setiap langkah kita menuju surganya Allah subhanahu wa taala. Amin ya rabbal alamin. Para jemaah, kita akan melanjutkan kajian fikih safar. Kalau pertemuan sebelumnya kita membahas adab sebelum safar, hari ini kita akan membahas adab ketika safar. Kalau kita sudah dalam safar, maka adab yang perlu kita jaga yang pertama salat. Karena kita tidak pernah tahu apakah itu safar kita bisa balik lagi ke rumah selamat atau itu safar kita dari rumah sekaligus menuju kuburan kita. Kan gak pernah tahu. Makanya ayo dijaga salat. Jangan sampai kita safar ndak salat kok mati. Berarti kan matinya dalam kondisi meninggalkan salat. Yang kedua, perbanyak doa. Yang ketiga, perbanyak zikir. Nah, yang pertama untuk salat maka yang perlu kita jaga ada salat yang di safar. Satu, ada qasar, ada jamak. Kalau yang laki-laki ada salat Jumat. Dan nanti akan kita bahas tata cara salat di atas kendaraan pun. Jadi jamak qasar itu ndak harus bareng. Bisa orang itu salat qasar tidak jamak, bisa jamak tidak qasar, bisa jamak plus qasar. Ada orang salat qasar tidak jamak. Kenapa kok qasar tidak jamak? Karena dia waktu zuhur salat tapi dua rakaat. Nanti waktu asar salat lagi tapi dua rakaat. Berarti dia qasar tapi tidak jamak. Ada orang jamak tidak qasar. Dia salat zuhur sama asar. Zuhur sama asarnya dia salat jam .00 berarti jamak takdim. Tapi salatnya 44 berarti dia salatnya jamak tidak qasar. Atau contoh kedua, dia waktu salat jamak takdim di masjid ada jamah reguler. Boleh gak orang salat jamak ikut jamak dengan reguler? Boleh tapi gak boleh qasar. Jadi kalau umpama jenengan salat jamak takdim berarti kan asarnya maju ke zuhur. Ketika waktu zuhur di sini ada jemah reguler. Maka ketika jenengan ikut jemah reguler salat zuhurnya kan empat tapi dijamak. Kenapa kok dijamak? Karena asarnya dimajukan. Ini namanya orangnya salat jamak tapi gak qasar zuhurnya. Pertanyaannya, apakah nanti boleh zuhurnya ndak diqasar, asarnya di qasar? Boleh gak? Boleh. Jadi umpama jenengan salat zuhur, salat zuhur jenengan jamah reguler berarti kan gak boleh qasar empat. Setelah itu jenengan selesai salat zuhur berjamaah dengan reguler, jenengan misah salat asar di qasar dua rakaat. Itu boleh. Jadi nak harus gabung qasar to oleh jamak to oleh sing paling enak yo jamak yo qasar itu saya kira favorit kita semua tipe-tipe saya sama jenengan kan seneng sing ngono iku yo digabung yo diqasor wong salat papat abot diskon nggih benar nah ini jemah nanti salat jumat kita juga akan bahas pun sebelum saya lanjutk saya ingin menyampaikan ini Sampai kapan orang bisa jamak dan qasar? Jamak dan qasar itu keringanan untuk musafir. Ulama mengatakan orang itu dikatakan musafir syaratnya satu, dia tidak mukim di satu tempat. Jadi kalau jenengan niat, saya mau ke mana? Saya mau pulang mudik. Rumahnya di mana? rumahnya di Tuban berarti kan jaraknya sudah jauh. Nah, kalau jenengan niat tinggal, saya mau mukim di Tuban. Maka nyampai jenengan sudah tidak bisa jamak qasar karena sudah bukan musafir. Paham nggih? Jadi, kita bisa melakukan jamak qasar syaratnya tidak mukim. Karena jamak dan qasar itu keringanan untuk musa musafir. Kapan kita dikatakan mukim kalau kita niat tinggal di daerah itu. Saya mau ke Jakarta. Kenapa? Saya punya rumah di Jakarta. Saya mau tinggal di Jakarta. Jenengan nyampai sudah gak bisa jamak qasar karena sudah bukan musafir. Atau jenengan niat tinggal di situ lebih dari 4 hari. lebih dari 4 hari. Contoh, mau ke mana? Saya mau ke Tuban. Kenapa mau mudik? Berapa hari? Saya perkiraan mudik di Tuban itu 1 minggu. Maka jenengan nyampai rumah orang tua sudah gak bisa jamak qasar. Paham? Jadi orang tidak dikatakan musafir satu niat mukim atau niat tinggal lebih dari 4 hari. Kalau kita tidak niat mukim atau niat tinggal tapi kurang 3 hari. Saya mau ke Jakarta. Kenapa? Ada tugas kantor. Berapa hari di Jakarta? Insyaallah 3 hari. 3 malam. Berarti kan tidak le. Caranya bagaimana? Caranya jenengan keliling mulai surabo sampai nang Papua tapi tinggal di satu tempat tidak boleh lebih dari 4 hari. Contoh jenengan ump yo mek nganggur akeh duit. Mek nganggur akeh duit kan iso keliling. Mek duit ndak cukup kan keliling. Oh jenengan dari Surabaya niat ke mana? Saya niat ke Tuban berapa hari di Tuban? 3 hari. Berarti jenengan ke Tuban 3 hari. Berarti kan selama di Tuban boleh jamak boleh qasar karena tidak lebih dari 4 hari. Setelah dari Tuban lanjut lanjut ke mana? Semarang umpama ketika jenengan di Semarang atau di Solo, jenengan di situ tinggal berapa hari? 3 hari. Berarti di Solo bisa jamak bisa qasar. Setelah dari Solo pindah lagi ke mana? Saya rodo adoban Jogja. Jogja. Pokoknya jaraknya di atas 80. Di Jogja 3 hari terus gitu digilir 3 hari. 3 hari terakhir di Papua. Maka meskipun jenengan 1 bulan boleh jamak, boleh qasar. Kenapa? Karena tinggal di satu tempat tidak lebih dari 4 hari. Jadi 4 hari ke atas tidak lebih. Jadi 3 hari. Maka selama 3 hari bisa jamak jemak qasar. Paham nggih? Pun. Nah, ada yang tipe ketiga. Tipe ketiga jenengan punya keperluan di satu tempat. Ketika jenengan perlu di satu tempat, jenengan tidak niat untuk lebih dari 4 hari. Pokok keperluanku mari aku mulih. Jadi kalau saya nyampai keperluan saya selesai 1 hari, saya pulang. Tapi nanti kalau saya belum selesai ya tak selesaikan. Maka orang yang seperti ini boleh jamak qasar maksimal 18 hari. Contoh jenengan duwe konco biyen utang R juta. Waktu ketemu suwe ndak ketemu 10 tahun ndak ketemu. Ketemu-ketemu nih ngemis golek utangan. krono seakan sampeyan utangi R juta. Mari diutangi nomore sampeyan diblokir, alamate ndak ketemu. Wis ero-erone orang ini ada di Jakarta, maka jenengan datang ke Jakarta untuk apa? Nge utang. Mek kenek sedino yo mulih. Ndak kenek yo sak keneke. Ternyata waktu di Jakarta ketemu orangnya, orangnya itu koy welut. Tahuelut jenengan lunyu luny dicekel gak kena bulat bulat bulat. Jadi ketika jenengan datang ditage bulat menit kage man bulat maneh. Akhirnya jenengan jatahnya seharusnya di Jakarta sehari pulang ndak boleh-maka orang yang seperti ini boleh jamak qasar maksimal berapa? 18 hari. Jadi kalau jenengan nagih orang ini sampai 17 hari, selama 17 hari jenengan boleh jamak qasar meskipun tinggal di hotel. Paham? Paham nggih. Tapi kalau jenengan nage orang ini sampai 30 dino enggak kenek-kenek, maka jenengan diskonnya cuma 18 hari lebih 18 hari harus menyempurnakan. Paham nggih? Bu apa dasarnya? Dasarnya adalah hadis riwayat Abu Daud. Gozau ma rasulillahu maahul fath. Kata sahabat beliau mengatakan saya pernah perang bareng Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan saya pernah ikut fathu Makkah. Faqoma tsamani asroh lailah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mukim di Makkah selama 18 malam. La yusolli illa rakataini. Beliau salat hanya dua rakaat. Berarti kan qasar. Ini menunjukkan orang yang punya keperluan selama keperluannya belum selesai dia boleh jamak qasar maksimal berapa? 18 hari. Paham nggih? Pun jenengan biar gak bingung. Ayo tak ulangi. Jenengan kalau mukim boleh jamak qasar kapan? Halo? Kalau mukim kalau mukim ndak boleh langsung nyampai ndak boleh jamak qasar. Atau kalau jenengan niat mukim di situ 4 hari lebih, maka nyampai sudah ndak boleh jamak qasar. Eleh nggih pun. Tapi kalau ke satu tempat niat mukim di situ, niat tinggal di situ tidak sampai 4 hari. Berarti selama 3 hari boleh jamak qasar. Jenengan pengin liburan. Liburan ke mana? Ke Batu. Nyewa hotel berapa hari? 3 hari. Berarti selama di hotel boleh jamak gak? Boleh qasar? Boleh. Karena jenengan tinggal di sana tidak lebih dari 4 hari. Paham nggih? Ini yang kedua. Yang ketiga, jenengan duwe bojo. Bojone minggat nang Jakarta. Goleki nang Jakarta ketemu sedino gawa mulai kenek langsung mulih. Ternyata tutuk Jakarta ketemu bojone bojone drama. Bulan bulan drama artine drama iku sik ditarik mulu sik suwe dibojok sedino ndak kenek rong dino ndak kenek lah kasus yang ketiga ini berapa hari 18 hari paham nggih pun lanjut 4 hari kalau 4 hari langsung pulang beda nggih kalau yang pertama itu kan memang dari awal niat tinggal 4 hari lebih kalau yang tiga Tiga ini tidak niat tinggal 4 hari. Niat pokoke kenek mulih. Jadi dia tidak niat tinggal 4 hari. Andaikan dia kemudian keperluannya sehari selesai langsung pulang. Paham bedanya nggih? Kalau yang kedua, yang pertama itu kan gak dari awal sudah memang niat tinggal 4 hari ya. Seperti ini nyampai gak boleh jamak qasar. Hari sudah gak boleh gak apa-apa. Kalau kasusnya yang ketiga, jadi kalau kasusnya ketiga gak apa-apa. Artinya begini, dia itu sebenarnya di sini tidak niat tinggal 4 hari, tapi urusannya tidak selesai lebih 4 hari. Nah, yang tipe ketiga ini boleh sampai 18 hari. Paham bedanya nggih? Nah, jadi tergantung niatnya. Kalau niatnya dari awal memang tinggal 4 hari nyampai sudah gak boleh. Tapi kalau tinggalnya tidak niat 4 hari, tapi kok enggak mari-mari urusannya, boleh malah maksimal 18 hari. Paham nggih? Pun lanjut. Nah, hadisnya tadi Fathu Mekah. Fathu Makkah itu kan Rasulullah tidak niat tinggal di situ lebih dari 4 hari. Cuma kok urusannya belum selesai. Makanya beliau melaksanakan sampai 18 hari pun. Lanjut. Kita hari ini akan membahas qasar. Qasar itu artinya meringkas. Karena qasar itu artinya meringkas empat menjadi dua. Jadi yang bisa diqasar cuma salat yang jumlahnya empat. Apa saja? Zuhur, asar, isya. Subuh ndak kenek qasar mek sak rakaat opo maneh magrib mek diqasar k satu setengah. Kan gak ono salat 1 seteng. Makanya kata ulama yang boleh diqasar hanya yang empat. Zuhur, asar, isya pun. Qasar disyariatkan tahun ke4 Hijriah. Sebenarnya qasar itu ayatnya terkait tentang perang. Jadi di dalam surah An-Nisa Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Waidum fil ardhi falaisa alaikum junahun anqsuru min inftum aytinakumadina kafaru." Masyaallah. Nggih. Ini pelajaran bagi kita, Pak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam perang itu itu pun tetap salat jemah. Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seumur hidup itu tidak pernah tidak salat jemah, Pak. Meskipun sekali. Kalau jenengan jamaahe sing kenek itung. Rasulullah sallahu alaihi wasallam itu seumur hidup itu tidak pernah meninggalkan jemah. Termasuk waktu perang. Jadi perang lawan musuh itu tetap jemaah, Pak. Makanya sampai ada tata cara salat khauf. Salat ketika dalam kondisi genting melawan musuh itu nanti dibagi dua. Nah, itu ada tata caranya sendiri. Itu pun tata caranya salatnya jemah. Jadi dalam itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan sahabat itu adalah salat jemah dan boleh qasar. Jenengan perang perang Pak. Perang melawan nafsu abot iki. Ayo pokoke jenengan mek ndak jemah iku eling-eling Pak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seumur hidup jemah tidak pernah salat tidak jemah. Nomor dua jenengan kalau salat gak jemah itu eling Rasulullah dengan sahabat itu perang pun jemah. Masa kita cuma lewan nafsu aja ndak mau jemah. Paham nggih? Makanya ayo sing sregep jemah. Eman-eman ndak jemah. Kesele podo, ganjarane bedo. Nah, nggih pun. Nah, ayat tentang qasar itu aslinya ayat tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam kondisi tidak aman. Makanya di hadis Muslim ada sahabat bertanya di antaranya Ya'la bin Umayyah itu tanya ke Umar. Apa pertanyaannya? Umar ayat tentang qasar itu kan ketika kita dalam kondisi khawatir perang. Sekarang faqod aminanas. Sekarang kan sudah ndak perang. Wong kita aman tinggal di Madinah apa boleh kita masih qosar? Maka Umar kemudian mengatakan ajibtu mimma ajabta minhu. Saya dulu waktu zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga bingung. Ayat salat qasar itu kan tentang perang. Makanya saya tanya ke Rasulullah. Maka Rasulullah alaihi wasallam menjawab, "Shodqatunqallahu biha alaikum faqbalu shodqotah." Kata Rasulullah, Umar, qasar iku sodqohe Pangeran terimon. Kan wis enak, Pak, sampeyan dikiodqoh gak diterimo. Teko papat disodqohi loro. Makanya kata Rasul sallallahu alaihi wasallam iku sodqohe Pangeran terimon. Paham nggih? Jadi sampeyan eling mek wayahe qasar berarti wayahe oleh sodqah. Wayahe nerima sodqah to Pangeran. Ini kata Rasulullah shi wasallam pun di hasil riwayat Bukhari dikatakan dari Abdullah bin Umar shohibtu Rasulullah fakana la yazidu ffar ala rakataini wa Aba Bakrin wa Umar wa Utsman kadalik. Kata Abdullah bin Umar, "Saya selalu menemani Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika beliau safar. Beliau ketika selafar selalu salatnya tidak pernah lebih dua rakaat. Berarti salat qasar. Karena beliau salatnya selalu dua rakaat. Makanya kalau jenengan ketika berjamaah, ketika safar sing paling enak yo mek dikii sodqoh yo diterimo. Saya tanya jenengan ngekeki wong ditolak grundel gak, Pak? Grondol wong diki kok gak diterimo. Makanya Rasulullah alaihi wasallam mengatakan Allah itu senang kalau Allah ngasih keringanan keringanannya di ambil. Paham ya? Wong sampeyan gdak diki keringanan yo golek keringanan dewe kadang-kadang. Pun ini terkait tentang masalah qasar. Lanjut. Ulama mengatakan qasar lebih utama ketika safar mencapai 123. Karena menurut Imam Abu Hanifah, kalau sudah mencapai tiga marhalah, qasar itu bukan sunah, malah wajib. J kalau kata Abu Hanifah, kalau perjalannya tiga marhalah sekitar 123 km, qasar itu bukan sunah, malah wajib. Ini yang kemudian kalau bisa untuk qasar kita bisa qasar pun. Lanjut. Syarat qasar satu, yang bisa diqasar hanya salat empat rakaat. Yang kedua menuju tempat tertentu. Bukan orang bingung tidak punya tujuan. Jadi orang bepergian itu kalau punya tujuan pasti, Pak. Kalau orang enggak punya tujuan pasti ndak boleh qasaror. Contoh begini kate nangi nang kulon. Kulo opo nang kulon? Kate nang endi? Pokok saki bensin. Nah, iku berarti enggak punya tujuan gak boleh qasar saking duit, Pak. Pokok senti bensin. Tapi kalau jenengan menentukan keti nandi nang Tuban berarti kan ada tujuan. Mau ke mana? Ke Batu ada tujuan. Tapi kalau jenengan mau ke mana? Mau ke timur. Timur mana? Banyuwangi. Ada tujuan. Tapi kalau jenengan ngomong sak enteke bensin sak duit itu berarti gak punya tujuan. Ndak boleh qasar harus punya tujuan. Jelas. Paham nggih? Pun. bukan safar maksiat. Jadi menurut ulama mazhab Syafi'i, qasar itu keringanan. Keringanan itu hanya boleh untuk orang yang bepergiannya bukan maksiat. Bedakan antara begini, Pak. Ada orang safarnya tujuannya maksiat, ada orang maksiatnya waktu safar. Contoh begini, mau ke mana? mau ikut konser musik di Jakarta yang ditonton adalah pemain musik, penyanyi sing katoke kurang kain. Berarti jenengan tujuan utamanya maksiat ndak maksiat wong kate delok bokong. Iya apa ndak loh? Iya pak kan maksiat. Terus tujuan utamanya Jakarta wis k delok bokong itu kan maksiat. Berarti karena safarnya tujuannya maksiat, maka ndak boleh qasar. Beda dengan begini. Jenengan mau ke mana? Ke Jakarta. Mau ke mana? Ke Jakarta. Saya mau silaturahim ke saudara. Berarti kan tujuannya baik. Loh tek tengah dalan seneng ndeloki bokong. Beda. Nggih. Ini namanya maksiat dalam safar. Kalau yang tipe kedua tetap boleh jamak qasar. Paham bedanya? Jadi kalau tujuannya delok bokong maksiat dari awal gak boleh. Tapi kalau tujuannya adalah baik tapi di tengah-tengah safar senang nok bokong. Berarti safarnya bukan maksiat tapi maksiatnya waktu safar. Kalau yang kedua boleh qasar loh. Kalau yang kedua gak boleh qasar Pak seakan sampean, Pak. Saya yakin kalau sampean safar kan senengnya ngini-ngini terus kon Pak. Gak ngini kan Pak. Loh, makanya untuk yang tipe kedua masih tetap boleh qasar. Untung sing tipe kedua masih boleh qasar. Karena wajah-wajah kayak saya jenengan kan sing kedua kan masih memungkinkan. Yang kedua masih memungkinkan. Pokoke ojo sampai niate elek. Paham nggih? Mau ke mana? Mau ke batu untuk apa? Ngerampok dari awal sudah boleh. Ketika jenengan mau ke mana? Ke batu. Untuk apa? Silaturahim. Loh, tek tengah dalan kok nyopet. Nyopet jelek apa ndak jelek? Jelek. Tapi kan niat awalnya bukan nyopet. Di tengah jalan nyopet. Maka orang yang seperti ini tetap boleh qasar. Tapi jangan sampai disalah artikan. Oh berarti nyopet oleh gak? Tetap gak oleh nyopet, Pak. Tapi umpama ada kasus orang maksiat di tengah jalan itu boleh. Jadi, jadi jenengan kalau mau nyampai rumah, sebelum nyampai rumah nyari masjid sekiranya paling gampang beda kecamatan. Kenapa? Karena kalau jenengan sudah nyampai rumah itu sudah bukan musafir. Paham nggih? Satu. Nomor dua. Contoh kedua begini, Pak. Ada orang mau umrah. Karena dia mau umrah berangkat jam .00 atau jam .00. Berarti kan kemungkinan asarnya gak bisa salat. Maka dia kan jamak qasar. Maka kalau dia mau berangkat umrah, jangan sampai jamak qasarnya waktu di rumah. Karena ketika di rumah dia statusnya kan bukan belum safar. Makanya kalau jangan mau berangkat umrah safar. Makanya kalau jangan mau berangkat umrah berangkatnya jam .00 atau jam . Jenengan pengin salat jamak takdim plus qasar. Waktu berangkat jangan salat jamak qasar di rumah. Salat safar to. salat sunah safar nanti satu keluarga yang mau umrah wudu semua. Ketika wudu nanti di perjalanan mampir di masjid baru salat jamak qasar di masjid. Karena qasar itu untuk safar. Orang safar itu kalau sudah tidak di rumah. Paham? Saya dulu waktu umrah kan rumah saya lontar. Nah, ketika saya rumah lontar itu saya ketika mau berangkat umrah salat zuhur gak di rumah. salat sunah safarto saya awak dulu mampirnya karena mau ke bandara yang satu jalur saya mampir di sini Arrahmah Armah Darmo. Saya mampir situ salat di situ atau saya kalau bepergian jauh nggih saya kadang-kadang kalau mudik ke Bojonegoro atau ke dari Malang gitu nggih. Itu saya kalau pulang ke rumah belum salat magrib Isya mau jamak qasar saya gak salat di rumah. Saya biasanya karena rumah saya dilontar, saya mampir di Masjid At-Taqwa. Paham nggih? Masjid At-Taqwa salat dulu, jamak qasar baru pulang. Karena kalau sudah nyampai rumah itu status saya sudah bukan musafir, maka sudah boleh jamak qasar. Paham nggih? Nomor selanjutnya, niat qasar saat takbiratul ihram. Jadi waktu takbir wajib niat qasar. Kalau waktu takbir lupa tidak niat qasar gak boleh diqasar harus sempurna empat pun lanjut. Nanti akan saya jelaskan niat jamak qasar yang simpel ketika kita bahas jamak. Nomor selanjutnya menghindari hal yang merusak niat qasar selama salat seperti niat menyempurnakan. Dan yang terakhir tidak makmum pada imam yang menyempurnakan. Jadi kalau jenengan salat jamak magrib jamak dengan reguler boleh. Asar jamak dengan reguler. Jamaknya boleh, tapi qasarnya ndak boleh. Meskipun imamnya salatnya kurang dua rakaat. Contoh begini. Jenengan mau masuk masjid itu sudah ada jamah reguler, sudah dapat dua rakaat. Berarti kan kurang dua rakaat. Lah jenengan salat qasar itu berapa rakaat? Dua rakaat. Meskipun imamnya kurang dua rakaat, jenengan andaikan makmum sama jemah reguler tetap harus sempurna empat. Gak boleh qasar. Paham nggih? Meskipun imamnya kurang dua karena dia makmum kepada orang yang salatnya nyempurnakan. Paham nggih? Pun. Makanya kalau jangan pengin qasar ya jangan jemah reguler pakai jemah sendiri. Kalau jangan rombongan gitu ya. Rombongan masuk masjid ada jamah reguler. Jangan ikut jemah kalau pengin qasar tunggu dulu selesai. Setelah selesai baru jenengan satu rombongan salat sendiri bisa jamak plus qasar. Tapi kalau jangan gak pengin jamak sendiri, pengin jamak dengan umum gak apa-apa tapi gak boleh qasar. Jamaknya boleh. Paham nggih bedanya? Nggih. Pun lanjut. Nah, memiliki tujuan yang jelas bukan sekedar keliling kota. Meskipun tujuannya hanya pengin rekreasi. Itu boleh, Pak. Jangan ke Malang. Mau ke mana, Ustaz? Saya mau ke pantai. Tapi ke pantai menikmati pantai loh, Pak. Bukan menikmati yang datang ke pantai. Beda loh. Menikmati pantai dengan menikmati yang datang ke pantai itu sesuatu yang beda. Tujuannya ke pantai refreshing. Cuci mata lihat segarnya laut bukan lihat segarnya orang yang ada di laut. Beda. Paham nggih. Meskipun hanya untuk rekreasi itu boleh. Paham nggih? Beda, Pak. Ada orang itu ke mall itu, Pak. Memang mau ke mall, Pak. Ada yang ke mall itu, Pak. Pengin lihat orang yang di mall. Itu beda, Pak. Beda tujuan. Iya. Selanjutnya, jarak boleh safar itu harus mencapai dua marhala. Berapa dua marhala itu? Kalau dikuruskan ke kilometer ulama berbeda pendapat. Kalau menurut kitab Tanwirul Qulub sekitar 80,6 81 lah nggih. Kalau menurut kitab alfiqhul islami 88,7 dibulatkan 89 lah. Tapi kalau menurut kitab at-Takriratus Sadidah sekitar 82 km. Saya biasanya pakai yang tengah-tengah 82. Saya biasanya kalau mau ngecek itu begini, "Mama, saya sekarang di mana? Di BBSDM mau ke mana? Mau ke Malang. Malangnya mana? Saya tentukan tujuan akhirnya mana. Itu saya biasanya pakai GMAP. Nah, GMAP itu nanti tentukan tujuan lokasi biasanya muncul di situ berapa kilo? Biasanya saya yang saya jadikan acuan itu GMAP itu ya. Kalau jaraknya umpama 82 lebih berarti nanti saya nyampai bisa jamak qasar. Kalau umpama kurang 70 berarti belum jamak qasar. Paham nggih? Pun. Bagaimana dengan begini, Ustaz? Saya kalau lewat jalur A itu sampai 60, tapi kalau lewat jalur Bisa sampai 100. Contoh jenengan keegersik, jenengan keegersik itu bisa qasar gak? Jaraknya berapa? Berapa? 20. 20. Kalau jenengan ke Gresik lewat Surabaya langsung Gresik. Tapi kalau jenengan ke Gersik lewat Pasuruan muter sik jenengan teko Gersik lewat Pasuruan muter. Pertanyaan saya begini, boleh gak ustaz saya ke Gersik tapi muter isik lewat Pasuruan baru ke Gersik. Kata ulama, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama lewat jalur itu karena ada perlu. Saya sebelum ke Gersik itu ke Pasuruan karena ada perlu dulu di Pasuruan mendesak. Sehingga saya nanti ke Pasuruan dari Pasuruan saya nanti ke Gersik sehingga total perjalanan bisa 100 kilo. Maka orang yang seperti ini boleh qasar. Tapi kalau tujuan jenengan ke Pasuruan supaya bisa qasar maka gak boleh. Paham nggih? Karena jarak biasanya cuma 60 tapi krono muter paham nggih pun contoh pakai kedua andaikan jenengan lewat tol cuma 60 tapi kalau lewat jalur tikus di bawah bisa 90 boleh gak saya lewat jalur tikus supaya 90 boleh tergantung nek tujuan utamanya lewat jalur tikus supoyo nyampai 90 ndak Boleh supaya dapat qasar. Tapi saya lewat jalur tikus karena saya ada perlu meskipun perlunya perlu lihat lihat apa gitu ya. Saya penting gak lihat maksiat loh ya sebenarnya maksiat. Cabang kedua umpama maksudnya cabang usaha Pak bukan cabang yang lain. Kalau punya tujuan jelas kalau kita lewat jalur kedua lebih jauh itu boleh. Tapi kalau tujuan utamanya lewat jalur yang jauh supaya bisa qasar tok maka gak boleh. Paham nggih bedanya? Nggih. Saya lihat ini orangnya lurus-lurus ini. [Tertawa] Nomor tiga, melewati batas balat. Ini yang saya katakan. Jadi batas kepala itu ada yang mengatakan desa, ada yang mengatakan kecamatan. Kalau jenengan pengin aman, ya kecamatan lah. Beda kecamatan. Artinya kalau jenengan bepergian jamaknya cari masjid di luar kecamatan. Kalau saya lontar biasanya saya kalau berangkat arrahmah, kalau pulang attqwa lah. Tergantung daerah jenengan pundi jenengan. Artinya yang saya sampaikan qasar itu untuk musafir. Orang itu dianggap safar kalau belum nyampai rumah. Paham nggih? Pun. Lanjut setara. Ada yang mau tanya dulu sebelum saya lanjut? Takutnya nanti saya jelaskan jauh-jauh. Jenengan bingung. Ada yang mau tanya? Lanjut. Ng. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah kita sekarang membahas jamak. Jamak itu artinya mengumpulkan. Karena jamak itu artinya menggabungkan dua salat. Zuhur asar, magrib isya. Apa ayat ini, Pak? Pentingnya ngaji bersanad, Pak. Jadi jenengan tuh kalau ngaji jangan hanya baca Quran tok sendirian tanpa belajar ke guru karena bisa tersesat. Ayat tentang jamak itu adalah surah Al-Isra. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Aqimisata lidluqyamsi ila gosaqil lail wa quranal fajr. Inna quranal fajri kaana masyhuda." Ayat ini menyebutkan ada tiga waktu salat, Pak. Coba jangan lihat ini. Ayat ini menunjukkan tiga waktu salat. Satu, dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan yang ketiga subuh. Berarti kan waktunya cuma tiga. Jenengan dari mana salat 5 waktu? Kita salat 5 waktu atau 3 waktu, Pak? Padahal ayatnya 3 waktu loh, Pak. Jangan-jangan selama ini kita salah salat ini. Loh, Pak. Ini pentingnya ngaji bersanad. Ada dulu satu aliran itu fatal dan sesat gara-gara baca ayat ini. Makanya pentingnya ngaji ya. Cam nggih pun dulu kalau enggak salah ini kasusnya aliran salah satu aliran di Pasuran, tapi sekarang sudah ditangani oleh MUI. Jadi dulu itu ada preman. Preman dia itu gak pernah salat suatu ketika sakit. Ketika sakit parah itu dia kemudian berjanji, "Ya Allah, kalau saya sembuh saya tobat." Kok kemudian sembuh beneran? Setelah sembuh tobat. Karena tobat pengin ibadah. Akhirnya dia ndak cari guru. Beli Quran terjemahan diwoco dewe, terjemahno dewe, simpulno simpul. Baca ayat ini. Dia mengatakan, "Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam sampai subuh." Kata dia, "Selama ini berarti kita salat keliru. Karena Al-Qur'an bicara waktu salat cuma tiga. Padahal kita salat lima waktu. Berarti kan kita keliru salatnya. Akhirnya dia mengatakan, "Berti semuanya ini keliru. Yang benar saya." Akhirnya dia buat aliran salat sehari semalam cukup tiga kali. Paham nggih? Dia lupa ayat ini bukan bicara ayat salat, bukan bicara ayat waktu salat. Ayat ini bicara tentang waktu jamak itu tiga. Satu, yaitu matahari tergelincir. Itu menunjukkan yang bisa digabung itu zuhur, asar. Kemudian ketika Al-Qur'an mengatakan illa ghasakil sampai tengah malam itu menunjukkan magrib isya itu waktunya sama. Artinya digabung oleh magrib mundur nang isya yo oleh. Isya mundur nang magrib yo oleh. Nomor tiga waktunya subuh. Karena itulah zuhur, asar boleh digabung, tapi asar ke magrib gak bisa digabung. Karena beda waktu di Al-Qur'an kan bicaranya siang, malam, subuh. Maka yang siang boleh digabung, yang malam boleh digabung, subuh terpisah. Jadi yang enggak boleh dijamak siang ke malam gak bisa dijamak. Asar ke magrib gak bisa dijamak. Paham nggih? Sebaliknya subuh juga enggak bisa dijamak. Karena di ayat ini subuh disebutkan tersendiri. Jadi ayat ini bicara tentang waktu jamak bukan tentang waktu salat. Dari mana kita tahu? Dari penjelasan ulama. Paham nggih? Makane ojo ngaji dewe Pak ya bener jenengan wis ngaji kaya ngenei wis bener Pak. Meskipun ya rodok ngantuk-ngantuk rodok sembojo wis bener wis ngaji ngene wis bener. Ngaji bersanad ndak Quran dewe ndak pak atos dewe paham nggih pun. Wis pokok bener meskipun mene lali pokok saiki ngaji mene lali apa jare mene kan se iso buka rekaman. Nah cuma nanti ulama berbeda pendapat. Ada yang ulama sepakat orang yang boleh jamak itu kalau haji. Tapi pendapat yang kuat dan mayoritas ulama mengatakan tidak harus haji. Yang penting safarnya memenuhi kriteria itu diperkenankan untuk salat jamak. Paham nggih pun lanjut saya percepat. Lebih baik mana jamak atau tidak jamak? Kata ulama, tidak jamak lebih utama karena keluar dari khilaf Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah hanya mengatakan jamak itu boleh untuk haji. Selain haji gak boleh. Makanya kalau jenengan untuk jamak lebih bagus gak jamak. Tapi kalau qasar lebih bagus qasar. Paham nggih? Kalau jamak lebih bagus ndak jamak. Tapi dadelok saya sama sampeyan gak cocok enak jamak, Pak. Ribet kalau enggak jamak sekali salat. Nggih ya. Meskipun kata ulama yang bagus memang enggak jamak pun. Nah, yang kedua. Kedua, kecuali jadi panutan kita. Jadi panutan kalau kita kemudian gak jamak, orang-orang menganggap jamak itu gak bagus ya. kita jamak pun pertanyaannya, Ustaz, lebih bagus jamak takdim atau jamak takhir? Maka kita lihat diperinci satu, kalau kita masih dalam perjalanan di waktu salat pertama dan baru berhenti di waktu salat kedua, maka yang lebih bagus jamathir. Contoh begini. Saya ke Tuban itu 80. Ada sini Tuban ada nggih. Sini batu. Ada nggih pun sini batu ada. Umpama begini saya mau ke Solo atau saya mau ke Semarang perjalanan berapa jam itu? 5 jam nggih. 6 jam. 6 jam nggih Pak. 6 jam ng 6 jam ya. 6 jam keado berarti Pak nang Madiun wis me Madiun berapa jam? Madiun 4 jam 4 jam ng Madiun ae cocok ndak pati akeh Madiun pun. Jenengan berangkat dari Surabaya sekitar jam 11.00 lah jam 11.00 jam 11.00 siang berangkat kan belum zuhur berangkat jam 11.00 belum zuhur nyampai Madiun perkiraan jam berapa? Jam .00 atau jam .00? Saya anggaplah jam .00 lah. Sudah asar kan pun. Maka kalau jenengan berangkat jam 11.00 perkiraan nyampai tujuan jam .00 atau jam .00 maka yang lebih bagus adalah jamak takhir. Ndak usah mampir-mampir. Paham nggih? Kenapa? Karena kita pada waktu salat zuhur masih di jalan dan nyampainya waktu asar. Maka kata ulama, mending selesaikan nyampai salat. Meskipun andaikan jenengan pengin jamak takdim, yo oleh. Kenapa kok jamak takdim? Karena jenengan mampir dulu ke rest area boleh. Tapi kalau jenengan tanya mana yang lebih bagus? yang lebih bagus gak usah mampir-mampir selesaikan perjalanannya nyampai jamak takhir. Paham nggih? Pun. Tapi kalau jenengan lebih utama jika berhenti di waktu salat pertama dan masih dalam perjalanan di waktu kedua maka lebih bagus jat takdir. Contoh begini. Saya mau ke Sumenep. Sumenep berapa jam? 6 jam. 5 jam lah. Atau saya mau ke Pamekasan Sampang. Saya berangkat jam 11.00. Perkiraan nyampai Sampang itu jam .00. Cuma sebelum ke Sampang, saya mau sambang saudara di Bangkalan. Nyampainya jam .00. Berarti ketika saya perjalanan masih mampir di waktu salat zuhur. Maka kasus seperti ini yang lebih bagus jamak takdim. Paham nggih bedanya? Eh kalau jenengan tujuannya satu mending selesaikan. Kalau jenengan waktu zuhur masih di jalan, tapi kalau jenengan masih mampir, ketika mampir itu waktu salat zuhur, maka jenengan yang lebih bagus jamak takdim. Jangan jamak takhir. Meskipun boleh jamak takhir. Paham nggih? Pun. Ini terkait yang lebih bagus antara jamak takdim atau jamak takhir. Ada yang mau tanya? Ada mau tanya, Pak? Ada? Kalau enggak ada ini saya lanjutkan di pertemuan selanjutnya soalnya nanti ini berkaitan kalau saya jelaskan sekarang agak terlalu panjang. Jamak takdim tutup jamak takdim takhir. Belum teknisnya Pak tanya atau di online. Ada yang mau tanya monggo. Nggih. Ada. Monggo. Asalamualaikum Pak Ustaz. Waalaikumsalam wabarakatuh. Nggih. Ini pertanyaannya keluar dari tema yang jawab. Oh. Untuk apa? [Musik] Qada. Salat qada itu misalkan kita beberapa tahun nak melaksanakan salat terus untuk mengqot salat apakah bisa apa tidak? Nggih. Saya pernah jelaskan bab qada Pak. Qada iada sama ada Pak. Belum. Nggih. Nggih. Belum sama sekali. Nggih. Nggih. Wis sekalian karena jenengan ada yang tanya tak tak jelaskan sedikit Pak. Ini sampai jam berapa saya dikasih waktu? Bebas los dol. [Tertawa] Saya saya jelaskan Pak. Ada tiga bentuk salat Pak. Ada iadah, ada qada. Apa ada? Ada itu salat pada waktunya. Itu namanya salat ada azda. Jenengan salat zuhur jam si ituu namanya ada. Makanya kalau jenengan dulu belajar bacaan niat salat, kalau di NU kan ada bacaan niat salat itu kan usolli fadzuhri arba takbiratin mustaqbilal qiblati arba rakaatin ngih arba rakaatin mustaqbilal kiblati adaan adaan kan jenengan pernah tahu enggak adaan iku maksudde opo enggak tahu sing penting moco ustaz Ya, jangan biar ngerti, Pak. Kalau kita dulu baca adaan lillahi taala, adaan itu artinya salat pada waktunya, tepat waktu. Kebalikannya adaan qadaan. Jadi mek sampeyan salat subuh kawanan lillahi taala ojo adaan pak. Keliru pak. Iya. Wong salat subuh jam kan kawanan lillahi taala. Iya loh. Kalau kawanan lillahi taala jangan pakai doa adaan. Itu enggak tepat sebenarnya harusnya qadaan. Jadi adaan itu salat pada waktunya. Zuhur jam sik ada azan. Subuh sekarang jam . jenengan salat .30 itu sik ada azan. Jam wis qadaan paham nggih kawanan lillahi taala pun kalau dalam mazhab Syafi'i orang itu dianggap salat ada kalau nututi minimal satu rakaat tapi bedakan begini Pak ada orang salat azab dosa ada yang salat az tidak dosa. Kalau jenengan salat az sekarang umpama asar itu .30 30 jengkan salat zuhur jam . Boleh gak? Boleh. Boleh. Dosa gak? Gak dosa. Dan itu ada. Paham nggih? Sekiranya cukup salat utuh jenengan gak dosa. Tapi jangan dibuat rutinan. Oleh ilmu anyar rek. Wis kenek salat jam .30. Jangan pak gawe sesekali ndak poo. I ojo gawe istikomah gawe terusan. Berarti kalau tanya jenengan salat subuh sekarang subuh jam berapa ng? Jam jam .00 ya? Jam lah. Jam . ngih. Jam .00. Umpama selesainya subuh itu jam jangan salat .30 itu gak masalah. Enggak dosa. Jenengan isya itu kan mulai jam berapa? Isya itu setengah .30 0.30 subuh jam . Jenengan salat isya jam . bengi dosa gak? Enggak dosa Pak tapi ojo bendino, Pak. Aku kir sesekali ndak apa lah tapi gak dosa andaikan ada orang yang seperti itu gak dosa Pak enggak boleh kita salahkan gak boleh iya ada orang sering nggih sering ketiduran ketiduran nggih biasanya kalau tugas kantor capek gak apa-apa yang penting jam .00 bisa bangun salat isya enggak apa-apa. Nah, yang dosa itu begini. Kalau kita antara waktu salat dengan masuknya salat yang kedua itu gak cukup untuk satu rakaat. Contoh. Contoh nggih. Contoh. Eh, ini contoh biar gampang jangan biar tahu gambarannya. Contoh zuhur. Zuhur umpama sekarang jam 1130 lah nggih. Zuhur ini kan zuhur jet asar. Asar itu anggaplah jam 14.30 lah. Nggih. Segampangan ngene pun. Jenengan salat zuhur jamnya di sini Pak jam 14 20. Ojok 29 terlalu injury time. Tapi ingat Pak, saya takutnya ngajar seperti ini digawai rutinan. Saya enggak pokoknya saya mesan jangan jati rutinan pun jenengan salat zuhur jam sekian. Ini salat zuhur Pak. Pertanyaan saya jenengan salat zuhur jam 14.20 itu kan kurang 10 menit. Berarti kan kurang 10 menit. Pertanyaan saya, 10 menit itu salat 4 rakaat cukup gak? Cukup? Kecukupan, Pak. Kecukupan. Berarti kalau jenengan salat jam 14.20 itu ada dan tidak dosa. Karena masih cukup satu rakaat eh satu salat penuh. Nah, tapi kalau kayak tadi yang kayak tadi itu salatnya jam 14. [Tertawa] ya kurang s menit kan pak rakaat atau dua rakaat sudah asar maka salat jenengan tetap ada namanya tetap ada karena masih nututi satu rakaat di waktunya tapi dosa. Kenapa dosa? Karena tidak nututi satu salat utuh di waktunya. Paham? Jadi ada itu ada yang dosa, ada yang tidak dosa. Jenengan kurang dua rakaat ada tetap dikatakan ada karena masih di waktunya tapi dosa karena tidak utuh semua salat pada waktunya. Paham nggih? Pun. Nah, yang perlu jenengan garis bawahi waktu salat itu beda-beda, Pak. Apa yang membedakan waktu salat? Kehati-hatian itu yang jenengan harus harus tahu jenengan ngacunya ke waktu mana. Makanya jenengan lihat kadang-kadang jadwal salat yang dikeluarkan depak dengan dikeluarkan pesantren itu kadang-kadang ada beda. Apa yang membedakan? Yang membedakan adalah kehati-hatian. Contoh begini, Pak. Contoh keluar dari sini nggih. Contoh. Jadi kalau umpama orang falaq nulis asar itu secara perhitungan itu sebenarnya jam 14. 27. Ada yang ditulis karena pengin hati-hati ditambah 5 menit maka dia akan nulisnya jam 14. 30. dua. Ada yang nambahnya teman saya yang punya aplikasi digital falak itu dulu nambahnya katanya 3 menit maka ditulis jam 1430. Ada yang nambahnya cuma satu maka ditulis jam 14. 28. Makanya jenengan kalau mau mengacu kepada kalender mana, jenengan lihat kalendernya itu pakai kehati-hatian atau nak, nambah atau nak. Kenapa kok ini penting, Pak? Karena kasusnya kayak tadi. Jenengan salat jam 14.29 dikalenderkan 1430. Nah, jangan lihat 1430 itu dia memang hitungan asli atau sudah ditambah. Paham nggih? Karena kalau ditambah umpama dia nambah 3 menit seharusnya seharusnya nggih 14 27 itu sudah asar. Jadi kalau jenengan salatnya 1429 itu sudah bukan ada azab lagi. Paham nggih? Makanya lihat dulu kalau jenengan jadi jam 14.29 sampean ngacunya ke kalender apa? Apakah yang murni gak ditambah atau ditambah? Itu pengaruh pun. Ini namanya ada azza. Lanjut. Kebalikan azab qada. Ingat-ingat kebalikan azab qada. Ada yang ketiga, iadah. Iadah itu artinya salat yang kedua. Contoh jenengan tadi salat, tapi waktu salat jenengan ada sesuatu yang kurang sempurna. Apa yang kurang sempurna? Contoh, celananya najis. Maka meskipun sudah salat nanti jenengan salat ulang. Yang kedua itu namanya salat iada. Paham? Pun. Nah iki rodok dowo. Saya hari ini hanya menjelaskan iadah saja, Pak. Nanti pertanyaan itu nanti di minggu depan sampean me teko minggu depan saya jelaskan ini dulu tak selesaikan ini dulu tak selesaikan ini dulu tak selesaikan ini dulu pun kaidahnya begini untuk yang qada eh yang yang ada dama qada itu begini kaidahnya Pak kita tidak wajib niat ada sama niat qada gak wajib jadi jenengan ndak moco adaan sah ndak moco qadaan Sah. Jjenengan salat. Saya niat salat fardu zuhur. Allahu Akbar. Itu sah. Gak usah adaan gak usah qadaan itu sah. Paham nggih? Kalaupun keliru, kalaupun keliru itu masih sah. Contoh begini. Kalau sekarang sih agak enggak memungkinkan. Kalau dulu gak ada jam, enggak ada jam kemudian mendung. Jenengan salat dikiranya masih jam .00. Akhirnya jenengan salat zuhur adaan kok ternyata jam . Berarti kan keliru salatnya tetap sah. Atau kebalikannya jenengan ngiranya ngiranya jam .00 akhirnya salat zuhurnya qadaan ternyata masih jam . Kan keliru itu sah. Yang tidak sah itu kalau dibuat mainan. Wis ngerti kawanan lillahi taala kan wis jelas harusnya kan qadaan kok diniati adaan niatnya apa mainan itu yang kata ulama tidak sah tapi kalau keliru kasus kayak tadi itu sah paham nggih lanjut iada Pak iada itu begini Pak Iya adalah hadis Bukhari hadis Bukhari itu Muad bin Jabal itu kalau salat isya dua kali salat berjamaah jadi makmumnya Rasulullah, salat lagi jadi imam. Berarti salat berapa kali? Dua kali. Makanya iadah itu ada dua kata ulama. Satu, ada iadah yang wajib, ada yang sunah, ada yang tidak sunah. Apa yang wajib? Yang wajib itu adalah kalau salat yang pertama tidak memenuhi syarat sah. Contoh, saya dulu pernah ditanya oleh jemaah, ketepatan pegawai pabrik jenengan ini masyaallah, Pak. Untung, Pak, isso kerjo yo iso-iso salat, yo iso-iso guyuh, yo iso jemah, iso ngaji. Banyak orang yang kerja di pabrik itu, Pak. waktunya terbatas lah. Dia cerita, "Ustaz, saya salat, saya kerja di pabrik, musalanya yo ndak pati ono, tidak menyiapkan pakaian ganti yang suci." Lah ketika saya di pabrik itu waktu kencing kok kecipratan celana saya dan saya enggak bisa ganti pakaian. Bagaimana nasib salat saya? Maka itu namanya tetap wajib salat. Ketika waktu salat zuhur, wajib salat meskipun pakaiannya najis. Nah, ketika jenengan salat, naudubillah, nauzubillah. Andaikan nanti pulang kecelakaan mati, maka dianggap sudah salat. Tapi umpama jenengan nanti pulang nyampai rumah selamat, maka wajib salat lagi. Salat yang kedua itu namanya iadah. Hukumnya apa? Kalau mazhab Syafi'i wajib. Kenapa kok wajib? Karena salat pertama tidak memenuhi syarat sah salat. Kenapa? Karena salatnya pakaiannya najis. Paham? Paham. Nggih. Pun. Contoh kedua, ada yang pernah naik bus sliper? Bus yang sekarang ada tempat tidurnya itu, Pak. Hun. Nah, begini. Kalau jenengan salat naik kereta itu enak. Kenapa kok kereta enak? Kereta itu biasanya jalurnya banyak yang lurus. Maka kalau jenengan naik kereta itu enak. Di tempat makan itu biasanya ada musala kecil. Nah, jenengan wudu, jenengan lihat jalurnya kok lurus. Jenengan lihat GMAP, oh, kok jalurnya lurus? Jenengan lihat kiblatnya ke mana, luruskan kiblat. Sah. Selesai. Nanti nyampai gak usah salat ulang karena sudah ngadap kiblat. Kalau jenengan pakai bus sliperer, kalau di dalam kota iku kiro-kiro iso ngadap kiblat gak, Pak? Enggak iso. Wong muter-muter ngene ya. Kecuali jenengan waktu busnya ada di tol Panjang itu nggih masih memungkinkan. Nah, orang yang salat di bus lier, "Ustaz, bagaimana nasib salat saya?" Kalaupun gak memungkinkan, jenengan tetap salat. Tapi kalau jenengan salat, nanti kalau jenengan kecelakaan, naudubillah meninggal tetap dianggap selesai salat gak punya tanggungan. Tapi andaikan selamat, maka salat ini wajib diulang. Kenapa diulang? Karena salatnya tidak ngadap kiblat. Ngadap kiblat itu menjadi syarat sah salat wajib. Paham bedanya? Paham pun? Ada salat iadah yang sunah. Apa yang sunah? Kalau salat yang kedua lebih sempurna. Contoh kalau di daerah saya ngih daerah saya di Pasuruan itu biasanya azan asar iku rodo sore. Mek jari wong kampung laut. Tahu laut? Nggih. Berarti podo zaman saya orang-orang desa ini ber di desa itu ada namanya laut. Saya itu dulu kaget satu daerah itu ada yang jam . ggak ono sing azan ngono. Engkok jam .30 azan kabeh. Karena azan itu azan laut k orang sing wayahe nang sawah kongon dandang mulih itu azan laut. Nah yang seperti ini itu sunahnya jenengan jam .00 waktu asar salat karena salat di awal waktu. Tapi karena di asar itu jenengan salat sendiri nanti ketika jam .30 ada jemaah sunah salat lagi. Yang kedua iku sunah karena yang kedua lebih sempurna tapi mek tak delok wajah-wajah sampeyan ndak kiro salat pisan wis abot paham nggih pun. Nah ini namanya ya cukup nggih cukup. Alhamdulillah saya senang ngaji di ee BPSDM niki Pak. Orangnya cerdas-cerdas Pak. Jadi dijelaskan sekali itu wis langsung paham gak ada pertanyaan. Semoga menjadi ilmu yang manfaat barokah. Semoga kita dijadikan orang yang istikomah. Amin ya rabbal alamin. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil alamin. Allahumma shalli wasallim ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Rabbanafirlana waliwalidina warhamhum kama rbauna. Allahummafna bimaamtana waimna ma yanfauna waidna ilma. Rabbana la tuzil qulubana ba'da iddaitana wahablana minadunka rahma innaka antal wahab. Rabbana min azwajina wurriyatina qurata a'yun waj'alna lil muttaqina imama. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaabanar. Wasallallahu ala sayidina Muhammadin waa alihi wasbihi wasallam. Subhanaabbikail izzati amma yasifun wasalamun alal mursalin. Walhamdulillahiabbil alamin. Bibarokatil fatihah. Terima kasih apa yang disampaikan tadi. Semoga bermanfaat dan bisa menambah keimanan kita semua. Akirul kalam ihdinatal mustaqim. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]